Sabtu, Januari 10, 2026

Sejarah Budaya (12): Bahasa di Angkola dan Mandailing dalam KBBI; Toponimi Nama Garoga, Arse, Binanga, Huraba dan Lainnya


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Disebutkan dalam KBBI, bahasa Batak adalah penyumbang terbesar ketiga bahasa daerah. Kontribusi bahasa daerah tersebut masih akan terus bertambah. Namun jika digali dari kamus bahasa Angkola Mandailing, banyak kosa kata yang dapat dipromosikan ke dalam KBBI, yang dalam hal ini, sejumlah kosa kata yang memiliki arti toponimi yang penting yang sudah eksis sejak masa lampau seperti “garoga’, “arse”, “binanga”, “huraba” dan lainnya. 


KBBI menyerap ribuan kosakata dari bahasa daerah, dengan Bahasa Jawa menjadi penyumbang terbesar (lebih dari 6.000 kata), diikuti Bahasa Sunda, Batak, Dayak, dan Minangkabau, mencerminkan kekayaan bahasa daerah yang memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, meskipun totalnya sangat kecil dibanding seluruh entri KBBI. Hingga Oktober 2025, Bahasa Jawa menyumbang 6.223 kosakata, Sunda 2.018, Batak 1.856, dan Dayak 1.801 kata, menunjukkan kontribusi signifikan dari beberapa bahasa daerah utama.Penyumbang Terbesar Kosakata Bahasa Daerah dalam KBBI (Data Oktober 2025) Bahasa Jawa: 6.223 kosakata; Bahasa Sunda: 2.018 kosakata; Bahasa Batak: 1.856 kosakata; Bahasa Dayak: 1.801 kosakata; Bahasa Minangkabau: 1.402 kosakata;Bahasa Melayu Riau: 1.013 kosakata; Bahasa Madura: 857 kosakata; Bahasa Bali: 839 kosakata. Fakta Penting Lainnya: Jumlah Total Kosakata: KBBI terus berkembang, dengan lebih dari 200.000 entri pada edisi terakhir, dan lebih dari 210.000 pada Oktober 2025 (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah bahasa Angkola Mandailing dalam KBBI? Seperti disebut di atas, banyak kosa kata bahasa Batak dalam KBBI, tetapi itu akan tetap bertampah dari waktu ke waktu. Dalam konteks inilah penting memperhatikan kosa kata toponimi dari bahasa Batak Angkola Mandailing seperti “garoga”, “arse”, :binanga”, “huraba” dan lainnya. Lalu bagaimana sejarah bahasa Angkola Mandailing dalam KBBI? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Bahasa di Angkola dan Mandailing dalam KBBI; Toponimi Nama Garoga, Arse, Binanga, Huraba, Lainnya

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang sekarang adalah akumnulasi dari kamus-kamus bahasa Melayu/Bahasa Indonesia terdahulu. Penulis buku Kamus Bahasa Indonesia pertama adalah Emir Harahap yang diterbitkan di Djakarta pada tahun 1942. Penulis kamus Bahasa Indonesia berikutnya adalah WJS Poerwadarminta (terbit pada tahun 1947). 


Nama Emir Harahap pertama terinformasikan tahun 1917. Emir Harahap bersama gurunya di Depok menerbitkan kamus bahasa Melayu. Kamus-kamus bahasa Melayu sendiri sudah diterbitkan pada era VOC. Kamus bahasa Melayu sederhana sudah dimulai pada era Portugis yang disusun oleh Pigafetta di Ambon (1521) dan disusun oleh Frederik de Houtman di Atjeh (1603). Upaya penyusanan kamus Bahasa Indonesia sudah dibicarakan dalam Kongres Bahasa Indonesia di Solo pada tahun 1938 (yang diketuai oleh Dr Poerbatjaraka). Sejumlah pembicara dalam kongres tersebut adalah Sanoesi Pane. Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dan Ki Hadjar Dewantara. Dalam kongres tersebut Mr Amir Sjarifoeddin Harahap membawakan makalah dengan topik ‘Bahasa Indonesia dari bahasa asing”, sementara Sanoesi Pane memaparkan dua makalah. Pada hari pertama Sanoesi Pane dengan makalah dengan topik “sejarah Bahasa Indonesia” dan hari kedua dengan topik ‘Bahasa Indonesia dan sastra”. 

KBBI telah tumbuh sejak masa lampau dan terus berkembang hingga ke masa depan. Dalam konteks inilah kosa kata dalam bahasa Angkola Mandailing masih relevan dibicarakan dalam hubungannya kosa kata lama bahasa daerah sebagai salah satu sumber potensial dalam memperkaya kamus Bahasa Indonesia modern (KBBI). Mari kita mulai dari kosa kata “garoga”, nama (tempat) yang belum lama ini terdampak banjir bandang. 


Kamus bahasa Angkola Mandailing disusun oleh HJ Eggink yang diterbitkan pada tahun 1936 dengan judul Angkola en Mandailing Bataksch-Nederlandsch Woordenboek yang diterbitkan penerbit AC Nix en Co di Bandoeng. Masa ini sudah ada ahli kamus asal Angkola di Jawa bernama Emir Harahap. Dalam pengantarnya, HJ Eggink juga menggunakan kamus Bahasa Angkola yang disusun oleh Soetan Pangoerabaan. Dalam daftar kosa kata, HJ Eggink memberi tanda di belakang kosa kata dalam kurung (St. P). Dalam hal ini HJ Eggink yang mengumpulkan bahan berdasarkan berbagai dokumen dan sejumlah wawancara, menambahkan kosa kata yang tidak ditemukan dalam pengumpulan data sendiri tetapi ditemukan dalam kamus Soetan Pangoerabaan. Jadi, dalam hal ini, HJ Eggink dalkam menyusun bahasa Angkola Mandailing telah mengumpulkan data bahasa di Angkola Mandailing secara menyeluruh. Oleh karenanya kamus HJ Eggink dapat dikatakan representasi kamus bahasa Angkola Mandailing. Catatan: Sebagaimana disebut di atas, Soetan Pangoerabaan sendiri adalah ayah dari Sanoesi Pane. Soetan Pangoerabaan memulai karir sebagai guru dan menerbitkan buku pelajaran dan juga buku umum. Salah satu karya terkenal Soetan Pengoerabaan Pane adalah novel berjudul “Tolbok Haleon: Siriaon di na Tobang, Sipaingot toe Naposo Boeloeng” yang diterbitkan dalam bahasa Angkola pada tahun 1914.

Kosa kata “garoga” dalam kamus HJ Eggink diartikan sebagai “tanah berbatu”. Arti kosa kata “garoga” ini tampaknya sesuai dengan geomorfologis wilayah dan nama desa Garoga di kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Dalam KBBI tidak ditemukan entri kosa kata “garoga” maupun frasa “tanah berbatu”. Wilayah “tanah berbatu” tentu saja umum di wilayah Indonesia. Dalam hal inilah kosa kata “garoga” memiliki potensi dimasukkan ke dalam KBBI. Kosa kata “garoga” dalam hal ini sudah menjadi nama tempat (yang sesuai) pertama kali terinformasikan pada tahun 1864 dan juga terdapat dalam kamus HJ Eggink. 


Kosa kata “binanga” diduga kuat adalah kosa kata sejak zaman kuno. Dalam kamus HJ Eggink kosa kata “binanga” diartikan sebagai “pertemuan dua sungai”, yang dalam hal ini dimana salah satu sungai bermuara ke sungai lainnya. Kosa kata “binanga” haruslah dibedakan dengan kosa kata “muara” dalam KBBI (yang cenderung muara diartikan dimana sungai bergabung dengan laut). Kosa kata ‘binanga’ digunakan sebagai nama tempat di Padang Lawas, kota Binanga yang menjadi ibu kota kecamatan Barumun Tengah dimana sungai Batang Pane bertemu dengan sungaiu Sangkilon (kini sungai Barumun). Nama kampong Binanga juga ditemukan di Mandailing dimana sungai kecil bermuara ke sungai Batang Gadis (dekat Huta Bargot). Sebagai kosa kata lama, “binanga’ diduga kuat merupakan (nama tempat) yang tertulis dalam prasasti Kedoekan Boekit (682 M). Catatan: Kosa kata “muara” juga ditemukan dalam kamus HJ Eggink sebagai saluran keluar.

Kosa kata lainnya dalam kamus HJ Eggink yang terkait dengan daerah aliran sungai (DAS) adalah kosa kata “arse”. Kosa kata ini pada masa ini menjadi nama kampong/desa yang kini menjadi ibu kota kecamatan Arse di Tapanuli Selatan. Dalam kamus HJ Eggink kosa kata “arse” diartikan sebagai “sebidang tanah kering di tengah sungai, seluruhnya terdiri dari bebatuan”. Kosa kata ini mirip dengan kosa kata “garoga” yang disebut di atas tetapi lebih spesifik di tengah sungai. 


Kosa kata “tanggal” dalam kamus HJ Eggink berbeda dengan kosa kata “tanggal” dalam KBBI yang diartikan sebagai (1) terlepas (kata kerja); (2) kata benda “angka hari dalam bulan” (date, datum). Pengertian ini tidak ditemukan dalam kamus HJ Eggink. Dalam bahasa Angkola Mandailing tidak mengenal kata penanggalan (date/datum) tersebut, karena nama-nama hari dalam satu bulan memiliki nama sendiri-sendiri (30 hari, 30 nama). Jadi dalam hal ini tanggal dalam bahasa Angkola Mandailing merujuk pada nama hari itu sendiri. Kosa kata “tanggal” dalam kamus HJ Eggink: (1) kata kerja sebagai melonggar (menjadi longgar); (2) kata benda sejenis perangkap, yang lubangnya menghadap ke hulu; “toe djae hona tanggal, toe djoeloe hona boeboe” (jika saya pergi ke hilir, saya berakhir di tanggal; jika saya pergi ke hulu, saya berakhir di perangkap; tanggal batoe, keranjang kawat berisi batu untuk memecah atau mengalihkan aliran sungai, misalnya, untuk melindungi penopang tanah; tanggal ni manoek, kerucut bambu dengan bentuk kerucut di ujungnya, dari mana anak ayam diberi kesempatan untuk mengambil makanan, agar mereka tidak diusir oleh ayam-ayam besar. Pada masa ini kosa kata “tanggal” sebagai nama tempat berada di kota Padang Sidempuan di sisi sungai Batang Ayumi (diantara Sitamiang dan Batunadua). Jadi dalam hal ini nama kampong/desa Tanggal merujuk pada masa lampau dalam kosa kata bahasa Angkola yakni kosa kata “tanggal” ” (lawan kata “bubu”). Kosa kata “napa” di dalam kamus HJ Eggink diartikan sebagai tanah datar, di kaki gunung atau terletak di sepanjang sungai. Nama kampong Napa berada di sisi sungai Batang Toru sedikt di hilir kota Batang Toru (dekat tor Sipisang). Nama kampong ini lebi awal terinformasikan di masa lampau dibandingkan dengan nama Batang Toru sendiri. Nama kampong Si-Pisang sudah disebut oleh Charles Miller tahun 1772. Kosa kata “ranto” diartikan sebagai bagian sungai di antara dua jeram. Nama kampong yang mnenggunaka kosa kata “ranto” adalah kampong Ranto Jior (yang kini lebih dikenal Simpang Rantojior di perbatasan kabupaten Labuhanbatu Selatan dan kabupaten Padang Lawas Utara di dekat kota Langgapayung. Kosda kata “jior” sendiri di dalam kamus Hj Eggink sebagai nama sejenis pohon yang intinya sangat keras dan sering digunakan sebagai pohon peneduh di dalam kebun kopi dan ditanam di sepanjang jalan. Kosa kata “sabar” dalam kamus yang sama diartikan sebagai “daun atau dahan yang ditaruh di sungai untuk pembendungan untuk menangkap ikan; manjabar, caranya membendung sebagian sungai. Nama kampong terdapat di Mandailing dekat Panyabungan sebagai kampong Manyabar (sudah terinformasikan tahun 1933). Masih di kamus yang sama kosa kata “siborang”=sisi yang lain, sisi lain sungai, melintasi sungai; panjiborangan, tempat dimana seseorang menyeberangi sungai. Nama kampong Siborang terdapat di kota Padang Sidempuan di sisi timur sungai Batang Ayumi.


Kosa kata bahasa Angkola Mandailing yang terkait dengan daerah aliran sungai cukup banyak. Selain garoga, arse, binanga dan tanggal, juga kosa kata “tandol” yang diartikan dasar sungai; “tapian”=tepi sungai; “tobing”=sisi curam dan secara spesifik kosa kata “langkut” yang diartikan sisi curam di (lubuk) sungai; “tunggar”= batang pohon atau kayu besar yang hanyut di sungai; “tunggar na manggakgak”=batang pohon yang hanyut yang salah satu ujungnya berada di atas airnya menonjol; “tohan”=manohan, menangkap ikan di sungai dengan tangan; “ajup”=hanyut di sungai; dan sangat banyak lagi. 


Banyaknya kosa kata bahasa Angkola Mandailing yang terkait dengan DAS mengindikasikan budaya sungai sudah sangat kuat di Angkola Mandailing. Dari yang sangat banyak itu, berikut ini didaftarkan lagi diantaranya (sesuai urutan abjad): “ala”=mengeringkan sungai atau sungai kecil untuk menangkap ikan, sinonim dengan “arsik”; atcicing=rumput alang-alang yang tinggi, yang tumbuh di tepian sungai, sinonim “arung”; “baho”, rhizophore, kebanyakan di muara sungai berkembang; pohon hutan banjir (bakau); “barur”=garis, saluran, selokan; marbaroer-baroer, membentuk selokan limpasan air; baroeran ni igoeng, talang di bibir atas; “baroban”=tiang-tiangnya ditancapkan secara diagonal ke dalam tanah sehingga membentuk bendungan untuk menopang sungai, pagar kayu runcing (lihat juga “rajang”=tiang, pagar kayu untuk pembendungan di sungai); “buras”=batang pohon yang dilubangi, biasanya ditaruh di sungai dan di dalamnya terdapat perangkap untuk menangkap ikan; “hite”=batang pohon di seberang sungai atau aliran sungai untuk berjalan; mangite, berjalan di atas batang pohon tersebut; “homur”=menjadi agak keruh karenanya air di sungai sedikit meningkat, sinonim “mombur”; “ipar”=sisi yang lain; taripar, untuk pergi ke sisi yang lain; manaripari, untuk menyeberang (sungai); dan sangat banyak lagi termasuk kosa kata “sambotik”=alat pancing besar yang dilengkapi pegas, yang direntangkan di sungai untuk menangkap ikan; “sobu-sobu”=campuran dahan, ranting, pasir, dll, setelah banjir di tepi sungai atau di atasnya sawah tetap tergeletak; “tahalak”=bendungan di sungai, menyebabkan air dialirkan ke kanal air galian; “tambun”= suatu tempat di sungai yang dibendung oleh batu atau batang pohon untuk mengejar ikan disana dan menangkapnya disana. 

Bagaimana asal usul kampong Anggoli di dekat kampong Garoga? Sebagaimana nama-nama tempat di Tapanuli Selatan (wilayah Angkola), penamaan kampong umumnya dapat ditelusuri di dalam bahasa Angkola Mandailing seperti Garoga, Aek Ngadol, Huta Godang, Batu Horing, Sibiobio, Lumut, Sumuran dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan nama Anggoli? 


Nama kampong Anggoli sudah terinformasikan pada tahun 1860an. Jika ditelusir lebih cermat mungkin masih bias ditemukan dalam kamus HJ Eggink. Kosa kata “nanggo”, kombinasi “nada” (lihat juga “inda” dan  “anggo” adalah “walaupun hanya”, “sama sekali tidak”; “nanggo sada” = “oempe sada”, tidak ada sama sekali; “nanggo hoedok”= saya tidak mengatakan itu sama sekali. Kosa kata “noli”=kali; dua noli, dua kali. Bedakan dengan kosa kata “hali”=gali. Lantas apakah asal usul nama Anggoli berasal dari kosa kata “nanggo” dan “noli” yang secara harpiah diartikan dan begeser sebagai (n)anggo (no)li = tidak pernah satu kali pun menjadi anggoli? Namun bias juga didekati dari kosa kata “ponggol”=potongan, bagian; “maponggol”=patah menjadi dua; samponggol=sepotong, sebagian; mamongoli, untuk dibelah-belah. Dalam hal ini sungai (aek) Garoga pada awalnya adalah sungai Garoga 1 (sisi kampong Anggoli), dalam perkembangannya pada era Residen A van der Hart sungai tersebut di hulu disodet dengan mengalirkannya untuk pencetakan sawah baru. Sodetan ini ke hilir sebagai kanal besar yang kini menjadi sungai (aek) Garoga 2. Apakah dalam konteks ini yang menyebabkan munculnya nama Anggoli yang kemudian menjadi suatu kampong? Yang jelas pada era itu hanya satu kampong yang terinformasikan yakni kampong Tappolon yang diduga kuat reduksi dari Huta Bolon (kini menjadi Huta Godang). Nama Tappolon sudah disebut Charles Miller tahun 1772. Untuk kosa kata “garoga” sendiri menurut kamus HJ Eggink diartikan sebagai “tanah berbatu”. Asal usul nama Anggoli juga bias dirujuk pada kosa kata “tangguli”=sari rebusan cairan pohon aren (sebelum menjadi “gulo”/gula arean). Tentu saja masih ada kosa kata “oli”, mangoli, untuk memberi mahar kepada perempuan; madung he mangoli bayo on? apakah pria ini sudah menikah? sadia dioli ho boru i? berapa banyak mahar yang kau punya untuk gadis ini gadis yang diberikan? bayo pangoli, orang yang membayar mahar, mempelai laki-laki; Boru na nioli, gadis yang diberi mahar. Catatan: bedakan “oli” dengan “holi”=tulang.


Tunggu deskripsi lengkapnya

Toponimi Nama Garoga, Arse, Binanga, Huraba, Lainnya: Persamaan Kosa Kata Antar Bahasa Daerah di Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: