26/05/16

Sejarah Kota Medan (15): Benih Mardika dan Tengkoe Radja Sabaroedin, Suatu Kontroversi dan Pelurusan Sejarah Pers



Akhir-akhir ini nama Benih Mardika: ‘Orgaan oentoek menoentoet keadilan dan kemerdekaan’ dibicarakan kembali. Oleh para ahli sejarah, pada saat ini, surat kabar Benih Merdeka yang (dibaca) menjadi Benih Merdeka diklaim diterbitkan Tengku Radja Sabaruddin pada 17 Januari 1916 dan ditegaskan sebagai satu-satunya surat kabar yang menyuarakan kemerdekaan jauh sebelum Kongres Pemuda pada 1928.

De Sumatra post, 31-10-1916
Untuk sekedar pelurusan, nama surat kabar yang diberitakan sekarang bukan ‘Benih Merdeka’ tetapi ‘Benih Mardika’. Fakta sejarahnya adalah Benih Mardika, sedangkan tafsir sejarahnya Benih Merdeka. Surat kabar berbahasa Melayu ini di bawah bendera NV Setia Bangsa sebagai penanggungjawab M. Samin dan editor M. Joenoes dan seorang mantan guru, Abdullah (Lubis). Surat kabar ini akan dicetak oleh Heinemann & Co di Tapanoeli.

Benih Mardika kerap menyuarakan persoalan pribumi di Medan dan sekitarnya, seperti penolakan ide perkebunan untuk menyediakan tanah bagi para kuli tetap hak konsesinya tetap pada perusahaan, perihal yang terkait dengan perdagangan opium, mendorong untuk penyediaan pendidikan, perumahan bagi penduduk termasuk bagi kuli. Benih Mardika menganggap jika perusahaan hilang, kita tidak bermanfaat.  

Kehebatan surat kabar Benih Mardika hanya satu: mengungkap kasus poenalie sanctie. Pembongkaran kasus ini dimotori oleh Parada Harahap. Selebihnya biasa-biasa saja. Namanya ‘Benih Mardika: ‘Orgaan oentoek menoentoet keadilan dan kemerdekaan’ pada dasar mantap tetapi dalam gerakannya tidak sepenuhnya demikian.

Parada Harahap yang pernah menjadi editor Benih Mardika meluruskan pers kemerdekaan. Parada Harahap tidak hanya meluruskan judul yang samar dari ‘mardika’ menjadi lebih terang-benderang ‘merdeka’, tetapi Parada Harahap juga meluruskan watak para pengasuh pers merdeka dari non patriot menjadi patriot bangsa. Surat kabar Sinar Merdeka yang diterbitkan Parada Harahap di Padang Sidempuan tahun 1919, tidak hanya nama korannya yang terang-terangan mengusung kata merdeka tetapi isi tulisan-tulisannya dan pengasuhnya berjuang sepenuh hati.

20/05/16

Nama Danau Toba Sudah Disebut oleh Orang Batak Angkola Sejak dari Doeloe: Junghuhn yang Berasal dari Jerman Hanya Sekadar Mencatat



Ada seorang kawan bertanya, apakah nama danau Toba diperkenalkan oleh orang-orang Jerman? Saya jawab: Bukan orang Jerman yang menamai danau Toba tetapi penduduk Angkola. Kawan saya kaget, tetapi kelihatannya dia senang. Lantas kawan saya itu menguji saya: ‘Bagaimana membuktikannya?’ Lantas saya jawab enteng: ‘Ah, kau ini. Soal itu saya sangat paham. Dja Pangkat dari kampung Saroematinggi di Angkola yang bicara, Junghuhn (orang Jerman) yang mencatatnya (1842). Lalu kemudian, Ida Pheiffer (1852) mencatat kembali nama danau Toba. Dja Pangkat adalah pemandu ulung: Dja Pangkat adalah pemandu Franz Wilhelm Junghuhn dan Dja Pangkat adalah juga pemandu Ida Pheiffer dalam ekspedisi di Tanah Batak. [catatan: saya telah menulis tentang kedua orang ini].

Danau besar itu tidak akan mungkin orang Toba menyebutnya dengan danau Toba. Danau ini sangat besar. Orang Toba tahu betul bahwa danau itu juga bagian dari perairan ulayat dari orang Samosir, orang Simalungun dan sebagainya. Dengan kata lain: mungkin danau besar itu mereka tidak tahu menyebutnya secara keseluruhan dengan nama apa. Jadi boleh saja menyebutnnya dengan danau Silalahi (karena dekat Silalahi), danau Moeara (karena dekat Moeara), danau Balige (karena dekat Balige) dan danau Bakara (karena dekat Bakkara). Akan tetapi, faktanya (yang akan dijelaskan kemudian) bahwa orang Angkola menyebutnya dengan nama danau Toba.

Peta 1830: Danau besar belum teridentifikasi
Ini ibarat selat antara pulau besar dengan semenanjung. Tak ada gunanya bagi oang Deli menyebutnya dengan nama selat Malaka. Demikian juga dengan orang Serdang, Asahan, Tamiang, Rokan dan sebagainya. Bahkan bagi orang Penang, Singapore dan Malaka tidak memiliki kepentingan untuk menyebutnya dengan nama apa. Akan tetapi faktanya bahwa selat itu dinamai dan dicatat sebagai selat Malaka. Orang Malaka sendiri boleh jadi tidak tahu bahwa selat itu telah dinamai orang lain dengan nama selat Malaka (nama yang melekat pada diri mereka).

Dari sudut pandang orang Angkola, danau besar itu bersentuhan dengan orang Toba. Orang Silindung juga tahu bahwa danau besar itu bersentuhan dengan orang Toba. Nah, apakah orang Angkola dan orang Silindung sama-sama menyebut nama danau besar itu dengan nama danau Toba, itu adalah hal lain. Yang jelas bahwa orang Angkola yang memperkenalkan kepada orang asing nama danau Toba. Orang-orang asing pertama (dalam hal ini orang Eropa) yang memasuki Tanah Batak selalu dimulai dari Angkola.

18/04/16

Rencana Bandara Padang Sidempuan (1935): Ditolak karena Bahaya Imperialisme



Pesawat pertamakali mendarat di Indonesia adalah di Medan. Dari Medan ke Singapura dan dari Singapura ke Batavia. Itu terjadi pada tahun 1924. Penerbangan pertama ini merupakan langkah radikal dalam transportasi Belanda (Nederland) dengan Indonesia (Nederlandsch Indie). Jalur perdana Medan-Singapoera-Batavia ini kemudian menjadi jalur internasional dari Batavia ke Eropa/Belanda. Namun demikian, penerbangan domestik justru dimulai di Jawa baru kemudian menyusul di Sumatra.

Pembicaraan tentang jalur penerbangan di langit Sumatra baru dimulai pada tahun 1926. Hal ini dimulai dari rencana sebuah maskapai membuat jalur Batavia-Telok Betong. Bandara Telok Betong ini akan menjadi jalur entri memasuki Sumatra yang akan dikembangkan terus ke utara hingga ke Kota Radja via Moeara Bliti, Pajacombo, Padang Sidempoean atau Rautau Prapat atau Gunung Toea lalu ke Medan. Dari Medan diperluas ke Kota Radja. Jalur Medan-Padang Sidempuan secara khusus menjadi prioritas jika Rantau Prapat yang akan dipilih  yang juga akan mencakup wilayah yang luas baik ke Toba maupun ke timur (De Indische courant, 15-07-1926).

Jalur ini direncanakan untuk memenuhi aviation jalur tengah Sumatra, Jalur tengah ini selain untuk angkutan orang juga untuk mendukung pengakutan pos. Juga telah datang usul agar dibuat jalur Padang-Singapoera, namun maskapai baru membatasi jalur Medan-Singapora-Batavia (yang akan beroperasi tahun 1930). Penerbangan Batavia-Medan secara militer sudah dimulai pada tahun 1928.

16/04/16

Kereta Api Trans Tapanuli (Padang Sidempuan-Sibolga): ‘Layu Sebelum Berkembang’



Saat ini kereta api tidak ada di Tapanuli. Sejauh ini bahkan tidak pernah terdengar sekalipun ‘kabar burung’ tentang rencana pembangunan kereta api di Tapanuli. Yang ada hanyalah jalan raya, yang menurut kabar berita, kondisinya sangat buruk terutama jalur antara Padang Sidempuan dan Sibolga via Batang Toru. Padahal, jalur ini di masa lampau merupakan jalur terbaik (aspalnya mulus) dan sangat ramai (arus barang dan orang sangat tinggi, pp). Bahkan ketika jalan raya ini pada top performance, pemerintah di Batavia sudah menganggarkan biaya pembangunan jalan kereta api Tapanuli tahap satu: Padang Sidempuan dan Sibolga.

Pembangunan awal jalur kereta api Medan-Laboehan Deli, 1883
Sejak ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola dipindahkan ke Padang Sidempuan 1870, kota ini terus berkembang pesat sebagai sentra kopi di Tapanoeli. Selain itu kota ini juga pusat pendidikan dan pusat Eropa (yang mana orang-orang Eropa/Belanda) cukup tinggi konsentrasinya. Untuk memfasilitasi pebangunan tersebut, lalu 1879 dibangun jembatan Batang Toru dengan beton, besi baja menggantikan jembatan kabel telegraf sebelumnya. Jembatan Batang Toru ini selesai tahun 1883 yang merupakan jembatan terpanjang di Nederlandsch Indie (baca: Indonesia). Pada akhir tahun 1890an, para investor sudah mulai membuka perkebunan di sekitar Batang Toru. Sejak 1902 hingga 1915 tidak kurang dari sebelas perusahaan besar swasta berinvestasi di Loemoet, Batang Toru, Anggoli, Huraba, Marancar, Sangkoenoer, Pijor Koling dan Simarpinggan. Intensitas yang tinggi di Batang Toru menyebabkan Batang Toru menjadi pusat industri perkebunan di Tapanuli. Orang-orang Eropa semakin banyak dan bahkan telah jauh melampaui jumlah orang Eropa/Belanda di Padang Sidempuan maupun di Sibolga. Orang kaya baru juga muncul dimana-mana, yang menjadi kaya tidak hanya investor asing tetapi juga para investor local bahkan pekebun-pekebun biasa. Arus komoditi karet mengalir ke Sibolga, sebaliknya arus dollar juga mengalir ke daerah perkebunan. Pada saat itu, pemerintah meningkatkan kualitas jalan raya (mulus) hingga sekelas jalan raya Medan-Pematang Siantar dan jalan raya Padang-Bukit Tinggi. Di atasnya jalan raya kelas-A antara Sibolga-Padang Sidempuan lalu lalang mobil-mobil sedang terbaru, truk-truk besar, dan bis angkutan umum serta sepeda motor. Kontras jika dibandingkan pada tahun 1880an ketika jembatan Batang Toru baru selesai dibangun hanya yang melintas, padati dan kuda beban untuk mengangkut kopi dan orang serta barang lainnya antara Padang Sidempuan dengan Sibolga. Pada saat ini pelabuhan Loemoet masih berfungsi untuk mengepul komoditi kopi dan produk pertanian lainnya untuk diteruskan ke Padang via pelabuhan Djaga-Djaga.  

Pemerintah Kolonial di Batavia melihat kemajuan pesat di Tapanuli, khususnya afd. Sibolga dan afd. Mandheling en Angkola, maka diputuskan untuk mulai merencanakan pembangunan jalur kereta api. Ini dimaksudkan agar terjadi efisiensi perekonomian dan efektivitas pemerintahan. Ini juga dipicu oleh Residentie Tapanoeli sudah dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust sejak 1905 dan Residentie Sumatra’s Oostkust beribukota Medan ditingkatkan menjadi province. Sejalan dengan ini afdeeling Mandheling en Ankola diubah namanya menjadi afdeeling Padang Sidempuan.  

Gajah Terbesar di Tapanuli Selatan: Gajah Soliter, Daya Jelajahnya dari Angkola (Batang Toru) hingga Mandailing (Huta Bargot)



Pada masa kini, gajah hanya ditemukan di perbatasan Padang Lawas. Dengan kata lain, gajah tidak ditemukan lagi di Tapanuli Selatan (Angkola, Mandailing dan Padang Lawas). Gajah yang terakhir ditemukan pada tahun 1936. Hanya tinggal satu: soliter, Gadingnya hanya tinggal satu (boleh jadi merupakan sisa gading yang dimilikinya ketika terjadi pertarungan yang terakhir dengan lawannya). Gajah ini boleh disebut gajah the last of mochican.

De Sumatra post, 22-05-1936.
Gajah terakhir ini, sang 'the last of mochican' terdeteksi pada bulan Mei 1936 di Batang Toru (Angkola) sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 22-05-1936. Gajah ini sudah sangat tua. Penduduk lokal menyebutnya ‘klamboe boeroek’ atau kelambu tua. Disebut demikian, karena puluhan tahun lalu dilaporkan telah menghancurkan kemah militer lalu menyeret semua barang dab orang didalamnya hingga masuk jauh ke dalam hutan. Sejak kejadian itu, sering ada laporan penduduk yang menyebut gajah besar itu menghancurkan sawah ladang dan perkampungan. Gajah itu kemudian menjadi target buruan. Gadingnya yan panjang dan bagus menjadi incaran setiap pemburu.

Wartawan De Sumatra post yang berhasil mewawancarai Mr. Pietersz, seorang pemburu gajah yang tengah berada di Padang Sidempoean telah menemukan jejak gajah itu dan ukurannya memang sangat besar, Sudah banyak pemburu yang coba melumpuhkannya tetapi senjata laras panjang tidak mempan. Sebagaimana disebut De Sumatra post, almarhum Tjong A Fie (orang kaya dan Mayor Tionghoa di Medan) bahkan pernah menjanjikan uang sebesar f2.500 untuk gading gajah soliter tersebut. Itu juga tetap tidak ada yang berhasil melumpuhkan gajah tersebut. Orang terus bertanya-tanya, apakah gajah soliter ini pada nantinya akan mati secara alamiah?

Leto atau Letjo di Padang Lawas: Misteri ‘Orang Pendek’ di Tapanuli Selatan



Kerangka anak 'orang pendek'
Di Tapanuli (bagian) Selatan, leto adalah nama jenis unggas (semacam burung puyuh): pendek, lebih sering berjalan di tanah (seperti ayam). Sangat gesit, sekejap hilang jika merasa ada gangguan. Meski sangat liar, ada cara untuk menangkapnya tanpa melukai, yakni dengan cara: ‘marjobak’, ‘marpias’ dan sebagainya. Secara sosial, burung leto ini juga kerap dijadikan sebagai perumpamaan, misalnya ‘ulang ho songon leto’. Juga leto dibuat judul lagu: ‘songon leto na hona pias’. Tentu saja bagian dari pantun: ‘habang mada unggas leto, na songgop di sopo saba; memang au do tong naoto, na mancintai alak nasala.

Ternyata leto adalah primata yang mirip manusia yang disebut: ‘orang letjo’. ‘orang pendek’, ‘orang pandak’, dan sebagainya. Cerita tentang orang leto bermula di Laboehan Bilik, Laboehan Batoe. A. Luytjes menulis di dalam De Tropische Natuur tentang ‘orang pendek’ Sumatra setelah membaca tulisan Dammerman tentang orang pendek di edisi De Tropische Natuur sebelumnya. Luytjes menceritakan pengalamannya tahun 1923 selama 10 bulan di Laboehan Bilik dalam observasi tanah gambut: ‘Karena adanya cerita penduduk tentang ‘orang letjo’, selama itu pula saya melakukan observasi tentang orang leto. Saya mengetahui bahwa beberapa pribumi, telah melihat lètjo dan segera bersembunyi karena ketakutan. Namun begitu, selama observasi saya belum mendapat data dan informasi yang lengkap, tetapi petunjuk adanya orang leto sudah ada, tidak melihat tetapi jejaknya dapat diamati dengan jelas. Dari yang kami amati, itu adalah ibu dan anaknya berjalan berdampingan kerap ditemukan di sekitar pohon durian. Sejauh ini, kita tidak tahu apakah itu ‘manusi baru’ atau ‘manusia yang hilang’. Saya telah melaporkan penemuan ini kepada Mr Westenenk, gubernur Sumatra’s Ooskust’ (De Indische courant, 06-04-1925).

Kisah leto ini juga terus berlanjut. Pada tahun 1927 di kampong Pakis dilaporkan ada empat leto mendekati perkampungan penduduk. Ketika leto mengambil beras dalam wadah kemudian penduduk mengejar tetapi cepat menghilang. Deskripsi ini mirip dengan yang di Pasar Pangaraiyan, Rokan (afd. Bengkalis, Province Sumatra’s Oostkust). Cerita yang lain juga ditemukan di Rambah dimana dua leto terlihat di hutan tengah menangkap ikan di sungai. Pelapor mendengar leto-leto tersebut berbicara satu sama lain dengan nada kecepatan yang cepat, berambut kriting sebahu, berjalan tegak. Laporan lain juga datang dari Medang, dekat Oedjong Batoe dekat Padang Lawas. Penduduk mengatakan sulit menangkap hidup-hidup, karena mereka cepat. Controleur telah memerintahkan untuk menangkap atau menembak. Dari dua leto, ibu dan anak, tertembak anaknya dan berhasil ditangkap (De Sumatra post,28-05-1932).

27/03/16

Sejarah Musik Batak: Musik Tradisi yang Kali Pertama Dicatat di Mandailing dan Angkola, Lebih Tua dari Musik Jawa dan Musik Bali



Grup musik instrumen alat tiup di Sipirok, 1890
Sejarah musik Batak, sejarah yang belum pernah ditulis. Musik Batak modern haruslah dibedakan dengan musik tradisi Batak. Oleh karena itu, sejarah musik Batak haruslah memulai memahaminya dari musik tradisi. Musik modern Batak tentu saja berakar dari musik tradisi Batak. Namun apa itu musik tradisi Batak masih terdapat beberapa kesalahan pemahaman. Hal itu besar kemungkinan terjadi karena sejumlah pertanyaan mendasar belum terjawab: Kapan musik tradisi itu ada? Siapa yang memainkan dan menggunakan musik tradisi tersebut? Dimana musik tradisi Batak itu awalnya berkembang? Apa yang menyebabkan musik tradisi Batak terbentuk? Bagaimana asal-usul musik tradisi Batak itu? Kapan musik tradisi itu dikenal? Kapan pula musik tradisi Batak mulai dicatat? Semua pertanyaan itu memerlukan jawaban dan penjelasan. Mari kita lacak!

Keutamaan musik tradisi Batak, karena memiliki sejarah yang panjang. Musik tradisi Batak mungkin seumur dengan religi Batak kuno. Musik tradisi Batak ditemukan pertamakali di Mandailing dan Angkola. Gondang dan ogung adalah alat berkomunikasi dengan sang pencipta. Dalam perkembangannya, meski ada hambatan karena pengaruh Islam, indeferensi pemerintah kolonial dan larangan dari para misionaris, musik tradisi Batak dalam kenyataannya tetap hidup. Musik tradisi kemudian tidak hanya berkembang di 'bonabulu' tetapi juga tumbuh di perantauan. Pada tahun 1937, Karl Halusa, doktor (PhD) dalam bidang musik dari Universitas Wina mengunjungi Tanah Batak unruk mempelajari musik tradisi Batak. Dr. Halusa menemukan sedikitnya ada 40 jenis instrumen musik Batak, baik yang dimainkan laki-laki maupun perempuan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-03-1938). TJ Willer (1845) terheran-heran, tidak menyangka di Mandailing dan Angkola ditemukan ensambel-ensambel musik (gondang dan ogung) yang dikombinasikan dengan instrumen lain yang mirip orchest atau band di Eropa--sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain di Nederlandsch Indie (baca: Indonesia). Sejarah musik tradisi Batak perlu mendapat perhatian semua pihak. Ikuti deskripsi yang panjang lebar berikut ini.