Sabtu, Juli 31, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (89): Orang Gunungtua dan Wilayah Administratif Padang Bolak; Gunungtua di Padang Lawas

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Orang Gunungtua adalah orang yang mengidentifikasi diri sebagai Halak Gunungtua. Orang (halak) Gunungtua umumnya berasal dan tinggal di wilayah kabupaten Padang Lawas Utara. Tentu saja ada orang Gunungtua di wilayah kabupaten Tapanuli Selatan (termasuk Padang Sidempuan) dan di kabupaten Mandailing Natal serta kabupaten Padang Lawas. Badan Pusat Statistik dalam hal ini juga telah membuat koding (kategori) etnik untuk pilihan mengidentifikasi diri ketika dilakukan pencacahan (sensus) sebagai Angkola, Mandailing, Toba, Simalungun, Pakpak dan Karo dan sebagainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), orang didefinisikan sebagai kata benda. Dalam hal ini merujuk pada kategori 7 yakni manusia yang berasal dari atau tinggal di suatu daerah (desa, kota, negara, dan sebagainya): dia -- Bogor; suaminya -- Eropa; dan kategori 8, yakni suku bangsa. Dengan demikian yang dimaksud orang dalam hal ini adalah kombinasi keduanya yang saling overlap antara batas wilayah administratif dan batas wilayah budaya yang bahasa lokal disebut halak. Misalnya orang (halak) Padang Sidempuan adalah penduduk yang berasal atau tinggal di kota Padang Sidempuan yang kebetulan juga yang bersangkutan orang (halak) Angkola. Sementara orang Angkola adalah penduduk yang berasal atau tinggal di wilayah Angkola yang kebetulan juga yang bersangkutan tinggal di Padang Sidempuan, Dalam hal ini tergantung pada yang bersangkutan mengidentifikasi diri (berafiliasi) sebagai ‘halak dia’.

Lantas bagaimana sejarah orang Gunungtua dan wilayah kabupaten Padang Lawas Utara? Seperti disebut di atas orang Gunungtua adalah satu hal dan wilayah administrratif adalah hal lain namun keduanya cenderung saling terkait. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, Juli 30, 2021

Sejarah Peradaban Kuno (88): Orang Batangtoru dan Wilayah Administratif Batangtoru; Antara Angkola dan Sibolga

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Peradaban Kuno di blog ini Klik Disini 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Orang Batangtoru adalah orang yang mengidentifikasi diri sebagai Halak Batangtoru. Orang (halak) Batangtoru umumnya berasal dan tinggal di wilayah kecamatan Batangtoru, kabupaten Tapanuli Selatan. Tentu saja ada orang Batangtoru di wilayah kabupaten Mandailing dan Natal, di kabupaten Padang Lawas (Utara). Badan Pusat Statistik dalam hal ini juga telah membuat koding (kategori) etnik untuk pilihan mengidentifikasi diri ketika dilakukan pencacahan (sensus) untuk membedakan Angkola, Mandailing, Toba, Simalungun, Pakpak dan Karo dan sebagainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), orang didefinisikan sebagai kata benda. Dalam hal ini merujuk pada kategori 7 yakni manusia yang berasal dari atau tinggal di suatu daerah (desa, kota, negara, dan sebagainya): dia -- Bogor; suaminya -- Eropa; dan kategori 8, yakni suku bangsa. Dengan demikian yang dimaksud orang dalam hal ini adalah kombinasi keduanya yang saling overlap antara batas wilayah administratif dan batas wilayah budaya yang bahasa lokal disebut halak. Misalnya orang (halak) Padang Sidempuan adalah penduduk yang berasal atau tinggal di kota Padang Sidempuan yang kebetulan juga yang bersangkutan orang (halak) Angkola. Sementara orang Angkola adalah penduduk yang berasal atau tinggal di wilayah Angkola yang kebetulan juga yang bersangkutan tinggal di Padang Sidempua, Dalam hal ini tergantung pada yang bersangkutan mengidentifikasi diri (berafiliasi) sebagai ‘halak dia’.

Lantas bagaimana sejarah orang Batangtoru dan wilayah kecamatan Batangtoru, kabupaten Tapanuli Selatan? Seperti disebut di atas orang Batangtoru adalah satu hal dan wilayah administrratif adalah hal lain namun keduanya cenderung saling terkait. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe