03/07/14

Bag-3: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Partai Politik, Volksraad dan Surat dari Anaknya di Tarempa



(bagian ketiga)

Walikota Surabaya, Fuchter
Koran Soerabaijasch Handelsblad yang terbit tanggal 13-05-1938 melaporkan bahwa Radjamin termasuk salah satu kandidat pribumi untuk calon perwakilan dewan pusat dari Surabaya. Pada saat yang bersamaan sebagaimana diberitakan koran De Indische Courant tanggal 04-06-1938, Radjamin termasuk salah satu pejabat pemerintah yang naik pangkatnya menjadi Kelas 2 (Eselon 1). Sementara itu, koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 20-07-1938 memberitakan bahwa Radjamin menjadi salah satu petinggi (sekretaris) Parindra Kota Surabaya. Selanjutnya diberitakan koran De Indische Courant, 01-08-1938 bahwa Radjamin menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan umum Stadgemeenteraad (Perwakilan Dewan Kota) dari Parindra untuk Volksraad.

Dari hasil pemilihan umum putaran pertama yang dilakukan, koran Soerabaijasch Handelsblad dan koran De Indische Courant yang terbit 11-08-1938 melaporkan bahwa Radjamin termasuk lima kandidat dari Parindra yang berhasil maju ke putaran kedua dengan jumlah perolehan 878 suara (minimum jumlah suara 777). Menurut koran Bataviaasch Nieuwsblad, 22-08-1938, Radjamin termasuk salah satu yang berhasil dari delapan orang mewakili Oost Java untuk Volksraad dari Parindra. Selanjutnya menurut koran De Indische Courant, 24-09-1938, Radjamin adalah salah satu dari empat De Gemeneteraad van Soerabaia ke Volksraad. Empat wakil lainnya dari Oost Java, dua dari Malang, dan masing-masing satu orang dari Mojokerto dan Bangil.

Koran De Indische Courant 30-09-1938 memberitakan nama-nama kandidat anggota Volksraad wakil pribumi dari Parindra dari seluruh Indonesia (West Java, Midden Java, Oost Java, Vorstenlanden (Solo danYogya), Borneo, Celebes, dan Soematra. Nama-nama selain Radjamin dari Parindra, termasuk M.H. Thamrin (daerah pemilihan West Java/Batavia-C) dan R.P. Iskaq Tjokrohadisoerjo (daerah pemilihan Oost Java/Soerabaia).

***
Radjamin Nasoetion yang sudah menyandang nama ‘arek soerabaia’ masih sering bolak-balik dari Batavia ke Soerabaia. Tanggal 10-2-1939, Radjamin juga turut menghadiri pemakaman rekannya Dokter Walandouw. Di Batavia, Radjamin menjadi pengurus pusat Parindra. Jika ada kesempatan ‘pulang’ ke Surabaya, Radjamin tetap mengawasi pemerintahan dan pembangunan di Kota Surabaya. Pengaruhnya masih sangat kuat diantara anggota pribumi Dewan Kota. Radjamin dijuluki  sebagai Wethouder di Surabaya. Sebutan Wethouder merupakan sebuatan bagi anggota tertua dewan kota di Inggris.
Sahabat Radjamin, dr. Soetomo dan keluarga, 1937 (KITLV)

Bulan April 1940, Radjamin turba kembali ke Surabaya. Dia berkeliling kota, blusukan ke tempat-tempat tertentu: pasar, pinggir jalan (proyek pembangunan jalan), stasion, terminal dan perkampungan. Radjamin tidak segan-segan mengkritik pegawai kota yang berbangsa Belanda yang tidak becus melaksanakan tupoksinya. Rupanya gaya Radjamin ini di masa kini menular kepada Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Hebatnya, Radjamin blusukan minta langsung didampingi oleh Walikota Fuchter. Walikota bangsa Belanda ini ‘nurut’ sama Anggota Volksraad pribumi, Radjamin. Kepada bangsa Belanda, Radjamin sangat galak, tetapi sangat mencintai rakyatnya dan sangat hormat kepada teman-teman. Radjamin sebagaimana diberitakan di koran Surabaya yang terbit tanggal 23-2-1941, menghadiri pemakaman rekannya Dr. Soetomo. Radjiman berpidato dengan lembut dan hangat dalam upacara pemberangkatan ke pemakaman.

***
Di Surabaya, Radjamin tiba-tiba mendapat surat dari anak perempuannya, seorang dokter yang bersuamikan dokter yang sama-sama berdinas di Tarempa, Tandjong Pinang, Kepulauan Riau. Surat ini ditujukan kepada khalayak dan cepat beredar, karena termasuk berita penting masa itu. Surat kabar Soeara Oemoem yang terbit di Surabaya mempublikasikan isi surat keluarga (anak kepada ayahnya) tersebut menjadi milik public sebagaimana dikutip oleh koran De Indische Courant tanggal 08-01-1942. Berikut isi surat tersebut.

Tandjong Pinang, 22-12-194l.
Dear all. Sama seperti Anda telah mendengar di radio Tarempa dibom. Kami masih hidup dan untuk ini kita harus berterima kasih kepada Tuhan. Anda tidak menyadari apa yang telah kami alami. Ini mengerikan, enam hari kami tinggal di dalam lubang. Kami tidak lagi tinggal di Tarempa tapi di gunung. Dan apa yang harus kami makan kadang-kadang hanya ubi. Tewas dan terluka tidak terhitung. Rumah kami dibom dua kali dan rusak parah. Apa yang bisa kami amankan, telah kami bawa ke gunung. Ini hanya beberapa pakaian. Apa yang telah kami menabung berjuang dalam waktu empat tahun, dalam waktu setengah jam hilang. Tapi aku tidak berduka, ketika kami menyadari masih hidup.

Hari Kamis, tempat kami dievakuasi….cepat-cepat aku mengepak koper dengan beberapa pakaian. Kami tidak diperbolehkan untuk mengambil banyak. Perjalanan menyusuri harus dilakukan dengan cepat. Kami hanya diberi waktu lima menit, takut Jepang datang kembali. Mereka datang setiap hari. Pukul 4 sore kami berlari ke pit controller, karena pesawat Jepang bisa kembali setiap saat. Aku tidak melihat, tapi terus berlari. Saya hanya bisa melihat bahwa tidak ada yang tersisa di Tarempa.

Kami mendengar dentuman. Jika pesawat datang, kami merangkak. Semuanya harus dilakukan dengan cepat. Kami meninggalkan tempat kejadian dengan menggunakan sampan. Butuh waktu satu jam. Aku sama sekali tidak mabuk laut….. Di Tanjong Pinang akibatnya saya menjadi sangat gugup, apalagi saya punya anak kecil. Dia tidak cukup susu dari saya...Saya mendapat telegram Kamis 14 Desember supaya menuju Tapanoeli...Saya memiliki Kakek dan bibi di sana…Sejauh ini, saya berharap kita bisa bertemu….Selamat bertemu. Ini mengerikan di sini. Semoga saya bisa melihat Anda lagi segera.

Penyerangan oleh Jepang dimulai dengan pengeboman di Filipina dan Malaya/Singapura. Pemboman oleh Jepang di Tarempa merupakan bagian dari pengeboman yang dilakukan di wilayah Singapura. Tarempa sangat dekat dari Singapura.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber utama tempo doeloe.

Tidak ada komentar: