06/10/16

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (1): Asal Usul Kongres Pemuda 1928; Peran Sentral Parada Harahap

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Putusan Kongres, Kongres Pemuda 1928
Sumpah Pemuda dipersoalkan! Sumpah Pemuda direkayasa oleh Presiden Sukarno. Putusan Kongres (1928) menjadi Sumpah Pemuda dianggap pembelokan sejarah dan menciptakan pembohongan kepada publik khususnya generasi muda penerus bangsa. Itulah hasil analisis dan pendapat ahli sejarah. Kenyataannya tidak demikian. Faktanya: Kongres Pemuda 1928 menghasilkan Putusan Kongres, dan pada tahun 1953 diadakan lagi Kongres Pemuda, yang mana kongres ini membuat keputusan baru, yakni memperbarui kesetiaan pemuda kepada bangsa dan tanah air. Dalam pertemuan (kongres) tersebut, diputuskan (esoknya tanggal 28 Oktober 1953) untuk mengikrarkan Hari Sumpah Pemuda, yang mana sumpah setia pemuda merujuk pada keputusan yang diambil pada Kongres Pemuda di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Dari sinilah (judul) teks Putusan Kongres diperbaiki (diganti) menjadi (judul) teks Sumpah Pemuda seperti yang dibacakan sekarag ini.

Sumpah Pemuda, Kongres Pemuda 1953
Putusan Kongres dan Sumpah Pemuda adalah hasil dari dua kongres pemuda yang berbeda, berbeda waktu dan berbeda semangat serta tentu saja berbeda isi putusan (Putusan Kongres vs Sumpah Pemuda). Meski begitu, kedua hasil kongres tetap berkaitan dan materinya sama: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Oleh karena itu tidak ada pembelokan sejarah, tidak ada pembohongan publik. Yang juga penting diperhatikan bahwa tidak ada peran Sukarno di dalam dua kongres tersebut. Dengan demikian tidak ada rekayasa Sukarno, itu murni hasil keputusan pemuda. Meski begitu, ada satu tokoh utama di belakang kedua kongres tersebut. Sumpah setia pemuda (1953) yakni Sumpah Pemuda adalah produk kongres jaman yang telah berubah untuk merespon situasi dan kondisi saat itu (awal 1950an). Sejak sumpah kesetiaan pemuda itu peringatan hari sumpah pemuda dimulai (sejak 1953). Kronologis itulah yang ditafsirkan oleh beberapa ahli sejarah sebagai pembohongan publik, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Di era IT ini semua informasi transparan, kronologisnya berubah secara alamiah dan informasinya juga masih dapat ditelusuri. Untuk lebih jelasnya, silahkan ikuti hasil pelacakan dan pembuktiannya!

Asal Usul Kongres Pemuda 1928

Kongres Pemuda jelas tidak berdiri sendiri. Kongres Pemuda hanya sebuah titik dalam garis continuum terbentuknya bangsa Indonesia. Kongres Pemuda adalah salah satu satu level dari kongres-kongres yang lainnya. Pemuda merujuk kepada senior dan senior memayungi para junior (pemuda). Para pemuda pada etafe berikutnya akan menggantikan peran para senior. Terbentuknya organisasi pemuda mengacu pada terbentuknya organisasi senior. Organisasi senior memancarkan ‘energi kebangkitan kebangsaan’ dalam terbentuknya organisasi junior (pemuda) yang menyelenggarakan Kongres Pemuda.


Dja Endar Moeda
Pada tahun 1900 di Padang dibentuk organisasi sosial pribumi (berafiliasi nasional). Organisasi pertama pribumi ini bernama Medan Perdamaian. Ketua pertama Medan Perdamaian adalah Dja Endar Moeda, seorang mantan guru, pemiliki sekolah swasta, pengusaha dan pemilik media (surat kabar, majalah dan percetakan). Pada tahun 1901, Dja Endar Moeda memiliki tiga media: surat kabar Pertja Barat, majalah Insulinde dan surat kabar Tapian Na Oeli. Organisasi Medan Perdamaian pada tahun 1903 memberikan bantuan untuk pembangunan sekolah dan pengembangan pendidikan di Semarang.
Bulan Mei 1908 dibentuk Boedi Oetomo (yang berafiliasi kedaerahan/Jawa) yang ketuanya Sutomo (STOVIA). Ketika menjelang Kongres Boedi Oetomo pada Oktober 1908 di Solo, seorang mahasiswa di Belanda  merespon balik (negatif) pendirian Boedi Oetomo (yang bersifat kedaerahan) dengan menggagas dibentuknya Perhimpunan Pelajar Indonesia (Indisch Vereeniging). Sang mahasiswa tersebut adalah Soetan Casajangan yang didaulat menjadi Ketua Indisch Vereeniging yang pertama. Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan adalah sama-sama alumni sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan (Tapanuli).

Sutan Casajangan
Soetan Casajangan, setelah lulus kembali ke tanah air tahun 1914. Setelah beberap waktu mengajar di Buitenzorg, pada tahun 1915, Soetan Casajangan ditempatkan sebagai guru di sekolah Radja di Fort de Kock. Di tahun yang sama, sambil mengajar, Soetan Casajangan kerap pulang kampong dan mendirikan surat kabar Poestaha di Padang Sidempuan. Sepeninggal Soetan Casajangan, Indisch Vereeniging (bersifat nasional) makin lama makin loyo, sementara Boedi Oetomo (bersifat kedaerahan/Jawa) makin lama makin moncer karena didukung oleh pemerintah kolonial Belanda. Situasi dan kondisi itu direspon negatif oleh Sorip Tagor, asisten dosen di sekolah kedokteran hewan di Buitenzorg yang melanjutkan studi veteriner di Utrecht dengan memproklamisrkan berdirinya Sumatranen Bond pada tanggal 1 Januari 1917 yang mana sebagai ketua adalah Sorip Tagor, sekretaris Soetan Goenoeng Moelia (salah satu anggotanya Tan Malaka). Anak-anak Sumatra di Batavia merespon positif dengan mendirikan Sumatranen Bond pada November 1917 dengan ketuanya Mansoer dan wakilnya Abdul Moenir Nasution (keduanya kuliah di STOVIA). Sorip Tagor dan Soetan Goenoeng Moelia adalah sama-sama kelahiran Padang Sidempuan.

Het nieuws van den dag Nederlandsch-Indië, 02-09-1919
Pada tahun 1918 seorang anak muda yang memiliki profesi baru sebagai editor surat kabar dari Medan pulang kampong ke Padang Sidempuan. Surat kabarnya Benih Mardeka dibreidel karena delik pers. Mantan editor itu bernama Parada Harahap. Di Padang Sidempuan, Parada Harahap menjadi editor surat kabar Poestaha (milik Soetan Casajangan). Sementara itu, di Batavia, sejumlah orang di Sumatranen Bond (memberi reaksi negatif) terhadap kehadiran pemuda asal Tapanuli yang beragama Kristen. Situasi dan kondisi ini direspon (negatif) oleh Dr. Abdul Rasjid, kelahiran Padang Sidempuan) dengan mendirikan Bataksch Bond tahun 1919 dan sekaligus menjadi ketuanya yang pertama (tetapi tetap berafiliasi dengan Sumatranen Bond, karena pemuda Tapanuli juga ada di dalamnya). Pada tahun 1919 ini juga, Parada Harahap di Padang Sidempuan menerbitkan surat kabar yang lebih radikal yang diberi nama Sinar Merdeka. Pada tahun 1921, sambil mengasuh dua surat kabar (Poestaha dan Sinar Merdeka) Parada Harahap mulai terlibat dalam pergerakan pemuda dan menjadi anggota Sumatranen Bond dan sekaligus menjadi ketua Bataksch Bond di Sibolga.

Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia. Surat kabar Parada Harahap ini mengambil nama majalah Bintang Hindia yang terbit di Belanda tahun 1903 dan ditutup tahun 1910 (editor terakhir Sutan Casajangan). Pada tahun 1925 Parada Harahap menjadi ketua Bataksche Bond di Batavia dan juga merangkap sekretaris Sumatranen Bond. Pada tahun ini juga Parada Harahap melakukan perjalanan jurnalistik ke sejumlah tempat di Sumatra yang liputannya dibukukan dan diterbitkan tahun 1926. Pada tahun 1926 ini Parada Harahap menutup surat kabar Bintang Hindia dan menerbitkan surat kabar Bintang Timoer. Bataviaasch nieuwsblad, 07-08-1926: “Muncul edisi pertama Bintang Timur, sebuah suratkabar Melayu, dibawah redaktur Parada Harahap, Koran ini diterbitkan kepada pembaca diprakarsai oleh perjalanannya. Koran ini, sampai akhir Agustus sementara seminggu sekali akan muncul, untuk berikutnya belum diketahui. Koran berbahasa Melayu ini juga terdapat lembar untuk ETI dengan memiliki beberapa gambar’. Nieuwe Rotterdamsche Courant, 30-08-1926: ‘…koran ini netral untuk dua hal: keagamaan dan politik’.
Surat kabar ini tidak butuh waktu lama, langsung melejit dan menjadi surat kabar beroplah paling tinggi di Batavia. Pada tahun 1927 Parada Harahap mendirikan organisasi pengusaha pribumi di Batavia yang sekaligus menjadi ketuanya (semacam KADIN pada masa ini). Susunan pengurus terpilih (1927): Presiden, Mr Parada Harahap (Bintang 'Timoer), Wakil Presiden Abdul Gani (industry perabaton), Sekretaris, Harun (Toko Haroen Harahap), bendahara, Dachlan Sapi'ie (Schoenenmagazijn Sapi'ie). Komisaris: MT Moehamad (Siloengkangwinkel), Tarbin Moehadjilin (Toko Djokja), Djelami Salihoen (ledikantenhandel). Sedangkan Bapak Thamrin bertindak sebagai penasihat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-09-1929).

Pada tahun 1927 Parada Harahap yang secara sosial, secara ekonomi dan secara politik berada pada level tinggi menggas dibentuknya gabungan organisasi-organisasi sosial. Parada Harahap menghubungi ‘tiga macan’ di Pedjambon yang menjadi anggota Volksraad (parlemen). Ketiga vokalis Volksraad tersebut adalah Mr. Mangaradja Soangkoepon (dari dapil Sumatra Timur), Dr. Ali Moesa (dapil Tapanuli) dan MH Thamrin (dapil Batavia). Mr. Mangaradja Soangkoepon adalah abang dari Dr. Abdul Rasjid. Sedangkan Dr. Ali Moesa adalah saudara sepupu Dr. Sorip Tagor (kakek dari Inez/Risty Tagor). Parada Harahap kemudian konsultasi dengan Soetan Casajangan yang menjadi Direktur Normaal School di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).



Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota
Lantas, semua pimpinan organisasi sosial berkumpul di rumah Mr. Husein Djajanegara, PhD (dosen sekolah hokum di Batavia). Husein Djajanegara adalah sekretaris Indisch Vereeniging di Belanda (bersama-sama dengan Soetan Casajangan). Di rumah Husein Djajanegara sepakat membentuk supra organisasi yang disebut Permoefakatan Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dimana didaulat yang menjadi ketua adalah MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap serta kantornya ditetapkan di Gang Kenari (kini Jalan Kenari) yang berada di seberang rumah MH Thamrin. Bataviaasch nieuwsblad, 26-09-1927: ‘Minggu di Weltevreden para pemimpin yang berbeda dari Serikat pribumi bertemu di Batavia di rumah Mr Djajadiningrat. Diputuskan untuk mendirikan organisasi yang terdiri dari para pemimpin dari berbagai serikat pribumi, dengan ketua komite adalah MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap. The  serikat:  Budi Utomo, Pasundan, Kaoern Betawi, Sumatranenbond, Persatoean Minahasa, Sarekat Amboncher dan NIB'. Sebagai tambahan dan perlu diketahui juga: awalnya Boedi Oetomo enggan bergabung, tetapi Parada Harahap meminta bantuan Dr. Radjamin Nasution mempengaruhi Dr. Soetomo. Strategi ini manjur yang kemudian  Soetomo dan Boedi Oetomo mencair dan ikut bergabung. Dr. Radjamin Nasution adalah teman akrab Dr. Soetomo, sama-sama alumni STOVIA (Dr. Radjamin Nasution kelak menjadi anggota dewan kota Surabaya dan kemudian menjadi walikota pribumi pertama Surabaya).

Soal tanah air, banyak ahlinya, tetapi soal tanah air di media, Parada Harahap jagonya. Hanya Parada Harahap yang bergelora dan berani memainkan penanya yang tajam ke depan hidung pers Belanda.  Sejak tulisan Parada Harahap (tentang isu fascism) yang dimuat di Java Bode dan disarikan oleh De Indische courant, 17-09-1925, pers Belanda terus mengikuti sepak terjang Parada Harahap. Perang sesama pers (Pribumi vs Eropa/Belanda ) terus memanas. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-11-1927 (Wat Gisteren in de Krant stond!...): ‘diskusi tentang mayoritas Indonesia, bahwa Indonesia adalah warisan nenek moyang, sebagai protes keras Parada Harahap dari Bintang Timur. ‘Jika Indonesia warisan nenek moyang, KW cs menganggap sebagai pemberontakan.. Jadi saya memahami komunikasi yang dilakukan oleh Pemerintah, bermain aman! Dan Anda? K.W’. Ungkapan warisan nenek moyang sudah kerap digunakan Parada Harahap, bahkan ketika masih menjadi editor di Benih Mardeka di Medan dan Sinar Merdeka di Padang Sidempoean.

Gerakan Parada Harahap ternyata kemudian hanya sedikit insan pers yang mendukungnya. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-10-1928: ‘Editor koran Bintang Timur, Mr. Parada Harahap, dalam beberapa hari terakhir telah banyak dibicarakan, tulis Prianger Bode, hampir semua dikutip koran/majalah Maleisehe dan menulis segala macam hal yang tidak menyenangkan baginya. Ada yang bahkan mengatakan bahwa Perserikatan Joernalis Asia di Djokja akan membahas perilaku ini pada pertemuan pada tanggal 6 bulan mendatang dan bukan tidak mungkin bahwa pertemuan ini akan diputuskan apakah Mr. Parada disanksi untuk hal yang dilakukannya untuk ditulis secara khusus perihal pertemuan publik’. Langkah ini menyusul setelah diketahui sebelumnya memperluas cakupan wilayah surat kabar Bintang Timoer (hinggga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur). De Indische courant, 13-09-1928: ‘Koran berbahasa Melayu yang diterbitkan oOleh NV Percetakan Bintang Hindia, Mr Parada Harahap direktur dan pemimpin redaksi dari Batavia mengeluarkan surat kabar Melayu Bintang Timoe, untuk Jawa Tengah di Semarang dan Jawa Timur di Surabaya sebagai edisi daerah. Mr Parada Harahap telah melakukan pertemuan lokal dalam rangka tujuan konferensi PPPKI. Selama perjalanan dan tinggal dengan tokoh terkemuka di daerah sangat antusias. Bintang Timoer sudah datang di sebuah iklan untuk kebutuhan yang staf diminta untuk kedua edisi tersebut’.

Parada Harahap saat itu adalah tokoh sentral yang bersifat revolusioner. Sejauh ini (1928), Parada Harahap telah terkena delik pers sebanyak 101 kali, beberapa diantaranya arus mendekam di bui (terutama ketika mengasih Sinar Merdeka di Padang Sidempuan). Oleh karenanya, saat itu panutan para pemuda revolusioner adalah Parada Harahap. Nieuwe Rotterdamsche Courant, 28-08-1928: ‘Mahasiswa Indopesia di Eropa (Indonesische studenten  in Europa) telah mengoleksi tulisan-tulisan Dr Abdul Rivai di surat kabar Melayu, Bintang Hindia (editor Parada Harahap) di Batavia dari akhir 1926 sampai pertengahan 1928. Seluruh proses terhadap tulisan-tulisan Dr. Abdul Rivai dilakukan oleh anggota dewan Perhimpoenan Indonesia. Hal tersebut baru-baru ini diumumkan Hatta, juga mencakup kerja jurnalistik dan kontribusi terhadap pengetahuan tentang apa yang terjadi di lingkaran mahasiswa Indonesia. Dr. Abdul Rivai terus-menerus berhubungan dengan mahasiswa selama dia di Belanda. Editor Bintang Hindia, Parada Hararap, telah menulis kata pengantar rekomendasi di dalam buku yang diterbitkan itu’. [catatan: Parada Harahap dan Abdul Rivai berpartner dalam mendirikan surat kabar Bintang Hindia; Abdul Rivai kelahiran Bengkulu ini adalah teman akrab Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan sesame insan pers antara tahun 1903-1910].



Setelah konferensi pertama PPPKI di Bandung (1927), diagendakan kongres PPPKI di Batavia. Kongres PPPKI ini disinergikan dengan kongres pemuda pada tahun 1928. Ketika para senior (PPPKI) melakukan kongres juga para junior melakukan kongres di waktu yang sama pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928. Kongres para junior ini kemudian lebih dikenal sebagai Kongres Pemuda 1928. Kongres PPPKI ditunjuk ketua Dr. Soetomo. De Indische courant, 01-09-1928: ‘Pertemuan publik (kongres) pertama PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia) utuk melakukan kongres di Batavia. Berbagai duta negara sudah hadir dalam pertemuan ini. Tjokroaminoto dari PSI sudah hadir. Delegasi dari Sumatera Sarekat, Mr. Parada Harahap, managing editor Bintang Timoer, disini hari sebelum kemarin tiba dengan mobilnya. Kongres dibuka jam delapan di tempat terbuka yang dihadiri lebih dari 2.000 orang. Di antara mereka yang hadir kami melihat Tuan Gobee dan Van der Plas dari Kantor Urusan Pribumi. Perwakilan dari asosiasi dan istri kongres perempuan berlangsung di aula tengah bangunan situs. Untuk membuka sekitar 9:00 Dr Soetomo atas nama panitia menerima kongres. Soetomo mengatakan bahwa ini hasil dari diskusi pada konferensi berlangsung di Bandung pada tanggal 17 Desember 1927, ketika pembentukan PPPKI diputuskan. Pada konferensi bahwa rancangan undang-undang diadopsi dan menyeyujui yakni PSII, PN1, BO (Boedi Oetomo), Pasundan, Sarekat Sumatera, Studi Indonesia, Kaoem Betawi dan Sarekat Madura sebagai anggota. Organisasi dalam pembentukan PPPKI berdasarkan nasionalis. Soetomo dalam sambutannya menyeru: ‘Hidoeplah Persatoean Indonesia’. Kesempatan untuk PPPKI. untuk mengucapkan selamat kongres pertamanya. Ir. Soekarno, yang berbicara atas nama PNI (Partai nasionalis Indonesia), bersukacita dalam realisasi PPPKI karena pemisahan antara sana (Belanda) dan sini (Indonesia) akan ditentukan lebih tajam. Delegasi dari Sumatera Sarekat, Mr. Parada Harahap, menyesalkan sikap pasifnya Minahasasche dan Amboinasche sebangsa...(silahkan baca sendiri)’


Parada Harahap
Ir. Soekarno hadir dalam Kongres PPPKI, sedangkan M. Hatta yang masih kuliah di Belanda (Ketua PPI Belanda) mengutus wakilnya Ali Satroamidjojo ke Kongres Pemuda. Parada Harahap adalah mentor politik Sukarno dan Hatta. Di kantor PPPKI di Gang Kenari hanya ada tiga foto yang digantung di dinding: Sultan Agung, Soekarno dan M. Hatta. Sukarno banyak mengirim tulisan dan dimuat di surat kabar Bintan Timoer (pemilik dan editor Parada Harahap). Satu tokoh pemuda yang kerap berkunjung ke Gang Kenari (kantor PPPKI) dan ke kantor Bintang Timoer adalah Amir Sjarifoeddin (yang masih kuliah di sekolah hokum). Parada Harahap juga mentor politik dari Amir Sjarifoeddin (kebetulan kampong mereka berdekatan di dekat Padang Sidempuan). Kelak, tiga tokoh muda ini (Sukarno, Hatta dan Amir) menjadi The Founding Father Republik Indonesia.      



Penyelenggaraan Kongres Pemuda 1928

Pelaksana Kongres Pemuda tahun 27-28 Oktober 1928 adalah gabungan dari organisasi-organisasi pemuda baik yang mengatasnamakan pelajar maupun yang mengatasnamakan pemuda. Organisasi pemuda juga terdiri dari pelajar-pelajar. Oleh karena itu, pelaksana Kongres Pemuda tahun 1928 adalah pemuda dan pelajar yang dalam hal ini disebut Persatoean Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI). Organisasi PPPI ini adalah federasi organisasi-organisasi pemuda (lihat De Indische courant, 08-09-1928).


Organisasi-organisasi yang tergabung dalam PPPI ini antara lain adalah Jonglslamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong-Batak dan Kaoem Pemoeda Betawi. Dari organisasi-organisasi inilah dibentuk komite kongres.

De Indische courant, 08-09-1928
Pelaksana Kongres Pemuda 1928 adalah Komite Kongres Pemuda yang dibentuk dari gabungan organisasi-organisasi pemuda (PPPI). Ketua adalah Soegondo (sekolah hukum), Wakil Ketua, Djokomarsaid (sekolah hukum), Sekretaris, Mohamad Jamin (Jong Sumatra), Bendahara, Amir Sjarifoeddin (Jong Batak/sekolah hukum), anggota: Djohan Mohamad Tjaja (JIB/sekolah hukum), Senduk (Jong Celebes/STOVIA, J. Leimena (Jong Ambon/STOVIA) dan Robjini (Pemoeda Kaoem Betawi).

Tentu saja ada tokoh yang mampu mempersatukan para pemuda/pelajar ini bersatu. Tokoh yang mempersatukan itu adalah Parada Harahap, sekretaris PPPKI (gabungan organisasi-organisasi senior). Kongres sendiri akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Penempatan Amir Sjarifoeddin sebagai bendahara bukan berdiri sendiri. Amir Sjarifoeddin selain tokoh pemuda dan pelajar (Jong Batak) juga adalah representasi Parada Harahap (dari PPPKI). Parada Harahap adalah penyokong dana Kongres Pemuda 1928. Parada Harahap adalah Ketua KADIN pribumi di Batavia. Parada Harahap adalah mantan ketua Jong Batak yang digantikan oleh Amir Sjarifoeddin. 
Sayang sekali media berbahasa Belanda tidak meliput khusus Kongres Pemuda 1928. Hasil-hasilnya juga tidak terlaporkan. Sebaliknya, persiapan dan hasil-hasil Kongres PPPKI diberitakan secara luas. Ini menunjukkan bahwa makna Kongres PPPKI (para senior) jauh lebih kuat dan lebih luas dibandingkan Kongres Pemuda (para junior). Dengan kata lain, sepak terjang PPPKI lebih dikhawatirkan jika dibandingkan dengan Komite Pemuda (PPPI).
Putusan Kongres (1928)

Sebagaimana diketahui hasil Kongres Pemuda 1928 pada intinya berupa Putusan Kongres yang isinya: POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDI INDONESIA. Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia. Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahoen 1928 di negeri Djakarta. Sesoedahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini. Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan: Pertama: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATU, TANAH INDONESIA. Kedoea: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. Ketiga: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOEN-DJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA. Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan kebangsaan Indonesia. Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannya: KEMAOEAN, SEDJARAH, BAHASA, HOEKOEM ADAT, PENDIDIKAN DAN KEPANDOEAN dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan.



Sukarno sendiri pada awalnya adalah anggota Jong Java di Bandung. Pada tahun 1925 Sukarno mendirikan klub studi yang sekaligus ketuanya. Pada 25 Mei 1926 Sukarno lulus. Ketika Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) didirikan oleh Dr. Tjipto dkk di Bandung, 4 Juli 1927, klub studi pimpinan Soekarno ikut bergabung. Lalu ketika didirikan PPPKI (oleh Parada Harahap dkk pertengahan 1927) organisasi Dr. Tjipto.Sukarno belum ikut bergabung. Ketika PPPKI melakukan konferensi di Bandung pada akhir 1927 PNI sudah bergabung. Meski demikian, di paruh terakhir kehadirannya di klub studi, Sukarno kerap mengirim tulisan ke surat kabar Bintang Timoer (pimpinan Parada Harahap). Oleh karenanya Parada Harahap dan Sukarno sudah kenal sebelum didirikannya PPPKI.

Pada waktu kongres PPPKI dan kongres pemuda diadakan bersamaan tanggal 28 Oktober 1928, Sukarno diundang Parada Harahap berpidato di Kongres PPPKI sebagai anggota PNI (senior). Sedangkan M. Hatta adalah pimpinan Perhimpunan Pelajar (PI) di Belanda diundang Parada Harahap untuk hadir (berpidato) di Kongres Pemuda, namun karena kesibukan (juga ada hambatan oleh intelijen di Belanda) M. Hatta hanya mengirim wakil Ali Sastroamidjojo. Selanjutnya, setelah lulus, M. Hatta pulang ke tanah air bergabung dengan PNI yang telah berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia.
Bersambung:
Simpang Siur ‘Sumpah Pemuda’, Ini Faktanya (2): Parada Harahap, Mentor Politik Sukarno, Hatta dan Amir; Bersama Memperjuangkan Kemerdekaan RI (1928-1945)
Simpang Siur ‘Sumpah Pemuda’, Ini Faktanya (3): Parada Harahap Turun Tangan; Putusan Kongres Pemuda (1928) Diperbarui dan Diperingati Sebagai Hari Sumpah Pemuda (1953)
Simpang Siur ‘Sumpah Pemuda’, Ini Faktanya (4): Analisis yang Keliru dan Hasil Analisis yang Seharusnya; Sukarno dan Hatta Menghormati Parada Harahap


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: