08/07/14

Bag-6: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Setelah Berjuang Lantas Disingkirkan, Berjuang Kembali Melalui Parlemen



(bagian keenam)

De vrije pers: ochtendbulletin, 08-04-1950 melaporkan bahwa kemarin Dul Arnowo ditunjuk untuk menjabat sementara Gubernur Jawa Timur. Tentang Radjamin, Arnowo tidak bersedia menjawab, tetapi mengiyakan bahwa administrasi Pemerintah Kota Surabaya menjadi tanggungjawabnya karena sebelumnya Gubernur Samadikun telah mengambil alih sementara fungsi administrasi Pemerintah Kota Surabaya. Arnowo hanya menjawab bahwa dia mendengar Radjamin sedang bersiap menemui yang berwenang, Kementerian Dalam Negeri di Yogya.

***
Setelah berita De Vrije Pers (8/4/50) di atas, tidak pernah muncul lagi pemberitaan tentang posisi Radjamin gelar Sutan Kumala Pontas sebagai Walikota Surabaya.Seakan hilang tertelan bumi. Seminggu kemudian, sebagaimana diberitakan oleh koran De vrije pers: ochtendbulletin, 17-04-1950,  RadjaminNasution terpantau berada di dalam pembukaan kantin ALRIS (Angkatan Laut RIS). Radjamin Nasution terlihat disambut hangat dan akrab oleh Kepala Departemen Informasi ALRIS, Kapten Sutan Samsudin.Kapten Samsudin mengundang sejumlah pihak dalam acara pembukaan ini selain relaksasi juga untuk memberi dorongan moral bagi pasukan angkatan laut.Kolonel Nazir (Komando Laut di Surabaya) berpidato sekaligus membuka resmi kantin ini.Turut hadir dalam acara ini Gubernur Sipil,Samadikun.

Radjamin juga tampak hadir ketika ada pertemuan yang diprakarsai oleh Front Pemuda Nasional sebagaimana dilaporkan koran De vrije pers: ochtendbulletin, 28-04-1950. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah partai politik, sarikat buruh dan asosiasi pemuda untuk mendengarkan paparan beberapa pembicara yang mengupas tema demiliterisasi dan demokrasi di Jawa Timur.Salah satu pembicara adalah Iwan Simatupang.Dalam pertemuan ini dari pihak pemerintah diwakili oleh wakil gubernur, Ruslan Wongsokusumo.Radjamin dalam forum pemuda ini diundang sebagai tokoh pemuda kehormatan. Radjamin di masa mudanya di Stovia termasuk aktivis mahasiswa yang pernah sama-sama dengan dr. Soetomo membentuk ‘Boedi Oetomo’.

De vrije pers: ochtendbulletin, 07-07-1950 melaporkan bahwa posisi defenitif walikota Surabaya ternyata belum tuntas. Dul Arnowo yang menjabat Plt Gubernur masih mengambil tanggungjawab administrasi Pemerintahan Kota Surabaya. Arnowo juga mengatakan bahwa pengusulan  Gondowardojo sebagai walikota belum ada keputusan. Permasalahan ini untuk sementara diendapkan hingga anggota Dewan Kota yang baru pada nantinya sudah terpilih.

Radjamin menolak jadi Ketua Dewan, Proposal lama bersemi kembali

Selanjutnya, koran De vrije pers: ochtendbulletin, 04-12-1950 melaporkan bahwa telah terjaring sebanyak 110 kandidat untuk dewan kota (DPRD Kota) dan juga telah dipilih sebanyak 32 orang yang akan duduk di kursi dewan. Diantara kandidat yang terpilih terdapat namaRadjamin dari Partai Parindra. Dalam koran ini juga, diumumkan oleh Plt Walikota Surabaya, Dul Arnowo, pemilihan anggota Ketua DPRD Kota Surabaya akan dilaksanakan tanggal 7 Desember 1950.

De vrije pers: ochtendbulletin, 07-12-1950 melaporkan bahwa proses pemilihan ketua dan wakil ketua dewan telah dilaksanakan. Dul Arnowo yang membuka sidang, mengusulkan anggota dewan tertua yang akan memimpun sidang pemilihan Ketua Dewan. Usul ini diterima forum.Setelah dicek dan verifikasi, ternyata anggota dewan tertua adalah Radjamin.Mungkin Dul Arnowo dan Radjamin sama-sama tidak menyangka hasilnya.Oleh karena itu, maka yang menjadi Ketua Formatur (Interim) otomotis adalah Radjamin.Ini berarti untuk kali pertama antara Radjamin vs Arnowo saling berhadapan secara formal di forum resmi.

Dalam pembukaannya, Radjamin sangat senang menerima tugas sementara ini (maksudnya Ketua Formatur), karena Radjamin teringat bahwa dewan sebelumnya (semasa Radjamin menjadi anggota dewan sebelum perang (gemeenteraad) hanya ada 10 pribumi, tapi kini semuanya yang 32 orang adalah asli pribumi)).Dia meminta bahwa di pundak para anggota dewan terdapat tanggungjawab yang besar untuk kemajuan kota. Radjamin sendiri dalam pidatonya (yang juga dihadiri Arnowo) tidak akan mencalonkan untuk memperebutkan kedudukan ketua dewan (mungkin Arnowo sedikit lega dengan kalimat ini). Akan tetapi, Radjamin dalam pidatonya akan membawakan proposal utamanya ketika Radjamin dulu kali pertama di hari pertama duduk di dewan kota sebelum perang (Gemeenteraad) Surabaia (mungkin Arnowo sedikit kaget, proposal apa itu?).

Jelas terkesan dari situ, bahwa Radjamin sangat tenang dan berwibawa serta cerdik (kata lain cerdas).Mungkin orang-orang kala itu melihat ada pertentangan dari kedua tokoh ini.Tetapi mungkin juga antara keduanya sesungguhnya tidak ada masalah pribadi. Oleh karenanya sejauh ini tidak ada pernyataan frontal antar satu sama lain. Dalam pencalonan ketua dewan, Radjamin tidak berambisi benar untuk menjadi figure ketua, tetapi sangat bergelora tentang proposal untuk rakyat.Kalau untuk rakyat, Walikota Fuchter yang Belanda di era Belanda bisa digertak oleh Radjamin, apalagi dengan Arnowo.Tapi Arnowo bukan tandingannya, tantangan Radjamin sesungguhnya adalah meninggikari rakyat.Radjamin tampaknya konsisten dengan apa yang dari dulu dipikirkannya. Ringkas berita, akhirnya ketua terpilih Suprapto (Masyumi) dan wakil adalah R. Sanusi (PIR) plus enam anggota komite.

***
De vrije pers: ochtendbulletin, 08-02-1951 melaporkan bahwa kantor pemilu di Surabaya telah menerima total 157 kandidat untuk parlemen Provinsi (DPRD Provinsi).Dari jumlah tersebut, 110 orang dari partai politik, 19 orang dari sarikat pekerja, sembilan organisasi tani, lima organisasi pemuda, dan tujuh dari enam  organisasi sosial perempuan.Diantara kandidat terdapat minoritas Tionghoa, Mr Tan Germ Liong, dan yang mewakili kelompok Indo, Mr HJP Hoyer.Dari 110 yang berasal dari partai politik, ada 51 orang dari Partai Masyumi dan 22 orang dari PN1. Juga dalam daftar kandidat ini  termasukSoetomo (Bung Tomo), Radjamin dari Parindra. Dari Koran ini diketahui diagendakan tanggal 27 Februari akan dilakukan pemilihan untuk menyaring menjadi DPRD Provinsi menjadi 72 orang kandidat terpilih.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-04-1951 melaporkan dari Dewan Kota, atas permintaan walikota, supaya proposal yang diajukan Radjamin diuji. Ternyata ketika dewan kota bersidang, hampir semua anggota dewan memberikan suara pada proposal Radjamin. Berkas lama Proposal Radjamin ‘tumbuh mekar kembali’ yang mendapat 18 suara setuju dan dua abstein. [Proposal Radjamin ini pada prinsipnya terdiri dari lima hal: perumahan, air bersih, kesehatan masyarakat miskin, pendidikan, soal pengangguran].

Mosi tidak percaya terhadap Dul Arnowo

Meski posisi Radjamin di dalam struktural pemerintahan (eksekutif) telah lenyap dihembus angin, namun isi proposal Radjamin justru semakin membahana di seluruh Surabaya dan sekitarnya.Di parlemen, posisi Dul Arnowo mulai ‘goyang’.De vrije pers: ochtendbulletin, 25-04-1951 melaporkan bahwa ketidakpercayaan terhadap Arnowo memuncak ketika Mr Sjaichu bersikeras mengusulkan untuk mengadopsi agar pemerintah pusat memberhentikan Mr Dul Arnowo dari walikota dan menggantinya dengan yang lebih mampu dan jujur. Pernyataan ini muncul di dalam suatu sidang yang membahas hasil dari pertemuan sebelumnya antara Dewan dengan Walikota.Para anggota dewan mengaitkan ketidakmampuan Arnowo ketika tahun lalu Arnowo pernah mau mengundurkan diri, tetapi tetap ditunjuk sebagai walikota.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 27-04-1951 memberitakan bahwa permintaan terhadap Dul Arnowo untuk mengundurkan diri semakin menguat. Banyak anggota yang mengajukan mosi tidak percaya dan mengecam banyak hal tentang kebijakan/program Dul Arnowo.Walikota ini "terlalu lemah" menurut Mr Sjaichu. Dengan beberapa rekan Sjaichu, menandatangani mosi dan mendesak pemerintah pusat untuk membebaskan Dul Arnowodari tugasnya dan digantikan oleh yang lebih "jujur, mampu dan dapat diterima".

Sementara mosi tak percaya berhembus semakin kencang di parlemen kota, De vrije pers: ochtendbulletin, 31-05-1951 justru melaporkan keberadaan Radjamin yang lagi ‘nyekar’ ke kuburan Dr. Soetomo. Tampak bunga besar kemarin sore di kuburan tulis koran ini. Dr. Soetomo juga adalah termasuk pendiri Parindra. Dalam acara ini juga hadir Menteri R.P Suroso dan sejumlah pejabat pemerintah daerah yang hadir pada makam Dr.Sutomo. Radjamin memberikan pidato singkat dalam upacara itu. Radjamin adalah sahabat Dr. Soetomo dan pernah besama-sama menggagas dibentuknya ‘Boedi Oetomo’—organisasi sosial di bidang pendidikan.

Dul Arnowo Lengser

Mosi tidak percaya terhadap Dul Arnowo tidak kunjung reda. Tampaknya Dul Arnowo tidak kapabel memimpin Kota Surabaya, Arnowo tidak bisa membaca situasi dan kondisi rakyat dan apa implikasi dari setiap kebijakan/program yang dibuat. Roda pemerintahan tidak berjalan lancar, kebijakan/program pembangunan tersendat, karena tidak sejalan dengan dewan. Situasi dan kondisi Surabaya saat itu sangat rumit dan kompleks.

Bisa dibayangkan bahwa pada Desember 1945 (saat Radjamin menjadi walikota) jumlah penduduk Kota Surabaya tidak lebih dari 130.000 jiwa. Meski di Kota Surabaya dan Residen Surabaya sudah mulai kondusif tetapi di luar kota terutama di Sidoarjo masih ada perang gerilya hingga November 1950. Akibatnya banyak penduduk di sejumlah daerah pindah ke Surabaya. Pada pertengahan 1950 penduduk Kota Surabaya meningkat menjadi 633.000 jiwa. Masalah sosial ekonomi timbul. Di berbagai tempat merebak tindakan-tindakan kriminal dan prostitusi makin menjamur.

Situasi dan kondisi Kota Surabaya dipahami betul oleh anggota Dewan Kota. Tidak terdapat kesamaan visi dan misi antara eksekutif dan legislatif. Akibatnya mosi tidak percaya terhadap Dul Arnowo yang makin lama makin menyudutkan Dul Arnowo. Beberapa anggota dewan mengirim surat dan delegasi ke Jakarta agar Dul Arnowo diganti dengan yang lebih baik.

Akhirnya pusat merespon. Di awal 1952 Moestadjab, Residen Besuki, lahir di Tulungagung ditunjuk Jakarta untuk Walikota. Dul Arnowo lengser dan menghilang dari peredaran. Dul Arnowo ditunjuk sebagai walikota (yang seharusnya hak Radjamin) hanya atas dasar figure revolusioner Arnowo selama perang semata, tetapi tidak dalam kapabiliti sebagai walikota. Akibatnya penunjukan Arnowo lebih banyak masalah saripada suksesnya. Sukses baru mulai terlihat ketika Moestadjab dalam beberapa bulan memulai tugasnya. Kota menjadi tampak mulai normal. Pengalaman Moestadjab dalam memimpin kota sudah terlihat ketika Moestadjab waktu itu masih berumur 43 tahun pernah menjabat selama satu tahun jadi walikota di Madiun. Di Surabaya, Moestadjab  membawa administrasi profesional terutama perumahan, dan kesehatan masyarakat miskin. Program Moestadjab ini kurang lebih serupa dengan isi proposal Radjamin ketika pertama kali menjadi duduk sebagai gemeenteraad saat walikota Fuchter menjabat. Proposal ini juga yang diajukan Radjamin saat memulai tugas di dewan dimana walikotanya Dul Arnowo. Akan tetapi Dul Arnowo tidak mengubrisnya meski semua anggota dewan telah meloloskan proposal Radjamin tersebut.

***
Karir Dul Arnowo tamat. Bagaimana dengan Radjamin Nasoetion? Radjamin tetap berkiprah di dewan kota. Dalam pertemuan Dewan dengan Walikota baru-baru ini (De vrije pers: ochtendbulletin, 21-05-1952) Pak Puger berbicara antara lain pentingnya pendidikan. Usul ini diamini oleh Radjamin. Memang proposal Radjamin tidak termasuk pendidikan, tetapi masih soal perumahan rakyat, air bersih, kesehatan masyarakat miskin, pengangguran, tetapi dengan usulan pendidikan dari Puger justru Radjamin berbunga-bunga. Sebab, Radjamin ketika di Stovia sudah menggagas pendidikan rakyat ketika bersama dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo.

Kunjungan Radjamin dkk ke makam dr. Soetomo baru-baru ini rupanya menjadi wujud terlaksananya ide itu di Kota Surabaya. Salah satu proposal Radjamin baru terwujud pada bulan April 1953. De vrije pers: ochtendbulletin, 29-04-1953 melaporkan bahwa anggota dewan Mr J.R. Pesik, Radjamin, Sugiman dan Mo Kwee Liang berhasil membuat kata sepakat dengan Walikota yang baru. Lengkap sudah proposal Radjamin plus proposal pendidikan dari Puger diadopsi oleh eksekutif. Tugas dan tanggungjawab Radjamin sebagai warga Surabaya tuntas sudah.

***
Di akhir masa tugas Radjamin sebagai anggota dewan, kabar gembira datang dari Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial di Jakarta (kini FHUI) bahwa anaknya yang bungsu Sheherazade Radjamin Nasution lulus sebagai sarjana hukum. Sebagaimana diberitakan koran De nieuwsgier, 11-03-1955, dalam wisuda anak Radjamin ini juga termasuk Mochtar Koesoemaatmadja. Lengkap sudah, tugas Radjamin sebagai kepala keluarga. Dua orang diantara delapan anaknya, mengikuti jejak ayahnya sebagai dokter. Anak yang pertama di Tarempa saat Jepang mengebom Singapura dan sekitarnya tengah bertugas, anaknya yang kedua juga dokter bernama Irsan.

Gedung Perwakilan Rakyat di Jakarta (foto 1950)
Rupanya karir Radjamin belum berakhir. Koran Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-08-1955 melaporkan bahwa pada sesi terakhir dari parlemen pusat di Jakarta sebelum reses yang diberikan  dalam kekosongan yang disebabkan oleh kematian, pengunduran diri penugasan negara, atau pelayanan terdapat penggantian. Dari Partai Parindra dimana almarhum Sundjoto digantikan oleh Radjamin Nasution Gelar Sutan Komala Pontas. Dari Masyumi, Mr Burhanuddin Harahap yang akan menjadi Perdana Menteri digantikan oleh Anwar Harjono. Ini berarti, Radjamin yang selama ini berjuang habis-habisan sendirian di Kota Surabaya akan bertemu teman-teman lamanya dari Tapanuli Selatan dulu, termasuk Burhanuddin Harahap yang diangkat menjadi Perdana Menteri.[catatan: Surat kabar Java Bode yang berbahasa Belanda, sejak 1951 sudah dimiliki oleh Parada Harahap, The King of Java Press, teman sekampung Radjamin Nasoetion di Padang Sidempuan].

(bersambung


 
______
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber utama tempo doeloe. Sumber pendukung:
·         Yousri Nur Raja Agam M.H, ‘Radjamin Nasution, Walikota Pertama Surabaya’.
·         Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000 by Howard W. Dick

Tidak ada komentar: