17/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (10): Sepakbola di Perkebunan Berkembang Pesat, ‘Bond’ Baru Bertambah, Kejuaraan Antarbond



Pertumbuhan dan perkembangan sepakbola di Noord Sumatra sedikit berbeda jika dibandingkan dengan di Jawa seperti Batavia, Soerabaija, Semarang dan Bandoeng. Di Medan, sepakbola diwakili oleh berbagai bangsa dan berbagai adat (belum ada kala itu kata etnik). Termasuk bangsa Belanda dan bangsa Inggris mewakili Eropa. Adat Tapanoeli dan adat Melayu mewakili pribumi. Inggris menjadi selalu batu sandungan bagi tim Belanda dan tim Tapanoeli telah menunjukkan arti sportivitas dalam sepakbola. Anak-anak Tapanoeli berani menentang keberpihakan Belanda, dan mengambil risiko itu: Tidak hanya keluar dari kompetisi bahkan membubarkan klub mereka sendiri sebagai sikap menentang ketidakadilan dalam dunia sepakbola.

Deli Sport Vereeniging

Deli Sport Vereeniging adalah suksesi Medan Sport Club (MSC). Selaian sepakbola, MSC juga membidangi cabang olahraga yang lain seperti kriket. Klub sepakbola MSC adalah Medan Sportclub atau cukup disebut Sportclub. Nasib MSC dan Sportclub lambat laun meredup lalu menghilang seiring dengan semakin menguatnya klub Voorwaarts sebagai jawara baru sepakbola di Medan. Lalu kemudian Voorwaarts dan Tapanoeli VC mempelopori kompetisi baru di Deli. Namun dalam perkembangannya kompetisi hanya terencana dalam dua musim, lalu kompetisi yang telah dihentikan membuat klub Voorwaart kehilangan momen untuk berkompetisi. Voorwaart kemudian melakukan merger dengan klub hoki dan klub kriket di Medan dan membentuk perhimpunan olahraga yang kemudian dikenal sebagai Deli Sport Vereeniging atau disingkat DSV.

De Sumatra post, 19-11-1914 (Deli Sport Vereeniging): ‘Kemarin malam Deli Sport Vereeniging diadakan di Medan Hotel rapat umum tahunan. Meskipun hari hujan, ada dua puluh anggota datang. Dipimpin oleh Mr RD. Jongencel. Setelah sekretaris membacakan risalah sidang umum terakhir, lalu disetujui, ia melanjutkan untuk membaca laporan keuangan yang terkait pemasukan (iuran dan donatur) dan pengeluaran untuk musik, untuk blasting f160; pemeliharaan situs, lamnpu-lampu, air dan pemeliharaan clubhouse, advertentiën untuk menerima tim sepak bola RDM dan penjaga dan lain-lain; gaji f949; peralatan sepak bola  f194, untuk bola hoki, dll f86, peralatan atletik f77, tingkat kriket resmi f65. Surplus sebesar f1.093. Ini mencetak utang sebesar 1.000 gulden untuk serikat. Diinformasikan lebih lanjut bahwa sepak bola akan diperluas dalam perjalanan tahun keuangan baru dan menghiasi pintu masuk situs dan ditingkatkan dengan control, satu per satu anggota DSV tanda tangan dirancang hadir pada pertemuan untuk pemeriksaan. Juga, kursi untuk rumah klub yang akan dibeli. Usulan, untuk  satu saham diiklankan sebesar f500 untuk lelang langsung dalam 3 bulan, diadopsi oleh pertemuan. Presiden, sekretaris, bendahara untuk berterima kasih untuk manajemen ekonomi. Setelah uang, debat biaya iklan pun terjadi. Eenerzjjds berharap bahwa karena biaya itu adverteeren selanjutnya akan dihilangkan, di sisi lain ia berpikir bahwa tidak perlu diiklankan. Hasilnya adalah bahwa pengurus berjanji akan memberikan informasi dalam bentuk poster di White Society, Hotel de Boer, Medan Hotel dan pengumuman di rumah klub yang akan menjadi lawan pertandingan. Laporan itu disetujui. Sampai anggota komite verifikasi terpilih Bapak A. Baart, HP Lautenbach dan C. Heideman. Setelah ini, laporan itu dibahas. Aktivitas DSV selama pengurusan masa lalu dibacakan dan dianggap cukup dan bahwa laporan dianggap komprehensif kegiatan ini memberikan baik, gambar hidup. Di sini di Medan dikatakan bahwa kegiatan olahraga, khususnya bahwa praktek sepakbola sudah mewabah baik di bawah ETI dan di antara masyarakat pribumi telah sangat menyebar. Bahwa dewan itu sendiri dalam semua tindakan yang disebut disarankan untuk membuktikan suatu kontes antara Penang-Oostkust. Seperti yang diperkirakan, hal itu disebut, akan dilakukan pada Paskah terakhir. Pengurus merasa senang terdorong untuk menulis kepada tamu Penangers akan menerima, tapi kedatangan tidak akan dikaitkan dengan perayaan besar, karena baik klub maupun penggemar olahraga sudah antusias. Sekarang, tidak hanya antusiasme untuk berbagai olahraga bahkan penonton menghadari sangat besar untuk ras yang berbeda. DSV pada awal tahun memiliki 65 anggota dari 18 anggota luar biasa dan donor 61 orang donatur, angka-angka ini  pada akhir tahun, masing-masing sebanyak 125, 39 dan 103. Pada program untuk musim mendatang, kecuali sepak bola, juga hoki dan kompetisi kriket melawan Langkat, dan bahkan pertandingan athletiek. Selanjutnya, laporan tersebut menunjukkan bahwa pengurus DSV, ada mis-pemerintahan menimbulkan bias yang cukup salah, pernyataan tentang keberpihakan dalam kompetisi pada tahun 1913 terdengar dan mengingat pekerjaan yang luas lainnya dan persaingan pada tahun 1914 tidak akan lagi memimpin kompetisi, tetapi tugas ini akan ditransfer ke komite, yang terdiri dari orang-orang yang netral dan mereka merupakan bagian yang berbeda dari daerah. Penunjukan komisi ini, sebagaimana dibuktikan oleh catatan, juga harus dilihat sebagai upaya untuk memanggil kembali kehidupan sepakbola. Het bestuur had de heeren A. Buck, als president, LR. Koolemans Beynen, als vice-pres., P. Plat, als secr., en JJC. Witteveen, Chr. Vervloet en JP. v. d. Bosch uigenoodigd in de commissie zitting te nemen en van hen een toestemmend antwoord ontvangen. Komite ini akan mengatur seluruh liga dan hanya berkonsultasi dengan DSV tentang lapangan. Ruang rapat itu lebih lanjut meninformasikan bahwa administrasi DSV tahun depan untuk memimpin lagi Mr Jongencel juga menyatakan bahwa musim ini tidak akan mengambil inisiatif untuk pembentukan tim Handel (Handelseiftal) dan di tempatnya akan datang tim DSV. Namun, ini tidak berarti bahwa seseorang dapat melanjutkan ke inisiatif ini karena kompetisi tidak diperbolehkan lagi, apa yang tahun lalu telah menjadi penyebab ketidakpuasan di antara anggota, pemain yang telah pernah melekat pada tim tertentu, dengan sesama yang lain bermain. Anggota DSV karena itu akan menjadi tim Van Nie atau anggota tim Handel bisa bermain. Upaya DSV akan terus, seperti dalam Deli, juga di Langkat, Padang en Bedagei dan Serdang kompetisi untuk membangun kehidupan masing-masing. Juara masing-masing yang kemudian akan bersaing satu sama lain. Klub-klub akan lagi, seperti pada tahun sebelumnya. f25 deposito di kas competitie. Lalu datanglah masalah administrasi pemilu. Dewan, yang harus mengundurkan diri secara keseluruhan, memperkenalkan diri untuk pemilihan ulang lagi. Untuk lowongan komisaris kriket yang ditempati Mr. Fenton, karena yang bersangkutan berangkat ke Eropa dan Mr. JCM West sebagai kandidat. Het nieuwe, herkozen bestuur bestaat thans uit de heeren RD. Jongencel, pres., A. Buck, vice-pres., AD v. Buren Schele, secr.-penningm., JCM. West, cricket-commivsans, RJ. Goddard, voetbal-commissaris, H. Helling, hockey-commissaris.. Kemudian datang membahas usulan skema kontribusi seragam. Dewan mengusulkan untuk memungkinkan coutributiën untuk setiap divisi dan memaksakan biaya seragam sebesar 20 gulden per tahun, yang akan dikumpulkan dalam dua termin. The registreeren dan pengumpulan terpisah dari dana sekarang memunculkan segala macam kesulitan. Pertemuan itu diusulkan oleh beberapa pihak untuk proposal ini keberatan, meskipun itu setuju, bahwa skema kontribusi yang ada tidak persis sebuah idealis. Diputuskan bahwa dewan baru dalam pertemuan yang akan datang, dengan keberatan ke account dan muka dalam apa yang disebut benar-benar mengumumkan usulan pendirian tennis. Kemudian dibahas usulan untuk membangun sebuah lapangan. Dewan telah meminta diperoleh dari Tennis "Güntzel dan Schumacher", yang menyatakan secara tertulis disiapkan pekarangan di depan kamp militer dengan segala sesuatu yang terjadi adalah untuk jumlah NLG 250. Setelah beberapa diskusi, dimana minggu itu dijual itu menguntungkan, tawaran ini diterima dengan suara bulat. Biaya keanggotaan untuk tennis afdeeling akan di disebutkan di atas hari ini mengadakan pertemuan yang akan ditentukan. Menanggapi komentar oleh survei, diputuskan, karena hujan, yang mencegah olahraga teratur, menutup musim kompetisi hanya sampai 1 Januari untuk semua tiga divisi’.

De Sumatra post, 22-12-1914: ‘5 Jan. Serdang Club, Loeboeq Pakam..’.

De Sumatra post, 17-02-1915 (De voetbal-competitie): ‘LSV I vs Go Ahead (0-2). Satu pembaca kita menulis dari Bindjey: Kemarin di Bindjey, tim pertama dari LSV dan Go Ahead melakukan pertandingan pertama mereka untuk kompetisi. Cuaca cukup baik, kedua tim di bawah wasit v.d. Werf. Kedua belah pihak langsung bertempur, tetapi tidak berhasil. Go Ahead agak kuat dalam serangan, yang Langkatvereeniging adalah kerja keras. Tidak ada gol yang tercipta hingga babak pertama setengah jam selesai. Tak lama setelah istirahat Go Ahead melakukan serangan sangat berbahaya. Kiper Langkat sangat baik. Sudah lebih dari setengah dari babak kedua berakhir, pemain sayap kanan Go Ahead melanjutkan serangan dan tembakan tenang tapi tidak bisa dipertahankan, adalah karya saat anak Go Ahead lalu mengarah gawang menjadi 1-0. Pada 10 menit pertandingan Go Ahead, didorong oleh keberhasilan tak terduga, pegang teguh dan memberikan tangan Langkatverdediging penuh kerja. Akhirnya akan ada gerakan kecil di Langkat melakukan kesalahan. Sebuah gol dan skor lalu 2-0. Tepat sebelum pertandingan berakhir  Laugkat membuat salah  lagi handball di area penalti. Meskipun baik ditempatkan, tembakan diselamatkan oleh kiper dan peluit wasit tanda akhir pertandingan. Go Ahead telah demikian mencapai kemenangan yang sangat indah. Tim Go Ahead berpotensi untuk mewakili tawaran untuk kampioeuschap. Langkat itu tidak begitu kuat langkahnya. Terutama di garis depan tersendat beberapa. Pertahanan itu dalam urutan yang baik tapi bisa akhirnya tidak bertahan terhadap Go Ahead. Pemain baik Ostrehau tidak ada. Buruknya situs mempengaruhi permainan. Tim Langkat menjelang malam rute dari Medan ke Bindjey telah memiliki nasib buruk seorang penumpang jatuh dari kereta ke Sungei Sikambing. Seorang Inggris yang lolos memiliki kebaikan untuk mengambil pemain dan membawa mereka ke Bindjey, di mana mereka tiba sekitar lima belas menit. Para fans pertama kali tiba di 06:30.

[Sementara itu] Dalam Liga di Medan diselenggarakan pertadingan antara DSV dan Tjong Hoa Sport Vereeniging terjadi kisruh di lapangan. Hal ini untuk sementara telah diteruskan ke dewan Voetbal Bond. Pertandingan ditunda sekarang dan dimainkan pada Minggu masa depan, seperti dalam kompetisi sebelumnya, jadwal bermain disusun, yang sejak beberapa waktu sudah di bawah tekanan. Di hotel dan Societeit bisa diumumkan, namu jadwal pertandingan tidak tersedia, majalah kami tidak bisa menghubungi, sehingga banyak perjalanan yang dibuat sia-sia untuk lapangan sepakbola’.

De Sumatra post, 27-02-1915 (De voetbal-competitie): ‘Besok akan menjadi pertandingan berikutnya di Medan untuk kompetisi sepakbola antara Go Ahead lawan Van Nie di situs Go Ahead. Sementara itu, Chinese Sports Club  melawan Tjong Hoa di situs DSV. Senin untuk bermain melawan satu sama lain: Deli Sport Vereeniging (DSV) vs Bindjey I di situs DSV; Pabatoe vs Siantar di lapangan Pabatoe’.

Kompetisi 1915, Komunitas Sepakbola Eropa/Belanda di Areal Perkebunan

Kompetisi Deli Voetbal Bond 1914 dan 1915
Klub Tapanoeli mungkin telah benar-benar dibubarkan karena sikap dan protes mereka yang dilayangkan kepada DSV (representative DVB) yang tidak diterima; sebaliknya, Tapanoeli VC bubar atau tidak bubar, tetapi DSV/DVB menolak kehadiran Tapanoeli kembali dalam kompetisi. Jika hal yang terakhir itu yang menjadi kenyataan maka dengan sendirinya klub-klub lama telah hilang/bubar semuanya. Karena, selama ini hanya klub Tapanoeli dan Voorwaarts yang terbilang sama-sama didirikan di tahun yang sama, sebelum ini klub Voorwaart telah merger dan membentuk klub sepakbola di bawah naungan Deli Sport Vereeniging (DSV). Karena itu klub Tapanoeli dalam kompetisi 1914 dan 1915 tidak muncul dalam kompetisi (lihat tabel).


Dalam kompetisi DVB tahun 1915, pada liga Eropa/Belanda hanya nama klub  Van Nie, Chinese Sport Cl, DSV yang tetap berkompetisi dari klub-klub yang berkompetisi sebelumnya. Pada kompetisi (liga) yang sebelumnya bernama klub Handel telah dibentuk dengan nama baru Go Ahead, dan Planters menjadi Langkat Sport Vereniging. Boven Serdang VC menjadi nama baru Pabatoe. Sedangkan Loeboeq Pakam VV telah memisahkan diri dari DVB dan kemudian Loeboeq Pakam VV secara bersama-sama dengan Pabatoe dan Siantar melakukan kompetisi sendiri dengan didirikannya Padang Bedagai Voetbal Bond.

Loeboeq Pakam dan Pabatoe bukanlah kota seperti Medan, Bindjei dan Tandjoengpoera (Oost Sumatra), Sibolga dan Padang Sidempoean (Tapanoeli) melainkan suatu pusat transaksi perdagangan hasil-hasil perkebunan. Akibatnya, komunitas Eropa/Belanda di kota kecil itu jumlahnya tidak signifikan. Namun karena banyak perusahaan perkebunan di dua kota ini, maka jika populasi Eropa/Belanda disatukan menjadi signifikan jumlahnya. Dengan kata lain, populasi Eropa/Belanda cukup menyebar menurut estate (area perkebunan). Sebaliknya, daerah Simaloengoen yang beribukota Pematang Siantar, wilayah perkebunan baru populasi Eropa/Belanda berada di kota Pematang Siantar. Hampir sebagian besar populasi Eropa/Belanda berada di Pematang Siantar. Disamping itu, Pematang Siantar adalah kota pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat kesehatan di selatan Medan. Kota ini bahkan sudah setara dengan Bindjei dan Tandjoengpora dan lebih besar dari Loeboeq Pakam dan Pabatoe. Satu lagi kota yang populasinya sedikit di atas Loeboek pakam adalah kota Tebing Tinggi tetapi masih jauh lebih rendah dari Pematang Siantar. Satu kota di timur Medan adalah Tandjoeng Balai. Kota ini terbilang kota lama, kota pelabuhan yang menjadi kota pemerintahan. Populasi Eropa/Belanda tidak terlalu banyak, tetapi populasi Eropa/Belanda tersebar di estate-estate yang baru terutama di area antara Pabatoe dan Tandjoeng Balai yang kemudian kampung Kisaran lambat laun menjadi kota kecil. Sementara kota-kota yang lainnya di Tapanoeli yang cukup jauh dari Medan adalah Sibolga dan Padang Sidempoean. Jalan akses ke Tapanoeli yang terbilang baru mulai ditingkatkan, masih dianggap sebagai akses alternatif sementara akses lama melalui laut via Sabang atau via Batavia masih digunakan oleh penduduk Tapanoeli yang hendak menuju Doli (Deli) di kota Medan.

Pada liga pribumi 1915, hanya Zettersclub, Locomotief dan Daroel afiat yang masih bertahan dari tujuh klub yang berkompetisi tahun sebelumnya. Klub-klub baru yang berkompetisi tahun 1914 yakni Melati, Sungai Kerah, Royal dan Amalijoen tidak kelihatan lagi. Sedangkan klub baru yang bertambah hanya satu klub yakni Singer. Dengan demikian dalam kompetisi pribumi di bawah naungan DSV/DVB hanya empat klub yang berkompetisi. Zettersclub adalah klub yang terbilang klub lama yang mana nama klub ini sebelumnya adalah Zetterletters. Klub Zetters/Zetterletters adalah klub yang berafiliasi dengan percetakan yang investasinya dari orang-orang Tapanoeli. Sementara itu, klub Tapanoeli sendiri adalah klub yang berafiliasi dengan koran Pewarta Deli yang investasinya juga dari orang-orang Tapanoeli. Ini berarti dalam kompetisi sepakbola pribumi masih ada satu klub yang berafiliasi dengan orang-orang Tapanoeli.

De Sumatra post, 15-03-1915 (Sportnieuws): ‘Sabtu tim Daroel Afiat dan Singer Voetbal Club dimainkan pertandingan sepakbola dimenangkan oleh Singer dengan 3-l. Kemarin di Medan untuk Voetbal Bond dua pertandingan, Van Nie dan Chinese Sport Club di lapangan DSV, Go Ahead dan DSV di situs Go Ahead. Pertandingan Go Ahead vs DSV adalah yang paling menarik. Keduanya tampak sama kuat. Go Ahead menang dengan 1-0. Dengan situasi ini menjadi kekecewaan besar bagi CSP. Sampai saat ini mereka dengan Van Nie berada di atas daftar. Oleh karena itu, tidak diharapkan bahwa mereka akan kegagalan, seperti kemarin mereka disebabkan oleh Van Nieërs;  tidak kurang dari 8-3 dilaporkan. Kejutan seperti terakhir telah terjadi; kita ingat setidaknya satu pertandingan Cina yang kalah 10-6. Tapi penyebab kegagalan kemarin harus dicari sebagian besar bahwa Cina bukan dijaga kiper berpengalaman mereka dan digantiukan kiper dan tidak ada cara lain. Dari Nieërs berada di dalam bentuk permainan yang baik, terutama barisan depan. Hingga istirahat skor adalah 6-l, setelah istirahat masing-masing membuat dua gol. Lapangan cukup licin karena hujan. Dari Nieërs tampak memiliki kostum baju baru: setengah oker, setengah coklat. Klassemen sementara sebagai berikut’ (lihat tabel dalam gambar).

Hari Olahraga di Medan
De Sumatra post, 19-04-1915 (Sportnieuws): ‘Kontes kemarin hasil-hasilnya menjadi klassemen sebagai berikut (lihat tabel gambar). The DSV sekarang berada pada peringkat ketiga di competitieladler, Go Ahead dan Van Nie dekat pada tumitnya. Nie hanya perlu kehilangan satu pertandingan, atau yang disebut harus memberikan tempat di puncak tangga untuk Go Abead***Pertandingan sepakbola dimainkan tanggal 16 antara Siantar dan Pabatoe dimenangkan oleh Siantar dengan 2- 0. Pertandingan sepakbola tanggal l Juni disini bermain terakhir antara tim Belanda dan tim Inggris akan dibuat tiket masuk minimum f1. Manfaat bahwa kompetisi ini akan menghasilkan yang akan dibayar setengah untuk Hollandsche funds voor de noodljjdenden, setengah lainnya helft in een Engelsch fonds dengan tujuan yang sama. Sebuah tujuan yang kita kira setiap orang memiliki simpati’.

De Sumatra post, 17-05-1915 (Sportdag): ‘Pertandingan antara Brandan-planterscombiuatie vs Muskieten dimenangkan oleh tim kedua dengan 7-0. Permainan tamu sangat taktis terutama sebelum berakhir babak pertama dan mencetak 6 kali. Setelah istirahat, bagaimanapun, mengendurkan permainan dan apa yang masih mencetak hanya sekali. Pertandingan ini dipimpin oleh Mr. Gerritsen, yang sebelumnya dengan Muskieten dari Medan datang atas penerimaan tamu itu sangat ramah. Untuk pulang Sultan Langkat menyediakan mobil’.

De Sumatra post, 18-05-1915 (Uit Bindjey): ‘Pertandingan sepakbola: Veteranen-Thor. Pembaca menulis di Bindjey pada tanggal 16 ini: Siapa yang bisa mengira bahwa tinggal lama di Timur dapat menghambat kecepatan dan daya tahan, itu yang terpikir di Eropa. Pertandingan sepakbola telah memperlihatkan apa yang Sabtu dimainkan antara Veteran dan Thor. Penuh dengan semangat para pemain membara membela Veteran. Ada pertandingan ini langkah-langkah upaya khusus, seperti yang kita tahu. Alasan dari LSV, menyerahkan hati pertandingan ini dihiasi dengan warna nasional; sementara rasa hormat atas, tujuan dari kedua tim memakai spanduk, yaitu bendera merah Witta Thor dan satu bendera putih Veteran menyandang motto ‘Conquer atau mati’. Untuk pemain dan pengunjung disediakan minuman gratis. Pada sekitar 05:15 dilakukan kick off. Thor bermain sepuluh menit pertama dengan 10 orang. Meski begitu mereka juga  dengan kekuatan Veteran kombinasi itu tidak diremehkan. Kedua tim juga tampak saling menyerang terhadap satu sama lain. Sampai sebelum turun minum tanpa hasil. Permainan dilanjutkan dengan 1-0 berdiri untuk Thor. Veteran, yang sementara terbiasa Halden permainan masing-masing. Tak lama setelah itu mengikuti dua bola cara untuk menanggung pendahulu mereka. Namun Veteran datang selama kuartal terakhir. Hasilnya membuat game dengan kemenangan 3-0 selesai untuk Thor. Permainan beradab dari kedua partai membuat kesan menyenangkan bagi penonton. Setelah pertandingan semua berkumpul di International Societeit, di mana band string dari Medan dengan suasana kegembiraan dan tari ....di sana sampai larut malam. Kedua tim memiliki rencana untuk melakukan kembali Zaterdag 29 Mei sebagai salah satu pertandingan sepak bola berkostum dan musik di lapangan. Upaya ini antara tua dan muda Langkatters adalah kemuliaan lama Bindjey sebagai wujud dari keramahan dan relaksasi dua beda generasi, tanpa syarat, sebuah fenomena yang menggembirakan’.

De Sumatra post, 29-05-1915: ‘1 Juni Voetbalwedstrijd tusschen een Hollandsch en een Engelsch elftal’.

Pertandingan Tim Belanda vs Tim Inggris: Semi komersil

Iklan komersil sepakbola di Medan (1915)
Sejauh ini, belum pernah ada berita yang melaporkan bahwa pertandingan sepakbola di Deli dan Langkat dilakukan dalam lapangan tertutup dan dipungut tiket masuk. Pertandingan sepakbola antara Holland vs Engeland yang diselenggarakan Deli Voetbal Bond akan dilakukan Dinsdag 1 Juni 1915 di lapangan Esplanade adalah yang pertama. Pertandingan ini bukan antar klub, bukan antar bond, tetapi antar bangsa: Bangsa Belanda vs bangsa Inggris. Besarnya tiket masuk adalah f1. Ini adalah metode komersil. Pemberitahuan ini yang disajikan dalam bentuk iklan (lihat De Sumatra post, 31-05-1915) menunjukkan adanya biaya (cost) yang dikeluarkan panitia sebelum pertandingan dimulai. Luasnya cakupan target penonton hingga Bindjei dan Tebingtinggi dengan menyedikan kereta ekstra lebih mengindikasikan maksud agar semakin banyak penonton maka semakin banyak penerimaan (revenue). Oleh karena hasil penjualan tiket digunakan untuk Dana Deli (Deli Fonds) untuk kemanusian (golongan miskin) dan Palang Merah Inggris (British Red Cross Society) nilai komersil pertandingan menjadi samar. Namun demikian, apapun maksud dari penyelenggaraan pertandingan sepakbola tersebut, yang jelas semua metode yang dilakukan dalam pertandingan tersebut adalah kegiatan komersil. Inilah indikasi pertama adanya sepakbola di Noord Sumatra yang dapat dibilang kegiatan sepakbola (kegiatan sportivitas) sudah mulai dibungkus layaknya bisnis. Kejuaraan antarkota di Jawa yang dimulai tahun 1914 sudah menjadi lazim menggunakan metode komersial untuk menutupi biaya dan tentu saja mengharapkan ada keuntungan yang dinikmati (khususnya untuk pembinaan dan peningkatan kualitas pemain serta untuk menyediakan fasilitas sepakbola, utamanya pembangunan stadion sepakbola yang memenuhi standar bermain sepakbola seperti di Eropa).

Langkat Membentik Kompetisi Sendiri

Sejauh ini baru ada satu bond (perserikatan) sepakbola di Noord Sumatra, yakni Deli Voetbal Bond. Pengertian bond (perserikatan) dalam hal ini menyatukan semua pertandingan antar klub dalam suatu kompetisi (liga). Dengan kata lain, bond adalah bentuk kesepakatan klub-klub anggotanya dalam satu organisasi. Namun dalam pelaksanaannya, yang mengorganisir kompetisi diselenggarakan oleh salah satu Vereeniging yang lebih kuat dan memiliki berbagai perangkat yang diperlukan dalam terlaksananya suatu kompetisi. Dalam kompetisi yang pertama, diselenggarakan oleh Medan Sportclub, meski nama bond yang digunakan adalah Deli Voetbal Bond, namun pesertanya tidak hanya dari Deli (Sportclub dan Toengkoe) tetapi juga dari Langkat (Langkat Sportclub).

Dalam kompetisi yang sekarang, DVB masih menerapkan format kompetisi yang pertama yakni dengan tetap menyertakan klub dari klub Langkat (Langkat Sport Vereeniging). Namun pada saat yang sama bond baru didirikan yakni Langkat Voetbal Bond. Klub-klub yang bermain dalam bond baru ini adalah klub-klub yang berada di Langkat. Meski demikian, dalam perkembangannya Langkat Sport Vereeniging tetap berkompetisi di DVB. Pada masa kini hal semacam ini masih ditemukan: Liga Prancis yang menyertakan Monaco (dari Negara Monaco); klub Wales berkompetisi di Liga Inggris; klub DRPM dari Brunai di liga Malysia; klub Barcelona dari Katalan berkompetisi di Liga Spanyol?

De Sumatra post, 19-06-1915: ‘Majelis Umum Langkat Sport Vereeniging pada Kamis, 1 Juli, 1915  pada pukul 07:00  di Internationale Club te Bindjey mengambil keputusan sebagai berikut: (1) Mengadopsi pembentukan Majelis Umum (Algemeene Vergadering) yang dibentuk tanggal 16 September 1914. (2) Laporan tahunan Sekretaris. (3) Bendahara dan Pertimbangan Akuntabilitas. (4) Pengangkatan komisi pemeriksa (lihat (artikel 14 Statuten). (5) Peraturan tata tertib. (6). Liga sepakbola Langkat (Langkat Voetbal-Competitie). HET BESTUUR’.

Kompetisi di Langkat dan Padang en Bedagai (1915)
Kini sudah ada dua bond: Deli Voetbal Bond dan Langkat Voetbal Bond. Lalu kemudian menyusul dengan dibentuknya bond ketiga: Padang Bedagai. Ketiga bond ini telah melakukan kompetisi (liga) di bawah masing-masing bond (De Sumatra post, 24-03-1915).

Kompetisi Antarbond; Kejuaran Antarklub

Semakin berkembangnya sepakbola di komunitas Eropa/Belanda dan kalangan pribumi dan Tionghoa di Noord Sumatra memungkinkan didirikannya klub-klub baru serta dibentuknya bond (perserikatan) untuk menyelenggarakan kompetisi (liga) secara regular. Lalu kemudian kompetisi sepakbola ditingkatkan ke level yang lebih tinggi yakni pertandingan kejuaraan (kampioen). Dalam bahasa sepakbola sekarang adalah liga champion. Namun liga champion atau kejuaraan yang dilakukan di Noord Sumatra bukanlah seperti kejuaraan antarkota sebagaimana di lakukan di Jawa. Di Jawa, pertumbuhan liga sepakbola berbasis kota, seperti Batavia, Soerabaija, Semarang dan Bandoeng. Karena itu kejuaraan yang dimaksud di Jawa lebih pas disebut kejuaraan antarakota daripada kejuaraan antarbond. Sedangkan kejuaraan yang dilakukan di Noord Sumatra lebih sesuai disebut kejuaraan antarbond. Sebab liga yang diselenggarakan di bond Langkat dan bond Padang Bedagai, klub-klubnya datang dari berbagai kota atau area. Hal yang sedikit mirip dengan bond Langkat dan Padang Bedagai adalah bond di Bandoeng, dimana salah satu klub yang bermain di Bandoeng Voetbal Bond (BVB) adalah klub Sparta dari Tjimahi (klub militer). Hal ini mirip yang dilakukan di bond Deli yang mana klub Langkat Sport Club berkompetisi di Medan (Deli).

Agenda sepakbola di Oost Sumatra Juli- September 1915
De Sumatra post, 25-06-1915 (De kampioenwedstrijden): ‘Kita telah mendengar sendiri pertandingan sepakbola akan dilakukan antara juara afdeelingen Langkat, Padang Bedagei dan Deli pada hari ini. Data pertama yang diperoleh dan ditentukan secara rinci, dapat dilakukan sebelum jadwal defintif. Juara untuk Dcli yang dalam hal ini Go Ahead melawan juara untuk Langkat, klub sepak bola ‘Klambir’ di Tandjong Poera, dan juara Padang en Bedagei yakni Pabatoe. Pertandingan akan digelar di Pabatoa, Tandjong Poera dan Medan. Juga, hari ini pertemuan akan dilakukan untuk membicarakan pertandingan yang akan disebut sebagai Huttenbach-Beker’.

De Sumatra post, 03-07-1915: Agenda sepakbola (lihat gambar).

Pertandingan Tim Belanda vs Tim Inggris di Medan: Menyita Perhatian Publik di Negeri Belanda

Tim sepakbola Belanda vs Ingris tentu saja selalu menjadi perhatian public di Negeri Belanda. Selain ada latar belakang sejarah perseteruan perang antara kedua Negara, juga politik kedua Negara juga sering mengalami panas-dingin. Demikian juga di lapangan sepakbola, pertandingan sepakbola selalu diartikan sebagai perang di lapangan rumput. Pertempuran kedua tim selama ini hanya dilangsungkan di Eropa dalam label tim nasional. Tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini pertandingan antara tim Belanda vs tim Inggris. Sejauh ini, itu pamahaman oleh pers di Eropa

Ternyata pers Eropa keliru besar. Mereka selama ini abai melihat perseteruan tim Inggris vs tim Belanda di daerah terpencil di Noord Sumatra. Seperti kita ketahui, kenyataannya tim Belanda vs tim Inggris sudah sejak lama ada di Noord Sumatra, baik antara tim Deli (Belanda) vs tim Penang (Inggris) maupun antara tim Deli vs tim Langkat (Inggris). Pertandingan yang dilakukan tanggal 1 Juni yang lalu telah membuka perhatian pers Eropa bahwa ada pertandingan seru di Medan. Inilah pangkal perkara, sepakbola Medan mulai dikenal di Eropa.

Nieuwe Rotterdamsche Courant, 27-07-1915(Voetbal, In Indie): ‘Ini adalah negara kita, sayangnya saat pertandingan antara Holland vs Engeland hanya diberitakan oleh VSN Niuews. Ini suatu pertandingan yang seru, bukan di Amsterdam, tetapi di stadion olaharga di Medan pada tanggal 1 Juni. pada olahraga yang dimainkan. Mungkin ini banyak sikap para pihak memandang kejadian sepakbola tersebut sebagai sikap tidak kurang pentingnya jika dibandingkan di Amsterdam. Padahal yang di Medan ini adalah pertandingan ETI (Eropa). Banyak penonton datang menggunakan kereta. Memang inbi pertandingan untuk tujuan amal dan telah mengumpulkan angka 13.000 gulden yang diperuntukkan untuk kepentingan umum yang telah diselenggarakan oleh Deli Sport Vereeniging. Khusus untuk alokasinya sudah lebih lanjut diatur secara rinci. Tim Hollandsche dalam hal pertandingan ini telah bermain dengan sempurna untuk mempertaruhkan shirt oranje, oleh para pemain Belanda terbaik di wilayah tersebut. Lapangan yang digunakan tampak banjir tidak sebaik pertandingan internasional Belanda di dalam Olimpiade yang datang ke Stockholm. Berikut adalah nama-nama susunan pemain: NJ. Stok (doel): JJ. Manta en GF. Pop. (achter), J. Dlederik. RD. Jongeneal DH. v. d. Poel (midden); M. Brouwer Ponkens, J. Ruysennaare. L. Delboy, C. ten Cate en H. Alofs ¦ (voor).

Yang bertindak sebagai wasit dalam pertandingan adalah Arnhemmer Leo Suringa dengan kepemimpinan dengan besar sehingga pertandingan berjalan lancer. Oleh Mr. Mathewson  menyediakan perak yang menarik sebagai pertukaran baker yang mana dalam pertandingan tersebut dimemenangkan oleh Hollanders terhadap Britien dengan kemenangan 3-1. Pertandingan ini yang dianggap sebagai even kompetisi internasional maka lagu kebangsaan antar dua Negara juga diperdengarkan di lapangan dan juga disertai dengan lagu-lagu rakyat. Lalu kemudian seorang wanita membawa bola untuk dilakukan kickoff. Ia adalah istri dari ketua donor. Dalam tempo setengah pertandingan yang bersih itu untuk Belanda kedudukan dengan skor 1-0. Segera babak kedua dimulai Inggris yang mulai serangan, lalu Belanda yang dimotori Cate tidak berhasil, malah Inggris menghasilkan gol ke gawang Belanda. Namun tidak lama gol terjadi oleh Delboy dan membawa stand 2-1 dan pada berikutnya Cate membuat menjadi 3-1. Pada pertandingan pada tingkat tinggi kehormatan yang dicapai ini diragukan lagi kita dapatkan. Dua tim dengan pemain terbaik direncanakan akan melakukan pertandingan untuk selanjutnya setiap tahun yang menjadi agenda resmi di bonden Medan’.

***
*Medan dan sekitarnya adalah wilayah yang awalnya jarang penduduk menjadi area perkebunan terpadat di Nederlandch Indie. Pertumbuhan dan perkembangan, perkebunan membutuhkan banyak tenaga kerja. Tidak ada alasan penduduk local (utamanya Melayu) untuk menjadi tenaga kerja di kebun-kebun yang baru dibangun, karena sawah ladang mereka masih mampu untuk menghidupi keluarga. Pihak pekebun (planters) yang umumnya berasal dari Eropa/Belanda mendatangkan tenaga kerja dari luar wilayah utamanya dari Jawa, Asia Timur dan Asia Selatan. Tenaga-tenaga kerja ini bekerja di perkebunan-perkebunan pekerja perkebunan dengan struktur perjanjian komersil (kontrak)—mungkin masa kini praktek system ketenagakerjaan ini mirip-mirip pengadaan tenaga kerja outsourcing.

Pertumbuhan perkebunan di satu pihak dan perkembangan sosial di pihak lain menyatu menjadi tumbuhnya kota Medan dan semakin dibutuhkannnya peran pemerintahan. Sistem pemerintahan kolonialnya juga dengan sendirinya berkembang. Di Deli yang kala itu sebagai bagian dari Residentie Siak Indrapoera ditempatkan seorang controluer di Laboehan Deli (dekat Belawan yang sekarang). Ketika statusnya ditingkatkan menjadi Asisten Residen, ibukota Afdeeling Deli dipindahkan ke Medan Poetri, sisi utara Sungai Deli (sekitar Esplanade yang sekarang). Lalu kota Medan dibangun. Dalam perkembangannya Afdeeling Deli menjadi pusat perdagangan, pusat pemerintahan dan pusat-pusat fasilitas pendidikan dan kesehatan maka status pemerintah di Medan ditingkatkan menjadi Residen dan terakhir Goevernor.

Perkembangan perkebunan dan ekspor (perdagangan) di satu sisi semakin membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak. Para pengusaha dan orang-orang Eropa/Belanda yang bekerja sebagai pegawai perkebunan juga semakin meningkat. Banyak pengusaha dan pegawai perkebunan di Deli dan Langkat adalah para migrant yang berlatar belakang sepabola (individu-individu yang memulai adanya sepakbola di Medan dan Bindjei adalah para pemain professional sepakbola yang sebelumnya anggota klub professional di Negeri Belanda).

Sementara di sisi lain perkembangan social dan pemerintahan membutuhkan tenaga-tenaga yang membutuhkan keahlian tertentu. Tenaga-tenaga kerja perkebunan yang didatangkan makin lama makin banyak dan tersebar di area-area perkebunan yang kemudian terbentuknya kantong-kantong penduduk pendatang. Sementara tenaga-tenaga yang memiliki keahlian tertentu (guru, dokter, jaksa dan lainnya) didatangkan atau datang sendiri secara mandiri yang memusat di kota Medan. Mereka ini terutama datang dari Tapanoeli, Padang dan Jawa. Sedangkan orang-orang Tionghoa lainnya datang sebagai migrant karena bermaksud untuk berusaha di bidang perdagangan. Mereka ini datang dari Penang, Malaka, Natal, Sibolga dan Padang(Sidempoean). Adanya komunitas Tionghoa di kota-kota tersebut bergeser (tumbuh) komunitas-komunitas baru di Medan Laboehan dan pada berikutnya di Kota Medan.

Boleh jadi komunitas Tionghoa sudah lebih dahulu ada di Padang, Natal dan Sibolga serta Padang Sidempoean. Mereka ini secara alamiah mengalir dari Jawa (Batavia) menuju Padang (sebagai rantau baru yang tengah berkembang), lalu bergerak ke Natal dan Sibolga yang dalam perkembangan lebih lanjut komunitas ini timbul di pedalaman di Padang Sidempoean. Semua karena perdagangan (dari luar mendistribusikan produk-produk industry dan dari dalam mengangkut komoditi seperti beras untuk ditransfet ke daerah lain yang kekurangan dan (utamanya) kopi untuk tujuan ekspor di Padang melalui pelabuhan Loemoet/Sibolga dan Natal.

Diduga kuat sebelum adanya komunitas-komunitas Jawa di Deli sudah terbentuk komunitas-komunitas awal yang berasal dari Jawa di Sumatra’s Westkust. Mereka ini adalah bagian dari tentara yang didatangkan dari Jawa (termasuk Madura dan Ambon). Sesungguhnya yang disebut pasukan/tentara Belanda hanya sedikit sekali elemen Belanda dan sebagian besar elemen Jawa, Madura dan Ambon. Elemen Sumatra hampir tidak ada di kesatuan militer Belanda, mungkin di satu sisi karena sulit mendapat calon yang sukarela (kontrak) juga mungkin di sisi lain untuk maksud psikologis perang bagi individu tentara bahwa Ambon, Madura dan Jawa cukup jauh dan ikatan batin tidak kuat dengan Sumatra. Dengan kata lain tidak ada persaaan sungkan jika diperlukan untuk bertempur. Perang Bonjol, Perang Petibi (Tambusai), Perang Batak (Sisingamangaradja) dan Perang Atjeh adalah pasukan elemen non Sumatra.

Sebaliknya, dalam pasca kemerdekaan elemen tentara Tapanoeli banyak dikirim ke Jawa Barat dan Jawa Timur. By design, banyak perwira-perwira Tapanoeli terutama dari Mandheling en Ankola diduga dikhususkan ke Atjeh untuk membawahi pasukan dari pulau Jawa. Perwira-perwira asal Tapanoeli yang umumnya beragama Islam menjadi penyeimbang.

Tentara asal Jawa inilah yang dikontrak untuk mengisi benteng-benteng dan camp pertahanan lainnya. Seperti camp di Rao, Panjaboengan, Pijorkoling, Pertibi dan Sibolga. Setelah kontrak mereka selesai (alias pension dari kedinasan) dan setelah diakhirinya cultuurstelsel (karena banyaknya protes dan kerusuhan) di Padangsche Bovenlanden dan Mandheling en Ankola, sisa tentara asal Jawa ini (karena mayoritas Jawa) tidak berkeinginan pulang ke Jawa sementara Madura dan Ambon karena minoritas balik ke Jawa). Eks tentara Jawa ini banyak yang bekerja di perkebunan-perkebunan kopi (investor asing) dan dalam pekembangannya di perkebunan-perkebunan kopi dan karet di Batang Toru dan Pijorkoling.

Adanya kampong Jawa di pinggir kota Padang Sidempoean (kini sudah menjadi tengah kota) merupakan wujud dari pernah adanya komunitas Jawa yang lebih awal di Padang Sidempoean daripada di Medan (area kampong Jawa ini adalah area yang sebelumnya sebagai ranch kuda-kuda perang). Dalam perkembangannya komunitas ini hilang tanpa ada yang tertinggal, tetapi nama kampong tetap dilestarikan hingga ini hari sebagai nama Kampung Jawa. Mereka yang bertempat tinggal di ‘kampong baru’ itu, lalu mereka menyebar ke perkebunan-perkebunan di Batang Toru (membentuk komunitas baru) dan sebagian yang lain menjadi bagian dari arus timbal balik migrasi internal Jawa antara Tapanoeli vis-à- Sumatra Timur. Singkat cerita: komunitas Jawa di Tapanoeli lebih cenderung disebut warisan ekonomi perang (kontrak militer), sedangkan komunitas Jawa di Sumatra Timur sebagai warisan ekonomi perkebunan (kontrak bisnis). 

Chinese koelies, Deli, 1878
De Sumatra post, 02-03-1914 (Emigratie naar de Oostkust): ‘Jumlah kartu masuk yang diterbitkan dalam. bulan Desember, menurut laporan resmi: sebanyak 23 orang Eropa dan 27 orang Jepang. Kemudian diregister sebanyak 8.390 orang Cina, 2.197 pria Jawa dan 739 perempuan Jawa, 739 orang Klingaleezen (India), 12 orang Bandjareezen (Kalimantan) dan 12 orang timur asing lainnya. Setelah mereka itu diikat dalam persetujuan kerja (contract-koelies), lalu diterbitkan izin kerja dan pembuatan KTP. Jumlah yang memenuhi syarat: sebanyak 1510 orang Cina, 390 pria Jawa, 259 wanita Jawa,  16 Bandjareezen, 63 Klingaleezen, dan 48 Mileien (Maladewa?) serta sembilan yang lainnya’.


(Bersambung)


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: