01/02/15

Irwan Siregar: Sutradara Terkenal, Anak Padang Sidempuan Mahasiswa FH-USU Pindah ke IKJ Jakarta



Goenoeng Loeboek Raja (Junghuhn, 1840)
Irwan Siregar, film favoritnya sendiri adalah ‘Rumah Pondok Indah’. Yang ingin diungkapkan di sini bukan cerita dalam film itu (silahkan ditonton sendiri, sangat menarik), melainkan makna nama film tersebut. Sebab nama film layar lebar yang disutradarai Irwan Siregar ini, sesungguhnya mencerminkan jalan hidup sutradanya. Kata ‘pondok’ kerap dimaknai sebagai makna pedesaan. Isinya berlimpah, tetapi tidak menarik minat anak muda. Jika ditambah kata ‘rumah’ menjadi ‘rumah pondok’ malah menjadi runyam, kakinya masih beraroma pedesaan tetapi kepalanya sudah memasuki wilayah aroma perkampungan di perkotaan. Baru setelah ditambahkan kata ‘indah’ menjadi ‘rumah pondok indah’ maknanya melompat jauh ke depan—suatu kehidupan alami yang indah di tengah dunia kosmopolitan. Sepintas itulah tipikal hunian ideal pada awal tahun 1980-an tetapi itu pula yang menjadi kiasan perjalanan hidup Irwan Siregar, sutradara film/sinetron terkenal.  

Irwan Siregar, nama lengkapnya Irwan Effendi Siregar adalah sutradara papan atas asal Padang Sidempoean. Kampung halamannya, Simasom di lereng Gunung Lubuk Raya. Suatu gunung yang paling disukai oleh Franz Wilhelm Junghuhn (dokter Jerman yang ahli geologi dan ahli botani). Gunung ini tidak hanya indah juga sangat berisi dengan flora dan fauna plus mineral khususnya emas. Karena itu, Junghuhn mengabadikan gunung ini dengan kuasnya di atas kanvas oleh tangannya sendiri pada tahun 1840. Di lereng gunung yang menghadap ke matahari terbit ini, pada pagi hari yang sejuk, bunga-bunga mekar dipohonnya menyambut semakin hangatnya mentari. Doeloe, Irwan Siregar, sambil ‘ngopi’ dengan kopi asli Ankola yang tumbuh subur di lerang gunung ini, dengan nikmat pula memandang keindahan lembah di mana Kota Padang Sidempuan berada.

Kampong Simasom tempo doeloe sangatlah terkenal (sebelum ada Kota Padang Sidempoean). Kampung ini merupakan lokasi interchange jalur perjalanan jarak jauh (long distance)menuju Siboga di pantai (barat), menuju Sipirok di pegunungan (utara), menuju padang prairie di Padang Bolak (timur) dan menuju Mandailing (selatan). Charles Miller, ahli botani Inggris, dalam suatu ekspedisi cassia (kulit manis) ke daerah Padang Bolak.pada tahun 1772 meminta Radja untuk bermalam di kampong ini. Miller diterima dengan sangat hormat dan disambut dengan tujuh puluh tembakan ke udara dari tujuh puluh senapan buatan sendiri (penduduk di Tanah Batak sudah mengenal mesia sejak doeloe yang diolah dari bahan dasar belerang). Ketika dia disuguhkan kari (gulai) yang dicampur dengan bumbu rempah tertentu Miller kaget. Rasanya sangat menggugah lidah. Miller bertanya, apa nama rempahnya? Radja menjawab: andaliman (sinyarnyar). Ahli botani Miller yang memperkenalkan ke dunia botani apa itu andaliman sebagai rempah yang belum pernah tercatat (rempah tradisi dari Tanah Batak). Sekadar tahu saja: Charles Miller adalah orang Eropa pertama yang memasuki pedalaman Tanah Batak (lihat William Marsden, The History of Sumatra, 1811).

Sutradara, Irwan Siregar
Meski kampong halamannya sungguh sangat indah tetapi Irwan sendiri  lahir di perkotaan tahun 1957. Irwan Siregar ‘ogah’ masuk Taman Kanak-Kanak dan langsung dimasukkan ayahnya, Banua Siregar ke pendidikan yang lebih tinggi, sekolah dasar SD N 16 Padang Sidempoen (tetangga SMA N 1 Padang Sidempoean) dan lulus tahun 1970. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama di selatan kota, Irwan Siregar melanjutkan sekolah menengah atas ke utara kota, STM Negeri Padang Sidempuan.

Seperti halnya anak-anak Padang Sidempuan sejak tempo doeloe, jika lulus sekolah menengah akan muncul pertanyaan: ‘mau sekolah kemana, kau?’. Ini juga tidak berbeda dengan era Ashadi Siregar, alumni SMA Negeri Padang Sidempoean yang hijrah ke Djogja, lulus Jurusan Publisistik, Fakultas Sospol UGM, 1970. Ashadi Siregar terkenal dengan novelnya ‘Cintaku di Kampus Biru’ yang diangkat ke layar lebar.

Pada era Irwan Siregar, pilihan sangat terbatas:  Jakarta, Bogor, Bandung, Djogja, dan Medan. Irwan Siregar memilih dan melanjutkan pendidikan tinggi ke Medan. Irwan sedikit terpengaruh ajakan kawan-kawannya, padahal dalam hati sanubari ingin ke sekolah teknik malah berbelok ke sekolah hukum. Di ibukota Sumatra Utara ini, Irwan Siregar diterima di Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara (FH-USU) 1979. Meski kala itu pavorit anak-anak muda cuma hanya ada dua: Fakultas Kedokteran atau Fakultas Hukum USU, namun itu tidak membuat Irwan Siregar bangga. Apa pasal? Di tengah jalan, Irwan Siregar lambat laun merasa tidak sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Bakat seni yang memang sudah ada sejak masa kanak-kanak, lantas Irwan Siregar mengubah haluan agar berada kembali pada jalur hidup yang sesungguhnya: sekolah seni.

Irwan Siregar meninggalkan kampus hukum, kampus yang terbilang bergengsi di Medan. Anak Batak ini pamit ke(pada) kampung halaman dan hijrah ke Batavia dengan menumpang kapal laut Tampomas dari Belawan ke Tanjung Priok. Saat itu, IKJ menjadi salah satu kampus pavorit para anak-anak muda di Jakarta. Irwan Siregar lalu membulatkan tekad untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta dan diterima tahun 1982. Di kampus ini Irwan Siregar ketemu dosen top di bidang penyutradaraan: Wahyu Sihombing (sutradara serial ‘Losmen’). Irwan Siregar semakin bersemangat untuk kuliah, dan mantap memilih bidang penyutradaraan. Irwan tidak ingin ‘salah pilih’ lagi untuk kali ketiga. Irwan Siregar baru kini merasa benar-benar nyaman sekolah dan menikmatinya dan dengan perasaan sangat memuaskan, Irwan Siregar lulus tahun 1987. Hasilnya? Mari kita lacak!

***
'Rumah Pondok Indah' (internet)
Tidak hanya ‘Rumah Pondok Indah’ (2006) yang menjadi riwayat kesuksesan Irwan Siregar di dunia perfilman. Irwan Siregar juga sukses dalam menyutradarai ‘Rumah Bekas Kuburan’ (2011). Di film ini, Irwan berhasil mengubah trademark Julia Perez (Jupe) dari perasaan di dada menjadi pikiran di otak. Kini Irwan Siregar tengah menunggu tanggal tayang di bioskop kesayangan anda film baru yang disutradarinya 'Miss Call' (2015) dan Rumah Kayu (2015). Film hasil garapan Irwan Siregar lainnya, antara lain:

Tapi Bukan Aku” (2008) termasuk pemerannya Eel Ritonga, drummer terkenal asal Padang Sidempuan.
Main Dukun’ (2014) pemeran utama Jupe.
Aku Cinta Kamu Titik’ (2008)
Dendam Pengemis Buta’ (2013).
Inang’ (2009)

Laskar Semut Merah’ (2014): Film drama musikal anak yang mengisahkan persahabatan dan petualangan lima anak perempuan yang menamakan kelompok mereka ‘semut merah’. Di tengah kegembiraan mengikuti kegiatan pramuka di hutan, mereka tidak menyadari adanya bahaya yang sedang mengancam.

Irwan Siregar juga sukses di ‘layar kaca’ (FTV) dengan sinetron ‘Lupus’ yang tayang tahun 1995-1996 di Indosiar (60 serial). Serial lainnya adalah 'Gerhana' yang tayang di RCTI (1999-2003) sebanyak 245 seri. 

Irwan Siregar, sutradara senior  ini juga menyediakan waktunya untuk mendidik anak-anak muda untuk menjadi actor yang baik dengan pedidikan dan pelatihan melalui “Sekolah Akting Seni Peran’ (Acting & Film School).

***
Keindahan kampong halamannya membentuk bakat alamiah sutradara Irwan Siregar. Meski dia hidup (lahir dan dibesarkan) di perkotaan tidak menarik minatnya menjadi ahli hukum di tengah perkotaan yang kicau balau, Irwan Siregar tetap mengikuti irama genetiknya yang selalu dekat dengan keindahan: seni film dan seni musik. Irwan Siregar tidak hanya sukses menjadi sutradara untuk membuat film-film yang indah tetapi juga piawai memainkan musik dengan mengiringi suaranya yang tentu saja merdu. Anda bisa dapatkan CDnya di toko-toko musik, lagunya antara lain: Ile Baya Onang, Modom ma ho Inang, Natinggal Menek dan Tangis Tubagasan yang dinyanyikan solo oleh Irwan Siregar.

Bachtiar Siagian dan Gordon Tobing (1856)
Itulah semua keindahan yang ada di dalam dirinya yang menjadi cara dia berpikir yang dibawa dari kampong halamannya: Simasom, Goenoeng Loeboek Raja, Padang Sidempoean, 1772. Visual dan musik menyatu dalam satu badan. Irwan Siregar adalah sutradara yang memiliki kemampuan ganda: penata peran (sutradara) dan penata musik (komponis). Ini seakan mengingatkan memori sejarah perfilman Indonesia. Di masa lalu ada sutradara terkenal namanya Bachtiar Siagian (seangkatan dengan Usmar Ismail) dan komponis serbabisa Gordon Tobing. Dalam film 'Melati Sendja' produksi tahun 1956, Bachtiar Siagian sebagai sutradara dan Gordon Tobing sebagai penata musik. Salah satu pemeran dalam film ini adalah Bing Slamet.

Last but not least: Sebuah film pengabdian Irwan Siregar terhadap kampong halaman adalah berupa film pendek berjudul 'Pasukan Semut' (2009). Lantas, apa yang masih obsesi dengan abang kita ini? Irwan Siregar ‘ingin mengabdikan tanah leluhurnya ke dalam sebuah film’. Kita tunggu. Perlu kita support agar bisa terealisasi. Oleh karena sebuah obsesi, tentunya haruslah film layar lebar berskala besar dan bersifat kolosal dan internasional. Tema yang terkait Tapanuli (bagian) Selatan tentunya banyak, tetapi yang memiliki nilai historis dan inspirasi bagi generasi muda di negeri ini misalnya dapat mengangkat tema besar seperti 'kopi dan sikola'. Kita tunggu saja, siapa tahu abang kita ini sudah punya pilihan yang telah lama diidam-idamkan.
***


Anita Hara Harahap

PADANG SIDEMPUAN adalah kota pendidikan dan budaya di Mandheling en Ankola (kini Tapanuli Bagian Selatan) sejak era Hindia Belanda hingga sekarang. Generasi sekarang sulit memahami mengapa pemerintah menetapkan kota ini sebagai kota pendidikan dan kota budaya di Sumatra ketika sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempoean dibuka pada tahun 1879. Namun dari sejarahnya dapat dipahami sebagai berikut. Ini berawal ketika Sati Nasoetion alias Willem Iskander pulang kampong di Mandailing setelah selesai studi dari Negeri Belanda 1861. Willem Iskander, orang pribumi pertama yang sekolah ke luar negeri, lantas membuka sekolah guru di Tanobato 1862. Di bawah asuhan langsung Willem Iskander, sekolah guru ini menghasilkan guru-guru yang berkualitas dan kemudian diakuisisi pemerintah sebagai sekolah guru yang ketiga di Hindia Belanda.

Imelda Lubis
Willem Iskander sebagai guru tunggal, juga giat menulis belasan buku-buku pelajaran yang sebagian besar diterbitkan di Batavia sejak 1862. Bukunya yang terkenal ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe basaon’ yang diterbitkan Landsdrukkerij (Percetakan Negara, Batavia 1872. Inilah buku sastra pertama yang berisi prosa dan puisi yang ditulis seorang pribumi di Hindia Belanda. Guru-guru alumni Tanobato yang telah menyebar di Mandheling en Ankola juga aktif menulis buku seperti halnya guru mereka Willem Iskander. Saat pemerintah di Batavia meminta Willem Iskander 1875 untuk membimbing guru-guru di Hindia Belanda studi ke negeri Belanda sekolah guru Tanobato ditutup dan akan dibuka sekolah guru yang lebih besar di Padang Sidempoean tahun 1879. Willem Iskander direncanakan menjadi direktur sekolah jika telah berhasil mendapat akte kepala sekolah di Negeri Belanda. Namun sayang Willem Iskander dan juga guru-guru yang dibawanya tidak kembali, semuanya meninggal karena alasan yang berbeda-beda.

Prisia Nasution
Sementara itu tahun 1876 seorang pegawai pemerintah Belanda bernama Charles Adrian van Ophuijsen ditempatkan di Panjaboengan sebagai panitera. Dokter yang beberapa bulan tiba dari Belanda, sangat kaget melihat begitu banyak buku-buku beredar yang dikarang oleh guru-guru local. Tidak hanya siswa-siswa sekolah, penduduknya juga aktif membaca buku. Charles Adrian van Ophuijsen adalah pemuda yang tidak tahu apa-apa ketika pertama kali datang ke Afdeeling Mandheling en Ankola. Dalam perkembangannya Charles tidak terlalu senang dengan pekerjaannya, karena kenyataannya Charles justru lebih bersemangat mempelajari Bahasa Batak dan Bahasa Melayu ketimbang menjiwai tugas-tugas utamanya. Mungkin Charles melihat tradisi menulis yang sudah berkembang saat itu di kalangan pribumi di Mandheling en Ankola, menganggap dirinya tidak ada apa-apanya dalam hidupnya jika hanya sekadar pegawai rendah di pemerintahan sementara riwayat pendidikan Charles sendiri terbilang cemerlang di Negeri Belanda. Apakah situasi yang dilihatnya dan kondisi yang dialaminya  itu yang menyebabkan Charles mengubah haluan dari dunia birokrasi ke dunia ilmu pengetahuan? Boleh jadi.

Permata Sari Harahap
Di sela-sela berdinas, Charles banyak mempelajari cerita rakyat dan menuliskannya dalam bahasa Batak atau bahasa Melayu. Charles adalah orang Belanda kedua yang fasih berbahasa Batak (setelah N. van der Tuuk). Besar kemungkinan bakat terpendam Charles timbul ke permukaan di lanskap ini, lebih-lebih dia melihat tradisi menulis ini sudah umum di kalangan pribumi di Mandheling en Ankola  yang merupakan anak-anak asuh Willem Iskander di Kweekschool Tanobato. Rupanya perilaku dan kemampuan belajar otodidak Charles ini diketahui oleh Menteri Buijs yang tengah berkunjung ke Panjaboengan lalu menawarkan apakah Charles dengan bakat dan kemampuannya itu bersedia untuk menjadi guru di sekolah Kweekschool. Sekolah yang dimaksud Pak Menteri membutuhkan guru Eropa yang akrab dengan satu atau lebih bahasa asli dan etnologi di Nederlandsche Indie. Profesi ini sangat jarang dan Charles tidak keberatan, malah sangat bersemangat. Jalan hidup Charles yang sebenarnya kini muncul ke permukaan di daerah terpencil di Mandheling en Ankola. Meski Charles sudah fasih berbahasa Batak dan berbahasa Melayu, namun untuk menjadi guru harus melalui pelatihan. Charles mengikuti ujian persamaan guru dan berhasil mendapat diploma guru di Padang.


Meisya Siregar
Pada tahun 1882 Charles Adrian van Ophuijsen mulai berdinas di Kweekschool Padang Sidempoean. Selama menjadi guru di sekolah ini Charles banyak menulis artikel dan buku. Lima tahun terakhir (1885-1890) sebelum diangkat menjadi Inspektur Pendidikan Charles menjadi direktur sekolah. Dalam perjalanannya Charles diangkat sebagai guru besar di Universiteit Leiden (1905). Seakan tidak mau kalah dengan pendahulunya, van der Tuuk yang pernah menyusun kamus bahasa Batak-Belanda dan Tatabahas Batak (1857), Charles pun menghasilkan Kitab dan Tatabahasa Melaju yang dikenal ejaan Ophuijsen yang kelak menjadi cikal Tatabahasa Indonesia. Setali tiga uang, Willem Iskander dengan murid-muridnya, van Ophuijsen pun menghasilkan guru-guru dan pengarang yang hebat.

Inez Tagor Harahap
Dja Endar Moeda, anak koeria Losoeng Batoe, alumni Kweekschool Padang Sidempoean 1884 memulai karir sebagai guru di Batahan dan temat-tempat lainnya di pantai barat Sumatra. Sambil mengajar di kampong-kampung terpencil Dja Endar Moeda juga menulis buku pelajaran dan mengarang roman dan novel. Setelah pension dini dari giri, Dja Endar Moeda pindah ke Padang dan menerbitkan romannya yang pertama berjudul ‘Hikajat tjinta kasih sajang’ (Penerbit Otto Bäumer, 1895). Besar kemungkinan roman ini, merupakan roman pertama yang ditulis seorang pribumi. Ketika Dja Endar Moeda menawarkan roman berjudul ‘Hikajat dendam ta' soedah: kalau soedah merewan hati’ tahun 1896 ke Penerbit Winkeltmaatschappij yang juga menerbitkan surat kabar Pertja Barat (investasi Belanda), malah tidak hanya novelnya yang diterima, tetapi juga direkrut menjadi editor koran tersebut tahun 1897. Dja Endar Moeda adalah editor pertama surat kabar di Hindia Belanda. Dengan uang pension sebagai guru, royalty buku-bukunya dan gaji tinggi di Koran Pertja Barat membuat Dja Endar Moeda menjadi orang kaya diantara pribumi. Atas kekayaannya kemudian Dja Endar Moeda mengakuisisi percetatakan dan Koran Pertja Barat. Dja Endar Moeda setelah sukses di rantau, teringat kampung halaman di Padang Sidempuan sebagaimana dilaporkan dalam koran.

Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 01-05-1900: 'pada bulan Maret aktor terkenal koran Pertja Barat bersama anak dan istri telah datang ke sini (Padang Sidempuan). Pada tanggal 24 Maret, Dja Endar Moeda telah mengundang teman-temannya untuk sebuah reuni di Cafe Biljart milik Marczak. Banyak yang hadir, selain rekan-rekannya juga para abtenaar dan pejabat pemerintah. Di pintu Cafe terpampang ucapan sukacita dalam dua bahasa: "Selamat Dja Endar Moeda anak istri' / 'Leve Dja Endar Moeda en familie". Tentu saja hadir koeriahoofd dari Batoe-na-Doewa, Losoeng Batoe dan Si-Mapil-Apil dan Hoofd-Djaksa van Sibolga. Acara dibuka, Dja Endar Moeda memberi kata sambutan, kemudian kembang api dinyalakan, lalu diikuti musik akordion, biola dan tamborin. Lalu kemudian dilanjutkan dengan hidangan. Acara yang dimulai pukul 8.30 malam berakhir tidak lama setelah pukul 9.30. Para tamu pulang dengan puas. Lantas pada tanggal 31 Maret, koeriahoofd Batoe-naDoewa, Pertoewan Soripada mengundang Dja Endar Moeda dengan horja dengan margondang dengan Gondang Batak. Banyak pejabat pemerintah yang diundang. Di sela-sela acara itu, Dja Endar Moeda diajak oleh kepala koera berburu rusa ke arah Sipirok. Hari berikutnya April, Dja Endar Moeda dilakukan cara pesta rakyat oleh kepala koeria dengan 'manyambol horbo' untuk menyambut kedatangan Dja Endar Moeda di Padang Sidempuan dengan karangan bunga, acara manortor, lalu pukul satu siang dihidangkan makanan dan minuman yang melimpah. Terakhir pada tanggal 7 April sebelum pulang, Dja Endar Moeda ditraktir oleh Mr. Marczak di Cafe miliknya'.

Bisnis Dja Endar Moeda Harahap terus berkibar, korannya juga bertambah satu per satu di Padang, Sibolga, Padang Sidempoean, Kota Radja dan Medan. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda mantu. ‘Boru Panggoaran’ Alimatoe Sadiah boru Harahap dilamar seorang dokter alumni Dokter Djawa School yang ditempatkan di Padang bernama Haroen Al Rasjid. Dokter muda ini adalah anak dari Soetan Abdul Azis, yang menjabat sebagai asisten Demang Kebajoran, Batavia. Soetan Abdul Azis Nasoetion anak Panjaboengan, dulunya adalah alumni sekolah guru (kweekschool) Tanobato, anak didik Willem Iskander. Dua dari anak Haroen Al Rasjid Nasoetion / Alimatoe Sadiah Harahap orang yang berhasil, yakni: Dr. Ida Loemongga Nasoetion Ph.D, dokter yang menjadi doktor pertama pribumi alumni Universiteit Leiden (1932); Mr. Gele Haroen, sarjana hukum alumni Universitet Leiden (1936). Letkol Mr. Gele Haroen kemudian menjadi Residen pertama Lampoeng.

Adik kelas Dja Endar Moeda di Kweekschool Padang Sidempoean bernama Soetan Casajangan Soripada, setelah lulus menjadi guru 1887 memulai karir sebagai guru di Simapil-apil di lereng Goenoeng Loeboek Raja. Anak dan cucu dari koeria Batoenadoea ini, pension dini dan berangkat studi ke negeri Belanda tahun 1905. Soetan Casajangan adalah mahasiswa pribumi kedua yang sekolah ke luar negeri. Soetan Casajangan pernah menjadi asisten Profesor Charles Adrian van Ophuijsen (mantan gurunya di Kweekschool Padang Sidempoean) untuk mata kuliah Sastra dan Bahasa Melayu di Universiteit Leiden. Selama kuliah, Soetan Casajangan  pernah menjadi editor beberapa majalah di negeri Belanda. Soetan Casajangan rajin menulis artikel dan buku. Salah satu bukunya berjudul ‘Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander’ (Negara bagian di Hindia Belanda dilihat oleh penduduk asli). Diterbitkan di Baarn 1913 oleh penerbit Hollandia-Drukkerij. Buku ini merupakan buku pertama pribumi yang diterbitkan di Negeri Belanda (dalam bahasa Belanda). Setelah lulus dan mendapat izajah kepala sekolah, Soetan Casajangan pulang kampong menjadi kepala sekolah di Normaal School di Meester Cornelis (Jatinegara), Batavia. Soetan Casajangan adalah pendiri dan presiden pertama (1908) Perhimpunan Hindia Belanda (Indische Vereeniging) yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) pimpinan M. Hatta (1922). Pada tahun 1932 PPI dipimpin oleh Parlindoengan Loebis (anak Batangtoru, alumni HIS Padang Sidempoenan). Dr. Parlindoengan Loebis adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah ditangkap tentara Jerman dan dimasukkan ke dalam konsentrasi NAZI.

Alumni lainnya Kweekschool Padang Sidempoean adalah Soetan Martoewa Radja. Anak Sipirok ini adalah lulusan terakhir Kweekschool Padang Sidempoean 1893. Memulai karir sebagai guru di Pargaroetan, kemudian Sipirok, lalu Taroetong dan terakhir sebagai kepala sekolah Normaal School Pematang Siantar. Selama menjadi guru, Soetan Martoewa Radja banyak menulis buku pelajaran dan beberapa novel. Novel terkenalnya berjudul ‘Doea Sedjoli’. Setelah pension, Soetan Martoewa Radja menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) selama tiga periode. Di dewan kota, hanya tiga pribumi, dua lagi Madong Loebis dan Dr. Mohamad Hamzah. Madong Lubis adalah pahlawan Medan dan Mohammad Hamzah, cucu koeria Batoenadoea adalah teman dekat dan sama-sama lulus dengan Haroen Al Rasjid dari Dokter Djawa School. Salah satu anak Soetan Martoewa Radja adalah M.O. Parlindoengan, mahasiswa BTL yang studi ke Jerman 1937. M.O. Parlindoengan adalah pribumi pertama yang studi di Jerman. Kolonel M.O. Parlindoengan Siregar adalah direktur pertama Pabriek Sendjata dan Mesioe (PSM) yang kemudian menjadi PINDAD Bandung. Setelah pension M.O. Parlindungan menulis buku yang terkenal tetapi kontroversi berjudul Pongkinangolngolan Sinambela Gelar Tuanku Rao: ‘Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833’.Buku ini diterbitkan Penerbit Tandjung Pengharapan, 1964.

Mangaradja Salamboewe adalah siswa Kweekschool Padang Sidempoean, anak seorang dokter Djawa (alumni Dokter Djawa School) yang pertama yang berasal dari luar Djawa, Si Asta. Salamboewe tidak sempat menyelesaikan studinya di Kweekschool Padang Sidempoean karena ditutup 1893. Dengan bekal pelajaran hanya sampai kelas dua, dia melamar sebagai penulis di Kantor Residen Tapanoeli di Sibolga yang kemudian diangkat sebagai adjunct djaksa dan ditempatkan di Natal. Setelah beberapa lama menjadi jaksa dia desersi dan dipecat tetapi ia malah senang karena dapat bebas mengadvokasi mayarakat yang kerap mendapat ketidakadilan. Penulis yang memiliki bakat menulis dan kemahiran beracara (pengaracara) ini direkrut surat kabar Pertja Timur di Medan untuk bertindak sebagai editor. Mangaradja Salamboewe sangat disegani oleh wartawan-wartawan Belanda karena dia tidak pilih kasih untuk menangani delik pers yang menimpa wartawan apakah pribumi atau bangsa Eropa. Maharadja Salamboewe datang dan berada di tempat yang tepat. Sebagai editor koran berbahasa Melayu yang dimiliki orang-orang Belanda tidak ada kurangnya. Di dalam suatu editorial De Sumatra post (edisi 29-05-1908), Mangaradja Salamboewe digambarkan sebagai berikut: ‘Di dalam seratoes orang pribumi tidak ada satoe yang begitoe brani’. Setelah Maharadja Salamboewe tiada, pakem koran ini tidak berkurang. Wartawannya ‘hilang satu tumbuh seribu’. Setelah Maharadja Salamboewe, muncul Soetan Parlindoengan dan Parada Harahap. Kedua yang disebut terakhir ini adalah memiliki ‘darah’ delik pers yang kuat dari Tapanuli Selatan di tingkat nasional.

Muhammad Taif Nasoetion. Taif Nasution adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang menjadi guru dan dtempatkan  di Aceh. Taif Nasoetion dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Muhammad Amin Nasoetion (sering disebut S.M. Amin) adalah gubernur pertama dan ketiga Gubernur Sumatra Utara. Setelah dari Aceh, Taif kembali ke Manambin, Mandailing kampong halamannya. S.M. Amin yang kelahiran Aceh memulai sekolah rakyat di Manambin dan diteruskan ke ELS lalu ke Batavia mengambil sekolah hukum untuk mengikuti dua abangnya yang telah studi di STOVIA.

Adem Loebis. Alumni Kweekschool Padang Sidempoean menjadi guru di Aceh dan dikemudian hari dikenal sebagai ayah dari Kolonel Zulkifli Lubis. Adem Loebis tetap menetap di Aceh dan menyekolah Zulkifli mulai dari HIS kemudian MULO di Aceh dan AMS di Yogyakarta. Selama di Yogya Zulkifli masuk militer Jepang dan seterusnya berkarir di militer bidang intelijen hingga pernah menjadi KASAD.

Mangaradja Gading. Karim gelar Mangaradja Gading adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean. Sebagaimana umumnya, lulusan Kweekschool Padang Sidempuan, ada yang menjadi guru dan ada yang menjadi pegawai pemerintah. Mangaradja Gading melakukan ‘kebulatan tekad’ untuk melamar sebagai pegawai pemerintah. Setelah diterima, Mangaradja Gading ditempatkan di kantor residen Tapanoeli di Sibolga. Setelah beberapa tahun Mangaradja Gading ditunjuk untuk menjadi pengawas di Jambi. Dari Sibolga Mangaradja Gading, istri dan seorang anak berangkat ke wilayah baru yang belum mereka kenal, melalui Padang lalu menuju Sarolangun, Jambi. Setelah setahun bertugas di Sarolangun, istri Mangaradja Gading melahirkan anak kedua tanggal 15 Juli 1905 yang diberi nama Abdul Hakim. Di kemudian hari, Abdul Hakim Harahap adalah Gubernur Sumatra Utara.

Mangaradja Hamonangan adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean yang menjadi guru di Sipirok. Mangaradja Hamonangan pension dini dan beralih ke bidang bisnis, seperti perdagangan hasil-hasil bumi dan pengusaha perkebunan. Mangaradja Hamonangan adalah ayah dari Todoeng gelar Soetan Goenoeng Moelia. Todoeng adalah sarjana pendidikan lulusan Negeri Belanda. Setelah mengabdi menjadi guru di tanah air, Toedoeng mendapat beasiswa untuk studi lebih lanjut ke Negeri Belanda. Tahun 1930 Todoeng meraih Ph.D dan kembali ke tanah air. Setelah beberapa tahun, Toedoeng menjadi anggota Volksraad di Batavia. Di akhir masa tuanya, Todoeng membangun bisnis percetakan dan penerbitan yang dikenal sebagai Penerbit Gunung Mulia, Kwitang. Toedoeng adalah sepupu dari Amir Sjarifoeddin, satu diantara tiga the founding father republic Indonesia (Soekarno, Hatta dan Amir). Amir Sjarifoeddin pernah menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan yang pertama selama agresi militer pertama Belanda. Kakek mereka adalah Sjarif Anwar alias Ephraim gelar Soetan Goenoeng Toea asal Gunung Tua Batang Onang penulis pada Controleur Sipirok. Ayah dari Amir Sjarifoeddin adalah Djamin Soripada, saudara kandung Mangaradja Hamonangan.

Soetan Pangoerabaan Pane.  Setelah pension menjadi guru, Soetan Pangoerabaan Pane menekuni bisnis dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di Batavia, Soetan Pangaoerabaan Pane dimasa tua masih terlibat dengan berbagai organisasi. Seotan Pangoerabaan Pane adalah penggagas didirikannya organisasi para pensiunan yang kemudian menjadi ketuanya. Organisasi ini di era kemerdekaan menjadi cikal bakal. Soetan Pangoerabaan Pane tidak hanya berhasil sebagai guru, pengarang dan pebisnis juga sangat berhasil membesarkan anak-anaknya hingga sukses di bidangnya. Soetan Pangoerabaan Pane adalah ayah dari Sanusi Pane, Amijn Pane dan Lafren Pane. Sanusi Pane dan Armijn Pane adalah sastrawan Poejangga Baroe dan pentolan Balai Poestaka. Lafran Pane adalah akademisi yang menjadi guru besar. Lafran Pane adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta.

***
Setelah Kweekschool Padang Sidempoean ditutup tahun 1893, satu-satunya sekolah yang bermutu adalah Sekolah Eropa Padang Sidempoean, namun anak-anak Padang Sidempoean hanya sedikit yang diterima karena kuota pribumi memang dibatasi. Umumnya mereka alumni sekolah eropa ini langsung ke Dokter Djawa School. Sementara yang tidak mendapat tempat mencari jalannya sendiri. Ada yang ke Kweekschool Fort de Kock dan ada juga yang BTL ke Djawa. Anak-anak muda yang mengikuti sekolah guru ini antara lain::

Merari Siregar, anak Sipirok yang lahir 13 Juli 1896 melanjutkan sekolah ke Kweekschool ‘Oost en West’ di Batavia. Merari Siregar adalah sastrawan terkenal dengan novel ‘Azab dan Sengsara’, suatu roman yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Poestaka, Batavia (1920). Karya lainnya adalah buku saduran berjudul ‘Si Jamin dan si Johan’ (Balai Poestaka, 1918), ‘Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi’ (Balai Poestaka, 1924), ‘Cinta dan Hawa Nafsu’, dan ‘Binasa Karena Gadis Priangan (Balai Poestaka, 1931).

Muhammad Kasim, Pionir cerpen Indonesia, penulis novel dan cerpen zaman Balai Pustaka. Lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 1886. Ia semula mempunyai pekerjaan tetap sebagai guru sekolah dasar. Berpendidikan sekolah guru, menjadi guru sekolah rakyat hingga 1935. Tahun 1922, mulai dikenal sebagai penulis melalui novelnya yang pertama terbitan Balai Pustaka, yakni Moeda Teroena. Pada tahun 1924 ia memenangkan sayembara menulis buku anak-anak. Karyanya kemudian diterbitkan dengan judul Pemandangan dalam Doenia Kanak-kanak (Si Samin). Muhammad Kasim juga dikenai sebagai penulis cerita pendek yang kemudian diterbitkan sebagai buku Teman Doedoek (1936). Sebagai awal permulaan tradisi pengumpulan cerpen sastra Indonesia Muhammad Kasim bersama Suman Hs. (Suman Hasibuan) termasuk pelopor penulisan cerita pendek dalam jajaran sastra Indonesia moderen. Kumpulan cerpen Teman Doedoek karya Muhammad Kasim dianggap sebagai kumpulan cerita pendek pertama dalam sastra Indonesia moderen.

Suman Hs (Suman Hasibuan), Pionir cerpen mini Indonesia lahir di Bengkalis, Riau 4 April 1904. Anak seorang guru alumni Kweekschool Padang Sidempoean. Beliau meninggal 8 Mei 1999 di Pekanbaru pada umur 95 tahun. Ia digolongkan sebagai sastrawan dari Angkatan Balai Pustaka. Terkenal gaya bahasanya yang lincah dan ringan. Cerita-ceritanya mirip detektif diantaranya roman Kasih Tak Terlerai (1929), Percobaan Setia (1931) dan Mencahari Pencuri Anak Perawan (1932). Diluar Balai Pustaka, Suman Hs menerbitkan sebuah roman berjudul Tebusan Darah (1939).

Bahrum Rangkuti, sastrawan Berpangkat Kolonel yang Menjadi Ustadz. Bahrum Rangkuti lahir 7 Agustus 1919 di Pulau Galang, Bintan, Riau. Ayahnya bernama M. Tosib Rangkuti dan ibunya, Siti Hanifah Siregar. Jadi, walaupun Bahrum lahir di Riau, ia adalah putra Batak asli. Bahrum dibesarkan dalam keluarga Islam yang kental, ayahnya mendalami tarikat dan ibunya menyenangi tasawuf dan mistik. Bahrum mengawali pendidikan formalnya di kota Medan. Ia masuk ke HIS (Hollands Inlandse School), sekolah Belanda setingkat sekolah dasar dan kemudian ia melanjutkan  ke HBS (Hogere Burger School), setingkat dengan sekolah menengah pertama. Tamat HBS, Bahrum pindah ke Yogyakarta dan melanjutkan studinya di AMS (Algemene Middekbare School), setingkat dengan sekolah menengah atas. Setelah tamat AMS ini ia melanjutkan lagi pendidikannya ke Faculteit  de Lettern, yang kemudian menjadi Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Ia belajar bahasa-bahasa Timur sampai tingkat sarjana muda. Skripsi sarjananya berjudul “Islam dan kesusastraan Indonesia Modern” (1961) diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Islam and “Modern Indonesian Literature”

Gading Moeda Batoebara, lahir di Hoeta Padang, Sipirok 10 Oktober 1901. Setelah lulus sekolah rakyat kemudian melanjutkan ke Kweekschool Fort de Kock, lalu kemudian studi lebih lanjut ke Hogere Kweekschool di Porworedjo dan lulus 1923. Tahun itu juga Gading Moeda diangkat sebagai guru HIS dan ditempatkan di Sipirok, selanjutnya bepindah-pindah hingga akhirnya menetap di Medan. Gading Moeda yang pernah sebagai anggota Gemeteeraad (dewan Kota) Medan kemudian dikenal sebagai G.B. Yosua sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Perguruan Yosua Medan. G.B. Yosua adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatra Utara yang pertama (1950).

Bakri Siregar, sastrawan yang Menjadi Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Warsawa dan Universitas Beijing. Bakri Siregar lahir di Langsa, Aceh, 14 Desember 1922. Pernah terjun dalam dunia jurnalistik sebagai redaktur harian Pendorong (Medan), redaktur majalah Arah (Medan). Sebagai seorang intelektual Bakri mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan sebagai dosen di berbagai universitas baik di dalam negeri maupun di luar negeri, diantaranya; dosen bahasa Indonesia di Universitas Warsawa, Polandia (1956—1957), dosen bahasa Indonesia di FKIP Universitas Sumatra Utara (1957—1959), dan terakhir menjadi guru besar Sejarah Sastra Indonesia Modern di Universitas Beijing, RRC (1959—1962).

Nahum Sitoemorang lahir di Sipirok pada tanggal 14 Februari 1908, putra dari Guru Kilian Situmorang. Setelah selesai sekolah rakyat meneruskan pendidikan ke Kweekschool Bandoeng di Lembang dan lulus tahun 1928. Nahum adalah runner up lomba penciptaan lagu Indonesia Raya (pemenangnya W.R. Soepratman). Memulai karir sebagai guru di Siboga dan dalam perjalanan waktu, Nahum identik sebagai guru yang menjadi pencipta lagu-lagu hebat. Lagu-lagunya yang terkenal antara lain: Alusi Ahu, Anakhonhi Do Hasangapon Di Ahu, Ketabo-Ketabo, Lissoi, Malala Rohangki, Nasonang Do Hita Nadua, Sai Tudia Ho Marhuta, Sega Na Ma Ho, Sitogol, dan Tumba Goreng.

***
Dalam perkembangannya dari sekolah Eropa Padang Sidempoean harus dilanjutkan MULO lalu masuk STOVIA. Untuk mengatasi permintaan berlebih orang tua di sekolah eropa, memasukkan ke HIS Padang Sidempoean, sebelum ada MULO di Padang Sidempoean dikirim ke MULO yang ada di Medan atau Padang lalu dari situ ke STOVIA atau sekolah-sekolah tinggi lainnya di Bandung dan Bogor. Satu lagi jalur adalah setelah HIS melanjutkan ke sekolah radja di Bukit Tinggi dan seterusnya ke Djawa. Mereka-mereka itu antara lain:

Radja Enda Boemi. Alinoedin dari Batang Toru melanjutkan pendidikan tinggi ke Batavia. Setelah lulus sekolah hokum di Batavia melanjutkan studi ke Negeri Belanda untuk mengambil gelar Ph.D. Alinoedin gelar Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pertama dari Tanah Batak, orang kedua dari Sumatra dan satu dari delapan ahli hukum dari kalangan pribumi di Nederlansch Indie.

Basjaroeddin Nasoetion. Dari Mandailing melanjutkan pendidikan tinggi ke Bogor. Basjaroedin adalah Sarjana Pertanian pertama dari Tanah Batak.

Soetan Dia Angkola. Hoemala anak Pidjor Koling melanjutkan sekolah menengah pertanian di Buitenzorg. Hoemala Harahap gelar Soetan Di Angkola mengambil Agronomi lalu menjadi pejabat pertanian yang pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Anwar Nasoetion. Dari Mandailing melanjutkan pendidikan tinggi ke Bogor. Anwar Nasoetion adalah dokter hewan pertama dari Tanah Batak. Anwar Nasoetion adalah ayah dari Andi Hakim Nasution (rector IPB, 1978-1987).

Radja Parlindoengan Loebis. Anak Batang Toru melanjutkan sekolah menengah atas ke Batavia lalu melanjutkan pendidikan kedokteran ke Negeri Belanda. Aktif organisasi kemahasiswaan dan pernah menjabat sebagai ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda. Pada masa perang dunia kedua, Radja Parlindoengan pernah ditahan di Jerman di kamp konsentrasi NAZI.

Abdul Haris Nasoetion. Abdoel Haris memulai pendidikan HIS di Kotanopan dan melanjutkan sekolah raja (setingkat MULO) di Bukittinggi. Namun karena sekolah ini ditutup, Abdul Haris melanjutkan sekolah ke Bandung. Di Bandung Abdul Haris Nasoetion masuk PETA dan selanjutnya menjadi pelaku penting dalam pembangunan TNI dan petinggi militer di NKRI serta di akhir masa hidupnya dianugerahkan sebagai Jenderal Bintang Lima (bersama Sudirman dan Suharto).

Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Dua anak Soetan Pangoerabaan Pane yang sama lahir di Moeara Sipongi. Setelah selesai pendidikan menengah di Batavia lalu keduanya juga diterima di STOVIA. Namun dalam perjalanannya lebih tertarik bahasa dan sastra yang akhirnya penulis terkenal. Sanoesi Pane dan Armijn Panen mirip kisah Charles Adrian van Ophuijsen yang sama-sama pernah kuliah di sekolah tinggi kedokteran.

Mochtar Lubis, Sastrawan dan Budayawan yang Berani dan Jujur. Mochtar Lubis lahir di Sungai Penuh, Kerinci. Provinsi Jambi pada tanggal 7 Maret 1922. Ia adalah anak keenam dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Raja Pandapotan Lubis, adalah seorang asisten demang di kota kelahiran Mochtar Lubis antara tahun 1915 hingga 1929. Ayahnya berasal dari Desa Muara Suro, dekat Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal sekarang. Yang meninggal 1953. Ibunya, Siti Madinah Nasution, seorang anak kuria (induk kampung) di jaman Belanda meninggal di Medan 22 Mei 1986 dalam usia 90-an tahun. Selama hidup ibunya bersama saudara bungsu Mochtar Lubis, Asniah di desa Muara Suro.

Mansur Samin, Penulis sajak Raja Sisingamangaraja. Mansur Samin lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 29 April 1930. Pendidikan terakhir setingkat SMA yang diselesaikan di Solo, Jawa Tengah. Mansur Samin, selain pernah menjadi guru juga pernah menjadi  redaktur Siaran Sastra RRI-Solo, redaktur mingguan Adil di Solo, wartawan harian Merdeka (Jakarta), dan redaktur majalah Cerpen. Karya-karya Mansur Samin antara lain: Perlawanan (kumpulan sajak, 1966), Kebinasaan Negeri Senja (drama, 1968), Tanah Air (kumpulan sajak, 1969), Dendang Kabut Senja (kumpulan sajak, 1969), Sajak-Sajak Putih (1969), Sontanglelo: Sajak-Sajak Cerita Rakyat (1996). Mansur Samin juga banyak menulis cerita anak-anak. Sajak Mansur Samin berjudul "Raja Sisingamangaraja", mendapat Hadiah Kedua majalah Sastra tahun 1963. Ahmad Samin Siregar lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan pada tanggal 14 Mei 1945. Sastrawan ini kadang-kadang menggunakan nama samaran A. Samsir dalam karya-karyanya. Ahmad Samin Siregar dikenal sebagai ilmuwan dalam bidang sastra karena banyak tulisannya tentang terori sastra dan bagaimana mengulas sastra. Dia juga dikenal sebagai peneliti dalam sastra, baik sastra modern maupun sastra tradisional. Ahmad Samin Siregar pertama kali menulis pada tahun 1971 saat masih kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Dia bukan saja pemikir sastra tetapi juga seorang penyair. Ini bisa saja terjadi karena pamannya juga seorang sastrawan. Ahmad Samin Siregar adalah keponakan Mansur Samin, sastrawan yang tidak mencantumkan nama marga di belakang namanya. Ayahnya yang bernama H. Ali Husin Samin Siregar adalah kakak kandung Mansur Samin. Adanya kata "Samin" di belakang nama mereka karena itulah nama ayah Mansur Samin yang sekaligus tentu kakek dari Ahmad Samin Siregar.

Ras Siregar, sastrawan, lahir di Rantauprapat, Sumatera Utara, 10 Juni 1936. Pendidikan SD di Pematangsiantar (1950), sedangkan pendidikan SMP (1953) dan SMA (1955) di Bogor. Kemudian Sekolah Analisis Kimia dan terakhir tamat Sekolah Tinggi Publisistik, Jakarta (1974). Ras Siregar adalah anak ketiga di antara delapan bersaudara. Ayahnya, Baginda Soilangon, seorang pensiunan pegawai perkebunan. Ras menikah dengan Fauziah Hanum. Pernah bekerja di Lembaga Ilmu Bidang Fakultas Kedokteran Hewan (Bogor), Laboratorium Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Makassar), Laboratorium Talens & Zoon NV, Laboratorium Pusat Kimia Fanna (Jakarta), dan terakhir menjadi Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Bank Pembangunan Indonesia Pusat (Jakarta). Waktu kecil, Ras hanya ingin menjadi orang yang dikenal. Ketika di SMP, Ras sudah mulai menulis. Karangannya dimuat di ruangan anak-anak harian Merdeka. Ketika itu, ia sudah bermukim di Bogor. Ia juga dikenal sebagai penulis prosa. Bukunya yang sudah terbit: Harmoni (kumpulan cerpen, 1965), Terima Kasih (novel, 1968), Bintang-Bintang (kumpulan cerpen, 1972 dan 1975). Di Simpang Jalan (novel, 1988). Karyanya yang lain Bahasa Indonesia Jurnalistik (1987) dan  Mari Bermain Bridge (1986). Ras juga ikut sebagai penandatangan "Manifes Kebudayaan".

Sori Siregar, sastrawan Penulis Cerber berjudul “Wanita Itu Adalah Ibu” (Kompas). Sori Siregar lahir di Medan 12 Nopember 1938. Nama lengkapnya Sori Sutan Sirovi Siregar. Menikah dengan Jusni Nasution, 24 Desember 1970. Empat hari kemudian berangkat ke Amerika atas bantuan Yayasan Asia Kuala Lumpur untuk belajar Creative Writing danDrama di University ofIowa International. Tahun 1959 setelah selesai dari SMA ia memasuki dunia jurnalistik sebagai wartawan harian Waspada Taruna dan juga duduk sebagai redaksi mingguan Duta Minggu yang terbit di Medan. Selain sebagai penulis, ia dikenal sebagai staf siaran di RRI Nusantara III Medan, kemudian hijrah ke Jakarta menjadi staf pada RRI stasiun Pusat Jakarta dan diangkat sebagai anggota staf BBC Seksi Indonesia, di Negara Inggris. Sori juga bekerja sebagai redaktur majalah Zaman dan Eksekutif.

Hamsad Rangkuti, sastrawan yang Berpikiran Liar. Hamsad Rangkuti, lelaki berpenampilan sangat sederhana ini lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 7 Mei 1943 adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia sangat dikenal luas masyarakat melalui cerita pendek (cerpen).

A. M. Hoeta Soehoet, Tokoh Pers dan Pendiri Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta. A. M. Hoeta Soehoet, tokoh pers dan pendiri IISIP Jakarta, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan 11 November 1928. A. M. Hoeta Soehoet yang nama lengkapnya Ali Mochtar Hoeta Soehoet meninggal pada tanggal 23 Februari 2010 dan dimakamkan  di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Sebelum pensiun, sebagai Rektor IISIP (Kampus Tercinta) hingga 2001. A.M. Hoeta Soehoet yang mendirikan  IISIP Jakarta pada 5 Desember 1953 dengan nama Perguruan Tinggi Djurnalistik (PTD) oleh Himpunan Mahasiswa Akademi Wartawan yang kala itu A.M. Hoeta Soehoet sebagai ketua umumnya. Pada tanggal 27 Juli 1985 dengan SK Mendikbud, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi/Sekolah Tinggi Publisistik dikembangkan menjadi instititut dengan nama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Semasa mudanya, A. M. Hoeta Soehoet awalnya adalah seorang wartawan di beberapa surat kabar antara lain Indonesia Raya dan  Abadi bersama dengan Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Amir Daud dan Jaffar Assegaf.

***
Anak-anak Mandailing dan Angkola tidak semua pendidikannya dapat berlanjut ke perguruan tinggi karena alasan yang berbeda-beda. Meski pendidikan hanya sekolah sampai sekolah menengah, tetapi kiprah mereka juga terbilang fantastic. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Parada Harahap. Anak muda Pargarutan ini memiliki kecerdasan luar biasa dan memiliki memori yang kuat. Merantau ke Medan menjadi pemegang buku di perusahaan perkebunan. Anak muda terbilang rajin membaca mengubah profesi menjadi wartawan. Dari Medan, Padang Sidempoean dan Siboga, Parada Harahap merantau ke Batavia dan menerbitkan suratkabar Bintang Timur. Wartawan pemberani yang dikenal sebagai radja delik pers dan juga The King of Java Press. Bersama dengan W.R. Soepratman, Parada Harahap mendirikan kantor berita Aneta.

Sakti Alamsyah. Lahir di Sumatra Timur dan kembali ke kampong di Parau Sorat, Sipirok. Pada masa remaja merantau ke Jawa dan menjadi wartawan dan penyiar radio. Pada saat proklamasi Sakti Siregar memimpin radio Jepang yang sudah vakum lalu malam hari proklamasi menyiarkan rekaman pembacaan proklamasi yang kemudian dapat dipantau dunia Internasional, bahwa Indonesia sudah merdeka. Sakti Alamsjah Siregar adalah pendiri dan pemilik surat kabar Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung.

Adam Malik. Anak kelahiran Pematang Siantar yang aktif berorganisasi politik sejak remaja. Pada masa remaja kerap bolak-balik Pematang Siantar-Padang Sidempuan. Sebagai pentolan partai politik di daerah Tapanuli Selatan, sosok Adam Malik dianggap Belanda sebagai batu sandungan, dengan alasan makar anak Siantar ini lalu di bui di penjara Padang Sidempoean. Karirnya di politik semakin melejit hingga dia hijrah ke Batavia. Pada masa peralihan jelang proklamasi Adam Malik mengambil peran penting dalam mempersiapkan Soekarno untuk membacakan proklamasi. Adam Malik Batubara pernah menjadi duta besar dan kemudian menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia di masa orde baru.

Soetan Hasoendoetan. Lahir di Paran Julu, Sipirok. Tahun kelahirannya disebutkan Susan Rodger adalah tahun 1890 [lihat, Print, Poetics, and Politics: A Sumatran Epic in the colonial and New Order Indonesia by Susan Rodgers, KITLV 2005]. Soetan Hasoendoetan Siregar masuk sekolah dasar yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda dengan pengantar bahasa Batak. Ia menikah pada usia sekitar 18 tahun dengan gadis sekampung, lalu mereka hijrah ke Tanah Deli tahun 1908. Semasa hidup, Soetan Hasoendoetan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di perkebunan teh milik Belanda di Sumatra Timur. Pada tahun 1919 Soetan Hasoendoetan pernah menjadi editor surat kabar Tapian Na Oeli yang terbit di Sibolga [lihat, Sejarah Pers di Sumatra Utara oleh Mohammad Said, 1976)].Karya fenomenal Soetan Hasoendoetan Siregar adalah roman yang berjudul Sitti Djaoerah: Padan Djandji Na Togoe (Sitti Djaoerah: Sumpah Setia yang Teguh). Roman ini pertamakali terbit tahun 1927 dan dipublikasikan secara serial antara 1929 dan 1931 di surat kabar  Poestaha—surat kabar yang berbahasa Batak yang didirikan tahun 1914 di Padang Sidempuan oleh Sutan Casayangan Soripada Harahap. Setelah pemuatan serial roman Soetan Hasoendoetan ini di surat kabar Poestaha, ternyata mendapat respon yang positif dari masyarakat luas di Tapanuli. Atas dasar itu, roman itu diterbitkan kembali dengan bentuk buku dalam dua jilid yang secara keseluruhan tebalnya sebanyak 457 halaman. Kedua jilid buku roman tersebut diterbitkan oleh Tpy Drukkerij Philemon bin Haroen Siregar di Pematang Siantar. Roman ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Susan Rodgers dengan judul Sitti Djaoerah: a novel of colonial Indonesia, terbit tahun 1997 oleh University of Wisconsin.
***
Abdullah Harahap, Pionir novel gotik modern. Abdullah Harahap lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 17 Juli 1943. Dia lalu merantau ke Jawa dan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung, Jurusan Civic Hukum, tapi tak tamat. Saat kuliah, dia nyambi sebagai wartawan di harian Gala, Bandung. Karier jurnalistiknya dimulai sebagai reporter di harian Gala, dan akhirnya menjadi wartawan di Selekta Group, yang menerbitkan majalah Senang, Stop, Detektif dan Romantika, dan Selekta di Jakarta. Di sini Abdullah kerap meliput peristiwa kriminal, yang akan mempengaruhi gaya penulisan novelnya. Abdullah sebenarnya dapat disebut sebagai pionir novel gotik modern. Di Indonesia, novel-novel yang mengangkat tema dunia gaib ini lazim disebut “novel misteri”, istilah yang juga digunakan Abdullah untuk menyebut karyanya. Ketika novel-novel Abdullah diangkat ke layar televisi TPI pada 2001, nama acaranya pun Teve Misteri. Menurut Abdullah, dia bisa menyelesaikan satu novel dalam satu bulan. “Tapi, kalau enggak in, biar sudah sampai halaman 60, saya bisa berhenti dan merobek naskah itu,” ujarnya. Tapi sering juga dia dikejar tenggat untuk menyelesaikan ceritanya karena penerbit sudah membayar di muka. Penerbit pun tak peduli pada kualitasnya. “Yang penting nama Abang ada di sana,” kata satu penerbit kepada Abdullah. Abdullah kebanyakan menggali bahan novelnya dari cerita-cerita orang atau legenda yang hidup di suatu daerah. “Kalau saya dengar ada cerita yang menarik di suatu tempat, saya datang ke sana,” ujarnya. Metode wawancara kerap dia gunakan, misalnya bertanya kepada dokter ahli untuk mendapat penjelasan soal penyakit tertentu atau kepada pengacara untuk kasus tertentu. Karya Abdullah Harahap (Disusun secara alfabet): Babi Ngepet, Bila Malam Tiada Berbintang, Dendam Berkarat dalam Kubur , Dendam Iblis Cantik, Dendam Roh Jejadian, Dikejar Dosa, Dosa Turunan, Jerit Mayat Dari Liang Lahat, Langkah-langkah Iblis, Manusia Serigala, Makhluk Kembar Terkutuk, Menebus Dosa Turunan, Misteri Anak-anak Iblis, Misteri Lemari Antik, Misteri Perawan Kubur, Misteri Sebuah Peti Mati, Panggilan Neraka, Penunggu Dari Kegelapan, Puteri Peneluh, Suara dari Alam Gaib, Sumpah Leluhur dan Tarian Iblis. Abdullah berhenti menulis novel, meski tidak total, pada 1990-an dan sibuk membuat skenario untuk siaran televisi, khususnya yang bertema roman dan horor. Sejak itu pula novelnya mulai langka di pasaran.

Ashadi Siregar, Penulis Novel Cintaku Di Kampus Biru. Lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara 3 Juli 1945. Pendidikan menengahnya diselesaikan di Kota Padang Sidempuan: SMP Negeri I Padang Sidempuan (1961) dan SMA bagian B Negeri I Padang Sidempuan (1964). Pendidikan tinggi dimulai dan lulus dari Jurusan Publisistik Fakultas Sospol UGM pada 1970 dan menjadi pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada serta Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y. Ashadi Siregar mencuat ke permukaan lewat novel legendarisnya ‘Cintaku di Kampus Biru’. Dalam karirnya, dia telah menulis 12 novel, 4 di antaranya difilmkan, menulis dan menyunting sejumlah buku tentang media dan kebudayaan, menulis sejumlah artikel kontribusi jurnal dan antologi buku tentang media dan kebudayaan dan menulis kolom untuk suratkabar dan majalah berita. Ashadi Siregar pernah menjadi Redaktur Mingguan Publica Yogyakarta (1968), Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Mingguan Sendi Yogyakarta (1972 – 1973), Pembantu lepas (stringer) Majalah Tempo Jakarta untuk Yogyakarta (1973), Redaktur Ahli Majalah JURNAL Pasar Modal Indonesia, Jakarta (2000) dan Ketua Tim Ombudsman SKH Kompas sejak 2003. Pada 1974 Ashadi Siregar ditahan oleh polisi karena menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. "Ashadi merupakan guru bangsa yang dengan tulisan dan konsistensi telah memberikan banyak manfaat. Memasuki usia senja 65 tahun, jurnalis senior ini meluncurkan buku berjudul "Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru."

Pamusuk Eneste. Sastrawan yang Menulis “Buku Pintar Sastra Indonesia”. Pamusuk Eneste (singkatan Nst=Nasution) lahir di Padangmatinggi, Sipirok, Tapanuli Selatan Sumatra Utara, 19 September 1951. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1977). la pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah Tifa Sastra (1972 1978), Redaktur Kebudayaan Surat Kabar Kampus Universitas Indonesia Salemba (1976 1978), Dosen Bahasa Indonesia pada Akademi Perawatan St. Carolus, Jakarta (1978), Lektor Bahasa Indonesia pada Universitas Hamburg, Jerman (1978 1981), dan Dosen Fakultas Sastra Universitas Pakuan, Bogor, (1983 1991). Kini ia menjadi Editor Bahasa dan Sastra Indonesia pada Penerbit PT Grasindo (sejak 1982) dan dosen Politeknik Universitas Indonesia (sejak 1992). Karyanya:  Leksikon Kesusastraan  Indonesia Modern (1991), Novel Novel dan Cerpen cerpen Indonesia Tahun 1970 an (1982), Proses Kreatif I (1982), Cerpen Indonesia Mutakhir: Antologi Esei dan Kritik (1983), Proses Kreatif II (1984), Isabel Butmenkol (1986), Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (1986), H.B. Jassin Paus Sastra  Indonesia (1987), Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern (1987), Novel dan Film (1991), Tuan  Gendrik (1993), Kamus Sastra Untuk Pelajar  (1994), Mengenal Chairil Anwar (1995), Bibliografi Sastra Indonesia (2001), dan Buku Pintar Sastra Indonesia  (2001).

Budi P. Hatees. sastrawan Sipirok di Era Internet. Budi P. Hatees (singkatan Hts=Hutasuhut) lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 3 Juni 1972. Saat masih duduk di bangku SMP, Budi sudah menelurkan karya. Sajak-sajaknya  muncul di beberapa harian daerah Sipirok dan  Sumut. Cerpennya pun dimuat di majalah remaja ibukota. Budi merantau ke Jakarta pada tahun 1991. Menyelesaikan pendidikan sarjananya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Seorang jurnalis sejak 1992 dan pernah memiliki kolom di koran Lampung Post. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) Periode 2005-2009. Budi P. Hatees adalah seorang sastrawan muda Indonesia.

Last but not least. Irwan Siregar: Sutradara Terkenal, Anak Padang Sidempuan Mahasiswa FH-USU Pindah ke IKJ Jakarta. (Baca kembali lagi ke atas).

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap.

Tidak ada komentar: