27/03/16

Sejarah Musik Batak: Musik Tradisi yang Kali Pertama Dicatat di Mandailing dan Angkola, Lebih Tua dari Musik Jawa dan Musik Bali



Grup musik instrumen alat tiup di Sipirok, 1890
Sejarah musik Batak, sejarah yang belum pernah ditulis. Musik Batak modern haruslah dibedakan dengan musik tradisi Batak. Oleh karena itu, sejarah musik Batak haruslah memulai memahaminya dari musik tradisi. Musik modern Batak tentu saja berakar dari musik tradisi Batak. Namun apa itu musik tradisi Batak masih terdapat beberapa kesalahan pemahaman. Hal itu besar kemungkinan terjadi karena sejumlah pertanyaan mendasar belum terjawab: Kapan musik tradisi itu ada? Siapa yang memainkan dan menggunakan musik tradisi tersebut? Dimana musik tradisi Batak itu awalnya berkembang? Apa yang menyebabkan musik tradisi Batak terbentuk? Bagaimana asal-usul musik tradisi Batak itu? Kapan musik tradisi itu dikenal? Kapan pula musik tradisi Batak mulai dicatat? Semua pertanyaan itu memerlukan jawaban dan penjelasan. Mari kita lacak!

Keutamaan musik tradisi Batak, karena memiliki sejarah yang panjang. Musik tradisi Batak mungkin seumur dengan religi Batak kuno. Musik tradisi Batak ditemukan pertamakali di Mandailing dan Angkola. Gondang dan ogung adalah alat berkomunikasi dengan sang pencipta. Dalam perkembangannya, meski ada hambatan karena pengaruh Islam, indeferensi pemerintah kolonial dan larangan dari para misionaris, musik tradisi Batak dalam kenyataannya tetap hidup. Musik tradisi kemudian tidak hanya berkembang di 'bonabulu' tetapi juga tumbuh di perantauan. Pada tahun 1937, Karl Halusa, doktor (PhD) dalam bidang musik dari Universitas Wina mengunjungi Tanah Batak unruk mempelajari musik tradisi Batak. Dr. Halusa menemukan sedikitnya ada 40 jenis instrumen musik Batak, baik yang dimainkan laki-laki maupun perempuan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-03-1938). TJ Willer (1845) terheran-heran, tidak menyangka di Mandailing dan Angkola ditemukan ensambel-ensambel musik (gondang dan ogung) yang dikombinasikan dengan instrumen lain yang mirip orchest atau band di Eropa--sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain di Nederlandsch Indie (baca: Indonesia). Sejarah musik tradisi Batak perlu mendapat perhatian semua pihak. Ikuti deskripsi yang panjang lebar berikut ini.

Catatan terawal tentang musik tradisi Batak

Catatan terawal adanya musik tradisi Batak dilaporkan oleh TJ Willer, Asisten Residen pertama Mandheling en Ankola (1840-1845). TJ Willer dalam bukunya yang terbit tahun 1846 (kata Pengantar TJ Willer, Panjaboengan, Agustus 1845) menceritakan pertama kali melihat musik tradisi Batak dihadirkan ketika ada satu keluarga mengalami musibah yang mana sesepuh mereka meninggal dunia (tidak disebutnya dimana apakah di Mandheling, Angkola atau Pertibie). Kehadiran musik ini disebutnya untuk mengusir begu. Selanjutnya TJ Willer mendeskripsikan musik tradisi tersebut sebagai berikut:

Inskripsi candi Sitopayan di Padang Lawas: Tortor sudah dikenal?
‘Akhirnya muzijk bergabung di sini (dalam suatu kemalangan). Para pemain bermain satu melodi yang tidak menyenangkan yang diiringi oleh (alat perkusi) drum, banyak variasi dalam drum dari segi ukuran ditambah dengan kekuatan gong, untuk membuat suara mengusir roh jahat dan instrumen begitu melengking di udara. Ini kita bisa menyebut satu mandolin Batak yang juga berasal dari instrumen lainnya. (Lebih lanjut Willer menguraikan) perihal instrument musik tradisi Batak tersebut sebagai berikut: Musik instrumental berpusat pada pasangan drum dengan ukuran yang berbeda, yang biasa tergantung di di dalam rumah seorang pamoesoek (radja). Juga tampak gong dan simbal. Sebuah gong besar menjadi bagian dari kekayaan radja. Seroeneh of hobo; rabab of viool (biola), dari nama menunjukkan asal asing; asopi of mandoline, yang terbuat dari wadah kayu, dengan sisi lebar bawah dan sisi sempit ke  atas, leher seperti gitar, di sentuhan dibelah dua dan disediakan sekrup, string kawat, hanya dua jumlahnya, yang dimainkan dengan pena. Dibanding instrumen lain, asopi tampak banyak daya invention dengan kesempurnaan, bahwa alat ini bisa diragukan atau justru alat yang mungkin berasal (asli) Batak. Alat lainnya berupa fluite yang disebut sordam dan oejoep-oejoep; juga gendang boeloe (bamboo), dimana kulit seperti dipotong menjadi string yang dengan kedua ujung tetap melekat pada ujung bamboo yang disangga dengan kayu agar string tegang dan alat itu digunakan dengan tongkat kecil. Musik tersebut mengiringi tarian, dan harus diakui bahwa Batak dengan semangat sejati seni, dimana ras ini cukup piawai paduan suara baik laki-laki maupun perempuan. Mereka kerap terlihat menari oleh lima atau enam gadis-gadis muda yang diantaranya adalah seorang pemuda dengan gerakan pendek. Pertunjukkan mereka sangat jarang terlihat karena memang tidak pernah diadakan dalam upacara publik, sehingga orang Eropa jarang memiliki kesempatan untuk melihatnya. Manortor atau tarian yang bersemangat yang saya tahu paling penuh perhatian dari banyak orang. Gambaran ini seperti tarian yang lama dari Skotlandia, gerakan pendek, sangat cepat dan agak kaku tidak seperti dalam gerakan tarian Jawa maupun Bali. Di dala Batak permainan menghibur dengan pantomim. Saya beberapa kali hadiri ini sudah cukup efektif untuk kepentingan rakyat karena begitu sedikit hiburan yang dimiliki. Namun hal itu perlu dilakukan rehabilitasi agar hiburan di Batak ini cukup tersedia, tapi dengan dominasi penganut agama Mahomedaansche sudah sangat jauh berkurang kegiatan pertunjukannya (lihat 'Verzameling der Battahsche Wetten en Instellingeb in Mandheling en Pertibie, Gevolgd van een Overzigt van Land en Volk in die Streken' door TJ Willer, di dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1846).

Orang asing pertama yang sesungguhnya melihat pertunjukan dan mendengar sendiri musik tradisi Batak dipentaskan dan telah mencatatnya adalah Ida Pheiffer. Kesempatan ini tidak terduga, ketika dalam suatu perjalanan ekspedisi dari Padang ke Sibolga tahun 1852, Ida Pheiffer di Padang Sidempuan (tempat terakhir adanya orang Eropa) berubah pikiran dan ingin melihat danau Toba setelah menyimak orang-orang di sekitarnya memberitahu ada danau besar di pegunungan. Hammers yang kala itu menjabat sebagai Controleur Angkola, sempat mencegah karena perjalanan ke danau Toba sangat berbahaya dan kerap terjadi perang antar huta (Hammers sendiri belum pernah ke danau Toba). Namun nona Ida Pheiffer asal Austria yang masih lajang ini bersikeras ingin membuktikan adanya danau besar itu.

Pada tanggal 5 September 1852 Ida Pheiffer yang dipandu oleh Dja Pangkat asal Saroematinggi (mantan pemandu terbaik Jung Huhn) berangkat melalui Pargarutan menuju Sipirok. Di sekitar Sipirok, Ida Pheiffer dicegat satu pasukan bersenjata dan lalu membawa Ida Pheiffer kepada Radja. Setelah dilakukan interogasi oleh sang Radja (kebetulan Ida membawa surat dari Hammers untuk ditujukan kepada Radja), Ida Pheiffer dianggap orang baik, lalu radja langsung memerintahkan untuk menyembelih seekor kerbau dan dilakukan pesta penyambutan. Malamnya, Ida Pheiffer dihibur dengan musik tradisi yang diselingi dengan pertunjukan tari (tortor) dan (permainan) pantomin. Kisah Ida Pheiffer yang ditulisnya sendiri pada tanggal 12 Oktober 1852 dimuat pada koran Algemeen Handelsblad, 09-05-1853 di Bataviatelah menambah informasi bahwa musik tradisi Batak terdapat di banyak tempat. Meski Ida Pheiffer tidak mendeskripsikan bagaimana musik tradisi itu dimainkan, deskripsi dari TJ Willer telah dengan sendirinya menjelaskan bagaimana musik tradisi itu dipertujukkan di hadapan Ida Pheiffer.

Deskripsi tentang musik tradisi Batak (instrumen) juga dilaporkan oleh controleur Angkola, Mr. Hennij tahun 1866. Di dalam tulisannya yang dimuat di surat kabar Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 14-03-1868, Mr. Hennij cukup jelas mendeskripsikan instrumen tradisi Batak, dia sendiri tampaknya pernah menyaksikannya dan deskripsinya bisa dibandingkan dengan sekarang. Deskripsi instrument musik tradisi Batak menurut Mr Hennij adalah sebagai berikut:

Musik disajikan dengan instrumen dalam bentuk orchest dimana penduduk duduk di tikar. Orkest ini terdiri dari instrumen berikut: taroeni, yang dalam bentuk dan nada yang sesuai banyak dengan hobo; tala ganing, lima drum atau silinder berongga, dari berbagai ukuran, yang terbuat dari kayu dengan membentang kulit kerbau, tetapi sebaiknya dari kulit rusa membentang. Kelima instrumen didirikan di sepanjang kayu, sebuah gendang besar, dua yang lebih kecil kaki panjang gordang dan odap. Selain itu, hasar-hasar, gong yang terletak horizontal di tanah digantung dengan rotan; yang disebut ogoeng oloan,  toko drum dan gong dengan tongkat, tapi yang logam, dipukuli oleh idjoek yang dibungkus menghasilkan berongga suara yang bergetar cukup panjang dan setiap 8 atau 10 detik terdengar; instrumen ini ditangguhkan oleh tali tipis, untuk getarannya sebanyak mungkin agak harus melakukannya tanpa lagi sendiri; yang gunanya ‘panongahi’, sedikit lebih kecil dari sebelumnya dengan banachtig sebuah; terdengar; yang doal dan yang pangora banyak ukuran, yang dikenakan di leher pemain mereka dan yang terdengar delusional bawah ini terjadi pada pelaksanaan oleh penumpangan tangan rusak. Juga. instrumen lain di Batak digunakan, yang bagaimanapun, tidak pernah dimasukkan dalam orchest sering digunakan bahkan untuk mengungkapkan perasaan kekasih, seperti: tordam, suling panjang bambu; toeliela suling bambu, ditiup seperti klarinet dan menghasilkan suara. Namun hasapie untuk serenades cocok, menjadi gitar dengan dua senar, memberikan lembut, suara manis dengan dipetik. Ada juga gong kecil manmongan (tjenangs), yang digunakan dalam perang atau untuk mengumpulkan orang-orang. Perempuan memainkan instrumen ini pernah; hanya diizinkan dirinya sendiri dengan saga saga (kecapi Yahudi) instrumen sesuai  gingong baja Melayu. Tapi kami belok berlangsung kembali kepada kami orchest yang reods, dan bergerak dalam kinerja sebuah overture. Melodi yang monoton ditunjukkan dengan saroene, sedangkan instrumen lain ikut menyertai. Jika pembukaan selalu memainkan somla melodi tomba pada kecepatan yang moderat. Setiap roh memiliki melodi tetap, yang ia disebut. Pada kesempatan ini kami selalu mendengar Gondang Batara, Gondang Soripada dan Gondang Jcngala Boelan. Selain itu, ada beberapa kasus melodi untuk ‘api’ bagi prajurit dalam perang.

Musik tradisi Batak digunakan untuk berbagai tujuan

Orang-orang asing (Eropa / Belanda) jarang mendapat kesempatan untuk melihat pertunjukkan musik tradisi Batak. Apakah karena pentas music tradisi jarang dilakukan (karena dilangsungkan untuk upacara khusus?) atau memang orang-orang Eropa / Belanda tidak terlalu memperhatikannya (karena musik tradisi Batak bukan untuk hiburan publik?). Namun diantara orang asing (Eropa/Belanda) masih terdapat beberapa yang cukup jeli untuk memperhatikannya. Meski hanya beberapa orang asing, tetapi kenyataannya mereka telah dengan sendiri telah mengabadikan dan memberi bukti otentik adanya musik tradisi di Tanah Batak sejak doeloe.

Alat musik tradisi Batak yang dicatat TJ Willer (1845) dan WA Hennij (1858)
TJ Willer telah mencatat bahwa musik tradisi Batak juga menjadi bagian dari prosesi pemakaman. Musik tradisi dihadirkan untuk mengusir begu selama prosesi menuju pemakaman. TJ Willer juga melaporkan musik tradisi juga dipentaskan untuk tujuan hiburan rakyat tetapi pada intinya dikaitkan dengan pesta (hordja). Dengan kata lain, musik tradisi hadir karena kebutuhan upacara. Dalam hal ini musik tradisi yang dimaksud adalah ansembel musik dengan intrumen utama perkusi (taganing/gordang) yang satu set dengan berbagai ukuran dan gong utama (ogung) yang menjadi milik radja.Untuk keperluan music untuk rakyat banyak dapat membuat sendiri yang jenisnya berbagai macam seperti ojoep-ojoep, asapi, toelila dan lain sebagainya.
  
Namun demikian, musik tradisi Batak juga dikompilasi menjadi satu ansembel music (band atau orchest) untuk tujuan hiburan pada waktu tertentu seperti mensukuri hasil panen dan kegiatan-kegiatan lainnya, seperti penyambutan tamu khusus (orang asing) yang pernah dialami oleh Ida Pheiffer. Instrument-instrument musik tradisi itu sendiri boleh jadi awalnya digunakan untuk berbagai tujuan spesifik, seperti ogung untuk memanggil atau mengumpulkan masyarakat atau gong kecil (tjenang) untuk menyemangati dalam perang (pada tahun 1970an ogung masih digunakan sebagai penanda waktu untuk sholat zhuhur dan asyar di mesjid raya lama Padang Sidempuan).

Kisah bagaimana beberapa instrument digunakan dilaporkan oleh Charles Miller tahun 1772 saat berkunjung ke Angkola. Orang Eropa pertama yang memasuki Tanah Batak ini di Hutarimbaru Miller saat memasuki perkampungan dia diarak oleh pasukan bersenjata menuju rumah (istana) Radja dengan tembakan ke udara dan dentuman ogung yang dipukul (untuk menunjukkan adanya suatu peristiwa penting). Ini mengindikasikan bahwa ogung (bagian instrument music tradisi) juga digunakan untuk situasi yang genting atau penting sebagai peringatan bagi semua penduduk (Catatan Charles Miller ini dikutip oleh William Marsden dalam bukunya The History of Sumatra, 1811).

Introduksi musik barat di Tanah Batak

Pada saat musik tradisi masih dipertunjukkan secara luas di Tanah Batak, musik yang berasal dari Eropa mulai diperkenalkan. Pada tahun 1890 di Sipirok terdapat satu grup musik yang instrumennya terdiri dari alat-alat musik tiup, seperti terompet, trombone horn, tuba horn, mellopone, dan sebagainya. Berbagai alat musik tiup ini dimainkan oleh anak-anak Sipirok. Tidak diketahui secara pasti siapa yang menjadi sponsor pembentukan grup musik ini. Tetapi diduga ada kaitannya dengan tujuan misi untuk mengeliminasi keberadaan musik tradisi Batak yang dari sudut pandang gereja, musik tradisi Batak dianggap berasosiasi dengan pemujaaan dalam kepercayaan lama.

Di Padang Sidempuan, sudah sejak lama pula terdapat grup musik yang kerap manggung di sebuah café milik orang Eropa. Café tersebut bernama cafe Biljart milik Marczak. Kehadiran grup musik ini lebih ditujukan untuk orang-orang Eropa dan orang-orang terpandang di dalam kota. Sejak ibukota afdeeling Mandheling en Ankola pindah ke Padang Sidempuan tahun 1870, kota ini berkembang pesat dan semakin hidup. Orang-orang Eropa yang bertugas di Sibolga, Sipirok, Mandailing dan Angkola pada waktu senggang datang berkunjung ke Padang Sidempuan utamanya untuk mendapatkan hiburan. Kota Padang Sidempuan menjadi satu-satunya kota buat orang-orang Eropa di Tapanoeli. Apalagi di kota ini sudah ada pesanggrahan, post en telegraf, kweekschool (sekolah guru pribumi) dan sekolah Eropa (sekolah untuk anak-anak orang Eropa).


Ketika Medan, masih kampung; Padang Sidempuan, sudah kota
Pada tahun-tahun kehidupan musik barat di Padang Sidempuan (sekitar 1900), di Medan juga terdapat satu grup musik pop barat namanya Manillaband (awalnya berkiprah di Penang). Grup musik ini kerap manggung di hotel-hotel yang terdapat di Medan utamanya Hotel de Boer dan Medan Hotel. Grup musik ini juga kerap diundang oleh club social untuk meramaikan pasar malam di Medan dan Bindjai terutama setelah usai perhelatan sepakbola (antara Medan Sportclub orang-orang Belanda dan Langkat sportclub orang-orang Inggris). Kota-kota di Nederlandsch Indie yang memiliki grup musik pop barat hanya beberapa: selain Padang Sidempuan dan Medan juga terdapat di Batavia, Semarang dan Soerabaija, satu kota di pedalaman Jawa, dan di kota Sawahloento yang terkenal dengan tambangnya di Ombilin (di kota Padang sendiri tampaknya tidak terdeteksi adanya grup musik pop barat).  
 
Meski demikian adanya, musik tradisi Batak masih digemari oleh penduduk. Dengan kata lain musik tradisi Batak hidup berdampingan dengan musik pop barat. Sementara itu, cafe Biljart di Padang Sidempuan menjadi semacam pusat interaksi anak-anak Batak memahami dan belajar musik pop barat. Pengaruh musik barat ke dalam musik tradisi Batak boleh jadi dimulai dari kota Padang Sidempuan. Keberadaan café Biljart dan grup musiknya menjadi terkenal ketika Dja Endar Moeda setelah sukses di rantau, teringat kampung halaman di Padang Sidempuan.

Tortor muda-mudi Padang Sidempuan di Medan, 5 Juni 1970
Koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 01-05-1900: 'pada bulan Maret aktor terkenal koran Pertja Barat di Padang bersama anak dan istri telah datang ke sini (Padang Sidempuan). Pada tanggal 24 Maret, Dja Endar Moeda telah mengundang teman-temannya untuk sebuah reuni di Cafe Biljart milik Marczak. Banyak yang hadir, selain rekan-rekannya juga para abtenaar dan pejabat pemerintah. Di pintu Cafe terpampang ucapan sukacita dalam dua bahasa: "Selamat Dja Endar Moeda anak istri' / 'Leve Dja Endar Moeda en familie". Tentu saja hadir koeriahoofd dari Batoe-na-Doewa, Losoeng Batoe dan Si-Mapil-Apil dan Hoofd-Djaksa van Sibolga. Acara dibuka, Dja Endar Moeda memberi kata sambutan, kemudian kembang api dinyalakan, lalu diikuti musik akordion, biola dan tamborin. Lalu kemudian dilanjutkan dengan hidangan. Acara yang dimulai pukul 8.30 malam berakhir tidak lama setelah pukul 9.30. Para tamu pulang dengan puas. Lantas pada tanggal 31 Maret, koeriahoofd Batoe-na Doewa, Pertoewan Soripada mengundang Dja Endar Moeda dengan horja dengan margondang dengan gondang Batak. Banyak pejabat pemerintah yang diundang. Di sela-sela acara itu, Dja Endar Moeda diajak oleh kepala koeria berburu rusa ke arah Sipirok. Hari berikutnya 1 April, Dja Endar Moeda menghadiri pesta rakyat yang diselenggarakan oleh kepala koeria dengan 'manyambol horbo' untuk menyambut kedatangannya di Padang Sidempuan dengan karangan bunga, acara manortor, lalu pukul satu siang dihidangkan makanan dan minuman yang melimpah'.

Kota Padang Sidempuan dan kota Sipirok di pedalaman Tanah Batak merupakan dua kota yang tercatat paling awal menerima musik barat sebagai bagian dari kehidupan sosial. Meski demikian musik tradisi Batak masih terus dilestarikan pada upacara-upacara khusus baik di Padang Sidempuan maupun di Sipirok. Satu kota lagi di pedalaman Tanah Batak yang memiliki ruang untuk musik barat adalah kota Batang Toru (pusat industri perkebunan di Tapanoeli). Disebut demikian, karena pada tahun 1919 sebuah grup musik mancanegara tengah berkeliling Nederlandsch Indie, termasuk tiga kota di Tapanoeli yang mendapat kesempatan dikunjungi, yakni: Padang Sidempuan, Batang Toru dan Sibolga.

De Sumatra post, 13-11-1919: ‘Sykora-Podolsky melakukan tur Nederlandsch Indie (Nusantara). Konser yang mereka lakukan selalu mendapat sambutan. Keutamaan grup musik ini adalah kemampuan bermain indah dalam violin-cello dan vocal penyanyinya. Setiap usai lagi dinyajikan tepuk tangan yang meriah dari semua penonton yang hadir. A virtuoso piano dari grup ini juga sangat mengesankan. Para penonton menganggap pianis yang sangat berbakat dan dengan teknik mengagumkan Madame Sykora dan juga kerap menerima saweran dan kalungan bunga di atas panggung. Dalam kunjungan ke Fort de Kock dan Sawahloento, grup ini menerima banyak pujian di dua tempat konser lokal tersebut, karena grup ini memiliki akustik yang sangat baik. Setelah konser pertama dalam tur lintas Sumatra tersebut akan dilanjutkan ke Padang Sidempoean, Batang Toroe dan Sibolga. Diharapkan di kota-kota itu grup ini akan mendapat sambutan karena terkenal dengan apresiasi musiknya. Grup musik bagus dan penonton yang antusias akan dipertemukan’.

Untuk sekadar diketahui, kota Batang Toru tidak hanya terkenal dengan pusat industri perkebunan di Tapanoeli, tetapi juga suatu tempat yang menjembatani dua kota besar kala itu yakni Padang Sidempuan dan Sibolga. Jembatan terkenal di Batang Toru disebut Jembatan Batang Toru yang dibangun tahun 1879 (selesai 1883) yang dikerjakan oleh Ir. Esseis. Jembatan Batang Toru kala itu adalah jembatan terpanjang di Nederlansche Indie dan merupakan karya besar pemerintah dan mendapat pujian dari Gubernur Jenderal di Batavia dan mendapat apresiasi di Nederland. Anak-anak Batang Toru juga banyak yang berhasil.

Beberapa anak Batang Toru yang terkenal, anatara lain adalah: (1) Lim Soen Hin, radja persuratkabaran, kelahiran Batangtoru dan bersekolah di Padang Sidempuan. Memulai karir tahun 1895 sebagai editor surat kabar di Padang. Dengan saudaranya dan teman-temannya sesama Tionghoa asal Padang Sidempuan (antara lain Liem Boan San) kemudian mendirikan perusahaan penerbitan surat kabar di Sibolga dengan nama Tiong  Hoa Ho Kiok Co. Ltd. Mereka semua adalah alumni Padang Sidempuan. Uniknya, Lim Soen Hin tidak hanya fasih berbahasa Melayu dan Belanda tetapi juga bahasa Batak. Karenanya, Lim Soen Hin juga menjadi asisten editor surat kabar Binsar Sinondang di Sibolga (1920an), (2) Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi, kelahiran Batang Toru, HIS di Padang Sidempuan, Mulo di Padang dan Rechtschool di Batavia. Setelah bekerja di Medan beberapa tahun mendapat beasiswa untuk melanjutkan tingkat doctoral di Leiden. Radja Enda Boemi mendapat gelar doctor (PhD) tahun 1925. Radja Enda Boemi adalah orang Indonesia keempat  bergelar doctor. Radja Enda Boemi juga adalah ahli hukum pertama orang Batak, kedua di Sumatra dan satu diantara delapan orang Indonesia, dan (3) Parlindoengan Loebis kelahiran Batang Toru, HIS di Padang Sidempuan, MULO di Medan, AMS Weltevreden, Batavia. Pada tahun 1931 sebagaimana diberitakan Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) Parlindoengan Loebis lulus ujian kandidat bagian I sebagai asisten medis. Namun karena dianggap memenuhi syarat, Parlindoengan Loebis direkomendasikan menjalani pendidikan yang lebih tinggi di bidang kedokteran di Negeri Belanda. Di Belanda, Parlindoengan Loebis diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Leiden. 1932. Selama kuliah, waktunya banyak tersita untuk kegiatan organisasi kemahasiswaan (pernah menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia, 1938). Setelah lulus menjadi dokter dan bekerja di Amsterdam. Saat terjadi invasi Jerman, Parlindoengan Loebis ditangkap Nazi dan dimasukkan ke kamp. Parlindoengan Loebis akhirnya, bisa pulang ke tanah air 1947 (menumpang kapal Weltevrede). Parlindoengan Loebis selama ibukota RI di Yogyakarta diangkat menjadi kepala (dinas) kesehatan.  

Kisah Parada Harahap dan Nahum Situmorang

Sejak 1890an sudah banyak anak-anak Padang Sidempoean yang berkarir di Medan dan Pematang Siantar, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ambtenaar, pers dan pengusaha maupun sebagai pegawai di pemerintahan maupun di perkebunan. Pejabat pertama yang dipindahkan dari Padang Sidempuan ke Medan adalah Soetan Goenoeng Toea, seorang murid pertama Nomensen di Sipirok, mantan penulis di kantor Asisten Residen di Padang Sidempuan, adjunct djksa di Sipirok lalu tahun 1893 dipindahkan ke Medan menjadi djaksa (Sjarif Anwar gelar Soetan Goenoeng Toea adalah ompung dari Amir Sjarifoedin: ompung dan pahompoe ini sama-sama jago dalam musik). Satu lagi perantau Padang Sidempuan yang terbilang fenomenal di Medan adalah Parada Harahap. Oleh karena koran Benih Mardika dibreidel posisinya sebagai editor menganggur, lalu Parada Harahap pulang kampong dan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919). Setelah sukses di kota kelahirannya, Parada Harahap hijrah ke Batavia dan awalnya mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923) lalu kemudian mendirikan kantor berita Alpena yang mana salah satu editornya WR Supratman.

Manortor, sambut Gub.Jenderal de Graef di P. Sidempuan, 1928
Pada tahun 1927, Parada Harahap sebagai sekretaris (ketua: M. Husni Thamrin) dari perhimpunan organisasi-organisasi sosial (seperti Budi Oetomo, Pasundan, Betawi, Bataksche Bond dan lain-lain) menyelenggarakan lomba lagu Indonesia Raya (yang akan dikumandangkan dalam Kongres Pemuda 1928). Ternyata kandidat kuat hanya dua orang: Nahoem Situmorang dan WR. Supratman. Nahoem Sitoemorang adalah anak Padang Sidempuan kelahiran Sipirok. Parada Harahap sempat bingung antara memilih karya WR Supratman (mantan anak buahnya di Alpena) atau hasil karya Nahoem Situmorang ‘dongan sahuta’. Parada Harahap kelahiran Pargaroetan tidak jauh dari tempat kelahiran Nahoem Situmorang di Sipirok (jarak sekitar 16 Km). Ternyata yang terpilih adalah karya WR Supratman.

Nahoem Sitoemorang tentu saja kecewa (lalu menulis dan menggubah lagu Batak yang sangat harmoni..cek sendiri judul lagunya). Mungkin dialog kedua pemuda yang kampungnya bertetangga ini di afdeeling Padang Sidempuan kira-kira begini: Nahum: ‘Bang, kenapa lagu saya tidak jadi pemenang, cam mana ini ?’. Parada: ‘Ah, aku kan sendiri, tidak bisa menentukan sendiri. Tapi, kau malah lebih bebas menciptakan seberapa banyak jumlah lagu yang kau suka!’. Nahum: ‘Jadima, Bang. Horas be!’.

Piringan lagu 'Indonesia Raya' oleh WR Supratman
Tentu saja Parada Harahap tidak terlalu kecewa dengan terpilihnya pemenang WR Supratman. Sebab, WR Supratman adalah karibnya Parada Harahap juga. WR Supratman adalah anak buah Parada Harahap ketika tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi pertama (Alpena). WR Supratman diangkat sebagai editor yang juga merangkap sebagai watawan. Begitu akrabnya, WR Supratman tinggal di rumah Parada Harahap. Sementara Parada Harahap sendiri yang juga berteman akrab dengan Nahum tidak terlalu khawatir dengan nasib kawan akrabnya itu, karena menurutnya Nahoem Situmorang adalah pencipta lagu paling berbakat kala itu dari Tanah Batak. Begitu dekatnya dua anak Padang Sidempuan, ketika Parada Harahap 'pabagaskon boru panggoaran’ Mr. Aida Dalkit Harahap (ahli hukum perempuan pertama dari Tanah Batak) dengan Mr. Datu Porkas Daulay di Pintu Padang, Angkola tahun 1958, Nahoem Sitoemorang diundang untuk menghibur dengan lagu-lagu ciptaannya, tentu saja termasuk Sitogol, Ketabo-Ketabo dan Nasonang do Hita na Dua.   

Kilas balik evolusi perkembangan musik Batak, suatu analisis retrospektif

Tanah Batak di Angkola, Mandailing dan Padang Lawas meski berada di pedalaman tetapi secara historis telah terhubung dengan dunia luar dan penduduknya telah berinteraksi dengan orang asing. Interaksi terawal adalah ditemukannya per(candi)an Simangambat pada abad ke-8 di Angkola/Mandailing dan per(candi)an Padang Lawas pada abad ke-11. Motivasi kedatangan para pedagang dari Panai (di Ceilon) dan pedagang dari Ankola (di India selatan) ke pedalaman Tanah Batak di Angkola, Mandailing dan Padang Lawas adalah untuk mendekatkan diri dengan TKP dalam pembelian produk alami khas (spesifik) Tanah Batak seperti emas, kamper dan kemenyan serta kulit manis. Inilah dasar timbulnya koloni Budha/Hindu dan sisa peninggalannya masih bisa disaksikan hingga ini hari. Ini dengan sendirinya menjelaskan keberadaan penduduk Batak (jauh) sebelum datangnya orang-orang asing. Penduduk Angkola, Mandailing dan Padang Lawas sejak doeloe mentransfer komoditi ekspornya ke pelabuhan kuno di Barus.

Para pendatang ini (Ceilon dan India) seperti ditunjukkan bukti arkeologis candi adalah golongan (kasta) menengah (pedagang, petani dan militer) yang mengindikasikan tingkat peradaban yang lebih tinggi (memiliki investasi besar dalam ekspedisi lintas laut dan ditopang dengan tingkat kepandaian yang lebih maju) yang boleh jadi sulit berbaur dengan penduduk lokal (yang boleh jadi masih bersahaja). Akibatnya, di daerah pedalaman Tanah Batak terdapat dua komunitas yang (mungkin terpisah) saling berinteraksi (saling menguntungkan) tetapi tidak berasilimilasi (tidak terjadi akulturasi). Dalam relasi seperti ini besar kemungkinan yang muncul adalah bahwa satu pihak memiliki kecenderungan mengeksploitasi dan satu pihak yang lain memiliki kecenderungan untuk melakukan proses belajar (meniru dan learning by doing).

Dalam proses belajar bagi penduduk lokal yang disebut kemudian penduduk Tanah Batak besar kemungkinan terbentuknya sistem kebudayaan sendiri yang lebih canggih (perbaikan system budaya/habit lama) seperti aksara (aksara Batak), sistem sosial (dalihan na tolu berbasis marga di dalam aristocrat), sistem religi (sipelebegu), sistem budidaya (irigasi, penangkaran, meramu) dan sebagainya, yang juga meliputi sistem manufaktur (pengolahan, tenun, persenjataan), arsitektur,  astronomi, pengobatan, dan tentu saja seni budaya seperti tarian (tortor), musik (instrumen dan nyanyian). Proses ini butuh waktu lama (evolutif) setahap demi setahap, puluhan atau ratusan tahun. Semua tahapan berproses, kearifan lokal, pengaruh asing (Budha, Hindu, Islam) dan inovasi baru (gabungan kreativitas lokal dan imitasi dari luar). Dalam jangka panjang, pengaruh asing memasuki sendi-sendi kebudayaan lama penduduk Batak (Batak kuno). Proses ini juga terjadi dalam kebudayaan Jawa kuno dan Bali. Yang membedakan kebudayaan Jawa (mewakili Jawa) dan Batak mewakili Sumatra (dari sumber yang sama: asing, Budha/Hindu) adalah proses belajar (tingkat adopsi dan proses difusi) dengan latar belakang lingkungan alam yang memang sangat berbeda (kontras) dan akibatnya produk kreasi penduduk lokal terdiferensiasi seperti aksara dan musik meski belajar dari sumber yang sama (masing-masing masih bisa ditelusuri ke origin Budha/Hindu).

Proses belajar penduduk Batak karena faktor-faktor yang berbeda melahirkan produk seni budaya yang berbeda misalnya antara seni Batak dengan seni Jawa/Bali. Demikian juga produk aksara, sebagaimana hasil analisis Uli Kozok, antara aksara Batak dan aksara Jawa terdapat garis continuum (berbeda jauh tetapi dapat ditelusuri ke origin yang sama, aksara Pallawa). Sumber origin adalah pengaruh asing yakni koloni Budha/Hindu di Jawa dan koloni Budha/Hindu di Angkola dan Padang Lawas. Kebetulan kedua kebudayaan ini (Batak dan Jawa) sama-sama hidup di pedalaman dan sama-sama memiliki kecenderungan belajar yang kuat dan intens (karena hidup tenang di lahan yang subur). Hanya saja proses adopsi di Tanah Batak terkesan lebih selektif yang ini menunjukkan elemen kebudayaan (lama) Batak agak kaku untuk dipertukarkan (substitusi) dengan elemen budaya asing seperti halnya dalam proses kreasi terbentuknya musik. Kebudayaan Jawa cenderung Budha/Hindu, sedangkan kebudayaan Batak hanya sekadar berbau Budha/Hindu.

Dua elemen budaya yang penting, di luar bahasa adalah aksara dan musik. Sebagaimana bahasa, alat berkomunikasi, aksara dan music juga adalah alat komunikasi yang penting bagi penduduk Batak kuno. Dalam hal ini, musik tradisi Batak adalah gabungan (kompilasi) antara instrument lokal dan instrument asing (bukan ekspor). Instrumen-instrumen ini dibedakan dari bahan dasarnya: instrument lokal dari bahan lokal seperti kayu dan bamboo (seperti gordang, taganing, odap, nung neng, tulila, sordam, suling dan uyub-uyub); instrument asing dari bahan logam dan gelas (ogung, doal dan botol atau kaleng). Diantara dua jenis instrument ini terdapat hasil kreasi, paduan bahan lokal dan bahan dari luar (seperti asapi, gitar dua senar khas Batak).

Gordang sambilan, alat komunikasi dengan Mulajadi Na Bolon
Instrumen lokal yang bersifat sentral dalam sistem komunikasi (kebudayaan) penduduk Batak adalah gondang. Alat perkusi ini awalnya digunakan untuk medium berkomunikasi dengan mulajadi na bolon. Oleh karenanya alat perkusi khas Batak ini desainnya mengikuti kebutuhannya, dirancang untuk menghasilkan bunyi yang keras dengan berbagai ukuran untuk menghasilkan bunyi yang berbeda. Cara membuyikannya juga bersifat religi, khas, sakral dan magis. Jumlah gondang dalam satu ensambel terbanyak sembilan buah (dan hanya terdapat di Angkola dan Mandailing). Dalam perkembangannya, digunakan ogung (gong) yang besar kemungkinan diimpor (diadopsi) dari luar yang di satu sisi untuk mengharmonikan bunyi dan sistem resonansi yang berbeda dan di sisi lain untuk memperkuat (komplementer) gondong. Dua elemen bunyi ini adalah bagian dari sistem religi penduduk Batak dan dasar dalam pembentukan ansambel (gondang dan gong) dalam orchest musik tradisi Batak.

Diluar sistem religi satu per satu muncul kreasi penduduk dalam menghasilkan bunyi yang digunakan pada saat sedih atau senang. Alat bunyi-bunyian ini seperti suling, sordam, tulila, nung neng dan sebagainya lambat-laun dipadukan dengan instrument dasar gondang dan gong besar (ogung) dan gong yang lebih kecil (pangora dan doal) dan sebagainya. Hasil kombinasi ini boleh jadi terbentuknya musik tradisi Batak. Ensambel musik Batak (perkusi dan gong) ini semakin diperkaya dengan kreasi (adopsi dan inovasi baru) yakni asapi yang diduga berkembang setelah masuknya pengaruh Tiongkok dari timur, ekspedisi Cheng Ho ke Baroemoen (terkait dengan kerajaan Aroe di sungai B’aroe’moen). Asapi diciptakan dari kreasi kecapi (timur) daripada gitar (barat). Gondang (karena berbagai ukuran menjadi wujud fungsi drum), asapi (fungsi gitar untuk membawakan melodi) dan hasar-hasar (fungsi simbal) dan gong berbagai ukuran sebagai bas. Memadukan dengan instuumen tiup dari bahan bambiu seperti suling, saroene, sordam (ole-ole, ujub-uyub) dan berbagai instrument lokal lainnya, semakin membedakan musik tradisi Batak dengan musik-musik tradisi dari etnik lainnya. Inilah yang membedakan musik tradisi Batak dengan musik tradisi Jawa dan Bali.

Asisten Residen Mandheling en Ankola, TJ Willer (1846) dan Controleur Ankola en Sipirok, WA Hennij (1868) yang datang dari tradisi musik klasik (Eropa) tentu saja mampu mendeskripsikan dengan baik musik tradisi Batak (karena banyak persamaanya). Oleh karenanya upaya kedua pejabat ini mendokumentasi musik tradisi Batak tidak hanya menjalankan tupoksinya tetapi juga keduanya telah berperilaku bagaikan ilmuwan. penemu musik orchest di luar peradaban barat (Eropa) di pedalaman Tanah Batak. Eureka!  TJ Willer dan Hennij di dalam berbagai tulisan dan pemikiran selama bertugas di Afdeeling Mandheling en Ankola memang terkesan nalar akademiknya lebih menonjol dibandingkan sebagai operator dalam tugas-tugas birokrasi yang bersifat rutinitas. Tapi boleh jadi masukan ini berasal dari Jung Huhn (controleur di Pertibie 1843) yang memang ilmuwan pertama yang memasuki Tanah Batak di era Belanda yang berdarah Jerman (ilmuwan dan berjiwa seni). Ida Pheiffer, asal Austria yang mendapat hiburan music tradisi Batak di Sipirok tahun 1852 yang juga turut melaporkan keberadaan musik tradisi Batak memperkuat dugaan tersebut.

Perkembangan evolutif musik tradisi Batak saling mengisi dengan perkembangan sistem religi, sistem sosial (aristokrasi Batak) dan pengembangan pengetahuan penduduk Batak. Pada awalnya instrument music (khususnya gondang dan gong) untuk tujuan utama religi, kemudian diperkaya dengan instrument lain dengan berkembangnya sistem sosial dalihan na tolu dalam ritus kolektif horja di dalam sistem pemerintahan aristokrasi. Seperti dicatat Willer (1846) alat musik utama (gondang alat perkusi) dan gong (berbagai ukuran) adalah melik kekayaan radja. Mungkin mkasudnya hanya Radja yang bisa memesan untuk membuat gondang dan hanya radja yang mampu membeli gong impor dari luar. Oleh karenanya musik tradisi Batak (dalam pengertian ensambel) penyelenggaranya adalah haradjaon (kerajaan). Dengan kata lain, instrument musik ada yang berbasis penduduk dan ada yang harus berbasis haradjaon. Tentu saja tidak setiap huta terbentuk haradjaon meski setiap kepala huta adalah radja.

Kuda Batak dan bakul
Last but not least. Lantas bagaimana teknologi musik tradisi Batak ini mengalami difusi ke seluruh Tanah Batak dan bagaimana perkembangan lebih lanjut (modifikasi) pada masing-masing daerah. Satu-satunya perantara antar daerah di jaman ‘narobi’ dan menyatukannya adalah melalui orang-orang yang terlibat dalam fungsi perdagangan kuno di pedalaman Tanah Batak. Kuda-kuda Batak (kuda terbaik di Nederlandsche Indie) adalah alat transportasi massif di era pedagangan kono (kamper, kemenyan dan emas dipertukarkan dengan garam, besi dan kain). Pusat perdagangan utama di pedalaman Tanah Batak yang representatif untuk memayungi semua cabang-cabang perdagangan kuno hanyalah di Padang Lawas atau Angkola.

Oleh karenanya temuan Uli Kozok dalam penyebaran aksara Batak yang dimulai dari selatan ke utara sebenarnya tidak asing (mungkin banyak benarnya) untuk pola-pola yang sama dalam penyebaran sistem pengetahuan, sistem sosial (musik, tari tortor dan aristokrasi), sistem religi dan sistem arsitektur, sistem persenjataan. Kebetulan sejak era Mesir kuno, Persia hingga era Budha/Hindu, Islam (Arab), Tiongkok, Eropa (Inggris/Belanda/Jerman) Tanah Batak di selatan (khususnya Angkola, Sipirok, Mandailing dan Padang Lawas) selalu lebih terbuka dan konsekuensinya lebih awal menerima pengaruh dari luar. Pengaruh peradaban luar sangat memberi signifikansi (kecepatan dan akselerasi) dalam perkembangan lebih lanjut kebudayaan Batak tidak terkecuali musik tradisi Batak.

Di era colonial, bahkan pionir-pionir dalam pembaruan di Tanah Batak seperti Jung Huhn (geologi dan botani), TJ Willer (geografi sosial), FW Godin (introduksi budidaya kopi), Alexander van der Hart (pertanian tanaman pangan), Godon (pendidikan dan transportasi), Hennij (sistem budidaya kopi),van der Tuuk (linguistic), van Asselt, Klammer dan Nommensen (agama Kristen), semuanya memulai kerjanya di Tanah Batak selatan, tepatnya di Mandailing, Angkola dan Padang Lawas. Dampak plus minusnya: penduduk Batak di selatan Tanah Batak lebih awal mengalami penderitaan dan juga lebih awal yang merasakan arti kehidupan modern.  
Ketika koffiecultuur diterapkan pemerintah kolonial Belanda di Mandailing (berbeda dengan apa yang disepakati oleh para pimpinan local) banyak penduduk menderita, sebagian melakukan perlawanan tetapi dibungkam dengan senjata. Penduduk banyak eksodus. Peristiwa ini direkam oleh Edward Douwes Dekker (controleur afd. Natal 1842-1843). Edward protes tapi malah dia dipecat dan ‘disiksa’ selama setahun. Inilah pemicu timbulnya gagasan untuk menulis ide Multatuli dan insulinde dan bukunya Max Havelaar. Setelah kejadian itu, pemerintah mulai berhati-hati dan harus berlandasakan kemanusian. Asisten Residen Godon (datang 1847), orangnya humanis dan mampu bekerjasama dengan pimpinan lokal. Godon di satu sisi memperkenalkan pendidikan barat (aksara Latin) dan di sisi yan lain bekerja sama dengan penduduk membangun jalur transportasi ke pelabuhan Natal. Tanaman kopi yang sudah menghasilkan berhasil diangkut ke Natal dan diekspor dari Padang. Keuntungan koffiestelsel disisihkan pemerintah untuk memberi dua orang siswa (Si Asta dan Si Angan) beasiswa untuk studi kedokteran ke docter djawa school di Batavia tahun 1854 (ternyata dua siswa ini merupakan siswa pertama yang diterima dari luar Djawa). Dr. Asta ditempatkan di Mandheling en Ankola dan Dr. Angan ditempatkan di Padangsche. Karena prestasi yang bagus, dua siswa lagi (1856) dikirim ke Batavia (Si Napang dari Angkola dan Si Dori dari Mandheling). Dr. Napang ditempatkan di Padangsche dan Dr. Dori ditempatkan di Ankola. Pemerintah colonial ternyata tertarik atas prestasi anak-anak Mandheling en Ankola dan sejak dua gelombang pertama, secara periodik hingga tahun 1902 anak-anak afd.Mandheling en Ankola menempuh studi di docter djawa school.
Pada tahun 1857 Godon menfasilitas Si Sati, seorang anak yang cerdas secara linguistik untuk studi ke Belanda untuk mendapatkan akte guru. Setelah selesai Si Sati yang berganti nama dengan Willem Iskander pulang kampong tahun 1861 dan mendirikan sekolah guru (kweekschool) tahun 1862 di Tanobato. Pada tahun ini (1862) G van Asselt menidirikan sekolah di Sipirok (gurunya adalah Nommensen). Willem Iskander meluluskan banyak guru-guru muda dan ditempatkan di seluruh residentie Tapanoeli. Pada tahun 1870 pemerintah membangun sekolah negeri di Res. Tapanoeli (delapan diantaranya berada di afd. Mandheling en Ankola, dua lagi di Sibolga dan Nias). Tahun ini juga ibukota afd. Mandheling en Ankola dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempoean. Pada tahun 1854 Godon merekrut Si Sati sebagai penulis (pagawai local), pada tahun 1870 Asisten Residen Schermanek membawa staf penulisnya dari Panjaboengan ke Padang Sidempuan dan kemudian digantikan oleh Sjarif Anwar gelar Soetan Goenoeng Toea (siswa pertama Nommensen). Pada tahun 1879 didirikan kweekschool Padang Sidempuan (menggantikan kweekschool Tanobato) dan pada tahun ini pembangunan jembatan Batang Toru dimulai. Lulusan pertama Kweekschool Padang Sidempuan adalah Dja Endar Moeda (ditempatkan di Batahan dan Air Bangis).
Setelah pension menjadi guru, Dja Endar Moeda menjadi editor surat kabar Pertja Barat di Padang. Editor kedua adalah Mangaradja Salamboewe di Pertja Timor di Medan tahun 1902 (Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indoensia baru menjadi editor tahun 1903 di Batavia, Pembrita Betawi). Mangaradja Salamboewe sendiri adalah anak Dr. Asta, alumni terakhir Kweekschool Padang Sidempuan karena ditutup tahun 1892. Alumni tahun sebelumnya yang terkenal adalah Soetan Martoewa Radja (ayah MO Parlindungan, penulis buku controversial Tuanku Rao, 1964). Pada tahun 1905, seorang mantan guru dan alumni Kweekschool Padang Sidempuan, Si Radjioen gelar Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda (Soetan Casajangan adalah orang kedua pribumi kuliah di Belanda dan tahun 1908 mendirikan perhimpunan Indonesia, Indisch Vereeniging, sebagai respon atas pendirian Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan). Setelah Soetan Casajangan, menyusul dua anak Padang Sidempuan ke Belanda (Abdul Firman gelar Mangaradja Soangkoepon, 1910 dan Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia, 1911). Antara tahun 1901 dan 1905 ada lima anak Padang Sidempoean lulus docter djawa school (yang tahun 1902 berganti nama menjadi STOVIA). Kelima lulusan itu adalah Dr. Mohamad Hamzah, Dr. Haroen Al Rasjid, Dr. Abdoel Karim dan Dr. Abdoel Hakim sama-sama lulus dengan Dr. Tjipto, dan Dr. Mohamad Daoelaj.
Pada tahun 1907 seorang anak Padang Sidempoean bernama Sorip Tagor tiba di Buitenzorg untuk mengikuti pendidikan di Inlandschen Veeartsen School (Sekolah Dokter Hewan dibuka 1907) kemudian disusul lagi Alimoesa tahun 1910. Pada tahun 1912 datang lagi anak Padang Sidempuan ke Buitenzorg untuk mengikuti pendidikan pertanian (Landbouw School). Setelah beberapa tahun menjadi asisten dosen, pada tahun 1915, Sorip Tagor (ompung dari Inez Tagor) melanjutkan studi di Utrecht, Belanda. Sekolah tinggi dokter hewan hanya ada di Utrecht, Sorip Tagor adalah mahasiswa pribumi pertama di sekolah dokter hewan di Belanda. Dengan kata lain, Sorip Tagor adalah pelopor pendidikan kedokteran di Hindia (Indonesia). Sorip Tagor mempelopori didirikannya Sumatranen Bond di Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1917. Sumatranen Bond resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan). Tujuan didirikan organisasi ini untuk meningkatkan tarap hidup penduduk di Sumatra, karena tampak ada kepincangan pembangunan antara Jawa dan Sumatra. Soetan Casajangan dan Sorip Tagor adalah dua mahasiswa beda generasi asal Padang Sidempuan yang mempelopori organisasi mahasiswa di Belanda. Pada fase ini, sesuatu yang tidak lazim, seorang remaja datang ke Belanda untuk melanjutkan sekolah menengah, namanya Amir Sjarifoedin (sepupu Todoeng Harahap gelar Soetan Goenong Moelia). Setelah lulus melanjutkan ke sekolah hukum di Belanda, tetapi baru naik tingkat dua, Amir tahun 1927 pulang kampong karena ayahnya, Djamin Harahap di Sibolga (di tahan opsir Belanda). Sejak itu Amir tidak kembali ke Belanda dan kemudian mengikuti Recht School di Batavia (aktivis pergerakan mahasiswa dan kelak menjadi Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri RI).
Haroen Al Rasjid menjadi menantu Dja Endar Moeda di Padang. Boru panggoaran Haroen Al Rasjid (pahompu Dja Endar Moeda) bernama Ida Loemongga tahun 1918 berangkat studi kedokteran dan kemudian dilanjutkan studi doctoral di Leiden. Tahun 1925 Mr. Radja Enda Boemi berhasil meraih gelar doctor (PhD) di Leiden, kemudian disusul Ida Loemongga lulus PhD tahun 1931 dan kemudian Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia setelah mengabdi jadi guru di tanah air kembali studi untuk tingkat doctoral (lulus PhD tahun 1933). Tiga peraih PhD asal Padang Sidempuan ini merupakan tiga dari tujuh orang Indonesia pertama yang bergelar doktor. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pertama orang Batak adalah orang ketiga Indonesia bergelar doktor; dokter Ida Loemongga Nasoetion adalah perempuan Indonesia pertama bergelar PhD; Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia adalah mantan anggota Volksraad (dewan pusat di Batavia) dan menjadi Menteri Pendidikan RI yang kedua.
Anggota Volksraad pertama orang Batak (1926) adalah Mangaradja Soangkoepon (dari dapil Sumatra’s Oostkust) dan Dr. Alimoesa Harahap dari dapil Tapanoeli. Satu lagi yang menjadi anggota Volksraad adalah Dr. Rasjid Siregar (adik Mangaradja Soengkoepon) dari dapil Tapanoeli menggantikan Alimoesa. Praktis, sejak diperbolehkannya pribumi menjadi anggota Volksraad 1924 (hingga kemerdekaan RI), yang mewakili Province Sumatra’s Oostkust dan Residentie Tapanoeli semuanya adalah anak-anak Padang Sidempoean. Tiga diantara anak-anak Padang Sidempoean yang menyusul kemudian studi ke Belanda yang cukup menonjol adalah Parlindoengan Loebis, Masdoelhak Nasoetion dan AFP Siregar gelar MO Parlindoengan. Dua anak muda yang pertama adalah aktivis mahasiswa selama kuliah. Parlindoengan Loebis ditawan oleh Nazi. Sedangkan Masdoelhak (saudara sepupu Ida Loemongga), setelah lulus PhD di bidang hukum dengan predikat cum laude tahun 1943 kemudian pulang ke tanah air.
Setelah Indonesia merdeka, Masdoelhak diangkat menjadi Resident Sumatra Tengah di Bukit Tinggi. Pada saat agresi militer Belanda, ibukota RI pindah ke Yogya, masdoelhak direkrut menjadi penasehat hukum Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta. Pada saat serangan pertama, Masdoelhak yang pertama diciduk dan ditembak mati (PBB marah besar karena telah membunuh intelektual muda Indonesia). Masdoelhak Nasoetion akhirnya dianugerahi menjadi Pahlawan Nasional tahun 2006.  MO Parlindoengan dari Medan langsung berangkat studi ke Belanda tahun 1937. Di masa pendudukan Jepang MO Parlindoengan mendapat gelar insinyur teknik kimia. Pada masa agresi, MO Parlindungan satu-satunya orang Indonesia yang memahami teknik bom dan berjuang di Surabaya. Setelah pengakuan kedaulatan, Letkol MO Parlindungan pada tahun 1952 diangkat menjadi direktur pertama pribumi Perusahaan Senjata dan Mesiu (PSM) di Bandung (kemudian menjadi Pindad).  
TJ Willer, Asisten Residen pertama afd. Mandheling en Ankola (1840-1845) membuktikan bahwa apa yang pernah dicatat Charles Miller (1772) dan ditulis William Marsden dalam bukunya The History of Sumatra (1811) bahwa penduduk Angkola memiliki angka literasi yang tinggi. Seperti yang ditulis Marsden bahwa lebih dari separuh penduduk Ankola mampu membaca dan menulis (dalam aksara Batak) yang melebihi semua bangsa-bangsa di Eropa. Pendapat Miller tersebut juga dicatat oleh Willer bahwa angka literasi di Mandheling en Ankola sangat tinggi.

Boleh jadi pada era pendidikan colonial dengan introduksi pendidikan modern (aksara latin) di Mandheling en Ankola tahun 1849 besar kemungkinan bukanlah inisiatif dari luar (Asisten Residen Godon), tetapi justru inisiatif dari dalam (atas dorongan dari penduduk yang telah lama memiliki angka literasi tinggi). Penduduk Mandailing dan Ankola yang baru belasan tahun di bawah pemerintahan colonial (dimulai tahun 1840), pada tahun 1854 sudah ada dua siswa yang diterima di docter djawa school di Batavia (orang luar Djawa pertama) dan pada tahun 1857 sudah ada yang berangkat studi ke Belanda (orang Indonesia pertama).

Pada tahun 1877, beberapa tahun setelah Kweekschool Tanobato ditutup karena gurunya Willem Iskander berangkat lagi studi ke Belanda (1975 namun dikabarkan meninggal di Belanda tahun 1876) seorang dokter muda lulusan Belanda ditempatkan di Panjaboengan tetapi dengan tugas yang berbeda dengan keahliannya yakni sebagai opziener (pengawas). Namun sang pegawai muda ini tampaknya tidak nyaman dengan pekerjaannya, lalu lebih tertarik mendalami sastra Batak, karena dilihatnya semua penduduk bisa tulis baca (aksara latin). Dia juga melihat para guru-guru menulis buku-buku pelajaran dan buku-buku bacaan. Entah apa yang mempengaruhi anak muda ini lalu meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke Padang untuk meminta direktur pendidikan Sumatra’s Westkust agar dirinya diuji dan ingin beralih menjadi guru (saja). Direktur pendidikan merekomendasikan agar magang di Kweekschool Probolinggo. Belum lama Kweekschool Padang Sidempuan dibuka tahun 1879 anak muda yang bernama Charles Adrian van Ophuijsen ini dipindahkan dari Probolinggo menjadi guru di Kweekschool Padang Sidempuan. Charles Adrian van Ophuijsen ternyata adalah guru yang cerdas. Mungkin gurulah yang jadi jalan hidup van Ophuijsen sehingga berani mengubah haluan. Charles Adrian van Ophuijsen menjadi guru di Padang Sidempoean selama delapan tahun dan lima tahun terakhir menjadi direktur Kweekschool Padang Sidemp;uan. Charles diberhentikan karena dipromosikan menjadi direktur pendidikan Province Sumatra’s Westkust.   
  
Inisiatif lainnya terjadi pada tahun 1905 ketika seorang guru (yang seharusnya sudah pension) bernama Radjioen gelar Soetan Casajangan  dengan biaya sendiri berangkat studi ke Belanda (orang kedua Indonesia kuliah di luar negeri). Radjioen adalah siswa terbaik dari Charles Adrian van Ophuijsen di Kweekschool Padang Sidempuan. Ketika Charles diangkat menjadi guru besar bahasa dan sastra Melayu di Universiteit Leiden yang menjadi asistennya adalah Soetan Casajangan yang kala itu tengah menempuh pendidikan tinggi di Harlem. Pada fase awal pendidikan tinggi anak-anak pribumi di Belanda, nama Soetan Casajangan tidak hanya terkenal di Tanah Air tetapi juga di Negeri Belanda. Soetan Casajangan adalah sosok yang berbeda (paling elegan dan percaya diri) diantara mahasiswa-mahasiswa lainnya. Surat kabar Telegraaf mewawancara Soetan Casajangan di Amsterdam yang dilansir Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907 (hanya mengutip beberapa saja di sini).

‘…mengapa anda mengambil risiko jauh studi kesini meninggal kesenangan di kampungmu, calon koeria, yang seharusnya sudah pension jadi guru dan anda juga harus rela meninggalkan anak istri yang setia menunggumu…anda tahu untuk masyarakat saya, masih banyak yang perlu dilakukan, kami punya mimpi, kami diajarkan dengan baik oleh guru Ophuijsen….tapi kini masyarakat kami sudah mulai menurun dan melemah pada semua sendi kehidupan.. saya punya rencana pembangunan dan pengembangan lebih lanjut dari penduduk asli di Nederlandsch Indie (Hindia Belanda)..saya mengajak anak-anak muda untuk datang ke sini (Belanda) agar bisa belajar banyak..di kampong saya kehidupan pemuda statis, baik laki-laki dan perempuan..dari hari ke hari hanya bekerja di sawah (laki-laki) dan menumbuk padi (perempuan)…mereka menghibur diri dengan menari (juga tortor) yang diringi dengan musik, simbal, klarinet, gitar dan ensambel gong…(dansten zij op de muziek van bekkens, klarinet, guitaar en gebarsten gong...)..anda tahu dalam Filosofi Batak kuno, kami yakin bahwa jiwa itu berada di kepala, dan karenanya kami harus tekun agar tetap intelek…’.

Prof. Charles Adrian van Ophuijsen adalah penyusun tata bahasa Melayu (mungkin ingin mengikuti jejak N. van der Tuuk yang telah lebih dahulu menyusun tata bahasa Batak dan menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak. Anehnya, Mr. van der Tuuk dan Mr. van Ophuijsen sama-sama memulai pelajaran bahasanya (bahasa Batak dan bahasa Melayu) justru di afdeeling Mandheling en Ankola. Konon N. van der Tuuk sebelum memulai ekspedisinya di Silindoeng en Toba terlebih dahulu belajar kepada Asisten Residen Godon di Panjaboengan dan belajar bahasa dan musik tradisi dari penduduk Angkola dan Mandailing. Menurut Uli Kozok, sukses Nommensen melakukan misi di Silindoeng dan Toba karena mengadopsi rekomendasi dari Mr. van der Tuuk yang mana rekomendasi itu disusun van der Tuuk atas petunjuk AP Godon yang telah memahami lebih dahulu sosial budaya orang Batak (AP Godon sembilan tahun menjadi Asisten Residen Mandheling en Ankola, 1848-1857, asisten residen terlama di Nederlandsch Indie). Tentu saja tingkat penerimaan penduduk Batak di Silindoeng en Toba sangat tinggi kepada Mr. van der Tuuk karena sudah sangat piawai memainkan musik tradisi Batak. 

Introduksi pendidikan modern (aksara Latin) di Silindoeng pada dasarnya baru dimulai pada tahun 1880an. Pendidikan dasar sudah diperkenalkan Nommensen akhir 1870an. Ketika Kweekschool Padang Sidempuan dibuka tahun 1879, pada tahun ketiga controleur di Silindoeng mengirim tiga siswa untuk mengikuti pendidikan guru (umum), namun program ini tidak berjalan lancar karena pesertanya sakit. Lantas inisiatif program pendidikan guru bagi siswa Silindoeng yang gagal ini, Nommensen memperkuat pendidikan guru (agama, guru zending). Pada akhir tahun 1890an, guru Soetan Martoewa Radja yang bertugas di sekolah negeri di Sipirok dipindahkan ke Taroetoeng sehubungan dengan dibukanya sekolah dasar negeri (umum). Lalu setelah cukup lama di Silindoeng, Soetan Martoewa Radja (alumni Kweekschool Padang Sidempuan, 1892) diangkat menjadi direktur Normaal School (sekolah guru) di Pematang Siantar (1920an). Pada tahun 1919 di Dolok Sanggul didirikan HIS (sekolah dasar untuk orang Eropa/Belanda dan penduduk local terpandang), guru yang diangkat men jadi kepala sekolah adalah Soetan Casajangan (alumni Kweekschool Padang Sidempuan, lulusan Harlem Belanda, pendiri Indisch Vereeniging 1908 dan pulang ke tanah air tahun 1914). Soetan Casajangan terakhir menjadi direktur Normaal School di Meester Cornelis, Batavia (meninggal tahun 1929). Satu lagi guru terkenal dari Padang Sidempuan adalah Radja Goenoeng. Setelah mengadjar di berbagai tempat di Residentie Tapanoeli, tahun 1915 diangkat menjadi penilik (pengawas) sekolah di Sumatra’s Oostkust yang berkedudukan di Medan. Pada tahun 1918 Radja Goenoeng terpilih menjadi anggota dewan kota (gementee raad) Medan (orang pribumi pertama yang diangkat melalui pemilihan umum di gementeeraad Medan). Last but not least: Juga tidak boleh melupakan guru GB Josua. Setelah lulus HIK Bandoeng pulang kampung dan mengajar di HIS Sipirok (1921). Anak Padang Sidempuan kelahiran Sipirok ini hijrah ke Medan. Baru beberapa tahun Gading Batoebara (GB) Josua di Medan, beberapa pengusaha asal Balige di Medan meminta GB Josua untuk meningkatkan mutu HIS yang sudah lama mutunya menurun (sepeninggal Soetan Casajangan).GB Josua sukses melakukan tugas swasta itu. Rupanya pemerintah kolonial mendengar berita itu, lalu GB Josua diberi beasiswa untuk melanjutkan studi ke Belanda. Pada tahun 1930 sepulang dari Belanda mendirikan perguruan swasta (HIS dan MULO) yang dikenal sebagai Joshua Instituut (kini Perguruan Josua). GB Josua pernah satu periode menjadi anggota Gementee Raad Kota Medan. Selama agresi militer Belanda di Medan, GB Josua bersama Dr. Djabangoen menangani anak-anak republik di dalam Negara Sumatra Timur. GB Josua menampung anak-anak didik dari warga republik sedangkan Dr. Djabangoen mengurusi kesehatan anak-anak republik yang tingkat kesehatan yang menurun karena sulitnya mendapatkan pangan di Deli. Djabangoen Harahap adalah anak Padang Sidempuan alumni STOVIA (kakak kelas Dr. Mansoer) yang saat sebelum perang bertugas di laboratorium TBC di Kabanjahe dan kemudian menjadi kepala divisi endemik TBC di RS Pirngadi Medan. Dr. Djabangoen adalah Ketua Front Medan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Hanya ada dua front di Indonesia, satu lagi di Surabaya. Ketua Front Surabaya adalah Doel Arnowo yang bahu membahu dengan Dr. Radjamin (walikota pribumi pertama Surabaya). Dr. Radjamin Nasoetion, anak Padang Siodempuan adalah kakak kelas Dr. Djabangoen di STOVIA. Alumni STOVIA lainnya adalah Dr. FL Tobing (seangkatan dengan Dr. Mansoer) yang berjuang selama agresi di Tapanoeli bersama Abdul Hakim (alumni sekolah ekonomi di Batavia). Kemudian Dr. FL Tobing diangkat menjadi Residen Tapanoeli dan wakilnya adalah Abdul Hakim, SE (menggantikan fungsi Gubernur (Militer) Sumatra Utara, Dr. Gindo Siregar, anak Sipirok alumni STOVIA). Kelak pada tahun 1952 Abdul Hakim Harahap diangkat menjadi Gubernur Sumatra Utara yang keempat (gubernur Sumatra Utara yang pertama, Mr. SM Nasoetion (alumni Recht School di Batavia), kelahiran Atjeh, anak seorang guru yang alumni Kweekschool Padang Sidempoean).
Inilah hakikat adanya relasi tingkat pengetahuan dan tingkat perkembangan musik di dalam komunitas penduduk di Tanah Batak pada fase awal peradaban baru. Endehon ma: 'Sian Mandailing Godang do, asal mula ni ..'..

Guru menjadi wartawan, sastrawan, politikus dan musikus 

Penciptaan aksara Batak menjadi dasar pembentukan peradaban penduduk Batak (kebudayaan Batak). Dua diantara elemen peradaban penduduk Batak dalam hal ini, yakni literasi dan seni. Tingkat pengetahuan yang tinggi (dalam hal ini angka literasi yang tinggi) memungkinkan  penduduk Batak mudah menerima hal-hal baru untuk mengkreasi sendiri untuk kebutuhannya sendiri. Ketika pemerintah kolonial memperkenalkan pendidikan modern (aksara Latin), penduduk Batak dengan mudah dan cepat mengadopsinya. Guru-guru sekolahpun bermunculan dimana-mana.

Guru pertama yang lahir adalah Willem Iskander. Kemudian guru-guru berikutnya muncul dalam jumlah bilangan yang banyak. Pada awal tahun 1870an, pemerintah mendirikan 10 sekolah dasar negeri, delapan diantaranya berada di Afd. Mandheling en Ankola (sisanya satu di Sibolga dan Nias). Pada akhir 1880an dari 18 buah sekolah negeri di Tapanoeli, 15 diantaranya berada di Afd. Mandheling en Ankola (sisanya di Sibolga, Nias dan Singkel). Praktis sebelum berakhir abad ke-19, semua penduduk usia sekolah di Afd. Mandheling en Ankola sudah bisa baca tulis. Apa yang ditemukan Charles Miller tahun 1772: ‘lebih dari separuh penduduk bisa baca-tulis, suatu angka yang melebihi semua bangsa-bangsa di Eropa’, terbukti, tetapi tidak lagi dalam aksara Batak tetapi dalam aksara Latin.


Sejak awal 1890an, guru-guru yang berasal dari Afd. Mandheling en Ankola telah memenuhi semua sekolah-sekolah yang ada di Residentie Tapanoeli (Mandheling en Ankola, Padang Lawas, Sibolga en Ommelanden, Nias, Baros dan Singkel), dan sebagian telah mengisi sekolah-sekolah di Djambi, Riaou dan Sumatra’s Oostkust. Guru-guru ini telah menyebar dan banyak diantaranya yang terjun dalam dunia pers (Dja Endar Moeda, Mangaradja Salamboewe, Soetan Parlindoengan dan lainnya), menjadi politikus (Radja Goenoeng, Soetan Martoeawa Radja, Soetan Batang Taris dan lainnya). Diantara guru-guru tersebut juga banyak yang mengembangkan bakat-bakat menjadi sastrawan, seperti Dja Endar Moeda, Soetan Martoewa Radja, Soetan Hasoendoetan, Soetan Pangoerabaan dan lainnya.


Sastrawan-sastrawan generasi kedua seperti Muhamad Kasim, lahir di Muara Sipongi, pionir cerpen Indonesia; Suman Hs (Hasibuan), pionir cerpen mini Indonesia; Merari Siregar, penggagas pertama roman asli Indonesia; Sanusi Pane, sastrawan pemikir; Armijn Pane, kritikus sastra pertama Indonesia; Sutan Takdir Alisjahbana, Bapak Bahasa Indonesia Moderen, Ida Nasoetion, kritikus; Bahrum Rangkuti, sastrawan berpangkat kolonel yang menjadi ustadz; Bakri Siregar, sastrawan yang menjadi dosen Bahasa Indonesia di Universitas Warsawa dan Universitas Beijing; Mochtar Lubis, sastrawan dan budayawan yang berani dan jujur; Mansur Samin, penulis sajak Raja Sisingamangaraja; Ras Siregar, penulis sprint.


Sastrawan asal Sipirok (tempat dimana Nommensen mulai bekerja tahun 1860 dalam pengembangan misi di Silindoeng en Toba) terbilang cukup banyak seperti Soetan Martoewa Radja (novel terkenalnya Doea Sedjoli), Soetan Hasoendoetan (novel terkenalnya Siti Djoeariah); Soetan Pangoerabaan (ayah dari Sanusi Pane dan Armijn Pane) banyak menghasilkan sastra lokal; Merari Siregar dan lainnya.


Anak-anak sekolah negeri di Sipirok, 1928
Satu lagi tokoh terkenal kelahiran Siprok adalah Nahum Situmorang yang juga sangat berbakat dalam musik. Ayah Nahum  adalah seorang guru, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (seangkatan dengan Soetan Martoewa Radja). Nahum Situmorang memulai pendidikan tinggi di Kweekschool Gunung Sahari,Batavia lalu dilanjutkan di Kweekschool Lembang Bandoeng (lulus 1928). Tiga tahun sebelumnya (1925), Sanusi Pane lulus dari Kweekschool, Gunung Sahari, Batavia. Dua tahun sebelumnya (1923) anak Sipirok bernama Gading Batoebara (kemudian menjadi GB Josua) lulus di Hogere Inlandsch Kweekschool (HIK) di Poeworedjo lalu pulang kampong mengajar di HIS Sipirok (dan kemudian ke Medan). Sementara Sanusi Pane menjadi guru di kampusnya lalu pindah ke Bandung untuk mengajar di HIK Bandoeng. Nahum sendiri setelah lulus pindah ke Sibolga untuk menjadi guru HIS dan kemudian pindah ke Tarutung (tempat dimana Soetan Martoewa Radja menjadi guru kepala sekolah negeri). Besar kemugkinan Nahum Situmorang adalah penerus guru Soetan Martoewa Radja di (HIS) Tarutung. Inilah koneksi anak-anak Sipirok di dalam dunia pendidikan.

Sanusi Pane dan Nahum Situmorang ternyata kemudian tarikan bakat-bakat lama merka tidak tertahankan. Sanusi Pane berubah haluan menjadi sastrawan dan Nahum Situmorang berubah haluan menjadi musikus. Keduanya ternyata menemukan jalan hidup masing-masing: Sanusi Pane menjadi sastrawan besar dan terkenal dan Nahum Situmorang menjadi musikus besar dan terkenal. GB Josua juga ternyata selain terus menekuni profesinya sebagai guru juga menjadi politikus yang banyak memperjuangkan pendidikan rakyat di Medan. GB Josua mengikuti seniornya, guru Radja Goenoeng kelahiran Padang Sidempuan, yang telah lebih dahulu menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) Medan. Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng menjadi anggota dewan kota sejak tahun 1918 (10 tahun). Pada tahun 1929 posisi Radja Goenoeng ini digantikan oleh Abdul Hakim (tujuh tahun). Pada tahun 1936 Abdul Hakim Harahap dan GB Josua keduanya terpilih menjadi anggota dewan kota Medan (Abdul Hakim kelak tahun 1952 menjadi gubernur Sumatra Utara yang keempat).

Anak-anak Afd. Padang Sidempuan (tahun 1905 diubah dari afd. Mandheling en Ankola) sejak1905 tidak hanya memainkan peran yang penting di Tapanoeli, tetapi juga di Sumatra’s Oostkut bahkan tanpa terkecuali di Jawa yang berbasis di Batavia. Tahun-tahun menjelang kemerdekaaan RI, anak-anak Padang Sidempuan besar kemungkinan sudah terkoneksi satu dengan yang lain di Jawa: seperti Batavia, Buitenzorg, Soekaboemi, Bandoeng, Soerabaija. Sanusi Pane editor majalah Pembangunan coba mengajak rekan-rekan dongan sahuta untuk sedikit memperhatikan kampong halaman (yang sudah lama ditinggalkan).

Sanusi Pane bersepakat dengan sejumlah tokoh penting di Batavia untuk menyusun sebuah Rencana Reformasi Pembangunan Tapanoeli (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-03-1938). Dewan yang dibentuk terdiri dari (diantaranya) Sanusi Pane sebagai Presiden. Anggota terdiri dari Parada Harahap (editor Tjaja Timoer), Abdoel Hakim Harahap (mantan anggota dewan kota Medan, kelak menjadi Gubernur Sumatra Utara), AL Tobing, H. Pane, T. Dalimoente dan Panangian Harahap (penilik sekolah di Bandung). Selain itu, sebagai pembina adalah Mangaraja Soangkoepon (anggota Volksraad dari dapil Sumatra Timur), Dr. Abdul Rasjid (anggota Volksraad dari dapil Tapanoeli), Mr. Soetan Goenoeng Moelia, PhD (anggota Volksraad dari utusan bidang pendidikan) dan Mr. Amir Sjarifoedin (Pimpinan Partai Politik). Mereka ini telah turut mempengaruhi kebijakan pusat (Gubernur Jenderal) dalam berbagai kebijakan/program yang dibuat di level residentie agar terjadi percepatan pembangunan di Tapanoeli (mengingat di Sumatra’s Oostkust sudah maju pesat).


Sipirok asal musik modern Batak: Nahum Situmorang dan Sakti Alamsyah


Nahum Situmorang adalah seorang guru dan juga memiliki jiwa seni musik yang kuat. Artinya, di dalam diri Nahum terdapat kemampuan akademik juga kepandaian seni. Kombinasi ini banyak terdapat pada anak-anak muda Batak pada fase awal seperti senior mereka Dja Endar Moeda (guru, wartawan dan sastrawan) dan Soetan Martoewa Radja (guru, sastrawan dan politikus). Seangkatan Nahum juga kombinasi ini juga banyak ditemukan, seperti Sanusi Pane (guru dan sastrawan), Amir Sjarifoedin (guru, praktisi hukum dan seniman); Parada Harahap (wartawan dan penulis scenario film). Mereka adalah tipikal pemuda di jamannya dan kebetulan Parada Harahap, Sanusi, Amir dan Nahum terlibat dalan Kongres Pemuda 1928. Amir Sjarifoedin adalah bendahara dan Parada Harahap adalah penasehat Kongres Pemuda (saat itu menjadi sekretaris himpunan organisasi-organisasi yang diketuai oleh M. Husni Thamrin).


Grup musik di Sipirok, 1928 (sudah lebih maju: kombinasi tradisi dan modern)
Secara khusus, Nahum Situmorang adalah seniman musik yang lahir di atas pondasi musik tradisi Batak. Nahum lahir di Sipirok tahun 1908. Pada tahun ini, di Leiden, guru Soetan Casajangan (kelahiran Padang Sidempuan, mahasiswa kedua yang tiba di Belanda, 1905) mendirikan dan menjadi presiden pertama perhimpunan masyarakat Indonesia (Indisch Vereeniging). Misi Soetan Casajangan hanya satu: ingin membangun kemajuan bagi penduduk pribumi, karena dia merasakan sendiri di kampongnya  kehidupan pemuda statis, baik laki-laki dan perempuan..dari hari ke hari hanya bekerja di sawah ladang (laki-laki) dan menumbuk padi (perempuan)…mereka (para muda mudi) hanya menghibur diri dengan menari (tortor) yang diringi dengan musik (ensambel gondang), simbal, klarinet, gitar dan dentuman gong (Telegraaf, 1907).

Sipirok adalah tempat dimana orang Eropa pertama tahun 1852 melihat suatu pertunjukkan musik tradisi Batak dipentaskan (dengan sengaja). Sipirok adalah tempat dimana Gustav van Asselt (1858) memulai menyelenggarakan pendidikan modern aksara Latin (1861) buat anak-anak Sipirok. Guru terkenalnya bernama Nommensen. Sipirok adalah tempat dimana Nommensen mempersiapkan diri untuk memulai misi penyiaran agama Kristen di Silindoeng en Toba(1861). Sipirok adalah tempat dimana rapat (musyawarah) antara misionaris Belanda dengan misionaris Jerman. Sipirok adalah tempat HKBP ditabalkan sebagai tempat kelahirannya (1862). Sipirok adalah suatu tempat dimana penduduknya mayoritas beragama Islam membuka ruang secara terbuka bagi penyiaran agama Kristen. Sipirok adalah contoh terbaik dimana Islam dan Kristen hidup berdampingan dan harmoni.

Itulah gambaran sekilas tentang situasi dan kondisi ketika dimana Nahum Sitomorang lahir, di Sipirok na oeli tahun 1908. Sipirok juga tempat lahir guru-guru yang hebat, dan juga asal dari banyak sastrawan terkenal (lokal, regional maupun nasional). Nahum Situmorang juga adalah seorang guru, anak seorang guru. Meski Nahum Situmorang tidak memiliki bakat yang kuat dalam sastra, melainkan bakatnya lebih pada musik, yakni musik yang berbasis musik tradisi Batak, tetapi dalam lirik-lirik lagu yang dihasilkannya mengindikasikan Nahum Situmorang juga memiliki kemampuan linguistik yang baik. Sebagaimana guru Dja Endar Moeda pernah mengatakan (ketika memilih profesi baru sebagai wartawan) bahwa pendidikan dan pers sama pentingnya, sama-sama alat untuk mencerdaskan bangsa (lihat Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 25-03-1898), setali tiga uang, mungkin Nahum berpikiran sama: pendidikan dan musik sama pentingnya, sama-sama alat untuk mencerdaskan bangsa.

Pada tahun 1908 di Sipirok lahir Luat Siregar. Luat menyelesaikan HIS kemudian MULO dan selanjutnya AMS. Setelah lulus SMA, Luat Siregar melanjutkan studi ke Leiden Universiteit. Ia mendapatkan gelarnya (Mr) pada 20 Desember 1934.  Padai tahun 1935 hingga pendudukan Jepang Luat Siregar sebagai pengacara di Medan. Kemudian militer Jepang merekrutnya menjadi sekretaris walikota di Medan. Posisi ini dipegangnya hingga pendudukan Jepang berakhir. Pada tahun 1945, Mr Luat Siregar berturut-turut menjadi Walikota.Medan (pertama) dan kemudian Resident Sumatera Timur. Pada tahun 1947 Luat Siregar menjadi anggota dari KNIP terpilih ke Yogyakarta; Pada tahun 1950 Luat Siregar menjadi anggota parlemen. Luat Siregar meninggal 18 Februari 1953.
Dja Endar Moeda meski sudah menjadi wartawan terkenal di Padang (dan telah lama pinsiun guru di Batahan), tetapi pers Belanda kerap menyebut dirinya guru Dja Endar Moeda (lihat Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 28-02-1899). Bahkan ketika masih menjadi siswa Kweekschool Padang Sidempuan, Dja Endar Moeda sudah melakukan kebajikan mengumpulkan dana untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan (lihat Sumatra Courant: nieuws-en advertentieblad, 01-05-1884). Setali tiga uang, Nahum Situmorang, meski berprofesi guru (di Sibolga dan Tarutung) tapi dalam kesehariannya adalah seorang pemusik yang terus menciptakan lagu (musik) dan nyanyian.

Grup musik alat tiup di Sipirok, sudah ada sejak 1890
Bakat ini terus berkembang sejak masih sekolah di Sipirok, Nahum sudah intens bermain musik dengan anak-anak Sipirok yang lain (Sipirok adalah tempat terawal di Tanah Batak musik modern disandingkan dengan musik tradisi). Bakat musik Nahum Situmorang semakin terasah ketika tengah mengikuti pendidikan guru di Batavia dan Lembang. Bahkan Nahum sudah ikut lomba menciptakan lagu kebangsaan: Indonesia Raya (sebagai runner up dimana salah satu jurinya Parada Harahap) yang mana lagu ini dikumandangkan kali pertama pada Kongres Pemuda tahun 1928 (suatu kongres yang bendaharanya adalah Amir Sjarifoedin).

Ketika Jepang melakukan invasi ke Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) tahun 1942, Tapanoeli juga menjadi sasaran militer Jepang. Pusat militer Jepang di Tapanoeli dipilih di Tarutung (era Belanda di Sibolga). Ketika militer Jepang mulai membangun pemerintahan militernya di Indonesia, tokoh-tokoh lokal (pribumi) terbaik dilibatkan (dan menyingkirkan tokoh-tokoh Tionghoa). Orang pribumi pertama yangt direkrut militer Jepang adalah Abdul Hakim Harahap, SE (untuk mempersiapkan dewan Tapanoeli). Di Surabaya, tokoh berpengaruh, Dr. Radjamin Nasoetion (eks anggota gementeeraad Surabaya) diangkat menjadi walikota Surabaya), di Medan, Mr. Luat Siregar (kelahiran Sipirok) diangkat menjadi sekretaris walikota Medan.

Di Tarutung (sebagaimana di tempat lain di Indonesia) sekolah-sekolah ditutup dan dijadikan tangsi-tangsi militer. Nahum Situmorang tidak bisa mengajar lagi, tetapi bakatnya di bidang musik direkrut oleh militer Jepang untuk mengelola café dimana Nahum Situmorang menjadi penyanyi dan musisinya. Dua pemuda lulusan dari Batavia, Abdul Hakim dan Nahum Situmorang meski dalam situasi pendudukan Jepang keduanya masih mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakatnya masing-masing: Abdul Hakim di bidang birokrasi/politik, Nahum Situmorang di bidang seni (suara dan musik). Abdul Hakim, kelahiran Sorolangun, Djambi pulang kampong dari Makassar karena ayahnya yang sudah lama pension pegawai pemerintahan Belanda dikabarkan meninggal dunia di Padang Sidempuan. Saat di Padang Sidempuan, Abdul Hakim direkrut militer Jepang dan dipanggil ke Tarutung. Abdul Hakim (anak Padang Sidempuan) dan Nahum Situmorang (anak Sipirok) yang sudah sejak lama di Tarutung keduanya bahu membahu diibukota Residen Tapanoeli yang baru itu. Satu lagi anak muda yang paling kampong adalah Kalisati, direkrut militer Jepang untuk menjadi kepala dinas perdagangan di afd. Padang Sidempuan (nama Kalisati kelak dikenal sebagai ayah dari Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa UI, anti produk Jepang dalam Malari, 1974).

Sementara itu di Batavia, tiga anak muda asal Padang Sidempuan direkrut militer Jepang untuk bekerja di stasion radio militer Jepang, yakni: Adam Malik (kelahiran Pematang Siantar), Sakti Alamsyah (kelahiran Sungai Karang, Sumatra Timur) dan Mochtar Lubis (kelahiran Sungai Penuh, Djambi). Ketiga anak muda ini sebelumnya berprofesi sebagai jurnalistik di Batavia. Dua anak muda asal Padang Sidempuan yakni Amir Sjarifoedin (kelahiran Medan) menolak direkrut (dan malahan cenderung tidak kooperatif) dan Parada Harahap yang cenderung abstain dan memilih pension dari segala aktivitas (baginya Jepang dan Belanda sama saja, sama-sama imperialism).


Sesungguhnya Parada Harahap adalah orang Indonesia pertama yang berkunjung ke Jepang. Kehadiran Parada dan rombongan besar kemungkinan untuk tujuan propaganda Jepang buat orang-orang Indonesia yang tidak senang dengan pemerintah kolonial Belanda. Agen Jepang di Indonesia diduga memfasilitasi sebanyak tujuh orang Indonesia yang anti Belanda termasuk diantara Abdullah Lubis dari Pewarta Deli, guru dari Bandung, pengusaha dari Solo dan satu lagi sarjana baru lulusan Belanda yang bernama M. Hatta. Rombongan ini dipimpin oleh Parada Harahap yang kala itu adalah ketua Kadin pribumi (dan telah 101 kali dimejahijaukan dan belasan kali masuk penjara, termasuk di penjara Padang Sidempuan antara tahun 1919-1922. Pers Jepang menyeut Parada Harahap sebagai The King of Java Press. Besar dugaan Parada Harahap sudah kenal baik dengan seorang Jepang bernama Tsukimoto di Padang Sidempuan.



Tsukimoto, bukan seorang Tionghoa tetapi seorang Jepang yang telah lama bermukim di Padang Sidempuan. Tsukimoto pemilik perusahaan J. Tsukimoto & Co. Tsukimoto sangat terkenal di Padang Sidempuan dengan nama tokonya ‘Toko Japan’. Pada tahun 1931, Tsukimoto dan Tjioe Tjeng Liong termasuk anggota komisi dalam membantu korban bencana di Pakantan. Tsukimoto diduga sering berkunjung ke Batavia, apakah urusan bisnis atau urusan keluarga. Tsukimoto kemungkinan adalah satu-satunya (keluarga) Jepang di Padang Sidempuan sebelum terjadinya pendudukan Jepang di Indonesia. Tsukimoto kemungkinan besar datang (migrasi) dari Medan. Sejak akhir abad kesembilan belas sudah banyak orang-orang Jepang di Medan (yang waktu itu konsentrasi mereka banyak di Singapoera).
 
Anak sekolah di Sipirok 1936 (sudah terbiasa dengan instrumen drum)
Sakti Alamsyah, seperti halnya Nahum Situmorang cukup berbakat di bidang musik. Sakti Alamsyah di jaman pendudukan Jepang, ayahnya pulang kampong di Parau Sorat, Sipirok. Sakti Alamsyah dan Nahum Situmorang yang kebetulan keduanya pernah lama tinggal di Sipirok sama-sama memiliki bakat musik, menyanyi dan mencipta lagu. Di jaman pendudukan Jepang, kedua pemuda bertalenta musik dari Sipirok ini sama-sama memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat musik masing-masing. Nahum Situmorang di café militer Jepang di Tarutung, Sakti Alamsyah di radio militer Jepang di Bandung. Sebagaimana Nahum Situmorang, Sakti Alamsyah juga mahir memainkan berbagai instrumen musik. Nahum Situmorang mencipta lagu, meramu alat musik dalam suatu band dan menyanyikan lagunya sendiri di café dan di tempat-tempat pertunjukan lainnya; Sakti Alamsyah juga mencipta lagu, melakukan aransemen musik menulis lirik-lirik lagu dari berbagai band yang kerap tampil di Radio Bandung. Sakti Alamsyah Siregar gelar Patuan Sojuangon yang berprofesi utama penyiar ini, suaranya di udara Bandung sangat disukai oleh para pendengar radio di Priangan.

Jasa fenomenal Sakti Alamsyah adalah ketika membacakan teks proklamasi yang dapat didengar publik melalui Radio Bandung (cikal bakal RRI Bandung). Anehnya, ketika Sakti Alamsyah memulai membaca teks proklamasi tersebut, beliau justru memulainya dengan pengantar sebagai berikut: “Di sini Radio Bandung, siaran Radio Republik Indonesia...". Padahal waktu itu belum lahir Radio Republik Indonesia alias RRI. Pembacaan teks proklamasi oleh Sakti Alamsyah dilakukan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul tujuh malam. Teks proklamasi yang dibaca Sakti Alamsyah tersebut kemungkinan besar  diperoleh dari Adam Malik yang boleh jadi diantarkan langsung oleh Mochtar Lubis ke Bandung. Pertanyaannya: Mengapa justru Radio Bandung yang dipilih dan berani pula menyiarkannya? Jawabnya: Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah tiga anak muda yang pernah di radio militer Jepang di Batavia masih memiliki kedekatan yang tiada tergantikan oleh siapapun (apalagi saat genting dan penting saat itu). 

Selain itu, teks yang dibacakan Sakti Alamsyah—yang pada waktu itu Sakti Alamsyah masih berumur 23 tahun—ada perbedaan kecil dalam teks proklamasi yang disiarkan Sakti dengan teks sebagaimana dibacakan Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta. Sakti Alamsyah justru menutupnya dengan kalimat "Wakil-wakil Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta". Padahal, Bung Karno membacakannya dengan kalimat yang jelas terdengar "Atas Nama Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta". Tidak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana asal muasal perbedaan teks dan yang dibacakan Soekarno dengan apa yang disuarakan Sakti Alamsyah Siregar. Pengucapan ‘Radio Republik Indonesia’ untuk menamai diri dalam pengantar siaran, Sakti Alamsyah justru mengabaikan nama yang selama ini diucapkan dengan ‘Radio Bandung Hoshokyoku’. Sekalipun hari itu proklamasi sudah dikumandangkan, tetapi kenyataannya bentuk negara belum disepakati. Para pemerhati, menganggap ucapan Sakti Alamsyah sebagai pernyataan futuristik dari lubuk hati dirinya. Padahal negara baru Indonesia justru setelahnya diputuskan berbentuk republik yang notabene juga nama radio nasional baru ditetapkan kemudian persis seperti yang diucapkan pertama kali oleh Sakti Alamsyah: “Di sini Radio Bandung, siaran ‘Radio Republik Indonesia’...". Kita harus akui bahwa inisiatif para pekerja khususnya penyiar Radio Bandung Hoshokyoku, Sakti Alamsyah, untuk menyuarakan teks proklamasi di udara yang dapat didengar semua publik jelas-jelas  seuatu  keputusan yang berani.

Tidak hanya sampai di situ para penyiar Radio Bandung Hoshokyoku tanpa rasa takut terus berulang-ulang menyiarkan naskah proklamasi itu setiap kali ada kesempatan untuk dibacakan kembali. Berkat siaran Radio Bandung itu yangdipancarkan dari Jalan Malabar, Bandung kabar kemerdekaan sebuah negara baru bernama Indonesia diketahui khalayak yang lebih luas, yang tak hanya dapat ditangkap di seluruh pelosok nusantara, tetapi juga tetangkap di seluruh  dunia. Keberanian Radio Bandung jaminannya adalah Sakti Alamsyah (yang didukung oleh Adam Malik dan Mochtar Lubis).

Setelah beberapa lama menjadi penyiar RRI Bandung, Sakti Alamsyah memulai karir baru dan aktif sebagai wartawan di surat kabar Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung. Ketika di dalam organisasi penerbitan tersebut terjadi gejolak internal akibat situasi politik saat itu, Sakti bersama sejumlah karyawan lainnya memisahkan diri dan mendirikan surat kabar baru dengan tetap menggunakan nama surat kabar tempat mereka sebelumnya bekerja yakni Pikiran Rakyat. Sakti Alamsyah adalah pendiri surat kabar Pikiran Rakyat yang masih eksis hingga ini hari (kini dipimpin oleh anaknya, Perdana Alamsyah).

Setelah kemerdekaan dan pasca kedaulatan RI, Adam Malik berkiprah di politik, karena sejak dari Siantar sebelum hijrah ke Batavia sudah berpolitik yang dibimbing oleh Amir Sjarifoedin. Pada tahun 1931 aktvitas politik Adam Malik diketahui dan ditangkap, diadili dan dipenjarakan di Penjara Padang Sidempuan. Sedangkan dua rekannya sesame jurnalistik itu meneruskan profesinya di bidang jurnalistik. Mochtar Lubis mendirikan koran Indonesia Raya di Jakarta (mungkin terinspirasi dari guru jurnalistik mereka, Parada Harahap dan seniman musik Nahum Situmorang, pencipta lagu (runner up Indonesia Raya). Sakti Alamsyah mendirikan surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung. Dua surat kabar besar ini memiliki motto yang sama: ‘Dari Rakyat Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat0’. Hal yang sama juga pernah terjadi antara surat kabar milik Dja Endar Moeda, Pertja Barat di Padang dengan surat kabar Pewarta Deli (yang terbit di Medan, 1910 yang dimiliki oleh anak-anak Padang Sidempuan). Motto kedua surat kabar ini sama: ‘Ontoek Kemadjoean Bangsa’.

Persebaran dan intesitas musik tradisi di Tanah Batak

Pada tahun 1905, Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust. Boleh jadi terjadi karena industri perkebunan sudah mulai tumbuh dan berkembang di Tapanoeli yang berpusat di Batang Toru dan Angkola, antara Sibolga dan Padang Sidempuan. Akses dari Sibolga maupun dari Medan ke Silindoeng en Toba sidah mulai dirintis. Eksplorasi transportasi poros Silindoeng en Toba ini untuk memperpendek antara pantai barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) dan pantai timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) yang selama ini harus melalui Batavia.

Gangguan keamanan selama ini dengan adanya perlawanan Sisingamangaradja sudah mulai teratasi (Sisingamangaradja wafat tahun 1907). Situasi dan kondusif ini dari sudut pandang pemerintah kolonial telah memungkinkan dibuka akses dari Sibolga via Taroetoeng dan akses dari Medan via Pematang Siantar. Program pemerintah dalam pembanguunan masyarakat (pendidikan dan kesehatan) dan komersialisasi (perdagangan dan pariwisata) sudah waktunya. Sementara itu tahun 1915 Residentie Sumatra’s Oostkust ditingkatkan menjadi province (Afd. Bengkalis dikeluarkan dan dimasukkan kembali ke Residentie Riaow). Inilah fase dimana antara Residentie Tapanoeli dan Residentie Sumatra’s Oostkust terhubung secara geografi, ekonomi dan social.

Penduduk Mandailing, Angkola dan Sipirok sudah sejak lama menyebar dan mengalami urbanisasi (migrasi). Tidak hanya di Padang dan Sibolga, tetapi juga Batavia, Bandoeng, Soerabaija, Lampung, Bengkalis sebagaimana juga menuju Atjeh, Bindjai dan Langkat, Medan dan Deli, Pematang Siantar, Tebing Tinggi dan Tanjoeng Balai. Migrasi ini merupakan gelombang ketiga. Gelombang pertama terjadi pada masa aneksasi kaum padri (1820-1833) yang menyebabkan eksodus ke pantai timur Sumatra hingga semenanjung Malaya. Gelombang kedua, pada saat pemerintah kolonial ketika diterapkan koffiestelsen di Mandheling en Ankola (1840-1860) yang menyebabkan sebagian penduduk migrasi ke pantai barat Sumatra dan ke afd. Padang Lawas dan Laboehan Batoe.    

Pada saat pembukaan transportasi East-West antara Medan dan Sibolga (1912-1920), terjadi migrasi besar-besaran yang merupakan gelombang keempat penduduk Afd. Padang Sidempuan (nama baru menggantikan nama lama afd. Mandheling en Ankola) menuju Sumatra Timur (utamanya Medan dan Pematang Siantar dari sisi barat dan Rantau Prapat dan Tanjung Balai dari sisi timur). Praktis, pada tahun 1920an putra-putri terbaik dari Padang Sidempuan sudah mengisi berbagai posisi penting di Medan dan Pematang Siantar serta area-area perkebunan. Profesi mereka antara lain, jaksa, mantra polisi, pegawai pemerintah, anggota dewan, guru, dokter, ahli hukum, pengusaha, krani dan sebagainya. Anak-anak mereka gelombang keempat ini juga banyak yang migrasi ke Jawa dan memainkan peran penting pada fase antara Kongres Pemuda (1928) dan Kemerdekaan RI (1945). Para penduduk migran ini juga membawa kearifan lokal berupa musik tradisi Batak ke tempat-tempat perantauan.

Pemahaman orang Eropa/Belanda terhadap penduduk Batak tidak sekaligus dan hanya sedikit-sedikit mulai dari Mandailing dan Ankola. Bahkan penduduk Batak di dataran tinggi yang tidak jauh dari Medan (Karo) malah belum banyak yang dipahami. Padahal jaraknya hanya sekitar tujuh jam perjalanan dari Medan (ke danau Toba).

Di dataran tinggi Karo

Laporan-laporan tentang keberadaan musik tradisi di Karo baru muncul pada tahun 1908.  Seorang peneliti Belanda, Dr. Romer telah memulai studi tentang Karo. Sebagaimana yang dilaporkan De Sumatra post, 21-02-1908 dari studi yang dilakukan oleh Dr Romer, penduduk Batak sangat terkait dengan jiwa (tondi). Dalam setiap kematian penduduk melakukan aktivitas musik, karena menurutnya setiap pikiran hidup melodi, ada menari dan benzoin dibakar, semuanya dengan semangat. Musik juga dalam banyak kasus ekspresi Batak dikaitkan pada saat sakit hati atau kesedihan. Ini dimaksudkan untuk mengurangi kesedihan. Dr. Romer beranggapan bahwa introduksi bermain piano atau organ (tradisi gereja) bahwa penderitaan penduduk mungkin dikurangi. Temuan-temuan lebih lanjut Dr. Romer ini diberitakan pada tahun 1914.

Bataviaasch nieuwsblad, 22-05-1914: ‘Pemahaman kita (orang Eropa/Belanda) terhadap Nederlandsch Indie terus meningkat. Salah satunya, orang Batak, warga Batak di dataran tinggi, dapat turun dalam beberapa jam ke Medan, di mana mereka kemudian dengan heran, mereka tiba-tiba dikelilingi oleh orang-orang dan situasi yang mereka tidak bisa bermimpi. Sampai beberapa tahun yang lalu mayoritas Eropa yang tinggal disini malah tidak sedikit yang salah pengertian tentang apa yang terjadi di pedalaman, tetapi dengan politik progresif pada tahun-tahun terakhir mata orang Barat mulai terbuka. Baru-baru ini di Den Haag dalam menghadiri acara satu kuliah tentang Batak dari seseorang yang telah tinggal selama belasan tahun, Dr. R. Romer. Dalam pengantarnya menjelaskan bahwa bagian tengah Sumatera, yaitu bagian selatan Sumatera Utara dan bagian yang dekat dengan Sumatera Tengah yang terletak dekat khatulistiwa, dihuni oleh ras dengan nama umum Batak yang sudah kontak dengan pengaruh Islam. Di sana-sini memiliki budidaya padi kering dan basah, sedangkan Batak juga tidak kurang dalam kecerdasan, mereka memiliki hobi catur. Di Leiden sudah dibentuk Batak Instituut untuk menaikkan taraf mereka. Misi yang telah dilakukan sejauh ini adalah transportasi yang hanya tujuh jam ke danau Toba. Kita bisa menemukan seni Batak, seseorang dapat menemukan jejak pengaruh dan peradaban Hindu, sesuatu yang tidak ditemukan dalam Melayu. Lingkungannya masih kotor, banyak babi dan pembangunan masih sedikit, Mereka mengkonsumsi beras, juga menggunakan tembakau, kebiasaan tuak, opium, sirih, dll. Batak adalah sepenuh hati penganut animisme dan percaya dalam segala jiwa (tendi). Penghormatan kepada yang meninggal mencoba untuk memuaskan melalui musik dan tarian dan membakar kemenyan. Batak telah dikenal sangat awal dalam pembuatan mesiu hitam. Tombak dan pointer panah, satu diracuni dengan strugnine atau atropine. Gadis-gadis sudah menikah 12-year-olds usia anak laki-laki berusia 14 tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya epidemic cacar secara teratur setiap 12 tahun kembali. Kusta masih bertahan. Pada tahun-tahun sebelumnya, mereka yang terjangkit kusta di seluruh kulit, mereka kemudian dibakar hidup-hidup. The Hague, April 1, 1914.

Orang Eropa pertama yang memasuki Tanah Karo adalah Controleur Deli pada tahun 1865. Kemudian Controleur  C. de Haan tahun 1872 kembali mengunjungi Karo. Dalam laporan-laporan mereka tidak terindikasi adanya musik tradisi. Para controleur ini hanya disambut secara biasa dan tidak dilakukan dalam bentuk seremonial. Sebagaimana di tempat lain, kehadiran musik tradisi memang selalu dikaitkan dengan hal kematian dan penyambutan orang penting dan upacara-upacara tertentu.

Penyakit kusta yang dianggap penduduk sebagai penyakit begu dan merupakan aib bagi keluarga hingga tahun 1914 masih belum teratasi mungkin karena kurangnya perhatian pemerinatah. Ini dapat dipahami karena di Medan dan Deli sendiri masih banyak ditemukan bahkan di tengah-tengah kota. Oleh karena itu, pada tahun 1910 seorang dokter pribumi Dr. Mohamad Daoelaj dipindahkan dari Jawa Timur ke Deli yang berbasis di Medan untuk memonitor, merelokasi dan melakukan penanganan penyakit kusta yang diderita masyarakat. Konon Tjong A Fie merasa bertanggungjawab untuk mengatasi kusta di perkotaan. Tjong A Fie turut memberi kontribusi untuk pembangunan rumah sakit kusta di Pulau Sitjanang. Dokter yang mengepalai rumah sakit kusta ini adalah Dr. Muhamad Daoelaj, seorang anak Padang Sidempuan yang merupakan alumni terakhir dari docter djawa school di Batavia dan lulus tahun 1905 (docter djawa school tahun 1902 berubah nama menjadi STOVIA).

Keterisolasian dataran tinggi Karo dari dunia luar meski secara geografis sangat dekat Medan dan Laboehan Deli menyebabkan penduduk Karo sangat jarang berinterasi secara intens dengan orang asing. Penduduk Karo di dataran tinggi berinteraksi dengan penduduk Karo di dataran rendah di Deli (Karo dusun) yang secara linguistic sudah berbicara dengan dialek Melayu. Namun demikian, salah satu orang asing yang cukup dikenal di Tanah Karo adalah Dr. Paneth. Ketika dilakukan perpisahan atas masa baktinya cukup lama di Karo, penghormatan itu juga menghadirkan musik tradisi (namun tidak disebut secara rinci)/

De Sumatra post, 01-03-1928 (Perpisahan Dr. O. Paneth): ‘Itu hari Sabtu  di Kaban Djahe terjadi keramaian. Kantor-kantor ditutup, sekolah libur, semuanya dalam suasana hati yang meriah. Tepat pukul 10 Controleur Karolanden, Dr. W Huender memimpin suatu pesta perpisahan dengan mengatur dan dihiasi tenda untuk menghortmati yang fasih berbahasa Batak Karo, Dr. Paneth dan ucapan terimakasih untuk semua yang telah dilakukannya selama lima tahun di bidang medis untuk penduduk Karo; atas nama semua penduduk dataran tinggi Bataksche memberikan kepada seorang Europeesche, Ms. Paneth memberikan gong yang berharga dengan tulisan; sementara Dr. Paneth mendapat hadiah, yang dibungkus dalam kotak dengan hiasan. Kemudian, berbicara Radja Sibajak dan Radja Liugga  memimpin musik Bataksche yang ditempatkan dalam dua kereta yang dihiasi; representasi dari Poliklinik hospital Dr. Paneth; Selanjutnya mobil besar penelitian paru; perlu dicontoh Ms Paneth yang setia di rumah menggambarkan negara paling khas dari Karo’.

Dr. Paneth mengakhiri tugasnya memimpin sanatorium penyakit TBC di Kabanjahe. Laboratorium ini sejak didirikan dipimpin oleh Dr. Paneth. Pada tahun 1931 sanatorim ini dipimpin oleh Dr. Djabangoen. Alumni STOVIA lulus tahun 1925 ini diangkat sebagai dokter pemerintah dan ditempatkan di rumahsakit Malang, kemudian tahun 1929 dipindahkan ke Pandeglang (kampung halaman Pirngadi) lalu kemudian dipindahkan lagi ke rumahsakit Padang Sidempuan (kampung halaman Djabangoen sendiri) dan kemudian dipindahkan lagi tahun1931 ke Kabandjahe untuk memimpin Sanatorium yang pernah dipimpin oleh dokter terkenal Dr. O. Paneth (1931).

Dr. Pirngadi adalah alumni STOVIA, adik kelas dari Abdoel Moenir Nasoetion (abang dari SM Amin, gubernur Sumatra Utara yang pertama). Pirngadi lahir di Banten (Bantam) lulus STOVIA tahun 1923. Pada tahun 1926, Raden Pirngadi dipindahkan dari STOVIA di Welt. ke Medan dan pada saat yang sama, Maamoer Al Rasjid Nasoetion dari Padang Sidempuan dipindahkan ke STOVIA di Welt.(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 11-11-1926). Setelah cukup lama, Djabangoen Harahap (sepupu Soetan Casajangan) dipindahkan tahun 1934 ke Medan dengan jabatan baru untuk menempati posisi yang baru dibentuk di rumah sakit kota Medan  yakni Biro Konsultatif untuk Wabah TBC yang wilayah kerjanya semua wilayah Sumatra’s Oostkust. Dalam tugas baru ini, Djabangoen bertindak sebagai Kepala Biro. Direktur rumah sakit kota adalah Dr. Pirngadi (kelak rumah sakit ini bernama RS Pirngadi dan Dr. Djabangoen sendiri di masa agresi militer (1945-1949) menjadi Ketua Front Medan). 

Pada tahun dimana Dr. Djabangoen mulai memimpin sanatorium Kabandjahe tahun 1931, di Batavia seorang anak Padang Sidempuan diangkat menjadi dokter pemerintah (baru beberapa bulan lulus dari STOVIA), namanya Pamenan Harahap (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-08-1931) yang ditempatkan di Buitenzorg. Kemudian dipindah ke Semarang dan pada tahun 1932 ditempatkan di Merauke (De Indische courant, 24-10-1932). Kemudian pada tahun 1934 dari Merauke dipindahkan ke Ruteng, residentie Timor en Onderhoorigheden (Bataviaasch nieuwsblad, 07-04-1934). Kemudian dipindahkan lagi ke Soerabaja dan kemudian ke Bontang (Bataviaasch nieuwsblad, 14-01-1937). Selanjutnya dari Bontang kembali ke Batavia (Bataviaasch nieuwsblad, 28-03-1940). Lalu Pamenan Harahap mengambil dokter spesialis dan lulus dari Geneeskundige Hoogeschool (Soerabaijasch handelsblad, 21-05-1941). Kemudian Dr. Pamenan Harahap ditunjuk menjadi pimpinan di DVG Batavia yang kemudian menjadi RS, Cipto (Bataviaasch nieuwsblad, 03-12-1941).

Di dataran tinggi Silindoeng dan Toba

Sumber pemahaman tentang musik tradisi di Silndoeng en Toba seharusnya datang dari Nommensen. Seorang pendeta asal Jerman yang mengawali persiapan misinya di Sipirok. Nommensen sudah lebih awal (dan lebih banyak mengetahui seluk beluk di Silindoeng) sebelum pemerintah kolonial membentuk pemerintahan di Silindoeng en Toba (Bataklanden). Sebelum Nommensen masuk ke Silindoeng, Mr. van der Tuuk sudah lebih duluan ke Silindoeng dan misi van der Tuuk untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak. Misi dan karya terjemahan Mr. van der Tuuk ini bukan dibiayai dan diperuntukkan bagi misionaris Jerman, tetapi untuk misionaris Belanda sendiri.

Herman Neubronner van der Tuuk seorang sarjana linguistic dikirim suatu organisasi yang berafiliasi dengan kegiatan misi (NBG) di Batavia untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak tahun 1851. Mr. van der Tuuk melakukan ekspedisinya ke seluruh Tanah Batak hingga tahun 1857 termasuk ke Ankola dan Mandheling. Di dalam surat-suratnya ke Batavia terindikasi bahwa van der Tuuk melakukan interpretasi salah tentang pendidikan di Mandheling yang dianggapnya sudah memiliki sekolah dasar negeri (biaya Negara). Mr. van der Tuuk tanpa konfirmasi menganggap sekolah ala Godon itu sebagai sekolah dasar negeri yang guru-gurunya berasal dari Residentie Bovenlanden. Boleh jadi atas penglihatan sekilas di Mandheling, van der Tuuk mengirim rekomendasi untuk pengiriman pendeta ke Tanah Batak yang terdiri dari 13 item, antara lain: harus total, bersuami istri, mendirikan sekolah dan pendeta berbaur (dekat) dengan penduduk, jangan mempertentangkan dengan muslim. Rekomendasi ini boleh jadi tepat tetapi dasar membuat rekomendasi ternyata terdapat kesalahan dalam analisis dan interpretasi yang tampaknya analog dengan yang terkesan (selintas) terjadi di Mandailing. Rekomendasi ini mungkin dipertimbangkan sebagai bahan NBG dalam proses mempengaruhi pemerintah di Batavia.

Gustav van Asselt diangkat pemerintah sebagai opziener der derde klasse di Sipirok, onderafdeeling Ankola, Afdeeling Mandheling en Ankola pada tahun 1858. Sebelum kedatangan van Asselt, sebagian besar penduduk Sipirok sudah beragama Islam. Gustav van Asselt diduga memainkan peran sebagai misionaris. Di Boengabondar sudah ada pendeta Belanda lainnya bernama Betz. Pada tahun 1861 misionaris Jerman (RMG) datang ke Sipirok lalu meninjau ke Silindoeng. Pendeta Jerman ini adalah Klammer, Heine dan Nommensen yang kemudian kembali ke Sipirok September 1861. Pada bulan Oktober, Betz dan van Asselt dari pihak Belanda dan Klammer dan Heine dari pihak Jerman mengadakan pertemuan pertama para misionaris. Masa jabatan van Asselt sebagai opziener berakhir pada tahun 1862 (lihat Almanak Belanda edisi 1856 sd 1862).

Rekomendasi yang sudah lama diusulkan van der Tuuk tampaknya sulit bagi petinggi di NBG terutama beberapa item yang memang sulit dilaksanakan. Tampaknya NBG lebih memilih cara pendekatan birokrasi (top down) dari pada pendekatan penduduk yang diajukan van der Tuuk (bottom up). Boleh jadi pembebanan tugas birokrasi Gustav van Asselt yang secara dejure adalah pegawai pemerintah untuk urusan pengawasan di bidang perekonomian (kopi) di Sipirok tiba-tiba dipersepsikan memiliki tugas rangkap untuk urusan privat (NGO). Rangkap jabatan ini di sisi pemerintah adalah melanggar kode etik, namun upaya memengaruhi pemerintah terus dilancarkan. Polemik ini sempat berlarut-larut di koran-koran. Pemerintah tetap pada pendiriannya bahwa ada pemisahan yang jelas antara pemerintah dan badan-badan keagamaan. Pemerintah berpendapat, apapun agamanya, pagan, muslim atau Kristen, asal penduduknya mau dan bersemangat untuk pembangunan jalan dan jembatan dan budidaya pertanian.

Permasalahan yang pelik ini dilihat jeli oleh RMG. Sebagaimana misi dari pihak Belanda yang banyak gagalnya daripada berhasilnya, juga dialami oleh misi dari pihak Jerman. Boleh jadi para pakar RMG diam-diam mencermati rekomendasi van der Tuuk dan menyusun strategi baru. Beberapa pendeta Jerman yang gagal dalam misi, seperti Klammer, Heinje dan Nommensen  di Kalimantan dialihkan ke Sumatra di Tanah Batak. Klammer dan kawan-kawan di kirim ke Sipirok. Tim Jerman ini cepat bergerak, tidak lama setiba di Sipirok mereka langsung melakukan ekspedisi ke Silindoeng. Lalu setelah sekian bulan di Silindoeng, tim Jerman ini balik lagi ke Sipirok yang kemudian melakukan pertemuan para pendeta dari tim misi yang berbeda. Setelah rapat di Sipirok itu (antara pihak Belanda dan pihak Jerman), nama van Asselt mulai menghilang. Boleh jadi butir keputusan rapat itu untuk membicarakan pembagian wilayah. Untuk wilayah yang di bawah pemerintahan sipil Belanda yakni Ankola dan Sipirok menjadi wilayah kerja Belanda sedangkan wilayah yang ‘tidak bertuan’ yang bahkan militer Belanda belum sekalipun ke Silindoeng akan menjadi wilayah kerja Jerman. Butir hasil rapat lainnya yang juga penting kemungkinan soal kolaborasi dalam pendirian institusi pendidikan di Sipirok.

Pendirian sekolah yang tampaknya mengikuti rekomendasi van der Tuuk didirikan tahun 1863 di Sipirok yang merupakan kolaborasi Belanda-Jerman yang mana investasi awalnya dari Belanda (van Asselt) sedangkan gurunya dari Jerman yang dalam hal ini adalah Nommensen. Aksara yang digunakan adalah aksara Latin dengan bahasa pengantar campuran bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Sekolah ini diduga awalnya bersifat non keagamaan. Beberapa anak-anak Sipirok direkrut untuk mengikuti pelajaran di sekolah ini. Boleh jadi strategi ini digunakan mengikuti rekomendasi Mr. van der Tuuk karena seringnya para pendeta yang melakukan misi dengan kegagalan di tempat lain. Dua murid yang terkenal dari sekolah ini adalah Muhammad Yunus yang berganti nama menjadi Thomas dan Sarif Anwar yang berganti nama menjadi Ephraim. Dalam perkembangan lebih lanjut sekolah ini menjadi sekolah zending

Seperti diutarakan sebelumnya, Mr. van der Tuuk sangat diterima penduduk Silindoeng karena kemampuannya berbahasa Batak dan memainkan musik tradisi Batak yang dipelajarinya di afdeeling Mandheling en Ankola. Pemahaman musik tradisi Batak di Mandheling en Ankola menjadi mudah bagi van der Tuuk ketika berada di Toba. Di dalam laporannya ke Batavia, van der Tuuk menyinggung sedikit tentang musik tradisi Batak sebagai bagian yang penting dalam suatu penyambutan dirinya di salah satu huta di Toba dan perlu dilaporkan. Laporan van der Tuuk tentang keberadaan music tradisi Batak ini dirilis oleh Pleyte (lihat CM Pleyte di dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde, 1904).
‘…Keesokan harinya pukul 8:30 upacara dimulai, dimana di halaman terdapat rak, dua tongkat bercabang (tiang) untuk menyangga alu beras secara melintang tempat dimana digantung rendah di atas tanah empat ogoeng (gong, simbal logam) yang berbeda suara yang diselaraskan oleh poeli. Selain rak itu, terdapat rak, satu papan besar tempat odap (drum) yang mana salah satu dari empat pemain untuk memainkannya. Di sisi lain dari rak digelar tikar untuk para tamu dan pemain dari saroene (jenis oboe)…lalu kerbau dipersiapkan yang sudah terikat..Tuan rumah dengan jubah (ulos?) di pundaknya berdiri di tengah-tengah dan sambil menari melakukan persembahan ditangannya sebuah santi santi (beras korban), yang dia kirimkan ke sombaom mortoea ((beschermgeest) ditahbiskan. Dia memohon berkat dari Tuhan tentang dirinya, keluarganya dan tamunya, anak-anaknya, lalu datang untuk menawarkan kita sirih. Dia juga meminta saya untuk menari (manortor) bersamanya, tetapi saya menjelaskan kepadanya saya tidak memiliki keahlian untuk itu diwakii ole pemandu saya. Ketika tarian (tortor) usai, kerbau disembelih, disiapkan dan makan bersama. Setelah makan tuan rumah sesuai dengan adat Batak melakukan permintaanmaafnya…kemudian sebagai balasan, saya dan pemandu saya memberikannya dua paket hadiah tembakau...Pada tengah hari kami meninggalkan acara..’.
Nommensen yang sudah lancar berbahasa Batak (Sipirok) tetapi kurang memikirkan apa itu musik tradisi Batak ketika memulai tugasnya di Silindoeng. Nommensen tampaknya tidak punya waktu untuk memperhatikan muziek, dan memang harus fokus dan intens untuk pengembangan misi di Silindoeng. Begitu beratnya tugas Nemmensen, dan sering mengalami sakit. Bahkan ketika teman seperjuangannya misionaris Weber meninggal di Panabasan, Angkola, Nommensen tidak bisa hadir karena sakit. Yang hadir hanya Beth, Dammerboer (Loeboek Raja, Angkola) dan van Dalen (Sipirok) serta Dr. A. Schreiber (Parau Sorat), kemudian menyusul datang Klammer (Boenga Bondar), Leipoldt dan Schutz (Sigompoelon) (lihat Bataviaasch handelsblad, 07-12-1871).

Perjuangan Nommensen semakin sulit karena Sisingamangaradja sudah mulai melancarkan perang…(tunggu deskripsi lebih lanjut).

Secara resmi baru beberapa orang yang pernah melihat danau Toba, antara lain: dua misionaris Amerika di Hoeta Tinggi, controleur Brans, Cleerens, Trenité, Kroesen (mantan controleur Ankola), De Haan (mantan controleur Deli) dan van Hengst, Mr. Reinier Verbeek dan Snackey, (Gubernur) Arriens, seorang fotgrafer Inggris, Mr. Henny (controleur Ankola) yang saat ini direktur O,E en N dan etimologis yang dikenal sebagai Dr. HN van der Tuuk, para misionaris seperti Van Asselt, Heine, Nommensen, Johansen dan beberapa orang lainnya (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 14-03-1877).

Sisingamangaradja tahun 1907 sudah tewas dalam pertarungannya melawan militer Belanda. Itu juga membuat Nommensen lebih nyaman untuk memperluas dan mengintensifkan kegiatan misi. Implikasinya, di satu tahap akan mempersempit ruang bagi pengikut Sisingamangaradja dan pada tahap berikutnya akan menghalangi pendukung musik tradisi untuk lebih berkembang. Secara sosiologis pendukung musik tradisi mungkin tidak berkurang tetapi dari lingkungan gereja akan menjauhkan diri dari tempat-tempat musik tradisi diselenggarakan. Sebaliknya, meninggalnya Sisingamangaradja  justru memperkuat sodalitas diantara pengikut yang terus setia. Sodalitas yang meninggi ini tampak dengan munculnya sekte baru dari Parmalim yang disebut Paroedamdam, suatu kelompok pengikut Parmalim yang mengkultuskan Sisingamangaradja sebagai nabi.

De Sumatra post, 25-03-1918: ‘kita membaca di tempat lain sudah mengumumkan, brosur Mr. M. Joustra: Sudah dari tahun 1893 di sana muncul sekte Parmalim. Pengikut dan juga ‘datoe’ dari Sisingamangaradja yang dikenal sebagai Parsitèngka (diucapkan Parsitekke) yang menyebut dirinya sebagai kepala dari Parhoedamdam (yang benar adalah Paroedamdam) dan kini memiliki pendukung yang dianggap sebagai sekte baru muncul di awal tahun 1916. Pendukung ‘agama pemutihan’ ini yang tersebar di berbagai tempat telah datang bersama-sama untuk berkumpul untuk merayakan upacara keagamaan dengan gondang muziek. Dalam hal ini orang-orang Eropa sedikit lebih bijaksana tentang doktrin-doktrin yang nyata dan motif  dari agama ajaran yang fanatik bukan untuk kita sebagaimana yang ditemukan dalam ajaran dan tindakan Parmalim. Ini adalah melawan politeisme, memuliakan Sisingamangaradja sebagai nabi mereka, melarang penggunaan daging babi dan menjual jimat. Kami bisa mendiamkan tentang hal ini tetapi di sisi lain dari pembangunan mental, membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Bagaimanapun Batak terbagi dalam perbedaan, masing-masing kelompok sering bermusuhan, namun kelompok ini tidak terlihat kea rah pembentukan persatuan nasional dan lebih pada spiritual. Para pengikut ini tampaknya, apalagi sejak tahun 1907 setelah kematian radja mereka, tahu betul bahwa pemerintah kita mengambil sikap netral dalam masalah agama..(tunggu dekripsi lebih lanjut)

Sebagaimana agama, dan pendidikan yang terbilang relatif baru di Silindoeng dan Toba, juga sistem pemerintahan juga terbilang baru. Fungsi pemerintahan dalam hal ini selain memimpin penduduk juga untuk berfungsi untuk mengarahkan pengembangan social seperti pendidikan, hiburan dan adat istiadat. Dalam system pemerintahan tradisi di Tanah Batak, unit terkecil adalah huta dimana radja berasal dari turunan asli. Ketika huta-huta disatukan dalam federasi pemerintahan, Belanda memperkenalkan kepala negeri yang dilakukan proses pemilihan. Di Zuid Tapanoeli kepala negeri ini disebut kepala koeria.

Soerabaijasch handelsblad, 21-01-1929: ‘Unit dasar di Batakinaatschappij adalah hoeta. . Pada kepala hoeta adalah Raja nihocta, pendiri asli. Ketika orang Eropa memperkenalkan pemerintahan.. Ini kepala negeri merupakan indikator status social. Huta lain (non asli) juga bisa bersatu menjadi federasi hoeta yang disebut kepala djaihoetan. Dia (radja asli) memiliki seseorang di sampingnya, disebut radjapadoea, kepala kedua. semacam raja muda atau wazir agung (di Melayu). Desa-desa ini direformasi dengan membentuk Negeri (federasi huta) yang dipimpin oleh kepala Negri. Dalam pemilihan kepala Negeri ini sering djaihoetan tua disertakan. Tapi agen dari pemerintah kita (kepala negeri) juga ditunjuk melalui pemilu, dan tidak selalu kepala keluarga asli yang pemenang atau yang ditunjuk. Ketika saya masih di Balige, saya melihat pemilu tidak hanya terlambat, juga selalu membawa banyak keributan antara orang-orang yang terkait dengan itu. Bagi penduduk, pemilu ini adalah hajat besar, dan tidak selalu menggembirakan, dengan banyak sudah menjadi tradisi presentasi simbolis candidatcn tersebut. Dari daftar, saya melihat bahwa ada 52 pemilih mewakili huta yang mana tidak kurang dari tujuh kandidat (untuk kepala negeri). Setengah dari jumlah kandidat tidak bisa membaca dan menulis. Mereka yang telah di tindak lanjut dari hak kepala sebelumnya (di negeri lain di Silindoeng en Toba), diberi untuk itu keuntungan, bahwa ada jumlah, suara untuk mereka, keempat ditambahkan. Ini untuk kepala keluarga untuk menjaga satu hal penting, martabat kepala dalam keluarga. Pertarungan itu adakalanya memerlukan pengorban besar. Di Sipirok aku mendengar kasus berikut, yang disebut khas. Suatu keluarga yang populasinya kecil berhasil secara signifikan meski harus berhadapan dengan mayoritas untuk memenangkan jabatan dalam  pemungutan suara itu..Ketika ada keluarga khawatir bahwa ia dan calon asli akan memenangkan pertempuran untuk kedua kalinya. Jadi dia meminta salah satu anggota intelektual yang memiliki pekerjaan yang baik di (perantauan), di mana satu akan merindukannya sebagai calon keluarga untuk bertindak. Pria itu merasa memiliki hak, demi kehormatan keluarga, tidak menolak. Dengan berat hati ia meninggalkan jabatannya setelah ia terpilih (kepala koeria), dan dia kembali ke desa. Dia memiliki menurutnya tidak ada pilihan.. Di Selatan disebut federasi koeria sebagaimana federasi negeri di utara. Mereka sangat tidak setara dalam ukuran. Sebagai contoh di Sipirok ada sekitar 3.000 orang sementara koeria yang lain hanya 100 atau 200 orang (pemilih)’

Gambaran ni mengindikasikan bahwa musik tradisi Batak di satu sisi sebagian penduduk dilarang (karena musik tradisi dianggap terkait dengan kepercayaan lama) di sisi yang lain pengikut kepercayaan lama dan pengikut setia (Paroedamdam) justru menghadirkan music tradisi sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Sistem sosial, ekonomi dan politik juga besar kemungkinan mempengaruhi perkembangan musik. Interaksi penduduk dengan para perantau juga turut dalam mempengaruhi perkembangan musik sebagai mana dapat dilihat di Zuid Tapanuli khususnya di Angkola dan Sipirok.

Di lembah Angkola dan dolok Sipirok

Sejak 1905, ketika Residentie Tapanoeli dipisahkan dari province Sumatra’s Westkust (pantai barat Sumatra), Residtentie Tapanoeli terdiri dari tiga afdeeling: Afd. Sibolga, Afd. Padang Sidempuan dan Afd. Tarutung. Afdeling Padang Sidempuan terbagi empat onderafdeeling: Mandailing, Angkola, Padang Lawas dan Natal. Onderafdeeling Ankola terdiri dari distrik-distrik Angkola Djae, Angkola Djoeloe, Batang Toru dan Sipirok. Angkola adalah suatu lembah dan Sipirok adalah suatu dolok (pegunungan).

Dalam konteks musik, dua distrik ini merupakan dua tempat di pedalaman Tanah Batak yang terbilang awal dalam pekermbangan musik modern. Pada sekitar tahun 1900, kehadiran café Biljart milik Marczak di Padang Sidempuan adalah semacam ‘kawah candradimuka’ bagin anak-anak Padang Sidempuan berinteraksi dengan music modern dan instrument music modern. Sementara itu di Sipirok, sudah sejak lama (plaing tidak sejak 1890) dintroduksi alat-alat musik modern (awalnya musik tiup) untuk kebutuhan anak-anak sekolah di Sipirok.  Namun meski demikian, music modern tidak dengan sendirinya mengganti musik tradisi yang konon music tradisi ini sudah ada sejak era Budha/Hindu di Angkola (abad ke delapan). Sebuah koran di sudut negeri Belanda menulis tentang keberadaan music di Angkola.

Nieuwsblad van het Noorden, 09-03-1922 (Literatuur en kunst. De muziek der Bataks): ‘Sastra dan seni musik dari Batak. Sebuah orkestra Batak terdiri dari 5 taganning, sebuah odap, sebuah gondang. Ini adalah drum kayu besar dan kecil, yang dipukul dengan dua tongkat yang dimainkan pada satu sisi; sedangkan odap juga dipukuli pada saat yang sama dengan tangan di sisi yang lain; 5 simbal kuningan; hasar-hasar, lalu alat yang dipukuli dengan tongkat tebal yang disebut ogoeng oloan, ogoeng panonggahi, ogung yang lebih kecil disebut doal, dan ogung yang lain yang disebut panggara, dan kemudian ditambah alat yang lainnya yang disebut saroene semacam clarinet. Peralatan dan orchest ini berada di Angkola dengan lagu yang dinyanyikan berupa sajak. Band ini dimainkan pada acara-acara meriah dan selalu dikorbankan kepada roh-roh nenek moyang dengan melakukan tarian (tortor) bertujuan untuk mengenang leluhur di pemakaman dan mengkalibrasi pikiran untuk menerima prediksi untuk masa depan, dengan demikian andoeng (ratapan bagi leluhur untuk memperkuat). Di luar hari-hari raya persembahan tersebut juga membuat musik untuk acara kehormatan tinggi (upacara adat dab menerima tamu besar). Marga yang berbeda juga memiliki musik yang berbeda, tapi orang Eropa sulit membedakan itu. Bagi muda-mudi untuk hiburan malam mereka juga terdapat instrumen yang lain, yaitu hasapi, gitar dua senar, rabab, biola dua senar, sordam dan toelila, seruling terbuat dari bambu (melodi)’.

Artikel yang terbit di luar negeri itu mengingatkan bahwa musik tradisi di Angkola masih eksis. Deskripsi tahun 1922 tersebut kurang lebih sama dengan apa yang telah dideskripsikan oleh TJ Miller tahun 1845. Tampaknya instrument musik tradisi tidak berubah walaupun kehidupan secara social-ekonomi di Mandailing dan Ankola telah berubah total (dari primitive ke modern). Pada saat Miller menjadi Asisten Residen afd. Mandheling en Ankola (1840-1845) kota Padang Sidempuan baru dibentuk dan dibangun dimana baru ada rumah controleur Godin, barak-barak militer dan beberapa bangunan untuk pegawai pemnerintah dan komandan-komandan militer. Kampung Sidempuan yang terletak di utara pusat Belanda ini  lalu kemudian dalam perkembanganya kota baru ini diberi nama menjadi Padang Sidempuan. Kini kota kecil (town) di tahun 1845 kini (1922) telah menjadi ‘kota besar’ (city), ibukota dari afd. Padang Sidempuan (gabungan dari tiga afdeeling: afd. Natal, afd. Mandheling en Ankola dan afd. Padang Lawas).

Di kota Padang Sidempuan, yang secara teknis lebih besar dari Sibolga (ibukota residentie) tentu saja banyak aktivitas yang tidak ada di Sibolga tetapi ada di Padang Sidempuan. Namun belakangan ini (sejak 1909-1922) populasi orang Eropa sudah lebih banyak di Sibolga daripada di Padang Sidempuan, bahkan populasi orang Eropa/Belanda sudah lebih banyak di Batang Toru. Pada periode 1909-1922) distrik Batang Toru telah berkembang menjadi pusat industry perkebunan di Tapanoeli, paling tidak sudah ada satu perusahaan besar yang beroperasi di Batang Toru, sementara di Padang Sidempuan hanya satu perusahaan. Oleh karenanya, suasana Eropa di Padang Sidempuan di masa dulu (1880-1910) sudah bergeser ke Sibolga dan Batang Toru. Namun demikian, Padang Sidempuan masih tetap kota yang penting, utamanya bagi pribumi. Pada tahun 1922 kota Sipirok mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah pameran dari seluru Residentie Tapanoeli.

De Sumatra post, 24-06-1922: ‘Pameran pertama diadakan di Residentie Tapanoeli, 31 Agustus, 1 September dan 2 September, Manajemen pusat dari Batak telah melakukan studi waktu cukup panjang, yang dimaksud untuk mengadakan pameran di Residentie Tapanoeli.  Tempat yang dipilih dari rencana tersebut adalah Sipirok, tempat dimana banyak tokoh penting berasal dan merupakan inisiatif dan dukungan kerjasama penuh dari penduduk yang diusulkan oleh Dr. Abdul Rasjid. Pemerintah di Sibolga telah  berkonsultasi dengan Dr. Abdul Rasjid dan telah diizinkan dan pemerintah akan datang dan mendukung program ini apalagi pameran ini berskala besar, tidak hanya penduduk Sipirok tetapi seluruh penduduk Tapanoeli, dimana daerah ini sudah sejak lama terasa kelesuan di semua suku Batak, sementara Resident melakukan segala hal dan berupaya memberi dukungannya agar memberikan keberhasilan. Pameran ini juga dimaksud untuk tujuan mempromosikan perkembangan penduduk dalam arti yang luas dari semua suku dimana telah muncul keprihatinan. Pameran ini terdiri dari 1. pertanian, 2. hasil hutan yang berbeda, 3. ternak, unggas dan budidaya perikanan, 4. usaha atau bisnis untuk semua perusahaan, 5. urusan teknis untuk kerajinan rakyat, 6. industri tenun dan kerajian rumah tangga, senjata dan alat-alat, 7. instrumen untuk musik Inlandsch, 8. tarian dan hiburan dari penduduk, 9. Pendidikan dan sejarah penduduk. Untuk tujuan di atas, setiap negara (daerah) akan membentuk sebuah komite dan jika perlu juga di wilayah komite lainnya untuk kerjasama dan dukungan terbentuk. Hasil pameran kemudian akan  disumbangkan sebesar 50 persen untuk pembangunan sekolah di Sipirok dan 50 persen untuk penduduk Batak lainnya, seperti beasiswa, boarding H1S Kotanopan, poliklinik di Panjaboengan, serta kemiskinan, penderita kusta dan semua instansi  berguna dan membantu di Residentie Tapanoeli’.

De Sumatra post, 27-09-1922 (Pasar Derma di Sipirok): ‘Sebagai pembaca kami tahu, adalah Dana Beasiswa Batak atas inisiatif Dr. Abdul Rasjid dan dokter hewan Dr. Tarip, pameran pertama yang diselenggarakan di Sipirok, Residentie Tapanoeli, sementara manfaat yang diperoleh dari pameran ini akan digunakan untuk mendukung HIS sekolah swasta di Sipirok. Pameran ini telah berlangsung tanggal 31 Agustus yang dibuka oleh Resident Tapanoeli di hadapan Asisten Residen, para controleur dan semua pemimpin pribumi dan berlangsung sampai 6 September dan bisa disebut sukses, Untuk setiap pengunjung masuk dipungut 10 sen dan penerimaan telah datang setiap hari sebesar f1600. Pameran ini sangat besar dan mencakup area seluas sekitar 20 bangunan konstruksi, dibagi menjadi beberapa bagian yang berbeda, seperti 1. pertanian, 2. untuk produk kayu, 3. untuk ternak, unggas dan budidaya ikan, 4. untuk menjahit, menenun, dll, 5. untuk kerajinan tangan dan alat-alat lain, 6. untuk barang antik dan buku dari pengetahuan tentang sejarah Batak, 7. instrumen, 8. untuk menari, pidato dan musik. Di situs ini juga dihadirkan opera Melayu ‘bangsawan’ dan bioskop, sementara itu hadir juga musik dari Silindoeng en Toba. Pameran produk dari seni Batak menjadi sangat sukses yang juga pertunjukan opera semacam wayang legendaris yang besar dari sejarah Batak kuno, yang sangat menarik. Setiap hari pertunjukan yang diselingi dengan pacuan kuda, kerbau dan lomba tradisi lainnya. Untuk juara baik bagi peserta pameran dan pemenang lomba juga disediak hadiah yang terbuat dari perak dan piagam. Dalam acara balapan juga dipungut tiket f10 dewasa dan  dan f5 anak-anak. Balapan ini sangat meriah karena didukung oleh semua para kepala dari Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, Toba dan semua area lain dari Bataklanden. Untuk tahun depan agar adil bisa digelar di tempat lainnya seperti misalnya Toba, Balige, Mandailing atau Sibolga, sebagai ibukota’.

Gambaran yang sedikit di atas telah mengindikasikan bahwa Sipirok adalah kota yang penting di Tapanoeli, kota yang memiliki kedekatan dengan semua sub etnik di Residentie Tapanoeli. Kesiapan penduduk Sipirok menerima tamu dan antusiasnya para pemimpin dari berbagai wilayah di Residentie Tapanoeli merupakan gambaran yang sebenarnya tentang Sipirok sebagai kota yang lebih adaptif (dalam arti sekarang lebih kosmopolitan). Yang juga menarik dalam acara pameran ini adalah kehadiran opera Melayu 'bangsawan', suatu grup opera keliling yang berbasis di Penang. Pada saat Dja Endar Moeda pabagaskon boru panggoaran di Padang tahun 1903, opera ini juga dihadirkan untuk mendampingi musik tradisi Batak. Dinamika politik pada era itu juga sudah berjalan dalam koridor demokratis.
De Indische courant, 24-10-1929 (Volksraadslid voor Tapanoeli): ‘Menurut Oetoesan Sumatra, anggota dari dewan lokal untuk Angkola Sipirok dan tidak akan puas dengan representasi saat ini daerah-daerah di Volksraad. Hal ini diyakini bahwa Dr. Alimoesa (Harahap) adalah wakil dari Koeriabond (negorijhoofden), tetapi tidak memenuhi sebagai perwakilan di dalam dewan negara. Oetoesan Sumatera sementara ini tengah mepertimbangkan beberapa kandidat sebagai calon yang akan mewakili dari orang-orang Tapanoelische: 1. Dr. Abdul Rasjid (Siregar), dokter swasta di Sipirok, 2. M. Soangkoepon (Abdoel Firman Siregar), anggota Volksraad (yang sekarang mewakili Sumatra Timur). Berturut-turut, kemudian disebut 3. Abdul Aziz (Nasoetion), direktur Sekolah Pertanian Swasta di Fort de Kock. 4. Mr. Alinoedin (Siregar) Enda Boemi, PhD di Buitenzorg (kepala pengadilan Bogor). Orang-orang ini akan berdiri membangun kualitas dan delegasinya ke Dewan Rakyat (sebagai calon favorit) yang akan berarti Djempol (terampil) mewakili Tapanoeli di Pedjambon’.
Deskripsi dan perbandingan musik Batak: Joustra dan Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie

Dalam bukunya Batak Spiegel (diterbitkan 1926), M. Josutra mendeskripsikan musik Batak. Menurut Joustra orkest musik Batak pada dasarnya sama untuk semua sub etnik Batak. Namun demikian di Zuid Tapanoeli dan Padang Lawas orkest Batak adalah paling lengkap. Orkest dimainkan dalam dua kesempatan, yakni untuk hiburan dan untuk upacara-upacara. Orkest sendiri sangat jarang ditampilkan. Orkest Karo terdiri dari tiga gendang, drum ukuran yang berbeda; gong besar (goeng), sebuah gong kecil atau penganak (yang juga digunakan untuk mengumpulkan penduduk), dan sejenis clarinet (saroene). Alat musik lainnya adalah kecapi logam (genggong); kecapi Yahudi (saga saga) dari batang daun kelapa (kedeng); berbagai seruling dan plute yang terbuat dari bambu (baloeat), dan soerdam; alat musik petik (jenis biola) dan koeltjapi (jenis mandolin). Mainan yang digunakan musik adalah plute (oli-oli) dari batang padi yang kadang-kadang suarnya diperkuat dengan memperpanjang berbentuk corong dari daun kelapa yang digulung. Mainan lain adalah keteng-keteng, bersama bambu, yang satu telah terpisah sepotong kecil kulit dan dikencangkan dengan menggeser bawah dua gulungan.  Tidak digunakan dalam musik orchestra.

Di Simaloengoen bahwa instrumen yang sama seperti di Toba. Di Dairi orkest tidak selalu terdiri dari jumlah yang sama. Yang paling lengkap diantara kedua daerah ini adalah di Si Lindoeng dan Toba karena terdiri dari lima cekungan logam yang lebih besar dan lebih kecil (ogoeng), tujuh drum yang mengidentifikasi lima tataganing, yang sebenarnya adalah timpani; dua lainnya disebut odap, yang besar disebut gordang dan drum kcil dan satu klarinet, saroenë. Dari lima cekungan logam ada robek, dan karena itu memberikan nada snerpenden; Cekungan ini disebut hësëk-hësëk atau hasar-hasar. Band ini tampil di festival besar dan upacara keagamaan, dan berfungsi untuk mengiringi tarian. Sebagai alat untuk latihan adalah garantoeng, semacam piano, yang terdiri dari lima batang kayu, yang mencerminkan skala sebagaimana dalam bermainan drum, dan lainnya, alat ini di dalam sebuah wadah terbuat dari rotan. Alat lainnya, djënggong (logam mondharpje), saga saga (organ mulut tangkai daun kelapa), berbagai seruling bambu: salohat, sejenis seruling, dan seruling lurus sordam (toelila), singkadoe dan toenggam; dan akhirnya instrumen yang menggunakan senar, hasapi atau hapetan, semacam mandolin. Dalam beberapa tahun terakhir,  mungkin awalnya seruling tergeser oleh soelëng, seruling lebih atau kurang untuk sistem Eropa, tanpa katup.

Di Zuid Tapanoeli (Mandailing dan Angkola) alat musik disebut: tabu rarangan, drum besar (bedug) yang digunakan untuk mengumumkan peristiwa penting; yang membentuk instrumen orkestra, agak berbeda dari Silindoeng en Toba. Di Zuid Tapanoeli terdiri dari sembilan drum atau timpani (gordang) dan juga gondang boeloe yang disebut noengnëng, doal (setara dengan penganakdi Karo), tjënang yaitu tali sasajak (simbal logam) dan saroenë. Instrumen lain seperti toelila,  sordam dan oejoep-oejoep, salempong, alang lio (Mand.) atau ole-ole (Angkola), dan hoesapi. Untuk gordang semua memiliki nama sendiri dan bermain pada beberapa kesempatan,

Di Padang Lawas sebuah orkestra lengkap harus terdiri dari: sembilan  timpani silinder (panggorak, djondjong), dua atau empat  cekungan besi cor (ogoeng), lima timpani besar (ondas-ondas), gong besar (ogoan), delapan kerucut berbentuk drum (gordang), gong robek (hasar-hasar), klarinet (saroene), dua berbentuk baskom (tati sajak) dan cekungan lainnya sebagai saraban) momongan, oening-oeningan dan garantoeng (yang terakhir menjadi sebuah instrumen dalam gambang Java), dua timpani kecil (odap) dan biola (hapëtan). Untuk orkestra lengkap hadir dalam hal yang penting dan sangat jarang. Alat music lain yang bukan band adalah sangka dan sordam (seruling), saga saga (mondharpje). Dari tempat lain diimpor salëmpong (satu set simbal kuningan), goetjapi atau sakalipak (sejenis alat musik gesek), dan tawak-tawak, sejenis baskom tembaga.


Sumber lain, soal deskripsi dan perbandingan musik Batak ini juga ditemukan dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, 1917-1939 pada seksi Musik dan Musikal. Disebutkan bahwa Atjeh memiliki orchest dengan berbagai instrument namun bakat musik di Atjeh kurang berkembang akibatnya melodi di dalam pertunjukan musik mereka juga nyaris tidak ada. Tampaknya seolah-olah setiap orang bermain sendiri-sendiri, tidak mendengar apa yang dilakukan oleh tetangganya. Orchest Atjeh akibatnya menjadi kerdil.

Di Tanah Batak band tampak besar: empat gong dan enam, tujuh atau sembilan drum (gondang) yang distel dengan nada yang berbeda, yang dipukuli oleh dua orang dengan tongkat yang dilakukan dengan kecepatan dan stabilitas dimensi yang diperlukan. Juga terdapat odap dan tamborin yang dipukul dengan tangan satu orang, saroenè atau sordam, flute dan hasar-hasar, gong yang dimainkan oleh satu orang. Delapan pemain yang diperlukan dalam band ini,

Sehubungan dengan persebaran music tradisi Batak, kita dapat melihat adanya beberapa perbedaan yang spesifik yang dapat dibuat gradasinya. Di Karolanden, orchestra terdiri dari tiga gëndangs (drum ukuran yang berbeda), gong besar (goeng), kecil (pënganak), semacam klarinet (saroene), suatu instrumen yang terpisah dimainkan meliputi mondharpje logam (genggoeng), daun kelapa tangkai (saga saga), seruling tipis (baloewat), tebal (soerdam), biola (moerdap), mandolin (koetjapi) dan sitar bambu (keteng-keteng).

Di Silindoeng dan Toba orchestra terdiri dari lima logam cekungan (ogoeng), tujuh drum, yang benar-benar digunakan enam yang disebut timpani (tataganing, odap dan gordang retak), klarinet (saroene) dan keyboard terbuat dari kayu dengan 5 bar (gërantoeng), menunjukkan skala Batak. Logam yang dimainkan secara terpisah disebut kecapi Yahudi (djenggang), sebuah ‘organ mulut’ dari tangkai daun kelapa (saga-saga), seruling (salohat), seruling lurus (soerdam, singkadoe dan toenggan) dan instruments dua string (hasapi, hapetan).

Gondang Sambilan (internet)
Di Zuid Batak orchestra terdiri dari sembilan drum atau timpani (gordang), gondang boeloe, doal (=Karo pënganak), tjënang, logam berbentuk baskom (tali sesajak) dan saroene. Drum besar yang dimainkan secara terpisah (tabu rarangan) lebih ditujukan untuk tanda panggilan, toelila, soram, oejoep-oejoep, salempang, alang lio (Mandailing) atau ole-ole (Angkola) dan hoesapi. Sementara itu, di Padang Lawas orchestra terdiri dari Sembilan silinder timpani (panggorak dong dong), dua atau empat cekungan besi (ogoeng), lima tompani besar (ondas-ondas), gong (ogoan), delapan drum kerucut (gordang), gong retak (hasar-hasar), oboe (saroene), dua alat berbentuk baskom (tali sajah) dan cekungan lainnya, dua timpani, biola (hapetan). Namun demikian, orkestra yang lengkap sangat langka dan jarang terjadi. Instrumen secara terpisah dimainkan disebut seruling (sangka dan soerdam), simbal kuningan dan alat musik gesek (goetjapi atau sakalipak).

Keyboard kayu sebagaimana dijelaskan sebelumnya, merupakan gambang kayu Jawa yang dibuat dalam bentuk yang lebih sederhan, terdiri dari enam bar. Sitar bambu sebagaimana ditempatlain (Kepulauan Melayu, Jawa, Sumatera, Nias, Maluku dan Timor, dan di tempat lain) berbeda dengan gendang boeloe yang mungkin asli dari Batak. Piano kayu (gerantoeng) dan mandoling dari kecapi jika dimainkan bersama-sama, itu terdengar seperti music. Simbal pada drum dimaksudkan untuk memperkuat suara atau gong pada gondang. Gong diduga dibeli dari Tiongkok. Musik ini selain untuk mengirik tarian (tortor) adalah untuk memanggil roh, dimana setiap panggilan yang dipikirkan memiliki melodi sendiri-sendiri. Diantara daerah-daerah Batak, musik tradisi dianggap sebagai pelanggaran oleh pihak misionaris dan sebagai alternatifnya memperkenalkan instrument yang terbuat dari kuningan (alat musik tiup).
Bagaimana gong yang berasal dari Tiongkok masuk ke Tanah Batak besar kemungkinan karena peranan pedagang Tionghoa yang telah lama memasuki Angkola. Dalam laporan Kastil Batavia 1701 terdapat catatan seorang pedagang Tionghoa yang baru datang dari Ankola. Dia sudah selama 10 tahun berdagang di Angkola dimana dia membeli kamper, emas dan kemenyan dan memnukarkannya dengan garam, besi dan kain. Pedagang Tionghoa ini menikah dengan putri Angkola dan memiliki satu putri. Pedagang Tionghoa ini berdagang antara Angkola dengan Panai di pantio timur Sumatra sepanjang sungai Baroemoen. Jika ditarik lagi ke belakang, bahwa menurut laporan Pinto (1536) bahwa di pedalaman terdapat Batak Kingdom (Aroe Kingdom) yang telah memiliki hubungan dagang dengan Malaka. Juga dari laporan-laporan Tingkok juga ditemukan bahwa Kerajaan Aroe (mereka menyebut Alu) sudah memiliki hubungan dagang pada abad ke empat belas. Jika benar bahwa hipotesis bahwa Kerajaan Aroe berada di hulu sungai Baroemoen, maka instrumen gong dalam musik tradisi Batak sudah ada sejak abad ke empat belas.  .
Dari deskripsi dari dua sember di atas baik yang terdapat dalam eksiklopedia maupun yang dideskripsikan oleh Joustra pada dasarnya sama dan sebangun. Dalam hal ini kedua sumber tersebut tidak terindikasi apakah merupakan hasil pencatatan sendiri atau mengacu pada sumber-sumber sebelumnya. Sementara itu secara parsial untuk musik tradisi Batak di Zuid Tapanoeli (Mandailing dan Ankola) sebagaimana dideskripsikan oleh WA Hennij (1866) tidak berbeda jauh dengan yang pernah dideskripsikan oleh TJ Willer (1845). Hasil pencatatan TJ Willer dan WA Hennij boleh jadi menjadi sumber dari Joustra dan sumber dari ensiklopedia.

Penelitian musik Batak oleh Dr. Karl Halusa dan penyiaran musik tradisi Batak di Jawa

Musik tradisi Batak sudah sejak lama diidentifikasi (1845 oleh TJ Willer). Meski musik tradisi secara langsung atau tidak langsung perkembangannya telah dihambat oleh pemerintah, pemuka agama Islam (Mandheling,  Ankola dan Padang Lawas), dan bahkan oleh gereja (Silindoeng en Toba) namun eksisrensi masih terus berlanjut. Di Toba, instrument musik tradisi menjadi bagian dari ritual-ritual yang dilakukan pengikut Parmalim. Di Angkola dan Mandailing musik tradisi hanya dihadirkan pada saat upacara-upacara adat baik untuk perkawinan maupun dalam penyambutan tamu. Namun demikian, musik di kalangan muda-muda masih menjadi habit.

Anak-anak Afd. Padang Sidempuan di Jawa, khususnya di Batavia dan sekitarnya sejak 1910 (terutama anak-anak yang kuliah di berbagai perguruan tinggi) dan sejak 1928 populasinya sudah semakin sangat banyak. Para pemuda dan pemudinya (baik yang lahir di bonabulu maupun di perantauan) telah dengan sendirinya mendapat bimbingan dan arahan dari para senior (hatobangon). Tokoh-tokoh bidang pendidikan Todoeng Soetan Goenoeng Moelia dan Panangian Harahap; bidang pers seperti Parada Harahap dan Abdoelaj Loebis  (yang membimbing Adam Malik, Sakti Alamsyah dan Mochtar Lubis); bidang politik seperti Amir Sjarifoedin (yang membimbing Adam Malik dan Abdoel Hakim); bidang seni dan sastra Sanusi Pane dan Sorip Tagor (yang membimbing Ida Nasoetion dan lainnya). Rasa persaudaraan ini ini terjadi sepanjang sejarah (estafet) anak-anak Padang Sidempuan mulai dari Padang, Sibolga, Medan, Batavia dan Buitenzorg (karena pada setiap era sejak 1900 hingga 1941) jumlah mereka belum sebanyak yang sekarang. Namun demikian, proporsi mereka dibanding dengan etnik lainnya, penduduk Batak yang umumnya berasal dari afd. Padang Sidempuan terbilang cukup tinggi.

Mereka inilah basis pendukung dari kehadiran dan pengembangan musik tradisi Batak di Batavia (di perantauan). Di dalam acara-acara tertentu seperti horja (perkawinan). Mereka yang menyelenggarakan ini umumnya adalah keluarga mampu (pejabat atau yang memiliki kedudukan tinggi secara social dan ekonomi) Namun demikian pada hari-hari besar musik gondang juga dihadirkan, seperti halal bi halal. Para muda-mudi (naposo nauli bulung) termasuk mahasiswa-mahasiswa ikut mempersiapkannya. Musik tradisi menjadi semacam magnet dalam mempertemukan dan mempersatukan anak-anak mereka di perantauan, tidak hanya untuk menyambung rasa bahwa mereka memiliki kerabat di kampong halaman tetapi juga untuk mengembangkan music tradisi warisan dari nenek moyang.

Kehadiran musik tradisi Batak ini dari tahun ke tahun semakin meningkat intensitasnya dan secara tidak langsung telah menjadi pemahaman umum bahwa musik tradisi Batak sebagai bagian dari musik tradisi pribumi yang patut diperhatikan dan layak mendapat tempat di ruang publik. Akhirnya seorang kurator musik yang bekerja untuk Art Society di Batavia pada tahun 1936 bernama Dr. Karl Halusa tergoda untuk langsung mendatangi Tanah Batak. Halusa, seorang musicology, sebagaimana dilaporkan Soerabaijasch handelsblad ingin mempelajari musik tradisi Batak. Menariknya, kunjungan ahli musik ini ke Tanah Batak juga akan melakukan perekaman langsung. Ini terkait dengan adanya anggaran dari pemerintah untuk melakukan studi musik tradisi (termasuk musik Batak).

Soerabaijasch handelsblad,06-07-1937: ‘Dr. Halusa ke Batak. Pada pertengahan Agustus ini, Dr. Halusa, kurator musicological di Afdeeling Museum Kon. Masyarakat Batavia. Beberapa waktu lalu dimulai dari Medan lalu penelitian di Batak, dan kemudian ke Padang, khususnya untuk mengobservasi musik Mentaweilanden. Penelitian ini diperkirakan 10 dan 12 minggu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengambil dan membuat studi khusus tentang ekspresi musik dan membuat rekaman di daerah-daerah di mana budaya Eropa belum terlalu kuat utamanya dari budaya Batak. Sejak dimulainya penelitian musik pribumi tahun 1932, budaya Batak belum masuk dalam daftar penelitian musikologis, tapi sekarang anggaran O en E telah disediakan, namun penelitian ini akan dilakukan secara bertahap. Setelah melakukan tugas ke Tanah Batak, Dr Halusa akan ke Dajaklanden tahun depan dalam program, yang bertujuan untuk mencakup seluruhnya secara sistematis. Perjalanan mendatang Dr. Halusa ke Battaklanden dapat dianggap sebagai studi pendahuluan. Selain untuk mengoleksi alat musik tradisi, juga akan dilakukan perekaman dari muziek orchestra (gondang) dan vocal (nyanyian rakyat). Untuk tujuan ini, seorang pejabat dari Laboratorium Radio di Bandung, akan dibangun komposisi instrumen (aransemen) yang juga akan dilakukan rekaman untuk bisa dibedakan antara rekaman listrik (dengan rekaman langsung di lapangan). Saat ini museum di Batavia adalah satu-satunya di dunia yang memiliki perangkat yang juga dapat dilakukan oleh apa yang disebut ‘fieldwork’ independen arus listrik yakni dua baterai dengan sebuah motor listrik dan dinamo yang dihubungkan dengan alat lain gramofon sebagai penguat suara ke mikrofon. Sebelumnya fungsi ini sudah lama dilakukan tetapi hasil rekaman music serupa itu tidak dapat menangkap ‘nuansa’ dan karenanya fungsi ini akan memiliki akurasi dan kealamiahan. Fungsi ini juga untuk mengatasi problem dimana penyanyi harus mempersiapkan sangat dekat dengan corong microfon yang dapat mengganggu ekspresi dirinya dalam beraksi. The Bataksche Gondang orkestra terdiri dari lima gong, lima drum suara berbeda dan oboe bentuk sedikit berbeda. Pada prinsipnya komposisi yang sama dengan instrumen yang akan digunakan sebagaimana dalam orkestra Eropa. Dalam music tradisi Batak secara umum juga terdapat satu intrumen yang dimainkan yang disebeu  ‘koetjapi’. Keinginan Dr. Halusa untuk mempelajari dan mengajarkan dengan menyediakan peralatan modern agar terdengar akurat, membuat kesan yang dapat diperoleh lebih baik sebagai sebuah kontrubusi peralatan ilmiah’.

Dr. Halusa bukan PhD orang sembarangan. Halusa adalah seorang doktor (PhD) di bidang musik dari Universitas Vienna (Wina) yang bekerja sama dengan Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (Art and Science Society) yang dipimpin oleh Mr. J. Kunst. Kedatangan Mr. Halusa ini mengingatkan kita 85 tahun lalu (1852) seorang wanita Austria Ms. Ida Pheiffer berkunjung ke Tanah Batak, yang merupakan orang Eropa pertama yang melihat langsung pertunjukan musik tradisi Batak dipertontonkan dihadapannya. Kini, menariknya, sebelum ke Tanah Batak,, Dr. Halusa singgah di Medan dan memberikan kuliah umum di De Witte Societie. Isi kuliahnya dilaporkan De Sumatra post, 24-06-1936 (dikutip hal yang relevan saja):

Dr. Karl Halusa memberikan kuliah musik di Medan, 1936
Mr Halusa mulai presentasinya dengan menunjukkan bahwa niatnya tidak hanya untuk menyebutkan berbagai fenomena di musik, tetapi juga untuk menjelaskan dan menunjukkan perlunya keberadaannya. Oleh karena itu perlu bahwa ia memberikan gambaran dari berbagai bentuk seni pada umumnya, dilihat dalam konteks waktu. Seratus dua puluh lima tahun yang lalu, terbukti saat perang pembebasan Napoleon semua orang berharap untuk masa depan yang lebih baik, tapi segera berlawanan dan ternyata bahwa tirani itu lebih kuat daripada sebelumnya dan bahwa kebebasan pribadi semakin dihilangkan. Semua harapan itu hilang dan hal dimasa lalu telah hilang semuanya…. Dalam musik ini tercermin dan dapat mencatat menyusuri secara khusus. Satu hal  tidak hanya melihat deskripsi sederhana dari pengalaman jiwa, tetapi memahami lebih jauh….Betul kini telah muncul bentuk seni tertinggi dalam artistik. Namun tujuan dari musik bukan untuk pesona, tetapi ekspresi perasaan tertentu komposer. Kebanyakan datang untuk ini melalui lagu dan opera, setelah semua, kata-kata bisa menjelaskan apa yang dialami sang pencipta, musik bisa mendukung hal itu. Sebagian besar tokoh, seperti Richard Wagner, selain musisi juga seorang penyair, membuat unit diperoleh, karyanya menjadi sempurna lewat suara. Juga dapat disebut seperti zooals van Mendelssohn ‘Lieder ohne Worte’ en van Fr. Liszt ‘Symphonische Gedichte’….Singkatnya, imajinasi pendengar harus mendorong ke arah tertentu, sehingga mereka datang paling dekat dengan yang artis, ketika ia ditangkap pengalamannya di musik… Tapi tindakan kita masa ini jelas suatu respon. Suatu keberhasilan teknis secara luas dicapai dalam semua jenis medan (meskipun itu jauh ke pedalaman Tanah Batak), agar kita tidak kehilangan pengaruh pada music mereka. Dan tidak seperti dengan kehadiran music masa lalu kita lenyap, kita harus mendapat perhatian lebih dan lebih’.


Dr. Halusa memberikan kuliah musik di Medan, 1936
Saat kuliah Dr Halusa ini di Medan pengunjung sangat banyak (tentu saja ada beberapa tokoh pribumi). Beberapa tokoh pribumi yang penting pada masa itu adalah Mr. GB Josua (Sipirok), Dr. Djabangoen (Angkola), Abdullah Lubis (Mandailing). Sementara itu tidak demikian antusiasnya di Bandung, ketika Dr. Halusa dijadwal akan memberikan kuliah musik tradisi di Bandung terpaksa dibatalkan karena kurangnya peminat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-09-1936). Apakah Halusa kecewa? Tampaknya tidak, karena segera di Malang Halusa dilaporkan mendapat sambutan yang pantas ketika memberikan kuliah gratis (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-10-1936). Dari Malang, Halusa kembali ke Batavia. Ternyata kemudian, Dr. Halusa sangat tertarik dan kembali lagi ke Medan untuk memberikan kuliah, Oktober 1937. Presentasinya dilakukan di Grand Hotel Medan. Kali ini, Halusa dengan tema ‘Der Sinn der Vökerkunde’ yang disponsori oleh Deutschen Gesellschaft für Natur-und Völkerkunde Ostasiens. Asosiasi ini didirikan di Tokyo pada tahun 1873. Sekitar dua tahun yang lalu dibuka cabang di Batavia. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang penggunaan dan kebiasaan negara-negara asing (lihat De Sumatra post, 06-10-1937).

Grup musik Toba, gondang kontras taganing (1928)
Apa yang menarik bagi Karl Halusa dengan musik tradisi Batak? Ternyata Dr. Halusa telah menemukan sedikitnya ada 40 jenis instrumen musik Batak, baik yang dimainkan laki-laki maupun perempuan. Temuan ini baru dilaporkan kemudian oleh Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-03-1938 setelah mengunjungi Karolanden, Bataklanden dan Zuid Tapanoeli. Setelah sukses di Tanah Batak, Halusa melanjutkan studi ke Bali (De Indische courant, 30-06-1938), lalu kemudian melakukan studi tiga bulan di Jawa (Soerabaijasch handelsblad, 19-10-1939). Dari rangkaian kunjungan Halusa, di Bandung perkuliahan dibatalkan karena kurang peminat, di Jawa dibiayai oleh pemerintah, tetapi di Medan dibiayai oleh badan internasional dan ketika kuliahnya dikutip f2 untuk anggota dan f5 untuk non anggota per orang ternyata peminatnya tetap banyak. Ternyata orang-orang Eropa/Belanda di Medan juga penikmat musik sebagaimana penduduk Batak di pedalaman. 

Orchest musik Karo, 1932
Yang cukup mengejutkan, Karl Halusa, PhD ahli musik dari Wina menduga musik Batak telah berkembang sejak lama mendahului yang lain. Yang membedakan musik tradisi Batak dengan yang lain menurut Halusa adalah drum atau gondang. Menurut Halusa musik tradisi Batak juga telah dipengaruhi oleh  musik Eropa dan juga musik dari Arab. Musik tradisi Batak memiliki banyak melodi bahkan mencapai 48 melodi yang berbeda di Karolanden (De Telegraaf, 14-01-1938). Banyaknya melodi di Karolanden diduga adanya tambahan pengaruh Arab yang dapat dijelaskan dengan kontak yang kuat dengan Atjeh, yakni bermain dengan cara drum bespeling yang telah diterapkan pada musik Batak.

Orchest di Simaloengoean, 1934
Perbedaan lainnya bahwa orchest Karolanden adalah yang terkecil dibanding yang lain dan di Zuid Tapanoeli cenderung lebih besar. Karolanden hanya memiliki dua trommen en een dezer trommen (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-12-1937). Hal lain juga yang tidak kalah penting, meski Tanah Batak masih digolongkan daerah primitive (saat itu), tetapi Dr. Halusa telah membuat rekaman yang sangat banyak, jumlahnya bahkan mencapai 175 buah (De Indische courant, 15-12-1937).

Grup musik Sipirok sambut Gub, Jenderal de Graef 1928 (tampak lebih modern)
De Sumatra post, 18-12-1937 menggarisbawahi bahwa secara umum harus dicatat, bagai-manapun, bahwa musik tradisi Batak juga dipengaruh oleh musik Eropa modern, jazz dan musik Hawaiian. Di daerah Kristen (Toba en Silinedoeng) untuk memainkan musik asli dilarang karena dianggap musik asli masih ada pengaruh pagan. Sementara dari sudut pandang musicological, kebaikan beberapa raja di Simeloengoen membuat upaya untuk memper-tahankan musik asli terkesan lebih banyak dibanding daerah yang lain dan bahkan diajarkan di sekolah-sekolah rakyat. Musik di daerah ini sangat sangat terhubung dengan religi. Hal yang kontras adalah music tradisi Mentawaai, menurut Halusa yang paling murni (belum terpengaruh asing) dan masih menemukan contoh tarian burung yang berhubungan dengan ajaran totenism (pra-religi). Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 29-07-1938 mengutip bahwa music tradisi Simaloengen terkesan lebih hidup dan paling menarik perhatian.

Halusa merekam musik di Karo, Bataklanden dan Zuid Tapanoeli
Bagaimana Dr. Halusa melakukan perekaman dan interaksinya dengan para pemain pada lokasi penelitian yang berbeda selama empat bulan. Mungkin ini soal remeh temeh tetapi perlu juga dicatat karena sangat mempengaruhi dalam teknik perekaman. Di Karolanden, Halusa harus bersusah payah, karena banyak diantara pemain yang ketakutan apalagi dengan penggunaan mikrofon. Alasan mereka: ‘Kami membuat musik, bukan karena kita bisa melakukannya sendiri tetapi karena kita diperintahkan oleh roh-roh’. Sebaliknya di Zuid Tapanoeli, kata Dr Halusa, bahwa penduduk tidak takut sedikit pun atau ragu-ragu mengenai kesediaan untuk bermain untuk mikrofon, malahan sangat bersemangat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-12-1937).

Bataviaasch nieuwsblad, 20-09-1939
Meski demikian adanya, di Jawa tahun 1937, radio-radio sudah menyiarkan muziek Batak, seperti Radio Pemerintah di Batavia, Bandoeng, Solo, Djogja, Semarang dan Surabaya. Juga musik Batak disiarkan oleh Radio Nirom. Ini menunjukkan bahwa populasi pendengar musik Batak sudah cukup banyak. Pada awalnya musik Batak ini dipersiapkan oleh anak-anak muda Jong Batak dalam bentuk orchest (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-08-1937). Kemudian musik Batak ini berkembang yang dimainkan oleh grup mandiri Batak Orchest, seperti Andalas (lihat De Indische courant, 28-01-1938 dan De Indische courant, 30-11-1939). Nyanyian (liedren) dari Sipirok disiarkan oleh Bandoeng II, Batavia II dan PMH (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-09-1939).

Tampaknya kehadiran Dr. Karl Halusa ke Tanah Batak telah memicu anak-anak Batak di Batavia yang tergabung dalam Jong Batak turut ambil bagian dalam promosi musik tradisi Batak di rantau. Tidak jelas inisiatif siapa yang memasukkan dalam acara siaran radio (apakah Jong Java atau Radio Djakarta sendiri).

De Sumatra post, 15-11-1919
Jong Batak adalah organisasi pemuda Batak yang digagas oleh anak-anak Padang Sidempuan tahun 1919 (dipimpin oleh dr. Abdoel Rasjid). Organisasi ini dilanjutkan oleh Parada Harahap tahun 1924 di Batavia. Organisasi ini menjadi bagian dari organisasi Sumatra, namun karena merasa ada teman-temannya yang ikut organisasi Sumatra sedikit ada resistensi (karena mereka beragama Kristen), merasa tidak senang. . Seperti diketahui Parada Harahap adalah nasionalis sejati (tidak terlalu mempersoalkan perbedaan etnik dan agama sejak di Deli tahun 1916 dalam mengungkap kasus poenalie sanctie dan bahkan kontribusinya mampu meredam konflik antara Mandailing dan Minangabau di Medan, 1918). Organisasi Sumatra sesungguhnya diprakarsai dan didirikan oleh Sorip Tagor (ompung dari Inez Tagor) dan menjadi presiden pertama di Leiden tanggal 1 Januari 1917 dengan nama Sumatra Bond (pada tahun 1908 Soetan Casajangan mendirikan Indisch Vereeniging). Di Batavia organisasi Sumatra ini dibentuk oleh anak-anak STOVIA pada tanggal 8 Desember 1917 yang menjadi ketua adalah Tengkoe Mansoer dan wakil ketua Abdoel Moenir Nasoetion (dua anak Medan: Abdoel Moenir adalah abang dari SM Amin, gubernur Sumatra Utara pertama).  Asosiasi pemuda Sumatra ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intesitas (pembangunan) hanya berada di Jawa, sementara di Sumatra dan pulau-pulau lainnya agak terabaikan. Organisasi Sumatra ini terus berkembang, dimana di Padang dan Sibolga juga dibentuk, dimana di Sibolga dipelopori oleh Parada Harahap dan Manullang. Ketika Parada Harahap hijrah ke Batavia 1922 terus terlibat di Sumatra Bond. Pada tahun 1924 Parada Harahap mendirikan Bataksche Bond tetapi masih tetap berafiliasi dengan Sumatra Bond (mungkin masih menghormati senior-seniornya di Sumatra Bond seperti Sorip Tagor dan Abdoel Moenir). Inilah kearifan Parada Harahap, cenderung menengahi sesame pribumi tetapi sangat tegas  terhadap orang Eropa/Belanda (sekadar mengingat: Koran Parada Harahap di Padang Sidempuan 1919 diberi nama Sinar Merdeka).

Di seputar jelang (Kongres Pemuda) tahun 1928 besar kemungkinan tokoh-tokoh musik tradisi Batak adalah Sanusi Pane, Nahum Situmorang dan tentu saja Parada Harahap. Jangan lupa masih ada seorang pemuda yang berbakat musik: Amir Sjarifoedin dan Todoeng Soetan Goenoeng Moelia. Mereka inilah yang memperkenalkan musik tradisi Batak di Batavia. Di Medan, sejak 1907 besar kemungkinan diperkenalkan oleh anak-anak Padang Sidempuan yang tergabug dalam sarikat Tapanuli yang memiliki koran terkenal Pewarta Deli (terbit pertama kali 1910).

Tarian Minangkabau dengan hanya tiga alat tiup (1900)
Jauh sebelumnya tahun 1903, Dja Endar Moeda telah memperkenalkan musik tradisi (gondang) Batak di Padang ketika sang guru yang novelis dan wartawan ini ‘pabagaskon boru panggoaran’ Alimatoe Sa’diah dengan Dr. Haroen Al Rasjid (Nasoetion), alumni docter djawa school yang berdinas di Padang. Saat itu, Dja Endar Moeda adalah pribumi terkaya di kota Padang. Dalam horja bolon ini dua jenis seni dihadirkan untuk melakukan pementasan: selain music tradisi (gondang) Batak juga seni Melayu (untuk memberi layanan hiburan kepada tetangga yang umumnya orang Minangkabau). Pesta ini dihadiri banyak pejabat-pejabat Belanda dan tokoh-tokoh lokal. Sekadar diketahui: Dja Endar Moeda adalah pendiri organisasi social Medan Perdamaian di Padang tahun 1902, suatu organisasi social kemasyarakatan berbasis nasional dimana direktur pertama adalah Dja Endar Moeda (organisasi pribumi yang lebih awal dari organisasi Boedi Oetomoe, 1908 yang berbasis kedaerahan).  

Parada Harahap, anak Pargarutan (huta yang kental dengan adat (paradat) dan memelihara tradisi musik gondang) di Batavia boleh jadi pionir dalam memperkenalkan music tradisi Batak. Parada Harahap sejak 1925 sudah menjadi OKB (orang kaya baru) dan pada tahun 1926 mendirikan organisasi pengusaha pribumi (semacam Kadin pada masa ini) yang bertindak sebagai ketua yang mana Parada Harahap pada tahun 1927 sudah memiliki tujuh media surat kabar dan beberapa manufaktur dan plantation. Tahun 1931 Parada Harahap diundang Kadin Jepang untuk berkunjung ke Jepang dan merupakan orang pertama Indonesia ke Jepang (dalam rombongan yang terdiri dari tujuh orang ini termasuk Abdulah Loebis (radja persuratkabaran Medan) dan satu sarjana baru yang bernama Hatta yang baru lulus dari Belanda yang kelak menjadi Wakil Presiden). 

Musik Jawa juga sudah diperkenalkan di Batavia, 1870
Musik tradisi Batak menurut Dr. Karl Halusa lebih melodis dibanding musik Jawa dan musik. Bali. Semua elemen musik Barat (melodi, harmoni, irama, dan lainnya) dapat ditemukan dalam musik tradisi Batak. Musik Jawa menurut Halusa hanya memiliki lima nada utama dan untuk memainkan melodi Barat, maka hal ini tidak mungkin. Musik Jawa (dan Bali) Jawa benar-benar berbeda dari musik Barat (dan juga music Batak). Musik Jawa bukanlah seni yang kita piirkan melain kegunaan dalam arti terbatas. Musik bagi orang Jawa yang penuh dengan suasana mystische  adalah baginya manifestasi dari alam semesta (lihat De Indische courant, 11-08-1938). Sedangkan musik Bali yang seakar dengan musik Jawa pada dasarnya telah banyak yang hilang ditelan jaman dan tidak diketahui lagi. Yang ada sekarang menurut Halusa, memang masih mempertahankan bentuk struktur dan artefak, tapi tidak lagi hidup (Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 09-10-1938). Jika dibandingkan dengan kreasi yang sekarang, musik Batak lebih awal dan lebih maju dari sudut pandang musicological.
Karl Halusa lahir 14 Juli 1906 di Brunn dan meninggal 21. Desember 1959 di Wien. Dr. Halusa, seorang Austria adalah orang pertama yang meneliti musik Batak. Penelitiannya tidak hanya mendeskripsikan musik Batak baik dalam hubungannya yang bersifat internal (Karo, Silindung dan Toba, Simalungun dan Angkola dan Mandailing) maupun yang bersifat eksternal (Jawa, dan Bali). Musik Batak telah dimulai pencatatannya di Mandailing dan Angkola tahun 1840-1845 dan ini berarti pada purna kerja Dr. Karl Halusa 1940 berarti sudah satu abad musik tradisi Batak dikenal. Secara kebetulan pula, orang pertama yang melihat pertunjukkan musik Batak adalah orang Austria bernama Ida Pheiffer tahun 1852 di sekitar Sipirok. Satu hal yang tidak terlaporkan dalam studi Halusa tentang musik Batak ini adalah lagu-lagu rakyat yang berhasil direkamnya tidak diketahui nama lagu-lagu apa saja.

Gordon Tobing penerus Nahum Situmorang: Musik tradisi Batak mulai punah.

Salah satu anak Batak yang lahir sebagai musisi dari Jong Batak adalah  bermarga Tobing. Dialah yang kerap mengaransemen musik tradisi Batak di lingkungan Jong Batak. Masih muda dan sangat berbakat. Nama grup musik tradisi merupakan bagian dari organisasi Jong Batak dan namanya pun ‘Jong Batak’ di bawah pimpinan Mr. Tobing. Pementasan pertama grup ini direkam, dan disiarkan pada tanggal 27 Agustus 1937 pukul 19.15 dibawah tajuk Bataksche muziek oleh tiga radio bersamaan: Bandoeng II gel. 103, Batavia II gel. 190 dan PMH 1,5 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-08-1937).

Mr. R. Tobing pimpinan musik tradisi Batak bernama Jong Batak ini bukanlah Gordon Tobing. Sebab Gordon Tobing (yang kelak menjadi musisi Batak terkenal) baru berumur 12 tahun dan masih tinggal bersama orang tuanya di Medan.

Sejak musik tradisi berkumandang di udara di Jawa oleh grup musik Jong Batak, lalu mulai bermunculan grup musik tradisi (Batak Orchest) yang dibawakan oleh grup lain. Pada tahun 1938 muncul nama grup bernama ‘Andalas’ dan mendapat tempat di radio pertamakali awal tahun 1938 (De Indische courant, 28-01-1938). Grup baru ini (yang mungkin telah menggantikan Jong Batak) pernah mengudara di Radio PMN gel 29 M yang juga direlay di Solo, Semarang, Yogya dan Surabaya (lihat De Indische courant, 01-06-1938). Grup ini diduga masih bertahan hingga akhir tahun 1939; .Liedern uit Sipirok (Bataviaasch nieuwsblad, 20-09-1939); Liedern uit Sipirok (Bataviaasch nieuwsblad, 29-09-1939).

Pada tahun 1938 untuk kali pertama terdeteksi kegiatan musik yang dilakukan oleh pegiat musik dari Silindoeng en Toba di Medan, sebagaimana dilaporkan De Sumatra post, 13-05-1938 (Musik Batak dan paduan suara ‘oening-oeningan): ‘Sejak beberapa waktu yang lalu disini (di Medan) di bawah pimpinan Bapak HF Sitompoel mendirikan sebuah sarikat musik dan sarikat bernyanyi (vikal grup) yang menyandang nama ‘Oening-Oeningan’. Tujuan dari asosiasi ini adalah untuk mempromosikan praktek musik dan vocal grup di kalangan mereka sendiri. Batak terkenal sebagai penyanyi. Sabtu, 14 Mei pukul 08:30 di Auditorium Sekolah Methodist di Hakkastraat sarikat ini akan melakukan pertunjukan musik pertama, yang juga akan hadir sarikat Medansch Orchestra yang dipimpin oleh W. Simandjoentak. Disamping itu, akan hadir juga grup vocal ‘Kampong Madras’ asuhan J. Tampoebolon, juga grup ‘Tanda’ asuhan J. Sitompoel serta serikat vokal ‘Purba’ asuhan W. Hoetasoit’.
 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-10-1939
Pada tahun 1939 Radio Nirom di bawah tajuk ‘Liederen uit Sipirok’ (nyanyian dari Sipirok) memperdengarkan musik tradisi Batak yang lebih baik sistem perekamannya (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie. 06-10-1939). Besar kemungkinan rekaman ini berasal dari grup musik dan vokal grup anak-anak Sipirok di Batavia. Dalam waktu singkat sejak 1937, musik tradisi Batak dan vokal grup telah menjadi bagian penyiaran radio yang telah menghibur penduduk Batak yang merantau di Jawa. Musik tradisi Batak ni tampaknya masih eksis hingga terjadinya invasi Jepang ke Nederlandsch Indie.

Selama pendudukan Jepang, semua radio disita dan diokupasi oleh militer Jepang dan menjadi radio propaganda pemeritahan militer Jepang. Seperti diketahui ada tiga anak muda Batak yang direkrut menjadi pegawai radio militer Jepang: Adam Malik, Sakti Alamsyah dan Mochtar Lubis. Siaran musik tradisi Batak selama agresi militer Belanda juga tidak diketahui kabar beritanya.

Ketika pasca pengakuan kedaulatan RI (Desember 1949) musik tradisi Batak masih tidak terdengardan tidak diketahui kabar beritanya. Boleh jadi selama pendudukan Jepang dan selama agresi militer ruang untuk musik tradisi Batak sudah hilang. Yang muncul barang kali musik-musik pop Batak seperti lagu-lagu ciptaan Nahum Situmorang atau lagu-lagi rakyat yang sejak dulu ada dan tidak diketahui siapa penciptanya. Lagu-lagu pop Indonesia juga semakin menjamur dan semakin kerap dikumandangkan di radio-radio. Pengaturan hak cipta untuk lagu-lagu baru belum ada. Melihat banyak pelanggaran hak cipta, pada tahun 1950 seorang komponis Batak bernama R. Tobing merasa kesal dan meminta perhatian agar para composer mendapat perlindungan atas ciptaan mereka.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode,16-08-1950: ‘Untuk melindungi komposer Indonesia diperlukan pendirian lembaga tersendiri agar karya musik terlindungi. Sejumlah composer berkumpul di Bandung. Seorang pianis terkenal di Singapura dan komposer dari lagu Indonesia modern, telah tiba di Jakarta dan telah menghubungi berbagai pihak berwenang untuk mendirikan sebuah perusahaan penerbitan karya musik Indonesia di Bandung. Menurut Mr Tobing penerbit ini akan muziek kontemporer Indonesia akan menjamin hak cipta dari komposer. Menurut Tobing, bahwa komposisi yang dibuat sang pencipta karena kebanyakan dari mereka tidak pernah menulis di atas kertas, sering dimainkan secara sewenang-wenang tanpa persetujuan dari komposer yang bersangkuta. Bahkan sering terjadi, kata Mr Tobing yang karya musik yang dimainkan (siaran radio dan film) tanpa menyebutkan nama penulis. Terlepas dari isu karya-karya ini akan mendirikan studio musik di Bandung, yang tugasnya adalah untuk memberikan komposisi dari pengaturan yang diperlukan. Ini adalah niat untuk melakukan musik modern berbasis teknologi barat, sehingga dapat dimainkan oleh orkestra di luar negeri, kata Mr Tobing. Pelaksanaan rencana ini akan segera menjadi konferensi di Bandung oleh komposer Indonesia, yang membahas masalah di atas. Komponis berbagai genre musik akan diundang ke konferensi ini’.

Siapa Mr. R Tobing belum diketahui secara jelas. Apakah R Tobing adalah pimpinan grup musik tradisi Jong Batak atau R. Tobing adalah seorang anak Medan yang selama penduduk Jepang hingga agresi militer Belanda merantau dan menetap di Singapora? Juga belum jelas. Namun melihat posisinya dalam pertemuan musik di Bandung dan gagasannya soal hak cipta bukanlah pemusik biasa. Lantas pertanyaannya, apakah R. Tobing ayah dari Gordon Tobing, penyanyi yang mulai kesohor dari grup musik ‘Sinondang Tapanoeli’. Gordon Tobing yang lahir di Medan, 25 Agustus 1925 besar kemungkinan adalah anggota grup musik Sinondang Tapanoeli, yang secara defacto adalah sanggar musik dan vokal grup yang umumnya terdiri dari anak-anak Sipirok.

Pada tanggal 31 Mei 1952 Radio Jakarta (RRI Jakarta) pukul 22.10 mengumandangkan suara Gordon Tobing di bawah label Sinondang Tapanoeli (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 31-05-1952). Kemudian nama Gordon Tobing terdeteksi lagi di Radio Jakarta I dan Radio Jakarta II tanggal 1 November 1952 siaran pukul 21.15. Gordon Tobing kembali dengan grup Sinondang Tapanoeli (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 01-11-1952). Lalu tanggal 3 November Gordon Tobing kembali muncul, di Radio Jakarta III siaran pukul 22.15 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-11-1952). Suara Gordon Tobing hingga tahun 1954 masih kerap diudarakan dengan grupnya Sinondang Tapanoeli.

Meski musik pop Batak sudah menggantikan musik tradisi, namun warga Batak masih menghadirkan musik tradisi pada acara-cara tertentu. Ini yang terjadi di Bandung pada acara tahun baru dimana naposo nauli bulung menyelenggarakan acara ‘kumpul-kumpul’ yang diadakan di gedung Concordia Bandung.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 02-01-1953: ‘kemarin warga Batak berkumpul di Concordia untuk merayakan tahun baru. Lebih dari dua ribu pengunjung yang hampir semuanya warga Batak di Bandung. Menurut adat, na.poso-bulung (laki-laki dan perempuan muda yang belum menikah) bertugas untuk menyiapkan kelancaran acara. Acara ini diselingi dengan nyanyian para muda-mudi. Mr. P. Harahap, ketua Komite Persiapan, dalam sambutannya mengatakan: Pertemuan ini adalah salah satu faktor dimana warga Batak untuk terus mengikat ke unit kohesif. Kami memiliki tradisi kuno dan budaya kuno Batak: termasuk aksara sendiri, bahasa sendiri, musik sendiri, tarian sendiri. Kami sudah berbaur dengan pengaruh asing, tetapi kami juga masih perlu untuk sekali-sekali untuk bisa kembali ke tanah air kami (kampong halaman).

Ketua komite persiapan dalam kegiatan ini adalah Ponpon Harahap, mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Ponpon Harahap adalah saudara sepupu dari Soetan Casajangan, pendiri himpunan Indonesia di Belanda (Indisch Vereeniging) tahun 1908.


De nieuwsgier, 21-07-1954
Pada bulan April, grup Sinondang Nauli dengan suara Gordon Tobing secara mengejutkan disiarkan oleh Radio Nederland gel. 16.88, 19.45 en 19.71 pada pukul 20.30 (lihat De nieuwsgier, 29-04-1954). Pada bulan Juli 1954 suara Gordon Tobing muncul kembali di Radio Jakarta III, namun kali ini tidak disebutkan mewakili SinondangTapanoeli tapi dibawah judul: Zang door Gordon Tobing (Nyanyian oleh Gordon Tobing). Berita ini terdapat dalam jadwal programa radio De nieuwsgier edisi 24-07-1954. Ketika nama Gordon Tobing tidak mewakili Sinondang Tapanoeli (menjadi solo karir), maka grup musik Batak ini berubah nama menjadi Orkest Sinondang Sipirok. Grup musik Sinondang Sipirok tampil di RRI Djakarta tanggal 21 Juli 1954 dengan penyanyi R. Batubara (lihat  De nieuwsgier, 21-07-1954).  Tiga hari kemudian nama Gordon Tobing secara solo (tanpa diiringi oleh Sinondang) juga muncul di RRI..

Nama Gordon Tobing semakin dikenal luas, semakin heboh dan juga semakin produktif sebagai musisi dan penyanyi berkelas pada masa itu. Beberapa nama penyanyi Indonesia yang menonjol saat itu selain Gordon Tobing adalah Mien Sondakh, Ade Ticoalu, Rose Sumabrata dan Dien Jacobus. Gordon Tobing pun akhirnya masuk istana.

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 15-09-1954 (Presiden menerima bintang radio): ‘Senin pagi, Presiden dan Nyonya Sukarno, menerima peserta dalam pemilihan bintang radio 1954 di istana. Pada pertemuan ini atas permintaan Mrs. Soekarno untuk menyanyikan lagu berjudul ‘Alam Desa’ yang dinyanyikan oleh Gordon Tobing dan kemudian bersama-sama. Mien Sondakh dan Ade Ticoalu menyanyikan lagu berjudul ‘Njiur Melambai’.

Gordon Tobing semakin kerap tampil secara solo di radio. Ini yang terjadi sebagaimana dilaporkan De nieuwsgier, 21-09-1954 bahwa Gordon Tobing di  Radio Jakarta III mebawakan lagu-lagu yang diiringi oleh piano Sudharnoto. Adakalanya Gordon Tobing berduet dengan penyanyi lain. Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-11-1954  21:00 memberitakan Rose Sumabrata dan Gordon Tobing berduet. Gordon Tobing kembali ke istana dalam suatu pesta yang dihadiri oleh Presiden Soekarno. Artis utama tadi malam adalah Gordon Tobing dan Bing Slamet (lihat De nieuwsgier, 08-12-1954). 

Pada tahun 1955 di Medan muncul kali pertama majalah olah raga dan musik (dan boleh jadi merupakan yang pertama ‘majalah musik ‘di Indonesia). Mingguan ini dipimpin oleh Emir Sipirok dan diterbitkan oleh Syarikat Tapanuli. Majalah ini berisi publikasi olahraga dan music serta film (Het nieuwsblad voor Sumatra, 10-08-1955).
Berita keluarga Java Bode 11-08-1957
Emir Sipirok adalah ketua PWI Medan. Berprofesi sebagai wartawan dan fotografer. Pada tahun 1956 Emir Sipirok diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk berkunjung ke Amerika Serikat dalam kaitan orientasi pengembangan pers, Emir berangkat dari Batavia via Australia. Kemudian pulangnya melalui Belanda (juga diterima selama sepuluh hari oleh pers Belanda)  Emir Sipirok, ketua klub Medan Press (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-02-1956). Sebagai tambahan: pemilik koran Java Bode adalah Parada Harahap yang kali kedua pabagaskon boru pada tahun 1957 (lihat iklan Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-08-1957). 
Sementara Gordon Tobing terus berkibar pada tahun 1955 dan 1956, musik tradisi Batak kembali muncul di udara Jakarta dalam program acara Radio Jakarta. Selama tahun 1955 diantaranya: Sinondang Sipirok (De nieuwsgier 28-01-1955); Sinonadang Sipirok (De nieuwsgier 05-03-1955); Sinonadang Sipirok (De nieuwsgier 05-05-1955); ‘Oening-oeningan Batak’ (De nieuwsgier 09-04-1955); ‘Tumba Batak’ (De nieuwsgier, 08-08-1955) 19.20 Tumba Batak; ‘Kesenian Batak: Nauli Bulung’ (De nieuwsgier, 18-08-1955); ‘Orkes Jajasan Kebudajaan Batak’ (De nieuwsgier, 27-10-1955); ‘Tumba Batak’ (De nieuwsgier, 15-02-1956); ‘Ketjapi Batak’ (De nieuwsgier, 25-04-1956); Sinondang Sipirok (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-07-1956).

Namun di tahun 1957 musik tradisi Batak kembali sunyi, tetapi Gordon Tobing masih terus eksis di radio. Gordon Tobing juga tampil di Malam Seni Budaya (Art Evening of Cultural) di Medan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-01-1957). Gordon Tobing, Cs kembali tampil di Medan (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 11-06-1957).

Java Bode adalah surat kabar legendaris. Surat kabar yang terbit di Semarang. Surat kabar berbahasa Belanda ini terbit pertama kali tahun 1852. Surat kabar ini terbilang yang tinggi tirasnya di jamannya. Pada tahun 1924 Parada Harahap menulis di koran ini untuk menanggapi perseteruannya dengan editor Soerabaja Handelsbald, Karel Wijbrand dalam polemik kebangsaan. Surat kabar ini pernah diakuisi oleh pengusaha koran berdarah Tionghoa tahun 1920an dan kemudian diakuisisi lagi oleh investor Belanda. Saat pendudukan Jepang Koran ini berhenti (ditutup) tetapi di masa agresi terbit kembali bahkan hingga pasca pengakuan kedaulatan. Oleh karena adanya nasionalisasi pada awal tahun 1950an, Koran ini tetap terbit tapi sahanya dibeli oleh investor pribumi yakni Parada Harahap pada tahun 1952. Dengan kata lain setelah satu abad terbit, Parada Harahap baru bisa memiliki koran legendaries ini. Pada tahun 1931 Parada Harahap memiliki dua edisi Belanda dari tujuh koran yang dimiliknya.

Surat kabar Het nieuwsblad voor Sumatra terbit di Medan. Surat kabar ini setelah agresi militer muncul yang merupakan surat kabar baru yang merupakan hasil fusi dua koran yang pernah terbit di Medan yakni Sumatra Post (terbit pertama 1899) dan Deli Courant (terbit pertama 1885). Pada tahun 1902 editor koran ini adalah Karel Wijbrand yang menjadi seteru Parada Harahap tahun 1920an.    

Rekaman Gordong Tobing oleh Media Record, 1970
Gordon Tobing terus meroket dan tidak tertandingi oleh grup vocal manapun di Indonesia. Gordon Tobing memang berada di jalur pop, tetapi bukan berarti tidak pernah terlibat dalam musik tradisi Batak. Sebagaimana Nahum Situmorang, di jalur pop tetapi juga masih menyukai musik tradisi Batak. Musik tradisi Batak pada dasarnya adalah suatu band yang berbasis ensambel gondang dan ensambel gong. Dua instrumen musik ini pada awalnya di jaman kuno menjadi alat komunikasi dalam religi yang dalam perkembangannya disandingkan dengan istrumen tradisi lainnya sehingga terbentuk band (musik tradisi Batak). Di dalam tradisi band inilah Nahum Situmorang dan Gordon Tobing mencuat ke permukaan sebagai musisi dan penyanyi pop.

Salah satu hasil rekaman suara Gordon Tobing dengan grup baru Impola (lagu-lagu rakyat) beredar secara luas pada tahun 1970an. Rekaman dan distribusinya dilakukan oleh Media Record. Lagu-lagu rakyat dalam rekaman ini oleh Gordon Tobing dengan suara Impola terdiri dari: (1) Soleram, (2) Mardalan ahu marsada-sade, (3) Mariam tomong, (4) Sajang dilale, (5) Terkenang tanah airku, (6) Sigulempong, (7) Inang sarge, (8) Kaparinjo, (9) Butet, dan (10) Tao na tio. 

Pada era emas Gordon Tobing ini (suksesi Nahum Situmorang) di seputar tahun 1970 sudah banyak penyanyi-penyanyi Batak yang menonjol. Musik Batak juga semakin popular dan lagu-lagu (pop) Batak juga semakin banyak direkam, tidak hanya dinyanyikan oleh penyanyi Batak tetapi juga penyanyi lainnya, dengan album sebagai berikut:
  • ·      Burju ma ho butet / Trio Friendship; [teks]: Erick S.; pimp.: Erick S.; arr. musik: Bartje van Houten (1970);
    ·       Pop Tapanuli / Ade Manuhutu bersama Andarinyo V.G.; musik: Bartje van Houten; Jungge / pencipta: Daulat Hutagaol ... [et al.];
    ·         Trio The King's; musik: Bartje van Houten (1970);
    ·         Margambangkon: (pop Tapanuli) / [penyanyi]: Ade Manuhutu; musik: The Bee-Ronk's; penata musik: Armen M.; koordinator: Pieter Gonzales (1970);
    ·     Ade Manuhutu in latin beat: Special Pop Tapanuli / musik: Les Gonzales Combo; pimpinan: Pieter Gonzales; arranger: Ferry Berhitoe (1970);
    ·         Pop Tapanuli / Nur Afni Octavia; music: Bartje van Houten (1970);
    ·         Pop Batak / Emilia Contessa (1970);
    ·         Songs from Tapanuli in the krontjong beat / arr. & dir. by R. Pirngadie (1970);
    ·        Rondang ni boelan di Silindoeng / ternjanjih oleh Boerhanoedin L. Tobing & Mangasa Siregar dengan orkest;
    ·         Magodang do ho borungku / Charles Hutagalung ; [teks]: Yohannes Sitompul;
    ·        Pop Tapanuli / [penyanyi]: Herlin Widhaswara ; musik: New Big Band; arranger: Timbul Napitupulu, Luncai Simajuntak; [teks]: Freddy Tambunan (1977);
    ·         Gomgomi ahu / Nourma Yunita ; [teks]: Varlin E. Hutagaol,
    ·         Helly Gaos dengan Band Aulia dkk (1980);
    ·         Pop Tapanuli / Diana Nasution; musik: Barce van Houten (1980);
    ·         Aneka hits VII / [penyanyi:] Alex & Jacob (1980);
    ·       Tano Batak nauli / [penyanyi]: Trio Friendship; [teks]: Erick Silitonga ; iringan: The Heart; pimpinan: Is Haryanto; dan lainnya.

Disamping itu, tentu saja lahir juga penyanyi-penyanyi Batak yang tidak menyanyikan lagu Batak lagi tetapi lagu-lagu (pop) Indonesia dan lagu pop daerah lainnya. Musisi-musisi juga bermunculan baik secara mandiri (bergabung dengan grup band lain) seperti AKA Groep dan Gang Pegangsaan maupun secara grup (band) yang terdiri dari anak-anak Tapanoeli, sebut saja misalnya The Mercy’s, Panber’s dan lain sebagainya. 

Andalas Harahap gelar Datoe Oloan alias Ucok AKA

Ucok AKA adalah penyanyi dan musisi yang terkenal dengan hitnya yang popular berjudul: ‘Badai di Bulan Desember’.


Ismail Harahap adalah generasi berikut asal Mandheling en Ankola (afdeeling Padang Sidempuan) setelah Radjamin Nasution. Pada era Radjamin Nasution sekolah yang ada hanya terbatas pada STOVIA, Rechtschool dan Pertanian dan Kedokteran Hewan di Buitenzorg. Pada era Ismail Harahap, berbagai jenis sekolah dibuka di Batavia seperti sekolah ekonomi, sekolah bea dan cukai, sekolah perdagangan dan sebagainya. Ketika sekolah apoteker (artsenubereidkunst) dibuka pertama kali tahun 1938. Pada tahun 1940 dari 51 siswa yang mengikuti ujian akhir, hanya 17 siswa yang lulus dua diantaranya berasal dari Mandheling en Ankola yang bernama Pandapotan Siregar dan Ismail Harahap. Ismail Harahap dan kawan-kawan yang lulus diakui sebagai asisten apoteker  (lihat  Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1940).[yang satu kloter dari Ismail Harahap, dari Padang Sidempuan berangkat studi ke Batavia adalah Kalisati Siregar, mengambil studi perdagangan--Kalisati Siregar kelak dikenal sebagai ayah dari Hariman Siregar (tokoh penting Malari 1974 di Jakarta).

Ismail Harahap setelah bekerja di Batavia beberapa lama, tahun 1941 Ismail Harahap ditempatkan pemerintah di Surabaya. Ismail Harahap tampaknya sumringah di kota ini, karena di Surabaya sudah banyak anak-anak Padang Sidempuan, apalagi tokoh senior Radjamin Nasution sudah sejak lama terkenal di Surabaya. Lalu, ketika, tahun 1942 terjadi pendudukan Jepang di Surabaya, Ismail Harahap tetap berada di Surabaya, malahan ketika Radjamin Nasution diangkat menjadi walikota oleh militer Jepang, Ismail Harahap justru direkrut untuk menjadi kepala apoteker kota yang sedang kosong yang ditinggalkan oleh orang-orang Belanda (saat itu jumlah apoteker di Indonesia masih sangat sedikit, dan Ismail Harahap satu-satunya apoteker pribumi yang berada di Surabaya).



Ismail Harahap yang lahir di Padang Sidempuan, beristri seorang wanita cantik yang berdarah Prancis adalah ayah dari Andalas Harahap gelar Datoe Oloan atau lebih dikenal sebagai Ucok AKA.Andalas Harahap lahir di Surabaya, 25 Mei 1943.



Pada waktu Belanda kembali membonceng sekutu (1945-1949), Ismail Harahap termasuk yang ikut mengungsi ke luar kota (Mojokerto dan Tulungagng), dibawah pimpinan Radjamin Nasution (walikota Surabaya). Selama perang, Ismail Harahap menjadi kepala logistik obat-obataan dari pihak pemerintahan di pengungsian. Sementara Dr. Irsan (anak Dr. Radjamin Nasution) menjadi kepala kesehatan militer (TNI) dengan pangkat terakhir Letkol. Setelah perang usai (pengakuan kedaulatan RI), Ismail Harahap kembali ke Surabaya, tidak menjadi pejabat tetapi lebih memilih untuk membuka usaha apotik yang diberi nama Apotik Kali Asin.  Namun karena republik Indonesia ingin membuka sekolah farmasi di Surabaya, maka Ismail Harahap diminta untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut. Kepala sekolah yang ditunjuk adalah Dr. GP Parijs (Belanda), Drs. Gouw Soen Hok, Yap Tjiong Ing dan Tjoa Siok Tjong. Sekolah farmasi Surabaya tersebut, wisuda pertama pada tanggal 27 Juni 1954 (lihat De vrije pers  ochtendbulletin, 29-06-1954).



Andalas Harahap, setelah remaja sangat menyukai musik. Karena itu Ismail Harahap membelikan perangkat alat musik kepada Andalas alias Ucok. Ketika Ucok dan kawan-kawan mendirikan grup musik (1967), nama pop Andalas menjadi Ucok AKA (Apotik Kali Asin). Andalas Harahap gelar Datoe Oloan yang nama popnya Ucok AKA dan grup musiknya, AKA Group adalah pionir musik rock di Indonesia. Album pertama AKA adalah Do What You Like (1970) yang berisi lima lagu berbahasa Indonesia dan tiga lagu berbahasa Inggris (diantaranya Do What You Like). AKA tampil pertama kali di Stadion Teladan Medan tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Pada tahun ini AKA menciptakan lagu berjudul Badai di Bulan Desember, lagu yang melegenda hingga ini hari.



Beberapa tahun sebelumnya (1965) di Medan dibentuk grup band yang diberi nama The Mercy’s. Anggota tetap adalah Erwin Harahap, Rinto Harahap dan Reynold Panggabean. Kemudian masuk Charles Hutagalung untuk menggantikan Rizal Arsyad. Pada tahun 1972 The Mercy’s pindah ke Jakarta dan lalu bergabung Albert Sumlang. Album pertama The Mercy’s antara lain berisi lagu-lagu: Tiada Lagi, Hidupku Sunyi, dan Baju Baru. Album perdana ini langsung meledak dan The Mercy’s menjadi terkenal dengan lagu hit Tiada lagi.


Erwin Harahap dan Rinto Harahap membangun grup band The Mercy’s

Akhir tahun 1930an anak-anak Afd. Padang Sidempoean cukup banyak yang melanjutkan sekolah ke Medan dan Batavia. Umumnya untuk meneruskan pendidikan ke tingkat AMS (karena hanya di dua tempat itu adanya AMS terdekat). Di Padang Sidempuan sudah ada MULO sejak tahun 1932. Anak-anak Afd. Padang Sidempuan ke Batavia selain mendaftar di AMS juga banyak yang mengambil sekolah-sekolah lainnya, seperti sekolah ekonomi (Middlebare Handels.); sekolah bea dan cukai, dan sekolah apoteker. Dari sejumlah siswa-siswa tersebut diantaranya: Kalisati Siregar, Ismail Harahap dan James Harahap.

MULO Padang Sidempuan, 1936 (kini SMPN 1)
Sebelum adanya Mulo, anak-anak afd. Padang Sidempuan yang telah lulus HIS biasanya melanjutkan sekolah ke Mulo yang terdapat di Padang dan Medan. Mereka itu antara lain: Parlindoengan Lubis. Pada tahun 1931, sepulang dari Belanda GB Josua  mendirikan perguruan swasta (HIS dan Mulo) di Medan. GB Josua memulai karirnya mengajar di HIS Sipirok tahun 1922. Pada waktu yang relatif bersamaan di awal tahun 1930an pemerintah kolonial membangun sekolah Mulo di Tarutung dan Padang Sidempuan (tidak ada Mulo yang dibangun di Sibolga). Siswa yang diterima di Mulo adalah lulusan HIS (sekolah berbahasa Belanda untuk anak orang Eropa dan elit lokal). Yang pernah menjadi guru HIS di Tarutung terdapat dua guru terkenal yakni Soetan Martoewa Radja (ayah MO Parlindungan) dan Nahum Situmorang. Alumni Mulo Padang Sidempuan antara lain: Kalisati Siregar, Ismail Harahap dan James Harahap. Sedangkan alumni Mulo Tarutung antara lain: Tahi Bonar Simatupang dan Daglan Harahap. Keduanya lulus Mulo Tarutung tahun 1937. Setelah lulus, keduanya merantau ke Batavia: TB Simatupang masuk tentara, Daglan Harahap masuk polisi. Riwayat TB Simatupang sudah banyak ditulis, sedangkan Daglan Harahap setelah lulus sekolah polisi di Lido awalnya ditempatkan sebagai kepala polisi di Padang lalu dipindahkan ke Medan dengan pangkat yang lebih tinggi (tidak lama kemudian pendudukan Jepang).

Pesanggrahan Padang Sidempuan, 1936 (kini kantor bupati lama)
Kalisati Siregar mengambil sekolah perdagangan. Setelah lulus bekerja di Kantor Statistik Batavia. Pada masa pendudukan Jepang Kalisati pulang kampong dan bekerja di Kantor Bupati Padang Sidempuan (Kalisati Siregar adalah ayah dari Hariman Siregar). Sementara, Ismail Harahap setelah lulus sekolah apoteker ditempatkan di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang tetap berada di Surabaya (Ismail Harahap adalah ayah dari Ucok AKA). Sedangkan James Harahap mengambil sekolah perdagangan namun setelah lulus bekerja di Batavia dan selama pendudukan Jepang tetap di Batavia. James Harahap adalah ayah dari Rinto Harahap dan Erwin Parlindungan Harahap.


Anak-anak afd. Padang Sidempuan (gabungan dari tiga afd. Sebelumnya: afd. Mandheling en Ankola, afd. Natal dan afd. Padang Lawas) yang berpendidikan, sebelum kemerdekaan RI (1945) sudah ratusan (bahkan ribuan) terpencar di berbagai penjuru: Sibolga, Padang, Medan dan Siantar, Palembang, Tanjung Karang, Batavia, Buitenzorg, Soekabumi, Semarang dan Surabaija en Malang serta di negeri Belanda. Jumlah yang sangat besar ini (bahkan melebihi daerah lain di luar Residentie Tapanoeli) karena pendidikan di afd, Padang Sidempuan sudah berlangsung hampir satu abad. Siswa yang pertama yang merantau bersekolah adalah dokter Asta dam dokter Angan (masuk docter djawa school di Batavia tahun 1854, orang pertama luar Jawa yang diterima, kemudian, guru Willem Iskander yang sekolah guru ke Belanda tahun 1857, orang Indonsesia pertama studi ke luar negeri dan Soetan Casajangan pergi kuliah ke Belanda tahun 1905, mahasiswa kedua Indonesia studi di luar negeri.

Belum lama Indonesia merdeka, militer Belanda melakukan aksi militer (agresi militer). Pada saat genting ini, satu lembaga perbankan dibentuk pemrintah RI yakni Bank Negara Indonesia pada tahun 1946. Ketika pemerintah Indonesia tertekan lalu ibukota dipindahkan ke Yogyakarta. Sementara itu  James Harahap dipindahkan ke Resinden Tapanoeli di Sibolga untuk memimpin Bank Negara Indonesia.

Di Tapanuli kedatangan pasukan Belanda baru terjadi pada akhir tahun 1948 (fase agresi Militer kedua). Militer Belanda melakukan serangan ke Sibolga baik dari laut, darat dan maupun udara. Akhirnya kota Sibolga jatuh ke tangan pasukan Belanda pada tanggal 20 Desember 1948. Semua penduduk mengungsi.

Saat pengungsian ini, James Harahap sudah memiliki dua anak (Ratna Dewi dan Erwin Parlindoengan). Di pengungsian, anak ketiga James Harahap lahir pada tanggal 10 Maret 1949. Anak ketiga ini diberi nama Rinto. Agresi militer Belanda lalu kemudian mengalami gencatan senjata yang kemudian dilakukan proses politik (di Den Haag) dan pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda melakukan penyerahan kekuasaan dan pengakuan terhadap NKRI. Di Sibolga kehidupan berjalan normal kembali. James Harahap lalu kembali bekerja di kantornya di Bank Negara Indonesia cabang Sibolga.

Pada tahun 1952 Residen Tapanoeli Abdoel Hakim Harahap diangkat menjadi Gubernur Sumatra Utara yang ketiga. Abdoel Hakim adalah alumni sekolah bea dan cukai di Batavia awal tahun 1930an dan kemudian ditempatkan di Medan. Setelah diangkat menjadi anggota dewan kota Medan selama tujuh tahun (dari 10 tahun di Medan) dipindah ke Departemen Ekonomi di Batavia lalu kemudian dipindahkan ke Makassar untuk mengepalai Kantor Ekonomi wilayah timur. Pada bulan masa pendudukan Jepang Abdoel Hakim pulang kampong karena ayahnya menbinggal di Padang Sidempuan. Ketika berada di Padang Sidempuan, Abdoel Hakim diminta militer Jepang untuk mempersiapkan dewan Tapanoeli yang berkedudukan di Taroetoeng. Pada masa agresi militer Belanda Abdoel Hakim menjadi wakil residen lalu kemudian diangkat menjadi residen dan kemudian diangkat menjadi gubernur.

Semasa pemerintahan Gubernur Abdoel Hakim (1952-1954), Kalisati Siregar dan James Harahap dipindahkan ke Medan. Dua nama pejabat ini (James Harahap kepala BNI Sibolga dan Kalisati Siregar Kadis Perdagangan Padang Sidempuan) sudah dikenal Abdoel Hakim semasa pendudukan Jepang dan semasa agresi militer Belanda. Di Medan, sudah terlebih dahulu Kapten Marah Halim Harahap pulang kandang dari pertempuran semasa agresi di Indragiri, Riau (kelak Marah Halim menjadi Gubernur Sumatra Utara. 1967-1978). Satu lagi anak Padang Sidempuan di Medan yang memiliki kedudukan baik adalah Muslim Harahap yang menjabat sebagai Direktur Bank Dagang Indonesia Medan (kelak menjadi Ketua Umum PSMS pada periode 1959-1960). Yang menjadi Kadis PU adalah Ginagan Harahap seorang arsitek lulusan Faculteit van Technische Wetenschap (kini ITB Bandung). Di Jakarta masih ada lagi yakni Presiden Komisaris Garuda Indonesia Airways (GIA), Ir Harahap (lulusan Faculteit van Technische Wetenschap).

Ketika Abdoel Hakim Harahap selesai masa tugasnya sebagai Gubernur lalu dipindahkan ke Jakarta untuk menduduki jabatan di Departemen Ekonomi. Sementara, Kalisati Siregar dipindahkan ke Palembang baru kemudian dipindah ke Jakarta di Departemen Perdagangan. Marah Halim Harahap di Medan karirnya terus meroket. Sedangkan James Harahap tetap sebagai pejabat di Bank Negara Indonesia di Medan. Pada tahun 1955, seorang anak Padang Sidempuan yang sudah lama berkiprah di Medan diangkat menjadi Perdana Menteri yang bernama Boerhanoeddin Harahap. Satu lagi anak Padang Sidempuan kelahiran Sibolga bernama Arifin Harahap diangkat menjadi Menteri Perdagangan (adik dari Amir Sjarifoedin, anak Padang Sidempuan kelahiran Medan yang pernah menjadi Perdana Menteri, 1947).

Pada tahun 1955 James Harahap dilaporkan mendapat teror (melalui surat pembaca di surat kabar), namun James Harahap segera mengklarifikasi bahwa yang diteror bukan dirinya sebagai pejabat Bank Negara Indonesia di Medan tetapi seseorang yang mungkin memiliki nama yang sama.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 11-05-1955
Het nieuwsblad voor Sumatra, 11-05-1955 (Pengumuman): ‘Berhubung dengan surat dari Tjaberawit Trottorial Harangan Gandjang tertanggal Bindjei, 1 May 1955 jang ditanda tangani oleh Lts. S. Ginting dan ditudjukan kepada: Messrs. J. Sibarani (Dew. Ekonomi Ind. S.U.) James Harahap (BNI. tjab. Medan) jang isinja bersifat antjaman, maka dengan ini didjelaskan bahwa Sdr. JAMES HARAHAP sebagai employe Bank Negara Indonesia Tjabang Medan, maupun Bank Negara Indonesia sendiri, tidak ada hubungan sedikitpun dengan soal-soal screening-importir2 di Sum. Utara, seperti dimaksud dalam surat tersebut diatas, soal-soal mana adalah urusan Djawatan Perdagangan semata-mata. Oleh sebab itu surat tersebut tidaklah seharusnja ditudjukan kepada Sdr. James Harahap akan tetapi mungkin kepada jg lain jang mempunjai nama-ketjil jang sama. Demikianlah supaja dimaklumi oleh Sdr. jang mengirimkan surat tersebut diatas. Medan, 9 Mei 1955. JAMES HARAHAP / BANK NEGARA INDONESIA MEDAN’.    

James Harahap menetap di Medan. Pada awal tahun 1950an (pasca pengakuan kedaulatan RI), jumlah penduduk asal afd. Padang Sidempuan di Medan sudah sangat banyak dan bahkan sudah lebih banyak dari semua penduduk Kota Padang Sidempuan (ibukota afd. Padang Sidempuan). Mereka ini sudah ada sejak awal tahun 1880an ketika Medan yang tumbuh dan berkembang menjadi kota besar membutuhkan guru, dokter, jaksa, mantri polisi dan pekerja pers (wartawan). Tokoh terkenal pada waktu itu adalah Sjarif Anwar gelar Soetan Goenoeng Toea, seorang mantan penulis di kantor residen Padang Sidempuan, mantan jaksa di Sipirok yang kemudian dipindahkan menjadi jaksa di Medan tahun 1893 (Soetan Goenoeng Toea adalah ompung atau kakek dari Amir Sjarifoedin).

Mesjid dan gereja di Sipirok, 1900 (hanya dipisahkan jalan)
Sjarif Anwar gear Soetan Goenoeng Toea adalah murid pertama Nommensen di Sipirok. Dari namanya tentu beragama Islam. Namun ketika memulai karir di kantor residen Padang Sidempuan (tahun 1870an) sebagai penulis namanya adalah Ephraim (menggantikan penulis sebelumnya: Abdoel Azis Nasution). Boleh jadi selama sekolah di bawah asuhan Nommensen, Sjarif Anwar beralih agama dari Islam ke agama baru Kristen. Jadi, Ephraim adalah nama baptis yang digunakannya untuk selanjutnya dan adakalanya dengan nama gelar Soetan Goenoeng Moelia. Ephraim memiliki dua anak: Djamin dan Hamonangan. Setelah menikah, Djamin masuk Islam dan Hamonangan tetap Kristen. Salah satu anak Djamin yang terkenal adalah Amir Sjarifoedin gelar Soetan Soaloon (lahir di Medan), sedangkan anak Hamonangan adalah Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia (lahir di Padang Sidempuan). Pada awal kemerdekaan Amir Sjarifoedin menjadi Perdana Menteri dan Todoeng menjadi Menteri Pendidikan.

Mesjid Raya Sipirok, 1936
Di afd. Padang Sidempuan sejak doeloe, untuk urusan agama, setiap orang memiliki kebebasan (karena pemerintah kolonial tidak mempersoalkan agama). Penduduk juga tidak terlalu mempersoalkan orang berpindah agama dari pagan ke Kristen, dari Kristen ke Islam atau dari Islam ke Kristen. Yang terjadi adalah harmoni. Bahkan di Sipirok, masjid dan gereja bangunannya berhadapan yang hanya dipisahkan oleh jalan raya (satu abad mendahului masjid Istiqlal deng gereja Katheral di Jakarta. Semua itu dimulai dari awal. Ketika Belanda masuk ke Tanah Batak dimulai dari Mandailing dan di Pakantan diperkenalkan agama Kristen (1833) di tengah penduduk Mandailing yang beragama Islam. Pada tahun-tahun antara 1850-1857, Mr. van der Tuuk diutus ke Tanah Batak untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak. Mr. van der Tuuk belajar tatabahasa dan sistem sosial orang Batak di Mandailing dan Angkola. Pada tahun 1857 Gustav van Asselt dikirim ke Sipirok untuk pengembangan misi agama. Kemudian menyusul Nommensen (1861) ke Sipirok ketika van Asselt dkk (misinaris Belanda) dan Klammer dkk (misionaris Jerman). Pada tahun 1862 diadakan rapat di Prausorat (kampong Sakti Alamsyah) antara misionaris Belanda dan Jerman. Kesepakatannya antara lain, wilayah misi Belanda di Angkola, wilayah misi Jerman di Silindoeng dan di Sipirok sendiri adalah wilayah misi bersama. Pada tahun 1862 misi Belanda dan misi Jerman awalnya mendirikan sekolah umum, tetapi karena pemerintah juga membangun sekolah umum, maka lambat laun sekolah publik yang didirikan misi ini kemudian menjadi sekolah zending. Ephraim besar kemungkinan bersekolah masih di era sekolah publik. 

Gereja Angkola (GKPA) di Padang Sidempuan, 1936
Di Angkola para misionaris yang terkenal (pasca G. van Asselt) adalah Dammerboer dan van Dalen. Wilayah misi di Angkola diutamakan di sekitar lereng gunung Lubuk Raya, di wilayah marga Harahap. Meski penduduknya sudah beragama Islam, sebagaimana di Sipirok (di Silindoeng masih pagan), para misionaris terus bekerja keras. Anehnya penduduk yang beragama Islam (seperti juga di Sipirok) tidak menghalangi kehadiran para misionaris. Inilah kearifan penduduk Angkola dan Sipirok (yang hidup hingga ini hari). Akhirnya beberapa keluarga di Angkola menjadi angama Kristen sementara di Sipirok jumlahnya jauh lebih banyak. Kepala koeria Hutarimbaroe di Angkola dan kepala koeria Baringin di Sipirok pernah menganut agama Kristen tetapi kemudian kepala koerianya beragama Islam. Ompung James Harahap dari Angkola di lereng gunung Lubuk Raya termasuk dari bagian penduduk Angkola yang masuk agama Kristen (semasa misionaris Dammerboer). Misionaris terkenal di Silindoeng (en Toba) adalah Nommensen (mantan guru di Sipirok), sedangkan misionaris terkenal di Angkola adalah guru Dammerboer (mantan guru di Kweekschool Padang Sidempuan, sama-sama masuk dengan Charles Adrian van Ophuijsen tahun 1881 yang mana Dammerboer hanya dua tahun sementara Ophuijsen selama delapan tahun).

The Mercy's (1970): Reynold, Rinto, Charles dan Erwin (pimp.)
Pada tahun 1965 dua anak James Harahap di Medan, Erwin dan Rinto membentuk band dengan kawan-kawan mereka yang disebut The Mercy’s. Musisi, penyanyi, grup band yang ada saat itu sangat bervariasi. Pada tahun 1970, boleh dikatakan puncak prestasi dari sejarah music Indonesia dan menjadi dasar lahirnya musisi, penyanyi, grup band pada masa kini. Berikut piringan yang terbit dari tahun 1928 hingga 1970 (tidak semua disajikan disini):
Indonesia Raja / di mainken oleh Populair Orchest; gecomponeerd door W.R. Soepratman (1928).
Nona-nona djaman sekarang (rumba) : Malay krontjong vocal / [penyanyi:] S. Abdullah ; dengan "His Master's Voice" Soerabaia Orkest (1930)
Rindoe sore : serenade / [penyanyi:] Sahib Radja ; M. Sagi en zyn Oriental Krontjong Orkest, Batavia (1940)
Rangkaian lagu2 seriosa / ork. Saptanada ; dbp. Soedharnoto (1950)
Pattie bersaudara / [penyanyi: Silvy Pattie, Nina Pattie] ; di-iringi orkes Pantja Nada ; pimpinan Enteng Tanamal (1960)
Lidya / Muchsin Alatas ; O.M. Rajawali ; pim.: A. Effendy ; [teks]: A. Effendy (1960)
The best of Bob Tutupoly / Bob Tutupoly ; The comets conducted by Enteng Tanamal (1960)
Varia malam Eka Sapta vol. 1 / diiringi Band Eka Sapta ; pimp.: Sapta Tunggal . Artist Kadi, Tetty, Surjani, Lilis, Harris, Ellya M., Sardi, Idris, Bersaudara, Yanti, Kasim, Elly, Slamet, Bing, Munif B (1960)
Tanti Josepha dan Onny Surjono dengan Band Eka Sapta (1960)
Disisimu djua / [penyanyi]: Diah Iskandar ; diiringi: Band Pantja Nada ; pp.: Ferry Berhitu (1960)
Kaparak tingga / [penyanyi]: Yetty Daulay ; Empat Sekawan, pimp. Sariman (1960)
Hati rindu / [penyanyi]: Rachmat Kartolo ; [teks]: E. Maulana ; Orkes Gaja Remadja, dbp.: E. Maulana (1960)
Dini dan Didi / [penyanyi]: Joke Simatupang ; [teks]: Bachrum Andria ; Ork. Simanalagi, dbp.: Jules Fioole (1960)
Walang kekek / [penyanyi]: Titik Sandhora ; band: 4 Nada ; pim. Jadin, A. Rijanto; [teks: Gesang] (1960)
Titiek Sandhora : Mimpi diraju / Band 4 Nada ; pim. Jadin, A. Rijanto (1960)
Bentoel hits / Band Bentoel ; dpp.: Harry S. Artist Kadi, Tetty, Benjamin S., Kusumawati, Inneke, Kardianto, Eddy, Benjamin S., Mathovani, Anna, Contessa, Emilia (1960)
Salahkah / Broery Pesulima ; diiringi: The Eternals (1962)
Ellya Khadam Membawakan Boneka Dari India (1962)
Antosan / [penyanyi]: Lilis Surjani ; Orkes: Idris Sardi ; di bawah pimpinan: Idris Sardi (1964)
Angin Laut.  Artist Koes Plus, Koeswoyo, Nomo, Koeswoyo, Tonny, Koeswoyo, Yon, Koeswoyo, Yok (1964)
Teluk Bajur . Artist Djohan, Ernie, Arifin, Zaenal, Zaenal Combo (1967)
Endenaria / orkes: Pantja Nada ; dbp.: S.G.P. Nainggolan (1970)
Pop kroncong nostalgia / Hetty Koes Endang ; music: Pius & Co (1970)
Aku dan asmara / Andi Meriem Matalatta ; [teks]: Ancha V.M. Haraz ... [et al.] ; music: Ireng Maulana (1970)
Swari Arizona : pop Indonesia (1970)
Muchsin / diiringi Band D'Strangers ; pim. Bob Tutupoly (1970)
Lalu lintas / [penyanyi]: Melky Goeslaw (1970)
The Mercy's / pimp.: Erwin Harahap (1970)
Kenaan Nasution dan Gank Pegangsaan: Zulham Nasution, Gaun Nasution, Oding Nasution dan Debby Nasution

Keenan Nasution adalah penabuh drum yang handal di jamannya. Seperti di kampong ayahnya di Afd. Padang Sidempuan (Mandailing, Angkola dan Sipirok) banyak penabuh gordang sambilan yang handal. Keenan Nasution muncul kepermukaan ketika membentuk band bernama Sabda Nada pada tahun 1966 di Jakarta. Kemudian Sabda Nada bertransformasi menjadi band Gipsy dimana salah satu vokalisnya bernama Atut Harahap. Kenaan Nasution bersama dua adiknya pernah menjadi bagian dari band God Bless (dimana di dalamnya terdapat Soman Lubis).

Sabda Nada sebagai nama suatu band adalah unik dan belum diketahui asal muasalnya. Tidak seperti grup band dari Andalas alias Ucok yang diberi nama AKA (singkatan dari Apotik Kali Asin, apotik milik ayahnya di Surabaya) dan juga tidak seperti The Mercy’s yang mengambil nama dari mobil merek Mercy (cita-cita keluarga Erwin dan Rinto karena ibu mereka memiliki mobil merek Ford di Medan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-07-1953). Kenaan Nasution bersama saudaranya Odink dan Debby memberi nama Sabda Nada boleh jadi karena di Mandailing, Angkola dan Sipirok (serta Padang Lawas) dari sembilan ensambel drum (yang berbeda ukuran) dari gordang sambilan memiliki nada-nada yang berbeda. Di jaman kuno, gordang dikaitkan dengan religi, Ensambel gondang ini adalah alat berkomunikasi penduduk dengan Mulajadi na Bolon (tuhan). Setiap drum atau setiap gondang yang dipukul memiliki nada yang berbeda karena memberi pesan yang berbeda ketika Radja member perintah kepada pemukul drum dalam berkomunikasi dengan Tuhan (dalam religi kuno).

Rada Krishnan yang kemudian popular dengan nama Keenan Nasution lahir di Djakarta pada tanggal 5 Juni 1952. Ayahnya adalah seorang pemusik bernama Saidi Hasjim Nasution. Dengan kata lain Kenaan Nasution bersaudara adalah keluarga pemusik.

Saidi Hasjim Nasution memiliki anak enam orang, satu perempuan dan lima laki-laki. Keenan anak laki-laki Saidi Hasjim ini menyukai musik dan berkarir di musik. Mereka itu adalah Zulham, Gauri, Rada, Oding dan Debby. Inilah record dalam dunia musik, jumlah bersaudara (satu ayah dan satu ibu) dalam komunitas musik yang melebihi jumlah bersaudara di band The Mercy’s (dua orang), Panber’s (empat orang) dan Koes Bersaudara (tiga orang). Dalam tradisi musik Batak, jumlah gordang dalam satu ensambel terbanyak adalah gordang sambilan (hanya terdapat di Angkola dan Mandailing; di Toba hanya enam gondang dan di Karo hanya tiga gondang).

Siapa Saidi Hasjim Nasoetion? Pada tahun 1937, musik tradisi Batak sudah mulai diperdengarkan di radio Batavia, Bandoeng, Solo dan Soerabaja. Orkes musik tradisi Batak yang terkenal waktu itu adalah Orchest Andalas. Oskest ini masih bertahan hingga datangnya Jepang. Selama penduduk Jepang dan selama masa agresi militer Belanda musik dan nyanyian dari Tanah Batak tidak pernah terdengar lagi. Baru pasca pengakuan kedaulatan RI, musik dan nyanyian dari Tanah Batak muncul kembali di radio. Radio RRI Jakarta kerap memperdengarkan musik Tapanoeli dibawah label grup musik Sinondang yang mana salah satu penyanyinya adalah Gordon Tobing.

Saidi Hasjim adalah bagian dari musik tradisi Batak apakah lewat grup musik Orkest Andalas atau grup musik Sinondang Tapanoeli atau grup musik Sinondang Sipirok. Saidi Hasjim adalah para pemuda-pemudi yang direkrut di Sipirok (dan Angkola) untuk membangun grup musik di Batavia dari Sipirok (sebagaimana diketahui populasi marga Nasution juga banyak di Sipirok). Seangkatan dengan mereka ini adalah Hasjim Rachman dan Sakti Alamsyah dari Parau Sorat, Sipirok yang kemudian beralih profesi menjadi jurnalisti (Hasjim Rachman adalah adik dari Sakti Alamsyah, pendiri koran Pikiran Rakyat Bandung).

Saidi Hasjim Nasution, sejak dari grup Sinondang terus menekuni musik dan berkarir di bidang musik, tetapi tidak lagi musik tradisi tetapi musik pop dan musik barat. Keahlian musik Saidi Hasjim adalah dalam piano dan biola. Boleh jadi Saidi Hasjim di grup Sinondang adalah pemain alat petik Batak (hasapi) dan alat musik gesek Batak (hapetan). Di Sipirok sendiri, instrumen musik modern sudah dikenal sejak tahun 1890an. Sipirok adalah tempat dimana kemampuan musik Nahum Situmorang dimulai dan Saidi Hasjim adalah generasi penerus setelah maestro Nahum Situmorang.

Saidi Hasjim di Batavia tinggal di Pegangsaan. Pada saat proklamasi kemerdekaan, daerah Pegangsaan sangat terkenal karena di Jalan Pegangsaan Timur proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno-Hatta. Dibelakang cerita Pegangsaan ini terdapat kisah Adam Malik, seorang tokoh pemuda radikal yang bersama teman-temannya mendesak proklamasi kemerdekaan RI segera dilakukan, ketika sang mentor (Amir Sjarifoedin) tidak bisa berbuat apa-apa karena dibui oleh Jepang. Kebetulan para perantau dari afd. Padang Sidempuan banyak yang tinggal di sekitar perkampungan Pegangsaan ini. Dari kisah inilah anak-anak Saidi Hasjim, seperti Kenaan Nasution kelak membentuk band baru yang dikenal dengan nama Gank Pegangsaan. Makna Pegangsaan dalam nama band Kenaan Nasution dkk sesungguhnya lebih menceritakan kehadiran gank (pemuda revolusioner) asal Padang Sidempuan di sekitar Pegangsaan jelang kemerdekaan RI.   

Diana Nasution: Diorbitkan oleh Rinto Harahap

Diana dan Rita Nasution sudah menyanyi dari kanak-kanak
Diana Nasution lahir di Medan 5 April 1958. Sejak kecil sudah ikut lomba nyanyi dan masuk TVRI. Pada tahun 1971 berduet dengan kakaknya Rita Henny Nasution (lahir di Jakarta 23 November, 1956) dan membentuk Nasution Sister (Nassist). Diana dan Rita adalah dua dari delapan bersaudara. Diana anak keempat dan Rita anak ketiga dari Mr. Nasution, seorang tentara yang menjadi editor surat kabar Angkatan Bersenjata.

Marga Nasution dari Tapanuli Selatan merupakan salah satu marga yang memiliki populasi yang besar. Nasution tidak hanya di Mandailing tetapi juga di Angkola, Sipirok dan Padang Lawas. Jika keluarga Kenaan Nasution berasal dari Sipirok, maka keluarga Rita Nasution berasal dari Padang Lawas. Nasution yang berasal dari Mandailing tidak hanya populasinya besar tetapi juga lahir para pionir. Yang pertama adalah Dr. Asta dan Dr. Angan dua bermarga Nasution yang merupakan dokter pertama yang berasal dari luar Jawa (1856). Kemudian Sati Nasution adalah pribumi pertama yang studi ke luar negeri di Belanda (1857) yang kemudian berganti nama menjadi Willem Iskander. Di kampungnya di Madailing, Willem Iskander mendirikan sekolah guru tahu 1862, peribumi pertama yang mendirikan sekolah guru. Willem Iskander juga penulis buku pelajaran yang pertama yang diterbitkan di Batavia tahun 1862. Buku terkenal Willem Iskander adalah Sibulus-bulus Sirumbuk-rumbuk yang diterbitkan tahun 1874 dan masih dibaca hingga ini hari. Anak Dr. Asta bernama Mangaradja Salamboewe (mantan jaksa) adalah editor kedua yang berasal dari pribumi yang memulai karir sebagai editor di koran Pertja Timor tahun 1902. Ahli hukum lainnya yang terkenal penulis adalah advocate Adnan Buyung Nasution. Nasution yang berkarir di militer juga jago menulis, seperti jenderal besar Abdul Haris Nasution. Tentu saja ayah Diana Nasution, meski militer tetapi juga menjadi editor dari surat kabar Angkatan Bersenjata. Dari kalangan perguruan tinggi, sudah tentu jago menulis seperti Andi Hakim Nasution (rector IPB 1978-1987).  

Diana Nasution, Volume III
Grup bersaudara ini tidak lama, lalu bubar. Pada pertengahan tahun 1970an, Rinto Harahap coba mengangkat kembali talenta Diana untuk berkarir terus sebagai penyanyi. Ternyata, Rinto Harahap melalui Lolypop berhasil, dimana Diana Nasution menemukan dirinya sebagai figur penyanyi yang sebenarnya. Inilah awal kembali Diana Nasution masuk ke dunia music dan menjadi penyanyi hebat yang tiada duanya. Album pertama Diana Nasution adalah ‘Jangan Biarkan’. Kemudian album Diana Nasution dengan album berlabel lagu ‘Benci Tapi Rindu’ lalu disusul album ketiga berlabel lagu ‘Biarkanlah’. Semua itu dibawah asuhan Rinto Harahap di bawah naungan studionya sendiri Lolypop Record.

Tahun 1977, Diana Nasution berduet dengan Melky Goeslaw dan berlaga di Festival Penyanyi Nasional dengan lagu ‘Bila Cengkeh Berbunga’ dan ‘Malam Yang Dingin’ (keduanya ciptaan Minggus Tahitoe). Sayangnya, duet tersebut harus mengakui keunggulan penyanyi Hetty Koes Endang yang tampil sebagai juara pertama, sedangkan mereka menjadi runner-up.

Selama karir Diana Nasution di bidang musik, sudah banyak album yang dihasilkan. Tidak terbilang banyaknya, sebagaimana seniornya Rinto Harahap, tidak terbilang juga banyaknya lagu yang diciptakan.Sejauh ini, Rinto Harahap dan Diana Nasution adalah dua pegiat music di Indonesia yang melegenda. Diana Nasution dengan suaranya yang khas, Rinto Harahap dengan kemampuannya yang khas dalam membimbing banyak penyanyi. Tidak hanya Diana Nasution, juga Eddy Silitonga dan Crhristine Panjaitan. Ke dalam daftar ini termasuk Nia Daniati, Betharia Sonata, Iis Sugianto, Maya Rumantir dan lainnya. Tentu saja boru panggoaran Cindy Claudia Harahap.

Asal-Usul dan Tarombo Musik Batak: Nahum Situmorang, Gordon Tobing, Ucok AKA Harahap, Kenaan Nasution dan Rinto Harahap serta Diana Nasution

Seorang peneliti Belanda (dalam laporan tahun 1930) menyimpulkan bahwa fondasi dari masyarakat Batak secara substansial sama dimana-mana (Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, Silindu, Toba, Simalungun, Karo, dan Dairi, termasuk Gayo dan Alas) yang pada prinsipnya terdiri dari tiga hal: (1) Tiga kelompok sosial yang dibedakan (kahanggi, mora dan anak boru) yang membentuk kesatuan sosial ‘dalihan na tolu’, (2) Komunitas hukum adat tertinggi yang bersifat otoritas monarki (federasi huta (desa) yang bertumpu pada huta induk dan huta-huta turunannya; dan (3) Setiap anggota masyarakat memiliki silsilah genealogis (stambuk).

Fondasi inilah yang menjadi dasar struktur  kebudayaan Batak yang kemudian diatasnya dikonstruksi (secara alamiah) elemen kebudayaan lainnya seperti: religi, aksa, sastra dan ilmu pengetahuan, arsitektur bangunan, manufaktur tenun, budidaya pertanian, adat istiadat lainnya, instrumen (gondang dan disusul penggunaan ogung), hiburan (musik, tortor dan pantomin). Penduduk Batak yang merupakan orisinalitas penduduk Sumatra (menurut Marsden, 1780) membentuk kebudayaannya sendiri yang dapat dibedakan dengan penduduk pendatang (yang juga menjadi tetangganya: Melayu). Dengan demikian, kebudayaan Batak bersifat unik (khas), oleh karenanya musik tradisi Batak juga menjadi khas (berbeda dengan tetangganya Melayu seperti di Atjeh, Sumatra Timur dan Sumatra Barat).

Elemen-elemen kebudayaan Batak (termasuk di dalamnya musik/ gondang dan tarian/tortor) dibangun dari proses belajar (kreasi dan imitasi). Sumber ide imitasi bagi penduduk Batak di pedalaman adalah penduduk asing yang merupakan mitra komunikasi dalam basis perdagangan awal. Proses belajar dari sumber asing (yang memiliki kebudayaan yang relatif lebih maju/tinggi) haruslah ditempat yang kondusif dimana elemen-elemen kebudayaan itu dapat dipelajari secara intens. Tempat yang kondusif bukanlah di pelabuhan Barus (kota pantai), karena tempat itu adalah kota melting pot sejak Mesir kuno (penduduk campuran: Mesir, Arab, Persia dan India). Tempat yang kondusif haruslah berada di pedalaman dimana para pedagang-pedagang dari India selatan dan Ceilon mendekatkan diri ke TKP dan beriteraksi dengan penduduk lokal (untuk transaksi dagang: kemenyan, kamper dan emas) yang kemudian (dalam jangka panjang) terbentuk koloni asing. Kota-kota (koloni-koloni asing ini) di pedalaman Tanah Batak yang sejauh ini hanya terdapat di lembah Angkola dan di prairie Padang Bolak. Situs peninggalan koloni asing ini (India selatan, Hindoe dan Ceilon, Budha) antara lain candi Simangambat (abad kedelapan) di Angkola dan candi Padang Lawas (abad kesebelas) di Padang Bolak.

Secara umum, bahasa sebagai elemen dasar kebudayaan Batak adalah eksklusif milik bangsa Batak sendiri. Terminologi unsur-unsur domestication (flora dan fauna serta tanaman pangan) sangat spesifik. TJ Willer (1846) menyebut istilah-istilah pangan tidak ada yang berasal dari bahasa Melayu, dan semua istilah itu seusia dengan bahasa Batak. Ini menunjukkan bahwa bangsa Batak sudah hidup mandiri dan lebih awal dari bangsa Melayu (yang menyusul kemudian).

Penduduk lokal (Batak) dan penduduk asing (India dan Ceilon atau Hindu dan Budha) berinteraksi tetapi tidak terjadi pembauran (karena dalam agama HIndoe ada pembagian kasta, para pedagang dari India besar kemungkinan adalah kasta Waisya). Dari interaksi ini timbul proses belajar (kreasi dan imitasi) yang memungkinkan unsur-unsur Hindu/Budha menjadi tidak terpisahkan dari elemen kebudayaan Batak yang lebih baru (lebih maju) seperti dalam religi (prosedur dan ketentuan), gerak tarian (cara menyembah) dan instrumen (alat bekomunikasi dengan Tuhan, utamanya gondang). Gondang adalah pangkal perkara dalam pengembangan lebih lanjut kreasi musik tradisi Batak.

Dalam perkembangannya, penduduk lokal (Batak) menggantikan penduduk asing (India dan Ceilon). Boleh jadi penduduk Batak yang semakin maju (karena proses belajar) mendesak penduduk asing-asing dan koloni-koloni mulai ditinggalkan oleh penduduk pendatang dan diisi oleh penduduk Batak yang sudah mulai maju dalam segala bidang: sistem pemerintahan aristokrasi (berbasis marga), kesadaran hak milik (negara bangsa), keahlian perang (strategi dan taktik) serta sistem logistik (produk ekspor seperti kemenyan, kamper dan emas; produk pangan seperti tanaman pangan dan ternak; dan produk manufaktur seperti senjata, mesiu dan tenun). Pada fase inilah penduduk Batak di dalam sistem aristokrat (yang selama ini bersifat bilateral dengan orang-orang India) memerlukan hubungan yang lebih luas dan bersifat multilateral. Interaksi dengan semua bangsa baik di pedalaman maupun di pantai-pantai terhadap bangsa-bangsa dari Timur Tengah (Mesir, Arab, Persia dan orang-orang Moor), India dan Tiongkok.

Hasil interaksi ini dalam bidang pengembangan music tradisi Batak diadopsi ogung (gong) untuk menyelaraskan bunyi instrumen gondang dalam religi untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ogung dalam ukuran kecil (tjenang) plus simbal kuningan dari Tiongkok diadopsi dan digunakan dalam perang (antar huta antar clan). Ide-ide pembuatan instrumen-intrumen lainnya menyusul seperti saroene (dari Persia), hasapi (dari Tiongkok). Instrumen yang lebih melodis gondang dan gong juga dikembangkan yang membentuk ensambel-ensambel gondang (tataganing) dan gong (ogung, pangora dan doal). Kreasi musik (gondang) dan kreasi tarian (tortor) berkembang secara bersamaan. Kreasi tarian yang awalnya tampak dalam gerak persembahan ke Tuhan (dari unsur India) berevolusi menjadi kombinasi gerak persembahan terhadap Tuhan dan hubungan sesama manusia (dari unsur Tiongkok) dan hubungan terhadap alam (untuk mensyukuri pemberian alam). Varian dalam instrument musik (dan cara memainkannya) dan varian dalam tarian (dan cara mempertunjukkannya) merupakan unsure pembeda pada masa ini dalam musik tradisi dan tarian tradisi antara Angkola dan Mandailing (yang meliputi Sipirok dan Padang Lawas) di satu pihak dan Silndung dan Toba. Perbedaan itu mengindikasikan adanya tingkat perkembangan music dan tarian yang berbeda.

Pada fase kedatangan orang-orang Eropa (Portugis, Spanyol, Prancis dan Inggris, dan disusul belakangan oleh Belanda) berbagai elemen-elemen kebudayaan Batak juga mengalami perkembangan lebih lanjut. Yang pertama berubah adalah sistem pemerintahan (dari aristokrasi ke demokratis) dan system pendidikan (dari aksara Batak ke aksara Latin).
         
Tunggu deskripsi lebih lanjut
.


Tidak ada komentar: