11/07/14

Bag-8: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Lahir Sebagai ‘Anak Tapanoeli’, Wafat Sebagai ‘Arek Soerabaja’

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disini

(bagian kedelapan, habis)

Radjamin Nasoetion (foto 1941)
Radjamin Nasution, lahir di kampong Barbaran Julu, Panyabungan, Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan, Sumatera Utara tanggal 15 Agustus 1892. Radjamin memulai pendidikannya, di sekolah dasar (ELS) di Padang Sidempuan dan selanjutnya menempuh pendidikan kedokteran (STOVIA) di Batavia. Sebagai dokter, Radjamin Nasution ditempatkan bekerja sebagai pegawai dan petinggi Bea dan Cukai di era pemerintahan Belanda yang pernah ditempatkan di berbagai tempat antara Sabang dan Banyuwangi, seperti Medan, Jambi, Kalimantan, Cilacap, Semarang dan terakhir di Surabaya. Di Kota Surabaya, Radjamin terjun ke dunia organisasi sosial, partai politik yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota dewan kota (gementeeraad), provinsi dan pusat (Volksraad).

Di era Jepang, Radjamin dipercayakan militer Jepang untuk menjabat Walikota Surabaya; demikian juga di era kemerdekaan, petinggi republik di Jakarta juga mempercayakan walikota Surabaya kepada Radjamin. Selama perang, Radjamin ikut berjuang, tetapi setelah pengakuan kedaulatan, haknya sebagai walikota dirampas. Radjamin berjuang kembali melalui parlemen kota. Proposalnya yang pro rakyat tidak digubris walikota penggantinya, Doel Arnowo. Para anggota parlemen menilai figur Doel Arnowo yang ditunjuk atas dasar seorang pemuda heroik di dalam perang Surabaya dianggap lemah dalam memimpin eksekutif pemerintahan, mosi tidak percaya muncul, akhirnya Doel Arnowo lengser sebagai Walikota Surabaya.

Radjamin Nasution, yang cerdas, seorang dokter STOVIA, mantan pejabat tinggi bea dan cukai, mantan walikota, tidak hanya berhasil mengangkat derajat rakyat Surabaya dengan proposalnya yang pro rakyat, juga Radjamin adalah seorang ayah yang mampu mendidik anak-anaknya hingga semuanya berhasil lulus perguruan tinggi. Diantaranya berhasil menjadi dokter STOVIA, yang sulung menjadi professor di FKUI, yang kedua menjadi dokter militer selama perang kemerdekaan dengan pangkat letkol yang juga beristrikan seorang srikandi dalam perang Surabaya. Anak yang bungsu menjadi sarjana hukum dari FHUI (lulus 1955).

Tugu Pahlawan di Surabaya (foto 1960)
Radjamin Nasution, yang juga ‘arek soerabaja’ meninggal dunia di Surabaya. Rakyat Surabaya yang menginginkan Radjamin dimakamkan di Taman Makan Pahlawan, ditolak dengan hormat oleh anak-anaknya karena alasan wasiat almarhum yang meminta dirinya nanti dimakamkan di pekuburan rakyat. Radjamin Nasution, wafat sebagai seorang pejuang, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat: pintar, berani dan jujur. Semua itu, tidak cukup bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk mengakui Radjamin Nasution sebagai Walikota Surabaya yang pertama. Padahal, sebaliknya, Radjamin Nasution pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Hingga ini hari: Radjamin Nasution baru sekadar mendapat gelar adat, yakni Soetan Koemala Pontas (gelar adat lokal tertinggi di Mandheling en Ankola). Kapan Dr. Radjamin Nasoetion mendapat gelar nasional, Pahlawan Nasional? Radjamin Nasution telah berbuat banyak dengan tulus ikhlas untuk rakyat Soerabaja dan Djawa Timoer.

***






Kampung halaman Radjamin Nasoetion berada di Afdeeling Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoeli (menjadi Tapanuli Selatan, Sumatra Utara). Dari afdeeling yang subur ini, anak-anak Mandheling en Ankola banyak yang menonjol di Nederlansch Indie (Hindia Belanda). Pionir adalah dua siswa yang bernama Si Asta dan Si Angan dari Mandheling en Ankola diterima di docter djawa school di Batavia tahun 1854. Docter Djawa School didirikan 1851. Kedua anak Mandheling en Ankola ini merupakan siswa yang pertama diterima di sekolah kedokteran itu yang berasal dari luar Jawa. Pada tahun 1856 dua orang lagi siswa dari afdeeling tersebut diterima di sekolah tersebut (Si Toga dan Si Napang). Oleh karena prestasi anak-anak Mandheling en Ankola terbilang paling menonjol diantara siswa (jumlah siswa sekitar delapan sampai dua belas siswa tiap angkatan) maka sejak 1858 secara regular anak-anak Mandheling en Ankola diterima di docter djawa school. Diantara anak-anak Mandheling en Ankola ini ada yang sekelas dengan Dr. Wahidin, ada yang sekelas dengan Dr. Cipto dan tentu ada yang sekelas dengan Dr. Soetomo. Sejak 1858, afdeeling Mandheling en Ankola tidak hanya surplus beras dan kopi tetapi juga surplus tenaga kesehatan (dokter).

Deskripsi Willem Iskander dan kabar meninggal 1876 (1 hal. koran)
Pada tahun 1857 adik kelas Si Asta dan Si Angan yang bernama Si Sati berangkat studi ke Negeri Belanda untuk mendapatkan akte guru. Si Sati Nasoetion adalah pribumi pertama yang studi ke Negeri Belanda. Pada tahun 1861 Si Sati gelar Soetan Iskandar yang mengubah namanya menjadi Willem Iskander berhasil mendapat akte guru kembali ke kampong halamannya, lalu mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato tahun 1862 (tidak jauh dari kampong/huta Radjamin Nasution). Pada waktu itu baru ada dua kweekschool negeri di Hindia Belanda yakni di Surakarta (didirikan 1852) dan di Fort de Kock (didirikan 1856). Namun karena sistem pengajaran yang diberikan Willem Iskander di Kweekschool Tanobato sangat efektif, maka setelah dua tahun berdiri lalu diakuisisi pemerintah menjadi kweekschool negeri yang ketiga di Hindia Belanda (kweekschool di Probolinggo baru didirikan tahun 1975, setelah lebih dahulu di Tondano dan Ambon). Atas prestasi Willem Iskander mendidik dan menghasilkan guru-guru berprestasi, lalu pemerintah berencana meningkatkan kapasitas Kweekschool Tanobato dengan kweekschool yang lebih besar (akreditasi-A) di Padang Sidempuan (ibukota Mandheling en Ankola) tahun 1879. Diproyeksikan, Willem Iskander akan menjadi kepala sekolah. Untuk itu, Willem Iskander dikirim pemerintah untuk studi ke negeri Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Ini berarti Willem Iskander akan menjadi kepala sekolah kweekschool pribumi pertama. Willem Iskander tahun 1875 berangkat ke negeri Belanda dengan membawa sejumlah guru di Hindia Belanda untuk mendapatkan akte guru (Willem Iskander bertindak sebagai mentor). Namun setelah setahun studi Willem Iskander untuk mendapat akte kepala sekolah dan adik-adiknya yang untuk mendapatkan akte guru satu per satu meninggal dunia karena sakit. Atas kematian adik-adiknya itu, harapannya telah sirna dan Willem Iskander diduga frustasi hingga dirinya juga dikabarkan telah meninggal dunia tahun 1976 (lihat De Locomotief, 31-07-1876)..

Ketika Medan masih sebuah kampung, Padang Sidempuan sudah jadi kota
Ketika tepat tahun 1879 Kweekschool Padang Sidempuan dibuka secara resmi yang menjadi kepala sekolah adalah Mr. Harmsen.Saat itu, Padang Sidempuan adalah kota terbesar di Tapanoeli dan Sumatra's Oostkust (kini Sumatra Utara). Pada tahun 1883, Charles Adrian van Ophuijsen, guru di sekolah itu dipromosikan menjadi kepala sekolah menggatikan Harmsen tahun 1883. Dari delapan Ophuijsen berdinas di Kweekschool Padang Sidempuan, lima tahun terakhir menjadi sebagai kepala sekolah. Charles Adrian van Ophuijsen adalah penyusun tatabahasa dan ejaan Melayu yang pertama yang dikenal sebagai ejaan van Ophuijsen. Selama ditangani Ophuijsen sekolah guru ini, Kweekschool Padang Sidempuan adalah sekolah guru terbaik di Hindia Belanda (lihat Bataviaasch handelsblad, 30-06-1885). .

Lulusan Kweekschool Padang Sidempuan yang menonjol adalah Dja Endar Moeda (lulus 1884), Soetan Casajangan (1887), Soetan Martoewa Radja (1892) dan Mangaradja Salamboewe (hanya sampai tingkat dua karena 1893 ditutup). Dja Endar Moeda setelah pensiun guru, adalah pengarang roman (novel) dan membuka sekolah di Padang. Pada tahun 1897, Dja Endar Moeda direkrut oleh manajemen koran Pertja Barat menjadi editor. Dja Endar Moeda adlah editor pribumi pertama di Hindia Belanda (Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional! baru menjadi editor tahun 1902). Sejak 1901, Dja Endar Moeda mengakuisisi koran Pertja Barat sekaligus percetakannya. Sejak itu Dja Endar Moeda menjadi radja persuratkabaran di Sumatra: di Padang (Pertja Barat, Insulinde dan Sumatra Nieuwsblad), di Sibolga (Tapian Na Oeli dan Sinar Tapanoeli), di Medan (Pewarta Deli) dan di Atjeh (Pembrita Atjeh).

Soetan Casajangan setelah pension jadi guru, tahun 1905 berangkat studi ke Negeri Belanda untuk mendapatkan akte guru dan akte kepala sekolah (mengikuti jejak Willem Iskander). Soetan Casajangan adalah pribumi kedua yang kuliah di Negeri Belanda. Pada tahun 1908 Soetan Casajangan mendirikan Perhimpunan Hindia Belanda (Indisch Vereeniging) yang kelak 1920 menjadi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Di Batavia, pada tahun yang sama didirikan organisasi sosial di bidang pendidikan Boedi Oetomo tahun 1908, yang mana Radjamin Nasoetion juga turut berpartisipasi dalam fase awal pendirian Soetan Casajangan adalah editor majalah Bintang Perniagaan di Belanda (suksesi majalah Bintang Hindia, asuhan Dr. Abdul Rivai, alumni docter djawa school). Jangan lupa: selama mengikuti kuliah akte kepala sekolah, Soetan Casajangan adalah asisten pengajar Prof. Charles Adrian van Ophuijsen dalam kuliah sastra dan bahasa Melayu di Universiteit Leiden). Pada tahun 1913, Soetan Casajangan menerbitkan buku dalam bahasa Belanda yang dicetak di Barn, Belanda (buku pribumi pertama yang terbit di luar negeri). Pada tahun 1914, Soetan Casajangan pulang ke tanah air dan mengabdi sebagai guru di Bogor, Bukit Tinggi, Batavia, Ambon, Doloksanggul dan terakhir di Batavia. 

Sementara itu, Soetan Martoewa Radja setelah pension menjadi guru tahun 1836 menjadi anggota dewan kota pribumi pertama di Pematang Siantar. Semasa masih menjadi guru, Soetan Martoewa Radja menerbitkan beberapa roman/novel. Soetan Martoewa Radja adalah Kolonel MO Parlindungan. AFP Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindungan adalah insinyur teknik kimia lulusan Jerman/Swiss tahun 1938 dan ketika perang kemerdekaan (1945-1949) memimpin pasukan di Surabaya dan sekitarnya sebagai ahli bom (satu-satunya militer Indonesia yang ahli bom). Setelah pengakuan kedaulatan, MO Parlindungan diangkat Soekarno menjadi yang pertama menjadi Kepala Perusahaan Sendjata dan Mesioe (kini menjadi PINDAD). MO Parlindungan disaat pensiun menerbitkan buku kontroversial yang berjudul Tuanko Rao. Sedangkan Mangardja Salamboewe, anak Dr. Asta (lulusan dokter djawa school pertama yang berasal dari luar Jawa) yang tidak selesai sekolah guru karena ditutup, menjadi penulis di kantor Residen Tapanoeli di Sibolga, lalu pada tahun 1896 diangkat menjadi jaksa. Namun karena melihat ketidakadilan pemerintah rakyat, Salamboewe desersi dari tugasnya dan mengadvokasi rakyat di Natal lalu dirinya dipecat. Setelah bebas dari pemerintahan justru direkrut koran Pertja Timor di Medan sebagai editor (1903-1908). Keberanian Mangaradja Salamboewe diakui oleh koran Sumatra Courant di Medan dan Batavisach Nieuwsbld di Batavia. Dja Endar Moeda, Tirto Adhio Soerjo dan Mangaradja Salamboewe adalah tiga editor pribumi yang paling dikenal pada fase awal di Hindia Belanda.

***
Kweekschool dan ELS di Padang Sidempouan (peta 1877)
Afdeeling Mandheling en Ankola (kini Tapanuli bagian Selatan) tidak hanya surplus beras, kopi dan tenaga kesehatan tetapi juga guru. Pada tahun 1892, dari 18 sekolah negeri di Residenti Tapanoeli, 15 buah diantaranya berada di Mandheling en Ankola dan sisanya ada di Sibolga, Nias dan Singkel (di Medan dan Sumatra Timur sendiri kala itu belum satupun didirikan sekolah negeri). Sebagaimana tenaga kesehatan (dokter), guru-guru asal Mandheling en Ankola mengisi kebutuhan guru di Riaow, Sumatra's Oostkust, Djambi dan Atjeh. Generasi dari alumni Kweekschool Tanobato dan Kweekschool Padang Sidempuan pada berikutnya kemudian melahirkan generasi yang cemerlang dan masif: dokter, guru, jaksa, pengarang (sastrawan), wartawan, pegawai pemerintah, militer dan profesi lainnya. Dari ratusan yang berskala nasional yang cukup menonjol, antara lain sebagai berikut (selain yang disebut di atas):
Dr. Haroen Al Rasjid Nasution dan Dr. Mohammad Hamzah Harahap lulus docter djawa school tahun 1903. Haroen Al Rasjid adalah menantu dari Dja Endar Moeda. Anak Haroen Al Rasjid bernama Dr. Ida Loemongga, PhD adalah pribumi pertama dokter yang bergelar doctor (PhD) lulus dari Universiteit Leiden 1930. Adiknya Ida Loemongga, bernama Letkol Mr. Gele Harun lulus sekolah hukum di negeri Belanda tahun 1938 (Gele Harun yang memimpin perang selama agresi militer Belanda dan menjadi Residen pertama Lampung).
Siswa Docter Djawa School naik ke tingkat empat (1902)
Dr.Abdul Karim dan Dr. Abdul Hakim lulus docter djawa school tahun 1905 (teman sekelas Dr. Tjipto). Abdul Hakim berdinas di Sumatra Barat, Tapanoeli dan Sumatra Timur, Sedangkan Abdul Karim berdinas di Sumatra Barat dan Tapanoeli. Setelah pensiun dokter, Abdul Karim menjadi tokoh pergerakan pemuda di Tapanoeli (tahun 1920-an). Abdul Karim adalah mentor politik Parada Harahap di Sibolga.
Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon, studi hukum ke Belanda 1910. Setelah berkiprah sebagai pegawai pemerintah, sejak 1926 menjadi anggota Volksrand (tiga periode). Mangaradja Soangkoepon dan M. Husni Thamrin adalah dua orang anggota Volksraad yang terkenal vokal di Pejambon (kini di Senayan)
Parada Harahap adalah seorang krani di perkebunan di Deli. Karena tulisan-tulisannya di koran Benih Mardeka di Medan mengenai penyiksaan kuli kontrak di perkebunan, lalu dipecat. Kemudian Parada Harahap menjadi editor Benih Mardeka tahun 1918. Di Padang Sidempuan tahun 1919 menjadi editor koran Sinar Merdeka. Di Sibolga aktif kegiatan politik dan pergerakan pemuda. Pada tahun 1924 hijrah ke Batavia, mendirikan kator berita Alpena dengan WR Soepratman sebagai editor. Kemudian mendirikan koran Bintang Hindia dan Bintang Timoer. Pada tahun 1927 Parada Harahap menggagas perhimpunan organisasi-organisasi di Batavia yang disebut PPKI yang berindak sebagai sekretaris dengan ketua M. Husni Thamrin. PPKI adalah pelaksana kongres pemuda tahun 1928. Pada tahun 1930 sudah memiliki enam surat kabar yang dijuluki oleh pers Jepang sebagai The King of Java Press.. Parada Harahap adalah ketua kadin pribumi pertama 1927. Pada tahun 1931 memimpin rombongan pertama orang pribumi ke Jepang (termasuk M. Hatta yang baru lulus sarjana). Selama karirnya di jurnalistik, Parada Harahap sebanyak 101 kali di sidang di meja hijau, dua belas kali diantaranya masuk bui. Parada Harahap adalah satu-satunya orang Batak yang menjadi BPUPKI. Parada Harahap adalah penyusun repelita pertama di era Soekarno.
Dr. Alimoesa, studi kedokteran hewan di Buitenzorg 1911 (angkatan awal), setelah berdinas di Pematang Siantar, menjadi anggota dewan kota, lalu tahun 1926 terpilih untuk 'dapil' Noord Sumatra (Tapanoeli dan Atjeh) menjadi anggota Volksraad (anggota Volksraad pertama dari Noord Sumatra--yang pertama adalah Abdul Moeis dari Sumatra's Westkust). Adik kelasnya di Buitenzorg adalah Dr. Anwar Nasoetion, lulus tahun 1928 (kelak dikenal sebagai ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion, rektor IPB dua periode 1978-1987).
Mr. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, PhD, studi bidang pendidikan ke Belanda 1911. Setelah pension jadi guru, menjadi anggota Volksraad (1936). Amir Sjarifoeddin, studi ke Belanda tahun 1915 yang kelak menjadi Perdana Menteri. Todoeng adalah sepupu Amir Sjarifoeddin. Kakek mereka bernama Sjarif Anwar, mantan murid Nommensen di Sipirok.
Radjamin Nasoetion kandidat Volksraad dari dapil Tapanoeli
Mangaradja Soangkoepon, Dr. Abdul Rasjid, Mr. Todoeng Soetan Goenoeng Moelia, PhD dan Dr. Radjamin Nasoetion, empat anggota Volksraad asal Mandheling en Ankola pada tahun 1938 yang merupakan jumlah  terbanyak pada periode keempat ini dari Mandheling en Ankola. Pada periode pertama, wakil-wakil Mandheling en Ankola tidak ada yang terpilih. Hanya ada satu wakil dari Sumatra, pemenang yakni Abdoel Moeis dari Sumatra's Westkut. Pada periode kedua, ada dua wakil Mandheling en Ankola yakni Dr. Alimoesa dari dapil Noord Sumatra (Tapanoeli enAtjeh) dan Mangaradja Soangkoepon dari dapil Sumatra's Oostkust. Pada periode ketiga, dua wakil dari Mandheling en Ankola adalah Mangaradja Soangkoepon (Oost Sumatra) dan Dr. Abdoel Rasjid (Tapanoeli). Pada periode keempat (terakhir), awalnya ada dua yakni Mangaradja Soangkoepon dan Dr. Abdul Rasjid. Lalu ditambah Todoeng Harahap, PhD yang tidak melalui pemilihan tetapi penunjukan pemerintah (golongan pendidikan). Dalam perkembangannya menyusul Radjamin Nasoetion, sebagai anggota Volksraad pengganti dari Parindra/Oost Java. Sebelumnya, Radjamin Nasoetion pernah diusulkan dari kampung halaman di Mandheling en Ankola untuk wakil Tapanoeli (1934), namun dalam pemilihan akhir kalah bersaing dengan Dr. Abdul Rasjid (incumbent). Dr. Abdul Rasjid adalah adik kelas Radjamin Nasoetion di STOVIA.
Kajamoedin gelar Radja Goenoeng, lahir di Padang Sidempuan 1883.Mantan guru yang telah menerbitkan sejumlah buku pelajaran sekolah dan menjadi penilik sekolah di Sumatra Timur. Kajamoedin Harahap adalah pribumi pertama yang menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) di Medan pada tahun 1918.
Panoesoenan, Soetan Parlindungan, Mangaradja Ihoetan dan Abdullah Lubis tokoh-tokoh pers di fase awal di Sumatra Utara (semuanya mantan guru yang berasal dari Mandheling en Ankola). Mereka ini adalah penerus Dja Endar Moeda dan Mangaradja Salamboewe (keduanya alumni Kweekschool Padang Sidempuan) di Medan. Dja Endar Moeda, pemilik dan editor Pewarta Deli sejak 1910 dan Mangaradja Salamboewe editor di Pertja Timor (1903-1908). Mangaradja Salamboewe meninggal 1908, sedangkan Dja Endar Moeda pindah ke Atjeh dan meninggal 1926. Pewarta Deli dilanjutkan oleh Panoesoenan, karena delik pers dan dihukum, digantikan oleh Soetan Parlindungan, dan kemudia diteruskan oleh Mangaradja Ihoetan dan Abdullah Lubis. Kemudian Mangaradja Ihoetan menerbitkan koran baru bernama Sinar Deli. Abdullah Lubis pemilik Pewarta Deli merekrut Adinegoro, Editor Bintang Timoer di Batavia (milik Parada Harahap) sebagai editor Pewarta Deli pada tahun 1931. Adinegoro dan Mochtar Lubis (editor Indonesia Raya) kelak mendirikan PWI di Jakarta. .
Mr. Radja Enda Boemi, PhD, ahli hukum pertama orang Batak, lulus rechtschhol di Batavi (angkatan pertama), satu dari dua dari Sumatra, dan satu dari delapan di Hindia Belanda. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi Siregar adalah doctor hukum pribumi pertama (PhD) di Hindia Belanda, lulus dari Universiteit Leiden tahun 1925. Setelah mendapat gelar PhD, diangkat menjadi ketua pengadilan di Semarang, kemudian di Surabaya dan terakhir di Buitenzorg..
Mr. Masdoelhak Nasution, PhD, doctor hukum 'cum laude' lulusan Universiteit Leiden lulus tahun 1940 dan kemudian pulang ke tanah. Pasca proklamasi diangkat menjadi Residen pertama Sumatra Tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Lalu kemudian dipanggil ke Yogya untuk menjadi penasehat hukum Soekarno dan Hatta (satu-satunya ahli hukum bergelar doktor di lingkaran dalam RI di Yogyakarta). Pada saat agresi militer kedua (19 Desember 1948), Masdoelhak orang pertama yang ditangkap militer Belanda dan kemudian ditembak di Pakem beberapa hari kemudian.
Mr. Egon Hakim Nasoetion adalah lulusan sekolah hukum di Belanda. Pasca proklamai, di masa pensiun mendirikan perguruan tinggi di Padang. Egon Hakim adalah menantu dari M. Husni Thamrin. Egon Hakim adalah koordinator ekonomi dan keuangan PRRI di Sumatra Barat. Egon Hakim dan Sumitro Djojohadikoesomo, sama-sama alumni Belanda, berteman dekat dan tokoh penting PRRI dalam urusan ekonomi.
Ida Nasoetion, Presiden pertama Pesatuan Mahasiswa Universiteit van Indonesia (1947) yang meliputi fakultas kedokteran di Jakarta, fakultas pertanian di Buitenzorg, fakultas teknik di Bandung, fakultas kedokteran di Surabaya dan fakultas ekonomi di Makassar. Ida Nasution adalah esais dan kritikus terkemuka, sebagaimana Chairil Anwar (penyair), Idrus (prosa). Pada Maret 1947 diculik militer Belanda dan hingga ini hari tidak diektahui dimana makamnya.
Sanusi Pane, Armijn Pane dan Lafran Pane tiga bersaudara anak dari Soetan Pangoerabaan Pane, seorang mantan guru, novelis dan pengusaha di Mandheling en Ankola. Sanusi Pane dan Armijn Pane awalnya berdua di STOVIA, karena tertarik sastra seperti ayah mereka lalu beralih ke bidang sastra. Lafran Pane adalah alumni FISIP UGM dan pendiri HMI (1947). Soetan Pangoerabaan Pane pada tahun 1952 mendirikan organisasi para pensiunan di Batavia.
Dr. Parlindoengan Lubis, HIS di Padang Sidempuan, MULO di Medan dan salah satu lulus AMS terbaik di Batavia dan direkomendasikan studi kedokteran di Belanda. Parlindungan pernah menjabat Ketua PPI (pasca M. Hatta). Seorang aktivis garis keras dan anti fasis. Setelah lulus buka praktek dokter di Belanda, lalu saat Jerman invasi ke Belanda, Parlindoenga ditangkap tentara militer Jerman lalu dimasukkan kamp konsentrasi. Dr. Parlindungan adalah satu-satunya orang Indonesia di kamp konsentrasi NAZI. Di jaman Jepang kembali ke tanah air. Selama pemerintahan pindah ke Yogya, Dr. Parlindungan diangkat sebagai Kepala Kesehatan republik.
Abdul Hakim Harahap (1905-1961), pernah menjadi anggota dewan kota Medan, Kepala Kantor Keuangan Indonesia Timur di Makassar, di era Jepang/Kemerdekaan pernah menjadi wakil dan residen Tapanoeli, panasehat ekonomi ke KMB yang ahli tiga bahasa asing (Belanda, Inggris dan Prancis), Gubernur Sumatra Utara yang ketiga.
Soetan Pane Paroehoem seorang lulusan sekolah notariat di Batavia. Notaris pertama orang Batak. Notaris pribumi kedua di Sumatra dan satu diantara sepuluh notaris pribumi di Hindia Belanda. Abdul Hakim Harahap adalah pendiri Universitas Sumatra sedang Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem yang membuat akta notaris pendirian Universitas Sumatra Utara dan Universitas Islam Sumatra Utara.
GB Josua Batubara, 1901-1970 alumni sekolah guru di Poerworedjo dan melajutkan studi ke Belanda, pendiri sekolah swasta republik di Medan, ketua PON-III dan Kepala Dinas Pendidikan pertama Sumatra Utara.
Mochtar Lubis (1922-2004), seorang jurnalis dan sastrawan terkenal Indonesia. Korannya bernama Indonesia Raya, koran bertiras besar di Jakarta yang dibreidel karena Mochtar Lubis mengkrtik pemerintah dan militer. Mochtar lubis menuduh kabinet Ali Sastroamidjojo tidak becus karena mempertahankan Ruslan Abdulgani karena dugaan melakukan korupsi.
Kolonel Abdul Haris Nasution seorang militer, KASAD, Menteri Pertahanan di era Soekarno, satu dari tiga jenderal besar (Sudirman, Nasoetion dan Soeharto), dan seorang militer yang tidak hanya jago menembak tetapi juga jago menulis.
Madong Lubis setelah pensiun guru menjadi anggota dewan kota Pematang Siantar dan pejuang Kota Medan dalam masa agresi militer.
Dr. Gindo Siregar alumni STOVIA dan selama masa agresi militer ditunjuk sebagai Gubernur Militer di Sumatra Bagian Utara dengan pangkat Mayor Jenderal.
Yahya Malik Nasution, seorang pengusaha di Batavia, salah satu pendiri PNI, orang yang menawarkan Soekarno masuk PNI dan yang mendaulat Soekarno sebagai Ketua PNI. Yahya Malik adalah mertua dari Bob Tutupoli.
Adam Malik, pendiri kantor berita Antara, menerti luar negeri, satu-satu orang Indonesia yang menjadi ketua PBB dan terakhir menjadi Wakil Presiden.
Sakti Alamsjah Siregar seorang penyiar yang menyiarkan pertama kali isi Proklamasi di radio Bandung dan pendiri koran Pikiran Rakyat Bandung.
Kolonel Zulkifli Lubis anak seorang guru yang berkarir di Aceh, sekolah di AMS Yogya dan menjadi Kepala Intelijen RI yang pertama.
Kolonel MO Parlindoengan Siregar, anak guru Soetan Martoewa Radja, alumni teknik kimia Jerman/Swiss, ahli bom dalam perang melawan sekutu dan selama agresi militer di Surabaya dan sekitarnya, setelah pengakuan kedaulatan RI MO Parlindungan menjadi Kepala Pindad yang pertama (waktu itu namanya Perusahaan Senjata dan Mesiu).
Kapten Marah Halim Harahap selama agresi Belanda memimpin pasukan di Indragiri, kelak menjadi Gubernur Sumatra Utara dengan pangkat terakhir Letjen.
Mr. SM Amin Nasution anak seorang guru yang berkarir di Aceh, sekolah hukum di Batavia (dua abangnya alumni STOVIA, Amir dan Munir) dan SM Amin adalah Gubernur Sumatra Utara yang pertama.
Mr. Loeat Siregar, alumni rechtschool Batavia, pasca proklamasi menjadi Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) dan Residen pertama Sumatra Timur di Medan..
Radja Djundjungan Lubis, alumni STOVIA, berkarir di Tapanoeli, pasca kemerdekaan menjadi Gubernur Sumatra Utara yang sebelumnya menjabat sebagai bupati di Sibolga. .
Dan sebagainya.

***
foto dari http://www.tripadvisor.fr
Dengan demikian, Radjamin Nasoetion adalah salah satu putra terbaik yang berasal dari Mandheling en Ankola (berubah menjadi afdeeling Padang Sidempuoen) di era Belanda di Hindia Belanda (pra republik Indonesia). Tidak salah para tokoh adat Surabaya pada tahun 1931 menunjuk Radjamin Nasution sebagai wakil rakyat Surabaya di dewan kota (gemeenteraad) Surabaya yang hampir semua anggota dewan orang Belanda/Eropa dan Tionghoa. Amanat itu telah ditunaikan Radjamin Nasution dengan baik dan membuat penduduk Surabaya menjadi lebih sejahtera. Akan tetapi, Radjamin Nasoetion, sang walikota Surabaya pasca pengakuan kedaulatan haknya yang masih walikota dirampas, lalu di jaman reformasi yang sekarang, seakan hasil kerjanya di Surabaya (selama tiga era, Belanda, Jepang dan Republik) dicampakkan begitu saja, bahkan tidak diakui pula sebagai walikota Surabaya yang pertama, karena itu fotonya juga tidak terpampang di kantor walikota. Dua foto yang ada dalam artikel ini, anggaplah sebagai pengganti foto Radjamin Nasution di kantor walikota Surabaya itu. Merdeka!

***
Sesungguhnya hubungan baik antara anak-anak Mandheling en Ankola di Tapanoeli dan Surabaija di Oost Java sudah sejak lama terjadi. Ketika Belanda pertama kali memasuki Sumatra bagian utara adalah di Tapanoeli, tepatnya di Mandheling en Ankola pada tahun 1833. Militer Belanda masuk ke Mandheling en Ankola via Natal dalam rangka melumpuhkan kaum Padri dan sekaligus membebaskan Mandheling en Ankola dari tekanan Padri (pasukan Bonjol dan pasukan Tambusai). Pasukan Belanda, sebagian besar terdiri dari prajurit dari anak-anak Madoera dan anak-anak Oost Java. Pasca Perang Bonjol 1837 (pimpinan Tuanku Iman Bonjol) dan pasca Perang Pertibi 1838 (pimpinan Tuanku Tambusai), para prajurit ini terkonsentrasi di benteng-benteng dan garnisiun di Mandheling en Ankola.

Mandheling en Ankola (afd Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan)
Pasukan Bonjol dan pasukan Tambusai sudah sejak lama merugikan dan menyengsarakan penduduk Mandheling en Ankola karena dijadikan lumbang pangan dan sumber bahan perdagangan. Ini juga yang dilihat pemerintahan colonial mengapa mereka ‘bertaruh’ memasuki pedalaman Mandheling en Ankola. Singkat kata: ketika Belanda mendirikan benteng-benteng dan garnisu di Mandheling en Ankola suasana menjadi tenang, penduduk mulai aktif dan produktif menjalani kehidupan. Karenanya, militer yang ada dipandang penduduk sebagai pelindung daripada merugikan dan menyengsarakan. Prajurit Madoera dan Jawa yang ada di benteng-benteng dan garnisun dengan sendirinya bebas berinteraksi dengan penduduk (karena mereka bukan lawan dari penduduk). Yang tidak terduga, setelah para prajurit ini pension, sebagian besar mereka tidak kembali (terutama Jawa), malah menetap di Mandheling en Ankola dan terkonsentrasi di Padang Sidempuan dengan membuka kampong sendiri yang dikenal sekarang sebagai Kampung Jawa. Kampung ini sudah ada sejak tahun 1870-an. Para mantan prajurit ini kemudian menjadi pekerja-pekerja di perkebunan kopi di Tapanoeli. Ketika terbuka koneksi dengan perkebunan-perkebunan di Sumatra Timur, populasi etnik Jawa di Tapanoeli semakin bertambah dan berkembang. Inilah asal-usul mengapa sekarang tercatat cukup besar populasi etnik Jawa di Tapanoeli khususnya di Mandheling en Ankola.

Pada masa kini, jika Radjamin Nasution merupakan salah satu dari generasi pertama orang Mandheling en Ankola di Surabaya dan Jawa Timur, maka Radjamin Nasution dapat disebut Opung. Penduduk Jawa Timur asal Mandheling en Ankola (Padang Sidempuan) yang ada sekarang adalah generasi keempat. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Jawa Timur yang berasal dari Tapanuli Selatan (subetnik Angkola dan subetnik Mandailing) tercatat sebanyak 30.904 jiwa. Jumlah ini memang tidak ada artinya dibandingkan dengan etnik Jawa sebanyak 29.824.950 jiwa dan etnik Madura sebanyak 6.568.438 jiwa. Akan tetapi jika dibandingkan dengan etnik non Jawa/Madura (pendatang), maka penduduk asal Tapanuli Selatan di Jawa Timur adalah nomor tiga terbanyak setelah etnik Tionghoa  (236.124 jiwa) dan etnik Sunda (45.262 jiwa). Penduduk Jawa Timur yang berasal dari etnik Bali sendiri hanya 19.316 jiwa,
Kisah hubungan berikutnya antara anak-anak Mandheling en Ankola dengan arek-arek Madoera dan Jawa (Timur) bermula dari kisah Abdul Firman gelar Mangaradja Soangkoepon. Kisahnya begini: Selesai sekolah rakyat di Sipirok, Abdul Firman lalu merantau ke Medan. Di Medan, 1903  Abdul Firman melamar dan sembilan orang mengikuti ujian untuk klein ambtenaar. Hanya dia sendiri yang pribumi. Hasilnya tidak diterima. Abdul Firman ternyata tidak patah arang. Modal sekolah rakyat tidak cukup. Tahun itu juga ia mengikuti ujian masuk ELS (Europeesche Lagere School) sehubungan dengan diperbolehkannya warga pribumi utama sekolah di ELS. Sekolah ini lamanya tujuh tahun. Setelah lulus di Medan (1910) ia tidak ke Batavia sebagaimana orang-orang kebanyakan melamar ke STOVIA. Abdul Firman justru menuju Belanda. Dari Belawan ia berangkat dengan kapal Prinses Juliana dan berlabuh di Rotterdam. Di pelabuhan besar ini, Abdul Firman dijemput Soetan Casajangan dan diantar ke Leiden untuk mencari sekolah tinggi.Soetan Casajangan adalah anak Padang Sidempoean yang sudah berada di Belanda sejak 1905.

Abdul Firman gelar Magaradja Soangkoepon tiba-tiba menjadi terkenal di Negeri Belanda karena namanya diberitakan di koran-koran yang terbit sekitar Maret 1912. Apa pasal? Dua imigran dari Madura terlibat perkelahian dengan sesama imigran dari Jawa (oost java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung, karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda. Untuk mencari penerjemah sekaligus untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata tidak mudah. Dari sejumlah mahasiswa yang ada hanya Abdul Firman yang bersedia dan sukarela (tanpa paksaan). Dari namanya memang pantas tetapi ternyata juga Abdul Firman adalah orang yang alim. Karenanya masyarakat Belanda menganggap Abdul Firman adalah pemimpin Islam dari para imigran dari Hindia Belanda. Abdul Firman tidak keberatan (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 13-03-1912)

Kisal lainnya: Ismail Harahap adalah generasi berikut asal Mandheling en Ankola (afdeeling Padang Sidempuan) setelah Radjamin Nasution. Pada era Radjamin Nasution sekolah yang ada hanya terbatas pada STOVIA, Rechtschool dan Pertanian dan Kedokteran Hewan di Buitenzorg. Pada era Ismail Harahap, berbagai jenis sekolah dibuka di Batavia seperti sekolah ekonomi, sekolah bea dan cukai, sekolah perdagangan dan sebagainya. Ketika sekolah apoteker (artsenubereidkunst) dibuka pertama kali tahun 1938. Pada tahun 1940 dari 51 siswa yang mengikuti ujian akhir, hanya 17 siswa yang lulus dua diantaranya berasal dari Mandheling en Ankola yang bernama Pandapotan Siregar dan Ismail Harahap. Ismail Harahap dan kawan-kawan yang lulus diakui sebagai asisten apoteker  (lihat  Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1940).[yang satu kloter dari Ismail Harahap, dari Padang Sidempuan berangkat studi ke Batavia adalah Kalisati Siregar, mengambil studi perdagangan--Kalisati Siregar kelak dikenal sebagai ayah dari Hariman Siregar (tokoh penting Malari 1974 di Jakarta).
Ismail Harahap setelah bekerja di Batavia beberapa lama, tahun 1941 Ismail Harahap ditempatkan pemerintah di Surabaya. Ismail Harahap tampaknya sumringah di kota ini, karena di Surabaya sudah banyak anak-anak Padang Sidempuan, apalagi tokoh senior Radjamin Nasution sudah sejak lama terkenal di Surabaya. Lalu, ketika, tahun 1942 terjadi pendudukan Jepang di Surabaya, Ismail Harahap tetap berada di Surabaya, malahan ketika Radjamin Nasution diangkat menjadi walikota oleh militer Jepang, Ismail Harahap justru direkrut untuk menjadi kepala apoteker kota yang sedang kosong yang ditinggalkan oleh orang-orang Belanda (saat itu jumlah apoteker di Indonesia masih sangat sedikit, dan Ismail Harahap satu-satunya apoteker pribumi yang berada di Surabaya).
Ismail Harahap yang lahir di Padang Sidempuan, beristri seorang wanita cantik yang berdarah Prancis adalah ayah dari Andalas Harahap gelar Datoe Oloan atau lebih dikenal sebagai Ucok AKA.  Andalas Harahap lahir di Surabaya, 25 Mei 1943.
Pada waktu Belanda kembali membonceng sekutu (1945-1949), Ismail Harahap termasuk yang ikut mengungsi ke luar kota (Mojokerto dan Tulungagng), dibawah pimpinan Radjamin Nasution (walikota Surabaya). Selama perang, Ismail Harahap menjadi kepala logistik obat-obataan dari pihak pemerintahan di pengungsian. Sementara Dr. Irsan (anak Dr. Radjamin Nasution) menjadi kepala kesehatan militer (TNI) dengan pangkat terakhir Letkol. Setelah perang usai (pengakuan kedaulatan RI), Ismail Harahap kembali ke Surabaya, tidak menjadi pejabat tetapi lebih memilih untuk membuka usaha apotik yang diberi nama Apotik Kali Asin.  Namun karena republik Indonesia ingin membuka sekolah farmasi di Surabaya, maka Ismail Harahap diminta untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut. Kepala sekolah yang ditunjuk adalah Dr. GP Parijs (Belanda), Drs. Gouw Soen Hok, Yap Tjiong Ing dan Tjoa Siok Tjong. Sekolah farmasi Surabaya tersebut, wisuda pertama pada tanggal 27 Juni 1954 (lihat De vrije pers : ochtendbulletin, 29-06-1954).
Andalas Harahap, setelah remaja sangat menyukai musik. Karena itu Ismail Harahap membelikan perangkat alat music kepada Andalas alias Ucok. Ketika Ucok dan kawan-kawan mendirikan grup musik (1967), nama pop Andalas menjadi Ucok AKA (Ucok Apotik Kali Asin).
Ismail Harahap yang lahir di Tapanoeli menjadi arek Soerabaja. Demikian juga Andalas Harahap gelar Datoe Oloan yang nama popnya Ucok AKA juga menjadi arek Surabaya (lahir dan meninggal di Surabaya). Ucok AKA dan grup musiknya, AKA Group adalah pionir musik rock di Indonesia.
***
Radjamin Nasution, Ismail Harahap, Irsan Radjamin Nasution dan Andalas Harahap gelar Datu Oloan alias Ucok AKA, keempatnya layak menjadi arek Surabaya.


Pahlawan Nasional asal Mandailing dan Angkola yang berjuang di berbagai bidang dan di berbagai tempat di Indonesia:
  • Tuanku Tambusai (Tuanku Haji Muhammad Saleh Harahap, 1784-1882) berjuang di Riau.
  • Zainul Arifin (Kiai Haji Zainul Arifin Pohan, 1909-1963) berjuang di Sumatra Timur
  • Adam Malik (H. Adam Malik Batubara, 1917-1984) berjuang di Batavia
  • Abdul Haris Nasution (Jenderal Besar Dr. Abdul Haris Nasution, 1918-2000) berjuang di Jawa Barat.
  • Masdoelhak (Mr. Masdoelhak Nasution, PhD, 1912-1948) berjuang di Yogyakarta.
Tokoh lain asal Mandailing dan Angkola yang layak menjadi Pahlawan Nasional:
  • Gele Harun (Gele Harun Nasution, 1910-1975) berjuang di Lampung (sedang proses)
  • Radjamin Nasution (Dr. Radjamin Nasution, 1892-1957) berjuang di Surabaya/Jawa Timur
  • Parada Harahap di Medan, Padang Sidempuan dan Batavia dan nama-nama lainnya






*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: