05/10/15

Sejarah Kota Medan (5): Anak-Anak Padang Sidempuan Berpartisipasi Aktif Membangun Kota Medan



Abdul Hakim Harahap, Gubernur Sumatra Utara 1952-1954
Pada tahun 1918 Kota Medan resmi secara penuh menjadi kotamadya (gemeente). Sebelumnya (bersifat administratif sejak 1909), kota dipimpin langsung oleh Asisten Residen Deli (semacam bupati). Kini, Kota Medan secara defacto dipinpin khusus oleh seorang walikota. Yang menjadi walikota pertama adalah Baron Daniel Mackay. Pada fase kotamadya ini, untuk pertama kali pula pribumi terwakili di dewan kota (gemeeteraad). melalui proses pemilihan. Untuk wakil Eropa/Belanda dipilih oleh semua penduduk Eropa/Belanda dewasa, tetapi untuk wakil pribumi dipilih oleh perwakilan (penduduk pribumi berdasarkan tingkat pendapatan tertentu). Para pemilihAnggota dewan kota pribumi pertama yang terpilih adalah Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng. Anak Padang Sidempuan ini bahu membahu dengan Mackay membangun kota. Peran penting, Radja Goenoeng, mantan guru, sebagai anggota dewan yang juga merangkap penilik sekolah itu adalah mereorganisasi sistem pendidikan. Peran penting lainnya, pada tahun 1928 dipercaya sebagai ketua tatakelola administrasi pemerintahan kota. Dua bidang penting yang diperlukan Kota Medan saat itu.

Atas prestasi dan pengabdian kelahiran Hutarimbaru, Padang Sidempuan  ini di bidang pendidikan (guru, eksekutif maupun legislatif) Residen Bouman atas nama Gubernur dan atas nama Gubernur Jenderal diberikan bintang de Groote Zilveren Ster van Trouw en Verdienste, 1928. Suatu tingkat pencapaian yang tinggi bagi seorang pribumi. Pada tahun 1927, Baginda Aloan Soripada yang berdinas terakhir di Medan dan 1927 mendapat bintang emas untuk loyalitas dan jasa diberikan kepadanya sebagai demang di Sibolga.

Pada tahun 1918 ditempatkan seorang hakim muda di kantor Landraad Medan, bernama Alinoedin Siregar. Tugas-tugas utamanya adalah untuk menangani semakin banyaknya kasus-kasus pertanahan yang terjadi dan tingkat kriminal. Alinoedin adalah alumni pertama sekolah hukum (Rechts School) di Batavia. Di sekolah hukum ini, Alinoedin adalah anggota tim catur kampusnya. Setelah beberapa tahun, anak kelahiran Batangtoru ini yang terbilang cerdas dan karena prestasinya di Medan, Alinoedin diberi kesempatan untuk melanjutkan studi hukum ke Negeri Belanda.

Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi berangkat studi ke negeri Belanda dan belajar hukum di Universiteit Leiden. Pada tahun 1925, Radja Enda Baomi meraih gelar doktor (PhD) dengan desertasi berjudul ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland' (hukum tanah). Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pribumi pertama orang Batak, satu dari dua di Sumatra dan satu dari delapan di Nederlansch Indie. Radja Enda Boemi adalah pribumi keempat bergelar doktor dan pribumi kedua bergelar doktor di bidang hukum di Nederlandsch Indie. Setelah pulang ke tanah air, Radja Enda Boemi diangkat sebagai ketua pengadilan di Semarang, lalu di Surabaya dan kemudian di Buitenzorg (1930).

Pada bulan Mei 1921 Radjamin Nasoetion tiba di Medan sebagai pejabat yang ditempatkan di bidang bea dan cukai di pelabuhan Belawan. Radjamin kelahiran Barbaran ini adalah alumni STOVIA (lulus 1912) dan telah berpindah-pindah tempat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Tugas Radjamin di pelabuhan kelas-A ini adalah membersihkan praktek korupsi di pelabuhan dan memberantas penyelundupan. Boleh jadi ini hasil pertukaran pemikiran antara Mackay (eksekutif) dengan Radja Goenoeng (legislatif) untuk mendatangkan orang yang kapabel: pintar, berani dan tegas.

Radjamin adalah kepala bea dan cukai pribumi pertama di Medan. Radjamin Nasoetion tidak merasa asing di Medan. Radjamin pernah tahun 1907 sebagai pemain sepakbola Docter Djawa VC ketika bertamu ke Tapanoeli VC di Medan. Radjamin pernah di tempatkan di Perbaungan tahun 1915 lalu dipindahkan ke Cilacap. Selama di Medan, Radjamin aktif membina sepakbola. Koran De Sumatra Post terbitan 13-02-1923 memberitakan Radjamin membentuk Asosiasi Sepakbola Deli (Deli Voetbal Bond). Setelah lama di Medan, akhirnya Radjamin dipindahkan kembali ke Batavia. Kelak Radjamin Nasoetion menjadi anggota dewan kota Surabaya (1931) dan kemudian menjadi walikota pribumi pertama di Surabaya (1942).

Setahun sebelum Radjamin ditempatkan di Medan, pada tahun 1920 ada empat adik kelas Radjamin yang tengah memulai karir: Tiga dokter baru lulusan baru dari STOVIA yang diangkat menjadi dokter pemerintah. Dr. Tengkoe Mansoer ke Surabaya; Maamoer A. Rasjid (Nasoetion) ke Loeboek Pakam (Sumatra's Oostkust) dan Abdoel Radjid ke Padang Sidempuan, untuk menggantikan Soeib Paroehoeman yang dipindahkan dari Padang Sidempuan ke Solok. Soeib Paroehoeman lulus STOVIA tahun 1917 (bersama R. Djoengdjoengan). Paroehoeman kemudian dipindahkan ke Batavia (1920) dan dipindahkan lagi tahun 1921 ke Manado.Kemudian dipindahkan lagi tahun 1924 ke Midden Java lalu tahun 1926 ditugaskan untuk melanjutkan studi ke Belanda. Sjoeib Paroehoeman lulus dari Universiteit Amsterdam pada tahun 1930 dengan promotor Prof. Dr. Schuffner. 

Setahun sebelum Paroehoeman datang, Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi di Universiteit Leiden meraih gelar doktor (PhD) di bidang hukum. Kemudian setahun setelah Paroehoman pulang ke tanah air, Ida Loemongga Nasoetion di Universiteit Amsterdam meraih gelar doktor (PhD) di bidang kedokteran. Radja Enda Boemi adalah orang ketiga pribumi, dan Ida Loemongga orang keenam pribumi yang meraih gelar doktor. Orang ketujuh peraih doktor (PhD) adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Gooenoeng Moelia di Universiteit Leiden tahun 1933 di bidang sastra dan filsafat. Inilah tiga anak Padang Sidempuan yang mampu meraih level tertinggi pendidikan di masa-masa awal.

Sebelum berakhir masa dinas Radjamin Nasoetion di kantor bea dan cukai Medan (pabean Belawan), pada tahun 1927 datang seorang anak muda lulusan angkatan pertama Sekolah Bea dan Cukai di Batavia. Anak muda tersebut bernama Abdul Hakim kelahiran Sarolangoen, Djambi 1905. Ini berarti generasi lama pejabat bea dan cukai akan digantikan generasi baru lulusan sekolah bea dan cukai. Radjamin sendiri adalah dokter, alumni STOVIA dan diangkat tahun 1912 sebagai pegawai bea dan cukai di Batavia. Kala itu, sekolah bea dan cukai belum ada, baru era Abdul Hakim ada sekolah yang sesuai untuk penempatan pos bea dan cukai.

Di kota Medan ini, Abdul Hakim menikah dengan boru Tapanoeli, Mariana br. Loebis, seorang gadis yang pernah dikenalnya dulu ketika Abdul Hakim bersekolah MULO di Padang, sementara Mariana masih di sekolah dasar. Abdul Hakim adalah anak dari Karim Harahap gelar Mangaradja Gading, seorang pegawai di kantor Residen di Sibolga dan dipindahkan sebagai pengawas ke Djambi. Dari Sarolangun selanjutnya, Mangaradja Gading dipindahkan ke Kota Jambi. Di kota ini, Mangaradja Gading memasukkan Abdul Hakim di sekolah ELS untuk mengikuti abangnya yang sudah lebih dahulu bersekolah. Namun karena sudah cukup lama bertugas di Jambi, Mangaradja Gading minta dipindahkan ke Sibolga. Abdul Hakim tidak selesai mengikuti sekolah ELS tetapi dilanjutkan di Sibolga. Setelah lulus ELS, Mangaradja Gading menyekolahkan Abdul Hakim ke MULO (sekolah menengah pertama) di Padang. Selanjutnya Mangaradja Gading menyekolahkan Abdul Hakim ke Batavia di sekolah Prins Hendrikschool (sekolah menengah atas, bidang ekonomi). Di luar sekolah, Abdul Hakim di Batavia aktif dalam organisasi pemuda seperti Jong Islamieten Bond, Jong Batak dan Jong Sumatra Bond. Setelah lulus di Prins Hendrikschool, Abdul Hakim mengikuti sekolah untuk layanan bea dan cukai di Batavia.

Setelah cukup mengenal Medan dan aktivitasnya yang bergerak di bidang pabean memungkinkannya untuk membangun networking dan kemudian Abdul Hakim menjadi lebih dikenal secara luas. Lantas dia maju dalam pemilihan anggota dewan kota (gementeeraads). Abdul Hakim menjelaskan pada waktu itu minat yang besar dalam Medan untuk masalah ekonomi, keuangan dan sosial, Selama di Medan, tujuh tahun terakhir dari sepuluh tahun di Medan Abdul Hakim menjadi anggota dewan kota. Kegiatan yang dilakukan Abdul Hakim selain anggota dewan adalah aktif sebagai guru privat bahasa Inggris dan bahasa Prancis (yang super langka kala itu). Prestasi Abdul Hakim selama di dewan, Abdul Hakim telah berkontribusi besar terhadap pembangunan kota Medan utamanya pembangunan Pasar Central dan pengembangan Rumah Sakit Umum.

Pada tahun 1937, Abdul Hakim pindah ke Batavia. Ia bekerja sebagai pejabat di Departemen Keuangan (divisi Akuntan dan Statistik Keuangan). Di Batavia, Abdul Hakim bertemu kembali dengan kawan-kawan lama yang dulu menjadi aktivis Jong Batak Bond. Sepeninggal hidupnya pernah di kota Medan, mungkin ia merasa Keresidenan Tapanoeli mulai tertinggal dibandingkan Keresidenan Oost Sumatra, karena orang-orang terpelajar Tapanoeli lebih memilih meniti karir di Medan dan Batavia. Kebetulan pada tahun 1938 di Batavia sudah kerap dilangsungkan pembangunan di Tapanoeli. Tentu ini klop dengan pemahamannya dan karenanya Abdul Hakim ikut melibatkan diri. Komite pembangunan Tapanoeli ini awalnya digagas oleh Sanusi Pane, anak Sipirok kelahiran Palembang. Komite ini memiliki tujuan untuk mengajukan desain rencana reformasi wilayah administrasi (keresidenan) Tapanoeli. Istilah masa kini Rencana Jangka Panjang. Dewan Komite terdiri sebagai berikut (disalin sesuai yang tertulis dalam Bataviaasch nieuwsblad, 01-03-1938): Presiden: Sanusi Pane (editor majalah ‘Kebangoenan’, Wakil Ketua: J.K. Panggabean, Sekretaris dan Bendahara: Napitoepoeloe. Anggota terdiri dari: Parada Harahap (editor ‘Tjaja Timoer’, Abdul Hakim Harahap (mantan anggota dewan kota Medan), A.L. Tobing, H. Pane, T. Dalimoente, Panangian Harahap. Sebagai penasehat komite ini adalah Mangaradja Soangkoepon, Dr. Abdul Rashid, Mr. S. G. Moelia, PhD  (ketiganya anggota Volksraad), dan Mr. Amir Sjarifoeddin (kelahiran Medan). Kelak, Abdul Hakim Harahap kembali ke kampung di Padang Sidempuan lalu menjadi anggota dewan Tapanoeli (jaman Jepang) dan menjadi residen Tapanoeli (era agresi militer) dan menjadi gubernur Sumatra Utara yang ketiga, 1952 (psca pengakuan kedaulatan RI),

Pada tahun 1927 di Batavia, seorang anak Padang Sidempuan bernama Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem lulus ujian bagian pertama pendidikan notaris. Yang lulus bersamaan dengan Soetan Pane Paroehoem adalah Dr. Reichler di Medan. Kemudian Soetan Pane Paroehoem melanjutkan pada bagian kedua dan lulus tahun 1929 dan dinyatakan berhak untuk mendapat register.

Soetan Pane Paroehoem (1925)
Soetan Pane Paroehoem selama ini tinggal di Pematang Siantar yang memulai karir sebagai pegawai kantor pertanahan. Pada tahun 1920, Soetan Pane Paroehoem bersama teman-temannya dari Padang Sidempuan mendirikan Bataksche Bank (bank pribumi pertama). Kebutuhan notaris semakin dirasakan utamanya semakin banyaknya perusahaan didirikan. Kota Medan dan Kota Pematang Siantar merupakan dua kota yang memiliki populasi perusahaan. Untuk memenuhi kebutuhan itu sejumlah individu direkrut pemerintah untuk mengikuti pendidikan notariat yang diselenggarakan di Batavia. Salah satu diantaranya Soetan Pane Paroehoem, kelahiran Batoenadoea, Padang Sidempuan. Ternyata, Soetan Pane Paroehoem adalah satu-satunya pribumi yang berpendidikan notaris di Sumatra’s Oostkust dan satu diantara tiga di Sumatra (lainnya di Sumatra’s Westkusr dan Lampong). Pada tahun 1934, Soetan Pane Paroehoem hijrah dari Pematang Siantar ke Medan karena wilayah kerjanya ditetapkan meliputi seluruh Sumatra’s Oostkust dan Tapanoeli. Kelak, Soetan Pane Paroehoem yang membuat akte notaris pendirian Universitas Sumatra Utara dan Universitas Islam Sumatra Utara.

Pada tahun 1928 saat mana Kajamoedin gelar Radja Goenoeng menjabat sebagai Ketua Tatakelola Administrasi Pemerintahan Kota Medan, seorang pemuda kelahiran Sipirok bernama Gading Batoebara tahun 1928 diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Medan.Pada tahun ini beberapa guru asal Padang Sidempuan berdatangan diantaranya. Abdoel Herman Siregar mengadjar di Hollandsch Inlandsche School di Bindjei dan Kamaroeddin Nasoction di Schakel School di Medan. Abdoel Herman Siregar dan Kamaroeddin Nasoction sama-sama baru lulus dari Hoogere Kweekschool di Bandoeng (lihat De Sumatra post, 04-07-1928). 
Pada saat ini (1928), Abdullah Loebis (Direktur Pewarta Deli) adalah salah satu pribumi yang menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad) di Kota Medan. Abdullah Loebis adalah penerus Kajamoedin di dewan kota. Abdullah Loebis adalah tokoh pers pribumi terpenting di Medan. Sementara tokoh pers pribumi terpenting di Batavia adalah Parada Harahap (pernah menjadi editor Benih Mardeka di Medan tahun 1918 dan kemudian editor Sinar Merdeka di Padang Sidempuan 1919-1922). Parada Harahap hijrah ke Batavia 1923 dan kiprahnya langsung meroket. Parada Harahap mendirikan kantor berita Alpena 1925, mendirikan surat kabar Bintang Timoer 1926 (koran bertiras paling besar di Batavia). Parada Harahap tahun 1927 sekretaris PPPKI yang mana ketuanya MH Thamrin. PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia dengan motto:Hidoeplah Persatoean Indonesia) adalah penyelenggara kongres pemuda 1928 (kelak, tahun 1931 Parada Harahap, pendiri dan sebagai Ketua Kadin pribumi di Batavia memimpin rombongan orang Indonesia pertama ke Jepang yang di dalamnya termasuk Abdoellah Loebis (editor Pewarta Deli) dan M. Hatta (sarjana baru lulusan Belanda, kelak menjadi wakil presiden). Trio pengurus Sumatranen Bond ke kongres pemuda adalah Bahder Djihan, Diapari Siregar dan Abdul Gafar. Sedangkan pemuda yang berpartisipasi dalam kongres pemuda antara lain Amir Sjarifoedin. [Diapari Siregar lulus STOVIA tahun, 1928, setelah bertugas di Kalimantan, melanjutkan studi ke Belanda, lulus Univrsiteit Leiden 1933, pulang ke tanah air langsung membuka dokter praktek di Pematang Siantar].
Secara khusus, Gading Batoebara yang lebih dikenal sebagai GB Josua adalah suksesi Kajamoedin gelar Radja Goenoeng dalam pengembangan pendidikan di Kota Medan. Hal yang kurang lebih sama Abdul Hakim Harahap sebagai suksesi dari Radjamin Nasoetion. Sementara itu, Djohan Nasoetion suksesi Abdul Azis Nasoetion gelar Sutan Kenaikan (alumni pertama sekolah menengah pertanian di Buitenzorg, 1914 yang berkarir di Padangsche) datang ke Medan tahun 1929. Setelah lulus di Buitenzorg, Djohan Nasoetion langsung ditempatkan di Medan sebagai 'de adjunct landbouwconsulent' dengan wilayah kerja Oostkust van Sumatra (lihat De Sumatra post, 19-07-1929). Djohan Nasoetion adalah orang pribumi pertana, ahli pertanian di Sumatra's Oostkust (sebagai asisten dari insinyur pertanian berbangsa Belanda). 

Pertja Timor, edisi 28 Agustus 1902 (tahun I)
Anak-anak Padang Sidempuan tidak hanya melakukan estafet di bidang pengajaran (guru), bidang kesehatan (dokter), bidang legislatif (anggota dewan), bidang pertanian (dokter hewan dan ahli pertanian) juga melakukan estafet di bidang pemberitaan (jurnalis). Surat kabar Pewarta Deli (suksesi Pertja Timor, 1902-1911) yang didirikan oleh Dja Endar Moeda dan kawan-kawan telah melahirkan banyak jurnalis yang handal. Pewarta Deli setelah era Dja Endar Moeda, diteruskan Soetan Panoesoenan, kemudian dilanjutkan Soetan Parlindoengan, Abdoellah Loebis dan selanjutnya Mangaradja Ihoetan. Kini (tahun 1930) Pewarta Deli yang dipimpin Abdoellah Loebis mendapat masalah karena editornya Mangaradja Ihoetan dan Hasoel Arifin terkena delik pers. Abdoellah Loebis sempat bingun karena tidak ada yang mampu menggantikan dua editor andal itu, lalu Abdoellah Loebis meminta Parada Harahap, pimpinan Bintang Timoer di Batavia agar editornya Djamaloedin alias Adinegoro mengisi kekosongan editor di Pewarta Deli. Parada Harahap menyetujui. Dalam perkembangannya, setelah Mangaradja Ihoetan dan Hasanoel Arifin Pohan bebas lalu mendirikan koran baru bernama Sinar Deli yang mulai terbit 4-3-1930 (lihat De Sumatra Post, 05-03-1930). Kisah lama berulang, ketika Dja Endar Moeda di Padang 1907 dengan korannya Pertja Barat dan Sumatra Nieuwsblad terkena delik pers, lalu meninggalkan Padang dan hijrah ke Medan. Dua koran itu diserahkan kepada adiknya Dja Endar Bongsoe, lalu Dja Endar Moeda menerbitkan koran baru di Medan 1910 yang diberi nama Pewarta Deli. Koran Pewarta Deli ini (1930) untuk kali kedua mengalami delik pers (kasus M. Ihoetan dan Hasanoel Arifin), yang pertama adalah di era Soetan Panoesoen yang harus keluar lalu digantikan Soetan Parlindoengan (1912).  .    

Gading Batoebara, anak Padang Sidempoean kelahiran Hoetapadang, Sipirok 10 Oktober 1901 (10-10-01) ini mengikuti jejak seniornya Radja Goenoeng (lulus 1899) dan Abdul Azis Nasoetion gelar Sutan Kenaikan (masuk 1909) di sekolah guru di Fort de Kock. Setelah lulus Kweekschool Fort de Kock, Gading Batoebara melanjutkan sekolah ke Hogere Kweekschool (sekolah tinggi guru) di Poeworedjo. Setelah lulus, 1923 Gading Batoebara pulang kampung dan menjadi guru sementara di HIS swasta Sipirok (kampung halamannya, menikah dengan boru Regar). Kemudian Gading Batoebara merantau dan menjadi guru di Tandjoengpoera (Langkat). Tidak lama di Tandjongpoera, GB Josua tertarik atas tawaran untuk memajukan sekolah HIS swasta di Doloksanggoel. Kehadirannya membuat sekolah HIS Doloksanggoel maju pesat hingga akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi HIS negeri. Sukses GB Josua merancang HIS di Doloksanggoel membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah Nederlansch Indie. Atas dasar inilah Gading Batoebara diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Schakel School di Medan, 1928. Tidak hanya itu, pada tahun 1929 Gading Batoebara melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda di Groningen. Setelah mendapat akte Lager Onderwijs Gading Batoebara kembali ke tanah air, 1931..[catatan: Mackay sejak 1931 cuti sebagai walikota dan ketua gemeeteraad Medan yang dimulai April 1918 (lihat De Sumatra post 01-04-1931].

Daftar sekolah ELS dan HIS di Medan, 1932
Dalam perkembangannya GB Josua merencanakan untuk mendirikan sekolah menengah pertama (HIS) di Medan. Surat permintaan ini disampaikan kepada Dewan Kota. Sekolah ini direncanakan membangun di Westenenkstraat (1932). Ternyata kemudian, sekolah ini menghasilkan lulusan yang bagus, yang mana siswanya dapat diterima di MULO: Taman Siswa lulus 50 persen, HIS pemerintah nol persen dan Institute Josua lulus 80 persen. Pada tahun ini Insitut Josua menghasilkan lima lulusan dan tiga diantaranya sebagai kandidat masuk MULO; sedangkan Taman Siswa dari lima lulusan tidak ada yang diusulkan (lihat gambar). Ekspansi dilakukan Mr Josua, selain tetap memperbesar kapasitas pendidikan dasar (HIS) juga akan menbyelenggarakan pendidikan menengah (MULO) di Medan. Akhirnya, Josua Institut memiliki gedung baru, yang peresmian sekolah ini dilakukan tanggal 16 Juli 1934.
Pada tahun ini seorang anak remaja yang baru berumur 17 tahun ditahan di Sipirok dan dimasukkan ke penjara. Anak muda tersebut bernama Adam Malik. Penangkapan ini berdasarkan permintaan hakim di Sipirok, karena diketahui bahwa Adam Malik telah melakukan pertemuan politik di Sipirok. Polisi langsung bergerak untuk menangkap Adam Malik di Pematang Siantar. Adam Malik lalu dibawa dengan pengawalan ketat ke Sipirok (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-11-1934). Adam Malik Batubara (ketua Partindo Pematang Siantar dan Medan yang berpusat di Pematang Siantar, 1934-1935) kemudian dibui di penjara Padang Sidempuan, penjara yang kerap menjadi tempat Parada Harahap dulu (1918-1922) karena dalih delik pers pada surat kabar Sinar Merdeka yang terbit di Padang Sidempuan. Adam Malik sendiri adalah bendahara Partai Indonesia di Pematang Siantar yang didirikan tahun 1932 yang mana yang berindak sebagai ketua adalah Mohamad Said dan Sekretaris Cholik Nasoetion (lihat De Sumatra post, 27-12-1932). [catatan: Adam Malik menjadi pengurus partai sejak berumur 15 tahun, kelak menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden]. Setelah Adam Malik dibebaskan atas tuduhan pertemuan politik yang membawa nama partai yang dilarang itu, Partindo hijrah ke Batavia dan langsung bergabung dengan partai yang baru didirikan, Gerakan Indonesia (Gerindo) yang dipimpin oleh Amir Sjarifoedin. Anak Medan Bung (Amir) dan anak Siantan Men (Adam) bahu membahu membesarkan partai revolusioner anti Belanda ini. Adam Malik dkk mendirikan kantor berita Antara, 13 Desember 1937). Dalam pertemuan besar yang dilakukan Gerindo cabang Batavia, Amir dan Adam masing-masing berpidato di hadapan 600 yang hadir dengan topik yang berbeda. Kongres kedua Gerindo akan dilaksankan di Palembang 27-29 Juli ini (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 12-06-1939). Dalam kongres ini Adam Malik tampil berpidato yang intinya perlunya mendirikan organisasi pemuda yang diulanginya pada pertemuan Gerindo di cabang Tjibadak, Soekaboemi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-10-1939). Adam Malik yang berprofesi sebagai wartawan ini setelah hijrah ke Batavia, masuk dalam jajaran elit Perdi (Persatoean Djoernalis Indonesia), dimana Wakil Ketua adalah Parada Harahap, sedangkan Adam Malik ketua cabang Batavia. [catatan: Adam Malik meski masih berumur 22 tahun sudah menjadi senior partai dan menganjurkan adanya kelompok pemuda. Kelak gerakan pemuda Indonesia pimpinan Adam Malik ini yang 'menculik' Soekarno dan Hatta untuk membacakan Proklamasi RI].
Setelah Kajamoedian gelar Radja Goenoeng sukses, karir GB Josua mulai mendapat tempat di Medan. De Sumatra post, 19-06-1934 memberitakan bahwa GB Josua diusulkan menjadi anggota Dewan Kota melalui pemilihan. Total kursi anggota dewan yang diperebutkan sebanyak 17 yang terdiri dari 10 kursi untuk Belanda, 5 kursi untuk pribumi dan 2 kursi untuk Non Belanda. Dari daftar calon untuk pribumi ada sebanyak 15 orang. Dari daftar ini terdapat enam anak Padang Sidempoen, yakni: Abdullah Lubis, Aboe Bakar, Abdul Hakim, GB Joshua, Madong Lubis dan Soeleiman Hasiboean. Dalam putaran terakhir pemilihan Dewan Kota Medan yang terpilih adalah Abdul Hakim dan GB Josua (lihat De Sumatra post, 04-04-1936).

GB Josua kembali dicalonkan untuk pemilihan Dewan Kota (De Sumatra post. 30-07-1938). Dari kalangan pribumi terdapat sebanyak 25 orang, diantaranya Abdoel Wahab Siregar, Bedawi Rangkoeti, Suleiman Hasiboean, Pamoesoek gelar Sutan Mangasa Pintor, Taralam Nasution gelar Mangaradja Soangkoepon, Dr. Gindo Siregar, Mr. Loeat Siregar, Zakaria Loebis, Madong Loebis, GB Josua, Boerhanoeddin gelar Soetan Dilaoet. Dalam pilkada kali ini GB Josua gagal. Dari hasil pemungutan suara hanya Suleiman Hasiboean yang langsung terpilih. Sedangkan delapan pribumi harus bersaing kembali untuk memperebutkan empat kursi. (De Sumatra post, 15-08-1938). Akhirnya yang terpilih, satu diantaranya adalah Boerhanoeddin gelar Soetan Dilaoet (De Sumatra post, 24-08-1938).[catatan: Madong Loebis adalah mantan guru di Normaal School di Pematang Siantar dan kini pengawas sekolah di Medan, pernah menjadi anggota dewan kota Pematang Siantar bersama guru Soetan Martoewa Radja dan Dr. Muhamad Hamzah Harahap; sementara Boerhanoeddin adalah djaksa yang sebelumnya berdinas di Sibolga (penerus djaksa Sibolga, Djamin Harahap gelar Baginda Soripada, ayah dari Amir Sjarifoedin) yang kemudian dipindahkan ke Medan sebagai pengawas kantor perbendaharaan Kota Medan; sedangkan Zakaria Loebis, pejabat keuangan di pemerintahan Kota Medan]. 

Tidak hanya para putra-putra Padang Sidempuan yang berkiprah di Medan, para putri-putri juga menunjukkan semangat adanya emansipasi. Pada tahun 1936 muncul organisasi wanita yang diberi nama Kaoem Iboe Sepakat. Organisasi ini diketuai oleh Ny. D. Poeloengan, wakil oleh Ny. Djamaloedin, sekretaris Nn. Mariam Loebis dan Nn Mariamsah Loebis, bendahara Nn. A. Pohan. Komisioner antara lain Ny. Zakaria :Loebis, Ny. Maskoed Siregar, Ny. Diapari Siregar

De Sumatra post, 05-09-1940 (Josua Institute membuka Ekspansi): ‘Kemarin sore di bawah bunga yang sangat indah berlangsung pembukaan bangunan baru, Joshua Institute di Delistraat Medan untuk upacara dimana berbagai otoritas hadir, seperti Walikota Medan, anggota dewan kotapraja dan anggota dewan kotapraja Djamaloeddin. Sebelum memasuki sekolah tersebut didahului pidato yang disampaikan oleh Raja Goenoeng, pengawas sekolah utama dan menyambut para peserta dan juga membuat perhatian khusus dari kehadiran Tcngkoe Mahkota Deli. Radja Goenoeng mengatakan dengan tegas bahwa lembaga seperti Josua Institute, hanya bisa berkembang di bawah dukugan kuat semua stakeholder. Sementara anak-anak sekolah bernyanyi dan bendera dikibarkan, dan petugas bangunan dan memasuki tempat dimana sejumlah besar rangkaian bunga berdiri. Bergabung dengan ruang hiasan kemudian mengadakan pertemuan dimana. berpidato Dr. Pirngadi, yang memberikan sejarah singkat sekolah yang menekankan bahwa Mr Johua adalah pendiri sekolah dan orang yang memulai dari sebuah sekolah kecil, lembaga ini telah dibuat pada 12 Juli 1932, yang mana institute ini di sebuah gudang di Westenenkstraat. Sekolah ini awalnya para siswa mengalami kesulitan belajar karena fasilitas yang jauh memadai, yang harus diatasi pada awalnya, namun secara bertahap sekolah ini tumbuh, dan tidak butuh waktu lama sebelum sekolah ini pindah ke gedung sekolah di Delistraat.

GB Josua (1950)
Menurut Pirngadi lebih lanjut, meskipun perbaikan dan perluasan diperlukan, setiap tahun di Medan banyak siswa yang tidak dapat ditampung karena kurangnya ruang kelas. Sekarang lembaga Joshua memiliki 26 kelas dan  banyak guru dan masih subsisten. Sekolah ini awalnya kadang-kadang dipertanyakan, kini sekolah Josua ini telah membuktikan dirinya. Dr Pirngadi mengucapkan terimakasih kepada Bapak Josua yang di akhir pidatonya menyebut Josua orang yang banyak pekerjaan social sebagai telah melakukan sebagai guru. Menurut Pirngadi, Mr. Josua adalah salah satu kepala sekolah terbersih dan telah berjuang dengan gigih untuk mengejar ketertinggalan. Pirngadi memuji dan Josua memang layak menerimanya. Selanjutnya, Josua menyampaikan sambutan bahwa pda intinya sekolah ini juga hadir berkat hasil kerja semua karyawan yang telah mendukung mencapai hasil yang sekarang dan ke depan agar lebih giat. Setelah pidato yang hadir mereka bersama-sama, disuguhi makanan dan minuman dan termasuk orang tua dan anak-anak yang hadir dalam perayaan kehormatan sekolah ini’. [De Sumatra post, 06-01-1940]. 
Dr. Pirngadi adalah alumni STOVIA, seangkatan dengn Dr. FL Tobing dan adik kelas Abdoel Moenir Nasoetion. Pirngadi lahir di Banten (Bantam) lulus STOVIA tahun 1923..Pada tahun 1926, Raden Pirngadi dipindahkan dari STOVIA di Welt. ke Medan dan pada saat yang sama, Maamoer Al Rasjid Nasoetion dari Padang Sidempuan dipindahkan ke STOVIA di Welt.(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 11-11-1926). Pada tahun 1929, Pirngadi menjadi anggota (pengganti) dewan kota (bersama Abdoellah Loebis, pimpinan Pewarta Deli). Untuk sekadar diketahui, selain Pewarta Deli, koran lokal yang cukup berpengaruh adalah Sinar Deli (pimpinan Abdul Azis gelar Baginda R. Sodjoeangon).
GB Josua tidak hanya cerdas di bangku kuliah, tidak hanya piawai mengajar siswa di kelas dan tidak hanya pintar berdebat di parlemen kota, tidak hanya mampu membangun sekolah, tetapi GB Josua juga jago di lapangan rumput, sebagai pemain. GB Josua di Medan juga adalah pengurus klub Sahata. Klub Sahata Voetbal Club adalah suksesi klub Medan Tapanoeli Voetbal. Klub Medan Tapanoeli Voetbal Club adalah suksesi Tapanoeli Voetbal Club (1907).

Klub Sahata Voetbal Club awalnya didirikan oleh koran Sinar Deli pada tahun 1935 (Sinar Deli adalah suksesi Pewarta Deli, mulai beroperasi tahun 1930 dengan editor Mangaradja Ihoetan). Klub ini dibentuk dari gabungan (merger) dua klub yakni Horas Voetbal Vereeniging (HVV) dan Parsadaan Sport Vereeniging (PSV). De Sumatra post, 31-10-1935 memberitakan bahwa pengurus klub Sahata ketika dibentuk adalah Abdul Hakim (Wethouder Gemeeteraad) dengan sekretaris Albert Siregar dan bendahara Ibu Mariamsjah Loebis. Oleh karena Abdul Hakim pindah tugas ke Batavia, kepengurusan klub ini dipimpin oleh Dr. Gindo Siregar kemudian GB Josua. Dalam perkembangannya, OSVB yang dimotori oleh MSV merasa perlu menggabungkan kompetisi OSVB dengan kompetisi pribumi. Penggabungan ini didukung oleh klub-klub pribumi termasuk Sahata VC. Di dalam kompetisi Sahata VC masuk Divisi Satu. Kompetisi OSVB tahun 1940, Sahata VC berada pada peringkat keempat di bawah Noertjahaja dan Shells SC dan Deli Mij. VC (kampiun). Untuk Divisi Dua adalah Deli Spoor SC. Klub Sahata pimpinan GB Josua ini cukup lama eksis hingga muncul perselisihan dengan OSVB, lagi-lagi karena soal ketidakadilan. Salah satu pemain andalan Sahata VC adalah Kamaraoedin Panggabean (kelak menjadi tokoh sepakbola Medan). Pada bulan Juni 1941 OSVB melakukan rapat tahunan seperti biasanya evaluasi kompetisi dan bertepatan dengan pemilihan pengurus baru. GB Josua yang hadir dalam rapat tahunan tersebut mewakili Sahata VC merasa selama ini seakan tidak diberi kesempatan bagi pribumi untuk menjadi Presiden. GB Josua melakukan protes dan memberi argumen yang realistik. De Sumatra post, 14-06-1941: ‘Sejumlah kandidat telah diumumkan sebelum pemilihan. Kandidat non Belanda adalah Dr. Soedin dan Mr Joshua. Perwakilan Sahata dalam hal ini mengumumkan bahwa Mr Josua untuk menarik kembali. GB Josua harus meninggalkan pertemuan. Alasannya, tidak akan mungkin Indonesia menjadi presiden karena sudah diatur meski namanya pemilihan. Seperti biasanya Presiden adalah dari MSV. Padahal menurut GB Josua jumlah klub Indonesia lebih banyak di dalam kompetisi. Penjaringan calon dan pemilihan itu hanya akal-akalan saja. OSVB adalah federasi dan bukan MSV. Jangankan menjadi presiden, anggota dewan saja tidak ada wakil Indonesia’. Klub Sahata lalu mundur dari OSVB (De Sumatra post, 14-06-1941). [Selama pendudukan Jepang klub Sahata tidak terdengar kabar beritanya. Baru setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia kabar berita Sahata muncul kembali pada tahun 1950 (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 16-08-1950)].

Inilah untuk kali kedua wakil pribumi protes keras terhadap pengurus bond yang notabene orang-orang Belanda. Pada tahun 1908 Tapanoeli VC juga pernah melakukan protes dan menarik diri dari kompetisi karena adanya ketidakadilan (kala itu nama bond adalah Deli Voetbal Bond yang dimotori oleh DSV. Kini, pada tahun 1941 terjadi lagi proses yang sama ketika penggabungan kompetisi dilakukan. Serba kebetulan, Tapanoeli VC berafiliasi dengan surat kabar Pewarta Deli (lembaga pemberitaan) milik Dja Endar Moeda dan Sahata berafiliasi dengan Josua Instituut (lembaga pendidikan) milik GB Josua. Dja Endar Moeda dan GB Josua adalah anak Padang Sidempoean yang sama-sama menjadi guru. Guru ternyata berjuang dengan caranya sendiri.


Pada tahun 1934, saat mana GB Josua dicalonkan menjadi anggota dewan kota Medan (dan berhasil menuju raadhuis (gedung dewan kota) bersama incumbent Abdoel Hakim Harahap), seorang anak Padang Sidempuan ditempatkan di rumah sakit kota Medan, namanya Djabangoen. Jabatan barunya di Medan untuk menempati posisi yang baru dibentuk di rumah sakit kota yakni Biro Konsultatif untuk Wabah TBC yang wilayah kerjanya semua wilayah Sumatra’s Oostkust. Dalam tugas baru ini, Djabangoen bertindak sebagai Kepala Biro. Djabangoen sebelum menempati pos baru ini, adalah asisten ahli dari Dr. O. Paneth  di Sanatorium yang berlokasi di Kabandjahe. Djabangoen sejak 1931 adalah asisten dari dokter spesialis TBC di Nederlansch Indie yang bekerja di Kabandjahe. Di rumah sakit ini sudah terlebih dahulu bertugas Dr. Pirngadi (kakak kelas Djabangoen di STOVIA).

Djabangoen (1931)
Djabangoen, kelahiran Batoenadua, Padang Sidempuan adalah sepupu Dr. Mohamad Hamzah di Pematang Siantar, alumni Docter Djawa School, 1901. Djabangoen sendiri masuk STOVIA tahun 1917. Pada tahun 1920 Djabangoen tengah kuliah pada tahun keempat. Sementara itu, siswa yang berada di tahun ketiga antara lain Alimoedin Pohan (dan Bahder Djohan). Sedangkan yang di tahun kelima antara lain Aboebakar, F. Tobing dan Pirngadi. Tahun keenam, Amir dan tahun ketujuh Abdoel Moenir Nasoetion dan (M. Djamil). Djabangoen lulus tahun 1925 dan lalu pulang kampung bersama Aminoedin Pohan via Belawan lalu ke Padang Sidempuan. Tahun 1927, Djabangoen diangkat sebagai dokter pemerintah dan ditempatkan di rumahsakit Malang, kemudian tahun 1929 dipindahkan ke Pandeglang (kampung halaman Pirngadi) lalu kemudian dipindahkan lagi ke rumahsakit Padang Sidempuan (kampung halaman Djabangoen sendiri) dan kemudian dipindahkan lagi ke ke Kabandjahe sehubungan dengan dibukanya Sanatorium dibawah dipimpin dokter terkenal Dr. O. Paneth (1931). Dipilihnya Kabandjahe sebagai lokasi sanatorium, karena hawanya yang sejuk sesuai untuk para penderita penyakit paru.

Di Medan, Djabangoen harus bekerja keras. Pemerintah sangat mengkhawatirkan wabah TBC semakin meluas dan menggerogoti kesehatan masyarakat di Sumatra’s Oostkust. Pada tahun 1935, untuk penanganan kategori penduduk murid sekolah baru tertangani oleh Djabangoen baru sebanyak 400 sekolah dari 600 sekolah di Sumatra’s Oostkust. 
Pada tahun ini (1935) seorang anak Padang Sidempuan kelahiran Sipirok (28-11-1908) ditempatkan di Kantor Pengadilan (Raad van Justitie) Medan sebagai advokat bernama Mr. Loeat Siregar yang baru lulus Desember 1934 dari Reschthoogeschool di Leiden. Di kantor ini sudah ada pejabat senior Pamoesoek gelar Soetan Mangaradja Pintor. Baru setahun Loeat Siregar di Medan sudah terpilih sebagai Ketua Sarikat 'Teman Persahabatan. Setahun kemudian (1937) sudah diusulkan menjadi kandidat untuk dewan kota Medan, namun gagal pada putaran terakhir. Taman Persahabatan adalah organisasi sosial seperti Boedi Oetomo namun organisasi yang dibentuk di Medan ini tahun 1930 bersifat multi etnik yang diprakarsai  oleh anggota dewan pribumi dan editor dari surat kabar Pewarta Deli dan tokoh lainnya seperti Baginda Djoendjoengan Lubis, dokter alumni STOVIA. Jauh sebelumnya sudah pernah ada organisasi sejenis yang multi etnik yang disebut Medan Prijaji. Organisasi ini didirikan tahun 1915 yang diketuai oleh Dr. Abdoel Rasjid dengan komisaris antara lain DR. Baginda Djoendjoengan dan Abdul Wahab Siregar. Dr. Abdoel Rasjid dan Dr. Djoendjoengan adalah alumni STOVIA (kelak Abdoel Rasjid adalah anggota Volkstaad dari dapil Tapanoeli, 1932). Sekadar diketahui bahwa organisasi sosial, seperti Indisch Vereeniging di Belanda (yang didirikan Soetan Casajangan tahun 1908) dan Boedi Oetomo (1908) bukanlah organisasi yang tertua, ternyata organisasi tertua terdapat di Padang. Organisasi sosial di Padang ini didirikan tahun 1902 yang diberi nama Medan Perdamaian dengan ketua Dja Endar Moeda (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Organisasi Medan Perdamaian ini ternyata juga eksis di Medan yang mana organisasi Dja Endar Moeda ini membentuk klub sepakbola bernama Medan Perdamaian yang ikut berkompetisi tahun 1908 di Medan..
Satu lagi anak Padang Sidempua kelahiran Sipirok datang ke Medan tahun 1936 bernama Dr. Gindo Siregar. Gindo Siregar baru saja pulang dari Belanda studi kedokteran (bedan dan kebidanan) dan setelah mendapat lisensi di Batavia membuka praktek di Medan. Gindo Siregar sebelum studi ke Belanda pernah selama 2 tahun enam bulan di rumah sakit Pangoeroeran dari tahun 1931. Gindo Siregar adalah alumni STOVIA tahun 1930. Namun baru satu sahun di Medan, sudah langsung dicalonkan sebagai anggota dewan kota Medan. Lnngsung berhasil.
Hasil kerja keras Djabangoen atas cakupan tugas yang luas dan prestasi mengurangi secraa drastis prevalensi TBC, nama Djabangoen di Medan dan Sumatra’s Oostkust semakin dikenal secara khusus di Medan. Pada tahun 1937, warga Medan mengajukan Djabangoen untuk menjadi anggota dewan kota. Sayang dalam putaran terakhir pemilihan, Djabangoen hanya meraih suara, tujuh terbanyak dari 25 kandidat. Yang berhak menjadi anggota dewan, tiga dari dari lima anggota pribumi dewan kota terpilih adalah Dr. Suleiman Hasiboean, Dr. Gindo Siregar dan Djamaloedin.

Djamaloedin (tahun kedua bersama Casmir Harahap) adalah mahasiswa STOVIA, adik kelas Djabangoen (tahun kelima) pada tahun 1920. Djamaloedin tidak selesai kuliah di STOVIA (tidak diketahui sebab musababnya). Lalu Djamaloedin berangkat studi jurnalistik ke Eropa. Pada tahun akhir 1929, Djamaloedin alias Adinegoro kembali ke tanah air. Pada tahun awal 1930 Adinegoro bekerja pada surat kabar Bintang Timoer (pimpinan Parada Harahap). Kemudian Parada Harahap menyerahkan tugas editor kepada Adinegoro, karena Parada Harahap sangat sibuk di dunia politik (Parada Harahap adalah sekretaris PPPKI yang mana ketuanya M. Hoesni Thamrin; PPPKI adalah penyelenggara Sumpah Pemuda 1928). Namun setahun kemudian datang Abdullah Lubis dari Medan meminta Adinegoro menjadi editor Pewarta Deli (pimpinan Abdullah Lubis). Parada Harahap setuju, dan Adinegoro berangkat ke Medan. Adinegoro adalah adik dari Mohamad Jamin (dari Talawi, Sumatra’s Westkust), dan Jamin sendiri adalah teman dekat Parada Harahap yang sama-sama tokoh di Sumatranen Bond di Batavia..

Djabangoen menerima kekalahan itu dan menerimanya dengan gentlemen sebagaimana dilaporkan De Sumatra Post 13-4-1937 (Dr. Suleiman Hasiboean, Dr. Gindo Siregar dan Djamaloedin adalah adik kelas Djabangoen di STOVIA). Namun tidak demikian dengan Mr. Loeat Siregar. 
Pada tahun ini (1937) atas usul seorang anggota Volksraad di Batavia agar jumlah pribumi dengan ETI di dewan haruslah sama jumlanya, Mr. Loet Siregar merespon dan membentuk komite di Medan untuk memperjuangkan agar jumlah pribumi dan ETI di dewan kota Medan sama jumlahnya. Komite ini terdiri dari Mr. Loeat Siregar sebagai ketua dan anggota terdiri dari semua anggota dewan pribumi, dan lain-lain termasuk editor Pewarta Deli dan editor Sinar Deli. Pada tahun 1938 Loeat Siregar diusulkan untuk kandidat untuk Volksraad dari dapil Sumatra's Oostkust melalui Parindra.
Djabangoen kembali bekerja seperti semula, menangani kasus-kasus wabah TBC. Djabangoen adalah seorang yang memiliki kepribadian yang lengkap. Dulu, semasa kuliah di STOVIA, Djabangoen adalah anggota tim catur kampusnya untuk berkompetisi (biasanya secara beregu) dengan tim-tim kuat yang ada di Batavia. Di Medan, hobby catur Djabangoen tidak terdengar kabar beritanya (mungkin di Medan banyak jago-jago catur). Namun, pada tahun 1940, nama Djabangoen diberitakan muncul di ring tinju, namun bukan sebagai petinju tetapi dokter yang berada di sisi ring jika para petinju mengalami cidera atau risiko tinggi. Pada waktu itu, di Medan tengah dilangsungkan untuk pertamakali tinju profesional antara petinju Medan, Satar melawan petinju dari Penang bernama Tony Louis.

Demikian riwayat singkat Djabangoen di masa-masa awal kehadirannya di Medan, anak Padang Sidempuan yang lulusan STOVIA dan telah berhasil mengatasi wabah penyakit TBC di Medan dan Sumatra’s Oostkust. Seniornya, anak Padang Sidempuan, alumni STOVIA lulus 1905 bernama Mohamad Daoelaj pada tahun 1916 telah lebih dahulu melakukan kebajikan yang sama yakni memberantas penyakit kusta. Dr. Muhamad Daoelaj setelah pensiun sebagai dokter pemerintah di Medan, membuka rumah sakit khusus kusta di Poelaoe Sitjanang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-04-1916).  
Peran anak-anak Padang Sidempuan di Medan pada bidang pendidikan dan kesehatan tidak ada putusnya: Pionir dan selalu dibutuhkan. Pada tahun 1938 ada suatu kejadian khusus, Dr. van der Molen mengambil hak cuti ke Eropa, rumah sakit Kota Medan kekurangan dokter. Lantas, walikota Aldermen mengangkat dua dokter pribumi: Dr. Gindo Siregar dan Dr. Diapari Siregar. Namun ada pertanyaan dari salah satu anggota dewan, apakah Dr. Gindo Siregar yang saat itu juga anggota dewan boleh rangkap jabatan. Walikota menjawab ini kondisi darurat. Kemudian diajukan pertanyaan: apakah gaji sebagai anggota dewan menjadi doble accounting dalam pembiayaan pemerintah karena sebagai dokter rumah sakit juga mendapat imbalan sebesar f 450 perbulan. Walikota menjawab: 'Tidak, karena Dr. Gindo harus meninggalkan praktek dokternya'. Untuk Dr. Diapari Siregar tidak ada masalah karena Dr. Diapari Siregar dipindahkan dari rumah sakit di luar kota Medan.
Dr. Gindo Siregar, alumni STOVIA setelah berdinas di berbagai tempat lalu melanjutkan studi ke Universiteit Leiden, dan setelah lulus membuka praktek di Medan. Belum lama di Medan sudah langsung terplih sebagai anggota dewan kota. Sementara itu, Dr. Diapari Siregar, alumni STOVIA, setelah berdinas lalu melanjutkan studi ke Universiteit Leiden, dan sepulang ke tanah air membuka dokter praktek di Pematang Siantar. Namun di tengah kesibukannya sebagai dokter swasta, pemerintah membutuhkan keahliannya untuk rumah sakit pemerintah di Pematang Siantar. Sebelumnya juga dialami oleh Dr. Alimoedin Pohan, alumni STOVIA, setelah berdinas di beberapa tempat lalu melanjutkan studi ke Belanda, dan setelah lulus membuka dokter praktek di Djawa. Namun kemudian pemerintah mengajukannya untuk menjadi direktur rumah sakit yang baru dibuka di Padang Sidempuan (kampung halamannya) dengan syarat harus diuji karena ada kandidat lain (berbangsa Belanda). Dr. Alimoedin langsung setuju dan dalam tahap uji kelayakan itu, Alimoedin yang dianggap lebih layak.
Djabangoen sendiri karirnya tidak hanya sampai di sini, kelak pada masa pendudukan Jepang dan pada masa agresi militer Belanda di Medan. Djabangoen dan GB Josua, dua anak Padang Sidempuan, republik tulen berjuang di dua bidang penting semasa pendudukan Jepang dan semasa agresi militer Belanda: pendidikan (GB Josua) dan kesehatan (Djabangoen). Djabangoen sebagaimana yang akan disajikan dalam artikel berikut telah memainkan peran penting dalam melawan penjajah kolonial di Medan sebagai Ketua Front Nasional. 
 




*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: