Tampilkan postingan dengan label Sejarah Nasional Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Nasional Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 10, 2024

Sejarah Muara Takus (5): Siak Indarapoera Tempo Dulu, Pekan Baroe di Daerah Sungai Siak Masa Kini; Pulau Gontong Era VOC


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Muara Takus di blog ini Klik Disini

Kota Pekan Baru di Riau daratan di daerah alian sungai Siak adalah kota baru. Kota yang sudah lebih dulu eksis tempo doeloe adalah kota Siak (Indrapoera) yang menjadi nama sungai. Sejak awal era Republik Indonesia kota Pekan Baroe berkembang pesat hingga menjadi ibu kota provinsi. Bagaimana dengan masa lalu kampong Pekan Baroe? Yang jelas di wilayah hulu sungai Siak sudah banyak kampong-kampong besar, yang jauh lebih besar dari Pekan Baroe.


Kabupaten Siak di provinsi Riau ibu kota di Siak Sri Inderapura (eks wilayah Kesultanan Siak Sri Inderapura). Pada awal kemerdekaan wilayah menjadi Kewedanan Siak di Kabupaten Bengkalis (kemudian menjadi Kecamatan Siak). Pada tahun 1999 statusnya ditingkatkan menjadi Kabupaten Siak dengan ibu kotanya Siak Sri Indrapura. Secara geografls kawasan pesisir pantai. Bentang alam sebagian besar dataran rendah di bagian timur dan sebagian dataran tinggi di barat. Struktur tanah terdiri tanah podsolik merah kuning dan batuan dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Sungai Siak membelah wilayah kabupaten, yang mana terdapat banyak tasik/danau. Sungai Siak sendiri terkenal sebagai sungai terdalam di Indonesia. Banjir terdapat pada daerah sepanjang Sungai Siak. Batas wilayah utara kabupaten Bengkalis; timur kabupaten Kepulauan Meranti; selatan kabupaten Pelalawan; barat Kabupaten Kampar (termasuk) Kota Pekanbaru.
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Siak Indarapoera tempo doeloe, Pekan Baroe di daerah sungai Siak masa kini? Seperti disebut di atas Pekab Baroe adalah kota baru. Kota lama sejatinya adalah kota Siak Indrapoera. Bagaimana dengan pulau Bengkalis dan sungai terdalam. Lalu bagaimana sejarah Siak Indarapoera tempo doeloe, Pekan Baroe di daerah sungai Siak masa kini? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, Juni 08, 2024

Sejarah Muara Takus (3):Nama Payakumbuh, Kampong Paja Baijon dan Paja Koemboeh; Lima Puluh Kota Tempo Dulu dan Masa Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Muara Takus di blog ini Klik Disini

Hanya ada satu jalan ke Muara Takus dari wilayah Pagarujung. Satu-satunya jalan darat melalui Pajakoemboeh dan Kota Baharoe (Lima Poeloeh Kota) yang kemudian hanya bisa ditembus melalui perahu melalui sungai Mahat ke hilir ke sungai Kampar (kini Jembatan Kelok 9 danm jalan tol Bangkinan-Pangkalan). Untuk mencapai kampong Batoe Besoerat dan kampong Moeara Takoes harus mengarungi sungai ke arah hulu.  Pada masa ini Kecamatan XIII Kota Kampar (Riau) berbatasan dengan kecamatan Kapur IX dan kecamatan Pangkalan Kota Baru.


Distrik 50 Kota adalah distrik terdiri dari lima puluh kota/huta. Suatu jumlah yang sangat banyak. Nama Distrik 50 Kota kini menjadi nama kabupaten Lima Puluh Kota yang terdiri kecamatan-kecamatan Akabiluru, Bukik Barisan, Guguak, Gunuang Omeh, Harau, Kapur IX, Lareh Sago Halaban, Luak, Mungka, Pangkalan Koto Baru, Payakumbuh, Situjuah Limo Nagari, Suliki. Kecamatan Kapur IX terdiri dari desa/nigari Durian Tinggi, Galugua, Koto Bangun, Koto Lamo, Lubuak Alai, Muaro Paiti dan Sialang. Kecamatan Pangkalan Koto Baru terdiri dari desa/nigari Gunuang Malintang, Koto Alam, Manggilang, Pangkalan, Tanjuang Balik dan Tanjuang Pauh (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah nama Payakumbuh, kampong Paja Baijon dan kampong Paja Koemboeh? Seperti disebut di atas Payakumpuh berada di distrik Lama Puluh Kota berbatasan dengan Batoe Besoerat dan Moeara Takoes. Tempo doeloe nama Lima Puluh Kota sekarang. Lalu bagaimana sejarah nama kampong Payakumbuh, Paja Baijon dan Paja Koemboeh? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, November 03, 2016

Sejarah Demonstrasi di Indonesia: Kebebasan Pers Awal Mula Berdemokrasi; Demonstrasi Kali Pertama Dilakukan Tahun 1952



Tiga tokoh demonstran: Nasution, Lubis dan Siregar
Di era penjajahan kolonial Belanda tidak pernah ditemukan demonstrasi, yang ada adalah perang. Demonstrasi bukanlah perang yang ingin menghancurkan satu dengan yang lainnya. Di era penjajahan colonial Belanda domonstrasi dianggap penguasa sebagai perang. Di masa damai di era kemerdekaan Republik Indonesia adalah wajar (meski belum diundangkan). Demonstrasi adalah intrumen alternatif di masa damai untuk memberikan koreksi bagi yang satu terhadap yang lainnya. Demonstrasi selalu dikaitkan dengan pengerahan massa, mengambil tempat di ruang terbuka (halaman, jalanan atau lapangan) untuk menyampaikan pendapat atau tuntutan.  Demonstrasi memiliki garis ‘demarkasi’ yang jelas. Melewati garis dapat berpotensi untuk memicu kekacauan dan bahkan timbulnya ‘perang’. Demonstrasi adalah instrumen koreksi dalam bernegara..

Kebebasan Pers 1951

Munculnya demonstrasi selalu dimulai dari adanya masalah, suatu perbedaan penafsiran apa/bagaimana yang yang terjadi dengan apa/bagaimana yang seharusnya (normative). Demonstrasi dilakukan jika protes (tertulis atau lisan) yang mendahuluinya tidak memenuhi harapan. Demonstrasi yang baik adalah menyuarakan pendapat/tuntutan rakyat banyak (bukan segilintir orang yang mengerahkan massa). Demonstrasi yang bernuansa massa dengan arti demonstrasi itu sendiri.

Gejala serupa inilah yang menimbulkan adanya demonstrasi pada tahun 1952, suatu demonstrasi yang kali pertama ada di Indonesia. Situasi saat itu, situasi dan kondisi sosial-ekonomi sangat buruk (ketersediaan pangan kurang) tetapi pemerintah (baca: penguasa) tidak sejalan dengan harapan rakyat banyak. Saat itu yang menjadi presiden adalah Sukarno. Saat itu roda pemerintahan baru mulai berjalan setelah perang. Pasca perang dengan adanya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tahun 1949, situasi dan kondisi tidak mengalami perbaikan yang signifikan di bidang ekonomi (pangan), politik (munculnya disintegrasi) dan tatacara bernegara yang dipandang sebagian pihak tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.

Para jurnalis melihat situasi dan kondisi mangalami krisis dan semakin kritis. Mochtar Lubis menyindir Sukarno lewat tulisan di surat kabar Indonesia Raya. Maksud Mochtar Lubis untuk menjaga tidak terulang pada masa pendudukan Jepang dimana rakyat banyak cukup menderita dan bahkan tidak sedikit mati sia-sia untuk kepentingan penguasa (baca: pemerintah militer Jepang). Tulisan Mochtar Lubis tampaknya telah menyinggung perasaan Sukarno. Pemerintah mulai melakukan tindakan represif.

Selasa, November 01, 2016

Abdul Abbas dan Gele Harun: Pemimpin Republik yang Tetap Setia Terhadap Penduduk Lampung




Residen Lampung pertama: Abdul Abbas dan Gele Harun
Mr. Abdul Abbas adalah residen pertama Lampung. Mr. Abdul Abbas dikudeta di Lampung ketika masih menjabat sebagai Residen. Mr. Abdul Abbas lalu digantikan oleh Badril Munir. Namun dalam perkembangannya, tokoh-tokoh Lampung mengoreksinya dengan mengangkat Gele Harun sebagai residen baru menggantikan residen yang lama Rukadi Wiryoharjo.

Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun adalah dua ahli hukum, pemimpin republik yang selalu setia terhadap penduduk Lampung. Meski mereka berdua bukan asli Lampung, tetapi kepedulian mereka terhadap penduduk Lampung tidak ada yang menandinginya sekalipun tokoh asli Lampung sendiri. Oleh karenanya penduduk Lampung seharusnya mengapresiasi kedua tokoh ini. Jika keduanya bukan ‘wong kito’ Lampung, lantas siapa kedua ahli hukum ini? Mari kita lacak!.

Mr. Abdul Abbas, Anggota PPKI

Tidak ada orang Lampung yang menjadi anggota BPUPKI, tetapi ada orang Tapanuli yang menjadi anggota PPKI. Mr. Abdul Abbas adalah anggota PPKI yang menyampaikan berita kemerdekaan RI yang kemudian diangkat menjadi Residen Lampung. Orang Lampung sendiri tidak terlalu mengenal siapa Abdul Abbas dan darimana asalnya, orang Lampung sendiri hanya mengenal Abdul Abbas pernah sebagai Ketua Shu Sangi Kai Lampung di jaman penduduk Jepang.

Setelah lulus kuliah rechtshoogeschool (sekolah tinggi hukum), Abdul Abbas tidak pulang kampong tetapi lebih memilih berprofesi sebagai  pengacara dan berkiprah di Tandjoeng Karang (Lampong)

Mr. Gele Harun, Anak Dr. Harun Al Rasjid

Pada tahun 1938, Gele Harun baru pulang studi sekolah hukum di Leiden. Gele Harun membuka kantor pengacara di Tanjung Karang. Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gelen Harun adalah dua pengacara pemberani di Lampung di era colonial Belanda.

Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun, Dua Tokoh Republik yang Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan

Abdul Abbas dan Gele Harun adalah asal Padang Sidempuan. Abdul Abbas lahir di Medan tahun 1906 dan Gele Harun lahir di Sibolga tahun 1910. Ayah Abdul Abbas, kelahiran Sipirok bernama Mangaradja Siregar yang memulai karir sebagai djaksa di Sibolga lalu dipindahkan ke Medan. Sedangkan ayah Gele Harun, kelahiran Padang Sidempuan, lulusan docter djawa school  (1903) yang memulai karir di Padang, kemudian di Sibolga lalu pindah ke Lampung.

Selasa, September 20, 2016

Abdul Hakim Harahap: Konsisten Meski Indonesia Terbelah; Sukarno dan Hatta Pernah ‘Mengingkari’ Republik Indonesia



Pada waktu yang sama, di Indonesia pernah terjadi suatu yang ganjil: Dua orang Presiden, dua orang Perdana Menteri dan dua orang Wakil Perdana Menteri. Kejadian ini terjadi pada tahun 1950. Abdul Hakim Harahap adalah Wakil Perdana Republik Indonesia (di Yogyakarta) yang mana Perdana Menteri adalah Abdul Halim dan Presiden adalah Assaat. Sementara itu, Soekarno adalah Presiden dan M. Hatta Perdana Menteri dari Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta. Ini berarti, Soekarno-Hatta proklamator kemerdekaan Indonesia telah ‘mengingkari’ Republik Indonesia (RI) dan meninggalkannya serta lebih memilih menjadi Presiden/Perdana Menteri dari RIS.

Mengapa Sukarno dan M. Hatta ‘mengingkari’ dan ‘meninggalkan’ Republik Indonesia? Jawabnya adalah Republik Indonesia secara defacto hanya tersisa di dua wilayah, yakni: Tapanuli dan Yogyakarta. Wilayah lainnya di Indonesia sejak kedatangan kembali Belanda (aggresi militer) lebih memilih dan ingin membentuk negara sendiri-sendiri atau negara otonom dan secara sadar meninggalkan Republik Indonesia. Wilayah-wilayah yang membentuk negara (dan yang menjadi boneka Belanda), antara lain: Negara Sumatera Timur, Negara Jawa Timur, Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur.

Soekarno dan M. Hatta boleh jadi beranggapan bahwa Republik Indonesia Serikat termasuk di dalamnya Republik Indonesia (Tapanuli dan Yogyakarta) tetapi kenyataannya di wilayah Republik Indonesia masih ada Presiden, Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri dan menteri-menterinya. Ini bukan redundance, tetapi kenyataannya di Indonesia terdapat dua republik yang masing-masing memiliki pemerintahannya.

Situasi dan kondisi ini jelas berbeda ketika Pemerintah Republik Indonesia mengalami kekosongan, ketika Soekarno menyerah lalu ditangkap Belanda di Yogyakarta dan kemudian dibuang ke tempat pengasingan. Untuk mengisi kekosongan itu, di Bukittinggi dibentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesi (PDRI) dengan presidennya Sjafroeddin Prawiranegara. Dengan demikian tidak mengalami redundance. Dengan terbentuknya RIS dan RI yang eksistensinya masih ada dan jelas tidak redundance, tetapi benar-benar ada dua negara, dua pemerintahan dan dua presiden. Ini jelas tidak lazim.

Republik Indonesia yang Ditinggalkan Soekarno-Hatta

Seperti apa sisa Republik Indonesia yang ditinggalkan Soekarno dan M. Hatta. Di Wilayah Republik Indonesia, Mr. Assaat, Mr. Abdul Halim dan Mr. Abdul Hakim Harahap melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai pemimpin Republik Indonesia. Hal yang pertama dilakukan di Yogyakarta adalah merehabilitasi para pejuang kemerdekaan dan keluarga. Para pejuang telah banyak yang gugur dan yang masih hidup banyak yang cacat. Mr. Assaat, Mr. Abdul Halim dan Mr. Abdul Hakim Harahap mengumpulkan para pejuang yang makamnya terpencar-pencar (selama perang kemerdekaan) untuk disatukan di dalam satu Taman Makam Pahlawan yang dihiasi dengan Monumen Perjuangan. Inilah kebajikan para pemimpin yang seharusnya tidak boleh dilupakan.

Kamis, November 05, 2015

Pelopor Pendidikan dan Pendiri Organisasi Sosial di Indonesia: Suatu Refleksi dalam Pengembangan Pendidikan, Agribisnis dan Ekonomi Kreatif di Tapanuli Bagian Selatan [1]



Oleh Akhir Matua Harahap[2]

Pada masa ini Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) terdiri dari empat kabupaten dan satu kota, yakni: Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas dan Kota Padang Sidempuan.Lima wilayah ini meski kini berbeda secara administratif namum dari sudut pandang mana pun kelima wilayah ini memiliki karakteristik yang sama: bahasa, budaya, sosial, ekonomi dan sebagainya. Oleh karenanya kelima wilayah ini tetap terikat dalam satu kesatuan sosial dan ekonomi yang disebut Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Tiga isu utama pada masa kini di Tapanuli Bagian Selatan, yakni pendidikan, agrisbisnis dan ekonomi tengah mengalami permasalahan yang akut: tingkat kualitas pendidikan (penerimaan siswa di PTN terbaik) sudah sangat menurun, gerak pembangunan sektor pertanian dan pengembangan bisnis pertaniannya mengalami perlambatan, dan juga produk-produk unggulan telah lama kalah bersaing, sementara produk yang dapat diandalkan masih belum teridentifikasi dengan baik.

Padahal di masa doeloe dua dari tiga tiga isu utama tersebut memiliki success story di Afdeeling Mandheling en Ankola (nama lain Tabagsel tempo doeloe) yang dibicarakan di tingkat nasional (Hindia Belanda), yakni: pendidikan dan agribisnis.

Kamis, Oktober 22, 2015

Medan Perdamaian: Organisasi Sosial Pertama di Indonesia (bukan Boedi Oetomo)



Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia, bukanlah ‘Boedi Oetomo’ (yang didirikan tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta). Dan juga bukan Perhimpoenan Hindia, ‘Indische Vereeniging’ (yang didirikan tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden). Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia justru adalah ‘Medan Perdamaian’. Organisasi Medan Perdamaian yang bersifat nasional ini didirikan bahkan jauh sebelum adanya Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan (Jawa).

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900
Organisasi sosial Medan Perdamaian didirikan di Padang pada tahun 1900 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900). Penggagas organisasi sosial Medan Perdamaian dan ketuanya yang pertama adalah Dja Endar Moeda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Dja Endar Moeda adalah editor surat kabar pribumi pertama di Indonesia (1897) di koran Pertja Barat yang terbit di Padang. Organisasi multi etnik ini di Padang kemudian diteruskan oleh Muhamad Safei dan masih eksis di Padang pada tahun 1912 (lihat De Sumatra post, 26-04-1912).

Pada tahun 1907 Medan Perdamaian juga didirikan di Medan dan Fort de Kock. Organisasi cabang Medan Perdamaian di Medan ini membentuk klub sepakbola bernama Medan Perdamaian yang ikut berkompetisi tahun 1908 di Medan. Medan Perdamaian juga didirikan di Palembang (lihat De Indische courant, 25-09-1922) dan juga eksis di Batavia. Organisasi sosial Medan Perdamaian Batavia ini dipimpin oleh Mohamad Sjafe'i dengan wakil Tjik Nang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1926).

Kamis, September 10, 2015

Gelar Doktor Pertama di Indonesia: Dr. Ida Loemongga, PhD, Doktor Perempuan Pertama di Indonesia

Baca juga:
Bag-8. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dr. Ida Loemongga, PhD, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’


Ida Loemongga dikawal dua adiknya saat sidang terbuka di Amsterdam, 1932
Pendidikan doktor adalah pendidikan tertinggi di bidang akademik. Pada masa kini, jumlah doktor Indonesia sudah cukup banyak tetapi masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Perempuan yang bergelar doktor jumlahnya masih sangat sedikit jika dibandingkan laki-laki. Meski begitu adanya, namun gelar doktor sesungguhnya sudah sejak dari doeloe, orang Indonesia dapat meraihnya. Tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Uniknya, empat diantara orang Indonesia bergelar doktor pertama adalah berasal dari Padang Sidempuan, afd. Mandheling en Ankola, Tapanoeli. Bahkan satu diantara empat tersebut adalah doktor perempuan pertama di Indonesia..  

***
Husein Djajadiningrat
Gelar doktor pertama diraih oleh Hussein Djajadiningrat di Universiteit Leiden pada Mei 1913 di bidang sastra (De Telegraaf, 31-12-1934). Desertasi Djajadiningrat berjudul ‘Critische beschouwingen van di Sadjarah Banten’. Dr. Mr. Hussein Djajadiningrat juga adalah profesor pertama di Indonesia. Pada tahun 1935 Husein Djajadiningrat diangkat menjadi guru besar bidang hukum di Rechtschool, Batavia (lihat juga De Telegraaf, 31-12-1934).

Husein Djajadiningrat berangkat studi ke Belanda tahun 1904. Pada tahun 1905 menyusul Soetan Casajangan. Pada awal tahun 1906 jumlah mahasiswa pribumi di Belanda baru enam orang, termasuk didalamnya dokter Abdul Rivai (alumni docter djawa school) yang awalnya bekerja sebagai editor Bintang Hindia. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan kelahiran Padang Sidempuan adalah tokoh pergerakan pemuda pertama di Belanda. 

Jumat, Agustus 28, 2015

Jong Tapanoeli: Dari Abdoel Moenir Nasoetion kepada Parada Harahap hingga Kongres Pemuda




De Sumatra post, 17-01-1918
Jong Sumatra didirikan pada tanggal 8 Desember 1917 di Batavia oleh sejumlah pemuda dari kalangan siswa dan mahasiswa asal Sumatra (Tapanoeli, Oostkust Sumatra dan Sumatra’s Westkust). Asosiasi pemuda ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intesitas (pembangunan) hanya berada di Jawa dan di Sumatra dan pulau-pulau lainnya terabaikan. Sementara itu sudah berdiri sebelumnya asosiasi dari siswa sekolah menengah dan kejuruan di Weltevreden yang disebut Jong Java. Susunan pengurus Jong Sumatranen adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918).

Pada saat pendirian Sumatrabond ini sejumlah mahasiswa asal Mandheling en Ankola di STOVIA, antara lain adalah Raba Nasoetion, Soetan Loebis, Daliloedin dan Amir Hoesin, Soleman Siregar, Gindo Siregar, Pang Siregar (persiapan tahun 1); Kasmir Harahap, Ida Loemongga Nasoetion (persiapan tahun 2); Diapari Siregar (persiapan 3); Abdoel Moerad Loebis, Alimoedin Pohan (tingkat 1); Dja Bangoen (tingkat 2); Amir Nasoetion (tingkat 4); Abdoel Moenir Nasoetion (tingkat 5). Abdoel Moenir Nasoetion setelah lulus STOVIA, pada akhir 1922 diangkat menjadi dokter pemerintah (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-12-1922).

Sabtu, Agustus 15, 2015

Benteng Huraba dan Tapanuli Selatan 100 Persen Republik: Benteng di Angkola yang Mengawal Mandailing, Satu-Satunya Wilayah di Indonesia yang Tidak Berhasil Diduduki Selama Agresi Militer Belanda

*Dirgahayu Republik Indonesia, 17-8-2015

Benteng Huraba di Angkola
Banyak daerah penting di Indonesia, dua di antaranya adalah daerah Mandailing dan daerah Angkola. Kedua daerah ini sejak Belanda pertamakali memasuki Tapanuli (1833) hingga pendudukan Jepang (1942) disatukan dalam satu afdeeling (kabupaten) yang disebut Afdeeling Mandheling en Ankola. Ibukota afdeeling pertama kali adalah Kotanopan (pra Perang Bonjol), kemudian tahun 1841 (pasca Perang Bonjol) dipindahkan ke Panyabungan. Dua kota ini berada di Mandailing. Lalu kemudian tahun 1871 ibukota afdeeling Mandheling en Ankola dipindahkan lag ke Padang Sidempuan di daerah Angkola. Untuk ringkasnya, dalam hal ini Afdeeling Mandheling en Ankola meliputi  Mandheling (Groot Mandheling, Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten dan Natal); dan Ankola (Angkola, Sipirok, Padang Bolak/Padang Lawas dan Batangtoru).

Afdeeling Mandheling en Ankola Diperhitungkan Belanda Sejak 1841

Keutamaan Afdeeling Mandheling en Ankola adalah kabupaten yang pertamakali dibentuk di Sumatra Utara. Kabupaten ini menjadi satu-satunya daerah di Sumatra Utara yang mengalami koffie cultur-stelsel (tanam paksa) di Sumatra Utara. Di satu sisi daerah ini sejak dari awal sudah menjadi lumbung devisa (komoditi ekspor) bagi pemerintah colonial, sementara di sisi lain daerah yang terbilang lebih awal memulai pemberontakan terhadap kebijakan tanam paksa (menanam dan merawat sendiri, memanen dan mengangukut sendiri dengan cara dipikul ke pelbauhan). Banyak penduduk yang tidak senang dengan tanam paksa lalu melarikan diri ke Semenanjung Malaya.

Rumah Multatuli di Natal, 1842 (foto 1910)
Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1842 sempat direkam oleh Edward Douwes Dekker yang kala itu menjadi controleur di Natal. Melihat penderitaan rakyat Mandailing dan Ankola, Dekker berbalik arah dan melakukan pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena Dekker manjadi tempat curhat para pimpinan penduduk menyebabkan dirinya dipecat dan diombang-ambingkan bagaikan gelandangan selama setahun di Padang tanpa mendapat gaji dan dihalangi bertemu istri yang tinggal di Batavia. Kisah inilah yang menjadi pemicu awal mengapa Edward Douwes Dekker dikemudian hari novelnya diberi judul Multatuli (aku yang menderita).

Sejak kerusuhan itu, demi menjaga kepentingan pemerintahan (produksi komodi ekspor), pemerintah mulai ciut nyalinya lalu mulai dengan tatakelola pemerintahan yang berimbang (di satu tangan tetap dengan pengawasan senjata dan di tangan yang lain memberi stimulant yang mampu meredakan ketegangan. Stimulan itu dilakukan mulai pada era pemerintahan yang dijabat oleh Asisten Residen AP Godon (1847-1857). Kebijakan pertama AP Godon adalah membuka isolasi daerah dengan membuka transportasi (pembangunan jalan dan jembatan) antar Tanobato dengan pelabuhan Natal. Kemudian diikuti kebijakan menyediakan pendidikan bagi anak-anak para pimpinan penduduk di Mandheling en Ankola. Formulasi sangat tepat dan hasilnya tidak terduga.

Senin, Agustus 03, 2015

Orang Batak Naik Haji Sejak 1871: Dja Endar Moeda, Penyusun Pertama Pedoman Perjalanan Haji di Hindia Belanda (1903)



Orang Batak di Mekkah tahun 1887
Buku berjudul ‘Orang Batak Naik Haji’ karya Baharudin Aritonang yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada 2002 telah merebut perhatian banyak orang—laris manis dan banyak pembacanya. Ketika orang mendengar judul buku tersebut, sepintas mungkin orang berpikir: ada juga orang Batak naik haji! Persepsi serupa itu jelas keliru. Yang mungkin tidak terduga, ternyata orang Batak termasuk kloter awal penduduk Hindia Belanda yang berhasil menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Informasi tentang kapan pertamakali orang Batak naik haji tidak ditemukan dalam buku best seller Baharudin Aritonang. Artikel ini coba melengkapinya, ternyata orang Batak naik haji secara masif sudah terjadi sejak 1871.

Baharudin Aritonang, anak Padang Sidempuan telah berhasil menyadarkan banyak pihak  bahwa orang Batak juga telah naik haji. Kisah bagaimana orang Indonesia di jaman Hindia Belanda pergi naik haji ke Mekkah tidak banyak diketahui. Dari sedikit informasi yang ada, ternyata orang yang pertama memiliki inisiatif unbtuk menyusun panduan (pedoman) perjalanan haji adalah orang Batak. Pedoman ini lalu dibuat secara rinci dan lengkap, lalu kemudian dipublikasikan di surat kabat. Pedoman ini kemudian diajukan oleh penulisnya kepada pemerintah colonial agar diterbitkan secara massif dan diberikan kepada semua calon haji di Hindia Belanda. Kementerian Pendidikan, Budaya dan Agama Hindia Belanda mengadopsinya tahun 1903. Lantas, siapa penulisnya? Dia adalah orang Batak berasal dari Padang Sidempuan bernama Dja Endar Moeda.

Senin, Juni 29, 2015

Adinegoro: Dari Bintang Timoer (PARADA HARAHAP) ke Pewarta Deli (DJA ENDAR MOEDA) dan The Last of the Mohicans (MOCHTAR LUBIS)



1957
Bagian pertama: Adinegoro adalah tokoh pers Indonesia. Adinegoro adalah nama samaran dari Djamaloedin. Di Batavia, Adinegoro berkiprah di pers pertama kali di koran Bintang Timoer (milik Parada Harahap) pada tahun 1929. Namun tidak lama, karena Abdullah Loebis dari Pewarta Deli di Medan menginginkan Adinegoro sebagai editornya yang baru. Adinegoro memulai kerja di Pewarta Deli tahun 1930 dan hanya sampai tahun 1933. Adinegoro pulang kampong, dan mengasuh koran di Padang hingga berakhirnya pendudukan Jepang. Pasca proklamasi kemerdekaan, Adinegoro hijrah (kembali) ke Batavia/Jakarta.Setelah keluar dari koran Merdeka, wartawan Adinegoro, pada bulan Oktober 1947, bersama kawan-kawan menerbitkan koran Mimbar Indonesia.

Mochtar Lubis (1956)
Bagian kedua: Sementara Mochtar Lubis (lahir di Sungai Penuh, Kerinci, Jambi 1922) setelah lulus sekolah menengah tahun 1940 hijrah ke Batavia dan bekerja di sebuah bank milik bangsa Belanda. Pada waktu pendudukan Jepang, Mochtar Lubis menjadi redaktur radio militer Jepang. Kemudian pasca kemerdekaan, Mochtar Lubis menjadi wartawan kantor berita Antara (pimpinan Adam Malik). Oleh karena kesibukan Adam Malik mengurus republik, posisi Adam Malik sebagai direktur digantikan oleh Mochtar Lubis. Pada saat Belanda datang kembali, Mochtar Lubis dan anak buahnya ditangkap (Juli 1947) dan kantor berita Antara ditutup (tidak jelas alasan penutupan oleh Belanda).Mochtar Lubis lalu menjadi wartawan koran Merdeka. Tidak lama kemudian, kantor berita Antra diizinkan kembali beroperasi (Maret 1948) dan berduet kembali dengan Adam Malik.Pada bulan Desember 1949 (pasca pengakuan kedaulatan RI), Mochtar Lubis menjadi kepala editor koran Indonesia Raya. Di koran inilah, bakat jurnalistik Mochtar Lubis tumbuh kembang menjadi wartawan internasional yang paling kritis dan pemberani.

***
Pewarta Deli adalah koran yang dirintis oleh Dja Endar Moeda di Medan yang diterbitkan pertamakali pada tahun 1910. Pewarta Deli adalah koran pribumi berbahasa Melayu pertama di Medan. Sedangkan koran berbahasa Melayu pertama adalah Pertja Timor yang terbit tahun 1902. Koran Pertja Timor investasi asing (Eropa/Belanda) sangat kuat. Koran Pertja Timor mencapai puncaknya ketika ditangani oleh seorang pribumi bernama Mangaradja Salamboewe (1903-1908).  Namun mantan jaksa di Natal ini tidak berumur panjang karena meninggal muda pada tahun 1908. Setelah Mangaradja Salamboewe, anak dari Dr Asta Nasoetion ini tiada kinerja Pertja Timor lambat laun menurun. Lalu, peluang ini dilihat oleh Dja Endar Moeda, lalu menerbitkan koran Pewarta Deli.

Minggu, Juni 21, 2015

Bapak Pers Indonesia: Dja Endar Moeda, Kakek Pers Nasional dan Parada Harahap, Cucu Pers Nasional

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Nasional Indonesia dalam blog ini Klik Disini


Oleh Akhir Matua Harahap*

Siapa Bapak Pers Indonesia? Sebagian rakyat Indonesia menunjuk Tirto Adhi Soerjo. Sebagian yang lain tidak sepakat. Lantas, siapa yang menjadi kakek pers nasional dan siapa pula cucu pers nasional? Artikel ini mengidentifikasi sejarah lama: Siapa sesungguhnya kakek dan cucu pers nasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, artikel ini menghadirkan tiga tokoh pers nasional: Dja Endar Moeda, Tirto Adhi Soerjo dan Parada Harahap sebagai nominator. Kebetulan tiga tokoh pers ini beda generasi dengan interval kelahiran 19 tahun: Dja Endar Moeda lahir 1861, Tirto Adhi Soerjo (1880) dan Parada Harahap lahir 1899. Artikel ini kemudian akan membandingkan peran kakek pers nasional, Dja Endar Moeda dan cucu pers nasional, Parada Harahap dengan bapak pers Indonesia (Tirto Adhi Soerjo).

***
Setiap era, pers Indonesia mengikuti jamannya sendiri. Peran yang dimainkan juga berbeda, karena perihal yang diperjuangkan juga berbeda. Nama medianya juga berbeda-beda dengan mengikuti jamannya (lihat De nieuwsgier 17-02-1956: Van ‘het terrein van de ambtenaar’ tot aan de ‘open ogen’ en ‘het Hiernamaals’). Karena itu, peran dan fungsi masing-masing tiap era secara substansial tidak bisa diperbandingkan. Yang bisa dipahami adalah bahwa antar era terdapat garis continuum, yakni: melawan ketidakadilan yang menjadi esensi perjuangan pers Indonesia. 

Sejarah pers pribumi (baca: Indonesia) lahir di tengah-tengah pers Belanda (baca: pemerintahan colonial). Pengertian pers dalam hal ini mengacu pada tiga stakeholder: pembuat berita (wartawan, pemilik media dan percetakan), jenis media (lembaran, majalah dan koran), dan pembaca (pribumi, asing, perempuan dan golongan lainnya). Tiga stakeholder ini sebagai internal pers, dan stakeholder yang lain (eksternal) adalah pemerintah (dalam arti institusi, pemerintah colonial Belanda). Kronologis tiga tokoh pers ini disusun berdasarkan sumber-sumber pemberitaan (koran-koran berbahasa Belanda) sejak 1883 hingga 1957.

Rabu, April 01, 2015

Hariman Siregar, Ida Nasution, Lafran Pane, Parlindungan Lubis, Sutan Casajangan: Anak-Anak Padang Sidempuan yang Menjadi Pemimpin Mahasiswa



Pada masa kini, organisasi mahasiswa tidak diperlukan lagi. Sudah lebih dari cukup organisasi yang sudah didirikan. Yang diperlukan adalah bagaimana mahasiswa mengisinya dan mendayagunakannya. Memikirkan perlu tidaknya organisasi mahasiswa itu sudah ditunaikan oleh para pendahulu (pionir) mahasiswa. Mungkin banyak yang tidak menyadari, ternyata para pionir itu berasal dari kampong yang sama: Padang Sidempuan. Mereka itu adalah (mulai dari yang tertua): Soetan Casajangan (1908), Sorip Tagor (1917), Abdul Rasjid (1919), Parlindungan Lubis (1938), Lafran Pane (1947), Ida Nasution (1947), AM Hoetasoehoet (1952) dan Hariman Siregar (1974).

Padang Sidempoean, 1908 (klik gambar jika ingin memperbesar peta)
Sejak era Belanda, kota kecil Padang Sidempuan yang berada di pedalaman Tapanuli ini selalu diperhitungkan di tingkat ‘nasional’ (Nederland-Indie). Mungkin banyak generasi muda Indonesia yang tidak tahu dimana kota ini berada. Untuk mengingat kembali: Kota Padang Sidempoean adalah ibukota Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean. Afdeeling ini terdiri dari dua onderafdeeling (kecamatan), yakni: Mandheling en Ankola (Staatsblad 1937 No.563). Pelabuhan terdekat dari kota ini berada di Siboga, ibukota Residentie Tapanoeli.


Willem Iskander (1875): Pelajar Pribumi Pertama Sekolah di Luar Negeri, Pemimpin Guru-Guru untuk Studi ke Negeri Belanda

Willem Iskander (Sati Nasoetion) memperoleh akte guru di negeri Belanda, berangkat dari Batavia 1857 dan lulus 1861. Willem Iskander adalah pribumi pertama yang sekolah ke Negeri Belanda. Pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, onderafdeeling Mandheling. Menurut Poeze (2008), hanya sekolah guru ini di Nederlansche Indie yang dapat dianggap berjalan baik (karena gurunya menulis buku pelajaran sendiri dan para siswa tiap tahun lulus 100 persen). Atas prestasi guru dan Kweekschool Tanobato, maka pada tahun 1875 Willem Iskander diminta untuk membimbing dan menjadi mentor sejumlah guru di Jawa dan Sumatra untuk mendapat akte guru di negeri Belanda, sementara Willem Iskander sendiri diberi beasiswa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan studi untuk memperoleh akte kepala sekolah. Namun sangat disayangkan mereka semua yang berangkat bersama-sama dari Batavia tidak kembali. Mereka itu satu per satu meninggal dunia karena alasan yang berbeda-beda. Satu bentuk perjuangan yang lain oleh Willem Iskander dalam bukunya yang terkenal Sibulus-bulus, Sirumbuk-rumbuk yang terbit di Batavia 1871 yang didalamnya terdapat puisi yang mana dua baris sangat terang-terangan menentang penjajahan Belanda (ada yang berpendapat puisi inilah pemicu Willem Iskander diasingkan dan dibunuh di Belanda, bukan meninggal karena hal lain).
Sekadar untuk diketahui: Kakak kelas Willem Iskander di sekolah dasar swadaya penduduk asuhan Ny. Godon (asisten residen Mandheling en Ankola) bernama Si Asta dan Si Angan direkomendasikan sang guru untuk sekolah kedokteran di Batavia. Mereka berdua masuk Docter Djawa School pada tahun 1854. Saat mereka masuk, belum ada siswa yang lulus. Ini artinya mereka tergolong angkatan generasi pertama (Docter Djawa School dibuka 1851). Menariknya, ternyata dua anak ini terbilang siswa yang sangat pintar. Manariknya lagi, ternyata dua anak yang masih belia ini merupakan siswa pertama luar Djawa yang diterima di sekolah kedokteran tersebut (lihat: Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855)

Minggu, Juni 08, 2014

R. Soetan Casajangan Soripada: Pelopor Pribumi di Negeri Belanda



Soetan Casajangan (De Telegraf, 3-6-1907)
Radjioun gelar Soetan Casajangan lahir di Batunadua, Padang SidimpoeAn adalah orang Tapanoeli  kedua yang studi di negeri Belanda. Soetan Casajangan berangkat dari Batavia dengan kapal s.s. Prinses Juliana tanggal 05-07-1905 dan berlabuh di Amsterdam tanggal 30-07-1905. Pers Belanda intensif mengikuti setiap langkah Soetan Casajangan. Ada apa?. Bahkan pada masa-masa permulaan pendidikan, pemberitaan Soetan Casajangan sudah disiarkan secara luas. Di kalangan akademik dan para pakar etik Belanda, Soetan Casajangan mendapat pujian dan dianggap sebagai seorang pelopor pribumi di negeri Belanda (Een Inlandsche pionier in Nederland) . Dua artikel mengenai Soetan Casajangan ditampilkan di bawah ini. (1) Wawancara koran De Telegraf (Amsterdam) yang diterbitkan pada tanggal 3 Juni 1907 dengan judul:’ R. Soetan Casajangan Soripada’ [Artikel ini juga dipublikasikan ulang oleh koran Bataviaasch nieuwsblad (Batavia) pada tanggal 2 Juli 1907]. (2)  Tinjauan akademik yang dimuat di jurnal Weekblad voor Indië, tevens damesweekblad voor Indie yang berjudul: ‘Een Inlandsche pionier in Nederland‘ yang diterbitkan pada tanggal 11 Mei 1913.

Sabtu, Juni 07, 2014

Willem Iskander Nasoetion: Tokoh Pendidikan, Pelajar Orang Indonesia Pertama yang Studi di Luar Negeri (1857)



Berita meninggalnya Willem Iskander (De Locomotief, 31-7-1876)
Sati Nasoetion gelar Soetan Iskandar yang kemudian lebih dikenal Willem Iskander lahir di Pidoli Lombang, Mandailing Natal bulan Maret 1839. Willem Iskander memulai pendidikannya pada sekolah rendah dua tahun, kemudian melanjutkan studi untuk memperoleh akte guru bantu di Negeri Belanda pada bulan Februari 1857.  Ini berarti Willem Iskander adalah orang Indonesia pertama yang studi di luar negeri. Setelah lulus, Willem Iskander kembali ke tanah air pada bulan Juni 1861. Di Mandailing Natal, Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool). Karena dianggap berhasil membangun institusi pendidikan, Pemerintah Belanda membiayai beberapa guru di Sumatra dan Jawa di bawah bimbingan Willem Iskander untuk studi ke Negeri Belanda. Willem Iskander tidak kunjung kembali ke tanah air, karena dikabarkan telah meninggal dunia di Negeri Belanda pada bulan Mei 1876. Berita meninggalnya Willem Iskander di tanah air dimuat di koran De Locomotief yang terbit di Semarang pada tanggal 31 Juli 1876. Berikut ini disajikan salinan berita tersebut.