19/10/16

Simpang Siur Sumpah Pemuda, Ini Faktanya (4): Analisis yang Keliru dan Hasil Analisis yang Seharusnya; Sukarno dan Hatta Menghormati Parada Harahap

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sumpah Pemuda dalam blog ini Klik Disin

Parada Harahap (duduk paling kanan)
Putusan Kongres dari Kongres Pemuda (1928) dan Hari Sumpah Pemuda dari Kongres Pemuda (1953) adalah dua fakta yang berbeda waktu tetapi berkaitan. Sukarno dan Hatta tidak terlibat dalam dua kongres tersebut. Tokoh utama di latar belakang kedua kongres tersebut adalah Parada Harahap baik dalam Kongres Pemuda 1928 maupun dalam Kongres Pemuda 1953. Parada Harahap memfasilitasi Sukarno dan Hatta untuk membuka jalan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia melalui pembentukan PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia). PPPKI membuka ruang untuk diselenggarakannya Kongres Pemuda (1928). PPPKI juga membentuk ruang dalam penyelenggaraan Kongres Indonesia Raya (1833) yang menjadi wadah Sukarno dan Hatta untuk menjadi calon pemimpin Indonesia dalam terwujudnya kemerdekaan. Dalam mempertahankan kemerdekaan Parada Harahap mendukung Sukarno dan Hatta. Ketika dwitunggal Sukarno dan Hatta retak (1956), Parada Harahap tidak bisa berbuat. Parada Harahap menganggap Sukarno dan Hatta sama pentingnya. Parada Harahap tidak memihak (abstain) dalam soal retaknya dwitunggal: Sukarno-Hatta. Parada Harahap meninggal dunia tahun 1959. Sejak itu tidak ada lagi orang Indonesia yang kompetetn untuk pemersatu.

Analisis yang Keliru dan Hasil Analisis yang Seharusnya

Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919); Parada Harahap
Tiga tokoh paling penting (yang selalu muncul) dalam perjalanan kebangkitan bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan RI hingga mempertahankannya adalah Parada Harahap, Sukarno dan Hatta. Parada Harahap adalah senior, sedangkan Sukarno dan Hatta adalah junior. Parada Harahap adalah mentor politik Sukarno dan Hatta. Parada Harahap memahami sepenuhnya realitas, sedangkan Sukarno dan Hatta memahami sepenuhnya teoritis. Kombinasi realitas dan teoritis ini menjadi powerful dalam kebangkitan bangsa. Lantas kombinasi tiga tokoh paling revoluioner ini (Parada Harahap, Sukarno dan Hatta) menjadi powerful dalam proses (percepatan) mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Parada Harahap (berdasarkan perjalanan dirinya melawan kolonialisme sejak 1916) mengembangkan gagasan dan memunculkan ide mempersatukan semua organisasi kebangsaan dan mempelopori terbentuknya Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) sebagai wadah bersama (semacam perahu) bagi semua orang Indonesia baik yang berasal dari organisasi kebangsaan bersifat kedaerahan (seperti Boedi Oetomo, Sumatranen Bond) maupun organisasi (politik) bersifat nasional (seperti PSI dan termasuk PNI).

Partai Nasional Indonesia (PNI) adalah partai politik pertama Indonesia didirikan di Bandung tanggal 4 Juli 1927. Namanya pada waktu itu adalah Perserikatan Nasional Indonesia diketuai oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo. Klub pelajar (sarjana) yang dikenal Algemeene Studie Club yang diketuai oleh Ir. Soekarno ikut bergabung dalam PNI. Tahun 1928 Perserikatan Nasional Indonesia diubah menjadi Partai Nasional Indoensia. Pada tahun 1929 Sukarno tokoh PNI (ketua) ditangkap, diadili dan dipenjarakan di Sukamiskin. Tahun 1931 Sukarno digantikan Sartono dan membubarkan PNI lalu membentuk Partai Indonesia (Partindo), tetapi Hatta membentuk PNI Baru yang disebut Partai Pendidikan Indonesia.     

Ketika PPPKI (sekretaris Parada Harahap) akan melaksanakan kongres pertama PPPKI (Kongres PPPKI) tanggal 28 Oktober 1928, Parada Harahap menginisiasi dua kongres yang lain di waktu yang bersamaan dengan Kongres PPPKI (senior), yakni Kongres Pemuda (junior) dan Kongres Perempuan.

Pada saat itu, Parada Harahap memiliki portofolio paling tinggi dari semua orang Indonesia di Batavia (revolusioner, memiliki surat kabar bertiras paling tinggi, Bintang Timoer, pengusaha, Ketua Kadin pribumi Batavia dan memiliki koneksi luas dengan tokoh-tokoh penting, alumni Belanda seperti Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon, Dr. Abdul Rivai, Husein Djajadiningrat, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dan Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (pendiri Indisch Vereeniging di Belanda, 1908). Kemudian MH Tamrin serta dua tokoh penting alumni STOVIA Dr. Radjamin Nasution dan Dr. Soetomo. Juga Hatta yang sama-sama Sumatranen Bond di pantai barat Sumatra (Sumatranen Bond didirikan Sorip Tagor Harahap di Belanda, 1917) dan Sukarno yang kerap mengirim tulisan ke Bintang Timur. Di kalangan pelajar Parada Harahap sangat dekat terutama Amir Sjarifoeddin (sekolah hokum). Parada Harahap sebelum hijrah ke Batavia adalah editor surat Kabar Benih Merdeka dan majalah Perempuan Bergerak di Medan (1918) dan pemilik surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919). Saat itu, Parada Harahap adalaj jurnalis paling banyak terkena delik pers, dimejahijaukan puluhan kali dan belasan kali masuk penjara.

Tiga kongres tersebut berjalan lancar. Parada Harahap menghadirkan Sukarno berpidato dalam Kongres PPPKI, meminta hadir M. Hatta hadir dalam Kongres Pemuda dan mendudukkan Amir Sjarifoeddin sebagai bendahara komite Kongres Pemuda. M. Hatta yang terhalang oleh pemerintah Belanda di Leiden mengirim utusan Ali Sastroamidjojo ke Kongres Pemuda. Parada Harahap meminta bantuan Maria Ulfah (alumni Belanda) untuk mengoganisir Kongres Perempuan.

Kongres Pemuda melahirkan keputusan yang diberi nama Putusan Kongres (yang menjadi inti Sumpah Pemuda yang sekarang: Satu Bangsa, Satu Tanah Air dan Satu Bahasa). Konsep Putusan Kongres itu dibuat M. Yamin. Kongres PPPKI sendiri berhasil mewujudkan kesatuan dan persatuan Indonesia serta mengagendakan diadakannnya Kongres Indonesia Raya.

Sukarno dan Hatta tidak terkait dengan Kongres Pemuda. M. Hatta (PPI Belanda) tidak bisa hadir dalam Kongres Pemuda, Sukarno hadir dan berpidato dalam Kongres PPPKI. Amir Sjarifoeddin dan M. Yamin dalam Kongres Pemuda adalah ‘penyambung lidah’ Parada Harahap. Amir Sjarifoeddin (golongan pemuda Bataksch Bond) sebagai bendahara komite Kongres Pemuda pembiayaannya dari Parada Harahap dan kawan-kawan (PPPKI dan Kadin pribumi Batavia). M. Yamin (golongan pemuda Sumatranen Bond) menyusun konsep putusan Kongres Pemuda yang mana Parada Harahap sendiri adalah sekretaris Sumatranen Bond (yang juga merangkap sekretaris PPPKI).

Beberapa tokoh pemuda berbicara (pidato) dalam Kongres Pemuda, diantaranya M. Yamin yang membahas bahasa dan pendidikan, serta Amir Sjarifoeddin yang membahas hukum adat. Dalam isi Putusan Kongres, bahasa, pendidikan dan hukum adat termasuk yang dijadikan rujukan. Sukarno hanya terkait dengan Kongres PPPKI.

Parada Harahap sangat mengidolakan tiga tokoh pemuda terpelajar (masih muda) yang bersifat revolusioner: Sukarno, M. Hatta dan Amir Sjarifoeddin. Dalam hubungan ini ketiga tokoh itu dilibatkan dalam Kongres PPPKI (yangemutuskan dan mengagendakan Kongres Indonesia Raya, suatu kongres semua partai politik); Kongres Pemuda yang menghasilkan Pustusan Kongres (satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa). Satu hal yang penting dari dua kongres itu lagu Indonesia Raya akan diperdengarkan di dalam dua kongres tetapi karena tidak kondusif dalam Kongres PPPKI (di ruang terbuka yang dihadiri 2000an orang) maka Indonesia Raya hanya diperdengarkan di Kongres Pemuda (di dalam ruangan tempat pemuda berkongres). Komposer lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman.

Parada Harahap juga adalah mentor politik WR Supratman. Awalnya, WR Supratman seorang jurnalistik di Bandung yang kemudian direkrut Parada Harahap agar hijrah ke Batavia. Parada Harahap yang telah mendirikan kantor berita Alpena (1925) diangkat sebagai editor. Selama di Jakarta, WR Supratman tinggal di rumah Parada Harahap. Setelah Alpena ditutup, WR Supratman bekerja sebagai koresponden di surat kabar Bintang Timur (milik Parada Harahap) dan juga di surat kabar berbahsa Melayu Ken Po (dimiliki oleh orang-orang Tionghoa). Ketika Ken Po mengalami delik pers, Parada Harahap yang menjadi pengacaranya (pembela) di mahkamah. Parada Harahap adalah orang yang meminta WR Supratman untuk menggubah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu kebangsaan diperlombakan, ketua panitia adalah Parada Harahap. Pemenang adalah WR Supratman dan runnerup adalah Nahum Sitomarang. Ketika WR Supratman meninggal di Surabaya (1938) tiga orang berbicara di pemakaman: Parada Harahap, Dr. Soetomo dan Dr. Radjamin Nasution. Parada Harahap datang dari Batavia, Dr. Soetomo kepala rumah sakit di Surabaya, Dr, Radjamin Nasution, anggota senior (wethouder) dari anggota dewan pribumi (gementeeraad) Surabaya. Kelak, Dr. Radjamin menjadi walikota pribumi pertama di Surabaya. Pemakaman Dr. Radjamin Nasution berada di sisi WR Supratman (pemakaman penduduk, bukan Taman Pahlawan).    

Setelah era Belanda, era pendudukan Jepang dan masa perang kemerdekaan (agresi militer Belanda) hingga pengakuan kedaulatan RI (Desember 1949) serta pasca pengakuan kedaulatan tersebut tidak pernah lagi diselenggarakan Kongres Pemuda. Baru pada tahun 1953 Kongres Pemuda diadakan di era kemerdekaan.

Kongres Pemuda tahun 1953 diorganisir oleh AM Hoetasoehoet dan kawan-kawan yang dikomandoi dan didukung oleh Parada Harahap. AM Hoetasoehoet adalah seorang wartawan yang juga menjadi mahasiswa Akademi Wartawan di Jakarta. Inilah akademi wartawan pertama di Indonesia. Saat itu, Parada Harahap tidak hanya sebagai pimpinan (direktur) Akademi Wartawan tetapi juga ketua organisasi perguruan tinggi swasta (Kopertis). AM Hoetasoehoet adalah kepala administrasi surat kabar Indonesia Raya milik Mochtar Lubis.

Ali Mochtar Hoetasoehoet direkrut oleh Parada Harahap di Padang Sidempuan (kampong halaman Parada Harahap). Pada saat itu, ibukota RI di pengungsian dipindahkan ke Bukittinggi setelah Jogjakarta dikuasai oleh Belanda (Presiden Sukarno ditangkap dan diasingkan ke Danau Toba). Wakil Presiden Hatta meminta Om Parada Harahap (demikian Hatta memanggil Parada Harahap sebagai Om) untuk menerbitkan majalah Detik di Bukittinggi sebagai media agar perjuangan republik Indonesia tetap bisa dikomunikasikan ke kantong-kantong republik. Parada Harahap mendatangkan percetakan dan logistic dari Padang Sidempuan. Di dalam delegasi Padang Sidempuan ini termasuk para pelajar dikerahkan (sebagaimana diketahui saat itu Tapanuli belum dimasuki Belanda dan menjadi pusat utama perlawanan republic di Indonesia). Salah satu pelajar itu adalah AM Hoetasoehoet yang turut membantu Parada Harahap. Ketika militer Belanda awal tahun 1949 memasuki kota Padang Sidempuan, para pelajar di Bukittinggi ini pulang dan ikut berjuang mengangkat senjata. AM Hoetasoehoet menjadi pimpinan tentara pelajar Padang Sidempuan. Ketika dimaklumkan genjatan senjata (dalam proses KMB di Den Haag) pertempuran dihentikan. Perang di Padang Sidempuan boleh jadi merupakan satu perang yang belum selesai di kantong-kantong republik di seluruh Indonesia. Pertempuran Padang Sidempuan sangat heroic dan melakukan pembakaran bangunan-bangunan yang dianggap potensial digunakan militer Belanda (Padang Sidempuan Lautan Api seperti Bandung Lautan Api). Mengapa begitu, karena Padang Sidempuan adalah pertahanan terakhir RI dan sekaligus menjaga ibukota RI di Bukittinggi. Lalu kemudian, setelah pengakuan kedaulatan AM Hutasoehoet hijrah ke Jakarta. Awalnya AM Hutasoehoet bekerja dengan Parada Harahap lalu diminta membantu Mochtar Lubis di surat kabar Indonesia Raya. Sambil bekerja, AM Hutasuhut kuliah jurnalistik di akademi wartawan milik Parada Harahap. Kelak AM Hutasuhut mendirikan sekolah tinggi jurnalistik yang kemudian berkembang menjadi IISIP Lenteng Agung (tempat dimana kuliah Andy F Noya, wartawan Tempo/Media Indonesia dan host Kick Andy). AM Hutasuhut mengabulkan permintaan Andy F Noya ketika ingin kuliah di IISIP (karena latar pendidikan yang tidak sesuai, STM). Kegigihan Andy yang ingin kuliah jurnalistik membuat lulu hati AM Hutasuhut dan menerimanya sebagai mahasiswa. Demikianlah jika para pejuang melihat calon pejuang.

Hasil Kongres Pemuda tanggal 27 Oktober 1953 adalah keputusan untuk melakukan sumpah kesetiaan (hari itu) dan memperingati 25 tahun lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya (esoknya) tanggal 28 Oktober. Dalam sumpah kesetiaan ini, inti dari isi Putusan Kongres 1928 yang menyatakan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa dijadikan isi Sumpah Pemuda. Pada saat inilah (27 Oktober) Sumpah Pemuda untuk kali pertama diikrarkan (secara bersama dari peserta yang hadir). Teks Sumpah Pemuda itu sendiri menjadi: SUMPAH PEMUDA, Pertama: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATU, TANAH INDONESIA. Kedoea: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. Ketiga: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOEN-DJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.


Disebut tanggal 28 Oktober 1953 sebagai kali pertama diikrarkan. Hal ini karena pada tanggal 28 Oktober 1928 dulu para pemuda yang telah berhasil melakukan Kongres Pemuda tidak pada posisi berikrar seperti tahun 1953. Pada tahun 1928 hanya merupakan sebuah pembacaan keputusan kongres dari hasil Kongres Pemuda itu sendiri. Oleh karenanya teks Putusan Kongres 28 Oktober 1928 lebih panjang jika dibandingkan dengan teks Sumpah Pemuda yang diputuskan pada tanggal 27 Oktober 1953 dan akan diikrarkan (dibacakan secara bersama-sama) pada tanggal 28 Oktober 1957.

Pada tanggal 28 Oktober 1953 sendiri adalah peringatan tajun ke-25 lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya yang pada hari itu juga para pemuda berikrar (membacakan secara bersama-sama) Sumpah Pemuda. Oleh karenanya, tanggal 28 Oktober 1953 juga disebut hari Sumpah Pemuda. Sejak tahun itu, setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda (bukan Hari Putusan Kongres).    .

De nieuwsgier, 21-10-1953 Pemuda Indonesia memperbaharui kesetiaan. pertemuan komite eksekutif Front Pemuda Indonesia membuat keputusan untuk memesan Mai. bertemu untuk menjaga orang-orang muda di Jakarta pada malam tanggal 27 Oktober sebagai Kata pertemuan akan perwakilan dari semua organisasi pemuda menghadiri di ibukota dan bertujuan ulang tahun 25 th lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya dan yang hari sumpah pemuda, untuk memperingati hari pemuda Indonesia bersumpah kesetiaan kepada bangsa dan tanah air. Dalam pertemuan tersebut, sumpah setia, keputusan diambil pada kongres pemuda di Jakarta pada 27 Oktober 1928, diperpanjang sumpah pemuda ini mengakui: satu tanah air: negara Indonesia, satu orang, bangsa Indonesia dan satu bahasa: bahasa indonesia. [Dalam berita ini juga; Dalam studio RRI Jakarta akan mengatur program khusus sebagai bagian dari peringatan Hari Sumpah Femuda]’.

Dengan demikian, semua anggapan atau opini yang berkembang dalam tahun-tahun terakhir ini bahwa seakan teks Sumpah Pemuda diplintir (diselewengkan) dari isi Putusan Kongres Pemuda tahun 28 Oktober 1928 tidak berdasar. Faktanya adalah bahwa teks Sumpah Pemuda adalah teks yang diikrarkan ketika para pemuda melakukan sumpah kesetiaan. Ini berarti pada tahun 1953 para pemuda telah memperbarui kesetiaan pemuda dengan cara bersumpah, yang bersumpah tentang satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

Dengan segala hormat kepada ahli sejarah yang telah bekerja keras di dalam bidangnya, tetapi untuk soal Sumpah Pemuda beberapa ahli sejarah telah mensistesis bahan (fakta) secara keliru. Kekeliruan menyimpulkan besar kemungkinan karena kurangnya data (fakta) yang dimiliki sehingga untuk menggambarkan fakta menjadi tidak seutuhnya.

Hal lain yang keliru disimpulkan oleh para analis dan ahli sejarah, seakan-akan Sumpah Pemuda merupakan rekayasa dari Sukarno. Memang betul saat itu, Sukarno adalah Presiden RI, tetapi di dalam hari Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) Sukarno tidak terkait. Yang berkongres, yang memutuskan dan yang bersumpah (Sumpah Pemuda) pada tanggal peringatan lagu kebangsaan Indonesia Raya (28 Oktober 1953) adalah murni para pemuda (tanpa dihadiri oleh presiden dan bahkan tanpa dihadiri oleh satu pun para pejabat negara (menteri).

Para menteri dan bahkan presiden, sejak hari sumpah para pemuda itu memanfaatkan hasil dan kegiatan kongres pemuda 1953 karena momentumnya pasa dengan kebutuhan presiden dan para anggota cabinet untuk memperkuat kesatuan dan persatuan ketika berbagai isu muncul bersamaan seperti disintegrasi, demonstrasi dan protes dari kalangan militer. Selain itu, pemerintah khususnya presiden sangat membutuhkan kesetiaan pemuda, kesatuan dan persatuan pemuda dalam rangka membebaskan Irian Barat yang terus dipermainkan oleh Belanda (mengingkari keputusan KMB tahun 1949).

Gencarnya sosialisasi (kampanye) pemerintah yang mengedepankan begitu pentingnya kesetiaan pemuda yang telah bersunpah (Sumpah Pemuda) seakan-akan pihak pemerintahlah yang merekayasa peringatan hari Sumpah Pemuda. Padahal kenyataannnya tidak demikian. Pemerintah (presiden) hanya sekadar memanfaatkan dan melakukan sosialisasi (kampanye) dan para pemudalah yang berinisiatif untuk melakukan kongres sendiri dan memutuskan sendiri dan melakukan sumpah kesetiaan sendiri.

Parada Harahap: Tokoh Pemersatu Indonesia
Tentu saja ada yang berinisiatif untuk perlunya memperbarui kesetiaan pemuda Indonesia (setelah melalui era Belanda, era pendudukan Jepang, era proklamasi, era Belanda kembali, era republik Indonesia Serikat dan era Republik) karena para pemuda sudah begitu longgar setiap era yang berbeda dan terkotak-kotak kembali agar bersatu kembali seperti tahun 1927. Saat ini (1953) seorang pemersatu di tahun 1927 masih  hidup, aktif dan sangat dekat berbagai pihak yakni Parada Harahap. Sebagaimana diketahui Parada Harahap adalah mentor dari Sukarno dan Hatta di tahun 1927; Parada Harahap juga sangat dekat dengan pihak-pihak yang berseberangan dengan Sukarno, seperti AH Nasution, Mochtar Lubis. Selain itu, Parada Harahap adalah yang masih memiliki beberapa surat kabar/majalah adalah pendiri dan sekilagus pimpinan Akademi Wartawan. Parada Harahap yang menjadi ketua Kopertis juga sangat dekat dengan Menteri Pendidikan (M. Yamin). Singkat kata saat ini (1953) Parada Harahap adalah pemilik portopolio paling tinggi dalam munculnya kembali Kongres Pemuda (1953) sebagaimana Parada Harahap adalah pemilik portofolio paling tinggi tahun 1927 untuk mempersatukan semua organisasi kebangsaan dan organisasi pemuda.

Jika pada tahun 1927 ada Amir Sjarifoeddin, kini di tahun 1953 ada AM Hutasoehoet. Kongres Pemuda tahun 1953, peran AM Hutasuhut yang menjadi pimpinan mahasiswa Akademi Wartawan sangatlah besar. AM Hutasuhut yang mengorganisir para mahasiswa dan pemuda untuk melakukan Kongres Pemuda 1953. Kekuatan AM Hutasuhut dalam hal ini dibimbing oleh Parada Harahap.

AM Hutasuhut adalah pimpinan tentara pelajar yang dulu tahun 1948 membantu Parada Harahap dalam mengasuh surat kabar Detik (permintaan Om Hatta) di Bukitttinggi (ketika ibukota RI di pengungsian pindah darti Jogjakarta ke Bukittinggi).

AM Hutasuhut saat ini (1953) adalah pimpinan mahasiswa di Akademi Wartawan yang mana sebagai rektor adalah Parada Harahap. Disamping itu Parada Harahap adalah Ketua Kopertis dan saat itu M. Yamin adalah Menteri Pendidikan, Parada Harahap adalah juga mentor politik M. Yamin tahun 1927. Parada Harahap dalam hal ini memainkan peran penting kembali dalam hal kesatuan dan persatuan (utamanya melalui pemuda). Oleh karenanya, kesadaran Parada Harahap untuk membimbing Kongres Pemuda 1953 adalah salah satu upaya Parada Harahap untuk menyediakan situasi yang kondusif bagi Sukarno dan Hatta yang tengah mendapat ‘lawan’ yang berseberangan. Dua lawan utama adalah kalangan Militer (pimpinan AH Nasution) dan kalangan pers (pimpinan Mochtar Lubis).

AM Hutasuhut (1953) adalah generasi berikutnya dari pimpinan mahasiswa Indonesia sebelumnya. Pada tahun 1947 dua pimpinan mahasiswa membentuk dua organisasi mahasiswa yakni Lafran Pane dan Ida Nasution. Lafran Pane mendirikan HMI sedangkan Ida Nasution mendirikan PMUI. Jika ditarik ke belakang, pada tahun 1908, pimpinan mahasiswa adalah Sutan Casajangan dengan mendirikan organisasi mahasiswa yang disebut Indisch Vereeniging di Leiden, Belanda. Untuk sekadar diketahui, Sutan Casajangan, Lafran Pane, Ida Nasution dan AM Hutasuhut berasal dari kampong yang sama di afd. Padang Sidempuan (kini Tapanuli Bagian Selatan) yang juga menjadi kampuang halaman Parada Harahap. [Satu lagi kelak yang menjadi pimpinan mahasiswa adalah Hariman Siregar, kelahiran Padang Sidempuan yang menjabat Ketua Dewan Mahasiswa UI 1974, yang memimpin demonstrasi anti modal asing yang lebih dikenal sebagai Peristiwa Malari].    

Analisis-analisis inilah yang tidak pernah dilakukan oleh para ahli sejarah, entah sengaja mengesampingkan atau entah karena mereka memang tidak memiliki datanya. Kemungkinan kedua ini diduga yang menyebabkan mengapa mereka keliru menganalisis tentang Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda. Kemungkinan lainnya adalah mereka dalam melakukan analisis tidak mampu melihat relasi antar satu peristiwa dengan peristiwa lainnya yang saling terkait. Atau dengan kata lain dalam bahasa metodologi riset tidak mampu melihat hubungan antara variable karenanya tidak bisa mengujinya (menjelaskannya).

Presiden Sukarno Mengangkat Parada Harahap Sebagai Ketua Misi Ekonomi Indonesia ke Eropa

Parada Harahap dan Sukarno tidak bisa dipisahkan. Keduanya adalah berangkat dari pemuda Indonesia paling revolusioner. Parada Harahap selalu di tempat dan waktu yang tepat bagi Sukarno. Demikian juga sebaliknya, Sukarno berada di tempat dan waktu yang tepat jika membutuhkan dukungan Parada Harahap.

….(tunggu deskripsi lebih lanjut)

Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan Mantan Gubernur Sumatera Utara Abdul Hakim Harahap Memanggil AH Nasution dan Zulkifli Lubis; Abdul Haris Nasution Diangkat Kembali Menjadi KASAD

….(tunggu deskripsi lebih lanjut)

Dwitunggal Sukarno dan Hatta Retak dan Kemudian Terbelah

….(tunggu deskripsi lebih lanjut)

Parada Harahap Meninggal Dunia, Sukarno Mengusulkan Kongres Rakyat

….(tunggu deskripsi lebih lanjut)

Parada Harahap dan Radjamin Nasution Seharusnya Menjadi Pahlawan Nasional

….(tunggu deskripsi lebih lanjut)



*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: