Kamis, Desember 18, 2025

Sejarah BATANG TORU (8): Mengenang Ini Desa [Aek] Garoga Tempo "Doeloe"; Tanah Berbatu dan Sejarah Bandjir Tempo "Doeloe"


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Batang Toru di blog ini Klik Disini

Nama Garoga merujuk pada beberapa entitas administratif di Sumatera Utara, dengan peristiwa terbaru yang menonjol terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan pada akhir tahun 2025. Menurut kamus Angkola en Mandailing Bataksch-Nederlandsch Woordenboek door HJ Eggink tahun 1936: “garoga”, dihubungkan dengan, tano garoga, tanah berbatu. Di Tapanuli Selatan, juga ada nama tanaman “galoga” (tanaman gelagah, Saccharum spontaneum). Menurut kamus HJ Eggink: “galoga” adalah buluh (buluh tolong): “tolong do galoga, moeda manolong angkon pola”. Tanaman “galoga” ini kerap ditemukan di pinggir sungai (tanah berpasir/berkerikil). 


Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan: Desa Garoga yang terletak di Kecamatan Batang Toru mengalami bencana besar pada 25 November 2025. Kondisi Terkini (Desember 2025): Desa ini dilaporkan "lenyap" atau menjadi seperti desa mati akibat banjir bandang dan longsor yang membawa material gelondongan kayu. Dampak Bencana: Diperkirakan sekitar 140 rumah hanyut tersapu arus, dan banyak bangunan lain termasuk sekolah serta tempat ibadah hancur tertimbun tanah. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan akses jalan sempat terputus total. Bantuan: Hingga pertengahan Desember 2025, pemerintah melalui Kementerian ESDM telah mengirimkan ratusan tenda darurat untuk pengungsi (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah mengenang desa Aek Garoga tempo “doeloe”? Seperti disebut di atas, desa Garoga yang terletak di Kecamatan Batang Toru mengalami bencana besar pada 25 November 2025. Bencana tersebut adalah banjir dan dalam konteks itulah ada baiknya dihubungkan sengan sejarah bandjir tempo doeloe era Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah mengenang desa Aek Garoga tempo “doeloe”? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Mengenang Desa Aek Garoga Tempo Doeloe; Tanah Berbatu dan Sejarah Bandjir Tempo “Doeloe”

Nama desa Garoga pada masa ini mengalami musibah. Lantas sejak kapan nama (kampong) Garoga ada? Pertanyaan yang sama: kapan nama kampong Batang Toroe ada? Kedua nama kampong tersebut diduga memiliki asal yang sama: sama-sama merujuk pada nama sungai. Mengapa? Namun yang mana yang lebih dahulu ada?


Dalam laporan seorang pedagang Cina yang berangkat dari Angkola ke Baroes pada tahun 1703 tidak menyebut nama-nama tempat yang dilalui. Yang terinformasikan adalah berangkat dengan istri (boru Angkola) dengan satu anak usia empat tahun, yang ditempuh dalam sebelas hari perjalanan. Tujuan keluarga kecil itu ke Batavia. Charles Miller, botanis Skotlandia pada tahun 1772, berangkat dari pulau Pontang Ketjil dengan perahu melalui muara sungai hingga ke kampong Loemoet. Dari Loemoet menyeberang sungai besar, lalu melalui kampong Hoeta Lamboeng dan terus ke kampong Hoetarimbaroe dan kemudian dari kampong Simasom ke kampong Morang dan berakhir di Batang Onang. Charles Miller pulang melalui jalan yang sama tetapi disebutnya naik perahu dari kampong Si Pisang. Catatan: Peta militer tahun 1838 mengidentifikasi nama Loemoet, Tapolon dan Hoeraba.

Pada tahun 1838 nama kampong Hoeraba sudah terinformasikan yakni di sebelah timur sungai Batangtoroe (lihat laporan perjalanan Dr Muller en Dr L Horner tahun 1838 yang diterbitkan 1855 di bawah bab Reis van Pitjar Kolling door Mandaheling Naar Rau; lihat juga Wijlen LH Osthoff berjudul Fragmenten over Sumatra (1839) yang dimuat dalam Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 7, 1845). Nama Hoeraba juga dipetakan dalam peta militer 1838. FW Jung Huhn dan von Rosenberg tahun 1840 melukis sungai dan jembatan suspensi (dari rotan) di atas sungai Batang Toroe).


Selain Loemoet, nama tertua yang terinformasikan adalah Si Pisang. Sama-sama disebut oleh Charles Miller tahun 1772. Dalam peta tertua Angkola, hanya diidentifikasi nama Sumuran (Simoran), Si (Pisang) dan Hoeraba. Nama Simoran (Soemoeran) mirip dengan nama kampong Morang. Tentu saja bukan dari kata dasar “sumur”. Catatan: Pisang atau Si Pisang dan kemudian juga dicatat sebagai Napa Sipisang. Nama sungai Batang Toroe sudah disebut Charles Miller. Lalu apakah Napa/Sipisang yang menjadi awal pusat kampong di daerah aliran sunga Batang Toroe? NamaTappolong (Tappolen) yang dicatat Charles Miller apakah kampong Garoga? (lihat Peta 1852)

Lalu sejak kapan nama kampong Garoga dan kampong Batang Toroe? Pada tahun 1845 sudah terinformasikan nama (kampong/sungai?) Garoga. Apakah nama kampong Tappolon(g) telah digantikan nama kampong Garoga/Anggoli? Pada Peta 1852 Tappolo(g) ini sebelum kampong Soemoeran. Bagaimana pula dengan nama (kampong) Batang Toroe? Berdasarkan Peta 1852 yang dicatat adalah kampong (Si) Pisang. Sebagaimana kemudian diketahui posisi GPS kampong Batang Toroe berada diantara Soemoeran dan Sipisang. Catatan: Sungai Aek Pahoe melalui kampong Soemoeran sebelum masuk ke sungai Garoga (area rodang Karing tempo doeloe). Sungai Aek Pining juga bermuara ke rodang tersebut.


Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 7, 1845: ‘Penduduk pesisir adalah suku Batak, hingga ke pedalaman, Toba dan Silindoeng, menghasilkan kamper dan benzoin. Hubungan dengan pedalaman baru-baru ini dibuka dari Tapanoelie. Para pelancong pergi dari pulau Pontjang Ketjil, tempat administrasi afdeeling ini berada, ke Pinang Sori, yang terletak di bagian selatan teluk. Dari sini orang mengikuti sungai kecil  sekitar perjalanan seharian melalui tanah rawa, ke Loemoet, dari sana orang pergi melalui Garoga dan Tampallang (312), Hoeraba Sisoendoeng (1477) ke Pitjarkoling di Angkola. Rute ini tidak terlalu sulit, dan perjalanan dari Pontjang Ketjil ke Pitjarkoling juga dapat dilakukan dalam 6-7 hari, tetapi koneksi dari pulau Pontjang ke Loemoet, di mana pantainya sangat rawa, selalu tetap tidak nyaman. Akan sangat penting untuk komunikasi dengan pedalaman untuk menjelajahi sungai Batoe Moendam, yang, menurut Dr. Hörner, (perjalanan dua hari ke atas dapat dilalui dengan perahu hingga ke sebuah danau kecil di pedalaman bernama Laut Soempoen (Siais?), dari mana, melalui jalan yang bagus, seseorang dapat mencapai Sisoendoeng dalam dua hari. Pulau Ilir, yang terletak lebih dekat ke pantai dan muara sungai-sungai utama yang berasal dari wilayah Batakland, akan jauh lebih baik daripada Pontjang sebagai daerah persinggahan untuk daerah pedalaman. Di sebelah utara Tapanoelie, pegunungan membentang dekat dengan pantai, tetapi secara bertahap menjauhinya lagi, sehingga di Baros, dimulai dataran dan bagian medan baru, yang hampir sama sekali tidak berhubungan dengan yang lebih jauh ke selatan)’. 

Nama Batang Toroe sudah terinformasikan pada tahun 1856 (lihat Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indie, 1856). Namun nama Batang Toroe sebagai suatu lebah (vallei der Batang-toroe). 


Dengan semakin derasnya aliran kopi dari Ankola dan Sipirok ke Teluk Tapanoeli melalui Loemoet dipandang perlu untuk merevisi pengaturan jalan poros dalam Staatsblad No. 59, tanggal 21 Oktober 1852. Pada tahun 1862 keluar Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda No. 22 (Staatsblad No. 141 tahun 1862) dimana di dalam keputusan mengatur jalan jalan poros (utama) di wilayah hukum Gouvernement Sumatra’s Westkust tidak hanya di Padangsche (Bovenlanden dan Beneelanden) tetapi juga mencakup jalan poros di Tapanoeli. Jalan poros Tapanoeli berdasarkan Staatsblad No. 141, sebagai berikut:

Kotta Nopan ke Laroe (½ etappe)

Laroe ke Fort Elout (Penjaboengan) (1 etappe)

Fort Elout (Penjaboengan) ke Siaboe (1 etappe)

Siaboe ke Soeroematingi (1 etappe)

Soeroematingi ke Sigalangan (1 etappe)

Sigalangan ke Padang Sidempoean (1 etappe)

Padang Sidempoean ke Panabassan (1 etappe)

Panabassan ke Batang Taro (1 etappe)

Batang Taro ke Loemoet (1 etappe)

Loemoet ke Parbirahan (1 etappe)

Parbirahan ke Toeka (½ etappe)

Toeka ke Sibogha (½ etappe)

 

Jalan poros adalah jalan yang direncanakan untuk menjadi lalu lintas utama dan menjadi moda transportasi pos dan berbagai angkutan lainnya. Dengan memperhatikan rute jalan poros dalam surat keputusan tahun 1852, sesunguhnya rute jalan poros tersebut merupakan ratifikasi terhadap jalan yang sudah ada sejak era perdagangan awal (era pertukaran: garam dengan komoditi lainnya).


Ukuran jarak hanya didasarkan pada titik persinggahan jika perjalanan dilakukan dengan menggunakan kuda (etappe). Posisi Batang Toru sudah ada dalam rute ini. Hal lain yang baru dalam rute ini, jalan poros dari Batang Toru menuju Loemoet melalui Tapolong kemudian ke Toeka dan Sibogha. Dalam perkembangannya Peraturan tentang Penggunaan Jalan Kelas Satu di Pemerintahan Pantai Barat Sumatera, tertanggal 21 September 1864, yang diterbitkan dalam Lembaran Negara Jawa tanggal 18 Oktober 1864, No. 84: I. Jalan kelas satu di Kegubernuran Pantai Barat Sumatera dari Padang hingga Sibolga. Untuk wilayah Tapanoeli dari Moeara Sipongie, Batong, Oesar-Tolang, Moeara Poenkoct, holta Nopan, Moeara Mais, Laroe, Benkoedoe, Aijer Gedang, Penjaboengan, Mampang, Malintang, Siaboe, Kota Poelih, Si-Epping, Soeroematingie, Tolang, Si-Galangan, Petjarkoling, Padang Sidémpoean, Tobing, Batang-Ankola, Panabassan, Agian (kampong Siagian dekat Sipenggeng yang sekarang), Garoga, Loemoet, Perbirahan, Toeka, Siboga: dari Padang Sidempoean ke Tamiang, Aik Sïmirik Pagaroétan, Si Toemba, Aik Mandoerana, Sipirok. (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 13-05-1865).


Pada tahun 1871 nama Batang Toroe sudah disebut sebagai huria (wilayah administrasi terkecil) bersama huria Anggoli. Kampong Anggoli inilah yang berseberangan dengan kampong Garoga (yang dipisahkan oleh sungai Aek Garoga-2).


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-03-1871: Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Buitenzorg, den 11 Maret 1871, (No. 20), (Staatsblad no. 31): Dibaca, dll.; Dewan Hindia Belanda mendengar; Disepakati dan dipahami: Pertama: Untuk menetapkan: 1. bahwa afdeeling Siboga (residentie Tapanoeli) akan terdiri dari dua sub-afdeeling, yaitu: a. Siboga dan daerah sekitarnya, yang meliputi Koeria Siboga, termasuk kota utama dengan nama tersebut, Tapanoeli, Siroedoet, Siboeloean, Kalangau dan Boediri; b. distrik Batang-Toroe, yang meliputi Kuria Toeka, Saidnihuta, Pinang-Sori, Loemoet, Anggoli, Manosor, Batang-Toroe, Hoeraba, Si Anggoenan dan Marattjar, dll. Salinan, dll. Atas perintah Gubernur Jenderal; Sekretaris Jenderal, Van Harencarspel’. Catatan: Batang Toroe sebagai huria sudah dicatat dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie, 1868.

Pada tahun 880 jembatan Batang Toroe mulai dibangun (dan selesai 1883). Sudah barang tentu juga jembatan Aek Garoga dibangun. Kampong Anggoli sudah menjadi pusat pemerintahan huria, berada di area yang lebih tinggi. Kampong Garoga juga berada di area yang lebih tinggi, kampong yang kini diduga diidentifikasi sebagai (Pasar) Hoeta Godang (?). 


Pada tahun 1879 sekolah guru Kweekschool Padang Sidempuan dibuka. Pada tahun ini juga sekolah dibuka di Batang Toroe (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 05-01-1879). Disebutkan di Batang Taro (res. Tapanoeli) pada tanggal 14 Oktober tahun ini, sebuah sekolah dasar pemerintah akan dibuka dengan jumlah siswa adalah 25. Boleh jadi karena itu mulai dibangun jembatan besar di Batang Toru tahun 1880. Bahan-bahan yang digunakan selain beton, besi juga menggunakan kayu yang dengan panjang 30 Meter dengan lebar 60 cm. Lokasi jembatan ini berada di daerah hilir jembatan rotan (yang lama) yang mengambil lebar sungai dengan kedalaman sungai yang rendah dimana diantara dua sisi sungai terdapat pulau (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 08-05-1883). Pembangunan jembatan ini dikerjakan oleh arsitek A Eisses yang menelan biaya f140.000 (dan juga menelan banyak korban karena jatuh dan hanyut). Jembatan ini panjang 110,23 M dan lebar 5.54 M dan menjadi jembatan terpanjang yang pernah ada di Hindia. 

Pembangunan jembatan Batang Toru berbeda dengan pembangunan jembatan kuno yang terbuat dari rotan. Jembatan rotan ini letaknya di arah hulu di area sempit sungai (jarak terpendek lebar sungai). Sementara jembatan fondasi beton yang dibangun memilih lokasi di area sungai terlebar, yang mana ditemukan pulau.

 

Bagaimana dengan di sungai Aek Garoga? Apakah sungai Aek Garoga sudah bercabang dua seperti sekarang (sebelum bencana tahun 2025)? Tampanya tidak. Hal ini dapat dipahami dari pembangunan jembatan Aek Garoga pada tahun 1891 (lihat De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 14-07-1891). Disebutkan izin telah diberikan untuk jembatan kabel di atas sungai Garoga pada jalur transportasi dari Padang-Si Dempoean ke Siboga, afdeeling Angkola en Maadheling, residentie Tapanoeli, Goernement Sumatra’s Westkust (Gubenur Pantai Barat Sumatera), yang biayanya diperkirakan sebesar 10.887 gulden. Dalam hal ini apa yang dimaksud dengan jembatan kabel? Hal ini penah dilakukan pada tahun 1860an dibangun jembatan kabel di atas sungai Batang Toroe (untuk menggantikan jembatan rotan). Ini mengindikasikan bahwa pada saat jembatan Batang Toroe dibangun tahun 1880 dengan teknologi beton dan kayu, jembatan Aek Garoga juga dibangun dengan jembatan kayu. Yang lalu kemudian karena dianggap tidak aman lagi jembatan kayu kemudian digantikan dengan jembatan kabel pada tahun 1891. Dalam konteks inilah diduga sungai Aek Garoga terbilang cukup besar tetapi tidak sebesar sungai Batang Toroe dan solusi pengganti dengan jembatan kabel. Bahwa sungai Aek Garoga cukup lebar ini dapat dihubungkan dengan inisiatif pembangunan kereta api yang hanya sampai sungai Garoga (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 19-03-1898). Disebutkan permohonan yang diajukan oleh JA Caspersz dari (perusahaan perkebunan) Loeboek Raja, Padang-Sidempoean, untuk mendapatkan izin pembangunan dan pengoperasian trem uap antara kota Siboga dan Garoga di pantai barat Sumatera, telah diberitahukan bahwa permohonannya sedang dipertimbangkan. Lantas mengapa kemudian terbentuk cabang sungai (Garoga-1 dan Garoga-2)? Foto: Jembatan Garoga dekat Anggoli tersumbat sampah vegetasi kayu-kayu dalam banjir bandang baru-baru ini.

Sejak lancarnya arus lalu lintas antara Padang Sidempoean dan Sibolga (setelah pembangunan jembatan Batang Toru dan jembatan Garoga), pada tahun 1901, setelah 30 tahun, industri perkebunan baru di Hindia Belanda, mulai dirintis di Tapanoeli oleh WJJ Kehlenbrink. Lokasi industri perkebunan pertama yang dipilih berada di koeria Loemoet, distrik Batang Toru seluas 6.000 bau dengan konsesi selama 75 tahun. Dalam konteks ini pula, sungai Aek Garoga tampaknya menjadi pembatas alam (barrier) yang signifikan ketika dihubungkan dengan suatu rencana pembangunan jangka panjang moda transportasi antara (dari arah) Sibolga ke Padang Sidempoean. Batasan alam (sungai Aek Garoga yang juga terbilang besar, tetapi tidak sebesar sungai Batang Toroe) kemudian juga menjadi batas wilayah kerja pengawas jalan (dan kini menjadi batas wilayah Tapanuli Selatan dan wilayah Tapanuli Tengah). 


Sumatra-bode, 20-02-1907: ‘Mulai sekarang, ruas jalan pos Loemoet-Garoga akan berada di bawah pengawasan jalan pos (opziener) di Sibolga, dan sisanya, dari Garoga ke atas (ke arah Barang Toroe hingga Padang Sidempoean), di bawah opziener (pengawas jalan) di Batang Toroe’. 

Sesungguhnya inisiatif pembangunan industri perkebunan yang lebih awal di Tapanoeli (tepatnya di Mandheling en Ankola) daripada di Deli. Namun inisiatif itu tidak berlanjut, karena penduduk enggan melepaskan lahan yang ‘menganggur’ untuk dikontrak sebagai konsesi perkebunan. Padahal para kreditur sudah menawarkan dana investasi hingga ke Mandailing. Alasan lainnya diduga karena pemerintah masih memiliki kepentingan dalam urusan koffiestelsel di afdeeling Angkola Mandailing. Akibatnya industri perkebunan di Tapanoeli kala itu seakan ‘layu sebelum berkembang’. 


Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-04-1858 (iklan): ‘Di Jawa Courant hari ini disebut debitur dan kreditur untuk perkebunan berikut: Agen Sumatra di wilayah estate Mandheling, Elphianus Louis Snackey’. Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-01-1859: ‘berdasar laporan W.A. Henny, Controleur di Ankola en Sipirok, bahwa, di afdeeling Mandheling en Ankola, dalam koffijcultuur (tanam paksa dibiayai pemerintah), hasil penanaman kopi adalah sebagai berikut: Pada tahun 1853, satu pikol kopi dihasilkan dari 161 pohon, 1854 (157), 1655 (93), 1856 (159), 1857 (110). Foto: Sungai Garoga di Desa Garoga (Antara)

Kini di awal abad ke-20, industri perkebunan di Sumatra’s Oostkust meluber. Lahan-lahan yang potensial untuk perkebunan mulai dari Langkat hingga Asahan telah habis dibagi menjadi konsesi bahkan hingga ke Laboehan Batoe. Ekspansi perkebunan oleh para planter di Sumatra’s Oostkust melihat Tapanoeli adalah salah satu daerah perkebunan yang memiliki prospek. 


De Sumatra post, 02-03-1920: ‘Aneta melaporkan pada pembukaan layanan mobil (trayek) antara Medan dan Padang. Dari Medan ke Pematang Siantar lalu Prapat. Di kota wisata ini mobil harus dinaikkan ke kapal (RotterJamschen Lloyd) melalui danau Toba ke Balige (bisa menampung dua mobil) selama dua jam. Lalu dari Balige dilanjutkan ke Sibolga (terdapat hotel). Selain di Batang Toru dan Padang Sidempuan juga terdapat pesanggrahan yang memadai di Kotanopan. Kemudian perjalanan menuju Fort de Kock (terdapat hotel) dan selanjutnya ke Padang. Seluruh jarak 900 Km dan sekarang harga relatif rendah (jika dibandingkan lewat Batavia). Untuk wisata Medan-Padang sebesar f230 ditambah biaya akomodasi sekitar f100, sehingga secara total pp f550, salah satu wisata terbaik di Nederlandsch Indie. Resident Tapanoelie, Mr. Vorstman, secara khusus menyambut baik untuk layanan baru ini. Meski perjalanan yang sangat panjang namun sangat baik. Selama diperjalanan harus tetap hati-hati karena jumlah tikungan termasuk banyak tikungan tajam bahkan antara Balige dan Sibolga jumlahnya mencapai 1700 buah. Terdapat pesanggrahan di Onan-Dolok, KM 104. Pengemudi harus menghentikan di sini dan penumpang bisa turun dan jalan setapak ke titik dimana salah satu yang yang menakjubkan terlihat indah di seluruh Teluk Tapanoelie. Di Sibolga terdapat hotel yang baik dengan tariff f50 per tempat tidur. Lalu jarak dari Sibolga ke Kotanopan adalah 205 Km yang mana sampai Batang Taroe jalan baik seperti datar dan memberikan pemandangan laut. Kemudian naik turun hingga ke Padang Sidempoean jalan yang kurang bagus, tapi masih memadai. Kemudian harus turun kembali ke Kotanopan. Di sini terdapat pesanggrahan dengan 4 kamar tidur. Kota ini sendiri sangat kecil. Controller adalah satu-satunya orang Eropa. Lalu dilanjutkan ke Fort de Kock (hotel yang sangat sangat baik serta kamar dan meja yang sangat baik). Iklim yang sejuk dan alam yang cantik. Selanjutnya  ke Padang dalam dengan panorama sepanjang jalan. Inilah wisata terbaik di Sumatra jika perjalanan dilakukan  dengan mobil. Seluruh perjalanan akan tampak seperti mimpi’. 

Sejak WJJ Kehlenbrink membuka perkebunan tahun 1901, secara sporadis sudah timbul perkebunan-perkebunan (onderneming) di berbagai tempat di Tapanoeli. Distrik Batang Toru dalam industrialisasi perkebunan di Tapanoeli memiliki posisi strategis. 


Nieuwe Rotterdamsche Courant, 04-07-1920: ‘perkebunan karet di Tapanoeli tertua  pertama kali dibuka di Hapesong dan Batang Taroe. Perkebunan ini awalnya mengusahakan kelapa dan kopi. Perkebunan yang berada di jalan pos Padang Sidempuan-Sibolga ini berpusat di Batang Toru. Himpunan pengusaha karet Tapanoeli Plantersvereeniging berada di Batang Toru. Perusahaan-perusahaan besar antara lain: NV de Caoutschouo Plantage Mij, Tapanoeli; NV. Sumatra Caoutschouo Plantage Mij, Rotterdam Tapanoeli C. Mij, Sibolga Caoutschouo Plantage Mij, Amsterdam Tapanoeli Rubber Cy, Tapanoeli Mij. Produk perkebunan ini diangkut ke Sibolga dengan pedati dan truk. 

Dalam hubungannya dengan pembangunan perkebunan di wilayah Tapanoeli khususnya afdeeling Sibolga dan afdeeling Padang Sidempoean (sebelumnya afdeeling Angkola Mandailing) sudah pula ada inisiatif untuk pengembangan jalan kereta api dari Sibolga hingga ke (batas) Garoga pada tahun 1897. Namun konsesi yang telah diberikan pemerintah tidak kunjung terealissasikan oleh para investor. 


Konsesi terus diperpanjang. Seiring dengan pertumbuhan perkebunan di wilayah Batang Toru (mulai dari Loemoet/Anggoli hingga Batang Toroe/Hapesong) dan semakin meluas hingga Padang Sidempoean (Simarpinggan dan Pidjorkoling), realisasi pembangunan kereta api semakin dekat. Studi kelayakan telah dilakukan oleh para investor dan bahkan studi kelayakannya sampai ke Padang Sidempoenan,
 

Realisiasi kereta api Tapanoeli antara Sibolga dan Padang Sidempoean maka akan memiliki lebih banyak moda transportasi. Namun, akibat perang dunia di Eropa (sejak 1914), menimbulkan dampak global dan resesi terjadi. Akibat resisi tersebut, realisasi pembangunan kereta api yang melalui wilayah Batang Toru dan Garoga terhenti. Namun begitu, industry perkebunan di Angkola khususnya di wilayah Batang Toru tetap positif. Bahkan rumah sakit mewah sudah didirikan di Soemoeran. Kota Batang Toru menjadi pusat Eropa baru (selain di Sibolga dan Padang Sidempoean). 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-03-1925: ‘Mengalami pendarahan hebat, Bapak Konijn dirawat dan dibawa ke kediaman gubernur di Batang-Toroe, di mana perban awal dipasang dan upaya dilakukan untuk menghentikan pendarahan hebat tersebut. Dari sana, pria yang terluka itu diangkut dengan mobil ke rumah sakit di Soemoeran, di mana luka-luka di tubuhnya harus segera dijahit. Wajahnya, khususnya, dipenuhi luka’. Peta: geomorfologis Batang Toru

Seperti kita lihat nanti, pada tahun 1931 terjadi banjir besar di wilayah afdeeling Padang Sidempoean yang mana sungai-sungai besar (Batang Angkola, Batang Gadis dan Batang Natal) meluap yang menelan korban jiwa sebanyak 400 orang. Sungai Batang Toroe dan sungai Garoga juga meluap. Bagaimana situasi dan kondisi di sungai Garoga di desa Garoga, setelah bencana banjir tersebut tidak terinformasikan secara rinci. 


Sebagaimana disebut di atas, sejak 1845 sudah dilaksanakan program pembangunan di wilayah Tapanoeli oleh Residen A van der Hart. Pencetakan sawah dilakukan termasuk dengan pembuatan kanal irigasi di desa Garoga dengan menyodet sungai Garoga di hulu yang kemudian kanal tersebut menjadi sungai kedua di desa Garoga. Dari kanan/sungai baru ini dibuat bendungan dan kemudian airnya disalurkan melalui kanal-kanal irigasi hingga kampong Hoeta Godang (dulu namanya kampong Hoerta Bolon/Tappolon, kini menjadi Pasar Huta Godang). Lalu bersamaan dengan pembangunan jembatan besar di atas sungai Batang Toru pada tahun 1883, juga dibangun jembatan yang lebih baik di dua sungai di desa Garoga. Pada saat inilah diduga antara dua jembatan tersebut (antara jembatan Garoga-1 dan jembatan Garoga-2), tanah ditinggikan untuk membangun jalan kelas satu (jalan nasional). Jalan baru ini tampaknya melawan kodrat alam dengan membuat melintang diantara dua sungai. Namun begitu masih ada jalan keluar air di dua jembatan tersebut. Sebagaimana diketahui pada saat banjir bandang tahun 2025 ini kedua saluran air di bawah dua jembatan tersebut tersumbat oleh kayu-kayu besar yang menyebabkan limpahan air mengarah kea rah Pasar Huta Godang dan tekanan air di dua jembatan yang tersumbat tersebut menyebabkan jalan nasional diantara dua jembatan Garoga tersebut jebol (membentuk alur sungai yang baru). Peta: geologis Batang Toru (1919)

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Bandjir Tempo “Doeloe” Era Hindia Belanda: Sungai Batang Toru, Sungai Batang Angkola dan Sungai Batang Gadis 

Nama Garoga adalah nama yang belum lama terinformasika, nama yang diduga awalnya merujuk pada nama sungai. Nama yang terinformasikan sejak awal adalah kampong Tappolong (Charles Miller `1772) dan nama Tabolon (Peta militer 1845). Nama Tappolong masih eksis pada Peta 1852. Dalam Peta period 1885-1906 tidak lagi muncul nama Tappolong tetapi telah muncul nama Garoga (berdekatan dengan nama Anggoli). 


Mengapa nama Tappolong menghilang dan mengapa yang diidentifikasi Garoga? Seperti halnya nama sungai Batang Toroe yang menjadi nama kampong Batang Taroe, demikianlah halnya dengan nama sungai Garoga menjadi nama kampong Garoga. Nama Tappolong besar dugaan tidak menghilang tetapi berbeda penyebutan. Nama Tappolong adalah catatan orang Eropa yang diduga kuat sebagai Hoe-ta Bolon (Tabolon/Tapolon) berubah kebiasaan menyebutnya menjadi Hoeta Godang. Dalam kamus bahasa Angkola Mandailing oleh HJ Eggink (1936) kata “bolon” dan kata “Godang” sama-sama eksis yang diartikan groot (besar). 

Nama Hoeta Bolon/Tappolon/Hoeta Godang menjadi penanda navigasi untuk perjalanan darat dari Angkola ke barat di Tapanoeli/Baroes sejak zaman kuno. Seperti disebut di atas, kampong-kampong Hoeta Bolon/Hoeta Godang dan kampong lainnya telah disatukan dengan nama desa Garoga (lihat Peta 1906). 


Pada masa ini nama Tappolon/Hoeta Godang diidentifikasi sebagai pasar Huta Godang di desa Garoga (sekarang terbentuk desa Huta Gadong, tetapi pasarnya masuk desa Garoga). Di sebelah barat desa Garoga adalah desa Anggoli. Di atas desa Garoga di daerah aliran sungai (DAS) Garoga adalah desa Muara Sibuntuon, dan di atasnya lagi hingga ke puncak pegununan adalah desa Sibio-bio yang keduanya masuk wilayah kecamatan Sibabangunan, kabupaten Tapanuli Tengah. Pada Peta 1906 sudah diidentifikasi kampong Anggoli dan kampong Garoga. Di arah hulu sungai Aek Garoga diidentifikasi kampong Siboentoeon dan kampong terjauh di hulu Saripsip (yang diduga kini menjadi bagian dari desa Sibio-bio. Catatan: Kamus HJ Eggink (1936) “bio-bio” adalah tanam merayap di tanah dan daun keringnya berfungsi sebagai pembungkus rokok tembakau hijau; “boentoe” artinya tinggi; “boentoe-boentoe”, ketinggian di atas tanah seperti bukit. Peta 1906. 

Dalam Peta 1906, desa Garoga secara geomorfologis dialiri sungai Aek Garoga (bercabang dua). Desa Garoga ini terdiri dari empat area pemukiman. Satu area di sisi tenggara sungai (yang diduga posisi Tappolon masa lalu dan pasar Huta Godang masa ini). Tiga area pemukiman lainnya berada di area antara dua cabang sungai. Di sisi selatan jalan satu area dan di sisi utara jalan satu area di arah barat dan satu area di arah timur. Lantas mengapa sungai Aek Garoga bercabang di desa Garoga? 


Secara geomorfologis wilayah desa Garoga sangat khas (karena sungai bercabang). Lalu kapan ada pemukiman di area antara cabang sungai, itu satu hal. Dalam hal ini di antara cabang sungai awalnya dibangun jalan, seiring dengan kebijakan pemerintah (Hindia Belanda) pembangunan jalan kelas satu antara Padang dan Padang Sidempoean ke Sibolga (1864). Seperti disebut di atas, perkampongan pertama adalah Tappolon (kini Huta Godang). Lantas kapan ada pemukiman di area antara cabang sungai? Yang jelas area diantara cabang sungai pada Peta 1906 tidak teridentifikasi. Pada masa ini di hulu cabang sungai 39 Mdpl dan di hilir cabang sungai 32 Mdpl; tinggi jalan 39 Mdpl. Antara hulu cabang sungai dan jalan ada area titik terendah 38 Mdpl. Ini mengindikasikan bahwa pada saat membangun jalan tempo dulu, tanah ditinggi di sekitar area jalan. Permukaan sungai di bawah jembatan (barat) 37 Mdpl dan jembatan (timur) 36 Mdpl. Catatan: di selatan kampong Anggoli/tenggara cabang sungai, area tertinggi (dolok Paraliman) 172 Mdpl; di timur laut, area tertinggi (dolok Lajang-lajang) 332 Mdpl. DAS Garoga di kampong Saripsip (Sibio-bio sekarang) diapit dua bukit: 675 Mdpl di barat dan 620 Mdpl di timur. Hulu sungai Aek Garoga tepat berada di area tertinggi di barat laut (1048 Mdpl) dengan jarak garis lurus dari desa Garoga 16 Km dan terjauh di timur laut di dolok Majang (908 Mdpl) dengan jarak 17 Km. Puncak tertinggi berada di sebelah barat di Tor Na Galang Goeloeng (1225 Mdpl). Catatan: Dolok Majang juga menjadi hulu dari sungai Aek Oeloehala Na Godang yang bermuara ke sungai Batang Taroe (berada di dekat Aek Parasariran, Sipenggeng.

Cabang sungai Aek Garoga bercabang di desa Garoga adalah satu-satunya di DAS Aek Garoga. Mengapa? Seperti disebut di atas, cabang sungai berada di suatu lembah sempit antara dua perbukitan. Arah sungai dari hulu dari arah timur laut dan menabrak area tinggi (kampong Anggoli). Dalam konteks ini awalnya sungai Aek Garoga adalah di sisi kampong Anggoli. Bagaimana dengan cabang sungai di arah timur (dekat Tappolong)? Cabang sungai tampaknya adalah sungai buatan (kanal). Buat apa? Yang jelas sungai Aek Garoga berada di bawah. Pembuatan cabang sungai (kanal) untuk pencetakan sawah baru di masa lampau? Kapan? Besar dugaan pada era Residen Kolonel A van der Hart (mulai 1845). Tampaknya jalan/jembatan dibangun bersamaan dengan pembangunan jalan/jembatan Batang Toroe (dengan tanah yang ditinggikan). Jalan dan jembatan tersebut sudah diidentifikasi pada Peta 1906. 


Gambaran geomorfologis di area dua cabang Aek Garoga pada masa lalu juga menjadi gambaran yang terjadi dengan banjir “bandang” tahun 2025 sekarang. Artinya sungai Aek Garoga yang meluap dari hulu dengan membawa lumpur dan sampah vegetasi langsung menabrak jembatan di sisi batas desa Anggoli. Sampah yang terdiri kayu-kayu itu menutup area jembatan yang kemudian membuat permukaan sungai terus meninggi. Awanya, debit air melalui jembatan sisi timur, tetapi juga tersumbat, lalu permukaan air semakin meninggi dan kemudian menabrak perkampungan dan jalan lalu jebol (terbentuknya alur sungai baru/alur sungai tunggal dan lebih lebih dari dua cabang sungai sebelumnya). Gambaran perubahan alur sungai di masa lalu, seperti kita lihat nanti adalah alur sungai Batang Toru yang awalnya ke barat daya (Kuala/Muara Batang Toru) lalu bergeser ke tenggara (Batoer Moendom).

Lantas apakah pernah banjir di desa Garoga sebelum yang sekarang? Pada tahun 1931 pernah terjadi banjir dimana semua sungai besar di afdeeling Padang Sidempoean (kelak menjadi kabupaten Tapanuli Selatan, pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Banjir itu karena sungai Batang Gadis, sungai Batang Angkola, sungai Batang Toroe meluap. Di seluruh afdeeling Padang Sidempoean yang menjadi korban 400 orang hilang (hanyut?). Dalam berita ini juga disebut sungai Aek Garoga meluap. Disebutkan hujan belum pernah selebat iti dalam 20 tahun terakhir. 


Soerabaijasch handelsblad, 06-01-1931: ‘Bandjir di Tapanoeli. Menurut surat kabar lokal Tapanoelie, bagian selatan Tapanoelie sangat terdampak banjir. Sungai Batang Natal, Batang Gadis, dan Batang Toroe adalah sungai-sungai yang "dihantui". Jumlah orang yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir mencapai sekitar 400 orang. Mereka mengungsi di hutan dekat bekas rumah mereka. Daerah yang paling parah terdampak adalah Kampoeng Parlampoengan di Sungai Batang Natal. Disini, hampir semua rumah, yang berjumlah 100, hanyut terbawa banjir; tiga jembatan baru hanyut, dan perkebunan padi hampir hancur. Jalan pejalan kaki tetap utuh. Di Muara Soma, juga di Sungai Batang Natal, arus menghanyutkan 17 rumah, termasuk jalan pejalan kaki dan sekolah. Akibat luapan Sungai Batang Gadis, sebagian jalan di KM 104 dekat Kota Nopan hanyut. Anak sungai Batang Toroe, Batang Garoga, meluap setelah hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut. Hujan belum pernah selebat ini dalam 20 tahun terakhir. Sungai Batang Toroe juga meluap’. 

Banjir sungai Aek Garoga pada tahun 1931 seberapa besar? Tidak ada informasi yang lebih detail. Bagaimana dengan di daerah aliran sungai Batang Toroe? Dua sungai tersebut pada dasarnya terhubung. Dalam hal ini sungai Aek Garoga adalah anak dari sungai Batang Toroe. Bagaimana bisa? 


Pada Peta 1906 sungai Batang Toroe bermuara kea rah barat. Ada dua anak sungai Batang Toroe: sungai Aek Garoga bermuara ke sungai Batang Toroe di sekitar desa Huta Raja yang sekarang; sungai Aek Malomboe bermuara ke sungai Batang Toroe didekat Tor Sipisang (dekat Huta Raja yang sekarang). Sementara di selatan sungai Aek Malomboe adalah sungai Aek Sangkoenoer yang mengalir di sisi timur lembah Batang Taroe di bawah danau Siais yang kemudian mengalir ke kampong Batoe Moendom. Desa Huta Raja yang sekarang diduga dulunya adalah rawa-rawa yang sangat luas (rodang). Peta 1906

Lalu mengapa kini arah sungai Batang Toroe berubah? Sebagaimana pada masa kini, sungai Batang Toroe dari posisi Sipisang (di utara Huta Raja yang sekarang) berbelok arah ke arah timur yang bersambung dengan sungai Aek Sangkunur. Lantas apa yang menyebabkan pergeseran arah hilir sungai Batang Toroe? Apakah karena banjir besar tahun 1931? Dalam konteks inilah kita bisa memahami mengapa kini alur sungai Aek Garoga di desa Garoga (akibat banjir bandang 2025) bergeser ke tengah (dua cabang sungai Aek Garoga menghilang).  


Rodang adalah tanah rawa-rawa yang sangat luas (HJ Eggink, 1936). Rodang terjadi biasanya di wilayah lembah yang terbendung; muara sungai yang datar; area di sekitar pertemuan dua sungai (binanga). Dalam peta terbaru hilir sungai Aek Garoga masih diidentifikasi sebagai rodang yang berada di DAS Batang Toroe. Permukaan sungai Batang Toroe dan jalan yang berada di depan puskesmas Huta Raja 21 Mdpl dan area diantaranya sungai dan jalan tersebut hanya sekitar 20 Mdpl (dan di sejumlah area kecil ada yang hanya 17 Mdpl). Ini mirip dengan area di desa Garoga yang berada diantara dua cabang sungai (38 Mdpl). Lalu yang menjadi pertanyaan dalam hal ini adalah apa yang bisa diinterpretasi dengan ketinggian wilayah yang tanahnya bersifat alluvial (lapisan tanah lumpur) yang hanya setinggi 20 hingga 38 Mdpl (ke arah hulu) dan 20 hingga ke bibir pantai setinggi 6 Mdpl dalam jarak (garis lurus) 22 Km. Dalam konteks inilah kita berbicara wilayah yang kini menjadi bagian wilayah Kecamatan Muara Batang Toroe yang dulunya adalah rodang, dan besar dugaan di masa lampau adalah suatu perairan (laut) dimana Batang Toroe dan Garoga adalah teluk yang menjorok ke dalam. Catatan: Berdasarkan Peta 1906 di wilayah kecamatan Muara Batang Toru yang sekarang, dulunya terdapat beberapa rodang besar: rondang Karing (DAS Garoga di barat daya Soemoeran); rodang Malomboe (DAS Batang Toru antara Tor Sipisang dan kampong Sibara-bara); Rodang Sibara-bara diantara kampong Sibara-bara dengan kampong Pasar Ampolu yang sekarang); rodang Poelo Gomba, di bagian bawah/barat danau Siais dan rodang Na Gor di tenggara barat daya danau Siais;  rodang Palas sekitar kampong Moeara Opoe; rodang Na Birong dan rodang Taloe-Taloe antara dolok Simartlelan dengan kampong Moeara Opoe; dan rodang Si Hapas antara dolok Si Hapas dengan kampong Koeala/Meoera Batang Toroe.

Secara geomorfologis, kawasan bencana banjir bandang di perbatasan Tapanuli Selatan/Tapanuli Tengah tepat berada di suatu kawasan yang diduga dulunya jauh di masa lampau adalah suatu wilayah yang awalnya perairan kemudian menjadi rodang dan kini menjadi daratan datar yang subur. Sebagai suatu perairan di zaman kuno, pada masa ini dapat dihubungkan dengan penemuan benda-benda kepurbakalaan di hilir DAS Loemoet (situs Bonggal). 


Pada masa kini, sebagian dari kawasan perairan masa lampau tersebut termasuk wilayah kecamatan Muara Batang Toru yang sekarang. Batas wilayah kecamatan ini tidak lain dari batas DAS Batang Toru lama (yang kini menjadi DAS Garoga) di sebelah barat dan batas DAS sungai DAS Sangkunur lama yang kini menjadi DAS Batang Toru yang baru di sebelah timur. Di bagian tenggara DAS Garoga yang sekarang dekat dengan laut terdapat celah yang menghubungkan dengan DAS sungai Lumut (dimana ditemukan benda-benda kepurbakalaan) di situs Bonggal. 

Di pantai barat Sumatra terdapat beberapa sungai besar antara lain sungai Batang Angkola/Batang Gadis, sungai Batang Natal, sungai Batang Toru dan sungai Singkil. Sungai-sungai besar ini memberi kontribusi signifikan dalam perluasan pulau Sumatra di bagian barat. Di wilayah Tapanuli perluasan wilayah (proses sedimentasi jangka panjang) yang siginifikan hanya terjadi di wilayah Lumut (sungai Lumut dan sungai Pinangsori), wilayah Batang Toru (sungai Garoga, sungai Batang Toroe dan sungai Sangkunur); wilayah Singkuang (sungai Batang Angkola/Batang Gadis), wilayah Natal dan Batahan (sungai Batang Natal dan sungai Batang Batahan).


Catatan curah hujan di wilayah Batang Toru dalam pencatatan masa lalu berada di Anggoli: pada bulan Maret 1927 312 mm dibandingkan sebelumnya 436 mm (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-04-1927). Pada bulan Agustus 1927 di Anggoli 269 mm dibanding sebelumnya 313 mm (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-10-1929). Pada bulan Januari 1929 di Anggoli 643 mm dibanding sebelumnya 351 mm (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-02-1931). Pada bulan Februari 1936 di Anggoli 291 berbanding sebelumnya 301mm (lihat De locomotief, 31-03-1936). 

Seperti di sebut di atas, di wilayah sedimen Batang Toru, alur sungai Batang Toru diduga kuat telah begeser. Pergeseran ini haruslah dihubungkan dengan keberadaan sungai besar (dalam hal ini sungai Batang Toru). Namun banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam hal ini tidak saja karena faktor sungai-sungai besar, tetapi juga faktor curah yang tinggi, daerah aliran sungai (DAS) yang diapit oleh bukit-bukit kedua sisi yang cukup curam; sifat tanah yang gembur mudah longsor dengan lapisan vegetasi hutan yang lebat. Bagaimana dengan di daerah aliran sungai (DAS) Garoga? Yang jelas di DAS Garoga belum lama ini telah terbentuk alur baru sungai. 


Pergeseran alur sungai sebagai dampak dari bandjir bandang sejak dulu, sangat banyak tidak hanya di Sumatra, juga di Jawa dan Kalimantan yang dalam hal ini seperti perubahan alur sungai Batang Toru. Bagaimana dengan perubahan alur sungai Aek Garoga setelah banjir bandang tahun 2025 ini? Yang jelas adanya alur sungai yang baru juga ditemukan di desa Muara Sibuntuon (di arah hulu sungai di desa Garoga).. 

Namun yang perlu diperhatikan dalam hal ini, besar dugaan sebelum terbentuk alur baru sungai di desa Garoga, yakni pada saat tinggi air semakin meninggi, akibat tersumbat di sungai Garoga-1 dan sungai Garoga-2, luberan air inilah yang mengarah ke arah tenggara yang memenerjang persawahan, sepanjang jalan dan Pasar Huta Godang dan bahkan mencapai desa Aek Ngadol. Pasar Huta Godang juga turut terdampak akibat luapan aliran sungai Aek Garoga tersebut. 


Limpahan arus sungai Garoga yang luber ke tenggara (desa Pasar Huta Godang/desa Aek Ngadol) tidak cukup menahan tekanan air yang semakin kuat. Sebagai akibatnya, jalan yang menghubungkan antara sungai Garoga-1 dan sungai Garoga-2 diterjang oleh tekanan air sehingga jebol yang kemudian air yang tinggi memusat yang kemudian arus deras membentuk alur sungai baru di tengah perkampungan sebagai jalan keluar. Dampak dari adanya jalur sungai yang baru ini (sangat lebar) sehingga arus air limpahan ke desa Huta Godang/desa Aek Ngadol menyusut hingga hanya tersisa arus air sungai di alur sungai yang baru tersebut. 

Penanganan alur baru sungai haruslah diperhatikan secara serius. Pertanyaannya: apakah alur baru sungai dilanjutkan atau apakah alur sungai lama tetap dipertahankan? Secara geomorfologis di lembah desa Garoga, arah arus sungai jika terjadi bandjir bandang tetap akan menuju alur sungai yang lama (lihat gambar). Arus sungai baru yang sekarang haruslah dipandang sebagai dampak dari arus bandjir bandang. Artinya, dengan mempehatikan arah sungai di hulu desa Garoga (dari timur laut ke barat daya). Untuk situasi normal alur sungai baru dapat akomodatif, tetapi jika terjadi arus bandjir bandang justru akan kembali menambrak sisi barat yang berbatasan dengan desa Anggoli (jembatan perbatasan desa Anggoli ini sebaiknya dirancang ulang yang lebih lebar lagi, untuk menghindari penyumbatan kembali jika terjadi bandjir bandang).


Pergeseran alur sungai, dan juga pergeseran yang menyebabkan terbentuknya “sungai mati” yakni sungai yang terjebak sangat umum terjadi, terutama di pantai timur Sumatra, pantai utara Jawa dan pantai barat/selatan/timur Kalimantan. Terbentuknya sungai mati ini juga karena bandjir bandang sebelumnya. Sungai mati di DAS Batang Toroe berdasarkan Peta 1906 terdapat antara Tor Sipisang dan kampong Napa (Djae/Djoeloe). Sungai mati ini diduga kuat awalnya adalah alur lama sungai Batang Toroe. 

Pada masa ini, seperti alur baru sungai Garoga di desa Garoga, haruslah diperhatikan tentang keberadaan alur sungai lama, baik yang sekarang (desa Garoga) maupun alur sungai lama yang terjadi di masa lalu seperti sungai mati (Tor Sipisang-kampong Napa) dan sungai mati eks alur lama sungai Batang Taroe (antara desa Huta Raja yang sekarang dengan Tor Simarlelan (kini Pasar Ampolu). Dalam hal ini desa Huta Radja yang sekarang adalah eks sungai mati.


Sungai mati eks alur sungai lama sungai Batang Taroe (antara Tor Sipisang dan Tor Simarlelan) memang tidak terlalu terlihat pada masa ini, tetapi jejak-jejaknya masih bisa diidentifikasi pada masa sekarang. Dengan memperhatikan peta Google Earth, alur lama sungai Batang Taroe mulai dari desa Lumut Nauli kecamatan Lumut (Tapanuli Tengah) sedangkan jejak lama alur sungai Batang Toru masih dapat diiidentifikasi dari dekat desa Lumut Nauli (9 Mdpl) hingga ke arah timur laut di desa Huta Raja dimana elevasi 22 Mdpl (yang sama tingginya dengan permukaan sungai Batang Taroe). Sungai Aek Garoga sendiri adalah cabang atau anak sungai Batang Toru dari arah barat laut. 

Seperti disebut di atas, seluruh wilayah desa Huta Raja di kecamatan Muara Batang Toru adalah bagian dari jejak alur lama sungai Batang Toru. Elevasi kantor Puskesmas Huta Raja dengan 22 Mdpl, kurang lebih sama dengan permukaan sungai Batang Toru yang tidak jauh dengan ketinggian 22 Mdpl. Banyak area di sekitar puskesmas tersebut yang memiliki elevasi yang lebih rendah dan bahkan ada yang dengan ketinggian 17 Mdpl. Dalam hal ini jejak alur lama sungai Batang Toru menjadi bagian rendah dari kawasan desa Huta Raja yang memiliki risiko banjir.  


Di pantai barat Sumatra, hanya ada tiga sungai besar, yakni sungai Simpang di Singkil, sungai Batang Toru di Angkola dan sungai Batang Singkuang di Mandailing (lihat peta). Dalam konteksnya inilah penting memahami sejarah sungai Batang Toroe sebagai sungai yang sangat besar. Ke dalam sungai Batang Toru inilah sungai Aek Garoga bermuara. Sementara sungai Batang Singkuang adalah gabungan sungai Batang Angkola dan sungai batang Gadis. Hulu sungai Batang Angkola berada di gunung Lubuk Raya (yang juga menjadi sumber air sungai Batang Toru di wilayah kecamatan Marancar. 

Risiko banjir pada dasarnya dapat dihitung (diperkirakan). Namun itu tidak cukup, harus ada program mitigasi, yaitu program yang benar-benar dilaksanakan untuk mengurangi risiko banjir atau menghilangkan risiko. Namun kecenderungan, bahkan di mana-mana perhitungan (studi) risiko tidak pernah dilaksanakan. Sebagai contoh ketinggian permukaan air sungai di sungai Batang Toru di sejumlah area sudah lebih tinggi dari daratan di sekitarnya (telah terjadi proses sedimentasi jangka panjang) Apakah sudah diperhatikan soal ini? Jika sudah apakah program mitigasinya sudah dilaksanakan seperti pengerukan dasar sungai?


Sungai Batang Angkola dan sungai Batang Gadis adalah dua diantara sungai besar di Tapanuli bagian selatan. Dua sungai ini bertemu di (Rodang) Siabu yang kemudian melalui celah sempit yang ke hilir disebut sungai Singkuang (bermuara di kampong Singkuang). Celah sempit hanya sekitar 100 M lebarnya di atas ketinggian 10 M (171 M dpl) dari permukaan air sungai (161 M dpl). Sekitar 300 M dari jalan raya Siabu ketinggian area adalah 171 Mdpl (ketinggian air sungai Batang Angkola di desa Aek Badak sekitar 171 Mdpl; dan di desa Naga Juang ketiggian sungai Batang Gadis sekitar 171 Mdpl). Bisa dibayangkan jika celah sempit ini tersumbat oleh kayu gelondongan seperti yang terjadi di sungai Garoga yang menyebabkan ketinggian air di rodang Siabu naik 10 M. Dalam konteks inilah perlu dilakukan program mitigasi di kawasan Rodang Siabu terutama yang dekat dengan celah sempit.

Kawasan eks Rodang Siabu (pertemuan sungai Batang Angkola dan sungai Batang Gadis) dan kawasan eks Rodang Batang Toru (area antara sungai Batang Toru dengan sungai Batang Garoga) secara geomorfologis memiliki kawasan yang memiliki risiko terhadap banjir (bandang). Hal serupa juga dengan kawasan eks rodang antara sungai Batang Natal dengan sungai Batang Batahan dan tentu saja eks rodang di DAS Singkuang (hilir sungai Batang Gadis dan sungai Batang Angkola). Kedua rodang di kawasan pesisir pantai tersebut selain memiliki risiko banjir dari arah pegunungan juga risiko banjir dari lautan (tsunami). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar: