Tampilkan postingan dengan label Sejarah Sumpah Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Sumpah Pemuda. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 19, 2016

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (4): Analisis yang Keliru dan Hasil Analisis yang Seharusnya; Sukarno dan Hatta Menghormati Parada Harahap

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Parada Harahap (duduk paling kanan)
Putusan Kongres dari Kongres Pemuda (1928) dan Hari Sumpah Pemuda dari Kongres Pemuda (1953) adalah dua fakta yang berbeda waktu tetapi berkaitan. Sukarno dan Hatta tidak terlibat dalam dua kongres tersebut. Tokoh utama di latar belakang kedua kongres tersebut adalah Parada Harahap baik dalam Kongres Pemuda 1928 maupun dalam Kongres Pemuda 1953. Parada Harahap memfasilitasi Sukarno dan Hatta untuk membuka jalan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia melalui pembentukan PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia). PPPKI membuka ruang untuk diselenggarakannya Kongres Pemuda (1928). PPPKI juga membentuk ruang dalam penyelenggaraan Kongres Indonesia Raya (1833) yang menjadi wadah Sukarno dan Hatta untuk menjadi calon pemimpin Indonesia dalam terwujudnya kemerdekaan. Dalam mempertahankan kemerdekaan Parada Harahap mendukung Sukarno dan Hatta. Ketika dwitunggal Sukarno dan Hatta retak (1956), Parada Harahap tidak bisa berbuat. Parada Harahap menganggap Sukarno dan Hatta sama pentingnya. Parada Harahap tidak memihak (abstain) dalam soal retaknya dwitunggal: Sukarno-Hatta. Parada Harahap meninggal dunia tahun 1959. Sejak itu tidak ada lagi orang Indonesia yang kompetetn untuk pemersatu.

Analisis yang Keliru dan Hasil Analisis yang Seharusnya

Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919); Parada Harahap
Tiga tokoh paling penting (yang selalu muncul) dalam perjalanan kebangkitan bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan RI hingga mempertahankannya adalah Parada Harahap, Sukarno dan Hatta. Parada Harahap adalah senior, sedangkan Sukarno dan Hatta adalah junior. Parada Harahap adalah mentor politik Sukarno dan Hatta. Parada Harahap memahami sepenuhnya realitas, sedangkan Sukarno dan Hatta memahami sepenuhnya teoritis. Kombinasi realitas dan teoritis ini menjadi powerful dalam kebangkitan bangsa. Lantas kombinasi tiga tokoh paling revoluioner ini (Parada Harahap, Sukarno dan Hatta) menjadi powerful dalam proses (percepatan) mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Parada Harahap (berdasarkan perjalanan dirinya melawan kolonialisme sejak 1916) mengembangkan gagasan dan memunculkan ide mempersatukan semua organisasi kebangsaan dan mempelopori terbentuknya Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) sebagai wadah bersama (semacam perahu) bagi semua orang Indonesia baik yang berasal dari organisasi kebangsaan bersifat kedaerahan (seperti Boedi Oetomo, Sumatranen Bond) maupun organisasi (politik) bersifat nasional (seperti PSI dan termasuk PNI).

Senin, Oktober 17, 2016

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (3): Parada Harahap Turun Tangan Lagi; Putusan Kongres (1928) Diperbarui dan Diperingati Sebagai Hari Sumpah Pemuda (1953)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Parada Harahap bukanlah politisi, juga bukan birokrat (petugas pemerintah Belanda maupun pemerintahan militer Jepang). Parada Harahap murni seorang jurnalis. Meski begitu, untuk soal kebangkitan bangsa dan perjuangan mewujudkan kemerdekaan, tingkat revolusionernya tidak ada yang menandingi (bahkan sekaliber Sukarno pun tidak). Parada Harahap bekerja dengan penanya. Pena yang sangat tajam.

Mochtar Lubis pimpin demosntrasi kebebasan pers (1953)
Parada Harahap memulai karir jurnalistik sebagai editor surat kabar Benih Merdeka tahun 1918 di Medan, kemudian dilanjutkan dengan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka 1919 di Padang Sidempuan (kampong halamannya). Top performance Parada Harahap sebagai pemilik portofolio tertinggi dari tokoh nasional terlihat sejak mendirikan surat kabar Bintang Timoer di Batavia (1926). Jelang berakhirnya kolonialisme Belanda di Indonesia, Parada Harahap mendirikan surat kabar Tjaja Timoer (1938). Pada masa pendudukan Jepang, Parada Harahap mendirikan surat kabar Sinar Baroe di Semarang. Sejak kembali Belanda (agresi militer Belanda) Parada Harahap memimpin pers republik di Jakarta dan kemudian mengasuh surat kabar Detik di Bukittinggi (ibukota RI di pengungsian). Pada tahun 1951, Parada Harahap mengakuisisi surat kabar legendaris berbahasa Belanda (sejak 1850an), Java Bode. Di surat kabar ini pada tahun 1925, Parada Harahap mengirim tulisan-tulisannya tentang kebangsaan (tanah air warisan nenek moyang) ketika berpolemik dengan pers asing/Belanda. Sambil mengasuh Java Bode, Parada Harahap tahun 1952 mendirikan perguruan tinggi Akademi Wartawan Indonesia di Jakarta. Parada Harahap yang kini (sejak 1951) menjadi sekretaris Kadin Nasional (pada tahun 1927 mendirikan Kadin pribumi di Batavia), sejak tahun 1953, Parada Harahap adalah Ketua Kopertis (Perhimpuan Perguruan Tinggi Swasta).

Pasca pengakuan kedaulatan RI, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden M. Hatta tidak melupakan Parada Harahap, senior mereka. Sukarno dan Hatta meminta Parada Harahap untuk memimpin misi ekonomi Indonesia untuk studi banding ke 14 negara di Eropa (1954). Laporannya yang dibukukan dan didistribusikan ke publik dijadikan sebagai buku dengan judul Rencana Lima Tahun Pembangunan Ekonomi Indonesia (buku repelita pertama!). Misi ekonomi yang dipimpin Parada Harahap ini (di era republik) seakan menjadi misi ekonomi Indonesia kedua. Pada tahun 1933, Parada Harahap memimpin misi ekonomi Indonesia ke Jepang di era kolonial Belanda (termasuk di dalamnya, M. Hatta sebagai anggota rombongan yang baru lulus sarjana ekonomi di Belanda).

Jumat, Oktober 14, 2016

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (2): Parada Harahap, Mentor Politik Sukarno, Hatta dan Amir; Bersama Memperjuangkan Kemerdekaan (1928-1945)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Pejuang Revolusioner: Adik dan Abang
Parada Harahap dan Sukarno adalah dua sosok pemuda revolusioner di jamannya. Keduanya secara demografis tidak terlalu beda usia (Parada Harahap lahir di Padang Sidempuan tahun 1899 dan Sukarno lahir si Surabaya tahun 1901), tetapi secara politis Parada Harahap lebih senior dan lebih berpengalaman. Parada Harahap bermain politik pada usia 16 tahun pada tahun 1917 di Medan, sedangkan Sukarno pada usia 25 tahun (setelah sarjana) pada tahun 1926 di Bandung. Pada saat Sukarno mulai tekun menulis dan mengirimkannya ke surat kabar tahun (1926), Parada Harahap sudah memiliki percetakan dan surat kabar bertiras paling tinggi di Batavia. Oleh karena itu, secara sosial-politik antara Parada Harahap dan Sukarno dapat dibedakan sebagai dua generasi yang berbeda.

Parada Harahap dan Sukarno

Parada Harahap telah menggagas dibentuknya PPPKI (di rumah Husein Djajadiningrat lalu diangkat sebagai sekretaris; ketua diangkat MH Tamrin).  Pada Konferensi PPPKI di Bandung diputuskan diadakan Kongres PPPKI di Batavia tanggal 28 Oktober 1928 yang mana ketua panitia kongres adalah Dr. Soetomo.

Dalam Kongres PPPKI, beberapa orang berbicara termasuk Sukarno. Kesimpulan pidato Sukarno dalam kongres ini adalah Satu nusa, Satu bendera dan Satu bangsa (Een land. Een vlag, Een volk). Ini berbeda dengan rumusan dari Putusan Kongres dari Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yaitu: Satu nusa, Satu bangsa dan Satu bahasa.

Dalam pembentukan PPPKI tidak termasuk PNI. Yang hadir dalam pembentukan PPPKI ini adalah Budi Utomo, Pasundan, Kaoern Betawi, Sumatranenbond, Persatoean Minahasa, Sarekat Amboncher dan NIB. Parada Harahap mewakili Sumatranen Bond.

Kamis, Oktober 06, 2016

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (1): Asal Usul Kongres Pemuda 1928; Peran Sentral Parada Harahap

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Putusan Kongres, Kongres Pemuda 1928
Sumpah Pemuda dipersoalkan! Sumpah Pemuda direkayasa oleh Presiden Sukarno. Putusan Kongres (1928) menjadi Sumpah Pemuda dianggap pembelokan sejarah dan menciptakan pembohongan kepada publik khususnya generasi muda penerus bangsa. Itulah hasil analisis dan pendapat ahli sejarah. Kenyataannya tidak demikian. Faktanya: Kongres Pemuda 1928 menghasilkan Putusan Kongres, dan pada tahun 1953 diadakan lagi Kongres Pemuda, yang mana kongres ini membuat keputusan baru, yakni memperbarui kesetiaan pemuda kepada bangsa dan tanah air. Dalam pertemuan (kongres) tersebut, diputuskan (esoknya tanggal 28 Oktober 1953) untuk mengikrarkan Hari Sumpah Pemuda, yang mana sumpah setia pemuda merujuk pada keputusan yang diambil pada Kongres Pemuda di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Dari sinilah (judul) teks Putusan Kongres diperbaiki (diganti) menjadi (judul) teks Sumpah Pemuda seperti yang dibacakan sekarag ini.

Sumpah Pemuda, Kongres Pemuda 1953
Putusan Kongres dan Sumpah Pemuda adalah hasil dari dua kongres pemuda yang berbeda, berbeda waktu dan berbeda semangat serta tentu saja berbeda isi putusan (Putusan Kongres vs Sumpah Pemuda). Meski begitu, kedua hasil kongres tetap berkaitan dan materinya sama: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Oleh karena itu tidak ada pembelokan sejarah, tidak ada pembohongan publik. Yang juga penting diperhatikan bahwa tidak ada peran Sukarno di dalam dua kongres tersebut. Dengan demikian tidak ada rekayasa Sukarno, itu murni hasil keputusan pemuda. Meski begitu, ada satu tokoh utama di belakang kedua kongres tersebut. Sumpah setia pemuda (1953) yakni Sumpah Pemuda adalah produk kongres jaman yang telah berubah untuk merespon situasi dan kondisi saat itu (awal 1950an). Sejak sumpah kesetiaan pemuda itu peringatan hari sumpah pemuda dimulai (sejak 1953). Kronologis itulah yang ditafsirkan oleh beberapa ahli sejarah sebagai pembohongan publik, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Di era IT ini semua informasi transparan, kronologisnya berubah secara alamiah dan informasinya juga masih dapat ditelusuri. Untuk lebih jelasnya, silahkan ikuti hasil pelacakan dan pembuktiannya!

Asal Usul Kongres Pemuda 1928

Kongres Pemuda jelas tidak berdiri sendiri. Kongres Pemuda hanya sebuah titik dalam garis continuum terbentuknya bangsa Indonesia. Kongres Pemuda adalah salah satu satu level dari kongres-kongres yang lainnya. Pemuda merujuk kepada senior dan senior memayungi para junior (pemuda). Para pemuda pada etafe berikutnya akan menggantikan peran para senior. Terbentuknya organisasi pemuda mengacu pada terbentuknya organisasi senior. Organisasi senior memancarkan ‘energi kebangkitan kebangsaan’ dalam terbentuknya organisasi junior (pemuda) yang menyelenggarakan Kongres Pemuda.