27/08/16

Sejarah Tapanuli (Bag-7): Saat Kedatangan Nommensen di Tanah Batak, Ini Faktanya!



Kata pengantar buku Gustav van Asselet (Koning Salomon en Radja Gading). Utrecht, 31 Maart 1900. Heden 39 jaren, dat ik de twee eerste Ratta's doopte (Hari ini, 39 tahun yang lalu, saya baptis dua yang pertama orang Batak)

Kapan Nommensen tiba di Tanah Batak tentu sangatah menarik namun data dan informasi kedatangannya ke Tapanoeli terbilang minim. Nommensen sebagai penginjil terkenal di Tanah Batak, seharusnya sejarah tentang dirinya harus ditulis dengan baik dan benar (apa adanya). Nommensen datang ke Tanah Batak tentu tidaklah sendiri.

Beberapa tahun sebelum kedatangan Nommensen, misionaris yang sudah ada di Tanah Batak adalah Gustav van Asselt yang disusul Betz dan kemudian datang dua misionaris Jerman, Heine dan Klammer. Gustav van Asselt adalah pejabat Belanda yang merangkap misionaris di Sipirok. Gustav van Asselt telah memulai misi sejak tahun 1858. Tantangan yang dihadapi keempat misionaris ini begitu besar keika mereka memulai, namun justru itu yang member jalan mudah bagi Nommensen di Tanah Batak.

Bataviaasch handelsblad, 09-03-1861: ‘pada tanggal 14 Februari terjadi gempa besar di Sipirok yang menyebabkan rumah dan bangunan yang seluruhnya runtuh dan tidak satupun yang layak huni...setelah pagi saya dan orang Eropa lainnya meninjau desa-desa lainnya, sama saja dengan yang kami alami—sangat mengerikan dan penduduk tampak shock. Penduduk sudah mengungsi ke sawah ladang mereka, saya menulis surat ini di halaman di atas sebuah meja…semoga surat ini dapat segera dimuat dan harapan ada yang dapat membantu selimut’

Tatkala Nommensen entah dimana, Klammer dan Heinze, dua misionaris Jerman telah meninjau ke Silindoeng. Pada tanggal 18 September Oktober 1861 kedua misionaris Jerman tersebut kembali ke Sipirok.

Padangsch nieuws-en advertentie-blad, 19-10-1861: ‘bahwa 18 September para misionaris, Heine, Klammer dan Echtgenoote meninggalkan Silindoeng dan tiba di Sipirok’ 

Pada tanggal 7 Oktober 1861 antara misionaris Belanda dan Jerman melakukan pertemuan di Parau Sorat. Salah satu keputusan yang diambil adalah pembagian wilayah misi dan pendirian sekolah. Heine (Silindoeng); Klammer (Sipirok); Betz (Boenga Bandar) dan van Asselt (Pahae). Sekolah didirikan di Parau Sorat.

Dalam kalender HKBP, tanggal 7 Oktober 1861 dijadikan sebagai hari jadi Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKPB).

Nommensen

Nieuw Amsterdamsch, 24-12-1861
Sementara itu Nomensen dikabarkan telah tiba di Padang pada tanggal 24 Desember 1861. Nommensen telah melakukan pelayaran selama 142 hari dari Amsterdam. Nommensen dengan kapal Pertinax tiba di Padang (lihat Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 24-12-1861). Setelah beberapa lama di Padang, Nommensen melanjutkan perjalanan ke Sibolga. Dalam perjalanan ini Nommensen sekapal dan menemani tunangan Gustav van Asselt. Mereka berangkat tanggal 16 Mei 1862 dari Padang.

Pada tanggal 22 Juni 1862, Gustav van Asselt yang ditemani Heine yang dipandu dua Batak (Simon Petrus dan Johannes Siregar) sedang dalam perjalanan dari Sipirok menuju Sibolga untuk menemui tunangannya. Setelah tiba di Sibolga van Asselt menjemput tunangannya di atas kapal yang dibantu oleh beberapa pejabat di Sibolga.

Anak-anak baptis G van Asselt di Sipirok
Simon Petrus adalah Petrus Nasution. Selain Petrus Nasution dan Johannes Siregar, satu lagi yang menjadi andalan Gustav van Asselt di Sipirok adalah Markus Siregar. Dua orang Batak pertama yang dibaptis (oleh van Asselt) adalah pemandu van Asselt ke Sibolga untuk menemui tunangannya dan mendapinginya dalam pernikahan.

Setelah empat minggu di Sibolga van Asselt dengan tunangannya menikah pada tanggal 28 Juli 1862. Setelah melakukan pernikahan di Sibolga, van Asselt akan membawanya ke Sipirok tetapi sempat kebingungan bagaimana caranya membawa sang istri melalui lembah yang curam, bukit yang terjal, arus deras sungai Batangtoroe serta jalan setapak yang sempit.

Gustav van Asselt membawa istrinya dengan menyiapkan sebuah kotak yang diusung oleh 12 orang secara bergantian ditambah beberapa kuli pengangkut bagasi. Dalam perjalanan yang memakan waktu beberapa hari, istri van Asselt pernah pingsan. Rombongan akhirnya tiba di Pangaloan. Gustav van Asselt di dalam perjalanan ini juga mengalami kecelakaan dan harus beristirahat di Pangaloan. Heine kembali ke Sigompoelon. Setelah sembuh dan lebih kuat, Gustav van Asselt dan istri berangkat ke Sipirok.

Dalam perjalanan pengantin baru ke Sipirok, tidak ada Nommensen. Dari Sibolga Nommensen melanjutkan perjalanan ke Barus. Namum pemerintah di Baros tidak mengizinkan Nommensen ke Tanah Batak di Silindoeng. Para pejabat di Barus tampaknya tidak mengetahui persis apa yang sudah dilakukan para misionaris lainnya di pedalaman Tanah Batak. Lalu Nommensen berangkat ke Sipirok.

Ibukota onderafdeeling Angkola adalah Padang Sidempoean. Pejabat tertinggi Belanda di Angkola adalah controleur berkedudukan di Padang Sidempoean. Sejak tahun 1858 G. van Asselt diangkat sebagai pakhuismeeter (pegawai perdagangan kopi) di Sipirok (lihat Almanak Pemerintah Belanda, 1858). Namun dalam perkembangannya van Asselt lebih dikenal sebagai seorang misionaris (daripada petuga pemerintah).

De Sumatra post, 06-10-1936
Pada akhir Desember tahun 1862, Nommensen menuju Sipirok di Parau Sorat. Nommensen melanjutkan perjalanan ke Baros setelah tiba di Sibolga (bertemu van Asselt). Namun pejabat Belanda di Baros melarang melakukan perjalanan lebih jauh karena dianggap tidak aman. Inilah sebabnya Nommensen mengalihkan perjalanan ke Angkola di Sipirok. Saat kedatangan Nommensen di Tanah Batak di Sipirok, kegiatan misi sesungguhnya sudah sangat meluas (hingga ke Silindoeng). Nommensen awalnya bertugas sebagai guru di Parau Sorat.

Pada tahun 1864 Nommensen pindah ke Silindoeng dan membuka stasion di Hoeta Dame (namun Nommensen masih datang secara berkala untuk mengajar di Parau Sorat). Dari stasion Hoeta Dame sinilah Nommensen mengembangkan misi di seluruh Silindoeng dan ke Toba. Sementara itu di tahun yang sama, Klammer di Sipirok telah meresmikan gereja, sebuah gereja yang kali pertama dibangun di Tanah Batak.

Mesjid dan gereja di Sipirok (foto 1906)
Demikianlah sejarah awal kekristenan di Tanah Batak. Semoga bahan ini membantu dalam penulisan sejarah awal Kristen di Tanah Batak. Siapa ingin menulis sejarah baru, jangan lupa ada sejarah lama.

Bataviaasch handelsblad, 30-09-1867 (mempublikasikan surat dari pembaca): ‘bahwa di Sipirok tengah terjadi peningkatan pengaruh terhadap masing-masing umatnya baik di kalangan umat Islam maupun kalangan pengikut Kristiani. Kerja para misi semakin berat. Namun sejauh ini antar kedua belah pihak tidak sampai menimbulkan ketegangan justru kedamaian tetap terjaga’.

Rumah Zending di Sipirok (foto 1890)
Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 22-07-1868 (mempublikasikan laporan perjalanan seorang pembaca ke Sigompoelon, Silindoeng--dari arah perjalanan yang sebaliknya, yakni dari arah Sipirok yang dilakukan baru-baru ini, Juni 1868): ‘Kami mulai dari Sipirok dimana pertama kali G. van Asselt memulai misinya pada tahun 1858. Dalam perjalanan menuju Silindoeng ini kami ditemani oleh selusin penduduk asli Sipirok melalui Aek Latong, Buloe Pajung hingga ke Singkam. Kemudian dilanjutkan ke Simangoembang dan seterusnya. Empat misionaris sudah ada di daerah Bataklanden: Heijne di Si Goempoelon; Nommensen dan Johansen (Nadatdeze) di Silindoeng. Sangat menarik bahwa pertama kalinya di Silindong angka yang lebih besar yang menjadi pengikut Kristen dibandingkan dengan di Sipirok—di Bataklanden saat ini sudah berjumlah 450 orang. Jarak dari Sipirok ke Silindong dalam perkiraan saya sekitar 19 jam berjalan kaki atau kurang lebih 57 tiang. Pulangnya kami dari Hoeta Barat (Silindoeng) dan perjalanan diteruskan ke Siboga’.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama: Koning Salomo en Salomo en Radja Gading oleh G. van Asselt. Oude-Zendeling onder de Batta’s. Eerste Uitgave. Brussel. Evangelisatie-Drukkerij. 1900.

Tidak ada komentar: