14/03/16

Sejarah BATANG TORU (2): Pembentukan Pemerintahan, Sejumlah Kuria di Batang Toru Dipisahkan dari Onderafdeeling Angkola



Koeria dan Marga di Angkola, Sipirok dan Batang Toru
Secara historis loehat-loehat di Angkola, Sipirok dan Batang Toru saling terhubung. Ketiga lanskap tersebut selain bahasa dan adat yang kurang lebih sama, juga secara genealogis masih mudah ditelusuri (misalnya marga Siregar dan marga Poeloengan). Pada fase awal pemerintahan kolonial loehat-loehat Batang Toru masih menjadi bagian dari Onderafdeeling Angkola karena secara ekonomi Loemoet adalah pelabuhan dari hasil-hasil pertanian dari Angkola dan Sipirok. Namun dalam perkembangannya secara administratif wilayah Angkola dikurangi dan wilayah Sibolga ditambahkan. Hal ini lebih disebabkan kedekatan georafis semata untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan. .

Pembagian wilayah administrasi

Secara tradisional batas-batas huta (lingkungan tempat tinggal tradisi=ulayat) sudah sejak lama ada. Kepala-kepala huta ini terdiri dari radja panoeosoenan (pamungka huta), radja pamoesoek dan kepala ripe (turunannya). Federasi huta-huta yang satu garis keturunan ini (genealogis dan territorial) terbentuk daerah tradisi yang disebut sebagai loehat (negeri). Loehat-loehat inilah yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun wilayah administrasi pemerintahan colonial Belanda. Loehat-loehat yang berada di satu kesatuan geografis (social ekonomi) ditandai Belanda sebagai satu lanskap (tanah, air dan penduduk).

Lanskap-lanskap pertama yang diadministrasikan oleh pemerintah kolonial Belanda adalah lanskap Natal, lanskap Mandheling, lanskap Angkola, lanskap Pertibie. Di lanskap Mandheling terdiri dari lanskap-lanskap yang lebih kecil yakni Groote Mandheling, Klein Mandheling, Oeloe, Pakantan. Di lanskap Angkola terdiri dari lanskap Angkola Djae, lanskap Angkola Djoeloe, dan lanskap Dollok. Dari berbagai lanskap tersebut, afdeeling pertama yang dibentuk adalah Afdeeling Natal dan Afdeeling Mandheling en Ankola.

Afdeeling Mandheling en Ankola terdiri dari tiga onderafdeeling: Groote Mandheling, onderafd. Keleing Mandheling, Oeloe en Pakanten; dan onderafd. Angkola en Pijor Koling (nama tidak lama hanya disebut onderafd. Angkola saja). Onderafd. Angkola terdiri dari distrik-distrik: District Angkola Djae; Disrict Angkola Djoeloe dan District Dollok (kemudian diganti menjadi District Sipirok). Batas-batas onderafd. di Angkola dibuat dan menjadi acuan dalam pembuatan peta Residentie Tapanoeli yang terbit tahun 1852 (wilayah administrasi Residentie Tapanoeli baru terdiri dari: Natal, Groete Mandheling, Klein Mandheling, Oeloe, Pakantan, Angkola, Sipirok, Tapanoeli, dan Baros.

Dalam peta tersebut loehat Huraba dan loehat Loemoet masuk wilayah administrasi (afdeeling) Tapanoeli. Nama Batang Toru tidak teridentifikasi dalam peta sebagai suatu tempat, tetapi diidentifikasi sebagai nama sungai Batang Toru. Yang teridentifikasi di sekitar (dekat dengan) sungai hanya Huraba, Sumuran dan Sipisang. Di barat Sumuran teridentifikasi nama tempat Tapolon dimana tempat ini menjadi dua arah: arah tenggara ke Loemoet via sungai ke Djaga-Djaga dan via laut ke Sibogha (jalan sungai dan laut) dan arah barat melalui darat ke Aek Bediri, Toeka dan Siboeloean lalu ke Sibogha (jalan pos). Tentu saja pembuatan peta memiliki time leg yang panjang karenanya nama-nama tempat yang dianggap penting kemudian sebelum terbit peta akan tidak teridentifikasi. Oleh karenanya nama Batang Toru sebagai suatu tempat belum muncul dalam peta. Namun suatu tempat bisa jadi sudah eksis sudah lama tetapi belum popular atau kalah popular dibandingkan dengan nama tempat lainnya.

Rambin rotan di atas sungai Batang Toru (lukisan Clercq, 1846)
Nederlandsche staatscourant, 01-10-1847: ‘pasukan di bawah pimpinan sersan, komandan Loemoet di pagi hari 24 Maret tahun ini telah diserang, namun dengan langkah segera dan tanpa kehilangan, tiga orang telah diamankan. Letnan Kolonel,  komandan di Sibogba, segera ke TKP dengan detasemen kecil dan menemukan semuanya terkendali. Sementara itu di afdeeling Mandheling en Ankola pada Mei tahun ini terjadi satu gangguan, yang dipimpin oleh Rangar Laut dan melakukan perusakan beberapa jembatan, merampok dan melakukan pembakaran serta melakukan pembunuhan terhadap Sersan Luksenburg dalam pembentukan (pemerintahan) baru di Batang Taro. Langkah-langkah otoritas sipil dan militer telah dilakukan dan segeraa dipulihkan. Rangar Laut dan beberapa kepala lainnya telah datang ke pengiriman. Pada kesempatan itu, Jang di Pertoean dari Mandheling telah datang memberikan bantuan. Penyelidikan penyebab hal itu terjadi belum diketahui. Beberapa rumor yang berkembang dikaitkan dengan vaksinasi anak-anak yang dilaksanakan oleh pemerintah yang menyebabkan tanda permanen di lengan. Bersamaan gerakan kekacauan ini juga terdeteksi di Padang Lawas. Antara gerakan-gerakan ini dan pemberontakan di Mandheling en Ankola tampaknya saling terkait.

Dari berita yang dikutip di atas terungkap bahwa tahun 1847 atau tahun-tahun sebelum itu sudah dilakukan proses pembentukan pemerintahan lokal di Batang Toru, sebagaimana juga telah dilaksanakan di lanskap-lanskap lainnya di Afdeeling Mandheling en Ankola. Berita-berita lainnya tentang Batang Toru sejauh ini masih menjadi pemasok kamper dan di perdagangkan di hingga ke Natal.

Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 06-11-1852: ‘Kamper dan benzoin diperdagangan antara Natal dan Sinkel; produksi benzoin secara besar-besaran hanya di lanskap independen Battalanden. Kamper yang ditemukan di Natal umumnya didatangkan dari hutan yang terletak di antara Batang Toru dan Loemoet. Battalanden juga menyediakan kamper’.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-06-1853: ‘…dilaporkan bahwa di Padang Sidempoeang, Loemoet, Batang Taro, Ankola, Siepierok dan Pagerutan, hingga 12 April tahun ini, telah 390 orang terkena dampak kolera’.

Sementara itu di Angkola pengembangan budidaya kopi sudah mulai menunjukkan hasil, tidak hanya di Angkola Djae dan Angkola Joeloe tetapi juga di Sipirok. Dengan melihat perkembangan tersebut, Controleur Henniij menganggap perlunya pembentukan menganggap Angkola dan Sipirok harus dibawah satu pemerintahan (Hennij menjadi Controleur Angka tahun 1856). Pada tahun 1858 kopi dari Sipirok sudah mulai menghasilkan dan diangkut dengan menggunakan gerobak ke Loemoet lalu diteruskan via sungai ke teluk Tapanoeli (Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 11-02-1858). Koran ini juga menulis bahwa selain Ankolasche, koffijtuinen Si Perok berharga dan memilik nama yang terbaik dan memberikan produk yang kaya.  

Jika semasa A.P. Godon, akses jalan dari Mandailing ke Natal terbuka dengan pembangunan jalan dan jembatan. Godon adalah pemrakarsanya. Sepeninggalan Godon (pension), Henny mereplikasi ide Godon untuk memperbaiki akses jalan yang yang sudah ada dari Padang Sidempuan ke Loemoet. Karenanya, aliran kopi dari Ankola dan Sipirok tidak perlu via Natal lagi tetapi, via Djaga-Djaga (Loemeot) ke Sibolga lalu ke Padang. Yang melakukan tugas pengangkutan diberi kontrak kepada pengusaha Tionghoa di Barus bernama Lie Thong.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 14-06-1862: ‘diadakan outsourcing untuk evakuasi koffij ke Padang dari tempat-tempat sebagai berikut (antara lain): dari Ankola en Si Pirok melalui Djaga-Djaga (dekat Loemoet) ke Padang dengan biaya sebesar ƒ 4.40 per picols. (Pemberi kerja: Li Thong)’.

Dengan semakin derasnya aliran kopi dari Ankola dan Sipirok ke Teluk Tapanoeli melalui Loemoet dipandang perlu untuk merevisi pengaturan jalan poros dalam Staatsblad No. 59, tanggal 21 Oktober 1852. Pada tahun 1862 keluar Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22 (Staatsblad No. 141 tahun 1862) dimana di dalam keputusan mengatur jalan jalan poros (utama) di wilayah hukum Gouvernement Sumatra’s Westkust tidak hanya di Padangsche (Bovenlanden dan Beneelanden) tetapi juga mencakup jalan poros di Tapanoeli. Jalan poros Tapanoeli berdasarkan Staatsblad No. 141, sebagai berikut:

Kotta Nopan ke Laroe (½ etappe)
Laroe ke Fort Elout (Penjaboengan) (1 etappe)
Fort Elout (Penjaboengan) ke Siaboe (1 etappe)
Siaboe ke Soeroematingi (1 etappe)
Soeroematingi ke Sigalangan (1 etappe)
Sigalangan ke Padang Sidempoean (1 etappe)
Padang Sidempoean ke Panabassan (1 etappe)
Panabassan ke Batang Taro (1 etappe)
Batang Taro ke Loemoet (1 etappe)
Loemoet ke Parbirahan (1 etappe)
Parbirahan ke Toeka (½ etappe)
Toeka ke Sibogha (½ etappe)

Jalan poros adalah jalan yang direncanakan untuk menjadi lalu lintas utama dan menjadi moda transportasi pos dan berbagai angkutan lainnya. Dengan memperhatikan rute jalan poros dalam surat keputusan itu,  sesunguhnya rute jalan poros tersebut merupakan ratifikasi terhadap jalan yang sudah ada sejak era perdagangan awal (era pertukaran: garam dengan komoditi lainnya). Sedangkan ukuran jarak hanya didasarkan pada titik persinggahan jika perjalanan dilakukan dengan menggunakan kuda (etappe). Posisi Batang Toru sudah ada dalam rute ini. Hal lain yang baru dalam rute ini, jalan poros dari Batang Toru menuju Loemoet melalui Tapolong kemudian ke Toeka dan Sibogha.

Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 11-10-1862: ‘menyoal tentang rute perjalanan antara laut dan darat. Selama ini hanya angkutan barang dan orang melalui laut dari pantai ke pantai di Sumatra’s Westkust. Tidak adanya infrastruktur darat yang memadai membuat orang khawatir (terutama pedagang) untuk memasuki wilayah pedalaman seperti di Mandheling dan Ankola yang indah. Pengembangan layanan transportasi laut tidak akan maksimal dan perlu memperhatikan layanan untuk angkutan di daratan’.

Pembentukan pemerintahan

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Staatsblad No. 141 tahun 1862) yang mana Residentie Tapanoeli (Kresidenan Tapanuli) terdiri dari enam afdeeling. Salah satu afdeelingnya disebut Afdeeling Mandheling en Ankola. Salah satu lanskap (kemudian disebut onderafdeeling) adalah Ankola en Sipirok (sebelumnya onderafd. Angkola saja). Di lanskap atau onderafdeeling Ankola en Sipirok ini terdapat sebanyak 14 koeria (yang dikepalai koeriahoofd), yakni: Kampong-baroe, Si Mapil-Apil, Saboengan Djai, Batoe-nadoea, Oeta Rimbaroe, Si Pirok, Bringin, Praoe Sorat, Soeroemantigi, Pintoe Padang, Si Galangan, Moeara Thais, Pitjar Koeleng dan Si Ondop,

Dalam onderafd. Angkola en Sipirok nama-nama Huraba, Sianggoenan, Marancar, Batang Toru dan Loemoet tidak termasuk. Ini artinya bahwa kelima loehat utama ini (yang kemudian menjadi koeria) dimasukkan ke dalam Afdeeling Sibolga en Ommnenlanden sebagai satu distrik bernama Loemoet en Batang Taro. Padahal secara adat lebih dekat ke Angkola daripada Tapanoeli. Di Sipirok marga dominan adalah Siregar yang menjadi tiga koeria: Baringin, Parau Sorat dan Sipirok. Secara territorial Sipirok berdekatan dengan Batang Toru di sisi utara Angkola (Sipirok, Marantjar dan Hoeraba). Sementara, sisi selatan Angkola dan Batang Toru secara territorial yang saling berdekatan dari kuria marga Poeloengan (Saroematinggi, Siondop dan Batang Toru).

Hal ini juga pernah terjadi ketika koeria Maga dipisahkan dari Klein Mandheling dan dimasukkan ke Groote Mandheling (karena alasan marga) dan koeria Batang Natal dipisahkan dari Gooter Mandheling dan dimasukkan ke Natal (karena alasan jarak dan efektivitas pemerintahan). Hal serupa ini besar kemungkinan empat loehat berafiliasi dengan Afdeeling Sibolga. Namun bisa jadi karena alasan politis (gangguan keamanan sebelumnya), alasan ekonomis atau alasan lainnya bisa jadi untuk melakukan perimbangan (komposisi) wilayah.

Pada tahun 1869 lanskap Batang Toru sendiri sesungguhnya baru memulai pembangunan pertaniannya. Seperti yang dikutip dalam surat kabar Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 06-02-1869 bahwa Sipirok telah dianggap sangat berhasil dalam budidaya pertanian yang didukung dengan tingkat kesuburan lahan, sementara Batang Taro meski sudah ada sawah yang telah dibuat sekitar 30-35 ribu bouws, tetapi masih cukup tersedia lahan untuk ekstensifikasi sekitar seratus ribu bouws.

Setelah sempat berlarut-larut dalam proses pembentukan pemerintahan lokal di Afdeeling Sibolga en Ommenlanden di Batavia, De Raad van Nederlandsch-lndie akhirnya memutuskan afdeeling terbagai dari dua onderafdeeling, yakni: Sibolga dan Batang Toru. Onderfadeling Sibolga terdiri dari enam koeria, sedangkan onderafdeeling Batangtoru terdiri dari 10 koeria, yakni: Toeka, Said Nihoeta, Pinang Sori, Loemoet, Anggoli, Si Manosor, Batang Taro, Hoeraba, Si Anggoenan dan Marantjar (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-03-1871).

Dengan terbentuknya pemerintahan local maka dengan sendirinya proses pembangunan di setiap lanskap melalui koeria-koeria yang diangkat akan berjalan lebih efektif. Pembentukan pemerintahan local ini di satu  sisi Afdeeling Sibolga en Ommenlanden telat dibandingkan dengan Afdeeling Mandheling en Ankola, sementara di sisi lain, loehat-loehat yang doeloe satu sama lain terhubung kini loehat-loehat yang menjadi koeria Loemoet, Anggoli, Si Manosor, Batang Taro, Hoeraba, Si Anggoenan dan Marantjar sudah tertinggal dibandingkan loehat-loehat lainnya di Angkola dan Sipirok. Namun demikian, karena hasil-hasil pertanian di Angkola dan Sipirok menuju pantai melalui Loemoet dan Pelabuhan Djaga-Djaga maka diharapkan akan terjadi sinergi dan mempercepat proses pembangunan di loehat-loehat eks Angkola tersebut.

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 09-11-1872 (iklan): ‘pengadaan dan pelelangan umum terikat untuk transportasi wisatawan, bagasi, koffij, barang dan dana (yang meliputi): (d) Groot en Klein Mandheling, Oeloe dan Pakanten dan Natal. (e) antara Padang , Siboga dan Loemoet dan tempat yang berbeda dari onderafdeeling Ankola en Sipirok’.

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 04-12-1872: ‘Kemarin di sini telah diumumkan dalam transportasi gouvernementi, penumpang bagasi, kopi, barang dan uang di Sumatra Westkust (diantaranya): untuk Mandheling adalah Dummler & Co, untuk Ankola adalah Lie Thong’.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bersambung: …..

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: