03/07/14

Bag-2: Radjamin Nasoetion, Walikota Surabaya Pertama: Anak Rantau yang Ingat Kampung Halamannya



(bagian kedua)

Radjamin vs Koesmadi. Sangat jarang seorang putra daerah tulus ikhlas memberi jalan kepada putra pendatang dalam suatu pemilihan umum daerah. Ini benar-benar terjadi, ketika Radjamin (seorang Tapanuli) diusulkan berbagai kalangan untuk maju menjadi Anggota Dewan Kota, sementara incumbent yang juga mencalonkan diri, Koesmadi (putra daerah Surabaya), mengundurkan diri sebelum ‘perang’ dimulai. Sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Akhirnya Radjamin melenggang dengan mulus ke Parlemen Kota.

Berita keberhasilan Radjamin ini cepat tersebar luas, utamanya di Batavia dan Medan. Boleh jadi berita ini hanya sedikit rembesan cerita sampai ke Tapanuli Selatan—kampung halaman Radjamin Nasoetion. Mungkin Radjamin tidak terlalu dikenal di kampung halamannya, sebab umur tujuh tahun Radjamin mengikuti sekolah dasar di Padang Sidempuan, sekolah menengah di Medan, dan perguruan tinggi di Batavia.

Akan tetapi, Radjamin tiba-tiba menjadi sangat terkenal di Surabaya. Radjamin direstui tokoh-tokoh Surabaya, diidolakan rakyat jelata dan Radjamin menjanjikan untuk rakyat. Sebaliknya, Walikota yang berbangsa Belanda, merasa terusik dengan kehadiran sosok Radjiman. Walikota Bussemaker menganggap Radjamin tokoh cerdas, seorang dokter, seorang pejabat tinggi bea dan cukai, pemberani yang juga pentolan Sarikat Pekerja dan orangnya tidak bisa diajak kompromi. Figur dan profil Radjamin inilah yang hari-hari ke depan menjadi momok bagi Bussermaker dan akan menjadi batu sandungan setiap kebijakannya yang selama ini memang tidak pro rakyat. Mungkin inilah yang dilihat Koesmadi (tokoh penting di Surabaya) yang melihat profil Radjamin yang sangat lengkap untuk dapat mengimbangi kekuasaan bangsa Belanda dan ketidakadilan yang dialami oleh rakyat Surabaya. Radjamin terbukti mampu melakukannya.

***
Radjamin bukanlah tokoh daerah, Radjamin lebih sebagai tokoh nasional. Radjamin dalam karir bea dan cukai sudah melihat Indonesia dari Sabang hingga Banyuwangi. Radjamin pernah tinggal di Padang Sidempuan, Medan, Batavia, Jambi, Kalimantan, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Radjamin seakan melihat Indonesia dari Surabaya. Ketika terjadi terjadi bencana besar di Sumatra Selatan, Juli 1933, Radjamin dengan sigap membentuk komite untuk mengumpulkan sumbangan bagi penduduk Sumatra Selatan yang ditimpa musibah. Komite terdiri dari Radjamin (ketua), Soemarto (sekretaris), dan Rajab (bendahara).

Radjamin bukan hanya kutu buku, yang suka membaca buku di dalam kamar seharian, Radjamin juga adalah pemain lapangan yang mampu membagi perhatian di bawah atap dan di luar gedung. Ketika berdinas di Medan, Radjamin membentuk perkumpulan sepakbola, Deli Voetbal Bond. Di Surabaya, Radjamin juga mengaktualisasi hobinya itu. Selain aktif membina sepakbola Surabaya, Radjamin juga mempelopori sepakbola bagi bagi non-klub, seperti di Bea dan Cukai, persatuan wartawan, dan organisasi profesi lainnya. Pada bulan November 1933, dalam ulang tahun perkumpulan sepakbola DOMAS di Surabaya dilakukan pertandingan sepakbola, baik antar klub maupun antar bidang profesi. Radjamin adalah salah satu kapten bermain mewakili kesebelasan PBI dan berhasil menciptakan gol ke gawang kesebelasan lainnya. Dalam penutupan acara, Radjamin termasuk tiga diantara pemain terbaik. Untuk pemberian hadiah ke pemain terbaik pertama, yang menyerahkan hadiahnya adalah Radjiman—yang mungkin dipandang panitia mewakili Anggota Dewan Kota. Dokter Radjiman adalah tokoh baru Surabaya yang benar-benar merakyat.

***
Di masa reses, Radjiman tidak perlu turun ke konstituen, karena Radjiman adalah tokoh yang merakyat, yang diantara kesibukannya di dewan kota, juga (diantara pagi sampai malam) aktif di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, waktu reses bagi Radjamin adalah kesempatan untuk pulang kampung alias mudik. Pada masa reses 1934, Radjamin berketatapan hati untuk mudik dulu, sekalian mengajak istri untuk melihat kampong halamannya.

HIS (pengganti ELS) Padang Sidempuan (foto 1920/KITLV)
Dari Surabaya pasangan suami istri ini naik kereta api ke Batavia. Pada tanggal 5 September 1934, Radjamin dengan istri berlayar dengan kapal s.s. ‘Johan Olclenharncvclt’ tujuan Amsterdam dan turun di Belawan. Dari Medan mereka berlibur ke Danau Toba di Parapat. Setelah bersenang-senang di Parapat, mereka melanjutkan perjalanan adventure ini hanya berdua melalui hutan,lembah dan jalan-jalan yang belum begitu bagus. Beberapa persinggahan yang mereka lakukan antara lain Balige, Tarutung, Sibolga, Padang Sidempuan. Di Padang Sidempuan mereka cukup lama, selain bernostalgia dengan kota tempat dimana Radjamin bersekolah pertama kali (ELS Padang Sidempuan), juga mengunjungi sejumlah kerabat/keluarga yang   tinggal di kota itu. Dari Padang Sidempuan anak perantauan itu dengan istrinya melanjutkan perjalanan ke Panyabungan (tempat kelahirannya).

***
Kembali ke Surabaya. Pada akhir masa jabatannya sebagai anggota Dewan Kota, Radjamin tetap sibuk mengurusi rakyat. Selama menjadi anggota dewan, Radjamin cuti dari pekerjaannya di Bea dan Cukai Surabaya. Dari pusat di Batavia awal April 1935, keluar maklumat bahwa Radjamin bertugas kembali di Bea dan Cukai Surabaya dengan pangkat jabatan naik dari Kelas 4 menjadi Kelas 3 (Verifier)—eselon 2 di masa kini.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber utama tempo doeloe.

Tidak ada komentar: