06/09/15

Abdoel Azis Nasution gelar Soetan Kenaikan: Alumni Pertama Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) Bogor, Pelopor Sekolah Pertanian di Sumatra Barat



Dua tahun setelah SoripTagor lulus Sekolah Dokter Hewan (Veeartsen School) Bogor (1912), satu lagi anak Afd. Padang Sidempuan lulus di Bogor (1914). Namun bukan sekolah dokter, tetapi sekolah pertanian (landbouwschool). Namanya, Abdoel Azis gelar Soetan Kenaikan. Sebagaimana, SoripTagor, alumni pertama sekolah dokter hewan Bogor, Abdul Azis Nasution juga adalah alumni pertama Sekolah Menengah Pertanian Bogor. Dengan demikian, Sorip Tagor (Harahap) dan Abdul Azis (Nasution) adalah anak-anak Padang Sidempuan, pionir sekolah tinggi kedokteran hewan dan sekolah menengah pertanian di Indonesia. Sorip Tagor Harahap, setelah beberapa tahun menjadi asisten dosen di sekolah dokter hewan di Bogor berangkat studi ke Utrecht, Belanda untuk mendapat gelar dokter penuh tahun 1916 (pribumi pertama di sekolah dokter tersebut). Selama kuliah di Belanda, Ompung dari Inez dan Risty Tagor ini aktif berorganisasi, utamanya di bidang politik. Sorip Tagor mempelopori didirikannya Sumatranen Bond di Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1917, Sumatranen Bond resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan (Todeong Harahap gelar) Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan).

Bataviaasch nieuwsblad, 06-08-1913
Sementara itu, Abdul Aziz Nasoetion di tanah air pada tahun 1913 lulus tingkat dua dan naik ke tingkat tiga (Bataviaasch nieuwsblad, 06-08-1913). Sekolah pertanian (landbouwschool) ini didirikan tahun 1903 di Buitenzorg. Sekolah yang lama kuliahnya tiga tahun ini, pada tahun 1913, namannya diubah menjadi Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool). Abdul Aziz lulus pada tahun 1914. Ini berarti Abdul Azis Nasution adalah alumni pertama Sekolah Menengah Pertanian Bogor (Middelbare Landbouwschool). Pada tahun ini juga (1914), Soetan Casajangan, anak Padang Sidempuan, pionir pribumi kuliah di luar negeri (tiba di Belanda, 1905) pulang ke tanah air dan untuk sementara ditempatkan di sekolah eropa di Buitenzorg (Bogor) sebelum menjadi kepala sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock (tahun 1915).

Middelbare Landbouwschool yang disingkat MLS (cikal bakalnya, landbouwschool, didirikan 1911) adalah sekolah pertanian pada level tertinggi waktu itu. MLS adalah sekolah khusus yang diperuntukkan untuk menyiapkan tenaga-tenaga terdidik di bidang pertanian yang mengikuti kurikulum padat dan ketat yang di dalam proses belajar mengajar menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda. Dalam perkembangannya, tahun 1940 MLS ini dengan lembaga pendidikan lain seperti Veeartsen School (Sekolah Kedokteran Hewan, dibuka 1909) dilebur dan kemudian menjadi Landbouw Hogeschool (Sekolah Tinggi Pertanian). Sejak 31 Oktober 1941 Sekolah Tinggi Pertanian ini dikenal sebagai Landbowkundige Faculteit sebagai salah satu cabang (fakultas) dari Universiteit van Indonesia (Faculty of Agriculture, University of Indonesia). Dalam perkembangannya, sejak 1950 berubah nama menjadi Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia yang kemudian pada 1 September 1963 fakultas tersebut dibentuk menjadi universitas yang dikenal sekarang Institut Pertanian Bogor (IPB).

Abdul Azis Nasution, sebelum masuk Sekolah Pertanian Bogor, adalah lulusan Sekolah Guru (kweekschool) di Fort de Kock (Bukit Tinggi). Sekolah Guru, lama belajarnya tiga tahun. Biasanya, lulusan kweekschool, umumnya menjadi guru, namun Abdul Azis ternyata masih berkeinginan ke sekolah yang lebih tinggi agar bisa menjadi ‘insinyur’ pertanian. Inilah riwayat awal mengapa kandidat guru berubah haluan dari guru menjadi ‘insinyur’ pertanian.

Ketika Kweekschool Fort de Kock dibuka tahun 1856, seorang siswa bernama Si Sati Nasoetion dari Mandheling en Ankola berangkat studi ke negeri Belanda tahun 1857 untuk mendapatkan akte guru (pribumi pertama yang sekolah ke Belanda). Setelah lulus di Harlem tahun 1861, Si Sati yang telah mengubah namanya menjadi Willem Iskander pulang kampong dan tahun 1862 mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato. Karena sekolah ini kualitasnya bagus, dua tahun kemudian diakuisisi pemerintah dan dijadikan sebagai sekolah guru negeri (yang ketiga setelah Soerakarta dan Fort de Kock). Dua tahun berikutnya, kweekschool Tanobato sudah melampaui kualitas kweekschool Fort de Kock. Pada tahun 1875 sekolah guru di Mandheling en Ankola ini akan ditingkatkan kapasitas dan dipindahkan ke Padang Sidempuan tahun 1879. Karena itu, Willem Iskander dikirim pemerintah untuk studi ke negeri Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Kweekschool Tanobato ditutup Willem Iskander berangkat tahun 1875. Namun tahun 1876. Willem Iskander meninggal di Belanda. Sementara Kweekschool Padang Sidempuan dibuka tahun 1879 dengan kepala sekolah Mr. Harnsen. Pada tahun 1883 posisi Harnsen digantikan oleh salah satu guru Kweekschool Padang Sidempuan bernama Charles Adrian van Ophuijsen. Anak mantan controleur di Natal ini berdinas sebagai guru di Padang Sidempuan selama delapan tahun, dan lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah. Pada era van Ophuijsen ini, Kweekschool Padang Sidempua dinobatkan sebagai sekolah guru terbaik di Hindia Belanda. Charles Adrian van Ophuijsen yang belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu di Mandheling en Ankola kelak menjadi penyusun tatabahasa Melayu dan ejaan Ophuijsen serta menjadi guru besar (professor) tatabahasa dan sastra Melayu di Universiteit Leiden. Beberapa anak didik Ophuijsen dan alumni Kweekschool Padang Sidempuan adalah Dja Endar Moeda (editor surat kabar Pertja Barat di Padang tahun 1897); Soetan Casajangan, setelah pension guru, berangkat studi ke Belanda tahun 1905. Pada tahun 1908 Soetan Casajangan mendirikan Perhimpunan Hindia (Indisch Vereeniging) di Belanda yang menjadi cikal bakal PPI. Soetan Casajangan selama masa studi di Belanda menjadi asisten dosen untuk Prof. van Ophuijsen dalam pengajaran tatabahasa dan sastra Melayu di Universiteit Leiden (pribumi pertama yang mengajar di Universiteit Leiden); dan Soetan Martoewa Radja, alumni terakhir Kweekschool Padang Sidempuan karena ditutup tahun 1892 (karena anggaran pemerintah dipotong). Soetan Martoewa Radja adalah guru, novelis dan setelah pension menjadi anggota dewan kota Pematang Siantar (anggota dewan pribumi pertama). Soetan Martoewa Radja adalah ayah dari MO Parlindungan, alumni teknik kimia Jerman/Swiss yang semasa agresi memimpin pasukan di Jawa Timur. Setelah pengakuan kedaulatan, Kolonel MO Parlindungan tahun 1951 diangkat sebagai Kepala Perusahaan Senjata dan Mesiu (PSM) di Bandung (kini, Pindad) dan di masa pensiun menulis buku kontroversi berjudul Tuanku Rao.

Setelah Kweekschool Padang Sidempuan ditutup, anak-anak afd. Padang Sidempuan (eks afd Mandheling en Ankola) dibolehkan masuk ke sekolah dasar eropa (ELS) di Padang Sidempuan. Untuk anak-anak yang lulus sekolah dasar pemerintah yang ingin menjadi guru diarahkan ke Kweekschool Fort de Kock. Alumni ELS Padang Sidempuan banyak yang masuk ke docter djawa school/STOVIA di Batavia. Namun diantara anak-anak afd. Padang Sidempuan masih banyak yang tetap tertarik menjadi guru. Salah satu yang terkenal adalah Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng, kelahiran Padang Sidempuan 1883 dan lulus Kweekschool Fort de Kock tahun 1899 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-01-1899). Setelah berdinas jadi guru di berbagai tempat, Radja Goenong diangkat menjadi pengawas sekolah di Medan (Sumatra’s Oostkust). Pada tahun 1918, Radja Goenoeng menjadi anggota dewan kota pribumi pertama di Medan. Pada tahun 1923, Kajamoedin menjadi kandidat untuk Volksraad, namun kalah bersaing dengan wakil lain (hanya satu wakil Sumatra pada periode pertama pribumi di Volksraad tahun 1924).

Abdul Azis Nasution adalah salah satu dari sekian anak-anak afd. Padang Sidempuan yang mengikuti jejak Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng untuk mengikuti pendidikan guru ke Kweekschool Fort de Kock. Abdul Azis Nasution sebelum mengikuti pendidikan guru telah menyelesaikan sekolah dasar di Kotanopan dan masuk Kweekschool Fort de Kock tahun 1909 (sepuluh tahun setelah Kajamoedin meninggalkan Fort de Kock). Setelah lulus Kweekschool Fort de Kock, Abdul Azis tidak menjadi guru seperti Radja Goenoeng, tetapi berangkat ke Buitenzorg untuk melanjutkan pendidikan pertanian di Sekolah Pertanian (landbouwschool).

Guru tetaplah guru: Abdul Azis Nasution Mendirikan Sekolah Pertanian Islam di Lubuk Sikaping


Setelah Abdul Azis Nasution lulus Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Bogor, diangkat pemerintah sebagai advisor pertanian di berbagai tempat: Tapanoeli, Priaman, Painan, Pajacombo, dan Atjeh. Tugas ini dilaksanakan Abdul Azis beberpa tahun hingga akhirnya diangkat pemerintah menjadi kepala sekolah pertanian (landbownormaalscholen) di Padang Panjang. Namun dalam perjalanannya, sekolah ini macet karena kondisi keuangan pemerintah.

Sejak Sorip Tagor Harahap lulus dari Veeartsen School tahun 1912 dan Abdul Azis Nasution lulus dari Middelbare Landbouwschool, sudah puluhan anak-anak afd. Padang Sidempuan yang diwisuda di Bogor, yang terkenal, antara lain:

(1) Alimoesa Harahap. Setelah lulus sekolah dasar tahun 1909, Alimoesa tidak tertarik melanjutkan ke Docter Djawa School/STOVIA di Batavia, tetapi lebih memilih untuk mengikuti pendidikan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (Veeartsen School) di Buitenzorg (Bogor). Alimoesa lulus dan berhak memperoleh gelar dokter hewan (kala itu masih disingkat dengan Dr) pada tahun 1914 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1914). Dr. Alimoesa (Harahap) kemudian ditempatkan di Pematang Siantar. Dr. Alimoesa Harahap yang lulus pada tahun yang sama dengan Abdul Azis Nasution ini bersama teman-temannya yang dari Padang Sidempoean (Muhamad Hamzah, Soetan Pane Paroehoem, dan Soetan Hasoendoetan) benar-benar mendirikan bank yang diberi nama Bataksche Bank di Pematang Siantar tahun 1920 (lihat De Telegraaf, 28-12-1920). Yang bertindak sebagai Presiden dari bank tersebut adalah Dr. Alimoesa. Bataksche Bank adalah bank pribumi pertama. Melihat jabatan mereka di masyarakat, pendirian bank ini dimaksudkan untuk membangkitkan ekonomi pribumi. Sebab bank yang ada saat itu hanya bank yang dikelola di lingkungan bangsa Belanda (Javasche Bank) dan kalangan Tionghoa (Kesawan). Alimoesa dalam perkembanganya menjadi anggota dewan Kota Pematang Siantar 1922. Alimoesa adalah pribumi kedua yang menjadi anggota dewan kota (gementee raads) di Pematang Siantar. Pribumi pertama adalah Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkoepon (lihat De Sumatra post, 27-08-1919). Pada tahun 1926 Alimoesa dicalonkan sebagai kandidat dari Tapenoeli untuk anggota Volksraad dari kalangan pribumi (De Indische courant, 10-11-1926). Hasilnya, terpilih Mr. Alimoesa, dokter hewan di Pematang Siantar dari anggota PEB (Bataviaasch nieuwsblad, 18-01-1927). Ini berarti Alimoesa adalah pribumi pertama asal Noord Sumatra yang menjadi anggota Volksraad. Dari kandidat Tapanoeli untuk Noord Sumatra, yang dikalahkan oleh Dr. Alimoesa adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi. Alinoedin anak Batangtoru ini pada saat itu adalah Kepala Pengadilan di Buitenzorg. Alinoedin adalah salah satu dari dua dari Sumatra dan salah satu dari delapan pribumi ahli hokum di Nederlansch Indie. Alinoedin adalah ahli hokum pertama orang Batak dan satu-satunya kala itu pribumi yang bergelar doctor (PhD) lulus dari Universiteit Leiden tahun 1925 dengan desertasi berjudul 'Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland'. Untuk perwakilan Oostkust akhirnya yang terpilih adalah Mangaradja Soangkoepon. Untuk anggota Volksraads yang ditunjuk langsung pemerintah satu diantaranya adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenong Moelia. Alimoesa Harahap, Abdul Firman Siregar gelat Mangaradja Soangkoepon dan Soetan Goenoeng Moelia bahu membahu dengan MH. Thamrin wakil kaum Betawie di Volksraad untuk memperjuangkan pendidikan pribumi.

(2) Djohan Nasution menyelesaikan sekolah dasar (HIS) di Kotanopan dan MULO di Padang. Setelah lulus, Djohan Nasoetion melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Buitenzorg (Bogor).  Djohan Nasoetion lulus ujian transisi pada bulan April 1920. Kakak kelas Djohan di sekolah ini Ronggoer Loebis (Bataviaasch nieuwsblad, 31-05-1920). Setelah menyelesaikan studi di Bogor, Djohan diangkat sebagai de adjunct landbouwconsulent dan ditempatkan di ressort Oostkust van Sumatra-Tapanoeli dengan wilayah kerja Oostkust van Sumatra (De Sumatra post, 19-07-1929). Kemudian Djohan Nasoetion gelar Soetan Iskandar dipindahkan ke Loeboek Sikaping. Setelah beberapa tahun di daerah Pasaman, tahun 1936 Djohan dipindahkan lagi. Kini, Djohan ditempatkan dikampung halamannnya di Tapanoeli (De Indische courant, 22-10-1936). Pos Tapanuli ini pernah ditempati oleh Ronggoer Loebis dan pada tahun 1926 Ronggoer dipindahkan ke Sulawesi (De Sumatra post, 19-07-1929). Djohan Nasoetion cukup lama di Tapanoeli dengan pos di Padang Sidempoean. Pada tahun 1949, dilangsungkan suatu konferensi perencanaan kesejahteran (conferentie Welvaartsplan) di Bogor dengan mengundang yang berkompeten dari seluruh Indonesia. Konferensi ini dibuka oleh Menteri Pertanian dan Perikanan, Mas Wisaksono Wirdjodihardjo. Dalam hal ini wakil dari Tapanoeli dipimpin oleh Djohan Nasoetion (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-08-1949). Untuk sekadar diketahui Djohan Nasoetion, ayah dari Prof. D. Lutfi Ibrahim Nasoetion, MSc, guru besar ilmu tanah di Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Sarjana IPB lulus Suma Cum Laude (1972), pendidikan Master dan gelar Doktor bidang perencanaan dan pengembangan wilayah diperoleh dari Michigan State University, Amerika Serikat. Selama di IPB, Lutfi berkarir sebagai pengajar dan peneliti dan pernah menduduki berbagai jabatan structural. Di luar kampus, Lutfi pernah menjabat sebagai Kepala BPN RI pada periode 2001–2005.

(3) Anwar Nasution, Anwar Nasoetion yang mengambil minat di bidang veteriner dan bersekolah di Veeartsenschool, Kedoeng Halang-Buitenzorg). Anwar Nasoetion, lahir di Pidoli, Panyabungan diterima di Veeartsenschool tahun 1922 dan lulus dengan gelar dokter hewan pada tahun 1927. Anwar Nasoetion adalah mentor Hoemala Harahap selama adaptasi di Buitenzorg dan pada fase awal di Middelbare Landbouwschool. Siapa itu Anwar Nasoetion, kita tahu kemudian sebagai ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion (mantan rektor IPB, 1978-1987). Like son, like father. Teman seangkatan Anwar di Veeartsenschool yang berasal dari Padang Sidempoean adalah Aboebakar Siregar dan Alibasa Harahap.

(4) Hoemala Harahap lahir di Pijorkoling, Batang Angkola, Tapanuli Selatan, 1907. Setelah menamatkan HIS Padang Sidempuan, Hoemala melanjutkan pendidikan MULO di Tarutung. Setelah lulus MULO melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Buitenzorg pada 1927 dan menyelesaikan pendidikannya dan mendapat Diploma di bidang pertanian pada tahun 1929. Setelah lulus, Hoemala Harahap diangkat menjadi ambtenaar dengan pangkat adspirant adjunct lanbowconsulent—pangkat tertinggi bagi pribumi di bidang pertanian. Sejak 1 Oktober 1938, Hoemala Harahap ditunjuk menjadi penasihat pertanian di Oostkust van Sumatra (Keresidenan Sumatra Timur) yang sebelumnya telah bertugas di Dinas Penyuluhan Pertanian Polewali. Selanjutnya pada tahun 1941, Hoemala Harahap dipindahkan dari Keresidenan Riau ke Keresidenan Tapanoeli sebagai deputi landbouwconsulent kelas-1. Selanjutnya, setelah berdinas di berbagai daerah, Hoemala Harahap kembali ke Bogor. Pada tahun 1955, Hoemala Harahap diangkat menjadi Direktur Bureau voor landwinning di Bogor.  

Meskipun sekolah pertanian di Padang Panjang macet, Abdul Azis Nasution tidak kehilangan akal. Guru tetaplah guru, pertanian juga tetaplah pertanian. Anak-anak Padang Sidempuan, sebagaimana alamiahnya, akan terus berkembang dan akan berkonsentrasi pada bidangnya dimanapun mereka berada. Abdul Azis kemudian lalu berinisiatif mendirikan sekolah pertanian swasta di Loeboeksikaping, Pasaman. Uniknya, sekolah pertanian ini kurikulumnya mengintegrasikan pendidikan pertanian, pendidikan agama dan praktek dengan sistem asrama. Karena itu orang Belanda menyebutnya sebagai Mohammedaansch Lyceum. Guru-guru pertanian direkrut dari Sekolah Pertanian Bogor sedangkan guru-guru agama dari  Universitas Al Azhar di Kairo (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-12-1925).

Surat kabar Bataviaasch nieuwsblad mengutip berita ini dari koran berbahasa Melayu, Bintang Timoer, pimpinan Parada Harahap. Diceritakan di Koran ini bahwa di Lubuk Sikaping telah didirikan sekolah pertanian swasta dengan kurikulum Islam. Ini adalah bagian dari perjalanan jurnalistik ke Sumatra, ketika berada di Lubuk Sikaping, Parada Harahap cukup lama di sekolah Abdul Azis Nasution ini. Saat itu jumlah keseluruhan siswa ada sebanyak 55 siswa, yang berasal dari Bengkulu, Palembang, Aceh, Lampoengsche serta dari afdeeling-afdeeling pantai Sumatra bagian barat dan bagian timur. Disebutkan kurikulum tidak berbeda dengan kurukulum Normaalschool. Beberapa pelajran seperti botani, zoologi, fisika, geografi, aritmatika, bahasa Melayu, sejarah umum Hindia, geometri dan menggambar, diluar kimia, pengetahuan tentang penyakit tanaman, pengetahuan tentang penyakit peternakan dan ternak, geologi, ekonomi, survei, pertolongan kesehatan, pertanian teoritis dan praktis, dengan budidaya tertentu seperti kopi, karet, kelapa, kakao, padi, kentang,  vanili, jagong, dll. Untuk kelas pertama diajarkan bahasa Arab dan sebagai dasar untuk pengetahuan Islam. Dalam pendidikan agama kelas dua pendidikan agama sudah advance. Juga kurikulum mencakup bahasa Inggris, bahasa Belanda dan pelajaran adat istiadat. Artikel-artikel ini kemudian menjadi bagian dari buku yang diterbitkan oleh Parada Harahap dengan judul Dari Pantai ke Pantai yang terbit tahun 1926 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-07-1926). Buku ini menjadi ringkasan dari pengalaman yang diperoleh oleh pengalaman Parada Harahap selama perjalanannya dari Bengkulu ke Aceh, Pulau Penang, Kuala Lumpur, Singapura dan kemudian Jambi dan Palembang. Bagian pertama adalah wacana yang diberikan pada pantai timur Sumatra dan sisanya akan dibahas dalam bagian kedua dengan banyak ilustrasi yang memberikan pembaca wawasan bidang sejarah, ekonomi dan politik dari bagian wilayah-wilayah yang dijelaskan, termasuk di dalamnya tentang legenda tentang asal-usul Minangkabau dan kasus poligami yang berkuasa, disamping kondisi di Batak tentunya.

Sekolah ala Abdul Azis Nasution ini tidak hanya unik, tetapi juga mampu memberi manfaat langsung bagi siswa-siswanya. Dalam praktek, sambil terus belajar, siswa-siswa diminta kerjasama dengan masyarakat sekitar untuk menyediakan lahan dan para siswa yang mengerjakan dengan ilmu yang dipelajari dengan cara bagi hasil. Hasil pendapatan siswa lalu ditabung di kantor pos agar nantinya ketika mereka lulus para lulusan sudah memiliki modal sendiri.

Suksesi Kajamoedin gelar Radja Goenoeng dalam pengembangan pendidikan di Medan adalah Gading Batoebara. Anak Padang Sidempoean kelahiran Hoetapadang, Sipirok 10 Oktober 1901 (10-10-01) ini mengikuti jejak seniornya Radja Goenoeng untuk sekolah guru di Fort de Kock. Setelah lulus Kweekschool Fort de Kock, Gading Batoebara melanjutkan sekolah ke Hogere Kweekschool di Poeworedjo dan lulus 1923. Setelah lulus, Gading Batoebara pulang kampung dan menjadi guru sementara di HIS swasta Sipirok (kampung halamannya).  Kemudian Gading Batoebara merantau dan menjadi guru di Tandjoengpoera (Langkat). Tidak lama di Tandjongpoera, GB Josua tertarik atas tawaran untuk memajukan sekolah HIS swasta di Doloksanggoel. Kehadirannya membuat sekolah HIS Doloksanggoel maju pesat hingga akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi HIS negeri. Sukses GB Josua merancang HIS di Doloksanggoel membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah Nederlansch Indie. Dalam perkembangannya, Gading Batoebara Josua (GB Josua) diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Medan. Pada tahun 1929 GB Josua melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda di Groningen. Setelah mendapat akte Lager Onderwijs GB Josua kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ss. Patria dari Rotterdam 4 November 1931 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 01-12-1931). Dalam perkembangan berkutnya GB Josua merencanakan untuk mendirikan sekolah menengah pertama (HIS) swasta (pribumi) di Medan. Peresmian sekolah ini dilakukan tanggal 16 Juli 1934. De Sumatra post, 27-04-1933 melaporkan daftar perolehan masing-masing sekolah yang siswanya diterima di MULO: Taman Siswa lulus 50 persen, HIS pemerintah nol persen dan Institute Josua lulus 80 persen. Setelah Kajamoedian gelar Radja Goenoeng pension, karir GB Josua mulai mendapat tempat di Medan. Pada awal tahun 1935, GB Josua diangkat sebagai anggota Komite Pendidikan (lihat De Sumatra post, 02-02-1935). Lalu, dalam putaran terakhir pemilihan Dewan Kota Medan yang terpilih adalah Abdul Hakim dan GB Josua (lihat De Sumatra post, 04-04-1936). GB Josua telah sukses mengikuti jejak seniornya, Radja Goenoeng. Selama masa pendudukan Jepang komplek Institut Josua ini diambil oleh tentara/militer Jepang. Setelah kemerdekaan aset Institut Josua ini diberikan kembali kepada GB Josua. Selama masa agresi Militer Belanda, Institut Josua tetap mendidik siswa-siswa utamanya anak-anak republik. Setelah pengakuan kedaulatan figur Josua makin menonjol di Medan. Untuk merayakan ulang tahun hari proklamasi kelima telah dibentuk panitia yang mana  ketua komite adalah GB Josua. Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-08-1950. Abdul Hakim dan GB Josua, dua anak Padang Sidempoean pernah sama-sama duduk di Gementeeraad Medan (lihat De Sumatra post, 04-04-1936). Kini, kedua tokoh ini berbeda posisi. GB Josua tahun ini tetap menjadi ketua komite perayaan 17 Agustus, seperti tahun lalu. Yang membacakan proklamasi di Medan dalam perayaan tahun lalu adala Ir. Soekarno melalui radio. Perayaan yang kedua kali ini, yang membacakan teks proklamasi adalah Gubernur Sumatra Utara, Abdul Hakim—teman GB Josua yang sama-sama berjuang di Dewan Kota Medan. GB Josua ditunjuk sebagai Ketua Panitia penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) yang ketiga di Medan. GB Josua adalah orang yang sangat bersahaja dan datang dari keluarga biasa di Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean. GB Josua adalah kepala dinas pendidikan yang kedua di Sumatra Utara. Inilah jabatan paling tinggi bagi seorang guru (lihat GB Josua adalah kepala dinas pendidikan yang kedua di Sumatra Utara. Inilah jabatan paling tinggi bagi seorang guru). Abdul Hakim dan GB Josua tidak hanya bahu membahu soal suksesnya PON, tetapi juga permasalahan pendidikan di Sumatra Utara. Abdul Hakim, anak Padang Sidempoean ini juga telah menggagas untuk diselenggarakan pendidikan pertanian di Sumatra Utara. Sebab selama ini anak-anak Sumatra Utara hanya bisa belajar pertanian ke Buitenzorg (Bogor). Pendirian sekolah menengah pertanian ini membuat Abdul Hakim dan GB Josua sumringah. Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-09-1952 (Middelbare landbouwschool voor Noord Sumatra geopend): ‘Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, kemarin di Sungei Sikambing, di luar Medan, sekolah pertanian menengah untuk Sumatera Utara sungguh-sungguh dibuka di gedung baru. Dalam sambutannya, memuji Pemprov Sumatera Utara, atas inisiatif sendiri telah meringankan pelayanannya dengan membuat nyata Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Gubernur Abdul Hakim berbicara tentang manfaat kerja sama antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Dia berharap bahwa siswa tidak hanya mendapat pengetahuan intelektual, tetapi juga karakter akan terbentuk sehingga mereka adalah orang-orang yang memiliki pemahaman untuk kebaikan tani pada khususnya, dan bahwa semua orang pada umumnya. Dalam upacara ini juga hadir Inspektur layanan pertanian di Sumatera Utara, Kepala Volkslandbouw di Departemen Pertanian, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Mr. GB Joshua, dan Kepala Departemen Pendidikan di Kementerian Agraria. Akhirnya, Mr. Tengku Abdul Hamid, Direktur sekolah, berbicara bahwa masa studi untuk tiga tahun, sekarang sudah terdaftar sebanyak 50 siswa dari seluruh wilayah di Sumatera Utara, yang diantaranya dua gadis dari Karolanden. SPMA Medan adalah sekolah keenam di Indonesia. Lima lainnya berlokasi di Bogor, Jogja, Malang, Makassar dan Bukittinggi’. GB Josua pension tahun 1961 sebagai pegawai pemerintah (kini PNS) dan kembali mengurus Institut Josua yang telah ditinggalkannya sejak Mei 1952. Haji Gading Moeda Batoebara alias GB Josua meninggal di Medan pada tanggal 20 November 1970.

De Indische courant, 24-10-1929
Abdul Azis Nasution Menjadi Anggota Dewan Minangkabau Raad

Sukses Abdul Azis untuk meningkatkan pendidikan pribumi di Sumatra Barat mendapat apresiasi tinggi di afd. Padang Sidempuan. Pada tahun 1929, dalam periode pemilihan kandidat untuk dewan pusat (Volksraad), nama Abdul Azis Nasution muncul sebagai wakil Tapanoeli (afd. Mandheling en Ankola), bersama Dr. Abdul Rasjid dan Dr. Mr. Radja Enda Boemi untuk bersaing dengan incumbent Dr. Almoesa Harahap yang telah berada satu periode di Pejambon (lihat De Indische courant, 24-10-1929). Inilah cara masyarakat di Mandheling en Ankola menghargai prestasi para anak-anak Padang Sidempuan di rantau. Namun, Abdul Azis kalah bersaing dengan Dr. Abdul Rasjid yang terpilih menggantikan posisi Dr. Alimoesa Harahap di Pejambon.

Setelah sekian tahun, nama Abdul Azis Nasution gelar Sutan Kenaikan muncul ke ranah publik di Miinangkabau dan dicalonkan untuk menjadi anggota dewan daerah yang disebut Minangkabau Raad (lihat Sumatra post, 26-07-1938). Abdul Azis yang sudah populer dan merakyat itu dengan mulus menuju Padang (lihat De Sumatra post, 14-01-1939). Boleh jadi, dari 32 orang anggota dewan, Abdul Azis Nasution adalah satu-satunya anak Tapanoeli yang menjadi anggota dewan di ranah Minangkabau. Anggota dewan umumnya orang-orang Belanda dan tokoh-tokoh Minangkabau. Tionghoa diwakili oleh satu orang bernama Tjo Sim Soe (Letnan China). Dalam sidang-sidang selanjutnya, Abdul Azis Nasution memimpin rekan-rekannya di dewan agar pemerintah menarik buku 'Lakeh Pandai' sebagai buku pelajaran atau buku bacaan di ranah Minangkabau (lihat De Sumatra post, 15-06-1939). Mengapa buku tersebut ingin ditarik dari peredaran tidak dijelaskan.
Putra-putra terbaik afd. Padang Sidempuan yang menduduki kursi anggota dewan selain di Tapanolie, Sumatra's Oostkust dan Sumatra's Westkust, juga ditemukan di daerah lain. Antara lain, yang terkenal bernama Radjamin Nasution di dewan kota (gemeenteraad Soerabaja. Radjamin Nasution alumni STOVIA 1912. Radjamin Nasution dipilih oleh penduduk Soerabaja pada tahun 1931 sebagai wakil mereka di dewan kota. Radjamin Nasution adalah tokoh pribumi yang vokal di dewan, sehingga Radjamin tetap dipercayakan penduduk Surabaja hingga berakhirnya kekuasaan Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, ketokohan Radjamin Nasution diakui militer Jepang dan meminta Radjamin Nasution menjadi walikota. Pada masa agresi Belanda, walikota Radjamin Nasution beserta pegawainya hijrah ke  luar kota dan tetap menjalankan pemerintahan di pengngsian. Setelah pengakuan kedaulatan, Radjamin Nasution juga tetap ditunjuk oleh pimpinan republik (Soekarno, Hatta dan Amir Sjarifoedin Harahap) sebagai walikota. Radjamin Nasution kelahiran Barbaran (afd. Mandheling en Ankola) adalah walikota pribumi pertama di Kota Surabaya. .. . 
Last but no least. Sukses Abdul Azis untuk meningkatkan pendidikan pribumi di Sumatra Barat, juga diikuti oleh Egon Hakim Nasution, anak Mandheling en Ankola kelahiran Sibolga. Mr. Egon Hakim Nasoetion adalah lulusan sekolah hukum di Belanda. Pada tahun 1935 diangkat sebagai pengacara di Padang (lihat De Indische courant, 31-05-1935). Dalam penyerahan kedaulatan RI, Egon Hakim duduk sebagai wakil ketua komite Sumatra Barat (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-12-1949). Pasca pengakuan kedaulatan Mr. Egon Hakim Nasution mendirikan perguruan tinggi bidang hukum di Padang. Nama perguruan tinggi hukum tersebut bernama Pantjasila. Perguruan tinggi hukum ini merupakan perguruan tinggi hukum pertama di Sumatra yang mana pengajarnya antara lain Mr. Egon Hakim, Mr. Mak kin san, Mr. Nazarudin dan Dr. Harun al Rasjid (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 22-08-1951).

Egon Hakim Nasution adalah menantu dari M. Husni Thamrin. Egon Hakim adalah koordinator ekonomi dan keuangan PRRI di Sumatra Barat. Egon Hakim dan Sumitro Djojohadikoesomo, sama-sama alumni Belanda, berteman dekat dan tokoh penting PRRI dalam urusan ekonomi. Saudara sepupu Egon Hakim ada dua orang: (1) Dr. Ida Loemongga Nasution, anak Dr. Harun Al Rasjid (anak Padang Sidempuan, dokter lulusan docter djawa school yang pertama kali berdinas di Padang tahun 1903). Ida Loemongga adalah dokter pribumi pertama yang bergelar doctor (PhD) lulus dari Universiteit Leiden 1931 (2). Dr. Mr. Masdoelhak Nasution, sarjana dan doktor hokum lulusan dari Belanda dengan suma cum laude. Masdoelhak adalah residen pertama Sumatra Tengah (Sumatra Barat dan Riau) dan penasehat hokum Soekarno dan Hatta (satu-satunya ahli hokum bergelar doctor di lingkaran inti RI di Yogyakarta (ibukota RI di pengungsian). Masdoelhak adalah orang pertama yang dicari militer/intelijen Belanda ketika melakukan agresi kedua di Yogya, diculik dan kemudian ditembak pada tanggal 21 Desember 1948 (baru diangkat sebagai Pahlawan Nasional, 2006). Jangan lupa, satu lagi, Dja Endar Moeda, alumni Kweekschool Padang Sidempuan, setelah pension guru, mendirikan sekolah di Padang tahun 1895 (sebelum menjadi editor Pertja Barat tahun 1897). Dja Endar Moeda adalah mertua dari Dr. Harun Al Rasjid Nasution dan Ompung (kakek) dari Dr. Ida Loemongga. Adik Ida Loemongga bernama Gele Harun, alumni sekolah hukum di Belanda, patriot melawan Belanda pada masa agresi dan menjadi Residen pertama Lampung (sekarang Letkol, Mr. Gele Harun tengah diusulkan di Lampung menjadi Pahlawan Nasional).

 
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: