12/08/16

Sejarah Kota Medan (34): Haji dan Idul Adha di Medan; Buku Panduan Haji Indonesia Disusun Pertama Kali oleh Dja Endar Moeda (1900)



Poster angkutan haji, 1935
Pada tahun 1935 di Medan mulai diakui hari-hari besar agama Islam (De Sumatra post, 06-03-1935) namun terdapat kekeliruan. Pengakuan ini dikaitkan dengan pemberian tanggal merah di dalam kalender. Dalam kalender pemerintah hanya disebut dua hari libur: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Maulud (kelahiran nabi). Tidak disebutkan Hari Raya Idul Adha (Idoel Koerban). Padahal Hari Raya Idul Adha (Hari Raya Besar/ Groote Peest) juga tidak kalah penting jika dibandingkan dengan Hari Raya Idul Fitri (Hari Raya Kecil/ Kleine Peest). Kekeliruan yang lain penyebutan Hari Raya Maulud sebagai Tahun Baru Pribumi (Het Inlandsch Nieuwjaar). Padahal Tahun Baru di dalam agama Islam merujuk pada tanggal satu Muharram (bulan pertama).

Sebelum tahun 1935 tidak pernah terdeteksi bahwa Hari Raya Idul Adha dirayakan di Medan. Yang sudah dirayakan adalah Hari Raya Idul Fitri. Adanya perayaan Hari Raya Hadji di Hindia Belanda dilaporkan kali pertama pada tahun 1887 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-08-1889). Namun secara spesifik tidak dijelaskan dimana perayaan itu dilaksanakan

De Sumatra post, 19-02-1937
Sejak tahun 1935 Hari Raya Idul Adha diperingati dengan melaksanakan sholat Idul Adha. Namun demikian, sholat Idul Adha tidak diadakan di Masjid Raya Al Mahsum sebagaimana sholat Idul Fitri pada tahun-tahun sebelumnya. Seperti yang terjadi pada tahun 1937, bagi kelompok Komite Islam (Comite Islam) sholat Idul Adha dilaksanakan di lapangan Jalan Balistraat, sedangkan untuk kelompok Muhammadiyah dilaksanakan di lapangan sepakbola OSVB (lihat De Sumatra post, 19-02-1937). Kelompok masyarakat Djamlatoel Waslijah diselenggarakan di masjid besar Al Mahsum di Jalan Istana.

Pelaksanaan sholat Idul Adha baru dilaksanakan pada tahun 1938. Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, edisi 10-03-1938 melaporkan sholat Idul Adha yang dilaksanakan oleh organisasi Djamlatoel Waslijah diselenggarakan di masjid Al Mahsum. Setelah shalat, siswa-siswa Djamlatoel Waslijah menggelar pawai di sekitar masjid Al Mahsum yang berakhir di istana Maimun (diterima oleh Sultan).

Pada tahun 1940 perayaan Hari Raya Idul Adha semakin menggema. Untuk menandakan Hari Raya Idul Adha dilakukan dengan tembakan meriam dari halaman istana Sultan. Tembakan meriam serupa ini telah lebih awal dilakukan untuk menandakan Hari Raya Idul Fitri. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini dilaksanakan di masjid Al Mahsum yang dimeriahkan oleh siswa-siswa Djamlatoel Waslijah. Untuk Komite Islam sholat Idul Adha dilaksanakan di lapangan Jalan Balistraat, sedangkan Muhammadiya di lapangan olahraga Jalan Orange Nassaustraat.

De Sumatra post, 20-01-1940: ‘Hari Raja Hadji di Medan. Hari ini adalah Hari Raja Haji untuk umat Islam, hari besar untuk jamaah haji dan bagi umat Islam sehari sebelum pesta besar. Kantor negara sekarang ditutup dan di bawah area pemerintahan. Dari halaman Maimoenpaleis di Paleisweg tembakan meriam sebagai pemberitahuan untuk mengumumkan hari khusus bagi umat Islam. Saat mereka merayakan jamaah haji dan umat Islam lainnya dalam pakaian terbaik, dan datang ke masjid atau untuk tempat-tempat lain yang ditentukan. Masjid yang banyak difokuskan pagi ini adalah masjid besar di Jalan Raja, dimana Sultan dan pejabat melakukan sholat. Selanjutnya juga prosesi anak sekolah yang diselenggarakan oleh Djamiatoel Waslijah. Prosesi ini dilakukan di Bindjeiweg dan melalui Poloniaweg, Sultan Maamoenalrasjidweg yang datang sekitar seribu mahasiswa di masjid besar. Setelah sholat, anak-anak pergi ke Maimoenpaleis tempat kemana nantinya juga Sultan dan yang lainnya pergi. Ada dua kelompok lain dari umat Islam yang melakukan sholat mereka di udara terbuka. Mohamadijah groep berkumpul di lapangan olahraga sekolah Su Tung di Jalan Orange Nassaustraat, sementara di lapangan di Jalan Balistraat berkumpul kelompok Komite Islam. Pertemuan yang dihadiri kedua kelompok ini terlihat (juga) sangat tenang’.

Jamaah Haji dan Buku Panduan Naik Haji

Kloter haji Mandailing-Angkola di Mekah, 1887
Di Medan dan Deli tidak terdeteksi berita-berita tentang adanya kelompok pemberangkatan (kloter) haji ke Mekkah. Padahal Deli terbilang daerah paling makmur di Hindia Belanda. Pemberangkatan haji ke Mekkah sudah ada sejak 1887, yakni, antara lain: Malang, Pasuruan, Atjeh, Ambon dan Bugis. Pada tahu 1890 jumlah daerah yang mengirimkan haji semakin banyak, yakni, antara lain: Painan, Sambas, Straits Settlements, Mandailing/Angkola (Tapanoeli), Selajar, Banten, Pontianak, Makassar, Lampung, Bugis, Pekalongan, Batjan, Atjeh, Tjianjur, Banjarmasin, Baros, Preanger, Palembang, Pidie, Sambas, Bengkoelen, Ternate, Martapaura, Banda, Idie, Mandar, Soekopoera. Boleh jadi kala itu, kloter jemaah haji asal Medan atau Sumatra Timur terdapat dalam kloter Straits Settlements (Semenanjung Malaya).

Salah satu anak Tapanoeli yang pernah ke Mekkah adalah Dja Endar Moeda. Pada masa itu untuk pergi haji tidak mudah meski sudah ada pelayaran yang disediakan oleh pemerintah. Banyak calon haji yang tidak mengetahui apa yang harus dipersiapkan, bagaimana situasi dan konsisi yang dihadapi selama perjalanan maupun selama menunaikan ibadah haji di Mekah dan Madinah. Dja Endar Moeda pada tahun 1900 menerbitkan buku kecil yang berisi panduan naik haji. Panduan naik haji ini sudah pernah dimuat di berbagai media. Akhirnya pemerintah colonial Belanda mengadopsi buku ini sebagai Buku Panduan Haji Nasional. Buku ini diperbanyak dan disebarluaskan oleh pemerintah melalui pemerintah setempat (tempat-tempat dimana selama ini banyak mengirim calon jemaah haji ke Mekah). Buku karya Dja Endar Moeda ini terbilang buku panduan haji pertama di Nusantara (Hindia Belanda).

Haji di Mekah 1917-1921
Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda lahir di Padang Sidempuan 1860. Menyelesaikan sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan tahun 1884. Setelah pension jadi guru, Dja Endar Moeda menunaikan haji ke Mekah. Setelah pulang dari Mekah, Dja Endar Moeda tinggal di Kota Padang. Pada tahun 1895 Dja Endar Moeda mendirikan sekolah swasta di Kota Padang. Pada tahun 1897, Dja Endar Moeda yang kerap menulis buku pelajaran sekolah, buku umum dan buku roman (novel) diangkat menjadi editor surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Barat di Padang (editor peribumi pertama). Pada tahun 1900, Dja Endar Moeda mengakuisisi surat kabar Pertja Barat beserta percetakannya. Sejak itu, Dja Endar Moeda menerbitkan sejumlah media dan toko buku. Surat kabar dan majalah yang dimiliki Dja Endar Moeda diterbitkan di Padang, Sibolga, Medan dan Kota Radja (kini Banda Aceh). Dja Endar Moeda dijuluki sebagai Radja Persuratkabaran Sumatra.

Buku panduan haji yang disusun Dja Endar Moeda yang telah diterbitkan dan telah disebarluaskan di Hindia Belanda merupakan sebuah dedikasi Dja Endar Moeda bagi umat Islam khususnya kepada calon jemaah haji (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-11-1900). Dja Endar Moeda kerap diminta pemerintah menjadi pemandu haji selama di kapal dan dari Jedah ke Mekah, karena sulitnya menemukan pribumi yang berpengalaman dalam menunaikan ibadah haji yang bisa berbahasa Belanda.

Penyelenggaraan haji kapan mulai dilaksanakan oleh pemerintah kolonial tidak diketahui secara pasti. Jumlah jamaah haji telah meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah jamaah haji dari Hindia Belanda tahun…sebanyak..Sebelum pemberangkatan haji dilaksanakan pemerintah, orang pribumui naik haji dengan menggunakan kapal-kapal dagang dari wilayah Arab.

Kini, untuk menunaikan ibadah haji sudah sangat mudah, selain dengan penerbangan udara yang cepat juga dipandu oleh para pemandu haji yang terlatih. Meski demikian, namun untuk menjadi haji tidak mudah, harus menunggu lama untuk mendapat tiket haji. Waktu tunggu dari waktu ke waktu semakin lama.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: