Bag-4. Sejarah Tapanuli: ‘Ida Pfeiffer, Gadis Pelancong Pemberani, Perempuan ‘Bule’ Pertama Memasuki Bataklanden’



Pada masa itu, 1852, Residentie Tapanoeli baru terdiri dari Afdeeling Natal, Afdeeling Mandheling, Afdeeling Ankola, Afdeeling Baros, Afdeeling Singkel dan Poeloe Nias en Onderhoorige Eilanden. Residen Tapanoeli berkedudukan di Siboga dan satu asisten residen di Panjaboengan. Dua controleur ditempatkan di Padang Sidempoean dan Baros. Sementara itu, dua lanskap belum dikenal secara baik yakni Pertibie dan Bataklanden (Silindoeng en Toba). Dengan kata lain, dua lanskap ini belum termasuk wilayah administratif (militaire en civiel) .Residentie Tapanoeli

***
Ida Pfeiffer
Namun demikian, konon sudah ada dua orang asing yang dianggap telah memasuki lanskap Bataklanden, yakni Franz Wilhelm Junghuhn dan Herman Neubronner van der Tuuk. Sedangkan orang ketiga adalah Ida Pfeiffer, seorang gadis yang tidak ada takutnya. Wanita pelancong ini awalnya tidak punya rencana ke Sumatra, akan tetapi karena dia menemukan peta Tapanoeli di Batavia, Ida Pfeiffer lalu memutuskan untuk menantang belantara Tanah Batak. Ida Pfeiffer memulai perjalanan dari Batavia dengan kapal uap ke Padang. Lalu dari Padang dengan seorang diri (bagaikan lone ranger), Ida Pfeiffer mengendarai kuda setahap demi setahap menuju Fort de Kock dan Kotanopan lalu ke Saroematinggi ('pintu gerbang' Ankola). .

Di kampong kecil Saroematinggi, Ida Pfeiffer mulai ciut. Dan oleh karena Ida Pfeiffer sudah memiliki rencana baru lagi ingin meneruskan perjalanan ke Toba, maka Ida Pfeiffer memerlukan seorang pemandu (kata lain pengawal). Seorang Belanda bernama Hamehs yang dengan istrinya yang sudah bermukin di kampong itu, coba mencari dan menemukan seorang pemandu ulung yang bernama Dja Pangkat. Konon, Dja Pangkat adalah mantan pemandu Franz Wilhelm Junghuhn. Dja Pangkat dipilih karena sudah mengenal baik sejumlah wilayah dan juga memiliki beberapa teman kepala kampong di Silindoeng. Ida Pfeiffer merasa lebih aman dan semakin ber semangat.

Bag-10. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dari Kota Kecil, Anak-Anak Padang Sidempoean Menuju Batavia untuk Kuliah di Dokter Djawa School dan STOVIA’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Satu-satunya perguruan tinggi di masa doeloe di Nederlandsche Indie adalah Dokter Djawa School. Sekolah kedokteran yang dibuka pada tahun 1851 ini kemudian di tahun 1905 menjadi STOVIA (cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Untuk menjadi mahasiswa sekolah kedokteran itu bukanlah hal yang mudah: selain sangat jauh dari kota kecil Padang Sidempoean, juga seleksi masuk sangat ketat dan memiliki kualifikasi yang tinggi. Namun begitu, ternyata cukup banyak anak-anak Padang Sidempoean yang berhasil menjadi dokter di sekolah kedokteran tersebut.

Bag-3. Sejarah Tapanuli: Kolonel Alexander van der Hart, Pahlawan Belanda yang Menjadi Residen Tapanoeli Mati Konyol Dibunuh Seorang Pribumi Biasa



Ibukota Kresidenan Tapanoeli adalah Siboga. Sejak Tapanoeli menjadi sebuah kresidenan 1843 hingga Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust pada tahun 1905, sudah ada 22 orang bangsa Belanda yang menjadi Residen Tapanoeli. Diantara mereka ini terdapat dua residen yang terkenal di kalangan Belanda yakni Mayor (Luit.-Kol.) Alexander van der Hart (1844-1847) dan L.C. Welsink (1898-1908). Artikel ini hanya fokus pada Alexander van der Hart, residen kedua Tapanoeli. Siapakah dia?

Prajurit pemberani asal Rotterdam masuk Akademi Militer di Semarang

Alexander van der Hart adalah seorang yang bagaikan ‘red devil’ bagi penduduk pribumi di Sumatra. Ini manusia tidak ada takutnya. Lahir di Rotterdam 19 Agustus 1808. Pada usia remaja van der Hart sangat bernafsu untuk menjadi prajurit. Baru menginjak usia 13 tahun, van der Hart sudah meninggalkan rumah orangtuanya dan ikut berlayar ke Hindia Belanda (Nederlansche Indie). Pada tahun 1821 van der Hart sudah berada dalam suatu ekspedisi (baca: penjajakan pendudukan) di Palembang. Diantara para prajurit yang ikut ekspedisi, van der Hart paling menonjol, karenanya sang komandan merekomendasikan anak pmberani ini mengikuti pendidikan militer di Semarang. Masuk akademi 1822 dan keluar pada tahun 1826 dengan pangkat letnan dua artileri senjata.

Setelah lulus akademi militer, van der Hart langsung menjadi bagian dalam perang Jawa, yang pada saat itu lagi gencar-gencarnya melumpuhkan perlawanan pemberontak Deipo Negoro. Meski belum ditempatkan di garis depan, van der Hart pada Desember 1827 diberi tanggung jawab untuk pembangunan sebuah benteng beton yang lokasinya antara Temple dan Kalidjinking, di jalan poros Djocjocarta-Magclang. Benteng berhasil dibangun dan hanya diselesaikan dalam beberapa hari saja. Dan baru melayani lebih dari satu tahun, luitenant dua artileri van der Hart sudah ditransfer ke Departemen Infantri Nasional (pasukan elit) di bawah Jenderal van Geen. Dia terus menerus diandalkan untuk berperang dan pada tahun 1830 van der Hart dianugerahi medali perunggu segi delapan.

Bag-9. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Kolonel. Ir. Mangaradja Onggang Parlindoengan, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Kolonel. Ir. Mangaradja Onggang Parlindoengan adalah mahasiswa pertama pribumi yang studi di Jerman. Mangaradja Onggang Parlindoengan mengambil bidang teknik, agak berbeda dibanding dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi yang preferensinya ke bidang pendidikan, kedokteran, hokum dan ekonomi. Jika yang lain, memilih ke Belanda, Mangaradja Onggang Parlindoengan justru ke Jerman, negara yang menjdi musuh abadi Nederland. Bidang keahlian yang dipilih pun terbilang ganjil waktu itu yakni teknik kimia. Mengapa demikian? Perlu kita lacak!


Dalam riwayat ini akan dikaitkan dengan kiprah mereka di medan pertempuran di tanah rantau, seperti Letkol Gele Haroen, anak dokter Haroen Al Rasjid Nasoetion di Lampong, Letkol Irsjan, anak dokter Radjamin Nasoetion di Soerabiaja. General Majoor Dr. Gindo Siregar dan Mr. Abdoel Hakim Harahap di Kresidenan Tapanoeli, Mr. S.M. Amin dan Mr. Loeat Siregar di Sumatra’s Oostkust,  Mr. Amir Sjarifoedin, Adam Malik dan Sakti Almasjah di Batavia, dan MOW (tahanan) Dr. Parlindoengan Loebis di kamp konsentrasi NAZI. Mungkin masih banyak lagi. Catatan: gelar Belanda, Mr = SH (sarjana hukum).

Tunggu deskripsinya

Bag-8. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dr. Ida Loemongga, PhD, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana anak-anak Padang Sidempuan berkembang dan menyebar ke semua penjuru angin di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Dr. Ida Loemongga, PhD adalah dokter bergelar Doktor pertama di negeri ini. Ida Loemongga Haroen Al Rasjid meraih PhD ini di Universiteit  Amsterdam, 1932. Ida Loemongga Haroen Al Rasjid br Nasoetion dalam mempertahankan disertasinya di hadapan guru besar dengan judul ‘Diangnose en Prognose van aangeboren Hartgebreken’ (Diangosa dan Prognosa Cacat Jantung Bawaan) mendapat sambutan yang luar biasa baik di Negeri Belanda maupun di Nederlandsche Indie (Hindia Belanda). Namun sebelumnya, direcall kembali dua diantara anak-anak Padang Sidempoean yang meraih PhD di Negeri Belanda.

Alinoedin gelar Radja Enda Boemi, anak Batang Toroe, Padang Sidempoean memperoleh gelar doctor (PhD) di bidang hokum di Leiden 1925 dengan desertasi berjudul: ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland’.  Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pertama dari Tanah Batak dan kedua dari Sumatra dan salah satu dari delapan ahli hukum pribumi yang ada di Nederlancsh-Indie. Radja Enda Boemi sebelum ke Negeri Belanda menyelesaikan tingkat sarjana hokum (Mr) di Rechts School, Batavia. Sepulang dari Belanda, Radja Enda Boemi ditunjuk sebagai Kepala Pengadilan di Semarang.

Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia setelah lulus sarjana di Negeri Belanda 1915 kembali ke tanah air. Todoeng Harahap memulai karir sebagai guru Eropa. Setelah beberapa tahun Todoeng Harahap kelahiran Padang Sidempuan ini kembali ke Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia meraih  gelar PhD di Rijks Universiteit pada tahun 1933 dalam bidang bahasa dan sastra dengan desertsi berjudul: ‘Het primitive denken in de modern wetenschap’. Todoeng Harahap pernah menjadi anggota Volksraad di Batavia.

Dr. Ida Loemongga Nasoetion, PhD, 1932 (De Tijd)
Di jaman itu, hanya segelintir orang pribumi yang mampu meraih gelar doktor (pendidikan tertinggi). Namun, secara khusus dalam artikel ini, IDA LOEMONGGA Nasoetion adalah seorang yang sangat fantastis. Gadis boru Suti ini yang lahir pada tanggal 22 Maret 1905 muncul ke permukaan, ketika ia diterima di Prins Hendrik School, afdeeling HBS (pendidikan menengah) di Batavia tahun 1918. Setelah lulus, Ida Loemongga pada tahun 1923 langsung melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Ida Loemongga Nasoetion adalah seorang brilian dan pemberani. Ketika baru berusia 18 tahun, gadis yang cantik ini berangkat sendiri dan mendaftar di Universiteit Leiden. Setelah lulus sarjana, anak seorang dokter ini, lalu mengambil dokter spesialis di Universiteit Utrecht. Di Negeri Belanda, ahli jantung ini diminati oleh banyak institute. Setelah beberapa tahun menjadi asisten Dr. Caroline de Lange, Ida Loemongga memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Setelah meraih gelar PhD tahun 1932 gadis yang sudah matang ini baru berkesempatan pulang kampong ke tanah air untuk mengunjungi keluarganya. Siapakah dia? Mari kita lacak!

Bag-7. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Kweekschool Padang Sidempoean, Sekolah Guru di Pedalaman dan Terpencil yang Melahirkan Orang-Orang Hebat di Nederlansche Indie’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Kweekschool (Sekolah Guru) Padang Sidempoean dibuka pada 30 April 1879. Sekolah guru berkapasitas 25 murid pada tahun pertama dibuka sekolah ini hanya terdaftar 18 murid. Mengapa demikian? Karena seleksi masuk sangatlah ketat. Kemampuan orangtua dalam pembiayaan dan kemampuan siswa dalam memenuhi syarat akademik menjadi dua faktor berhasil tidaknya calon siswa dalam ujian saringan masuk.

***
Kepala sekolah, L.K. Harmsen, guru pangkat kelas-3 (asisten guru) sebelumnya adalah kepala sekolah di Kweekschool Fort de Kock. Harmsen tampaknya kurang sukses di Fort de Kock karena nyaris semua murid yang mengikuti ujian akhir gagal. Karenanya, Harmsen dipindahkan ke sekolah guru yang baru dibuka di daerah pedalaman yang lebih jauh dan terpencil di Sumatra’s Westkust di Padang Sidempoean. Belum genap dua tahun Harmsen menjabat, dia sudah sakit-sakitan. Lantas di akhir 1881 diangkat seorang guru bernama J.W. van Haastert untuk menggantikan posisi Harmsen sebagai kepala sekolah  (pejabat sementara). Saat yang bersamaan, C.A. van Ophuijzen (dari Probolinggo) ditugaskan untuk mendukung guru di Kweekshool Padang Sidempoean, lalu disusul pada pertengahan 1882 pengangkatan J. Postma sebagai guru di Kweekschool Padang Sidempoean.

Proses belajar mengajar di Kweekschool Padang Sidempoean tidaklah mudah di awal masa penyelenggaraannya. Selain guru-gurunya belum komplit (bertambah secara bertahap), juga adaptasi para muridnya juga tidak langsung tune in yang boleh jadi karena standar pengajaran di Kweekschool Padang Sidempuan yang tinggi. Dalam masa belajar banyak murid yang jatuh sakit dan bahkan mengidap beri-beri. Sebagaimana dikabarkan seorang pembaca di Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-05-1882 menyebutkan lebih dari separuh murid kelas tertinggi harus dirawat di rumah sakit.

Para orangtua murid sudah mulai was-was apakah anak-anak mereka akan bisa melanjutkan sekolah dan bagaimana nasibnya kemudian. Rasa kekhawatiran semakin memuncak ketika diberitakan oleh Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian akhir semuanya gagal. Apalagi dilaporkan De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 terhitung 1 Februari bahwa  D. Grivel seorang guru di Kweekschhol Fort de Kock akan menjadi kepala sekolah yang baru Kweekschool Padang Sidempoean. 

Namun kekhawatiran para orangtua tidak berlarut larut karena lulusan pertama Kweekschool Padang Sidempoean tercapai juga. Bataviaasch handelsblad (10-07-1884) memberitakan bahwa pada bulan April telah dilangsungkan wisuda dimana dari semua murid kelas tertinggi terdapat lima murid yang gagal. Ini berarti dari 18 murid yang terdaftar ketika sekolah dibuka 1879 hanya lima yang gagal ujian akhir. Meski tidak seluruhnya dari angkatan pertama lulus, namun hal ini tetap dianggap sebagai suatu sukses. Sebab hal ini tidak pernah dialami Kweekschool Fort de Kock. Dalam perkembangan selanjutnya rasio kelulusan Kweekschool Padang Sidempoean dari tahun ke tahun makin tinggi hingga mampu mencapai 100 persen.

Bag-6. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Banyak Jalan Menuju Padang Sidempoean; Jembatan Batang Toroe Terpanjang di Nederlansche Indie’



*Suatu sketsa Kota Padang Sidempuan

Ini adalah suatu sketsa (analisis sederhana) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada. Mungkin para generasi yang lebih muda tidak menyadari bahkan mungkin tidak mengetahui, bahwa Kota Padang Sidempuan masa kini, ternyata di jaman doeloe memiliki dinamikanya sendiri. Bagaimana Kota Padang Sidempuan tumbuh di masa doeloe? Mari kita lacak!

***
Dimana ada jalan di situ ada penduduk, sebaliknya dimana ada penduduk di situ ada jalan. Bagaimana lanskap Ankola, Mandheling dan Pertibie (kemudian menjadi Padang Lawas) muncul dan terhubung di masa doeloe kita hanya bisa merujuk pada era Hindu/Budha. Namun itu masih tetap sebuah pertanyaan besar alias misteri. Situs Siaboe di Sungai Batang Ankola dan Situs Batang Pane/Batang Baroemoen diduga memiliki peran dalam masa-masa awal dalam eskplorasi emas era Hindu/Budha. Pertibie-Ankola terhubung di Pitjar Kolling dan Baroemoen-Mandheling terhubung di Siaboe. Namun di era ekspedisi militer Belanda, posisi Pitjar Kolling (kini Pijor Koling) kemudian menjadi pilihan utama untuk menghubungkan Mandheling, Ankola dan Pertibie karena posisi Siboga sebagai entry point.      

Oleh karenanya, jauh sebelum Kampong Si Dimpoean ditemukan oleh orang Belanda untuk mereka bangun menjadi sebuah kota yang kini dikenal sebagai Kota Padang Sidempuan, lalu lintas orang dan barang di Tanah Batak (kemudian menjadi Tapanoeli) sesungguhnya tidak pernah melewati Kampong Si Dimpoean. Akan tetapi jalur militer Belanda Pitjar Koling (Ankola Djai) dan Tobing dekat Oeta Rimbaroe (Ankola Djoeloe) via Siondop (hulu Sungai Batang Ankola). Jalur militer Belanda ini besar kemungkinan adalah jalur lama yang digunakan oleh padri yang sudah lama dirintis oleh penduduk Ankola, Mandheling dan Pertibie pada era perdagangan garam. Sementara jalur perdagangan awal lainnya adalah Sipirok ke Pertibie via gunung (Manoengkap) dan Sipirok-Siboga via daerah aliran Sungai Batang Toru. Relasi yang kuat antara Ankola-Sipirok dihubungkan oleh jalur via lereng gunung Loeboek Raja (termasuk Batoea na doewa dan Pagaroetang.