15/01/11

Meneliti Itu Mudah

Oleh Akhir Matua Harahap

1. Pengantar 

Ada anggapan bahwa meneliti itu sulit ada benarnya. Akan tetapi jika anggapan yang demikian diakui terus menerus dapat mengakibatkan sejumlah konsekuensi. Pertama, minat meneliti dari golongan pemula dapat terhambat sehingga pertambahan jumlah peneliti semakin kecil. Penurunan minat ini sudah dirasakan, apabila kita perhatikan kecenderungan yang sekarang, bahwa mahasiswa program sarjana lebih menyukai jalur non-skripsi daripada jalur skripsi. Di satu sisi perubahan kurikulum—skripsi yang sebelumnya bersifat wajib menjadi pilihan—memberi dampak pada penurunan minat meneliti, sedangkan di sisi lain adanya pilihan dalam kurikulum, seakan memperkuat anggapan tugas meneliti itu sulit.    


Kedua, individu yang terlibat dalam penelitian kurang bergairah untuk melipatgandakan jumlah penelitian yang seharusnya bisa dilakukan. Dalam jangka panjang hal ini dapat menekan pertumbuhan dan perkembangan dunia penelitian itu sendiri. Di satu sisi, media yang dapat menampung hasil-hasil penelitian, seperti koran, majalah, jurnal dan buku (bunga rampai hasil penelitian) akan selalu kekurangan pasokan dari ‘dapur’ penelitian. Di sisi lain, kontribusi peneliti pada kegiatan yang membutuhkan ‘campur tangan’ para peneliti menjadi tidak maksimal.             

Sangat disayangkan memang jika indikasi kurang dinamisnya insan  dunia penelitian dan semakin menurunnya minat para pemula untuk terlibat dalam dunia penelitian hanya semata-mata karena anggapan bahwa  meneliti itu sulit. Hal ini jelas tidak sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan pada hasil-hasil penelitian (text) dan permintaan terhadap peran para peneliti di berbagai bidang. Apalagi kini semakin banyak lembaga-lembaga penelitian yang didirikan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus, serta semakin dirasakannya fungsi ‘litbang’ di kantor-kantor pemerintah maupun research and development (R&D) pada perusahaan-perusahaan.  

Sehubungan hal di atas, tulisan ini disiapkan guna lebih  menggairahkan dunia penelitian itu sendiri dan secara khusus  mendorong pemula agar lebih termotivasi untuk terlibat dalam penelitian. Tulisan ini mengacu pada asumsi bahwa semua individu  (minimal mahasiswa) memiliki naluri untuk meneliti. Dengan kata lain, bahwa setiap orang dari mereka dapat melakukan kegiatan penelitian. Namun kenyataannya tidak demikian, ibarat semua orang bisa berjalan, tetapi nyatanya hanya sebagian kecil yang bisa berbaris.

Untuk tujuan proses pembelajaran, inti tulisan ini pada dasarnya ingin menggagas bahwa meneliti itu tidak sulit  dan juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memahaminya. Memang setiap orang bisa berjalan karena didasarkan pengalaman (dialami dan butuh waktu lama). Akan tetapi untuk bisa meneliti sesungguhnya bisa ditempuh melalui proses belajar berbaris (dipelajari dan lebih singkat). Oleh karena itu,  gagasan tulisan ini ingin menunjukkan taktik mudah dalam proses pembelajaran bagi pemula dalam proses penelitian melalui mekanisme pemahaman aturan berbaris. Namun demikian, sekalipun metode dan teknik yang akan diuraikan ditujukan untuk pemula (mahasiswa khususnya), tapi juga diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti lanjut, minimal sebagai pembanding terhadap pengalaman yang dimiliki.  

2.  Report-based 

Suatu penelitian selalu mengharapkan laporan yang baik dan benar. Laporan penelitian tidak hanya mendokumentasikan kegiatan penelitian itu sendiri (log), tetapi laporan itu juga menjadi tujuan akhir suatu penyelenggaraan kegiatan penelitian. Keutamaan laporan kegiatan penelitian juga berfungsi sebagai salah satu instrumen penting dalam pertukaran informasi. Dalam prosesnya, laporan penelitian juga menjadi  sarana utama untuk memberi kesempatan bagi pihak lain (pembaca) dalam memberi tanggapan. Secara normatif suatu penelitian harus tertulis yang memungkinkan hasilnya mudah  disebarluaskan dan  dilakukan verifikasi. Begitu penting laporan ini, maka membicarakan laporan seakan kita membicarakan proses penelitian itu sendiri. Oleh karena itu, mari kita mulai dari struktur laporan penelitian itu sendiri.  

Pada dasarnya suatu laporan  penelitian (research report) terdiri dari sejumlah aspek yang pada pokoknya berisi delapan  komponen penting, yaitu: permasalahan (problem), tujuan (objective), teoritis (theoretical thinking), metodologi (methodology), hasil (result), pembahasan (discussion), kesimpulan (conclusion) dan saran (reccomendation). Selama ini, banyak pemula memperlakukan masing-masing komponen tersebut terpisah satu sama lain. Sekarang mari kita susun delapan komponen laporan itu di dalam satu diagram (Gambar-1).  


Gambar-1 sesungguhnya memperlihatkan suatu pola yang disusun sedemikian rupa yang dimaksudkan sebagai ‘peta mental’ dan mengindikasikan aspek-aspek yang standar dalam laporan penelitian. Pola tersebut dapat dipahami sebagai berikut:

Semua komponen tersusun berbaris, yang satu mengikuti yang lain, dan akhirnya membentuk suatu lingkaran. Prosesnya dimulai dari permasalahan, kemudian tujuan, lalu teoritis dan selanjutnya metodologi. Setelah metodologi proses bergeser ke hasil, lalu pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi. Selanjutnya proses tersebut berbalik yakni dari rekomendasi (di sebelah kanan) kembali ke permasalahan (di sebelah kiri). 

Pada kolom sebelah kiri, semua panah menuju ke bawah () dan pada kolom sebelah kanan semua panah menuju ke atas (­). Ini berarti, antara dua kolom tersebut memiliki arah yang berbeda. Komponen-komponen yang terdapat pada kolom kiri menjadi  komponen dasar suatu rencana penelitian (proposal), dan komponen-komponen yang terdapat pada kolom kanan menjadi komponen dasar suatu hasil penelitian (report). Namun yang perlu diperhatikan bahwa kolom kiri dan kolom kanan dipandang sebagai hal yang berhadapan (vis-à-vis) yang membentuk bidang datar penalaran dalam proses penyusunan laporan. Suatu laporan lengkap (complete report) meliputi semua komponen.

Komponen-komponen yang terdapat pada masing-masing kolom dapat dihubungkan dengan suatu garis penghubung. Garis panah ke arah  kanan () menghubungkan metodologi dengan hasil, juga menjadi garis belok dari kolom kiri ke kolom kanan. Garis panah ke arah kiri () menghubungkan rekomendasi dengan permasalahan, juga menjadi garis belok dari kolom kanan ke kolom kiri. Dua garis lainnya adalah garis interaksi () yaitu antara teoritis dengan pembahasan dan tujuan dengan kesimpulan. Berdasarkan diagram ‘peta mental’ laporan penelitian di atas, maka untuk praktisnya dapat kita mulai dari titik permasalahan. Ini berkaitan dengan suatu norma penelitian dimulai dari adanya permasalahan. Dalam diagram ‘peta mental’, komponen permasalahan berhubungan dengan komponen tujuan (2) dan juga dengan rekomendasi (8). Ini artinya, ketika kita telah menentukan permasalahan, maka pada langkah berikutnya dalam proses penelitian kita akan menetapkan tujuan sekaligus juga membayangkan rekomendasi apa yang diharapkan nanti dalam menjawab permasalahan.  Dengan mengikuti pola berpikir serupa ini kita bisa terapkan untuk semua komponen. Misalkan, kita sudah menetapkan tujuan, maka ada tiga komponen yang berhubungan langsung dengan tujuan tersebut, yaitu: permasalahan (sebelumnya/vertikal) dan teoritis (berikutnya/vertikal) serta kesimpulan (selanjutnya/horizon). Hal yang sama jika kita kini berada pada komponen pembahasan, dimana apa yang kita bahas adalah hasil (sebelumnya) sambil membandingkannya dengan teoritis (horizon) yang memungkinkan kita  membuat kesimpulan (berikutnya) secara akurat.    

Pada diagram Gambar-1 di atas, data yang kita hadirkan berada diantara kolom kiri dengan kolom kanan. Dalam hal ini data merupakan unsur penting untuk menunjukkan bukti pada proses penelitian yang bersifat empiris (evidence). Ini berarti, data merupakan sesuatu yang harus disediakan atau dihadirkan, tetapi caranya seyogianya sudah direncanakan secara rinci pada bagian metodologi di dalam proposal. Selanjutnya, data ini kita olah sesuai dengan metode analisis yang juga direncanakan pada bagian lain metodologi dalam proposal. Output proses pengolahan dan analisis ini kita sebut sebagai hasil (result).

3. Research process vis-à-vis report 

Dengan mengenal ke delapan aspek laporan kita dapat melacak kembali (tracking)  proses penelitian atau tahapan-tahapan suatu penelitian. Tahapan-tahapan tersebut sebagai berikut:

(1)   Suatu penelitian haruslah memiliki masalah. Dengan adanya masalah maka kita ingin melakukan penelitian. Dalam hal ini, masalah adalah keadaan yang menunjukkan adanya perbedaan (gap) antara apa yang dipikirkan pada kenyataan yang dihadapi atau kondisi sekarang (existing) dengan apa yang diharapkan. Sesuatu yang dipikirkan biasanya bersifat positif (apa adanya), sedangkan sesuatu  yang diharapkan bersifat normatif (seharusnya). Misalnya, selama setahun terakhir ini angka penjualan semakin menurun. Keadaan yang menurun itu merupakan kenyataan yang dihadapi, sedangkan harapannya adalah konstan (datar). Perbedaan antara yang menurun dengan konstan ada gap dan hal ini mengindikasikan adanya masalah. Contoh lainnya adalah bahwa belum ada data tentang pekerja anak di Indonesia. Itulah kenyataannya dan seharusnya data pekerja anak itu tersedia sehingga dapat diketahui berapa banyak jumlah pekerja anak yang sebenarnya. Perbedaan antara “tidak adanya data” dengan “seyogianya tersedia data” mengisyaratkan adanya  gap dan dengan demikian berarti ada masalah. Cara yang demikian ini merupakan kiat atau strategi dalam merumuskan masalah. 

(2)   Setelah kita berhasil merumuskan masalah dan mengenal masalah yang dihadapi, berikutnya kita dapat menetapkan tujuan penelitian. Agar mudah menetapkan tujuan penelitian sebenarnya kita terlebih dahulu mengajukan pertanyaan dari masalah yang dirumuskan sebelumnya. Dengan kata lain, setelah menetapkan masalah  sebelum masuk pada penetapan tujuan, kita masih perlu mengajukan pertanyaan penelitian. Untuk mempermudah membuat pertanyaan gunakan 5W+1H (what, who, why, where dan when serta how). Masing-masing kata tanya tersebut dapat dipilih secara bebas  untuk membentuk pertanyaan yang pada intinya sesuai dengan masalahnya. Pertanyaan mengenai masalah misal di atas menjadi: (a) Apa (what) yang menyebabkan angka penjualan menurun?; (b) Berapa (how much)  banyak jumlah pekerja anak?. Sejumlah pertanyaan dari masing-masing masalah tersebut bisa dikembangkan lebih banyak lagi dengan berpedoman pada 5W+1H. Dengan demikian, adanya pertanyaan yang diajukan, maka kita akan lebih mudah menentukan tujuan penelitian. Dalam menetapkan tujuan mungkin kita harus memilih satu atau beberapa dari sejumlah pertanyaan karena mungkin kita lebih tertarik atau lebih membutuhkan pertanyaan yang hanya sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan. Untuk memudahkan menetapkan tujuan digunakan kata kerja. Jadi. tujuan penelitian dalam misal di atas, adalah: (a) untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi (menyebabkan) penjualan menurun, dan (b) untuk mengetahui berapa banyaknya jumlah pekerja anak. 

(3)   Setelah menetapkan tujuan penelitian, pertama-tama yang kita pikirkan adalah bagaimana cara kita sampai ke tujuan atau metode apa yang digunakan. Akan tetapi, seringkali  kita mengalami kesulitan dalam memilih dan menentukan metodenya mengingat metode dan teknik penelitian itu sendiri jumlahnya sangat banyak yang satu sama lain mungkin bersifat unik. Dalam mengidentifikasi dan memilih metode, akan menjadi mudah jika terlebih dahulu kita melakukan tinjauan terhadap konteksnya secara teoritis. Ini sangat perlu mengingat gambaran konteks ini tidak hanya penting untuk menyusun metode yang paling efisien, tetapi justru dengan mempelajari konteks terlebih dahulu memungkinkan kita lebih mudah (efektif) dalam menetapkan metode yang paling sesuai (reliable). Disamping itu, deskripsi atau uraian konteks ini menjadi pembanding  nantinya pada saat kita membahas hasil yang diperoleh pada bagian pembahasan. Sumber yang kerap dijadikan dasar pengembangan (tinjauan atau ulasan) teoritis adalah teori (grand theory), hasil penelitian yang lain (research findings) dan  hasil pemikiran sendiri (common sense). Sumber yang kita pilih bisa salah satu (tergantung tingkat ketersediannya), atau kombinasi dua atau tiga sumber sekaligus. Uraian teoritis yang disajikan bukan hanya sekadar kompilasi dari berbagai sumber, tetapi seyogianya dibuat dalam bentuk esai sehingga uraian teoritis menjadi padu dan kuat. Uraian teoritis ini bisa disebut sebagai kerangka pemikiran, tinjauan pustaka dan setting. Penting menempatkan uraian teoritis sebelum metodologi, karena di dalam uraian teoritis yang bersumber pada penelitian lain kita dapat mempelajari  metode yang digunakan dalam penelitian terdahulu tersebut. 

(4)   Setelah kita memiliki masalah, pertanyaan dan tujuan serta konteksnya, maka  tiba gilirannya kita mulai memikirkan berbagai metode yang kita gunakan dalam mencapai tujuan penelitian. Semua metode yang digunakan itu biasanya dirangkum sebagai metodologi. Pada metodologi ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu: data dan informasi. Pada hakekatnya data tidak memiliki makna (meanings), yang memiliki makna hanyalah informasi. Data mencerminkan studi empiris, sedangkan informasi merupakan suatu “pengetahuan” yang kita peroleh dari penelitian itu sendiri. Dalam hal ini, informasi dihasilkan dari data.  Oleh karena itu ada dua aspek yang dibicarakan dalam metodologi ini, yaitu (a) aspek yang berkenaan dengan metode yang berkaitan dengan data (bagaimana data tersedia atau data dikumpulkan), dan (b) aspek yang berkenaan dengan metode yang berkaitan dengan informasi dibentuk (bagaimana menganalisis dan interpretasi data menjadi berbagai informasi). Kedua aspek ini (data dan informasi) saling berkaitan (lihat Gambar-2).  

(a)    Data. Data adalah kombinasi unit analisis (n)  dan variabel (v). Unit analisis (unit of analysis) merupakan objek utama yang ingin diteliti, seperti individu, rumahtangga, perusahaan atau unit-unit lain [Sebagai catatan, objek dalam suatu penelitian bisa sebagai suatu kejadian (event)]. Sedangkan variabel (variable) adalah pengukuran pada unit-unit analisis yang nilainya berbeda-beda (vary), seperti umur, pendapatan, atau nilai penjualan. Untuk memudahkan pemahaman kita tentang suatu data, buatlah satu table (matrik) dimana unit analisis berada pada baris dan variabel pada kolom. Nilai-nilai yang terdapat dalam tabel  (lihat Gambar-3) yang merupakan koordinat-koordinat antara unit analisis dan variabel dapat kita katakan sebagai tipologi data. 

Dengan mengacu pada tipologi data di atas (Gambar-3), jumlah minimal  n sama dengan satu dan maksimal sama dengan semua (population). Sedangkan jumlah minimal v sama dengan satu dan jumlah maksimal v tidak terbatas. Jika jumlah n atau v tersebut kita ringkas sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar-4, kita dapat menentukan apakah data bersifat kuantitatif atau kualitatif. Untuk memudahkan pemahaman, data dikatakan bersifat kuantitatif jika jumlah unit analisis lebih banyak dari variabel (n>v), dan sebaliknya bersifat kualitatif jika jumlah unit analisis lebih sedikit dari variabel (n<v). Dengan kata lain antara n dan v bersifat trade-off.   

Dalam suatu penelitian empiris (data-based), unit analisis (n) sebagai objek/kejadian pengamatan haruslah ada dan jumlahnya minimal satu. Pada penelitian dengan pendekatan kualitatif, studi kasus (case study) mengindikasikan satu unit analisis yang memerlukan banyak variabel untuk menjelaskan permasalahannya. Penelitian kualitatif juga bisa dilakukan dengan beberapa unit analisis (comparative study). Sedangkan dalam suatu penelitian dengan pendekatan kuantitatif kita dapat menggunakan minimal satu variable pada suatu populasi (study of census). Namun dalam perkembangannya dengan penerapan teknik sampling dimungkinkan untuk mempelajari sebagian dari populasi (sampel) yang kita kenal sebagai survei (survey technique).

Suatu penelitian bersifat kuantitatif sesungguhnya memerlukan jumlah unit analisis tertentu, yang semakin banyak semakin baik dan yang terbaik adalah sama dengan populasi. Dalam hal ini, variabel ditentukan terlebih dahulu dan banyak variabel yang digunakan tertentu pula (given). Sementara itu, jumlah variabel dalam studi kualitatif memerlukan banyak variable dan jumlahnya tidak bisa ditentukan terlebih dahulu. Sedangkan jumlah unit analisis harus ditentukan terlebih dahulu dan banyaknya unit analisis tertentu pula (given). Misalnya studi tentang perusahaan A, komunitas B, atau kejadian C. Oleh karena itu, dalam bagian metodologi, yang pertama-tama kita tentukan adalah strategi apa yang kita pilih (kuantitatif atau kualitatif) baru kemudian menguraikan perihal yang berkaitan dengan unit analisis dan variabel. Sehubungan dengan itu, studi kuantitatif sangat menekankan perlunya mendefinisikan lebih awal tentang populasi secara jelas dan daripadanya baru kita bisa menetapkan banyaknya sampel dan metode sampling yang digunakan. Terhadap unit-unit analisis ini di dalam sampel kita melakukan pengukuran variable (measurement) yang umumnya digunakan instrumen berupa kuesioner (standard questionnaire) baik dengan teknik wawancara maupun pengamatan (observation). Sedangkan dalam  studi kualitatif sangat menekankan perlunya mengapa unit analisis yang dipilih dijadikan sebagai objek penelitian. Selanjutnya, perhatian diarahkan untuk menggali dan mendalami variabel-variabel yang menjelaskan fenomena atau sesuatu yang diharapkan pada satu unit analisis. Misalnya suatu isu/topik tertentu dialamatkan pada satu, perusahaan, atau suatu kawasan atau komunitas seperti desa, kecamatan atau kabupaten.  Instrumen pengumpulan data dan keterangan biasanya disiapkan dalam bentuk guidance. Teknik pengumpulan data (variabel dan hubungan variabel yang tengah dipelajari) dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara wawancara mendalam (indepth interview) terhadap sejumlah informan yang memenuhi kualifikasi dan kapabel memberi keterangan atau dengan cara pengamatan berpartisipasi (participant observation) di dalam area penelitian.  Teknik lain yang juga popular adalah dengan mengumpulkan data (variabel dan hubungan variabel) pada grup-grup yang didefinisikan yang dikenal sebagai FGD (focus group discussion). 

(b)      Informasi. Pada dasarnya suatu penelitian dirancang dan diselenggarakan  sedemikian teknis dengan maksud mendapatkan informasi yang benar (fit) untuk digunakan sebagai input dalam proses memecahkan permasalahan (problem solving) dalam suatu keputusan yang dibuat (decision making). Sebagai catatan, informasi di dalam uraian seyogianya dibedakan dari keterangan (talks) atau berita (news). Secara substansial informasi merupakan suatu pernyataan (statement), bersifat permanen dalam konteks ruang dan waktu, dan keabsahannya selalu dapat diverifikasi. Oleh karena itu, informasi yang dibangun dari suatu penelitian yang bersifat empiris bertumpu pada data. Karena itu, data dalam pengertian kuantitatif setara dengan keterangan atau berita di dalam studi kualitatif. Dengan demikian, data yang dikumpulkan dari suatu proses penelitian perlu dianalisis dan diinterpretasi dengan teknik-teknik analisis yang sesuai dengan data. Suatu studi sampel tunggal, informasi dasar yang dapat dianalisis berupa ukuran-ukuran pemusatan (mean, median atau modus) dan ukuran-ukuran dispersi (range atau standar deviasi). Untuk studi dua sample atau lebih ditekankan untuk mendapatkan informasi yang didasarkan atas perbedaan ukuran-ukuran antar sampel. Dalam studi kuantitatif juga dimungkinkan untuk melihat relasi antar variabel (korelasi), baik dengan menggunakan data cross-section atau time-series atau kombinasinya yang disebut panel data. Metode statistik (atau dengan pemodelan matematis) dalam analisis juga dapat diterapkan antara lain, ordinary least square (regresi),  maximum likelihood (logit, probit) atau kombinasinya (tobit, sample selection bias). Sementara dalam studi kualitatif, analisis dilakukan dengan memahami kekuatan variabel maupun hubungan antar variabel dalam suatu kontruksi sosial (konsep, tipologi atau model). Salah satu teknik analisis yang dapat digunakan dalam hal ini adalah content analysis.  

(5)   Setelah melalui pengolahan data (kuantitatif atau kualitatif) dengan teknik analisis yang dipilih, maka pertama-tama hasilnya kita sajikan dalam bagian tersendiri. Namun sebelumnya, hasil-hasil yang masih berupa print-out komputer khususnya dalam analisis kuantitatif, kita periksa secara cermat apakah terdapat kesalahan dalam pembentukan file data, model atau prosedur penggunaan software. Jika sudah valid dan lengkap (semua error sudah dieliminasi), maka  hasil dapat disajikan dalam berbagai bentuk (tabel, gambar atau teks). 

(a)   Dari hasil pertama  pengolahan data, kita mulai melakukan analisis dan interpretasi yang hasil perumusannya dibuat dalam bentuk butir-butir temuan. Semua hasil atau temuan ini kita susun dan menjadi isi pada komponen hasil. Pada tahap berikutnya nanti, butir-butir tersebut diuraikan menjadi tulisan (teks). Selanjutnya untuk memperdalam hasil yang diperoleh pada analisis pertama, maka analisis selanjutnya dilakukan pada tingkat pembahasan.  

(b)    Dalam pembahasan, pokok temuan dalam analisis pertama dalam penelitian kita diperbandingkan dengan teori atau temuan pada penelitian lain yang disajikan pada uraian terdahulu (komponen teoritis). Tujuan membandingkan ini adalah untuk memastikan hasil penelitian yang dilakukan mendapatkan dukungan (perspektif). Dalam hal ini pembahasan diarahkan untuk mengkristalisasikan semua temuan.

(c)   Selanjutnya hasil pembahasan yang dilakukan diringkas menjadi kesimpulan yang merupakan pernyataan penting yang menggambarkan penemuan (findings) dari penelitian tersebut. Untuk memeriksa kesimpulan yang kita buat tersebut sudah lengkap atau belum, maka searah dengan perumusan, kesimpulan kita periksa kembali apakah  kesimpulan yang kita buat ini sudah sesuai atau memenuhi tujuan penelitian yang digariskan terdahulu.

(d)    Akhirnya, berdasarkan pokok-pokok kesimpulan yang digariskan dan dinyatakan, kemudian kita mulai merumuskan sejumlah rekomendasi yang kita kembangkan berdasarkan kesimpulan. Rekomendasi-rekomendasi yang diusulkan itu disajikan berupa uraian yang intinya untuk memberi input dalam pemecahan masalah, dimana masalah ini sudah dirumuskan dimuka.    

Selesai proses penelitian pada akhirnya kita harus menyusun suatu laporan lengkap secara tertulis. Dalam hal tertentu, adakalanya sebelum membuat laporan tertulis (formal) juga didahului laporan informal berupa slide yang berisi butir-butir seluruh rangkaian proses penelitian. Hasilnya dipresentasikan dalam pertemuan (seminar) untuk mengkomunikasikan hasil penelitian dengan stakeholder. Khusus dalam proyek penelitian, seminar ini dimaksudkan sebagai kesempatan untuk koreksi, sanggahan, dan pengakuan. Ketika semua bahan sudah siap dan semua masukan sudah diinventarisasi serta dievaluasi, maka laporan yang berbentuk slide tiba gilirannya untuk disusun menjadi laporan formal (final report). Struktur laporan akhir ini disusun berdasarkan bab, dimana masing-masing bab berisi komponen-komponen yang sudah diutarakan di atas (Gambar-5).  



Bab-1. Pendahuluan
  • 1.1. Permasalahan
  • 1.2. Tujuan penelitian
Bab-2. Tinjauan Teoritis
  • 2.1. Grand theory
  • 2.2. Hasil penelitian lain atau pendapat sendiri (common sense)
Bab-3. Metodologi Penelitian
  • 3.1. Data (Pengumpulan data: unit analisis dan sampling, variabel dan instrument
  • 3.2. Informasi (Analisis data: interpretasi dan findings)
Bab-4. Hasil dan Pembahasan
  • 4.1. Hasil (deskriptif atau inferensial)
  • 4.2. Pembahasan
Bab-5. Kesimpulan dan Rekomendasi
  • 5.1. Kesimpulan
  • 5.2. Rekomendasi 

Masing-masing bab dalam struktur laporan dapat dikembangkan menjadi sejumlah sub-bab (seksi), seperti Bab-1 (Pendahuluan) yang terdiri dari seksi 1.1. Permasalahan; dan seksi 1.2. Tujuan Penelitian. Hal yang sama juga dilakukan pada Bab-6 (Kesimpulan dan Rekomendasi), dimana bab ini terdiri dari dua seksi, yaitu: seksi 6.1. Kesimpulan; dan seksi 6.2. Rekomendasi.  Pada bab-bab yang lain dapat juga dibagi ke dalam seksi-seksi sesuai kebutuhan. Akan tetapi yang perlu diperhatikan dalam susunan bab adalah komponen harus berurutan. Misalnya ada juga yang menggabungkan hasil dan pmbahasan sebagai satu bab; pembahasan dan kesimpulan sebagai bab yang lain.  Sedangkan untuk proses akhir, jangan lupa melakukan tinjauan (review) dengan cara periksa silang (cross-check) terhadap masing-masing komponen yang berkaitan atau berhubungan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa  judul penelitian mencerminkan isi bab dari komponen-komponen laporan. Pada terakhir kegiatan (finishing touch) ada sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan, seperti melakukan editing, format tabel dan gambar, serta melengkapi unsur-unsur administrasi laporan seperti daftar isi dan lampiran-lampiran yang perlu disertakan. 

4. Report, Proposal dan TOR 

Berdasarkan diagram pada Gambar-1 yang disajikan sebelumnya, kita juga bisa membagi komponen-komponen berdasarkan hirarkinya menjadi dua tingkat, yakni komponen yang menjadi konsentrasi pembuat kebijakan (decision maker) dan komponen yang menjadi perhatian peneliti. Pembuat kebijakan, seperti manajer atau pimpro berperan dan berkepentingan dengan komponen permasalahan dan tujuan di satu segi, dan komponen kesimpulan dan rekomendasi di segi lain. Keempat komponen yang menjadi pusat perhatian mereka tersebut sesungguhnya lebih bersifat manajerial daripada bersifat analitikal. Sedangkan komponen teoritis dengan metodologi di satu segi dan hasil dengan pembahasan di segi lain, dimana komponen-komponen tersebut lebih bersifat akademik dan memerlukan proses berpikir yang lebih analitikal, merupakan fokus perhatian peneliti.             

Oleh karena itu, dalam suatu laporan penelitian sesungguhnya terjadi pertemuan dua dunia yang tampak berbeda tetapi dapat disatukan, yakni dunia manajemen (permasalahan manajemen dan memanfaatkan penelitian) dan dunia analitis (persoalan teknis akademis dan strategi pemilihan metode pada permasalahan). Dalam dunia akademis, penggagas atau orang yang punya masalah adalah peneliti itu sendiri termasuk mahasiswa yang tengah memikirkan skripsi. Sedangkan dalam dunia manajemen, penggagas adalah individu atau kelompok yang mendapat tugas untuk pembuatan kebijakan seperti manager atau pimpro. Khusus untuk proyek penelitian dan dalam situasi tertentu antara manager dan peneliti bisa saling mempertukarkan gagasan.         
   
Hubungan kerja penelitian yang tergambar dalam laporan penelitian prosesnya dimulai dari suatu kesepakatan tugas dan tanggungjawab penelitian, yang dari sisi peneliti dituangkan dalam proposal. Sebagaimana telah diutarakan sebelumnya bahwa proposal adalah suatu rencana, sedangkan laporan adalah dokumentasi kegiatan dan hasil-hasil yang diperoleh selama penelitian. Suatu laporan yang lengkap, berisi komponen proposal diluar kualifikasi, skedul dan alokasi anggaran penelitian, tetapi memasukkan bagian-bagian yang menyajikan hasil, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi serta lampiran yang melengkapi laporan (lihat Gambar-6). Persetujuan terhadap proposal dilanjutkan dengan surat perintah kerja (SPK) yang menjadi awal kegiatan penelitian yang sebenarnya.  

Dalam penelitian yang membutuhkan pertanggungjawaban anggaran, sebelum proposal disiapkan, peneliti menerima term of reference (TOR). TOR berfungsi sebagai nota kesepahaman (memory of understanding) antara pemberi kerja dan peneliti. Jika TOR disiapkan oleh pemberi kerja, maka proposal disiapkan oleh peneliti untuk menanggapi panduan penelitian dalam TOR. Dalam proposal, selain berisi uraian pengembangan metodologi juga berisi proposal anggaran dan proposal skedul yang disepakati. Dalam TOR, permasalahan sudah diutarakan dan tujuan penelitian sudah ditetapkan dan semuanya bersifat mengikat.            

Dalam TOR komponen ruang lingkup merupakan sejumlah butir pokok saja  yang digariskan oleh penggagas, sedangkan peneliti menanggapinya dalam proposal sebagai deskripsi teoritis dan uraian metodologis. Di dalam TOR sudah digariskan hasil yang diharapkan dari suatu penelitian secara umum. Pada pembahasan proposal, hasil yang diharapkan tidak perlu diulang lagi akan tetapi butir-butir dari hasil yang diharapkan dalam TOR menjadi panduan bagi peneliti dalam menyusun tinjauan teoritis dan metodologis sesuai dengan tujuan dan permasalahan yang diutarakan. Selanjutnya, masalah tenaga ahli, waktu dan biaya yang diminta dalam TOR dirinci dalam proposal; juga tentang bagaimana rincian waktu untuk kegiatan dan tahap kegiatan penelitian, serta untuk keperluan apa saja biaya dibutuhkan. Rincian ini seringkali menjadi persoalan yang sangat kritis di dalam persetujuan antara pemberi kerja (sponsor) dan pelaksana kerja (peneliti).  

5. Penutup 

Dari uraian diatas terdapat dua aspek yang dapat kita pahami. Pertama, bahwa komponen pokok laporan dapat ditelusuri pada proses penelitian. Pengenalan proses penelitian melalui ‘peta mental’ dapat membantu kita untuk merencanakan suatu penelitian (efisien), dan sekaligus bisa mengevaluasinya apakah penelitian sesuai dengan yang direncanakan (efektif). Kedua, dengan memahami komponen laporan penelitian kita dapat melokalisasi peranan orang perorang di dalam proses penelitian, mulai dari pemberi kerja (sponsor) sampai kepada pelaksana kerja (peneliti). Pemahaman ini penting untuk menuntun manager dan peneliti saling memahami peran masing-masing.            

Ke depan, dunia penelitian di kampus dan perlunya pemikiran penelitian bagi dunia usaha maupun pemerintah diharapkan semakin bergairah. Di masa datang, kegairahan ini sangat tergantung pada tingkat partisipasi peneliti pemula yang dibentuk sejak di bangku kuliah. Kini, dunia sehari-hari kita menantikan sumbangsih dunia penelitian, tidak hanya dari segi kuantitas dan segi kualitas tetapi juga kegairahan  mereka dari golongan yang lebih muda. Mencairkan kebuntuan bagi mereka yang beranggapan bahwa meneliti itu sulit, diharapkan segera dapat teratasi** Dimuat di Warta Demografi. Tahun 34 Nomor 2, 2004.

Tidak ada komentar: