03/09/15

Dr. Sorip Tagor Harahap: Alumni Pertama Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor (1912); Pendiri Sumatranen Bond di Belanda (1917)


Agus Tagor bin Muhammad Sorip
Sorip Tagor lahir di Huta Imbaru, Padang Sidempuan, 21 Mei 1888. Anak dari pasangan Radja Tagor Harahap dan Dorima Siregar ini memulai pendidikan dasar berbahasa Belanda (ELS) di Padang Sidempuan. Setelah lulus melanjutkan ke HBS di Batavia. Selanjutnya masuk Sekolah Dokter Hewan (Inlandschen Veeartsen School) di Bogor 1907. Sekolah Dokter Hewan Bogor ini dibuka tahun 1907 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-06-1928).

Sebelum lulus, Sorip Tagor diangkat sebagai asisten dosen (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-08-1912). Pada tahun 1912 Sorip Tagor dinyatakan lulus dan bergelar Dokter Hewan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-08-1912).

Pada tahun 1910, Alimoesa Harahap mengikuti jejak Sorip Harahap hingga ke Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Alimoesa, kelahiran Losung Batu, Padang Sidempuan lulus tahun 1914 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1914). Alimoesa Harahap kelak berkarir sebagai pejabat kesehatan di Pematang Siantar dan pada tahun 1922 menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) Pematang Siantar. Pada tahun 1927, Alimoesa Harahap terpilih menjadi anggota dewan di pusat (Volksraad). Alimoesa Harahap adalah anggota Volksraad pertama dari Sumatra Utara.

Siswa-siswa lainnya pada fase awal ini (1910-1930) yang menyusul ke Sekolah Dokter Hewan di Bogor yang berasal dari afdeling Padang Sidempoean, antara lain: Abu Bakar Siregar, Alibasa Harahap, Pinajoengan, Anwar Nasoetion, Hari Rajo Pane dan lainnya. Anwar Nasoetion adalah ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB 1978-1987).

Pada tahun 1913, Sorip Tagor diangkat lagi sebagai asisten dosen di Sekolah Dokter Hewan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1913). Setelah beberapa tahun menjadi asisten dosen, Sorip Tagor berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar dokter hewan penuh (setara dokter hewan Belanda). Bulan Juni 1916, Sorip Tagor lulus dan diterima sebagai kandidat dokter hewan di Rijksveeartsenijschool, Utrecht (lihat Algemeen Handelsblad, 19-06-1916).

Ketika Medan masih sebuah kampung, Padang Sidempuan adalah kota besar
Pada tahun 1917, Sorip Tagor dipromosikan dari tingkat tiga ke tingkat empat (lihat Algemeen Handelsblad, 23-09-1917). Oleh karena sekolah dokter hewan hanya ada di Utrecht, dan di sekitar tahun kedatangan hingga lulus tidak terdapat nama pribumi maupun Tionghoa, besar kemungkinan Sorip Tagor adalah mahasiswa pribumi pertama di sekolah dokter hewan di Belanda. Dengan kata lain, Sorip Tagor adalah pelopor pendidikan kedokteran di Hindia (Indonesia).

Pribumi pertama yang kuliah di Belanda adalah Soetan Casajangan, kelahiran Batunadua, Padang Sidempoean. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada, mantan seorang guru di Simapilapil, alumni Kweekschool Padang Sidempoean tiba di Amsterdam tahun 1905. Tujuan kedatangannya untuk mendapatkan akte kepala sekolah di Harlem. Selama kuliah, Soetan Casajangan aktif menulis dan berorganisasi. Pada tahun 1908, Soetan Casajangan menggagas didirikannya Perhimpunan Hindia (Indisch Vereeniging) yang sekaligus menjadi presiden pertama. Organisasi pelajar ini kelak berubah nama menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Soetan Casajangan kembali ke tanah air tahun 1914 dan ditempatkan mengajar di sekolah eropa di Buitenzorg. Besar kemungkinan Sorip Tagor dan Soetan Casajangan sudah kenal dekat baik ketika di Padang Sidempuan maupun di Buitenzorg. 

Pionir lainnya, antara lain: (1) Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pertama orang Batak, satu dari dua pribumi di Sumatra, dan satu dari delapan pribumi di Hindia. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pribumi pertama yang bergelar doktor (PhD), lulus dari Universiteit Leiden tahun 1925 (2) Ida Loemongga adalah sarjana kedokteran lulusan Leiden dan melanjutkan studi doktoral ke Utrecht dan meraih gelar doktor tahun 1932. Ida Loemongga Nasution adalah pribumi pertama yang begelar PhD di Indonesia (3) Soetan Goenoeng Moelia adalah penerus Soetan Casajangan yang sama-sama studi di bidang pendidikan. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia adalah pribumi pertama yang bergelar doktor (Phd), lulus dari Rijks Universiteit, Belanda tahun 1933. Jangan lupa: Satu lagi, Si Sati Nasution atau dikenal sebagai Willem Iskander adalah orang pribumi pertama studi ke Negeri Belanda tahun 1857 untuk mendapatkan akte guru. Setelah lulus tahun 1861, Willem Iskander pulang ke kampung dan tahun 1862 mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato (afd. Mandheling en Ankola yang lalu menjadi afd. Padang Sidempuan). Willem Iskander adalah pelopor pendidikan nasional di Indonesia. Untuk sekadar diketahui, dua kakak kelas Si Sati yang bernama Si Asta dan Si Angan diterima di sekolah kedokteran Dokcter Djawa School di Batavia tahun 1854. Keduanya lulus tahun 1857 dan mereka berdua adalah siswa yang pertama diterima di Docter Djawa School (kemudian menjadi STOVIA) yang berasal dari luar Djawa... .

Selama masa kuliah di Utrecht, Sorip Tagor aktif berorganisasi terutama di Indisch Vereeniging. Anak-anak asal Padang Sidempoean di Belanda sudah cukup banyak ketika Sorip Tagor datang, antara lain: Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (tiba 1910), Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (1911). Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi. Mangaradja Soangkoepon dan Soetan Goenoeng Moelia kelak menjadi anggota Volksraad. Radja Enda Boemi sendiri kemudian menjadi ahli hokum pribumi pertama yang meraih gelar doktor (PhD) pada tahun 1925.

Sumatra Bond di Belanda 1917
Sorip Tagor mempelopori didirikannya Sumatranen Bond di Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1917, Sumatranen Bond resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan). Tujuan didirikan organisasi ini untuk meningkatkan tarap hidup penduduk di Sumatra, karena tampak ada kepincangan pembangunan antara Jawa dan Sumatra. Mereka yang tergabung dalam himpunan ini menerbitkan majalah yang akan dikirim ke Sumatra dan mengumpulkan berbagai buku yang akan dikirimkan ke perpustakaan di Padang, Fort de Kock, Sibolga, Padang Sidempoean, Medan. Koeta Radja dan di tempat lain di Soematra  (lihat De Sumatra post, 31-07-1919).

Di Batavia juga didirikan Sumatranen Bond. Organisasi ini dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA yang berasal dari Sumatra. Sumatra Bond yang disebut Jong Sumatra didirikan pada tanggal 8 Desember 1917.  Asosiasi pemuda ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intesitas (pembangunan) hanya berada di Jawa dan di Sumatra dan pulau-pulau lainnya terabaikan. Dengan kata lain pemikirannya sama dengan Sumatranen Bond yang berada di Belanda. Susunan pengurus Jong Sumatranen di Batavia ini adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918).

Perhimpunan Hindia pada era Sorip Tagor memulai ‘memanaskan mesin’ rezim politik. Selama ini Perhimpunan Hindia masih sebatas memperjuangkan isu-isu pembangunan khususnya pertanian, ekonomi dan pendidikan. Kabarnya, organisasi ini semakin loyo sejak Soetan Casajangan pulang ke tanah air tahun 1914. Berbagai diskusi, rapat besar atau kongres dilakukan di lingkungan Perhimpunan Hindia. Pendirian Sumatranen Bond di Belanda oleh Sorip Tagor menjadi penanda perubahan haluan Perhimpinan Hindia dari incremental ke arah yang lebih radikal. Tingkat radikalisme semakin menguat di era kepemimpinan M. Hatta (Perhimpunan Hindia menjadi Perhimpunan Indonesia) dan mencapai puncaknya pada masa kempemimpinan Parlindungan Lubis (anak Batangtoru, Padang Sidempuan, sekolah kedokteran di Leiden). Menurut Sorip Tagor studi dan kegiatan politik sejalan dalam organisasi. Sorip Tagor menulis artikel tentang Perhimpunan Hindia di majalah Hindia Poetra edisi Januari 1919 dengan kata-kata pedas. Menurutnya, jika Perhimpunan Hindia menghindari politik, organisasi tidak akan mencapai apapun dalam bentuk manfaat bagi penduduk Hindia, baik hari ini maupun masa dating. Sorip Tagor mempersalahkan sejumlah orang Jawa dari keluarga ningrat yang tak punya perhatian terhadap situasi di Hindia dan keadaan kehidupan wong cilik (lihat Harry A. Poeze  et al: ‘Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950).

Mangapa Sorip Tagor berapi-api soal nasionalisme? Jawabnya adalah karena Sorip Tagor dan Soetan Casajangan sama-sama memiliki satu pemikiran. Boleh jadi, Sorip Tagor telah banyak mendapat masukan dari Soetan Casajangan. Sejak awal, Soetan Casajangan adalah actor pertama pergerakan di Belanda yang kerap memberikan kritik dan solusi kehidupan di Hindia di berbagai forum yang dihadiri oleh kalangan cendekiawan di Belanda. Soetan Casajangan, sebelum pulang ke tanah air, pada tahun 1913 menerbitkan buku yang dicetak di Barns oleh Percetakan Hollandia-Drukkerij. Inilah cara Soetan Casajangan agar orang di Eropa dapat melihat apa yang terjadi di Hindia. Buku itu berjudul: 'Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' (negara bagian di Hindia Belanda dilihat oleh penduduk pribumi). Buku ini adalah sebuah monograf (kajian ilmiah) yang mendeskripsikan dan membahas tentang perihal ekonomi, sosial, sejarah budaya Asia Tenggara (nusantara) dan khususnya pembangunan pertanian di Indonesia. Buku ini berangkat dari pemikiran bahwa sudah sejak lama penduduk pribumi merasakan adanya dorongan untuk penyatuan yang lebih besar yang kemudian dengan munculnya berbagai sarikat, antara lain Indisch Vereeniging (digagas oleh Soetan Casajangan), Boedi Oetomo (digagas oleh Wahidin) dan Sarikat Dagang Islam. Buku ini sangat mengejutkan berbagai pihak di kalangan orang Belanda baik di Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda. Buku ini adalah buku pertama orang pribumi yang diterbitkan pertama kali dan diedarkan di Eropa.

***
Sorip Tagor lulus dari Rijksveeartsenijschool, Utrecht dan mendapat gelar dokter hewan (Dr) pada tahun 1920 (lihat De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 02-07-1920). Di Batavia, Gubernur Jenderal menunjuk Sorip Tagor untuk menjadi dokter hewan di lingkungan istana. Penunjukan dan pengangkatan ini secara resmi berdasarkan surat keputusan menteri koloni no 89 tanggal 26 Mei 1921 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-09-1921). Dalam tugas ini, Sorip Tagor juga diperbantukan di Surabaya (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-10-1921). Setelah itu, Sorip Tagor ditempatkan di Pekalongan dan pada tahun 1925 tugas ini juga diperbantukan ke Tegal. Pada tahun 1927 Sorip Tagor ditempatkan sebagai Kepala Dinas Sipil Veeartsenjjkundigen di Weltevreden, kini Gambir (lihat De Indische courant, 26-02-1927). Pada tahun 1928 dipindahkan ke Sibolga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-01-1928). Setelah beberapa tahun di Tapanoeli, Sorip Tagor dipindahkan ke Muarabungo, Jambi dan pada tahun 1937 Sorip[ Tagor dipindahkan ke Jawa dan menjadi kepala dinas di Provinsi Djawa Barat (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20-05-1937). Selanutnya pada tahun 1941, dokter kelas satu, Sorip Tagor dipindahkan dari Bandung ke Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-05-1941). Ketika terjadi pendudukan Jepang, Sorip Tagor pension dari pegawai pemerintah dan membuka praktek di Batavia. 
Satu lagi anak Huta Imbaru, Padang Sidempuan bernama Radja Goenoeng yang lahir tahun 1883 (senior dari Sorip Tagor) adalah termasuk tokoh penting. Setelah menyelesaikan sekolah dasar di Padang Sidempuan melanjutkan pendidikan ke sekolah guru di Fort de Kock (lulus 1898). Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng menjadi guru di berbagai tempat dan terakhir di tempatkan di Medan sebagai pengawas sekolah. Pada tahun 1918 Radja Goenoeng terpilih menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) Medan. Radja Goenoeng adalah orang pribumi pertama yang terpilih sebagai anggota dewan di Kota Medan (dewan kota Medan baru dibentuk tahun 1912). Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng mendapat bintang dari Gubernur Jenderal di Batavia tahun 1928 karena prestasinya di bidang pendidikan. Radja Goenoeng adalah yang mereorganisasi sistem pendidikan di Medan dan Noord Sumatra (Tapanoeli en Oostkust Sumatra).Sebelumnya (1923) nama Kajamoedin menjadi salah satu dari sekian anak-anak Padang Sidempoean yang menjadi kandidat untuk Volksraad 'dapil' Sumatra. Kandidat lainnya untuk Sumatra yang berasal dari Padang Sidempuan, antara lain: Radja Goenoeng dan Dr. Abdul Rasjid (Tapanoeli); Abdul Hakim Harahap kelahiran Sarolangoen, Djambi dan Soetan Goenoeng Moelia kelahiran Padang Sidempuan wakil dari Batavia; dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon dari Sumatra's Oostkust. Sayang sekali, semuanya kalah bersaing dengan kandidat dari Batavia/Sumatra's Westkut yakni Abdoel Moeis (pada periode pertama Volksraad ini wakil Sumatra baru satu orang).    
Sorip Tagor atau Haji Muhammad Sorip Tagor Harahap meninggal tanggal 21 Mei 1973 di Cisarua (Jalan Selabintana), Sukabumi, Jawa Barat. Salah satu anaknya bernama Agus Tagor Harahap, yang cara pemikirannya sejalan dengan cara pemikiran ayahnya. Agus Tagor memiliki dua stasion radio yang terkenal: Di Bogor bernama Radio Kauman yang akrab dengan siaran-siaran bagi masyarakat bawah dan pembangunan pedesaan. Di Jakarta bernama Radio Kayumanis yang akrab dengan rakyat bawah dan pembangunan watak berjiwa social. Agus Tagor, mantan mahasiswa STOVIA pernah menjadi anggota DPR.

Sorip Tagor telah mengharumkan bangsa sejak 1907 di Buitenzorg dan di Negeri Belanda. Kini, nama Tagor menjadi identitas yang bersifat generic. Inez Tagor dan Risty Tagor artis-artis top termasuk dalam keluarga Tagor ini.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: