26/11/15

Sejarah Kota Medan (7): Bulu Cina, Kota Lama, Kota China, Dua Kali Hilang Dari Peradaban



Peta Boeloe Tjina 1862
Nama Bulu Cina pada masa ini adalah nama sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara. Nama desa ini telah menerima waris dari sebuah nama lanskap (kecamatan/kabupaten) di masa doeloe yang disebut Onderafdeeling (kecamatan) Baloe Tjina. Lanskap (kecamatan) Baloe Tjina sendiri yang berada di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) berdasarkan peta 1862 berbatasan langsung dengan lanskap (kecamatan) Langkat di sebelah utara dan lanskap (kecamatan) Deli di sebelah selatan. Nama bandar (pelabuhan) terkenal di Boeloe Tjina di masa doeloe bernama Sampei yang berada di sisi sungai Boeloe Tjina. Bandar Sampei adalah salah satu dari tiga bandar terkenal (Panai, Haroe dan Sampei) yang ditaklukkan oleh Majapahit (sebagaimana disebut dalam buku Negarakertagama oleh Mpu Prapanca).Bagaimana nama pelabuhan kuno itu hilang dan bagaimana nama Boeloe Tjina dihilangkan menarik untuk dipelajari. Mari kita lacak!

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-06-1873: ‘Kekaisaran Atjeh meliputi bagian utara pulau Sumatra.. di pantai timur dibatasi sungai Tamiang yang menjadi batas antara Atjeh dan dependensi dari bawahan kami, Sultan Siak… selatan sungai Tamiang di sepanjang pantai timur terletak lanskap Langkat dan Baloe Tjina, yang termasuk dependensi Siak…Sesuatu yang diketahui baik adalah gunung Batoe Gapit, gunung dekat perbatasan Baloe Tjina dengan ketinggian 6.155 kaki di atas laut dan, konon, orang Batak yang menghuni lingkungan itu, yang mampu memberikan begitu besar jumlah sulfur yang mereka gunakan untuk pembuatan mesiu… Saya telah membuat keterangan di peta Sumatra (bagian utara) ini terutama didasarkan pada laporan dari para pelancong Inggris..’

Peta Boeloe Tjina, 1870
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1873: ‘Dari Singkel dilaporkan bahwa orang Atjeh dan orang Batak di pedalaman sudah agak lama tidak muncul, sehingga tidak ada perdagangan kamper yang menguntungkan. Ketidakhadiran mereka akan mendeklarasikan fakta bahwa mereka terlalu sibuk dengan persiapan mereka untuk perang (melawan Belanda). Para pedagang di Aceh berpendapat bahwa seluruh penduduk Tampat Tuan (Tapaktuan) dan penduduk di NW (noordwest) Baloe Tjina akan bergabung dengan Sultan Aceh (melawan Belanda)’.

Peta Boeloe Tjina 1880
Baloe Tjina atau Boeloe Tjina, sebagai sebuah nama sesungguhnya telah dua kali hilang dari peradaban. Pertama, peradaban di masa lampau sebelum era kolonial yang diduga kuat terdapat koloni Tjina yang boleh jadi menjadi munculnya nama Boeloe Tjina. Misteri kota Cina masa lampau ini tengah dipelajari oleh sejumlah kalangan. Kedua, peradaban di masa era kolonial yang mana Baloe Tjina atau Boeloe Tjina diberi nama sebagai suatu lanskap (wilayah administratif yang belum terukur secara akurat). Nama lanskap ini kemudian dihilangkan dan wilayahnya di satukan ke dalam lanskap Deli ketika fase perkebunan besar dimulai di Deli dan Langkat. Nama Boeloe Tjina bukan lagi nama onderafdeeling (kecamatan) tetapi menjadi nama plantation (onderneming). .

Peta Kecamatan Hamparan Perak, Deli (google map)
Hal yang menarik lainnya terkait dengan wilayah Boeloe Tjina ini adalah tetangganya di sebelah utara yang juga menjadi nama orderneming yang disebut Kota Lama. Lantas apakah ada kaitan antara Boeloe Tjina dan Kota Lama? Ini juga menjadi misteri yang lain. Pada masa kini, Kota Lama menjadi nama sebuah desa. Desa Boeloe Tjina dan desa Kota Lama kini secara administratif berada di Kecamatan Hamparan Perak, yang tidak jauh dari ibukota afdeeling Deli pertama, Laboehan Deli (sebelum ibukota dipindahkan ke onderfadeeling Medan).
Sungai Belawan (1878)

Asal Usul Nama Boeloe Tjina

Nama Bulu Cina adalah suatu fakta. Namanya doeloe adakalanya diucapkan dan ditulis berbeda (lafal) yakni Baloe Tjina atau Boeloe Tjina. Di awal kedatangan Belanda (1860an), nama Baloe Tjina dipetakan sebagai sebuah lanskap (onderafdeeling), tetapi kini hanya nama sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak. Lanskap Baloe Tjina ini dibatasi oleh Sungai Langkat di utara, Sugai Deli di selatan dan Gunung Gapit (Bataklanden) di sebelah barat. Jalur masuk dari pantai ke pedalaman di Bulu Cina melalui jalur Sungai Belawan. Ini berarti Lanskap Boeloe Tjina ditengahnya mengalir Sungai Belawan yang sebagian besar bersumber di Gunung Gapit. 
Sungai Belawan, sungai Boeloe Tjina dan sungai Hamparan Perak adalah nama-nama yang menunjukkan sungai yang sama. Untuk keperluan tulisan ini sebut saja Sungai Boeloe Tjina. Sungai Boeloe Tjina terdapat di lanskap Boeloe Tjina. Dalam kamus georafi Nederlandsch Indie terbitan 1861, Boeloe Tjina terletak di sebelah utara singai Deli. Lebar sungai ini 270 meter dengan kedalaman enam meter yang airnya berasal dari gunung Seibaja. Pelabuhan Boeloe Tjina bernama Sam Pei yang dihuni sekitar 50 buah rumah tempat dimana sah bandar berada. Pelabuhan Sampei ini juga merupakan pasar utama di lanskap Boeloe Tjina. Setiap tahun pelabuhan ini mengekspor lada ke Penang sebanyak 600-700 kojang. Produk lain dari daerah ini adalah gambir, tebu, tembakau, beras, kacang. Juga dari pelabuhan ini diperdagangankan kuda dan bahkan budak. Produk utama yang masuk adalah opium dan ikan asin. Di daerah ini, orang Melayu umumnya bertani dan berdagang, sementara orang Batak dalam manufaktur seperti kain sarung, belati, pedang dan lainnya.
Dalam analisis sepintas (sketsa) ini, nama Bulu Cina muncul di atas permukaan (membesar) dan dikenal luas karena nama itu sudah cukup terkenal dan memainkan peran penting dalam ekonomi wilayah (era perdagangan) sejak lama hingga paling tidak di awal kedatangan Belanda (era kolonialisasi). Sebaliknya nama Bulu Cina tenggelan di bawah permukaan (menyusut) dan mulai dilupakan karena perannya tidak penting lagi dan (parallel) ada wilayah lain yang menggantikannya.Siklus atau suksesi di atas wilayah yang disebut Bulu Cina tentu saja sudah silih berganti. Boleh jadi sudah terjadi sebelum nama Bulu Cina ada. Namun sejauh ini ‘kita’ hanya memiliki informasi sekadarnya saja, bahwa kata ‘cina’ telah digunakan penduduk setempat dan kemudian diadopsi oleh Belanda. Sebagaimana diketahui umumnya Belanda sangat jarang menghapus nama dan mengganti dengan nama baru (kecuali sangat khusus, karena alasan militer dan alasan politik) untuk keperluannya sendiri saja tetapi tidak melarang penduduk setempat (asli) dan tetap menggunakan nama lama, seperti Batavia (Sunda Kelapa/Jakarta), Buitenzorg (Bogor) dan Fort de Kock (Bukittinggi). Terbukti setelah era kemerdekaan nama-nama lokal secara alamiah menyingkirkan nama-nama baru buatan Belanda. Nama Bulu Cina adalah nama adopsi, yang diadopsi oleh Belanda dari nama yang melembaga di kalangan penduduk setempat di wilayah itu. Nama Bulu Cina adalah asli buatan lokal (dapat dianggap sebagai kearifan lokal). Sebaliknya, tidak ada alasan Belanda untuk menggantinya. Hal ini berlaku seperti Pondok Cina (di Depok), Bidara Cina (di Batavia/Jakarta). Dalam segi epistemology, kata ‘cina’ untuk nama-nama tempat tersebut selalu dikaitkan dengan keberadaan komunitas cina di masa lampau (bukan masa selanjutnya). Pondok Cina di masa lampau diketahui sebagai nama pelabuhan sungai di hulu Sungai Ciliwung dimana di sekitarnya ditemukan banyak pondok-pondok para pedagang cina yang melakukan aktivitas perdagangan bagi penduduk lokal yang berada di sekitar. Pondok Cina adalah sebutan penduduk lokal terhadap wilayah itu karena kehadiran orang-orang Cina. Hal ini tentu saja ‘analog’ dengan nama Bulu Cina di Pantai Timur Sumatra. Secara teoritis, nama Bulu Cina adalah pemberian penduduk lokal terhadap suatu tempat dimana (besar kemungkinan) adanya komunitas Cina di sekitar hulu sungai Belawan. Secara teoritis (pula), tidak ada keperluan penduduk pendatang untuk memberi nama wilayah atas kehadirannya. Misalnya Kampong Jawa di tengah kota Padang Sidempuan adalah asli pemberian (penyebutan) nama oleh penduduk setempat karena kehadiran komunitas Jawa (tahun 1860an, lebih awal dari munculnya komunitas Jawa di Deli). Demikian juga kemudian munculnya nama seperti Kampung Keling, Kampung Mandailing, Kampung Cina di Medan adalah pemberian (penyebutan) pihak lain. Pemberian nama Baloe Tjina atau Boeloe Tjina terhadap komunitas Tjina di wilayah itu boleh jadi berdasarkan cerita-cerita masa lampau yang tidak ditemukan lagi jejak kehadiran komunitas tersebut. Atau juga pemberian nama Boeloe Tjina karena komunitas tersebut masih eksis ketika nama itu mulai muncul sebagai sebutan suatu wilayah. Hal ini juga boleh jadi berlaku untuk Laboehan Deli atau Deli Toea (kalau ada keyakinan bahwa kata Deli berasal dari India). Hal ini juga pernah diidentifikasi Perret tentang nama-nama wilayah (huta) di Ankola dan Padang Lawas seperti nama kampong (huta) Pijor Koling, Siunggam, dan bahkan Ankola (Angkola). Oleh karenanya, nama-nama yang dikenal adalah nama pemberian penduduk setempat, maka ketika komunitasnya tidak ada lagi (misalnya emigrasi atau punah karena bencana alam, epidemic atau peperangan) nama pemberian itu nyatanya terus hidup dan digunakan terus oleh penduduk lokal, meski komunitas atau orang-orangnya tidak satupun yang tersisa wilayah itu. Boleh jadi ini terjadi di Padang Lawas dan Ankola, dimana kehadiran komunitas India di masa lampau (bukti peninggalan biaro/candi), tetapi sejauh ini tidak ditemukan pertalian komponen-komponen budaya antara penduduk pendatang dengan penduduk lokal (sangat sulit menemukan kosa kata yang digunakan di dalam bahasa Batak Ankola yang berasal dari India, kecuali kata-kata yang sudah ditemukan secara luas di Sumatra/Nusantara). Hal ini juga ditemukan di Bulu Cina, tidak ditemukan kosa-kata yang berasal dari Cina di dalam bahasa Melayu (yang kebetulan Bulu Cina berbahasa Melayu). Bahwa dikemudian hari ditemukan bukti-bukti baru (komponen budaya dari penduduk pendatang) di wilayah-wilayah yang disebut Bulu Cina atau wilayah lainnya, itu soal lain dan itu adalah penemuan baru. Penggunaan kata ’cina’ untuk menunjukkan suatu tempat di Pantai Timur Sumatra pada awal peradaban di awal era Belanda hanya ada di Baloe Tjina atau Boeloe Tjina. Tentu saja itu suatu yang unik, suatu yang eksklusif. Karena itu pulalah Boeloe Tjina dalam artikel ini menjadi penting dan bisa jadi menjadi jendela strategis untuk melihat masa lampau di Deli, Sumatra’s Oostkust dalam pemahaman (studi) pada masa kini. Pemahaman yang mendalam atas asal usul ini tidak hanya penting untuk bidang ilmu sejarah dan antropologis, tetapi dapat digunakan untuk analisis-analisis ekonomi (perhatian saya ada disini), analisis sosial dan bahkan dalam penerapannya dalam dunia pendidikan termasuk pemerintahan.        



Jadi asal nama Bulu Cina, usulnya adalah sebagai berikut: Bulu Cina merupakan sisa peradaban masa lampau yang kini hanya tertinggal sebuah kosa kata yakni ‘cina’ (dalam nama Bulu Cina) yang secara historis nama cina digunakan penduduk setempat (yang mendiami wilayah) sebagai nama tempat yang kemudian diadopsi peneliti-peneliti Belanda berdasarkan informasi para pelancong Inggris menjadi nama sebuah lanskap (kecamatan). Meski kini namanya Boeloe Tjina, namun penduduknya dapat dikatakan seluruhnya berafiliasi sebagai Melayu yang boleh jadi di masa lalu didominasi oleh orang-orang pendatang yang berasal dari China.




Dimana Letak Bandar Boeloe Tjina, Bandar ‘Kota Cina’ dan Bandar Deli

Peta Kerajaan Aru (Peta Portugis 1619)
Jika kita mundur jauh ke masa doeloe, pelabuhan Boeloe Tjina yang disebut Sampei adalah pelabuhan kuno yang sejaman dengan pelabuhan Aru/Panai (di muara sungai Baroemoen), pelabuhan Haru (di muara sungai Wampu). Tiga Bandar ini disebut sebagai tiga Bandar utama di pantai timur Sumatra yang 'ditaklukkan' oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada (sebagaimana disebut dalam buku Negarakertagama oleh Mpu Prapanca, 1365). Nama Panai dipertukarkan dengan Aru. Dalam peta Portugis (1619) di pantai timur Sumatra hanya teridentifikasi tanah Kerajaan Aru (Terra Daru), Dalam kamus geografi kuno Portugal, Kerajaan Aru adalah kerajaan tua Sumatra.yang meliputi bagian timur pantai pulau dan Teluk Aru. Juga dalam kamus geografi ini disebut Pulau Arupulau - pulau yang terletak di Teluk Aru, di pulau Sumatera. Satu nama lagi yang disebut dalam peta 1619 adalah Ambuara. Dalam kamus geografi kuno Portugis, Pelabuhan Ambuara yang kemudian disebut pelabuhan Jambu Ayer, terletak di pantai utara Sumatera. Pelabuhan Jambu Ayer dalam peta Belanda terletak di muara sungai Wampu.
Peta Deli (peta paling kuno, 1750)
Oleh karena Deli belum disebut dalam buku Negarakertagama dan kamus Portugis, maka bandar Sampei (cikal bakal Boeloe Tjina) haruslah lebih dulu eksis daripada pelabuhan Deli (yang letaknya di Deli Toea yang sekarang). Dalam peta kuno tahun 1750 (peta Portugis) tidak teridentifikasi lagi, tetapi pelabuhan Deli terindentifikasi sebagai pelabuhan besar (seperti Malaka dan Pasai). Pelabuhan Deli ini terletak di hulu sungai Deli (lihat peta 1750: mungkin Deli Toea yang sekarang). Pada saat itu, sungai Deli dan sungai Boeloe Tjina sama-sama bermuara ke teluk Belawan. Di teluk Belawan sendiri hanya terdapat pulau Belawan (yang disebut pulau Kepala Angin). ..
Situs bandar 'Kota Tjina' (Peta 1915)
Sementara daratan yang kini menjadi Pulau Sicanang belum muncul (lihat peta 1750). Setelah seratus tahun kemudian (1865) di teluk Belawan terindentifikasi (muncul) Pulau Sicanang mendampingi Pulau Kepala Angin (kini disebut Pulau Belawan). Keberadaan Bandar Sampei di Boeloe Tjina tentu saja dapat dikaitkan dengan penemuan sisa pelabuhan kuno yang lain yang teridentifikasi tahun 1879 yang disebut ‘Kota Tjina’. Jika pulau Sicanang belum muncul, maka bandar Sampei tidak terlalu jauh ke dalam sungai Boeloe Tjina dan Bandar ‘Kota Tjina’ tidak terlalu jauh ke dalam ke dalam teluk (dimana bandar ‘Kota Tjina’ berada). 

Deli dan Aru, 1818
Dengan demikian, diduga kuat keberadaan bandar Sampei lebih dulu ada (dan tetap eksis) dibanding bandar ‘Kota Tjina’ dan keduanya lebih dulu ada jika dibandingkan dengan bandar Deli (yang terletak di Deli Toea). Dalam perkembangannya (karena tonase kapal lebih besar dan sungai Deli mengalami pendangkalan) bandar Deli di hulu sungai Deli di pedalaman pindah ke hilir muara sungai Deli yang disebut bandar Laboehan Deli. Dalam peta Belanda tahun 1818 hanya ada dua wilayah yang teridentifikasi sebagai wujud adanya pelabuhan atau bandar yang terkenal yakni: Dilli (Deli) dan Aru (Daru). Kedua pelabuhan ini ada di pantai timur Sumatra. Sedangkan dua pelabuhan lain di pantai barat Sumatra adalah Baros dan Singkel.


Mengapa Kebesaran Nama Bulu Cina Menyusut Kemudian Tenggelam?

Rekod pertama tentang adanya nama tempat bernama Bulu Cina muncul kali pertama pada laporan seorang Inggris bernama John Anderson yang telah melakukan ekspedisi ke pantai timur Sumatra tahun 1822. Dalam laporan ini terindikasi dua jalur ekonomi penting yakni jalur sungai Deli dan jalur sungai Boeloe Tjina. Di jalur Deli (sungai Deli) di hilir terdapat Kesultanan Deli dan di hulu terdapat kerajaan-kerajaan Batak seperti Pulo Barian (Berayan) dan Kota Bangun. Saat kunjungan Anderson ini Kesultanan Deli dan Kerajaan Pulau Barian yang sama-sama menganut agama Islam tengah bertikai (persiapan perang) di Kota Jawa. Kesultanan Deli terdiri dari kampung-kampung Laboehan, Kampong Alei (tempat Sultan Deli, Mengedar Alam Shah), Kampung Tangah dan Kampung Besar. Sedangkan ke arah hulu masih terdapat kampung-kampung Batak seperti Meidan dan Babura masing-masing berpenduduk 200 jiwa. Terdapat banyak kampung ke arah hulu hingga Deli Toea yang dihuni oleh orang Batak yang jumlahnya mencapai 5.000 jiwa.

Sementara itu di jalur Boeloe Tjina terdapat kesultanan/kerajaan Batak seperti Boeloe Tjina dan Soenggal. Dua kerajaan ini tampak harmonis meski berlainan keyakinan yang mana Boeloe Tjina beragama Islam dan Kerajaaan Soenggal yang masih pagan (berpenduduk 20.00 jiwa). Kesultanan Boeloe Tjina berada di hilir sungai Boeloe Tjina dimana di muara sungai Boeloe Tjina terdapat bandar Sampai sebagai bandar Kesultanan Boeloe Tjina. Bandar Sampai berpenduduk 50 rumah sedangkan Boeloe Tjina di arah hulu bandar ini memiliki penduduk dengan 80 rumah (tempat Orang Kaya). Kampung-kampung lainnya di Boeloe Tjina adalah Pangalan Boeloe, Kelambir (tempat adik Sultan Ahmat, 25 rumah), Dangla (15 rumah), Kullumpang (tempat Sultan Ahmat, perkebunan lada, pamannya adalah Orang Kaya). 

Ekspor lada 1819-1822 (Anderson, 1826)
Diantara raja-raja dan sultan-sultan itu, yang pertama mendapat gelar dari Siak adalah Sultan Deli. Dengan gelar yang ada Sultan Deli lalu menganggap Deli (sekitar Laboehan), Boeloe Tjina, Langkat, Pertjoet dan tempat-tempat lainnya sebagai bawahannya. Sultan Deli merasa di atas angin karena dukungan Siak. Namun gelagat Sultan Deli ini mendapat resistensi terutama dari raja-raja Langkat (Perang Langkat) dan Raja Pulo Barian. Pada saat Anderson di Deli 1822/1823 perang antara Sultan Deli dan Raja Pulo Barian tengah memanas. Untuk mengimbangi kekuatan Sultan Deli, Radja Pulo Barian mendatangkan pasukan tambahan dari orang-orang Batak di hulu sungai Deli dan bahkan ada yang dari Siantar. Awal munculnya ketegangan karena Sultan Deli coba memonopoli arus perdagangan di DAS Deli, Raja Poeloe Barian tidak terima. .
Dalam peta Noord Sumatra yang diduga informasinya bersumber dari laporan Anderson terbit paling awal tahun 1862 (peta pertama dalam artikel ini) sebagai sebuah lanskap (kecamatan). Nama itu terus mengalir digunakan sebagai sebuah kawasan (lanskap) hingga tahun 1873 (ketika Perang Toba lagi hangat-hangatnya dan eskalasi Perang Atjeh mulai memanas). Di Deli sendiri tengah berlangsung babak baru ekonomi perkebunan (tembakau).

Selanjutnya dalam hubungannya dengan kedatangan Belanda, biasanya Belanda untuk memulai kolonisasi (pemerintahan  sipil) di suatu wilayah, terlebih dahulu memetakan wilayah ke dalam bentuk peta topografi. Untuk tugas ini para ahli dikirim ke TKP dalam kegiatan ekspedisi dengan atau tanpa pengawalan militer. Hal ini juga dilakukan sebelumnya di berbagai tempat seperti di afdeeling Mandheling en Ankola (Tapanoeli) dengan mengirim Willer (1840) dan Junghun (1845) baru kemudian van der Tuuk (1850). Di Sumatra bagian Utara (Pantai Timur Sumatra dan Pantai Barat Sumatra) dikirim seorang ahli dari Batavia pada tahun 1850an akhir untuk melakukan pemetaan geologi (tentu saja pemetaan sungai dan penduduknya di sekitar DAS). Dialah yang mengisi peta dan digunakan sebagai panduan awal munculnya ide Nienhuys memulai melakukan kegiatan perkebunan tembakau di sekitar Laboehan Deli (tidak jauh dari Boeloe Tjina).

Nienhuys datang tahun 1865 bersamaan dengan dimulainya pemerintahan sipil dengan menempatkan seorang controleur di Laboehan Deli, sebagai ibukota afdeeling Deli. Hal yang sama juga dilakukan di afd. Batoebara, afd. Asahan dan afd. Laboehanbatoe (keempat wilayah ini bagian dari wilayah Residentie Siak Indrapoera). Lanskap Langkat, Lanskap Boeloe Tjina dan Lanskap Serdang meski sudah dipetakan secara administratif tetapi belum ada kehadiran pemerintah.

Lantas mengapa Laboehan Deli yang dipilih sebagai tempat pertama ditempatkannya seorang controleur? Karena kampung Laboehan Deli ini merupakan tempat yang strategis: (1) sudah ada pemimpin komunal, Sultan Deli yang memiliki dependensi dengan Sultan Siak; (2) pelabuhannya telah tumbuh dengan baik karena kapal-kapal dari Siak atau tempat lain semakin intensif (ukuran sesungguhnya bagi Belanda adalah besar kecilnya perputaran volume perdagangan); (3) sangat dekat luar negeri (Inggris) di Penang; (4) berada di hilir Sungai Deli dan karena itu kantor controleur berada di hilir istana Sultan Deli (agar militer mudah keluar masuk) dan juga fungsi controleur yang merangkap sebagai petugas bea dan cukai lebih efektif dilakukan. Atas dasar itu, Laboehan Deli diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan di Deli, Langkat, Baloe Tjina dan Serdang.

Datoe dari Boeloe Tjina, 1870
Dari kota inilah pemerintahan sipil dimulai yang tentu saja controleur harus bekerjasama dengan Sultan Deli dengan membawa ‘surat perintah tunduk’ dari Sultan Besar, Yang Dipertoean Agoeng di Siak. Boleh jadi Sultan Deli tidak menginginkan situasi dan kondisi yang dihadapinya karena sultan-sultan atau pangeran-pangeran yang ada di Langkat, Boeloe Tjina dan Serdang sama kedudukannya dengan Sultan Deli di hadapan Radja van Siak. Lalu mengapa Sultan Deli yang menanggung semua beban atas kehadiran controleur. Belum selesai Sultan Deli berpikir tentang kegalauan ini, Controleur, wakil pemerintah Belanda sudah jauh sebelumnya memikirkan apa dan bagaimana kendali wilayah dijalankan. Nienhuys secara spontan datang dari Batavia menyusul controleur entah apakah Nienhuys telah membaca lebih dahulu laporan geologi di wilayah tersebut.

Controleur, Sultan Deli dan Nienhuys adalah tiga aktor penting yang memainkan peran dalam memulai membangun regional wilayah. Semua bermula di Laboehan Deli, para Sultan dan pangeran di Langkat, Boeloe Tjina dan Serdang wait and see. Dalam perjalanan waktu, Nienhuys ternyata berhasil dalam memulai usahanya lalu memperluas lahannya ke hulu sungai Deli hingga di kampong Medan Poetri (cikal bakal Kota Medan). Kabar berita di Eropa atas hasil produksi Nienhuys ternyata tembakau Deli terbilang jempolan, lalu lambat laun mengundang minat investor Eropa berdatangan ke Deli. Beruntung Nienhuys yang kini sudah berpatner dengan membangun perusahaan holding yang langsung ditandatangani oleh sang Ratu di Belanda (1870).

Lahan-lahan di kiri kanan sungai Deli telah menjadi hak penguasaan Nienhuys untuk masa konsesi sekian tahun. Untuk para investor baru yang umumnya non Belanda diarahkan oleh controleur ke Langkat (langkat hulu dan Langkat Hilir) dan Serdang. Investor ini semakin banyak yang berdatangan karena jalur Terusan Suez dibuka tahun 1869 yang membuat perjalanan Hindia Belanda ke Eropa/Belanda semakin singkat yang mengakibatkan jalur Pantai Timur Sumatra di selat Malaka semakin ramai (sebaliknya jalur Pantai Barat Sumatra semakin sepi).

Pada masa inilah Boeloe Tjina dikerdilkan. Status controleur yang berubah menjadi Asisten Residen di Laboehan Deli menyebabkan terjadinya penataan ulang wilayah: Langkat (hulu dan hilir) menjadi satu afdeeling sendiri dan lanskap Boeloe Tjina yang awalnya sebagai kandidat onderafdeeling lalu dihapuskan dan kemudian dibentuk onderfadeeling baru di Medan (karena perusahaan Nienhuys dan partner Deli Maatschappij telah pindah ke Medan Poetri). Lanskap Serdang sendiri kemudian ditetapkan menjadi satu onderafdeeling di dalam wiayah afd. Deli.

Kebun Boeloe Tjina 1912
Dengan demikian, Asisten Residen berkedudukan di Laboehan Deli, dua conroloeur masing-masing berkedudukan di Medan dan di Rantau Pandjang (Serdang). Ini artinya, di afdeeling Deli hanya tiga tempat utama: Laboehan Deli, Medan dan Rantau Pandjang (Serdang). Boeloe Tjina / Hamparan Perak ditinggalkan, lalu mulai beringsut dan meminggirkan diri serta lalu tenggelam. Itulah nasib Boeloe Tjina. Lantas kemudian nama Boeloe Tjina muncul sebagai onderneming di tahun 1880an. Pemilik onderneming Boeloe Tjina ini adalah Deli Maatschappij, perusahaan besar yang mengusahakan lahan dari Laboehan Deli hingga Medan Poetri.

Ini menjadi terungkap sendiri, Deli Maatschappij diduga menjadi penentu hilangnya Boeloe Tjina sebagai suatu onderafdeeling, yang secara tidak langsung membuat Sultan Deli boleh jadi sumringah karena Sultan dan para pangeran di Baloe Tjina telah ‘dikebiri’. Satu competitor penting Sultan Deli telah mati suri. Sultan Deli kemudian semakin menguat, tidak hanya karena wilayahnya semakin luas, tetapi faktor kedekatannya dengan pemerintah dan investor utama (Deli Mij). Boeloe Tjina sendiri lambat laun hilang lenyap dari peredaran. Boeloe Tjina kini menjadi tinggal kenangan, hanya nama sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli.

Kota Tjina muncul 1913-1914, Baloe Tjina sudah ada sejak 1862
Baloe Tjina atau Boeloe Tjina untuk kali kedua hilang peradabannya. ‘Kesultanan’ Boeloe Tjina kemudian bergeser menjadi nama sebuah onderneming dan kini menyusut hanya menjadi nama sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Lanskap Boeloe Tjina berganti menjadi Lanskap XII Kota (Hamparan Perak). Meski demikian, bukti bahwa di masa lampau ada suatu peradaban yang hadir di Bulu Cina tetap menjadi suatu misteri. Kita masih memerlukan bukti-bukti terbaru dari penyelidikan awal yang dilakukan oleh Mc Kinnon pada tahun 1970an. Boeloe Tjina boleh jadi merupakan kunci utama untuk memahami lebih lanjut munculnya nama Kota Tjina (1913-1914) sebagai salah satu situs penting pada masa ini.

Bagaimana Munculnya Nama Boeloe Tjina?

Pertanyaan bagaimana munculnya nama Baloe tjina atau Boeloe Tjina dan pertanyaan dimanakah letak yang sebenarnya Boeloe Tjina adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan masih merupakan teka-teki yang memerlukan pemikiran yang cermat dengan pendekatan holistic dari berbagai sumber-sumber pendukungnya. Mari kita berandai-andai doeloe, bahwa di masa lampau bahwa penduduk Batak (di pedalaman) merupakan representasi dari originilitas penduduk Sumatra (paling tidak di Noord Sumatra). Pendapat ini pertama kali dikemukan Marsden 1773 yang bisa dibaca dalam bukunya The History of Sumatra (terbitan 1811). Kemudian mari kita menarik titik ekstrim di tiga tempat: Pertibie (di pantai timur Sumatra di hulu sungai Baroemoen, kemudian di era Belanda Pertibie menjadi Padang Lawas) yang menjadi pusat koloni India, Baros (di pantai barat Sumatra) yang menjadi pusat koloni Arab (Timur Tengah), dan Baloe Tjina atau Kota Tjina (di pantai timur Sumatra di hulu sungai Belawan) yang menjadi pusat koloni Tjina. Lalu kita berandai-andai joega, Melayu masih berada di Semenanjung atau Riaow. Situs-situs terpenting dari tiga tempat ini adalah situs Lobu Toea di Baros, situs komplek percandian di Pertibie (kini Portibi) dan situs Boeloe Tjina atau Kota Tjina di muara sungai Belawan (kini Deli).

Semua area koloni-koloni tersebut boleh jadi masih kosong atau sudah terdapat secara sporadis Melayu mendiami pantai-pantai..Lantas buat apa mereka membuat koloni? Mereka bertujuan untuk berdagang, melakukan transaksi dagang dengan penduduk lokal di pedalaman (Batak). Komoditi perdagangan utama kala itu adalah emas, benzoin, damar, kemenyan, kamper dan lainnya (tentu belum dikenal komoditi lada, tembakau atau karet). Di pantai barat (Baros) koloni berada di garis pantai (tidak ada sungai yang bisa dilayari jauh ke pedalaman), sementara di pantai timur sangat banyak sungai yang mengalir dari pedalaman ke pantai, seperti sungai Baroemoen dan sungai Belawan. Kapal-kapal para pedagang-pedagang tersebut di pantai timur dimungkinkan bisa memasuki pedalaman melalui sungai seperti di hulu sungai Belawan atau jauh ke pedalaman di hulu sungai Baroemoen. Lokasi koloni ke pedalaman dimaksukan untuk memperdekat dengan TKP (sumber komoditi). 

Untuk tujuan terjadinya perdagangan, dalam hal ini metode transaksi dagang (antara penduduk koloni dengan penduduk lokal yang turun gunung) dilakukan dengan cara primitif (karena perbedaan bahasa) yakni dengan cara teknik pasar diam (seperti di awal tahun 1970an masih ditemukan antara pedagang kota dengan penduduk Kubu di Jambi). Transaksi dagang di tiga tempat ini bisa jadi dilakukan dengan cara barter (tidak dengan uang) yakni dengan saling mempertukarkan barang (komodi primer dari pedalaman dengan tembikar, keramik, manik-manik atau bahan logam atau peralatan terbuat dari logam serta kain yang dibawa pedagang pendatang. Alat transportasi dari pedalaman dilakukan dengan menggunakan kuda Batak (yang terkenal hingga era Belanda). Tiga tempat tersebut yang juga menjadi pelabuhan, merupakan simpul pertemuan pedagang pendatang yang datang dengan kapal-kapal dan penduduk pedalaman (Batak) yang datang dengan kuda-kuda tangguh. Penduduk Batak yang berada di selatan (Mandailing dan Angkola) dan timur (Simaloengoen) menuju Pertibie, penduduk Batak di barat (Silindoeng dan Toba) dan utara (Pakpak/Alas) menuju Baros, dan penduduk Batak di utara (Dairi) dan timur (Karo) menuju Boeloe Tjina atau Kota Tjina. Oleh karena sifatnya simpul perdagangan, maka tidak ada pertemuan budaya secara intensif yang membntuk budaya dominan dalam budaya Batak..

Kemashuran tiga pelabuhan utama kuno di Sumatra bagian utara ini memberi dampak yang besar terhadap kemakmuran di pedalaman. Konon lagu sekko-sekko adalah lagu primitif (bersifat magis) di Tanah Batak yang mengisahkan bentuk pemujaan terhadap hebatnya sekko (kemenyan) dalam memberikan kemakmuran bagi penduduk di Tanah Batak. Penduduk Batak dengan kekayaan yang dimiliki atas perdagangan besar dengan kolonial lama (Arab, India dan Tjina) memungkinkan penduduk Batak yang masih primitif berhasil mengembangkan kebudayaannya, seperti aksara dan sastra, budidaya pertanian domestik, senjata dengan menggunakan mesiu, arsitektur, manufaktur ulos, seni musik dan tentu saja ilmu pengetahuan (pengobatan, astronomi, dll) serta sistem sosial yang kompleks (tetapi teratur: dalihan natolu).  Aksara Batak adalah aksara terunik di dunia: dapat dituliskan dari kri ke kanan (aksara latin) dan dapat ditulis dari atas ke bawah (aksara China) yang mengindikasikan aksara Batak merupakan konstruksi yang brilian untuk mempertemukan East-West yang tidak ditemukan dalam aksara lain di dunia.

Situs Cina di Boeloe Tjina 1912
Semua itu bersumber dari kemuliaan Tuhan yang menempatkan Tanah Batak sebagai tempat dimana tumbuh secara spesifik tumbuhan yang menghasilkan komoditi utama perdagangan dunia yang dibutuhkan oleh penduduk dunia di belahan barat maupun belahan timur kala itu (utamanya benzoin, kamper (kapor Baros) dan kemenyan), Dalam perkembangannya, Baros mulai bergeser ke teluk Tapanoeli, Natal, dan Singkel, Pertibie bergeser ke Panai di muara sungai Baroemoen, Boeloe Tjina atau Kota Tjina tidak bergeser tetapi berpindah-pindah tempat di sungai yang lebih dalam sesuai (perkembangan ukuran kapal dan adanya pendangkalan di hulu-hulu sungai).

Batakhuis te Boeloe Tjiina 1888-1889
Secara teoritis, ada sumber perdagangan atau komoditi, maka kesitulah para pedagang dari 'manca negara' berdatangan (dan bahkan membuat koloni), seperti Baros, Pertibie dan Baloe Tjina. Ketika nilai perdagangan menyusut (karena komoditi lama digantikan komoditi baru pada perdagangan dunia), koloni juga mulai tidak kondusif dan koloni (yang sudah berpuluh atau beratus tahun) lambat laun ditinggalkan secara pelan-pelan oleh para pendatang. Koloni-koloni yang sudah berkurang secara permanen (mungkin masih menyisakan konsulatnya), wilayah koloni yang mulai sepi pendatang ini mulai diisi oleh para penduduk pedalaman (sebagai perluasan teritorial karena tekanan kepadatan penduduk di pedalaman). Okupasi wilayah ini sangat wajar, karena secara tradisional penduduk pedalaman sudah kenal dalam era transaksi komoditi kuno (kapur baros, benzoin dan kemenyan). Tidak ada percampuran budaya, lalu penduduk pedalaman Batak menempati eks koloni. Oleh karena sudah mengenal nama-nama tempat koloni, para penduduk lokal tidak menggantikan nama-nama yang ditinggalkan, seperti Pertibie, Siunggam, Panai, Pejorkoling, Angkola. Hal ini karena nama-nama itu adalah nama yang muncul dan diserap oleh penduduk sejak awal. Hal ini juga nama Baros di pantai barat Sumatra dan dalam hal ini nama Baloe Tjina atau Boeloe Tjina di pantai timur di muara sungai Belawan. Lantas kapan munculnya Delhi atau Deli? Dari Deli Toewa ke Laboehan Deli lalu ke Medan (Poetri). Simak selanjutnya: Mengapa di Pertibie ada candi, di Deli tidak ditemukan. Apakah ada hubungan antara Pertibie dengan Deli?.     .   .


(bersambung)


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

1 komentar:

Dariyus mengatakan...

Jenis Bambu pada masyarakat karo : buluh duri, buluh cina, buluh belin, dll. Pe nulis jangan mengabaikan jejak-jejak karo di buluh cina. Belanda menterjemahkan perang karo sunggal sbg batak oorlog. Hulu sei be lawan berapa di kaki gunung sibayak. Anderson sdh mengingatkan agar memperhatikan Maura-Maura sungai.