Tampilkan postingan dengan label Sumatera Tenggara di Asia Tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Tenggara di Asia Tenggara. Tampilkan semua postingan

Senin, April 18, 2016

Rencana Bandara Padang Sidempuan (1935): Ditolak karena Bahaya Imperialisme

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini


Pesawat pertamakali mendarat di Indonesia adalah di Medan. Dari Medan ke Singapura dan dari Singapura ke Batavia. Itu terjadi pada tahun 1924. Penerbangan pertama ini merupakan langkah radikal dalam transportasi Belanda (Nederland) dengan Indonesia (Nederlandsch Indie). Jalur perdana Medan-Singapoera-Batavia ini kemudian menjadi jalur internasional dari Batavia ke Eropa/Belanda. Namun demikian, penerbangan domestik justru dimulai di Jawa baru kemudian menyusul di Sumatra.

Pembicaraan tentang jalur penerbangan di langit Sumatra baru dimulai pada tahun 1926. Hal ini dimulai dari rencana sebuah maskapai membuat jalur Batavia-Telok Betong. Bandara Telok Betong ini akan menjadi jalur entri memasuki Sumatra yang akan dikembangkan terus ke utara hingga ke Kota Radja via Moeara Bliti, Pajacombo, Padang Sidempoean atau Rautau Prapat atau Gunung Toea lalu ke Medan. Dari Medan diperluas ke Kota Radja. Jalur Medan-Padang Sidempuan secara khusus menjadi prioritas jika Rantau Prapat yang akan dipilih  yang juga akan mencakup wilayah yang luas baik ke Toba maupun ke timur (De Indische courant, 15-07-1926).

Jalur ini direncanakan untuk memenuhi aviation jalur tengah Sumatra, Jalur tengah ini selain untuk angkutan orang juga untuk mendukung pengakutan pos. Juga telah datang usul agar dibuat jalur Padang-Singapoera, namun maskapai baru membatasi jalur Medan-Singapora-Batavia (yang akan beroperasi tahun 1930). Penerbangan Batavia-Medan secara militer sudah dimulai pada tahun 1928.

Sabtu, April 16, 2016

Kereta Api Trans Tapanuli (Padang Sidempuan-Sibolga): ‘Layu Sebelum Berkembang’

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini


Saat ini kereta api tidak ada di Tapanuli. Sejauh ini bahkan tidak pernah terdengar sekalipun ‘kabar burung’ tentang rencana pembangunan kereta api di Tapanuli. Yang ada hanyalah jalan raya, yang menurut kabar berita, kondisinya sangat buruk terutama jalur antara Padang Sidempuan dan Sibolga via Batang Toru. Padahal, jalur ini di masa lampau merupakan jalur terbaik (aspalnya mulus) dan sangat ramai (arus barang dan orang sangat tinggi, pp). Bahkan ketika jalan raya ini pada top performance, pemerintah di Batavia sudah menganggarkan biaya pembangunan jalan kereta api Tapanuli tahap satu: Padang Sidempuan dan Sibolga.

Pembangunan awal jalur kereta api Medan-Laboehan Deli, 1883
Sejak ibu kota Afdeeling Mandheling en Ankola dipindahkan ke Padang Sidempuan 1870, kota ini terus berkembang pesat sebagai sentra kopi di Tapanoeli. Selain itu kota ini juga pusat pendidikan dan pusat Eropa (yang mana orang-orang Eropa/Belanda) cukup tinggi konsentrasinya. Untuk memfasilitasi pebangunan tersebut, lalu 1879 dibangun jembatan Batang Toru dengan beton, besi baja menggantikan jembatan kabel telegraf sebelumnya. Jembatan Batang Toru ini selesai tahun 1883 yang merupakan jembatan terpanjang di Nederlandsch Indie (baca: Indonesia). Pada akhir tahun 1890an, para investor sudah mulai membuka perkebunan di sekitar Batang Toru. Sejak 1902 hingga 1915 tidak kurang dari sebelas perusahaan besar swasta berinvestasi di Loemoet, Batang Toru, Anggoli, Huraba, Marancar, Sangkoenoer, Pijor Koling dan Simarpinggan. Intensitas yang tinggi di Batang Toru menyebabkan Batang Toru menjadi pusat industri perkebunan di Tapanuli. Orang-orang Eropa semakin banyak dan bahkan telah jauh melampaui jumlah orang Eropa/Belanda di Padang Sidempuan maupun di Sibolga. Orang kaya baru juga muncul dimana-mana, yang menjadi kaya tidak hanya investor asing tetapi juga para investor local bahkan pekebun-pekebun biasa. Arus komoditi karet mengalir ke Sibolga, sebaliknya arus dollar juga mengalir ke daerah perkebunan. Pada saat itu, pemerintah meningkatkan kualitas jalan raya (mulus) hingga sekelas jalan raya Medan-Pematang Siantar dan jalan raya Padang-Bukit Tinggi. Di atasnya jalan raya kelas-A antara Sibolga-Padang Sidempuan lalu lalang mobil-mobil sedang terbaru, truk-truk besar, dan bis angkutan umum serta sepeda motor. Kontras jika dibandingkan pada tahun 1880an ketika jembatan Batang Toru baru selesai dibangun hanya yang melintas, padati dan kuda beban untuk mengangkut kopi dan orang serta barang lainnya antara Padang Sidempuan dengan Sibolga. Pada saat ini pelabuhan Loemoet masih berfungsi untuk mengepul komoditi kopi dan produk pertanian lainnya untuk diteruskan ke Padang via pelabuhan Djaga-Djaga.  

Pemerintah Kolonial di Batavia melihat kemajuan pesat di Tapanuli, khususnya afd. Sibolga dan afd. Mandheling en Angkola, maka diputuskan untuk mulai merencanakan pembangunan jalur kereta api. Ini dimaksudkan agar terjadi efisiensi perekonomian dan efektivitas pemerintahan. Ini juga dipicu oleh Residentie Tapanoeli sudah dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust sejak 1905 dan Residentie Sumatra’s Oostkust beribukota Medan ditingkatkan menjadi province. Sejalan dengan ini afdeeling Mandheling en Ankola diubah namanya menjadi afdeeling Padang Sidempuan.  

Jumat, Januari 30, 2015

KOPI SIKOLA: Suatu Perekonomian Awal dan Permulaan Pendidikan di Tapanuli pada Era Hindia Belanda

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini


'Kopi' adalah kopi dan 'sikola' adalah sekolah. Kopi sikola adalah awal peradaban modern di Tapanuli pada era Hindia Belanda. Sebagaimana ekonomi tebu di Jawa, di Tapanuli instrumen yang dipakai pemerintah Belanda adalah kopi. Namun introduksi kopi tahun 1841 dan sistem budidaya kopi (koffij cultuur-stelsel) ini di Tapanoeli awalnya tidak mudah, ada penentangan dari penduduk, karena sebagian penduduk lambat-laun menyadari skema partrnership yang disepakati telah bergeser menjadi eksploitasi, akibatnya perlawanan timbul di beberapa tempat bahkan berdarah-darah.

Gudang kopi di Mandailing
Penduduk yang berada di Mandheling en Ankola (Mandailing dan Angkola) banyak yang eksodus ke semenanjung Malaya. Peristiwa ini dirasakan dan direkam dengan sempurna oleh Eduard Douwes Dekker yang saat itu sebagai controleur (setingkat camat) di Natal. Dekker kerap menjadi tempat ‘curhat’ penduduk local. Akibat perbuatan Dekker yang masih muda dan cerdas ini dianggap menyimpang lalu dicopot dari jabatannya. Misteri Dekker (yang kemudian dikenal sebagai Multatuli) baru setelah sekian puluh tahun diketahui sebab musabab Eduard Douwes Dekker dipecat lalu dilokalisir (dibuang) dan ditelantarkan tetapi terus diawasi di Padang selama setahun. Di sinilah kisah permulaan jalan hidup Multatuli.

Pemerintah kolonial Belanda di Batavia ‘ngotot’ harus menerapkan budidaya kopi di tanah Mandailing dan Ankola, karena informasi yang diperoleh dari ekspedisi Franz Wilhelm Junghuhn, tanah di Mandheling en Ankola khususnya di Pakantan (Mandheling) dan di Sipirok (Ankola) adalah jenis tanah yang unik dan sesuai untuk tanaman kopi (lihat Junghuhn, 1847 'Die Battaländer auf Sumatra' / Tanah Batak di Sumatra). Kopi yang tumbuh di tanah-tanah pegunungan Mendheling en Ankola itu dianggap paling sesuai dengan kopi yang diinginkan konsumen Eropa Barat dan Amerika Utara. Terbukti pada akhirnya, kopi yang berasal dari Mandheling en Ankola menjadi kopi terbaik dunia dan harga tertinggi di pasar internasional. Hingga kini nama kopi Mandheling en Ankola di Tapanoeli menjadi nama generic untuk kopi terbaik dunia.

Selasa, Januari 27, 2015

Andaliman, Rempah Masakan Khas Batak Sudah Dikenal di Angkola Sejak Tempo Doeloe, 1772

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini
 
*Mesiu juga sudah dikenal sejak dulu di Tanah Batak (diolah dari belerang)

Andaliman (Miller, 1772)

Andaliman atau sinyarnyar (Zanthoxylum acanthopodium DC) semacam rempah masakan sudah dikenal di Angkola, Tapanuli Selatan sejak doeloe. Yang mengabarkan penemuan ini pertama kali adalah seorang ahli botani Inggris yang tengah melakukan ekspedisi tanaman cassia (kulit manis) ke pedalaman Tanah Batak di Angkola tahun 1772. Ahli botani tersebut bernama Charles Miller. Besar kemungkinan Miller adalah orang Eropa pertama memasuki Tanah Batak. Penemuan ini diungkapkan oleh William Marsden dalam bukunya History of Sumatra (1811) berdasarkan ekstrak surat-surat pribadi Miller.  Kisahnya adalah sebagai berikut (diringkas dari Marsden):

21 Juni, 1772. Kami berangkat dari Pulau Punchong (kini Poncang) dengan kapal lalu memasuki muara sungai Pinang Suri. Keesokan paginya kami naik sampan sekitar enam jam, tiba di muara Lumut. Sepanjang kiri kanan sungai  dipenuhi pohon-pohon kamper, oak, meranti dan lainnya, tidak lama kemudian terdapat kampong Batak terletak di puncak bukit kecil. Berdasarkan pemandu kami orang Melayu, Radja dari kampong ini mengundang kami ke rumahnya. Lalu kami diterima dengan upacara besar dan memberi hormat dengan tembakan ke udara dari tiga puluh senjata, Kampung ini terdiri dari delapan atau sepuluh rumah yang masing-masing rumah memiliki padi. Kampung mereka dibentengi dengan kayu kamper dan juga bamboo duri. Juga tampak kandang kerbau.

Selasa, Desember 30, 2014

Asal Usul Sejarah Lemang : Apakah Bermula di Tanah Batak?

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini 


Baca juga:


Lomang (Batak), lemang (Melayu) dan lamang (Minangkabau) adalah tiga nama yang diucapkan dan ditulis mirip untuk menunjukkan nama satu hal. Lemang (selanjutnya, baca: Indonesia) adalah suatu metode memasak beras menjadi nasi dengan menggunakan wadah bamboo. Setelah beras dimasukkan ke dalam rongga bamboo yang di dalamnya dilapisi daun pisang kemudian dibakar/dipanggang di atas api menyala. Beras yang sudah menjadi nasi ini dengan metode bamboo disebut lemang.

Lemang pada masa kini ditemukan di beberapa Negara dan sejumlah daerah di Indonesia. Dalam perkembangannya, jenis beras yang digunakan bermacam-macam, utamanya beras local seperti beras putih, beras merah, beras hitam atau beras pulut. Di daerah Angkola dan Mandailing beras disebut dahanon dan jenisnya bermacam-macam, seperti dahanon Sipulo, dahanon Silanting, dahanon Sipahatta nabara, dan dahanon Sipulut (beras ketan). Diantara jenis-jenis beras yang ada, beras pulut yang paling popular yang kerap dihidangkan untuk lomang di saat-saat tertentu terutama ketika hari raya.

***
'Mangalomang'
Untuk membuat nasi lemang bukanlah hal yang simpel, karena perlu persiapan dan penanganan selama proses pembakaran. Waktu yang dibutuhkan saat mulai dibakar di atas kayu bakar yang menyala (fase pertama) hingga masa pemanggangan di atas bara (fase kedua) cukup lama--tiga sampai empat jam. Karena itu, metode ini tidak setiap hari digunakan untuk memasak beras. Dengan kata lain, metode memasak beras menjadi nasi serupa ini tidak praktis. Waktu dan daya upayanya tidak sebanding jika dilakukan dengan metode lain.

Metode memasak nasi menggunakan bamboo yang dikenal sekarang sebagai lemang hanya digunakan jika metode lain tidak bisa digunakan atau jika dimaksudkan untuk meninggikan nilainya. Metode ini di masa lalu dapat digunakan di dalam perjalanan jauh jika tidak tersedia peralatan memasak nasi tetapi tersedia jenis bamboo yang sesuai dengan metode memasak beras serupa ini. Dengan demikian, metode memasak ala bamboo ini menjadi sangat taktis di medan perjalanan jarak jauh (long distance).

***
Produk beras dengan menggunakan metode memasak ala bamboo ini terbukti memang nasi menjadi lebih uenak. Hal ini tidak hanya karena bahan dasarnya beras lokal, juga karena dibakar dengan kayu bakar. Jangan lupa efek dari wadah bamboo dan daun pisang juga turut meningkatkan aroma rasanya menjadi khas. Value inilah yang dicapture untuk dilestarikan sebagai makanan yang khas pada hari tertentu, seperti hajatan atau hari raya. Sedangkan di masa kini value yang dimaksud adalah nilai komersil yang dapat diperdagangkan setiap hari, seperti di Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Dengan demikian, penganan pada hari raya dan produk bisnis di pasar menjadi sebanding jika metode bamboo ini diterapkan. 

Namun perlu diingatkan, dalam industri lemang yang sekarang, seperti dituturkan Baharuddin Aritonang dalam bukunya Orang Batak Berpuasa, chapter 26 'Mangalomang', banyak lemang komersil yang palsu di pasaran. Dalam dunia tradisi, lomang asli haruslah taat menggunakan jenis bambu yang sesuai--agar hasilnya maksimal. Lomang asli ciri-cirinya lembek di bagian bawah dan bagian atas. Bagian terbaik dari lomang asli (pulen) ada di bagian tengah ruas bambu. Lemang palsu mudah dikenali jika semua bagian ruas bambu (bawah, tengah dan atas) tampak seragam dan tingkat kematangannya rata, Teknik lemang palsu ini dilakukan dengan cara beras pulut dimasak dulu dalam dandang baru kemudian dibungkus dan digulung dengan daun pisang yang sudah diasapi lalu dimasukkan ke dalam rongga bambu dan kemudian dipanggang seadanya. Dalam perdagangan lemang palsu maccam ini, kerap kali bambunya disembunyikan, isinya dijajakan. Tidak demikian dengan lomang tradisi nan asli.     

Rabu, Januari 23, 2013

Etnik Batak di Sumatra Utara: 46.35 Persen Menganut Agama Islam dan 47.30 persen Agama Kristen

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini
 
Baca juga
Sejarah Kota Medan (24): Pewarta Deli, Surat Kabar Legendaris di Medan (1909-1946); Didirikan oleh Dja Endar Moeda (1861-1926)
Gelar Doktor Pertama di Indonesia: Dr. Ida Loemongga, PhD, Doktor Perempuan Pertama di Indonesia

Populasi etnik Batak di Indonesia merupakan sub populasi terbanyak ketiga setelah etnik Jawa dan etnik Sunda. Jumlah etnik Batak di Indonesia hasil Sensus Penduduk 2010 adalah sebanyak  8,432,328 jiwa. Berdasarkan kode etnik BPS, etnik Batak terdiri dari tujuh sub etnik. Populsi masing-masing sub etnik adalah sebagai berikut:  Batak Angkola (623,214 jiwa), Batak Karo (1,232,655 jiwa), Batak Mandailing (1,742,673 jiwa), Batak Pakpak Dairi (180,393 jiwa), Batak Simalungun (441,382 jiwa), Batak Tapanuli/Sibolga (539,567 jiwa) dan Batak Toba (3,672,443 jiwa).


Di Sumatra Utara terdapat tujuh etnik yang terbilang signifikan jumlahnya yakni etnik Batak, etnik Jawa, etnik Melayu, etnik Nias, etnik Tionghoa, etnik Minang dan etnik Aceh. Etnik Batak sendiri yang paling banyak jumlahnya, terdapat sebanyak 46.35 persen beragama Islam, sementara sebanyak 47.30 persen menganut agama Kristen dan 6.25 persen menganut agama Katolik. Sedangkan sisanya sebanyak 0.08 persen terdiri dari agama Hindu, Budha, Khonghucu dan lainnya. Ini menunjukkan di Sumatra Utara bahwa etnik Batak penganut agama Islam dan agama Kristen tampak berimbang.

Minggu, Desember 09, 2012

Populasi Etnik Mandailing di Nusantara: Suatu Sketsa Daerah Aliran Migrasi

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini

Oleh Akhir Matua Harahap


Di Tapanuli bagian selatan terdapat dua subetnik Batak yakni: Etnik Angkola dan Etnik Mandailing. Hasil Sensus Penduduk 2010 populasi etnik Angkola di Tapanuli Bagian Selatan sebanyak  493,785 jiwa dan etnik Mandailing sebanyak  475,196 jiwa. Etnik Angkola dominan di Kabupaten Tapanuli Selatan (60.14 persen), di Kabupaten Padang Lawas Utara (73.18 persen) dan Kota Padang Sidempuan (44.81 persen). Sedangkan etnik Mandailing dominan di Kabupaten Mandailing Natal (77.71 persen). Ini berarti, secara spesifik daerah asal (origin) etnik Mandailing hanya satu-satunya di Kabupaten Mandailing Natal. Di Kabupaten Padang Lawas, populasi etnik Mandailing cukup besar dengan persentase sebesar 42.79 persen, sementara etnik Angkola sebesar 37.23 persen. Ini berarti wilayah Kabupaten Padang Lawas boleh jadi merupakan daerah tujuan migrasi etnik Angkola maupun Etnik Mandailing.

Populasi etnik Mandailing di Kabupaten Mandailing Natal sesungguhnya hanya sebanyak 314.700 jiwa. Jika di wilayah Tapanuli Bagian Selatan populasi etnik Mandailing sebanyak 475,196 jiwa maka terdapat sebanyak 160.496 jiwa yang tersebar di empat kabupaten/kota lainnya di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Distribusinya adalah   sebanyak 19,462 jiwa di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 5,857 jiwa di Kabupaten Padang Lawas Utara, sebanyak 96,396 jiwa di Kabupaten Padang Lawas dan sebanyak 38,502 jiwa di Kota Padang Sidempuan. Jika tiga kabupaten/kota yang dominan etnik Angkola dianggap sebagai gabungan daerah asal (origin) etnik Angkola, maka etnik Mandailing sesungguhnya telah bermigrasi ke wilayah etnik Angkola. Sebaliknya, jumlah etnik Angkola  di Kabupaten Mandailing Natal yang sekarang hanya terdapat sebanyak 2,088 jiwa. Ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Mandailing Natal bukanlah daerah tujuan utama migrasi bagi etnik Angkola.

Selasa, Juni 19, 2012

Pertempuran ‘Benteng Huraba’ di Padang Sidempuan: Peran Laskar dan Rakyat Tapanuli Selatan dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap


Prakondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Benteng Huraba, latar hutan

Pembentukan pemerintahan dan pertahanan Republik Indonesia terjadi hampir bersamaan waktunya. Ini sangat mungkin, karena Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah (Jepang) dalam suasana euphoria pasukan Sekutu, dimana Belanda yang dikalahkan Jepang yang bernafsu kembali untuk menjajah telah datang kembali dengan memanfaakan kehadiran pasukan Inggris ketika tengah melucuti pasukan Jepang dan membebaskan tawanan perang yang ada di Indonesia. Dengan situasi dan kondisi tersebut, maka pembentukan dan penyusunan struktur pemerintahan RI dilaksanakan dari pusat ke daerah-daerah (top down), tetapi tidak demikian dalam proses terbentuknya struktur pertahanan RI, justru pertahanan rakyat sudah dimulai dan terbentuk dari kalangan rakyat (bottom up) yang kemudian disempurnakan dan dilegitimasi oleh pemerintah pusat..

Pada awalnya, inisiatif membentuk pertahanan rakyat muncul sporadis. Mereka yang dulunya eks pasukan militer/polisi penjajah (Jepang/Belanda) dan rakyat--pihak yang paling menderita selama penjajahan spontan mengangkat senjata dan mempersenjatai rakyat. Semua yang disebut para ‘pentolan’ rakyat ini bercermin pada pahlawan-pahlawan pendahulu dan tentu saja karena di depan mata adanya potensi ‘chaos’ karena kurang jelasnya estafet kaum penjajah, yang mana pasukan penjajah Jepang sudah ‘lesu darah’ sementara pasukan Inggris mewakili sekutu tampaknya kurang berminat terhadap keelokan bumi Indonesia—mungkin dengan dalih untuk menjaga rasa hormat terhadap mantan penjajah Belanda yang boleh jadi terus ‘merayu’ atau ‘dirayu’ untuk masuk kembali ke Indonesia. Situasi dimana Belanda ingin menjajah kembali dan pasukan Jepang sudah mati kutu di markas masing-masing, maka kesempatan inilah yang ingin diraih oleh rakyat untuk membentuk kekuatan bersenjata dimana-mana.

Sabtu, Juni 16, 2012

Laskar ‘Pelangi’ Sipirok, Letnan Sahala Muda Pakpahan dan Benteng Huraba di Padang Sidempuan: Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer dari Tapanuli Bagian Selatan

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disin
 
Oleh Akhir Matua Harahap


Bagian-1: Laskar ‘Pelangi’ dari Sipirok Merantau Menuju Medan

Kafilah ‘Padati’ Trayek Sipirok-Sidimpuan

Seorang pemuda belia (lima belas tahun) kelahiran desa Sunge Durian, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Kehidupan di desanya di jaman pendudukan Jepang tidaklah begitu sulit, bahkan berkecukupan, karena letak desa ini jauh dari jalan raya di tengah hutan (luat harangan). Akan tetapi pemuda ini selalu gelisah jika berdiam di huta, karena ia sendiri tidak ingin selalu disuruh ibunya ke sawah-ladang. Jika waktunya tiba hari poken (hari pasar) setiap hari kamis ia mendapat tugas untuk mengangkut hasil-hasil bumi dengan kuda beban ke suatu tempat di pinggir jalan raya Sipirok-Padang Sidempuan di desa Situmba.

Padati jaman 'doeloe' (Illustrasi/foto Basyral Hamidy Harahap) 
Hasil-hasil bumi ini ditampung oleh pedagang pengumpul untuk diteruskan ke pasar Padang Sidempuan. Pada masa Jepang transportasi mobil (truk dan bis) dari Sipirok ke Sidempuan digantikan dengan padati (pedati). Konon, bis-bis yang ada di Sipirok semuanya disita oleh militer/polisi Jepang untuk kebutuhannya sendiri. Karena itu, angkutan barang dan orang dilakukan dengan pedati. Jumlah pedati ini sangat banyak. Biasanya perjalanan Sipirok-Padang Sidempuan (dan sebaliknya) ditempuh dalam dua malam. Dari Sipirok/Situmba berangkat malam hari dan pagi hari tiba di Aek Pargarutan. Siang hari para kafilah ini beristirahat (memasak, tidur, mengumpulkan rumput dan memberi kesempatan kerbau untuk beristirahat juga). Malam hari kafilah berangkat lagi dan tiba di Kantin/Padang Sidempuan pagi hari. Pedati di parkir di dekat jembatan Siborang (kerbau di arahkan ke sungai, para crew padati beristirahat, memasak dan bongkar muat barang. Untuk sarana angkutan dari terminal padati ke pasar Sidempuan dilakukan oleh para kuli angkut dengan menggunakan osaka. Pada sore hari memuat barang dan malam hari perjalanan kembali ke Sipirok dilakukan lagi. Diharapkan pagi hari tiba di sub terminal di Aek Pargarutan dan malam harinya perjalanan dilanjutkan ke Sipirok.

Jumat, Mei 18, 2012

Sejarah Tata Ruang Padang Sidempuan: Suatu Esai Sosial-Ekonomi Kota di Masa ‘Doeloe’ Menuju Kota Masa Depan

*Semua artikel Sumatera Tenggara di Asia Tenggara dalam blog ini Klik Disini

Oleh Akhir Matua Harahap

Peta Padang Sidempuan 1843-1847 (Peta: KTILV.NL)
Kota Padang Sidempuan pada masa ini dapat didekati melalui tiga jalur utama, yakni: dari dan ke arah Tarutung/Rantau Prapat (utara), Bukit Tinggi (selatan), Sibolga (barat). Koneksi (interchange) tiga jalur utama ini terletak di Tugu Siborang pada masa ini. Pada masa lalu, jalur utara dan selatan di Siborang merupakan lalu lintas pergerakan pasukan dalam Perang Padri (1816-1833). Sebelah timur Siborang ini merupakan daerah pertanian/persawahan yang subur dan menjadi lumbung beras; sedangkan sisi sebelah barat sungai Batang Ayumi merupakan areal tegalan/kebun penduduk. Ke arah hulu kebun-kebun penduduk ini terdapat areal persawahan yang sangat luas: mulai dari Kampung Salak / Sigiring-Giring hingga wilayah Hutaimbaru/Siharangkarang. Saat itu, jalur dari dan ke Sibolga dari Siborang belum tersambung--jalur perdagangan Sipirok-Sibolga dilakukan via Batunadua-Hutaimbaru dan jalur Pijorkoling / Angkola Jae ke Sibolga dilakukan di hilir jembatan Siborang.

Ketika Belanda menduduki wilayah Padang Sidempuan (datang dari arah Mandailing / Air Bangis), pasukan Belanda membangun jembatan Siborang dan jembatan Sigiringgiring yang mengakibatkan daerah Siborang menjadi sebuah persimpangan utama yang menghubungkan lalu lintas utara, selatan dan barat dari dan ke benteng Padang Sidempuan. Sehubungan dengan pemindahan ibukota Keresidenan Tapanuli dari Air Bangis (daerah Pasaman) ke Padang Sidempuan pada tahun 1884--wilayah Kota Padang Sidempuan pada masa kini--wilayah ini sebelumnya adalah semacam tanah ulayat dari empat area komunitas marga Harahap: yang berada di arah utara adalah Batunadua/Pargarutan, di arah selatan adalah Pijor Koling, di arah barat adalah Hutaimbaru / Angkola Julu; dan satu lagi dan merupakan inti komunitas marga Harahap yakni di arah tenggara adalah Sidangkal / Simarpinggan. Penduduk asli marga Harahap di Sidangkal ini sudah sejak lama melakukan aktvitas berladang dan berburu  di areal yang kini menjadi pusat Kota Padang Sidempuan.