Sejarah ‘Becak Vespa’ Padang Sidempuan: Suatu Inovasi Sosial-Ekonomi Alat Transportasi


Oleh Akhir Matua Harahap

Becak Vespa Padang Sidempuan

Becak Vespa
Becak Vespa Padang Sidempuan yang sudah dikenal pada masa ini adalah alat transportasi yang terbilang unik. Becak Vespa sebagai produk rekayasa khas—ala Padang Sidempuan kini bentuknya telah mengalami perkembangkan jika dibandingkan dengan bentuk awalnya (protype) di masa lalu. Becak Vespa yang sekarang bagian luar lebih ramping tetapi ruang kabinnya tetap terasa luas. Bentuk bodinya yang lebih menyerupai kapsul (bagian depan yang lancip) memungkinkan system aerodinamis yang lebih efisien ketika melaju kencang. Sistem rangka kabin dan rangka  jok yang dibuat  efisien memberi beban yang lebih ringan sehingga energy (BBM) yang dibutuhkan lebih hemat. Penggunaan asesoris pada bagian luar dan interior kabin plus warna metalik menambah kemewahan pada alat trans-
porta si yang bersahaja ini.


Becak Vespa
Tujuan utama dari semua bentuk-bentuk pengembangan Becak Vespa ini di satu pihak dimaksudkan untuk memuaskan penumpang di pihak yang lain untuk meningkatkan persaingan dalam menjaring calon penumpang. Tiga pelaku utama dalam modifikasi ini adalah pemilik becak, montir mesin dan tukang kabin.  Tiga pihak ini yang berperan penting dalam pengembangan inovasi Becak Vespa sehingga bentuknya yang sekarang sudah mencapai final. Inovasi Becak Vespa bergerak sejalan dengan sejarah becak di Padang Sidempuan. Pertumbuhan (ekonomi) dan perkembangan (social) kota turut mempengaruhi perkembangan inovasi Becak Vespa.


Sejarah Becak Vespa
Sadu

Awal mula Becak Vespa di Padang Sidempuan. Pada tahun 1971 (ketika saya SD kelas 1) becak dayung mulai terlihat beberapa di jalan-jalan kota. Kehadiran becak dayung ini di satu sisi seakan memperluas fungsi sepeda dan di sisi lain menjadi pesaing baru bagi sadu (delman). Becak dayung tumbuh sporadis bagaikan jamur di musim hujan. Ini bisa dimengerti, karena sadu adalah suatu alat transportasi yang memiliki investasi tinggi (karena harga kuda mahal). Biasanya pemilik sadu adalah pemilik kuda. Beberapa diantara pemilik kuda/sadu bahkan ada yang memiliki puluhan sadu/kuda.

Becak dayung
Usaha becak dayung adalah suatu investasi yang relative lebih murah dibandingkan sadu. Mobilitas penduduk dalam kota yang semakin tinggi, pasokan becak dayung dari Medan, Tebing Tinggi dan Kisaran semakin deras. Untuk memperkuat positioning becak di dalam kota, sejumlah pemilik/pengusaha becak dayung membentuk organisasi yang disebut Perbeda (Persatuan Becak Dayung). Strategi ini boleh jadi dimaksudkan untuk mengimbangi tekanan para pemilik/pengusaha sadu. Dalam beberapa tahun tampaknya strategi ini berhasil seiring dengan kebutuhan transportasi warga kota yang semakin meningkat. Cibiran pemilik/pengusaha kuda terhadap pemilik/pengusaha becak yang dianggap tidak manusiawi tidak menciutkan nyali pemilik/pengusaha becak untuk memenuhi jalan-jalan kota. Bagi warga, becak selain barang/alat transportasi baru juga dianggap sebagai kendaraan yang praktis, lebih nyaman (tidak berbau) dan lebih aman (kadang-kadang sadunya bias tidak terkendali jika kudanya sedang membuat ulah). Sadu pun lambat laun semakin berkurang dan akhirnya menghilang dari jalan-jalan kota.

Ketika sadu telah menghilang, layanan becak dayung untuk jarak yang lebih jauh semakin dirasakan apalagi beberapa ruas jalan di Kota Padang Sidempuan merupakan tanjakan yang susah payah dan becaknya harus didorong. Situasi kondisi ini jelas memperlambat lajunya becak dan membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama. Hukum ekonomi berlaku: ongkos becak pada jalur tertentu menjadi mahal. Pada fase inilah bentuk moda transportasi baru hadir yang didatangkan dari Medan yang dikenal sebagai becak ‘brompit’ (1974).  Becak brompit ini adalah becak dayung yang digerakkan dengan mesin tempel (disebut juga becak tempel). Ketika di jalan tanjakan mesinnya meraung-raung untuk menarik beban becak. Untuk mengimbangi ini, becak ini juga bisa dikayuh untuk menambah daya  dorong mesin.
Becak Siantar

Becak dayung dan becak brompit sudah menjadi solusi transportasi dalam kota menggantikan sepeda dan sadu. Becak brompit tampaknya memiliki prospek yang lebih baik, karena jangkauannya dan besarnya ongkos antara becak dayung dan becak brompit tidak terlalu jauh. Pada fase inilah (1976) muncul beberapa Becak Siantar (yang menggunakan moge (motor gede). Kendaraan becak raksasa ini semakin diminati warga dan becak brompit pun menjadi hilang dari jalanan kota. Namun pertumbuhan Becak Siantar ini di Padang Sidempuan stagnan. Kebutuhan warga yang semakin meningkat dan dinamis dan cepat. Pasokan Becak Siantar hampir tidak ada, kecuali Becak Siantar yang hanya beberapa itu saja. Boleh jadi, Becak Siantar tidak mudah diproduksi, bahkan untuk mendapatkan moge para pemilik/pengusaha becak di Siantar harus mendatangkan dari Jawa Timur. Becak Siantar mati suri di Padang Sidempuan karena Becak Siantar tampaknya hanya  terbatas untuk kebutuhan Kota Siantar (hingga masa ini).
Becak mesin Honda

Kebutuhan terhadap transportasi cepat dan praktis semakin dirasakan oleh warga kota Padang Sidempuan. Inovator mulai bekerja. Para montir berpikir bahwa motor gede ala Becak Siantar dapat digantikan dengan motor Honda (semisal CB 100) untuk menarik bak (kabin) terbuka becak dayung. Ini semacam siklus. Becak motor Honda seakan kembali  ke bentuk becak jenis brompit--bak atau kabin yang sama berasal dari becak dayung. Pada tahun 1978, becak mesin motor Honda mulai meramaikan jalan-jalan kota di Padang Sidempuan.

Namun demikian, tidak lama setelah inovasi becak mesin motor Honda mulai menjamur, di sana sini muncul beberapa bentuk becak jenis baru yang kemudian dikenal sebagai Becak Vespa. Bentuk Becak Vespa ini berbeda dengan becak mesin motor Honda (juga dari merek Yamaha) yang menggunakan bak/kabin becak dayung, tetapi lebih menyerupai kabin Becak Siantar. Dalam perkembangannya kabin Becak Vespa Padang Sidempuan mengalami modifikasi ke arah rancangan yang berbentuk kapsul. Inilah protype awal Becak Vespa Padang Sidempuan--suatu inovasi baru dalam dunia becak dan sebuah revolusi dalam arsitektur becak modern. 

Awalnya vespa yang digunakan untuk becak adalah vespa model lama merek Piaggio (buatan Italia). Bisa dibayangkan saat itu, permintaan becak semakin meningkat sementara vespa Piaggio semakin tersedot ke Padang Sidempuan dari seluruh Sumatra Utara. Bahkan vespa Pianggio ini didatangkan dari Sumatra Barat dan Riau untuk memenuhi kebutuhan industry karoseri Becak Vespa (permasalahan yang sama dengan Becak Siantar). Semakin jauh semakin mahal. Hitung-hitung dagang para innovator akhirnya lebih memilih memakai vespa keluaran baru merek PX. Pada situasi inilah  para pemilik becak beralih dari Piaggio dan kemudian merambah ke jenis vespa jenis baru tersebut. Dan memang terbukti penampilan Becak Vespa menjadi tampak makin OK dan bergengsi. Sebab Piaggio bodinya lebih pendek dan rendah sedangkan merek PX lebih panjang dan tinggi.

Pada penghujung tahun 70-an dan awal tahun 80-an Becak Vespa Padang Sidempuan bersaing ketat antara becak model motor Honda. Sekali lagi innovator Becak Vespa berpikir keras bagaimana untuk memenangkan persaingan di jalan-jalan kota*). Dengan beberapa segi keunggulan Becak Vesva dibanding becak motor Honda, para innovator Becak Vespa berkreasi dan mengembangkan teknik-teknik konstruksi baru becak. Infrastruktur jalan yang sudah semakin membaik memungkinkan Becak Vespa semakin kondusif untuk melaju mulus di jalan-jalan kota. Becak mesin motor Honda/Yamaha populasinya tampak semakin sedikit relative dengan pertumbuhan populasi Becak Vespa. 

Pada tahun 1987, becak mesin motor Honda/Yamaha hanya dapat dihitung dengan jari dan sebaliknya Becak Vespa sudah mendominasi kota. Kini untuk kendaraan praktis dan ekonomis, Becak Vespa 100 persen telah memenuhi jalan-jalan kota. Selanjutnya, dalam era tahun 1990-an perkembangan rancang bangun Becak Vespa sangat pesat dan tampaknya rancang bangunnya sudah mencapai final. Becak Vespa pada dekade itu boleh dibilang sudah menjadi trade mark Kota Padang Sidempuan.

Pada era tahun 2000-an hingga masa kini, pengembangan rancang bangun Becak Vespa tidak banyak mengalami perubahan. Pengembangan lebih diarahkan pada interior dan jok serta asesoris. Populasi Becak Vespa semakin bertambah dari tahun ke tahun di Kota Padang Sidempuan. Jumlah becak yang ada jauh dari jumlah ideal/optimal. Kini, populasi Becak Vespa di Kota Padang Sidempuan sebanyak 3000 lebih yang tergabung ke dalam beberapa organisasi yang terdaftar pada Dinas Perhubungan, yakni: Adu Nasib (organisasi tertua), kemudian, Abadi, Bintang Mas, Karya Bersama, Koperasi Becak Harapan, Rajawali, Rastra dan Sejahtera Jayama. Lihat "Daftar Nama Baru Jalan di Kota Padang Sidempuan"


Persaingan teknologi berubah menjadi persaingan dagang (merebut penumpang dan pengakuan). Asesoris Becak Vespa memainkan peran yang penting dalam persaingan. Namun biaya pembuatan asesoris semakin percuma ketika populasi becak tidak seimbang dengan calon penumpang. Setoran para sopir mulai ‘pahit’. Masa-masa manis bagi pemilik/pengusaha Becak Vespa telah berlalu. Margin dari menjual becak untuk diekspor ke kota lain sudah lebih tinggi daripada akumulasi setoran. Inovator sudah mulai berhenti berpikir, tetapi para pengusaha becak mulai mengambil peran lebih banyak dengan berpikir untuk memperdagangkan Becak Vespa.

Becak Vespa Padang Sidempuan semakin dikenal dan semakin banyak diminati orang di kota-kota lain di Sumatra Utara bahkan di Sumatra Barat dan Riau. Perdagangan Becak Vespa terbuka luas. Para innovator tetap bekerja di bengkel-bengkel untuk memproduksi Becak Vespa, tidak untuk teknologi dan rancang bangunnya lagi, tetapi bagaimana membuat dan memproduksi Becak Vespa dalam skala besar untuk kebutuhan ekspor keluar kota. Becak Vespa menjadi sebuah entitas, menjadi hak cipta para innovator di Kota Padang Sidempuan. Membicarakan Becak Vespa itu berarti membicarakan Kota Padang Sidempuan**. 

Lihat: 
Becak Vespa dan situasi 'ramai lancar' di sepanjang jalan Kota Padang Sidempuan
"Nyanyian Seorang Tukang Becak"


Baca juga: Profil Becak di Indonesia di:

*) Saya bisa mengamati dinamika perbecaan ini pada waktu itu. Di tahun 1981, ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 1 saya sering mendengar pembicaraan ini. Kebetulan beberapa puluh meter dari rumah kami ada warung kopi tempat saya biasa baca koran gratis semisal Waspada, Sinar Indonesia Baru (SIB) dan Mimbar Umum. Warung kopi ini kerap tempat mangkal para ‘stakeholder’ becak. Di seputar warung ini ada gudang beca yang memuat becak 50 sd 100 buah (yang juga merupakan tempat perkumpulan Becak Vespa “Adu Nasib”), juga ada bengkel beca yang konon montirnya terkenal sebagai ahli pervespaan. Tidak jauh dari warung ini terdapat satu karoseri Beca Vespa. Boleh di kata waktu itu di seputar warung kopi itu adalah lingkungan industri Becak Vespa. Tapi kini, saya tidak melihat jejaknya lagi, mungkin lokasi industri ini pindah ke lain wilayah di dalam kota

Sumber foto: 
http://fastrektamiya.blogspot.com;
http://alnasdalamtulisan.blogspot.com;
http://www.medanbisnisdaily.com

1 komentar:

Anonim mengatakan...

lumayan mantap bah, apalagi kata2 "aerodimis", hahahhaa,, mantap2