Tampilkan postingan dengan label Lost and Found. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lost and Found. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 11, 2014

Dr. Ir. Ahmad Darobin Lubis, MAgr, Meninggal Dunia: “Selamat Jalan, Kawan”


Ahmad Darobin Lubis
Innalillahiwainnailahirrajiun. Ahmad Darobin Lubis meninggal pada hari ini Rabu, 11 Juni, 2014. Tapanuli Selatan kembali kehilangan putra terbaiknya pada usia yang masih muda. Ahmad Darobin Lubis (lahir di Tapanuli Selatan 3 Januari 1967) adalah seorang akademisi bergelar doktor dari University of Hirosima, Jepang (2007). Ahmad Darobin Lubis adalah alumni SMA Negeri 1 Padang Sidempuan (lulus 1985) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Jabatan terakhir Ahmad Darobin Lubis adalah Dosen pada Fakultas Peternakan dan merangkap sebagai Kabid Audit Akademik Internal IPB. Selamat jalan, kawan. Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Allah jugalah kita kembali.
Baca juga dalam Blog ini:
  • Ahmad Darobin Lubis dan Sofyan Husein Siregar: Satu SMA di Padang Sidempuan dan Sama-Sama Meraih Doktor di Jepang

Minggu, Juni 24, 2012

Letnan Sahala Muda Pakpahan (‘Jenderal Naga Bonar’) vs Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor (Sipirok, 1949): Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer Utama di Indonesia


*Dikompilasi dari berbagai sumber: Akhir Matua Harahap




Prakondisi di Tapanuli Selatan dan Padang Sidempuan

Belanda pertama kali masuk ke Tapanuli Selatan tahun 1833 dari arah Natal yang ketika itu di Tapanuli masih suasana Perang Paderi (1825-1838). Pihak Belanda lalu mendirikan benteng Fort Elout di Panyabungan untuk menyatakan keberadaannya di Tanah Batak sekaligus basis untuk mengepung perlawanan Imam Bonjol di daerah Pasaman. Setahun kemudian, Belanda memulai pemerintahan sipil di Tapanuli yang dipimpin Asistent Resident berkedudukan di Natal. Waktu itu wilayah Tapanuli masih bagian dari keresidenan yang berkedudukan di Air Bangis. Sebelum Belanda masuk ke Tapanuli Selatan  kawasan selatan Tanah Batak ini terdiri dari berbagai luhat--dimana setiap luhat  mempunyai pemerintah sendiri dan berdiri secara otonom dan belum pernah berada dibawah pengaruh siapapun. Luhat-luhat yang dimaksud adalah Sipirok, Angkola, Marancar, Padang Bolak, Barumun, Mandailing, Batang Natal, Natal, Sipiongot dan Pakantan.

Kamis, Maret 10, 2011

1000 Desa di Tapanuli Bagian Selatan: Setiap Desa Memiliki Pahlawannya Sendiri

Sebagaimana umumnya komunitas kecil dengan jumlah penduduk yang terbatas (desa dengan ciri small population) kerap mengidentifikasi dirinya dan kampungnya. Identifikasi mereka biasanya dikaitkan dengan siapa tokoh yang berhasil yang berasal dari kampungnya. Hal yang sebaliknya bagi mereka sekampung (sahuta) juga tidak lupa mengidentifikasi siapa yang menjadi tokoh dari kampung (huta) tetangga bahkan huta yang jauh dari huta mereka.

Hal serupa ini sesungguhnya bukan tipikal penduduk huta (desa) di wilayah Tapanuli Bagian Selatan, tetapi juga masyarakat Indonesia umumnya, bahkan mereka yang berada di daerah perkotaan atau level masyarakat yang terpelajar (memiliki pendidikan yang lebih tinggi) juga berlaku fenomena identifikasi diri ini. Misalnya bagaimana mengidentifikasi siapa itu Presiden Amerinka Serika Barack Obama (anak  Menteng); Siapa itu Soekarno, Habibie, Gusdur, SBY dan lainnya. Siapa itu Ken Soetanto, Batara Kesuma, Nelson Tansu dan seterusnya.