06/10/16

Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (3): PON III di Medan; Gubernur Abdul Hakim Harahap Berinisiatif Membangun Stadion Teladan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Stadion Gelora Bung Karno (SGBK) dalam blog ini Klik Disin


PORI (kini KONI) merekomendasikan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pasca pengakuan kedaulatan RI akan diadakan di Jakarta (1951) dan Medan (1953). Setelah PON III di Medan penyelenggaraannnya diadakan setiap empat tahun. Penunjukan Jakarta dan Medan dalam hal ini sangat special, karena Indonesia baru terbebas dari penjajahan. Ada tiga tokoh penting yang harus dihargai oleh Sukarno yakni tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Mr. Assaat (Presiden RI), Dr. Abdul Halim (Perdana Menteri RI) dan Mr. Abdul Hakim Harahap (Wakil Perdana Menteri RI).  

Republik Indonesia (merah)
Indonesia pernah jadi dua Negara. Dua presiden, dua Perdana Menteri dan dua Wakil Perdana Menteri. Suatu kekeliruan yang harus direhabilitasi. Ketika dibentuk RIS (Republik Indonesia Serikat) yang beribukota di Jakarta, Sukarno dan Hatta ‘mengingkari’ Republik Indonesia (beribukota Jogjakarta) dan lebih memilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden di Jakarta (RIS). Sementara di Jogjakarta, ibukota Republik Indonesia (RI) di pengungsian tidak mau bergabung dengan (RIS) dan tetap Republik Indonesia (sejati). Sementara Sukarno dan Hatta menjadi presiden dan wakil presiden RIS di Jakarta, di Jogjakarta tetap berdiri RI yang mana Presiden adalah Mr. Assaat, untuk jabatan Perdana Menteri adalah Dr. Abdul Halim dan jabatan Wakil Perdana Menteri adalah Mr. Abdul Hakim Harahap. Ketika Sukarno dan Hatta menyadari telah terjadi ‘pengingkaran’ kemudian berbalik arah lalu membubarkan RIS yang baru berusia seumur jagung. Sukarno dan Hatta ‘pulang kandang’ dan Sukarno dan Hatta kembali menjadi Presiden/Wakil Presiden Republik Indonesia (RI). Pemerintah RI di Jogjakarta lalu membubarkan diri. Ini berarti Mr. Assaat, Dr. Abdul Halim dan Mr. Abdul Hakim Harahap adalah pemimpin Republik Indonesia yang terakhir di Jogjakarta.  

Tiga pemimpin terakhir RI di Jogjakarta ini lalu diapresiasi oleh Presiden Sukarno dengan mengangkat Mr. Abdul Hakim Harahap sebagai Gubernur Sumatera Utara (pertama setelah pengakuan kedaulatan RI), Sementara Dr. Halim ditunjuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan stadion nasional. Sedangkan Mr. Assaat yang telah berhasil mempelopori taman makam pahlawan dan masjid Suhada di Jogjakarta diberi tugas khusus untuk menjadi ketua komite (yayasan) pembangunan masjid nasional di Jakarta (yang kemudian diberi nama Masjid Istiqlal).

Keutamaan Medan Menjadi Penyelenggara PON III

Saat ini ketua komite (yayasan) Pembangunan Masjid  Nasional (kelak bernama Masjid Istiqlal) adalah Mr. Assaat dan ketua komite (yayasan) Pembangunan Stadion Nasional (kelak bernama Stadion Gelora Bung Karno) adalah Dr. Abdul Halim. Setelah PON II Jakarta, ibukota Sumatera Utara, Medan mendapat kehormatan menjadi tuan rtumah PON III. Kini, Gubernur Sumatera Utara adalah Mr. Abdul Hakim Harahap akan menjadi ketua komite (yayasan) Pembangunan Stadion Teladan Medan (yang akan dijadikan venue penyelenggaraan PON III tahun 1953). Dengan demikian, lengkap sudah tiga pemimpin RI (terakhir di Jogjakarta) untuk menjabat sebagai tiga hal utama dalam prestise nasional (yang bersifat monumental): Masjid Nasional, Stadion Nasional dan Stadion Teladan Medan. Jakarta dan Medan adalah dua kota tonggak sejarah awal RI, di dua kota ini kemenangan RI ditegakkan. Itulah arti khusus dua kota dengan tiga pemimpin RI di mata Presiden Sukarno.

Gubernur Abdul Hakim Harahap
Penunjukkan Kota Medan sebagai tempat penyelenggaraan PON III (pertama di luar Jawa) karena di Medan sendiri telah terjadi proses politik yang dinamik yang dimenangkan oleh RI. Sementara itu, dari sudut pandang pusat (Yogyakarta/Jakarta) Medan adalah kota kedua (setelah Jakarta) yang memiliki gengsi dimana RI berada, baik keluar (terhadap penjajah Belanda) maupun di dalam negeri (terhadap orang/kelompok yang tidak menginginkan kesatuan dan persatuan RI). Penunjukkan pusat (Presiden Sukarno dan KONI) mendapat respon positif di Medan karena tiga tokoh penting di Medan sangat siap. Tiga tokoh penting ini adalah Gubernur Abdul Hakim Harahap, Residen Sumatera Timur, Muda Siregar dan Ketua Front Nasional Medan, GB Josua Batubara. Ketiga tokoh politik ini (sejak era kolonial Belanda) sangat intens membina olahraga khususnya sepakbola. Dalam perang kemerdekaan (angresi miter Belanda) tiga tokoh olahraga ini berjuang habis-habisan mengusir Belanda dalam posisi: Abdul Hakim Harahap sebagai Residen Tapanuli, Muda Siregar, Bupati Tapanuli Selatan, dan GB Josua Batubara sebagai Ketua Front Nasional Medan.

Persiapan PON III Medan

GB Josua ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) yang ketiga di Medan. Dalam kepantiaan ini termasuk Abdoel Wahab Siregar (Kepala Dinas Informasi di Medan) dan Mustafa Pane (Kepala Kepolisian di Medan). Mr GB Joshua berterima kepada Gubernur atas amanah ini dan akan menunjukkan dan meyakinkan bahwa anggota komite akan mengerahkan upaya terbaik untuk PON III sukses (Het nieuwsblad voor Sumatra, 24-01-1952).

Dalam masa persiapan PON III ini, Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Sultan Hamengku Buwono IX (Sultan Djogja) berkunjung di Medan. Di bandara pagi ini (Het nieuwsblad voor Sumatra, 30-01-1952) HB IX disambut Residen Sumatra Timur, Muda Siregar mewalili Gubernue dan Ketua Panitia PON III, GB Josua. Tujuan kedatangan untuk melakukan pembicaraan dengan Gubernur Sumatra Utara, Abdul Hakim Harahap tentang pembangunan stadion, perumahan atlet dan pembiayaan. Jumlah peserta dalam kompetisi multi sport event ini akan diharapkan, bahkan lebih besar daripada di Jakarta, di mana 2.500 atlet ambil bagian di PON II.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 15-04-1952: ‘PON III kemungkinan akan diselenggarakan di Medan pada bulan Juni atau Juli 1953 yang ditetapkan di Stadion Jalan Radja. Rencana lokasi stadion ini berada di selatan dari pemakaman di jalan Radja (sebelah kiri ke arah Tandjong Morawa) yang akan membangun stadion permanen, yang diproyeksikan menelan biaya sekitar Rp 5 juta. Hal ini diumumkan oleh Mr GB Joshua, Ketua Panitia Pelaksana PON, kemarin sore pada konferensi pers sehabis pembicaraan dengan delegasi Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dengan panitia PON. Azis Saleh (bertindak sekretaris Komite Olimpiade Indonesia) menjelaskan bahwa organisasi PON III sepenuhnya keputusan panitia. KOI hanya menyediakan pedoman, semua keputusan akan diambil oleh Bapak Joshua c.s. Bulan September 1953 adalah target untuk PON III (seperti yang terjadi dengan PON I dan PON II), tetapi karena hujan di Sumatra Timur, mereka berharap untuk menjaga festival olahraga di sini dua atau tiga bulan sebelumnya. Sekretaris KOI ini menekankan tujuan PON melampaui olahraga itu sendiri, yakni meningkatkan persatuan nasional merupakan faktor yang tidak kalah penting. Dengan PON ribuan orang muda dari seluruh bagian negara akan bersama-sama dan mereka melihat wilayah Indonesia, di mana mereka mungkin sebelumnya tidak pernah datang. Di Jakarta sekitar 2500 atlet ambil bagian dalam PON II; jumlah peserta dalam PON III mungkin akan melebihi 3.000. Mr GB Joshua menyatakan bahwa diharapkan 50.000 orang penonton, dan lebih dari 4.000 tamu dari tempat lain (atlet, pejabat, dll) yang membutuhkan perumahan selama di Medan. Bagaimana cara dimana menyelesaikan masalah perumahan, Mr. Joshua masih belum bisa memberikan informasi yang pasti. Juga tentang anggaran dan cara bagaimana untuk mendapatkan dana yang diperlukan, tidak ada rincian yang dapat diberitahu. Agaknya, secara total diperlukan sebanyak Rp 7 juta. Pemerintah pusat hanya menyediakan sebanyak Rp 750.000.

GB Josua adalah orang yang sangat bersahaja dan datang dari keluarga biasa di Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean. Lahir di Hoetapadang, selolah rakyat di Sipirok, sekolah guru (kweekschhol) di Fort de Kock, Hogere Kweekschhol di Poeworedjo, dan mendapat akte Lager Onderwijs di Groningen. GB Josua tidak hanya cerdas, tetapi juga konsisten sebagai republik. Seorang guru, mantan anggota Dewan Kota Medan, sekretaris PMI, pemilik Josua Instituut dan kini tengah menjabat sebagai Ketua PON III. Itu ternyata tidak cukup, atas dedikasinya sebagai pejuang pendidikan di Sumatra Utara, GB Josua diangkat pemerintah sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sumatra Utara.

De nieuwsgier, 29-04-1952: ‘Dengan keputusan Gubernur Sumatra Utara (Abdul Hakim Harahap), GB Josua, direktur SMP Josua Instituut di Medan terhitung sejak Mei tahun 1952, diangkat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Noord Sumatra’.

GB Josua adalah kepala dinas pendidikan yang kedua di Sumatra Utara. Inilah jabatan paling tinggi bagi seorang guru. GB Josua telah mendapatkannnya dan layak untuk memperoleh itu. GB Josua sebagai Ketua PON III tidak menghalangi GB Josua rangkap jabatan. GB Josua adalah tipikal anak-anak Padang Sidempoean. GB Josua mendapatkan hak ini tidak karena Abdul Hakim (Harahap) sebagai Gubernur Sumatra Utara, tetapi kedua orang bersahabat ini memang sudah sama-sama berjuang di Dewan Kota Medan tahun 1934-1938. Keduanya adalah ‘gibol’ dan pernah sama-sama menjadi Ketua Klub Sahata Medan (di era Belanda).

Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-05-1952: ‘Kemarin, Mr GB Yosua diangkat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Utara, menggantikan Mr. Ismail Daulay, yang menjalani studi ke Amerika. Banyak pihak berwenang menghadiri upacara tersebut, diantaranya: Gubernur Abdul Hakim, Residen Binanga Siregar, Kepala Informasi Abdul Wahab Siregar, Bupati Wan Umaruddin Barus, Walikota Djaidin Poerba. Mr GB Joshua menyatakan pengangkatannya diadakan pertimbangan yang lama, karena alasan sulit baginya meninggalkan sekolah yang ia didirikan dan memimpinnya bertahun-tahun untuk mengucapkan selamat tinggal. GB Josua lalu kemudian membahas kesulitan pengajaran di Sumatera Utara. Di provinsi ini sekarang ada sekitar 3.000 sekolah dengan 650.000 siswa dan tingkatnya jauh di bawah sebelum perang. Sekarang puasa dan dengan demikian pendekatan awal program baru, perhatian tentang masalah ini, bahwa perbaikan yang dibuat, ada kekurangan guru dan jumlah besar, serta kualitas. Mr Joshua juga menekankan kelemahan perawatan. M. Siregar, Inspektur Pendidikan di Sumatera Utara, mewakili teman-teman yang lain diminta memberikan sambutan. Akhirnya, Pak Joshua disumpah di hadapan Residen sumpah jabatan’.

Sangat berat bagi GB Josua melepaskan fungsinya di Josua Instituut. Akan tetapi masalah dan tantangan pendidikan Sumatra Utara juga tidak mudah dilakukan setiap orang. Hanya GB Josua yang pantas untuk itu. Inilah saatnya kembali bagi GB Josua berjuang kembali di bidang pendidikan pasca perang (pengakuan kedaulatan Republik Indonesia).

Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-07-1952: ‘Dalam rangka persiapan PON III di Medan tahun depan (1953) diadakan pasar malam dari tanggal 9 sampai 24 Agustus di Tanah Lapang Merdeka (Esplanade). Komite pasar malam ini diketuai oleh GB Josua.

Pembangunan Stadion Teladan Medan

Gubernur Abdul Hakim dan GB Josua bahu membahu menyukseskan PON III di Medan. Duo anak Padang Sidempoean ini sudah sangat akrab sejak era Belanda ketika duduk bersama sebagai angota Gementeeraad Medan. Orang-orang Eropa khususnya Belanda masih banyak yang berdiam di Medan untuk mengurusi perkebunan. Abdul Hakim dan GB Josua ingin lapangan sepakbola di Medan dibuat dengan konsep stadion internasional. Tujuannya untuk melengkapi tradisi sepakbola di Deli dan Oost Sumatra dan juga untuk menunjukkan harkat bangsa di mata para eskpatriat di Medan. Untuk mewujudkan itu, Abdul Hakim dan GB Josua meminta arsitek terkenal di Batavia untuk membangun stadion mewah di Medan.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1952 (Gubernur meletakkan batu pertama untuk stadion): ‘Kemarin sore selama satu jam, Gubernur Abdul Hakim dalam upacara singkat, meletakkan batu pertama untuk fondasi stadion PON yang akan dibangun di tempat di Jalan Raja Medan yang bertempat di kampung Teladan. Walikota Djalaluddin mengucapkan terima kasih kepada warga Kampung Teladan untuk kesediaan mereka untuk pindah ke tempat lain untuk memungkinkan pembangunan stadion layak bagi pekan olahraga nasional tahun depan di Medan. Setelah itu ia meminta gubernur Abdul Hakim meletakkan batu pertama. Akhirnya, Mr GB Josua, ketua komite PON menyampaikan beberapa pernyataan tentang stadion baru. Desainnya dibuat oleh Ir. Bwan Tjie Lim, yang juga merancang stadion Ikada di Jakarta (venue PON II). Persiapan pembangunan sudah dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Utara bekerjasama dengan otoritas yang relevan dan dengan bantuan badan resmi dan pribadi. Biaya konstruksi diperkirakan sekitar Rp 5 juta. Stadion ini akan memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 30.000 penonton’.

Penggalangan Dana PON III

Pemerintah pusat hanya menyediakan Rp 750.000 sementara untuk pembangunan stadion sendiri membutuhkan biaya Rp 5. Juta. Untuk memenuhi kebutuhan banyak cara yang dilakukan oleh Panitia PON untuk mengumpulkan uang untuk dana PON. Selain sumbangan awal pemerintah, juga menjajaki dari pengusaha dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya seperti pasar malam, fashion show dan lain sebagainya.

Ketua Panitia PON, GB Josua telah menerima cek sebesar 20.718. Uang ini merupakan penghasilan dari bulan sebelumnya diadakan untuk kepentingan pekan olahraga nasional ketiga di Medan kegiatan fashion show’.

Akhirnya stadion yang dicita-citakan Abdul Hakim menjadi terwujud. Penyerahan stadion dilakukan ke Panitia PON.

Stadion Teladan Medan (1953)
Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1953 (Overdracht van PON-stadion): ‘Setelah upacara di pemakaman (Taman Makam Pahlawan), pihak berwenang melanjutkan kemarin ke stadion untuk serah terima resmi oleh yayasan pembangunan stadion kepada panitia PON. Lalu diadakan pidato oleh pengembang, bahwa tepat setahun lalu, yaitu, pada tanggal 17 Agustus 1952 batu pondasi untuk stadion PON diletakkan oleh gubernur. Sekarang kami berada di sini bersama lagi untuk kekhidmatan mortaring dokumen dan mentransfer stadion untuk panitia PON. Untuk stadion ini adalah 300.000 batu bata. 14.000 kantong semen, 6.000 M3 pasir, 300.000 Kg baja dengan total panjang 40 Km yang digunakan. Setelah Gubernur memberikan gambaran tentang sejarah stadion, dokumen itu disampaikan dan diserahkan kepada Bapak Abdul Hakim. Lalu berturut-turut pidato Pak Damanik, Kolonel Simbolon, dan Mr. GB Joshua. Setelah upacara ini serah terima resmi stadion disampaikan Residen kepada Ketua Panitia PON, Mr. GB Josua. Setelah Mr GB Josua beberapa kata diucapkan, upacara berakhir’.

Dengan selesainya pembangunan stadion (Teladan Medan), penyelenggaraan PON III  yang dijadwalkan 20-27 September 1953 tidak akan menemui kendala. Dari pusat, Ketua KOI, Sultan Hamengku Buwono telah datang ke Medan untuk memastikan segala persiapan tentang penyelenggaraan PON III.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-08-1953: ‘Sabtu diadakan diskusi komite PON Medan dengan Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Sultan Hamengku Buwono IX Sultan Yogyakarta tiba di sini. Dalam pertemuan ini, yang dipimpin oleh Mr GB Josua, ketua panitia PON, dilaporkan pada persiapan untuk PON. Adapun perumahan tidak mengalami kesulitan, telah ada kebutuhan bertemu saat tambahan diadakan beberapa gedung sekolah di cadangkan. Setiap bangunan, di mana atlet ditampung, akan berada di bawah pengawasan medis. Untuk olahraga sendiri telah membuat beberapa perubahan kecil, seperti tata letak ruang ganti. penjualan tiket masuk untuk pembukaan (seperti Minggu) sudah akan dimulai Sabtu di stadion’.

Sukarno Kembali ke Medan

Sukarno tidak asing dengan Kota Medan. Kali ini adalah kunjungan ketiga Sukarno di Medan. Sukarno datang ke Medan kali pertama tahun 1948 sebagai tahanan politik Belanda yang kemudian dipindahkan ke Berastagi dan selanjutnya ke Parapat. Kunjungan kedua, Sukarno datang ke Medan pada tahun 1951 setelah pengakuan kedaulatan dan Negara Sumatera Timur dibubarkan. Pada kunjungan ketiga ini, Sukarno datang untuk membuka PON III. Di bandara, Presiden disambut oleh Gubernur Abdul Hakim Harahap. Sukarno dan nyonya menginap di rumah gubernur.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-09-1953: ‘Pagi ini pukul sebelas Presiden dan Ibu Soekarno di Medan tiba untuk kunjungan dari satu hari ke kota ini pada kesempatan pembukaan PON III besok. Di bandara, Presiden disambut oleh perwakilan dari berbagai organisasi. The band militer mengumandangkan Indonesia Raya dan kemudian Presiden secara resmi disambut oleh Gubernur Abdul Hakim, Walikota Djalaluddin dan Kolonel Simbolon. Untuk Ibu Soekarno ditawarkan bunga oleh Nyonya Djalaluddin. Setelah Presiden Sukarno memeriksa barisan kehormatan, Presiden disambut otoritas lain yang telah berbaris di panggung. Mereka, antara lain Sultan Yogyakarta (Ketua Komite Olimpiade Indonesia), Mr GB Josua, ketua komite PON, beberapa pejabat pemerintah, anggota korps konsuler negara sahabat. Setelah Vort bersama di rumah gubernur, tamu sekitar pukul dua belas dibawa ke tempat peristirahatn mereka (di rumah Gubernur). Kita diberitahu Presiden Soekarno besok (Minggu) akan kembali pukul setengah satu dari Medan ke Jakarta’.

Presiden Sukarno tampak nyaman di Medan, tidak ada ketakutan seperti di daerah lain. Sukarno sangat santai di rumah Gubernur Abdul Hakim Harahap. Sukarno dikelilingi oleh republiken sejati, seperti Abdul Hakim Harahap dan GB Josua Batubara. Namanya Sukarno, setiap kesempatan selalu dimanfaatkannnya untuk berpidato, tidak terkecuali di rumah Gubernur.

Rumah dinas Gubernur Sumatera Utara
Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-09-1953 (Malam untuk PON): ‘Perayaan benar-benar dimulai sebelum hari Sabtu, dan bahwa pertemuan semua delegasi dan pejabat di rumah gubernur, dimana Presiden dan Ibu Soekarno telah tinggal, dan dimana semua anggota partai presiden dan banyak tamu-tamu terhormat lainnya Medan, serta pemerintah daerah, diundang. Taman rumah gubernur sebagai arena festively diterangi, dan atlet dari Indonesia berada di sekitar deck besar, dimana penyanyi dan penari dari berbagai daerah akan ambil bagian. Pak Jusuf A. Puar, kepala publisitas PON tak kenal lelah berdiri untuk memberikan penjelasan tentang program untuk malam ini, mulai pukul tujuh tiba-tiba  hujan. Tiga ribu atlet, pejabat dan penonton lari ke aula besar dimana, beberapa otoritas tinggi dan anggota partai presiden yang dipertahankan, dalam sekejap begitu penuh, tidak ada langkah bisa berbuat lebih banyak. Bersorak antusias naik ketika Presiden dan Ibu Soekarno memasuki ruangan. Dia duduk di sofa, dimana telah ditinggikan setengah meter dari tanah. Itu dimaksudkan untuk melihat Presiden dalam suasana yang sangat santai dan sangat dihargai dari perwakilan olahraga Indonesia dengan menyebut "Bung" sekarang benar-benar berada di tengah-tengah mereka. Kepala publitas Mr. Puar berbicara bahwa selama bertahun-tahun program ini (penyelenggaraan PON III) telah dipersiapkan dengan baik untuk membuat lebih dikenal, kini program ini, sejauh ini bisa dilakukan. Kemudian berpidato Mr. GB Yosua, Ketua Umum Panitia PON, Presiden kemudian naik ke ke podium. Dia menunjukkan hadirin tentang betapa pentingnya kenyataan bahwa sekarang wakil olahraga dari seluruh wilayah Indonesia - kecuali Irian Barat - berkumpul untuk menguji kekuatan mereka. Dia menekankan ukuran negara: peta Indonesia, hampir seluruh Eropa, membentang dari barat pantai Irlandia ke Kaukasus. Dan dia sangat bersikeras mempertahankan dan memperkuat satu kesatuan nasional, dimana Presiden dalam pidatonya masih beberapa kali menyentuh masalah Irian. Setelah Presiden Sukarno berpidato, kemudian lagu-lagu rakyat yang dimainkan oleh perwakilan dari berbagai program daerah. Dalam suasana nyaman, riang, suasana hati, mereka tinggal selama beberapa waktu bersama-sama’.

Sukarno Membuka PON III Medan

Sukarno tenang dan sumringah ketika datang ke stadion untuk membuka PON III di Medan. Sukarno dikawal tiga tuan rumah: Gubernur Abdul Hakim Harahap, Ketua Panitia GB Josua Batubara dan Panglima Teritorial Sumatera Utara, Kolonel Maludin Simbolon. Dari pusat, Sukarno membawa tiga ‘pengawal’ utama yang berasal dari Sumatera Utara: Mantan Panglima Hizbullah, Zainul Arifin Pohan (Wakil Perdana Menteri), Kepala Staf Angkatan Perang, Jenderal TB Simatupang dan Kepala Staf Angkatan Darat, Mayjen Abdul Haris Nasution.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-09-1953 (Di dalam stadion): ‘Kondisi cuaca hampir ideal, sebuah awan tinggi memberinya kesempatan matahari bersinar terlalu terang untuk fokus pada atlet dan penonton yang hadir terbesar pada Minggu pagi dalam upacara di stadion baru yang indah, pekan olahraga nasional ketiga dibuka. Bahkan sebelum fajar, puluhan ribu warga Medan datang dengan jalan kaki atau dengan sepeda ke stadion, dimana pada pukul enam gerbang dibuka. Ketika Presiden Soekarno dan otoritas tinggi lainnya - tiga menteri, Kepala Staf Angkatan Perang (Jenderal TB Simatupang) dan kepala staf dari tiga angkatan bersenjata (termasuk Mayjen AH Nasution) menghadiri upacara termasuk delapan pintu masuk tribun, empat puluh atau lima puluh ribu penonton hadir.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-09-1953 lebih lanjut melaporkan sebagai berikut: Di tepi lapangan sepakbola, di seberang pintu masuk utama, berdiri podium, dan juga mengatur diri mereka sendiri presiden bagian dari panitia PON dan para pemimpin dari tiga belas tim (provinsi) yang berpartisipasi. Staf memainkan musik Indonesia Raja atas kedatangan Presiden, yang kemudian oleh Bapak GB Joshua, ketua komite PON dan Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua Olimpiade Komite Indonesia, dan pemimpin tim. Sekali lagi Presiden telah mengambil tempat duduknya di tribun, prosesi besar peserta mulai. Mereka masuk melalui pintu gerbang maraton.

Pawai dibuka oleh perwakilan dari daerah, dimana diadakan pertama PON tahun 1948: Jawa Tengah. Di depan adalah pramuka dengan tanda ‘Djawa-Tengah’, kemudian datang bendera daerah ini, diapit oleh dua pengintai, dan kemudian tim dengan 350 atlet (yang terbesar dari semua daerah) berseragam hijau dan putih menyeberangi - topi hijau, jaket hijau dan celana putih atau rok -. membuat kesan yang sangat baik dan hangat bertepuk tangan. Kemudian datang 215 peserta Djakarta, semua putih, tim Jawa Barat (dengan 347 pria dan wanita, terbesar kedua) dan Jawa Timur. Tim jauh lebih kecil dari Borneo Kalimantan Barat (resp. 68 wanita dan 66 laki-laki) menarik perhatian dengan topi besar, baik dibentuk variasi, lalu 116 pria dan wanita dari Maluku tampak sangat rapi dengan dasi biru dan topi rapi, sementara perjalanan mereka dalam melewati tribune. Tim dari Sulawesi Utara dan diikuti Sulawesi Selatan dan kemudian datang pertama kontingen Sumatera: Sumatera Selatan dengan baju olahraga putih, seperti Jawa Tengah, berikutnya Sumatra Tengah dengan jaket olahraga berwarna hijau dan putih dan hijau di atas celana putih atau rok. Tim terkecil dari Kepulauan Nusateggara yang terdiri dari 43 laki-laki dengan topi besar, yang kedua berlangsung. Dan kemudian akhirnya muncul, termasuk sorakan menggelegar, 155 atlet Sumatera Utara (tuan rumah), yang pemimpinnya Mr Yahya Jakoeb dengan baju olahraga putih.

Setelah semua tim berlalu di lapangan sepakbola tampak berada barisan membawakan alunan lagu kebangsaan, dinyanyikan oleh paduan suara, bendera merah-putih dinaikkan perlahan di salah satu dari dua menara besar di sisi selatan stadion. Pada saat yang sama, bendera itu sudah berada di atas, matahari menembus awan. Mr GB Yosua memasuki mimbar lalu memberi sambutan kepada Presiden Sukarno dan Ibu, menteri, kepala staf, gubernur dan tamu terhormat lainnya. Dia menyebutnya sebagai kehormatan besar bagi Sumatera Utara telah menyelenggarakan PON ketiga ini, berbicara tentang kerjasama dalam persiapan dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang dan organisasi yang telah bekerja sama. GB Josua mengakhiri untuk meminta Presiden untuk secara resmi membuka PON III.

Lalu Presiden Sukarno berpidato singkat, setelah mencatat bahwa stadion siap dan semua persiapan telah selesai: ‘Ini saya menyatakan pekan olahraga nasional ketiga di Medan dibuka’. Kemudian datang bendera PON ke stadion. Di pintu gerbang maraton muncul delegasi kecil atlet, dikawal oleh pramuka, dengan kotak kayu yang indah menyandang senjata PON. Kotak itu sungguh-sungguh diserahkan kepada Mr Joshua, yang mengambil bendera di sana dan memberikan kepada pramuka. Bendera ditempatkan, dan dilakukan delapan pramuka perlahan ke tiang besar kedua. Di sana mereka perlahan-lahan di antara acara puncak PON hymne dimainkan oleh staf yang jumlah besar dan musik yang dinyanyikan oleh paduan suara. Begitu suara terakhir member komando, di sisi lain stadion, beberapa ratusan merpati dilepaskan. Sementara tiga balon besar (masing-masing umbul dengan kata-kata PON III Medan dan puluhan balon kecil naik di udara saat yang sama menembakkan baterai artileri, yang merupakan pintu masuk utama kota 13 gun salut. Balon-balon mengungguli merpati, banyak merpati menolak untuk terbang jauh, sementara yang lain canggung beterbangan di sekitar, mendarat di tribun.

Sementara itu, program dilanjutkan dengan sumpah. Seorang atlet dari Sumatera Utara memasuki mimbar, dengan satu tangan pada bendera atas nama semua peserta sungguh-sungguh berjanji adil untuk bersaing untuk kehormatan negara dan kebesaran olahraga untuk menjunjung tinggi. Dia menjelaskan sumpah ini melawan. latar belakang bendera dari semua tim yang berpartisipasi. Para atlet kemudian meninggalkan lapangan untuk memberikan ruang bagi siswa dari Medan, yang akan memberikan demonstrasi. Hal ini dilakukan pertama kali oleh ribuan anak laki-laki dari sekolah dasar. Setelah itu ribuan perempuan dari sekolah menengah dengan musik waltz mereka memberi demonstrasi yang sangat baik, mereka dihargai dengan tepuk tangan meriah. Dan ini adalah pembukaan seremonial PON, yang tentu saja dari semua sisi difoto dan difilmkan antara lain dari perusahaan Pipercub Inggris di Deli.

Penutupan PON III Medan

Setelah seminggu penyelenggaraan PON III Medan, tiba waktunya untuk ditutup. PON III Medan dianggap berlangsung sukses, meski tuan rumah Sumatera Utara tidak juara umum, tetapi tuan rumah telah memberikan penghormatan yang layak bagi tamu semua kontingen dari berbagai daerah.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-09-1953 (PON III ditutup dan PON IV akan diadakan 1957 di Makassar): ‘Dalam stadion menghadiri upacara penutupan PON III berakhir, lebih dari dua ribu atlet, yang pekan lalu telah mengukur kekuatan mereka di dua puluh olahraga, kembali ke rumah-rumah mereka kembali, dan pemuda Indonesia dapat bekerja untuk pecan olahraga nasional keempat, yang tidak diragukan lagi lagi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Perlu empat tahun di mana untuk mempersiapkan PON IV, karena Sultan Hamengku Buwono IX, ketua Komite Olimpiade Indonesia, membuat sore kemarin mengumumkan bahwa mereka hanya akan diadakan pada tahun 1957, yaitu di Makassar. Pengumuman ini adalah salah satu highlights dari upacara penutupan di stadion Medanse. Bahwa kemarin adalah lebih lengkap dari sebelumnya di lapangan untuk tribun dari orang penonton dan pejabat, pramuka, polisi dan militer untuk sepakbola. Lalu. wasit bersiul akhir pertandingan sepakbola, penonton dari semua sudut tumpah lapangan mengalir berharap keberuntungan Sumut, dan butuh beberapa waktu untuk situs dibersihkan lagi. Setelah Sultan Hamengku Buwono memberikan emas, perak dan perunggu kepada masing-masing pemain Sumatera Utara, Jakarta Raya dan Jawa Timur, upacara penutupan dimulai hanya enam gerbang berbaris tiga belas bendera tersampir di lapangan, masing-masing disertai dengan laki-laki dan perempuan dari athleeit di daerah adalah. Pertama 'adalah bendera Jawa Tengah, Daerah PON I. Bendera terbungkus gers menempatkan diri dalam formasi tapal kuda di sekitar panggung, di mana ketua Komite Olimpiade Indonesia, Sultan Hamengku Buwono, Walikota Medan, AM Djalaluddin dan Ketua Komite PON, Mr. GB Yosua juga mengambil tempat. Berikutnya, mereka pergi di atas meja untuk menandatangani bendera dari daerah mana PON akan diadakan, dan orang-orang di mana PON IV akan berlangsung. Sultan Hamengku Buwono berbicara melalui pengeras suara untuk menjelaskan PON III secara resmi ditutup. Dia mengucapkan terima kasih kepada Sumatera Utara untuk keramahan, dan kemudian secara resmi mengumumkan bahwa PON IV tahun 1957 akan digelar di Sulawesi Selatan (Makassar). Bendera PON bendera, yang selama delapan hari di stadion telah dikibarkan, secara resmi diturunkan dan dilipat dan artileri menembakkan lima hormat senjata. Kemudian staf musik dari territorum Bukit Barisan memainkan hymme PON - seperti upacara pembukaan - dinyanyikan oleh paduan suara campuran. Pramuka membawa bendera ke podium di mana presiden Komite Olimpiade menyerahkan sungguh-sungguh kepada Walikota Medan. Bendera ini akan disimpan di Medan sampai tiba waktunya akan dibawa ke Makassar pada tahun 1957. Nada dari mars PON dan tiga belas bendera berbaris diturunkan dan akhirnya semua hadirin keluar dari stadion. PON III telah berakhir’

Bersambung:


Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (4): Tim Irian Barat Bertanding di Stadion IKADA
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (5): Lima Perdana Menteri Pidato di Hadapan Pemuda di IKADA
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (6): Tim Nasional PSSI di Rusia; Sukarno Pidato di Stadion Moskow dan Stadion Beijing 
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (7): Tim Nasional Sepakbola Amerika Serikat di Jakarta;
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (8): PPRI/Permesta; Sumpah Setia 17 Agustus 1945 Sebagai Sumpah Pemuda Untuk Memperbarui Kesetiaan Pemuda
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (9): Pembangunan Stadion Besar, Konpensasinya Komunis Dilindungi; PON IV di Makassar
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (10): Perdana Menteri Rusia Kritik Stadion Indonesia; Asian Games Prestise Sukarno
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (11): Membangun Stadion dengan Pinjamana dari Uni Soviet
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (12): Pembukaan Asian Games; Wakil Perdana Menteri Rusia Hadir
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (13): Indonesia Keluar dari IOC; Malaysia Menuduh Sukarno Neokolonialis
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (14): Berpidato di Stadion, Sukarno Dukung Komunis; Stadion IKADA Dibongkar Membangun Monas
Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Ini Faktanya (15): Supersemar 1967, Sukarno Tamat; Belanda Tidak Mau Membantu Penyelesaian Stadion


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: