17/07/13

Nama-Nama Kampung ‘Tempo Doeloe’ di Padang Sidempuan, 1896



‘Padangsidimpoean’ 1870-1890

Foto-1. Sebuah Kampung di Padang Sidempuan, 1870
Sebuah kampung di Padang Sidempuan pada tahun 1870 (Foto-1) adalah satu-satunya bentuk visual hingga kini yang menjadi bukti keberadaan komunitas di Padang Sidempuan pada masa ‘doeloe’. Kampung ini terlihat sangat menyatu dengan alam sekitarnya yang mana pohon aren dan pohon kapuk masih menjadi bagian dari lahan pekarangan. Dua jenis pohon ini adalah penghasil bahan untuk pembuatan atap rumah dan kasur tempat tidur.

Foto lain tentang Padang Sidempuan di masa awal (‘doeloe’) adalah sebuah pasar kaget (pasar jongjong) sekitar tahun 1890 (Foto-2). Timbulnya pasar biasanya karena ada kebutuhan transaksi antar rumahtangga antar kampung di dalam kesatuan komunitas yang lebih besar. Pada waktu yang sama sekitar tahun 1890 terekam sebuah rumah dinas petinggi Belanda (Controleur) di Padang Sidempuan (Foto-3). Rumah dinas ini memang tampak lebih elegan tetapi rumah ini tentu saja menggunakan bahan-bahan lokal sebagaimana umumnya bangunan penduduk setempat. 
Foto-2. Sebuah Pasar di Padang Sidempuan, 1890
Foto-3. Rumah dinas Controleur di Padang Sidempuan 1890 

Nama-nama Kampung di ‘Padangsidimpoean’ 1896-1905

Sumber lain yang bentuk visual tentang Padang Sidempuan ‘tempo doeloe; adalah peta topografi. Sebuah peta topografi awal tentang ‘Padangsidimpoean’ diterbitkan pada tahun 1908 (Peta-1). Peta topografi ini menyajikan hasil identifikasi (potret) permukaan bumi Padang Sidempuan dan sekitarnya antara tahun 1896 dan 1905.

Peta-1. Padang Sidempuan 1896-1905 (Diterbitkan 1908)

Di dalam peta topografi ini diantaranya jelas terlihat luas wilayah komunitas (kampung dan bagian kota lainnya) Padang Sidempuan. Nama-nama kampung yang ada pada waktu itu (1896) cukup representatif dengan keadaan yang masih bisa dirasakan pada masa kini. Nama-nama kampung di Padang Sidempuan pada tahun 1896 adalah sebagai berikut.

  1. Pasarsiteleng
  2. Pasarsiborang
  3. Sitamiang
  4. Padangmatinggi
  5. Aektampang
  6. Losoeng
  7. Kampung Jawa
  8. Oedjoengpadang
  9. Silandit
  10. Sihitang
  11. Muara Sipongi
  12. Sidangkal
  13. Batangajoemi
  14. Kampung Toboe
  15. Sitataring
  16. Sihadaboean
  17. Tanobato
  18. Boeloegonting
  19. Sigiring Giring
  20. Pasar Moedik
  21. Panyanggar
  22. Loesoengbatoe
  23. Partihaman
  24. Hoeta Imbaroe
  25. Sabungan Djae
  26. Batoe na Doea

Deskripsi Nama Kampung

Pasarsiteleng, Pasarsiborang dan Pasar Moedik adalah tiga nama kampong yang diawali dengan kata pasar, yakni Pasarsiteleng, Pasarsiborang dan Pasar Moedik. Pasarsiteleng maksudnya kini adalah Kampung Teleng di hilir mesjid raya lama dan Pasar Moedik adalah nama kampung yang berada di hulu mesjid raya lama . Dengan kata lain wilayah kampung ini adalah antara jalan raya (sisi barat jalan) dengan sungai Aek Rongkare (masudnya Rukkare). Pasar Siborang adalah kampung yang berada di sisi sungai Batang Ayumi (seberang jembatan) dari kota. Tiga kampung dengan nama pasar ini diduga muncul karena letaknya yang langsung (berdekatan) dengan pasar. Tiga kampung ini dengan sendirinya menjadi bagian pusat kota (pasar).


Foto-4. Sebuah jembatan gantung (rambin) di Padang Sidempuan, 1920
Kampung Toboe, Sitamiang, Aektampang dan Kampung Jawa adalah nama-nama kampung yang berada persis dibelakang pasar (sisi luar). Kampung Toboe berada di sebelah barat yang menjadi pangkal jalan menuju Tanobato dan Batangajoemi. Kampung Sitamiang adalah kampung yang menjadi terusan Pasarsiborang menuju timur dan Kampong Aektampang terusan menuju selatan.  Kampung Jawa adalah terusan Pasarsiteleng ke arah selatan. Pada masa itu antara sisi timur dan sisi barat kota yang dipisahkan oleh Sungai Batang Ayumi hanya bisa dilalui di Jembatan Siborang. Dalam perkembangannya antara Sitamiang dengan pusat kota dibangun jembatan gantung atau disebut juga rambin (Foto-4). 

Batangajoemi, Sitataring, Tanobato, Boeloegonting adalah kampung-kampung yang melalui Kampung Toboe terdapat dua jalur lintas yakni (a) ke arah Kampung Tanobato dan Kampung Boeloegonting (kampung Pangkal Dolok); (b) ke arah Kampung Batangajoemi dan Kampung Sitataring. Empat kampung ini terpisah dari kota/pasar. Antara pasar dan kampung-kampung ini terdapat sawah dan kebun penduduk.

Peta-2. Kampung Losoengbatu dan sekitarnya
Sigiring Giring, Sihadaboean, Panyanggar, Losoengbatu, Partihaman dan Hoeta Imbaroe adalah kampung-kampung yang berada di kiri kanan jalan raya ke arah Sibolga (Peta-2). Di dalam  peta ini terlihat Kampung Sigiring Giring di sebelah kiri jalan selanjutnya Kampung Sihadaboean di sebelah kanan jalan. Seberang jalan Kampung Sihadaboean masuk ke dalam terdapat Kampung Panyanggar. Selanjutnya adalah Kampung Losoengbatoe sebelah kanan jalan masuk ke dalam dan sebelah kiri ke dalam Kampung Partihaman. Selanjutnya ke arah Sibolga terdapat Kampung Hoeta Imbaroe. Sebagai catatan: Jalan menuju ke Kampung Siharang karang via Kampung Losoengbatoe dikemudian hari berpindah ke Kampung Hoeta Imbaroe.  

Losoeng, Padangmatinggi, Silandit, Sihitang adalah kampung-kampung lain yang terpisah oleh sawah dan kebun dari kota/pasar ke arah selatan menuju Panjaboengan. Posisi Kampung Losoeng adalah berada di tengah persawahan yang bisa didekati dari arah Pasarsiborang dan dari arah Kampung Sitamiang. Kampung Padangmatinggi berada sebelah kiri ke arah Panjaboengan di hilir Kampung Aektampang. Ke arah dalam Kampung Padangmatinggi ini terdapat Kampung Silandit. Satu kampung lagi di sisi jalan raya adalah Kampung Sihitang yang letaknya berada setelah Sungai Batang Angkola.. 

Peta-3. Kampung Batoe na Doea dan sekitarnya
Sidangkal, Oedjoengpadang, Mura Sipongi adalah kampung-kampung yang berada di sebelah tenggara. Kampung Sidangkal ke arah bawah menyeberang Sungai Aek Rukkare ke arah Simarpingan sementara Kampung Oedjoengpadang adalah kampung yang mengarah ke arah stadion yang sekarang. Sedangkan Kampung Muara Sipongi adalah kampung yang berada di sisi sungai Batangajoemi. Batoe na Doea adalah kampung yang berada ke arah Sipirok ditengah persawahan yang luas (Peta-3).

*Dideskripsikan oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan bahan foto dan peta yang bersumber dari KITLV.NL.

Lihat juga: Sejarah Tata Ruang Padang Sidempuan: Suatu Esai Sosial-Ekonomi Kota di Masa ‘Doeloe’ Menuju Kota Masa Depan

Peta Padang Siodempuan, 1943
Lampiran:

Residentie       : Tapanoeli
Afdeeling        : Padang Sidimpoean (1896-1905)
Onderafd        : Angkola en Sipirok
Koeria :
a.      Batoe na Nadoea
b.      Simapil Apil
c.       Saboengan
d.      Pidjorkoling
e.       Siondop
f.       Losoengbatoe
g.      Hoeta Imbaroe
h.      Sianggoenan
i.        Hoeraba
j.        Marantjar
k.      Batang Toroe
l.        Paraoesorat
m.    Baringin
n.      Sipirok
Onderafd        : Padanglawas


7 komentar:

Anonim mengatakan...

Jadi teringat kampung..
tks utk yg punya blog ini

Anonim mengatakan...

kalau gambar jembatan gantungnya, yang di pasar siborang atau yang disitamiang?

Anonim mengatakan...

wah... foto jembatan gantungnya kok sama dengan foto jembatan aek raisan 1905 barus selatan.
yang copas siapa nih, id.wikipedia atau yang punya blog.

Akhir Matua Harahap mengatakan...

Sumber foto sudah disebut dari KITLV

Anonim mengatakan...

Betul bro, mending dihapus aja foto rambin siborangnya, itu salah satu karya fotografer documenter H.M. Neeb, dijepret antara 1904-1905 di aek raisan. Ntar dibilang pembodohan lho sejarah bro.

Akhir Matua Harahap mengatakan...

Biarlah menjadi bahan diskusi. Soal benar atau salah saya juga tidak tahu persis. Saya juga belum pernah ke tempat dimana jembatan gantung tersebut berada. Menurut sumber yang dikutip tertulis bahwa jembatan gantung itu berada di Padangsidimpoean. Sebagaimana diketahui bahwa setelah tahun 1905 afdeeling Padang Sidempoean adalah semua wilayah yang kini disebut Tapanuli Bagian Selatan. Boleh jadi bukan di Siborang dan berada di desa lain dan boleh jadi benar di Siraisan. Boleh jadi sumber yang saya kutip keliru mencocokkan teks dengan gambar. Lihat http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/8?q_searchfield=Padangsidimpoean. Terimakasih atas apresiasinya dan komenternya untuk pencerdasan kita semua.

Azhari Hasibuan mengatakan...

Kalau dilihat dari bentuknya sih masuk akal jika ini memang benar jembatan yang ada di rambin, hanya saja bukit yang nampak dalam foto sekarang telah berubah jadi pemukiman penduduk, saya yakin ini memang benar jembatan rambin (sekarang Jl. Sutoyo)