Tampilkan postingan dengan label Pemerintahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemerintahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 26, 2014

Registrasi Daerah Administrasi Tapanuli Selatan Tempo Doeloe: Dari Sumatra’s Westkust ke Tapanoeli



Berdasarkan Staatsblad no. 59, tanggal 21 Oktober 1852 salah satu residen dari Gouvernement Sumatra's Westkust adalah Mandheling-Ankola. Kemudian resgistrasi wilayah ini diperbarui berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah (Staatsblad) No. 141. Perubahannya menjadi berikut ini:

dari Kotta Nopan ke Laroe (½ etappe)
dari Laroe ke Fort Elout (Penjaboengan) (1 etappe)
dari Fort Elout (Penjaboengan) ke Siaboe (1 etappe)
dari Siaboe ke Soeroematingi (1 etappe)
dari Soeroematingi ke Sigalangan (1 etappe)
dari Sigalangan ke Padang Sidempoean (1 etappe)
dari Padang Sidempoean ke Panabassan (1 etappe)
dari Panabassan ke Batang Taro (1 etappe)
dari Butaog Taro ke Loemoet (1 etappe)
dari Loemoet ke Parbirahan (1 etappe)
dari Parbirahan ke Toeka (½ etappe)
dari Toeka ke Sibogha (½ etappe)

Sabtu, Januari 18, 2014

Benteng ‘Fort’ Elout di Mandailing: ‘Front’ Pendudukan Belanda di Wilayah Tapanuli


Benteng Elout (Fort Elout) adalah suatu benteng yang didirikan oleh pasukan Belanda setelah berhasil menduduki daerah Mandailing. Lokasi benteng awalnya berada di Kotanopan kemudian dipindah ke Panyabungan. Benteng Fort Elout yang bermula dibangun di Kotanopan dimaksudkan untuk ‘jangkar’ penyerangan ke Benteng Bonjol dari arah utara dan sekaligus tembok pertahanan dalam memulai pendudukan daerah Mandailing. Setelah Benteng Bonjol berhasil direbut (1837), pihak Belanda memindahkan lokasinya ke Panyabungan. Tujuan pemindahan ini selain untuk menjaga stabilitas di daerah Mandailing yang sudah diduduki, juga dimaksudkan untuk ‘front’ dalam upaya merebut daerah Angkola dan daerah Sipirok.

Nama benteng ini disebut Fort Elout karena waktu itu Kolonel Elout yang ditunjuk untuk memulai pendudukan ke daerah Tapanuli. Sebelumnya Elout (masih berpangkat Letnan Kolonel) berhasil melakukan berbagai serangan terhadap Kaum Padri di daerah Minangkabau antara tahun 1831-1832. Penempatan Kolonel Elout di daerah Tapanuli tentu saja untuk tujuan ganda: membantu penyerangan ke Benteng Bonjol (di Minangkabau) dan menyiapkan penguasaan daerah baru (di Tapanuli).

Jumat, September 20, 2013

Residen Tapanuli: Natal, Panyabungan, Padang Sidempuan dan Sibolga



Belanda memasuki wilayah Tapanuli pada tahun 1833. Selanjutnya Belanda memulai pemerintahan dengan mengangkat Doewes Dekker sebagai Asisten Resident Natal-Mandailing yang berkedudukan di Natal. Ketika Asisten Residen Ayer Bangies ditingkatkan menjadi Residen 1837, kedudukan Asisten Residen di Natal dipindahkan ke Panyabungan dengan nama Asisten Residen Mandailing-Angkola. Nama-nama Asisten Residen selama di Panyabungan antara lain Willer dan Godon.
 
Keresidenan di Panyabungan, 1870
Wilayah Tapanuli di bawah Residen Ayer Bangies berakhir pada tahun 1841. Selanjutnya Residen Tapanuli dibentuk tahun 1842. Asisten residen yang sebelumnya berkedudukan di Panyabungan dipindahkan ke Padang Sidempuan dengan nama Asisten Residen Angkola Mandailing. Berikut adalah daftar nama-nama asisten residen Angkola-Mandailing:

L.A. Galle, 1843.
Mayor (Luit.-Kol.),  A van der Hart 1844-1847
P.H.A.B. Stallion, 1848-1849
W. Kocken, 1850-1851
P. F. Couperes, 1852
F.H.J. Netscher, 1853-1855
J. Blok 1856-1857
J. van der Linden 1858-1860
C. H. Palm 1861
H. A. Steyn Parve 1862-1863
Mr J. K. Wit 1864-1865
C.L.L. Coeverden 1865-1869
H. D. Canne 1869-1873
S. Stibbe 1874-1876
J. B Boyle 1876-1881
DF Braam Morris 1881-1882
C.F.E. Praetorus 1882-1887
A.W.P. Verkerk Pistorius 1887-1888
A. L. Hasselt 1888-1893
P. J. Kooreman 1893-1894
E. A. Taylor Weber 1894-1895
W. C. Hoogkamer 1895-1898
L. C. Welsink 1898-1908
C. J. Westenberg 1908

Jumat, September 06, 2013

Kronologis dan Tata Ruang Kota Padang Sidempuan Tempo Doeloe


Kronologis

Lokasi Kweekschool di Padang Sidempuan 1880
1825-Perang Paderi dimulai dan berakhir 1838. Daerah Tapanuli Selatan termasuk terror yang dilakukan pasukan Paderi.
1833-Belanda pertama kali masuk ke Tapanuli Selatan via Natal dan mendirikan benteng Fort Elout di Panyabungan untuk menyatakan keberadaannya di Tapanuli sekaligus basis untuk mengepung perlawanan Imam Bonjol di daerah Pasaman.
1834-Belanda memulai pemerintahan sipil di Tapanuli dengan nama Onderafdeeling Mandailing yang dipimpin Controleur Douwes Dekker yang kemudian lebih dikenal dengan Multatuli berkedudukan di Natal.
18??-Pemerintahan sipil di Natal dipindahkan ke Panyabungan, lalu ditingkatkan menjadi Afdeeling Mandailing/Angkola yang dipimpin Asistent Resident T.J. Willer
1840-Franz Wilhelm Junghuhn melakukan ekspedisi di selatan Tapanuli dan selesai 1845
1853-Belanda memperkenalkan pendidikan barat di Tapanuli Selatan
1864-Kweekschool Tanobato  dibuka  dan ditutup 1874
1879-Kweekschool Padang Sidempuan dibuka
1885-Tapanuli ditingkatkan menjadi keresidenan dan mengangkat seorang Resident di Padang Sidempuan.

Sabtu, Februari 09, 2013

GUS IRAWAN PASARIBU dari Tapanuli Selatan: Suatu Momentum Meraih Kembali Tahta Gubernur Sumatera Utara


Sejarah Gubernur Sumatera Utara

Persaingan dalam perebutan posisi Gubernur di Sumatera Utara dari waktu ke waktu sungguh sangat seru dan menarik. Banyak aspek yang menjadi sumber perdebatan di masyarakat yang menjadi pertimbangan siapa yang paling sesuai untuk diangkat/dipilih menjadi orang nomor satu di Sumatera Utara. Aspek-aspek tersebut diantaranya: nasionalis vs sosialis, militer vs sipil, keragaman etnik dan agama, profesional vs birokrat, incumbent vs entrant dan partai vs independen. Namun demikian yang lebih menarik dilihat adalah bahwa kenyataannya sebanyak delapan periode  (dari 16 periode) masa jabatan Gubernur Sumatera Utara secara definitif dijabat oleh putra-putra dari Tapanuli Bagian Selatan (lihat Tabel-1).


Tabel-1. Nama Gubernur Sumatera Utara Asal
Tapanuli Bagian Selatan (1948-2013)

No
Periode
Nama Gubernur
Mulai
Berakhir
1
18-06-1948
01-12-1948
Sutan Muhammad Amin Nasution
2
25-01-1951
23-10-1953
Abdul Hakim Harahap
3
23-10-1953
12-03-1956
Sutan Muhammad Amin Nasution
4
18-03-1956
01-04-1960
Sutan Kumala Pontas
5
01-04-1960
05-04-1963
Raja Djundjungan Lubis
6
31-03-1967
12-06-1978
Marah Halim Harahap
7
13-06-1983
13-06-1988
Kaharuddin Nasution
8
13-06-1988
15-06-1998
Raja Inal Siregar

Rabu, Juli 11, 2012

Kecamatan Batahan: Sumatera Utara vs Sumatera Barat

Pantai pasir putih Batahan, latar P. Tamang
Nama Kecamatan Batahan tidak hanya terdapat di Provinsi Sumatera Utara tetapi nama Kecamatan Batahan juga terdapat di Provinsi Sumatera Barat. Sungguh sangat unik. Mungkin di tempat lain boleh jadi ditemukan nama kecamatan atau nama desa yang sama. Akan tetapi nama Batahan adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diperhatikan. Bahkan sangat menarik sekali untuk diperbandingkan. Dua kecamatan ini berada di daerah aliran sungai (DAS) Batang Batahan.  Sungai ini berada di perbatasan dua provinsi (Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat) yang bermuara ke pantai barat Sumatera. Kecamatan Batahan, Sumatera Utara terletak di hilir (pantai/laut) merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Pantai Barat Mandailing, sementara Kecamatan (ranah) Batahan, Sumatera Barat terletak di hulu (gunung) merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Pasaman Barat. Persamaan kedua kecamatan ini hanya satu: Mayoritas penduduknya beragama Islam. Lantas apa yang membedakan?


Selasa, Mei 08, 2012

Chaidir Ritonga: ‘Mulak Tu Huta’ Untuk Membangun Kota Padang Sidempuan


Chaidir Ritonga
Siapa yang tidak kenal dengan Chaidir Ritonga di Provinsi Sumatera Utara? Dia adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara. Siapa yang tidak kenal dengan Chaidir Ritonga di Kota Padang Sidempuan? Dia adalah calon walikota pada Pemilukada Kota Padang Sidempuan, Oktober 2012. Siapa yang tidak kenal dengan Chaidir Ritonga di kalangan pelajar dan mahasiswa  Tapanuli Bagian Selatan? Dia adalah alumni SD, SMP dan SMA di Kota Padang Sidempuan, alumni sarjana IPB Bogor, dan alumni pasca sarjana USU Medan. Siapa yang tidak kenal dengan Chaidir Ritonga diantara pemilih (voter) Pemilukada Kota Padang Sidempuan?

***

Chaidir Ritonga adalah tokoh nasional yang berkarir di Provinsi Sumatera Utara. Menurut rekan-rekannya dari Partai Golkar di DPD Sumatera Utara, Chaidir Ritonga  potensinya besar, dia pantas memimpin Sumatera Utara. Chaidir Ritonga lebih pantas jadi gubernur ketimbang walikota. Akan tetapi, kenyataannya dia tetap teguh hati untuk memimpin Kota Padang Sidempuan, tetap teguh ingin jadi walikota Padang Sidempuan.

Rabu, Maret 21, 2012

Gus Irawan Pasaribu: Dari ‘Gubernur Bank Sumut’ Menuju ‘Bang Gubernur Sumut’

Baca Juga:
Gus Irawan Pasaribu:
Suatu Momentum
Menjadi Gubernur
Sumatra Utara
Ada dua tokoh Tapanuli Bagian Selatan yang saya kenal yang berkiprah di bidang perbankan pada saat ini, yaitu: Darmin Nasution dan Gus Irawan Pasaribu. Mereka berdua sama-sama mulai dari status Direktur kemudian menjadi Gubernur. Darmin Nasution lahir dan menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMA di Kotanopan adalah Gubernur Bank Indonesia saat ini, yang dulu menjadi senior saya di FEUI sebagai peneliti. Pada saat saya diangkat sebagai peneliti (1991) di Lembaga Demografi (LD), Bang Darmin ini adalah Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM). Ini berarti Darmin Nasution mulai dari Direktur kemudian menjadi Gubernur. Sedangkan Gus Irawan Pasaribu adalah Direktur Bank Sumut yang kemudian mendapat ‘gelar baru’ dari masyarakat (yang dipopulerkan oleh TB Silalahi) sebagai Gubernur Bank Sumut (Sumatera Utara) yang dulu menjadi teman sekolah semasa SMP di Padang Sidempuan. Ini dengan sendirinya Gus Irawan Pasaribu juga mendapat promosi dari masyarakat dari Direktur menjadi ‘Gubernur’.

***

Gus Irawan Pasaribu, kini tengah digadang-gadang oleh masyarakat dan juga telah mempersiapkan diri secara serius untuk menjadi Calon Gubernur (Cagub) Sumatera Utara 2013. Berdasarkan opini masyarakat luas dan dengan melihat track record-nya selama ini, Gus Irawan Pasaribu memiliki prospek dan sudah tentu tidak akan menemui kesulitan untuk menjadi orang nomor satu di Provinsi Sumatera Utara. Gus Irawan Pasaribu, selain masih muda (dirut bank termuda di negeri ini), pintar (mendapat pengakuan nasional sebagai pimpinan bank yang handal di Indonesia) dan sejak lama telah merakyat (ketua KONI Sumut dua periode), beliau juga mendapat dukungan dari para tokoh senior Sumatera Utara dan Tapanuli Bagian Selatan. Lihat profilnya: Gus Irawan Pasaribu: Bankir, Ketua KONI dan Pemain Sepak Bola

Senin, Maret 14, 2011

Panyabungan: Selangkah Lagi Menjadi Sebuah Kota

Kecamatan Panyabungan yang dulunya bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan, kini  semakin mekar seiring dengan terbentuknya Kabupaten Mandailing Natal (UU RI No 12 Tahun 1998). Jumlah kecamatan yang ada sekarang terdiri dari lima kecamatan total penduduk keseluruhan sebanyak 126.171 jiwa (Sensus Penduduk 2010). Jumlah penduduk lima kecamatan di Panyabungan pada saat ini tidak jauh berbeda ketika Padang Sidempuan berubah status menjadi sebuah kota pada tahun 2001 (153.009 jiwa).

Kecamatan
Penduduk
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
Angka
Persen
Panyabungan Kota
37.559
39.858
77.417
60.51
Panyabungan Selatan
4.486
4.900
9.386
7.34
Panyabungan Barat
4.181
4.704
8.885
6.94
Panyabungan Utara
9.705
10.258
19.963
15.60
Panyabungan Timur
5.960
6.334
12.294
9.61
Total
61.891
66.054
127.945
100.00

Dengan jumlah penduduk yang memadai, Panyabungan yang dulunya sebuah kecamatan dimungkinkan berubah status menjadi sebuah kota. Sebagaimana dimaksud pada PP No 78 Tahun 2007 tentang Pembentukan Daerah, pembentukan daerah kota dapat berupa pemekaran dari 1 (satu) kabupaten menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih dengan memenuhi cakupan wilayah pembentukan kota paling sedikit 4 (empat) kecamatan. Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah tersebut dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten. Dengan menghitung mundur dari sekarang pada masa pembentukan Kabupaten Mandailing Natal (1998) selama 12 tahun, maka syarat perlu yang dibutuhkan dalam pembentukan sebuah kota sudah dapat dipenuhi. Kini, tugas berikutnya adalah memenuhi syarat cukupnya, yang secara teknis sebagai berikut: