Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 29, 2014

Bag-4. Generasi Pertama Pelajar Tapanuli Selatan: Merantau dan Tidak Kembali




Pelajar-pelajar Tapanuli Selatan pada masa lalu adalah perintis dalam dunia pendidikan di Hindia Belanda. Sati Nasoetion dari Pidoli, Mandailing yang mengubah namanya menjadi Willem Iskander adalah pelajar pribumi pertama yang studi di Negeri Belanda (1857) dan berhasil mendapat diploma guru sekolah (1860). Pada tahun 1874 Willem Iskander kembali berangkat studi ke Negeri Belanda untuk mendapatkan diploma kepala sekolah (setara S1) namun tidak tercapai, karena meninggal dunia. Setelah Willem Iskander, baru tahun 1903 orang pribumi datang studi ke Negeri Belanda dan disusul oleh Radjioen Harahap, dari Batunadua pada tahun 1905. Pada tahun 1908 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan mendapat diploma guru sekolah dan langsung melanjutkan pendidikannya dan lulus mendapat izajah kepala sekolah (setara S1) dari Rijsschool pada tahun 1913. Dan setelah lulus, Soetan Casajangan kembali ke tanah air dan berkarir sebagai guru di normaalschool (sekilah guru) berbagai kota.

Pelajar Tapanuli Selatan berikutnya yang datang ke Negeri Belanda adalah Abdul Firman Siregar gelar Maharaja Soangkoepon dari Sipirok kelahiran Panyanggar pada tahun 1910. Kemudian datang lagi Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia dari Padang Sidempuan (1911). Sekembalinya Abdul Firman ke tanah air (1914), ia meniti karir sebagai pegawai pemerintahan. Sedangkan Todoeng berkarir sebagai guru Eropa (Europeesch lager onderwijs) di tanah air. Setelah cukup lama berkarir sebagai guru, Todoeng mendapat beasiswa untuk kembali studi ke Negeri Belanda. Todoeng mendapat kesempatan menerima beasiswa untuk studi ke Negeri Belanda untuk mendapatkan gelar PhD. Pada tahun 1933 Todoeng lulus di Rijksuniversiteit dan mendapat doctor di bidang bahasa dan sastra dengan tesis berjudul: ‘Het primitive denken in de modern wetenschap’.

Selasa, Oktober 28, 2014

Bag-3. Generasi Pertama Pelajar Tapanuli Selatan: Alumni Negeri Belanda Merintis dari Bawah hingga Volksraad

Gedung Volksraads di Batavia



Success story Soetan Casajangan dari Batunadua yang sekolah di Negeri Belanda selalu mendapat perhatian media di Nederlandch Indie sejak 1905 dan tak terkecuali koran Sumatra Post yang terbit di Medan. Dari sedikit mahasiswa pribumi di Negeri Belanda, hanya Soetan Casajangan sendiri yang berasal dari Sumatra. Kerena itu, setiap kejadian yang dialami Soetan Casajangan, koran Sumatra Post juga memberitakannya. Namun demikian, berita itu tidak kunjung mampu memicu para pelajar Sumatra datang ke negeri Belanda untuk sekolah tinggi dan malah pelajar dari Jawa yang terus engalir.

Baru pada tahun 1910, seorang anak Sipirok bernama Abdoel Firman gelar Maharadja Soangkoepon  muncul di Negeri Belanda untuk studi. Tempat studi Soangkoepon berada di Leiden, sementara Soetan Casajangan tengah mengikuti kuliah untuk mengambil akte kepala sekolah di Harlem. Kemudian menyusul Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia lahir di Padang Sidempoean, 1896 dengan menumpang kapal s.s. Prinses Juliana berangkat 2 November 1911 dari Batavia menuju Genoa 25 November dengan nama Si Todoeng.

Senin, Oktober 27, 2014

Bag-2. Generasi Pertama Mahasiswa Tapanuli Selatan: Soetan Casajangan, Pendiri Perhimpunan Pelajar di Eropa


Radjioen gelar Soetan Casajangan Soripada
Willem Iskander pelopor pendidikan di Nederlansch-Indie dari Mandailing telah tiada, meninggal di Negeri Belanda (1876) dalam tugas belajar untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Sementara itu, Kweekschool Padang Sidempuan telah pula selesai dibangun. Pada tahun ajaran pertama (1879) di Kweekschool Padang Sidempuan, posisi kandidat Willem Iskander diberikan kepada seorang Belanda bernama L.K. Harmsen, kepala sekolah di Kweekschool Fort de Kock. Pada tahun ajaran baru ini murid yang mengikuti pelajaran sebanyak 18 orang yang datang dari berbagai daerah. Salah satu murid dari angkatan pertama ini adalah Si Saleh dari Sabungan yang kemudian dikenal dengan nama Dja Endar Moeda di kemudian hari menjadi seorang Raja Persuratkabaran di Sumatra.

Sejak keberangkatan Willem Iskander ke Negeri Belanda hingga selesainya Kweekschool Padang Sidempuan, aktivitas belajar mengajar di Kweekschool Tano Bato vakum dan konsekuensinya selama beberapa tahun tidak ada murid baru dan calon guru baru di Tapanoeli. Figur sentral Willem Iskander pada Kweekschool Tano Bato menjadi alasan utama mengapa ditutup. Tidak demikian dengan Kweekschool Padang Sidempuan. Setelah penunjukan Direktur Kweekschool Padang Sidempuan, sejumlah guru bangsa Belanda berdatangan. Salah satu guru yang ditunjuk untuk mengajar di sekolah guru ini adalah Charles Adriaan van Ophuysen (1881).

Adriaan van Ophuysen bukan hanya berprofesi guru, tetapi juga seorang terpelajar yang terus belajar (ilmuwan). Secara struktural selama di Kweekschool Padang Sidempuan Adriaan van Ophuysen dipromosikan menjadi direktur sekolah, secara fungsional (akademik), Adriaan van Ophuysen terus melakukan tugas mengajar dan juga tugas riset mandiri (mempelajari sastra Batak dan Melayu) mempublikasikan karya-karyanya sebagai buku-buku bacaan di sekolah maupun bukua bacaan umum. Semasa Adriaan van Ophuysen menjadi direktur (1885-1890) salah satu muridnya yang paling bersemangat adalah Si Radjiun dari Batunadua. Setelah lulus kweekschool, Radjiun menajdi guru dan kemudian kepala sekolah di Simapilapil. Di lain hal, karena alasan keuangan Negara, Menteri Pendidikan menutup Kweekschool Padang Sidempuan tahun 1893, guru-guru dan calon murid baru diarahkan ke Kweekschool Fort de Kock (Bukittinggi). Salah satu lulusan terakhir dari kweekschool ini adalah Soetan Martoewa Radja dari Sipirok yang dikenal kemudian sebagai ayah dari Mangaradja Onggang Parlindungan, penulis buku Tuanku Rao yang controversial itu.

Minggu, Oktober 26, 2014

Bag-1. Generasi Pertama Mahasiswa Tapanuli Selatan: Willem Iskander, Orang Pertama Indonesia Studi ke Eropa



Belanda pertama kali datang ke Indonesia tahun 1596 dan kemudian mendirikan kongsi dagang yang dikenal sebagai VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) di Batavai tahun 1602. Singkat cerita (235 tahun), Belanda memulai pendudukan di Tapanuli tahun 1833 yang dimulai di Mandailing. Koffij-cultuure sendiri baru diperkenalkan Belanda di Mandheling pada tahun 1841. Hasilnya, rakyat sangat menderita tapi pemerintah Belanda juga tidak untung, Akan tetapi Belanda berkeyakinan  bahwa Tapanuli sangat prospektif, karenanya Tapanuli perlu dibentuk satu keresidenan sendiri tahun 1842 yang beribukota di Sibolga dengan dua asisten residen yakni  Asisten Residen Tapanoeli (juga di Sibolga) dan Asisten Residen Mandheling en Ankola (di Kotanopan). Desentralisasi pemerintahan yang dilakukan tetap tidak menunjukkan kemajuan, pemerintah Belanda terus defisit di Tapanuli. Saat itu sumber pendapatan Belanda di Tapanuli hampir seluruhnya berasal dari wilayah administrasi Asisten Residen Mandheling en Ankola.

Tiga asisten residen terdahulu, T.J. Willer, C. Rodenburg dan J.K.D. Lammleth tidak mampu meningkatkan produktivitas daerah. Namun Gubernur Jenderal di Batavia menyadari ada suatu kekeliruan berpikir yang dibuat Guberneur Surmatra’s Westkut di Padang selama ini. Willer, Rodenburg dan Lammleth adalah tipikal pemimpin style Belanda, keras, kaku dan tidak kompromi. Gaya ini tidak cocok dan jelas mendapat resistensi di Tapanuli. Akademisi Belanda membantu menjelaskan bahwa tipikal penduduk Tapanuli secara fisik kuat dan pekerja keras juga cerdas karena hanya satu-satunya etnik di Nusantara yang sudah memiliki sistem sosial dan sistem pemerintahan yang teratur yang bersifat demokratis, memiliki teknologi sendiri,  memiliki aksara dan sastra sendiri, memiliki isntrumen musik sendiri, sangat happy karena berada di lanskap yang subur.

Jumat, Oktober 17, 2014

SMP Negeri 1 Padang Sidempuan: MULO Padang Sidempoean di Era Belanda’



MULO Padang Sidempuan (KITLV. foto sekitar 1936-1939
MULO adalah Sekolah Menengah Pertama pada era kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) berarti pendidikan dasar lebih luas. Sekolah MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO, salah satunya terdapat di Padang Sidempuan. Sekolah MULO ini kini menjadi SMP Negeri 1 Padang Sidempuan.

Sejarah awal MULO Padang Sidempuan

Di Tapanuli, sudah terdapat MULO yang ditempatkan di Tarutung. Pada tahun 1926 MULO Tarutung dan beberapa muloschool yang lain di Jawa diizinkan untuk mendapat bantuan (subsidi) dari pihak partikelir (swasta). Sekolah MULO yang kedua akan didirikan di Keresidenan Tapanuli.

Rabu, Juli 23, 2014

Bag-4: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Guru Terkenal C. A. van Ophuysen dan Kiprah Para Alumni



Bagian Keempat (habis)
Karya C.A. van Ophuijzen

Adanya kebijakan sepihak dari Pemerintah Hindia Belanda, di Batavia mengakibatkan Kweekschool Padang Sidempoean ditutup pada tahun 1891. Penutupan ini sangat tidak adil. Kweekschool Padang Sidempoean diakui sendiri oleh Inspektur Pendidikan Pribumi sebagai sekolah guru berprestasi, menghasilkan banyak lulusan dengan tingkat drop out rendah. Namun demikian, tidak perlu disesali berlama-lama, karena lulusannya sudah banyak berkiprah di berbagai tempat di Sumatra. Prestasi Kweekschool Padang Sidempoean tak lepas dari kehadiran seorang guru Belanda, bernama C. A. van Ophuysen—seorang guru yang gemar belajar pula dan menjadi profesor di Universiteit Leiden.

Selasa, Juli 22, 2014

Bag-3: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi, Tetapi Dilikuidasi



Bagian Ketiga

Good news, bad news
Kebun kopi di Padang Sidempoean, doeloe

Keberhasilan Kweekschool Padang Sidempoean tidak terbantahkan, tingkat kelulusan murid cukup signifikan—hal yang bertolak belakang dengan pencapaian di Kweekschool Ford de Kock. Berita bagus dari dunia pendidikan di Tapanoeli, ternyata tidak demikian dengan yang terjadi di kweekschool yang terdapat di Bangjaermasin. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 memuat editorial yang berisi bahwa Kweekschool Bandjermasin telah ditutup pada April 1891. Ini berarti telah tiga kweekschool yang ditutup yang mana sebelumnya adalah kweekschool di Magelang dan Tondano. Penutupan kweekschool di Bandjermasin sangat disayangkan, karena ini satu-satunya kweekschool di Kalimantan yang selama ini menjadi sumber guru untuk seluruh penjuru wilayah di Kalimantan.

Alasan yang disebutkan tentang penutupan itu adalah bahwa pemerintah melakukan pengetatan anggaran sebesar 16.000 Gulden per tahun. Mereka yang berada di Kalimantan diharapkan dapat memenuhi guru dengan mengirim anak-anaknya ke Bandoeng atau Probolinggo. Namun pihak-pihak yang pro dengan pendidikan, berpendapat bahwa bukan karena kesulitan anggaran pemerintah dilakukan penutupan sekolah, melainkan adanya faksi-faksi tertentu di negeri Belanda yang menginginkan penduduk asli tetap bodoh, padahal menurut mereka yang pro ini dengan menyediakan pendidikan bagi penduduk pribumi merupakan salah satu wujud ketenaran dari otoritas Belanda sebagai kekuatan peradaban di Timur, juga di pulau Kalimantan, paling tidak meningkat!
***
Kweekschool Padang Sidempoean ternyata tidak aman dari penutupan—terbuka kemungkinan untuk ditutup. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 juga menyajikan hasil analisis, bahwa jika memang masalah anggaran penyebab penutupan, maka Kweekschool Padang Sidempoean maka sekiranya harus ditutup, tampaknya masih lebih rendah konsekuensinya jika dibandingkan dengan penutupan Kweekschool Bandjermasin. Di pantai barat Sumatra masih ada kweekschool di Ford de Kock—kapasitasnya masih memenuhi sekalipun anak-anak Tapanoeli datang. Sementara itu, di Tapanoeli terdapat perguruan misi pada Eijnsche Zendelinggeaootschap di Pansoer na Pitoe, di mana kini terdapat sebanyak 35 murid. Kweekschool Padang Sidempoean menjadi terjepit.

Senin, Juli 21, 2014

Bag-2: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi di Era Hindia Belanda



Bagian Kedua
Kweekschool Padang Sidempoean

Koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 memberitakan bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian semuanya gagal. Di koran ini juga diberitakan Komisi Sekolah akan ke Kweekshool Padang Sidempoean. Koran Bataviaasch handelsblad, 15-05-1883 memberitakan mutasi J.W. van Haastert ke Probolinggo, kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Hal ini juga diberitakan koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1883. Koran Bataviaasch handelsblad, 27-09-1883  memberitakan bahwa C.A. van Ophuijsen di tahun keduanya diberitakan tunjangan tambahan sehingga secara keseluruhan gajinya menjadi 200 Gulden.

Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 memberitakan pengangkatan D. Grivel, sebagai kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Grivel adalah guru di Kweekschool Fort de Kock mulai efektif 1 Februari 1884. Het nieuws van den dag : kleine courant, 12-03-1884 Grivel nantinya akan digantikan oleh guru pangkat kelas 1, D.W. Lantermans.

Koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 01-05-1884 melaporkan bahwa ada dua anak murid Kweekschool Padang Sidempuoen yang bernama Si Saleh dan Si Doepang melakukan kebajikan mengumpulkan untuk membantu orang yang membutuhkan. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 07-06-1884 memberitakan bahwa Mr Van Ophuijsen, asisten guru di Kweekschool Padang Sidempoean, pada paruh pertama bulan Juli datang ke Padang untuk melakukan ujian untuk mendapatkan sertifikat kemahiran dalam survei agronomi.

Bag-1: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Satu dari Delapan Sekolah Guru di Era Hindia Belanda



Bagian Pertama
Lokasi Kweekschool Padang Sidempoean, 1880

Kweekschool adalah sekolah guru bantu di era Hindia Belanda. Pada tahun 1875  Kweekschool Tanobato ditutup dan sebagai penggantinya dibuka kweekshool di Padang Sidempoean, 1879. Lokasi Kweekshool Padang Sidempoean ini (lihat, Peta-1880) kini merupakan area yang menjadi lokasi SMA-1, SMA-2, SPG, SD-16, SD-23, SD-14 dan SMP-3. Sementara bangunan lama kweekshoolnya sendiri pada masa ini masih terlihat dan menjadi gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.

***
Koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-12-1874 memberitakan bahwa sekolah guru Inlandsehe di Tano Bato akan dipindahkan ke Padang Sidempoean. Sekolah ini akan diprogram untuk mendidik sebanyak 25 murid yang berada di wilayah Tapanoeli. Koran Algemeen Handelsblad, 21-09-1875 menyatakan bahwa kweekschool yang ada nantinya akan mengidikasikan sekolah guru hanya terdapat di delapan kota, yakni: Magelang, Bandoeng, Proboliggo (java); Amboina. Tondano, Bandjermasin, Fort de Kock (Bukittinggi); dan Padang Sidempoean.

Minggu, September 22, 2013

Sekolah Negeri di Tapanuli, 1908: Sebanyak 15 dari 19 Berada di Tapanuli Selatan


Guru dan murid sekolah negeri di Sibuhuan, 1908

Pendidikan di Keresidenan Tapanuli 1908 dibawah pengelolaan Pemerintah Hindia Belanda (sekolah negeri) hampir seluruhnya berada di Tapanuli Selatan (Angkola, Mandailing, Padang Lawas dan Sipirok). Di wilayah lainnya di Tapanuli (Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Nias) pada waktu yang sama pendidikan masih dikelola oleh non pemerintah seperti Misi—beberapa misi mendapat subsidi/bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda. Terselenggaranya pendidikan oleh Pemerintah ini di Tapanuli Selatan didukung dengan cukup tersedianya guru-guru pribumi yang merupakan lulusan sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan (didirikan 1879, kelanjutan dari Kweekshool Tanobato yang ditutup tahun 1874).

Namun sangat disayangkan kweekschool ini ditutup tahun 1891 karena kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Hindia Belanda. Untuk mendapat pendidikan setingkat kweekschool atau lebih tinggi yang lokasinya terdekat dapat ditempuh di Fort de Kock (Bukit Tinggi). Pada waktu itu, pendidikan di Tapanuli masuk wilayah supervisi pendidikan di bawah inspektur wilayah Pantai Barat Sumatra yang berada di Fort de Kock sedangkan wakilnya pada awalnya berada di Medan kemudian tahun 1908 ditempatkan di Sibolga. Inspektur pendidikan wilayah Pantai Barat Sumatra pada tahun 1893 adalah Charles Adriaan van Ophuysen yang pernah menjadi guru di Kweekshool Padang Sidempuan sejak 1882 dan menjadi Direktur selama periode 1885-1890.

Minggu, September 15, 2013

SMA Negeri 1 Padang Sidempuan: Eks Kweekschool dan HIS di Era Belanda


Belanda pertama kali masuk ke Tapanuli Selatan 1833 (Douwes Dekker). Setahun kemudian Pemerintah Belanda memulai pemerintahan sipil. Baru di era Godon pada tahun 1853 Belanda memperkenalkan pendidikan barat di Tapanuli Selatan. Sepulang dari Belanda (berangkat bersama Godon) dengan sertifikat guru bantu dari Amsterdam, Willem Iskander anak seorang tokoh di Mandailing pada tahun 1864 membuka sekolah guru (kweekschool) di Tanobato. Sekolah guru ini kemudian tahun 1874 ditutup karena Willem Iskander sendiri berangkat lagi ke Belanda (dan tidak kembali lagi).

Foto-1. Gedung tua SMA N 1 Padang Sidempuan (Foto: internet)
Sekitar tahun 18?? ibukota Residen Tapanuli di Panyabungan dipindahkan ke Padang Sidempuan. Penutupan Kweekshool Tanobatu terkait dengan pembangunan Kweekshool Padang Sidempuan. Sebelum ada kweekshool di Padang Sidempuan sekolah penduduk pribumi sudah didirikan terlebih dahulu yang berlokasi di SD2/SD10 yang sekarang. Kemudian pada tahun 1879 di Padang Sidempuan didirikan Kweekschool. Sebagaimana Peta 1880 (Peta-1), lokasi Kweekschool ini merupakan area yang kini menjadi area SMA1, SMA2, SPG, SD 16, SD 23, SD14 dan SMP 3. Pada waktu itu, sekolah orang Eropa  (Europese Lagere School) didirikan yang berada di pusat kota, yang berlokasi tepat di depan rumah Residen atau kini tepatnya di gedung BPDSU/Bank Sumut yang sekarang. Adanya kebijakan pusat, Kweekschool Padang Sidempuan ditutup pada tahun 1891. Untungnya sudah banyak lulusan Kweekschool Padang Sidempuan. Pada tahun 1908 terdapat 19 sekolah yang didirikan Pemerinta

Minggu, Juli 14, 2013

HIS, MULO dan Kweekschool di Padang Sidempuan ‘Tempo Doeloe’


HIS

Hollands Inlandsche School (HIS) di Padang Sidempuan (sekitar 1936-1939)
Hollandsch Inlandsche School (HIS) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada tahun 1920 Belanda mendirikan HIS di Padang Sidempuan yang diperuntukkan bagi anak-anak ambtenaar, pegawai, serdadu KNIL, anak-anak raja dan anak pedagang dengan dikutip biaya sekolah yang cukup tinggi. Bahasa pengantar dalam sekolah ini adalah Bahasa Belanda. Sekalipun demikian, guru-gurunya adalah orang Indonesia dengan kepala sekolah seorang Belanda.


MULO

Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang Sidempuan (sekitar 1936-1939)
MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti pendidikan dasar lebih luas. MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO (termasuk di Padang Sidempuan).


Kweekschool


Minggu, Februari 05, 2012

Pendaftaran SNMPTN 2012 'Jalur Undangan'


Pendaftaran SNMPTN-2012 "Jalur Undangan" secara online. Tugas ini sebenarnya dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA/SMK, namun anda perlu juga memantau anak, adik, saudara anda agar prospeknya menjadi lebih baik untuk memasuki PTN di Indonesia. Semoga sukses. 


Lihat http://www.snmptn.ac.id/i_home.php

Berikut adalah nama-nama SMTA yang diundang:

Rabu, Agustus 31, 2011

Kasih Ibu



Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Kamis, Juni 02, 2011

RSBI SMAN 2 Plus Sipirok: Upaya Merintis Kembali Kejayaan Pendidikan di Tapanuli Bagian Selatan

SMAN 2 Plus Sipirok merupakan satu-satunya sekolah (SMA) yang menyandang predikat standar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Tapanuli Bagian Selatan. SMA RSBI lainnya terdapat di wilayah Tapanuli Tengah (SMAN 1 Matauli) dan wilayah Tapanuli Utara (SMAN 2 Balige). Di Propinsi Sumatera Utara sendiri hanya terdapat sepuluh SMA berstatus RSBI, lima lainnya terdapat di Medan (SMA Sutomo 1 Medan dan SMAN 1 Medan), dan masing-masing satu buah di Kisaran (SMAN 2), Sidikalang (SMAN 1),Brastagi (SMAN 1), Lubuk Pakam (SMAN 1) dan Lupuk Pakam (SMAN 1).

Selasa, Februari 08, 2011

Penyebaran Fasilitas Pendidikan SMK di Wilayah Tapanuli Bagian Selatan

Permasalahan pendidikan dikaitkan terhadap banyak aspek: Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), akses terhadap pendidikan, program wajib belajar sembilan tahun, angka partisipasi sekolah (APS) dan sebagainya. Berikut ini disajikan jumlah fasilitas pendidikan (SD, SMP, SMA dan SMK) dan jarak terdekat  (jika tidak ada dalam desa) menurut kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, dan Kota Padang Sidempuan. Data diolah dari PODES (BPS) 2008.

Penyebaran Fasilitas Pendidikan SMU di Wilayah Tapanuli Bagian Selatan

Permasalahan pendidikan dikaitkan terhadap banyak aspek: Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), akses terhadap pendidikan, program wajib belajar sembilan tahun, angka partisipasi sekolah (APS) dan sebagainya. Berikut ini disajikan jumlah fasilitas pendidikan (SD, SMP, SMA dan SMK) dan jarak terdekat  (jika tidak ada dalam desa) menurut kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, dan Kota Padang Sidempuan. Data diolah dari PODES (BPS) 2008.

Penyebaran Fasilitas Pendidikan SMP di Wilayah Tapanuli Bagian Selatan

Permasalahan pendidikan dikaitkan terhadap banyak aspek: Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), akses terhadap pendidikan, program wajib belajar sembilan tahun, angka partisipasi sekolah (APS) dan sebagainya. Berikut ini disajikan jumlah fasilitas pendidikan (SD, SMP, SMA dan SMK) dan jarak terdekat  (jika tidak ada dalam desa) menurut kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, dan Kota Padang Sidempuan. Data diolah dari PODES (BPS) 2008.

Penyebaran Fasilitas Pendidikan SD di Wilayah Tapanuli Bagian Selatan

Permasalahan pendidikan dikaitkan terhadap banyak aspek: Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), akses terhadap pendidikan, program wajib belajar sembilan tahun, angka partisipasi sekolah (APS) dan sebagainya. Berikut ini disajikan jumlah fasilitas pendidikan (SD, SMP, SMA dan SMK) dan jarak terdekat  (jika tidak ada dalam desa) menurut kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, dan Kota Padang Sidempuan. Data diolah dari PODES (BPS) 2008.