12/03/11

Daerah Pakantan: Riwayat Kecamatan Penduduk Paling Sedikit di Tapanuli Bagian Selatan


Daerah Pakantan secara historis merupakan bagian dari Kecamatan Muara Sipongi yang terdiri dari  tujuh huta: Huta Dolok, Huta Gambir, Huta Lancat, Huta Lombang, Huta Padang, Huta Toras dan Huta Julu. Dengan bertambahnya satu, desa Silogun di Pakantan, maka pada tahun 2001 maka separuh dari jumlah desa yang ada di Kecamatan Muara Sipongi berada di daerah Pakantan. Dalam perkembangannya, pada tahun 2007  daerah Pakantan dengan delapan desa yang ada dibentuk menjadi sebuah kecamatan dengan nama Kecamatan Pakantan.


Penduduk Kecamatan Pakantan menurut Sensus Penduduk (SP) 2010 hanya berjumlah 2.145 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 1.082 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 1.063 jiwa. Jumlah penduduk Pakantan terbilang sedikit, kontras dengan penduduk Kecamatan Panyabungan yang mencapai jumlah 77.417 jiwa. Ini berarti Kecamatan Pakantan penduduk paling sedikit dan Kecamatan Panyabungan penduduk paling banyak di wilayah Tapanuli Bagian Selatan.

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk berdasarkan  Podes (BPS) 2008, jumlah penduduk Kecamatan Pakantan yang ada sekarang jumlahnya telah menyusut: dari 2.543 jiwa di tahun 2008 menjadi 2.145 jiwa di tahun 2010. Andaikan akurasi dua pendataan itu cukup baik, maka kemungkinan bahwa deficit penduduk daerah Pakantan besar kemungkinan disebabkan oleh arus migrasi keluar. Penduduk daerah Pakantan sendiri sejak dari dulu sudah banyak yang merantau, konon bukan karena kemiskinan tetapi justru karena atas dasar kemakmuran daerahnya. Veth (1850-an) mendeskripsikan daerah Pakantan sebagai berikut: 

“Sebuah distrik di kepulauan Sumatera, masuk ke dalam keresidenan Tapanuli, dialiri oleh sungai namanya Batang Gadis. Urusan administrasi (perwakilan gubernemen) terletak di Kota Polak. Sedangkan wilayah yang mempunyai kepala kuria adalah Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Seorang Opziener (pengawas) ditempatkan di Pakantan Lombang. Di daerah Pakantan Dolok terdapat tambang emas, tetapi hasil bumi yang utama adalah pinang, kentang dan jeruk . Sedangkan di Pakantan Lombang, yang waktu itu hanya ada 200 rumah, hasil buminya juga pinang, kelapa, beras dan kopi. 

Sejumlah tokoh yang berasal dari daerah Pakantan antara lain  Sakti Lubis dan Martinus Lubis, Prof. DR AP Parlindungan (mantan Rektor USU) dan DR. Adnan Buyung Nasution, SH (pengacara terkenal).



Tabel-1. Jumlah Penduduk Menurut Desa di Kecamatan Muara Sipongi dan
Kecamatan Pakantan, Kabupaten Mandailing Natal

Kec.
Muara
 Sipongi
(2001)

Ranjo Batu
Kampung
Pinang
Simpang
Mandepo
Bandar
Panjang
Pasar
Muara
Sipongi
Sibinail
Koto
Baringin
Tanjuang
Alai
Huta Julu
Huta
Padang
Huta Toras
Pakantan
Lombang
Huta
Lancat
Pakantan
Dolok
Silogun
Huta
Gambir
Kec.
Muara Sipongi
(SebelumPemekara)
Kec.
Muara Sipongi
(Setelah Pemekaran)
Jumlah penduduk
Laki-
laki
Perem-
puan
Total
Ranjo Batu
Ranjo Batu
1218
629
589
Kampung Pinang
Kampung Pinang
500
249
251
Simpang Mandepo
Simpang Mandepo
637
335
302
Bandar Panjang
Bandar Panjang
513
256
257
Pasar Muara Sipongi
Pasar Muara Sipongi
1351
679
672
Sibinail
Sibinail
650
316
334
Koto Baringin
Koto Baringin
508
243
265
Tanjuang Alai
Tanjuang Alai
899
413
486
Limau Manis
Limau Manis
575
285
290
Bandar Panjang Tuo
Bandar Panjang Tuo
366
173
193
Tamiang Mudo
Tamiang Mudo
363
176
187
Tanjung Medan
Tanjung Medan
554
254
300
Aek Botung
Aek Botung
945
462
483
Koto Boru
Koto Boru
447
207
240
Muara Kumpulan
Muara Kumpulan
635
315
320

Total
10161
4992
5169

Kec. Pakantan
 (Setelah Pemekaran)



Huta Julu
Huta Julu
89
45
44
Huta Padang
Huta Padang
275
144
131
Huta Toras
Huta Toras
348
178
170
Pakantan Lombang
Pakantan Lombang
563
270
293
Huta Lancat
Huta Lancat
209
107
102
Pakantan Dolok
Pakantan Dolok
421
191
230
Silogun
Silogun
115
55
60
Huta Gambir
Huta Gambir
523
265
258

Total
2543
1255
1288

Sumber: Podes (BPS) 2008



Daerah Pakantan adalah suatu lembah yang udaranya sejuk dengan ketinggian 1.200 dpl bawah lereng Gunung Kulabu. Jaraknya kurang lebih 12 Km dari Muara Sipongi dan secara geografis wilayahnya lebih dekat kea rah perbatasan Rao (Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat). Di masa lampau daerah Pakantan berpusat di Huta Padang, kemudian berkembang di Huta Dolok dan selanjutnya di Huta Lombang. Beralihnya paham Parbegu (belum beragama), menjadi Islam di Pakantan sangat berhubungan dengan peristiwa Perang Padri di Bonjol (1825-1830).


Di tengah masyarakat Mandailing Natal pada masa kini yang pada umumnya beragama Islam, terselip sedikit pemeluk Kristen khususnya di daerah Pakantan yang  jumlahnya 15 keluarga. Kehidupan penduduk beragama Kristen di Pakantan berlangsung baik sejak dari dulu hingga sekarang. Sekalipun komunitasnya terbilang sedikit, sesungguhnya komunitas Kristen di Pakantan dapat dikatakan yang tertua di wilayah Tapanuli. Hal itu bermula dari kedatangan penginjil dari Rusia dan Swiss tahun 1821. Ini mengindikasikan bahwa penyebaran agama Kristen di Pakantan, jauh lebih dulu dibandingkan masuknya Kristen di daerah Sipirok (1861) dan daerah  Silindung dan Toba (1864). [tulisan disarikan dari berbagai sumber].


Tidak ada komentar: