18/02/15

Masdoelhak Nasution, Wanted (Dead or Alive): Penasehat Presiden Menjadi Sasaran Tembak oleh Intelijen dan Tentara Belanda di Yogyakarta (1948)



Mr. Masdoelhak Nasution, PhD (foto 1935)
Dewan Keamanan PBB marah besar. Pimpinan organisasi bangsa-bangsa yang berkantor di New York meminta sebuah tim netral di Belanda untuk melakukan penyelidikan segera atas kematian Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion di Yogyakarta 21 Desember 1948. Reaksi cepat badan PBB ini untuk menanggapi berita yang beredar dan dilansir di London sebagaimana diberitakan De Heerenveensche koerier : onafhankelijk dagblad voor Midden-Zuid-Oost-Friesland en Noord-Overijssel, 01-02-1949. Koran ini mengutip pernyataan pers dari kepala kantor Republik Indonesia di London yang pernyataannya sebagai berikut: ‘sejumlah intelektual terkemuka di Indonesia, diantaranya Masdulhak, seorang penasihat pemerintah dibunuh hingga tewas tanpa diadili’.

Mengapa PBB demikian marahnya atas kasus ini? Masdoelhak adalah seorang intelektual paling terkemuka di jajaran inti pemerintahan Republik Indonesia. Masdoelhak adalah akademisi muda bergelar doktor di bidang hukum lulusan Eropa. Masdoelhak juga menjadi adviseur der regering (penasehat pemerintah), penasehat pimpinan republik (Soekarno dan Hatta). Masdoelhak adalah satu-satunya sarjana bergelar doktor di lingkaran satu pemerintahan Republik Indonesia. Inilah alasan mengapa petinggi Belanda (van Moek dan Spoor)  menaruh nama Masdoelhak pada baris pertama dalam list orang yang paling dicari sesegera mungkin (wanted): dead or alive.

De waarheid, 25-02-1949 melaporkan duduk perkara yang mengerikan itu dari ruang pengadilan. Kejadian ini bermula ketika Belanda mulai menyerang Yogya pukul lima pagi, 19 Januari 1948, tentara Belanda bergerak dan intelijen bekerja. Akhirnya pasukan Belanda menemukan dimana Masdoelhak. Lalu tentara menciduk Masdoelhak di rumahnya di Kaliurang dan membawanya ke Pakem di sebuah ladang jagung. Masdoelhak di rantai dengan penjagaan ketat dengan todongan senjata. Selama menunggu, Masdoelhak hanya bisa berdoa dan makan apa adanya dari jagung mentah.Akhirnya setelah beberapa waktu, beberapa tahanan berhasil dikumpulkan, total berjumlah enam orang. Lalu keenam orang ini dilepas di tengah ladang lalu diburu, dor..dor..dor. Masdoelhak tewas ditempat. Seorang diantara mereka (Mr. Santoso, Sekjen Kemendagri) terluka sempat berhasil melarikan diri, tetapi ketika di dalam mobil dalam perjalanan ke Yogya dapat dicegat tentara lalu disuruh berjongkok di tepi jalan lalu ditembak dan tewas ditempat. Di pengadilan, menurut De waarheid jaksa penuntut umum menganggap pembunuhan ini sebagai ‘pembunuhan pengecut’.

Koran ‘De waarheid’ (waarheid=truth=‘kebenaran’) melihat kasus ini selama ini sengaja ditutup-tutupi. Awalnya resolusi Dewan Keamanan hanya menuntut Belanda bahwa semua tahanan politik harus dibebaskan, malahan membunuh dengan cara keji begini. Koran ini memberi judul beritanya sebagai metode teror fasis (Fascistische terreur-methoden). Desas-desus yang sebelumnya diterima Dewan Keamaman PBB yang membuat mereka marah dan meminta dilakukan penyelidikan secara tuntas akhirnya terungkap di pengadilan. Hasilnya penyelidikan yang diungkapkan oleh koran ‘kebenaran’ ini sebagai: pembunuhan keji para intelektual, pembunuhan secara pengecut dan penggunaan metode fasis.

Respon cepat dari pihak Belanda atas permintaan badan PBB itu karena pada tanggal 1 Maret 1949 komisi PBB akan datang ke Indonesia. Karena itu delegasi Belanda secepat mungkin pula datang ke Batavia untuk melakukan penyelidikan atas kasus kematian Masdoelhak. Pihak Belanda coba menutup-nutupi kasus ini dan bocoran sidang pengadilan itu dapat diketahui wartawan sebagaimana dilaporkan De waarheid, 25-02-1949 tersebut. Dalam berita itu, wartawannya bertanya: Seberapa lama warga Belanda akan mentolerir cara-cara serupa ini? 

Anehnya, dalam buku-buku yang diterbitkan kemudian, kejadian 'pembunuhan keji' ini sengaja atau tidak sengaja dikerdilkan dan kematian Masdoelhak hanya disebutkan hanya sekadar ‘mati ditembak di rumahnya’ [lihat, antara lain dalam buku: ‘Mohamad Roem 70 tahun: pejuang perunding’ (1978) dan buku ‘Southeast Asia: A Testament’ oleh George McT. Kahin (2003)]. Apakah penulis-penulis ini tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya atau hanya mengandalkan sumber (mulut ke mulut) dari pihak Belanda saja? Kita tidak tahu. Good news, bad news, yang jelas koran ‘De waarheid’ memiliki informasi yang berbeda (cover both side).

***
Siapa Masdoelhak? Masdoelhak adalah anak Padang Sidempoean kelahiran Siboga. Nama lengkapnya Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan, cucu dari Soetan Abdoel Azis dari Goenoeng Toea, Mandailing. Ayah Masdoelhak bernama Nazar Samad Nasoetion gelar Mangaradja Hamonangan (lahir di Padang Sidempoean) dan ibunya bernama Namora Siti Aboer br Siregar (lahir di Padang Sidempoean). Masdoelhak, anak keenam dari tujuh bersaudara ini setelah menyelesaikan pendidikan dasar Belanda (ELS) di Siboga berangkat sekolah MULO di Medan dan kemudian dilanjutkan ke AMS di Jawa dan tinggal bersama abangnya Makmoen Al Rasjid (dokter lulusan STOVIA). Pada tahun 1930, Masdoelhak anak seorang pengusaha di Residentie Tapanoeli ini lulus ujian AMS. Dari 55 kandidat lulus 42 orang dan Masdoelhak salah satu dari lima siswa terbaik yang direkomendasikan melanjutkan ke pendidikan tinggi di Negeri Belanda (lihat, Soerabaijasch handelsblad, 19-05-1930).

Masdoelhak berangkat dari Batavia dengan menumpang kapal s.s. Prins der Nederland’ menuju Amsterdam tanggal 4 Oktober 1930  dengan nama pada manifest kapal,  Masdoelhak Hamonangan (lihat De Telegraaf, 01-10-1930). Di Universiteit Leiden, Masdoelhak mengambil bidang hukum. Selama kuliah Masdoelhak yang terbilang cerdas ini juga aktif dalam organisasi ekstrakurikulir. Masdoelhak dan kawan-kawan di Universitas Leiden menggagas didirikannya himpunan mahasiswa untuk mempromosikan Indonesia dengan nama  Studentenvereniging ter bevordering van de Indonesische Kunst (SVIK). Menurut Pasal 2 Anggaran Dasar organisasi ini dinyatakan bertujuan untuk mempromosikan seni rupa Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran akan seni rupa Indonesia dan ekspresi lain dari budaya Indonesia. Organisasi mahasiswa yang diresmikan tanggal 1 November 1935 ini sebagai ketua disebut Masdoelhak Hamonangan gelar Soetan Oloan (lihat De tribune : soc. dem. Weekblad, 23-11-1935).

Setelah lulus tingkat sarjana di Universiteit Leiden, Masdoelhak tidak pulang melainkan melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral di Utrecht (Rijksuniversiteit). Pada tahun 1943 Masdoelhak lulus ujian doctoral sebagaimana dilaporkan  Friesche courant, 27-03-1943. Masdoelhak berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak).

dr. Daliloeddin Loebis adalah sepupu dr. Parlindoengan Loebis
Setelah berhasil menjadi doktor hukum, Masdoelhak pulang kampung. Pada saat pulang ke tanah air, Indonesia di bawah pendudukan Jepang, Namun tidak lama kemudian, Jepang menyerah kepada sekutu lalu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Pada tanggal 22 Agustus ditunjuk Mr. M. Hasan sebagai gubernur Sumatra, mewakili pemerintah pusat berkedudukan di Medan (lihat foto: Masdoelhak dan Hasan berdiri berdampingan). Lalu kemudian Sumatra dibagi tiga wilayah: Sumatra Utara, Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Yang ditunjuk untuk gubernur muda (residen) di Sumatra Utara adalah Mr. S.M. Amin Nasoetion (lahir di Aceh, sekolah rakyat di Manambin, Mandailing, ELS di Siboga dan sekolah hukum di Batavia menyusul dua abangnya di STOVIA, Amir dan Munir). Untuk Walikota Medan (pertama) ditunjuk Mr. Loeat Siregar. Untuk (wakil) Residen Tapanoeli diangkat Abdoel Hakim Harahap (kemudian menjadi Gubernur Sumatra Utara yang ketiga). 

Sedangkan untuk Sumatra Tengah yang beribukota di Bukittinggi ditunjuk Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion. Dalam perkembangannya, Belanda melancarkan agresi dan kemudian pemerintahan sipil Indonesia diganti dengan pemerintahan semi militer (Presiden Ir. Soekarno, Wakil presiden Drs. M. Hatta dan Menteri pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap). Untuk gubernur Sumatra Utara ditunjuk Mayor Jenderal dr. Gindo Siregar, sedangkan Masdoelhak dipanggil ke Yogyakarta untuk membantu pemerintahan pusat (menjadi penasehat). Di Sumatra Selatan sendiri wilayah dibagi empat keresidenan, dua diantaranya yakni Palembang dan Lampung (keresidenan Palembang menjadi negara boneka Belanda, keresidenan Lampung tetap independen bagian republik). Untuk keresidenan Lampung, yang diangkat masyarakat menjadi residen adalah Mr. Gele Harun Nasoetion.
Sebagai awal pembentukan pemerintahan, peran ahli hukum saat itu begitu penting. Untuk sekadar diketahui, Amir, Masdoelhak, Amin dan Gele adalah ahli-ahli hukum cemerlang yang berasal dari Mandheling en Ankola dan telah memberi kontribusi yang sangat berarti dalam permulaan republik ini. Amir diakui sendiri oleh Hatta dalam biografinya sebagai orang yang cerdas. Masdoelhak cukup lama menjadi adviser M. Hatta dan selalu disertakan terutama dalam kunjungan rahasia ke luar negeri untuk menemui para pimpinan negara sahabat yang mendukung kedaulatan RI. Masdoelhak adalah doktor hukum pribumi kedua (Utrecht, 1943), sedang doktor hukum pertama adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi, anak Batangtoru, Padang Sidempoean (Leiden, 1925). Gele Harun lulus sarjana hukum di Leiden (1938).
Pengurus PPP 1938 (kirka): Sidartawan, Loebis (ketua), M. Ilderam
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) 1938 adalah anak Batangtoru, Padang Sidempoean, Parlindoengan Loebis. PPI yang waktu bernama Indisch Vereeniging digagas oleh Radjiun Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada, anak Batunadua, Padang Sidempoean dan diresmikan tahun 1908 dengan presiden pertama Soetan Casajangan (pribumi kedua yang kuliah di Belanda). Setelah lulus dokter 1940, Parlindoengan Loebis (satu-satunya orang Indonesia) ditangkap Jerman dan dimasukkan ke kamp konsentrasi Jerman karena alasan politik Parlindungan yang menentang fasis. Untuk sekadar diketahui lagi, kakak kandung Gele bernama Ida Loemongga adalah dokter pribumi pertama yang bergelar doktor (Amsterdam, 1932). Satu lagi, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia kelahiran Padang Sidempuan (sepupu Amir Sjarifoeddin) meraih  gelar PhD bidang pendidikan di Rijks Universiteit pada tahun 1933 yang menjadi anggota Volksraads bersama-sama dengan Husni Tamrin (pahlawan Betawi) memperjuangkan pendidikan pribumi di parlemen. Last but not lease: A.F.P. Siregar gelar M.O. Parlindoengan, anak Sipirok satu-satunya mahasiswa pribumi yang kuliah di Jerman (1938) dan mendapat gelar insinyur teknik kimia yang semasa agresi menjadi satu-satunya ahli bom di pihak republik (bergerilya di Jawa Timur). Di Surabaya dan Jawa Timur M.O. Parlindungan bahu membahu dengan dr. Radjamin Nasoetion (lulusan STOVIA), anak Barbaran Djoeloe, Mandailing (Walikota Pertama Surabaija--dari era Belanda, Jepang hingga Republik). Setelah pengakuan kedaulatan Kolonel M.O. Parlindungan diangkat menjadi direktur pertama (peninggalan Belanda) Pabrik Sendjata dan Mesioe (PSM) di Bandung (cikal bakal PINDAD).
***
Dalam buku 'Gele Harun: Residen Perang' (2014) yang ditulis Mulkarnaen Gele Harun Nasution, Kaidir Asmuni, Umar Bakti dan Nihara Dalimonthe, disebutkan bahwa Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan pada tahun 2008 mendapat gelar Pahlawan Nasional. Dr. Mr. Masdoelhak adalah sepupu Letkol Mr. Gele Harun dan satu lagi sepupu mereka yakni Mr. Egon Hakim berjuang di Sumatera Barat yang ketiganya adalah cucu dari Soetan Abdoel Azis Nasoetion di Padang Sidempoean. Kapan Gele Harun, Residen Pertama Lampung  menjadi pahlawan nasional? Mari kita tunggu.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan berbagai sumber tempo doeloe

2 komentar:

Dahlan Tondinta mengatakan...

salam pak harahap. saya bermohon izin untuk menerbitkan artikel ini di Mandailing Online, dengan tetap mencantumkan Pak Harahap dan Tapanauli Selatan dalam Angka sebagai sumber. atas keizinan Pak Akhir Matua Harahap saya mengucapkan terimakasi

Akhir Matua Harahap mengatakan...

Silahkan Pak Dahlan. Semoga menambah pengetahuan kita bersama. Horas be