Selasa, Oktober 13, 2026

Sejarah Budaya (13): Penyanyi dan Pemusik Asal Angkola Mandailing Tempo Doeloe; Alfian, Erwin, Rinto dan Andalas Datu Oloan


*Lihat juga Youtube Channel disini: POESTAHA DEPOK

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Jauh sebelum Diana Nasution, sudah malang melintang di tingkat nasional nama-nama penyanyi-pemusik asal Angkola Mandailing. Sebut saja misalnya Andalas Datoe Oloan dengan nama pop Ucok AKA Harahap, Erwin Harahap dan Rinto Harahap (The Mercy’s) dan Alfian Harahap. Lagu-lagu mereka hingga ini hari masih dikenal dan dikenang publik secara luas. Rinto Harahap dan Erwin Harahap (Lolypop) adalah yang mengorbitkan Diana Nasution di pentas musik nasional. Buku "Sejarah Klub Como 1907" oleh Akhir Matua Harahap (xvi, 826 hlm) segera terbit Deepublish


Alfian Rusdi Harahap (27 April 1942 – 11 Januari 1992) adalah penyanyi, pemusik, dan pencipta lagu yang dikenal lewat lagunya yang paling hits berjudul Semalam di Cianjur, direkam tahun 1965. Beberapa lagu lainnya yang terkenal adalah Salawati, Bimbang, Senja di Kaimana, Dara Singapura, Sebiduk di Sungai Musi, Terpesona, dan Tiada Tangis Mengiringi Perpisahan. Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecilnya di Sumatera Utara. Hanya diketahui bahwa ia mulai menunjukkan bakat menyanyi pada usia 20 tahun. Saat itu ia kerap mencontoh gaya Elvis Presley, yang tengah digandrungi anak-anak muda pada era awal 1960-an. Pada usia 20-an tahun itu Alfian sudah mulai menulis lagu seperti 'Terkenang Ibu', 'Relakan', 'Di Mana Kasih'. Berkarier di daerah asalnya tidak mampu mengangkat namanya menjadi seorang penyanyi seperti yang diinginkannya. Bermodalkan kemampuan olah vokal dan menulis lagu, pada 1964 Alfian memutuskan merantau ke Jakarta. Di ibukota ia berhasil meyakinkan perusahaan rekaman untuk merekam suaranya dan mengorbitkannya sebagai seorang penyanyi. Ia merekam suara emasnya di PT Remaco, perusahaan rekaman terkenal masa itu. Debut perdananya dengan album Senja di Kaimana sangat sukses. Setahun kemudian, 1965, Alfian meraih beberapa penghargaan termasuk salah satunya dari Radio Republik Indonesia (RRI) (Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah penyanyi dan pemusik asal Angkola Mandailing tempo doeloe? Tentu saja tidak hanya Alfian, Erwin, Rinto dan Andalas Datoe Oloan, jauh sebelum mereka sudah dikenal pemusik asal Angkola Mandailing di Djakarta. Lalu bagaimana sejarah penyanyi dan pemusik asal Angkola Mandailing tempo doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. 

Sabtu, Januari 10, 2026

Sejarah Budaya (12): Bahasa di Angkola dan Mandailing dalam KBBI; Toponimi Nama Garoga, Arse, Binanga, Huraba dan Lainnya


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Disebutkan dalam KBBI, bahasa Batak adalah penyumbang terbesar ketiga bahasa daerah. Kontribusi bahasa daerah tersebut masih akan terus bertambah. Namun jika digali dari kamus bahasa Angkola Mandailing, banyak kosa kata yang dapat dipromosikan ke dalam KBBI, yang dalam hal ini, sejumlah kosa kata yang memiliki arti toponimi yang penting yang sudah eksis sejak masa lampau seperti “garoga’, “arse”, “binanga”, “huraba” dan lainnya. 


KBBI menyerap ribuan kosakata dari bahasa daerah, dengan Bahasa Jawa menjadi penyumbang terbesar (lebih dari 6.000 kata), diikuti Bahasa Sunda, Batak, Dayak, dan Minangkabau, mencerminkan kekayaan bahasa daerah yang memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, meskipun totalnya sangat kecil dibanding seluruh entri KBBI. Hingga Oktober 2025, Bahasa Jawa menyumbang 6.223 kosakata, Sunda 2.018, Batak 1.856, dan Dayak 1.801 kata, menunjukkan kontribusi signifikan dari beberapa bahasa daerah utama.Penyumbang Terbesar Kosakata Bahasa Daerah dalam KBBI (Data Oktober 2025) Bahasa Jawa: 6.223 kosakata; Bahasa Sunda: 2.018 kosakata; Bahasa Batak: 1.856 kosakata; Bahasa Dayak: 1.801 kosakata; Bahasa Minangkabau: 1.402 kosakata;Bahasa Melayu Riau: 1.013 kosakata; Bahasa Madura: 857 kosakata; Bahasa Bali: 839 kosakata. Fakta Penting Lainnya: Jumlah Total Kosakata: KBBI terus berkembang, dengan lebih dari 200.000 entri pada edisi terakhir, dan lebih dari 210.000 pada Oktober 2025 (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah bahasa Angkola Mandailing dalam KBBI? Seperti disebut di atas, banyak kosa kata bahasa Batak dalam KBBI, tetapi itu akan tetap bertampah dari waktu ke waktu. Dalam konteks inilah penting memperhatikan kosa kata toponimi dari bahasa Batak Angkola Mandailing seperti “garoga”, “arse”, :binanga”, “huraba” dan lainnya. Lalu bagaimana sejarah bahasa Angkola Mandailing dalam KBBI? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, Desember 18, 2025

Sejarah BATANG TORU (8): Mengenang Ini Desa [Aek] Garoga Tempo "Doeloe"; Tanah Berbatu dan Sejarah Bandjir Tempo "Doeloe"


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Batang Toru di blog ini Klik Disini

Nama Garoga merujuk pada beberapa entitas administratif di Sumatera Utara, dengan peristiwa terbaru yang menonjol terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan pada akhir tahun 2025. Menurut kamus Angkola en Mandailing Bataksch-Nederlandsch Woordenboek door HJ Eggink tahun 1936: “garoga”, dihubungkan dengan, tano garoga, tanah berbatu. Di Tapanuli Selatan, juga ada nama tanaman “galoga” (tanaman gelagah, Saccharum spontaneum). Menurut kamus HJ Eggink: “galoga” adalah buluh (buluh tolong): “tolong do galoga, moeda manolong angkon pola”. Tanaman “galoga” ini kerap ditemukan di pinggir sungai (tanah berpasir/berkerikil). 


Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan: Desa Garoga yang terletak di Kecamatan Batang Toru mengalami bencana besar pada 25 November 2025. Kondisi Terkini (Desember 2025): Desa ini dilaporkan "lenyap" atau menjadi seperti desa mati akibat banjir bandang dan longsor yang membawa material gelondongan kayu. Dampak Bencana: Diperkirakan sekitar 140 rumah hanyut tersapu arus, dan banyak bangunan lain termasuk sekolah serta tempat ibadah hancur tertimbun tanah. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan akses jalan sempat terputus total. Bantuan: Hingga pertengahan Desember 2025, pemerintah melalui Kementerian ESDM telah mengirimkan ratusan tenda darurat untuk pengungsi (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah mengenang desa Aek Garoga tempo “doeloe”? Seperti disebut di atas, desa Garoga yang terletak di Kecamatan Batang Toru mengalami bencana besar pada 25 November 2025. Bencana tersebut adalah banjir dan dalam konteks itulah ada baiknya dihubungkan sengan sejarah bandjir tempo doeloe era Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah mengenang desa Aek Garoga tempo “doeloe”? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, September 23, 2025

Sejarah Budaya (11): Tor Ina di Sumatra dan Tur Saina di Semenanjung Sinai; Kemiripan Bahasa Batak dan Bahasa-Bahasa di Arab


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Kata "Tur" (طور) dalam bahasa Arab berarti "bukit" atau "gunung". Kata ini digunakan dalam Al-Qur'an, misalnya pada surah At-Tur (surah ke-52), yang dinamakan demikian karena terdapat kata tersebut pada ayat pertamanya. "At-Tur" merujuk pada bukit Sinai, tempat Nabi Musa menerima Taurat dari Allah SWT. Kata "ina" dalam bahasa Arab, biasanya merujuk pada kata إنّ (inna) yang berarti "sesungguhnya," "memang," atau "pasti" ketika digunakan sendiri sebagai huruf penekanan. Ketika digabungkan dengan kata ganti orang lain, misalnya menjadi إنّا (inna), artinya menjadi "sesungguhnya kami" atau "sesungguhnya kita".


Kata Rūḥ (روح) dalam bahasa Arab berarti roh atau nyawa, yaitu unsur non-materi penyebab kehidupan yang ada dalam jasad manusia, serta memiliki makna lain seperti angin, Jibril, wahyu, dan pertolongan Allah, bergantung pada konteks penggunaannya. Kata "kafura" (atau kāfūr) dalam bahasa Arab merujuk pada kapur barus. Ini adalah zat padat berwarna putih yang harum dan digunakan sebagai campuran minuman di surga dalam Al-Qur'an, serta dalam pengafanan jenazah. Kata Adat dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab, yaitu kata adah (عادة) yang berarti kebiasaan, tradisi, atau praktek yang berulang-ulang dan menjadi lumrah dalam suatu masyarakat. Kata ini juga sinonim dengan kata Arab urf (عرف), yang berarti sesuatu yang telah diketahui atau diterima oleh banyak orang. Kata "bata" dalam bahasa Arab berarti tahan, kuat, atau berani dalam konteks sifat atau tindakan. Makna ini sering kali terkait dengan ketahanan atau keberanian yang berasal dari kepercayaan, sehingga juga bisa diartikan sebagai "iman" atau "keyakinan". Dalam bahasa Arab, kata "Saba" memiliki beberapa arti tergantung konteksnya, di antaranya adalah angin timur yang lembut (الصبا), angin sepoi-sepoi, atau merujuk pada salah satu negeri atau bangsa kuno di wilayah Yaman. Kata ini juga menjadi nama salah satu surah dalam Al-Qur'an, yaitu Surah Saba' (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah tor Ina di pantai barat Sumatra dan tur Sinai di semenanjung Sinai? Seperti disebut di atas, ada sejumlah kata yang mirip (secara toponomy) antara bahasa Batak dan bahasa Arab. Apakah ada penjelasannya? Lalu bagaimana sejarah tor Ina di pantai barat Sumatra dan tur Sinai di semenanjung Sinai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Budaya (10): Kampong dan Sungai Tapanoeli di Teluk Tapanuli; Orang Angkola dan Orang Inggris di Pantai Barat Sumatra


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Nama "Tapanuli" sudah digunakan dalam konteks administratif pada tahun 1842 dengan dibentuknya Keresidenan Tapanuli, meskipun makna etimologisnya berasal dari frasa "tapian nauli" yang berarti "perairan tempat permandian yang indah". Penggunaan nama tersebut kemudian terus berlanjut dalam pembentukan wilayah-wilayah administratif lain.


Asal usul nama Tapanuli adalah dari frasa "tapian nauli" yang berarti "perairan tempat permandian yang indah". Nama ini merujuk pada teluk Tapan Nauli di Sibolga, kota yang menjadi pusat administrasi Keresidenan Tapanuli pada masa Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan, wilayah Keresidenan Tapanuli dipecah dan membentuk beberapa kabupaten seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan daerah lainnya. Kata "Tapanuli" berasal dari dua kata dalam bahasa Batak, yaitu "Tapian" (perairan) dan "Nauli" (indah). Nama ini kemudian menjadi penamaan wilayah karena adanya teluk yang indah di dekat kota Sibolga, yaitu Teluk Tapian Nauli. Tapanuli awalnya adalah sebuah keresidenan di bawah pemerintahan Hindia Belanda, dengan pusat di Sibolga. Keresidenan ini mencakup wilayah barat Sumatera Utara dan pulau Nias. Setelah kemerdekaan Indonesia, Keresidenan Tapanuli digabungkan dengan Keresidenan Sumatera Timur untuk membentuk Provinsi Sumatera Utara. Kemudian, wilayah tersebut mengalami pemekaran menjadi beberapa kabupaten, di antaranya Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan, seperti yang tercantum dalam UU No. 7 Tahun 1956. Tapanuli merujuk pada nama wilayah karesidenan di era kolonial dan kemudian nama kabupaten di Sumatera Utara. "Batak" adalah istilah kolektif untuk sekelompok etnis di Sumatera Utara yang memiliki bahasa dan adat istiadat yang beragam, seperti Batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola, dan lainnya (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah kampong dan sungai Tapanoeli di Teluk Tapanuli? Seperti disebut di atas, Tapanuli berasal dari frasa "tapian nauli" yang berarti "perairan tempat permandian yang indah". Nama Tapanuli sejak kehadiran orang-orang Inggris di wilayah Tapanuli. Lalu bagaimana sejarah kampong dan sungai Tapanoeli di Teluk Tapanuli? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, September 15, 2025

Sejarah Budaya (9): Sebutan Bilangan di Tanah Batak; Ada Bahasa dan Aksara Batak, Apakah Ada Lambang Bilangan Batak?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Ada bahasa Batak, ada aksara Batak, ada sebutan bilangan Batak, lantas apakah ada lambang bilangan Batak? Dalam sejarah Batak, tidak terinformasikan lambang bilangan Batak. Lambang bilangan Batak yang ditemukan di internet yang sekarang, diduga adalah suatu kreasi pada masa ini saja. Jadi, bagaimana duduk persoalannya? Apakah benar-benar ada lambang bilangan Batak?


Lambang bilangan adalah simbol atau notasi berupa angka yang digunakan untuk menyatakan suatu bilangan. Contoh lambang bilangan adalah angka 1, 2, dan 5, yang mewakili konsep banyaknya anggota suatu himpunan. Bilangan: Merupakan konsep abstrak yang menyatakan suatu kuantitas atau jumlah. Lambang Bilangan (Angka): Adalah simbol visual, seperti "1" atau "2", yang digunakan untuk menuliskan atau melambangkan bilangan tersebut. Nama Bilangan: Seratus delapan puluh dua. Lambang Bilangan: 182. Tujuan dan Fungsi Lambang Bilangan: Untuk menunjukkan jumlah atau banyaknya sesuatu; Mempermudah proses penjumlahan, pengurangan, dan perhitungan lainnya; Sebagai bagian dari sistem bahasa matematika untuk menyampaikan informasi secara terstruktur; Digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk nomor alamat, kamar, atau nomor telepon. Jumlah angka dalam lambang bilangan menunjukkan nilai tempatnya. Angka paling kanan adalah satuan, sebelahnya adalah puluhan, dan seterusnya. Contoh: Angka 7 adalah satuan, angka 1 adalah puluhan, sehingga lambang bilangan tersebut dibaca 17. Contoh: Angka 4 adalah satuan, 2 adalah puluhan, dan 1 adalah ratusan, sehingga dibaca 124 (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah sebutan bilangan di Tanah Batak? Seperti disebut di atas ada bahasa Batak, ada aksara Batak dan ada sebutan bilangan Batak, namun bagaimana dengan lambang bilangan Batak? Yang jelas pernah terinformasikan lambang bilangan dalam aksara Batak, tetapi itu bukan lambing bilangan Batak? Lalu bagaimana sejarah sebutan bilangan di Tanah Batak? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, September 12, 2025

Sejarah Budaya (8): Abdurrauf van Singkel, Orang Aceh atau Orang Batak? Sejak Invasi VOC (1668) hingga 1905 (Dja Endar Moeda)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Budaya dalam blog ini Klik Disini

Berbagai pihak mengklaim siapa Abdoerraoef van Singkel. Mengapa? Abdoerraoef van Singkel disebut adalah orang pertama menerjemahkan (tafsir) Al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu. Itu satu hal. Bahwa ada orang Aceh yang mengklaim orang Atjeh dan ada orang Batak yang mengklaim orang Batak itu hal lain.  Namun dalam hal ini, yang jelas dari namanya Abdoerraoef berasal dari Singkel (di pantai barat Sumatra).

 

Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili lahir Singkil, 1615-wafat Kuala Aceh, 1693, disebut Syekh Abdurrauf Singkel. Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Jawi tsuma al-Fansuri as-Singkili. Menurut Ali Hasjmy dan Peunoh Daly, keluarganya diduga berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, pada akhir abad ke-13. Namun, hal itu belum dapat dipastikan karena minimnya catatan sejarah keluarganya, serta tidak didukung nama keluarga yang mencirikan keturunan Arab ataupun Persia. Terdapat dugaan berdasarkan namanya yang tertulis pada karya-karyanya, bahwa ia keturunan Melayu dari Fansur (Barus); sedangkan menurut riwayat lisan masyarakat Simpang Kanan di Aceh Singkil, ia keturunan Batak yang beragama Islam. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri, kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Abdoerraoef van Singkel, orang Aceh atau orang Batak? Seperti disebut di atas, siapa Abdoerraoef van Singkel adalah satu hal, namun dalam hal ini sejarah Singkel sejak invasi VOC (1668) hingga invasi Pemerintah Hindia Belanda 1905 (Dja Endar Moeda). Lalu bagaimana sejarah Abdoerraoef van Singkel, orang Aceh atau orang Batak? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.