29/01/11

Prasarana Transportasi dan Telekomunikasi di Wilayah Tapanuli Bagian Selatan Masih Jauh Dari Yang Diharapkan

Oleh Akhir Matua Harahap

Infrastruktur transportasi dan telekomunikasi merupakan aspek yang sangat penting dalam menunjang percepatan pembangunan di wilayah Tapanuli Selatan. Dibanding wilayah pembangunan lain yang setara, pengembangan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi di wilayah Tapanuli Selatan sungguh sangat memprihatinkan. Pembangunan yang ada selama ini, terkesan belum memenuhi harapan seluruh masyarakat, khususnya penduduk pedesaan. Di daerah-daerah pedesaan masalah akses ini tidak hanya dibutuhkan untuk pergerakan orang tetapi juga aliran keluar komoditi pertanian dan aliran masuk barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Akses yang sangat minim menuju desa-desa di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan tidak saja menghambat perkembangan masyarakat tetapi juga memberi pengaruh pada penurunan kesejahteraan penduduk.

20/01/11

Membangun Desa Tertinggal di Wilayah Tapanuli Selatan: Mulai Dengan Listrik

Oleh Akhir Matua Harahap

Dari 5.394 desa/kelurahan di Sumatra Utara, terdapat sebanyak 373 desa yang sama sekali belum memiliki listrik (BPS:Podes-2008). Yang sangat memprihatinkan dari semua desa yang belum memiliki listrik alias desa 'gelap gulita' tersebut justru hampir separuhnya (37,1 persen) terdapat di wilayah Tapanuli Selatan. Di Kabupaten Padang Lawas Utara terdapat sebanyak 85 desa, di Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 58 desa, di Kabupaten Mandailing Natal sebanyak 24 desa dan di Kabupaten Padang Lawas sebanyak sembilan desa lagi (Tabel-1).

18/01/11

Cara Memahami Tabulasi Data

Oleh Akhir Matua Harahap

Sumber Data

BPS biasanya menyajikan data  penduduk hasil sensus penduduk (SP) berdasarkan buku nasional, buku provinsi dan buku kabupaten kota. Penyajian data penduduk tersebut pada masing-masing buku dilakukan dengan format yang sama dari waktu ke waktu. Dengan format yang sama, maka data diharapkan dapat diperbandingkan antar provinsi. Demikian juga antar kabupaten kota di dalam provinsi yang sama atau dengan kabupaten kota di provinsi lain (utamanya yang terdekat). Juga antar kecamatan di dalam kabupaten kota yang sama atau kecamatan lain yang terdekat di provinsi tetangga. Dengan format yang sama juga data dapat diperbandingkan antar waktu pada wilayah yang sama.

15/01/11

Cara Membuat Kolam Renang Mini di Rumah


Oleh Akhir Matua Harahap

Olahraga renang merupakan salah satu bentuk olahraga yang yang menyehatkan, menyenangkan dan mampu membuat semua anggota keluarga bergembira ria. Keutamaan renang karena mampu  memberi  efek pada gerakan semua tubuh khususnya kaki, tangan dan leher/kepala. Gerakan leher/kepala ini sangat membantu menjaga keseimbangan sirkulasi darah/saraf dari tubuh ke otak/kepala melalui ‘bottle neck’ di leher. Kebiasaan kita membaca dan menulis apalagi dengan menggunakan computer berjam-jam dari dulu hingga nanti dapat memberi pengaruh pada kelenturan/kekakuan di leher/pundak. Mengatur keseimbangan antara kebiasaan kita dengan peranan renang dalam menjaga fungsi keseimbangan utamanya leher/pundak menjadi penting.

Persoalannya adalah keinginan untuk berenang kerap dihadapkan pada persoalan akses ke kolam renang: jauh dari rumah, repot, mahal (kalau rutin)—belum lagi mempertimbangkan kesehatan/kebersihan kolam renang dan privasi (terutama aurat).

Untuk mengatasi kebutuhan soal berenang dan kendalanya tadi, membuat kolam renang sendiri adalah solusinya. Akan tetapi membuat kolam kerap terdengar atau terkesan mahal apalagi melalui konsultan atau kontraktor.  Tulisan ini coba menginformasikan bahwa membuat kolam renang dapat dilakukan sendiri dan justru murah. Murah karena kita dapat menyiasatinya dan ukuran kolam mini  kira-kira seluas 5x2,5 meter, volume air 10-15 kubik dengan kedalaman bervariasi antara 80 cm hingga 180 cm.



Bagaimana memulainya?

Data dan Informasi Dalam Pembangunan Daerah

Oleh Akhir Matua Harahap

Dalam era informasi yang sekarang, pemahaman (understanding) terhadap data dan informasi sangatlah penting. Sebab, data dan informasi, ibarat energi dan mesin di era industri. Perencanaan dan evaluasi pembangunan sendiri sangat tergantung dari data dan informasi agar perencanaan yang disusun lebih terarah (masuk akal) dan agar evaluasi menjadi valid dan akurat (sahih). Dalam hal ini peranan computer (berbagai software dan hardward) dan internet menjadi alat bantu yang tidak terpisahkan dari berbagai aktivitas sehari-hari. Ini berarti mau tak mau kegiatan riset dan pemahaman terhadap metodologinya menjadi lebih strategis.

Measurement Dalam Riset Bisnis

Oleh Akhir Matua Harahap 

1. Pendahuluan 

Sebagaimana dalam proses penelitian atau kerangka laporan yang dimulai dari permasalahan dan menetapkan tujuan yang dilanjutkan pada pemahaman teoritis, maka sebenarnya secara implicit kita sudah diperkenalkan dengan variable dan unit analisis. Hanya saja variable apa saja yang secara khusus diperhatikan dalam studi dan unit analisis apa yang ditetapkan belum diuraikan secara definitif dan operasional. Dalam bagian metodologi definisi operasional dari variable dan unit analisis tersebut akan dinyatakan secara eksplisit. Pada tulisan terdahulu (Meneliti Itu Mudah) delapan komponen yang searah dengan tahap-tahap dalam proses penelitian itu kita hadirkan kembali yang disajikan pada Gambar-1.  

Metodologi Riset dalam Jajak Pendapat

Oleh Akhir Matua Harahap

TULISAN Denny JA PhD dengan judul ”Hidayat Nur Wahid, Presiden SMS” di Media Indonesia (22/12/2003) telah mengundang reaksi dari berbagai kalangan. Salah satu yang menyatakan reaksinya adalah Dr Ibnu Hamad, dengan tulisan berjudul ”Jadi Presiden karena Media, Mengapa Tidak?” (Media Indonesia, 29/12/2003). Pada pokoknya debat itu menekankan pada masalah di seputar penerapan metodologi riset di satu sisi dan penjajakan siapa yang menjadi presiden pada Pemilu 2004 di sisi lain. Denny JA pada dasarnya mengkritik secara keras atas metodologi yang diterapkan dalam jajak pendapat pada polling oleh SCTV tentang siapa yang bakal jadi presiden nantinya.

Meneliti Itu Mudah

Oleh Akhir Matua Harahap

1. Pengantar 

Ada anggapan bahwa meneliti itu sulit ada benarnya. Akan tetapi jika anggapan yang demikian diakui terus menerus dapat mengakibatkan sejumlah konsekuensi. Pertama, minat meneliti dari golongan pemula dapat terhambat sehingga pertambahan jumlah peneliti semakin kecil. Penurunan minat ini sudah dirasakan, apabila kita perhatikan kecenderungan yang sekarang, bahwa mahasiswa program sarjana lebih menyukai jalur non-skripsi daripada jalur skripsi. Di satu sisi perubahan kurikulum—skripsi yang sebelumnya bersifat wajib menjadi pilihan—memberi dampak pada penurunan minat meneliti, sedangkan di sisi lain adanya pilihan dalam kurikulum, seakan memperkuat anggapan tugas meneliti itu sulit.