Soetan Di Angkola: Alumni Sekolah Menengah Pertanian di Buitenzorg



* Artikel ini ditulis dalam menyambut REUNI AKBAR IMATABAGSEL & IKAMATABAGSEL, Bogor 9 November 2014


Middelbare Landbouschool Buitenzorg (berndts-weblog)
Hoemala Harahap lahir di Pijorkoling, Batang Angkola, Tapanuli Selatan, 1907. Setelah menamatkan HIS Padang Sidempuan, Hoemala melanjutkan pendidikan MULO di Tarutung. Setelah lulus MULO melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Buitenzorg pada 1927 dan menyelesaikan pendidikannya dan mendapat Diploma di bidang pertanian (agronomi) pada tahun 1929. Setelah lulus, Hoemala Harahap diangkat menjadi ambtenaar dengan pangkat adspirant adjunct lanbowconsulent—pangkat tertinggi bagi pribumi di bidang pertanian.

Sejak 1 Oktober 1938, Hoemala Harahap ditunjuk menjadi penasihat pertanian di Oostkust van Sumatra (Keresidenan Sumatra Timur) yang sebelumnya telah bertugas di Dinas Penyuluhan Pertanian Polewali. Selanjutnya pada tahun 1941, Hoemala Harahap dipindahkan dari Keresidenan Riau ke Keresidenan Tapanoeli sebagai deputi landbouwconsulent kelas-1. Selanjutnya, setelah berdinas di berbagai daerah, Hoemala Harahap kembali ke Bogor. Pada tahun 1955, Hoemala Harahap diangkat menjadi Directeur Bureau voor Landwinning di Bogor.

Salah satu adik kelas Hoemala Harahap adalah Hasan Basyarudin Nasution, lahir di Kotanopan 15 Mei 1915. Hasan Basyarudin Nasution menyelesaikan Middelbare Landbouwschool pada tahun 1937 dan pada tahun itu juga diangkat sebagai mantri kehutanan. Setelah berkiprah cukup lama di Sumatra, Hasan Basyarudin Nasution kembali lagi ke Bogor karena diangkat sebagai Kepala Djawatan Kehutanan Republik Indonesia yang berkantor di Gunung Batu, Bogor..  

‘Bange’ di Tapanuli, ‘Ampo’ di Jawa: Tanah yang Bisa Dimakan, Enak dan Lezat



Dalam buku Prof dr. G.A. Wilken berjudul ‘Handleiding voor de vergelijkende volkenkunde van Nederlandsch-Indie’ tidak menyebut tentang geopbagie (tanah liat yang bisa dimakan). Seseorang merasa perlu melengkapi yang terdapat dalam buku Wilken tersebut dengan sebuah tulisan yang berjudul ‘Eenige Medeelingen Omtrent Het Voorkomen van Geophagie in de Resitentie Tapanoeli’ yang dimuat dalam koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad yang terbit pada 25-06-1894. Sumber tulisan ini berasal dari sebuah chapter dalam Tijdschrift voo Indische Taal-, Land- en Volkenkunde yang diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Konsten en Wetenschappen dengan redaksi J.H. Abendanon en P.J.F Louw dengan nara sumber A.L. van Hasselt, Resident Tapanoeli, E.W.L von Faber abtenaar dan Direktur van O, E,N plus catatan J. Baak, seorang apoteker militer.

Tulisan tersebut intinya sebagai berikut:

SMP Negeri 1 Padang Sidempuan: MULO Padang Sidempoean di Era Belanda’



MULO Padang Sidempuan (KITLV. foto sekitar 1936-1939
MULO adalah Sekolah Menengah Pertama pada era kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) berarti pendidikan dasar lebih luas. Sekolah MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO, salah satunya terdapat di Padang Sidempuan. Sekolah MULO ini kini menjadi SMP Negeri 1 Padang Sidempuan.

Sejarah awal MULO Padang Sidempuan

Di Tapanuli, sudah terdapat MULO yang ditempatkan di Tarutung. Pada tahun 1926 MULO Tarutung dan beberapa muloschool yang lain di Jawa diizinkan untuk mendapat bantuan (subsidi) dari pihak partikelir (swasta). Sekolah MULO yang kedua akan didirikan di Keresidenan Tapanuli.

Bag-4. Sejarah MANDAILING: ‘Pertumbuhan Ekonomi Kopi dan Perkembangan Pendidikan Pribumi’



Bag-4. Sejarah MANDAILING: ‘Pertumbuhan Ekonomi Kopi dan Perkembangan Pendidikan Pribumi’

Bag-5. Sejarah MANDAILING: ‘Suksesi Yang Dipertoean Kotta Siantar’

Bag-6. Sejarah MANDAILING: ‘Pendidikan di Mandheling Terbaik di Sumatra’s Westkust’

Bag-7. Sejarah MANDAILING: ‘Controleur di Groot Mandheling, Berkedudukan di Panjaboengan’

Bag-8. Sejarah MANDAILING: ‘Buku Karya A.P. Godon Terbit dan Toleransi Perbudakan’

Bag-9. Sejarah MANDAILING: ‘Ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola Pindah ke Padang Sidempoean’

Bag-10. Sejarah MANDAILING: ‘Willem Iskander Berangka Lagi ke Negeri Belanda’

Bag-11. Sejarah MANDAILING: ‘Willem Iskander Meninggal Dunia di Belanda’

Bag-12. Sejarah MANDAILING: ‘Pembebasan Budak di Mandailing, Gratis’

Bag-13. Sejarah MANDAILING: ‘……..’

Bag-3. Sejarah MANDAILING: ‘Koffij-Stelsel, Willem Iskander Mendirikan Kweekschool di Tano Bato’


*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Koffij-cultuure yang diperkenalkan Belanda di Mandheling dimulai tahun 1841. Adalah Inggris yang memperkenalkan kopi di Mandheling. Belanda ala koffij-cultuure hanya sekadar melanjutkan yang sudah ada. Produksi kopi sebelum Belanda datang (1833) sudah ada dan bahkan sudah diperdagangkan (1818). Kemudian, 20 tahun kemudian, sejak koffij-cultuure dimulai, Belanda menganggap perlu untuk meningkatkan hasil melalui Koffij-stelsel.

***
Akhir November 1854, sudah ada dua pemuda Mandheling, Si Asta dan Si Angan yang tiba di Batavia. Mereka ini adalah anak-anak potensial yang ingin studi tentang kesehatan (bedah dan kebidanan) di sekolah tinggi kedokteran pribumi di Batavia. Pilihan orangtua anak-anak ini, sangat masuk akal, sebab di Mandheling selain wabah penyakit masih sering muncul (inpeksi) juga persoalan pertolongan kelahiran.  Ahli kesehatan yang ada, hanya cukup untuk orang-orang Belanda dan itupun biasanya ditempatkan di tangsi-tangsi militer. Bagi masyarakat Mandheling yang sudah lama menderita (padri dan koffij-cultuure), adanya penyakit dan masalah-masalah persalinan akan menambah penderitaan bagi penduduk. Sudah waktunya ada yang mengatasi secara baik dan modern. Inilah misi para anak muda ini studi kedokteran ke Batavia.
.
Sementara itu, seorang pemuda bernama Si Sati yang dikenal kemudian sebagai Willem Iskander, sudah pula berada di Belanda sejak 1857 untuk studi dalam pendidikan guru (kweekschool). Willem Iskander adalah guru di sekolahnya sendiri, sejak ia lulus tahun 1855 diangkat menjadi guru untuk menggantikan gurunya yang berbangsa Belanda. Willem Iskander menganggap bahwa kebutuhan guru sangat mendesak, karena masyarakat memerlukan pendidikan. Untuk memenuhi guru-guru formal ini (pendidikan guru), Willem Iskander mendiskusikan dengan mentornya, A.P. Godon. Kedua orang ini memiliki visi dan misi yang sama. Karena itulah Willem Iskander berambisi untuk sekolah guru ke Negeri Belanda.

Bag-2. Sejarah MANDAILING: ‘Koffijcultuur, Kopi Terbaik dan Harga Tetinggi Dunia dan Studi Ke Batavia dan Negeri Belanda’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Sekolah ke Batavia dan Koffijcultuur

Samarangsch advertentie-blad, 03-11-1854 (iklan): ‘di Jawa Courant No. 86 disebut kreditur dan debitur dalam perkebunan. Agen di Sumatra, di wilayah kerja Mandheling, G.de Hesselle’.
.
Gudang Kopi di Mandheling, 1895 (KITLV)
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855: ‘Batavia,  25 November 1854. Satu permintaan oleh kepala Mandheling (Batta-landen) dan didukung oleh Gubernur Sumatra’s Westkust, beberapa bulan yang lalu, ditetapkan oleh pemerintah, bahwa kedua anak kepala suku asli terkemuka, yang telah menerima pendidikan dasar dibawa untuk akun negara ke Batavia dan akan mengikuti kedokteran, bedah dan kebidanan. Para pemuda yang disebut Si Asta dan Si Angan di rumah sakit militer di sana pada murid ini baru saja tiba dari Padang disini, dan akan disertakan di pelatihan perguruan tinggi (kweekschool) dokter asli. Untuk hal yang sama sekarang telah diambil dari yang dicalonkan atas permintaan kepala Menahassa kepada Residen Manado. (dalam koran ini juga dilaporkan): penduduk Mandheling banyak yang korban harimau’.

Bag-1. Sejarah MANDAILING: ‘Pemerintahan Sipil di Tapanuli Selatan Dimulai dari Kotanopan’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Airmata tangisan penduduk Mandailing masih terus menetes hingga berita pertama kehadiran bangsa Belanda di Tanah Mandailing muncul di suratkabar. Berita-berita yang muncul pertama kali dari Tanah Mandailing adalah berita seputar tentang kematian petugas dan serdadu Belanda. Berita lainnya adalah surplus beras di Mandailing ditransper ke Jawa, sementara DOM masih tetap diberlakukan di Bonjol. Ini mengindikasikan bahwa penguasaan wilayah dengan pengerahan militer yang memerlukan biaya yang tidak sedikit, harus ada penutupnya dengan untung ‘gede’. Tidak ada rotan akarpun jadi. Belum ada komoditi ekspor bernilai tinggi, komoditi domestik pun tidak masalah. Karena itu, selagi masa perang dan melakukan pertempuran, produksi beras lokal pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan uang—seperti anekdot: tidak ada makan siang gratis’.

Militair Departement: Prakondisi Awal Pemerintahan Sipil
.
Peta Mandheling, 1843-1847
Militer Belanda pertamakali mendarat di Natal 1933. Membangun benteng Eluot di Panjaboengan pada tahun 1834 dan menguasai Mandheling lantas membangun benteng di Rao 1834. Sementara benteng Bonjol masih eksis. Pada tahun 1837 benteng Bonjol dikuasai kemudian lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok juga sepenuhnya dikuasai. Selama fase invasi ke Bonjol, otoritas sipil di Mandailing yang berkedudukan di Kotanopan dilakukan oleh Francois Bonnet. Pasca Bonjol, selanjutnya militer Belanda mengalihkan perhatian ke Padang Lawas. Untuk memperkuat pertahanan pasukan Belanda dibangun benteng di Pijor Koling (1837) untuk meningkatkan fungsi pos militer sebelumnya di Sayurmatinggi. Karenanya, lanskap Mandailing (groot dan klein) menjadi sangat terjaga keamanannya, sebab ada tiga benteng: di tengah lanskap Mandailing, masih ada benteng Fort Eluot di Panjaboengan, di selatan Mandailing, di Rao dan di utara Mandailing di Pijor Koling. Kedua benteng di sisi luar Mandailing ini masih aktif, hingga ekonomi kopi dimulai dan pemerintahan sipil diselenggarakan di Mandheling dan Ankola.