29/06/15

Adinegoro: Dari Bintang Timoer (PARADA HARAHAP) ke Pewarta Deli (DJA ENDAR MOEDA) dan The Last of the Mohicans (MOCHTAR LUBIS)



Adinegoro adalah tokoh pers Indonesia. Adinegoro adalah nama samaran dari Djamaloedin. Adinegoro berkiprah di pers pertama kali di koran Bintang Timoer (milik Parada Harahap) pada tahun 1929. Namun tidak lama, karena Abdullah Loebis dari Pewarta Deli di Medan menginginkan Adinegoro sebagai editornya yang baru. Adinegoro memulai kerja di Pewarta Deli tahun 1930 dan hanya sampai tahun 1933. Adinegoro pulang kampong, dan mengasuh koran di Padang hingga berakhirnya pendudukan Jepang.

***
Pewarta Deli adalah koran yang dirintis oleh Dja Endar Moeda di Medan yang diterbitkan pertamakali pada tahun 1910. Pewarta Deli adalah koran pribumi berbahasa Melayu pertama di Medan. Sedangkan koran berbahasa Melayu pertama adalah Pertja Timor yang terbit tahun 1902. Koran Pertja Timor investasi asing (Eropa/Belanda) sangat kuat. Koran Pertja Timor mencapai puncaknya ketika ditangani oleh seorang pribumi bernama Mangaradja Salamboewe (1903-1908).  Namun mantan jaksa di Natal ini tidak berumur panjang karena meninggal muda pada tahun 1908. Setelah Mangaradja Salamboewe, anak dari Dr Asta Nasoetion ini tiada kinerja Pertja Timor lambat laun menurun. Lalu, peluang ini dilihat oleh Dja Endar Moeda, lalu menerbitkan koran Pewarta Deli.  


Dja Endar Moeda adalah editor pribumi pertama Pertja Barat yang terbit di Padang tahun 1897. Koran berbahasa Melayu ini pertama kali terbit tahun 1894. Pada tahun 1900 Pertja Barat beserta percetakannya diakuisisi oleh Dja Endar Moeda menjadi milik sendiri. Setelah memiliki Pertja Barat, Dja Endar Moeda menambah medianya tahun 1901 mingguan Tapian Na Oeli (di Sibolga) dan bulanan Insulinde di Padang. Pada tahun 1904, Dja Endar Moeda menambah dua buah lagi medianya, yakni koran berbahasa Belanda, Sumatraach Nieusblad di Padang dan tahun 1905 koran Pembrita Atjeh di Kotaradja (Banda Aceh).  Pada tahun 1906, Dja Endar Moeda menerbitkan Sumatraasch Nieuwsblad di Medan. Inisiatif ini muncul, karena Sumatraasch Nieuwsblad di Padang cukup berhasil bersaing dengan Sumatra Bode (investasi Belanda, suksesi Sumatra Courant). Sumatra Post dan Deli Courant di Medan sangat kuat sehingga Sumatraasch Nieuwsblad tidak terlalu berkembang, hingga muncul ide menerbitkan Koran Pewarta Deli. Di Medan, Pewarta Deli mampu menyaingi Pertja Timor.

Editor pertama Pewarta Deli adalah Dja Endar Moeda kemudian digantikan oleh Panoesoenan, lalu kemudian Soetan Parlindoengan hingga akhirnya dijabat oleh Adinegoro.  

Adinegoro dari Bintang Timoer ke Pewarta Deli

Nama Adinegoro tiba-tiba muncul ke permukaan tak kala sebuah koran memberitakan kepindahan dari Bintang Timoer ke Pewarta Deli sebagai editor. Yang memainkan peranan dalam kepindahan Adinegoro ini adalah Abdullah Loebis, pimpinan Pewarta Deli di Medan dan Parada Harahap di Bintang Timoer di Batavia.

21/06/15

Bapak Pers Indonesia: Dja Endar Moeda, Kakek Pers Nasional dan Parada Harahap, Cucu Pers Nasional



Oleh Akhir Matua Harahap*

Siapa Bapak Pers Indonesia? Sebagian rakyat Indonesia menunjuk Tirto Adhi Soerjo. Sebagian yang lain tidak sepakat. Lantas, siapa yang menjadi kakek pers nasional dan siapa pula cucu pers nasional? Artikel ini mengidentifikasi sejarah lama: Siapa sesungguhnya kakek dan cucu pers nasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, artikel ini menghadirkan tiga tokoh pers nasional: Dja Endar Moeda, Tirto Adhi Soerjo dan Parada Harahap sebagai nominator. Kebetulan tiga tokoh pers ini beda generasi dengan interval kelahiran 19 tahun: Dja Endar Moeda lahir 1861, Tirto Adhi Soerjo (1880) dan Parada Harahap lahir 1899. Artikel ini kemudian akan membandingkan peran kakek pers nasional, Dja Endar Moeda dan cucu pers nasional, Parada Harahap dengan bapak pers Indonesia (Tirto Adhi Soerjo).

***
Setiap era, pers Indonesia mengikuti jamannya sendiri. Peran yang dimainkan juga berbeda, karena perihal yang diperjuangkan juga berbeda. Nama medianya juga berbeda-beda dengan mengikuti jamannya (lihat De nieuwsgier 17-02-1956: Van ‘het terrein van de ambtenaar’ tot aan de ‘open ogen’ en ‘het Hiernamaals’). Karena itu, peran dan fungsi masing-masing tiap era secara substansial tidak bisa diperbandingkan. Yang bisa dipahami adalah bahwa antar era terdapat garis continuum, yakni: melawan ketidakadilan yang menjadi esensi perjuangan pers Indonesia. 

Sejarah pers pribumi (baca: Indonesia) lahir di tengah-tengah pers Belanda (baca: pemerintahan colonial). Pengertian pers dalam hal ini mengacu pada tiga stakeholder: pembuat berita (wartawan, pemilik media dan percetakan), jenis media (lembaran, majalah dan koran), dan pembaca (pribumi, asing, perempuan dan golongan lainnya). Tiga stakeholder ini sebagai internal pers, dan stakeholder yang lain (eksternal) adalah pemerintah (dalam arti institusi, pemerintah colonial Belanda). Kronologis tiga tokoh pers ini disusun berdasarkan sumber-sumber pemberitaan (koran-koran berbahasa Belanda) sejak 1883 hingga 1957.

05/06/15

Sejarah Marah Halim Cup (15): Parada Harahap, Pers dan Sepakbola, Pertja Barat vs Pertja Timor, Pewarta Deli vs Sinar Deli, Benih Mardeka vs Sinar Merdeka



Parada Harahap
Sepakbola dikenal karena diberitakan di koran. Surat kabar adalah media yang paling setia dan konsisten memberitakan kabar berita tentang sepakbola. Buku-buku sepakbola yang ditulis kemudian, umumnya mengacu pada pemberitaan surat kabar. Serial artikel sepakbola di Noord Sumatra khususnya di Medan sangat mengandalkan koran-koran yang terbit tempo doeloe. Artikel ini coba menelusuri pertumbuhan dan perkembangan pers di Noord Sumatra sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pemberitaan sepakbola. Salah satu pelaku pers di Noord Sumatra adalah Parada Harahap.

Pargarutan, Padang Sidempuan
Parada Harahap, lahir tahun 1899 di Pargaroetan, Padang Sidempoean. Pada usia 14 tahun merantau ke Deli. Bekerja di perkebunan sebagai krani. Tidak tahan melihat penderitaan para koeli di perkebunan, Parada Harahap coba bongkar kasus kekejaman di perkebunan (poenali sanctie). Laporannya dikirim ke redaksi koran Benih Mardeka di Medan. Tindakan keberanian ini menyebabkan Parada Harahap dipecat sebagai krani, lalu bergabung dengan Benih Mardeka menjadi editor (1918). Ketika koran Benih Mardeka.dilarang terbit karena penanggungjawabnya didakwa, Parada Harahap menerbitkan koran Sinar Merdeka di Padang Sidempoean (1919). Tahun 1922 Parada Harahap masuk gerakan pemuda di Sibolga dan selanjutnya hijrah ke Batavia menjadi wartawan dan mendirikan kantor berita Alpena, lalu menerbitkan Bintang Hindia.
Parada Harahap, pemain sepakbola
Di Batavia, Parada Harahap mendirikan klub sepakbola Bataksche Voetbal Vereeniging (De Sumatra post, 29-09-1925). Diapresiasi orang asing sebagai de beste journalisten van de Europeescbe pers (De Indische courant, 23-12-1925). Karirnya di bidang pers melejit, menerbitkan koran Bintang Timoer (1926). Parada Harahap adalah mentor Soekarno-Hatta (memancing Soekarno keluar kampus dan membimbing Hatta ke Jepang). Parada Harahap adalah pemilik belasan surat kabar yang dijuluki sebagai The King of the Javapress (Bataviaasch nieuwsblad 29-12-1933). Parada Harahap tidak punya 'hutang' kepada Belanda dan malah sebeliknya Parada Harahap selalu dimusuhi (101 kali disidang di meja hijau dan belasan kali dipenjarakan). Parada dan orang Indonesia pertama yang menyeberang dan berkunjung ke Jepang yang disambut bagai Menteri Luar Negeri Indonesi. Parada Harahap adalah pendiri PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan pendiri Persatuan Suratkabar Indonesia. Parada Harahap adalah pendiri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan pendiri Akademi Wartawan serta pendiri Kopertis. Parada Harahap adalah sekretaris PPPKI yang menyelenggarakan Kongres Pemuda (1928) dan Parada Harahap adalah satu-satunya orang Batak yang menjadi anggota BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan). Parada Harahap memimpin misi dagang dan industri Indonesia ke 15 negara dan ketua pembuat REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) pada tahun 1957. Jangan lupa: Parada Harahap adalah orangtua yang ideal dan harmonis: putrinya, 'boru panggoaran' Aida Dalkit Harahap adalah perempuan pertama ahli hukum dari Sumatra (satu dari dua di Hindia Belanda) [Rangkaian sejarah perjalanan hidup Parada Harahap ini dapat anda baca mulai dari bagian tengah artikel ini].
***
Sumatra Courant, edisi No. 25 Tahun 1862
Koran pertama di Deli adalah Deli Courant. Surat kabar berbahasa Belanda dan investasi orang-orang Belanda ini diterbitkan pertama kali tahun 1884. Sepakbola belum dikenal. Berita sepakbola dilaporkan di Deli pertama kali tahun 1894. Yang memberitakan, bukan surat kabar Deli Courant, tetapi surat kabar Sumatra Courant yang terbit di Padang edisi, 02-01-1894. Koran ini adalah suksesi Padangsch N.e.E. Blad dan sudah eksis sejak 1862, dua puluh dua tahun lebih awal dari Deli Courant. Komplemen surat kabar Sumatra Courant adalah koran Pertja Barat berbahasa Melayu investasi orang-orang Belanda yang pertama kali terbit 1892.

Pertja Barat vs Pertja Timor

koran Pertja Barat, milik Dja Endar Moeda
Untuk meninggikan tiras koran Pertja Barat membutuhkan editor berkualitas. Kebetulan dua bulan sebelum datang seorang mantan guru (pensiunan) bernama Dja Endar Moeda menawarkan novelnya untuk diterbitkan oleh Percetakan Winkeltmaatschappij (sebelumnya Paul Bainmer & Co) yang menerbitkan koran Pertja Barat (Sumatra-courant, 25-10-1897). Manajemen Pertja Barat menawarkan posisi editor kepada Dja Endar Moeda. Tidak pikir panjang Dja Endar Moeda menerima pinangannya. Pertja Barat butuh editor yang berkualitas, Dja Endar Moeda butuh pekerjaan baru. Akhir November 1897, Dja Endar Moeda sudah resmi menjadi editor Pertja Barat sebagaimana namanya muncul di kolom editorial. Dja Endar Moeda adalah pribumi pertama yang menjadi editor pada surat kabar investasi Belanda. (Sumatra-courant, 04-12-1897).

Sumatra Courant edisi terakhir 11-8-1900
Sejak ditangani oleh Dja Endar Moeda, koran Pertja Barat makin laris manis. Lebih dari itu, ternyata surat kabar Sumatra Courant kerap melansir isi berita Pertja Barat dan juga melakukan wawancara terhadap Dja Endar Moeda.  Dja Endar Moeda yang mantan guru cukup kritis terhadap kebijakan pemerintah. Cukup sering Dja Endar Moeda mendapat peringatan.

31/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (14): GB Josua, Tokoh Pendidikan Medan dan Presiden Sahata Voetbal Club Sebagai Ketua Perayaan 17 Agustus 1945 dan Ketua Panitia PON III



GB Josua (1950)
Suksesi Kajamoedin gelar Radja Goenoeng dalam pengembangan pendidikan di Medan adalah Gading Batoebara. Anak Padang Sidempoean kelahiran Hoetapadang, Sipirok 10 Oktober 1901 (10-10-01) ini mengikuti jejak seniornya Radja Goenoeng untuk sekolah guru di Fort de Kock. Setelah lulus Kweekschool Fort de Kock, Gading Batoebara melanjutkan sekolah ke Hogere Kweekschool di Poeworedjo dan lulus 1923. Setelah lulus, Gading Batoebara pulang kampung dan menjadi guru sementara di HIS swasta Sipirok (kampung halamannya).

Kemudian Gading Batoebara merantau dan menjadi guru di Tandjoengpoera (Langkat). Tidak lama di Tandjongpoera, GB Josua tertarik atas tawaran untuk memajukan sekolah HIS swasta di Doloksanggoel. Kehadirannya membuat sekolah HIS Doloksanggoel maju pesat hingga akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi HIS negeri. Sukses GB Josua merancang HIS di Doloksanggoel membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah Nederlansch Indie.

Bertugas di Medan dan Studi Ke Nederland

Dalam perkembangannya, Gading Batoebara Josua (GB Josua) diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Medan.

De Sumatra post, 17-09-1928): ‘G.B. Josua diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Schakel School di Medan. Mardan Tandjoeng dipindahkan dari Schakel School di Medan dan ditempatkan di Holandsch Inlandsch School di Padang Sidempoean.

Pada tahun 1929 GB Josua melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda di Groningen. Setelah mendapat akte Lager Onderwijs GB Josua kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ss. Patria dari Rotterdam 4 November 1931 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 01-12-1931).

26/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (13): Kajamoedin gelar Radja Goenoeng, Pribumi Pertama Anggota Gementeeraad Medan; Sepakbola Tumbuh, Pendidikan Berkembang



Kweekschool Padang Sidempoean dibuka tahun 1879 dengan gurunya yang terkenal Charles Adrian van Ophuijsen (berdinas di Padang Sidempoean selama delapan tahun, lima tahun terakhir sebagai direktur). Sekolah guru Akreditasi-A di Nederlansche Indie ini lalu ditutup tahun 1893. Sekolah ini telah melahirkan ratusan guru-guru yang tersebar di seluruh Sumatra.

Raadhuis, Medan 1918
Salah satu alumni terakhir (lulus) adalah Soetan Martoewa Radja. Setelah berpindah-pindah tempat menjadi guru, mulai dari Pargaroetan, Sipirok, Taroetoeng hingga menjadi Direktur Normaal School Pematang Siantar. Setelah pension Soetan Martoewa Radja diangkat menjadi anggota Gemeteeraads Pematang Siantar (1934). Sejumlah siswa yang tidak sempat lulus direkomendasikan untuk melanjutkan ke Kweekschool di Fort de Kock. Salah satu diantara mereka adalah Mangaradja Salamboewe. Anak mantan Docter Djawa School pertama dari luar Jawa ini, tidak berkeinginan melanjutkan sekolah ke Fort de Kock tetapi mengambil magang sebagai penulis di Kantor Residen Tapanoeli di Sibolga. Dalam perjalanannya, Mangaradja Salamboewe yang terbilang cerdas, lalu diangkat menjadi adjunct djaksa di Natal. Selama bertugas menjadi jaksa, Mangaradja Salamboewe tidak tahan melihat ketidakadilan di dalam masyarakat oleh pemerintah colonial Belanda. Lalu, Mangaradja Salamboewe desersi dan dipecat sebagai pegawai pemerintah. Mangaradja Salamboewe tidak ambil pusing, malah merantau ke Deli. Di Medan Mangaradja Salamboewe direkrut oleh koran berbahasa Melayu, Pertja Timoer untuk menjadi editor. Mangaradja Salamboewe adalah pribumi kedua yang menjadi editor surat kabar investasi Belanda (diangkat 1903). Editor pertama pribumi adalah (Mangara)Dja Endar Moeda di Pertja Barat di Padang (diangkat 1897). Setelah dua tahun, Dja Endar Moeda mengakuisisi koran Pertja Barat dan percetakan yang menerbitkan koran tersebut serta menerbitkan Insulinde. Kemudian bisnis Dja Endar Moeda merambah ke Padang Sidempoean (Tapian Naoeli), Sibolga, Kotaradja (Pemberita Atjeh) dan Medan (Pewarta Deli). Dja Endar Moeda adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean (1884). Klub Tapanoeli Voetbal Club di Medan (didirikan 1907) adalah milik Pewarta Deli.

19/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (12): Mathewson-Beker, Cikal Bakal Marah Halim Cup? Suatu Wawancara Imajiner dengan Marah Halim Harahap




Rumah dinas Gubernur Marah Halim, 1971
Tidak ada Tim Inggris sekuat yang ada di Langkat di seluruh Nederlandsche Indie. Tidak ada tim Inggris yang eksis diluar wilayahnya/koloninya kecuali yang ada di Langkat. 

Jauh sebelum ada Tim Inggris dari Langkat, Tim Inggris asal Penang memprovokasi adanya pertandingan sepakbola di Nederlandsche Indie yang dilangsungkan di Medan, tanggal 31 Desember 1893. Inilah pertandingan sepakbola pertama kali diadakan di Kepulauan Nusantara.

Esplanade Medan (kini lapangan Merdeka) disulap stadion
Lalu kemudian, Tim Inggris vs Tim Belanda di Medan yang dilangsungkan pada tahun 1915 menjadi berita heboh di Eropa. Inilah pertama kali Tim Belanda berhasil mengalahkan Tim Inggris—melampaui prestasi buruk Tim Nasional Nederland.. Pertandingan yang dilaksanakan di Esplanade Medan (kini Lapangan Merdeka) pada tanggal 1 Juni 1915 untuk pertamakali iklan pertandingan sepakbola dimuat di koran dan untuk yang pertama pula sebuah pertandingan di Medan penonton dikutip bayaran sebesar satu gulden. Dalam pertandingan ini juga untuk yang pertama kali lapangan Esplanade disulap menjadi layaknya stadion (tertutup dan ada tribun). Dan ini pula suatu pertandingan sepakbola di Medan yang dapat disebut sebagai pertandingan sepakbola yang bersifat komersil (pra industrialisasi sepakbola). Di Jawa metode komersil serupa ini baru dilaksanakan pada tahun 1918 ketika Bandoeng menjadi nyonya rumah (kala itu belum disebut tuan rumah) kejuaraan antarkota (antarbond) se-Djawa.

Sejarah Marah Halim Cup (11): Oost Sumatra Voetbal Bond (OSVB) Didirikan, Tapanoeli Voetbal Club Berkompetisi Kembali



Perhimpunan Senam (Gymnastiek Vereeniging) di Medan didirikan pada akhir tahun 1887. Kemudian perhimpunan ini mengadopsi satu cabang kembar olahraga kriket-sepakbola. Lalu tim Penang melawat ke Medan untuk melakukan pertandingan kriket dan sepakbola. Seiring dengan semakin banyaknya peminat sepakbola, Gymnastiek Vereeniging dimekarkan dengan membentuk klub sepakbola yang diberi nama Medan Sportclub dan disingkat Sportclub. Klub yang didirikan tahun 1899, satu-satunya di Sumatra’s Oostkust ini kerap melakukan pertandingan dengan tim dari Langkat dan tentu saja masih melakukan dengan tim dari Penang.

De Sumatra post, 29-11-1915
Setelah Sportclub didirikan, berdiri pula klub-klub baru seperti Langkat Sport Club, Maimoen Club, Zetterletters, Taman Sefakat dan Voetbal Club Tiong Hoa. Tiga diantara klub-klub yang ada yakni Medan Sport Club, Langkat Sport Club dan Toengkoe Club pada akhir 1905 melakukan kompetisi.Inilah kompetisi pertama di Deli-Langkat. Namun kompetisi ini tidak berlanjut lalu sepakbola di Deli dan Langkat vakum hingga akhirnya muncul dua klub baru (Voorwaarts dan Tapanoeli) yang kemudian kedua klub ini mempelopori diadakannya (kembali) kompetisi. Sekali lagi kompetisi hanya terencana dua musim saja lalu vakum lagi.

Klub Voorwaart melakukan merger dengan dua klub (Hoki dan Kriket) yang ada di Medan dan disatukan menjadi Deli Sport Vereeniging (DSV). Klub sepakbola yang berada di bawah DSV bersama dengan klub lama (Tapanoeli) dan klub-klub baru (Van Nie, Chinese VC dan lainnya) sepakat menyatukan diri dengan membentuk Deli Voebal Bond (DVB) dengan penyelenggara kompetisi DSV. Selain DVB, juga dibentuk Langkat Voetbal Bond dan Padang en Bedagai Voetbal Bond. Tiga bond ini mengkordinasikan suatu kejuaraan yang mempertemukan masing-masing juaranya dalam suatu kompetisi yang disebut De Kampioen Wedstrijden.