29/01/12

ULTAH Pertama BLOG ‘Tapanuli Selatan Dalam Angka’: 100 Artikel dan 26.000 Pageview


Oleh Akhir Matua Harahap


Blog ini diperkenalkan (launching) pada tanggal 11 Januari 2011 (11-1-11). Ini berarti bulan Januari adalah ulang tahun yang pertama (Ultah-I) blog Tapanuli Selatan Dalam Angka (TSDA). Gagasan awal pembuatan blog ini karena berbagai keluhan dari teman-teman yang membutuhkan data dan informasi seputar Tapanuli Bagian Selatan. Mereka terkesan sulit menemukan data yang akurat tentang berbagai aspek di Tapanuli Bagian Selatan melalui internet. Blog ini berupaya untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi tersebut. Penamaan blog ini dengan Tapanuli Selatan dalam Angka hanya semata-mata sebuah nama belaka yang mudah diingat. Jika disimak makna yang diambil dari nama tersebut boleh jadi: (1) isi artikel yang diunggah (upload) sangat menekankan perlunya angka atau data, dan (2) memperkuat positioning buku publikasi BPS dalam menyebarluaskan data dan informasi tentang Tapanuli (Bagian) Selatan.

Artikel yang pertama kali di unggah dalam blog Tapanuli Selatan Dalam Angka adalah artikel dengan judul: “Meneliti Itu Mudah” (15 Januari 2011). Artikel ini sesungguhnya adalah artikel ‘copas’ (copy paste) dari artikel saya sendiri di blog lain yang juga sudah pernah dimuat dalam sebuah majalah ilmiah nasional. Isi artikel ini sangat strategis sebagai pintu masuk dalam blog, sebagaimana Tapanuli Selatan Dalam Angka yang sarat dengan artikel-artikel yang menyajikan data dan informasi.Jumlah keseluruhan penayangan (pageview) oleh para pembaca dari semua artikel terhitung sampai akhir bulan Januari ini sudah melampaui angka 26.000 penayangan. 

27/01/12

Piramida Penduduk 2010: Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas Utara dan Kabupaten Padang Lawas


Oleh Akhir Matua Harahap


Badan Pusat Statistik (BPS) telah mempublikasikan hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 tentang ‘jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin menurut kabupaten/kota’. Hasil SP 2010 terbaru, baru-baru ini juga telah mempublikasi data tentang ‘jumlah penduduk menurut kelompok umur. Dari data karakteristik umur ini kita sudah bisa mempelajari lebih spesifik mengenai dinamika kependudukan yang terjadi. Dinamika kependudukan berdasarkan kelompok umur dapat dipahami melalui konstruk piramida penduduk. Diharapkan informasi ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk perencanaan pembangunan daerah.

 
Secara sepintas tampak terlihat bahwa bentuk piramida penduduk di Tapanuli Bagian Selatan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya (lihat gambar piramida). Piramida penduduk Kota Padang Sidempuan merupakan bentuk piramida ke arah yang 'ideal’, dimana proporsi kelompok umur (cohort) muda relatif telah menurun jika dibandingkan dengan kelompok umur sebelumnya. Ini mengindikasikan adanya pengaruh keberhasilan program KB dalam menurunkan jumlah penduduk. .Bandingkan dengan piramida penduduk Kabupaten Padang Lawas Utara dan Kabupaten Padang Lawas yang tampak lebih ‘gemuk’ pada kelompor umur muda jika dibandingkan kelompok umur yang lebih tua. Boleh jadi di dua kabupaten ini program KB belum efektif sebagai cara untuk menurunan jumlah penduduk.

25/01/12

Penduduk Tapanuli: The remaining population of North Sumatra


Tapanuli adalah sebutan untuk daerah di pantai barat Sumatera Utara yang asal katanya dari "Tapian Nauli". Pada tahun 1980 penduduk daerah yang disebut Tapanuli ini berjumlah 1.666.654 jiwa. Dengan luas wilayah 32.358 Km2 maka kepadatan penduduk di wilayah Tapanuli sebesar 51 jiwa/Km2. Ini terbilang sangat jarang.

Secara teoritis penduduk Tapanuli setelah 30 tahun  pada tahun 2010 adalah sebanyak 2.444.658 jiwa. Dengan kata lain penduduk wilayah Tapanuli bertambah sebanyak 778.004 dalam tiga puluh tahun. Namun kini kenyataannya di tahun 2010, daerah Tapanuli yang hanya teridentifikasi dari tiga nama kabupaten: Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan luas wilayahnya hanya tersisa menjadi 10.362 Km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 853.967 jiwa.

21/01/12

Pesantren di Sumatera Utara Terkonsentrasi di Tapanuli Bagian Selatan: Pesantren Modern ‘Musthafawiyah’ (Purba Baru) yang Tertua dan Terbesar


Sebaran Pondok Pesantren di Sumatera Utara

Semua provinsi di Indonesia terdapat pondok pesantren dan konsentrasinya terdapat di Pulau Jawa. Jumlah pesantren terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Timur. Menurut versi pemerintah (Direktori Kementerian Agama RI) di Jawa Timur terdapat sebanyak 4.404 buah. Posisi kedua terdapat di Jawa Barat sebanyak 4.322 buah dan disusul oleh Jawa Tengah sebanyak 2.574 buah. Sedangkan di Sumatera jumlah pesantren terbanyak terdapat di NAD sebanyak 1.043 buah (posisi keempat di Indonesia). Sementara di Sumatera Barat terdapat 206 buah pondok pesantren, dan di Provinsi Riau sebanyak 139 buah.

Berdasarkan data Podes (BPS) 2008 hanya  sebanyak 194 buah pondok pesantren di Provinsi Sumatera Utara. Dari jumlah tersebut sebanyak 96 buah pondok pesantren  berada di Tapanuli Bagian Selatan. Ini berarti hampir separuh jumlah pesantren di Sumatera Utara berada di Tapanuli Bagian Selatan. Dengan kata lain, Tapanuli Bagian Selatan merupakan wilayah utama sebaran pondok pesantren di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan distribusi pondok pesantren menurut kabupaten/kota di Sumatera Utara, jumlah terbanyak terdapat di Kabupaten Mandailing Natal yaitu sebanyak 33 buah (Tabel-1).

13/01/12

Fa. Sibualbuali, PT. ALS (Antar Lintas Sumatera) dan CV. Sampagul dari Tapanuli Selatan: Pionir Bis Jarak Jauh (Long Distance Bus) di Indonesia


Sibualbuali: Pionir Lintas Sumatra dari Padang Sidempuan

Bis Sibualbuali 1970an (foto:panorama.com)
Jauh sebelum Indonesia merdeka, di Tapanuli Selatan telah berdiri sebuah  perusahaan angkutan (bis) yang dinamai Fa. Sibualbuali (nama gunung di Sipirok). Perusahaan bis ini didirikan secara resmi oleh Sutan Pangurabaan Pane di Sipirok pada tanggal 1 Januari 1937. Namun sebelumnya beliau adalah pengusaha hasil-hasil bumi yang handal yang tidak hanya beroperasi di Sipirok/Padang Sidempuan tetapi juga di Kotanopan/Muara Sipongi. Uniknya, latar belakang Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang guru dan sastrawan lokal di Tapanuli Selatan yang dikemudian hari beliau lebih dikenal sebagai ayah dari tokoh-tokoh terkenal berikut: Sanusi Pane, Armijn Pane dan Lafran Pane. [Lihat: "Willem Iskander dan Lahirnya Tokoh-Tokoh Sastrawan Nasional dari Tapanuli Bagian Selatan"]
Kota Sipirok 1937 (Foto:KITLV,NL)
Kekhususan bis Sibualbuali ini di masa-masa awal lahirnya bis jarak jauh (long distance bus) karena moda transportasi dari dan ke daerah Tapanuli Selatan hanya satu-satunya dengan jalan darat. Kota Sipirok/Padang Sidempuan yang berada di pedalaman Sumatra (utara) yang jaraknya sangat jauh dengan kota-kota besar seperti Medan, Padang dan Pekanbaru (rata-rata 12 jam pada masa kini). Berbeda dengan di daerah lain yang moda trasnportasinya sudah jauh berkembang apalagi pada moda transportasi laut dan kereta api. Hasil bumi yang melimpah di masa lalu (utamanya kopi) menjadi pemicu dan yang menjadi sumber biaya pendirian usaha-usaha jasa angkutan bis di Tapanuli Selatan. Disamping itu, masyarakat Tapanuli Selatan yang sudah lama mengecap pendidikan menumbuhkan minat para warga untuk mengarungi daerah-daerah lain yang lebih jauh. Tokoh penting untuk mengembangkan bus lokal ini menjadi bus bertaraf nasional pada awal 1950 adalah Kario Siregar, yang waktu itu bertindak sebagai Direektur Utama Fa Sibualbuali (Kario Siregar adalah ayah dari mantan Gubernur Sumatra Utara, Radja Inal Siregar).   

08/01/12

Masakan Khas Sidempuan: Cita Rasa Para Raja-Raja di Tapanuli Bagian Selatan yang Sudah Meluas di Kota-Kota Besar dan Semakin Diakui di Dunia Kuliner Nusantara


Masakan Sidempuan, Entitas Kuliner Tapanuli Bagian Selatan

Gulai Limbat (Foto internet)
Masakan Sidempuan telah menjadi sebuah sebutan untuk nama masakan yang berasal dari Tapanuli Bagian Selatan. Sebagai sebuah entitas baru dalam kuliner Indonesia (nusantara), sudah barang tentu berbagai menu masakan dari Tapanuli Bagian Selatan dapat digabung menjadi satu nama tunggul (trade mark) yang sudah dikenal sebagai ‘Masakan Sidempuan’ (diambil dari kata Padang Sidempuan, ibukota Tapanuli Bagian Selatan di masa lalu). Sebagai entitas, maka core business Masakan Sidempuan sudah pasti selalu ditandai dengan core culture yang dicirikan atau keutamaan adanya berbagai ikan sale (asap) dan daun singkong tumbuk dalam setiap hidangan khas Masakan Sidempuan.

Semakin banyaknya rumah-rumah makan khas Tapanuli Bagian Selatan yang bermunculan di Kota Medan dalam satu dasawarsa ini telah menandai Masakan Sidempuan masuk dalam kuliner Nusantara (Indonesia) dan mengubah daftar menu special bagi warga perantauan khususnya dan pencinta masakan enak pada umumnya. Sebagai suatu masakan khas sudah tentu menjadi magnet bagi pecinta masakan dan wisatawan.  Kehadiran rumah makan/restoran Sidempuan ini di Kota Medan dengan sendirinya telah mengubah persepsi umum bahwa Masakan Padang yang selama ini menjadi ciri pemersatu selera dan kini telah mulai dilirik pada menu khas Masakan Sidempuan.  

02/01/12

Sejarah ‘Becak Vespa’ Padang Sidempuan: Suatu Inovasi Sosial-Ekonomi Alat Transportasi


Oleh Akhir Matua Harahap

Becak Vespa Padang Sidempuan

Becak Vespa
Becak Vespa Padang Sidempuan yang sudah dikenal pada masa ini adalah alat transportasi yang terbilang unik. Becak Vespa sebagai produk rekayasa khas—ala Padang Sidempuan kini bentuknya telah mengalami perkembangkan jika dibandingkan dengan bentuk awalnya (protype) di masa lalu. Becak Vespa yang sekarang bagian luar lebih ramping tetapi ruang kabinnya tetap terasa luas. Bentuk bodinya yang lebih menyerupai kapsul (bagian depan yang lancip) memungkinkan system aerodinamis yang lebih efisien ketika melaju kencang. Sistem rangka kabin dan rangka  jok yang dibuat  efisien memberi beban yang lebih ringan sehingga energy (BBM) yang dibutuhkan lebih hemat. Penggunaan asesoris pada bagian luar dan interior kabin plus warna metalik menambah kemewahan pada alat trans-
porta si yang bersahaja ini.