Tampilkan postingan dengan label Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK). Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 06, 2016

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (3): PON III di Medan; Gubernur Abdul Hakim Harahap Berinisiatif Membangun Stadion Teladan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin


PORI (kini KONI) merekomendasikan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pasca pengakuan kedaulatan RI akan diadakan di Jakarta (1951) dan Medan (1953). Setelah PON III di Medan penyelenggaraannnya diadakan setiap empat tahun. Penunjukan Jakarta dan Medan dalam hal ini sangat special, karena Indonesia baru terbebas dari penjajahan. Ada tiga tokoh penting yang harus dihargai oleh Sukarno yakni tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Mr. Assaat (Presiden RI), Dr. Abdul Halim (Perdana Menteri RI) dan Mr. Abdul Hakim Harahap (Wakil Perdana Menteri RI).  

Republik Indonesia (merah)
Indonesia pernah jadi dua Negara. Dua presiden, dua Perdana Menteri dan dua Wakil Perdana Menteri. Suatu kekeliruan yang harus direhabilitasi. Ketika dibentuk RIS (Republik Indonesia Serikat) yang beribukota di Jakarta, Sukarno dan Hatta ‘mengingkari’ Republik Indonesia (beribukota Jogjakarta) dan lebih memilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden di Jakarta (RIS). Sementara di Jogjakarta, ibukota Republik Indonesia (RI) di pengungsian tidak mau bergabung dengan (RIS) dan tetap Republik Indonesia (sejati). Sementara Sukarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden RIS di Jakarta, di Jogjakarta tetap berdiri RI yang mana Presiden adalah Mr. Assaat, untuk jabatan Perdana Menteri adalah Dr. Abdul Halim dan jabatan Wakil Perdana Menteri adalah Mr. Abdul Hakim Harahap. Ketika Sukarno dan Hatta menyadari telah terjadi ‘pengingkaran’ kemudian berbalik arah lalu membubarkan RIS yang baru berusia seumur jagung. Sukarno dan Hatta ‘pulang kandang’ dan Sukarno dan Hatta kembali menjadi Presiden/Wakil Presiden Republik Indonesia (RI). Pemerintah RI di Jogjakarta lalu membubarkan diri. Ini berarti Mr. Assaat, Dr. Abdul Halim dan Mr. Abdul Hakim Harahap adalah pemimpin Republik Indonesia yang terakhir di Jogjakarta.  

Tiga pemimpin terakhir RI di Jogjakarta ini lalu diapresiasi oleh Presiden Sukarno dengan mengangkat Mr. Abdul Hakim Harahap sebagai Gubernur Sumatera Utara (pertama setelah pengakuan kedaulatan RI), Sementara Dr. Halim ditunjuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan stadion nasional. Sedangkan Mr. Assaat yang telah berhasil mempelopori taman makam pahlawan dan masjid Suhada di Jogjakarta diberi tugas khusus untuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan masjid nasional di Jakarta (yang kemudian diberi nama Masjid Istiqlal).

Rabu, Oktober 05, 2016

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (2): PON II di Jakarta, Pembangunan Stadion IKADA Didahulukan, Stadion Besar Sukarno Ditunda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin

Ketika di dalam pikiran Sukarno yang ada adalah ingin membangun stadion besar, Kementerian Pendidikan membutuhkan stadion untuk menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta.  PON yang akan dilaksanakan di Jakarta 21-28 Oktober 1951 dianggap sebagai PON II. Kementerian Pendidikan dan Kementerian Penerangan tampaknya coba meralat ide Sukarno untuk membangun stadion besar. Keinginan Sukarno membangun stadion senilai sepuluh juta dianggap tidak berdasar (De nieuwsgier, 10-03-1951). Stadion besar yang diimpikan Sukarno seakan dipinggirkan.

  

Boleh jadi Presiden Sukarno tidak pernah mengetahui bahwa pernah dilangsungkan pekan olahraga di Solo tahun 1948 (9-12 September 1948). Sukarno terlalu sibuk dengan urusan yang lebih besar: kemerdekaan RI. Setelah serangan Maret 1948 (Sukarno menyerah dan ditangkap), lalu diasingkan akhir Desember 1948 ke Berastagi, kemudian ke Parapat (sejak 1 Januri 1949).

 

Persiapan Pembangunan Stadion IKADA

 

Penjelasan Kementerian Pendidikan tentang penyelenggaraan PON II (yang sifatnya mendesak) dan memerlukan stadion, menyebabkan Sukarno mengurungkan niatnya dan menyetujui rencana Kementerian Pendidikan untuk membangunan stadion paling banyak menelan biaya lima juta rupiah (separuh dari keinginan Sukarno). Sebagaimana dilaporkan De nieuwsgier edisi 10-03-1951, Kementerian Pendidikan senang dengan persetujuan Presiden tersebut (tapi kita tidak tahu apakah Sukarno sendiri senang).

Selasa, Oktober 04, 2016

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (1): Idenya Muncul Saat Tim Olimpiade Indonesia vs Tim Cina Malaysia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin

Dari lapangan sepakbola mengilhami Sukarno untuk membangun stadion besar. Inilah awal Sukarno berhasrat bangun stadion besar, tidak hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk kegunaan publik yang lebih luas, dan tentu saja untuk ambisinya sendiri: membangun kebanggaan bangsa di mata dunia dan untuk panggungnya sendiri untuk berpidato. Karenanya, stadion adalah panggung yang diiinginkan oleh Sukarno dimanapun dia berada, di pelosok-pelosok negeri maupun di kota-kota besar di Eropa dan Asia. Sukarno sangat menikmati permainan sepakbola, Sukarno juga sangat menikmati jika berpidato di dalam stadion yang besar.

 

Sukarno juga menginginkan segalanya dibuat besar, monumental meski Negara sesungguhmya belum mampu menyediakannya. Masjid, stadion, hotel, pusat perbelanjaan, patung dan sebagainya dibuat sebagai simbol-simbol, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, lebih besar dari bangsa-bangsa penjajah. Simbol-simbol itu juga menjadi pesan bagi negara sahabat bahwa bangsa Indonesia akan memimpin perjuangan kontra Negara-negara imperialis.

 

Ini bermula ketika Indonesia baru mulai menata negeri setelah perang kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan RI. Pemerintah Indonesia melalui PORI akan mengirimkan tim sepakbola ke Asian Games pertama di India (yang akan di selenggarakan di New Delhi 4-11 Maret 1951. Untuk menguji kekuatan tim sepakbola Indonesia diadakan pertandingan persahabatan dengan mendatangkan tim sepakbola Cina Malaysia di Jakarta.