29/09/15

Sejarah Kota Medan (4): Sumatra’s Oostkust Menjadi Provinsi (1915); Anak-Anak Padang Sidempuan Mulai Memainkan Peran Penting



Mangaradja Soangkoepon
Berdasarkan Staatsblad no. 180 tahun 1909, pada tanggal 1 April 1909 di Medan dibentuk Gemeenteraad. Ini berarti Kota Medan mulai babak baru dalam suatu pengelolaan kota, dimana dalam hal ini pemerintah akan diawasi oleh suatu dewan (Gemeenteraad). Pemerintah kota pada masa itu adalah Asisten Residen, E.G.Th. Maier. Anggota Gemeenteraad terdiri dari berbagai fungsi. Dibentuknya Gemeenteraad dimaksudkan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan agar lebih efektif di Medan dengan semakin kompleksnya permasalahan kota. Adanya gemeenteraad, mengakibatkan bentuk pemerintahan di Residentie Sumatra's Oostkust menjadi dua: Dewan Budaya (Residentie) dan Dewan Kota (Medan). Penetapan anggota dewan ditunjuk dari Batavia dengan SK khusus. Yang duduk dalam dewan budaya (Plaatselijken Raad van het cultuurgebied der Oostkust van Sumatra) dari kalangan pribumi adalah Sultan Deli, Sultan Asahan, Sultan Langkat, Sultan Serdang plus Tsiong Yong Hian (mayor komunitas Tionghoa). Sedangkan yang duduk di dewan kota Medan adalah salah satu dari dua pribumi yakni pangeran Deli plus Tjong A Fie (Kapten komunitas Tionghoa). Selebihnya adalah orang-orang Belanda dari kalangan pejabat dan Deli Mij, Deli Spoor serta lainnya. Kedua dewan ini secara resmi diangkat sejak 1 April 1909 [catatan: Tsiong Yong Hian adalah abang dari Tjong A Fie).

Pada era awal Belanda di Medan (kolonial) struktur pemerintahan tidaklah sama dengan yang sekarang, akan tetapi mekanisme pembagian wilayahnya kurang lebih sama. Pada era kolonial penentuan status pemerintahan (civiel departement) lebih ditentukan pada intensitas perekonomian yang membutuhkan kekuatan keamanan (militaire departement). Berbeda dengan masa sekarang (RI), dimana semua wilayah disebut provinsi dan masing-masing dikepalai oleh Gubernur (bagaimanapun tingkat perekonomiannya). Dengan kata lain lebih ke arah pendekatan kesejahteraan (welfare). Sedangkan di era Belanda pendekatannya pada pendekatan perekonomian (keuntungan kolonial). Akibatnya, Residentie Tapanoeli tidak pernah sampai pada level province, karena secara perekonomian kurang prospektif dari segi keuntungan jika dibandingkan Sumatra’s Oostkust. Jika suatu wilayah dianggap telah merosot secara perekonomian, statusnya bisa didegradasi, sebagaimana terjadi pada status Residen yang sebelumnya berkedudukan di Tebingtinggi Afd. Bengkalis yang didegradasi sementara Medan Afd. Deli sebaliknya dipromosikan (tukar guling) menjadi Residen.

Dalam perkembangannya, di Residentie Sumatra’s Oostkust pertumbuhan dan perkembangan perekonomian terus berlanjut. Perkembunan tidak hanya di afdeeling-afdeeling Melayu (Deli, Batoebara, Asahan dan Laboehan Batoe) tetapi juga semakin meluas ke afdeeling-afdeeling Batak (Simaloengoen en Karolanden). Untuk mengefektifkan pemerintahan (atas dasar perekonomian) di Simaloengoen en Karolanden ditingkatkan statusnya menjadi Asisten Residen dengan ibukota di Pematang Siantar. Dua afdeeling Batak ini dimasukkan dalam Residentie Sumatra’s Oostkust daripada Residentie Tapanoeli (lebih pada pertimbangan perekonomian).

Pada tahun 1915 Residentie Sumatra’s Oostkust mengalami reorganisasi dimana afdeeling-afdeeling Atjeh dimasukkan ke Residentie Atjeh seperti afd. Tamiang, sementara afdeeling-afdeeling Batak dikukuhkan masuk menjadi Residentie Sumatra’s Oostkust atas dasar kesatuan ekonomi perkebunan. Pada tahun dimana reorganisasi ini status Residentie Sumatra’s Oostkust ditingkatkan menjadi province (yang dikepalai oleh seorang Gubernur).

Province Sumatra’s Oostkust adalah provinsi kedua di Sumatra. Sebelumnya sudah sejak lama dibentuk Province Sumatra’s Westkust tahun 1845, yang terdiri dari tiga residentie yakni Residentie Padangsche Benelanden beribukota Padang, Residentie Bovenlanden berkedudukan di Fort de Kock dan Residentie Tapanoeli berkendudukan di Sibolga. Waktu Residntie Tapaneolie baru terdiri dari Afd. Natal, Afd. Mandheling en Ankola, Afd. Sibolga dan Afd. Singkel. Pada tahun 1905, Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust menjadi Residentie yang otonom (setingkat province). Dengan dibentuknya Province Sumatra’s Oostkust, maka Residentie Tapanoeli berada diantara dua province (yakni provinsi masa lalu dan provinsi masa datang).

Perkembangan Kota Medan
Kini, Sumatra’s Oostkust benar-benar menjadi provinsi tujuan, tidak hanya tujuan dari penduduk Residentie Tapanoeli, tetapi juga penduduk dari Residentie Atjeh dan bahkan penduduk dari Province Sumatra’s Westkust. Penduduk Residentie secara keseluruhan semakin leluasa karena pengaruh kekuatan Sisingamangaradja praktis sudah hilang, demikian juga pengaruh kekuatan di Atjeh. Arus migrasi dari Tapanoeli juga semakin deras berhubungan adanya akses langsung antara Sumatra’s Oostkust dengan Sumatra’s Westkust dengan dibukanya moda transportasi dari Sibolga ke Medan (via Bonandolok). Moda transportasi Padang ke Sibolga via Padang Sidempuan sudah sejak lama ada. Migran dari Sumatra’s Westkust dan Tapanoeli dengan sendirinya lebih intens menggunakan transportasi darat dibandingkan melalui laut (via Kotaradja). 
Belanda melakukan invasi ke Sumatra dimulai dari (pelabuhan) Padang pada tahun 1818. Dalam perkembangannya pemerintah kolonial membentuk pemerintahan sipil. Tujuan kolonialisme adalah ekonomi kopi. Para penyelidik-penyelidik Belanda sudah memetakan peta komoditi pulau Sumatra seperti, Junghuhn dikirim ke Tapanoeli untuk melakukan ekspedisi.Dari pemetaan ini ditemukan komoditi potensial yang disebut pertja (getah karet), kegunaannya sudah diketahui tetapi belum dieksploitasi (baru di era mobil eksploitasi dimaksimalkan). Besar kemungkinan dari sini muncul istilah Pulau Pertja untuk menamakan Sumatra. Ada tiga lanskap yang dianggap penghasil pertja, yakni Tapanoeli (lalu disebut Pertja Barat), Sumatra's Oostkust (lalu disebut Pertja Timor) dan Palembang (lalu disebut Pertja Selatan). Karena itu dalam sejarah awal pers pribumi (pers bahasa Melayu) muncul nama koran di Padang bernama Pertja Barat (Tapanoeli) dan di Medan surat kabar bernama Pertja Timor (Sumatra's Oostkust). Dalam perkembangannya, Sumatra's Westkust (Pantai Barat Sumatra) mencakup Tapanoeli, kemudian Tapanoeli mencakup Singkel, sedangkan di sisi timur, Riaouw dimekarkan dengan membentuk Sumatra's Oostkust (Pantai Timur Sumatra) yang pusat utamanya di Bengkalis. Selanjutnya, Tapanoeli meninggalkan Sumatra's Westkust lalu disusul Sumatra's Oostkust meninggalkan Bengkalis. Dalam perkembangan berikutnya, pada awalnya secara politik Singkel dipisahkan dan dimasukkan ke Atjeh dan pada berikutnya secara politik Tapanoeli dan Atjeh digabung sebagai satu dapil yang disebut Sumatra Utara (Noord Sumatra). Dengan demikian ada tiga dapil: Sumatra's Westkust, Sumatra's Oostkust dan Noord Sumatra. Dalam perkembangan berikutnya: Sumatra's Westkust menjadi Sumatra Barat, Sumatra's Oostkust menjadi Sumatra Timur, lalu Noord Sumatra hanya menyisakan Tapanoeli. Kelak, pasca kemerdekaan nama Noord Sumatra sempat menjadi gabungan tiga residentie: Tapanoeli, Atjeh dan Sumatra Timur. Selanjutnya Atjeh berdiri sendiri dan Noord Sumatra menyisakan Tapanoeli dan Sumatra Timur. Dengan demikian pemilik nama Sumatra Utara (Noord Sumatra) pada fase pertama adalah Tapanoeli dan Atjeh baru kemudian pada fase kedua Tapanoeli dan Sumatra Timur. Dengan kata lain: Sumatra Timur  menggantikan posisi Atjeh. 
Anak-Anak Padang Sidempuan Mulai Memainkan Peran Penting di Province Sumatra’s Oostkust

Penduduk Afd. Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoeli sudah sejak lama migrasi (merantau) ke Medan pada khususnya dan Deli pada umumnya. Diantara para migran ini termasuk tenaga kependidikan (guru), tenaga kesehatan (dokter), pegawai pemerintah, pebisnis dan profesional lainnya. Pada tahun 1893, jaksa senior Soetan Goenoeng Toe sudah ditempatkan di Medan. Kemudian menyusul Dja Endar Moeda tahun 1903 membuka percetakan, Mangaradja Salamboewe menjadi editor Pertja Timor. Dengan semakin banyaknya migran asal Mandheling en Ankola, anak-anak mereka mendirikan klub sepakbola (Zetterletter, 1904 dan Tapanoeli Voetbal Club, 1907). Lalu kemudian mendirikan organisasi Tapanoeli Sepakat yang melahirkan ide pendirian surat kabar Pewarta Deli (1910). 
Surat kabar Pewarta Deli (yang terbit pertama tahun 1910) adalah suksesi koran Pertja Timor. Setelah meninggalnya Mangaradaja Salamboewe 1908, koran ini digantikan editor bernama Sutan Parlindoengan, namun koran Pertja Timor mulai menurun ketika Pewarta Deli datang sebagai pesaing baru koran berbahasa Melayu di Medan. Pewarta Deli yang memiliki motto yang sama dengan Perja Barat (di Padang) awalnya editor adalah Dja Endar Moeda (pemilik tunggal Pertja Barat). Dja Endar Moeda, Mangaradja Salamboewe dan Sutan Parlindungan, ketiganya adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean. Dja Endar Moeda lalu digantikan oleh Panoesoenan gelar Soetan Zeri Moeda (kelahiran Padang Sidempoean). Ternyata editor muda ini memiliki semangat yang mirip dengan Mangaradja Salamboewe: kritis terhadap kebijakan yang tidak pro rakyat dan ketidakadilan di dalam masyarakat. Pada tahun 1915 Panoesoenan kena delik pers di pengadilan Medan dan mendapat hukuman kurungan 14 hari. Posisi Panoesoenan digantikan oleh Soetan Parlindoengan, mantan editor Pertja Timor, seorang mantan jaksa. Kini pengasuh Pewarta Deli dipimpin oleh seorang editor mantan jaksa, sebagaimana sebelumnya Pertja Timor yang digawangi oleh Mangaradja Salamboewe, seorang mantan jaksa di Natal. .
Pendirian organisasi ini merupakan respon terhadap situasi dan kondisi baru yang dihadapi oleh anak-anak Mandheling en Ankola. Di Medan, kekuatan ekonomi warga Tionghoa dan ‘organisasi’ bentukan Belanda pada komunitas Tionghoa dengan adanya jenjang kepangkatan letnan, kapten dan mayor (komando rantau). Sementara di Jawa mengemuka dengan berdirinya Boedi Oetomo (organisasi peningkatan pendidikan rakyat). Di level nasionalis di Belanda didirikan Indisch Vereeniging tahun 1908 oleh para mahasiswa (Pendiri, Soetan Casajangan anak Padang Sidempuan). Mereka inilah generasi pertama anak-anak Mandheling en Ankola di Medan.

Generasi pertama dari anak-anak Mandheling en Ankola kemudian digantikan oleh para pemuda yang berdedikasi tinggi yang banyak diantaranya lahir dari bangku sekolah dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gelombang pertama adalah sebagai berkut:

Abdul Firman, setelah selesai studi di Belanda 1914 pulang ke tanah air pada tanggal 27 Oktober 2014 dengan kapal s.s. Loudon langsung ke Jawa. Di Batavia, Soangkoepon melamar menjadi ambtenaar dan berhasil serta diterima. Abdul Firman lantas ditempatkan di kantor asisten residen Asahan, Sumatra Timur. Tidak lama, lantas kemudian, Soangkoepon dipindahkan ke kantor asisten residen Simalungun pada tahun 1915. Pada tahun 1917, Abdul Firman yang kini menjadi pegawai di kantor Asisten Residen Simeloengoen dan Karolanden di Pematangsiantar mencalonkan diri untuk kandidat Volksraad dari wilayah pemilihan Pematang Siantar (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 07-12-1917). Di koran ini juga mentornya dulu di Negeri Belanda, Soetan Casajangan mencalonkan diri dari wilayah pemilihan Batavia. Keduanya sama-sama gagal. Abdul Firman tidak patah arang, lantas mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Kota Pematang Siantar. Abdul Firman berhasil. Kelak Mangaradja Soangkoepon adalah pribumi pertama mewakili Province Sumatra's Oostkust menjadi anggota dewan pusat (Volksraad) di Batavia (tiga periode berturut-turut).

Muhamad Daoelaj setelah lulus Docter Djawa School ditempatkan di Ngawi, Madiun dan akhirnya di Semarang. Lalu kemudian Muhamad Daulaj dipindahkan ke Medan. Setelah pensiun sebagai pemerintah di Medan, pada tahun 1916 Muhamad Daoelaj membuka rumah sakit swasta di Poeloe Sitjanang, khusus untuk para penderita penyakit kusta (Bataviaasch nieuwsblad, 22-04-1916).

Alimoesa kelahiran Padang Sidempuan setelah lulus dan berhak memperoleh gelar dokter hewan di Buitenzorg pada tahun 1914 langsung ditempatkan di Pematang Siantar. Kakak kelas Alimoesa di Sekolah Dokter Hewan di Buitenzorg bernama Sorip Tagor kelahiran Padang Sidempuan yang lulus tahun 1912. Sorip Tagor adalah alumni pertama Sekolah Dokter Hewan di Buitenzorg. Sorip Tagor Harahap tidak langsung bekerja tetapi melanjutkan studi ke Belanda. Alimoesa Harahap kelak menjadi anggota Volksraad pertama dari 'dapil' Sumatra Utara (Noord Sumatra) yang meliputi Tapanoeli dan Atjeh.

Selama kuliah di Belanda, Sorip Tagor (ompung dari Inez dan Risty Tagor) ini aktif berorganisasi, utamanya di bidang politik. Sorip Tagor mempelopori didirikannya Sumatranen Bond di Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1917, Sumatranen Bond resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan (Todeong Harahap gelar) Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan). Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia kelahiran Padang Sidempuan datang ke Belanda tahun 1911 (setahun setelah Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon).

Tidak lama setelah Jong Sumatra (Soematranen Bond) didirikan di Belanda oleh Sorip Tagor Harahap pada tanggal 1 Januari 1917, di Batavia, Jong Sumatra didirikan pada tanggal 8 Desember 1917 oleh sejumlah pemuda dari kalangan siswa dan mahasiswa asal Sumatra (Tapanoeli, Oostkust Sumatra dan Sumatra’s Westkust) yang dimotori oleh mahasiswa STOVIA. Asosiasi pemuda ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intensitas (pembangunan) hanya berada di Jawa dan sedangkan di Sumatra dan pulau-pulau lainnya terabaikan (Sementara itu sudah berdiri sebelumnya asosiasi dari siswa sekolah menengah dan kejuruan di Weltevreden yang disebut Jong Java). Pendiri dan susunan pengurus Jong Sumatranen adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918). 
Abdoel Moenir Nasoetion adalah anak dari Muhamad Taif gelar Raja Aminudin berasal dari kampung Pidoli Dolok, guru di Atjeh alumni Kweekschool Padang Sidempuan. Sedangkan Tengkoe Mansoer lahir di Afd. Asahan 1897 adalah putra Sultan Asahan. Mereka berdua  masuk STOVIA tahun 1911. Kakak kelas mereka bernama Amir Hamzah (tahun keempat) Maamoer Al Rasjid Nasoetion (tahun kelima). Abd. Rasjid asal Tapanoeli (tahun ketujuh). Sjaaf asalah Minangkabau dan Soeleman asal Tapanoeli (tahun kedelapan). Setelah menjadi dokter, Abdoel Moenir Nasoetion berdinas di..Sedangkan Mansoer setelah melanutkan studi ke Belanda (dan menikah dengan gadis Belanda). Kelak Dr. Abdoel Moenir Nasoetion lebih dikenal sebagai abang dari Mr. SM. Amin (gubernur pertama Sumatra Utara).
Pada saat Abdoel Moenir Nasution dan Tengkoe Mansoer masuk STOVIA, seorang anak Mandheling en Ankola tengah berada di tingkat akhir STOVIA yang bernama Radjamin Nasoetion. Pada tahun 1907 ketika klub Docter Djawa VC melawat ke Medan melawan klub Tapenolei VC, Radjamin adalah salah satu pemain klub dari Divisi Dua Batavia Voetbal Bond.

Setelah lulus pendidikan kedokteran, anehnya Radjamin tidak ditempatkan pemerintah di dinas kesehatan melainkan akhirnya diposisikan menjadi pegawai pemerintah di bidang pabean. Ini bermula ketika bulan Juli 1912 untuk sementara Radjamin ditempatkan di kantor Bea dan Cukai di Batavia sebagai partikelir sambil menunggu penempatan. Namun di bulan November apa yang terjadi? Beslit Radjamin keluar, akan tetapi statusnya di kantor Bea dan Cukai di Batavia justru ditingkatkan menjadi pegawai magang (masa kini CPNS). Tugas utamanya adalah pengawas (opziener) untuk bidang pos, telegraf dan telepon. Pada bulan November, 1913 Radjamin dipindahkan ke Pangkalan Buun (Kalimantan) dengan tugas yang sama sebagaimana di Batavia. Pada bulan Oktober 1914, Radjamin dipindahkan lagi ke Perbaungan (Sumatra Utara). Selanjutnya bulan Juni 1916 Radjamin dari Perbaungan dipindahkan ke Cilacap (Jawa Tengah). Pada bulan Januari 1917 dari Cilacap dipindahkan lagi ke Semarang. Pada bulan Desember 1917 pangkat Radjamin naik menjadi Kelas 4 sebagai Verifier dan ditempatkan kembali ke Batavia (tempat dimana Radjamin sebelumnya memulai karir). Selanjutnya, sebelum dipindahkan ke Surabaya, Radjamin terlebih dahulu berdinas di Medan. Pada tahun 1923, Radjamin Nasoetion mendirikan asosiasi sepakbola pribumi di Medan yang diberi nama Deli Voetbal Bond (lihat De Sumatra Post terbitan 13-02-1923). Setelah beberapa tahun di Medan, Radjamin pindah tugas kembali beberapa kali dan terakhir berdinas di Seorabaija. Setelah pension bea dan cukai, Radjamin Nasoetion dinominasikan para tokoh Soerabaija dan kemudian terpilih menjadi anggota dewan kota Soerabaija. Pada akhir karirnya, Dr. Radjamin Nasoetion diangkat Jepang dan juga oleh Republik menjadi Walikota Soerabaija (walikota pribumi pertama di Soerabaija).

Pada tahun 1917 ada beberapa anak Padang Sidempuan di STOVIA, yakni Abdoel Moerad (adik Abdoel Moenir) dan Aminoedin Pohan yang keduanya berada pada tahun keempat dan Djabangoen Harahap (tahun kelima). Anak-anak Sumatra lainnya adalah FL Tobing (Tapanoeli) dan Pirngadi (tahun kelima), Amir (Minangkabau) dan tingkat terakhir Abdoel Moenir dan Mohamad Djamil (Minangkabau) dan Mansoer dan Djoendjoengan Loebis (Mandheling en Ankola). Aminoedin Pohan, Mansoer dan M. Djamin dalam perkembangannya melanjutkan studi ke Belanda.

Mereka ini adalah generasi emas dan kelak semua mereka ini berdedikasi di kampung halaman masing-masing di Tapanoeli, Somatra’s Westkust dan Sumatra’s Oostkust. Kelak dalam masa pergolakan (fasca proklamasi dan masa agresi Belanda): FL Tobing menjadi Residen Tapanoeli dan Gubernur yang kedua, Amir sebagai wakil pemerintah pusat di Sumatra, Tengkoe Mansoer menjadi wali Sumatra Timur bentukan Belanda, Djabangoen Harahap sebagai Ketua Front Nasional (republik) Medan, Abdoel Moenir dan Abdoel Moerad memiliki adik yang studi di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, SM Amin menjadi Gubernur Sumatra Utara yang pertama dan keempat, Djoengdjoengan Loebis sebagai Gubernur Sumatra Utara yang kelima (sedang Gubernur yang ketiga: Abdoel Hakim Harahap, alumni sekolah ekonomi di Batavia).

***
Di Medan sendiri pada tahun 1918, Kota Medan dipromosikan menjadi Gemeente (Kota). Sebelumnya Kota Medan dianggap masih berstatus Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin oleh Asisten Residen. Dalam pembentukan Gemeente ini pemerintah pusat di Batavia mengangkat seorang Walikota (Burgermeester) sebagai kepala pemerintahan kota. Walikota pertama adala Baron Daniel Mackay. Sejak tahun 1918 ketua Gemeenteraad adalah Burgermeester. Gemeenteraad dibawah kepemimpinan burgermeester ini adalah periode gemeeteraad yang ketiga sejak 1 April 1909.

Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng, Gemeenteraad Medan, 1918
Kajamoedin lahir di Padang Sidempoean tahun 1883. Setelah menyelesaikan sekolah rakyat di sekolah dasar negeri Hoetarimbaroe, Kajamoedin melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru, kweekschool di Fort de Kock (1895). Pada akhir tahun 1898 Kajamoedin dinyatakan lulus dan berhak mendapat akte guru (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-01-1899). Setelah sekian tahun, berita Kajamoedin muncul di Medan. De Sumatra post, 16-07-1918, Kajamoedin menjadi salah satu kandidat untuk Gementeeraad Medan. Inilah tahun pertama di Medan, pribumi diberi kesempatan untuk menjadi anggota dewan yang telah dibentuk sejak tahun 1912. Nama-nama yang terpilih (non Eropa) adalah tiga orang yakni Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng, Mohamad Sjaaf (alumni STOVIA) dan Tan Boen An. Jumlah pribumi kemudian bertambah menjadi lima orang. Dalam perkembangannya Tan Boen An digantikan oleh anggota dewan senior (wethouder) Mayor Tjong A Fie (yang pernah menjadi anggota selama dua periode sebelumnya). Salah satu anggota dewan yang menggantikan pada pertengahan 1919 adalah Mr. Alinoedin, hakim di pengadilan Medan. Setelah habis masa jabatan Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi di dewan, melanjutkan studi ke Belanda dan meraih gelar doktor (PhD) di bidang hukum tahun 1925.

Gedung dewan (Raadhuis), Kota Medan (1918)
Radja Goenoeng adalah pribumi (non Eropa/Belanda) pertama yang terplih (melalui pemilihan) menjadi anggota dewan kota (gemeeteraad) sejak kota (gemeente) Medan resmi dipimpin oleh seorang walikota (burgermeester). Kajamoedin Harahap gelar (Manga)radja Goenoeng, mantan guru, tidak hanya bertindak sebagai anggota dewan kota, tetapi juga diangkat pemerintah sebagai pengawas sekolah pribumi di Medan. De Sumatra post, 26-07-1919 menyebut tugas Kajamoedin ini secara khusus untuk mengawasi sekolah-sekolah yang berada di lingkungan perkebunan yang merupakan anak-anak para kuli perkebunan (voiksscholen ten bate der kinderen van koelies). 
Kajamoedin, pribumi pertama terpilih anggota dewan Kota Medan
Kajamoedian Harahap gelar Radja Goenoeng adalah pribumi pertama yang terpilih sebagai anggota dewan kota (gemeenteraad) Kota Medan sejak dipimpin burgermeester tahun 1918 dan karirnya di Medan diakhiri dengan manis sebagai Presiden Komisi Administrasi (Tatakelola) Kota Medan tahun 1933. Setelah Kajamoedin Harahap pensiun anggota dewan kota Medan pada tahun 1924, masih diberi kepercayaan sebagai pengawas pendidikan di Medan. Kajamoedin juga menjadi anggota komisi pembentukan sekolah kejuruan (De Ambachtsschool). De Sumatra post, 15-07-1926 menyebutkan yang bertindak sebagai ketua komisi adalah D. Baron Mackay, burgemeester van Medan (Walikota Medan). Kajamoedin adalah pendidik tulen, seorang guru yang mengabdi untuk rakyat dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam dunia pendidikan di Medan. Atas prestasi dan pengabdiannya lebih dari 30 tahun, Residen Bouman atas nama Gubernur dan atas nama Gubernur Jenderal diberikan bintang de Groote Zilveren Ster van Trouw en Verdienste. Pemberian bintang jasa ini, karena Kajamoedin telah memberikan konstruksi dan reorganisasi pendidikan di Noord Sumatra termasuk di Karoland dan Zuid Tapanoeli (lihat De Sumatra post, 10-01-1928). Kajamoedin juga ditunjuk sebagai pengawas ujian akhir di wilayah Medan (tempat ujian lainnya di Tebing Tinggi) dari siswa-siswa Normaal School Pematang Siantar (lihat De Sumatra post, 09-04-1932). Sekolah Normaal School Pematang Siantar adalah sekolah guru (kini SPG) yang menghasilkan guru-guru untuk Oost Sumatra. Direktur Normaal School Pematang Siantar kala itu adalah Soetan Martoewa Radja, seorang guru alumni terakhir Kweekschool Padang Sidempoean. Kajamoedin terhitung 27 November 1933 ditunjuk sebagai anggota Komisi Administrasi (Tatakelola) Kota Medan untuk masa tugas selama dua tahun. Anggota lainnya adalah Mr. JM. Wesselink, Mr. JF. Kayser, APM. Audretsch,  Ds. TJ. Wielinga. Kajamoedin bertindak sebagai Presiden (lihat De Sumatra post, 21-11-1933)..
Peran penting Radja Goenoeng di Medan adalah soal urusan pendidikan pribumi. Radja Goenoeng alumni Kweekschool Fort de Kock, 1897 (Kweekschool Padang Sidempuan ditutup tahun 1893), menjadi guru di berbagai tempat di Tapanoeli sebelum diangkat sebagai pengawas (penilik) sekolah pribumi di Sumatra's Oostkust (1912). Saat mana Radja Goenoeng pada tahun 1918 ini menjadi anggota dewan, jabatan penilik sekolah itu masih dipercayakan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menggantikan kapabiitas Radja Goenoeng untuk urusan sekolah-sekolah pribumi yang tidak hanya sekolah pemerintah juga meliputi sekolah-sekolah yang didirikan oleh perusahaan-perusahaan untuk anak-anak para kuli. Oleh karenanya, jabatan rangkap ini akan menjadi efektif (di satu tangan sebagai eksekutif dan tangan yang lain sbagai legislatif). Radja Goenoeng dalam kapasitasnya akan menjadi perencana pendidikan pribumi yang berhasil.

Sementara itu pada tahun 1918 ini, komisi sekolah untuk pendidikan ETI (Eropa) tengah merumuskan pola pendidikan yang permanen. Sebagaimana pola pendidikan pribumi yang belum sepenuhnya terorganisir dengan baik, setali tiga uang dengan sekolah pendidikan ETI. Pada tahun ini, Tjong A Fie dimasukkan sebagai anggota komisi sekolah ETI, yang mengakibatkan munculnya gagasan sekolah ETI plus Tionghoa. Ini menunjukkan begitu besarnya pengaruh Tjong A Fie di Medan (dibandingkan Sultan dan para pangeran).
Tjong A Fie di mata orang Eropa di Medan adalah figur multifacet: sebagai mayor komunitas Tionghoa yang jumlahnya sangat besar (baik di kota maupun di dalam kebun-kebun); seorang yang sangat kaya (kekayaannya menjadi lebih besar setelah abangnya mayor Tsiong Yong Hian meninggal tahun 1911, seorang yang suka membantu tidak hanya kalangan kerabat Sultan (ikut berpartisipasi pembangunan masjid) tetapi juga berpartipasi dalam mengurangi beban pemerintah Medan seperti membangun jembatan Sungai Babura, juga seorang yang tidak lupa dengan tanah asal. Pemerintah juga memberi apresiasi kepada Tjong A Fie seperti nama jembatan Sungai Babura disebut jembatan Tsiong Yong Hian dan beberapa nama jalan seperti Jalan Macao dan Jalan Hongkong. Tjong A Fie adalah seorang yang kuat, cerdas, kaya dan memiliki kemampuan (diplomasi) yang baik. .   
Pada tahun 1918, ketika Radja Goenoeng mengawali karir sebagai anggota dewan kota (Gemeenteraad), seorang anak muda asal Padang Sidempuan tiba-tiba namanya melambung, dan namanya dibicarakan dimana-mana. Anak muda tersebut bernama Parada Harahap yang datang merantau ke Deli tahun 1914.dan bekerja sebagai krani. Namun karena tidak tahan melihat penderitaan para kuli, lalu menulis laporannya secara independen ke koran Benih Mardeka yang terbit di Medan pada tahun 1917. Atas laporan tersebut, Parada Harahap dipecat sebagai krani. Tapi tidak ambil pusing, lalu merantau ke Medan dan melamar sebagai wartawan Benih Mardeka dan kemudian tahun 1918 diangkat menjadi editor koran Benih Mardeka. Namun belum genap setahun menjadi editor, koran Benih Mardeka dibreidel.
Parada Harahap, The King of Java Press
Awalnya dituduh karena kasus laporan poenalie sanctie (yang diterbitkan Benih Mardeka atas laporan-laporan independen Parada Harahap), namun tidak terbukti, akan tetapi pemerintah terus mengejar dengan dalih pimpinan Benih Mardeka (M. Samin, mantan krani) dituduh melakukan penggelapan anggaran sekolah. M. Samin dihukum dan Benih Mardeka dilarang terbit. Sebelum koran Benih Mardeka dibreidel, Parada Harahap masih sempat menurunkan topik dan menulis editorial agar oknum-oknum yang terkait dengan maraknya prostitusi di Medan diinvestigasi oleh militer. Praktek prostitusi menurut Parada Harahap sudah sangat masif dan akan merusak moral masyarakat. Parada Harahap lantas kehilangan media di Medan, dan kembali ke kampung dan pada tahun 1918 ini juga mendirikan koran Sinar Merdeka di Padang Sidempuan. Kelak Parada Harahap dari Padang Sidempuan hijrah ke Batavia dan lalu kemudian menjadi The King of Java Press. 
Sejauh ini (1918) anak-anak Padang Sidempuan sudah mengisi berbagai bidang di Medan: sebagai guru (pendidikan), sebagai dokter (kesehatan), sebagai djaksa, polisi dan hakim (hukum), sebagai wartawan (pers), sebagai anggota dewan kota (legislatif) dan tentu saja pebisnis dan krani-krani di perkebunan. Mereka kini tidak hanya jumlahnya cukub banyak, tetapi anak-anak Padang Sidempuan ini di Medan umumnya adalah pionir di bidangnya. Ternyata anak-anak Padang Sidempuan ini tidak hanya di Medan, tetapi juga menyebar di Tandjongpoera, Bindjai, Tandjoeng Balai tetapi juga di Pematang Siantar dan TebingtinggDi.
Dr. Alimoesa Harahap
Di Pematang Siantar sebagai 'kota baru' juga anak-anak Padang Sidempuan sebagai pionir. Adalah Dr. Mohamad Hamzah, alumni Docter Djawa School tahun 1901, setelah berdinas beberapa tahun di Telokbetong dipindahkan ke Pematang Siantar (1908). Mohamad Hamzah adalah sepupu Soetan Casajangan. Anak Padang Sidempuan lainnya yang menyusul ke Pematang Siantar adalah Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon setelah pulang studi dari Belanda tahun 1914 bekerja di kantor Asisten Residen Simaloengoen. Kemudian pada tahun 1914 ini anak Padang Sidempuan yang baru lulus dokter hewan di Buitenzorg langsung ditempatkan di Pematang Siantar. Juga pada tahun ini Julius Siregar gelar Soetan Martoewa Radja baru ditempatkan sebagai Direktur Normaalschool (sekolah guru) yang baru dibuka di Pematang Siantar. Sutan Martoewa Radja adalah alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1892) dan telah lama menjadi guru di Tarutung. Guru ini adalah seorang novelis. . 
Selanjutnya menyusul dua orang lagi dalam tahun yang berda, yakni: Mohamad Joenoes Sieragr gelar Soetan Hasoendoetan, mantan guru, novelis dan kini berprofesi sebagai wartawan (koresponden Pewarta Deli di Medan dan Poestaha di Padang Sidempuan) dan Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem sebagai pegawai pertanahan.  Oleh karena anak-anak Padang Sidempuan sebagai the ruling class, maka pada tahun 1920 mereka mendirikan bank yang diberi nama Bataksch Bank (lihat De Telegraf 28-12-1920). Upaya ini dilakukan, selain mereka sudah berduit juga karena melihat rakyat semakin terjerat dengan rentenir. Untuk mengatasi ini dan ingin membangun usaha rakyat mereka berinisiatif mendirikan bank (bank pribumi pertama di Nederlansch Indie). Java Bank yang ada di Medan hanya untuk orang Eropa/Belanda sedangkan bank swastaKesawan hanya di lingkungan komunitas Tionghoa. Bataksch Bank lebih ditujukan untuk pribumi.
Kota Pematang Siantar dikelilingi perkebunan besar, 1914
Nama Dr. Alimoesa Harahap meski the new comer diantara dongan sahuta, tetapi cepat meroket. Ini bermula ketika klub sepakbola Pematang Siantar didirikan tahun 1913 dan akan mengkikuti kompetisi regional Sumatra's Oostkust masuk dalam tim (satu-satunya pemain di klub yang berkulit coklat). Rupanya selama bermain bola di klub kebanggaan Siantar ini, Alimoesa menjadi lebih dikenal secara luas.Alimoesa dalam perkembanganya menjadi anggota dewan Kota Pematang Siantar 1922. Alimoesa adalah pribumi kedua yang menjadi anggota dewan kota (gementee raads) di Pematang Siantar. Pribumi pertama adalah Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkoepon (lihat De Sumatra post, 27-08-1919). Pada tahun 1924, Soetan Martoea Radja kemudian diangkat menjadi anggota dewan kota (gementeeraads) Pematang Siantar. Di dewan kota hanya tiga orang yang berasal dari pribumi, yakni: Soetan Martoea Radja Siregar, Madong Loebis (guru Normaalschool) dan Muhammad Hamzah Harahap (pejabat kesehatan).Mereka inilah generasi pertama di Pematang Siantar yang telah memainkan peran penting di Pematang Siantar (kota yang tumbuh karena perkebunan, seperti halnya Medan). Kelak, Dr. Alimoesa menjadi pribumi pertama anggota Volksraad dari 'dapil' Noord Sumatra (Tapanoeli en Atjeh), Mangaradja Soangkoepon, pribumi pertama anggota Volksraad dari dapil Sumatra's Oostkust. Soetan Pane Paroehoem kelak menjadi notaris pribumi pertama di Noord Sumatra da Sumatra's Oostkust.
Terowongan, Bonandolok
Pada tahun 1910 transportasi darat dari Tapanoeli ke Sumatra's Oostkust mulai dibuka dengan menembus batu cadas di Bonandolok di Sibolga. Sebelum selesai jalan Sibolga-Medan via Tarutung ini lintas pertama dengan menggunakan mobil pertama justru dilakukan via Sipirok yang dilakukan pada tahun 1912 (lihat De Sumatra post, 25-06-1912). Pada tahun 1924, trayek Pada tahun 1924 trayek Sibolga-Medan via Tarutung  dengan bis reguler yang dioperasikan oleh Deli Spoor Maatschappij. Dengan adanya transportasi darat ini migrasi besar-besaran menuju Medan mulai terjadi, tidak hanya dari Mandheling en Ankola dan Sumatra's Westkust tetapi juga dari Silindoeng dan Toba. Ini dengan sendirinya, transportasi laut mulai berkurang dan lambat laut menghilang.




Bersambung:



*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: