Ekonomi Kopi di Mandailing-Angkola ‘Tempo Doeloe’: Tanam Paksa, Kuli Panggul dan Pembangunan Jalan


Menurut buku ‘All About Coffee’ karya William H. Ukers (New York, 1922), kopi Mandailing dan kopi Angkola merupakan kopi terbaik dunia dan memiliki harga tertinggi di pasar internasional. Kopi Mandailing (Mandheling) dideskripsikan dalam buku tersebut  sebagai berikut:  the best coffee in the world", also the highest priced; formerly a Government coffee; yellow to brown, large-sized bean, dully roast but free from quakers; it is of heavy body, exquisite flavor and aroma. Sedangkan kopi Angkola (Ankola) dideskripsikan sebagai berikut: formerly a Government coffee; large fat bean, making a dull roast; second only to Mandhelings; it has a heavy body  and rich, musty flavor.

Kopi Mandailing dan kopi Angkola yang di masa ‘doeloe’ harganya ‘selangit’ di Eropa dan Amerika Serikat, ternyata pada awalnya harus pula dibayar mahal oleh penduduk ‘bumi’  Mandailing dan Angkola di Tapanuli Selatan. Kisah budidaya kopi (koffie cultuur) di Mandailing/Angkola yang menerapkan sistem yang seragam dengan tanam paksa (cultuurstelsel) sebagaimana di Jawa, tetapi kisah yang terjadi di Mandailing/Angkola justru jauh sangat  memilukan ketika hasilnya harus diangkut dengan kuli panggul secara paksa pula dari gudang-gudang kopi di pedalaman ke pelabuhan-pelabuhan di pantai. Kisah transportasi paksa kopi ini memicu dipercepatnya pembangunan jalan di Mandailing dan Angkola.

Benteng ‘Fort’ Elout di Mandailing: ‘Front’ Pendudukan Belanda di Wilayah Tapanuli


Benteng Elout (Fort Elout) adalah suatu benteng yang didirikan oleh pasukan Belanda setelah berhasil menduduki daerah Mandailing. Lokasi benteng awalnya berada di Kotanopan kemudian dipindah ke Panyabungan. Benteng Fort Elout yang bermula dibangun di Kotanopan dimaksudkan untuk ‘jangkar’ penyerangan ke Benteng Bonjol dari arah utara dan sekaligus tembok pertahanan dalam memulai pendudukan daerah Mandailing. Setelah Benteng Bonjol berhasil direbut (1837), pihak Belanda memindahkan lokasinya ke Panyabungan. Tujuan pemindahan ini selain untuk menjaga stabilitas di daerah Mandailing yang sudah diduduki, juga dimaksudkan untuk ‘front’ dalam upaya merebut daerah Angkola dan daerah Sipirok.

Nama benteng ini disebut Fort Elout karena waktu itu Kolonel Elout yang ditunjuk untuk memulai pendudukan ke daerah Tapanuli. Sebelumnya Elout (masih berpangkat Letnan Kolonel) berhasil melakukan berbagai serangan terhadap Kaum Padri di daerah Minangkabau antara tahun 1831-1832. Penempatan Kolonel Elout di daerah Tapanuli tentu saja untuk tujuan ganda: membantu penyerangan ke Benteng Bonjol (di Minangkabau) dan menyiapkan penguasaan daerah baru (di Tapanuli).

C. A. van Ophuysen, 1891: “Peribahasa dan Cara Berbicara Etnik Batak (Angkola/Mandailing)”


Tulisan berjudul di atas disusun oleh C.A. van Ophuysen dengan judul ‘Bataksche spreekwoorden en spreekwijzen’ yang diterbitkan dalam majalah TIJDSCHRIFT INDISCHE TAAL, LAND EN VOLKENKUNDK yang diedarkan pada tahun 1891 di Batavia.
***
Charles Adriaan van Ophuysen adalah salah satu guru yang terkenal di Kweekschool Padang Sidempuan. Dia mulai berdinas di sekolah guru Padang Sidempuan tersebut pada tahun 1882. Guru berkebangsaan Belanda ini kemudian menjadi direktur di Kweekschool Padang Sidempuan antara 1885 hingga 1890. Charles Adriaan van Ophuijsen sendiri lahir di Solok, Pantai Barat Sumatra tepat pada malam tahun baru 1854. Ayahnya bernama J.A.W. van Ophuijsen adalah seorang Asisten Residen. Charles Adriaan van Ophuysen--seorang yang sangat mengagumi budaya Batak dan memiliki minat yang besar terhadap Bahasa Melayu--kelak dia menjadi ahli Bahasa Melayu di Eropa (yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia) dan menjabat sebagai Profesor di Universitas Leiden, Belanda.

Ada sebanyak 100 peribahasa Batak yang dideskripsikannya di dalam tulisan tersebut, yaitu:

Peta Kota Padang Sidempuan 1880 : 'Jantung' Tapanuli (Bagian) Selatan Masa Kini


Pasukan Belanda memasuki Wilayah Tapanuli awalnya dari Natal pada tahun 1833 dan kemudian menduduki Mandailing. Kemudian dilanjutkan ke Angkola dan Sipirok, Pada tahun 1838, Mandailing, Angkola dan Sipirok menjadi daerah 'pangreh praja' dari Resident yang berada di Air Bangis, Governement Sumatra Westkust yang berkedudukan di Padang. Selanjutnya pada tahun 1884 Wilayah Tapanuli menjadi sebuah keresidenan yang berkedudukan di Padang Sidempuan. Setelah semua wilayah Tapanuli dikuasai oleh Belanda maka pada tahun 1905 ibukota Keresidenan Tapanuli dipindah dari Padang Sidempuan ke Sibolga.

Di bawah ini ditampilkan peta Kota Padang Sidempuan yang diterbitkan pada tahun 1880--yang menjadi 'jantung' Tapanuli (bagian) Selatan pada masa kini.




Kweekschool Padang Sidempuan, Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada di Leiden, dan Pendiri Perhimpunan Pelajar Indonesia (Indische Vereeniging) di Eropa



Kweekschool Padang Sidempuan

Sutan Casayangan Soripada
Kweekschool Padang Sidempuan didirikan pada tahun 1874. Sekolah guru ini mewisuda muridnya yang pertama tahun 1884. Salah satu guru yang terkenal di Kweekschool Padang Sidempuan adalah Charles Adriaan van Ophuysen. Guru berkebangsaan Belanda ini menjadi direktur di Kweekschool Padang Sidempuan antara 1885 hingga 1890. Charles Adriaan van Ophuijsen sendiri lahir di Solok, Pantai Barat Sumatra tepat pada malam tahun baru 1854. Ayahnya bernama J.A.W. van Ophuijsen adalah seorang Asisten Residen. Charles Adriaan van Ophuysen--seorang yang sangat mengagumi budaya Batak dan memiliki minat yang besar terhadap Bahasa Melayu--kelak menjadi ahli Bahasa Melayu di Eropa (yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia) dan menjabat sebagai Profesor di Universitas Leiden, Belanda.
Alamat anggota Perhimpunan Indonesia, 1908
Selama ditangani van Ophuysen (1882-1890) Kweekschool Padang Sidempuan berkembang pesat dan menghasilkan alumni yang banyak, sebagian sebagai guru dan sebagian yang lain menjadi pengarang, wartawan, pemimpin dan karyawan perusahaan perkebunan, pegawai pemerintahan Belanda. Kweekschool Padang Sidempuan pada dasarnya adalah estafet Kweekschool di Tanobato yang digagas/dipimpin oleh seorang pribumi bernama Sati gelar Sutan Iskandar (lahir 1840) yang kemudian berganti nama menjadi Willem Iskander. Putra asli Tapanuli Selatan ini adalah orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan barat di Belanda/Eropa (1857-1862). Ketika kunjungan yang kedua (1874) untuk membimbing sejumlah guru-guru yang berasal dari Jawa dan Sumatra untuk meningkatkan level pendidikannya ke Belanda, Kweekschool Tanobato ditutup, Sebagai gantinya dibangun kweekschool yang lebih besar di Padang Sidempuan.

Sekolah Negeri di Tapanuli, 1908: Sebanyak 15 dari 19 Berada di Tapanuli Selatan


Guru dan murid sekolah negeri di Sibuhuan, 1908

Pendidikan di Keresidenan Tapanuli 1908 dibawah pengelolaan Pemerintah Hindia Belanda (sekolah negeri) hampir seluruhnya berada di Tapanuli Selatan (Angkola, Mandailing, Padang Lawas dan Sipirok). Di wilayah lainnya di Tapanuli (Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Nias) pada waktu yang sama pendidikan masih dikelola oleh non pemerintah seperti Misi—beberapa misi mendapat subsidi/bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda. Terselenggaranya pendidikan oleh Pemerintah ini di Tapanuli Selatan didukung dengan cukup tersedianya guru-guru pribumi yang merupakan lulusan sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan (didirikan 1879, kelanjutan dari Kweekshool Tanobato yang ditutup tahun 1874).

Namun sangat disayangkan kweekschool ini ditutup tahun 1891 karena kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Hindia Belanda. Untuk mendapat pendidikan setingkat kweekschool atau lebih tinggi yang lokasinya terdekat dapat ditempuh di Fort de Kock (Bukit Tinggi). Pada waktu itu, pendidikan di Tapanuli masuk wilayah supervisi pendidikan di bawah inspektur wilayah Pantai Barat Sumatra yang berada di Fort de Kock sedangkan wakilnya pada awalnya berada di Medan kemudian tahun 1908 ditempatkan di Sibolga. Inspektur pendidikan wilayah Pantai Barat Sumatra pada tahun 1893 adalah Charles Adriaan van Ophuysen yang pernah menjadi guru di Kweekshool Padang Sidempuan sejak 1882 dan menjadi Direktur selama periode 1885-1890.

Residen Tapanuli: Natal, Panyabungan, Padang Sidempuan dan Sibolga



Belanda memasuki wilayah Tapanuli pada tahun 1833. Selanjutnya Belanda memulai pemerintahan dengan mengangkat Doewes Dekker sebagai Asisten Resident Natal-Mandailing yang berkedudukan di Natal. Ketika Asisten Residen Ayer Bangies ditingkatkan menjadi Residen 1837, kedudukan Asisten Residen di Natal dipindahkan ke Panyabungan dengan nama Asisten Residen Mandailing-Angkola. Nama-nama Asisten Residen selama di Panyabungan antara lain Willer dan Godon.
 
Keresidenan di Panyabungan, 1870
Wilayah Tapanuli di bawah Residen Ayer Bangies berakhir pada tahun 1841. Selanjutnya Residen Tapanuli dibentuk tahun 1842. Asisten residen yang sebelumnya berkedudukan di Panyabungan dipindahkan ke Padang Sidempuan dengan nama Asisten Residen Angkola Mandailing. Berikut adalah daftar nama-nama asisten residen Angkola-Mandailing:

L.A. Galle, 1843.
Mayor (Luit.-Kol.),  A van der Hart 1844-1847
P.H.A.B. Stallion, 1848-1849
W. Kocken, 1850-1851
P. F. Couperes, 1852
F.H.J. Netscher, 1853-1855
J. Blok 1856-1857
J. van der Linden 1858-1860
C. H. Palm 1861
H. A. Steyn Parve 1862-1863
Mr J. K. Wit 1864-1865
C.L.L. Coeverden 1865-1869
H. D. Canne 1869-1873
S. Stibbe 1874-1876
J. B Boyle 1876-1881
DF Braam Morris 1881-1882
C.F.E. Praetorus 1882-1887
A.W.P. Verkerk Pistorius 1887-1888
A. L. Hasselt 1888-1893
P. J. Kooreman 1893-1894
E. A. Taylor Weber 1894-1895
W. C. Hoogkamer 1895-1898
L. C. Welsink 1898-1908
C. J. Westenberg 1908