01/03/16

Bag-16. Sejarah Padang Sidempuan: Sersan Mayor Lian Kosong dan Orang-Orang Tionghoa Sudah Ada Sejak Doeloe di Padang Sidempuan



Tugu Siborang, Padang Sidempuan
Kota Padang Sidempuan memiliki banyak pahlawan, salah satu diantaranya adalah Sersan Mayor (Serma) Lian Kosong. Namanya kini ditabalkan menjadi nama jalan untuk menggantikan  nama Jalan Jenderal Sudirman di tengah kota Padang Sidempuan. Serma Lian Kosong telah turut aktif berjuang melawan tentara/pasukan Belanda pada masa agresi militer kedua. Pada saat itu, komandannya adalah Kapten Koima Hasiboean.

Seorang Tionghoa di Indonesia memang jarang terdengar ikut berjuang, apalagi ikut mengangkat senjata, tapi itulah Padang Sidempuan. Keberanian dan patriotisme Lian Kosong, anak Padang Sidempoean adalah hati nuraninya untuk berpartisipasi dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namanya patut dicatat dan diabadikan. Lian Kosong adalah bagian dari sisa Republik Indonesia kala itu.

Lian Kosong kelahiran Padang Sidempuan berjuang di tengah Kota Padang Sidempuan dan bergerilya hingga di Benteng Huraba, Pintu Padang di selatan, Aek Kambiri, Sipirok di utara dan jembatan Batangtoru di barat.

Orang-orang Tionghoa di Padang Sidempuan sejak doeloe

Tidak ada orang Tionghoa sefanatis di Padang Sidempuan. Usut-punya usut orang-orang Tionghoa sudah ada sejak lama di Padang Sidempuan. Bahkan orang Tionghoa besar kemungkinan sudah ada sejak akhir abad ketujuh belas. Mereka adalah pedagang-pedagang yang berkeliling di Angkola (sekitar antara Pijorkoling, Batunadua, Hutarimbaru dan Sidangkal. Pedagang-pedagang Tionghoa ini datang dari rute Malaka via sungai Baroemoen di pantai timur Sumatra.

Berita pertama tentang Angkola diperoleh dari ‘Daghregisters van Batavia, 1 MAART 1701’ (Catatan Harian Kastil. Batavia, 1 Maret 1701). Di dalam catatan ini dijelaskan bahwa seorang Tionghoa pada tahun 1691 berangkat dari Batavia ke Malaka dan dari Malaka ke Panai (di muara sungai Baroemoen). Setelah membeli garam untuk menambah dagangannya (mangkuk tembaga dan kain biru) pedagang tersebut berangkat ke Angkola yang dibantu oleh beberapa kuli angkut dengan jalan darat (melalui Kota Pinang, Goenoengtoea, Batangonang hingga Pijorkoling di Angkola). Selama di dalam perjalanan dan di Angkola pedagang ini menukarkan barang dagangannya dengan kemenyan (benzoin) dan bahan lilin. Setelah barang dagangan yang dibawanya habis, pedagang ini kembali ke Panai untuk mendapatkan garam. Perdagangan ulang-alik antara Panai dengan Angkola oleh pedagang Tionghoa itu berlangsung selama 10 tahun.

Pasar Padang Sidempoean, 1890
Jalur tertua pantai barat Sumatra dan pantai timur Sumatra di Tanah Batak adalah via Pijorkoling. Jalur ini diduga sudah ada sejak abad kedelapan (candi Simangambat di sungai Batang Angkola) dan candi Portibi di sungai Batang Pane (anak sungai Baroemoen). Jarak terdekat Pijorkoling adalah Batangonang di sungai Aek Sihapas (anak sungai Baroemoen). Pijorkoling adalah tempat interchange: ke timur (Batangonang hingga ke Panai, muara sungai Baroemoen); ke selatan (Simangambat, Bonandolok, Siaboe dan Mandailing); dan ke barat melalui Hutarimbaru, Batangtoru dan Barus. Dari Pijorkoling ke Hutarimbaru dapat dilalui melalui utara (Batunadua) dan melalui selatan (Sidangkal). Empat tempat ini (Pijor Koling, Batunadua, Hutarimbaru dan Sidangkal) melingkari suatu daerah yang menjadi pusat Angkola, tempat dimana kini pusat Kota Padang Sidempuan).

Di Angkola inilah pedagang Tionghoa yang disebut di dalam Catatan Harian Kastil Batavia melakukan aktivitas perdagangan (keliling) selama kurun lebih 10 tahun sebelum pedagang ini kembali ke Batavia pada tahun 1701 (melalui Barus). Pedagang Tionghoa ini menyebut di dalam laporan tersebut, jarak antara Angkola dengan Barus sekitar 10 hingga 11 kali hari perjalanan.

Pedagang di pasar Siboehoen doeloe (barang utama: garam)
Pedagang Tionghoa ini (sebagaimana disebut dalam Catatan Harian Kastil Batavia) setelah lima tahun di Angkola menikah dengan seorang gadis dengan adat kebiasaan Angkola. Sang mertua memberikan bantuan uang sebesar 50 ringgit. Pasangan ini memiliki seorang anak perempuan. Pada tahun 1701, keluarga kecil ini meninggalkan daerah yang indah ini dimana penduduk hidup dari bercocok tanam (sawah) dan mengumpulkan hasil-hasil hutan (seperti kamper, kemenyan dan getah puli) hijrah ke Batavia (anak mereka sudah berumur lima tahun). Pedagang Tionghoa ini menyebutkan di dalam catatan Batavia tersebut, bahwa orang-orang di Angkola ramah terhadap orang asing, bahkan terhadap orang-orang Eropa yang pernah berkunjung ke Angkola. Penduduk Angkola disebutnya, meski sangat banyak jumlahnya tetapi juga surplus beras. Penduduk laki-laki dan perempuan mengenakan sarung dan baju panjang. Penduduk kerap menggunakan garam sebagai alat tukar bagaikan uang untuk berbelanja.
  
Ketika pedagang Tionghoa ini ingin kembali (ke Batavia) memberitahukan kepada para Radja. Semua para raja merestui dan para raja memberinya banyak beras dan sejumlah buah-buahan dan sayur mayur sebagai bekal dalam perjalanan ke Baros yang ditempuhnya bersama istri dan anaknya dalam sepuluh hari. Keluarga kecil ini dari Baros menumpang kapal milik orang Tionghoa lalu tiba di Batavia tanggal 27 Februari 1701 (setelah melewati Padang). Pedagang Tionghoa ini bersama anak dan istrinya mulai bercocok tanam di Batavia.

‘Daghregisters van Batavia, 1 MAART 1701’ (Catatan Harian Kastil. Batavia, 1 Maret 1701) dipublikasikan oleh Daniel Perret dengan judul ‘Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701’ di dalam Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsip VOC di Jakarta, dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013.


Sejak pemuda pedagang Tionghoa yang mempersunting gadis Angkola dan memiliki anak satu ini, tidak ada kabar berita tentang Angkola hingga seorang Inggris datang pada tahun 1772. Seperti dikatakan pedagang Tionghoa ini bahwa penduduk Angkola sangat ramah terhadap orang Eropa yang pernah datang ke Angkola. Ini mengindikasikan bahwa orang-orang Eropa sudah sejak lama memasuki Tanah Batak di Angkola, paling tidak antara 1691-1701 (selama pedagang Tionghoa itu berada di Angkola) atau mungkin jauh sebelum tahun 1691. Kehadiran orang-orang Eropa tersebut tentu dalam kaitan perdagangan komoditi alami khas Tanah Batak: kemenyan, kamper dan benzoin. Orang Inggris yang datang pada tahun 1772 itu adalah seorang botanis Skotlandia, Charles Miller yang diutus oleh Gubernur Jenderal Inggris di India untuk melakukan ekspedisi cassia (kulit manis) di Angkola.

Charles Miller berangkat dari teluk Tapanoeli (Pulau Pontjang, tempat pos perdagangan Inggris) pada tanggal 21 Juni 1772 menuju Angkola. Di Loemoet, Miller (dan para pemandu dan kuli angkutnya) diterima raja Batak dan disambut dengan hormat dengan tiga puluh tembakan ke udara. Kampung Loemoet (loeat marga Siregar?) banyak padi dan kerbau. Pada tanggal 5 Juli 1772, Miller tiba di wilayah yang lebih terbuka dan menyenangkan di Terimbaru (Hutaimbaru), sebuah kampong besar di tepi selatan dataran Ankola. Antara Loemoet dan Terimbaroe, Miller berdiam beberapa lama menunggu surut sungai Batang Tara (Batangtoru) yang tengah meluap. Tanah di sekitar Angkola sepenuhnya dibajak dengan kayu secara baik dan ditaburi dengan padi atau jagong, di padang rumput mereka terlihat banyak ternak kerbau, kambing dan kuda. Setelah diinformasikan kepada Radja, lalu menyuruh anaknya datang menemui Miller dengan 30-40 orang bersenjata tombak dan senapan locok (matchlock), lalu membawa Miller, yang sepanjang jalan dilakukan pemukulan gong dan tembakan ke udara. Radja yang menerima Miller bertubuh besar, dan dengan hormat memerintahkan untuk menyembelih kerbau. Miller diminta menginap semalam. Miller mengamati semua perempuan yang belum kawin mengenakan sejumlah cincin timah besar di telinga mereka yang menurut penyelidikan saya lebih lanjut bahwa timah itu datang dari Selat Malaka (tampaknya sesuai dengan laporan pedagang Tionghoa). Pada tanggal 7 Juli 1772 Miller tiba di Sa-masam (Simasom). Miller bertemu radja yang mana dihadiri 60-70 orang dengan bersenjata lalu menyiapkan sebuah rumah untuk Miller dan memperlakukan Miller dengan keramahan dan hormat. Wilayah ini menurut Miller dikelilingi bukit yang dipenuhi kayu dan sebagian besar tanah padang rumput untuk ternak mereka yang tampaknya memiliki kelimpahan yang besar. Di sini Miller bertemu dengan hal yang luar biasa semacam semak berduri yang disebut penduduk sebagai Andalimon, yang berbentuk bulat yang memiliki rasa pedas yang sangat menyenangkan di lidah dan mereka menggunakan dalam gulai (kari) mereka (andaliman dala bahasa Angkola adalah ‘sinyarnyar’). Kemudian Miller tiba di Batang Onang untuk yang selama perjalanan Miller begitu banyak tumbuh pohon kulit manis di hutan-hutan yang mereka lalui bahkan banyak diantaranya batangnya berdiameter satu meter atau lebih. Setelah bertemu Radja dan diantar ke Pangka Doeloek ( Pangkal Dolok, pusat perdagangan cassia) dan melakukan kesepakatan dengan radja, maka pada tanggal 14 Juli 1772 Miller meninggalkan Batang Onang untuk pulang dan berhenti untuk bermalam di Koto Moran (Huta Morang) dan malam berikutnya tiba kembali di Sa-masam. Namun setelah itu Miller mengambil jalan yang berbeda sebelum Sa-pisang (Sipisang). Dengan mengambil sampan Miller menyusuri sungai Batang Tara ke laut [Laporan Miller ini menjadi bagian dari buku William Marsden (1811) berjudul ‘The History of Sumatra].

Catatan ekspedisi Charles Miller ini menceritakan banyak hal tentang Angkola, seperti adanya radja-radja, daerah yang makmur baik bahan pangan maupun komoditi ekspor, memiliki angkatan bersenjata, sosial budaya dan produk luar yang berasal dari Malaka. Catatan Miller ini juga menjadi satu titik waktu tentang data dan informasi Angkola sejak 70 tahun sebelumnya. Jika data dan Informasi Miller digabung dengan data dan informasi Tionghoa akan mendeskripsikan suatu situasi dimana: Angkola sudah sejak lama terbuka dengan dunia luar (khususnya dalam perdagangan) paling tidak dengan kehadiran pedagang Tionghoa dan Miller.

Produk-produk dari dan ke Angkola terus mengalir apakah dari pantai timur atau pantai barat Sumatra. Tentang keberadaan orang-orang Tionghoa di Angkola selanjutnya besar kemungkinan factor pedagang Tionghoa tersebut banyak berperan. Jelas bahwa pedagang Tionghoa itu sudah tiada ketika Miller datang. Tapi koneksi pedagang Tionghoa itu dengan kampong halaman istrinya, peran pedagang Tionghoa ini menjadi jaminan bagi pedagang-pedagang Tionghoa lainnya untuk menggantikan peran sang pionir pedagang Tionghoa untuk dteruskan generasi selanjutnya.


Komunitas Tionghoa di Angkola dan Mandheling menyingkir ke Natal selama aneksasi kaum Padri



Belanda memasuki Tanah Batak tahun 1833 di Mandheling en Ankola melalui Natal dalam rangka memenuhi permintaan radja-radja Batak untuk mengamankan Tanah Batak yang secara ekonomi terus dieksploitasi kaum padri. Permintaan ini segera dipenuhi karena pada saat yang bersamaan Belanda tengah berperang untuk melumpuhkan kaum padri di Minangkabau yang berpusat di Bonjol (juga permintaan dari radja-radja Minangkabau). Saat situasi berperang, perlu penanganan khusus terhadap produk surplus beras di Rao, Mandailing dan Angkola. Pemerintah kolonial Belanda di Padang membuka tender pengangkutan surplus beras tersebut untuk didistribusikan ke tempat-tempat lain hingga sampai ke Jawa.



Javasche courant, 04-11-1835 (iklan tender): ‘sesuai peraturan tentang outsourcing (Java…No 88 dan Stataatsbald No. 67), Kantor Direktur Produk dan gudang sipil negara, memerlukan satu outsourcing untuk pengangkuatan beras yang telah disimpan (antara lain): di Nattal stok sebanyak 70.000 pon, Tappanolie 15.000 pon dan Kotta Nopan di Manda Healing stok sebanyak  97,200 ponden (pon). Operasi pengangkutan beras di Mandailing dan Rao dajadikan satu plot (dibedakan dengan tiga plot atau paket lain di Sumatra)’



Ini suatu bukti lagi bahwa sejak pedagang Tionghoa, Miller dan saat masuknya Belanda, Angkola adalah daerah makmur dalam arti yang sebenarnya: surplus beras (kebutuhan pokok). Sebagaimana diketahui pada saat perang padri ini tiga lumbung beras ada di Rao, Mandailing dan Angkola. Surplus beras di Rao diteruskan ke pelabuhan Air Bangis, surplus beras di Mandailing diteruskan ke pelabuhan Natal, dan surplus beras di Angkola diteruskan ke pelabuhan Loemoet (Tapanoeli). Dari tiga pelabuhan yang masuk Residentie Air Bangis (residentie Tapanoeli belum ada) menjadi pelabuhan ekspor ke berbagai daerah terutama ke Padang dan Bengkulu dan Jawa serta ke Singkel dan Atjeh.



Pada tahun 1837, Mandheling en Ankola telah dianggap aman, seiring dengan jatuhnya Bonjol ke tangan Belanda. Namun Padang Lawas belum sepenuhnya aman karena masih ada perlawanan Tuanku Tambusai (pasca Bonjol jatuh). Militer Belanda dikerahkan ke Padang Lawas dan tahun 1838 Padang Lawas dapat dibebaskan  setelah Tuanku Tambusai dilumpuhkan di Dalu-Dalu.



Algemeen Handelsblad, 07-09-1838: oleh suku-suku yang berbeda di selatan dan tenggara Bataklanden dilaporkan pemerintah telah memulai negosiasi untuk penyerahan yang akan datang. Setelah mengambil alih Fort Pertibie telah benar-benar Padang Lawas dan Kotta Pinang dikuasai. Setelah dari Ankola dan Kotta Nopan di Mandheling untuk Pertibie tentara kami melakukan pengepungan setengah lingkaran terhadap kafir, tanah dan kepala asli Tamboesy menjadi terkepung, dengan demikian tujuan menjadi mencapai untuk membebaskan Ankola dan Sipirok di utara Negara Batta. Setelah itu, baru mereka harus menghela napas setelah begitu lama direcokin oleh Tamboesy. Kampong Daloedaloe terletak liama hari di tenggara dari Pertibie masih kuat dikelilingi oleh pengikut yang bersenjata. Namun Tamboesy sendiri harus telah keluar dari Padang Lawas dan kini di lanskap lain, seperti ia sudah akan memiliki isyarat penampungan dan kesiapan disana’.



Ini dengan sendirinya, pada tahun 1838 daerah Angkola kembali aman seperti sediakala seperti sebelum tahun 1819 (sebelumnya masuknya Padri). Akan tetapi, jalur perdagangan Angkola mati suri ke arah timur (via Baroemoen) sementara ke pantai barat Sumatra semakin berkembang.


Pada awalnya, lanskap Tapanuli dikendalikan dari administrasi Keresidenan Air Bangis yang mana di lanskap Tapanuli diangkat seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Sibolga. Di lanskap ini juga ditempatkan tiga controleur, yakni: Controleur Mandheling en Ankola di Kotanopan, Controleur Battakslanden di Sibolga dan Controleur Barus di Barus. Selanjutnya pada tahun 1842, Keresidenan Tapanuli dibentuk, namun tetap bagian dari Sumatra’s Westkust dengan dua asisten Residen yakni: Asisten Residen Tapanoeli (Sibolga) dan Asisten Residen Mandheling en Ankola (Kotanopan). Pada masa transisi ini Residen adalah M. J. H. van Oppen, seorang pejabat di Gouvernour Sumatra;s Westkust dan  sekretaris dilaksanakan oleh L.A. Galle. Pada tahun 1843, secara definitif Residen Tapanuli diangkat dan L.A, Galle dipromosikan. Untuk Asisten Residen Tapanuli diangkat A. van der Hart dan asisten Residen Mandheling en Ankola adalah T.J. Willer. Selanjutnya pada tahun 1844 Mayor (Luit.Kol.) A. van der Hart menggantikan L.A. Galle sebagai Residen Tapanoeli. Sementara T.J. Willer tetap sebagai Asisten Residen Mandheling en Ankola’.

Perkampungan Tionghoa sejak doeloe di Natal (foto. 1910)
Pada saat suasana tenang di pedalaman (Angkola dan Mandailing) kehidupan ekonomi di pantai barat Sumatra kembali bergeliat. Para pedagang Tionghoa mulai kembali mengambil bagian dalam perdagangan di Angkola khususnya di Padang Sidempuan. Ada dugaan selama fase kaum Padri di Mandailing dan Angkola, para pedagang Tionghoa menyingkir ke pantai, utamanya ke Natal (via Loemoet) dan Padang. Komunitas Tionghoa di Padang kemungkinan besar para pedagang-pedagang Tionghoa di pedalaman Minangkabau (melalui jalur sungai Siak dan Kampar) sedangkan yang di pedalaman Angkola dan Mandailing (melalui jalur tradisional via sungai Baroemoen). Pusat komunitas Tionghoa sendiri berada di Malaka dan Singapoera (lihat penjelasan rinci dalam buku karya Wallace, The Malay Archipelago, 1869).

Kota Padang Sidempuan terbentuk

Pada saat pembentukan pemerintahan di Afdeeling Mandheling en Ankola tahun 1841 (bersamaan dengan koffiecultuur), di Angkola ditempatkan seorang Controleur. Menurut berita yang beradar di surat kabar di Batavia 1839 controleur Angkola akan ditempatkan di Pijorkoling. Pada tahun 1840 juga di surat kabar di Batavia dikabarkan bahwa onderafdeeling Angkola disebut onderafdeeling Angkola en Pitjerkelling (Pijorkoling) namun kenyataannya pada tahun 1842 secara defacto controleur yang ditempatkan bertempat tinggal di Padang Sidempeoan. Inilah awal adanya Kota Padang Sidempan.

Setelah Angkola dan Mandheling aman tahun 1838, para pasukan/militer di benteng Pijorkoling dipindahkan ke suatu lokasi yang strategis (yang tidak berpenghuni di antara sungai Batang Ayumi dan sungai Aek Sibontar/Rungkare dan ditengahnya mengalir sungai kecil bernama Aek Sangkoempal Bonang). Dilokasi ini telah dibangun garnisun (markas) militer ditempat dimana kini terdapat Markas Kodim (mungkin sudah menjadi mal?)…..

Ini mengindikasikan bahwa Kota Padang Sidempuan menjadi suatu tempat (kota) terjauh ke pedalaman di Tanah Batak yang dapat diakses oleh orang luar (dari teluk Tapanoeli dan kota Padang). Sebagaimana diketahui pedagang Tionghoa (1691-1701) dan Charles Miller (1772) orang-orang luar yang tercatat sejak awal memasuki Angkola, tetapi kala itu (kota) Padang Sidempuan belum terbentuk. Kota Padang Sidempuan sendiri baru dibangun pada tahun 1842 oleh controleur Angkola bernama FW Godin.

Kantor Controleur Padang Sidempuan (foto 1890)
FW Godin memulai membangun kota dari areal yang tidak berpenghuni dengan menarik garis lurus (suatu koridor) untuk menetapkan tempat tinggal dan kantornya dari garnisun militer Belanda yang telah didirikan pada tahun 1840. Kantor Controleur ini berada persis di pasar Sangkumpal Bonang yang sekarang dengan menghadap ke utara. Koridor (jalan) yang berada di depan garnisun dan kantor Controleur ini dikemudian hari (pada masa kini) menjadi jalan utama Kota Padang Sidempuan. Antara garnisun dan kantor Controelur kemudian dibangun apotik (dokter sendiri berada di dalam garnisun sebagai dokter militer). Sedangkan perumahan staf pemerintahan dibangun di seberang Aek Sangkumpal Bonang (tempat dimana kini gedung nasional dan lapangan garuda). Disebelah utara kantor Controleur dibuat taman (yang kini menjadi halaman bolak). Sedangkan di sebelah selatan garnisun adalah pos check point dan di belakang garnisun (yang kini menjadi lokasi masjid raya) adalah padang rumput dan rawa-rawa yang menjadi pusat pemeliharaan kuda.

Pada tahun 1846 datang tamu istimewa ke kota Padang Sidempuan. Tamu tersebut adalah Jenderal van Gagern, utusan raja Belanda yang didampingi oleh Jenderal Michiel (Gubernur Sumatra’s Westkust di Padang). Dipilihnya kota Padang Sidempuan karena kota ini merupakan titik terjauh pemerintahan sipil yang dibentuk. Uniknya, dua jenderal ini sangat betah di kota kecil (town) ini, dari dua hari yang direncanakan untuk menginap ternyata mulur menjadi empat hari.

Sebelum kedatangan dua jenderal ini, beberapa kali geolog Jung Huhn dan rekannya Rosenberg singgah di kota ini dalam melaksanakan tugas yang diminta Gubernur Jenderal di Batavia untuk menyelidiki potensi geologi dan botani di Tanah Batak. Selama bertugas di Padang Lawas, Jung Huhn diangkat sebagai wakil pemeritah. Jung Huhn menulis buku fenomenal tentang Tanah Batak. Lukisan disamping ini adalah sebuah rambin (jembatan gantung terbuat dari rotan) di atas sungai Batangtoru.

FW Godin memperkenalkan koffiecultuur di Angkola (setelah sukses di Pakantan). Tugas Godin dilanjutkan oleh Controleur Stijman dengan memperluas koffiecultuur ke Sipirok. KF. Stijman lalu digantikan controleur AF Hammers. Pada saat Hammers menjadi controleur di Angkola, Padang Sidempuan kedatangan tamu yang aneh. Dia adalah seorang gadis pelancong asal Austria bernama Ida Pfeiffer.

Ketika Ida tiba di Saroematinggi (pos militer), tiba-tiba berubah rencananya yang awalnya menempuh rute dari Padang Sidempuan ke Sibolga dan langsung pulang ke Batavia, malah tertarik untuk melanjutkan perjalanan ke danau Toba. Sebagaimana diketahui, hingga saat itu belum satupun orang luar yang pernah ke danau Toba. Setelah mendapat pemandu di Saroematinggi (kebentulan salah satu eks pemandu terbaik Jung Huhn) lalu datang ke Padang Sidempuan (5 Agustus 1852) untuk meminta nasihat kepada Hammers (yang kebetulan Hammers sudah pernah ke Silindoeng). Hammers memberi petunjuk dan membekalinya dengan beberapa kosa kata Batak yang penting yang akan digunakan di Silindoeng dan Toba (Ida juga sesungguhnya hanya memiliki beberapa kosa kata bahasa Melayu). Ida Pheiffer akhirnya berhasil melongok dari sisi gunung ke arah danau Toba (meski tidak sampai ke bibir danau Toba, tetapi Ida Pheiffer adalah yang tercatat orang pertama dari luar yang pernah melihat danau Toba). Ida Pheiffer kembali ke Padang Sidempuan tanggal 25 Agustus 1852 sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Padang lalu berlayar ke Batavia.

Setelah itu beberapa orang penting telah datang ke Padang Sidempuan, satu diantaranya yang penting adalah van der Tuuk (ahli lingustik) untuk mempelajari bahasa Batak (menyusun tatabahasa Batak). Namun demikian, semua orang-orang luar yang pernah datang ke Angkola dan Padang Sidempuan, sejauh ini yang tercatat, yang pertama adalah pedagang Tionghoa (yang menjadi tokoh penting dalam artikel ini). Pedagang-pedagang Tionghoa generasi berikutnya semakin banyak yang berkeliling tidak hanya di Angkola (termasuk Padang Lawas, Sipirok dan Batangtoru) juga di daerah Mandailing.


Ketika terjadi aneksasi padri ke Mandailing, Angkola dan Padang Lawas, pedagang-pedagang Tionghoa yang telah sejak lama berdagang keliling di daerah Angkola dan sekitarnya menyingkir ke Natal (suatu kamp yang lebih dekat dengan komunitas Tionghoa lainnya di Padang). Selama perang, keberadaan pedagang-pedagang Tionghoa ini sudah diketahui Belanda (dan menjadi partner dalam urusan perdagangan domestic, baik di Padangsche maupun di Tapanoeli). Setelah situasi mereda (Residentie Tapanoeli dibentuk tahun 1845) komunitas Tionghoa di Natal sebagian besar migrasi (menetap) ke Sibolga (suatu kota baru yang perkembangannya sangat pesat, sebagai ibukota Residentie Tapanoeli).

Sementara itu, pedagang-pedagang keliling yang beroperasi di Angkola dan Mandailing (dari dua basis komunitas: Natal dan Sibolga) mungkin merasa efektif menjadi menetap di Padang Sidempoean. Hal itu dikarenakan ibukota Asisten Residen telah dipindahkan dari Panyabungan ke Padang Sidempuan tahun 1870. Kota Padang Sidempuan pada tahun 1870 sudah sangat jauh berkembang jika dibandingkan pada tahun 1842 ketika kota itu mulai dibangun. Juga moda transportasi darat Natal, Panyabungan, Padang Sidempuan dan Sibolga sudah cukup baik dengan adanya pembangunan jalan dan jembatan. Demikian juga jalur Padang, Fort de Kock, Rao dan Kotanopan dan Laru (simpang pertemuan dari Kotanopan dan Panyabungan ke Natal) sudah sangat memadai. Praktis moda transportasi darat dan laut sudah teratasi.

Dalam fase ini pemerintah colonial Belanda menerapkan monopoli peredaran opium dengan membuat perjanjian kontrak dengan orang-orang tertentu dengan kewajiban menyetor sejumlah uang tertentu ke kas pemerintah setiap tahunnya. Pemenang ‘tender’ ini untuk daerah Tapanoeli (Angkola, Mandailing, Natal, Padang Lawas, Silindoeng, Barus, Singkel dan Nias) adalah Lie Thong (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-01-1871). Nilai kontrak Lie Thong ini hanya f12 per tahun, suatu angka yang kecilyang mengindikasikan omzetnya juga sedikit. Bandingkan dengan pemenang tender di Padang (ke arah selatan dan Pariaman) sebesar f48.120; Padangsch Bovenlanden (Tanah Datar, Padang Panjang, Agam, Paijakoemboe dan Pasaman) sebesar f60.120. Bandingkan juga hak monopoli yang diperoleh Tjong bersaudara di Deli (Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie) sebesar f 150.000 pada tahun 1881 [catatan: pelarangan bisnis opium baru dilarang (ilegal) pada tahun 1911].

Sementara itu, minat orang-orang Tionghoa maupun orang-orang Melayu (Padangsch) yang merupakan migrant baru yang baru datang dan ingin menetap di Padang Sidempuan hingga tahun 1872 masih dibatasi dan hanya membolehkan para migrant yang sudah lama. Hal ini karena hal keamanan yang belum sepenuhnya kondusif terutama militer masih bekerja di Padang Lawas.

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 16-02-1872: Penyewaan (tanah dan bangunan) dilarang (dibatasi) oleh pemerintahan sipil dan militer di Padang Sidempuan. Penyewa penduduk asli (Melayu Padangsch) dan orang-orang Tionghoa merasa keberatan dan menunjukkan ketidakpuasan.

Sebagaimana diketahui Padang Lawas baru benar-benar dinyatakan sebagai daerah aman ketika tahun 1879 mulai dibentuk pemerintahan sipil di Padang Lawas (di Silindoeng sedikit lebih aman, namun di Toba masih status DOM antara militer Belanda dengan Sisingamangaradja). Pada tahun 1879 ini juga sekolah guru (kweekschool) dibuka di Padang Sidempuan (menggantikan sekolah guru di Tanobato yang ditutup tahun 1875 dan telah beroperasi sejak 1862 di bawah pengasuhan Willem Iskander). Kelak menyusul orang penting lainnya pada tahun 1879 seorang pemuda yang lulus sebagai dokter dan ditugaskan di Mandheling en Ankola tiba-tiba jatuh cinta terhadap bahasa dan sastra Mandailing dan Ankola dan kemudian menjadi guru di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan tahun 1882. Pemuda yang dimaksud tersebut adalah Charles Adrian van Ophuijsen. Kweekschool Padang Sidempuan dibuka tahun 1879 yang menggantikan Kweekschool Tanobato asuhan Willem Iskander (1862-1875).

Anak seorang mantan controleur di Natal ini menjadi guru di Padang Sidempuan selama delapan tahun dimana lima tahun terakhir menjadi direktur Kweekschool Padang Sidempuan (setelah diangkat menjadi Direktur Pendidikan Sumatra’s Westkust Ophuijsen menyusun tatabahasa Melayu dan kelak menjadi guru besar sastra dan tatabahasa Melayu di Universiteit Leiden (asistennya adalah Soetan Casajangan, anak Padang Sidempuan, alumni Kweekschool Padang Sidempuan yang tahun 1905 menempuh pendidikan tinggi di Negeri Belanda). Sekadar diketahui, Soetan Casajangan adalah pendiri Indisch Vereeniging (perhimpunan ‘Indonesia’).

Surat pembaca Sumatra Courant dari seorang Tionghoa di Padang Sidempuan

Pada tanggal 19 Maret seorang pembaca (mungkin seorang Tionghoa) menulis di Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 08-04-1884 bahwa telah terjadi perselisihan antara sesama orang Tionghoa. Surat ini pada intinya mengungkapkan suatu keluhan terhadap putusan yang dibuat pengadilan yang memberatkan salah satu pihak dan dianggap tidak adil. Atas hukuman yang dijatuhkan agar perlu ditinjau kembali demi keadilan.


Sumatra-courant: 08-04-1884
Surat pembaca ini mengindikasikan banyak hal. Pertama populasi orang-orang Tionghoa di Padang Sidempuan bukanlah sedikit sehingga diantara mereka telah terjadi persaingan yang ketat dalam bidang perdagangan dan bisnis. Kedua, orang-orang Tionghoa tampaknya sudah cukup terpelajar dan memiliki kemandirian yang baik yang ditunjukkan dengan komunikasi tulisan di dalam surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Padang (Onder adfeing Angkola, Afdeeling Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoeli, Province Sumatra’s Westkust beribukota di Padang, tempat dimana Sumatra Courant diterbitkan). Ketiga, tingkat kesadaran hukum yang tinggi. Tingkat kesadaran hokum yang bersifat public terkait erat dengan dunia intelektual (tulis menulis).

Ibukota afdeeling Mandheling en Ankola pindah ke Padang Sidempuan dari Panyabungan tahun 1870. Pada tahun 1879 dibuka sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan. Terdapat tiga sekolah dasar negeri: di Batunadua, di Hutaimbaru dan di Padang Sidempuan. Sekolah negeri yang berada di Padang Sidempuan ini letaknya di jalan Sutomo (SD N 2 dan SD N 10 yang sekarang, seberang pabrik es). Sedangkan Kweekschool Padang Sidempuan terletak di jalam Merdeka yang menjadi gedung SMA N 1.

Keempat, Padang Sidempuan saat ini adalah kota kecil tetapi di masa itu, Padang Sidempuan adalah kota besar dan masih lebih besar daripada Kota Medan. Kota Medan menjadi ibukota afdeeling Deli pada tahun 1879, sedangkan Padang Sidempuan sudah sejak 1870. Hal lain keutamaan kota Padang Sidempuan saat itu adalah Kota Padang Sidempuan sudah memiliki sekolah guru dan sekolah dasar negeri sudah ada sejak 1950 (sementara Kota Medan pada tahun 1879 belum ada sekolah dasar).

Ketika Medan masih kampong, Padang Sidempoean sudah kota
Ini menunjukkan bahwa warga kota Padang Sidempuan antara 1870-1890 secara sosial lebih terpelajar dibandingkan warga kota Medan. Dengan kata lain, orang-orang Tionghoa di Padang Sidempuan lebih terpelajar jika dibandingkan orang-orang Tionghoa di Medan. Tokoh penting Tionghoa di Medan, yakni Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie tentu saja belum ada apa-apanya jika dibandingkan tokoh-tokoh Tionghoa yang sudah sejak lama ada di Padang Sidempuan.

Surat-surat pembaca ini (di luar orang-orang Eropa/Belanda) sangat banyak antara tahun 1882-1884 yang berasal dari Padang Sidempuan di Sumatra Courant yang terbit di Padang. Bahkan surat-surat pembaca dari Padang Sidempuan ini jauh lebih banyak jika dibandingkan yang berasal dari daerah Minangkabau. Ini suatu indikasi bahwa warga Padang Sidempuan sudah sejak lama pula terlibat secara intens dalam dunia pers. Pada kala itu kota Padang Sidempuan adalah kota special Sumatra Courant dalam pemasaran (oplah).

Pada tahun 1887 di Padang terbit suatu surat kabar Pelita Kecil, suatu media berbahasa Melayu. Salah satu contributor utama yang kerap mendapat pujian adalah seorang Tionghoa dari Padang Sidempuan (Bataviaasch nieuwsblad, 30-04-1887). Ini membuktikan bahwa anak-anak Padang Sidempuan meski jauh di pedalaman, namun soal intelektual sangat menggema di tengah kota besar.
 

Dua kota terbesar di Sumatra tempo doeloe (1875-1880)
Kota Padang Sidempuan pada tahun1887 secara definitif sudah dapat dianggap sebagai ‘kota besar’. Akses dari tiga arah (Panyabungan/Fort de Kock, Sipirok/Padang Lawas) dan Batangtoru/Sibolga), memiliki ‘sekolah tinggi’ Kweekschool Padang Sidempuan (yang keempat di Nederlandsch Indie), memiliki pasar permanen, kantor post dan telegraf sudah tersedia, siswa-siswa dari luar daerah semakin banyak (dari Sibolga, Silindung, Singkel dan Nias), pesanggrahan yang memadai (letaknya kantor walikota yang sekarang), orang-orang Eropa/Belanda yang semakin banyak (pada tahun 1882 didirikan sekolah dasar Eropa/ELS). Yang membuat kota ini cepat berkembang juga karena ekonomi kopi (produksi dan harga kopi dalam top performance) yang menyebabkan derasnya migran lokal (urbanisasi) dan menjadi pusat perdagangan utama di pedalaman Tanah Batak. Lalulintas antara Padang Sidempuan dan Sibolga semakin kencang (jembatan Batangtoru dibangun 1879-1882). Kehadiran dan tingkat ekonomi pedagang-pedagang Tionghoa baik yang lama maupun pendatang baru sangat-sangat kondusif. Perkembangan kota sangat cepat melejit. Hanya dalam tempo 40 tahun (1842-1882) Kota Padang Sidempuan menjadi kota besar yang awalnya mulai dibangun tahun 1842 di dekat kampong yang bernama Sidimpoean [kampong kecil Sidimpoean itu adalah di sekitar jalan Sutomo yang sekarang, suatu tempat yang terdiri dari beberapa rumah yang menjadi batas ladang penduduk ke arah selatan (kota) dan batas sawah penduduk ke arah utara (loeat/koeria Kampung Baroe)].   

Orang Tionghoa Anak Padang Sidempoean

Sekolah guru (Kweekschool) Padang Sidempoean (sejak 1879)
LIM Soen Hin, radja persuratkabaran, kelahiran Batangtoru dan bersekolah di Padang Sidempuan. Dengan saudaranya dan teman-temannya sesama Tionghoa asal Padang Sidempuan (antara lain Liem Boan San) kemudian mendirikan perusahaan penerbitan surat kabar di Sibolga dengan nama Tiong  Hoa Ho Kiok Co. Ltd. Mereka semua adalah alumni Padang Sidempuan. Uniknya, Lim Soen Hin tidak hanya fasih berbahasa Melayu dan Belanda tetapi juga bahasa Batak. Karenanya, Lim Soen Hin juga menjadi asisten editor surat kabar Binsar Sinondang di Sibolga. Lim Soen Hin juga adalah redaktur surat kabar Tapanuli bernama Warta Hindia. Beberapa artikel Lim Soen Hin di Bintang Hindia melawan kapitalisme (1920). Lim Soen Hin jauh sebelumnya telah merintis persuratkabaran di Padang dan bertindak sebagai editor Bintang Sumatra dan Tjahaja Sumatra..



Alumni Padang Sidempuan lainnya (selain Lim Soean Hin dan Liem Boan San) adalah Dja Endar Moeda. Dja Endar Moeda adalah editor surat kabar Pertja Barat di Padang tahun 1897. Mereka yang bergerak di bidang pers ini adalah para alumni sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan. Situs gedung Kweekschool Padang Sidempuan masih terlihat hingga ini hari yang menjadi bagian depan gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.


TJIOE Tjeng Liong, anggota Dewan, lahir di Padang Sidempuan memulai karir sebagai wijkmeester der Chineezen di kantor Landraad Padang Sidempuan. Pada tahun 1920 berusaha membantu Lim Soen Hin di Sibolga dengan banding di pengadilan untuk membebaskan Lim Soen Hin dari tuntutan karena artikel-artikelnya menentang kapitalisme (lihat De Sumatra post, 30-03-1920). Atas prestasinya, Tjioe Tjeng Liong berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal di Batavia, tanggal 18 Agustus, 1934 Nomor 1 terhitung dari 24 Agustus 1934 ditunjuk oleh Kepala Pemerintah Daerah Padang Sidempoean sebagai anggota Dewan (Plaatselijken Raad) Onderafdeeling Angkola en Sipirok. Tjioe Tjeng Liong menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh seorang pedagang, Lim Hong Tek (lihat De Sumatra post, 01-09-1934). Tjioe Tjeng Liong diangkat lagi sebagai anggota dewan untuk periode berikutnya (lihat De Sumatra post, 14-09-1938).

Anggota Dewan 1938 ini termasuk di dalamnya Dr. Abdoel Rashid, seorang mantan anggota Dewan Pusat (Volksraad) dua periode sebelumunya dari dapil Tapanoeli. Alumni docter djawa school ini adalah adik dari (Abdoel Firman Suregar gelar) Mangaradja Soangkoepon yang di tahun 1938 merupakan anggota Volksraad dari dapil Sumatra’s Ooskust untuk periode yang keempatkalinya. Untuk sekadar catatan: hanya onderafdeeling Angkola Sipirok yang beribukota Padang Sidempoean pada tahun 1921 yang memiliki dewan pada level kecamatan dari 52 buah dewan kota (gemeente) dan dewan kabupaten (gewest) di Hindia Belanda. Pada tahun 1936 di dewan pusat (Volksraad) anggota dewan yang berasal dari Kota Padang Sidempoean, yakni Mr. Mangaradja Soangkoepon dari dapil Sumatra Timur, Dr. Abdoel Rasjid dari dapil Sumatra Utara (Tapanoeli en Atjeh) dan Mr. Soetan Goenoeng Moelia, Ph.D yang diangkat mewakili golongan pendidikan serta Dr. Radjamin Nasution dari Oost Java.

LIM Hong Tek, pengusaha karet kelahiran Padang Sidempuan yang memulai karir dalam bidang perdagangan di Padang Sidempuan. Pernah menjadi anggota Dewan di Padang Sidempuan. Bisnisnya terus berkembang tidak hanya dalam plantation tetapi juga pabrik pengolahan karet di Tapanoeli, seperti di Padang Sidempuan, Batangtoru dan Sibolga. Salah satu bisnis Lim Hong Tek di Padang Sidempuan adalah Hong Tek Cinema yang kemudian berganti nama menjadi Bioskop Horas.

Tjioe Mo Tjiang
TJIOE Mo Tjiang, pemilik perusahaan PT Dos Ni Roha kelahiran Padang Sidempuan 18 Februari 1915. Untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dia disekolahkan neneknya di HIS Sibolga. Setelah menambatkan sekolah Chineese Lagere School 1930 melanjutkan sekolah  Chung Min High School di Penang. Pada tahun 1935 ia pulang kampong tetapi tidak ke Padang Sidempuan tetapi ke Gunung Sitoli untuk membantu ayah berdagang. Pada tahun 1940 hijrah ke Sibolga menjadi guru lalu pada tahun 1946 ia menjadi manajer NV. Tat Hoat (importis dan eksportir). Tahun 1950 kantor pusat NV. Tat Hoat pindah ke Jakarta. Pada tahun 1956 memulai usaha sendiri di Tanjung Pandan, Belitung. Pada tahun 1962 bersama adiknya A. Susanto membangun usaha di bidang perlengkapan bank dari Amerika Serikat, kertas dari Kanada. Pada tahun 1966 mendirikan perusahaan PT Dos Ni Roha importer obat-obatan dar Roche, Ceiba, Geigy dan Schering. Semua usaha itu cukup berhasil. Setelah itu perusahaan-perusahaannya tumbuh dan bertambah hingga awal tahun 1990an. Tjioe Mo Tjiang aliar Eugene Trismitro adalah salat satu tokoh Tionghoa yang sangat berhasil di Indonesia. Anak Padang Sidempuan, pemilik PT. Dos Ni Roha itu meninggal dunia di Jakarta tahun 2005 (sumber: Tokoh Tokoh Tionghoa di Indonesia oleh Sam Setyautama. Penerbit Gramedia, 2008).


Tsukimoto, bukan seorang Tionghoa tetapi seorang Jepang yang telah lama bermukim di Padang Sidempuan. Tsukimoto pemiliki perusahaan J. Tsukimoto & Co. Tsukimoto sangat terkenal di Padang Sidempuan dengan nama tokonya ‘Toko Japan’. Pada tahun 1931, Tsukimoto dan Tjioe Tjeng Liong termasuk anggota komisi dalam membantu korban bencana di Pakantan. J. Tsukimoto kemungkinan hijrah tahun 1935 ke Batavia di Pasar Besar (Pasar Baru?).

Tsukimoto kemungkinan adalah satu-satunya (keluarga) Jepang di Padang Sidempuan sebelum terjadinya pendudukan Jepang di Indonesia. Tsukimoto kemungkinan besar datang (migrasi) dari Medan. Sejak akhir abad kesembilan belas sudah banyak orang-orang Jepang di Medan (yang waktu itu konsentrasi mereka banyak di Singapoera).


Nama-nama lainnya: Tan Hok, seorang pedagang van Padang Sidempoean (Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 10-06-1884. Lie Koen Bie lulus sekolah guru HC Kweekschool di M Cornelis (1931) lalu ditempatkan di HCS Sibolga dan tahun 1936 pindah ke HCS Padang (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-11-1936). Sho Tjai Sen, seorang pengusaha bertempat tinggal di Padang Sidempuan dengan merek dagang Gie Tjiang (Bataviaasch nieuwsblad, 21-02-1935). Pan A San dengan nama firma Seng Lie di Padang Sidempuan.

Orang-orang Tionghoa di Padang Sidempuan pasca kemerdekaan

Salah satu orang Tionghoa Padang Sidempuan yang menonjol pasca kemerdekaan adalah seorang pemuda bermarga Liem. Dia sebenarnya adalah anak seorang pengusaha sukses yang bergerak di berbagai bidang perniagaan termasuk perhotelan di Padang Sidempuan. Keluarga Liem sudah beberapa generasi tinggal di Padang Sidempuan. Ketika mengetahui bahwa Belanda telah berhasil menguasai Sibolga baik dari laut maupun dari darat (dari Tarutung), anak-anak Padang Sidempuan bersiap-siap memberikan perlawanan termasuk pemuda Liem. Para pemuda pejuang menyongsong hingga ke Batangtoru. Tugas pengangkutan parjurit dilakukan oleh pemuda Liem.

Namun perlawanan yang diberikan di jembatan Batangtoru, dari pihak pasukan Belanda memborbardir pasukan republik. Tentu saja perlawanan yang tidak seimbang di tengah hari itu membuat para pejuang melakukan mundur hingga memasuki kota Padang Sidempuan. Rupanya warga kota juga tidak senang dengan kehadiran Belanda, lalu warga mengungsi ke gunung dan hutan. Sebelum meninggalkan kota, warga melakukan bumi hangus agar setiap bangunan yang ada tidak bisa digunakan Belanda. Catatan: hanya ada dua kota di Indonesia bumi hangus lautan api, yakni selain Bandoeng adalah Padang Sidempoean.

Setelah semua warga mengungsi, para pemuda pejuang terus melancarkan perlawanan dengan cara bergerilya. Para pemuda terus melakukan konsolidasi di dua arah kota: ke arah Sipirok di Simirik dan ke arah Panyabungan di Pijorkoling. Dari dua titik kekuatan inilah pasukan melakukan perang gerilya. Untuk mengkonsolidasikan penduduk di pengungsian peran ini dilakukan oleh Kalisati yang saat itu menjabat Kepala Dinas Perdagangan untuk urusan logistic. Sedangkan untuk urusan logistik di pihak pemuda pejuang dibebankan kepada pemuda Liem (yang telah dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Mayor).
Kalisati setelah menyelesaikan sekolah perdagangan 1938 di Batavia lalu bekerja di Kantor Statistik bagian statistik perdagangan. Ketika pendudukan Jepang, Kalisati pulang kampung di Padang Sidempuan. Namun pemerintah militer Jepang di Padang Sidempuan memintanya untuk menjabat sebagai Kepala Dinas Perdagangan Afd, Padang Sidempuan. Posisi ini tetap dijabat Kalisati hingga kebalinya Belanda. Kalisati adalah ayah dari Hariman Siregar, Ketua DEMA UI tahun 1974.
Tapi Serma Liem bukanlah tentara republik yang hanya duduk mengurus logistik di belakang markas-markas perjuangan, Akan tetapi Serma Liem juga ikut berada di tengah pertempuran. Serma Liem kerap menyamar sebagai supir untuk mengangkut para prajurit jika berencana melakukan aksi gerilya. Tidak jarang mobil yang dibawa Serma Liem dicegat pasukan Belanda, namun pemuda Liem berkilah bahwa mobilnya kosong (hanya membawa barang-barang dagangan). Memang pemuda Liem kelihatan tidak seperti tentara apalagi dia adalah peranakan Tionghoa, jadi patroli pasukan Belanda percaya saja argumennya (padahal didalamnya banyak pemuda pejuang yang bersembunyi di bawah barang-barang bawaan). Kisah yang menarik inilah teman-teman seperjuangannya memberinya nama Lian Kosong (Liem pembawa mobil kosong).

Serma Lian Kosong setelah pengakuan kedaulatan RI tidak berkarir di militer seperti teman-temannya seperjuangannya. Serma Lian Kosong lebih memilih berbisnis meneruskan bisnis orangtuanya. Salah satu bisnis Lian Kosong yang terkenal adalah di bidang penginapan yang doeloe bernama Sentral Losmen Padang Sidempuan yang berada di tengah kota. Serma Lian Kosong hidup tenang selama sisa hidupnya dan meninggal dunia tahun 1987 di kampong halamannya di Padang Sidempuan.   

Dari gambaran singkat di atas (dan tentu saja belum lengkap, karena kekurangan data dan informasi) sebenarnya orang-orang Tionghoa sudah sejak lama ada di Padang Sidempuan (lebih awal dari orang-orang Tionghoa di Medan). Pedagang Tionghoa yang datang tahun 1691 tidak hanya membuka isolasi Angkola/Padang Sidempuan dari luar, tetapi juga telah berbaur dengan penduduk local (perkawinan pemuda pedagang Tionghoa dengan gadis Angkola). Lim Soen Hin telah berbaur dalam dunia jurnalistik tidak hanya editor surat kabar berbahasa Melayu tetapi juga menjadi editor suratkabar berbahasa Batak. Kemudian, Serma Lian Kosong juga tidak hanya menunjukkan pergaulan yang kental dengan sesama pemuda Padang Sidempuan tetapi juga turut berjuang melawan penjajah. Last but not least: dulu ketika masih bersekolah di Padang Sidempuan salah satu anak Serma Lian Kosong menjadi rekan saya turut aktif di dalam Dewan Kerja Cabang (DKC) gerakan pramuka Kwarcab Tapanuli Selatan. Seorang teman sekolah saya dulu bernama Rudi Hermanto kini juga tengah berjuang di dewan (DPRD) Kota Padang Sidempuan sebagai anggota dewan. Itulah Padang Sidempuan, meski sebuah kota kecil di pedalaman Sumatra, tetapi sejak dari dulu hingga kini selalu memberi contoh besar yang patut diteladani oleh kota-kota besar, seperti Kota Medan.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe, Artikel ini didedikasikan kepada teman-teman saya dari keluarga Lim dan keluarga Tjioe serta keluarga Tsukimoto selagi masih sekolah di Padang Sidempuan.

Tidak ada komentar: