19/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (12): Mathewson-Beker, Cikal Bakal Marah Halim Cup? Suatu Wawancara Imajiner dengan Marah Halim Harahap




Rumah dinas Gubernur Marah Halim, 1971
Tidak ada Tim Inggris sekuat yang ada di Langkat di seluruh Nederlandsche Indie. Tidak ada tim Inggris yang eksis diluar wilayahnya/koloninya kecuali yang ada di Langkat. 

Jauh sebelum ada Tim Inggris dari Langkat, Tim Inggris asal Penang memprovokasi adanya pertandingan sepakbola di Nederlandsche Indie yang dilangsungkan di Medan, tanggal 31 Desember 1893. Inilah pertandingan sepakbola pertama kali diadakan di Kepulauan Nusantara.

Esplanade Medan (kini lapangan Merdeka) disulap stadion
Lalu kemudian, Tim Inggris vs Tim Belanda di Medan yang dilangsungkan pada tahun 1915 menjadi berita heboh di Eropa. Inilah pertama kali Tim Belanda berhasil mengalahkan Tim Inggris—melampaui prestasi buruk Tim Nasional Nederland.. Pertandingan yang dilaksanakan di Esplanade Medan (kini Lapangan Merdeka) pada tanggal 1 Juni 1915 untuk pertamakali iklan pertandingan sepakbola dimuat di koran dan untuk yang pertama pula sebuah pertandingan di Medan penonton dikutip bayaran sebesar satu gulden. Dalam pertandingan ini juga untuk yang pertama kali lapangan Esplanade disulap menjadi layaknya stadion (tertutup dan ada tribun). Dan ini pula suatu pertandingan sepakbola di Medan yang dapat disebut sebagai pertandingan sepakbola yang bersifat komersil (pra industrialisasi sepakbola). Di Jawa metode komersil serupa ini baru dilaksanakan pada tahun 1918 ketika Bandoeng menjadi nyonya rumah (kala itu belum disebut tuan rumah) kejuaraan antarkota (antarbond) se-Djawa.

Sejarah Marah Halim Cup (11): Oost Sumatra Voetbal Bond (OSVB) Didirikan, Tapanoeli Voetbal Club Berkompetisi Kembali



Perhimpunan Senam (Gymnastiek Vereeniging) di Medan didirikan pada akhir tahun 1887. Kemudian perhimpunan ini mengadopsi satu cabang kembar olahraga kriket-sepakbola. Lalu tim Penang melawat ke Medan untuk melakukan pertandingan kriket dan sepakbola. Seiring dengan semakin banyaknya peminat sepakbola, Gymnastiek Vereeniging dimekarkan dengan membentuk klub sepakbola yang diberi nama Medan Sportclub dan disingkat Sportclub. Klub yang didirikan tahun 1899, satu-satunya di Sumatra’s Oostkust ini kerap melakukan pertandingan dengan tim dari Langkat dan tentu saja masih melakukan dengan tim dari Penang.

De Sumatra post, 29-11-1915
Setelah Sportclub didirikan, berdiri pula klub-klub baru seperti Langkat Sport Club, Maimoen Club, Zetterletters, Taman Sefakat dan Voetbal Club Tiong Hoa. Tiga diantara klub-klub yang ada yakni Medan Sport Club, Langkat Sport Club dan Toengkoe Club pada akhir 1905 melakukan kompetisi.Inilah kompetisi pertama di Deli-Langkat. Namun kompetisi ini tidak berlanjut lalu sepakbola di Deli dan Langkat vakum hingga akhirnya muncul dua klub baru (Voorwaarts dan Tapanoeli) yang kemudian kedua klub ini mempelopori diadakannya (kembali) kompetisi. Sekali lagi kompetisi hanya terencana dua musim saja lalu vakum lagi.

Klub Voorwaart melakukan merger dengan dua klub (Hoki dan Kriket) yang ada di Medan dan disatukan menjadi Deli Sport Vereeniging (DSV). Klub sepakbola yang berada di bawah DSV bersama dengan klub lama (Tapanoeli) dan klub-klub baru (Van Nie, Chinese VC dan lainnya) sepakat menyatukan diri dengan membentuk Deli Voebal Bond (DVB) dengan penyelenggara kompetisi DSV. Selain DVB, juga dibentuk Langkat Voetbal Bond dan Padang en Bedagai Voetbal Bond. Tiga bond ini mengkordinasikan suatu kejuaraan yang mempertemukan masing-masing juaranya dalam suatu kompetisi yang disebut De Kampioen Wedstrijden.

17/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (10): Sepakbola di Perkebunan Berkembang Pesat, ‘Bond’ Baru Bertambah, Kejuaraan Antarbond



Pertumbuhan dan perkembangan sepakbola di Noord Sumatra sedikit berbeda jika dibandingkan dengan di Jawa seperti Batavia, Soerabaija, Semarang dan Bandoeng. Di Medan, sepakbola diwakili oleh berbagai bangsa dan berbagai adat (belum ada kala itu kata etnik). Termasuk bangsa Belanda dan bangsa Inggris mewakili Eropa. Adat Tapanoeli dan adat Melayu mewakili pribumi. Inggris menjadi selalu batu sandungan bagi tim Belanda dan tim Tapanoeli telah menunjukkan arti sportivitas dalam sepakbola. Anak-anak Tapanoeli berani menentang keberpihakan Belanda, dan mengambil risiko itu: Tidak hanya keluar dari kompetisi bahkan membubarkan klub mereka sendiri sebagai sikap menentang ketidakadilan dalam dunia sepakbola.

Deli Sport Vereeniging

Deli Sport Vereeniging adalah suksesi Medan Sport Club (MSC). Selaian sepakbola, MSC juga membidangi cabang olahraga yang lain seperti kriket. Klub sepakbola MSC adalah Medan Sportclub atau cukup disebut Sportclub. Nasib MSC dan Sportclub lambat laun meredup lalu menghilang seiring dengan semakin menguatnya klub Voorwaarts sebagai jawara baru sepakbola di Medan. Lalu kemudian Voorwaarts dan Tapanoeli VC mempelopori kompetisi baru di Deli. Namun dalam perkembangannya kompetisi hanya terencana dalam dua musim, lalu kompetisi yang telah dihentikan membuat klub Voorwaart kehilangan momen untuk berkompetisi. Voorwaart kemudian melakukan merger dengan klub hoki dan klub kriket di Medan dan membentuk perhimpunan olahraga yang kemudian dikenal sebagai Deli Sport Vereeniging atau disingkat DSV.

12/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (9): Klub Sepakbola Bermunculan di Luar Deli, Kompetisi Bergulir Lagi



Kompetisi 1907 dan 1908

Kompetisi sepakbola di Deli benar-benar berhenti sama sekali. Hanya berlangsung efektif untuk satu musim. Kompetisi yang diikuti oleh sejumlah klub yang dibagi tiga divisi tidak berlanjut (lihat tabel). Rekomendasi pertemuan Deli Voetbal Bond (De Sumatra post, 13-06-1908), setelah kompetisi dihentikan untuk sementara, ternyata tidak terlaksana. Klub-klub yang tergabung dalam Deli Voebal Bond hanya melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. Tapanoeli Voetbal Club masih sempat kedatangan tamu dari Batavia, Dr. Djawa VC (De Sumatra post, 19-04-1909). Klub Voorwaarts bertanding dengan sejumlah klub tapi itu tidak cukup. Voorwaarts melakukan pertandingan terakhir di Esplanade antara Voorwaarts lI vs Stia Sumatra Sporting Club (De Sumatra post, 19-06-1909). Setelah itu, tidak ada kabar berita sepakbola di Deli.

Turnamen Empat Klub

De Sumatra post edisi 14-06-1910 melaporkan rencana dilakukannnya kompetisi sepakbola. Dengan beberapa pemain kami berencana untuk mempromosi (kembali) sepakbola di Medan, pertandingan yang dilakukan antara tim-tim dari kluib sepakbola Handel, DSM, Planters dan Maimoen. Pertandingan yang diadakan merujuk pada hari besar, tapi ini dicoba dengan sekali dalam dua minggu. Kontribusi masih sedang diusahakan untuk menyediakan medali atau piala. Daftar pertandingan kompetisi yang dimaksud sebagai berikut (lihat gambar).

Setelah kompetisi empat klub, tidak kunjung ada pertandingan yang dilaporkan. Baru kemudian ada pertandingan antara tim Voorwaarts dengan lawannya klub yang baru didirikan. De Sumatra post, 13-03-1911 melaporkan klub baru yang didirikan bulan lalu merupakan klub dari Maleische vereeniging Dcli yang diberi nama Sinar Deli. Debut klub baru ini melawan Voorwaarts dilangsungkan di Esplanade yang dipimpin oleh wasit Cornfield. Pertandingan tersebut tidak berimbang yang mana Sinar Deli kalah telak selusin gol tanpa balas.

Reuni: Deli (Belanda) vs Langkat (Inggris)

Pertandingan antara tim Langkar vs tim Deli sudah lama tidak terdengar kabar beritanya. Ada inisiatif para pemain lawas untuk membangkitkan kisah lama itu ketika klub-klub baru tidak kunjung berhasil menjalankan kompetisi.

De Sumatra post, 12-04-1911: ‘Pada tanggal 16 April 1911 akan ada pertandingan olahraga di Bindjei yang mana kriket dilangsungkan pagi pukul sembilan dan sepakbola pada sorea hari pukul lima. Kereta akan berangkat dari Medan pukul 8.10. Untuk pemain sepakbola dan supporter (matineuse supporters) akan berangkat dengan kereta pada pukul 2.39 dari stasion Medan. Kereta khusus akan diaktifkan meski juga disediakan mobil. Tim kriket Deli terdiri dari: A. Buck, W. Reesema, J. v. Gogh, Brostowski, v. Pauhuys, West, Strenguaerts, v. Sachtelen, Stok, Austen en Weijerman. Referee zal zijn de heer Saunders. Tim sepakbola masih dapat berubah, tetapi yang terdaftar sekarang adalah: O. Stok (Doel); v. Nieuwkerk en A. Q. F. Schmoutziguer (Achter); G. C. Post, Austen en R. J. Goddard (midden); J. Thooft, v. d. Berg, L. W. van Suchtelen, Mr. E. Hesselink en F W. Teschner (Voor). Referee : de heer J. C. Witteveen. Tim Langkat belum diketahui siapa yang akan bermain’.

Pertandingan ini tampak semacam tapak tilas dalam sepakbola di Deli dan Langkat. Kegiatan olahraga model ini sudah lama berlalu. Pertandingan olahraga (krikiet dan sepakbola) adalah hal yang pertama kali dilangsungkan di Medan dan Bindjei. Pertandingan ini dilaksanakan akhir tahun 1899 (jelang tahun baru 1900) yang berakhir dengan 2-0 untuk Sportclub Sumatra’s Oostkust sebagaimana dilaporkan De Sumatra Post edisi 03-01-1900. Pertandingan yang dilaksanakan sekarang kurang lebih sama dengan tempo doeloe yang mana Langkat dihuni oleh orang-orang Inggris dan Deli oleh orang-orang Belanda, krikrt pagi hari, sepakbola sore hari dan ada kereta khusus untuk pemain maupun sporter. Para pemain, jika doeloe mereka masih tampak muda, tetapi kini sudah jauh menua.

09/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (8): Dr. Alimoesa, Pemain Sepakbola di Pematang Siantar, Anggota Volksraads Pertama dari Sumatra Utara



Dr. Alimoesa, Volkraads van Noord Sumatra
Pada saat pertamakali dilangsungkan pertandingan sepakbola di Medan antara tim Deli vs tim Penang pada tahun 1894, di Padang Sidempoean, lahir anak ketiga Koeriahoofd Losoengbatoe yang diberi nama Alimoesa. Setelah memasuki usia sekolah, kepala kuria Losung Batu tersebut menyekolahkan Alimoesa di sekolah dasar Eropa di Padang Sidempoean. Saat Alimoesa masuk ELS Padang Sidempoean tahun 1902, dua anak Padang Sidempoean berangkat menuju Batavia untuk mengikuti pendidikan di Docter Djawa School.

Dua orang kakak kelas Alimoesa ini bernama Radjamin Nasoetion dan Muhamad Daoelaj. Pada tahun 1909, Radjamin sudah kuliah di tahun ketujuh dan menjadi salah satu pemain Docter Djawa School (klub Bataviache Voetbal Bond) yang datang melawat ke Medan untuk melawan Medan Tapanoeli Voetbal Club. Setelah lulus tahun 1912, Dr. Radjamin bekerja di bea dan cukai Batavia, lalu berpindah-pindah tugas hingga akhirnya ditempatkan di Medan.

Pada tahun 1923, Radjamin Nasoetion mendirikan asosiasi sepakbola pribumi di Medan yang diberi nama Deli Voetbal Bond (lihat De Sumatra Post terbitan 13-02-1923). Setelah beberapa tahun di Medan, Radjamin pindah tugas kembali beberapa kali dan terakhir berdinas di Seorabaija. Setelah pension bea dan cukai, Radjamin Nasoetion dinominasikan para tokoh Soerabaija dan kemudian terpilih menjadi anggota dewan kota Soerabaija. Pada akhir karirnya, Dr. Radjamin Nasoetion diangkat Jepang dan juga oleh Republik menjadi Walikota Soerabaija (walikota pribumi pertama di Soerabaija).

Sedangkan Muhamad Daoelaj setelah lulus Docter Djawa School ditempatkan di Ngawi, Madiun dan akhirnya di Semarang. Lalu kemudian Muhamad Daulaj dipindahkan ke Medan. Pada tahun 1916 Muhamad Daoelaj membuka rumah sakit swasta di Poeloe Sitjanang, khusus untuk para penderita penyakit kusta (Bataviaasch nieuwsblad, 22-04-1916).

Alimoesa dari Padang Sidempoean Studi ke Buitenzorg

Peta Losung Batu, Padang Sidempoean, 1908
Setelah lulus sekolah dasar tahun 1909, Alimoesa tidak tertarik melanjutkan ke Docter Djawa School/STOVIA di Batavia, tetapi lebih memilih untuk mengikuti pendidikan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (Veeartsen School) di Buitenzorg (Bogor). Veeartsen School sendiri dibuka tahun 1909. Alimoesa adalah angkatan pertama Sekolah Tinggi Kedokteran Bogor (kini FKH-IPB). Alimoesa lulus dan berhak memperoleh gelar dokter hewan (kala itu masih disingkat dengan Dr) pada tahun 1914 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1914). Dr. Alimoesa (Harahap) kemudian ditempatkan di Pematang Siantar.

Salah satu adik kelas Alimoesa adalah Anwar Nasoetion yang studi veteriner di sekolah kedokteran hewan atau Veeartsen School ((lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-05-1925). Anwar Nasoetion  lulusan HIS Padang Sidempoean masuk Veeartsen School tahun 1922 dan lulus dokter hewan 1928. Anwar Nasoetion dikenal kemudian sebagai ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB dua periode, 1978-1987). Sebelum kedatangan Anwar, anak-anak HIS Padang Sidempoean sudah ada beberapa orang yang lebih dahulu di Buitenzorg yang studi di sekolah pertanian Middelbare Landbouwschool (MLS). Salah satu siswa bernama Djohan Nasoetion yang setelah lulus menjadi pejabat pertanian di wilayah kerja Oostkust van Sumatra dan kemudian di Tapanoeli dengan pos di Padang Sidempoean untuk menggantikan Ronggoer Loebis yang telah dipindahkan ke Sulawesi. MLS sendiri dibuka tahun 1914. Djohan Nasoetion adalah ayah dari Prof. Lutfi Ibrahim Nasoetion, alumni SMA di Medan, guru besar IPB dan mantan Kepala BPN.

05/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (7): Kompetisi Deli Voetbal Bond 1908 Menjadi Tiga Divisi



Planters vs Handel di Deli, 1908
Setelah usai kompetisi 1907, berbagai kegiatan sepakbola dilakukan pada awal tahun 1908. Salah satu kegiatan sepakbola adalah pertandingan yang menamakan dirinya kesebelasan Planter dan kesebelasan Handel sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 14-01-1908. Pertandingan ini merupakan para pemain lawas tempo doeloe. Susunan pemain kedua kesebelasan adalah sebagai berikut (lihat gambar). Pertandingan ini dipimpin wasit Mr Witteveen. Hasil pertandingan pada babak pertama 1-0 untuk Planters. Pertandingan dihadiri banyak penonton, termasuk banyak orang Eropa. Para pemain yang sudah sangat kelelahan tersebut di babak kedua tidak satu pun gol tercipta.

***
Siapa mereka itu? Mereka yang bermain itu adalah sebagian dari para pemain-pemain yang tergabung dulu di klub Sportclub, suatu klub pertama yang didirikan di Medan.

Kompetisi 1908

Kompetisi musim kedua sejak 1907 akan digelar kembali. Ada perubahan komposisi klub yang berpartisipasi. Pada musim ini jumlah divisi bertambah menjadi tiga divisi.

De Sumatra post, 25-04-1908: Deli Voetbal Bond mengirimkan daftar klub dan jadwal kompetisi. Berikut adalah tanggal, nama-nama klub dan nama-nama wasit untuk pertandingan kompetisi. Nama yang disebut pertama adalah tuan rumah dan karena itu klub yang bersangkutan akan menentukan sendiri dimana pertandingan dimainkan dan peralatan yang dapat digunakan. Pertandingan akan dimainkan sesuai dengan aturan sepak bola yang diterbitkan oleh Bataviaschen Voetbal Bond. Pertandingan dimulai 5.05 dan berakhir 6.10 sore. Lama pertandingan diatur selama 60 menit yang mana diantaranya 5 menit untuk istirahat. Dengan pertimbangan tertentu, atas permintaan kedua kapten diperbolehkan waktu istirahat lebih lama. Dewan DVB (Deli Voetbal Bond) merekomendasikan menggunakan jaring’.

Dengan memperhatikan klub yang berpartisipasi pada musim 1908 ini teridentifikasi bahwa jumlah peserta semakin bertambah, dengan rincian sebagai berikut:

03/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (6): Klub Baru, Kompetisi Baru dan Deli Voetbal Bond Dibentuk



Para ‘gibol’ di Padang Sidempoean, kota di pedalaman Residentie Tapanoeli ingin membaca bagaimana kiprah Tapanaolie Voetbal Club (TVC) selanjutnya setelah didirikan di Medan. Pada saat launching, TVC melakukan pertandingan melawan Voorwaarts Voetbal Club (VVC), klub baru juga yang dihuni oleh anak-anak Belanda yang dilangsungkan pada tanggal 18 Maret 1906 di lapangan Esplanade, Medan (lihat Sumatra post, 19-03-1906). Debut kedua klub itu, VVC mengalahkan TVC dengan tiga gol tanpa balas. Revans TVC terhadap VVC inilah yang ingin diikuti terus oleh para ‘gibol’ di Padang Sidempoean. Namun beritanya tidak kunjung ada. Berita yang ada dari Deli (Medan) dan Langkat (Bindjei) hanya sebatas berikut ini:

Kompetisi Baru (Sumatra Post, 08-07-1907)
De Sumatra post, 23-03-1906: ‘Langkat Sportclub akan menantang Sportclub Medan, Minggu 1 April dalam rangka kontes untuk memperebutkan Muller-Beker (Piala Muller) di Bindjey’.
De Sumatra post, 30-03-1906: ‘Oleh karena dua pemain terbaik tim Langkat tidak bisa bermain karena sakit, diumumkan pertandingan antara Langkat dan Medan, yang akan dilaksanakan 1 April di Bindjey tidak bisa dilangsungkan'.
De Sumatra post, 16-06-1906: ‘Diberitahu kita pagi ini di lapangan sepakbola di Bindjey akan digelar pertandingan kesebelasan anak sekolah Inlandsche Medan kontra kesebelasan anak-anak dari sekolah asli Bindjey’. Hasil pertandingan skor 4-1 untuk anak-anak sekolah Bindjei (lihat De Sumatra post, 18-06-1906).
De Sumatra post, 07-07-1906: ‘Besok di lapangan Esplanade, Medan akan diadakan pertandingan antara sekolah Inlandsche Bindjei dan Medan’.  Hasil pertandingan, anak-anak sekolah Medan revans dengan skor 2-0.

Berita tentang klub Tapanoeli baru muncul empat bulan kemudian yakni Juli 1906. Namun isi beritanya ‘setengah senang dan setengah kecewa’, karena pertandigan antara TVC dan VVC harus ditunda. De Sumatra post edisi 09-07-1906 melaporkan: ‘Pertandingan antara Voorwaarts Club dan Tapanoeli Club yang akan berlangsung, ditunda atas permintaan khusus dari serikat anak-anak (inlandsch school voetbal) sampai pemberitahuan lebih lanjut’. Pertandingan antara TVC dan VVC tidak kunjung diberitakan oleh Sumatra Post. Kelanjutan pertandingan antara TVC dan VVC justru terpantau di koran Soerabaija. Isi beritanya tidak lengkap, sebagai berikut: ‘Klub sepakbola Voorwaarts Medan baru-baru ini, pada hari Sabtu sore di properti Istana Sultan melakukan pertandingan menghadapi lawannya tim pribumi (Tapanoeli) sebagaimana dilaporkan Deli Courant’ (lihat Soerabaijasch handelsblad, 08-08-1906).