*Untuk melihat semua artikel Sejarah Saipar Dolok Hole di blog ini Klik Disini
Bahasa Batak tidak mengenal kata emas. Bahasa Batak memiliki kosa kata
sendiri tentang emas yakni sere. Orang Indo-Eropa dalam bahasa Sanskerta menyebut
Pulau Emas sebagai Suvarna Dvipa. Prolomeus, seorang Yunani abad ke-2 dalam
petanya menyebut Pulau Emas sebagai Aurea Chersonesus. Emas dalam bahasa Yunani
adalah aurea. Bagaimana dengan chersonesus? Terdiri dari cherso dan nesus.
Nesus dalam bahasa Yunani adalah pulau. Lalu apakah cherso berasal dari kata
sere? Apakah Pulau Emas adalah Pulau Sere atau Cherso Nesus?
Bahasa Batak tidak mengenal kosa kata emas, tetapi mengenal kata perak dan kata tembaga. Emas dalam bahasa Batak adalah sere (bahasa Yunani adalah chryse); perak adalah pirak (bahasa Yunani adalah argyre); tembaga adalah tumbaga (bahasa Yunani adalah cuprum). Pulau Andalas (berasal dari Andalusia); Pulau Perca (pohon-pohon penghasil getah seperti getah pohon damar dan getah pohon puli). Mengapa banyak nama tempat disebut Puli di Angkola Mandailing. Jenis pohon getah yang lainnya adalah pohon hapur (kapur Barus) dan pohon haminjon (kemenyan). Kapur Barus dalam bahasa Arab adalah kafura dan dalam bahasa Yunani adalah champer; haminjon dalam bahasa Yunani adalah benzoin. Pohon kemenyan hanya ditemukan di Tanah Batak, tetapi kemenyan banyak digunakan di Jawa. Kosa kata mana lebih tua haminjon atau kemenyan?
Lantas bagaimana sejarah batang nama pohon dan nama sungai di Tanah Batak? Seperti disebut di atas emas dalam bahasa Batak disebut sere dan batang tidak hanya mengindikasikan pohon tetpi juga sungai serta bagaimana dengan pamatang? Asal usul nama Batak dan nama Angkola. Lalu bagaimana sejarah batang nama pohon dan nama sungai di Tanah Batak? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.







