18/01/11

Cara Memahami Tabulasi Data

Oleh Akhir Matua Harahap

Sumber Data

BPS biasanya menyajikan data  penduduk hasil sensus penduduk (SP) berdasarkan buku nasional, buku provinsi dan buku kabupaten kota. Penyajian data penduduk tersebut pada masing-masing buku dilakukan dengan format yang sama dari waktu ke waktu. Dengan format yang sama, maka data diharapkan dapat diperbandingkan antar provinsi. Demikian juga antar kabupaten kota di dalam provinsi yang sama atau dengan kabupaten kota di provinsi lain (utamanya yang terdekat). Juga antar kecamatan di dalam kabupaten kota yang sama atau kecamatan lain yang terdekat di provinsi tetangga. Dengan format yang sama juga data dapat diperbandingkan antar waktu pada wilayah yang sama.


Data-data yang disajikan antara lain sebagai berikut (SP-2000 Sumatra Utara): Notasi Y dan X ditambahkan hanya sekadar untuk mengkontraskan.

·        Agama (Y) menurut kabupaten kota (X)
·        Suku bangsa (Y) menurut golongan umur (X)
·        Status migrasi (seumur hidup (Y1) , risen (Y2) menurut kabupaten kota (X)
·        Penduduk berumur 5 tahun ke atas berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan (Y) menurut golongan umur (X1), kabupaten kota (X2)
·        Penduduk berumur 15 tahun ke atas berdasarkan jenis kegiatan (Y) menurut golongan umur (X1); kabupaten kota (X2), pendidikan tertinggi yang ditamatkan (X3).
Catatan: Jenis kegiatan terdiri dari bekerja, mencari pekerjaan, bersekolah, lainnya.
·        Penduduk berumur 15 tahun ke atas berdasarkan yang bekerja (Y) menurut golongan umur (X1); kabupaten kota (X2), pendidikan tertinggi yang ditamatkan (X3)
·        Penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja berdasarkan lapangan usaha (Y) menurut golongan umur (X1), kabupaten kota (X2).
·        Penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja berdasarkan status pekerjaan (Y) menurut golongan umur (X1), kabupaten kota (X2), lapangan usaha (X3)

Data-data yang disajikan umumnya dalam bentuk angka absolut (nominal)—bukan angka relatif (persentase). Kedua bentuk angka tersebut dapat digunakan salah satu atau keduanya tetapi penggunaannya dalam konteks atau maksud yang berbeda. Jika kita ingin melihat perbedaan relatif maka angka persentase lebih memuaskan atau lebih bermakna.

Cara membaca tabel

Hal yang pertamakali kita pikirkan sebelum memahami tabel statistik adalah bagaimana kita membacanya dan menyajikannya (atau sebaliknya). Seperti ditandai di atas, notasi (Y dan X) ditambahkan untuk menekankan perlunya mengetahui apa yang menjadi tujuan, dependen, kepala atau apapun namanya) dan apa yang menjadi asal, independen, ekor atau apapun namanya). Cara lain yang perlu kita sadari bahwa notasi Y dan X itu dapat dianggap sebagai variabel. Misalnya: Y=f(X), dimana Y adalah variabel ‘bekerja’ dan X adalah variabel ‘pendidikan’ yang dibaca sebagai Y fungsi X atau ‘bekerja’ fungsi ‘pendidikan’ atau lebih lugas dapat dibaca: ‘bekerja’ dipengaruhi oleh ‘pendidikan’.

Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah karakteristik bentuk tabel. Jika tabel dibentuk/terbentuk dari dua variabel maka akan tabel akan menjadi matrik. Andaikan masing-masing variabel memiliki dua kategori maka matrik (tabel) berbentuk 2x2. Jumlah kategori yang berbeda-beda matriknya menjadi 2x3, 3x2, 3x5 dan sebagainya. Untuk mudahnya matrik tersebut sebaiknya dipandang sebagai kolom terhadap baris atau dengan kata lain dependen terhadap independen. Ini berarti, jika matrik 3x5 maka dapat dibaca bahwa dependen (kolom/tegak) terdiri tiga kategori dan independen (baris/datar) terdiri dari lima baris. Data-data yang disajikan BPS umumnya mengikuti pola ini. Untuk data-data yang bersumber dari lainnya harap cermat membacanya karena bisa jadi data disajikan terbalik dari pola ini.  Oleh karena itu, dalam membaca tabel yang terpenting adalah bagaimana membacanya apa yang menjadi tujuan/dependen dengan apa yang menjadi asal/independen sesuai kolom/baris yang ada.

Hal lainnya yang juga perlu diperhatikan adalah tentang jumlah (total). Jumlah ini ada baiknya terdapat pada baris (terakhir) maupun pada kolom (terakhir) pada sel matrik/tabel. Kolom atau baris jumlah ini berbeda maksudnya dan kebutuhannya dalam analisinya. Jumlah (kolom atau baris) adalah dasar (referensi) untuk melihat distribusi pada masing-masing kategori. Oleh karena itu sebaiknya kedua jumlah (kolom dan baris) tersedia. Jika pemahaman utama kita dalam membaca tabel hanya untuk menginterpretasi dependen terhadap independen (tujuan terhadap asal), maka jumlah pada baris (independen) saja sudah mencukupi.

Cara analisis data

Sesungguhnya cara kita membaca ’judul’ tabel sudah mengindikasikan bahwa kita telah memulai menganalisis data tabel. Langkah-langkah selanjutnya adalah sebagai berikut;
  • Lihat grand total—yang menunjukkan besarnya populasi atau sampel yang diperhatikan (misalnya penduduk berumur 15 tahun ke atas)
  • Perhatikan distribusi kolom pada baris jumlah (baris terakhir)—dalam persen
  • Lihat modus dalam distribusi tersebut (yang paling banyak)—untuk mengetahui hal yang menarik untuk dipelajari.
  • Perhatikan distribusi baris pada kolom modus—untuk memahami kecenderungannya
  • Lakukan hal yang sama untuk modus berikutnya yang dianggap juga penting
  • Mungkin kita tertarik  melihat perbedaan kelompok (klaster) pada baris—lakukan penjumlahan sebelum menghitung persentasenya—lakukan proses yang sama seperti sebelumnya

Dengan analisis di atas, kita dapat menginterpretasi hasilnya untuk melihat hal yang menarik (modus) untuk diperhatikan dan mengetahui perbedaan antar kelompok dari kecenderungan yang ada. Perbedaan tersebut mengindikasikan apakah kelompok yang satu lebih besar atau lebih kecil atau sama saja dengan kelompok yang lainnya. Misalnya: perbedaan antar wilayah kabupaten vs wilayah kota; antar golongan usia tua vs usia muda; antar kelompok pendidikan rendah, menengah dan tinggi, antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya. 

Untuk keperluan tindak lanjut dari hasil analisis tersebut kita juga perlu memperhatikan apakah kedua variabel yang diperhatikan bebas satu sama lain (independensi) atau tidak. Dengan kata lain apakah kedua variabel tersebut memiliki relasi. Jika ada relasi (tidak bebas) maka variabel independen dapat kita intervensi dengan suatu kegiatan agar variabel tujuan terpengaruh (berubah). Jika tidak ada relasi antar kedua variabel tersebut, hasil analisisnya hanya dipandang sebagai sekadar informasi saja. Catatan: Bagaimana cara untuk menguji independensi (relasi) dapat dilakukan dengan cara Chi-square (X2). Metode ini akan diuraikan dalam artikel tersendiri.

Penutup

Dengan memahami cara yang diuraikan di atas, kita dapat mendefinisikan tujuan kita, cara membacanya data tabel, bagaimana melakukan pengolahan datanya, menganalisisnya sehingga ditemukan kesimpulan. Dari kesimpulan itu, kita juga dapat mengkonstruksi apa yang perlu diusulkan (rekomendasi) untuk kegiatan intervensi (mempengaruhi tujuan dengan intervensi kegiatan pada kondisi yang dihadapi). Akhir Matua Harahap.

Lambang BPS

Tidak ada komentar: