Kota Sipirok, Ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan: Harapan Desa-Desa Terpencil di ‘Luat Harangan’ di Kecamatan Sipirok


Oleh Akhir Matua Harahap

[Luat Harangan’ yang terdiri dari Desa Pargarutan, Siharbogoan, Panaungan, Gadu, Pangaribuan, Sialang, Liang, Appolu, Saba Tombak, dan Hasahatan di Kecamatan Sipirok merupakan daerah yang sangat tertinggal dibandingkan daerah lain di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sebagian besar moda transportasi masih menggunakan kuda, sebab infrastruktur jalan yang sangat buruk, kondisi jalan sampai Desa Gadu masih berbatu dan setelahnya adalah jalan tanah]. Demikian Faisal Reza Pardede, Ketua Naposo Nauli Bulung Napa-Napa ni Sibualbuali Sipirok (NNBS) memulai tulisannya. Seorang anak muda enerjik yang cukup jeli memperhatikan kondisi ‘kebawah’ ketika sebagian besar para pemuda lebih terbiasa melihat ‘keatas’. Baca: Laskar "Pelangi" dari Sipirok Merantau Menuju Medan

Semangat anak muda tersebut mengingatkan saya ketika masa-masa muda—yang dimulai sejak SMA (aktif sebagai Ketua OSIS) dan  aktif sebagai  pandu di Tapanuli Selatan (pernah menjadi sebagai Sekretaris Dewan Kerja Cabang (DKC) Pramuka Kabupaten Tapanuli Selatan dan Ketua Regu Putra Kontingen Pramuka Kabupaten Tapanuli Selatan ke Raimuna Nasional di Cibubur 1981) serta di perguruan tinggi (pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan/IMATAPSEL). Pada masa-masa itu saya dan kawan-kawan kerap country road ke desa-desa terpencil. Misalnya hiking menelusuri sejumlah desa-desa di lereng sebelah barat Gunung Lubuk Raya yang dikenal sebagai Kecamatan Marancar pada masa ini. Juga pernah menelusuri desa-desa di pantai barat yang kini dikenal sebagai Kecamatan Batahan. 


Peta 'Luat Harangan' di Sipirok
Namun diantara beberapa country road yang pernah saya alami yang paling mengesankan tetapi juga ikut prihatin ketika saya dan tim menelusuri sejumlah desa-desa yang merupakan cluster desa-desa dari arah Desa Tabusira/Desa Tiang Aras, Sosopan, Gunung Manungkap, Saba Tarutung dan Jambur Batu (Bisa dari arah Situmba). Lalu di lain waktu di sejumlah desa yang merupakan cluster Barnang Koling, Tapus, Gadu, Sialang (titik awal juga bisa dari arah Bunga Bondar), Pargarutan, Parnaungan. Desa yang terakhir ini lebih dekat ke desa-desa di wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara. Juga desa-desa yang masuk cluster Pangirkiran, Simaninggir, Sitabar (dari arah Tabusira dan keluar di Aek Godang).

Apa yang saya alami dan amati dulu—30 tahun yang lalu—tampaknya belum banyak berubah jika dibandingkan dengan apa yang diungkapkan Bung Pardede tentang suatu wilayah yang disebutnya sebagai ‘Luat Harangan’ pada masa kini [saya artikan sebagai desa-desa terpencil jauh dari jalan raya lintas Sumatra, sulit dijangkau dan  lokasi geografisnya cenderung berada sangat dekat atau di dalam hutan di Kecamatan Sipirok]. Saya sangat terkesan atas perhatian Bung Pardede dan pesannya menjadi inspirasi buat saya dalam memulai menulis tulisan ini. Dalam mencermati isi tulisan berikut, saya dipengaruhi dan menarik manfaat dari pengalaman Nusantara Road saya yang pernah mengunjungi semua propinsi di tanah air (minus Papua) dan sebagian besar kecamatan di semua kabupaten/kota di Sumatra Utara. 

***

Beberapa desa yang disebut desa-desa ‘luat harangan’ tersebut ditampilkan pada Tabel-1. Jarak desa-desa luat harangan ini dari Kota Sipirok semuanya lebih dari 20 Km dengan waktu tempuh dengan alat transportasi tercepat lebih dari satu jam (Bandingkan dengan rata-rata jarak dari desa-desa lainnya yang hanya 6.7 Km dan waktu tempuh kurang dari 20 menit). Sebagian desa-desa luat harangan ini bertopografi lereng/punggung bukit dan cenderung lebih tinggi dari Kota Sipirok--Kota Sipirok sendiri berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (dpl).


Tabel-1. Karakteristik umum desa-desa ‘luat harangan’ di
Kecamatan Sipirok
Nama desa
Jarak ke
 Kota Sipirok
(Km)
Waktu
 tempuh
(Menit)
Topografi
Ketinggian
dpl (meter)
Saba Tarutung
24
60
lereng
800
Jambur Batu
22
60
lereng
900
Barnang Koling
30
60
lereng
900
Sabungan
35
90
lereng
900
Sihaborgoan
34
90
dataran
800
Pargarutan
42
120
dataran
950
Panaungan
34
80
dataran
900
Salese
34
80
dataran
850
G a d u
26
50
lereng
900
Tapus
35
90
dataran
800
Ampolu
36
100
lereng
850
Pangaribuan
25
50
lereng
850
Sialang
24
60
lereng
900
Liang
18
60
dataran
800
Lainnya (rata-rata)
6.7
19.6


Keseluruhan
10.1
27.7



Sumber: Diolah dari PODES (BPS) 2008


Kota Sipirok

‘Kota Sipirok’ adalah cikal bakal Kota Sipirok saat ini, sekurang-kurangnya menunjukkan tiga desa yang berciri perkotaan (urban) di Kecamatan Sipirok, yakni: Kelurahan Pasar Sipirok, Kelurahan Bagas Nagodang dan Kelurahan Simaninggir. Kota ini diharapkan akan cepat berkembang dalam waktu dekat sehubungan dengan telah ditetapkannya ibukota Kabupaten Tapanuli berada di Sipirok. Penetapan ibukota tersebut secara defacto sehubungan dengan ditetapkannya Kota Padang Sidempuan sebagai daerah otonom pada waktu sebelumnya (2001) dan secara dejure dengan  dimekarkannya Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni seiring terbentuknya Kabupaten Padang Lawas Utara  (UU RI No.37 Tahun  2007) dan Kabupaten Padang Lawas (UU RI No.38 Tahun 2007).

Sementara ’Kota Sipirok’ sedang mulai mengeliat menuju jati dirinya sebagai ibokota Kabupaten Tapanuli Selatan yang baru, nun di pelosok sana nan terpencil yang juga bagian dari 100 desa di Kecamatan Sipirok terdapat sejumlah desa yang selama ini ’terlupakan’, dorman dan tak berdaya. Lantas, apakah sejumlah desa yang disebut ’luat harangan’ itu mendapat berkah atas hangatnya dan hiruk pikuknya penetapan ”Kota Sipirok’ hingga benar-benar menjadi layaknya sebagai sebuah ibukota kabupaten? Lalu, apakah desa-desa tersebut akan turut tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya ’Kota Sipirok’? Darimana harus memulainya: bottom up atau top down? Seberapa kuat desa-desa ’luat harangan’ ini mampu mendekatkan diri ke sentrum Kabaupaten Tapanuli Selatan atau seberapa cepat efek pembentukan, pertumbuhan dan pekembangan ’Kota Sipirok’ bisa membebaskan desa-desa luat harangan dari ketertinggalan, keterbelakangan, dan bertahun-tahun mengalami stagnan?

Luat Harangan

Sesungguhnya desa-desa yang disebut berada di luat harangan, bukanlah desa-desa baru. Desa-desa ini bahkan terbilang desa-desa lama (historis) yang masing-masing setiap desa berdaulat secara adat dan secara ekonomi. Istilah luat harangan sendiri sudah sejak lama ada, hanya saja kini mengemuka karena semata-mata karena posisi geografisnya tidak pernah tersentuh. Pembangunan di desa-desa lain melesat jauh, sebaliknya kondisi pembangunan di desa-desa luat harangan justru sangat merosot. Dengan kata lain, desa-desa lain telah mengalami kemajuan (success story), malah desa-desa luat harangan mengalami kemunduran. Desa-desa luat harangan  yang secara geografis jauh dari pusat perekonomian, ketertinggalannya menjadi kontras dengan desa-desa lainnya. Berita buruk (bad news) inilah yang menyebabkan nama 'luat harangan' muncul ke permukaan. Dan celakanya, istilah luat harangan yang dulu dianggap netral, kini malah menjadi sinonim dengan pengkategorian desa tertinggal pada urutan yang paling belakang (negatif). Catatan: sebutan luat harangan juga dialamatkan terhadap cluster desa-desa di sudut lain Kecamatan Sipirok seperti Desa Bulumario, Desa Dano, Desa Paske dan lainya.

Lokasinya yang jauh dari jalan arteri pembangunan menjadi alasan struktural mengapa desa-desa ini kurang mendapat porsi yang seharusnya dalam pengalokasian dana pembangunan, misalnya dalam membangunn dan membuka akses jalan ke desa-desa luat harangan. Konsekuensinya, seperti desa Panaungan dan Pargarutan yang secara administratif masih masuk Kecamatan Sipirok, tetapi dalam kenyataannya dari dulu hingga sekarang masih tetap perputaran ekonominya lebih dipengaruhi ’Kota Gunung Tua’ dibandingkan pengaruh ’Kota Sipirok’. Sementara desa-desa yang lain, seperti Barnang Koling dan Tapus tampaknya lebih dekat dengan pusat perekonomian Tabusira di Kecamatan Padang Sidempuan Timur yang notabene akan mengalir ke Kota Padang Sidempuan. Ibarat penduduk Indonesia di perbatasan (seperti Nunukan, Sangir/Talaud) yang  lebih dekat ke Tawau dan Davao daripada pusat perekonomian di provinsinya sendiri. Kapan situasi dan kondisi yang dihadapi desa-desa luat harangan menjadi setara dan adil dengan desa-desa lain di Kecamatan Sipirok? Kita harus menunggu percepatan pembangunan dan perkembangan ’Kota Sipirok’ dan adanya kemauan politik dari para pengambil keputusan pada level kecamatan maupun kabupaten.

Permasalahan yang Memerlukan Pemecahan Segera

Jumlah penduduk desa-desa luat harangan  pada dasarnya kurang lebih serupa dengan desa-desa lain di wilayah Tapanuli Bagian Selatan, berciri penduduk sedikit (small population), cenderung pertumbuhannya lamban, karena masih adanya kecenderungan tradisi penduduk desa untuk melakukan perpindahan keluar desa (migrasi). Jarak yang jauh dan sulitnya mencapai ’Kota Sipirok’ sebagai pusat fasilitas kesehatan dan pendidikan yang lengkap dan pusat perdagangan menjadi faktor penting untuk meninggalkan desa. Apalagi di jaman tenaga nuklir sekarang ini di desa-desa luat harangan masih banyak desa-desa dan keluarga yang tidak terjangkau listrik alias gelap gulita. Sejumlah desa bahkan telah tersiar kabar ditinggal kosong oleh penduduknya karena semakin berkurangnya keluarga yang menetap, seperti Desa ’Sungai Durian’ tetangga Desa Jambur Batu.


Tabel-2. Jumlah penduduk dan keluarga pengguna listrik di desa-desa
‘luat harangan’ Kecamatan Sipirok
Nama desa
Jumlah penduduk
Jumlah keluarga
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki+
perempuan
Total
Pengguna
listrik
Saba Tarutung
109
115
224
38
30
Jambur Batu
139
117
256
49
38
Barnang Koling
115
126
241
44
35
Sabungan
67
64
131
20
16
Sihaborgoan
26
33
59
21
-
Pargarutan
182
178
360
97
-
Panaungan
98
106
204
36
-
Salese
95
83
178
38
-
G a d u
78
79
157
32
22
Tapus
110
93
203
32
25
Ampolu
131
123
254
48
32
Pangaribuan
127
141
268
64
44
Sialang
60
63
123
22
17
Liang
67
105
172
39
-

Sumber: Diolah dari PODES (BPS) 2008


Hingga sekarang desa-desa luat harangan sangat minim dan sulit menjangkau fasilitas dasar: pendidikan, kesehatan, sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi. Di desa-desa luat harangan sama sekali tidak ditemukan fasilitas kesehatan bahkan fasilitas kesehatan yang minimal (polindes dan bidan desa). Sulit membayangkan jika terdapat warga yang sakit dan memerlukan pertolongan akut. Lebih-lebih dalam proses mendeteksi dini kehamilan dan upaya menolong persalinan yang sehat dan terjamin. Desa-desa luat harangan seakan tidak tersentuh teknologi kesehatan dalam fase pembangunan kesehatan modern negeri ini. Melihat kenyataan serupa ini, boleh jadi kita hanya bisa berpangku tangan, tetapi statistik angka kematian bayi, angka kematian ibu besar kemungkinan akan tetap bertambah terus yang justru akan tetap memperburuk tingkat pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kecamatan/kabupaten.

Sejauh ini fasilitas kesehatan modern hanya terdapat di ’Kota Sipirok’. Di Kecamatan Sipirok sendiri hanya terdapat satu rumah sakit umum, satu rumah (sakit) bersalin dan dua poliklinik/balai pengobatan. Sementara puskesmas hanya ada satu buah di Kecamatan Sipirok, sekali lagi, ini juga lokasinya di ’Kota Sipirok’. Puskesmas membawahi beberapa puskesmas pembantu (pustu) yang terdepat di sembilan dari 100 desa, yaitu: Gunung Tua Baringin, Baringin, Parau Sorat, Muara Siregar, Sialagundi, Bulumario, Saba Tolang, Hasahatan D, dan Bunga Bondar. Tempat praktek dokter hanya ada dua di Desa Pasar Sipirok dan Desa Bagas Nagodang. Untuk tempat praktek bidan terdapat di 34 desa, tetapi tidak satu pun yang bertempat di desa-desa luat harangan. Jarak terdekat ke tempat fasilitas kesehatan dari desa-desa luat harangan yang terbilang representatif (puskesmas pembantu) rata-rata 20 Km, paling dekat sejauh delapan kilometer (dari Desa Jambur Batu) dan yang paling jauh (dari Desa Appolu) yang jaraknya 26 Km yang sangat sulit dicapai.
  

Tabel-3. Fasilitas kesehatan dan pendidikan di desa-desa ‘luat harangan’ di
Kecamatan Sipirok
Nama desa
Puskesmas pembantu
Sekolah Dasar (SD)
SMP
Jarak
terdekat
(km)
Kemudah untuk
mencapai
Ketersediaan 
di desa
Jarak
terdekat 
(km)
Jarak
terdekat 
(km)
Saba Tarutung
10
Sulit
Tidak ada
2
12
Jambur Batu
8
Sulit
Ada

9
Barnang Koling
20
Sulit
Ada

21
Sabungan
21
Sulit
Tidak ada
1
22
Sihaborgoan
32
Sulit
Tidak ada
2
28
Pargarutan
28
Sulit
Ada

38.3
Panaungan
32
Sulit
Ada

28
Salese
18
Sulit
Tidak ada
1
17
G a d u
10
Sulit
Ada

22
Tapus
21
Sulit
Ada

22.3
Ampolu
26
Sangat sulit
Tidak ada
1
26
Pangaribuan
9
Sulit
Tidak ada
1
21
Sialang
22
Sulit
Tidak ada
2
20
Liang
17
Sulit
Ada

14

Sumber: Diolah dari PODES (BPS) 2008



SD di Desa Panaungan


Yang tidak kalah prihatin ternyata fasilitas pendidikan di desa-desa luat harangan juga sungguh sangat minim. Hanya beberapa desa di luat harangan yang memiliki fasilitas sekolah dasar (SD). Karenanya jumlah SD yang terbatas jumlahnya sudah barang tentu juga untuk menampung anak-anak usia sekolah dari  desa yang dianggap secara fisik dan sosial berdekatan. Kondisi ini membawa konsekuensi bahwa anak-anak desa yang masih polos dan belia mau tak mau harus pergi ke sekolah sekalipun waktu tempuhnya lebih dari satu jam yang bahkan harus melewati sungai dan hutan agar ke sekolah sampai tepat waktu. 


SD di Desa Liang (dua lokal dibuat menjadi enam kelas)
Yang cukup memprihatinkan dari SD yang ada, beberapa sekolah  hanya mampu melayani sampai tingkat kelas tiga saja (seperti SD di desa Jambur Batu). Semakin berat rasanya tantangan yang dihadapi anak-anak desa luat harangan ini ketika tiba waktunya anak-anak yang bersemangat bersekolah ini lulus sekolah dasar, maka untuk melanjutkan ke SMP menjadi sulit dipenuhi. Alasannya, selain jauh dan juga yang tidak kalah penting biayanya yang mahal tidak mampu diimbangi ekonomi orangtua seiring dengan kodrat desa luat harangan yang kurang memberi ruang untuk perputaran ekonomi dan keuangan penduduk desa. Program wajib belajar bagi rakyat luat harangan sangat tidak mungkin untuk mencapai angka 100 persen. Di Kecamatan Sipirok sendiri hanya terdapat sembilan buah SMP (lima buah negeri dan empat buah swasta). Lokasi SMP negeri terdapat di Gunung Tua Baringin, Baringin, Sialagundi, Silangge, dan Bunga Bondar. SMP Swasta terdapat di Parau Sorat, Parsorminan, Pasar Sipirok dan Bulu Payung.

SD Negeri di Barnang Koling
Kebutuhan sarana kesehatan dan pendidikan di desa-desa luat harangan sebenarnya masih bisa teratasi jika sarana dan prasarana transportasi cukup memadai. Sayang seribu sayang, sarana dan prasarana tersebut sangat-sangat tidak memadai dari dan ke desa-desa luat harangan. Permukaan jalan tampaknya masih itu ke itu dari waktu ke waktu. Minimnya frekuensi alat transportasi roda empat menyebabkan pergerakan orang dan barang tidak kondusif. Jika musim hujan semua jenis alat transportasi lumpuh dan hanya angkutan kuda yang mungkin dilakukan. Akibatnya, akses ke tempat fasilitas kesehatan dan pendidikan dan pusat pertukaran ekonomi desa menjadi terhambat. Ini seakan semakin memperburuk keadaan yang dihadapi penduduk desa-desa luat harangan. 

Keinginan masyarakat desa untuk bisa hidup lebih sejahtera sedikit, menjadi sehat dan lebih cerdas menjadi terbelenggu. Semua itu hanya semata-mata karena akses. Desa-desa luat harangan menjadi lebih terisolir karena semua desa-desa luat harangan sama sekali tidak ditemukan sinyal untuk telepon seluler.  Nasib mereka dalam semua bidang yang semakin terpinggirkan dan terpojok kiranya perlu dientaskan dan dimandirikan. Penduduk desa-desa luat harangan mungkin hanya bisa berharap. Harapan mereka barangkali hanya satu: Semoga ’Kota Sipirok’ cepat tumbuh dan berkembang layaknya kota impian, dan dari terkabulnya doa mereka untuk ’Kota Sipirok’ semoga saja ada imbasnya ke desa-desa mereka di luat harangan. 

Andaikan, jika tidak memberi efek dari penentuan Sipirok sebagai ibukota Kabupaten, mareka hanya pasrah dan tetap seperti dulu sebagaimana orang-orang menyebut mereka sebagai ’halak luat harangan’. Namun harapan harus tetap diungkapkan sebab desa-desa dan penduduk luat harangan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan Kecamatan Sipirok. Desa-desa luat harangan yang kaya akan sumberdaya alam dan masih bersifat alamiah sangat dimungkinkan memberi kontribusi utamanya di bidang pertanian yang tidak hanya untuk mendorong ekonomi daerah Sipirok juga membebaskan kualitas SDM di luat harangan yang sampai sejauh ini masih rendah. Saya sendiri percaya bahwa mengangkat mereka ke kehidupan yang layak pasti bisa mereka bayar dengan tunai: mereka adalah penduduk yang teruji dengan sumberdaya alam yang bagus dan memiliki etos kerja yang baik secara turun temurun. Kecamatan Sipirok yang mendapat berkah dari penunjukan ibukota kabupaten juga membawa berkah bagi desa-desa dan penduduk luat harangan keluar dari masa keterisolasian yang sudah cukup lama.   

Sumber foto: http://www.panoramio.com (diunduh 27 Maret 2011)
http://www.skyscrapercity.com

2 komentar:

Siregar 72 mengatakan...

Kawan saparasaan, Akhir Matua Hrp, apa yang anda tulis menurut hemat saya sungguh sangat benar, desa-desa tertinggal (Luat Harangan) memang masih banyak di Sipirok.
Dari mana harus memulai membangun desa tersebut, memang bukan pertanyaan yang gampang untuk dijawab. Karena desa yang lainpun (Sekitar Pasar Sipirok) tidaklah terlalu maju. Artinya masih tetap akan membutuhkan perhatian juga, dan perhatian rasanya menjadi lebih jauh, ketika mendengar kabar, bahwa kantor bupati Sipirokpun tidaklah ditempatkan di sekitar pasar Sipirok. Artinya, akan ada anggaran yang lebih besar keluar untuk membangun kantor bupati. Padahal jika mau anggaran itu bisa saja sebagian dipergunakan untuk mulai membangun (minimal memotivasi) masyarakat luat harangan, seperti yang anda inginkan.

Begitupun, Ipar handa tetaplahlah optimis, dalam banyak hal hidup ini seperti "Antri" jika sudah giliran orang lain, pada saatnya akan jadi giliran kita. Mengapa tidak/biasi inda ? Horas. Saya Rahmat Parlindungan Siregar dari Bagas Nagodang. Mohon maaf jika komentar kurang berkenan. "Marsipature Hutanabe, alai molo nung ture hutattabe, dalan marturedo negarattape". tuntang.

Tihadzz mengatakan...

olo dah. tarbiama ate-ate ni halai panguaso mangaligi keadaan on luai?