Sejarah Tata Ruang Padang Sidempuan: Suatu Esai Sosial-Ekonomi Kota di Masa ‘Doeloe’ Menuju Kota Masa Depan



Oleh Akhir Matua Harahap

Peta Padang Sidempuan 1843-1847 (Peta: KTILV.NL)
Kota Padang Sidempuan pada masa ini dapat didekati melalui tiga jalur utama, yakni: dari dan ke arah Tarutung/Rantau Prapat (utara), Bukit Tinggi (selatan), Sibolga (barat). Koneksi (interchange) tiga jalur utama ini terletak di Tugu Siborang pada masa ini. Pada masa lalu, jalur utara dan selatan di Siborang merupakan lalu lintas pergerakan pasukan dalam Perang Padri (1816-1833). Sebelah timur Siborang ini merupakan daerah pertanian/persawahan yang subur dan menjadi lumbung beras; sedangkan sisi sebelah barat sungai Batang Ayumi merupakan areal tegalan/kebun penduduk. Ke arah hulu kebun-kebun penduduk ini terdapat areal persawahan yang sangat luas: mulai dari Kampung Salak / Sigiring-Giring hingga wilayah Hutaimbaru/Siharangkarang. Saat itu, jalur dari dan ke Sibolga dari Siborang belum tersambung--jalur perdagangan Sipirok-Sibolga dilakukan via Batunadua-Hutaimbaru dan jalur Pijorkoling / Angkola Jae ke Sibolga dilakukan di hilir jembatan Siborang.

Ketika Belanda menduduki wilayah Padang Sidempuan (datang dari arah Mandailing / Air Bangis), pasukan Belanda membangun jembatan Siborang dan jembatan Sigiringgiring yang mengakibatkan daerah Siborang menjadi sebuah persimpangan utama yang menghubungkan lalu lintas utara, selatan dan barat dari dan ke benteng Padang Sidempuan. Sehubungan dengan pemindahan ibukota Keresidenan Tapanuli dari Air Bangis (daerah Pasaman) ke Padang Sidempuan pada tahun 1884--wilayah Kota Padang Sidempuan pada masa kini--wilayah ini sebelumnya adalah semacam tanah ulayat dari empat area komunitas marga Harahap: yang berada di arah utara adalah Batunadua/Pargarutan, di arah selatan adalah Pijor Koling, di arah barat adalah Hutaimbaru / Angkola Julu; dan satu lagi dan merupakan inti komunitas marga Harahap yakni di arah tenggara adalah Sidangkal / Simarpinggan. Penduduk asli marga Harahap di Sidangkal ini sudah sejak lama melakukan aktvitas berladang dan berburu  di areal yang kini menjadi pusat Kota Padang Sidempuan.

Padang Nadimpu: Cikal Bakal Nama Padang Sidempuan
Lembah Padang Sidempuan (dilihat dari tor Simarsayang)

Kota Padang Sidempuan secara topografis berada di sebuah lembah (cekungan) di dataran tinggi seperti halnya Kota Bandung. Sekalipun Kota Padang Sidempuan berada di sebuah lembah, dalam kenyataannya sesungguhnya tidak pernah mengalami banjir. Ini disebabkan oleh kontur wilayah kota yang bisa diperhatikan sekarang relatif datar dimana semua sungai/anak sungai yang ada arusnya berada jauh di bawah. Dengan kata lain sungai-sungainya berada di dalam jurang atau dulu disebut rura

Sungai Batang Ayumi adalah sebuah sungai utama di wilayah Padang Sidempuan yang airnya bersumber dari gunung Lubuk Raya (1886 M) dan gunung Sibualbuali (1819 M). Sungai Batang Ayumi ini membelah kota Padang Sidempuan yang mengalir ke arah selatan/Sungai Batang Angkola yang kemudian bertemu dengan sungai Batang Gadis di Mandailing. Anak-anak sungai yang berada di wilayah Padang Sidempuan semuanya bermuara ke Sungai Batang Ayumi, seperti Aek Sipogas, Aek Sibontar dan Aek Sangkumpal Bonang. Sungai Batang Ayumi ini menjadi paralel dengan jalur lalu lintas pergerakan pasukan Paderi di masa lalu. Sungai Batang Ayumi yang dasarnya cukup dalam (jurang) menjadi semacam barrier untuk melindungi benteng Padang Sidempuan atau semacam pembatas yang menghubungkan wilayah timur dengan wilayah barat Kota Padang Sidempuan masa ini.

Sebuah desa (1870): Cikal bakal Kota Padang Sidempuan
Sebelum jembatan Siborang dibangun Belanda, pintu masuk dari jalur lilu lintas pasukan pendukung Paderi menuju kota (benteng Padang Sidempuan) letaknya berada di sebelah hilir jembatan Siborang (sekitar daerah Aek Tampang pada masa ini). Foto yang dibuat pada tahun 1870 (oleh pasukan Belanda) besar kemungkinan merupakan sebuah kampung yang menjadi pintu masuk menuju benteng Padang Sidempuan. Benteng ini dikemudian hari menjadi lokasi pusat pemerintahan Belanda (kantor walikota sekarang).

Terbentuknya Padang Sidempuan sebagai sebuah kota pada masa dulu merupakan konsekuensi sebuah strategi perang terhadap perlawanan terhadap Pasukan Paderi, dimana pasukan pendukung Perang Paderi membuat benteng tepat di jantung Kota Padang Sidempuan sekarang. Pintu masuk/keluar benteng ini pada waktu itu berada di Silandit / Aek Tampang (selatan) dan Tanggal / Batunadua (utara). Sementara itu, daerah Tanggal (selatan Batunadua)  merupakan jalur baru (ekonomi) yang dibuat di era Belanda yang kira-kira seumur dengan pembangunan jembatan Siborang untuk mempersingkat arus perdagangan dari Sipirok ke pusat pemerintahan Belanda di Kota Padang Sidempuan (jalur lama lalu lintas perang Paderi melalui daerah Ujung Gurap). 

Pasar Sangkumpal Bonang (latar Kampung Bukit, 1980-an)
Pusat transaksi sebelumnya berada di daerah Sihitang / Padang Matinggi dan kemudian berpindah ke daerah Sitamiang (seiring dengan pembukaan jalur lalu lintas via Tanggal) dan akhirnya secara tetap/permanen dipindahkan ke pusat Kota Padang Sidempuan (hingga masa ini). Lokasi pusat transaksi (pasar) baru yang dimaksud adalah areal pasar yang lokasinya berada antara markas militer Belanda (Kodim sekarang) dengan pos polisi Belanda (atau dulu dikenal Pos Kota). Pusat pasar ini semakin berkembang, lantas dikemudian hari pasar tersebut ditingkatkan dari pasar terbuka (pasar kaget) menjadi pasar tertutup (permanen) yang situsnya dulu masih bisa dilihat sebagai Pajak Batu dan Pajak Kawat.
Alaman Bolak alun-alun kota  (latar gunung Lubuk Rayaa)

Sementara itu, benteng Padang Sidempuan adalah sebuah area di sekitar jembatan Siborang atau tepatnya di lokasi dimana kantor Walikota sekarang. Lokasi ini dipilih para panglima perang pendukung pasukan Paderi dalam melawan Pasukan Paderi dan Belanda karena letaknya yang terlindung oleh sungai Batang Ayumi di area Siborang. Selain itu, areal ini juga terdapat padang (hamparan yang luas)  dan letaknya agak tinggi (padang na dimpu) di area Kampung Bukit sekarang. 'Padang na dimpu' ini menjadi tempat peristirahatan atau kandang bagi kuda-kuda perang pasukan pendukung (ex) Paderi. 

Sementara di barat dan utara 'padang na dimpu' yang dikemudian hari menjadi asal kata Padang Sidimpuan (kini berubah menjadi Padang Sidempuan) terdapat komunitas penduduk marga Harahap. Di sebelah barat, daerah inti marga Harahap di Hutaimbaru/Losung Batu yang hidup bertani dan memiliki persawahan yang luas, yang luasnya sampai di Kampung Salak, Kampung Selamat, Kampung Baru, Kampung Tobat, Kampung Tanobato dan Kampung Pangkal Dolok. Di sebelah utara 'padang na dimpu' ini terdapat area peternakan dan persawahan komunitas marga Harahap di Batunadua/Tanggal. Area persawahan klan marga Harahap Batunadua/Tanggal ini terdapat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Sungai Batang Ayumi mulai dari Batunadua, Sihoringkoring, Tanggal, Kampung Malayu hingga Kampung Marancar. Dari dua komunitas marga Harahap inilah kemungkinan besar pasokan bahan pangan utama untuk pasukan pendukung perang Paderi yang membangun dan menghuni benteng Padang Sidempuan. Area benteng Padang Sidempuan ini di jaman pendudukan pasukan/pemerintahan Belanda dulu disebut oleh pemerintahan Belanda sebagai WEK (penggunaan nama wek ini masih berlaku sekarang; areal/wek ini di jaman RI dipecah menjadi enam wek/kelurahan).Lihat Sejarah Pemerintahan di Tapanuli Bagian Selatan: Dari Zaman Huta (Luhat) Hingga Zaman Desa (Urban)

Dalam perkembangannya setelah Belanda menguasai wilayah teritorial yang disebut wilayah Angkola / Sipirok, Mandailing / Natal dan Padang Bolak / Padang Lawas (era Belanda) yang di kemudian hari pada era RI menjadi Kabupaten Tapanuli Selatan, pusat benteng pasukan pendukung Paderi ini menjadi lokasi pusat pemerintahan Belanda (keresidenan) yang sebelumnya ibukota Keresidenan Tapanuli berada  di Air Bangis. Sementara itu, jauh sebelum pasukan pendukung Paderi dan pemerintahan Belanda berkedudukan di Padang Sidempuan, wilayah Padang Sidempuan sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk/pedagang dari berbagai penjuru sebagai simpul perdagangan di daerah Angkola/Sipirok dengan Sibolga/Barus. Jauh sebelumnya, wilayah Barus/Sibolga merupakan pusat perdagangan terpenting dan utama di pantai barat Sumatera. Pusat perdagangan Barus ini juga menjadi tujuan penduduk wilayah Silindung dan Humbang.

Jembatan Siborang buatan Belanda (direnovasi tahun 1971)
Ketika pasukan / pemerintahan Belanda membangun jembatan Siborang yang menghubungkan jalur ‘sutra’ Sipirok-Mandailing dengan jalur Sibolga (yang sudah terbentuk sejak lama), perkembangan wilayah Padang Sidempuan semakin pesat yang kemudian terbentuk sebuah kota (kecil). Sudah tentu, pusat pemerintah baru Belanda di 'kota' Padang Sidempuan sekurang-kurangnya  terdiri dari tiga bangunan utama, yakni: kantor administratur, markas pasukan dan perumahan bagi petinggi Belanda. 

Untuk peruntukkan kantor administratur, pasukan/pemerintahan Belanda mengubah status benteng Padang Sidempuan menjadi kota (town). Awalnya kota ini terdiri dari dua blok bangunan: Blok pertama sebagai bangunan perkantoran untuk pemerintahan yang lokasinya adalah pusat benteng yang kini menjadi lokasi Kantor Walikota. Blok kedua sebagai markas bagi pasukan yang berfungsi untuk mempertahankan kota dibangun markas militer persis di depan kantor administrator yang kini menjadi Kantor Kodim. Sementara lokasi untuk perumahan pejabat pemerintahan/militer Belanda mengambil lokasi di samping (areal bioskop) dan areal belakang kantor administratur yang meliputi areal pangkal jalan Sudirman sekarang (sekitar Gedung Nasional masa sekarang).

Lanskap Awal Kota Padang Sidempuan

Pos Polisi Kota Padang Sidempuan (2000-an)
Suasana perang Paderi lambat laun berubah menjadi normal di wilayah Padang Sidempuan. Suasana dan kondisi kota seakan berganti dari suasana perang terbuka (Perang Paderi) menjadi perang dingin (perlawanan terhadap pemerintahan Belanda/penjajah). Suasana dan kondisi umum kota yang semakin kondusif memungkinkan terjadinya perkembangan Kota Padang Sidempuan menjadi sangat pesat dan di sana sini bangunan-bangunan kota mulai muncul dan bertambah satu per satu. Pos polisi Kota Padang Sidempuan dibangun, kemudian pasar kaget (tradisional) yang berada antara markas militer/kodim dengan pos polisi ditingkatkan menjadi bangunan bentuk permanen yang di kenal sebagai Pajak Batu (persis di belakang Pos Polisi Kota). 

Terminal Bis (latar Pajak Batu dan Pajak Kawat, 1970-an)
Dikemudian hari dibangun Pajak Kawat (sekarang bagian dari Alaman Bolak), lantas yang terakhir pada era RI adalah pembangunan Pasar Sangkumpal Bonang (juga disebut Pasar Baru). Kedua pasar ini terbakar tahun 1981, Pasar Sangkumpal Bonang dibangun secara permanen dua lantai. Bersamaan dengan partumbuhan kota, perkembangan sosial dan dinamika politik (pribumi vs penjajah), pemerintahan Belanda membangun sebuah penjara (lokasinya di seberang Pajak Kawat/dekat pom bensin/terminal sadu dulu). Areal antara Pajak Kawat dan penjara dalam perkembangannya di masa dulu adalah terminal bis dengan operator utama lintas jarak jauh, PO Sibualbuali. Lihat Fa. Sibualbuali, PT. ALS (Antar Lintas Sumatera) dan CV. Sampagul dari Tapanuli Selatan: Pionir Bis Jarak Jauh (Long Distance Bus) di Indonesia. 

Terminal 'Sadu' (latar penjara dan bioskop Horas, 1960-an)
Pembangunan lainnya adalah kantor Pos yang bangunannya berada di kantor Pos yang sekarang. Bangunan lainnya yang muncul adalah kantor dagang dan bank Belanda serta losmen (tempat penginapan bagi para saudagar). Pada masa peralihan Belanda ke RI, bangunan bank dan kantor dagang Belanda tersebut berubah menjadi BRI dan Bank Bumi Daya (sekarang Bank Mandiri). Satu lagi bangunan yang secara evolutif tumbuh adalah bangunan Masjid Raya lama yang berada di samping Pajak Batu. Inisiatif dan keberadaan pembangunan masjid ini tipikal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pusat perdagangan. Pada tahun 1960-an mesjid Raya Baru mulai dibangun untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin besar jumlahnya.

Sentral Losmen, Padang Sidempuan (2000-an)
Sedangkan losmen satu-satunya yang ada waktu itu adalah Sentral Losmen. Lokasi losmen ini berada di utara Pos Kota ke arah barat menuju Kweekschool Padang Sidempuan (yang dikenal sebagai jalan Merdeka). Antara bank/losmen ini dengan lokasi Kweekschool tersebut merupakan perkampungan lama Kota Padang Sidempuan yang dimasa lalu area ini disebut sebagai padang na dimpu (Kampung Bukit sekarang). Pada jalur sepanjang jalan Merdeka ini tumbuh toko-toko yang umumnya dimiliki oleh warga Tionghoa. Sementara jalur sepanjang bank (jalan Sudirman sekarang) ke arah arah selatan adalah perumahan Belanda, sedangkan ke arah utara (antara Kampung Bukit dengan Kampung Selamat/Kampung Salak) di beberapa titik muncul rumah-rumah elit penduduk asli dan para saudagar besar yang bermukim di Padang Sidempuan. 

RSUD Padang Sidempuan (2000-an)
Selanjutnya pada fase perkembangan berikutnya pemerintahan Belanda membangun pusat kesehatan untuk warga Belanda dan para saudagar yang lokasinya berada tidak jauh dari perkampungan lama di selatan kota (Kampung Kantin). Pusat kesehatan ini dikemudian hari diambil alih pemerintah RI dan diperluas menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Daerah. Adanya pusat kesehatan ini, membuka ruang pemukiman di sekitar antara jalur baru--jalan yang menghubungkan belakang pasar (Pajak Batu) yang dikenal sebagai jalan Tamrin yang lokasinya di belakang markas militer/kodim yang selanjutnya terhubung dengan pusat kesehatan/RSUD. Sepanjang jalan Tamrin (hulu) tumbuh toko-toko dan gudang-gudang hasil bumi dan sepanjang jalan ke arah (dekat) pusat kesehatan Belanda (RSUD) tumbuh rumah-rumah elit penduduk asli, para saudagar dan perumahan bagi dokter yang bertugas di pusat kesehatan Belanda/RSUD. Area antara Kampung Kantin dengan pusat kesehatan Belanda/RSUD ini tumbuh perkampungan penduduk. Area yang menjadi Kampung Kantin ini umumnya adalah perkampungan penduduk yang umumnya sebagai warga pendatang dari daerah Sipirok / Mandailing (proses urbanisasi).

Batang Ayumi di Kantin (dari arah jembatan Siborang)
Jauh sebelum perkampungan Kantin (area yang juga di sebelah hilir jembatan Siborang) ini berkembang, area ini dulu adalah lokasi tempat/terminal 'padati' (pedati). Waktu itu 'padati' adalah alat pengangkutan utama hasil bumi dan barang untuk jalur ke utara (Sipirok) dan jalur ke selatan (Mandailing). Bahkan pada jaman Jepang area ini digunakan kembali sebagai terminal 'padati' untuk menggantikan kekosongan alat transportasi bus (waktu jaman Belanda, PO Sibualbuali adalah rajanya lintas jarak jauh di wilayah Tapanuli Bagian Selatan). Para awak 'padati' ini sambil menunggu bongkar muat hasil bumi/barang, para awak padati ini beristirahat (memasak) dan memandikan/memberi minum kerbaunya di Sungai Batang Ayumi. Sementara itu 'padati-padati' yang lalu lalang antara pasar Padang Sidempuan dengan daerah barat pasar (Hutaimbaru/Siharangkarang dan daerah 'parsalakan') mengambil tempat di sebelah utara Mesjid Raya lama dan seberang Sentral Losmen (sepanjang Jalan Merdeka).
P.O. Sibualbuali (1970-an)

Pada fase pasca kemerdekaan, pemerintah RI membangun jalan/jembatan Sitamiang yang menghubungkan area Sitamiang dengan Kampung Bukit (jalan Sudirman) melalui areal persawahan yang kini menjadi Kampung Marancar. Dengan dibangunnya jembatan ini, lalu lintas Sipirok ke arah pasar Padang Sidempuan atau Sibolga tidak hanya via jembatan Siborang saja lagi. Dalam perkembangannya, area antara jalan baru via jembatan Sitamiang ini dengan Sungai Batang Ayumi tumbuh perkampungan baru (proses urbanisasi) sebagai akibat padatnya penduduk di Kampung Bukit yang pada masa ini dikenal sebagai perkampungan penduduk yang disebut Kampung Rambin (seiring dengan pembuatan jembatan gantung (rambin) yang menghubungkan Kampung Bukit dengan Kampung Sitamiang Jae. Pada fase berikutnya dibangun rambin dari arah pasar melalui jalan Sudirman (samping kantor pengadilan sekarang) menuju area Siborang Julu. Satu lagi rambin yang dibangun waktu itu adalah antara Kampung Sipirok/Aek Tampang dengan Jalan Kenanga yang dimaksudkan untuk meningkatkan akses menuju pusat kesehatan/RSUD.
Jalan di depan Bioskop Angkola/Horas 1936-1939 (foto:KTILV.NL)
Dampak lain dari dibangunnya jembatan Sitamiang adalah arah perkembangan kota semakin terbuka ke arah Sihoringkoring dan Kampung Pangkal Dolok. Sebagaimana jauh sebelumnya jalan poros Kota Padang Sidempuan hanya ada dua yakni jalan Merdeka dan jalan Sudirman (lihat Sketsa). Antara dua jalan ini terbentuk empat jalan penghubung yakni: jalan bioskop Horas, jalan Sitombol (Bank), jalan Sutomo (Pabrik Es) dan jalan Ahmad Yani (PU). Jalan Ahmad Yani ini pada waktu itu adalah batas kota. Sedangkan terusan jalan Ahmad Yani (atau pertemuan Jalan Sudirman dengan Jalan Ahmad Yani) ini pada awalnya sudah lama terbentuk jalan kampung (jalan tanah dan ditingkatkan menjadi jalan batu setelah kemerdekaan) yang menuju Kampung Pangkal Dolok melalui Kampung Tobu, Kampung Baru/Kampung Batang Ayumi, Kampung Tobat, Kampung Tanobato. 

Pada perkembangan berikutnya (masa pemberontakan?) dibangun asrama Brimob dan gudang peluru di area Sitataring yang jalannya garis lurus dari Jalan Ahmad Yani (Kantor PU). Dengan adanya jalan lintas penghubung Sitamiang (jembatan Sitamiang) dan Kampung Bukit dan jalan asrama Brimob maka dalam perkembangannya antara dua 'jalan baru' ini dibangun dua jalan penghubung yakni jalan MT. Haryono (ke arah Sitamiang dan menjadi ujung Jalan Ahmad Yani) dan jalan S.Parman (ke arah Rambin) sehubungan dengan berdirinya Masjid Taqwa dan seiring dengan tumbuhnya pemukiman di areal persawahan yang kini bernama Kampung Marancar. Dalam perkembangan Kampung Marancar ini sebagai daerah hunian baru sudah sejak lama di arah dekat jembatan Sitamiang terdapat perkampungan penduduk yang dikenal sebagai Kampung Malayu.
Stadion Naposo Padang Sidempuan

Pada bagian lain Kota Padang Sidempuan, dibangun stadion sepakbola dengan nama Stadion Naposo untuk menggantikan lapangan sepakbola di dekat SMPN-2 sekarang. Dalam fase ini sebenarnya sudah lebih dahulu ada makam taman pahlawan (TMP). Pada fase ini dengan sendirinya terbentuk jalan lingkar dari (pusat) pasar ke Stadion Naposo melalui Kampung Teleng, Kampung Jawa dan TMP (jalan Melati). Dalam perkembangannya, jalan lingkar kota ini tersambung sepenuhnya, sehubungan dengan adanya rencana untuk meningkatkan akses ke stadion ini dari arah Silandit dan Padang Matinggi. Jalan dari arah Silandit ini dibuat dengan membangun jembatan baru (dekat Virgo) langsung menuju Stadion Naposo. Pembangunan jalan lingkar ini (sebagai jalan baru) maka jalan terusan jalan Kenanga ditingkatkan dan terhubung dengan jalan lingkar hingga dikemudian hari pada ujung jalan Kenanga (sisi jalan lingkar) ini dibangun Kantor Bupati menggantikan Kantor Bupati Lama (kantor Walikota sekarang).

Selanjutnya di sudut lain kota direncanakan dan terbentuk area yang menjadi klaster pendidikan di Siadabuan (sekarang menjadi Sadabuan). Klaster pendidikan Siadabuan ini seakan menggantikan klaster pendidikan sebelumnya di area Kweekschool  yakni antara jalan Merdeka dengan jalan Tonga (Ahmad Dahlan) dan antara jalan Sutomo dengan jalan Ahmad Yani. Sekolah-sekolah yang sudah ada waktu itu di area ini adalah SMAN-1, SMAN-2, SPG, PGSLP, SMPN-3, SDN-2, SDN-10, SDN-14, SDN-16, SDN-23. Kemudian ada juga IKIP Cabang Medan dan di masa lalu ex HIS (yang kemudian di tahun 1980-an pernah menjadi Perpustakaan Umum Daerah. Juga, masih di seputar area ini sudah sejak lama berdiri lembaga-lembaga pendidikan seperti Sekolah Ibtidaiyah (jalan Sutomo), Sekolah Taman Siswa (jalan Sudirman) dan Sekolah Muhammadiyah (jalan Merdeka / Sigiringgiring).

Siadabuan sendiri pada awalnya adalah sebuah areal kosong yang di kemudian hari terbentuk perkampungan baru sebagai perkembangan lebih lanjut dari perluasan Kampung Sigiringgiring (Kayu Ombun). Jauh sebelumnya, area di sebelah utara Kampung Salak/Kampung Sigiringgiring (sisi sebelah barat jalan ke Hutaimbaru) sudah lama ada penduduknya yang perkampungannya dikenal sebagai Kampung Panyanggar. Sementara di sisi timur jalan adalah Kampung Pangkal Dolok dan Kampung Tano Bato. Selanjutnyam antara perkampungan baru Siadabuan dengan Hutaimbaru sudah lama terbentuk perkampungan penduduk yang dikenal sebagai Kampung Losung Batu. Di area Unte Manis (wilayah Kampung Losung Batu) ini sudah lama dibangun fasilitas kesehatan untuk militer sebelum daerah Siadabuan berkembang. Pembangunan fasilitas kesehatan Unte Manis ini  kira-kira seumur dengan pembangunan asrama Brimob / gudang peluru di wilayah Sitataring.

Komplek Pendidikan Sadabuan, Padag Sidempuan
Area klaster pendidikan Siadabuan ini cepat berkembang, lebih-lebih setelah dibangunnya sekolah-sekolah SMEP/SMEA, ST/STM dan SMPN-4. Keutamaan daerah ini semakin terasa karena di area ini juga telah dibangun perumahan dosen (IKIP-Cabang Medan). Area klaster pendidikan yang dulunya adalah areal persawahan, sekitar akhir tahun 1970-an mulai dibuka/dibangun jalan (dan jembatan) penghubung--sebagai jalan lingkar baru--yang menghubungkan areal klaster pendidikan Siadabuan dengan asrama Brimob/gudang peluru di wilayah Sitataring. 


Jalan baru (lingkar) ini jalurnya berada diantara Kampung Pangkal Dolok dan Kampung Tanobato. Dalam perkembangan selanjutnya ruas jalan lingkar Siadabuan-Sitataring ini memungkinkan jalan lama Kampung Tobu-Kampung Tanobato semakin ditingkatkan. Akses Tanobato ke Pangkal Dolok yang dulunya melalui jalan sungai (melintasi Aek Sipogas) dialihkan melalui areal persawahan dengan pembangunan jalan baru langsung menuju jalan lingkar Siadabuan-Sitataring. Pada masa ini jalan yang dulu sering disebut jalan Tanobato ini merupakan jalan alternatif dari arah pasar menuju komplek pendidikan Sadabuan.

Perubahan Sosial di Padang Sidempuan:  Urbanisasi dan Migrasi

Tidak lama setelah usai perang paderi--dalam fase perang dingin--sekitar 1850-an jalur ekonomi Panyabungan Natal dibuka. Arus perdagangan dari Mandailing ke Pelabuhan Natal berkembang pesat. Di huta Tanobato tahun 1862 didirikan sekolah guru (Kweekschool) yang dikelola Willem Iskandar. Murid-muridnya selain penduduk Mandailing/Natal juga berasal dari semua penjuru utamanya Angkola/Sipirok dan Padang Bolak/Padang Lawas. Alumni sekolah ini menjadi agen perubahan khususnya di Padang Sidempuan yang menjadi pemimpin lokal, guru dan bahkan pengarang. Sebagian mereka (alumni) inilah yang menjadi guru-guru pendidikan 'ala barat' di sekolah-sekolah rakyat di Padang Sidempuan.

Pada tahun 1874 Kweekschool Tanobato ditutup, alasan utamanya karena akan dibangun sekolah guru yang lebih baik di Padang Sidempuan yang juga menjadi pusat studi dari kebudayaan daerah. Kweekschool Padang Sidempuan ini akhirnya direalisasikan pada tahun 1874. Sekolah guru ini mewisuda muridnya yang pertama tahun 1884. Kweekschool Padang Sidempuan ini kemudian ditingkatkan mutu bangunannya yang dikemudian hari menjadi bagian dari gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan sekarang. Salah satu guru yang terkenal di Kweekschool Padang Sidempuan adalah Charles Adriaan van Ophuysen (1882-1890). Guru Belanda ini menjadi direktur sekolah guru Kweekschool Padang Sidempuan (1885-1890). van Ophuysen ini kelak menjadi ahli Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Seorang alumni Kweekschool Padang Sidempuan, Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada, yang lahir di Batunadua pada tahun 1874, kemudian menjadi asisten van Ophuysen dalam mata kuliah Bahasa Melayu di Universiteit Leiden. Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada, adalah penggagas Indische Vereeniging tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden. Organisasi ini menjadi cikal bakal Perhimpoenan Indonesia di Eropa.


Kweekschool Padang Sidempuan (kini menjadi SMAN-1)
Kweekschool Padang Sidempuan berkembang pesat dan menghasilkan alumni yang banyak, sebagian sebagai guru dan sebagian yang lain menjadi pengarang, wartawan, pemimpin dan karyawan perusahaan perkebunan, pegawai pemerintahan Belanda. Pada masa ini Padang Sidempuan adalah sebuah kota kecil yang cepat berubah dan tumbuh menjadi pusat perdagangan yang strategis karena kota kecil ini menjadi simpul ekonomi di daerah Tapanuli Bagian Selatan untuk dua pelabuhan di Natal dan Sibolga.

Guru-guru tamatan Kweekschool Padang Sidempuan mulai membangun sekolah-sekolah rakyat buat penduduk kota. Kebutuhan sekolah atau ruang kelas yang lebih banyak karena Padang Sidempuan sudah mulai menjadi tujuan migrasi sehingga proses urbanisasi juga semakin terasa. Sementara itu, bagi penduduk Padang Sidempuan yang sudah lama ‘terpelajar’ karena pendidikan mulai marak untuk melakukan migrasi ke Deli (Medan) untuk menjadi pegawai-pegawai perkebunan. Sekolah-sekolah rakyat ini dikemudian hari menjadi sekolah desa (yang kemudian sekolah dasar negeri) di tahun 1907 di berbagai titik di dalam kota. Pada tahun 1920 Belanda mendirikan HIS (Hollanddsch Inlandscha School) sekolah ala Belanda di Padang Sidempuan yang diperuntukkan bagi anak-anak ambtenaar, pegawai, serdadu KNIL, anak-anak raja dan anak pedagang dengan dikutip biaya sekolah yang cukup tinggi. Bahasa pengantar dalam sekolah ini adalah Bahasa Belanda. Sekalipun demikian, guru-gurunya adalah orang Indonesia dengan kepala sekolah seorang Belanda. Lokasi sekolah elit ini berada di jalan Ahmad Dahlan (jalan Tonga) yang lokasinya antara jalan Merdeka dengan jalan Sudirman. Pada tahun 1970-an, ex gedung elit ini digunakan sebagai perpustakaan Willem Iskandar (perpustakaan Pemda Tapanuli Selatan). 

Sementara penduduk Padang Sidempuan yang sudah lama melek huruf, pada tahun 1914 tidak lama setelah Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada kembali dari negeri Belanda, beliau menerbitkan sebuah surat kabar berbahasa Batak di Padang Sidempuan dengan nama 'Poestaha'. Kehadiran surat kabar ini mendapat respon dari masyarakat luas bahkan dari semua lapisan. Selanjutnya estapet Poestaha ini dilanjutkan oleh Parada Harahap yang kembali dari perantauan (Medan) menjadi pemimpin redaksi. Di tangan Parada Harahap, koran 'Poestaha' ini semakin diminati karena isinya menambah wawasan masyarakat terpelajar (yang sudah lama terbiasa baca/tulis) juga diminati karena isinya mengandung provokasi tentang keberadaan bangsa Belanda di Padang Sidempuan dan sekitarnya. Pihak Belanda menganggap surat kabar 'Poestaha' yang digawangi Parada Harahap ini selalu menyulitkan pemerintahan Belanda di Padang Sidempuan. Karena itu, Parada Harahap kerap ditahan dan dikurung di dalam penjara Padang Sidempuan. Setelah memiliki kader di Padang Sidempuan, pada tahun 1922, Parada Harahap pindah ke Jakarta dan menerbitkan mingguan Bintang Hindia, Bintang Timur dan Sinar Pasundan. Lihat: Surat Kabar di Padang Sidempuan ‘Tempo Doeloe’ dan Lahirnya Tokoh-Tokoh Pers Nasional dari Tapanuli Bagian Selatan

***

Berakhirnya pemerintahan Belanda di Indonesia seiring dengan pendudukan Jepang, berbagai macam sekolah yang ada di Padang Sidempuan, diseragamkan dengan membentuk konsep sekolah dasar 6 tahun yang disebut Sekolah Rendah  (SR). Sekolah-sekolah rendah ini bahasa pengantarnya Bahasa Indonesia tetapi dalam kurikulumnya diajarkan bahasa Jepang. Setelah Indonesia merdeka Sekolah Rakyat diambil alih pemerintah Indonesia. Namun pada masa permulaan kemerdekaan suasana tidak menentu dan banyak sekolah rakyat ditutup sampai akhirnya adanya pengakuan kedaulatan NKRI tahun 1950 yang selanjutnya bentuk-bentuk sekolah dasar menjadi satu kembali di bawah naungan Dinas P dan K Sumatera Utara.

Selanjutnya, pembentukan sekolah dasar dan distribusinya mengikuti perkembangan kota, lebih spesifik mengikuti densitas penduduk kota dan arah perkembangan kota selanjutnya. Pembentukan SDN-1 di Kantin dan SDN-2 di jalan Sutomo untuk area Kampung Bukit menunjukkan lokasi sekolah yang satu di selatan pusat kota dan yang lain di utara kota. Di area Kampung Marancar dibangun SDN-3 untuk memenuhi kebutuhan Sitamiang, Rambin dan sekitarnya. Kemudian SDN-4 di area Jalan Kenanga dan SDN-5 di area Siborang dan SDN-6 di area Aek Tampang. Ternyata pada tahap berikutnya, area di seputar Kampung Marancar daya tampung sekolah tidak lagi mencukupi sehingga dibangun SDN-7 yang mengambil lokasi pada sisi SDN-3. Demikian juga area Kampung Bukit memerlukan tambahan ruang kelas dengan dibangunnya SDN-10 yang mengambil lokasi di belakang SDN-2. Pada waktu berikutnya kebutuhan ruang kelas semakin meningkat dengan dibangunnya SDN-11, SDN-12 dan SDN-13 sekitar SD yang sebelumnya sudah dibangun. Semua sekolah dasar itu dibangun tidak jauh dari pusat kota. Pada periode berikutnya dibangun lagi SDN-14 dan SDN-16 di utara kota tepatnya di jalan Tonga (jalan yang berada antara dua jalan poros Merdeka dan Sudirman). Di selatan kota dibangun lagi SDN-15, SDN-17. Selanjutnya untuk mempermudah akses menuju sekolah-sekolah dasar dan perlunya distribusi sekolah dasar ke arah pinggir kota dibangun beberapa sekolah dasar sebagaimana halnya di Tanobato (SDN-20), Bakaran Batu, Jalan Melati, Aek Tampang, Silandit, Kayu Ombun, Panyanggar dan Sadabuan.

Dalam masa pendudukan Jepang, di Padang Sidempuan dibentuk sekolah menengah yang lokasinya merupakan gedung SMP Negeri 1 Padang Sidempuan yang sekarang. Untuk memenuhi kebutuhan guru-guru SMP dengan semakin meningkatnya jumlah lulusan sekolah dasar di Padang Sidempuan. maka sekolah guru Kweekschool Padang Sidempuan ditingkatkan menjadi Sekolah Guru B (Bawah) dan Sekolah Guru A (Atas). Kebutuhan ruang kelas SMP semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga dibangun smp baru yaitu SMPN-2. Kedua SMPN ini berada di selatan kota. Dalam perkembangannya SGA diubah menjadi SPG sedangkan SGB menjadi SMP. 

Dalam periode yang kurang lebih sama pada tahun 1953 dibentuk SMA di Padang Sidempuan. Lokasi SMA yang dibangun tersebut mengambil sebagian gedung Kweekschool Padang Sidempuan (yang menghadap jalan Merdeka) yang kini menjadi SMA Negeri 1 Padang Sidempuan. Sementara gedung SGA dan SGB yang menghadap jalan Ahmad Dahlan tetap dipergunakan oleh SGA dn SGB tersebut. Pada periode selanjutnya, status SGA diubah menjadi SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan SGB menjadi SMP yang lokasinya menjadi SMPN-3 yang sekarang. Pembentukan SMPN-3 dan penambahan jumlah smp di Padang Sidempuan dengan sendirinya telah mempermudah akses bagi lulusan sekolah dasar yang berada di utara pusat kota. Kebutuhan ruang smp semakin meningkat sehingga pada perkembangan berikutnya di bangun SMPN-4 di area Siadabuan. 

Setelah beberapa tahun didirikan sekolah kejuruan di Padang Sidempuan yakni SMKK di jalan Sudirman, ST dan STM serta SMEP dan SMEA mengambil lokasi di Siadabuan (Sadabuan). Satu lagi sekolah kejuruan dibangun SGO yang mengambil lokasi di area Stadion Naposo.Dalam perkembangan lebih lanjut dan adanya program peningkatan mutu guru-guru sekolah menengah dua perguruan tinggi diselenggarakan di Padang Sidempuan yakni: IKIP Medan Cabang Padang Sidempuan dan IAIN Sumatera Utara Cabang Padang Sidempuan. Setelah era pembangunan pendidikan guru (IKIP dan IAIN) pada awal tahun 1980-an para stakeholder pendidikan di perantauan dan pemerintah lokal mengagas dan merealisasikan pembentukan Universitas di Padang Sidempuan. Lihat Universitas Graha Nusantara (UGN) Padang Sidempuan: ‘Rumah Pendidikan’ Bagi Anak Negeri di Tapanuli Bagian Selatan

Era Baru Perkembangan Kota

Padang Sidempuan sebagai ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, penyelenggaraannya diserahkan kepada walikota administratif Kota Padang Sidempuan pada tahun 1981 dan kemudian menjadi kota otonom (memiliki DPRD) pada tahun 2001. Perubahan yang mendasar atas peningkatan status Kota (administratif) Padang Sidempuan sebagai ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi Kota Padang Sidempuan yang otonom adalah perubahan luas wilayah administratif, penambahan jumlah kecamatan, penambahan jumlah desa dan perubahan desa menjadi kelurahan. Populasi penduduk yang semakin banyak dengan tingkat pertumbuhan yang pesat, seharusnya dinamika sosial ekonomi yang terjadi direncanakan dengan pemanfatan tata ruang kota agar pada nantinya diharapkan terjadi sinkronisasi dan terbentuk tata ruang kota yang ideal dan kondusif dalam menuju kota besar..

Peta Topografi Wilayah Padang Sidempuan
Perencanaan tata ruang kota ke depan jelas memerlukan penataan baru. Dalam era pembangunan kota yang sekarang memang sudah mulai tata ruang dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan dampaknya di masa yang akan datang tidak menimbulkan permasalahan (sebagaimana umumnya kota lain di di Indonesia). Penataan ruang ini kedalam akan mengoptimalkan fungsi lalu lintas dan pergerakan arus barang dan orang. Sebab relokasi dan pembebasan lahan nantinya bukanlah cara yang mudah untuk dilakukan. Sementara penataan ruang keluar harus memungkinkan terjadinya sinergi antara berbagai sektor pembangunan di dalam kota dengan pembentukan pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih dinamis yang mampu mengikat berbagai pusat-pusat pertumbuhan di berbagai kabupaten di wilayah Tapanuli Bagian Selatan.
Subset 'Topografi Wilayah Padang Sidempuan'

Kota Padang Sidempuan sebagai sebuah lembah yang berbentuk cekungan yang hanya memiliki tiga pintu exit/entry maka untuk menjaga terciptanya optimalisasi tata ruang dalam kota maka fungsi pembuatan jalan lingkar kota menjadi solusi. Fungsi jalan lingkar ini diharapkan tidak hanya mendorong mencairnya pemukiman padat dan terdistrubusi ke seluruh penjuru kota, tetapi juga memberi jalan dan kelancaran lalu lintas barang dan orang yang melalui Kota Padang Sidempuan yang berasal dari lintas antar kabupaten di Tapanuli Bagian Selatan dan juga lintas antar provinsi. Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan kota, ke depan, jalan lingkar yang dulu sudah digagas (ruas jalan stadion dan ruas jalan Sadabuan-Sitataring) menjadi tidak efektif lagi. Jalan lingkar luar pada saatnya nanti dapat dihubungkan dengan trayek bis kota, yang tidak mungkin relevan lagi dengan angkutan beca. Lihat Sejarah 'Beca Vespa' Padang Sidempuan: Suatu Inovasi Sosial Ekonomi Alat Transportasi

Sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, Kota Padang Sidempuan juga mengalami perubahan tata ruang kota. Kota Padang Sidempuan yang dulunya hanya terdiri dari dua jalan poros (jalan Sudirman dan jalan Merdeka), yang dari situ perkembangan kota dimulai, maka  ke depan jalan lingkar kota harus lebih diperluas lagi dan dioptimalkan dalam menuju Kota Besar Padang Sidempuan. Namun pemanfaatan jalan lingkar yang dimaksud tidak akan maksimal karena tiga jalur exit/entri ternyata hanya dua jalur yang kemungkinannya bisa direalisasikan yakni: jalan lingkar timur/utara-barat (Batunadua-Hutaimbaru) dan jalan lingkar timur/utara-selatan (Batunadua-Padang Matinggi). Jalan lingkar barat-selatan (Hutaimbaru-Padang Matinggi) tampaknya sulit untuk direalisasikan karena topografi yang sulit di sebelah barat Kota Padang Sidempuan. Alternatif pembangunan jalan layang di kemudian hari akan tetap menjadi beban yang tidak terpecahkan untuk kota dengan skala kota Padang Sidempuan. 

Sketsa Tata Ruang Kota Padang Sidempuan
Situasi dan kondisi permasalahan serupa ini, jelas tidak ada pilihan dan hanya dimungkinkan memaksimalkan dua ruas jalan lingkar kota yang ada yang sudah mulai dirintis dalam beberapa tahun terakhir ini. Jalan lingkar ruas Batunadua-Padang Matinggi memang sudah sejak lama difungsikan, tetapi dalam kenyataannya implementasinya belum terlihat maksimal. Sementara jalan lingkar ruas Batunadua-Hutaimbaru belum sepenuhnya terlaksana. Untuk sementara, dalam jangka pendek jalan lingkar Batunadua-Hutaimbaru via Sitataring harus segera dapat dimaksimalkan. Akhir-akhir ini sudah mulai dirintis pembukaan jalan baru Sihoring-Koring yang dapat menghubungkan Batunadua dengan Hutaimbaru. Pembangunan jalan dan jembatan ini sangat penting karena selain dapat mengurangi beban ruang kota yang mulai tampak padat, juga untuk membuka ruang baru untuk pemukiman penduduk.
Alaman Bolak, cikal bakal kota besar (latar Tor Simarsayang)

Untuk jalan lingkar jangka panjang (Batunadua-Hutaimbaru) via Siharangkarang kiranya perlu segera digagas / direncanakan terutama kaitannya dengan tata kelola ruang kota untuk menuju kota masa depan. Jika dan hanya jika aspirasi pembentukan Provinsi ‘Tabagsel’ terwujud dan Kota Padang Sidempuan dijadikan sebagai ibukota, maka Kota Padang Sidempuan pada masa ini yang terletak di sebuah lembah haruslah dipandang hanya sebagai ‘kampung besar’ di masa nanti. Lanskap Kota Padang Sidempuan di masa yang akan datang, sudah tentu memerlukan rekonstruksi ulang tata ruang kota agar pada waktunya nanti memungkinkan terbentuk suatu tata ruang sebuah kota besar yang ideal.  Beberapa perbukitan, seperti tor Simarsayang di Sihoringkoring (506 M), dolok Si Hurang Na Tolu di Bakaran Batu (531 M) dan dolok Barangan di Silayanglayang (440 M) suatu saat nanti akan menjadi bagian dalam lanskap Kota 'Besar' Padang Sidempuan, suatu perbukitan tempat hunian elit penduduk kota, bagaikan Baverly Hill di tengah metropolitan Los Angeles, California.

Perencanaan jalan lingkar luar Kota Padang Sidempuan ini tidak mudah, tetapi harus sejak awal ditetapkan sebagai visi misi tata ruang kota dan diimplementasikan sedikit demi sedikit dengan cermat. Sebagai kilas balik, membangun benteng Padang Sidempuan di masa ‘doeloe’ tidak begitu sulit karena tata ruangnya secara alamiah sudah tersedia (memungkinkan), tetapi merencanakan tata ruang pembangunan Kota Padang Sidempuan di masa yang akan datang sungguh sulit karena alam Kota Padang Sidempuan memiliki keterbatasan. Merencanakan lebih dini, berarti merencanakan tata ruang yang ideal pada masa datang. Lembah Padang Sidempuan yang di masa lalu (doeloe) sangat luas buat sebuah kota kecil (benteng Padang Sidempuan), tetapi lembah ini menjadi sangat kecil untuk sebuah kota besar (metropolitan) di masa yang akan datang. [Isi tulisan ini hanya didasarkan pada pengetahuan penulis semata, pembaca masih membutuhkan penelitian yang lebih intensif lagi]. 

*Thanks to almarhum.ayah saya yang telah memberi inspirasi dalam menulis esai ini. Beliau wafat usia 84 tahun.

Foto: dari berbagai sumber di internet, al.:
http://www.muaratais.com
http://www.apakabarsidimpuan.com
Koleksi fota Basyral Hamidy Harahap


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Terima kasih pak,saya jadi punya wawasan sejarah tentang P.Sidempuan