SMP Negeri 1 Padang Sidempuan: MULO Padang Sidempoean di Era Belanda’



MULO Padang Sidempuan (KITLV. foto sekitar 1936-1939
MULO adalah Sekolah Menengah Pertama pada era kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) berarti pendidikan dasar lebih luas. Sekolah MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO, salah satunya terdapat di Padang Sidempuan. Sekolah MULO ini kini menjadi SMP Negeri 1 Padang Sidempuan.

Sejarah awal MULO Padang Sidempuan

Di Tapanuli, sudah terdapat MULO yang ditempatkan di Tarutung. Pada tahun 1926 MULO Tarutung dan beberapa muloschool yang lain di Jawa diizinkan untuk mendapat bantuan (subsidi) dari pihak partikelir (swasta). Sekolah MULO yang kedua akan didirikan di Keresidenan Tapanuli.

Bag-4. Sejarah MANDAILING: ‘Pertumbuhan Ekonomi Kopi dan Perkembangan Pendidikan Pribumi’



Bag-4. Sejarah MANDAILING: ‘Pertumbuhan Ekonomi Kopi dan Perkembangan Pendidikan Pribumi’

Bag-5. Sejarah MANDAILING: ‘Suksesi Yang Dipertoean Kotta Siantar’

Bag-6. Sejarah MANDAILING: ‘Pendidikan di Mandheling Terbaik di Sumatra’s Westkust’

Bag-7. Sejarah MANDAILING: ‘Controleur di Groot Mandheling, Berkedudukan di Panjaboengan’

Bag-8. Sejarah MANDAILING: ‘Buku Karya A.P. Godon Terbit dan Toleransi Perbudakan’

Bag-9. Sejarah MANDAILING: ‘Ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola Pindah ke Padang Sidempoean’

Bag-10. Sejarah MANDAILING: ‘Willem Iskander Berangka Lagi ke Negeri Belanda’

Bag-11. Sejarah MANDAILING: ‘Willem Iskander Meninggal Dunia di Belanda’

Bag-12. Sejarah MANDAILING: ‘Pembebasan Budak di Mandailing, Gratis’

Bag-13. Sejarah MANDAILING: ‘……..’

Bag-3. Sejarah MANDAILING: ‘Koffij-Stelsel, Willem Iskander Mendirikan Kweekschool di Tano Bato’


*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Koffij-cultuure yang diperkenalkan Belanda di Mandheling dimulai tahun 1841. Adalah Inggris yang memperkenalkan kopi di Mandheling. Belanda ala koffij-cultuure hanya sekadar melanjutkan yang sudah ada. Produksi kopi sebelum Belanda datang (1833) sudah ada dan bahkan sudah diperdagangkan (1818). Kemudian, 20 tahun kemudian, sejak koffij-cultuure dimulai, Belanda menganggap perlu untuk meningkatkan hasil melalui Koffij-stelsel.

***
Akhir November 1854, sudah ada dua pemuda Mandheling, Si Asta dan Si Angan yang tiba di Batavia. Mereka ini adalah anak-anak potensial yang ingin studi tentang kesehatan (bedah dan kebidanan) di sekolah tinggi kedokteran pribumi di Batavia. Pilihan orangtua anak-anak ini, sangat masuk akal, sebab di Mandheling selain wabah penyakit masih sering muncul (inpeksi) juga persoalan pertolongan kelahiran.  Ahli kesehatan yang ada, hanya cukup untuk orang-orang Belanda dan itupun biasanya ditempatkan di tangsi-tangsi militer. Bagi masyarakat Mandheling yang sudah lama menderita (padri dan koffij-cultuure), adanya penyakit dan masalah-masalah persalinan akan menambah penderitaan bagi penduduk. Sudah waktunya ada yang mengatasi secara baik dan modern. Inilah misi para anak muda ini studi kedokteran ke Batavia.
.
Sementara itu, seorang pemuda bernama Si Sati yang dikenal kemudian sebagai Willem Iskander, sudah pula berada di Belanda sejak 1857 untuk studi dalam pendidikan guru (kweekschool). Willem Iskander adalah guru di sekolahnya sendiri, sejak ia lulus tahun 1855 diangkat menjadi guru untuk menggantikan gurunya yang berbangsa Belanda. Willem Iskander menganggap bahwa kebutuhan guru sangat mendesak, karena masyarakat memerlukan pendidikan. Untuk memenuhi guru-guru formal ini (pendidikan guru), Willem Iskander mendiskusikan dengan mentornya, A.P. Godon. Kedua orang ini memiliki visi dan misi yang sama. Karena itulah Willem Iskander berambisi untuk sekolah guru ke Negeri Belanda.

Bag-2. Sejarah MANDAILING: ‘Koffijcultuur, Kopi Terbaik dan Harga Tetinggi Dunia dan Studi Ke Batavia dan Negeri Belanda’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Sekolah ke Batavia dan Koffijcultuur

Samarangsch advertentie-blad, 03-11-1854 (iklan): ‘di Jawa Courant No. 86 disebut kreditur dan debitur dalam perkebunan. Agen di Sumatra, di wilayah kerja Mandheling, G.de Hesselle’.
.
Gudang Kopi di Mandheling, 1895 (KITLV)
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855: ‘Batavia,  25 November 1854. Satu permintaan oleh kepala Mandheling (Batta-landen) dan didukung oleh Gubernur Sumatra’s Westkust, beberapa bulan yang lalu, ditetapkan oleh pemerintah, bahwa kedua anak kepala suku asli terkemuka, yang telah menerima pendidikan dasar dibawa untuk akun negara ke Batavia dan akan mengikuti kedokteran, bedah dan kebidanan. Para pemuda yang disebut Si Asta dan Si Angan di rumah sakit militer di sana pada murid ini baru saja tiba dari Padang disini, dan akan disertakan di pelatihan perguruan tinggi (kweekschool) dokter asli. Untuk hal yang sama sekarang telah diambil dari yang dicalonkan atas permintaan kepala Menahassa kepada Residen Manado. (dalam koran ini juga dilaporkan): penduduk Mandheling banyak yang korban harimau’.

Bag-1. Sejarah MANDAILING: ‘Pemerintahan Sipil di Tapanuli Selatan Dimulai dari Kotanopan’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Airmata tangisan penduduk Mandailing masih terus menetes hingga berita pertama kehadiran bangsa Belanda di Tanah Mandailing muncul di suratkabar. Berita-berita yang muncul pertama kali dari Tanah Mandailing adalah berita seputar tentang kematian petugas dan serdadu Belanda. Berita lainnya adalah surplus beras di Mandailing ditransper ke Jawa, sementara DOM masih tetap diberlakukan di Bonjol. Ini mengindikasikan bahwa penguasaan wilayah dengan pengerahan militer yang memerlukan biaya yang tidak sedikit, harus ada penutupnya dengan untung ‘gede’. Tidak ada rotan akarpun jadi. Belum ada komoditi ekspor bernilai tinggi, komoditi domestik pun tidak masalah. Karena itu, selagi masa perang dan melakukan pertempuran, produksi beras lokal pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan uang—seperti anekdot: tidak ada makan siang gratis’.

Militair Departement: Prakondisi Awal Pemerintahan Sipil
.
Peta Mandheling, 1843-1847
Militer Belanda pertamakali mendarat di Natal 1933. Membangun benteng Eluot di Panjaboengan pada tahun 1834 dan menguasai Mandheling lantas membangun benteng di Rao 1834. Sementara benteng Bonjol masih eksis. Pada tahun 1837 benteng Bonjol dikuasai kemudian lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok juga sepenuhnya dikuasai. Selama fase invasi ke Bonjol, otoritas sipil di Mandailing yang berkedudukan di Kotanopan dilakukan oleh Francois Bonnet. Pasca Bonjol, selanjutnya militer Belanda mengalihkan perhatian ke Padang Lawas. Untuk memperkuat pertahanan pasukan Belanda dibangun benteng di Pijor Koling (1837) untuk meningkatkan fungsi pos militer sebelumnya di Sayurmatinggi. Karenanya, lanskap Mandailing (groot dan klein) menjadi sangat terjaga keamanannya, sebab ada tiga benteng: di tengah lanskap Mandailing, masih ada benteng Fort Eluot di Panjaboengan, di selatan Mandailing, di Rao dan di utara Mandailing di Pijor Koling. Kedua benteng di sisi luar Mandailing ini masih aktif, hingga ekonomi kopi dimulai dan pemerintahan sipil diselenggarakan di Mandheling dan Ankola.

Bag-2. SEJARAH ANGKOLA: Penyatuan Administrasi ‘Ankola en Sipirok’, Kopi ‘Mandheling’ dan ‘Ankola’ Menembus Harga Tertinggi Pasar Dunia



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe
.
Rumah Controleur di Padang Sidempoean, 1890 (KITLV)
Tiga tokoh penting di awal pemerintah sipil pada era Hindia Belanda di Tapanuli Selatan  adalah Willer, Godon dan Henny. Dari Mandailing, Willer merintis jalan dan masih bekerja erat dengan militer. Kemudian Godon datang dengan ide pengembangan wilayah, membangun jalan dan jembatan serta kepedulian terhadap penididikan pribumi. Kemudian, Henny yang memulai karir sebagai kontroleur kelas-2 di Ankola yang berkedudukan di Padang Sidempoen, berhasil memadukan keunggulan tiga lanskap (Mandheling, Ankola en Sipirok) sebagai sentra baru untuk komodi kopi yang kemudian menjadi diperhitungkan dalam perdagangan domestic maupun internasional.

Peran penting Henny terutama adalah factor kopi. Dia membuat kalkulasi perluasan budidaya kopi, memperkirakan anggaran dan merealisasikannnya. Atas usaha keras dan ketekunannya, kuantitas kopi mengalir deras ke Pelabuhan Padang baik melalui Natal maupun Djaga-Djaga di Loemoet dan mendapat apresiasi harga tertinggi. Prestasi ini membawanya untuk dipromosikan menjadi Asisten Residen Mandheling en Ankola lalu naik promosi lagi menjadi sekretaris gubernur di Gouvernement Sumatra;s Westkust.

Bag-1. SEJARAH ANGKOLA: Awalnya Bernama ‘Ankola’ Berganti ‘Petjirkolling en Ankola’ Berubah Menjadi ‘Ankola en Sipirok’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Sejarah Angkola adalah bagian dari sejarah Tapanuli, khususnya Tapanuli Selatan.Artikel ini merupakan bagian pertama dari serial Sejarah Angkola. Serial artikel lainnya sudah dipublikasikan seperti Sejarah Sipirok (sementara baru lima edisi) dan Sejarah Padang Lawas (baru satu edisi). Serial lainnya akan menyusul, seperti Sejarah Mandailing (dan Sejarah Natal) serta Sejarah Batang Toru. Diharapkan keseluruhan artikel-artikel tersebut akan membentuk Sejarah Tapanuli Selatan. Ini berarti, antar artikel akan terkait satu dengan yang lainnya, beberapa sumber akan sama, dan sumber satu dengan yang lainnya akan saling melengkapi.Oleh karena setiap artikel disusun secara kronologis (tanggal dan bulan), maka sumber dengan mudah dilacak.

***
Sejarah awal Ankola (kemudian menjadi Angkola) bermula dari sejarah awal militer Belanda di Tapanuli.Pada tahun 1833 pertamakali militer Belanda mendarat di Natal, kemudian menduduki Mandheling dengan membangun benteng Eliot di Panyabungan (1834). Selanjutnya dalam penguasaan Ankola en Sipirok, militer merangsek dari dua arah: dari selatan di benteng Eliot dengan membangun pos militer di Sayurmatinggi (1835) dan dari barat di pangkalan militer di Sibolga dengan membangun pos militer di Tobing (sebuah pos di lereng Gunung Lubuk Raya).
.
Kampung di Padang Sidempuan, 1870 (KITLV)
Setelah menguasai lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok, militer Belanda memindahkan markas dari Panyabungan dengan membangun benteng ke Pijor Koling di Ankola pada tahun 1837. Benteng ini dimaksudkan untuk dua tujuan: mengejar Tambusai dan pengikutnya di Padang Lawas dan ekspansi ke Silindung.Pemerintahan sipil di Angkola dan Mandheling dilakukan secara bersamaan yang mana Asisten Residen berkedudukan di Kotanopan dan salah satu kontroleur ditempatkan di Padang Sidempuan. Nama (afdeeling) Ankola, tampaknya mengikuti situasi dan kondisi: Awalnya bernama (afdeeling) Ankola, kemudian berganti menjadi Petjirkolling en Ankola, lalu berubah lagi menjadi Ankola saja. Pada masa selanjutnya, nama (afdeeling) Ankola menjadi Ankola en Sipirok, kembali lagi menjadi Ankola, lantas kemudian menjadi Ankola en Sipirok lagi.