Bag-1. SEJARAH ANGKOLA: Awalnya Bernama ‘Ankola’ Berganti ‘Petjirkolling en Ankola’ Berubah Menjadi ‘Ankola en Sipirok’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Sejarah Angkola adalah bagian dari sejarah Tapanuli, khususnya Tapanuli Selatan.Artikel ini merupakan bagian pertama dari serial Sejarah Angkola. Serial artikel lainnya sudah dipublikasikan seperti Sejarah Sipirok (sementara baru lima edisi) dan Sejarah Padang Lawas (baru satu edisi). Serial lainnya akan menyusul, seperti Sejarah Mandailing (dan Sejarah Natal) serta Sejarah Batang Toru. Diharapkan keseluruhan artikel-artikel tersebut akan membentuk Sejarah Tapanuli Selatan. Ini berarti, antar artikel akan terkait satu dengan yang lainnya, beberapa sumber akan sama, dan sumber satu dengan yang lainnya akan saling melengkapi.Oleh karena setiap artikel disusun secara kronologis (tanggal dan bulan), maka sumber dengan mudah dilacak.

***
Sejarah awal Ankola (kemudian menjadi Angkola) bermula dari sejarah awal militer Belanda di Tapanuli.Pada tahun 1833 pertamakali militer Belanda mendarat di Natal, kemudian menduduki Mandheling dengan membangun benteng Eliot di Panyabungan (1834). Selanjutnya dalam penguasaan Ankola en Sipirok, militer merangsek dari dua arah: dari selatan di benteng Eliot dengan membangun pos militer di Sayurmatinggi (1835) dan dari barat di pangkalan militer di Sibolga dengan membangun pos militer di Tobing (sebuah pos di lereng Gunung Lubuk Raya).
.
Kampung di Padang Sidempuan, 1870 (KITLV)
Setelah menguasai lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok, militer Belanda memindahkan markas dari Panyabungan dengan membangun benteng ke Pijor Koling di Ankola pada tahun 1837. Benteng ini dimaksudkan untuk dua tujuan: mengejar Tambusai dan pengikutnya di Padang Lawas dan ekspansi ke Silindung.Pemerintahan sipil di Angkola dan Mandheling dilakukan secara bersamaan yang mana Asisten Residen berkedudukan di Kotanopan dan salah satu kontroleur ditempatkan di Padang Sidempuan. Nama (afdeeling) Ankola, tampaknya mengikuti situasi dan kondisi: Awalnya bernama (afdeeling) Ankola, kemudian berganti menjadi Petjirkolling en Ankola, lalu berubah lagi menjadi Ankola saja. Pada masa selanjutnya, nama (afdeeling) Ankola menjadi Ankola en Sipirok, kembali lagi menjadi Ankola, lantas kemudian menjadi Ankola en Sipirok lagi.

Bag-5: SEJARAH SIPIROK: ‘Putra Daerah, Si Joelioes gelar Soetan Martoewa Radja Lulus Kweekschool Padang Sidempoean’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Adanya pemerintahan sipil di Sipirok, telah membuka ruang untuk berkembangnya pendidikan negeri bagi penduduk. Pendidikan adalah instrument penting bagi pemerintah Hindia Belanda untuk mendukung tujuan yang diinginkannya. Melalui pendidikan, produktivitas penduduk setiap wilayah akan meningkat. Penduduk yang lebih berpendidikan, akan lebih sehat, lebih tangguh dan memungkinkan ekonomi dan perdagangan lebih meningkat. Manfaat ekonomi yang meningkat akan lebih mampu membiayai, dan manfaat perdagangan komersial yang meningkat akan membuat untung lebih besar bagi pemerintah. Inilah insentif mengapa pemerintahan sipil dibentuk dan pendidikan diintroduksi.

Seni di suatu tempat, di Sipirok 1895 (KITLV)
Pembangunan sekolah negeri di Sipirok yang berawal di Sipirok dan Bungabondar dan diperluas ke Prau Sorat diharapkan akan berkembang ke seluruh penjuru Sipirok. Namun jauh sebelum itu, bentuk-bentuk pendidikan masyarakat sudah ada di Sipirok. Di kalangan Islam tumbuh sekolah-sekolah non formal yang disebut madrasah—fungsi pengetahuan dan fungsi ibadah, demikian juga para misionaris membutuhkan sekolah-sekolah non formal untuk mencerdaskan penduduk yang juga dikaitkan dengan kebutuhan penyebaran agama. Pemerintah Hindia Belanda hanya focus pada pendidikan formal dan membiarkan pendidikan non formal dari kalangan Islam dan Kristen tumbuh dan kembang sendiri. Adagium pemerintahan Belanda memisahkan pemerintahan dengan agama dan sebaliknya.

Bag-4: SEJARAH SIPIROK: ‘Dataran Tinggi Lembah Sipirok yang Eksotik Diakui Para Wisatawan Sejak Doeloe’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Lembah Sipirok, di kaki Gunung Sibualbuali kerap terjadi bencana alam, terutama gempa bumi. Serangkaian proses vulkanik masa lalu menyebabkan wilayah Sipirok memiliki tingkat kesuburan yang baik, yang di atasnya memiliki kekayaan ragam flora tumbuh dan berkembang fauna. Di lembah ini juga terbilang populasi penduduk terpadat di Tapanoeli dengan satu budaya leluhur, namun menjadi wilayah perebutan dua agama dalam penyiaran agama yang pada fase awal ada pasang surut tetapi pada akhirnya harmoni tetap terjaga. Faktor budaya merekatkannya.
.
Rumah Zending di Sipirok, 1890 (KITLV)
Alamnya yang eksotik, berhawa sejuk, penduduknya yang ramah dipuji para pelancong. Sejauh ini, sudah banyak para ‘lone ranger’ datang ke Sipirok, baik sebagai tugas ekspedisi maupun untuk bertualang sebagai wisatawan. Dr. Junghuhn, van der Tuuk, Ida Pheiffer, dan lain sebagainya merasakan eksotisme lembah Sipirok. Jika turut dihitung Van Asselt, Nommensen, dan sebagainya, maka lembah Sipirok adalah tujuan yang mereka idam-idamkan. Mereka tidak menemukan di tempat lain, hanya ada di Sipirok.

Pemerintahan kolonial juga sangat respek terhadap daerah ini. Pemerintah memandang Sipirok sebagai lumbung ekonomi potensial bagi pemerintah kolonial, asal penduduknya mau bertanam kopi dan membangun jalan dan jembatan, apapun agamanya: pagan, Islam atau Kristen. Kerajaan Belanda, dengan sadar memisahkan motif gereja dan motif (politik) pemerintahan. Situasi ini dianggap para misionaris menguntungkan Islam, dan menjadi suatu dilemma bagi Kristen. Pemerintah Hindia Belanda berani invest karena telah memperhitungkan prospek keuntungannya.

Bag-1: Sejarah PADANG LAWAS: ‘Ekspansi Militer dan Eksplorasi Sipil di Era Hindia Belanda’



Padang Lawas, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Sebuah wilayah di pedalaman Tapanuli, Sumatra yang secara geografis berbeda dengan wilayah lainnya. Padang Lawas menyimpan banyak hal, seperti sejarah percandian Hindu-Budha di Portibi, migrasi penduduk Batak, ekspansi militer Belanda untuk meredam perlawanan Tuanku Tambusai, pembentukan pemerintahan sipil, pembangunan ekonomi, pergolakan social politik dan lain sebagainya. Serial artikel ini menyajikan sebuah deskripsi secara kronologis berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe yang selama ini belum tergali dan belum terungkap sepenuhnya ke permukaan.

Lanskap Padang Lawas atau bahasa lokal juga disebut Padang Bolak, sejak awal sudah dipetakan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bagian dari Residentie Tapanoeli, namun persoalan pembentukan pemerintahan ternyata tidak mudah karena perlu pertimbangan yang cermat sebagai syarat adanya pemerintahan sipil. Setelah pemerintahan sipil di Mandheling en Natal sudah berjalan dengan baik, pemerintah colonial Belanda bekerja meneruskan ekspansi ke Ankola en Sipirok, baru kemudian secara paralel ke utara di Silindung dan Toba dan ke timur di Padang Lawas dan Padang Bolak. Positioning Ankola dan Sipirok menjadi bagian penting dalam proses tugas Militair Departement dan Civiel Departement dalam mengakuisisi lanskap Silindung maupun lanskap Padang Lawas.

Kampung di Goenoengtoe, 1867 (KITLV)
Lanskap Padang Lawas bersinggungan langsung dengan lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok. Ekspansi militer dilakukan lewat Ankola dan proses pembentukan pemerintahan sipil dilakukan lewat Sipirok. Ini bermula dari sejarah awal militer Belanda di Tapanuli. Pada tahun 1833 militer Belanda mendarat di Natal, kemudian menduduki Mandheling dengan membangun benteng Eliot di Panyabungan (1834). Selanjutnya dalam penguasaan Ankola en Sipirok, militer merangsek dari dua arah: dari selatan di benteng Eliot dengan membangun pos militer di Sayurmatinggi (1835) dan dari barat di pangkalan militer di Sibolga dengan membangun pos militer di Tobing (sebuah pos di lereng Gunung Lubuk Raya).

Penguasaan lanskap Silindung dan khususnya Toba tidak mudah dan ternyata cukup alot, karena adanya perlawanan dari Si Singamangaraja terhadap misionaris dan militer Belanda. Demikian juga di lanskap Padang Lawas, tidak juga mudah, bahkan terjadi pertarungan di beberapa tempat antara pengikut Tuanku Tambusai dengan pasukan Belanda. Para misionaris yang secara regular menulis secara terang benderang situasi dan kondisi di Silindung dan Toba, memudahkan Belanda untuk menyusun strategi penguasaan. Berbeda dengan di Padang Lawas, ‘gelap gulita’, penduduk yang mayoritas sudah memeluk agama Islam dan ‘keunggulan’ pasukan Tuanku Tambusai menguasai medan stepa. Dengan kata lain, tidak ada informasi yang akurat dari jantung lanskap Padang Lawas ke luar. Ini yang membuat ekspansi militer ke Padang lawas tanpa referensi dan sedikit ‘ngeri’.

Bag-3: SEJARAH SIPIROK: Berperan dalam Proses Pembentukan Pemerintahan di Silindung dan Padang Lawas



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Dalam bagian kedua serial artikel ini pemerintahan sipil di Onderafdeeling Sipirok, Afdeeling Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoelie sudah terbentuk yang mana Controleur berkedudukan di Sipirok. Situasi dan kondisi keamanan di wilayah Sipirok sudah kondusif, pembangunan infrastruktur (jalan dan jembatan) sudah dilakukan, pengadaan fasilitas (terutama pendidikan) sudah ada, ekonomi dan arus perdagangan (terutama kopi) sudah lancar dan sistem sosial masyarakat berjalan lancar. Namun tidak demikian dengan wilayah tetantangganya: Silindung dan Padang Lawas.
Kantor Controleur di Goenoengtoea (KITLV)

Di Silindung, meski Controleur sudah ditempatkan di Sipoholon, akan tetapi aktivitas pemerintahan sipil belum efektif. Para misionaris masih bekerja keras, pejabat sipil masih berkonsentrasi secara bersama-sama dengan militer dalam memulihkan keamanan (perang antar kampong) dan konsolidasi pertahanan (terutama terhadap aktivitas pengikut Sisingamangaraja). Di Padang Lawas, situasi dan kondisi keamanan sudah semakin membaik, meski perlawanan Tuanku Tambusai sudah berhasil dilokalisir, namun perang antar kampong di beberapa tempat masih ditemukan. Proses pembentukan pemerintahan sipil di Padang Lawas tengah dipersiapkan.

Onderafdeeling Sipirok dengan segala kemajuannya, tugas Controleur juga tidak kalah penting untuk ‘mengurusi’ wilayah sisi luar (eksternal) Sipirok yakni di Silindung (termsuk Toba) di sebelah utara dan Padang Lawas di sebelah timur. Controleur Sipirok seakan memiliki tugas rangkap, menjadi semacam perpanjangan tangan Residenti Tapanoelie (di Sibolga) melalui Asisten Residen Mandheling en Ankola (di Padang Sidempuan) dalam pembentukan (struktur) pemerintahan di Residentie Tapanoelie, Governement Sumatra’s Westkust. Pejabat pemerintah di satu pihak dan penduduk di pihak lain di wilayah Onderafdeeling Sipirok sedikit atau banyak telah dilibatkan dan mengambil peran dalam proses terbentuknya pemerintahan di Silindung maupun di Padang Lawas.

Bag-2: SEJARAH SIPIROK: Pemekaran Angkola en Sipirok, Controleur Berkedudukan di Sipirok

*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe


Peta Ankola 1843-1847
Dalam bagian pertama artikel ini, Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 7, tanggal 7 Juni 1871 (Staatsblad No. 83) pasal Keresidenan Tapanoeli sudah dikutip sebagian yang berkenaan dengan wilayah Sipirok. Berikut disalin kembali: Keresidenan Tapanoelie terdiri dari tiga afdeeling (Siboga, Mandheling en Ankola, dan Natal) plus Pulau (eiland) Nias. Afdeeling Siboga terdiri dari tiga onderafdeeling, yakni: Siboga, Baros dan Singkel. Di onderafdeeling Siboga terdapat 16 kepala hakuriaan (koeriahoofd), empat diantaranya: Marantjar, Si Angoenan, Hoeraba dan Batang Taro.

Afdeelingnya Mandheling en Ankola sendiri terdiri dari tiga onderafdeeling yakni: (1) Onderafdeeling Groot-Mandheling, (2) Onderafdeeling Kleine Mandheling, Oeloe en Pakantan, dan (3) Onderafdeeling Ankola en Sipirok. Di dalam Onderafdeeling Angkola en Sipirok terdapat 14 kepala hakuriaan (koerihoofd), yakni:

1.      Kampong Baroe
2.      Si Mapil Apil
3.      Saboengan
4.      Batoe nan Doea
5.      Oeta Rimbaroe
6.      Si Pirok
7.      Bringin
8.      Praoe Sorat
9.      Soeroemantigi
10.  Pintoe Padang
11.  Si Galangan
12.  Moeara Thais
13.  Pitjar Koeleng
14.  Si Ondop

Pada tahun 1871 Keresidenan Tapanoelie masuk dalam Gouvernement Sumatra’s Westkust. Residen Tapanoelie berkedudukan di Siboga. Controleur Ankola en Sipirok berkedudukan di Padang Sidempoean. Juga, Asisten Residen Mandheling en Ankola berkedudukan di Padang Sidempoean. Secara geografis, hakuriaan paling dekat dengan pusat pemerintahan di Padang Sidempoean adalah hakuriaan Kampong Baroe (kini Batang Ayumi/Jae), sedang yang paling jauh adalah hakuriaan Sipirok, Baringin dan Parau Sorat.

Bag-1: SEJARAH SIPIROK: ‘Pembentukan Pemerintahan Sipil pada Era Hindia Belanda’



Kota Sipirok, 1906
Sipirok punya sejarah, sejarah tersendiri dan unik. Namun. sejarah Sipirok sejauh ini belum sepenuhnya terungkap ke permukaan. Sipirok yang mayoritas sudah beragama Islam, tidak hanya basis permulaan penyebaran injil di Bataklanden, tidak hanya basis terakhir pertempuran oleh agresi militer Belanda di Indonesia (sebelum penyerahan kedaulatan), dan tidak hanya sentra kopi terbaik dunia, tetapi Sipirok juga tempat lahir orang-orang hebat di tingkat nasional. Juga, banyak hal-hal lain--mulai dari yang ‘remeh temeh’ sampai hal-hal besar (termasuk yang kontroversi) --yang selama ini terabaikan. Semua itu, akan disajikan secara kronologis dalam serial artikel ini. Bahan-bahan yang digunakan seluruhnya (otentik) bersumber dari koran-koran berbahasa Belanda tempo doeloe.

Militair Departement

Dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah Hindia Belanda (Staatsblad) No. 141, nama Sipirok belum disebut—karenanya belum terregister. Suatu wilayah baru dapat diregister oleh civiel departement jika secara defacto dianggap dapat dikendalikan oleh militair departement. Dalam struktur Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, kala itu hanya terdapat dua fungsi utama: (1) fungsi pembebasan/penguasaan wilayah oleh militair departement dan (2) fungsi pengadministrasian pemerintahan oleh civiel departement.