*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini
Klik Disin
PORI (kini KONI) merekomendasikan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional
(PON) pasca pengakuan kedaulatan RI akan diadakan di Jakarta (1951) dan Medan
(1953). Setelah PON III di Medan penyelenggaraannnya diadakan setiap empat
tahun. Penunjukan Jakarta dan Medan dalam hal ini sangat special, karena
Indonesia baru terbebas dari penjajahan. Ada tiga tokoh penting yang harus
dihargai oleh Sukarno yakni tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Mr. Assaat
(Presiden RI), Dr. Abdul Halim (Perdana Menteri RI) dan Mr. Abdul Hakim Harahap
(Wakil Perdana Menteri RI).
 |
| Republik Indonesia (merah) |
Indonesia pernah jadi dua
Negara. Dua presiden, dua Perdana Menteri dan dua Wakil Perdana Menteri. Suatu
kekeliruan yang harus direhabilitasi. Ketika dibentuk RIS (Republik Indonesia
Serikat) yang beribukota di Jakarta, Sukarno dan Hatta ‘mengingkari’ Republik
Indonesia (beribukota Jogjakarta) dan lebih memilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden di Jakarta (RIS).
Sementara di Jogjakarta, ibukota Republik Indonesia (RI) di pengungsian tidak
mau bergabung dengan (RIS) dan tetap Republik Indonesia (sejati). Sementara Sukarno dan
Hatta menjadi presiden dan wakil presiden RIS di Jakarta, di Jogjakarta tetap
berdiri RI yang mana Presiden adalah Mr. Assaat, untuk jabatan Perdana Menteri
adalah Dr. Abdul Halim dan jabatan Wakil Perdana Menteri adalah Mr. Abdul Hakim
Harahap. Ketika Sukarno dan Hatta menyadari telah terjadi ‘pengingkaran’
kemudian berbalik arah lalu membubarkan RIS yang baru berusia seumur jagung.
Sukarno dan Hatta ‘pulang kandang’ dan Sukarno dan Hatta kembali menjadi
Presiden/Wakil Presiden Republik Indonesia (RI). Pemerintah RI di Jogjakarta
lalu membubarkan diri. Ini berarti Mr. Assaat, Dr. Abdul Halim dan Mr. Abdul
Hakim Harahap adalah pemimpin Republik Indonesia yang terakhir di Jogjakarta.
Tiga pemimpin terakhir RI di Jogjakarta ini lalu diapresiasi oleh
Presiden Sukarno dengan mengangkat Mr. Abdul Hakim Harahap sebagai Gubernur
Sumatera Utara (pertama setelah pengakuan kedaulatan RI), Sementara Dr. Halim
ditunjuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan stadion nasional. Sedangkan
Mr. Assaat yang telah berhasil mempelopori taman makam pahlawan dan masjid
Suhada di Jogjakarta diberi tugas khusus untuk menjadi ketua komite (yayasan)
pembangunan masjid nasional di Jakarta (yang kemudian diberi nama Masjid
Istiqlal).