30/07/14

Bag-1: SEJARAH SIPIROK: ‘Pembentukan Pemerintahan Sipil pada Era Hindia Belanda’



Kota Sipirok, 1906
Sipirok punya sejarah, sejarah tersendiri dan unik. Namun. sejarah Sipirok sejauh ini belum sepenuhnya terungkap ke permukaan. Sipirok yang mayoritas sudah beragama Islam, tidak hanya basis permulaan penyebaran injil di Bataklanden, tidak hanya basis terakhir pertempuran oleh agresi militer Belanda di Indonesia (sebelum penyerahan kedaulatan), dan tidak hanya sentra kopi terbaik dunia, tetapi Sipirok juga tempat lahir orang-orang hebat di tingkat nasional. Juga, banyak hal-hal lain--mulai dari yang ‘remeh temeh’ sampai hal-hal besar (termasuk yang kontroversi) --yang selama ini terabaikan. Semua itu, akan disajikan secara kronologis dalam serial artikel ini. Bahan-bahan yang digunakan seluruhnya (otentik) bersumber dari koran-koran berbahasa Belanda tempo doeloe.

Militair Departement

Dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah Hindia Belanda (Staatsblad) No. 141, nama Sipirok belum disebut—karenanya belum terregister. Suatu wilayah baru dapat diregister oleh civiel departement jika secara defacto dianggap dapat dikendalikan oleh militair departement. Dalam struktur Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, kala itu hanya terdapat dua fungsi utama: (1) fungsi pembebasan/penguasaan wilayah oleh militair departement dan (2) fungsi pengadministrasian pemerintahan oleh civiel departement.

26/07/14

Registrasi Daerah Administrasi Tapanuli Selatan Tempo Doeloe: Dari Sumatra’s Westkust ke Tapanoeli



Berdasarkan Staatsblad no. 59, tanggal 21 Oktober 1852 salah satu residen dari Gouvernement Sumatra's Westkust adalah Mandheling-Ankola. Kemudian resgistrasi wilayah ini diperbarui berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22, tanggal 21 November I862 yang dimuat dalam lembaran pemerintah (Staatsblad) No. 141. Perubahannya menjadi berikut ini:

dari Kotta Nopan ke Laroe (½ etappe)
dari Laroe ke Fort Elout (Penjaboengan) (1 etappe)
dari Fort Elout (Penjaboengan) ke Siaboe (1 etappe)
dari Siaboe ke Soeroematingi (1 etappe)
dari Soeroematingi ke Sigalangan (1 etappe)
dari Sigalangan ke Padang Sidempoean (1 etappe)
dari Padang Sidempoean ke Panabassan (1 etappe)
dari Panabassan ke Batang Taro (1 etappe)
dari Butaog Taro ke Loemoet (1 etappe)
dari Loemoet ke Parbirahan (1 etappe)
dari Parbirahan ke Toeka (½ etappe)
dari Toeka ke Sibogha (½ etappe)

24/07/14

Dja Endar Moeda (Alumni Kweekschool Padang Sidempoean): Radja Persuratkabaran Soematra dan Pejuang Pendidikan Pribumi



Nama publiknya adalah Dja Endar Moeda. Nama kecil dan nama adatnya adalah Si Saleh (Harahap) gelar (Mangara)Dja Endar Moeda. Gelar mangaradja dari doeloe kerap disingkat Dja (hingga masa kini). Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, Si Saleh, (Mangara)Dja Endar Moeda mendapat nama baru: Hadji Muhammad Saleh.
.
Masih ingat, dua anak murid Kweekschool Padang Sidempoean yang diberitakan koran Sumatra Courant (01-05-1884) [lihat artikel bagian kedua dari serial Kweekschool Padang Sidempoean dalam blog ini] yang bernama Si Saleh dan Si Doepang yang melakukan kebajikan mengumpulkan dana untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Si Saleh, yang kala itu menjadi siswa tingkat akhir Kweekschool Padang Sidempoean sudah menyadari arti penting sharing dan caring. Entah bagaimana, koran Sumatra Courant jeli memperhatikan kiprah Si Saleh yang masih bersekolah (atas biaya orang tua) sudah sukarela pula membantu orang lain yang memerlukan biaya pendidikan. Kini dia telah menjadi guru.

23/07/14

Bag-4: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Guru Terkenal C. A. van Ophuysen dan Kiprah Para Alumni



Bagian Keempat (habis)
Karya C.A. van Ophuijzen

Adanya kebijakan sepihak dari Pemerintah Hindia Belanda, di Batavia mengakibatkan Kweekschool Padang Sidempoean ditutup pada tahun 1891. Penutupan ini sangat tidak adil. Kweekschool Padang Sidempoean diakui sendiri oleh Inspektur Pendidikan Pribumi sebagai sekolah guru berprestasi, menghasilkan banyak lulusan dengan tingkat drop out rendah. Namun demikian, tidak perlu disesali berlama-lama, karena lulusannya sudah banyak berkiprah di berbagai tempat di Sumatra. Prestasi Kweekschool Padang Sidempoean tak lepas dari kehadiran seorang guru Belanda, bernama C. A. van Ophuysen—seorang guru yang gemar belajar pula dan menjadi profesor di Universiteit Leiden.

22/07/14

Bag-3: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi, Tetapi Dilikuidasi



Bagian Ketiga

Good news, bad news
Kebun kopi di Padang Sidempoean, doeloe

Keberhasilan Kweekschool Padang Sidempoean tidak terbantahkan, tingkat kelulusan murid cukup signifikan—hal yang bertolak belakang dengan pencapaian di Kweekschool Ford de Kock. Berita bagus dari dunia pendidikan di Tapanoeli, ternyata tidak demikian dengan yang terjadi di kweekschool yang terdapat di Bangjaermasin. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 memuat editorial yang berisi bahwa Kweekschool Bandjermasin telah ditutup pada April 1891. Ini berarti telah tiga kweekschool yang ditutup yang mana sebelumnya adalah kweekschool di Magelang dan Tondano. Penutupan kweekschool di Bandjermasin sangat disayangkan, karena ini satu-satunya kweekschool di Kalimantan yang selama ini menjadi sumber guru untuk seluruh penjuru wilayah di Kalimantan.

Alasan yang disebutkan tentang penutupan itu adalah bahwa pemerintah melakukan pengetatan anggaran sebesar 16.000 Gulden per tahun. Mereka yang berada di Kalimantan diharapkan dapat memenuhi guru dengan mengirim anak-anaknya ke Bandoeng atau Probolinggo. Namun pihak-pihak yang pro dengan pendidikan, berpendapat bahwa bukan karena kesulitan anggaran pemerintah dilakukan penutupan sekolah, melainkan adanya faksi-faksi tertentu di negeri Belanda yang menginginkan penduduk asli tetap bodoh, padahal menurut mereka yang pro ini dengan menyediakan pendidikan bagi penduduk pribumi merupakan salah satu wujud ketenaran dari otoritas Belanda sebagai kekuatan peradaban di Timur, juga di pulau Kalimantan, paling tidak meningkat!
***
Kweekschool Padang Sidempoean ternyata tidak aman dari penutupan—terbuka kemungkinan untuk ditutup. Koran Algemeen Handelsblad, 07-01-1892 juga menyajikan hasil analisis, bahwa jika memang masalah anggaran penyebab penutupan, maka Kweekschool Padang Sidempoean maka sekiranya harus ditutup, tampaknya masih lebih rendah konsekuensinya jika dibandingkan dengan penutupan Kweekschool Bandjermasin. Di pantai barat Sumatra masih ada kweekschool di Ford de Kock—kapasitasnya masih memenuhi sekalipun anak-anak Tapanoeli datang. Sementara itu, di Tapanoeli terdapat perguruan misi pada Eijnsche Zendelinggeaootschap di Pansoer na Pitoe, di mana kini terdapat sebanyak 35 murid. Kweekschool Padang Sidempoean menjadi terjepit.

21/07/14

Bag-2: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Sekolah Guru Berprestasi di Era Hindia Belanda



Bagian Kedua
Kweekschool Padang Sidempoean

Koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 12-10-1882 memberitakan bahwa para calon guru di Kweekshool Ford de Kock yang mengikuti ujian semuanya gagal. Di koran ini juga diberitakan Komisi Sekolah akan ke Kweekshool Padang Sidempoean. Koran Bataviaasch handelsblad, 15-05-1883 memberitakan mutasi J.W. van Haastert ke Probolinggo, kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Hal ini juga diberitakan koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1883. Koran Bataviaasch handelsblad, 27-09-1883  memberitakan bahwa C.A. van Ophuijsen di tahun keduanya diberitakan tunjangan tambahan sehingga secara keseluruhan gajinya menjadi 200 Gulden.

Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-01-1884 memberitakan pengangkatan D. Grivel, sebagai kepala sekolah Kweekschool Padang Sidempoean. Grivel adalah guru di Kweekschool Fort de Kock mulai efektif 1 Februari 1884. Het nieuws van den dag : kleine courant, 12-03-1884 Grivel nantinya akan digantikan oleh guru pangkat kelas 1, D.W. Lantermans.

Koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 01-05-1884 melaporkan bahwa ada dua anak murid Kweekschool Padang Sidempuoen yang bernama Si Saleh dan Si Doepang melakukan kebajikan mengumpulkan untuk membantu orang yang membutuhkan. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 07-06-1884 memberitakan bahwa Mr Van Ophuijsen, asisten guru di Kweekschool Padang Sidempoean, pada paruh pertama bulan Juli datang ke Padang untuk melakukan ujian untuk mendapatkan sertifikat kemahiran dalam survei agronomi.

Bag-1: Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1893): Satu dari Delapan Sekolah Guru di Era Hindia Belanda



Bagian Pertama
Lokasi Kweekschool Padang Sidempoean, 1880

Kweekschool adalah sekolah guru bantu di era Hindia Belanda. Pada tahun 1875  Kweekschool Tanobato ditutup dan sebagai penggantinya dibuka kweekshool di Padang Sidempoean, 1879. Lokasi Kweekshool Padang Sidempoean ini (lihat, Peta-1880) kini merupakan area yang menjadi lokasi SMA-1, SMA-2, SPG, SD-16, SD-23, SD-14 dan SMP-3. Sementara bangunan lama kweekshoolnya sendiri pada masa ini masih terlihat dan menjadi gedung SMA Negeri 1 Padang Sidempuan.

***
Koran Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-12-1874 memberitakan bahwa sekolah guru Inlandsehe di Tano Bato akan dipindahkan ke Padang Sidempoean. Sekolah ini akan diprogram untuk mendidik sebanyak 25 murid yang berada di wilayah Tapanoeli. Koran Algemeen Handelsblad, 21-09-1875 menyatakan bahwa kweekschool yang ada nantinya akan mengidikasikan sekolah guru hanya terdapat di delapan kota, yakni: Magelang, Bandoeng, Proboliggo (java); Amboina. Tondano, Bandjermasin, Fort de Kock (Bukittinggi); dan Padang Sidempoean.

17/07/14

Dr. Parlindoengan Loebis, Anak Batangtoru: Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi

dr. Parlindoengan Loebis


Parlindoengan Loebis lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan 30 Juni 1910. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda, HIS Padang Sidempuan, 1924, Parlindoengan melanjutkan pendidikan sekolah menengah (MULO) ke Medan. Parlindoengan Loebis bersama teman-temannya dari Tapanuli Selatan, Abdul Azis Harahap, Jawhara Loebis dan Casmir Harahap  sama-sama lulus MULO tahun 1927 sebagaimana diberitakan De Sumatra Post, 17-05-1927. Selanjutnya, Parlindoengan Loebis dan Casmir Harahap melanjutkan pendidikan kelas 4--AMS Afdeeling B (bidang Matematika dan Fisika) ke Weltevreden, Batavia. Parlindoengan Loebis sendiri lulus dari AMS tahun 1930 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-05-1930).

Setelah lulus sekolah menengah (AMS) di Weltevreden, Batavia (kini Pasar Baru, Jakarta), Parlindoengan Loebis mendaftar ke sekolah tinggi pelatihan dokter Geneeskundige hoogeshool di Batavia. Pada tahun 1931 sebagaimana diberitakan Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) Parlindoengan Loebis lulus ujian kandidat bagian I sebagai asisten medis. Namun karena dianggap memenuhi syarat, Parlindoengan Loebis direkomendasikan menjalani pendidikan yang lebih tinggi di bidang kedokteran di Negeri Belanda.

12/07/14

Sejarah Catur Indonesia: Bermula di Tanah Batak


Baca juga:


Sudah sejak lama permainan catur ada di Indonesia. Di Tanah Batak, permainan catur ini sudah sejak lama pula dikenal. Namun permainan catur ini baru populer sejak orang-orang Belanda datang ke Indonesia. Bentuk dan cara bermain catur ala Batak dengan Eropa/Belanda ada perbedaan (berita-berita koran Belanda tidak menyebut perbedaannya apa). Diduga bentuk dan permainan catur di Tanah Batak diadopsi dari salah satu dua sisi persentuhan komunitas Batak dengan asing: Di satu sisi menyebar dari pantai barat, pantai Sibolga, dimana pada masa doeloe pelabuhan-pelabuhan yang ada di sekitar Tanah Batak (yang kemudian disebut Tapanoeli) merupakan pertemuan para pedagang dari berbagai negeri di dunia (termasuk India Selatan--situs Lobu Tua) dan pedagang-pedagang Tanah Batak melakukan transaksi dagang terutama kamper, damar dan kemenyan.Di sisi yang lain menyebar dari pantai timur, daerah aliran sungai Barumun di area (situs) percandian Portibi, Padang Lawas, tempat koloni India Selatan (era King Cola I) dalam eksplorasi emas pada abad kesebelas.

Buku sejarah catur di Batak, 1905
Di Tanah Deli, keberadaan catur Batak itu belum dikenal. Akan tetapi orang-orang Batak yang merantau ke Tanah Deli cepat memahami dan mengadopsi cara bermain catur Eropa/Belanda. Permainan catur ala Eropa/Belanda ini di Tanah Deli sudah lama dilakukan oleh komunitas orang-orang Eropa/Belanda. Dari komunitas-komunitas catur inilah, anak-anak muda Batak mulai mengadopsi catur ala Eropa/Belanda. Akibatnya, lantas, lambat laun, cara bermain catur ala Eropa/Belanda ini cepat mengalami difusi di Tanah Batak yang akhirnya, catur ala Batak lambat laun ditinggalkan oleh generasinya sendiri. Sejak itu, catur ala Eropa/Belanda menggantikan catur ala Batak di seluruh penjuru Tanah Batak.

Sejarah catur Indonesia, berita pertama datang dari koran Sumatra Post di Medan, 1904

Meski permainan catur sudah populer di kalangan orang-orang Belanda, baik di Batavia, Deli, Semarang dan lainnya, tetapi tidak satupun koran-koran Belanda yang memberitakan ‘permainan otak’ ini. Berita keberadaan catur di Indonesia kala itu terpasung oleh berita-berita sepakbola (kala itu masih dengan otot) yang sudah mulai mendapat porsi di koran-koran Belanda. Sontak, koran-koran berbahasa Belanda tiba-tiba bergetar dengan berita pertama yang dimuat koran Sumatra Post yang terbit di Medan tanggal 17 Juni 1910. Berita dari Medan ini dikutip dan dipublikasi ulang oleh koran-koran di Batavia, Semarang dan Surabaya. Berita apa itu?

11/07/14

Bag-8: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Lahir Sebagai ‘Anak Tapanoeli’, Wafat Sebagai ‘Arek Soerabaja’

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kedelapan, habis)

Radjamin Nasoetion (foto 1941)
Radjamin Nasution, lahir di kampong Barbaran Julu, Panyabungan, Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan, Sumatera Utara tanggal 15 Agustus 1892. Radjamin memulai pendidikannya, di sekolah dasar (ELS) di Padang Sidempuan dan selanjutnya menempuh pendidikan kedokteran (STOVIA) di Batavia. Sebagai dokter, Radjamin Nasution ditempatkan bekerja sebagai pegawai dan petinggi Bea dan Cukai di era pemerintahan Belanda yang pernah ditempatkan di berbagai tempat antara Sabang dan Banyuwangi, seperti Medan, Jambi, Kalimantan, Cilacap, Semarang dan terakhir di Surabaya. Di Kota Surabaya, Radjamin terjun ke dunia organisasi sosial, partai politik yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota dewan kota (gementeeraad), provinsi dan pusat (Volksraad).

Di era Jepang, Radjamin dipercayakan militer Jepang untuk menjabat Walikota Surabaya; demikian juga di era kemerdekaan, petinggi republik di Jakarta juga mempercayakan walikota Surabaya kepada Radjamin. Selama perang, Radjamin ikut berjuang, tetapi setelah pengakuan kedaulatan, haknya sebagai walikota dirampas. Radjamin berjuang kembali melalui parlemen kota. Proposalnya yang pro rakyat tidak digubris walikota penggantinya, Doel Arnowo. Para anggota parlemen menilai figur Doel Arnowo yang ditunjuk atas dasar seorang pemuda heroik di dalam perang Surabaya dianggap lemah dalam memimpin eksekutif pemerintahan, mosi tidak percaya muncul, akhirnya Doel Arnowo lengser sebagai Walikota Surabaya.

08/07/14

Bag-7: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Bekerja Hanya Untuk Rakyat, Dimakamkan Bersama Rakyat, Tidak Diakui Pemkot Sebagai Walikota Surabaya Pertama

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini
(bagian ketujuh)

Radjamin Nasution (foto 1941)
Radjamin Nasoetion tidak menganggap penting kedudukannya sebagai Kepala Bea dan Cukai di era Belanda di Surabaya, ketika aspirasi rakyat Surabaya mengakumulasi memintanya untuk menjadi anggota dewan kota (Gemeenteraad). Radjamin siap. Kemudian tokoh-tokoh adat Surabaya melihat profil Radjamin lantas justru merekomendasikan dan mendukung penuh Radjamin duduk di dewan. Inilah awal mula mengapa Radjamin tiba-tiba ‘ngetop’ di Surabaya tahun 1931.

Radjamin Nasution hanya bekerja untuk rakyat Surabaya

Gebrakan pertama Radjamin ketika hari pertama duduk di dewan adalah mengajukan proposal yang pro rakyat. Ini sangat jarang terjadi, ketika di era itu, seseorang yang sudah berkedudukan tinggi dan berkecukupan justru bergelora mengangkat harkat rakyat. Pada masa itu, kekuasaan Belanda penuh ketidakadilan dimana-mana, termasuk di Surabaya. Hal ini tentu sudah diketahuinya juga bahwa di kampungnya di Tapanuli Selatan, penindasan kaum Belanda juga tiadataranya (bahkan sejak era Edward Douwes Dekker/Multatuli yang membangkang kebijakan pemerintah Belanda yang pada waktu itu Edwarr sebagai controleur di Natal, Mandheling en Ankola tahun 1842), Radjamin yang seorang dokter, mantan aktivis Stovia dan pernah menggagas bersama dr. Soetomo mendirikan ‘Boedi Oetomo’ yang bergerak di bidang pendidikan. Kala itu, anak-anak Stovia menyadari hanya lewat pendidikanlah ketidakadilan kaum Belanda dapat dientaskan.

Bag-6: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Setelah Berjuang Lantas Disingkirkan, Berjuang Kembali Melalui Parlemen

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian keenam)

De vrije pers: ochtendbulletin, 08-04-1950 melaporkan bahwa kemarin Dul Arnowo ditunjuk untuk menjabat sementara Gubernur Jawa Timur. Tentang Radjamin, Arnowo tidak bersedia menjawab, tetapi mengiyakan bahwa administrasi Pemerintah Kota Surabaya menjadi tanggungjawabnya karena sebelumnya Gubernur Samadikun telah mengambil alih sementara fungsi administrasi Pemerintah Kota Surabaya. Arnowo hanya menjawab bahwa dia mendengar Radjamin sedang bersiap menemui yang berwenang, Kementerian Dalam Negeri di Yogya.

***
Setelah berita De Vrije Pers (8/4/50) di atas, tidak pernah muncul lagi pemberitaan tentang posisi Radjamin gelar Sutan Kumala Pontas sebagai Walikota Surabaya.Seakan hilang tertelan bumi. Seminggu kemudian, sebagaimana diberitakan oleh koran De vrije pers: ochtendbulletin, 17-04-1950,  RadjaminNasution terpantau berada di dalam pembukaan kantin ALRIS (Angkatan Laut RIS). Radjamin Nasution terlihat disambut hangat dan akrab oleh Kepala Departemen Informasi ALRIS, Kapten Sutan Samsudin.Kapten Samsudin mengundang sejumlah pihak dalam acara pembukaan ini selain relaksasi juga untuk memberi dorongan moral bagi pasukan angkatan laut.Kolonel Nazir (Komando Laut di Surabaya) berpidato sekaligus membuka resmi kantin ini.Turut hadir dalam acara ini Gubernur Sipil,Samadikun.

06/07/14

Bag-5: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Walikota di Pengungsian, Ikut Berjuang, Tapi Setelah Pengakuan Kedaulatan, Hak Sebagai Walikota Dirampas

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kelima)

Selama awal pendudukan Jepang di Surabaya, propaganda Jepang terus menerus dilancarkan. Bahkan setiap hari ada pesan-pesan yang berbau propaganda. Di koran Soerabaijasch Handelsblad juga pesan-pesan ini dikemas dalam berbagai bentuk seperti berita, cerita dan maklumat. Bulan-bulan awal kedatangan Jepang, di koran Surabaya ini dipampang bendera Jepang, lagu kebangsaan Jepang dengan not baloknya, dan kisah-kisah tentang Jepang dan maksud-maksud Jepang dengan motif mempersatukan Asia dengan pusat di Jepang (matahari terbit).

Koran Soerabaijasch Handelsblad yang berbahasa Belanda ditangani oleh orang-orang Belanda sejak puluhan atau ratusan tahun telah distir oleh pemerintah pendudukan Jepang di Surabaya. Di edisi-edisi yang terakhir koran ini, sejumlah berita atau feature berbahasa Indonesia sudah dimasukkan. Lambat laun koran ini hilang identitasnya sendiri, dan mungkin karena itu koran ini akhirnya hilang selamanya dari peredaran. Koran ini jua yang menjadi sumber utama dalam artikel bagian pertama hingga bagian keempat tentang kisah Radjamin ini.

***
Radjamin sendiri di kantornya sangat sibuk dengan berbagai urusan, di satu sisi silih berganti menerima tamu-tamu Jepang, di sisi lain harus melakukan rapat koordinasi dengan pejabat-pejabatnya yang baru (hampir semuanya pribumi) dalam rangka menjaga kesinambungan pemerintahan dan pembangunan fasilitas kota yang di sana sini banyak rusak akibat perang Jepang terhadap Belanda. Radjamin juga sibuk memantau urusan pendaftaran orang asing atas permintaan ‘juragan’nya. Juragannya yang orang Jepang entah itu mereka ada dimana. Singkat cerita, tidak ada waktu baginya lagi untuk menerima rakyat yang antri di balai kota.

Tapi Radjamin tidak kaku dan memang cerdas dan selalu memandang lain terhadap orang asing, baik Belanda maupun Jepang. Radjamin yang tidak lupa dekat dengan rakyatnya, tetapi hampir selalu ada waktu luang bagi Radjamin untuk menemui rakyatnya. Waktu senggangnya di luar dinas dimanfaatkannya tetap dengan gayanya melakukan blusukan ke mana-mana untuk mendeteksi keluhan masyarakat apalagi yang terkait dengan permasalahan kebutuhan pokok.

Gaya blusukan ini tampaknya dilakukan diam-diam (di luar area balai kota), karena pihak Jepang tidak merestui cara blusukan gaya Radjamin. Pihak Jepang lebih menginginkan komunikasi satu arah saja dengan penduduk, seperti radio, koran, maklumat-maklumat, upacara-upacara dan sebagainya. Radjamin jelas tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh para ‘juragan’. Demikianlah keseharian Radjamin, dari minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.

05/07/14

Bag-4: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Pendudukan Jepang dan Pengangkatan Radjamin Sebagia Walikota

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian keempat)

Di Surabaya, Radjamin tiba-tiba mendapat surat dari anak perempuannya, seorang dokter yang bersuamikan dokter yang sama-sama berdinas di Tarempa, Tandjong Pinang, Kepulauan Riau. Surat ini ditujukan kepada khalayak dan cepat beredar, karena termasuk berita penting masa itu. Surat kabar Soeara Oemoem yang terbit di Surabaya mempublikasikan isi surat keluarga (anak kepada ayahnya) tersebut menjadi milik public sebagaimana dikutip oleh koran De Indische Courant tanggal 08-01-1942. Berikut isi surat tersebut. Tandjong Pinang, 22-12-194l. Dear all. Sama seperti Anda telah mendengar di radio Tarempa dibom. Kami masih hidup. Dan seterusnya (lihat artikel bagian ketiga sebelumnya).

***
Tanggal 3 Februari 1942 perang benar-benar meletus di Kota Surabaya. Pasukan Jepang selama satu bulan beberapa kali mengebom Kota Surabaya. Koran Soerabaijasch Handelsblad yang menjadi salah satu sumber utama artikel tentang Radjamin ini, lama tidak terbit. Baru terbit kembali pada tanggal 26-02-1942. Dalam terbitan tersebut, dilaporkan terjadi perubahan di Dewan Kota. Radjamin diangkat sebagai wakil ketua.
Pasukan Jepang memasuki Kota Surabaya

Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintahan Belanda di Indonesia benar-benar takluk tanpa syarat kepada pasukan Jepang. Pada hari itu juga kekuasaan Gemeente (Pemerintahan Kota) Surabaya berpindah tangan kepada militer (pasukan tentara) Jepang. Lantas Dewan Kota dibubarkan. Namun demikian, pada fase konsolidasi ini, pihak Jepang masih memberi toleransi dua kepemimpinan di dalam kota. Walikota Fuchter masih dianggap berfungsi untuk kepentingan komunitas orang-orang Eropa saja. Sementara walikota di kubu Indonesia dibawah perlindungan militer Jepang ditunjuk dan diangkat Radjamin Nasoetion--Wethouder, mantan anggota senior dewan kota yang berasal dari bumiputra.

03/07/14

Bag-3: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Partai Politik, Volksraad dan Surat dari Anaknya di Tarempa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian ketiga)

Walikota Surabaya, Fuchter
Koran Soerabaijasch Handelsblad yang terbit tanggal 13-05-1938 melaporkan bahwa Radjamin termasuk salah satu kandidat pribumi untuk calon perwakilan dewan pusat dari Surabaya. Pada saat yang bersamaan sebagaimana diberitakan koran De Indische Courant tanggal 04-06-1938, Radjamin termasuk salah satu pejabat pemerintah yang naik pangkatnya menjadi Kelas 2 (Eselon 1). Sementara itu, koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 20-07-1938 memberitakan bahwa Radjamin menjadi salah satu petinggi (sekretaris) Parindra Kota Surabaya. Selanjutnya diberitakan koran De Indische Courant, 01-08-1938 bahwa Radjamin menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan umum Stadgemeenteraad (Perwakilan Dewan Kota) dari Parindra untuk Volksraad.

Bag-2: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Anak Rantau yang Ingat Kampung Halamannya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kedua)

Radjamin vs Koesmadi. Sangat jarang seorang putra daerah tulus ikhlas memberi jalan kepada putra pendatang dalam suatu pemilihan umum daerah. Ini benar-benar terjadi, ketika Radjamin (seorang Tapanuli) diusulkan berbagai kalangan untuk maju menjadi Anggota Dewan Kota, sementara incumbent yang juga mencalonkan diri, Koesmadi (putra daerah Surabaya), mengundurkan diri sebelum ‘perang’ dimulai. Sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Akhirnya Radjamin melenggang dengan mulus ke Parlemen Kota.

Berita keberhasilan Radjamin ini cepat tersebar luas, utamanya di Batavia dan Medan. Boleh jadi berita ini hanya sedikit rembesan cerita sampai ke Tapanuli Selatan—kampung halaman Radjamin Nasoetion. Mungkin Radjamin tidak terlalu dikenal di kampung halamannya, sebab umur tujuh tahun Radjamin mengikuti sekolah dasar di Padang Sidempuan, sekolah menengah di Medan, dan perguruan tinggi di Batavia.

02/07/14

Bag-1: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Lulusan STOVIA Hingga Menjadi Angota Dewan Kota

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini


Radjamin Nasoetion dikenal luas sebagai walikota pertama Kota Surabaya. Namun tidak banyak yang mengetahui darimana asal usulnya dan bagaimana Radjamin bisa menjadi Walikota. Kisah Radjamin yang berkarir dalam tiga era (Belanda, Jepang dan Republik) sangat berliku. Lantas apa saja perannya selama perang kemerdekaan dalam pertempuran Surabaya. Artikel ini coba menyajikan riwayat Radjamin Nasoetion berdasarkan hasil penelusuran berbagai surat kabar yang terbit sejak 1908. Inilah kisah (bagian pertama) tentang Radjamin Nasoetion.

01/07/14

Kapal Api Itu Bernama s.s. 'Sipirok'



Kapal itu diberi nama s,s, Sipirok. Sebuah kapal yang dibangun 1928 oleh  N.V. Werf v.h. Rijkee & Co, Rotterdam bertonase 1.787 ton. Kapal ini diluncurkan dari galangan kapal di Amsterdam pada tanggal 27 Oktober 1928. Kapal ini akan dioperasikan utamanya untuk menghubungkan berbagai pulau di Nusantara dan juga melakukan pelayaran internasional antara Amsterdam-Batavia. Kapal ini adalah milik KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij)--perusahaan pelayaran besar di negeri Belanda.

Kapal api s.s. Sipirok (1928-1942)
Biasanya nama-nama kapal adalah nama pulau, selat, kota pantai atau lainnya. Jarang sekali nama kapal diberi nama wilayah. Namun demikian, inspirasi pemberian nama ini ternyata berasal dari adanya booming kopi dari Sipirok di tahun 1920an. Kapal-kapal dagang milik KPM termasuk yang kerap mengangkut kopi yang berasal dari Sipirok menuju Eropa. Kapal s.s. Sipirok terdeteksi terakhir di Pelabuhan Padang pada tanggal 15 Maret 1940. Tidak lama kemudian kapal bernama s.s. Sipirok ini dilaporkan telah tenggelam pada 6 Maret 1942 di Pelabuhan Cilacap.