28/04/15

Sejarah Marah Halim Cup (4): Majalah Pertama Olahraga Indonesia, Edisi Perdana Melaporkan Sepakbola di Medan



Banyak kejadian-kejadian penting dalam dua tahun terakhir di blantikan sepakbola Noord Sumatra. Sportclub melawat ke Penang dan telah melakukan Rapat Umum Luar Biasa yang kedua. Ada klub baru Belanda L.Z. Club dan didirikannya klub pribumi pertama Toengkoe, kunjungan destinasi tunggal ‘Menteri Olahraga Belanda’ Dudoc de Wit ke Deli*.

Majalah Olahraga Pertama

Sepakbola yang awalya bermula di Deli (Belanda) dan Penang (Inggris) telah berkembang pesat, tidak hanya di Medan, tetapi juga di Batavia dan Soerabaija, Bahkan popularitas sepakbola telah melampaui popularitas pacuan kuda sebelumnya di Batavia dan Soerabaija. Perkembangan sepakbola di Semarang dan Bandoeng juga telah tumbuh dengan baik. Kompetisi sepakbola yang telah bergulir di Soerabaija (1902) dan Batavia (1904) dengan sendirinya mendongkrak frekuensi pertandingan sepakbola di Nederlansch Indie.

Permainan sepakbola telah mendapat tempat di semua komunitas: Eropa (Belanda dan Inggris), Tionghoa dan pribumi. Pertandingan-pertandingan sepakbola yang kerap dilangsungkan telah pula mendapat tempat di dalam pemberitaan koran-koran. Surat kabar berskala ‘nasional’ dan bertiras besar seperti Bataviaasch nieuwsblad, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië dan Algemeen Handelsblad di Batavia; Soerabaijasch handelsblad (Soerabaija), Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie (Semarang); De Sumatra post Medan (suksesi Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad) secara terus menerus melaporkan kejadian olahraga khususnya sepakbola.

Lantas pada tahun 1905 adalah Algemeen Handelsblad yang mempelopori perlu didirikannya majalah khusus olahraga. Judul majalah tersebut adalah Het Orgaan. Pendirikan majalah ini dimaksudkan untuk memperkuat segmen olahraga dalam pemberitaan sehubungan dengan semakin intensnya pemberitaan olahraga khususnya sepakbola. Majalah ini tidak hanya menyatukan pemberitaan olahraga ‘nasional’ tetapi juga untuk menyediakan ruang yang lebih luas terhadap berita-berita olahrga/sepakbola internasional khususnya dari Negeri Belanda.

De Sumatra post, 13-03-1905 melaporkan majalah olahraga pertama: ‘Het Orgaan, Algemeen Sportblad voor Ned.-Indië, majalah yang terbit dua kali sebulan yang bertindak editor R. Brons Middel. Sebuah "kata pengantar" dalam edisi perdana menyebutkan tujuan dari jurnal berita ini adalah untuk menyediakan cara yang umum bagi praktisi olahraga untuk tetap berhubungan dengan satu sama lain. Di Jawa, olahraga kuda hingga saat ini adalah olahraga utama, majalah khusus yang ada sebelumnya tentang sastra  kini bertambah lagi yang beregmen olahraga, sehingga setiap orang dapat menemukan kejadian-keajdian dalam olahraga. Majalah ini juga akan mencakup selain olahraga berkuda, balap sepeda dan automobil, shooting game, olahraga air, senam dan atletik, tennis, permainan sepak bola dan kriket serta kompetisi lainnya di berbagai bidang. Para pembaca juga akan dapat menginformasikan hal apapun dari olahrga asing. Dalam edisi pertama, hal yang membuat menguntungkan untuk warga Sumatra adalah adanya laporan pertandingan sepakbola yang dilangsungkan pada tanggal 16 Januari di Medan antara Sportclub Medan vs Langkat Sportclub’.

25/04/15

Sejarah Marah Halim Cup (3): Suporter Sepakbola Medan Dukung Klub ke Bindjei dan “Menteri Olahraga” Belanda Berkunjung ke Deli



Dudok de Wit di Medan 1904
Sportclub Sumatra’s Oostkust (SOK) Medan mulai menyadari bahwa kini mereka bukan pemegang monopoli sepakbola di Sumatra Utara. Sebaliknya, Langkat telah hadir sebagai competitor. Pertandingan menjadi lebih kompetitif. Soal siapa yang menang-kalah sudah mulai sulit diprediksi. Gol dapat terjadi sepanjang 2x35 menit permainan. Kunci kemenangan sangat tergantung pada kesiapan tim saat bertanding di lapangan. Kesiapan dalam mengorganisasikan klub sebagai klub sepakbola, ketersediaan pemaian yang berkualitas, program latihan dan tentunya dukungan suporter. Bagi suporter, pertandingan yang berkualitas adalah daya tarik. Semakin berkualitas suatu pertandingan maka animo masyarakat semakin meninggi, mereka yang ‘gibol’ akan semakin intens mengikuti dinamika klub yang dipujanya. Adanya perseteruan antara Sportclub SOK dengan Langkat Sportclub dengan sendirinya telah membangkitkan kesadaran masyarakat untuk memahami, mengikuti dinamika dan merasakan magnet permainan sepakbola. Inilah esensi sepakbola sebagai game--dunia baru di Medan, dunia tanpa kelas social dan dunia hiburan yang murah dan massal.

***
Setelah lama tidak terdengar pertandingan antara Sportclub SOK dari Medan dengan Langkat Sportclub dari Bindjei, seorang pembaca menulis pada koran De Sumatra Post edisi 07-09-1903:

‘Sejak beberapa jam yang lalu para penonton sudah hadir di lapangan Esplanade. Tepat pukul 04.15 awan tebal di atas Medan dan dikejauhan sudah terdengar gemuruh membuat orang-orang semakin khawatir. Khawatir pertandingan tidak bisa dilangsungkan. Para pemain yang juga sudah hadir saling memandang dengan mimic yang juga khawatir. Semua khawatir hujan turun. Pada pukul 05.15 tim Sportclub SOK dan Langkat Sportclub telah memasuki lapangan, sisi lapangan sudah dipenuhi penonton yang sangat banyak termasuk wanita-wanita kulit putih. Untungnya angin yang kencang di atmosfir telah mendorong awan sehingga hujan kemungkinan jatuh di tempat lain. Sementara di seputar lapangan terasa angin bertiup lembut dan sejuk. 

Lalu pertandingan dimulai. Tim Langkat Sportclub memulai pertandingan dengan penguasaan bola yang baik. Sebaliknya, Sportclub SOK malah terdesak karena hanya bermain dengan sepuluh pemain. Pertandingan sesungguhnya menarik, saling menyerang, tetapi tim Medan tidak beruntung. Sebaliknya tim Langkat dengan pengorganisasian permainan yang baik dan berhasil menang telak 5-1. Uniknya tim Langkat ini membawa pemandu sorak. Usai pertandingan tim Langkat pulang dengan kereta ekstra pukul 07.15 menuju Timbang, Bindjei. Perjalanan kereta ini membawa sekitar 30 Langkatter yang dikawal dengan militer. Tim Langkat meninggalkan stasion yang disorakin oleh para suporter Medan. Saya juga mendapat kabar pertandingan antara dua tim akan dilanjutkan nanti bulan November di Bindjei.

22/04/15

Sejarah Marah Halim Cup (2): Langkat Sportclub, Klub Sepakbola Kedua di Sumatera Utara



Bindjei, 1890
Sepakbola Medan sudah mulai tumbuh. Oost Sumatra Sportclub sudah secara resmi diformalkan dan juga dinobatkan sebagai klub Medan. Sportclub yang didukung pemerintah kota ini lalu mulai berkokok, unjuk diri, adu taji, adu sayap dan adu patuk. Pemain-pemain Sportclub bukanlah pemain amatir, tetapi para mantan pemain dari klub professional di Nederland. Hanya saja kini mereka bermain di klub amatir di Medan. Boleh jadi setelah tenaga mereka tidak terpakai di Nederland, merantau ke Medan untuk mengadu nasib. Betul untuk mengadu nasib dengan bekerja di perusahaan atau menjadi pegawai pemerintah—tetapi minat untuk sepakbola juga tetap jalan.

***
Setelah sekian lama tidak ada berita sepakbola di Medan, Algemeen Handelsblad, 10-11-1901 melaporkan telah berlangsung pertandingan di Medan pada tanggal 6 Oktober 1901 antara Tim Deli (Deli Elftal) dengan tamunya dari Penang.

Tim Penang ini semuanya adalah bangsa Inggris. Pertandingan berakhir dengan skor 4-1 untuk tuan rumah. Tim Deli merupakan gabungan yang terdiri dari G. J. Stok (kiper), J. P. van Hellen A. B.ick (achtei), A. van Reesema, Percy Pinkncy, W. Jone. (midden), A. Vervloet, F. Wegerman, P. Langeveld, J. Witteveen en P. v. d. Wel (vóór). Melihat komposisi tim Deli ini didominasi pemain-pemaian dari Sportclub. Percy Pinkncy seperti diketahui adalah pemain belakang dari tim Langkat yang berbangsa Inggris.

Kini, tim Deli yang keluar kandang. Sebab selama ini mereka hanya didatangi oleh tim Langkat dan tim Penang. De Sumatra post, 02-12-1901 melaporkan lawatan tim Deli ke Bindjey.

18/04/15

Sejarah Marah Halim Cup (1): Sepakbola Indonesia Bermula di Medan



Esplanade, 1890: Awal mula sepakbola di Medan
Marah Halim Cup adalah suatu turna- men sepakbola yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1972 di Kota Medan. Turnamen yang masuk agenda FIFA sejak 1974 ini telah mengundang sejumlah tim kesebelasan dari dalam dan luar negeri (Asia, Eropa dan Australia), baik sebagai klub (amatir atau professional) maupun sebagai tim nasional. Terselenggaranya turnamen ini setiap tahun secara konsisten (berturut-turut) selama 18 tahun dapat dianggap sebagai turnamen yang dikelola dengan baik dan juga dapat dianggap sebagai salah satu turnamen non liga yang memiliki masa hidup (life time) terlama di dunia.

Sukses penyelenggaraan Marah Halim Cup, sekurang-kurangnya dapat dilihat dari tiga dimensi: (1) memiliki masa hidup yang lama (2) sangat popular di wilayah Asia-Pasifik dan (3) minat yang tinggi dari kesebelasan yang datang dari wilayah Eropa. Sukses ini tentu saja tidak datang secara random. Ada sejumlah faktor mengapa turnamen Marah Halim Cup terbilang sukses dan mendapat apresiasi di dalam negeri maupun di luar negeri.

Pertama, Marah Halim Harahap (lahir di Padang Sidempoean, 1921) yang pada saat awal penyelenggaraannya telah menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara sejak 1967. Marah Halim sebagai 'gibol' ingin mensinergikan warga Sumatra Utara yang sebagian besar 'gibol' dengan pencanangan Sumatra Utara sebagai destinasi wisata yang baru. Dengan adanya turnamen diharapkan marketing Sumatra Utara semakin menguat. Marah Halim merangkul pengusaha untuk berpartisipasi diantaranya meminta TD. Pardede untuk membangun hotel berkelas di Medan dan Parapat agar tamu di dalam Marah Halim Cup dan wisatawan lainnya nyaman ketika berada di Medan dan Danau Toba. Marah Halim mempertemukan semua kepentingan: pemerintah, swasta dan masyarakat.

Kedua, Penduduk Sumatra Utara sangat menggemari permainan sepakbola rakyat ini sejak jaman Hindia Belanda. Hal ini dapat dilihat bahwa setiap kampong baik di wilayah urban maupun wilayah rural di Sumatra Utara memiliki lapangan sepakbola sendiri. Ketika Abdul Hakim menjabat Gubernur Sumatra Utara (1951-1953), anak Padang Sidempoean ini meminta setiap bupati dan walikota agar membangun stadion yang layak minimal satu buah di dalam satu kabupaten/kota. Abdul Hakim (Harahap) adalah penggagas dan mempelopori pembangunan Stadion Teladan Medan (1851). Ketika Sumatra Utara ditunjuk menjadi tuan rumah PON 1953, Abdul Hakim yang juga kala itu sebagai Ketua Panitia PON jelang pesta olahraga nasional tersebut (hanya sekali itu saja PON diselenggarakan di Sumatra Utara) meminta agar setiap afdeeling perkebunan menyediakan lahan untuk digunakan sebagai lapangan sepakbola. Karenanya, animo masyarakat Sumatra Utara terhadap sepakbola tetap terus terjaga.

Stadion Teladan, Medan (1953)
Ketiga, pemain berbakat yang menjadi pemain kunci dalam sejumlah klub Indonesia dan dalam pembentukan tim nasional banyak yang berasal dari daerah Sumatra Utara baik sejak jaman Hindia Belanda maupun setelah kemerdekaan. PSMS sebagai puncak piramida sepakbola di Sumatera Utara, yang dihuni oleh pemain-pemain lokal berkelas menjadi daya tarik tersendiri bagi tim tamu untuk ikut berpatisipasi di dalam Marah Halim Cup. PSMS sebagai tim kesebelasan tuan rumah di satu sisi menjadi simpul dari animo masyarakat untuk mengikuti hiruk pikuk turnamen dan datang langsung menonton ke stadion dan di sisi lain PSMS yang saat itu sangat disegani di Asia Teggara menjadi pemicu semangat tim tamu untuk datang dan ingin menantang tim kebanggaan Sumatra Utara itu di tengah hegemoni tuan rumah.

Keempat, Wilayah Sumatera Utara adalah pemilik perkebunan (real estate) terbanyak dan terluas di Indonesia dimana komunitas bangsa asing khususnya Eropa di Medan terbilang terbanyak di Indonesia setelah kemerdekaan. Sebagai daerah investasi, Sumatra Utara ingin menunjukkan bahwa bangsa asing juga berkesempatan untuk melihat pesta (turnamen) sepakbola. Mengundang tim-tim Eropa untuk berpartisipasi dalam turnamen Marah Halim Cup adalah wujud mempertemukan komunitas sepakbola asing di tempat asal (Negara asal) dengan suasana di tempat tujuan (ekspatriat di Medan).Oleh karenanya, turnamen Marah Halim Cup selalu dipandang sebagai event sepakbola internasional.

***
Dalam hal ini, Marah Halim Cup, tidak hanya simbol sepakbola Sumatera Utara, tetapi Marah Halim Cup juga adalah simpul dan menjadi puncak piramida, tempat para pemain hebat yang lahir sepanjang sejarah perjalanan yang panjang sepakbola di Sumatera Utara yakni sejak dikenalnya sepakbola di Sumatra Utara. Ini dengan sendirinya, sejarah sepakbola di Sumatra Utara adalah prominent dari sejarah sepakbola Indonesia. Demikian juga, sejarah Marah Halim Cup juga adalah sejarah penyelenggaraan sepakbola Asia Tenggara di Indonesia. Ini berarti membicarakan sepakbola Sumatra Utara berarti membicarakan turnamen sepakbola Marah Halim Cup, atau sebaliknya membicarakan turnamen sepakbola Marah Halim Cup juga berarti membicarakan turnamen sepakbola Indonesia di Sumatra Utara.

01/04/15

Hariman Siregar, Ida Nasution, Lafran Pane, Parlindungan Lubis, Sutan Casajangan: Anak-Anak Padang Sidempuan yang Menjadi Pemimpin Mahasiswa



Pada masa kini, organisasi mahasiswa tidak diperlukan lagi. Sudah lebih dari cukup organisasi yang sudah didirikan. Yang diperlukan adalah bagaimana mahasiswa mengisinya dan mendayagunakannya. Memikirkan perlu tidaknya organisasi mahasiswa itu sudah ditunaikan oleh para pendahulu (pionir) mahasiswa. Mungkin banyak yang tidak menyadari, ternyata para pionir itu berasal dari kampong yang sama: Padang Sidempuan.

Padang Sidempoean, 1908 (klik gambar jika ingin memperbesar peta)
Sejak era Belanda, kota kecil Padang Sidempuan yang berada di pedalaman Tapanuli ini selalu diperhitungkan di tingkat ‘nasional’ (Nederland-Indie). Mungkin banyak generasi muda Indonesia yang tidak tahu dimana kota ini berada. Untuk mengingat kembali: Kota Padang Sidempoean adalah ibukota Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean. Afdeeling ini terdiri dari dua onderafdeeling (kecamatan), yakni: Mandheling en Ankola (Staatsblad 1937 No.563). Pelabuhan terdekat dari kota ini berada di Siboga, ibukota Residentie Tapanoeli.


Willem Iskander (1875): Pelajar Pribumi Pertama Sekolah di Luar Negeri, Pemimpin Guru-Guru untuk Studi ke Negeri Belanda

Willem Iskander (Sati Nasoetion) memperoleh akte guru di negeri Belanda, berangkat dari Batavia 1857 dan lulus 1861. Willem Iskander adalah pribumi pertama yang sekolah ke Negeri Belanda. Pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, onderafdeeling Mandheling. Menurut Poeze (2008), hanya sekolah guru ini di Nederlansche Indie yang dapat dianggap berjalan baik (karena gurunya menulis buku pelajaran sendiri dan para siswa tiap tahun lulus 100 persen). Atas prestasi guru dan Kweekschool Tanobato, maka pada tahun 1875 Willem Iskander diminta untuk membimbing dan menjadi mentor sejumlah guru di Jawa dan Sumatra untuk mendapat akte guru di negeri Belanda, sementara Willem Iskander sendiri diberi beasiswa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan studi untuk memperoleh akte kepala sekolah. Namun sangat disayangkan mereka semua yang berangkat bersama-sama dari Batavia tidak kembali. Mereka itu satu per satu meninggal dunia karena alasan yang berbeda-beda.
Sekadar untuk diketahui: Kakak kelas Willem Iskander di sekolah dasar swadaya penduduk asuhan Ny. Godon (asisten residen Mandheling en Ankola) bernama Si Asta dan Si Angan direkomendasikan sang guru untuk sekolah kedokteran di Batavia. Mereka berdua masuk Docter Djawa School pada tahun 1854. Saat mereka masuk, belum ada siswa yang lulus. Ini artinya mereka tergolong angkatan generasi pertama (Docter Djawa School dibuka 1851). Menariknya, ternyata dua anak ini terbilang siswa yang sangat pintar. Manariknya lagi, ternyata dua anak yang masih belia ini merupakan siswa pertama luar Djawa yang diterima di sekolah kedokteran tersebut (lihat: Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855)

24/03/15

Prof. Ir. Lutfi Ibrahim Nasoetion, MSc. PhD: Sarjana Cum Laude dan Skripsinya Ditulis dalam Bahasa Inggris


*Sejarah Pelajar/Mahasiswa Tapanuli Selatan di Bogor, sejak 1918.

Ida Nasoetion, anak Padang Sidempoean adalah angkatan pertama mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ida Nasoetion melanjutkan kurikulumnya di luar kampus (belajar mandiri) karena kampusnya ditutup oleh tentara Jepang (1941). Ida Nasoetion berjuang dengan caranya sendiri, menulis dengan pena yang tajam yang kemudian dijuluki sebagai penulis esai dan kritikus paling berbakat di jamannya. Dengan kemampuan berbahasa Belanda yang baik, Ida Nasoetion direktut Prof. Berlings menjadi redaktur majalah berbahasa Belanda (Opbouw) dan bersama Chairil Anwar menjadi redaktur majalah berbahasa Indonesia (Siasat). Setelah kampusnya dibuka kembali oleh Belanda (1947), Ida Nasoetion balik ke kampus untuk kuliah dan di dalam tetap berjuang. Ida Nasoetion (sastra) bersama G. Harahap (publisistik) mempelopori dan mendirikan Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia (kala itu, perguruan tinggi baru satu-satunya Universiteit van Indonesie yang kampusnya tersebar di Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Surabaija dan Macassar). Belum satu semester menjabat Presiden Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia itu, Ida Nasoetion, gadis manis usia 26 tahun ini dinyatakan hilang selamanya sejak tanggal 23 Maret 1948 di Bogor. Intelektual muda itu diduga kuat diculik dan dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda.

***
Sembilan bulan kemudian, Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion, anak Padang Sidempoean diculik dan dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda di Yogyakarta pada tanggal 21 Desember 1948. Dewan Keamanan PBB marah besar atas kematian tidak wajar intelektual muda ini dan meminta dilakukan penyelidikan segera. Masdoelhak Nasoetion adalah penasehat pemerintah (Soekarno dan Hatta) di bidang hukum internasional, doktor lulusan Universiteit Leiden (1943) dengan predikat Cum Laude dengan desertasi berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak).

***
Anak-anak Padang Sidempuan (Afdeeling Padang Sidempoean. Residentie Tapanoeli), hilang satu tumbuh seribu. Salah satu generasi penerus anak-anak Padang Sidempuan adalah Lutfi Ibrahim Nasoetion, lahir tanggal 3 Mei 1947 di Padang Sidempuan. Ketika, usianya jelang masuk sekolah dasar, ayahnya Djohan Nasoetion pindah tugas ke Medan. Di kota ini, Lutfi menyelesaikan sekolahnya hingga tamat SMA Negeri 4 Medan tahun 1965. Lalu ibunya menghendaki agar Lutfi menjadi dokter, dengan kuliah di Fakultas Kedokteran di USU. Untuk menghormati ibunya diturutinya dengan ikut tes seleksi di USU tetapi dengan kenakalannya sengaja tidak menjawab soal-soal yang diujikan. Lutfi ingin kuliah di Djawa.

23/02/15

IDA NASUTION: Wanita Intelektual Muda, Penulis Esai Berbakat, Pejuang Kemerdekaan dan Presiden Mahasiswa Indonesia Pertama Dibunuh oleh Intelijen dan Tentara Belanda (1948)



Ida Nasoetion, kritikus dan esais (1948)
Siapa kritikus sastra yang paling hebat di tanah air pada jamannya? Bukan H.B. Jassin, dia belum apa-apa. Jawabnya adalah Ida Nasution. Anak Padang Sidempoean ini juga memiliki keahlian khusus yang oleh para profesor sastra Belanda disebut penulis esai paling berbakat, berinteligensia tinggi dan kritis. Ulasan dan artikelnya dimuat dalam sejumlah koran dan majalah bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Ida Nasoetion berjuang dengan caranya sendiri: menulis cerdas dengan pena yang tajam. Sejumlah artikelnya bertabur dengan kata-kata 'merdeka'. Ida Nasution adalah mahasiswa angkatan pertama Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universiteit van Indonesie). Di dalam kampus, Ida Nasoetion juga aktif berjuang dengan caranya sendiri. Ida Nasoetion (departemen sastra) dan G. Harahap (dari departemen jurnalistik) menggagas didirikannnya persatuan mahasiswa Indonesia yang diresmikan tanggal 20 November 1947 dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia (PMUI). Setelah empat bulan menjadi presiden (ketua) PMUI, Ida Nasoetion dilaporkan koran Nieusgier diculik tanggal 23 Maret 1948. Ida Nasoetion hilang selamanya dan diduga kuat dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda. Wanita muda berbakat ini juga adalah redaktur beberapa majalah berhasa Indonesia dan berbahasa Belanda serta menerjemahkan buku-buku berbahasa Perancis. Kehilangan wanita pejuang yang masih berumur 26 tahun ini adalah sebuah misteri yang belum terungkapkan hingga kini.