20/03/11

Sungai Batang Ayumi di Kota Padang Sidempuan: Pelestariannya Mulai dari Pemecahan Masalah Sanitasi (Bagian-1)

Oleh Akhir Matua Harahap

Sungai Batang Ayumi dilihat dari jembatan Siborang (Foto..)
Sungai Batang Ayumi bagi sebagian warga Padang Sidempuan adalah bagian masa lalu yang tidak terlupakan, karena semasa kanak-kanak sungai ini dijadikan sebagai lubuk (kolam berenang) dan arena arung jeram dengan menggunakan ‘batang pisang’. Juga sungai ini menjadi tempat memancing dan ‘manjala’ ikan. Kala itu, sungai ini dimanfaatkan untuk mandi yang membersihkan badan maupun mencuci pakaian. Tapi, pada masa kini, Sungai Batang Ayumi tampak ‘merana’ dan terabaikan, keruh dan tidak jernih, serta kotor dan sebagian masyarakat merasakan air sungai sudah mulai berbau. Akibatnya, Sungai Batang Ayumi sebagai salah satu ‘ikon’ Kota Padang Sidempuan, secara tidak terasa telah turut melunturkan citra kota yang dulu terbilang asri. 

Sunga Batang Ayumi di Padang Sidempuan, 1935 (Foto: KITLV)
Pada masa lalu, sungai ini begitu mempesona, jernih dan bahkan menjadi salah satu alasan di masa ‘doeloe’ untuk dijadikan sebagai bagian benteng pertahanan kota karena arusnya yang deras yang sulit diseberangi. Pada masa kini, sungai ini tampak loyo. Kalau dulu air sungai mampu menutupi lebar sungai, tapi kini, sepintas tampak bagaikan selokan besar yang hanya  bagian sungai yang terdalam saja yang masih terlihat ada arus. Dengan jarangnya terjadi air bah, maka bagian sisi dalam sungai sudah tampak mulai menghijau oleh rumput liar dan semak, sementara bantaran/tepi sungai sudah terlihat terdesak oleh bangunan-bangunan tempat tinggal (yang mungkin melanggar aturan tata ruang).


Muara Permasalahan  

Dengan mencermati gambaran ringkas tentang kondisi Sungai Batang Ayumi di atas, pada akhir-akhir ini telah mulai tumbuh kesadaran baru bagi sejumlah kalangan untuk lebih giat dan memperhatikan Sungai Batang Ayumi ke arah langkah-langkah pelestariannya. Para penggiat lingkungan sudah berada di jantung kota. Namun demikian, muara permasalahan Sungai Batang Ayumi sesungguhnya sangat kompleks tetapi dapat dengan mudah ditelusuri mulai dari hulu hingga ke hilir. 

Pada dasarnya, debit air Sungai Batang Ayumi sebagian besar berasal dari lereng Gunung Lubuk Raya di sebelah barat dan lereng Gunung Sibual Buali di sebelah utara Kota Padang Sidempuan. Penggundulan hutan dan kurangnya rehabilitasi lahan tandus dan pertanian selama ini secara perlahan-lahan telah mengurangi sumber air bagi sejumlah anak sungai (aek) dari Sungai Batang Ayumi yang pada gilirannya menyebabkan debit air Sungai Batang Ayumi hingga menuju titik terendah pada masa kini. Sebaliknya, jika terjadi hujan maka resapan air tidak terbentuk dan mengakibatkan luapan air permukaan tanah di hulu meluncur deras ke anak-anak sungai yang secara kumulatif  bermuara di Sungai Batang Ayumi dan kerap menimbulkan air bah yang membahayakan warga di hilir utamanya di sekitar bantaran sungai di Kota Padang Sidempuan. Ini sudah tentu satu permasalahan sendiri.

Hal lain dari muara permasalahan Sungai Batang Ayumi adalah yang bersumber dari buangan rumahtangga dan limbah industri baik yang berbentuk padat dan cair. Persoalan buang/limbah ini sangat serius—karena melibatkan sebagian besar warga kota.

Rumahtangga

Penduduk Kota Padang Sidempuan sangat cepat pertambahannya dalam dua dekade terakhir yang mengakibatkan kebutuhan perumahan semakin meningkat. Luas lahan yang tetap dengan bertambahnya penduduk menyebabkan harga lahan melonjak tinggi yang mengakibatkan masalah kepemilikan rumah semakin rumit. Penduduk yang mengontrak/menyewa rumah meningkat drastis. Penduduk Kota Padang Sidempuan pada tahun 2009 terdapat sebesar 22 persen yang status penguasaan bangunan tempat tinggal yang ditempati adalah kontrak/sewa. Angka yang besar ini mengindikasikan kecenderungan penduduk pada akhir-akhir ini untuk membangun rumah di pinggir/tepi sungai—menantang bahaya dan melanggar rambu-rambu tata ruang. Semakin dekat letak rumah di seputar bantaran sungai semakin memungkinkan buangan rumahtangga (padat/cair) dibuang ke sungai.

Bantaran/tepi sungai. Secara historis, hampir semua desa/kelurahan di Kota Padang Sidempuan dilintasi sungai (selain Batang Ayumi juga ada anak-anak sungainya: Aek Sipogas, Aek Sibontar dan lainnya). Hanya lima desa dari 79 desa yang sama sekali tidak dilintasi sungai. Dari semua desa yang dilintasi sungai terdapat 24 desa yang ada penduduknya bertempat tinggal di bantaran/tepi sungai dengan total keluarga sebanyak 685 keluarga (650 unit bangunan).  Penduduk yang bertempat tinggal di atau dekat dengan bantaran/tepi sungai sangat berpotensi untuk membuang sampah ke sungai.     


Tabel-1. Penduduk yang tinggal di atau dekat bantaran/tepi sungai
menurut kecamatan di Kota Padang Sidempuan

Kecamatan
Jumlah
desa
Jumlah
desa
 yang
 dilintasi
 sungai
Jumlah desa
yang ada
 keluarga
 tinggal di
bantaran/tepi
 sungai
Jumlah
Bangunan
di bantaran/
tepi sungai
Jumlah
keluarga di
 bantaran/
tepi sungai
Psp Tenggara
18
17
6
120
120
Psp Selatan
12
10
8
401
436
Psp Batunadua
15
14
2
14
14
Psp Utara
16
16
1
30
30
Psp Hutaimbaru
10
10
5
77
77
Psp Angkola Julu
8
7
2
8
8
Padang Sidempuan
79
74
24
650
685
Sumber: Diolah dari PODES (BPS) 2008


Tempat buang sampah. Bagaimana cara membuang sampah rumahtangga adalah salah satu pertimbangan penting untuk menjaga kesehatan lingkungan dan keasrian alam. Untuk daerah yang daya dukung lingkungan rendah (seperti wilayah perkotaan), seharusnya sampah dikumpulkan yang kemudian diangkut—dimana selama masa proses pengumpulan jangan sampai terjadi pembusukan. Sebagian besar warga Kota Padang Sidempuan melakukan cara tersebut plus dengan cara menggali lubang dan dibakar/ditanam. 


Tabel-2. Tempat buang sampah warga menurut kecamatan di
Kota Padang Sidempuan
Kecamatan
Jumlah
desa
Tempat sebagian besar warga
buang sampah
Ada
warga
 buang
sampah
di sungai
Ada
TPS
Tempat
sampah
 kemudian
diangkut
Dalam
lubang/
dibakar
Sungai
Lainnya
Psp Tenggara
18
8
10

5
1
Psp Selatan
12
12



1
9
Psp Batunadua
15
4
2
1
8
1
2
Psp Utara
16
16



5
10
Psp Hutaimbaru
10
3
6

1
5
2
Psp Angkola Julu
8
5
2

1
1
5
Padang Sidempuan
79
48
20
1
10
18
29
Sumber: Diolah dari PODES (BPS) 2008


Hanya satu desa di Kota Padang Sidempuan yang sebagian besar penduduknya membuang sampah ke sungai. Namun dalam kenyataannya dari 79 desa di kota ini yang mana 74 desa dilintasi sungai, justru masih terdapat sebanyak 18 desa yang ada warganya membuang sampah di sungai. Sementara itu, sekalipun sudah sangat menonjol cara penduduk untuk mengumpulkan sampah untuk diangkut, tetapi jumlah tempat penampungan sementara (TPS) masih jauh dari kebutuhannya—idealnya satu desa minimal memiliki satu TPS.

Penggunaan fasilitas buang air besar. Permasalahan lainnya tentang sanitasi yang tidak kalah penting adalah penggunaan fasilitas tempat buang air besar (BAB). Seharusnya setiap melakukan BAB di tempat tertentu—yang disebut jamban. Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang:

1.     Mencegah kontaminasi ke badan air (selokan atau sungai)
2.     Mencegah kontak antara manusia dan tinja
3.     Membuat tinja tidak dapat dihinggapi serangga/binatang lainnya
4.     Mencegah bau yang tidak sedap
5.     Konstruksi dudukannya dibuat dengan baik, aman dan mudah dibersihkan.

Jamban yang memenuhi syarat mutlak tersebut adalah jamban yang menggunakan jenis kloset ‘leher angsa’ dengan tangki/SPAL. Idealnya setiap rumahtangga memiliki jamban sendiri agar lebih tercipta suasana tenang, nyaman, tidak repot dan aman ketika melakukan BAB.

Berdasarkan data Susenas (BPS) 2009 kepemilikan jamban sendiri di Kota Padang Sidempuan sekitar 69 persen dari keseluruhan rumahtangga. Dari semua jamban yang ada (sendiri, bersama dan umum) baru sekitar 54 persen yang menggunakan kloset ‘leher angsa’ dan hanya sekitar 39 persen yang memakai tangki/SPAL. Ini menunjukkan status jamban di Kota Padang Sidempuan masih pertanda buruk. Kondisi yang dihadapi tersebut, diperparah dengan masih tingginya tempat pembuangan akhir tinja ke kolam sawah/sawah dan sungai (45 persen). Resiko pembuangan akhir serupa ini dapat berakibat pada pencemaran air/sungai yang berisiko terhadap kesehatan penduduk.


                Tabel-3.  Persentase penggunaan fasilitas tempat buang air besar,
                   jenis kloset dan tempat pembuangan akhir tinja rumahtangga di
Kota Padang Sidempuan
Karakteristik rumah
Persen
Penggunaan fasilitas tempat buang air besar
a. Sendiri
68.72
b. Bersama
5.24
c. Umum
10.78
d. Tidak ada
15.26
Jenis kloset
a. Leher angsa
53.62
b. Plengsengan
24.31
c. Cemplung/cubluk
16.81
d. Tidak ada
5.26
Tempat pembuangan akhir tinja
a. Tangki/SPAL
39.05
b. Kolam/sawah
5.83
c. Sungai/danau
39.27
d. Lobang tanah
13.79
e. Pantai/tanah lapang/kebun
0.00
f. Lainnya
2.05
Sumber: Data diolah dari SUSENAS (BPS) 2009

Sementara itu, masih ditemukan dengan persentase yang cukup signifikan yang tidak menggunakan jamban (di selokan, di sungai atau di kebun) yang persentasenya mencapai sebesar 15,26 persen. Tingginya persentase tempat pembuangan akhir tinja ke ruang publik (kolam/sawah dan sungai) diduga karena masih banyaknya jamban sendiri/bersama atau jamban umum (seperti di pasar, di tempat ibadah) yang belum menggunakan tangki/SPAL alias disalurkan langsung ke selokan/sungai.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Tempat pembuangan akhir (TPA) adalah simpul pembuangan sampah dari berbagai TPS dari berbagai penjuru kota. Lokasi TPS maupun TPA haruslah strategis dan jauh dari kemungkinan terjadinya pencemaran (tanah, air dan udara). TPA Kota Padang Sidempuan yang mengambil tempat di desa Batu Bola Kecamatan Padang Sidempuan Batunadua, ditengarai telah menimbulkan pencemaran bagi Sungai Batang Ayumi. Menurut berbagai laporan, pada musim hujan limbah cairan dari sampah di TPA Batu Bola diduga telah merembes dan mengalir ke Sungai Batang Ayumi (jarak TPA dengan sungai sangat dekat). Konon masa operasi TPA ini sudah berakhir tahun 2009, namun karena anggaran pemerintah kota yang terbatas menyebabkan relokasi TPA Batu Bola ke TPA baru di Desa Simirik terpaksa harus ditunda sampai tahun anggaran 2011. Lihat: "Lokasi TPA Batubola"

Limbah Industri

Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi kota yang ditunjukkan dengan pertambahan jumlah industri juga memberi pengaruh penting bagi keberadaan Sungai Batang Ayumi. Industri kecil dan rumahtangga dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir ini di satu sisi telah mewarnai ekonomi kota tetapi juga di sisi lain industri ini telah turut mengotori lingkungan kota dan Sungai Batang Ayumi. Daya dukung lingkungan tampaknya sudah mulai tidak seimbang dengan keberadaan dan pertumbuhan industri di tengah kota. 

PT Virgo (yang tergolong industri yang relativf besar) yang sudah sejak lama eksis yang dulunya dianggap berada di pinggir kota semakin terdesak lokasinya dengan perkembangan perumahan pada masa kini--yang menyebabkan posisinya jadi bersifat dilematis. Tuntutan relokasi pabrik PT Virgo tampaknya semakin menguat dan menjadi dasar pertimbangan bagi pihak perusahaan. PT Virgo yang inti bisnisnya adalah penampungan dan pengolahan karet sekalipun pengakuan mereka telah mengikuti standar pengolahan limbah tetapi bagi masayarakat tetap dianggap tidak layak lagi berada di kawasan tengah kota yang padat penduduknya apalagi lokasinya yang berada di pinggir sungai sangat terbuka kemungkinan terjadinya pelanggaran aturan umum lingkungan. Apalagi mengingat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kecamatan Padangsidimpuan Selatan menjadikan daerah sekitar industri ini sebagai  kawasan pemukiman, pendidikan  dan bisnis.

Dampak dan Solusi

Dampak yang paling menonjol tentang Sungai Batang Ayumi adalah banjir, sumber penyakit (gatal-gatal dan diare) dan penurunan kualitas/keasrian lingkungan. Air limbah rumahtangga, industri dan TPA dapat menyebabkan kualitas air menurun dan kemungkinan pencemaran yang menyebabkan budidaya ikan di kolam dan ikan di ‘lubuk larangan’ serta keramba dapat terkena penyakit dan menyebabkan ikan mati. Lubuk larangan adalah sebuah bentuk partisipasi masyarakat untuk mengkonversi fungsi sungai menjadi sumber pendapatan yang selaras dengan penyelamatan lingkungan daerah aliran sungai (DAS). Masyarakat Padang Sidempuan yang dulunya surplus ikan tawar (khususnya ikan mas) seakan lenyap begitu saja pada masa ini dan bahkan penduduk kota sudah tidak bisa menghindarkan dan sangat tergantung impor  dari Kabupaten Mandailing Natal dan Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman di Propinsi Sumatra Barat.

Sungai Batang Ayumi yang melintas membelah Kota Padang Sidempuan yang menjadi kebanggaan dan kenangan warga kota di masa lalu, kini kondisinya tidak hanya menyempit dengan menjamurnya pendirian bangunan di bantaran/tepi sungai juga  kondisinya sudah tampak semakin dangkal karena sedimentasi akibat tumpukan sampah dan sampah yang hanyut dari hulu. Penyempitan dan pendangkalan sungai semakin kontras dengan tidak sinkronnya  program atau tupoksi instansi terkait (tata kota, kebersihan, satpol pp, pertanian dan kehutanan, usaha kecil/koperasi) tentang DAS Sungai Batang Ayumi.

Beberpa pihak menuding pemerintah kota tampaknya baru sekadar melakukan himbauan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Mungkin belum terpikirkan bagaimana mengatasi permasalahan sungai yang terkait dengan kebiasaan BAB serta permasalahan efek samping penggunaan pestisida. Bahkan ada laporan yang mengindikasikan bahwa pemerintah kota kurang menyadari jika telah melakukan pelanggaran tata ruang dengan membangun kantor kelurahan di bantaran/tepi sungai Sungai Batang Ayumi.

Ke depan, masyarakat (partisipasi aktif), pemerintah (perencanaan dan pengawasan melalui perda dan peraturan teknis lainnya secara intensif), serta dunia usaha (pemasok dan toko banguan serta lembaga keuangan mikro dalam menyediakan dan pembiayaan pembuatan/perbaikan jamban) harus secara bersama-sama (simultan) dalam mengatasi permasalahan sanitasi di Kota Padang Sidempuan dan kelestarian dan keasrian DAS sepanjang Sungai Batang Ayumi dan anak-anak sungainya. 


                            Tabel-4. Jumlah desa berdasarkan penggunaan sungai menurut kecamatan di
                               Kota Padang Sidempuan 
Kecamatan
Jumlah
desa
Jumlah desa yang menggunakan sungai untuk:
Mandi/
cuci
Minum
Bahan
baku
minum
Irigasi
Industri/
pabrik
Trans-
portasi
Lain-
nya
Psp. Tenggara
18
13
2
-
10
1
1
5
Psp. Selatan
12
10
1
1
4
-
1
3
Psp. Batunadua
15
13
1
-
13
-
-
1
Psp. Utara
16
16
1
-
1
-
-
-
Psp. Hutaimbaru
10
9
2
1
9
-
-
-
Psp. Angkola Julu
8
5
-
-
6
-
-
1
Padang Sidempuan
79
66
7
2
43
1
2
10
Sumber: Diolah dari PODES (BPS) 2008


Selamatkan dan lestarikan DAS Sungai Batang Ayumi, karena fungsinya sangat strategis untuk masa pertumbuhan dan perkembangan kota menuju kota modern Padang Sidempuan. Sungai Batang Ayumi selain berfungsi untuk lubuk larangan/keramba, mandi dan cuci, juga berfungsi untuk kelestarian dan keasrian kota khususnya di sepanjang DAS Sungai Batang Ayumi. Strategi pemecahan masalah sanitasi terkait Sungai Batang Ayumi akan disajikan pada artikel bagian kedua yang isinya menekankan pada  konsep ‘sanitation marketing’***

Sumber

TPA Batu Bola Cemari Sungai Batang Ayumi
Sungai Batang Ayumi Menyempit
Limbah PT Virgo Cemari Sungai Batang Ayumi
·      
·         


Tidak ada komentar: