27/08/16

Sejarah Tapanuli (Bag-7): Saat Kedatangan Nommensen di Tanah Batak, Ini Faktanya!



Kata pengantar buku Gustav van Asselet (Koning Salomon en Radja Gading). Utrecht, 31 Maart 1900. Heden 39 jaren, dat ik de twee eerste Ratta's doopte (Hari ini, 39 tahun yang lalu, saya baptis dua yang pertama orang Batak)

Kapan Nommensen tiba di Tanah Batak tentu sangatah menarik namun data dan informasi kedatangannya ke Tapanoeli terbilang minim. Nommensen sebagai penginjil terkenal di Tanah Batak, seharusnya sejarah tentang dirinya harus ditulis dengan baik dan benar (apa adanya). Nommensen datang ke Tanah Batak tentu tidaklah sendiri.

Beberapa tahun sebelum kedatangan Nommensen, misionaris yang sudah ada di Tanah Batak adalah Gustav van Asselt yang disusul Betz dan kemudian datang dua misionaris Jerman, Heine dan Klammer. Gustav van Asselt adalah pejabat Belanda yang merangkap misionaris di Sipirok. Gustav van Asselt telah memulai misi sejak tahun 1858. Tantangan yang dihadapi keempat misionaris ini begitu besar keika mereka memulai, namun justru itu yang member jalan mudah bagi Nommensen di Tanah Batak.

23/08/16

Sejarah Kota Medan (35):Mr. Abdul Abbas Siregar, Anak Medan; Residen Pertama Lampung (1945) dan Presiden Republik Indonesia Tapanuli (1949)



Hanya beberapa daerah yang tersisa di Indonesia yang masih republik (pro kemerdekaan RI), yakni: Jokjakarta, Lampung, Tapanuli dan Aceh. Selebihnya tak peduli lagi dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Pemimpin dari wilayah-wilayah yang kontra kemerdekaan RI tersebut telah membentuk BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) pada tahun 1948. Di Tapanuli, Republik Indonesia sempat melemah akibat adanya revolusi social (dari perusuh). Namun Mr. Abbas Siregar mampu menegakkan kedaulatan Republik Indonesia di Tapanuli.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 17-09-1948
Het nieuwsblad voor Sumatra, 17-09-1948: ‘Revolusi Sosial di Tapanoeli. Di Republik Tapanoeli hari ini terjadi revolusi sosial. Pada tanggal 10 September pemberontak melawan tentara republic (TNI) dan pejabat administrasi republik. Terjadi pertempuran di Padang Sidempuan, yang mana Komandan TNI Padang Sidempoean, Kapten Koima Hasiboean dibunuh. Selain itu, sejumlah pemimpin Republik (Indonesia) terkemuka, termasuk Mr. Abbas Siregar, Mayor M. Panggabean, Maj. R. Sahian, Maj. AH Siagian dan Mr. Amir Hoesin Siagian telah ditangkap oleh para pemberontak. Mantan Gubernur Militer Tapanoeli, Dr. Gindo Siregar, dan Lt. Kol. P. Sitompoel, komandan pasukan Republik (Indonesia) di wilayah ini berhasil bersembunyi. Di Sibolga, Mr. H. Silitonga, Dr. Loehoet Loembantobing, Elam Artitonang dan M. Pangariboean ditangkap oleh pemberontak.Ini disebut revolusi social kedua yang berlangsung di Tapanoeli. Dilaporkan bahwa pemimpin pemberontakan adalah Pajoeng Bangoen, Komandan Sepuluh Polisie (polisi militer) di Tapanoeli’.

Kedaulatan Republik Indonesia di Tapanuli tetap terjaga. Semua infiltrasi dapat dicegah. Republik Indonesia adalah harga mati. Tidak ada tawar menawar. Tokoh utama dalam mempertahankan Republik Indonesia di Tapanoeli adalah Mr. Abdul Abbas Siregar.

22/08/16

Bag-17. Sejarah Padang Sidempuan: Ir. Tarip Abdullah Harahap, Alumni ITB (1939); Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) di Medan (1957)



Tarip Abdullah Harahap adalah salah satu dari dua mahasiswa pertama asal Padang Sidempuan yang kuliah di ITB di era Belanda. Pada waktu itu ITB dikenal sebagai Technische Hoogeschool, Bandoeng. Tarip Abdullah Harahap lulus ujian saring masuk pada tahun 1934. Mahasiswa Technische Hoogeschool beragam (Belanda, Tionghoa dan pribumi) dan ujiannya sangat ketat. Seangkatan dengan Tarip Abdullah Harahap, lebih dari separuh gagal di tahun pertama.

Het nieuws van den dag voor NI, 10-06-1935
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-06-1935: ‘Technische Hoogeschool. Dalam ujian akhir tingkat satu yang diikuti 45 kandidat, yang berhasil lulus adalah: Abdul Kader, Ms. A. Adels, R. Ahja, EJA Corsmit, E. Edward, M. Hoesen, H. Johannes, Lauw Jan, Liem Kiem Kie, Lic Hok Gwan, Lic Soen Giap, R. Moempoeni Dirdjosoebroto, Sardjono, JA van Schalk, AB Schrader, M. Soemarman, JF Strach, Tarip Abdullah Harahap, The Lian Thong dan Thee Kian Boen. Sebanyak 24 kandidat gagal; sementara satu kandidat dilakukan ujian ulangan’.

Umumnya siswa-siswa asal Padang Sidempuan menempuh pendidikan tinggi ke sekolah hukum (Recht School) dan sekolah kedokteran (Geneeskunde School) di Batavia (Jakarta) dan sekolah kedokteran hewan (Veeartsen School) di Buitenzorg (Bogor). Sangat jarang yang memilih ke Bandoeng (Technische Hoogeschool). Sebab sejarahnya, di afdeeling Padang Sidempoean yang sangat dibutuhkan keahlian di bidang kedokteran, kedokteran hewan dan hukum.

21/08/16

Dr. Tarip: Alumni Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor (1914); Peneliti Terbaik Indonesia



Dr. Tarip adalah siswa pada fase awal setelah dibentuk Sekolah Kedokteran Hewan (Veeartsenschool) di Buitenzorg (1907). Dr. Tarip telah bertugas di Atjeh, Tapanoeli dan Sumatra’s Westkust, plus pernah ditempatkan di Kandangan (sebagai kepala dinas pertama). Dr. Tarip adalah peneliti pribumi terbaik di eranya yang menyebabkannya diberi beasiswa untuk studi lebih lanjut ke Utrecht, Belanda.

Tarip memulai pendidikan dasar di sekolah pribumi (Inlandsche school) 2de klasse di Sipirok. Tarip belajar secara tutorial (les) bahasa Belanda. Pada tahun 1903 Tarip lulus ujian masuk untuk sekolah guru pribumi (kweekschool voor Inlandsche onderwijzers). di Fort de Kock. Setelah lulus Tarip diangkat sebagai guru sekolah negeri di Sibolga. Profesi guru ini hanya dijalaninya hingga tahun 1909. Pada tahun 1910 Tarip melanjutkan studi untuk sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) di Buitenzorg (Bogor). Siswa yang diterima setiap tahunnya tidak lebih dari 10 orang.

Setelah selesai studi (1914), Dr. Tarip diangkat sebagai dokter hewan pemerintah dan ditempatkan di Padang Lawas. Di sela-sela tugasnya memberi layanan pemerintah, Dr. Tarip melakukan penelitian dan hasilnya dipublikasikan. Hasil penemuannya adalah metode membasmi cacing pita pada kerbau. Dr. Tarip kemudian dipindah ke Medan sebagai adjunct-gouvemements-veearts.

19/08/16

Sejarah Kota Natal (4): Willem Iskander Mendirikan Sekolah Guru di Tanobato; Natal Kembali Mendapat Perhatian



Sejak AP Godon menjadi Asisten Residen di Afdeeling Mandailing en Angkola (1847) telah banyak yang berubah. Produksu kopi terus meningkat di Mandailing dan Angkola, akses jalan menuju Natal semakin lancar. Perubahan yang lain adalah anak-anak Mandailing en Angkola sudah mulai bersekolah (introduksi aksara latin dalam pendidikan). Pendapatan pemerintah dari kopi telah mampu membiayai untuk pendidikan. Pendapatan yang sebelumnya terbatas untuk anggaran infrastruktur (utamanya jalan/jembatan) kini telah diperluas dan dialokasikan untuk pendidikan.

Sukses pertama dari pendidikan di Mandailing en Angkola adalah dikirimnya dua siswa (bernama Si Asta dan Si Angan) tahun 1854 untuk studi kedokteran di Batavia. Kedua siswa ini diharapkan akan mampu menangani penyakit dan wabah yang kerap terajdi sebelumnya. Sukses kedua adalah dikirimnya Si Sati pada tahun 1857 untuk studi keguruan ke Belanda. Pada tahun 1856 dua siswa kedokteran telah berhasil dalam studinya. Dr. Asta ditempatkan di Mandailing dan Dr. Angan ditempatkan di Angkola. Pada tahun 1856 dua siswa dikirim lagi ke Batavia.

Pada tahun 1961 Si Sati yang telah berganti nama menjadi Willem Iskander kembali ke tanah air (Batavia). Willem Iskander kemudian pulang kampong di Mandailing untuk mendirikan sekolah guru (kweekschool). Lokasi yang dipilih Willem Iskander tempat sekolah guru yang akan diasuhnya sendiri adalah din Tanobato. Suatu kampong yang jauh dari Panjaboengan di daerah yang lebih tinggi dan berhawa sejuk di sisi jalan menuju pelabuhan Natal.

Lokasi sekolah guru yang dipilih di Tanobato tidak menguntungkan untuk siswa-siswa yang berasal dari Angkola. Pilihan lokasi diduga karena letak Tabobato yang berhawa sejuk lebih sesuai untuk Willem Iskander sendiri yang sudah mengalami iklim Eropa. Alasan utama mungkin agar Willem Iskander mudah dan cepat akses ke pelabuhan (agar mudah ke Padang dan Batavia) dan juga agar pejabat pendidikan baik di Padang dan Batavia mudah mengakses sekolah guru itu.

Pilihan Tanobato sebagai sekolah guru secara tidak langsung menguntungkan Natal (yang sudah beberapa tahun mengalami keterpencilan). Natal dan pelabuhan Natal akan dengan sendirinya menjadi ramai kembali. Para pejabat akan sering meninjau sekolah tersebut. Demikian juga para wisatawan akan tertarik melihat keberadaan sekolah guru yang berada di ketinggian itu yang mana gurunya, Willem Iskander merupakan satu-satunya pribumi yang berpendidikan di Hindia Belanda dan memahami serta sudah terbiasa dengan budaya Eropa.

Sejarah Kota Natal (3): Jalur Transportasi Mandailing-Natal Dibangun; Tidak Semua Layar Terkembang Menuju Pelabuhan Natal Lagi



Sejak kerusuhan tahun 1842 di Mandailing dan pemecatan Controleur Natal, Eduard Doowes Dekker 1843, demi menjaga kepentingan pemerintahan (produksi komodi ekspor), pemerintah mulai ciut nyalinya lalu mulai dengan tatakelola pemerintahan yang berimbang (di satu tangan tetap dengan pengawasan senjata dan di tangan yang lain memberi stimulan yang mampu meredakan ketegangan. Stimulan itu dalam pelaksanaannya baru nanti dilakukan pada era pemerintahan yang dijabat oleh Asisten Residen AP Godon (1847-1857).

Sejak dipecatnya Eduard Douwes Dekker, pemerintahan di Natal dikendalikan oleh beberpa controleur. Anehhnya pejabat controleur definitif tidak pernah ada (hanya sebagai pejabat sementara). Ini mengindikasikan bahwa faktor Eduard Doowes Dekker masih menjadi pertimbangan.

Asisten Residen AP Godon yang humanis

Pada tahun 1846 afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli (menyusul afd, Mandailing en Angkola). Afdeeling Natal yang sempat rantai terputus 1845 (Natal masuk Residentie Air Bangis sementara Mandailing en Angkola masuk Residentie Tapanoeli) tidak terdapat koordinasi. Dengan bersatunya kedua afdeeling ini di dalam satu residentie maka fungsi koordinasi kembali terlaksana. Oleh karena di afdeeling Mandailing en Ankola statusnya asisten residen, maka controleur Natal harus selalu berkoordinasi dengan asisten residen Mandailing en Angkola.

17/08/16

Forum Investasi dalam Percepatan Pembangunan di Tapanuli Bagian Selatan



Tujuh puluh delapan tahun yang lalu di Batavia telah berkumpul sejumlah perantau Tapanoeli untuk membicarakan pembangunan di kampong halaman. Ide ini bermula dari Sanusi Pane dan kemudian mengajak sejumlah tokoh penting asal Tapanoeli yang peduli tentang kampong halaman.

Bataviaasch nieuwsblad, 01-03-1938: ‘Dewan yang dibentuk terdiri dari (diantaranya) Sanusi Pane sebagai Presiden. Anggota terdiri dari Parada Harahap (editor Tjaja Timoer), Abdoel Hakim Harahap (mantan anggota dewan kota Medan, kelak menjadi Gubernur Sumatra Utara), AL Tobing, H. Pane, T. Dalimoente dan Panangian Harahap (penilik sekolah di Bandung). Selain itu, sebagai pembina adalah MangarajaSoangkoepon (anggota Volksraad dari dapil Sumatra Timur), Dr. Abdul Rasjid (anggota Volksraad dari dapil Tapanoeli), Mr. Soetan Goenoeng Moelia, PhD (anggota Volksraad dari utusan bidang pendidikan) dan Amir Sjarifoedin (Pimpinan Partai Politik)’.

Dewan Rencana Reformasi Tapanoeli mewakili seluruh wilayah Residentie Tapanoeli (afdeeling Padang Sidempuan, Sibolga dan Tarutung). Komposisi dewan juga mencakup anggota dewan (Volksraad), partai politik, wartawan, sastrawan, pengusaha, pejabat pemerintah dan pendidik.