31/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (14): GB Josua, Tokoh Pendidikan Medan dan Presiden Sahata Voetbal Club Sebagai Ketua Perayaan 17 Agustus 1945 dan Ketua Panitia PON III



GB Josua (1950)
Suksesi Kajamoedin gelar Radja Goenoeng dalam pengembangan pendidikan di Medan adalah Gading Batoebara. Anak Padang Sidempoean kelahiran Hoetapadang, Sipirok 10 Oktober 1901 (10-10-01) ini mengikuti jejak seniornya Radja Goenoeng untuk sekolah guru di Fort de Kock. Setelah lulus Kweekschool Fort de Kock, Gading Batoebara melanjutkan sekolah ke Hogere Kweekschool di Poeworedjo dan lulus 1923. Setelah lulus, Gading Batoebara pulang kampung dan menjadi guru sementara di HIS swasta Sipirok (kampung halamannya).

Kemudian Gading Batoebara merantau dan menjadi guru di Tandjoengpoera (Langkat). Tidak lama di Tandjongpoera, GB Josua tertarik atas tawaran untuk memajukan sekolah HIS swasta di Doloksanggoel. Kehadirannya membuat sekolah HIS Doloksanggoel maju pesat hingga akhirnya diakuisisi oleh pemerintah menjadi HIS negeri. Sukses GB Josua merancang HIS di Doloksanggoel membuat namanya diperhitungkan oleh pemerintah Nederlansch Indie.

Bertugas di Medan dan Studi Ke Nederland

Dalam perkembangannya, Gading Batoebara Josua (GB Josua) diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Medan.

De Sumatra post, 17-09-1928): ‘G.B. Josua diangkat menjadi guru pemerintah dan ditempatkan di Schakel School di Medan. Mardan Tandjoeng dipindahkan dari Schakel School di Medan dan ditempatkan di Holandsch Inlandsch School di Padang Sidempoean.

Pada tahun 1929 GB Josua melanjutkan pendidikannya ke Negeri Belanda di Groningen. Setelah mendapat akte Lager Onderwijs GB Josua kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ss. Patria dari Rotterdam 4 November 1931 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 01-12-1931).


Mendirikan Sekolah

Westenenkstraat
Dalam perkembangannya GB Josua merencanakan untuk mendirikan sekolah menengah pertama (HIS) di Medan. Surat permintaan ini disampaikan kepada Dewan Kota yang sekolah ini direncanakan membangun di tempat dimana sebelumnya seorang Tionghoa menggunakannya sebagai fasilitas pencucian yang bertempat di Westenenkstraat (De Sumatra post, 02-07-1932). Peresmian sekolah ini dilakukan tanggal 16 Juli 1934.

Siswa yang diterima di Mulo, Medan
De Sumatra post, 27-04-1933 (Hasil ujian masuk HBS, salah?): ‘Ada berita kejutan dan controversial di Pewarta Deli kemarin. Isinya diskusi perihal hasil dalam ujian masuk HBS yang disorot. Artikel ini menyebutkan hasil yang menakjubkan dari Taman Siswa dan angka yang sangat buruk untuk HIS (pemerintah). Artikel ini mengutip daftar perolehan masing-masing sekolah yang siswanya diterima di MULO: Taman Siswa lulus 50 persen, HIS pemerintah nol persen dan Institute Josua lulus 80 persen. Kami telah mengkonfirmasi kepada Direktur HBS bahwa informasi tersebut salah tempat. Bahwa artikel itu diambil selama dua tahun terakhir, bukan hasil tahun ini. Tahun sebelumnya berhasil sembilan persen. Insitut Josua gagal tahun ini tetapi berhasil 80 persen dalam dua tahun terakhir. Berbeda dengan lembaga lain. kami hanya perlu melihat hasil tahun ini ketika lima calon Taman Siswa tidak ada yang cukup berhasil. Daftar lengkap hasil sekolah adalah sebagai berikut: (lihat gambar).

De Sumatra post, 03-05-1934 (Nieuwe School): ‘Sekolah baru. Bertempat di Delistraat, sekolah dibangun untuk Institut Josua untuk pendidikan dasar dan menengah dibawah kepemimpinan Mr Joshua. Bangunan harus selesai 1 Agustus (1934)’.

Delistraat
De Sumatra post, 22-06-1934 (Aktivitas guru pribumi): ‘Orang bisa mengatakan bahwa pemerintah telah mengadopsi langkah-langkah penghematan melalui stimulasi pada pengembangan inisiatif pribadi pribumi di bidang pendidikan. Pada tahun ajaran baru, yang dimulai 1 Agustus, HIS dengan Al-Quran di Medan dibuka di sekolah yang baru, yang akan dibangun yang menjadi alternative lain HIS dapat dipertimbangkan datang ke Willis Street. Selain ini kesempatan pendidikan baru, perluasan lebih lanjut  menggantikan yang sudah ada, terbukti dengan banyaknya pemberitahuan di majalah Melayu untuk guru dari pelatihan guru perguruan tinggi atau sekolah normal yang lebih tinggi, kekuatan yang kompeten. Ekspansi yang dilakukan sekolah yang dimiliki Mr Josua terbesar akan menjadi terbesar pada pendidikan dasar (HIS) dan menengah (MULO) di Medan, sebagai sekolah Mr Joshua, yang saat ini berada di Westenenckweg (kini Jalan Borobudur). Untuk bangunan sekolah ini sedang dibangun di Delistraat. Secara keseluruhan, Kota Medan, pendidikan anak-anak pribumi yang bersangkutan, tahun ini jauh lebih baik daripada awal tahun terakhir, ketika begitu banyak orang yang datang untuk melamar pendidikan Hollandsch Inlandsch School ditolak (karena kurang kapasitas)’.

De Sumatra post, 24-09-1934: ‘Kompetisi basket di Medan. Divisi senior terdaftar lima klub yakni IEV, JS. HBS, KJB (KMS), Su Tung dan MULO. Divis Junior sebanyak 10 asosiasi, yakni ÏEV (2 tim), klub MULO, Medan, NHIS, Eur. Sekolah Dasar, Chr. Euro. S., Chr. HIS, Institute Josua dan Taman Siswa’.

Menjadi Anggota Dewan Kota

Anak-anak Padang Sidempoean sudah banyak yang menjadi anggota dewan kota bahkan anggota Volksraads. Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng adalah pribumi pertama yang menjadi anggota dewan kota Medan (1918) dan Dr, Alimoesa Harahap, anggota Dewan Kota Pematang Siantar menjadi anggota Volksraads (pribumi pertama anggota Volksraad dari Noord Sumatra). Pada pemilihan periode terakhir ini satu diantaranya adalah Abdoel Hakim. Kemudian di tengah jalan, menyusul masuk GB Josua sebagai anggota pengganti Gementeeraads Medan.

Gedung Dewan Kota Medan (Gementeeraads)
De Sumatra post, 19-06-1934 memberitakan bahwa GB Josua diusulkan menjadi anggota Dewan Kota melalui pemilihan. Total kursi anggota dewan yang diperebutkan sebanyak 17 yang terdiri dari 10 kursi untuk Belanda, 5 kursi untuk pribumi dan 2 kursi untuk Non Belanda. Dari daftar calon untuk pribumi ada sebanyak 15 orang. Dari daftar ini terdapat enam anak Padang Sidempoen, yakni: Abdullah Lubis, Aboe Bakar, Abdul Hakim, GB Joshua, Madong Lubis dan Soeleiman Hasiboean.

Setelah Kajamoedian gelar Radja Goenoeng sukses, karir GB Josua mulai mendapat tempat di Medan.

Pada awal tahun 1935, GB Josua diangkat sebagai anggota Komite Pendidikan (lihat De Sumatra post, 02-02-1935). De Sumatra post, 20-07-1935 menyebutkan anggota komisi tersebut adalah Voorzitter: Ir. JC Francken, Directeur HBS. Secretaris: B.Benning Kesawan. Sebanyak Sembilan anggota: Mpvr. O. Nelissen-üumas, Tasmanlaan, Gan Hoat Soey, fa. Hap Tong, Luitenantsweg, PH Geensen, Hoofd 2e Holl. Inl. School, GB Josua, Hoofd Inst. voor gewoon en voortgezet, Lager onderwijs, PJH. Klevant, Hoofd Chr. Eerste Lagere School, JS Krenuing, Directeur Mulo, Dr. Sic Tjoau Sioe, Arts, FE Vervuurt, Hoofd Holl. Chin. School’.

De Sumatra post, 01-06-1935 (Toezicht en Bijstand Algemeene Volkscredietbank): ‘Untuk tugas pemantauan dan Bantuan Bank Kredit Algemeene Rakyat selama tiga tahun diangkat menjadi anggota pengawas dan bantuan dari umum lokal menggunakan kredit bank Volkse di Medan: GB Joshua, Kepala Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah di Medan’.

Dalam putaran terakhir pemilihan Dewan Kota Medan yang terpilih adalah Abdul Hakim dan GB Josua (lihat De Sumatra post, 04-04-1936).

Abdul Hakim kelak menjadi Gubernur Noord Sumatra yang ketiga (1951-1953). Ayah Abdul Hakim adalah Mangaradja Gading kelahiran Padang Sidempoean. Karirnya sebagai pangawas berpindah-pindah dari Padang Sidempoean, Sibolga dan Djambi. Abdul Hakim adalah anak ketiga Mangaradja Gading. Abdoel Hakim lahir di Sarolangoen 1905.

Sekolah yang didirikan GB Josua ini berkembang pesat. Gading Batoebara yang kemudian lebih dikenal sebagai GB Josua yang nama perguruannya dikenal sebagai Perguruan Josua (Josua Intituut).

GB Josua juga adalah Ketua SGIM (Serikat Goroe Goeroe Indonesia Medan) (De Sumatra post, 18-07-1936).

De Sumatra post, 12-11-1936 (De Josuase Jeugd Een jubileumnummer): ‘Koran mingguan sekolah, The Josuase Youth’ yang selama ini terbit setiap dua kali sebulan, kali ini dimasukkan ke dalam paket minggu. Ini digambarkan dengan foto-foto, memiliki sampul penutup, singkatnya, itu edisi tambahan dan sebagai prasasti yang sudah dilaporkan, lagu ulang tahun, lagu untuk menghormati ulang tahun pertama koran sekolah. Mr. GB Yosua, kepala sekolah Joshua, menulis kata pengantar, editor didorong untuk terus sepanjang jalan ini dan selalu terus bekerja sama dan artikel lain sedikit kegembiraan dan keinginan baik untuk masa depan, yang kami dengan senang hati bergabung dengan kami, pemuda Josuase, selamat menulis!’.

Dalam ujian masuk MULO Medan 1937 salah satu lulusan Instituut Josua Medan bernama Kasamiah berhasil diterima di MULO (De Sumatra post, 17-06-1937).

GB Josua kembali dicalonkan untuk pemilihan Dewan Kota (De Sumatra post. 30-07-1938). Dari kalangan pribumi terdapat sebanyak 25 orang, diantaranya Abdoel Wahab Siregar, Bedawi Rangkoeti, Suleiman Hasiboean, Pamoesoek gelar Sutan Mangasa Pintor, Taralam Nasution gelar Mangaradja Soangkoepon, Dr. Gindo Siregar, Mr. Loeat Siregar, Zakaria Loebis, Madong Loebis, GB Josua, Boerhanoeddin gelar Soetan Dilaoet. Dalam pilkada kali ini GB Josua gagal.

Dari hasil pemungutan suara hanya Suleiman Hasiboean yang langsung terpilih. Sedangkan delapan pribumi harus bersaing kembali untuk memperebutkan empat kursi. (De Sumatra post, 15-08-1938). Akhirnya yang terpilih, satu diantaranya adalah Boerhanoeddin gelar Soetan Dilaoet (De Sumatra post, 24-08-1938).

Josua Instituut Ekspansi

Bataviaasch nieuwsblad, 02-09-1938: ‘Dibutuhkan dua guru, Diploma HIK. Diminta untuk segera mengirimkan lamaran. Surat: Josua Institute, Medan’.

De Sumatra post, 05-09-1940 (Josua Institute membuka Ekspansi): ‘Kemarin sore di bawah bunga yang sangat indah berlangsung pembukaan bangunan baru, Joshua Institute di Delistraat Medan untuk upacara dimana berbagai otoritas hadir, seperti Walikota Medan, anggota dewan kotapraja dan anggota dewan kotapraja Djamaloeddin. Sebelum memasuki sekolah tersebut didahului pidato yang disampaikan oleh Raja Goenoeng, pengawas sekolah utama dan menyambut para peserta dan juga membuat perhatian khusus dari kehadiran Tcngkoe Mahkota Deli. Pembicara mengatakan dengan tegas bahwa lembaga seperti Joshua Institute, hanya bisa berkembang di bawah dukugan kuat otoritas Nederlandsen. Sementara anak-anak sekolah bernyanyi dan bendera dikibarkan, dan petugas bangunan dan memasuki tempat dimana sejumlah besar rangkaian bunga berdiri. Bergabung dengan ruang hiasan kemudian mengadakan pertemuan dimana. berpidato Dr. Pirngadi, yang memberikan sejarah singkat sekolah yang menekankan bahwa Mr Joshua adalah pendiri sekolah dan orang yang memulai dari sebuah sekolah kecil, lembaga ini telah dibuat pada 12 Juli 1932, yang mana institute ini di sebuah gudang di Westenenkstraat. Sekolah ini awalnya para siswa mengalami kesulitan belajar karena fasilitas yang jauh memadai, yang harus diatasi pada awalnya, namun secara bertahap sekolah ini tumbuh, dan tidak butuh waktu lama sebelum sekolah ini pindah ke gedung sekolah di Delistraat. Meskipun perbaikan dan perluasan diperlukan, setiap tahun di Medan banyak siswa yang tidak dapat ditampung karena kurangnya ruang . Sekarang lembaga Joshua memiliki 26 kelas dan  banyak guru dan masih subsisten. Sekolah ini awalnya kadang-kadang dipertanyakan, kini sekolah Josua ini telah membuktikan dirinya. Dr Pirngadi mengucapkan terimakasih kepada Bapak Joshua yang di akhir pidatonya menyebut Josua orang yang banyak pekerjaan social sebagai telah melakukan sebagai guru. Menurut pembicara, Mr. Josua adalah salah satu kepala sekolah terbersih dan telah berjuang dengan gigih untuk mengejar ketertinggalan. Speaker memuji dan Josua memang layak menerimanya. Sementara itu, Josua ungkapkan sekolah ini juga berkat hasil kerja semua karyawan yang telah mendukung mencapai hasil yang sekarang dan ke depan agar lebih giat. Setelah pidato yang hadir mereka bersama-sama, disuguhi makanan dan minuman dan termasuk orang tua dan anak-anak yang hadir dalam perayaan kehormatan sekolah ini’. [iklan: De Sumatra post, 06-01-1940].

Pengurus Klub Sepakbola ‘Sahata Voetbal Club’

GB Josua tidak hanya cerdas di bangku kuliah, tidak hanya piawai mengajar siswa di kelas dan tidak hanya pintar berdebat di parlemen kota, tetapi GB Josua juga jago di lapangan rumput. GB Josua di Medan juga adalah pengurus klub Sahata.

De Sumatra post, 28-04-1941 (Sport Vereeniging Sahata): ‘Pada hari Sabtu, Sport Vereeniging Sahata menyelenggarakan acara malam yang sangat menyenangkan sekali di lapangan Josua Institute. Tidak kurang dari 3 band, Merry-Owl, band dasbekende Restaufant di Pasar Ma, de'Hawaian Tapanoelien, yang tidak asing bagi pendengar radio dan Parti Lian (Onang-Onang). Pada pukul 07.30 Mr A, Siregar menyambut sekitar 300 peserta, Mr. TL Hoetapea sebagai direktur menjelaskan penciptaan dan tujuan asosiasi ini yaitu mengembangkan lebih dekat persaudaraan antara anggota tanpa melihat perbedaan asal dan agama. Setelah itu, diikuti oleh Mr. GB Josua, Presiden der Vereeniging memberi pidato singkat selamat datang dan bersukaria malam. Acara ini dinyatakan terbuka’.

Klub Sahata Voetbal Club adalah suksesi klub Medan Tapanoeli Voetbal. Klub Medan Tapanoeli Voetbal Club adalah suksesi Tapanoeli Voetbal Club.

Pendiri klub sepakbola anak-anak Residentie Tapanoeli di Medan adalah Dja Endar Moeda, Radja Media (pemilik percetakan dan koran Pertja Barat di Padang). Pada tahun 1901 meluaskan penerbitannya di Sibolga dengan nama koran Tapian Naoeli. Lalu kemudian membuka percetakan di Medan. Percetakan ini mendirikan klub pribumi pertama di Medan bernama Letterzetters Club disingkat L.Z. Club (lihat De Sumatra post, 10-10-1904). Setelah korannya Pertja Barat yang terbit di Padang dibreidel karena delik pers lalu dirinya mendapat hukuman cambuk (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-11-1905), Dja Endar Moeda hijrah ke Medan dan menerbitkan koran Pewarta Deli. Koran ini lalu membentuk klub baru yang diberi nama Tapanoeli Voetbal Club (lihat Deli Sumatra post, 19-03-1906). Pada tahun 1907 nama klub Tapanoeli VC diubah menjadi Medan Tapanoeli Voetbal Club (MTVC). Kompetisi di Medan berhenti. Pada tahun 1913 kompetisi bergulir lagi dengan dua kamar (kompetisi pribumi dan kompetisi non pribumi). MTVC protes karena Letterzetters Club diperlakukan tidak adil oleh Deli Voetbal Bond dan atas protesnya itu Tapanoeli VC ‘dikeluarkan’ dari kompetisi pada tahun berikutnya (1914). Lambat laun Letterzetters Club juga hilang dari peredaran. Lalu kemudian muncul lagi Medan Tapanoeli Voetbal Club dan pada tahun 1922 klub-klub pribumi (termasuk Tapanoeli Voetbal Club) diawasi dan dianggap berseberangan dengan klub-klub Belanda (De Sumatra post, 04-01-1922). Pada tahun 1924 MTVC dilakukan pembaruan dengan membentuk badan hokum dengan induknya Sarikat ‘Sahata Saoloan’.

De Sumatra post, 03-10-1924: ‘Disetujui statuta asosiasi ‘Sahata Saoloan’ di Medan dan dengan demikian bahwa serikat ini diakui sebagai badan hukum’. [di dalam edisi yang sama] ‘Disetujui statute Medan Tapanoelie Voetbal Club (disingkat MTVC) dan Medan Tapanoelie Voetbal Club dengan demikian diakui sebagai badan hukum’.

Dalam perkembangannya nama MTVC menghilang hingga munculya nama klub baru bernama Sahata Voetbal Club. Klub ini didirikan oleh koran Sinar Deli pada tahun 1935 (Sinar Deli adalah suksesi Pewarta Deli, mulai beroperasi tahun 1930 dengan editor Mangaradja Ihoetan). Klub ini dibentuk dari gabungan (merger) dua klub yakni Horas Voetbal Vereeniging (HVV) dan Parsadaan Sport Vereeniging (PSV). De Sumatra post, 31-10-1935 memberitakan bahwa pengurus klub Sahata ketika dibentuk adalah Abdul Hakim (Wethouder Gemeeteraad) dengan sekretaris Albert Siregar dan bendahara Ibu Mariamsjah Loebis. Abdul Hakim kelak menjadi Gubernur ketiga Noord Sumatra (1951-1953). Oleh karena Abdul Hakim pindah tugas ke Batavia, kepengurusan klub ini dipimpin oleh GB Josua.

Klub Sahata pimpinan GB Josua ini cukup lama eksis hingga muncul perselisihan dengan OSVB, lagi-lagi karena soal ketidakadilan. Klub Sahata mundur dari OSVB (De Sumatra post, 14-06-1941).

Selama pendudukan Jepang klub Sahata tidak terdengar kabar beritanya. Baru setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia kabar berita Sahata muncul kembali pada tahun 1950 (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 16-08-1950).

*Sahata adalah kata yang banyak digunakan dan sangat popular di dunia internasional. Sahata adalah nama seorang duta besar Jepang untuk Nederland di sGravenhage (kini Den Haag). Mr. Sahata menggantikan Mr. Sikara pada Oktober 1915 (lihat Leeuwarder courant, 30-10-1915). Sahata juga nama sebuah kabupaten di Jepang. Dalam bahasa Batak, ‘sahata’ diartikan sekata, ‘sahata saoloan’ diartikan seiya sekata. Nama klub Sahata Voetbal Club kemungkinan diambil dari badan hukum 'Sahata Saoloan'. Sebagaimana nama klub sepakbola pada saat itu, kerap mengadopsi nama-nama (klub sepakbola) yang sudah popular. Dengan demikian penamaan nama klub sepakbola anak-anak Tapanoeli ini, kedalam mengandung misi budaya (inti musyawarah dalam Dalihan Na Tolu) dan keluar dapat diasosiasikan dengan nama yang cukup popular (misalnya, seorang diplomat ulung Jepang).
Klub Sahata Melakukan Protes

Dalam perkembangannya, OSVB yang dimotori oleh MSV merasa perlu menggabungkan kompetisi OSVB dengan kompetisi pribumi. Penggabungan ini didukung oleh klub-klub pribumi termasuk Sahata VC. Di dalam kompetisi Sahata VC masuk Divisi Satu. Kompetisi OSVB tahun 1940, Sahata VC berada pada peringkat keempat di bawah Noertjahaja dan Shells SC dan Deli Mij. VC (kampiun). Untuk Divisi Dua adalah Deli Spoor SC.

Pada bulan Juni 1941 OSVB melakukan rapat tahunan seperti biasanya evaluasi kompetisi dan bertepatan dengan pemilihan pengurus baru. GB Josua yang hadir dalam rapat tahunan tersebut mewakili Sahata VC merasa selama ini seakan tidak diberi kesempatan bagi pribumi untuk menjadi Presiden. GB Josua melakukan protes dan memberi argumen yang realistik.

De Sumatra post, 14-06-1941: ‘Sejumlah kandidat telah diumumkan sebelum pemilihan. Kandidat non Belanda adalah Dr. Soedin dan Mr Joshua. Perwakilan Sahata dalam hal ini mengumumkan bahwa Mr Josua untuk menarik kembali. GB Josua harus meninggalkan pertemuan. Alasannya, tidak akan mungkin Indonesia menjadi presiden karena sudah diatur meski namanya pemilihan. Seperti biasanya Presiden adalah dari MSV. Padahal menurut GB Josua jumlah klub Indonesia lebih banyak di dalam kompetisi. Penjaringan calon dan pemilihan itu hanya akal-akalan saja. OSVB adalah federasi dan bukan MSV. Jangankan menjadi presiden, anggota dewan saja tidak ada wakil Indonesia’.

Inilah untuk kali kedua wakil pribumi protes keras terhadap pengurus bond yang notabene orang-orang Belanda. Pada tahun 1908 Tapanoeli VC juga pernah melakukan protes dan menarik diri dari kompetisi karena adanya ketidakadilan (kala itu nama bond adalah Deli Voetbal Bond yang dimotori oleh DSV. Kini, pada tahun 1941 terjadi lagi proses yang sama ketika penggabungan kompetisi dilakukan. Serba kebetulan, Tapanoeli VC berafiliasi dengan surat kabar Pewarta Deli (lembaga pemberitaan) milik Dja Endar Moeda dan Sahata berafiliasi dengan Josua Instituut (lembaga pendidikan) milik GB Josua. Dja Endar Moeda dan GB Josua adalah anak Padang Sidempoean yang sama-sama menjadi guru. Guru ternyata berjuang dengan caranya sendiri.

Masa Pendudukan Jepang

De Sumatra post, 12-11-1941: ‘Pasar Malam 1942 akan diadakan 30 Januari - 8 Februari di Lapangan Esplanade Medan. Kegiatan ini dilakukan atas inisiatif GB Josua melalui sarikat guru-guru Indonesia (Indonesische onderwyzers vereeniging). Keuntungan pasar malam ini akan dibagi: 50 persen untuk Bernhard Fonds; 40 persen untuk rumah miskin ‘Hati Dermawan’; lima persen untuk orang miskin Tionghoa dan lima persen untuk pertolongan penderita tuberklosis’.

De Sumatra post, 15-02-1941: ‘Dalam rangka mempersiapkan serangan udara dari pihak Jepang, walikota telah menerapkan manajemen layanan perlindungan udara. Untuk fungsi layanan perlindungan udara Medan dibagi menjadi delapan sector. Untuk sector lima diketuai oleh GB Josua Tel. 1465 dan wakilnya Mr M. A, Naviah Siregar’. Sektor 5 :. Ambachtsschool Sci. Kerahstraat 132, tel 239.

GB Josua, Republik Tulen

Selama masa pendudukan Jepang komplek Institut Josua ini diambil oleh tentara/militer Jepang. Setelah kemerdekaan aset Institut Josua ini diberikan kembali kepada GB Josua. Selama masa agresi Militer Belanda, Institut Josua tetap mendidik siswa-siswa utamanya anak-anak republik. Setelah pengakuan kedaulatan figur Josua makin menonjol di Medan.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-11-1949: ‘GB Josua beserta empat lainnya, menjadi pimpinan komite penyerahan kedaulatan dari Negara Sumatera Timur (NST) ke Republik Indonesia’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 30-12-1949: ‘Penyerahan Palang Merah Belanda kepada Palang Merah Indonesia di Medan yang diwakili oleh GB Josua’. Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-05-1950: ‘GB Josua sebagai sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Medan’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 29-04-1950 (Representatief): ‘Ada pihak yang kemudian berpendapat, bahwa RIS harus mengakui Kongres Rakyat sebagai parlemen yang demokratis, yang dapat dianggap mewakili 1,5 juta penduduk Sumatera Timur. Hal ini berbeda dengan Dewan Perwakilan dari Negara Sumatra Timur (NST), yang ditunjuk oleh Wali Negara. RIS regering Kongres milik Rakjat untuk mengenalinya sebagai Status Badan Penetapan Wilajah Negara Sumatera Timur, tubuh yang status daerah NST dapat vaststelen. Akhirnya datang ke interpretasi logis, Mr. Jacoeb mengatakan bahwa NST adalah gatra reaksioner, karena mereka hanya mewakili kepentingan promotor kuno--Komite Istimewa Daerah Sumatra. Ia juga menunjukkan banyak resolusi baru yang diadopsi oleh NST. Prov. menyimpulkan dengan menyatakan harapan bahwa NST akan dilikuidasi dan dimasukkan ke dalam Republik Indonesia. Tentang Yahya Jacoebs saran dilakukan 39 pembicara dari semua kelompok kata. Tanpa kecuali, mereka bersaksi persetujuan mereka pada kesimpulan. Setelah jawaban singkat dari Mr Jacoeb, Kongres berubah sesuai aceoord dan pergi dengan prinsip, bahwa NST harus dalam (Negara) Republik Indonesia. Lima orang komite kemudian ditunjuk dari politik, ekonomi, budaya, agama dan sosial. Mereka akan mempelajari saran lebih lanjut dan laporan tentang berbagai aspek masalah ini. Ketua komite tersebut (di mana semua kelompok diwakili) yang resp. Mr. M. Jusuf, Jusuf Adjitorop, GB Joshua, Hadji Rahman Sjihab dan Mr. H. Silitonga. Sementara itu jumlah fraksi diperluas dengan dua faksi progresif yakni Dr. Gindo Siregar, dan wakil sebagian kecil Karo’.

Untuk merayakan ulang tahun hari proklamasi kelima telah dibentuk panitia yang mana  ketua komite adalah GB Josua. Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-08-1950: ‘Di Medan telah dibentuk untuk perayaan 17 Agustus 1945. Komite ini diketuai oleh GB Josua’. Het nieuwsblad voor Sumatra, 16-08-1950 memberitahukan kronoligis acara perayaan hari 17 Agustus sebagai berikut:

GB Josua, pidato 17-8-1950
Pagi pada pukul setengah enam, warga Medan dikumpulkan di Lapangan Merdeka (ex Esplanade). Pukul enam akan terdengar selama lima menit lonceng gereja, surine dan klakson lokomotif. Pada saat yang sama para prajurit akan meniup trompet. Lalu kemudian menggerek bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. disertai dengan band militer. Lalu kemudian hening cipta satu menit untuk menghormati para pahlawan, kemudian pukul tujuh lewat lima menit mendengarkan relay radio dari Jakarta untuk mendengar pidato presiden pertama Soekarno di parlemen atas nama seluruh bangsa Indonesia. Bunyi lonceng gereja dan sirine meraung selama dua menit, dimana semua lalulintas dihentikan, selama pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945 dan doa bagi keselamatan negara. Pada pukul sembilan setelah relay dari Radio Jakarta, pidato akan disampaikan di Espalanade oleh Bapak GB Josua, ketua komite perayaan untuk Sumatera. Timur, lalu Kolonel M. Simbolon, Gubernur Militer, dan Mr. Sarimin Reksodihardjo, ketua panitia persiapan negara bersatu untuk Sumatera Timur. Akhirnya, menanam pohon di Esplanade pukul sepuluh. Pada 11:30 dilakukan pawai mulai sepanjang rute berikut: Esplanade, Kesawan. Dj. Istana, Dj. Tukang Besi. Dj. Kapten, Dj. Sutomo, Dj. Serdang, Dj. Balai Kota, Dj. Rumah Bola Esplanade. Pada pukul satu siang akan mengunjungi pahlawan yang cacat. Pada pukul tiga dimulai parade. Setelah ini berbaris pasukan dengan rute. Dj Merdeka, Dj. Wali Kota, Dj Sulthan Maamun Alrasjid, Dj Tukang Besi, Dj Kapten, Dj Sutomo, Dj Serdang, Dj Balai Kota Kesawan, Sukamulia, Dj Jakarta, Dj Merdeka. Pukul 5 sore, akan dilakukan final turnamen sepakbola antara Medan Putera dan Sahata yang akan berlangsung di lokasi Kebun Bunga sementara pukul lima sore juga diadakan pertunjukan musik di Esplanade, yang kemudian disusul mulai pukul enam pertunjukan teater. Untuk Radio Medan (Gelombang 60,85 m). Pada pukul enam tigapuluh di Esplanade akan ada pidato oleh Mr GB Joshua, Kolonel M. Simbolon dan Bapak Sarimin Reksodihardjo. Di malam hari akan dilanjutkan upacara keagamaan di masjid-masjid dan gereja.

Parade militer RI di Esplanade, 1950
Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1950: ‘Kemerdekaan dirayakan di Medan. Empat pembicara pada pertemuan massa. Diperkirakan 55.000 orang menghadiri pertemuan massa pagi di Esplanade. Pada sore dilakukan parade militer besar dan di malam hari otoritas sipil dan militer tertinggi melakukan resepsi hari bersejarah ini. Keempat pembicara pada pertemuan massa di Esplanade: Mr. GB Josua, Sugondo, Kolonel M. Simbolon dan Sarimin Reksodihardjo’.

Pembentukan Dewan Kota Medan

Het nieuwsblad voor Sumatra, 09-10-1950: ‘Gemeenteraaad baru Medan akan terdiri dari lima belas anggota sedang dilakukan persiapan. Walikota Medan berharap awal bulan depan, Dewan Kota (Dewan Perwakilan Kota) akan dipasang. Dewan ini akan diisi oleh partai dan organisasi masyarakat untuk mengangkat anggota. Dewan ini diketuai oleh walikota. Walikota memberitahukan akan dibentuk sebuah komite (semacam KPU) yang akan memeriksa apakah semua yang terdaftar memenuhi persyaratan. Secara total, yang mendaftar sekitar enam puluh organisasi setelah pengumuman di koran diterbitkan. Anggota komisi yang ditunjuk Walikota sebanyak empat orang, individu yang sering berhubungan dengan berbagai lapisan masyarakat. Mereka adalah Mr. GB Josua, Mr. Mahadi, Jahya Jacoeb dan M. Tahir MS. Panitia telah melakukan beberapa kali pertemuan dan akan selesai sekitar pertengahan Oktober. Masing-masing pihak yang diakui dan asosiasi selain menunjuk ke pemilih, dan dengan demikian membentuk electoral college yang ditunjuk oleh lima belas anggota dewan. Semua ini sesuai dengan Republik Indonesia hukum diperkenalkan, yang sekarang berlaku untuk seluruh kota-kota. Dewan hanya dapat ditunjuk oleh warga negara Indonesia. The College mirip dengan College of B dan W, sebagaimana diakui di Belanda. Ditanya tentang isu-isu utama, yang dibahas dewan nantinya, Walikota Djaidin Poerba menjawab tentang perbaikan warga Medan pasti akan menjadi salah satu tugas yang paling mendesak dari Dewan Perwakilan Kota. Perumahan, perbaikan kampung dan masalah upah mungkin akan segera membutuhkan perhatian, serta isu perluasan gereja. Tampaknya Kota Maksum diinginkan yang saat ini sultanaatsgebied untuk menarik diri dari kota bahwa peraturan kota juga berlaku di sana. Selanjutnya, harus dilakukan untuk mengangkat dualisme dalam pengelolaan (bupati Deli Serdang saat ini masih ‘kepala pemerintahan sementara’).

Abdul Hakim dan GB Josua Satu Panggung

Abdul Hakim dan GB Josua, dua anak Padang Sidempoean pernah sama-sama duduk di Gementeeraad Medan (lihat De Sumatra post, 04-04-1936). Kini, kedua tokoh ini berbeda posisi. GB Josua tahun ini tetap menjadi ketua komite perayaan 17 Agustus, seperti tahun lalu. Yang membacakan proklamasi di Medan dalam perayaan tahun lalu adala Ir. Soekarno melalui radio. Perayaan yang kedua kali ini, yang membacakan teks proklamasi adalah Gubernur Sumatra Utara, Abdul Hakim—teman GB Josua yang sama-sama berjuang di Dewan Kota Medan.

Sebagaiman dilaporkan Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1951, GB Josua sebagai ketua panitia juga berpidato dalam acara peraayaan ini. Isinya adalah menunjuk bahaya yang mengancam sekarang masyarakat dalam bentuk korupsi, dll, dan mengimbau masyarakat sendiri bersatu untuk memberantasnya. ‘Jika terus seperti ini, kita menyebut diri kita imperialisme kembali’ sebagaimana Mr Joshua memperingatkan.

Ketua Panitia PON III

GB Josua ditunjuk sebagai Ketua Panitia penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) yang ketiga di Medan. Dalam kepantiaan ini termasuk Abdoel Wahab Siregar dan Mustafa Pane. Mr GB Joshua berterima kepada Gubernur atas amanah ini dan akan menunjukkan dan meyakinkan bahwa anggota komite akan mengerahkan upaya terbaik untuk PON III sukses (Het nieuwsblad voor Sumatra, 24-01-1952).

Setelah perang, PON pertamakali dilaksanakan di Djakarta (PON II) yang berlangsung antarta (21 October - 28 October 1951. PON III di Medan, kedua setelah perang dan pertama di luar Djawa dilangsungkan antara 20 September - 27 September 1953. PON I dilaksanakan di Solo sebelum perang (8 September - 12 September 1948).

Dalam masa persiapan PON III ini, Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Sultan Hamengku Buwono IX (Sultan Djogja) berkunjung di Medan. Di bandara pagi ini (Het nieuwsblad voor Sumatra, 30-01-1952) HB IX disambut Residen Sumatra Timur, Muda Siregar mewalili Gubernue dan Ketua Panitia PON III, GB Josua. Tujuan kedatangan untuk melakukan pembicaraan dengan Gubernur Sumatra Utara, Abdul Hakim Harahap tentang pembangunan stadion, perumahan atlet dan pembiayaan. Jumlah peserta dalam kompetisi multi sport event ini akan diharapkan, bahkan lebih besar daripada di Jakarta, di mana 2.500 atlet ambil bagian di PON II.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 15-04-1952: ‘PON III kemungkinan akan diselenggarakan di Medan pada bulan Juni atau Juli 1953 yang ditetapkan di Stadion Jalan Radja. Rencana lokasi stadion ini berada di selatan dari pemakaman di jalan Radja (sebelah kiri ke arah Tandjong Morawa) yang akan membangun stadion permanen, yang diproyeksikan menelan biaya sekitar Rp 5 juta. Hal ini diumumkan oleh Mr GB Joshua, ketua panitia PON, kemarin sore pada konferensi pers sehabis pembicaraan dengan delegasi Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dengan panitia PON. Azis Saleh (bertindak sekretaris Komite Olimpiade Indonesia) menjelaskan bahwa organisasi PON III sepenuhnya keputusan panitia. KOI hanya menyediakan pedoman, semua keputusan akan diambil oleh Bapak Joshua c.s. Bulan September 1953 adalah target untuk PON III (seperti yang terjadi dengan PON I dan PON II), tetapi karena hujan di Sumatra Timur, mereka berharap untuk menjaga festival olahraga di sini dua atau tiga bulan sebelumnya. Sekretaris KOI ini menekankan tujuan PON melampaui olahraga itu sendiri, yakni meningkatkan persatuan nasional merupakan faktor yang tidak kalah penting. Dengan PON ribuan orang muda dari seluruh bagian negara akan bersama-sama dan mereka melihat wilayah Indonesia, di mana mereka mungkin sebelumnya tidak pernah datang. Di Jakarta sekitar 2500 atlet ambil bagian dalam PON II; jumlah peserta dalam PON III mungkin akan melebihi 3.000. Mr GB Joshua menyatakan bahwa mereka diharapkan 50.000 orang, dan lebih dari 4.000 tamu dari tempat lain (atlet, pejabat, dll) yang membutuhkan perumahan selama di Medan. Bagaimana cara di mana menyelesaikan masalah perumahan, Mr. Joshua masih belum bisa memberikan informasi yang pasti. Juga tentang anggaran dan cara bagaimana untuk mendapatkan dana yang diperlukan, tidak ada rincian yang dapat diberitahu. Agaknya, secara total diperlukan sebanyak Rp 7 juta. Pemerintah hanya menyediakan sebanyak Rp 750.000.

Kepala Dinas Pendidikan Sumatra Utara

GB Josua adalah orang yang sangat bersahaja dan datang dari keluarga biasa di Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean. Lahir di Hoetapadang, selolah rakyat di Sipirok, sekolah guru (kweekschhol) di Fort de Kock, Hogere Kweekschhol di Poeworedjo, dan mendapat akte Lager Onderwijs di Groningen. GB Josua tidak hanya cerdas, tetapi juga konsisten sebagai republic. Seorang guru, mantan anggota Dewan Kota Medan, sekretaris PMI, pemilik Josua Instituut dan kini tengah menjabat sebagai Ketua PON III. Itu ternyata tidak cukup, atas dedikasinya sebagai pejuang pendidikan di Sumatra Utara, GB Josua diangkat pemerintah sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sumatra Utara.

De nieuwsgier, 29-04-1952: ‘Dengan keputusan Gubernur Sumatra Utara, GB Josua, direktur SMP Josua Instituut di Medan terhitung sejak Mei tahun 1952, diangkat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Noord Sumatra’.

GB Josua adalah kepala dinas pendidikan yang kedua di Sumatra Utara. Inilah jabatan paling tinggi bagi seorang guru. GB Josua telah mendapatkannnya dan layak untuk memperoleh itu. GB Josua sebagai Ketua PON III tidak menghalangi GB Josua rangkap jabatan. GB Josua adalah tipikal anak-anak Padang Sidempoean. GB Josua mendapatkan hak ini tidak karena Abdul Hakim (Harahap) sebagai Gubernur Sumatra Utara, tetapi kedua orang bersahabat ini memang sudah sama-sama berjuang di Dewan Kota Medan tahun 1934-1938.


Abdul Hakim Harahap, Gubernur Sumatra Utara 1951-1953
Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-05-1952: ‘Kemarin, Mr GB Yosua diangkat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Utara, menggantikan Mr. Ismail Daulay, yang menjalani studi ke Amerika. Banyak pihak berwenang menghadiri upacara tersebut, diantaranya: Gubernur Abdul Hakim, Residen Binanga Siregar, Kepala Informasi Abdul Wahab Siregar, Bupati Wan Umaruddin Barus, Walikota. Djaidin Poerba, Mr GB Joshua menyatakan pengangkatannya diadakan pertimbangan yang lama, karena alasan sulit baginya meninggalkan sekolah yang ia didirikan dan memimpinnya bertahun-tahun untuk mengucapkan selamat tinggal. GB Josua lalu kemudian membahas kesulitan pengajaran di Sumatera Utara. Di provinsi ini sekarang ada sekitar 3.000 sekolah dengan 650.000 siswa dan tingkatnya jauh di bawah sebelum perang. Sekarang puasa dan dengan demikian pendekatan awal program baru, perhatian tentang masalah ini, bahwa perbaikan yang dibuat, ada kekurangan guru dan jumlah besar, serta kualitas. Mr Joshua juga menekankan kelemahan perawatan. M. Siregar, Inspektur Pendidikan di Sumatera Utara, mewakili teman-teman yang lain diminta memberikan sambutan. Akhirnya, Pak Joshua disumpah di hadapan Residen sumpah jabatan’.

Sangat berat bagi GB Josua melepaskan fungsinya di Josua Instituut. Akan tetapi masalah dan tantangan pendidikan Sumatra Utara juga tidak mudah dilakukan setiap orang. Hanya GB Josua yang pantas untuk itu. Inilah saatnya kembali bagi GB Josua berjuang kembali di bidang pendidikan pasca perang (pengakuan kedaulatan Republik Indonesia).

Het nieuwsblad voor Sumatra, 03-07-1952: ‘Dalam rangka persiapan PON III di Medan tahun depan (1953) diadakan pasar malam dari tanggal 9 sampai 24 Agustus di Tanah Lapang Merdeka (Esplanade). Komite pasar malam ini diketuai oleh GB Josua.

Mengangkat Pendidikan di Atjeh

GB Josua bukan hanya seorang guru tetapi pemerhati pendidikan. Pada saat itu Noord Sumatra terdiri dari Residentie Tapanoeli, Residentie Oost Sumatra dan Residnetie Atjeh. GB Josua sangat jeli, diantara tiga residentie ini, Residentie Atjeh jauh ketinggalan, lalu di awal masa tugasnya ini langsug memperhatikan Residentie Atjeh. Naluri pejuang pendidikan GB Josua langsung jalan. Langsung blusukan ke Atjeh.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 31-07-1952: ‘Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Utara, Bapak GB Joshua melakukan kunjungan ke berbagai bagian dari Aceh untuk mendapatkan gambaran situasi di bidang pendidikan di Atjeh. Dalam sebuah wawancara dengan Aneta di Kotaradja, Mr. Josua menyatakan percaya bahwa pendidikan di Atjeh adalah memuaskan. Ketersediaan guru dan bahan ajar sebagian sudah teratasi, hanya kekurangan gedung sekolah masih merupakan sandungan dalam mempromosikan pendidikan di daerah itu. Ia mengatakan ia berharap bahwa itu akan memberikan otoritas lokal dan bantuan penduduk untuk pembangunan sekolah baru. Dari daerah lain guru akan dikirim ke Aceh. Selain itu, sebanyak 50% dari 215 calon guru perguruan tinggi pelatihan guru sekolah rendah di Medan akan ditempatkan di wilayah Atjeh. kata Mr Joshua. Akhirnya, kata koresponden Aneta di Kotaradja bahwa pemerintah tahun ini akan membuka tiga  sekolah guru di Aceh, yaitu di Meulaboh, Langsa dan Takengon'.

GB Josua tidak asing baginya Atjeh. Ketika GB Josua masih sekolah rakyat di Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli sudah sering mendengar begitu banyaknya guru-guru dari Padang Sidempoean yang dikirim ke Atjeh. Namun ternyata kemudian itu tidak cukup. Kini GB Josua ingin meneruskan perjuangan senior-seniornya yang telah lebih dahulu di masa doeloe berjuang untuk mencerdaskan saudara sebangsa di Atjeh. Mereka itu yang terkenal, antara lain sebagai berikut:

Dja Endar Moeda, editor surat kabar pribumi yang pertama, setelah korannya di breidel pemerintah Belanda di Padang, Dja Endar Moeda pindah ke Atjeh dan mendirikan surat kabar Pemberita Atjeh di Kota Radja (lihat Koran De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 02-08-1909). Dja Endar Moeda sekitar tahun 1926 meninggal di Atjeh.

Muhammad Taif Nasoetion. Taif Nasution adalah alumni kweekschool yang menjadi guru dan dtempatkan  di Aceh. Taif Nasoetion dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Muhammad Amin Nasoetion (sering disebut S.M. Amin) adalah gubernur pertama Sumatra Utara. Setelah dari Aceh, Taif kembali ke Manambin, Mandailing kampong halamannya. S.M. Amin yang kelahiran Aceh memulai sekolah rakyat di Manambin dan diteruskan ke ELS lalu ke Batavia mengambil sekolah hukum untuk mengikuti dua abangnya yang telah studi di STOVIA.

Adem Loebis. Alumni kweekschool menjadi guru di Aceh dan dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Kolonel Zulkifli Lubis. Adem Loebis tetap menetap di Aceh dan menyekolahkan Zulkifli mulai dari HIS kemudian MULO di Aceh dan AMS di Yogyakarta. Selama di Yogya, Zulkifli masuk militer Jepang dan seterusnya berkarir di militer bidang intelijen hingga pernah menjadi KASAD.

Last but not least, Marah Halim Harahap adalah perwira pertama yang dikirim ke Atjeh pada tahun 1951 untuk menjadi hakim militer di Pengadilan Militer di Kota Radja.

Pembangunan Stadion Teladan Medan

Gubernur Abdul Hakim dan GB Josua bahu membahu menyukseskan PON III di Medan. Duo anak Padang Sidempoean ini sudah sangat akrab sejak era Belanda ketika duduk bersama sebagai angota Gementeeraad Medan. Orang-orang Eropa khususnya Belanda masih banyak yang berdiam di Medan untuk mengurusi perkebunan. Abdul Hakim dan GB Josua ingin lapangan sepakbola di Medan dibuat dengan konsep stadion internasional. Tujuannya untuk melengkapi tradisi sepakbola di Deli dan Oost Sumatra dan juga untuk menunjukkan harkat bangsa di mata para eskpatriat di Medan. Untuk mewujudkan itu, Abdul Hakim dan GB Josua meminta arsitek terkenal di Batavia untuk membangun stadion mewah di Medan.

Stadion Teladan Medan 1953
Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1952 (Gubernur meletakkan batu pertama untuk stadion): ‘Kemarin sore selama satu jam, Gubernur Abdul Hakim dalam upacara singkat, meletakkan batu pertama untuk fondasi stadion PON yang akan dibangun di tempat di Jalan Raja Medan yang bertempat di kampung Teladan. Walikota Djalaluddin mengucapkan terima kasih kepada warga Kampung Teladan untuk kesediaan mereka untuk pindah ke tempat lain untuk memungkinkan pembangunan stadion layak bagi pecan olahraga nasional tahun depan di Medan. Setelah itu ia meminta gubernur Abdul Hakim meletakkan batu pertama. Akhirnya, Mr GB Josua, ketua komite PON menyampaikan beberapa pernyataan tentang stadion baru. Desainnya dibuat oleh Ir. Bwan Tjie Lim, yang juga merancang stadion Ikada di Jakarta (venue PON II). Persiapan pembangunan sudah dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Utara bekerjasama dengan otoritas yang relevan dan dengan bantuan badan resmi dan pribadi. Biaya konstruksi diperkirakan sekitar Rp 5 juta. Stadion ini akan memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 30.000 penonton’.

Pendirian Sekolah Pertanian

Abdul Hakim dan GB Josua tidak hanya bahu membahu soal suksesnya PON, tetapi juga permasalahan pendidikan di Sumatra Utara. Abdul Hakim, anak Padang Sidempoean ini juga telah menggagas untuk diselenggarakan pendidikan pertanian di Sumatra Utara. Sebab selama ini anak-anak Sumatra Utara hanya bisa belajar pertanian ke Buitenzorg (Bogor). Pendirian sekolah menengah pertanian ini membuat Abdul Hakim dan GB Josua sumringah.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-09-1952 (Middelbare landbouwschool voor Noord Sumatra geopend): ‘Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, kemarin di Sungei Sikambing, di luar Medan, sekolah pertanian menengah untuk Sumatera Utara sungguh-sungguh dibuka di gedung baru. Dalam sambutannya, memuji Pemprov Sumatera Utara, atas inisiatif sendiri telah meringankan pelayanannya dengan membuat nyata Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Gubernur Abdul Hakim berbicara tentang manfaat kerja sama antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Dia berharap bahwa siswa tidak hanya mendapat pengetahuan intelektual, tetapi juga karakter akan terbentuk sehingga mereka adalah orang-orang yang memiliki pemahaman untuk kebaikan tani pada khususnya, dan bahwa semua orang pada umumnya. Mr. P. Rozendaal, Presiden AVROS berbicara, menjelaskan bahwa pembukaan sekolah adalah perbaikan untuk daerah ini. Kami dapat menerima lulusan di  AVROS dan realisasi pembentukan sekolah ini kami sambut dengan baik. Bapak Gubernur  telah membawa hasil yang dapat dilihat. Anda semua tahu pepatah: ‘Awal yang baik adalah setengah kerja’. Ini berarti setengah dibuat dan sisanya, setengah pekerjaan lain, adalah tugas tangan direktur, guru dan siswa dan pengusaha... ! dengan pengambil prakarsa ini saya yakin bahwa di tahun ajaran itu selalu semakin produktif Provinsi Sumatera Utara. Dalam upacara ini juga hadir Inspektur layanan pertanian di Sumatera Utara, Mr. JM Hutabarat, Kepala Volkslandbouw di Departemen Pertanian, Mr Subardjo, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Mr. GB Joshua, dan Kepala Departemen Pendidikan di Kementerian Agraria, Pak Sado Adisowajo. Akhirnya, Mr. Tengku Abdul Hamid, Direktur sekolah, berbicara bahwa masa studi untuk tiga tahun, sekarang sudah terdaftar sebanyak 50 siswa dari seluruh wilayah di Sumatera Utara, yang diantaranya dua gadis dari Karolanden. SPMA Medan adalah sekolah keenam di Indonesia. Lima lainnya berlokasi di Bogor, Jogja, Malang, Makassar dan Bukittinggi’.

Abdul Hakim dan GB Josua sudah sejak lama mengetahui betul sekolah pertanian di Buitenzorg dari senior-senior mereka di Padang Sidempoean. Pada awal pendidikan pertanian (kedokteran hewan, agronomi dan kehutanan) di era Nederlansch Indie hanya ada di Buitenzorg. Anak-anak Padang Sidempoean, sebagaimana di Docter Djawa School (sejak siswa pertama luar Djawa dari Mandheling en Ankola, 1854), di Buitenzorg juga anak-anak Padang Sidempoean yang menjadi siswa pertama dari luar Djawa. Mereka yang terkenal antara lain:

Dr. Alimoesa diterima di Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (Veeartsen School) di Buitenzorg (Bogor) tahun 1909. Veeartsen School sendiri dibuka tahun 1909. Alimoesa adalah angkatan pertama Sekolah Tinggi Kedokteran Bogor (kini FKH-IPB). Alimoesa lulus dan berhak memperoleh gelar dokter hewan (kala itu masih disingkat dengan Dr) pada tahun 1914 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1914). Dr. Alimoesa (Harahap) kemudian ditempatkan di Pematang Siantar, dan menjadi anggota dewan kota Pematang Siantar dan tahun 1926 menjadi anggota Volksraad (pribumi pertama anggota Volkstraaad dari Noord Sumatra).

Anwar Nasoetion adalah salah satu adik kelas Alimoesa studi veteriner di sekolah kedokteran hewan atau Veeartsen School ((lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-05-1925). Anwar Nasoetion  lulusan HIS Padang Sidempoean masuk Veeartsen School tahun 1922 dan lulus dokter hewan 1928. Drh Anwar Nasoetion dikenal kemudian sebagai ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB dua periode, 1978-1987). Alumni lainnya adalah Aboe Bakar Siregar.

Sebelum kedatangan Anwar Nasoetion, anak-anak HIS Padang Sidempoean sudah ada beberapa orang yang lebih dahulu di Buitenzorg yang studi di sekolah pertanian (agronomi) di Middelbare Landbouwschool (MLS). Salah satu siswa bernama Djohan Nasoetion yang setelah lulus menjadi pejabat pertanian di wilayah kerja Oostkust van Sumatra dan kemudian di Tapanoeli dengan pos di Padang Sidempoean untuk menggantikan Ronggoer Loebis yang telah dipindahkan ke Sulawesi. Djohan Nasoetion lulus ujian transisi kelas satu ke kelas dua pada bulan April 1920. Kakak kelas Djohan Nasoetion di sekolah ini adalah Ronggoer Loebis (Bataviaasch nieuwsblad, 31-05-1920). MLS sendiri dibuka tahun 1914. Djohan Nasoetion adalah ayah dari Prof. Lutfi Ibrahim Nasoetion, alumni SMA di Medan, guru besar IPB dan mantan Kepala BPN. Anak-anak Padang Sidempoean lainnya alumni Middelbare Landbouwschool (MLS) adalah Hoemala Harahap gelar Soetan Diangkola (agronomi), Hasan Basaroedin Nasoetion (kehutanan).

Het nieuwsblad voor Sumatra, 12-06-1953 (Conferentie IPT): ‘Dalam Agustus akan dilakukan konferensi pertama dari Ikatan Penderita Tjatjat seluruh Indonesia, pada tanggal 9 dan 10 dari mereka di setiap perkotaan. Sebuah komite yang terdiri dari Bapak GB Josua, Presiden, wakil presiden Mayor A. Wahab Macmour dan bendahara J. Pohan. Gubernur Sumatera Utara Abdul Hakim Harahap dan Kolonel Simbolon sebagai pelindung’.

Penggalangan Dana PON

Banyak cara yang dilakukan oleh Panitia PON untuk mengumpulkan uang untuk dana PON. Selain sumbangan awal pemerintah, juga menjajaki dari pengusaha dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya seperti pasar malam, fashion show.

Ketua Panitia PON, GB Josua telah menerima cek sebesar 20 718,95. Uang ini merupakan penghasilan dari bulan sebelumnya diadakan untuk kepentingan pekan olahraga nasional ketiga di Medan kegiatan fashion show’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-08-1953: ‘Komite untuk perayaan 17 Agustus adalah sebagai berikut: Gubernur Abdul Hakim Sumatera Utara, Presiden: komandan teritorial, Kolonel Simbolon; ketua eksekutif, Mr Amir Jusuf (PNJ.) Anwar Darma (PKI); Sekretaris-1 Hindun Rashid (PWR) Sekretaris-2 N. Pane (DSU.); bendahara-1 J. Pohan (DEIP); bendahara-2 MD Harahap; Anggota: Dr. Sahar (Masyumi). GB Josua (PPKSU); SM Tarigan (Org. Tani); S. Darsono (Pemuda Rakyat) dan Amir (P1R)’.

Akhirnya stadion yang dicita-citakan Abdul Hakim menjadi terwujud. Penyerahan stadion dilakukan ke Panitia PON.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1953 (Overdracht van PON-stadion): ‘Setelah upacara di pemakaman, pihak berwenang melanjutkan kemarin ke stadion untuk serah terima resmi oleh yayasan kepada panitia PON. Lalu diadakan pidato oleh pengembang, bahwa tepat setahun lalu, yaitu, pada tanggal 17 Agustus 1952 batu pondasi untuk stadion PON diletakkan oleh gubernur. Sekarang kami berada di sini bersama lagi untuk kekhidmatan mortaring dokumen dan mentransfer stadion untuk panitia PON. Untuk stadion ini adalah 300.000 batu bata. 14.000 kantong semen, 6.000 m3 pasir, 300.000 kg baja dengan total panjang 40 km yang digunakan. Setelah gubernur memberikan gambaran tentang sejarah stadion, dokumen itu disampaikan dan diserahkan kepada Bapak Abdul Hakim. Lalu berturut-turut pidato Pak Damanik, Kolonel Simbolon, dan Mr. GB Joshua. Setelah upacara ini serah terima resmi stadion disampaikan Residen kepada Ketua Panitia PON, Mr. GB Josua.  Setelah Mr GB Josua beberapa kata diucapkan, upacara berakhir’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-08-1953: ‘Sabtu diadakan diskusi komite PON Medan dengan Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Sultan Hamengku Buwono IX Sultan Yogyakarta tiba di sini. Dalam pertemuan ini, yang dipimpin oleh Mr GB Josua, ketua panitia PON, dilaporkan pada persiapan untuk PON. Adapun perumahan tidak mengalami kesulitan, telah ada kebutuhan bertemu saat tambahan diadakan beberapa gedung sekolah di cadangan. Setiap bangunan, di mana atlet ditampung, akan berada di bawah pengawasan medis. Untuk olahraga sendiri telah membuat beberapa perubahan kecil, seperti tata letak ruang ganti. penjualan tiket masuk untuk pembukaan (seperti Minggu) sudah akan dimulai Sabtu di stadion’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-09-1953: ‘Pagi ini pukul sebelas Presiden dan Ibu Soekarno di Medan tiba untuk kunjungan dari satu hari ke kota ini pada kesempatan pembukaan PON III. Di Bandara Presiden disambut oleh perwakilan dan perwakilan dari berbagai organisasi. The band militer mengumandangkan Indonesia Raya dan kemudian Presiden secara resmi disambut oleh Gubernur Abdul Hakim, Walikota Djalaluddin walikota dan Kolonel Simbolon. Untuk Ibu Soekarno ditawarkan bunga oleh Mrs. Djalaluddin. Setelah Presiden Sukarno memeriksa penjaga kehormatan, Presiden disambut otoritas lain yang telah berbaris di panggung. Bagi mereka, antara lain termasuk Sultan Yogyakarta (Ketua Komite Olimpiade Indonesia), Mr GB Josua, ketua komite PON, beberapa pejabat pemerintah, anggota korps konsuler Negara sahabat. Setelah Vort bersama di rumah gubernur, tamu sekitar pukul dua belas dibawa ke tempat peristirahatn mereka (di rumah Gubernur). Kita diberitahu Presiden Soekarno besok (Minggu) akan kembali pukul setengah satu dari Medan ke Jakarta’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-09-1953 (Malam untuk PON): ‘Perayaan benar-benar dimulai sebelum hari Sabtu, dan bahwa pertemuan semua delegasi dan pejabat di rumah gubernur, dimana Presiden dan Ibu Soekarno telah tinggal, dan dimana semua anggota partai presiden dan banyak tamu-tamu terhormat lainnya Medan, serta pemerintah daerah, diundang. Taman rumah gubernur sebagai arena festively diterangi, dan atlet dari Indonesia berada di sekitar deck besar, dimana penyanyi dan penari dari berbagai daerah akan ambil bagian. Pak Jusuf A. Puar, kepala publisitas PON tak kenal lelah berdiri untuk memberikan penjelasan tentang program untuk malam ini, mulai pukul tujuh tiba-tiba  hujan. Tiga ribu atlet, pejabat dan penonton lari ke aula besar dimana, beberapa otoritas tinggi dan anggota partai presiden yang dipertahankan, dalam sekejap begitu penuh, tidak ada langkah bisa berbuat lebih banyak. Bersorak antusias naik ketika Presiden dan Ibu Soekarno memasuki ruangan. Dia duduk di sofa, dimana telah ditinggikan setengah meter dari tanah. Itu dimaksudkan untuk melihat Presiden dalam suasana yang sangat santai dan sangat dihargai dari perwakilan olahraga Indonesia dengan menyebut "Bung" sekarang benar-benar berada di tengah-tengah mereka. Kepala publitas Mr. Puar berbicara berbicara bahwa selama bertahun program ini di belakang meja untuk membuat lebih dikenal, kini program ini, sejauh ini bisa dilakukan. Kemudian berpidato Mr. GB Yosua, Ketua Umum Panitia PON, Presiden kemudian naik ke ke podium. Dia menunjukkan hadirin tentang betapa pentingnya kenyataan bahwa sekarang wakil olahraga dari seluruh wilayah Indonesia - kecuali Irian Barat - berkumpul untuk menguji kekuatan mereka. Dia menekankan ukuran negara: peta Indonesia, mereka tersebar di Eropa, membentang dari barat pantai Irlandia ke Kaukasus. Dan dia sangat bersikeras mempertahankan dan memperkuat satu kesatuan nasional, dimana Presiden dalam pidatonya masih beberapa kali menyentuh masalah Irian. Setelah Presiden Sukarno kemudian, lagu-lagu rakyat yang dimainkan oleh perwakilan dari berbagai program daerah. Dalam suasana nyaman, riang, suasana hati, mereka tinggal selama beberapa waktu bersama-sama’.

Pembukaan PON

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-09-1953 (Di dalam stadion): ‘Kondisi cuaca hampir ideal, sebuah awan tinggi memberinya kesempatan matahari bersinar terlalu terang untuk fokus pada atlet dan penonton yang hadir terbesar pada Minggu pagi dalam upacara di stadion baru yang indah, pekan olahraga nasional ketiga dibuka. Bahkan sebelum fajar, puluhan ribu warga Medan datang dengan jalan kaki atau dengan sepeda ke stadion, dimana pada pukul enam gerbang dibuka. Ketika Presiden Soekarno dan otoritas tinggi lainnya - tiga menteri, kepala staf dari Wehrmacht dan kepala staf dari tiga senjata menghadiri upacara termasuk delapan pintu masuk tribun, empat puluh atau lima puluh ribu penonton hadir.


Di tepi lapangan sepakbola, di seberang pintu masuk utama, berdiri podium, dan juga mengatur diri mereka sendiri presiden bagian dari panitia PON dan para pemimpin dari tiga belas tim yang berpartisipasi. Staf memainkan musik Indonesia Raja atas kedatangan Presiden, yang kemudian oleh Bapak GB Joshua, ketua komite PON dan Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua Olimpiade Komite Indonesia, dan pemimpin tim. Sekali lagi Presiden telah mengambil tempat duduknya di tribun, prosesi besar peserta mulai. Mereka masuk melalui pintu gerbang maraton.

Pawai dibuka oleh perwakilan dari daerah, dimana diadakan pertama PON tahun 1948: Jawa Tengah. Di depan adalah pramuka dengan tanda ‘Djawa-Tengah’, kemudian datang bendera daerah ini, diapit oleh dua pengintai, dan kemudian tim dengan 350 atrlit (yang terbesar dari semua daerah) The hijau dan putih menyeberangi Central Jawa - topi hijau, jaket hijau dan celana putih atau rok -. membuat kesan yang sangat baik dan hangat bertepuk tangan. Kemudian datang 215 peserta Djakartanen, semua putih, tim Jawa Barat (dengan 347 pria dan wanita, terbesar kedua) dan Jawa Timur. Tim jauh lebih kecil dari Borneo Kalimantan Barat (resp. 68 wanita dan 66 laki-laki) menarik perhatian dengan topi besar, baik dibentuk variasi, lalu 116 pria dan wanita dari Maluku tampak sangat rapi dengan dasi biru dan topi rapi, sementara perjalanan mereka dalam melewati tribune. Tim dari Sulawesi Utara dan diiukuti Sulawesi Selatan dan kemudian datang pertama Sumatera: Sumatera Selatan di baju olahraga putih, seperti Jawa Tengah adalah Sumatra Tengah di jaket olahraga berwarna hijau dan putih dan hijau di atas celana putih atau rok. Tim terkecil dari Kepulauan Nusateggara yang terdiri dari 43 laki-laki dengan topi besar, yang kedua berlangsung. Dan kemudian akhirnya muncul, termasuk sorakan menggelegar, 155 atlet Sumut, yang pemimpinnya Mr Yahya Jacoeb dengan baju olahraga putih.

Soekarno, buka PON III di Medan
Setelah semua tim berlalu di lapangan sepakbola tampak berada barisan membawakan alunan lagu kebangsaan, dinyanyikan oleh paduan suara, bendera merah-putih dinaikkan perlahan di salah satu dari dua menara besar di sisi selatan stadion. Pada saat yang sama, bendera itu sudah berada di atas, matahari menembus awan. Mr GB Yosua memasuki mimbar lalu memberi sambutan kepada Presiden Sukarno Ibu, menteri, kepala staf, gubernur dan tamu terhormat lainnya. Dia menyebutnya sebagai kehormatan besar bagi Sumatera Utara telah menyelenggarakan PON ketiga ini, berbicara tentang kerjasama dalam persiapan dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang dan organisasi yang telah bekerja sama. GB Josua berakhir untuk meminta Presiden untuk secara resmi membuka PON III.

Konfigurasi pembukaan PON III di Medan
Lalu Presiden Sukarno berpidato singkat, setelah mencatat bahwa stadion siap dan semua persiapan telah selesai: ‘Ini saya menyatakan pecan olahraga nasional ketiga di Medan dibuka’. Kemudian datang bendera PON ke stadion. Di pintu gerbang maraton muncul delegasi kecil atlet, dikawal oleh pramuka, dengan kotak kayu yang indah menyandang senjata PON. Kotak itu sungguh-sungguh diserahkan kepada Mr Joshua, yang mengambil bendera di sana dan memberikan pramuka. Bendera ditempatkan, dan menghabiskan delapan pramuka perlahan ke tiang besar kedua. Di sana mereka perlahan-lahan di antara acara puncak PON hymne dimainkan oleh staf yang jumlah besar dan musik yang dinyanyikan oleh paduan suara. Begitu suara terakhir meninggal diri, di sisi lain stadion, beberapa ratusan merpati dilepaskan. Sementara tiga balon besar (masing-masing umbul dengan kata-kata PON III Medan dan puluhan balon kecil naik di udara saat yang sama menembakkan baterai artileri, yang merupakan pintu masuk utama kota 13 gun salut. Balon-balon mengungguli merpati, banyak merpati menolak untuk terbang jauh, sementara yang lain canggung beterbangan di sekitar, mendarat di tribun.

Soekarno, pidato di Stadion Teladan 1953
Sementara itu, program dilanjutkan dengan sumpah. Seorang atlet dari Sumatera Utara memasuki mimbar, dengan satu tangan pada bendera atas nama semua peserta sungguh-sungguh berjanji adil untuk bersaing untuk kehormatan negara dan kebesaran olahraga untuk menjunjung tinggi. Dia menjelaskan sumpah ini melawan. latar belakang bendera dari semua tim yang berpartisipasi. Para atlet kemudian meninggalkan lapangan untuk memberikan ruang bagi siswa dari Medan, yang akan memberikan demonstrasi. Hal ini dilakukan pertama kali oleh ribuan anak laki-laki dari sekolah dasar. Setelah itu ribuan perempuan dari sekolah menengah dengan musik waltz mereka memberi demonstrasi yang sangat baik, mereka dihargai dengan tepuk tangan meriah. Dan ini adalah pembukaan seremonial PON, yang tentu saja dari semua sisi difoto dan difilmkan antara lain dari perusahaan Pipercub Inggris Deli.

Penutupan PON

GB Josua dan Hamengkoeboewono IX beri hortmat Soekarno
Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-09-1953 (PON III ditutup dan PON IV akan diadakan 1957 di Makassar): ‘Dalam stadion menghadiri upacara penutupan PON III berakhir, lebih dari dua ribu atlet, yang pekan lalu telah mengukur kekuatan mereka di dua puluh olahraga, kembali ke rumah-rumah mereka kembali, dan pemuda Indonesia dapat bekerja untuk pecan olahraga nasional keempat, yang tidak diragukan lagi lagi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Perlu empat tahun di mana untuk mempersiapkan PON IV, karena Sultan Hamengku Buwono IX, ketua Komite Olimpiade Indonesia, membuat sore kemarin mengumumkan bahwa mereka hanya akan diadakan pada tahun 1957, yaitu di Makassar. Pengumuman ini adalah salah satu highlights dari upacara penutupan di stadion Medanse. Bahwa kemarin adalah lebih lengkap dari sebelumnya di lapangan untuk tribun dari orang penonton dan pejabat, pramuka, polisi dan militer untuk sepakbola. Lalu. wasit bersiul akhir pertandingan sepakbola, penonton dari semua sudut tumpah lapangan mengalir berharap keberuntungan Sumut, dan butuh beberapa waktu untuk situs dibersihkan lagi. Setelah Sultan Hamengku Buwono memberikan emas, perak dan perunggu kepada masing-masing pemain Sumatera Utara, Jakarta Raya dan Jawa Timur, upacara penutupan dimulai hanya enam gerbang berbaris tiga belas bendera tersampir di lapangan, masing-masing disertai dengan laki-laki dan perempuan dari athleeit di daerah adalah. Pertama 'adalah bendera Jawa Tengah, Daerah PON I. Bendera terbungkus gers menempatkan diri dalam formasi tapal kuda di sekitar panggung, di mana ketua Komite Olimpiade Indonesia, Sultan Hamengku Buwono, Walikota Medan, AM Djalaluddin dan Ketua Komite PON, Mr. GB Yosua juga mengambil tempat. Berikutnya, mereka pergi di atas meja untuk menandatangani bendera dari daerahs mana PON akan diadakan, dan orang-orang di mana PON IV akan berlangsung. Sultan Hamengku Buwono memasuki pengeras suara untuk menjelaskan PON III secara resmi ditutup. Dia mengucapkan terima kasih Sumatera Utara untuk keramahan, dan kemudian secara resmi mengumumkan bahwa PON IV tahun 1957 akan digelar di Sulawesi Selatan (Makassar). Bendera PON bendera, yang selama delapan hari di stadion telah dikibarkan, secara resmi diturunkan dan dilipat dan artileri menembakkan lima hormat senjata. Kemudian staf musik dari territorum Bukit Barisan memainkan hymme PON - seperti upacara pembukaan - dinyanyikan oleh paduan suara campuran. Pramuka membawa bendera ke podium di mana presiden Komite Olimpiade menyerahkan sungguh-sungguh kepada Walikota Medan. Bendera ini akan disimpan di Medan sampai tiba waktunya akan dibawa ke Makassar pada tahun 1957. Nada dari mars PON dan tiga belas bendera berbaris diturunkan dan akhirnya semua hadirin keluar dari stadion. PON III telah berakhir’.

Kawan Lama Pulang Kampung

GB Josua adalah pribadi yang sederhana dan mudah bergaul. Kemampuan berkomunikasi GB Josua sangat baik. GB Josua tidak hanya bergaul dengan orang-orang pribumi lintas budaya tetapi juga dengan orang-orang Belanda. Namun sangat tegas jika berkenaan dengan soal keadilan. Untuk urusan kerabat juga sangat membumi. Itulah karakter GB Josua. Ketika mendengar kawan akrabnya Binanga Siregar pulang kampong GB Josua merasa sedih bercampur senang. Sedih karena kawan lama dari Sipirok yang berjuang di Medan, senang karena Binanga Siregar mewakili perantau di Medan akan memimpin membangun kampong halaman di Residentie Tapanoeli. Sangat jarang anak-anak Padang Sidempoean pulang kampong.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-08-1954 (Resident van Tapanuli Dilantik): ‘Dengan minat yang besar dari sumber-sumber resmi maupun dari komunitas bisnis Sabtu untuk Sibolga Mr. Binanga Siregar secara khidmat dilantik sebagai Residen Tapanuli. Pengangkatan dilakukan oleh Gubernur Sumatera Utara, Mr. SM Amin (Nasoetion), atas nama Menteri Dalam Negeri. Dalam sambutannya, Gubernur Amin ingat bahwa, Mr. Binanga Siregar 1925-1952 bekerja di pemerintahan di Tapanuli. Dua tahun terakhir ia menjabat sebagai Residen pada Gouverneur kantoor di Medan. Dia tahu Tapanuli karena seperti beberapa orang lain. Gubernur mengungkapkan harapan bahwa Residen Binanga Siregar dalam tugas baru untuk memberi kepuasan pemerintah dan akan menerima dukungan dari semua lapisan masyarakat. Dalam pengamatan kehadiran Residen Binanga pada residensi, dia meminta semua otoritas administratif dan masyarakat untuk membantu dia dalam tugasnya. Kemudian rombongan wakil rakyat dan bisnis yang mendampingi Gubernur Amin ke Sibolga adalah antara lain oleh Bapak AM Djalaluddin, Walikota Medan, Bupati Deli, Sorimuda Harahap dan Mr. GB Josua, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hari Sabtu kembali ke Medan.

Ketua Komite Perayaan Pahlawan Sisingamangaradja

GB Josua adalah seorang guru, benar-benar guru. GB Josua berjuang dengan caranya sendiri—di bidang pendidikan. GB Josua jelas tidak lupa jasa para pahlawan. GB Josua ingin semua pribumi menghormati pahlawannya. GB Josua menggagas untuk perayaan pertama kali memperingati Si Singamangaradja dan bertindak sebagai Ketua Panitia.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 11-06-1957 (GB Josua Presiden Komite Perayaan 50 tahun): ‘Mr GB Yosua adalah presiden herdenkingscomité untuk memperingati dari kematian pahlawan Batak, Si Singarmangaradja XII. Seperti diketahui, kematian Si Singamangaradja jatuh pada tanggal 17 Juni. Dia pada 17 Juni 1907 meninggal karena luka-lukanya setelah bertempur dengan pasukan Belanda. Dalam konteks ini akan bergemuruh Raja di Medan–sebuah peringatan kehidupan almarhum Si Singamangaradja diberikan dengan warga Batak tarian rakyat tor-tor, dan perayaan lainnya’.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 01-07-1957: ‘Si Singamangaradja diperingati di Medan. Peringatan 50 tahun pahlawan Batak, Si Singamangaradja diperingati Sabtu di Balai Polisi di Jalan Bali. Seperti diketahui, komite perayaan ini dibentuk dibawah pimpinan Mr. GB Joshua, Pengawas Pendidikan Sumatera Utara. Setelah Mr Joshua memberikan gambaran singkat tentang kehidupan mendiang Si Singamangaradja XII lalu diikuti oleh kata sambutan oleh Panglima territorial, Djamin Gintings Komandan teritorial mengatakan bahwa semangat kegarangan dan heldhafiigheid Si Singamangaradja harus menjadi contoh bagi kita. Atas nama gubernur berbicara Tengku Ubaidillah. Setelah pidato resmi diberi tarian Batak. Upacara peringatan juga sudah diadakan di Jakarta pada 16 Juni. Dalam Soposoroeng dibuat sebuah monumen untuk menghormati pahlawan Si Singamangaradja di tempat dimana jenazahnya pada tanggal 17 Juni tahun 1953 dipindahkan ke Balige. Si Singamangaradja XII meninggal pada tanggal 17 Juni 1907 karena luka setelah ia lama menolak otoritas Belanda’.

***
Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean
GB Josua pension tahun 1961 sebagai pegawai pemerintah (kini PNS) dan kembali mengurus Institut Josua yang telah ditinggalkannya sejak Mei 1952. Haji Gading Moeda Batoebara alias GB Josua meninggal di Medan pada tanggal 20 November 1970 (lahir di Hutapadang, Sipirok 10-10-01).

***
GB Josua adalah anak seorang petani di Sipirok. Semangatnya yang luar biasa telah mengantarkannya ke cita-citanya yang paling tinggi. Nama baiknya sulit hilang di Sumatra Utara. Kosua Instituut (kini disebut Perguruan Josua) yang dirintisnya dengan tekun sejak era Belanda hingga ini hari masih eksis sebagai Yayasan Perguruan Yosua yang tetap menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak bangsa di Medan. Salut!

GB Josua, pemain sepakbola
Di bidang olahraga, khususnya sepakbola di Sumatra Utara tiada duanya. GB Josua adalah pemain sepakbola sejak masih kanak-kanak di Sipirok, kemudian dilanjutkan ketika sekolah di Fort de Kock dan di Poerworedjo. Ketika GB Josua ditempatkan di Medan tahun 1928, GB Josua aktif sebagai pemain sepakbola Tapanoeli Voetbal Club. Setelah pulang dari Belanda studi lebih lanjut, GB Josua masih sempat bermain sepakbola. Namun karena kesibukannya yang luar biasa, GB Josua mulai membatasi diri bermain sepakbola. Akan tetapi kepeduliannya terhadap sepakbola tidak pernah luntur sebagaimana kepeduliannya terhadap bidang pendidikan. GB Josua adalah orang yang sangat langka.

GB Josua tidak hanya mendirikan sekolah untuk rakyat Medan (Josua Instituut), GB Josua juga mendirikan klub sepakbola buat anak-anak muda Medan (Sahata Voetbal Club). GB Josua tidak hanya berjuang di parlemen, juga berjuang melawan ketidakadilan Belanda dan menolak pendudukan Jepang. GB Josua tetap setia terhadap republik sebagaimana kesetiaannya terhadap pengembangan pendidikan anak-anak negeri. Atas dedikasinya dalam pendidikan, pemerintah mengangkat GB Josua menjadi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatra Utara. Di bidang kemasyarakatan GB Josua lekat dengan berbagai jabatan. Jabatan terpenting adalah Ketua Panitia PON III dan Ketua Panitia Perayaan Pahlawan Sisingamangaradja XII. Haji Gading Batoebara telah turut mencerdaskan warga Medan dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan sepakbola Medan dan sekitarnya. Horas!


(Bersambung)


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe ditambah dengan buku Sejarah Pendidikan di Sumatera Utara (Depdikbud, 1980/1981).

Tidak ada komentar: