Bag-2. Sejarah MANDAILING: ‘Koffijcultuur, Kopi Terbaik dan Harga Tetinggi Dunia dan Studi Ke Batavia dan Negeri Belanda’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Sekolah ke Batavia dan Koffijcultuur

Samarangsch advertentie-blad, 03-11-1854 (iklan): ‘di Jawa Courant No. 86 disebut kreditur dan debitur dalam perkebunan. Agen di Sumatra, di wilayah kerja Mandheling, G.de Hesselle’.
.
Gudang Kopi di Mandheling, 1895 (KITLV)
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855: ‘Batavia,  25 November 1854. Satu permintaan oleh kepala Mandheling (Batta-landen) dan didukung oleh Gubernur Sumatra’s Westkust, beberapa bulan yang lalu, ditetapkan oleh pemerintah, bahwa kedua anak kepala suku asli terkemuka, yang telah menerima pendidikan dasar dibawa untuk akun negara ke Batavia dan akan mengikuti kedokteran, bedah dan kebidanan. Para pemuda yang disebut Si Asta dan Si Angan di rumah sakit militer di sana pada murid ini baru saja tiba dari Padang disini, dan akan disertakan di pelatihan perguruan tinggi (kweekschool) dokter asli. Untuk hal yang sama sekarang telah diambil dari yang dicalonkan atas permintaan kepala Menahassa kepada Residen Manado. (dalam koran ini juga dilaporkan): penduduk Mandheling banyak yang korban harimau’.

Bag-1. Sejarah MANDAILING: ‘Pemerintahan Sipil di Tapanuli Selatan Dimulai dari Kotanopan’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Airmata tangisan penduduk Mandailing masih terus menetes hingga berita pertama kehadiran bangsa Belanda di Tanah Mandailing muncul di suratkabar. Berita-berita yang muncul pertama kali dari Tanah Mandailing adalah berita seputar tentang kematian petugas dan serdadu Belanda. Berita lainnya adalah surplus beras di Mandailing ditransper ke Jawa, sementara DOM masih tetap diberlakukan di Bonjol. Ini mengindikasikan bahwa penguasaan wilayah dengan pengerahan militer yang memerlukan biaya yang tidak sedikit, harus ada penutupnya dengan untung ‘gede’. Tidak ada rotan akarpun jadi. Belum ada komoditi ekspor bernilai tinggi, komoditi domestik pun tidak masalah. Karena itu, selagi masa perang dan melakukan pertempuran, produksi beras lokal pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan uang—seperti anekdot: tidak ada makan siang gratis’.

Militair Departement: Prakondisi Awal Pemerintahan Sipil
.
Peta Mandheling, 1843-1847
Militer Belanda pertamakali mendarat di Natal 1933. Membangun benteng Eluot di Panjaboengan pada tahun 1834 dan menguasai Mandheling lantas membangun benteng di Rao 1834. Sementara benteng Bonjol masih eksis. Pada tahun 1837 benteng Bonjol dikuasai kemudian lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok juga sepenuhnya dikuasai. Selama fase invasi ke Bonjol, otoritas sipil di Mandailing yang berkedudukan di Kotanopan dilakukan oleh Francois Bonnet. Pasca Bonjol, selanjutnya militer Belanda mengalihkan perhatian ke Padang Lawas. Untuk memperkuat pertahanan pasukan Belanda dibangun benteng di Pijor Koling (1837) untuk meningkatkan fungsi pos militer sebelumnya di Sayurmatinggi. Karenanya, lanskap Mandailing (groot dan klein) menjadi sangat terjaga keamanannya, sebab ada tiga benteng: di tengah lanskap Mandailing, masih ada benteng Fort Eluot di Panjaboengan, di selatan Mandailing, di Rao dan di utara Mandailing di Pijor Koling. Kedua benteng di sisi luar Mandailing ini masih aktif, hingga ekonomi kopi dimulai dan pemerintahan sipil diselenggarakan di Mandheling dan Ankola.

Bag-2. SEJARAH ANGKOLA: Penyatuan Administrasi ‘Ankola en Sipirok’, Kopi ‘Mandheling’ dan ‘Ankola’ Menembus Harga Tertinggi Pasar Dunia



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe
.
Rumah Controleur di Padang Sidempoean, 1890 (KITLV)
Tiga tokoh penting di awal pemerintah sipil pada era Hindia Belanda di Tapanuli Selatan  adalah Willer, Godon dan Henny. Dari Mandailing, Willer merintis jalan dan masih bekerja erat dengan militer. Kemudian Godon datang dengan ide pengembangan wilayah, membangun jalan dan jembatan serta kepedulian terhadap penididikan pribumi. Kemudian, Henny yang memulai karir sebagai kontroleur kelas-2 di Ankola yang berkedudukan di Padang Sidempoen, berhasil memadukan keunggulan tiga lanskap (Mandheling, Ankola en Sipirok) sebagai sentra baru untuk komodi kopi yang kemudian menjadi diperhitungkan dalam perdagangan domestic maupun internasional.

Peran penting Henny terutama adalah factor kopi. Dia membuat kalkulasi perluasan budidaya kopi, memperkirakan anggaran dan merealisasikannnya. Atas usaha keras dan ketekunannya, kuantitas kopi mengalir deras ke Pelabuhan Padang baik melalui Natal maupun Djaga-Djaga di Loemoet dan mendapat apresiasi harga tertinggi. Prestasi ini membawanya untuk dipromosikan menjadi Asisten Residen Mandheling en Ankola lalu naik promosi lagi menjadi sekretaris gubernur di Gouvernement Sumatra;s Westkust.

Bag-1. SEJARAH ANGKOLA: Awalnya Bernama ‘Ankola’ Berganti ‘Petjirkolling en Ankola’ Berubah Menjadi ‘Ankola en Sipirok’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Sejarah Angkola adalah bagian dari sejarah Tapanuli, khususnya Tapanuli Selatan.Artikel ini merupakan bagian pertama dari serial Sejarah Angkola. Serial artikel lainnya sudah dipublikasikan seperti Sejarah Sipirok (sementara baru lima edisi) dan Sejarah Padang Lawas (baru satu edisi). Serial lainnya akan menyusul, seperti Sejarah Mandailing (dan Sejarah Natal) serta Sejarah Batang Toru. Diharapkan keseluruhan artikel-artikel tersebut akan membentuk Sejarah Tapanuli Selatan. Ini berarti, antar artikel akan terkait satu dengan yang lainnya, beberapa sumber akan sama, dan sumber satu dengan yang lainnya akan saling melengkapi.Oleh karena setiap artikel disusun secara kronologis (tanggal dan bulan), maka sumber dengan mudah dilacak.

***
Sejarah awal Ankola (kemudian menjadi Angkola) bermula dari sejarah awal militer Belanda di Tapanuli.Pada tahun 1833 pertamakali militer Belanda mendarat di Natal, kemudian menduduki Mandheling dengan membangun benteng Eliot di Panyabungan (1834). Selanjutnya dalam penguasaan Ankola en Sipirok, militer merangsek dari dua arah: dari selatan di benteng Eliot dengan membangun pos militer di Sayurmatinggi (1835) dan dari barat di pangkalan militer di Sibolga dengan membangun pos militer di Tobing (sebuah pos di lereng Gunung Lubuk Raya).
.
Kampung di Padang Sidempuan, 1870 (KITLV)
Setelah menguasai lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok, militer Belanda memindahkan markas dari Panyabungan dengan membangun benteng ke Pijor Koling di Ankola pada tahun 1837. Benteng ini dimaksudkan untuk dua tujuan: mengejar Tambusai dan pengikutnya di Padang Lawas dan ekspansi ke Silindung.Pemerintahan sipil di Angkola dan Mandheling dilakukan secara bersamaan yang mana Asisten Residen berkedudukan di Kotanopan dan salah satu kontroleur ditempatkan di Padang Sidempuan. Nama (afdeeling) Ankola, tampaknya mengikuti situasi dan kondisi: Awalnya bernama (afdeeling) Ankola, kemudian berganti menjadi Petjirkolling en Ankola, lalu berubah lagi menjadi Ankola saja. Pada masa selanjutnya, nama (afdeeling) Ankola menjadi Ankola en Sipirok, kembali lagi menjadi Ankola, lantas kemudian menjadi Ankola en Sipirok lagi.

Bag-5: SEJARAH SIPIROK: ‘Putra Daerah, Si Joelioes gelar Soetan Martoewa Radja Lulus Kweekschool Padang Sidempoean’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Adanya pemerintahan sipil di Sipirok, telah membuka ruang untuk berkembangnya pendidikan negeri bagi penduduk. Pendidikan adalah instrument penting bagi pemerintah Hindia Belanda untuk mendukung tujuan yang diinginkannya. Melalui pendidikan, produktivitas penduduk setiap wilayah akan meningkat. Penduduk yang lebih berpendidikan, akan lebih sehat, lebih tangguh dan memungkinkan ekonomi dan perdagangan lebih meningkat. Manfaat ekonomi yang meningkat akan lebih mampu membiayai, dan manfaat perdagangan komersial yang meningkat akan membuat untung lebih besar bagi pemerintah. Inilah insentif mengapa pemerintahan sipil dibentuk dan pendidikan diintroduksi.

Seni di suatu tempat, di Sipirok 1895 (KITLV)
Pembangunan sekolah negeri di Sipirok yang berawal di Sipirok dan Bungabondar dan diperluas ke Prau Sorat diharapkan akan berkembang ke seluruh penjuru Sipirok. Namun jauh sebelum itu, bentuk-bentuk pendidikan masyarakat sudah ada di Sipirok. Di kalangan Islam tumbuh sekolah-sekolah non formal yang disebut madrasah—fungsi pengetahuan dan fungsi ibadah, demikian juga para misionaris membutuhkan sekolah-sekolah non formal untuk mencerdaskan penduduk yang juga dikaitkan dengan kebutuhan penyebaran agama. Pemerintah Hindia Belanda hanya focus pada pendidikan formal dan membiarkan pendidikan non formal dari kalangan Islam dan Kristen tumbuh dan kembang sendiri. Adagium pemerintahan Belanda memisahkan pemerintahan dengan agama dan sebaliknya.

Bag-4: SEJARAH SIPIROK: ‘Dataran Tinggi Lembah Sipirok yang Eksotik Diakui Para Wisatawan Sejak Doeloe’



*Kronologi berdasarkan berita dalam surat kabar tempo doeloe

Lembah Sipirok, di kaki Gunung Sibualbuali kerap terjadi bencana alam, terutama gempa bumi. Serangkaian proses vulkanik masa lalu menyebabkan wilayah Sipirok memiliki tingkat kesuburan yang baik, yang di atasnya memiliki kekayaan ragam flora tumbuh dan berkembang fauna. Di lembah ini juga terbilang populasi penduduk terpadat di Tapanoeli dengan satu budaya leluhur, namun menjadi wilayah perebutan dua agama dalam penyiaran agama yang pada fase awal ada pasang surut tetapi pada akhirnya harmoni tetap terjaga. Faktor budaya merekatkannya.
.
Rumah Zending di Sipirok, 1890 (KITLV)
Alamnya yang eksotik, berhawa sejuk, penduduknya yang ramah dipuji para pelancong. Sejauh ini, sudah banyak para ‘lone ranger’ datang ke Sipirok, baik sebagai tugas ekspedisi maupun untuk bertualang sebagai wisatawan. Dr. Junghuhn, van der Tuuk, Ida Pheiffer, dan lain sebagainya merasakan eksotisme lembah Sipirok. Jika turut dihitung Van Asselt, Nommensen, dan sebagainya, maka lembah Sipirok adalah tujuan yang mereka idam-idamkan. Mereka tidak menemukan di tempat lain, hanya ada di Sipirok.

Pemerintahan kolonial juga sangat respek terhadap daerah ini. Pemerintah memandang Sipirok sebagai lumbung ekonomi potensial bagi pemerintah kolonial, asal penduduknya mau bertanam kopi dan membangun jalan dan jembatan, apapun agamanya: pagan, Islam atau Kristen. Kerajaan Belanda, dengan sadar memisahkan motif gereja dan motif (politik) pemerintahan. Situasi ini dianggap para misionaris menguntungkan Islam, dan menjadi suatu dilemma bagi Kristen. Pemerintah Hindia Belanda berani invest karena telah memperhitungkan prospek keuntungannya.

Bag-1: Sejarah PADANG LAWAS: ‘Ekspansi Militer dan Eksplorasi Sipil di Era Hindia Belanda’



Padang Lawas, sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang. Sebuah wilayah di pedalaman Tapanuli, Sumatra yang secara geografis berbeda dengan wilayah lainnya. Padang Lawas menyimpan banyak hal, seperti sejarah percandian Hindu-Budha di Portibi, migrasi penduduk Batak, ekspansi militer Belanda untuk meredam perlawanan Tuanku Tambusai, pembentukan pemerintahan sipil, pembangunan ekonomi, pergolakan social politik dan lain sebagainya. Serial artikel ini menyajikan sebuah deskripsi secara kronologis berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe yang selama ini belum tergali dan belum terungkap sepenuhnya ke permukaan.

Lanskap Padang Lawas atau bahasa lokal juga disebut Padang Bolak, sejak awal sudah dipetakan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bagian dari Residentie Tapanoeli, namun persoalan pembentukan pemerintahan ternyata tidak mudah karena perlu pertimbangan yang cermat sebagai syarat adanya pemerintahan sipil. Setelah pemerintahan sipil di Mandheling en Natal sudah berjalan dengan baik, pemerintah colonial Belanda bekerja meneruskan ekspansi ke Ankola en Sipirok, baru kemudian secara paralel ke utara di Silindung dan Toba dan ke timur di Padang Lawas dan Padang Bolak. Positioning Ankola dan Sipirok menjadi bagian penting dalam proses tugas Militair Departement dan Civiel Departement dalam mengakuisisi lanskap Silindung maupun lanskap Padang Lawas.

Kampung di Goenoengtoe, 1867 (KITLV)
Lanskap Padang Lawas bersinggungan langsung dengan lanskap Mandheling, Ankola dan Sipirok. Ekspansi militer dilakukan lewat Ankola dan proses pembentukan pemerintahan sipil dilakukan lewat Sipirok. Ini bermula dari sejarah awal militer Belanda di Tapanuli. Pada tahun 1833 militer Belanda mendarat di Natal, kemudian menduduki Mandheling dengan membangun benteng Eliot di Panyabungan (1834). Selanjutnya dalam penguasaan Ankola en Sipirok, militer merangsek dari dua arah: dari selatan di benteng Eliot dengan membangun pos militer di Sayurmatinggi (1835) dan dari barat di pangkalan militer di Sibolga dengan membangun pos militer di Tobing (sebuah pos di lereng Gunung Lubuk Raya).

Penguasaan lanskap Silindung dan khususnya Toba tidak mudah dan ternyata cukup alot, karena adanya perlawanan dari Si Singamangaraja terhadap misionaris dan militer Belanda. Demikian juga di lanskap Padang Lawas, tidak juga mudah, bahkan terjadi pertarungan di beberapa tempat antara pengikut Tuanku Tambusai dengan pasukan Belanda. Para misionaris yang secara regular menulis secara terang benderang situasi dan kondisi di Silindung dan Toba, memudahkan Belanda untuk menyusun strategi penguasaan. Berbeda dengan di Padang Lawas, ‘gelap gulita’, penduduk yang mayoritas sudah memeluk agama Islam dan ‘keunggulan’ pasukan Tuanku Tambusai menguasai medan stepa. Dengan kata lain, tidak ada informasi yang akurat dari jantung lanskap Padang Lawas ke luar. Ini yang membuat ekspansi militer ke Padang lawas tanpa referensi dan sedikit ‘ngeri’.