Dja Endar Moeda (Alumni Kweekschool Padang Sidempoean): Radja Persuratkabaran Soematra dan Pejuang Pendidikan Pribumi



Nama publiknya adalah Dja Endar Moeda. Nama kecil dan nama adatnya adalah Si Saleh (Harahap) gelar (Mangara)Dja Endar Moeda. Gelar mangaradja dari doeloe kerap disingkat Dja (hingga masa kini). Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, Si Saleh, (Mangara)Dja Endar Moeda mendapat nama baru: Hadji Muhammad Saleh.
Dja Endar Moeda (foto:internet)

Masih ingat, dua anak murid Kweekschool Padang Sidempoean yang diberitakan koran Sumatra Courant (01-05-1884) [lihat artikel bagian kedua dari serial ini] yang bernama Si Saleh dan Si Doepang yang melakukan kebajikan mengumpulkan dana untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Si Saleh, yang kala itu menjadi siswa tingkat akhir Kweekschool Padang Sidempoean sudah menyadari arti penting sharing dan caring. Entah bagaimana, koran Sumatra Courant jeli memperhatikan kiprah Si Saleh yang masih bersekolah (atas biaya orang tua) sudah sukarela pula membantu orang lain yang memerlukan biaya pendidikan. Kini dia telah menjadi guru.

Bag-4: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Guru Terkenal C. A. van Ophuysen dan Kiprah Para Alumni



Bagian Keempat (habis)

Adanya kebijakan sepihak dari Pemerintah Hindia Belanda, di Batavia mengakibatkan Kweekschool Padang Sidempoean ditutup pada tahun 1891. Penutupan ini sangat tidak adil. Kweekschool Padang Sidempoean diakui sendiri oleh Inspektur Pendidikan Pribumi sebagai sekolah guru berprestasi, menghasilkan banyak lulusan dengan tingkat drop out rendah. Namun demikian, tidak perlu disesali berlama-lama, karena lulusannya sudah banyak berkiprah di berbagai tempat di Sumatra. Prestasi Kweekschool Padang Sidempoean tak lepas dari kehadiran seorang guru Belanda, bernama C. A. van Ophuysen—seorang guru yang gemar belajar pula dan menjadi profesor di Universiteit Leiden.

Bag-3: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi, Tetapi Dilikuidasi



Bagian Ketiga

Good news, bad news
Kebun kopi di Padang Sidempoean, doeloe

Keberhasilan Kweekschool Padang Sidempoean tidak terbantahkan, tingkat kelulusan murid cukup signifikan—hal yang bertolak belakang dengan pencapaian di Kweekschool Ford de Kock. Berita bagus dari dunia pendidikan di Tapanoeli, ternyata tidak demikian dengan yang terjadi di kweekschool yang terdapat di Bangjaermasin. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 memuat editorial yang berisi bahwa Kweekschool Bandjermasin telah ditutup pada April 1891. Ini berarti telah tiga kweekschool yang ditutup yang mana sebelumnya adalah kweekschool di Magelang dan Tondano. Penutupan kweekschool di Bandjermasin sangat disayangkan, karena ini satu-satunya kweekschool di Kalimantan yang selama ini menjadi sumber guru untuk seluruh penjuru wilayah di Kalimantan.

Alasan yang disebutkan tentang penutupan itu adalah bahwa pemerintah melakukan pengetatan anggaran sebesar 16.000 Gulden per tahun. Mereka yang berada di Kalimantan diharapkan dapat memenuhi guru dengan mengirim anak-anaknya ke Bandoeng atau Probolinggo. Namun pihak-pihak yang pro dengan pendidikan, berpendapat bahwa bukan karena kesulitan anggaran pemerintah dilakukan penutupan sekolah, melainkan adanya faksi-faksi tertentu di negeri Belanda yang menginginkan penduduk asli tetap bodoh, padahal menurut mereka yang pro ini dengan menyediakan pendidikan bagi penduduk pribumi merupakan salah satu wujud ketenaran dari otoritas Belanda sebagai kekuatan peradaban di Timur, juga di pulau Kalimantan, paling tidak meningkat!
***
Kweekschool Padang Sidempoean ternyata tidak aman dari penutupan—terbuka kemungkinan untuk ditutup. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 juga menyajikan hasil analisis, bahwa jika memang masalah anggaran penyebab penutupan, maka Kweekschool Padang Sidempoean maka sekiranya harus ditutup, tampaknya masih lebih rendah konsekuensinya jika dibandingkan dengan penutupan Kweekschool Bandjermasin. Di pantai barat Sumatra masih ada kweekschool di Ford de Kock—kapasitasnya masih memenuhi sekalipun anak-anak Tapanoeli datang. Sementara itu, di Tapanoeli terdapat perguruan misi pada Eijnsche Zendelinggeaootschap di Pansoer na Pitoe, di mana kini terdapat sebanyak 35 murid. Kweekschool Padang Sidempoean menjadi terjepit.

Bag-2: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi di Era Hindia Belanda



Bagian Kedua
Kweekschool Padang Sidempoean

Koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 memberitakan bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian semuanya gagal. Di koran ini juga diberitakan Komisi Sekolah akan ke Kweekshool Padang Sidempoean. Koran Bataviaasch handelsblad, 15-05-1883 memberitakan mutasi J.W. van Haastert ke Probolinggo, kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Hal ini juga diberitakan koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1883. Koran Bataviaasch handelsblad, 27-09-1883  memberitakan bahwa C.A. van Ophuijsen di tahun keduanya diberitakan tunjangan tambahan sehingga secara keseluruhan gajinya menjadi 200 Gulden.

Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 memberitakan pengangkatan D. Grivel, sebagai kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Grivel adalah guru di Kweekschool Fort de Kock mulai efektif 1 Februari 1884. Het nieuws van den dag : kleine courant, 12-03-1884 Grivel nantinya akan digantikan oleh guru pangkat kelas 1, D.W. Lantermans.

Koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 01-05-1884 melaporkan bahwa ada dua anak murid Kweekschool Padang Sidempuoen yang bernama Si Saleh dan Si Doepang melakukan kebajikan mengumpulkan untuk membantu orang yang membutuhkan. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 07-06-1884 memberitakan bahwa Mr Van Ophuijsen, asisten guru di Kweekschool Padang Sidempoean, pada paruh pertama bulan Juli datang ke Padang untuk melakukan ujian untuk mendapatkan sertifikat kemahiran dalam survei agronomi.

Bag-1: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Satu dari Delapan Sekolah Guru di Era Hindia Belanda



Bagian Pertama
Lokasi Kweekschool Padang Sidempoean, 1880

Kweekschool adalah sekolah guru bantu di era Hindia Belanda. Pada tahun 1875  Kweekschool Tanobato ditutup dan sebagai penggantinya dibuka kweekshool di Padang Sidempoean, 1879. Lokasi Kweekshool Padang Sidempoean ini (lihat, Peta-1880) kini merupakan area yang menjadi lokasi SMA-1, SMA-2, SPG, SD-16, SD-23, SD-14 dan SMP-3. Sementara bangunan lama kweekshoolnya sendiri pada masa ini masih terlihat dan menjadi gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.

***
Koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-12-1874 memberitakan bahwa sekolah guru Inlandsehe di Tano Bato akan dipindahkan ke Padang Sidempoean. Sekolah ini akan diprogram untuk mendidik sebanyak 25 murid yang berada di wilayah Tapanoeli. Koran Algemeen Handelsblad, 21-09-1875 menyatakan bahwa kweekschool yang ada nantinya akan mengidikasikan sekolah guru hanya terdapat di delapan kota, yakni: Magelang, Bandoeng, Proboliggo (java); Amboina. Tondano, Bandjermasin, Fort de Kock (Bukittinggi); dan Padang Sidempoean.

Dr. Parlindoengan Loebis, Anak Batangtoru: Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi

dr. Parlindoengan Loebis


Parlindoengan Loebis lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan 30 Juni 1910. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda, HIS Padang Sidempuan, 1924, Parlindoengan melanjutkan pendidikan sekolah menengah (MULO) ke Medan. Parlindoengan Loebis bersama teman-temannya dari Tapanuli Selatan, Abdul Azis Harahap, Jawhara Loebis dan Casmir Harahap  sama-sama lulus MULO tahun 1927 sebagaimana diberitakan De Sumatra Post, 17-05-1927. Selanjutnya, Parlindoengan Loebis dan Casmir Harahap melanjutkan pendidikan kelas 4--AMS Afdeeling B (bidang Matematika dan Fisika) ke Weltevreden, Batavia. Parlindoengan Loebis sendiri lulus dari AMS tahun 1930 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-05-1930).

Setelah lulus sekolah menengah (AMS) di Weltevreden, Batavia (kini Pasar Baru, Jakarta), Parlindoengan Loebis mendaftar ke sekolah tinggi pelatihan dokter Geneeskundige hoogeshool di Batavia. Pada tahun 1931 sebagaimana diberitakan Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) Parlindoengan Loebis lulus ujian kandidat bagian I sebagai asisten medis. Namun karena dianggap memenuhi syarat, Parlindoengan Loebis direkomendasikan menjalani pendidikan yang lebih tinggi di bidang kedokteran di Negeri Belanda.

Sejarah Catur Indonesia: Bermula di Tanah Batak



Sudah sejak lama permainan catur ada di Indonesia. Di Tanah Batak, permainan catur ini sudah sejak lama pula dikenal. Namun permainan catur ini baru populer sejak orang-orang Belanda datang ke Indonesia. Bentuk dan cara bermain catur ala Batak dengan Eropa/Belanda ada perbedaan (berita-berita koran Belanda tidak menyebut perbedaannya apa). Diduga bentuk dan permainan catur di Tanah Batak diadopsi dari salah satu dua sisi persentuhan komunitas Batak dengan asing: Di satu sisi menyebar dari pantai barat, pantai Sibolga, dimana pada masa doeloe pelabuhan-pelabuhan yang ada di sekitar Tanah Batak (yang kemudian disebut Tapanoeli) merupakan pertemuan para pedagang dari berbagai negeri di dunia (termasuk India Selatan--situs Lobu Tua) dan pedagang-pedagang Tanah Batak melakukan transaksi dagang terutama kamper, damar dan kemenyan.Di sisi yang lain menyebar dari pantai timur, daerah aliran sungai Barumun di area (situs) percandian Portibi, Padang Lawas, tempat koloni India Selatan (era King Cola I) dalam eksplorasi emas pada abad kesebelas.

Buku sejarah catur di Batak, 1905
Di Tanah Deli, keberadaan catur Batak itu belum dikenal. Akan tetapi orang-orang Batak yang merantau ke Tanah Deli cepat memahami dan mengadopsi cara bermain catur Eropa/Belanda. Permainan catur ala Eropa/Belanda ini di Tanah Deli sudah lama dilakukan oleh komunitas orang-orang Eropa/Belanda. Dari komunitas-komunitas catur inilah, anak-anak muda Batak mulai mengadopsi catur ala Eropa/Belanda. Akibatnya, lantas, lambat laun, cara bermain catur ala Eropa/Belanda ini cepat mengalami difusi di Tanah Batak yang akhirnya, catur ala Batak lambat laun ditinggalkan oleh generasinya sendiri. Sejak itu, catur ala Eropa/Belanda menggantikan catur ala Batak di seluruh penjuru Tanah Batak.

Sejarah catur Indonesia, berita pertama datang dari koran Sumatra Post di Medan, 1904

Meski permainan catur sudah populer di kalangan orang-orang Belanda, baik di Batavia, Deli, Semarang dan lainnya, tetapi tidak satupun koran-koran Belanda yang memberitakan ‘permainan otak’ ini. Berita keberadaan catur di Indonesia kala itu terpasung oleh berita-berita sepakbola (kala itu masih dengan otot) yang sudah mulai mendapat porsi di koran-koran Belanda. Sontak, koran-koran berbahasa Belanda tiba-tiba bergetar dengan berita pertama yang dimuat koran Sumatra Post yang terbit di Medan tanggal 17 Juni 1910. Berita dari Medan ini dikutip dan dipublikasi ulang oleh koran-koran di Batavia, Semarang dan Surabaya. Berita apa itu?