03/05/15

Sejarah Marah Halim Cup (6): Klub Baru, Kompetisi Baru dan Deli Voetbal Bond Dibentuk



Para ‘gibol’ di Padang Sidempoean, kota di pedalaman Residentie Tapanoeli ingin membaca bagaimana kiprah Tapanaolie Voetbal Club (TVC) selanjutnya setelah didirikan di Medan. Pada saat launching, TVC melakukan pertandingan melawan Voorwaarts Voetbal Club (VVC), klub baru juga yang dihuni oleh anak-anak Belanda yang dilangsungkan pada tanggal 18 Maret 1906 di lapangan Esplanade, Medan (lihat Sumatra post, 19-03-1906). Debut kedua klub itu, VVC mengalahkan TVC dengan tiga gol tanpa balas. Revans TVC terhadap VVC inilah yang ingin diikuti terus oleh para ‘gibol’ di Padang Sidempoean. Namun beritanya tidak kunjung ada. Berita yang ada dari Deli (Medan) dan Langkat (Bindjei) hanya sebatas berikut ini:

Kompetisi Baru (Sumatra Post, 08-07-1907)
De Sumatra post, 23-03-1906: ‘Langkat Sportclub akan menantang Sportclub Medan, Minggu 1 April dalam rangka kontes untuk memperebutkan Muller-Beker (Piala Muller) di Bindjey’.
De Sumatra post, 30-03-1906: ‘Oleh karena dua pemain terbaik tim Langkat tidak bisa bermain karena sakit, diumumkan pertandingan antara Langkat dan Medan, yang akan dilaksanakan 1 April di Bindjey tidak bisa dilangsungkan'.
De Sumatra post, 16-06-1906: ‘Diberitahu kita pagi ini di lapangan sepakbola di Bindjey akan digelar pertandingan kesebelasan anak sekolah Inlandsche Medan kontra kesebelasan anak-anak dari sekolah asli Bindjey’. Hasil pertandingan skor 4-1 untuk anak-anak sekolah Bindjei (lihat De Sumatra post, 18-06-1906).
De Sumatra post, 07-07-1906: ‘Besok di lapangan Esplanade, Medan akan diadakan pertandingan antara sekolah Inlandsche Bindjei dan Medan’.  Hasil pertandingan, anak-anak sekolah Medan revans dengan skor 2-0.

Berita tentang klub Tapanoeli baru muncul empat bulan kemudian yakni Juli 1906. Namun isi beritanya ‘setengah senang dan setengah kecewa’, karena pertandigan antara TVC dan VVC harus ditunda. De Sumatra post edisi 09-07-1906 melaporkan: ‘Pertandingan antara Voorwaarts Club dan Tapanoeli Club yang akan berlangsung, ditunda atas permintaan khusus dari serikat anak-anak (inlandsch school voetbal) sampai pemberitahuan lebih lanjut’. Pertandingan antara TVC dan VVC tidak kunjung diberitakan oleh Sumatra Post. Kelanjutan pertandingan antara TVC dan VVC justru terpantau di koran Soerabaija. Isi beritanya tidak lengkap, sebagai berikut: ‘Klub sepakbola Voorwaarts Medan baru-baru ini, pada hari Sabtu sore di properti Istana Sultan melakukan pertandingan menghadapi lawannya tim pribumi (Tapanoeli) sebagaimana dilaporkan Deli Courant’ (lihat Soerabaijasch handelsblad, 08-08-1906).

Lalu, berita sepakbola di Deli dan Langkat sepi dan langka lagi. Baru kemudian, berita sepakbola Langkat dan Deli ‘nongol’ lagi. Beritanya sangat menggemparkan, tidak hanya di Noord Sumatra, tetapi juga di Batavia dan Soerabaija. Apa pasal? Klub Voortwaarts Medan, klub pendatang baru, menghempaskan klub Langkat Sportclub yang selama 2,5 tahun tidak terkalahkan oleh lawan-lawannya (lihat De Sumatra post, 17-11-1906).

Kini, Langkat Sportclub harus takluk dengan skor 0-2 oleh anak-anak Belanda. Berita ini rupanya menjadi ‘trending topic’ di semua koran-koran di Asia Tenggara dan terpantau juga di Nederland. Orang-orang pribumi, juga para ‘gibol’ di Padang Sidempoean cepat paham, karena Langkat Sportclub adalah klub yang dihuni oleh anak-anak Inggris dan Voorwaarts adalah klub yang dihuni oleh anak-anak Belanda. Koran di Penang juga sempat was-was pamor sepakbola anak-anak Inggris bisa melorot, karena mengaitkan perseteruan Tim Deli (Deli Elftal) dan Tim Penang (Penang Elftal) yang mana Penang (Inggris) juga belum pernah dikalahkan oleh Deli (Belanda) sejak 1894.

***
Berita sepakbola di Deli dan Langkat sepi dan langka lagi. Berita sepakbola Deli/Langkat terakhir adalah berita kekalahan Langkat Sportclub oleh Voorwaarts (November, 1906). Kini sudah memasuki tahun 1907 tetap tidak ada berita sepakbola dari Deli dan Langkat. Januari, Februari, Maret dan April telah berlalu, secuilpun tidak ada berita yang nongol, bahkan sampai bulan Mei dan Juni juga tidak ada berita sepakbola di di Deli dan Langkat. Ada apakah? Apakah sepakbola telah dilarang, karena selama ini pamor kriket dan pacuan kuda telah tersingkirkan oleh semangat sepakbola? Tidak ada yang tahu.

Kompetisi Baru Digelar

Begitu lamanya tiada kabar berita, mungkin, para ‘gibol’ sudah sempat melupakan sepakbola Noord Sumatra (Langkat dan Deli). Tapi, tiba-tiba pada awal bulan Juli muncul berita besar lagi di koran-koran. Kompetisi sepakbola di Deli segera akan digelar. Alhamdulilah, mungkin para ‘gibol’ bersyukur masih ada harapan sepakbola Noord Sumatra akan lebih baik lagi.

Jadwal kompetisi 1907
De Sumatra post, 08-07-1907: ‘Semalam di ruang serbaguna Hotel De Boer telah diadakan pertemuan para pengelola olahraga dan memutuskan untuk mendirikan sebuah liga sepak bola (voetbal competitive), dibagi menjadi dua kelas, untuk klub-klub yang ada Sumatra’s Oostkust. Pertandingan akan berlangsung di Esplanade sebagai tempat yang ditentukan. Aturan berikut diatur sebagai berikut: Setiap pertandingan, pemenang mendapat dua poin dan imbang satu poin. Klub yang berpartisipasi tetapi tidak mengikuti aturan wasit dan tidak bersedia bertanding diberi sanki kehilangan permainan (kalah) dengan 6-0. Klub yang tidak datang tepat waktu, juga kehilangan permainan (kalah) 5-0. Wasit memiliki hak, jika pemain bermain kasar, dikeluarkan dari permainan serta pemain yang bersangkutan dilarang berpartisipasi selama kompetisi. Untuk dua divisi kompetisi disediakan masing-masing piala. Jadwal pertandingan kompetisi sebagai berikut (lihat gambar). Hasil-hasil pertandingan akan dipublikasikan di koran secara teratur’.

***
Kompetisi yang akan digelar ini sesungguhnya bukan kali pertama di Medan. Sebelumya sudah pernah digelar kompetisi pada Desember 1905. Klub yang berpartisipasi kala itu ada tiga klub: Medan Sportclub, Langkat Sportclub dan Toengkoe Club. Namun tidak diketahui mengapa kompetisi tersebut tidak berlanjut. Oleh karenanya kompetisi ini boleh disebut kompetisi untuk kali kedua. Kompetisi baru (1907) ini mengindikasikan beberapa hal.

Pertama, klub-klub lama yang selama ini berkiprah di Medan dan Bindjei tidak ada, seperti Medan Sportclub, Langkat Sportclub, Toengkoe Club, Tiong Hoa Club, Taman Sefakat Club. Kemana klub-klub tersebut? Apakah dibubarkan atau merger dan berganti nama?

Kedua, muncul nama klub baru: Chinese Sport Club, Maimoen Sporting Club, Sarikat Voetbal Club, Java Voetbal Club, Djawi Beranakan Voetbal Club.

Ketiga, klub lama tapi masih terbilang baru: Voorwaarts dan Tapanoeli tetap ada. Apakah kedua klub ini sebagai suksesi klub lama yang mana kedua klub ini mempelopori digulirnya kompetisi?

Keempat, kompetisi terbagi dua divisi: Divisi satu terdiri dari tiga klub, yakni: Voorwaarts, Chinese Sport Club dan Maimoen Sporting Club. Divisi dua terdiri dari  tujuh klub, yakni: Medan Tapanoeli Club, Sarikat Voetbal Club, Java Voetbal Club, Djawi Beranakan Voetbal Club, Chinese Sport Club II, Voorwaarts II dan Maimoen Sporting Club II.

Kelima, kompetisi yang akan digelar tidak diketahui apa nama pengelola, siapa yang duduk dalam kepengurusan. Apakah semua keputusan diambil secara forum dalam pertemuan tertentu?

Sepakbola Noord Sumatra selalu berwarna-warni. Demikian juga klub-klub yang berpartisipasi dalam kompetisi juga tampak colorful. Ini berbeda dengan kompetisi di Soerabaija yang semua klub berbasis pada orang-orang Belanda. Di Batavia, empat klub dari lima klub yang berpartisipasi adalah orang Belanda yang mana satu diantaranya klub Sparta adalah militer. Sedangkan klub yang satu lagi adalah Klub  Dr. Djawa yang mana pemainnya 100 persen pribumi. Meski demikian, tidak dapat dikatakan seutuhnya klub pribumi, karena Docter Djawa School adalah sekolah pemerintah Belanda yang dikhususkan untuk melatih siswa pribumi menjadi dokter.

Sebaliknya, di Deli, Noord Sumatra, kompetisi hanya diikuti satu klub yang berbangsa Belanda, yakni Voorwaarts. Klub-klub lainnya berbasis non Belanda, yakni: Batak (Medan Tapanoeli Club), Melayu (Maimoen Sporting Club), Djawa (Java Voetbal Club dan Djawi Beranakan Voetbal Club), Tionghoa (Chinese Sport Club), dan campuran pribumi (Sarikat Voetbal Club). Sayang sekali klub berbasis Inggris tidak terwakili dalam kompetisi yang sekarang. Noord Sumatra memang marragam-ragam.

Deli Voetbal Bond Dibentuk

Apa yang dipertanyakan sebelumnya, siapa yang mengatur kompetisi mulai terkuak. Pada tanggal 16-07-1907 disepakati bahwa semua klub yang berkompetisi digabung menjadi satu nama: Deli Voetbal Bond (Perserikatan Sepakbola Deli). Untuk sementara, diputuskan yang menjadi presidium organisasi sepakbola ini adalah pengurus sepakbola dari klub Voorwaarts. Dalam pertemuan tersebut disepakati adanya amandemen terhadap jadwal karena adanya poeasa.

Jadwak kompetisi 1907 (baru)
De Sumatra post, 17-07-1907: ‘Kemarin sejumlah klub sepakbola yang berpartisipasi dalam kompetisi melakukan pertemuan dan mengumumkan ke media. Pada pertemuan ini diputuskan untuk mendirikan Deli Voebal Bond (Asosiasi Sepakbola Deli) yang anggotanya adalah klub. Ini adalah atas saran dari salah satu klub Cina untuk menunjuk orang dari Voorwaarts sebagai Presidium dari Liga. Usul ini dibawa ke pertemuan klub anggota dari dua divisi. Pertandingan antara Voorwaarts II melawan Medan Tapanoeli Club yang dimainkan hari Minggu namun salah satu tim terlambat yang seharusnya diberi sanksi 5-0 ditinjau kembali oleh Otoritas dan diputuskan pertandingan akan digelar kembali pada tanggal 23 Agustus. Untuk pertandingan lebih lanjut semua klub jadwal ditata ulang. Hal ini karena adanya poeasa maka jadwal diamandemen. Jadwal lengkap terbaru serangkaian kompetisi menjadi sebagai berikut (lihat gambar).

Kick-off

Pertandingan pada pekan pertama yang dilaksanakan tanggal 19 Juli antara Maimoen Sporting Club vs Sarikat Voetbal Club (Divisi Dua) dan antara Chinese Sport Club vs Maimoen Sporting Club tidak teridentifikasi di koran. Pada minggu kedua kompetisi dilanjutkan tanggal 26 Juli mempertemukan  Medan Tapanoeli Club vs Sarikat Voetbal Club (Divisi Dua) dilaporkan De Sumatra post.

Klassemen sementara minggu kedua (Kompetisi 1907)
De Sumatra post, 27-07-1907: ‘kemarin di Esplanade, pertandingan sepakbola. Kedua tim bermain tidak memuaskan. Pertandingan yang dilangsungkan 2X30 menit itu, Tapanoeli kalah 0-2 hingga turun minum. Pada babak kedua, Tapanoeli memperkecil skor, tetapi Sarikat mampu mencetak gol lagi hingga pertandingan berakhir dengan kedudukan skor 3-1. Dalam pertandingan ini secara keseluruhan tampak banyak pelanggaran yang masih direstui oleh wasit’.

De Sumatra post, 29-07-1907: ‘Dalam lanjutan kompetisi, mempertemukan Java Voetbal Club  vs Chinese Voetbal Club, skor dengan 3-1 dengan kemenangan Java setelah waktu peluit satu jam permainan dibunyikan wasit Mr. Kok. Kombinasi permainan yang sangat baik, baik dari Jawa maupun Cina'.


Penjelasan yang melecehkan pemain sepakbola pribumi
De Sumatra post, 10-08-1907: ‘Sarikat VC bertanding dengan Voorwaarts. Pada babak pertama, Sarikat kalah dengan skor 2-4. Pada babak kedua, Sarikat semakin terbenam, Voorwaarts menambah lagi tiga gold an berkesudahan dengan kedudukan akhir 2-7'
+Waarom Voorwaarta won? (Mengapa Voorwaarts menang telak?).P. een der omstanders had daarvoor zjjn eigenaardige reden, en wel deze: (Mr. P. salah satu pengamat punya alasan sebelumnya memberi jawaban aneh. begini:)
+„Tentoe itoe orang blanda musti menang".
+„Kenapa" vroeg zijn medetoeschouwer verwonderd. (tanya rekan penonton terkejut)
+„Sebab orang blanda makan biefatuk, dan orang malajoe makan petjil sadja.

Voorwaarts Juara Divisi Satu

Dalam lanjutan kompetisi dibawah Deli Voetbal Bond dilangsungkan sejumlah pertandingan baik divisi satu maupun divisi dua. Pertandingan divisi satu sudah mau memasuki pekan terakhir. Hasil-hasilnya antara lain, sebagai berikut:

De Sumatra post, 12-08-1907: ‘Pertandingan sepakbola diadakan kemarin antara Djawi Peranakan VC dan Java VC yang berakhir dengan skor 0-0. Kontes yang mana kedua klub yang berkostum biru putih (blauwwitten) dan yang berkostum hitam-hijau silih berganti menyerang’.

De Sumatra post, 24-08-1907: ‘Voorwaarts II vs Tapanboeli VC pada saat turun minum skor 2-1. Pertandingan berakhir dengan 6-l untuk keuntungan Voorwaarts’.

De Sumatra post, 23-09-1907: ‘Kemarin pertandingan atas asosiasi di Esplanade bersama-sama. Tapanoeli di awal kuat, yang mereka tahu untuk mengekspresikan untuk keunggulan atas lawannya 2-0. Setelah istirahat, Djawi- Peranakan hanya sekali berhasil mencetak gol. Pertandingan ini sudah gelap ketika Mr. Cornfield,  wasit meniup pluit.  Kedudukan akhir menjadi Medan Tapanoeli menang dengan 2-l’.

Klassemen Akhir Divisi Satu (1907)
De Sumatra post, 02-10-1907: ‘Pertandingan dimulai pukul lima sore dua klub divisi satu Deli Voetbal Bond antara antara Voorwaarts melawan Chinese SC yang mana Voorwaarts memulai serangan, tetapi China tidak tinggal diam yang kipernya juga bermain bagus. Akhirnya kemudian Chinese SC yang berkostum merah-putih berhasil membuat gol. Voorwaarts membalas dengan dua gol. Pada babak kedua Chinese SC berhasil membuat gol. Sorak-sorai keras dari penonton pribumi. Permainan ini adalah sangat menarik. Voorwaarts kemudian memenangkan pertandingan ini setelah berhasil membuat gol ketiga. Oleh karena ini adalah pertandingan terakhir divisi satu, maka Voorwaarts yang menjadi juara  Deli Voetbal Bond dan berhak menerima Piala yang diserahkan oleh Mr. Coorfield. Klassemen akhir sebagai berikut (lihat gambar).

Petisi dalam Sepakbola Deli


Taman Esplanade, Medan (1905)
Lapangan Esplanade adalah paru-paru kota, tempat yang sejak dari doeloe menjadi pusat keramian dan venue untuk berbagai bidang olahraga. Sepakbola menjadi topik perkara. Doeloe lapangan Esplanade digunakan semua pihak, Belanda, pribumi dan Tionghoa untuk bermain sepakbola. Namun dalam perkembangannya Esplanade hanya dikhusukan untuk Medan Sportclub (anak-anak pribumi dan Tionghoa tersingkir dari Esplanade). Kini, Vooerwaart dan pertandingan-pertandingan di bawah Deli Voetbal Bond akan  diusir? Sudah ada petisi dari sekitar Esplanade dan kini sudah masuk dalam pembahasan anggota ‘dewan kota’.

De Sumatra post, 27-11-1907: ‘diantara dokumen yang masuk kemarin termasuk petisi mengenai lapangan Esplanade yang ditujukan kepada Mr. G.L.D.J. Kok sebagai pimpinan Deli Voetbal Bond dan juga Vooerwaarts yang menggunakan lapangan Esplanade. Lapangan ini bersebelahan dari Kantor Pos. Dalam permohonan meminta pertandingan dipindahkan ke tempat lain, seperti yang sudah dilakukan sebelumnya di tanah yang terletak dekat dengan Kerapatangebouw atau pada Djalan Lemba atau di tempat lain. Ini semua untuk memenuhi keluhan dari warga Esplanade tentang kebisingan setiap ada pertandingan, juga untuk menghindari agar area Esplanade tidak rusak dan juga menghindari beban dan bahaya untuk para atlet..’.  

Klassemen Sementara, Desember, 1907
De Sumatra post, 09-12-1907: ‘Voorwaarts II vs Java Voetbal Club dilangsungkan meski lapangan becek namun tetap dinyatakan dimainkan. Voortwaarts yang menyerang habis-habis gawang Java yang berkostum biru-putih dan tercipta tiga gol untuk keunggulan Voorwaarts sebelum turun minum. Pada babak kedua Java balik memborbardir si kostum merah-putih dan berhasil membuahkan dua gol. Di menit-menit berakhirnya pertandingan masing-masing membukukan gol sehingga kedudukan akhir 4-3 saat wasit membunyikan pluit tanda berakhirnya pertandingan. Kini, Voorwaarts dengan poin 11 berada dipuncak nomor satu, tidak pernah terkalahkan. Klassemen sementara sebagai berikut (lihat gambar)

De Sumatra post, 14-01-1908: ‘Pada hari Dinsdag tanggal 21 diadakan pertemuan selama delapan jam untuk membahas permasalahan di Afdeelingsraad.  Salah satu agenda membahas ‘Behandeling van 3-ledig verzoek van den President van den Dcli Voetbalbond c/t President der Voetbal-Vereeniging ‘Voorwaarts’ gedaan in zjjn a/d Afd. Raad gericht schrjjven van 2 November’.

Bagaimana kelanjutan sejarah perjalanan kompetisi sepakbola di Deli ikuti terus dalam artikel-artikel berikutnya. Persoalan lapangan sepakbola juga menarik untuk ditelusuri. Hal lain yang perlu ditelusuri adalah tumbuh kembangnya sepakbola di kota-kota lain di Noord Sumatra dan pertanyaan yang perlu diajukan apakah ada interaksi klub sepakbola Noord Sumatra khususnya dari Medan dan sekitarnya dengan klub-klub di Batavia atau kota-kota lainnya di Java Eilend.
***


Beberapa surat pembaca dari Padang Sidempoean
*Bagaimana anak-anak Padang Sidempoean pada masa doeloe akses terhadap surat kabar? Tidak sulit untuk menjelaskannya. Adalah Sumatra Courant yang terbit di Padang di Province Sumatra’s Westkust (terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benedenlanden (ibukota Padang), Padangsche Bovenlanden (Fort de Kock) dan Tapanoeli (Siboga). Koran berbahasa Belanda ini cukup tinggi tirasnya di Tapanoeli, utamanya di Padang Sidempoean. Sumatra Courant menjadi ‘the window’ bagi warga kota untuk memantau berita-berita terkini di Nederlansche Indie maupun di Internasional. Koran ini juga hampir tiap hari memuat berita kejadian-kejadian di Residentie Tapanoeli, utamanya Afdeling Mandheling en Ankola yang beribukota Padang Sidempoean. Interaksi penduduk Mandheling en Ankola dengan Sumatra Courant cukup intens. Cukup sering pembaca di Padang Sidempoean mengirimkan surat pembaca ke koran ini karena hal yang tidak sesuai yang diberitakan dengan kenyataannya.

Di Padang juga terbit koran berbahasa Melayu namanya Pertja Barat. Koran investasi Belanda ini juga mudah diakses di Padang Sidempoean. Sumatra Courant dan Pertja Barat setiap hari bertukar informasi. Dua koran ini mengambil segmen pembaca yang berbeda: Sumatra Courant bagi kalangan menengah ke atas, sebaliknya Pertja Barat untuk kalangan menengah ke bawah. Dengan demikian, semua penduduk di Mandheling en Ankola bisa mengakses berita-berita seputar Tapanoeli dan Nederlandsch Indie.

***
Pada tahun 1897 editor Pertja Barat diganti. Pengganti editor koran yang sebelumnya adalah orang Belanda adalah seorang pribumi yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang guru dan pengarang (buku pelajaran dan roman) bernama Dja Endar Moeda (lihat Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 04-12-1897). Editor pribumi pertama di Nedelansche Indie ini adalah anak Padang Sidempoean,  alumni kweekschool Padang Sidempoean (lihat Sumatra Courant, 01-05-1884). Sejak ditangani Si Saleh Harahap gelar Mangara(Dja) Endar Moeda, oplahnya makin meningkat di Mandheling en Ankola. Sejak Dja Endar Moeda menjadi editor Pertja Barat, koran Sumatra Courant makin sering mengutip isi editorial yang ditulis Dja Endar Moeda sendiri karena tajam mengkritik pemerintah dan cerdas menyajikannya.

Setelah sukses di rantau, Dja Endar Moeda berkesempatan pulang kampong dan mengundang semua warga kota untuk suatu horja besar di Padang Sidempoean. Di sela-sela mudik ini, Dja Endar Moeda membicarakan dengan sejumlah rekan untuk menerbitkan koran Tapian Naoeli (lihat Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 01-05-1900). Dalam waktu yang tidak lama, Dja Endar Moeda telah mengakuisisi koran Pertja Barat dan majalah mingguan Insulinde (lihat De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 02-05-1901). Boleh jadi Dja Endar Moeda mudik tidak hanya sekadar horja tetapi urusan bisnis (mengajak rekan-rekannya untuk investasi di bidang pers). Sebab kemudian, Dja Endar Moeda juga telah membeli percetakan yang selama ini mencetak koran Pertja Barat. Dja Endar Moeda juga telah memperluas bisnis persnya ke Atjeh dan menerbitkan koran Pemberita Atjeh (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 02-08-1909).

***
Tahun 1899 Sumatra Courant di Padang ditutup. Sumatra Post di Medan mulai terbit. Besar kemungkinan Sumatra Courant (era lama) dan Sumatra Post (era baru) adalah investor yang sama. Sebab tidak lama setelah Sumatra Post terbit, juga muncul koran berbahasa Melayu di Medan yang diberi nama Pertja Timoer. Penerbit J. Haliermann yang menerbitkan koran Pertja Timoer, mungkin mengikuti gaya Pertja Barat, merasa perlu editor harus ditangani seorang pribumi. Pada tahun 1903, hanya satu pilihan yakni seorang jaksa yang desersi karena kekejaman Belanda di Natal. Mantan jaksa itu kini ada di Medan, namanya Abdoel Hasan gelar Mangaradja Salamboewe., Dialah yang direkrut Pertja Timoer untuk menjadi editor (editor pribumi kedua di Nederlandsch Indie). Abdoel Hasan adalah anak Dr. Asta (siswa pertama dari luar Djawa yang diterima di Docter Djawa School, 1854). Sebagaimana Dja Endar Moeda, Mangaradja Salamboewe juga adalah alumni Kwekschool Padang Sidempoean (1893).

Koran Sumatra Post (yang dikutip juga oleh Bataviaasch nieuwsblad) mengakui bahwa Mangaradja Salamboewe memiliki keingintahuan yang tinggi, memiliki kemampuan jurnalistik yang hebat. Koran ini juga mengakui bahwa Mangaradja Salamboewe memiliki pena yang tajam dan memiliki kemampuan menulis yang jauh lebih baik dibanding wartawan-wartawan pribumi yang ada. Hebatnya lagi, masih pengakuan koran ini, Mangaradja Salamboewe selain sangat suka membela rakyat kecil, Mangaradja Salamboewe juga sering membela insan dunia jurnalistik baik wartawannya maupun korannya. Kami juga respek terhadap dia, demikian diakui oleh koran Sumatra Post (lihat De Sumatra post edisi 29-05-1908). Setelah Mangaradja Salamoewe wafat, editor Pertja Timoer digantikan oleh Soetan Parlindoengan (alumni Kweekschool Padang Sidempoean).

***
Soetan Casajangan setelah selesai studi di Negeri Belanda pulang ke tanah air tahun 1914. Kemudian, Soetan Casajangan (pendiri Indisch Vereeniging, 1908) ditempatkan sebagai guru di Fort de Kock. Padang Sidempoean dengan Fort de Kock jaraknya cukup dekat, karena itu Soetan Casajangan sering bolak-balik ke kampong halaman di Padang Sidempoean. Soetan Casajangan, yang pernah menjadi editor beberapa majalah di Negeri Belanda mempelopori penerbitan koran dwibahasa (Batak dan Melayu) di Padang Sidempoean yang diberi nama Poestaha. Majalah mingguan ini dalam perkembangannya ditingkatkan menjadi harian ketika Parada Harahap pulang kampong dari Medan. 

Parada Harahap, mantan editor di Deli ingin membela penduduk Padang Sidempoean, Mandheling en Ankola yang sering menerima ketidakadilan dari pemerintah Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-07-1917). Parada Harahap juga menjadi editor koran Sinar Merdeka di Siboga. Koran Padang Sidempoean ini oplahnya juga beredar di Pematang Siantar (lihat De Sumatra post, 15-04-1918). Koran ini cukup garang terhadap pemeritah Belanda. Sangat sering koran ini dituntut balik sebagai delik pers dalam kasus dengan asisten residen Van der Meulen (lihat De Sumatra post, 18-08-1920). Beritanya juga banyak dikutip koran-koran Belanda seperti laporan kebakaran Pasar Padang Sidempoen seminggu lalu (lihat De Sumatra post, 17-09-1926). Delik pers kembali menerpa Poestaha dengan pemerintah dan polisi yang mengakibatkan editornya dibui (lihat De Sumatra post, 25-02-1927). 


Bataviaasch nieuwsblad, 07-08-1926
Setelah sekian tahun di Padang Sidempoan, Parada Harahap hijrah ke Batavia dan menerbitkan sejumlah media termasuk Bintang Timoer (lihat berita pendirian koran tersebut di Bataviaasch nieuwsblad, 07-08-1926 dan Nieuwe Rotterdamsche Courant, 30-08-1926 ). Parada Harahap dijuluki pers Belanda sebagai The King of Java Press, karena Bintang Timoer juga memiliki edisi Jawa Timur di Soerabaija dan edisi Jawa Tengah di Semarang (lihat De Indische courant, 13-09-1928). Parada Harahap adalah satu-satunya orang Batak yang menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Parada Harahap adalah pendiri Kantor Berita Alpena (bersama W.R. Soepratman, penggubah lagu Indonesia Raja). Parada Harahap. de beste journalisten van de Europeesche pers (lihat De Indische courant, 23-12-1925). Jangan lupa: Parada Harahap adalah pemain sepakbola klub Bataksche Voetbal Vereeniging (BVV) di Batavia (lihat De Sumatra post, 29-09-1925) dan salah satu pendiri Sumatranen Bond (De Indische courant, 10-02-1927). Parada Harahap juga adalah penulis skenario film (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20-06-1930).

***
Garis pers dari Padang Sidempoean ini bisa diteruskan hingga tiba waktunya kemerdekaan RI, seperti Adam Malik (Batubara), pendiri Kantor Berita Antara, Sakti Alamsyah (Siregar) pendiri koran Pikiran Rakyat di Bandoeng, Mochtar Loebis, pendiri koran Indonesia Raja, A.M. Hoetasoehoet, mantan wartawan (pendiri IISIP, Jakarta--Kampus Tercinta di Lenteng Agung).

(bersambung)

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: