29/06/15

Adinegoro: Dari Bintang Timoer (PARADA HARAHAP) ke Pewarta Deli (DJA ENDAR MOEDA) dan The Last of the Mohicans (MOCHTAR LUBIS)



1957
Bagian pertama: Adinegoro adalah tokoh pers Indonesia. Adinegoro adalah nama samaran dari Djamaloedin. Di Batavia, Adinegoro berkiprah di pers pertama kali di koran Bintang Timoer (milik Parada Harahap) pada tahun 1929. Namun tidak lama, karena Abdullah Loebis dari Pewarta Deli di Medan menginginkan Adinegoro sebagai editornya yang baru. Adinegoro memulai kerja di Pewarta Deli tahun 1930 dan hanya sampai tahun 1933. Adinegoro pulang kampong, dan mengasuh koran di Padang hingga berakhirnya pendudukan Jepang. Pasca proklamasi kemerdekaan, Adinegoro hijrah (kembali) ke Batavia/Jakarta.Setelah keluar dari koran Merdeka, wartawan Adinegoro, pada bulan Oktober 1947, bersama kawan-kawan menerbitkan koran Mimbar Indonesia.

Mochtar Lubis (1956)
Bagian kedua: Sementara Mochtar Lubis (lahir di Sungai Penuh, Kerinci, Jambi 1922) setelah lulus sekolah menengah tahun 1940 hijrah ke Batavia dan bekerja di sebuah bank milik bangsa Belanda. Pada waktu pendudukan Jepang, Mochtar Lubis menjadi redaktur radio militer Jepang. Kemudian pasca kemerdekaan, Mochtar Lubis menjadi wartawan kantor berita Antara (pimpinan Adam Malik). Oleh karena kesibukan Adam Malik mengurus republik, posisi Adam Malik sebagai direktur digantikan oleh Mochtar Lubis. Pada saat Belanda datang kembali, Mochtar Lubis dan anak buahnya ditangkap (Juli 1947) dan kantor berita Antara ditutup (tidak jelas alasan penutupan oleh Belanda).Mochtar Lubis lalu menjadi wartawan koran Merdeka. Tidak lama kemudian, kantor berita Antra diizinkan kembali beroperasi (Maret 1948) dan berduet kembali dengan Adam Malik.Pada bulan Desember 1949 (pasca pengakuan kedaulatan RI), Mochtar Lubis menjadi kepala editor koran Indonesia Raya. Di koran inilah, bakat jurnalistik Mochtar Lubis tumbuh kembang menjadi wartawan internasional yang paling kritis dan pemberani.

***
Pewarta Deli adalah koran yang dirintis oleh Dja Endar Moeda di Medan yang diterbitkan pertamakali pada tahun 1910. Pewarta Deli adalah koran pribumi berbahasa Melayu pertama di Medan. Sedangkan koran berbahasa Melayu pertama adalah Pertja Timor yang terbit tahun 1902. Koran Pertja Timor investasi asing (Eropa/Belanda) sangat kuat. Koran Pertja Timor mencapai puncaknya ketika ditangani oleh seorang pribumi bernama Mangaradja Salamboewe (1903-1908).  Namun mantan jaksa di Natal ini tidak berumur panjang karena meninggal muda pada tahun 1908. Setelah Mangaradja Salamboewe, anak dari Dr Asta Nasoetion ini tiada kinerja Pertja Timor lambat laun menurun. Lalu, peluang ini dilihat oleh Dja Endar Moeda, lalu menerbitkan koran Pewarta Deli.

Dja Endar Moeda adalah editor pribumi pertama Pertja Barat yang terbit di Padang tahun 1897. Koran berbahasa Melayu ini pertama kali terbit tahun 1894. Pada tahun 1900 Pertja Barat beserta percetakannya diakuisisi oleh Dja Endar Moeda menjadi milik sendiri. Setelah memiliki Pertja Barat, Dja Endar Moeda menambah medianya tahun 1901 mingguan Tapian Na Oeli (di Sibolga) dan bulanan Insulinde di Padang. Pada tahun 1904, Dja Endar Moeda menambah dua buah lagi medianya, yakni koran berbahasa Belanda, Sumatraach Nieusblad di Padang dan tahun 1905 koran Pembrita Atjeh di Kotaradja (Banda Aceh).  Pada tahun 1906, Dja Endar Moeda menerbitkan Sumatraasch Nieuwsblad di Medan. Inisiatif ini muncul, karena Sumatraasch Nieuwsblad di Padang cukup berhasil bersaing dengan Sumatra Bode (investasi Belanda, suksesi Sumatra Courant). Sumatra Post dan Deli Courant di Medan sangat kuat sehingga Sumatraasch Nieuwsblad tidak terlalu berkembang, hingga muncul ide menerbitkan Koran Pewarta Deli. Di Medan, Pewarta Deli mampu menyaingi Pertja Timor.

Editor pertama Pewarta Deli adalah Dja Endar Moeda kemudian digantikan oleh Panoesoenan, lalu kemudian Soetan Parlindoengan hingga akhirnya dijabat oleh Adinegoro.  

Adinegoro dari Bintang Timoer ke Pewarta Deli

Nama Adinegoro tiba-tiba muncul ke permukaan tak kala sebuah koran memberitakan kepindahan dari Bintang Timoer ke Pewarta Deli sebagai editor. Yang memainkan peranan dalam kepindahan Adinegoro ini adalah Abdullah Loebis, pimpinan Pewarta Deli di Medan dan Parada Harahap di Bintang Timoer di Batavia.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13-05-1930: ‘M. Kanoen, saat editor majalah adat, Pewarta Dcli, segera pindah ke Dcli Courant. Dalam hubungan ini, diam di Batavia direktur organ Inlandsch, yaitu Pak Abdullah Lubis, anggota Dewan Kota Medan. Tujuannya adalah untuk menemukan editor di sini untuk korannya. Sebuah hadir-pagi di kota tersebar "buletin" Revue Politik, sebuah koran mingguan lokal adat independen, melaporkan bahwa Mr. Adinegoro tiba-tiba meninggalkan posnya dari editor Bintang Timur. Dia mungkin telah memutuskan untuk pergi ke Medan ada untuk mengambil alih dari Pewarta Dcli sendiri. Abu muncul jumlah Politik Revue akan diberitahu tentang lanjut terutama hadir.

Parada Harahap
Lantas apakah wartawan asal Padang Sidempoean sudah kehabisan stok? Tidak. Ini semata-mata karena keinginan dari Parada Harahap dan Abdullah Loebis. Tahun 1930. di Medan, persaingan antara komunitas Tapanoeli dengan komunitas Minangkabau semakin meningkat. Kehadiran Adinegoro di Medan diharapkan akan dapat menjadi penyeimbang antara Tapanoeli vs Minangkaboew. Parada Harahap dan Abdullah Loebis adalah nasionalis yang menekankan pertingnya persatuan dan kesatuan. Visi ini sama dengan senior mereka dulu Dja Endar Moeda yang telah lama tiada (meninggal tahun 1926 di Kotaradja).

Parada Harahap pernah mengingatkan pada tahun 1918 (ketika Parada Harahap) masih di Benih Mardeka. Bahwa antara Tapanoeli dan Minangkabau harus menurunkan ketegangan. Sementara itu, pada waktu itu Soetan Parlindoengan dari Pewarta Deli untuk menurunkan konflik antara yang Islam dan Kristen karena yang menjadi ‘musuh bersama’ adalah Belanda. Parada Harahap penyeimbang antara Tapanoeli vs Tapanoeli dan Soetan Parlindoengan penyeimbang antara yang Islam dan Kristen. Kini, tahun 1930, ketegangan ini terus ada: Parada Harahap dan Abdullah Loebis memainkan peran dengan menghadirkan Adinegoro di Medan.

Parada Harahap dan Adinegoro

Siapa Adinegoro? Dia bukanlah pemuda asal Djawa, tetapi asal Minangkabau yang nama kecilnya Djamaloedin. Dia adalah alumni Stovia, mahasiswa yang baru pulang studi jurnalistik di Eropa.

De Indische courant, 13-09-1929: ‘Mr Djalaloedin, dikenal sebagai Adinegoro telah empat tahun di Eropa (W├╝rzburg, Jerman) belajar jurnalisme. Menurut surat kabar Melayu, pertengahan Oktober diharapkan kembali (ke tanah air). Mr Adinegoro asal dari Padang. Hal ini belum diketahui dimana ia akan menetap setelah kembali’.

Setelah tiba di tanah air, Adinegoro bergabung dengan Bintang Timoer dibawah pimpinan Parada Harahap. Hal ini terkait dengan semakin sibuknya Parada Harahap untuk urusan yang lebih besar: urusan organisasi pergerakan. Parada Harahap sehari-hari adalah figure wartawan, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi. Bahkan sejak 1917 Parada Harahap adalah ketua bond pekerja perkebunan di Medan, lalu pada tahun 1923 sebagai ketua bond Sumatra di Sibolga. Di Batavia, Parada Harahap juga menjadi ‘perwakilan’ Tapanoeli di bond Sumatra.

Bataviaasch nieuwsblad, 13-01-1925 (De Indische Associatie Vereeniging): ‘Kemarin malam di Oost-Java Restaurant een diadakan pertemuan yang mengumpulkan asosiasi-asosiasi di Nederlandsch Indie. Di dalam pertemuan ini dibicarakan AD/ART program dan struktur kepengerusan. Program meliputi kegiatan poolitik yang sehat, pengembangan pendidikan, pelatihan kejuruan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar. Disamping itu untuk mempromosikan tingkat kesehatan, kesejahteraan, hubungan keuangan negara dengan daerah dan lainnya. Kepengurusan: voorzitter, PJA Maltimo; secretaries, Tb van Nitterlk; penningmeester, Mohamad Ramli; commissarissen: Parada Harahap, Raden Goenawan, Oey Kim Koel, JK Panggabean, Pb. J Krancber dan A. Chatib’.

Sumatra Bond adalah organisasi fungsional untuk memperjuangkan daerah melalui Bond dengan Volksraad (di Batavia) dan Gementeeraads (di berbagai kota) di Sumatra. Di bawah naungan bond, juga terdapat organisasi pemuda/pelajar. Pelajar-pelajar dari Sumatra yang tergabung dalam bond pemuda/pelajar antara lain Mohamad Yamin, Amir Sjarifoedin, Mohamad Hatta

Seorang anggota gementeeraads di Medan, bernama Abdullah Loebis, pimpinan Pewarta Deli membutuhkan seorang editor. Melalui koneksi ini kemudian, Adinegoro membuat kesepakatan baru antara Parada Harahap (Bintang Timoer) dan Abdullah Loebis (Pewarta Deli).

Di Batavia, untuk tugas editor banyak pilihan. Untuk Bintang Timoer diangkat lagi editor baru dan untuk koran baru (berbahasa Belanda) yang dimiliki Parada Harahap juga diangkat editor. Namun untuk ke Medan, untuk tugas editor dengan misi khusus, hanya ada satu, yakni: Adinegoro.

De Indische courant, 25-09-1930: ‘Volkscourant di Batavia, seperti yang kita baca di AID dijual kepada Mr. Parada Harahap. Sehubungan dengan ini maka Java Express (edisi Belanda Bintang Timoer) berhenti beroperasi. Volkscourant sekarang berpindah ke Krekot. Aneta, 25 September melaporkan bahwa kemitraan baru Volkscourant di Weltevreden akan terbit 1 Oktober dalam format yang lebih besar’. [Volkscourant adalah nama baru dari De Courant yang sebelumnya kepala redakturnya adalah A. Weeber].

Bataviaasch nieuwsblad, 26-11-1930 (persdelict): ‘Mr. Parada Harahap dan Kontjosoengkono masing-masing CEO dan editor Bintang Timoer kontra Mr. CW Wormser, directeur editor Alg. Ind. Dagblad di pengadilan kemarin. Koran edisi Belanda, Bintang Timoer digugat yang dalam hal ini Koentjosoengkono, asisten editor karena dianggap menghina Mr Wormser. Mr. Kontjosoengkono didenda f 20 dan penjara kurungan selama 10 hari’.

De Sumatra post, 06-01-1931: ‘Mr Parada Harahap berdiri untuk keseratus kalinya di meja hijau. Kali ini Parada Harahap dipanggil ke pengadilan karena korannya memuat iklan tagihan hutang. Si penagih hutang digugat karena dianggap mencemarkan nama dan juga editor Bintang Timoer, Parada Harahap juga diseret. Ketika dituduhkan Parada Harahap ikut bertanggungjawab karena iklan itu menjadi pendapatannya. Parada menjawab: Bagaimana saya bertanggungjawab?. Polisi mencecar: ‘Anda kan direktur editor?’ Ya, tapi saya hanya bertanggung jawab untuk bagian jurnalistik, jawab Parada Harahap. Bagian administrasi bertanggungjawab untuk iklan. ‘Ah, kata Sheriff, ‘tanya sekarang, setuju bahwa di koran Anda muncul iklan cabul, apakah Anda akan mengatakan tidak bertanggung jawab?. Oh, kalau soal itu tanggungjawab saya’.

Dalam kiprahnya di Medan, Adinegora tampaknya lambat panas, mungkin masih konsolidasi di ‘dalam negeri’ di Medan. Adinegoro sebagai pendatang baru butuh adaptasi. Sementara, mentornya, Parada Harahap di Batavia terus memiliki inisiatif dan menggagas didirikannya organisasi wartawan nasional. Koran Bintang Timoer adalah yang terbaik untuk koran pribumi.

Dalam kongres di Semarang ini, organisasi wartawan dibentuk, dengan Mr Saeroen sebagai ketua dan Bapak Parada Harahap sebagai sekretaris dan bendahara. Komisaris adalah  Bakrie, Yunus dan Koesoemodirdjo (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18-07-1931 (Congres Inlandsche Journalisten). Soerabaijasch handelsblad, 05-11-1931 (Een en ander over de Inlandsche Pers): ‘Bintang Timur telah menjadi salah satu yang terbaik adalah hanya karena Parada Harahap’.

***
Parada Harahap sudah berjuang sejak umur 17 tahun dalam kasus Poenali Sanctie. Berperang dengan pena yang tajam. Lebih dari seratus kali berada di meja hijau. Parada Harahap hanya berpendidikan sekolah rakyat, tetapi kemampuan berpikirnya jauh dari seorang mahasiswa di perguruan tinggi. Parada Harahap umurnya hanya beda dua tahun lebih tua dengan Soekarno, tetapi pengalamannya tentang arti kemerdekaan jauh melampaui Soekarno dan Hatta. Parada Harahap tahu betul siapa yang seharusnya memimpin bangsa pada waktunya.

Parada Harahap adalah sekretaris PPPKI yang berkantor di Gang Kenari dan tentu saja yang mengatur potret siapa yang seharusnya dipajang. Ketika ada oknum yang menurunkan potret Soekarno dan Hatta dari dinding, Parada Harahap air matanya menangis bagaikan seorang ayah yang menangisi anak-anaknya yang dilecehkan oleh orang lain. Parada Harahap adalah orang yang turut membesarkan Soekarno dan Hatta. Parada Harahap berhak untuk menangisinya.

De Indische courant, 27-11-1931 (De nationalist Hatta):’Di antara pemimpin cemerlang, Hatta, seorang Sumatra, dianggap oleh banyak kalangan, setelah Ir Soekarno sebagai yang paling sesuai sebagai pemimpin Inlandsch baik saat ini maupun masa datang. Di dalam gedung pertemuan permufakatan di gang Kenari *c, potret Ir. Soekarno dan Dipo Negoro telah dipajang bertahun-tahun, diambil dari dinding dan disembunyikan di bawah. Tindakan ini telah membawa banyak keributan di antara penduduk pribumi, bahkan wartawan Parada Harahap di majalahnya menulis dalam ‘Surat Terbuka’ telah menginformasikan bahwa, saat melihat tempat pajangan telah kosong, air mata menangis dan pelaku  diduga telah melakukan tindakan kejahatan keji ini akan dicari di kalangan partai. Mr. Sartono menyangkal semua itu tindakan partainya dan menolak untuk membawa potret itu (kembali) ke tempat asalnya. Dan sekarang bahkan potret Hatta telah berdebu di bawah meja’.

Pers pribumi terus diawasi, dikebiri jika terlalu kencang menyoal pemerintahan.  Pada tahun 1932 sejumlah surat kabar dilarang terbit. Pewarta Deli di Medan yang digawangi oleh Adinegoro aman, tetapi tidak dengan Koran yang dipimpin oleh Parada Harahap dan Ir. Soekarno.

De Sumatra post, 13-06-1932 (Verboden periodieken en bladen): ‘Pihak berwenang militer pada kenyataannya hampir seluruh rakyat pribumi ditempatkan pada daftar hitam, diduga melarang. Lembar dan majalah yang dilarang adalah sebagai berikut : Persato'an Indonesia, Simpaj, Sedio Tomo, Aksi, Indonesia Moeda, Balai Pemoeda Bandoeng, Garoeda, Garoeda Smeroe, Garoeda Merapi, Sinar Djakarta, Indonesia Merdeka, Impressa, Soeloeh Indonesia Moeda, Keng Po, Sim Po, Warna Warta, Sinar Terang, Indonesia Raja, Soeara Merdeka, Daulat Ra'jat, Banteng Indonesia, Panggoegah Ra'jat, Banteng Ra'jat, Darmo Kondo, Haloean, Kaperloean Kita, Mustika, Pahlawan (dengan pcmoeda Kita), Soeara Kita, Priangan Tengah, Soeara Oemoera, Soeara Oemoem Jav. Editie, Sipatahoenan, Medan Ra'jat, dan Fikiran Ra'jat djeung pergeraken Ir. Soekarno. Seperti dapat dilihat, termasuk kedua suratkabar Melayu yang pribumi dan Chineesch. Di antara majalah yang bisa dibaca Bintang Timoer (Parada Harahap) dan Siang Po, baik yang muncul di Batavia, bahkan majalah Fikiran, anggota tubuh Dr Ratu Langi di Manado, adalah tabu. Majalah lainnya adalah organ nasionalis, semua link bahkan diucapkan sebagai arah revolusioner’.

Pembicara dalam Rapat Partai Indonesia di Medan dan diinvestigasi atas dugaan terlibat komunis

Dalam tahun ini di Medan diadakan rapat umum Partai Indonesia, Adinegoro hadir sebagai pembicara bersama pembicara lain, Gatot Mangkoe Pradja dan Mohammad Jamin’.

De Sumatra post, 04-07-1932: ‘Mr Adinegoro dari Pewarta Dcli mengambil sejarah gerakan asli di layar singkat. Apakah pembangunan di awal sangat lambat, yang kemudian masuk ke rnarschtempo, meskipun pukulan berat, yang mendapat gerakan’.

Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 05-07-1932: ‘Medan. Pada pertemuan Partai Indonesia hadir Gatot Mangkoe Pradja, Mohammad Jamin dan Adinegoro sebagai pembicara’.

Mohamad Jamin (alumni Recht Hogeschool, Batavia, lulus 1932) dan Adinegoro alumni STOVIA (1921- 1926) dan German (1926-1930) adalah abang-adik. Adinegoro yang alumni German dan anggota PPI (Persatoean Peladjar Indonesia) setelah berada di tanah air terus ‘dikejar’ karena dikhawatirkan Belanda terkait dengan fasis. German adalah musuh laten Belanda. Ketika Adinegoro di Medan, sasaran diarahkan kepadanya yang dikaitkan dengan adanya dugaan terlibat komunis, karena pemilikan paspor bercap Moskow.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20-09-1932: ‘Sebagaimana diberitakan Deli Courant, di rumah dan kantor redaktur Pewarta Deli di Medan, Djamaloedin alias Adinegoro, mantan editor Bintang Timoer, karena dugaan kepemilikan paspor rahasia yang bercap Moskow dan lambang pemerintah Soviet dengan domisili Batavia. Dia mengakui bahwa selama toer di Eropa dia juga ke Moskow, Wina dan lainnya. Menurut pemberitahuan lebih lanjut dalam Dcli Courant adalah tidak ditemukan mencurigakan’.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 21-09-1932 melaporkan dari Soeara Oemoem, Soerabaia. Dr. Soetomo mengatakan Adinegoro cukup untuk mengetahui bahwa dia tidak tahu komunis. Tapi pengadilan masih ingin membuktikan’.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 21-03-1933: ‘Aneta tanggal 21 mentransmisikan dari Medan, Deli Courant melaporkan bahwa investigasi politik juga dilakukan di percetakan Cina yang menemukan ribuan brosur tentang Wilde Scholen Ordonnantie disita yang ditulis oleh Adinegoro’.

Adinegoro adalah mewakili karakteristik baru pers pribumi. Ini berbeda dengan era Dja Endar Moeda dan Parada Harahap yang lahir dari tengah masyarakat (rakyat). Sedangkan Adinegoro dipandang sebagai pers yang lahir dari kalangan pelajar/mahasiswa (baik yang studi di Nederland maupun yang studi di Nedelandsch Indie (Hindia Belanda). Pada waktu itu di Hindia Belanda sudah ada beberapa perguruan tinggi, selain STOVIA (NIAS di Soerabaija) sudah ada RHS, dan sekolah-sekolah pertanian di Buitenzorg. Mereka yang lulusan perguruan tinggi ini menyuarakan lewat tulisan di koran-koran maupun majalah-majalah yang mana beberapa diantaranya memiliki penerbitan sendiri atau menjadi editor seperti Adinegoro.

Parada Harahap adalah tokoh penting pergerakan pemuda/pelajar. Parada Harahap hanyalah berpendidikan sekolah rakyat (tiga tahun), tetapi Parada Harahap sangat menyadari arti penting pendidikan terutama pendidikan tinggi. Para tokoh pemuda/pelajar inilah yang ditimang-timang Parada Harahap untuk calon pemimpin bangsa. Pemuda/pelajar dari Sumatra tidak sulit bagi Parada Harahap untuk berkomunikasi dengan mereka, karena pemuda/pelajar bagian dari bond Sumatra, dimana Parada Harahap adalah tokoh penting Sumatranen Bond.

Ketika Parada Harahap menggagas didirikannya PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia), dan posisinya sebagai sekretaris, interaksinya tidak hanya sebatas pemuda/pelajar dari bond Sumatra, tetapi juga dari bond-bond lain seperti Java, Pasoendan, Minahasa, Ambon dan lainnya.

Bataviaasch nieuwsblad, 26-09-1927: ‘Minggu di Weltevreden para pemimpin yang berbeda dari serikat pribumi bertemu di Batavia di rumah Mr Djajadiningrat. Diputuskan untuk mendirikan organisasi yang terdiri dari para pemimpin dari berbagai serikat pribumi, dengan ketua komite adalah MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap. The  serikat:  Budi Utomo, Pasundan, Kaoern Betawi, Sumatranenbond, Persatoean Minahasa, Sarekat Amboncher dan NIB.

Organisasi yang digagas Parada Harahap ini yang disebut PPPKI adalah organisasi yang menyelenggarakan kongres PPPKI yang parallel dilakukan dengan kongres pemuda. Kongres pemuda ini kemudian menghasilkan sumpah pemuda: satu nusa, satu bahasa dan satu bangsa. Parada Harahap dalam hal ini berada di belakang layar, siapa-siapa pemuda yang dinominasikan untuk berbicara dalam kongres pemuda, seperti diketahui sejumlah pemuda telah berbicara dalam kongres PPPKI seperti Soekarno, Mohamad Yamin dan Ali Satromidjojo (wakil PPI).

***
Soal tanah air, banyak ahlinya, tetapi soal tanah air di media, Parada Harahap jagonya. Hanya Parada Harahap yang bergelora dan berani memainkan penanya yang tajam ke depan hidung pers Belanda.  Sejak tulisan Parada Harahap (tentang isu fascism) yang dimuat di Java Boed dan disarikan oleh De Indische courant, 17-09-1925, pers Belanda terus mengikuti sepak terjang Parada Harahap. Perang sesama pers (Pribumi vs Eropa/Belanda ) terus memanas. Parada Harahap dalam hal ini, kedalam melakukan konsolidasi rakyat (tokoh tua maupun tokoh muda), dan keluar menjadi juru bicara dan penangkis serangan dari pers Belanda/Eropa.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-11-1927 (Wat Gisteren in de Krant stond!...): ‘diskusi tentang mayoritas Indonesia, bahwa Indonesia adalah warisan nenek moyang, sebagai protes keras Parada Harahap dari Bintang Timur. ‘Jika Indonesia warisan nenek moyang, KW cs menganggap sebagai pemberontakan.. Jadi saya memahami komunikasi yang dilakukan oleh Pemerintah, bermain aman! Dan Anda? KW’.

KW adalah Karel Wybrands yang dulu disebut sebagai guru pers Tirto Adhi Soerjo. KW adalah ‘wakil’ pers Belanda/Eropa dan Parada Harahap ‘wakil’ dari pers Indonesia dalam ‘perang opini’ di media. Batu sangungan dari pers Eropa/Belanda dapat diatasi Parada Harahap dan akhirnya kongres PPPKI dan kongres pemuda berhasil digelar.

De Indische courant, 01-09-1928: ‘Pertemuan publik pertama PPPK (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia) utuk melakukan kongres di Batavia. Berbagai duta negara sudah hadir dalam pertemuan ini. Tjokroaminoto dari PSI sudah hadir. Delegasi dari Sumatera Sarekat, Mr. Parada Harahap, managing editor Bintang Timur, di sini hari sebelum kemarin tiba dengan mobilnya. Kongres dibuka jam delapan di tempat terbuka yang dihadiri lebih dari 2000. Di antara mereka yang hadir kami melihat Tuan Gobee dan Van der Plas dari Kantor Urusan Pribumi. Perwakilan dari asosiasi dan istri kongres perempuan berlangsung di aula tengah bangunan situs. Untuk membuka sekitar 9:00 Dr Soetomo atas nama panitia menerima kongres. Soetamo mengatakan bahwa ini hasil dari diskusi pada konferensi berlangsung di Bandung pada tanggal 17 Desember 1927, ketika pembentukan PPPKI diputuskan. Pada konferensi bahwa rancangan undang-undang diadopsi dan menyerah PSI itu., PN1., BO, Pasundan, Sarekat Sumatera, Studi Indonesia, Kaoem Betawi dan Sarekat Madura sebagai anggota. Organisasi dalam pembentukan PPPKI berdasarkan nasionalis. Dengan seru: Hidoeplah Persatoean Indonesia (Hidup unit Indonesia) memutuskan spr. sambutannya. Kesempatan untuk PPPKI. untuk mengucapkan selamat kongres pertamanya. Ir. Soekarno, yang berbicara atas nama PNI (Partai nasionalis Indonesia), bersukacita dalam realisasi PPPKI karena pemisahan antara sana dan sini dan akan ditentukan lebih tajam. Delegasi dari Sumatera Sarekat, Mr. Parada Harahap, menyesalkan sikap pasifnya Minahassiscbe dan Amboineesche sebangsa..’.

Jelang kongres pemuda yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928, Parada Harahap terus memainkan peran bagi adik-adiknya, tetapi dia sendiri sebagai senior (mentor) dianggap sebagian yang lain sebagai ‘musuh’. Ini dengan sendirinya kongres PPPKI dan kongres pemuda tidak semua elemen bangsa Indonesia menyetujuinya. Karenanya, Parada Harahap ‘digoyang’ dan ingin dimatikan langkahnya, seperti sikap dari Perserikatan Joernalis Asia di Djokja (anggotanya pribumi, Tionghoa dan Eropa/Belanda).

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-10-1928: ‘Editor koran Bintang Timur, Mr. Parada Harahap, dalam beberapa hari terakhir telah banyak berbicara, kata Pr. Bode, hampir semua dikutip koran/majalah Maleisehe dan menulis segala macam hal yang tidak menyenangkan baginya (berpolemik degan pers Belanda). Ada yang bahkan mengatakan bahwa Perserikatan Joernalis Asia di Djokja akan membahas perilaku ini pada pertemuan pada tanggal 6 bulan mendatang dan bukan tidak mungkin bahwa pertemuan ini akan diputuskan apakah Mr. Parada disanksi untuk hal yang dilakukannya untuk ditulis secara khusus perihal pertemuan publik’.

Parada Harahap yang datang ke Batavia tahun 1923 ternyata belum sempat menengok orangtuanya di kampong di Pargaroetan, Padang Sidempoean. Setelah selesai ‘hajatan besar’ yakni kongres PPPKI dan kongres pemuda, Parada Harahap lega karena berjalan dengan lancer. Kini (1929) Parada Harahap pulang kampong via Medan. Selain lebih nyaman, juga transportasi Medan ke Padang Sidempoean via Sibolga sudah lebih baik.

De Sumatra post, 15-02-1929: ‘pada 12 Februari kapal ss ‘Melchior Treub’ telah berangkat dari Batavia. Di Belawan turun antara lain, istri Parada Harahap dan balita’. De Sumatra post, 15-02-1929: ‘‘pada 26 Maret kapal ss Op ten Noort’ akan berangkat dari Batavia. Di Belawan akan turun antara lain, Parada Harahap

Setelah selesai semua urusan adat di kampong, Parada Harahap kembali ke Batavia. Parada Harahap adalah petarung, tetapi juga seorang manusia yang humanis. Parada Harahap menghargai pertarung terbuka dan berhadap-hadapan. Itulah yang dilakukannya terhadap KW (Karel Wybrands) yang mewakili pers Belanda. Kini Mr. KW telah tiada. Parada Harahap menghormati lawannya, tidak hanya menyampaikan berita dukacita, tetapi juga menulis artikel di Bintang Timoer tentang perbuatan baik Karel Wybrands, seorang yang pernah menjadi seterunya. Karel Wybrands terakhir adalah Direktur koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 29-05-1929: ‘Direktur utama Bintang Timur, Mr. Parada Harahap, juga pernah mengirim satu pembenaran belasungkawa, berisi artikel pujian, tentang potret KW. Dalam majalah itu menunjukkan bahwa almarhum adalah tidak melawan penduduk asli; sebaliknya, bahwa ia telah melakukan banyak hal untuk pribumi. Catatan tersebut menginformasikan kualitas jurnalistik KW dan sukses yang diraihnya sebelum meninggal. RIP’.

Parada Harahap telah memberi teladan dalam pers pribumi. Parada Harahap adalah petarung, tidak hanya berani terhadap pemerintah colonial tetapi juga berani terhadap pers asing (Belanda/Eropa). Ketika lawan telah tiada, hal baiknya selama hidup harus tetap diapresiasi. Ini yang dilakukan oleh Parada Harahap. Karena Parada Harahap adalah teladan, maka Parada Harahap haruslah dipandang sebagai Bapak Pers Indonesia.

Adinegoro Tabrakan di Padang Sidempoean, Parada Harahap akan ke Jepang

Tirto Adhi Soerjo sudah lama tiada (meninggal 1918). Calon tokoh pers berikutnya telah muncul. Salah satu calon penting adalah Adinegoro yang kini tengah dalam perjalanan pulang setelah selesai studi jurnalistik di Eropa (lihat De Indische courant, 13-09-1929). Sementara itu, guru Tirto Adhi Soerjo pun telah tiada. Tokoh pers berikutnya adalah Adinegoro yang memulai karir di Bintang Timoer, milik Parada Harahap  dan telah pindah ke Medan untuk menjadi editor Pewarta Deli (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13-05-1930).

Selama di Medan, kiprah Adinegoro belum terlihat dan belum ada yang menonjol. Akan tetapi sisi lain Adinegoro yang menjadi perhatian. Adinegoro adalah wartawan yang lahir dari para pemuda/pelajar. Karena pernah studi di German dan pernah berkunjung ke Moeskow. Selama di Medan, hal yang dihadapi Adinegoro adalah persoalan yang menyangkut dirinya pernah ke Soviet. Adinegoro mungkin kesal terus diselidiki oleh intel dan polisi Belanda, lalu pulang kampong. Dalam Perjalanan dari Medan ke Padang, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Padang Sidempoean.

BK 7143, Medan-Padang Sidempoean (1930)
De Sumatra post, 15-05-1933: ‘Seseorang mengirimkan kepada kami dari Padang Sidempoean, bahwa hari Sabtu selepas Loemoet mobil Fiat, BK 1277 megalami tabrakan pada tiang telepon karena mobil terpeleset. Para penumpang, editor dari Pewarta Dcli, Mr. Adinegoro dan dua lainnya mengalmi jungkirbalik mobil dan kembali berdiri lalu berjalan secara ajaib tidak ada cedera berat, tetapi hanya beberapa goresan mobil rusak berat dan masih berada di dalam parit yang dalam. Mr Adinegoro, Minggu terus melanjutkan perjalanan ke Padang’.

Parada Harahap, anak Padang Sidempoean tidak memiliki hutang kepada pemerintah kolonial Belanda. Sebaliknya, Parada Harahap di Padang Sidempoean dan ditempat lain bertahun-tahun ‘dizalimin’ oleh polisi kolonial Belanda dan telah ratusan kali dipanggil ke meja hijau di pengadilan dan tak terhitung pula berapa kali harus masuk penjara. Tawaran ke Jepang, sesama Asia adalah jawaban dari semua yang pernah dialaminya dengan Belanda. Namun itu bukan tanpa konsekuensi (belum terpikirkan pada awal 1930an). Namun sebelum berangkat seniornya Dr. Abdul Rivai meninggal dunia. Ini menambah duka Parada Harahap yang kehilangan kembali mentor yang mana sebelumnya (1926) senior dan mentornya Dja Endar Moeda telah lebih dahulu menghadap yang maha kuasa.

De Sumatra post, 16-10-1933: ‘Pada 16 Oct. (Aneta). Pemimpin Bintang Timoer, Mr. Parada Harahap akan berangkat 7 November disertai sejumlah guru pribumi dan pengusaha ke Jepang. Rombongan akan kembali melalui Manila’. [Bataviaasch nieuwsblad, 24-10-1933: ‘Jumlah yang wisata ke Jepang sebanyak tujuh orang. Tiga wartawan, satu orang guru, satu orang  kartunis, dua pengusaha (Batavia da Solo). Tiga orang diantaranya dari pulau-pulau luar (Jawa)].

Parada Harahap adalah mata rantai sejarah pergerakan pemuda dan kemerdekaan. Sebagai rantai yang panjang, Dja Endar Moeda (Harahap) telah memulainya di Padang (1897), dan menjadi mentor Parada Harahap di Medan ketika mulai terjun ke dunia jurnalistik (1917). Dja Endar Moeda adalah mentor bagi Dr. Abdul Rivai ketika berangkat ke Belanda untuk bekerja sebagai editor Bintang Hindia (1904). Dja Endar Moeda adalah mentor bagi adik kelas Soetan Casajangan di Kweekschool Padang Sidempoean. Ketika Soetan Casajangan tiba di Belanda untuk studi tahun 1905, yang menyambut Soetan Casajangan di pelabuhan Amsterdam adalah Dr. Abdul Rivai. Kemudian, keduanya sama-sama membesarkan Bintang Hindia. Saat hijrah ke Batavia, Parada Harahap berkolaborasi dengan Dr. Abdul Rivai untuk menghidupkan kembali Bintang Hindia dan menerbitkannya. Setelah Dr. Abdul Rivai pension dan pindah ke Bandoeng, Parada Harahap menerbitkan Bintang Timoer (sebagai suksesi Bintang Hindia). Kini (1933), Dr. Abdul Rivai telah tiada, Parada Harahap kehilangan mentor dan sahabat yang baik, sahabat dari seniornya dongan sahuta: Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan. Selamat jalan, Uda Pa’i. 

De Sumatra post, 18-10-1933: ‘Kemarin sore di pemakaman Dr Abdul Rivai melayat cukup banyak. Beberapa anggota Volksraad hadir. Ada karangan bunga besar. Ada lima speaker: Mr van Breemen, berbicara atas nama kepala departemen DVGL Mr Tumbelaka,  atas nama manajemen pusat dari dokter pribumi, Ratulangi nama tokoh pribumi, Mr. Ajoestami atas nama Sumatranen dan Mr. Parada Harahap atas nama Persatuan Wartawan. Mr. Dahler berterima kasih, atas nama keluarga’.

Bataviaasch nieuwsblad, 18-10-1933 (Menghormati Memory Dr Rivai): ‘Di Bandung dibentuk sebuah komite oleh teman-teman Dr Rivai yang baru saja meninggal. Pembentukan ini adalah usulan dan tindakan dari Parada Harahap, Dr. Latip dan lain-lain. Asosiasi Dokter Hindia dan asosiasi akademisi Indonesia berpartisipasi. Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan semua tulisan-tulisan Dr. Rivai yang tersebar. Ekspresi simpati dengan senang hati diundang oleh Mr. Parada Harahap’.

Rantai tak pernah putus, hilang satu tumbuh seribu. Nama baik Dr. Abdul Rivai telah diabadikan oleh Mohamad Hatta ketika masih kuliah di Belanda sebagai buku yang merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Dr. Abdul Rivai di Bintang Hindia. Abdul Rivai dan Mohamad Hatta senior-junior yang selalu bermain aman dan lebih lembut. Tetapi kombinasi Abdul Rivai dan Parada Harahap adalah perpaduan garis lembut dan garis keras. Parada Harahap adalah penerus Dja Endar Moeda daripada Soetan Casajangan. Dja Endar Moeda adalah wartawan garis keras (wartawan pribumi pertama yang terjerat delik pers tahun 1905 di Padang dan dihukum cambuk), sedangkan Soetan Casajangan sebagai akademisi lebih lembut.

Lalu kemudian, Parada Harahap telah mengindentifikasi sejak lama penerusnya di estapet garis keras. Mereka itu adalah para garis keras yang datang dari perguruan tinggi. Dia adalah Soekarno. Soekarno, Amir dan Hatta adalah tiga sosok pemuda/pelajar yang brilian yang diimpikan oleh Parada Harahap untuk memimpin bangsa ini—kombinasi lembut dan keras. Kita lihat saja nanti: apakah ramalan Parada Harahap terbukti. Lantas, seperti apa sosok Adinegoro?

Adinegoro menjadi editor Pewarta di Padang

Adinegoro sudah di Padang. Tampaknya tidak kembali ke Medan. Adinegoro dilaporkan telah menjadi editor koran Pewarta di Padang.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 24-06-1933: ‘Mr Saeroen, pemilik penerbit mingguan yang muncul di Batavia, Pemandangan, telah membeli percetakan Galoenggoecg di Bandung, pencetak koran Sipatahoenan. Pencetakan ini akan dipindahkan ke Batavia yang akan mencetak Koran seperti Pemandangan. Adinegoro, seorang Padanger dan mantan editor koran berbahasa Melayu, Pewarta Deli di Medan, akan bertindak sebagai editor koran Pewarta yang diterbitkan di Padang. Sedangkan Wignjadisastra, editor Djawa Barat, akan diberhentikan berlaku mulai 1 Juli’.

Mengapa Adinegoro tidak kembali ke Medan sulit dipahami. Padahal Pewarta Deli adalah koran besar. Sementara Adinegoro mulai dari bawah lagi di Pewarta di Padang. Boleh jadi Adinegoro tidak kembali ke Medan, karena nama baiknya telah dirusak oleh intel/polisi Belanda. Investigasi dirinya yang dikaitkan dengan komunis, walaupun tidak terbukti boleh jadi menjadi namanya tercemar di Medan. Dugaan terkait kominis besar kemungkinan karena kedekatan Rustam Efendi di Belanda yang kebetulan sama-sama berasal dari Minangkabow. Rustam Efendi adalah tokoh komunis di Belanda.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-11-1933: ‘Rustam datang empat tahun lalu di Belanda dengan penghidupan kecil tetapi mendapat tunjangan kecil dari teman-temannya sedaerah, seolah-olah untuk jurnalisme, dan telah dilakukan Adinegoro dan Tabrani baginya. Pekerjaan ini baginya hanya hobi. Berpartisipasi dalam politik adalah tujuan utamanya. Tiba-tiba kehidupannya terlihat kebahagiaan, ketika Partai Komunis Belanda memiliki jaringan dengan dia. Teman-temanya sekarang melihat dia di pertemuan komunis. Meski kini hidup mewah dengan komunis, namun ia tetap menjadi rekan senegaranya. Beruntung siswa-siswa Perhimpoenan Indonesia tidak setuju menyingkirkannya’.

Sesungguhnya nama Adinegoro sudah cukup mengakar di Kota Medan, setidaknya di kalangan komunitas Minangkabaow. Hal ini terbukti namanya termasuk yang dinominasikan untuk duduk di gementeeraads (dewan kota).

De Sumatra post, 18-06-1934: ‘Komite Pemilihan Medansch, diketuai oleh Dr. Pirngadi sudah terjaring sekarang ada setidaknya sepuluh calon untuk lima kursi bagi pribumi di dewan kota Medan. Diantaranya Hoetabarat, Parapat, Mr. Dzulkarnain, Abdul Hakim dan Adinegoro. Sebelumnya, di gedung Taman Persahabatan telah diumumkan bahwa komite Mandailing mencalonkan Mr. Tengkoe Nizam dari Serdang. Dari komunitas Minangkabaow masih diminta Panitia untuk mencalonkan tambahan lain. Karena Mr Hadji Hadjerat yang dicalonkan lebih bersifat provincialistis tidak disetujui panitia. Dalam hal ini panitia lebih menekankan calon yang lebih Indonesia. Dari sisi lain, kita masih mendengar bahwa ada beberapa kelompok yang masing-masing akan mengirimkan candidaten’.

Dalam pemilihan ini, Adinegoro tidak terpilih. Salah satu kandidat yang terpilih adalah Abdul Hakim dari lima anggota dewan kota wakil pribumi. Abdul Hakim sendiri adalah lulusan layanan bea dan cukai. Abdul Hakim lalu ditempatkan di bea dan cukai di Medan 1927. Di kota ini, Abdul Hakim menikah dengan boru Tapanoeli, Mariana br. Loebis, seorang gadis yang pernah dikenalnya dulu ketika Abdul Hakim bersekolah di MULO Padang sementara Mariana masih di sekolah dasar. Setelah cukup mengenal Medan dan aktivitasnya yang bergerak di bidang pabean memungkinkannya untuk membangun networking dan kemudian Abdul Hakim menjadi lebih dikenal secara luas. Lantas dia maju dalam pemilihan anggota dewan kota (gementeeraads). Abdul Hakim menjelaskan pada waktu itu minat yang besar dalam Medan untuk masalah ekonomi, keuangan dan social.

Selama di Medan, tujuh tahun terakhir dari sepuluh tahun di Medan Abdul Hakim menjadi anggota dewan kota. Kegiatan yang dilakukan Abdul Hakim selain anggota dewan adalah aktif sebagai guru privat bahasa Inggris dan bahasa Perancis (yang super langka kala itu). Prestasi Abdul Hakim selama di dewan, Abdul Hakim telah berkontribusi besar terhadap pembangunan kota Medan utamanya Pasar Central dan Rumah Sakit Urnurn. Pada tahun 1937, Abdul Hakim pindah ke Batavia. Selama pendudukan Jepang, Abdul Hakim di Makassar menjabat sebagai representatif kepala kantor pusat di wilayah Sulawesi. Setelah Jepang takluk terhadap sekutu dan tidak berdaya, dewan Tapanuli vakum, Pada tahun 1945 Abdul Hakim bergabung dengan Masyumi di Tapanuli. Setelah proklamasi Republik Indonesia pada bulan Agustus 1945, ia ditunjuk menjadi Wakil Residen Tapanuli. Pada tanggal 25 Januari 1951 Abdul Hakim Harahap diangkat menjadi Gubernur Sumatera (Gubernur yang ketiga). Abdul Hakim lahir di Sarolangoen, Djambi tahun 1905, anak Mangaradja Gading dari Padang Sidempoean.


Dewan kota untuk non Belanda di Medan baru diberikan pada tahun 1918. Selama ini yang menjadi anggota dewan kota adalah orang-orang Belanda/Eropa. Pada periode pemilihan pertama (1918) golongan non Belanda (pribumi dan Tionghoa) tersedia tiga kursi. Salah satu diantaranya yang menang pemilihan adalah Kajamoedin gelar Radja Goenoeng. Kajamoedin Harahap lahir di Hoetarimbaroe, Padang Sidempoean tahun 1883 adalah pribumi pertama yang menjadi anggota dewan kota (gementeeeraads) Medan. Pada periode pertama ini ada satu anggota dewan dari golongan Eropa yang mengundurkan diri karena pulang ke Eropa. Yang menggantikannya pada pada pertengahan 1919 adalah Mr. Alinoedin, hakim di pengadilan Medan. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hokum pertama orang Batak (satu dari dua Sumatra dan satu dari delapan pribumi di Nederlandsche Indie. Mr. Radja Enda Boemi pada tahun 1925 menyelesaikan PhD di Universiteit Leiden—orang pribumi pertama yang bergelar doktor pada bidang hokum.

Sejak tahun 1918, anak-anak Padang Sidempoean selalu mendapatkan kursi di gementeeraads Kota Medan. Abdul Hakim sendiri telah menjadi anggota dewan kota sejak 1930. Pada periode 1927-1930 anggota dewan kota Medan yang berasal dari Padang Sidempoean diantaranya adalah Kajamoedin gelar Radja Goenoeng, Abdullah Loebis dan Soetan Parlindoengan (mantan editor Pewarta Deli dan Pertja Timoer). Abdullah Loebis sendiri pada waktu itu adalah pimpinan koran Pewarta Deli dan Abdullah Loebis sendiri yang datang ke Batavia tahun 1930 untuk merekrut Adinegoro untuk menjadi editor Pewarta Deli di Medan yang kala itu Adinegoro sebagai editor di Bintang Timoer (Direktur Bintang Timoer adalah Parada Harahap).

***
Nama Adinegoro sejak itu (1934) tidak pernah diberitakan di surat kabar di Nederlandsch Indie. Pada tahun 1937 (sejak kepindahan Abdul Hakim ke Batavia), nama Adinegoro muncul lagi di Medan. Tidak sebagai kapasitas sebagai wartwan tetapi anggota pengurus organisasi.

De Sumatra post, 28-06-1937: ‘Ini memberitahu kita bahwa kemarin, rapat umum anggota Taman Persahabatan, kepengerusan baru terpilih. Dr. R. Pirngadi (sebagai ketua). Dr. Gindo Siregar (sebagai wakil ketua), Agus Salim (sebagai sekretaris-1), Masaoed (sebagai sekretaris-2), Madong Lubis (sebagai bendahara). Komisaris terdiri dari: Mr. Mohd. Joesoef,  Mr. Loeat Siregar, Daulat dan Adinegoro’.



Pasca kemerdekaan: Adinegoro, penasehat pemerintah di Sumatra; Masdoelhak, penasehat pemerintah di pusat (Yogyakarta)

Segera setelah pulang studi dari Eropa (akhir 1929), Adinegoro mulai bekerja sebagai editor di Bintang Timoer (pimpinan Parada Harahap). Tetapi tidak lama kemudian, ada kesepakatan antara Abdullah Loebis (pimpinan Pewarta Deli) dengan Parada Harahap, yang mana Adinegoro menjadi editor Pewarta Deli di Medan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13-05-1930). Adinegoro, sebelum studi ke Eropa adalah mahasiswa STOVIA, masuk tahun 1918 dan keluar tahun 1925 (tidak selesai), lalu berangkat ke Eropa tahun 1926.

Salah satu mahasiswa yang diterima tahun 1918 bernama Ida Loemongga (perempuan jarang yang diterima di STOVIA). Ketika naik ke tingkat dua, pimpinan STOVIA merekomendasikan agar Ida untuk meneruskan sekolah kedokteran ke Universiteit Leiden. Kakek dan ayahnya menyanggupi, lalu Ida berangkat tahun 1919. Ida Loemongga yang terbilang cerdas, cukup mudah untuk menyelesaikan sarjananya (lulus 1927). Dr. Ida tidak pulang, tetapi banyak yang meminatinya termasuk rumahsakit Wilhelmina di Amsterdam. Tapi (sekali lagi) belum setahun mentornya di rumahsakit itu, Dr. Caroline de Lange merekomendasikan agar Ida mengambil pendidikan PhD di Utrecht. Sekali lagi, ayah dan kakeknya menyanggupi. Ida behasil ujian doctoral pada tahun 1931 dan sidang terbuka tahun 1932. Dr. Ida Loemongga, PhD adalah pribumi pertama yang bergelar doctor di bidang kedokteran.

Ida Loemongga adalah cucu dari Dja Endar Moeda, pendiri koran Pewarta Deli, tempat Adinegoro kini bekerja sebagai editor. Ayah Ida Loemongga sendiri adalah Dr. Haroen Al Rasjid, alumni Dokter Djawa School (1902), teman sekelas dari Tirto Adhi Soerjo (masuk 1894 keluar tahun 1900).

Parlindoengan Loebis
Ketika Ida Loemongga tengah mempersiapkan desertasi berjudul ‘Diangnose en Prognose van aangeboren Hartgebreken’ (Diangosa dan Prognosa Cacat Jantung Bawaan), seorang anak Padang Sidempoean tengah bersiap-siap untuk studi ke Eropa, namanya Masdoelhak. Tepat pada tanggal 4 Oktober 1930, Masdoelhak berangkat dari Batavia dengan menumpang kapal s.s. Prins der Nederland’ menuju Amsterdam dengan nama pada manifest kapal, Masdoelhak Hamonangan (lihat De Telegraaf, 01-10-1930). Masdoelhak adalah  adik Makmoen Al Rasjid (dokter lulusan STOVIA) dan sepupu dari dokter Ida Loemongga. Dua tahun berikutnya (1932), anak Padang Sidempoean berangkat lagi studi menuju Negeri Belanda. Namanya Parlindoengan Loebis. Parlindoengan Loebis awalnya mendaftar ke sekolah STOVIA/Geneeskundige Hoogeshool di Batavia. Pada tahun 1931 sebagaimana diberitakan Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) Parlindoengan Loebis lulus ujian kandidat bagian I sebagai asisten medis. Namun karena dianggap memenuhi syarat, Parlindoengan Loebis direkomendasikan menjalani pendidikan yang lebih tinggi di bidang kedokteran di Negeri Belanda. Prestasi Parlindoengan Loebis ini sama seperti prestasi yang diraih Ida Loemongga Nasoetion yang juga direkomendasikan. Anak Batangtoroe, Padang Sidempoen ini lantas berangkat dari Tandjong Priok dengan menumpang s.s. Ophir menuju Singapura tanggal 6 Agustus 1932. Di Singapura Parlindoengan Loebis ditransfer ke s.s. Trier yang akan berangkat dari Singapura menuju Rotterdam tanggal 8 Agustus 1932 (lihat, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 04-08-1932).

Di Universiteit Leiden, Masdoelhak mengambil bidang hukum. Beberapa tahun kemudian adik Ida Loemongga bernama Gele Haroen diterima universitas yang sama. Selama kuliah Masdoelhak yang terbilang cerdas ini juga aktif dalam organisasi ekstrakurikulir. Setelah lulus tingkat sarjana di Universiteit Leiden, Masdoelhak tidak pulang melainkan melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral di Utrecht (Rijksuniversiteit). Gele Haroen lulus sarjana (Mr) dan pulang ke tanah air tahun 1938.

Pada ini (1938) seorang anak Padang Sidempoean kelahiran Pematang Siantar, berangkat dari Batavia untuk studi dalam bidang teknik kimia di Jerman, namanya A.F.P. Siregar gelar M.O. Parlindoengan. Hanya beberapa orang pribumi yang studi ke Jerman, yang mana diantaranya sebelumnya adalah Adinegoro yang pulang tahun 1929.

Pada tahun 1938 Ketua PI (Perhimpoenan Indonesia) Belanda/Eropa adalah Parlindoengan Loebis yang sejak tahun 1936 menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh M. Hatta. Parlindoengan Loebis adalah pengurus periode kedua (1936-1940) sedangkan M. Hatta adalah periode pertama.

Sebelumnya, organisasi ini bernama Perhimpoenan Hindia (Indisch Vereeniging) yang digagas dan yang menjadi presiden pertama tahun 1908 oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (anak Batoenadoea, Padang Sidempoean).

Parlindoengan Loebis akhirnya berhasil kuliah dan dipromosikan menjadi dokter setelah lulus ujian akademik Oktober 1940 sebagaimana diberitakan De standard, 26-10-1940. Tidak lama kemudian saudara sepupu Parlindoengan Loebis yang bernama Daliloeddein Loebis juga lulus di universitas yang sama dalam bidang Art. Saat Parlindoengan Loebis lulus dokter, Belanda dalam situasi dan kondisi diduki militer Jerman (sejak Mei 1940). Parlindoengan Loebis tidak langsung pulang ke tanah air, tetapi langsung bekerja dan juga membuka dokter praktek di Amsterdam.

Ketika militer Jerman menciduk semua lawan-lawan politik Jerman di Belanda, Parlindoengan termasuk yang diciduk (26 Juni 1941) karena selama kepengurusan Parlindoengan Loebis di PI, organisasi ini bersikap pro sosialis dan anti fasis, berbeda dengan kepengurusan sebelumnya yang lebih condong ke paham komunis. Hal ini mengingatkan kita mengapa sebelumnya Adinegoro sempat dicurigai di Medan terkait komunis (tetapi tidak terbukti). Parlindoengan Loebis lalu dipenjarakan ke kamp konsentrasi Nazi.

Sementara itu Masdoelhak baru lulus ujian doctoral tahun 1943 sebagaimana dilaporkan Friesche courant, 27-03-1943. Masdoelhak berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak).

Pribumi pertama bergelar doctor (PhD) adalah Mr. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi, anak Batangtoroe, Padang Sidempoean, ahli hokum (Mr) pertama orang Batak, lulus dari Universiteit Leiden tahun 1925 dengan desertasi berjudul: ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland’.

Setelah berhasil menjadi doktor hukum, Masdoelhak bergegas pulang ke tanah air. Masdoelhak merasa tidak tenang di Belanda, karena situasi saat itu dalam pendudukan (fasis) Jerman. Masdoelhak tidak mau mengambil risiko, dan mungkin ingat, rekan ‘dongan sahuta’ tengah berada di kamp konsentrasi Jerman (Nazi).

Pada saat pulang ke tanah air, Indonesia di bawah pendudukan Jepang (fasis), Namun tidak lama kemudian, Jepang menyerah kepada sekutu lalu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Pada tanggal 22 Agustus ditunjuk Mr. M. Hasan sebagai gubernur Sumatra, mewakili pemerintah pusat berkedudukan di Medan (Hasan adalah senior Masdoelhak yang sama-sama kuliah hokum di negeri Belanda). Lalu kemudian Sumatra dibagi tiga wilayah: Sumatra Utara, Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Yang ditunjuk untuk gubernur muda (residen) di Sumatra Utara adalah Mr. S.M. Amin Nasoetion (lahir di Aceh, sekolah rakyat di Manambin, Mandailing, ELS di Siboga dan sekolah hukum di Batavia menyusul dua abangnya di STOVIA, Dr. Amir dan Dr. Munir). Untuk Walikota Medan (pertama) ditunjuk Mr. Loeat Siregar. Untuk (wakil) Residen Tapanoeli diangkat Abdoel Hakim Harahap (kemudian menjadi Gubernur Sumatra Utara yang ketiga).

Sedangkan untuk Sumatra Tengah yang beribukota di Bukittinggi ditunjuk Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion. Di Sumatra Selatan sendiri wilayah dibagi empat keresidenan, dua diantaranya yakni Palembang dan Lampung (keresidenan Palembang menjadi negara boneka Belanda, keresidenan Lampung tetap independen bagian republik). Untuk keresidenan Lampung, kelak yang diangkat masyarakat menjadi residen adalah Mr. Gele Harun (adik Dr. Ida Loemongga, PhD dan sepupu Mr. Masdoelhak, PhD). 

Dalam perkembangannya, Belanda melancarkan agresi dan berhasil menguasai Jakarta 25 September 1945. Untuk mengantisipasi keadaan kemudian pemerintahan sipil Indonesia diganti dengan pemerintahan semi militer. Dalam fase ini nama Adinegoro muncul di dalam surat kabar.

Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 14-12-1945: ‘Mr. Amir, Rabu tiba di Batavia yang bertindak sebagai pelaksana Gubernur Sumatera dan Kamis wawancara pers dan mengatakan bahwa pemerintah Provinsi Sumatera dan keseluruhan berada di belakang pemerintah Soekarno dan Sjahrir. Menurut Mr Amir, hampir semua Sumatera kecuali daerah Selatan (Bengkulu, Kepulauan Riau dan daerah sekitar Jambi, di mana kesulitan muncul dengan pasokan makanan) masyarakat sudah dipersenjatai dengan tombak dan sangat kuat. Ketika wartawan bertanya apa fungsi Adinegoro? (ketika konferensi pers, Adinegoro duduk di sebelah kiri Mr. Amir)’.

Leeuwarder koerier, 14-12-1945: ‘Dengan pesawat Inggris untuk Batavia tiba dari Sumatera, delegasi Indonesia yang terdiri dari Amir, bertindak Gubernur Sumatera, Adinegoro, dr. Djamil dan Dr. Gindo Siregar. Kata Amir bahwa pemerintah propinsi Sumatera seluruhnya di belakang Soekarno dan kabinet Sjarir. Sumatera juga ingin kemerdekaan untuk Indonesia dan tidak status dominion. Sjarifoedin telah menyatakan bahwa mungkin tidak ada pembicaraan lebih lanjut sebelum Dr van Mook berangkat ke Belanda’.

Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 31-12-1945: ‘Empat pemimpin nasionalis terkemuka Indonesia hari Minggu dari Sumatera dengan pesawat tiba di Batavia lalu ke Singapura. Mereka adalah Adinegoro Mr. Loeat Siregar, dr. M. Djamil dan dr. M. Amir. Aneta-Reuter melaporkan tanggal. 30 ini dari Singapura’.

Dengan semakin derasnya tekanan militer Belanda, pada tanggal 4 Januari 1946 ibukota NKRI pindah ke Yogyakarta. Tiga the founding father (Soekarno, Hatta dan Amir) sudah ‘bermarkas’ di Yogyakarta. Ir. Soekarno sebagai Presiden, Drs. M. Hatta sebagai Wakil Presiden dan Mr. Amir Sjarifoedin Harahap sebagai Menteri Pertahanan merangkap Menteri Penerangan. Dalam fase ini untuk gubernur Sumatra Utara ditunjuk Mayor Jenderal dr. Gindo Siregar, sedangkan Masdoelhak dipanggil ke Yogyakarta untuk membantu pemerintahan pusat (menjadi penasehat pemerintah di bidang hukum internasional).

Di Yogyakarta, kemudian teman sekampung Masdoelhak bertemu kembali dengan Dr. Parlindoengan Loebis, orang Indonesia satu-satunya di kamp konsentrasi Jerman. Parlindoengan Loebis ditahan dikamp Nazi ini selama empat tahun (1941-1945). Parlindoengan Loebis kembali ke tanah air dengan menyamar sebagai dokter kapal. Sejak 1947, Parlindoengan Loebis tinggal di Yogyakarta dan berdinas sebagai Kepala Dinas Kesehatan Pabrik-pabrik Persenjataan Departemen Pertahanan. Kala itu yang menjadi Menteri Pertahanan adalah Mr. Amir Sharifoedin.

Adinegoro berkiprah kembali di dunia pers

Adinegoro yang beberapa bulan terakhir terlihat dan tengah berada di Jakarta kini muncul di ranah minang sebagai wakil pemerintah pusat. Adinegoro adalah salah satu putra terbaik dari ranah minang yang sebelumnya berkarir di bidang jurnalistik dan menjadi pengurus organisasi keindonesian di Medan. Dr. Gindo Siregar (wakil ketua), Mr. Loeat Siregar dan Adinegoro (keduanya komisaris) adalah pengurus organisasi Taman Persahabatan, semacam organisasi mini Indonesia di Medan (lihat De Sumatra post, 28-06-1937).

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 26-03-1946: ‘Menurut laporan dari Antara, mengadakan pertemuan yang diprakarsai oleh Komite Nasional Indonesia di pantai barat Sumatera (yang lebih populer Minangkabau). Sidang perdana ini dihadiri oleh 34 partai politik dan organisasi militer; Gubernur Sumatera; wakil pemerintah pusat, Adinegoro; Residen Sumatera Barat; Komandan divisi Sumatera Tengah; dan Menteri Pendidikan, Moh Syafi'i. Tujuannya adalah menyatukan kemauan dan kekuatan seluruh bangsa untuk mempertahankan keutuhan tanah air.

Het nieuws : algemeen dagblad, 05-10-1946: ‘Antara melaporkan hari Jumat, empat wakil dari kepentingan minyak (Amerika, Belanda, Indonesia dan Singapura) mengunjungi Kepulauan Riau Selatan. Dalam hal ini, Indonesia diwakili oleh Adinegoro, kepala penasihat republik di Sumatera, yang mana juga dilaporkan bahwa Indonesia terbuka selama enam bulan untuk dieksploitasi (Aneta)’.

Selama agresi militer Belanda dan selama pemerintah republic mengasingkan diri ke Yogyakarta banyak hal yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di Sumatra Timur. Kelompok anti republic menggalang minat untuk berkolaborasi dengan Belanda (musuh republic). Adinegoro mengomentari apa yang terjadi di Sumatra Timur yang dianggapnya melawan arus utama prodemokrasi.

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 11-10-1947: ‘peristiwa seputar daerah istimewa Sumatra Timur  yang terus ditekan republiken, di Batavia agak terdistorsi dan diliputi rasa kekecewaan. Pihak pers Belanda menganggap benar apa yang dilakukan oleh kelompok Dr. Mansur (berkolaborasi). Dalam koran Merdeka, yang ditulis Adinegoro, mantan editor Pewarta Deli, mengajukan pertanyaan terhadap pemimpin baru di daerah itu, telah melanggar prinsip-prinsip demokrasi, hak-hak orang-orang mungkin akan memberikan kembali ke feodal dan kapitalis, tanpa mengindahkan konsep demokrasi’.

Adinegoro sebagai mantan editor yang melihat situasi dan kondisi yang semakin ‘memanas’ antara republic dan Belanda merasa’ perlu berkolaborasi dengan teman-temannya untuk menerbitkan media prodemokrasi dengan koran bernama Mimbar Indonesia.

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 31-10-1947: ‘Pada tanggal 10 November, baru-baru ini di Indonesia muncul Mimbar Indonesia (Podium Indonesia) yang terbit pertama. Untuk saat ini, media ini akan terbit setiap dua minggu dengan 36 halaman cetak. Ini akan menyediakan artikel bergambar tentang bangunan, politik, social, daerah dan lain-lain. Dewan redaksi akan terdiri dari Sukardja, Wirjopranoto. Andjar Asmara, Adinegoro dan Prof. Dr. Supomo’.

Ida Nasoetion dan Masdoelhak diciduk tentara Belanda, Adinegoro sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Ibukota Republik Indonesia sudah berada di Yogyakarta sejak 4 Januari 1946. Semua elemen bangsa baik di dalam maupun di luar Yogyakarta memainkan peran masing-masing. Pada tahun 1948 adalah tahun yang paling menegangkan antara republic vs tentara/militer Belanda. Intel dan tentara Belanda mulai menyusun daftar orang-orang pribumi berpengaruh di bidangnya untuk ditangkap. Mereka yang masuk target mulai dari presiden, wakil presiden, menteri pertahanan dan lainnya hingga para wartawan, pengarang. Intinya, intel dan tentara bermaksud menghabisi para tokoh-tokoh tersebut.

Ida Nasoetion (1947)
Target pertama ternyata bukan Soekarno dan kawan-kawan. Yang berhasil diciduk pertama kali adalah seorang gadis, yang masih duduk di bangku kuliah tetapi dianggap sebagai tokoh berpengaruh. Dia adalah Ida Nasoetion, seorang esais dan kritikus papan atas yang saat itu menjabat sebagai Presiden PMUI (Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia). Tulisan-tulisan Ida Nasoetion memang telah membangkitkan gelora para pemuda, tetapi intel/tentara menjadi lebih takut karena Ida Nasoetion telah mendirikan perstuan mahasiswa di dalam kampus Universitein van Indonesia. Sebelum gelombang mahasiswa bangkit, intel/tentara menciduk pimpinannya, Ida Nasoetion (teman akrab Chairil Anwar, penyair).

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-04-1948 (Ida Nasoetion hilang): ‘seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasution hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil’.

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948: ‘Sejak 23 Maret, seorang mahasiswa Indonesia Ida Nasution menghilang. Pada tanggal itu mereka ke Tjigombong untuk menghabiskan beberapa waktu di danau Tjigombong (kini, danau Lido). Namun, Ida Nasoetion yang akan kembali pada hari yang sama, tetapi hilang entah dimana. Apakah diculik?’

Keutamaan Ida Nasoetion dalam masa ini karena Ida Nasoetion merupakan satu-satunya sastrawan (muda) yang berlabel mahasiswa. Para sastrawan muda ini lebih taktis dibanding senior mereka dari angkatan Poejangga Baroe. Jika angkatan sebelumnya menulis lebih menggunakan gaya retorika keindahan, tidak demikian dengan sastrawan muda yang hidup di awal era revolusi—lebih nyata dan lebih bergelora (sastra revolusi). Belum genap satu semester Ida Nasoetion menjabat presiden PMUI, kabar buruk telah datang menimpanya. Ida Nasoetion telah hilang selamanya, hingga ini hari tidak pernah diketahui dan bagimana ia diculik, dibunuh dan dimana dikubur.

Sejak kehilangan Ida Nasoetion yang sangat misterius itu, para sastrawan mulai semakin gelisah dan was-was. Kegelisan itu sudah mulai ada ketika Peristiwa Rawagede (Rawamerta, Karawang) 9 Desember 1947 yang mana sebanyak 431 orang penduduk menjadi korban pembantaian tentara Belanda. Peristiwa ini pernah dikaitkan atas inspirasi dari sajak-sajak Chairil Anwar berjudul Antara Karawang dan Bekasi (ide sajak ini boleh jadi terispirasi ketika tentara Belanda menyerang Bekasi, para penduduk mengungsi ke Karawang).

Pada bulan Mei 1948 para sastrawan menggagas untuk diadakan konferensi nasional. Dalam kepanitiaan konferensi ini termasuk Adinegoro. Dalam hal ini, Adinegoro tidak hanya sebagai wartawan tetapi juga adalah seorang pengarang. Novel terkenalnya adalah Darah Muda (terbitan Balai Pustaka, 1931) dan Asmara Jaya (terbitan Balai Pustaka, 1932).

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 18-05-1948: ‘Pada masa dekat akan diadakan konferensi nasional sebagaimana dilaporkan koran Merdeka, Batavia sebagai berikut: Komite persiapan untuk Konferensi Nasional Indonesia sudah sepenuhnya terbentuk di Batavia. Ir. Noor sebagai ketua dan sebagai anggota H.J. Latumeten, dr. Johannus, Mr. Takdir Alisjahbana, Adinegoro, Andi Zainal Abidin, Sjahboedin Latif dan AJ Supit. Sebagai sekretaris terpilih Mr Iskandar Bekti’.

Dalam perkembangannya, intel/tentara Belanda semakin memanas dan beringas. Agresi kedua mulai dilancarkan. Tepat pada tanggal 19 Desember 1948 serangan diawali ke kantong inti perlawanan repulik di Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu. Tentara Belanda menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menyebar menuju ke tengah kota. Sebelum penangkapan terhadap Soekarno, Mohammad Hatta dan Sjahrir, sejumlah orang penting di Yogyakarta telah ditangkap lebih dulu. Yang pertama ditangkap adalah Masdoelhak Nasoetion, seorang tokoh di balik layar yang menjadi penasehat pemerintah (Soekarno dan Hatta) di bidang hokum internasional. Mr, Masdoelhak Nasoetion, PhD adalah doctor hokum lulusan Universiteit Leiden.

Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion telah ditembak di Yogyakarta pada tanggal 21 Desember 1948. Koran ‘De waarheid’ (waarheid=truth=‘kebenaran’) melihat kasus ini selama ini sengaja ditutup-tutupi. Awalnya resolusi Dewan Keamanan hanya menuntut Belanda bahwa semua tahanan politik harus dibebaskan, malahan membunuh dengan cara keji begini. Koran ini memberi judul beritanya sebagai metode teror fasis (Fascistische terreur-methoden). Hasilnya penyelidikan yang diungkapkan oleh koran ‘kebenaran’ ini sebagai: pembunuhan keji para intelektual, pembunuhan secara pengecut dan penggunaan metode fasis. De waarheid, 25-02-1949 melaporkan duduk perkara yang mengerikan itu dari ruang pengadilan. Kejadian ini bermula ketika Belanda mulai menyerang Yogyakarta pukul lima pagi, 19 Januari 1948, tentara Belanda bergerak dan intelijen bekerja. Akhirnya pasukan Belanda menemukan dimana Masdoelhak. Lalu tentara menciduk Masdoelhak di rumahnya di Kaliurang dan membawanya ke Pakem di sebuah ladang jagung. Masdoelhak di rantai dengan penjagaan ketat dengan todongan senjata. Selama menunggu, Masdoelhak hanya bisa berdoa dan makan apa adanya dari jagung mentah. Akhirnya setelah beberapa waktu, beberapa tahanan berhasil dikumpulkan, total berjumlah enam orang. Lalu keenam orang ini dilepas di tengah ladang lalu diburu, dor..dor..dor. Masdoelhak tewas ditempat. Seorang diantara mereka (Mr. Santoso, Sekjen Kemendagri) terluka sempat berhasil melarikan diri, tetapi ketika di dalam mobil dalam perjalanan ke Yogya dapat dicegat tentara lalu disuruh berjongkok di tepi jalan lalu ditembak dan tewas ditempat. Di pengadilan, menurut De waarheid jaksa penuntut umum menganggap pembunuhan ini sebagai ‘pembunuhan pengecut’.

Masdoelhak (1943)
Masdoelhak tewas sebagai kusuma bangsa. Masdoelhak tewas tidak dengan senjata, dan juga tidak dengan pena yang tajam seperti Ida Nasoetion, tetapi dengan otak yang cerdas. Masdoelhak di dor di kepala tempat dimana otak berada. Doktor Masdoelhak meraih PhD dengan predikat Suma Cumlaude, sangat-sangat diminati oleh berbagai institut di Eropa tetapi malah buru-buru pulang ke tanah air. Prestasi Masdoelhak yang cemerlang ini dan cara bagaimana bergegas pulang ke tanah air (boleh jadi) diinterpretasi oleh intel/tentara Belanda sebagai target pertama. Intelektual terbaik Indonesia telah dibunuh oleh penjajah di usia yang sangat muda. Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan pada tahun 2008 telah diberi gelar Pahlawan Nasional.
  
Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 03-08-1949 (Ind. Journalisten in organisatie): ‘Di Batavia Persatuan Wartawan Indonesia didirikan bersatu atas dasar nasionalis, di mana wartawan Indonesia federalis, republik dan lainnya bersatu. Dewan ini terdiri sebagai berikut: Adinegoro, sebagai Presiden; Asa Bafagih sebagai wakil; Sugondo sebagai sekretaris-1 dan Arbi sebagai sekretaris-2. Bendahara, Sudarso penning. Para komisioner adalah Rosihan Anwar, Mochtar Lubis dan A. Hakim. Dalam pembentukan ini hanya satu komunike yang diumumkan: ‘menuntut tanpa syarat bahwa semua tahanan politik dalam arti luas harus dibebaskan secepatnya’.

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-08-1949: ‘Dalam pertemuan telah dihadiri perwakilan dari 20 koran, persbureau, mingguan dan majalah bulanan Selasa di Batavia didirikan Persatuan Wartawan Indonesia. Hubungan baru, yang secara nasionalis telah menyatukan dibentuk sendiri wartawan Indonesia dari republik, federalis dan media lainnya. Pengurus adalah sebagai berikut; Ketua: Adinegoro (Mimbar Indonesia) vice.voorzitter: Asa Bafagih (Merdeka),  Sekretaris I:; Sugondo (Mimbar Indonesia), Sekretaris II: Nona Lies Arbi (Warta Indonesia), Bendahara: Soedarso (Aneta). Komisaris: Rosihan Anwar (Pedoman), Mochtar Lubis (Antara) dan A. Hakim (Sedar). Dalam pertemuan ini juga suara diadopsi, yang mengharuskan mempromosikan pertandingan sepakbola antara Belanda dan Indonesia mendatang dalam pandangan kesesuaian misi dari penghentian permusuhan antara Republik Republik dan Belanda serta semua tahanan politik dalam arti luas sesegera mungkin dirilis dan bahwa mereka dikembalikan ke tempat asal mereka’.

Abdul Hakim dan Adinegoro menghadiri Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Belanda.

.
Abdul Hakim dan Adinegoro dua anak Medan yang pernah bersaing dalam mmperebutkan lima kursi untuk pribumi di dewan kota (gementeeraad) Medan tahun 1934. Kala itu, Abdul Hakim sebagai incumbent sedangkan Adinegoro sebagai entrant. Abdul Hakim, lahir di Sarolangoen, Jambi, sekolah tinggi ekonomi bidang bea dan cukai di Batavia, lalu ditempatkan sebagai kepala bea dan cukai di Medan. Sedangkan Adinegoro, lahir di Sawahlunto, sekolah tinggi kedokteran di Batavia dan kemudian meneruskan studi jurnalistik di Jerman, lalu bekerja sebagai editor Pewarta Deli di Medan.

Abdul Hakim (1953)
Abdul Hakim dan Adinegoro disebut anak Medan, karena keduanya dinominasikan warga Medan untuk menduduki kursi dewan. Abdul Hakim dinominasikan oleh komunitas Tapanoeli, Adinegoro oleh komunitas Minangkabaow. Keduanya sangat unik soal bahasa: Abdul Hakim yang mampu berbahasa Batak, bahasa Melayu dan bahasa Belanda, juga mampu berbahasa Inggris dan bahasa Prancis. Adinegoro, mampu berbahasa Minangkabau, bahasa Melayu dan bahasa Belanda, juga mampu berbahasa Inggris dan bahasa Jerman. Kemampuan pribumi untuk berbahasa Inggris, Prancis dan Jerman kala itu adalah sangat langka. Dalam pemilihan anggota dewan yang dilaksanakan tahun 1934, Abdul Hakim terpilih, sementara Adinegoro tidak terpilih. 

Dalam era Jepang keduanya pulang kampong, Abdul Hakim dari Batavia ke Tapanoeli dan Adinegoro dari Medan ke Sumatra Barat. Sementara, Mochtar Lubis yang menyelesaikan pendidikan menengahnya di Sumatra Barat dan telah hijrah ke Batavia, selama pendudukan Jepang, tetap menetap di Batavia.

Abdul Hakim, anak Mangaradja Gading Harahap dan Mochtar Lubis, anak Radja Pandapotan, keduanya lahir di Jambi. Abdul Hakim lahir di Sarolangoen tahun 1905, Mochtar Lubis lahir di Sungai Penuh, Kerinci. Orangtua mereka masing-masing adalah pejabat-pejabat pribumi asal Kresidenan Tapanoeli yang ditempatkan di Jambi.

Setelah pasca kemerdekaan, Abdul Hakim dan Adinegoro keduanya bertemu kembali, tidak di Medan, tetapi di Den Haag dalam kapasitas masing-masing untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB). Kemampuan bahasa mereka berdua menjadi sangat diperlukan di konferensi tersebut karena dihadiri perwakilan bangsa lain (BFO).

Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 antara perwakilan Republik Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg).

Pada tahun 1949 Abdul Hakim menjadi anggota dewan Keresidenan Tapanoeli dan juga anggota Parlemen Sumatera Utara dan Parlemen Sumatera di pengasingan. Abdul Hakim ditunjuk sebagai penasihat delegasi Republik yang akan pergi ke KMB di Den Haag bersama Gubernur Republik Sumatera Utara, Mr. SM Amin (Nasoetion). Ketika di Den Haag, Abdul Hakim juga berpartisipasi sebagai penasihat umum dari delegasi Indonesia. Sedang Adinegoro datang ke Den Haag sebagai wartawan yang meliput konferensi. Saat itu, Adinegoro adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia.

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-08-1949:  ‘Dengan Constella├╝on "Gouda" hari Selasa telah berangkat dalam perjalanan ke Belanda, wartawan Mohammed Said (Waspada, Medan), Soetarto (Berita Film Indonesia, Djokja) Adinegoro (Mimbar Indonesia, Batavia), Ang Jang Coan (Sin Po, Batavia), AW Colijn (Locomotief, Semarang dan Vrije Pers, Surabaya) dan Wim B. Klooster (Nieuwsblad voor Sumatra, Medan)’.

Konferensi ini berakhir pada 2 November 1949 dengan kesediaan Belanda untuk menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Setelah KMB, Indonesia dalam fase transisi. Penyerahan kedaulatan RI akan dilakukan tanggal 27 Desember 1949 yang pada tanggal itu pimpinan RI terdiri dari Soekarno sebagai Presiden dan M. Hatta sebagai Perdana Menteri akan membentuk cabinet sendiri (Kabinet Republik Indonesia Serikat). Banyak hal yang terjadi selama masa transisi ini, antara lain pendirian universitas republic di Batavia, yang mana sebelumnya universitas yang ada adalah Universiteit van Indonesia (Belanda) yang terdiri dari Geneeskunde, Rechtswetenschap dan Letteren en Wijsbegeerte. Ida Nasoetion sebelumnya adalah Presiden Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia (Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Soerabaija dan Macassar).

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-10-1949 (Universitas Republik di Batavia): ‘Bahder Djohan, Presiden membuka, PMIK (Masyarakat, Sains dan Kebudayaan) dibuka di Batavia di gedung Perguruan Rakyat di Salemba-33, sebuah Sekolah Landjoetan Tinggi (SLT). Dalam sambutannya kata Dr Bahder Djohan antara lain bahwa SLT didirikan atas desakan banyak pemuda Indonesia yang telah menyelesaikan studi mereka di Sekolah Menengah. Para lulusan sekolah menengah semkain banyak yang ingin meneruskan pendidikan. Tiga Fakultas Republik di Batavia sudah tak mungkin menampung sehingga PMIK memutuskan untuk memiliki dan mendirikan universitas ini. Untuk saat ini mata pelajaran di SLT ini yang diajarkan: matematika, fisika, ekonomi sosial, botani, bahasa Indonesia dan Inggris. Sebuah usaha akan menyertakan Cina juga sebagai subjek. Ini sehubungan dengan hubungan antara Indonesia dan China, yang cerah pada masa depan. Sekolah saat ini memiliki 214 siswa. Staf guru yang, antara lain: Abdul Rachman, Adam Bachtiar, Adinegoro, Mr. Goenara, Ir Koesnoto, Ir. Pohan, Ir. Soedjito, Soedjono, Soehardo, Soemarno, Drs. Tan Po Goan, Ir Urip S. Waehendorff, Wiki Soerjamihardja, St. Moh. Zain dan S. Zainoeddin. Setelah studi tiga tahun, lulusan akan memiliki pengetahuan dan mereka mungkin dapat melanjutkan studi mereka di universitas lain. Itu sepenuhnya tergantung pada pemerintah baru dan masyarakat bebas di Indonesia jika usaha ini, yang sekarang membuat awal yang sederhana untuk pengembangan penuh dan akan berkembang, lanjut, demikian Dr Bahder Djohan sambutannya. Karena SLT masih belum memiliki tempat sendiri, pelajaran yang diberikan sekarang dilakkan tiga tempat. Sebuah sumbangan sebesar f17.900 yang diterima dari individu Indonesia, Cina dan Arab. Diharapkan bahwa SLT akan segera memiliki gedung sendiri. Ketiga fakultas Republik yang ada di Batavia adalah Kedokteran, Hukum dan Seni dan Filsafat’.

Untuk sekadar diketahui bahwa kini, koran ‘Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie’ sudah menjadi milik Parada Harahap. Koran ini adalah koran berbahasa Belanda, Koran tempat dimana dulu (era Belanda) Parada Harahap kerap menulis dalam berpolemik dengan pers Belanda. Koran ini sebelumnya adalah milik seorang Tionghoa asal Semarang, yang sejak lama menjadi kolega dekat Parada Harahap dalam dunia pers di Jawa. Sementara ini, Adinegoro tengah berada di Belanda.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 10-01-1950 (Adinegoro tentang kebebasan dan kedaulatan): ‘Adinegoro, saat ini berdiam di Belanda, salah satu wartawan Indonesia, menerbitkan, Vrij Nederland, sebuah artikel menarik, mari kita ikuti. Adinegoro belajar di Eropa Barat, selama perang studi publiciieit dan pendidikan publik, mengirim artikel antara lain ke Balai Pustaka. Dia adalah Repidbliken, bekerja di Departemen Pendidikan, telah menerbitkan beberapa buku dan berbagai posisi lain di Partai Republik, Dalam menulis pengantar dari artikelnya Vrij Nederland, argumen tenang dan lugas yang tidak mengecilkan kritik diri, mungkin merupakan indikasi dari banyak orang Belanda bahwa Indonesia memiliki kepemimpinan, yang kita dapat sepenuhnya berkolaborasi dan yang dalam hal apapun yang layak dipertimbangkan tertinggi kami’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 11-01-1950: ‘Adinegoro menulis, yang kami kutip kemarin di majalah, tentang kekecewaan besar bagi rakyat miskin Indonesia saat itu mengalami hari yang buruk meskipun bendera merah putih bertiup tapi tidak ada yang berubah dalam hal sociaaloeconomisch. Dan lagi, ia menunjukkan bahwa untuk mencapai perbaikan, yang satu membayangkan, bantuan luar negeri (terutama Belanda) tidak dapat dilakukan tanpa. Ini sebenarnya sudah jawaban yang paling meyakinkan untuk keberatan, di mana salah satu bagian dari pers Indonesia terhadap "empat titik" menunjukkan. Selain itu, mereka keberatan yang tidak dimengerti. Orang-orang Indonesia baru saja meninggalkan kolonialisme. Apakah ada sekarang , satu keajaiban, jenis baru kolonialisme di tempatnya, yaitu dalam bentuk tekanan oeconomische Amerika, yang tidak hanya terbatas pada kapitaals investasi, tetapi juga di lain, daerah bahkan administrasi, sebuah "jari di pie "keinginan? Jika kedaulatan tidak begitu di AS dijual kembali? Dan akhirnya, itu tidak selalu dalam blok politik-militer benar, yang menetapkan di seberang bagian lain dari dunia, terutama gesovjetisseerde bagian dari Eropa dan Asia? Keberatan ini tidak hanya dimengerti tetapi juga nyata’.
Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 02-08-1950: ‘Dalam edisi terbaru De Gids dua artikel di New Guinea muncul. Mantan Resident M. Klaassen menulis tentang New Guinea di masa depan. Dia berkesimpulan bahwa kedaulatan atas Belanda di New Guinea harus dipertahankan sampai saat rakyat Papua secara politik negara sendiri dapat memutuskan. Adinegoro, tentu saja dengan kesimpulan yang berlawanan. Dia berpendapat bahwa seseorang tidak bisa melakukan sebaliknya dari New Guinea ke Indonesia dan meninggalkan untuk bekerja sama mengembangkan dengan bantuan modal Amerika. Seperti banyak orang Indonesia, Adinegoro tampaknya percaya bahwa satu hanya perlu peluit dan ibukota AS bergegas ke tempat di mana engkau itu dianggap perlu. Kenyataannya agak berbeda’.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-10-1950: ‘Adinegoro, koresponden Eropa Barat di Belanda melaporkan untuk koran Merdeka:….(tentang Kampanye negatif terhadap RI pada Ambon di Belanda? Peringatan untuk orang untuk petualangan konyol)’.

Adinegoro dan Mochtar Lubis

Jejak Parada Harahap dalam pers asing di Indonesia sesungguhnya masih kental, setidaknya Parada Harahap masih memiliki Java Bode, koran berbahasa Belanda yang memungkinkan pers Belanda dapat menyimak apa yang terjadi dan polemic apa yang tengah menghangat setelah secara pelan-pelan pers Belanda mulai menghilang dari Indonesia. Parada Harahap kini sudah menua, perang pers sudah bukan ranahnya lagi. Kini, pers asing vs pers pribumi sudah di tangan para juniornya antara lain Adinegoro dan Mochtar Lubis.

Het nieuwsblad voor Sumatra,06-08-1957

Jaman telah bergeser, situasi dan kondisi yang dihadapi juga telah berubah. Namun pers selalu memainkan perannya. Kini (1950), Adinegoro tengah berada di Belanda, sangat rajin mengirim laporannya ke tanah air terutama ke koran Merdeka, sebuah media masa kini yang mengingatkan kita bagaimana dulu Parada Harahap mengirimkan laporannya ke Koran Benih Mardeka di Medan (1917-1918). Juga mengingatkan ketika Adinegoro tengah studi di Eropa (1926-1930) sangat rajin mengirimkan artikelnya untuk dimuat di berbagai media di Indonesia terutama Bintang Timoer (milik Parada Harahap). Kini, Adinegoro sudah memiliki pendamping yang (mungkin) menjadi suksesinya, yakni: Mochtar Lubis. Ibarat estafet: Parada Harahap menggantikan Dja Endar Moeda, maka kini, Mochtar Lubis menggantikan peran Adinegoro.
.

Berlanjut ke artikel berikutnya: Mochtar Lubis: The Musketeer in International Press


Profil Tiga Tokoh Pers Nasional

Uraian
Parada Harahap
Adonegoro
Mochtar Lubis
Lahir
1899
1904
1922
Pendidikan
Sekolah Rakyat (1906, sekolah 3 tahun)
Stovia (1922), studi jurnalistik di Eropa (1926-1930)
Sekolah ekonomi
Pengalaman kerja
Juru tulis di perusahaan
perkebunan
Wartawan
Guru
Mulai menulis
1916
(De Cranie)
1922
Sekolah rakyat
Mulai editor koran
1918
Benih Mardeka
1929
Bintang Timoer
1942
(radio)
Koran utama (mulai)
Sinar Merdeka (1919), Bintang Hindia (1923), Bintang Timoer (1930), Tjaja Timoer (1938), Java Bode (1950)
Pewarta Deli (1930) Mimbar Indonesia (1948)
Antara (1945, majalah sastra Mutiara (1947), Indoesia Raya (1949), majalah sastra Horison (1966),

Jumlah editor media
20
5
8
Jumlah pemilikan media
15
1
4
Jumlah media bahasa asing
3
-
-
Jumlah delik pers
101
-
3
Pemilikan media (mulai)
1919
?
1945
Pemilikan percetakan (mulai)
1930
?
?
Prestasi/julukan
Wartawan terbaik versi Jurnalistik Eropa/Belanda
The King of Java Press
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengabadikan nama Adinegoro pada hadiah jurnalistik tertinggi, dengan nama Hadiah Adinegoro.
Wartawan terbaik Indonesia, Sastrawan terbaik, Wartawan Indonesia Paling di kenal di dunia pers internasional
Lama di dunia pers (tahun)
41
?
42
Wilayah jurnalistik
Medan, Padang Sidempoean, Sibolga, Batavia, Bandoeng, Semarang, Soerabaija, Bukittting, dan Makassar
Batavia, Medan, Padang
Jakarta
Jumlah karya (buku)
13
10
26
Meninggal
1959
1967
2004
Masa hidup (tahun)
60
63
82
Aktivitas lain
Penulis buku umum, penulis scenario film, dosen, pejabat pemerintah
Pengarang novel, Penulis buku umum, pejabat pemerintah
Pengarang, Penulis buku umum, NGO,
Assosiate Editor pada World Paper Boston AS, Skenario Film, Yayasan Obor Indonesia,
UNESCO
Organisasi
Sekretaris PPPKI dan Anggota BPUPKI
PWI
International Press Institute, Associatition for Cultural Freedom, LBH, Akademi Jakarta, Press Foundation of Asia
Pionir
Pendiri sarikat wartawan, pendiri kadin, pendiri akademi jurnalistik, pendiri kopertis, pemulis repelita

Pendiri International Press Institute
Penghargaan pemerintah
Bintang Mahaputra Utama (1992)
-
-
Penghargaan internasional
-
-
Magsaysay Award (1958), tetapi tahun 1995 mengembalikannya sehubungan awad yang sama dimenangkan Pramoedya Ananta Toer,
Golden Vrijheidspen 1967 (internationale federatie van dagbladuitgevers)
Penghargaan lain
-
-
1.      Hadiah Sastra, dari BMKN (tahun 1952).
2.      Musim Gugur (Cerpen), meraih Hadiah, dari majalah Kisah (tahun 1953).
3.      Perempuan (Kumpulan cerpen), meraih Hadiah Sastra Nasional, dari BMKN (tahun 1955-1956).
4.      Hadiah Ramon Magsaysay, dari Filipina (tahun 1958).
5.      Hadiah Pena Emas, dari World Federation of Editors an Publishers.
6.      Harimau! Harimau! (Novel), meraih Hadiah, dari Yayasan Buku Utama Departeman P & K (tahun 1975).
7.      Maut dan Cinta (novel), meraih Hadiah Sastra, dari Yayasan Jaya Raya (tahun 1979).
8.      Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).
Penulisan tokoh Mochtar Lubis


1.      Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952) diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.H. John dengan judul  A Road With No End, London, 1968).
2.      M.S. Hutagalung tentang novel Mochtar Lubis 'Jalan Tak Ada Ujung' (1963).
3.      Henri Chambert-Loir, disertasi dengan judul 'Mochtar Lubis, une vision del'Indesie Contempraine' (Paris, 1974).
4.      David T. Hill, disertasi dengan judul 'Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor' (disertasi, Canberra, 1989).
5.      Mochtar Lubis Wartawan Jihad
Keluarga
Anak: Perempuan pertama ahli hukum di Sumatra (1957)
-
-





Ringkasan Kronologis: Tiga Tokoh Pers Indonesia

Tahun
Parada Harahap
Adonegoro
Mochtar Lubis
1899
Lahir di Padang Sidempoean


1904

Lahir di Talawi 14-8-1904
1906
Masuk sekolah rakyat tiga tahun

1914
Merantau ke Deli

1915
Editor majalah De Cranie

1917
Membongkar kasus poenali sanctie di perkebunan

1918
Editor Benih Mardeka di Medan

1919
Menerbitkan Sinar Merdeka di Padang Sidempoan dan merangkap editor Poestaha Padang Sidempoean (terbit sejak 1915)

1922
Masuk organisasi pergerakan pemuda dan politik
Masuk Stovia (1922)
Lahir di Sungai Penuh, Kerinci, 7 Maret 1922
1923
Hijrah ke Batavia dan Editor Bintang Hindia


1926

Studi jurnalistik ke Eropa

1945

Ketua Komite Nasional Sumatera

1959
Meniggal dunia di Jakarta 11 Mei 1959
Anggota Dewan Perancang Nasional/MPR



Meninggal 7 Januari 1967

1992
Dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama (Kepres No. 48 Tahun 1992).







Karya
Karya
Karya

1.      Melati van Agam (Swan Pen, pseud. van Parada Harahap). 1923.
2.      Dari pantai kepantai: Perdjalanan ke Soematra October-Dec. 1925 dan Maart-April 1926 (Parada Harahap). Bintang Hindia. 1926.
3.      Menoedjoe matahari terbit: perdjalanan ke Djepang November 1933 - Januari 1934 (Parada Harahap). Bintang Hindia. 1934.
4.      Riwajat Dr Abdul Rivai (Parada Harahap). Handel Mij Indische Drukkerij. 1939.
5.      Pers dan journalistiek (Parada Harahap). Handel Mij. Indische Drukkerij. 1941.
6.      Vietnam merdeka! (Parada Harahap). Usaha Penerbit Tintamas. 1948.
7.      Sa’at Bersedjarah: Ichtisar dan Pemandangan jang Didapat dari Persidangan Komite Nasional Indonesia Pusat, Dilangsungkan di Malang pada Tanggal 25 Februari sampai 5 Maret 1947 (Parada Harahap). Djakarta: NV Gapura. 1951.
8.      Kedudukan pers dalam masjarakat (Parada Harahap). 1951.
9.      Ilmu Djoernalistik (Parada Harahap). Djakarta: Akademi Wartawan. 1952.
10.  Indonesia Sekarang (Parada Harahap). Bulan Bintang. 1952.
11.  Toradja (Parada Harahap). N.V. Penerbitan. 1952.
12.  Serba sedikit tentang ilmu pers (Parada Harahap). Akademi Wartawan. 1952.
13.  Industri Eropa dan five year plan (rentjana lima tahun) pembangunan Indonesia (Parada Harahap). Beringin Trading Company. 1957.
1.      Darah Muda (novel). Balai Pustaka, 1931
2.      Asmara Jaya (novel) Balai Pustaka, 1932
3.      Kamus Kemajuan
4.      Melawat ke Barat. Balai Pustaka, 1950
5.      Perang Dunia I
6.      Tiongkok Pusaran Asia
7.      Revolusi dan Kebudayaan
8.      Filsafat Ratu Dunia
9.      Atlas Tanah Air
10.  Ilmu Jiwa Seseorang

1.      Tak Ada Esok (novel, 1951)
2.      Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
3.      Teknik Mengarang (1951)
4.      Teknik Menulis Skenario Film (1952)
5.      Perempuan, Perempuan (1956)
6.      Harta Karun (cerita anak, 1964)
7.      Tanah Gersang (novel, 1966)
8.      Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963)
9.      Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
10.  Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
11.  Harimau! Harimau! (novel, 1975)
12.  Manusia Indonesia (1977)
13.  Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
14.  Catatan Subversif (1981)
15.  Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
16.  Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)
17.  Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
18.  Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
19.  Catatan Korea (1951)
20.  Indonesia di Mata Dunia (1955)
21.  Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (editor, 1979)
22.  Bunga Rampai Korupsi (editor bersama James C. Scott, 1984)
23.  Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno (editor 1986)
24.  Tiga Cerita dari Negeri Dollar (terjemahyan, kumpulan cerpen, John Steinbeck, Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)
25.  Orang Kaya (terjemahan novel F. Scott Fitgerald, 1950)
26.  Yakin (terjemahan karya Irwin Shaw, 1950)
27.  Kisah-kisah dari Eropa (terjemahan kumpulan cerpen, 1952)
28.  Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953)
29.  Mochtar Lubis bicara lurus: menjawab pertanyaan wartawan (Mochtar Lubis, Ramadhan Karta Hadimadja)

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: