17/12/15

Sejarah Kota Medan (8): Labuhan Deli, Kota Baru, Kota Medan, Dua Kali Muncul Sebagai Pusat Peradaban



Ekspedisi ke Bataklanden (1866): Dari Laboehan Deli via Medan

Labuhan Deli (Melayu) vis-à-vis Kota Medan (Batak)

Sesungguhnya antara Batak dan Melayu di Deli sejak doeloe sudah bersaudara. Meski datang dari arah dan asal-usul yang berbeda, tetapi Batak dan Melayu di Deli sama-sama menghadapi musuh yang sama: kelesuan ekonomi. Penduduk Batak di belakang garis pantai aktif dalam produksi lada hitam. Penduduk Melayu di pantai aktif dalam perdagangan komoditi. Kedua belah pihak bersifat mutualistik, peran masing-masing bersifat komplemen (saling memperkuat).

Penyebaran penduduk Melayu sudah masuk jauh ke pedalaman (sepanjang DAS Deli) dan sebaliknya penduduk Batak sudah menempel ke bibir pantai (DAS Boeloe Tjina). Perang Langkat yang terjadi tahun 1823 menyebabkan dominasi Batak di pantai (Boeloe Tjina) menghilang lalu digantikan penduduk Melayu, sebaliknya dominasi Melayu di pedalaman (Deli Toea) menghilang lalu digantikan penduduk Batak. Perang antara Batak dan Melayu ini dengan sendirinya telah menjadi koreksi bagi kedua pihak untuk kembali ke posisi alamiah (keseimbangan awal): perdagangan era komoditi kuno (kemenyan, kamper dan benzoin).

Bagaimana itu terjadi? Mari kita lacak!

Labuhan Deli adalah kota baru di pantai timur Sumatra (dari sudut pandang masa doeloe). Sebuah kota pelabuhan (bandar) yang menjadi simpul (market) produk-produk alami dari Tanah Batak (Bataklanden) utamanya lada yang dipertukarkan (economic exchange) dengan produk-produk manca negara yang dibutuhkan penduduk Tanah Batak utamanya garam, batang besi dan kain. Hampir semua produk yang diperdagangkan di Laboehan Deli berasal dari penduduk Batak. Selain penduduk Tanah Batak menjadi makmur, penduduk Laboehan Deli juga turut menjadi makmur hanya dari jasa-jasa pelabuhan (ibarat Singapura pada masa kini). Sebaliknya penduduk Labuhan Deli akan sangat menderita (kelesuan ekonomi) jika penduduk Batak tidak mengusahakan produksi lada hitam.

Laboehan Deli (1863)
Bandar (pelabuhan laut atau pelabuhan sungai) adalah simpul ekonomi antara lautan dan daratan. Tidak akan muncul bandar jika tidak ada economic exchange. Dari pedalaman penduduk membawa komoditi untuk dipertukarkan dengan barang-barang dari seberang lautan, sebaliknya dari seberang lautan saudagar membawa komoditi untuk dipertukarkan dengan penduduk pedalaman. Penduduk Batak sudah ratusan atau ribuan tahun hidup di pedalaman, sementara penduduk yang menempati bandar(-bandar) telah beberapa kali berganti orang. Yang tidak berubah: penduduk Batak tetap memerlukan pembeli siapapun (rezim) yang menduduki bandar.

Deskripsi Laboehan Deli, sebagai bandar (pelabuhan komoditi) tampaknya telah terabaikan dalam literatur masa kini (sengaja atau tidak sengaja). Artikel ini akan mengungkapkan fakta-fakta yang dikesampingkan dan juga menguraikan fakta-fakta baru. Fakta-fakta baru ini didasarkan pada laporan Residen Riaow (1861-186?), E. Netscher yang pernah berkunjung ke Deli awal tahun 1863. Kemudian didukung laporan Baron de Raet van Cats (controleur Deli yang pertama) yang pernah berkunjung ke Bataklanden akhir tahun 1866. Controleur Deli yang kedua, C. de Haan (bersama fotografer Denmark) yang pernah melakukan eskpedisi ke Bataklanden pada akhir tahun 1870 (sebelum de Haan, ekspedisi ke Bataklanden dilakukan oleh Nienhuys tahun 1868).

Fakta-fakta baru ini ditambah dengan laporan J.S.G. Gramberg (seorang investor), laporan Willer (asisten residen di Mandheling en Angkola, 1845-1847) dan buku Junghuhn (1847), peneliti yang dikirim ke Tapanoeli). Tentu saja fakta-fakta baru ini masih ada yang tercecer yang bisa dipungut dalam buku Marsden (1811) dan buku Anderson (1826).

Semua sumber-sumber tersebut akan disajikan dalam suatu sketsa (analisis sederhana) untuk memperkaya pemahaman kita tentang afdeeling (kebupaten) Deli di Residentie (provinsi) Sumatra’s Ooskust, yakni: penduduk Melayu di Laboehan Deli di onderafdeeling (kecamatan) Laboehan Deli dan penduduk Batak di Medan di onderfadeeling (kecamatan) Medan.

Labuhan Deli: Atjeh vs Siak

Pertumbuhan dan perkembangan pelabuhan-pelabuhan di Sumatra Utara pada masa doeloe selalu dikaitkan dengan keberadaan hasil-hasil bumi dari Tanah Batak sebagai produk komersil (mata dagangan utama) dunia. Namun pelabuhan-pelabuhan tersebut tidak dikelola oleh penduduk Batak, tetapi dikelola oleh penduduk pendatang. Uniknya, penduduk Batak tidak merasa keberatan. Karena penduduk pendatang itu (Mesir, Persia, Arab, India, Tjina, dan bahkan Melayu?) selain memiliki kepentingan untuk berdagang, penduduk Batak sendiri manganggap mereka sebagai perpanjangan tangan penduduk Tanah Batak ke dunia luar. Sebaliknya penduduk pendatang tidak merasa penduduk Batak akan menghancurkannya, karena penduduk Batak membutuhkan ‘devisa’ untuk membeli produk-produk yang tidak dihasilkannya tetapi sangat dibutuhkan seperti garam dan batang besi (hubungannya besifat mutualistik).

Laboehan Deli adalah salah satu dari pelabuhan besar yang langsung terhubung secara historis dengan penduduk Tanah Batak. Dua pelabuhan kuno, yakni Pelabuhan Baros (pantai barat Sumatra) dan Pelabuhan Pertibie (pantai timur Sumatra) adalah dua pelabuhan fase awal di era komoditi kuno seperti kemenyan, benzoin, dan kamper (kapor baros). Pelabuhan Pertibie awalnya berada di pedalaman Padang Lawas, kemudian bergeser ke pantai menjadi Pelabuhan Panai/Bila di mulut sungai Baroemoen yang dalam perkembangannya, popularitasnya Pelabuhan Bila (Laboehan Bilik) menurun dengan semakin meningkatnya transaksi dagang di Pelabuhan Deli (Laboehan Deli). Sedangkan Pelabuhan Baros yang dalam perkembangan awal didukung dua pelabuhan kecil (Pelabuhan Natal dan Pelabuhan Singkel) dan dalam perkembangan selanjutnya Pelabuhan Baros bergeser ke Pelabuhan Tapian Na Oeli. Pada era kolonial Belanda, Pelabuhan Tapian Na Oeli lalu bergeser lagi ke Pelabuhan Sibolga (hingga sekarang) dan Pelabuhan Leboehan Deli bergeser ke Pelabuhan Belawan (hingga sekarang).

Pelabuhan-pelabuhan itu hanya eksis jika penduduk Batak mau mendukungnya. Beberapa kali pelabuhan-pelabuhan itu bangkrut (sepi perdagangan) misalnya hanya karena Tanah Batak dianeksasi kaum padri (Pelabuhan Tapian Naoeli mati suri) atau ketika penduduk Batak tengah sibuk menghadapi perang (selama persiapan dan perang menghadapi ekspansi Belanda ke Tanah Batak, (Pelabuhan) Laboehan Deli nyaris bangkrut alias tutup).

Beberapa dekade sebelumnya, Laboehan Deli juga sempat tutup hanya karena Kesultanan Siak menundukkan Kesultanan Deli di Laboehan Deli. Dalam aneksasi Siak di Deli, penduduk Batak bereaksi keras, karena menganggap selama ini Kesultanan Deli adalah partnership setia penduduk Batak. Atas reaksi ini, Kesultanan Siak tidak senang dan coba melawan penduduk Batak yang dikenal sebagai Perang Langkat Perang terjadi di Langkat). Pertarungan yang sengit itu penduduk Batak sesungguhnya telah memenangkan pertarungan, tetapi pada injury time, pihak Siak meminjam persenjataan artileri dari militer Inggris di Penang (kala itu Belanda belum hadir, dan masih konsentrasi di Djawa). Penduduk Batak tidak melanjutkan pertarungan dan tidak bersedia mati konyol lalu lebih memilih mundur dan kembali ke belakang garis pantai.

Dengan jatuhnya Langkat maka Langkat, Boeloe Tjina, Deli, Serdang, Batoebara, Asahan dan Laboehanbatoe menjadi tunduk dan berada dibawah supremasi Kesultanan Siak. Satu lanskap lainnya yang menjadi area ‘abu-abu’ adalah Tamiang juga dianggap Siak berada di bawah supremasinya.

Sesungguhnya Siak tidak pernah menganeksasi Tamiang, tetapi menganggapnya di bawah supremasinya, karena lanskap ini semata-mata sudah lama ditinggalkan Kesultanan Atjeh karena kebijakan politiknya yang hanya membatasi wilayah kekuasaan hingga Pidie saja. Demikian juga di pantai barat Sumatra, Taroemon ditinggalkan dan hanya membatasi diri di Tapaktoean. Belanda hanya membuat kolonisasi hingga di Singkel. Taroemon disebut Belanda sebagai ‘sekutu’ dan bukan ‘pengikut’. Hal yang sama juga juga boleh jadi baik Atjeh maupun Siak menganggap Tamiang bukan pengikut tetapi sekutu. Oleh karenanya, Tamiang dan Taroemon adalah dua lanskap independen yang di pantai timur Sumatra, Tamiang membatasi Melayu dan Atjeh, dan di pantai barat Sumatra, Taroemon yang membatasi Atjeh dengan Batak. Penguasa bandar di Tamiang dan Taroemon bukan Atjeh dan bukan juga Melayu tetapi Batak.

Sementara itu di selatan, Laboehan Batoe adalah satu-satunya pelabuhan dimana dikelola penduduk Batak sejak awal yang merupakan garis continuum dari bandar Pertibie (pertemuan sungai Baroemon dan Sungai Panai) bergeser ke pantai bernama Pelabuhan Panai lalu kemudian bergeser lagi bernama Pelabuhan Bila yang didukung pelabuhan di pedalaman di Kota Pinang. Pelabuhan Bila bergeser lagi ke Laboehan Bilik (Labohanbatoe). Satu lagi pelabuhan di selatan adalah Natal, sebuah bandar yang silih berganti penguasanya sebagaimana Laboehan Deli. Pelabuhan Natal adalah bandar pendukung yang berkembang untuk menggantikan Baros. Bandar Natal penguasanya seperti Persia, Portugis, Prancis, Inggris, dan kemudian Belanda.

Kesultanan Atjeh sendiri di pantai barat Sumatra memainkan peran yang sama seperti halnya Kesultanan Siak di pantai timur Sumatra. Kesultanan Atjeh pernah menguasai Taroemon, Singkel, Tapoes, Baros dan bahkan Tapian Naoeli serta Natal. Tidak pernah dikabarkan ada rumor pertikaian antara Atjeh dengan penduduk Batak. Ketika pengaruh kolonial Belanda muncul yang dimulai dari Padang, satu per satu pelabuhan itu lepas dari supremasi Atjeh: yang diawali dengan pendudukan Natal, kemudian merangsek ke utara di Tapian Naoeli, Baros, Tapoes dan Singkel.

Lanskap Taroemon, seperti halnya Tamiang di pantai timur Sumatra ditinggalkan Atjeh karena hanya membatasi wilayah hingga sampai Tapaktoean. Lanskap Tamiang (di pantai timur Sumatra) dan Taroemon (di pantai barat Sumatra) menjadi seakan daerah ‘demarkasi’ manakala pengaruh kolonial Belanda (politik) semakin menguat ketika peran dagang Inggris (ekonomi) atas Siak menyusut.


Pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Sumatra pada tahun 1847 sebelum kedatangan Belanda terbagi tiga golongan: (1) pelabuhan Langkat, Boeloe Tjina dan Deli yang terletak di sungai yang pada saat air surut masih bisa dilayari oleh kapal ukuran menengah, (2) pelabuhan Serdang dan Batoebara, yang terletak di sungai yang hanya bisa dilayari pada saat pasang dengan kapal ukuran kecil dan (3) pelabuhan lainnya di Asahan, Kwaloe dan Bila-Pane.

Bataklanden: Tanah Subur Pedalaman, Kaya Sumber Alam

Jauh sebelum ada bandar-bandar, dan jauh sebelum ada penduduk  yang berdiam di pantai-pantai, sudah sejak lama penduduk berdiam di dataran tinggi pedalaman. Bahkan penduduk ini telah ada jauh sebelum ada koloni asing di Baros (Arab dan India) dan koloni asing lainnya di Padang Lawas (India). Tentu saja penduduk ini sudah ada jauh sebelum ada koloni asing di muara sungai Belawan (India, Tjina dan Melayu). Penduduk ini memiliki akar bahasa yang sama (meski dialeknya telah berbeda-beda) yang dapat dibedakan dengan akar bahasa Melayu Riaou, Melayu Minangkabau dan Melayu Atjeh. Penduduk ini diidentifikasi oleh Pires (Italia) dengan nama Bateh, oleh Miller/Marsden (Inggris) Batta dan oleh Belanda dipertegas menjadi Batak.

Penduduk Batak sebagaimana dikatakan Marsden (dalam bukunya: The History of Sumatra, 1811) adalah representasi orisinalitas penduduk Sumatra sendiri. Penduduk Batak menurut Marsden bukanlah pelaut meski mereka memiliki pelabuhan terbaik di dunia (Tapian Na Oeli). Namun karena penduduk Batak sangat kaya dari hasil-hasil produk-produk alami (kemenyan, kamper, benzoin), mereka lebih tertarik untuk mengembangkan pertaniannya. Para pedagang seluruh dunialah yang datang ke pelabuhan-pelabuhan mereka, seperti Baros, Tapoes, Singkel, Taroemon, Singkwang dan Natal. Setali tiga uang: para pedagang seluruh dunialah yang datang ke pelabuhan-pelabuhan di Pertibie, Panai, Bila, Laboehan Bilik, Tandjong Balai, Batoebara, Rantau Pandjang, Laboehan Deli (suksesi Boeloe Tjina dan Kota Tjina).

Tujuan para pedagang hanya satu: berdagang dan mengangkut hasil-hasil produksi yang berasal dari Tanah Batak. Hanya penduduk Batak yang menghasilkan produk komersil dunia, dan karena itu tumbuh kembangnya pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai timur Sumatra sangat tergantung dengan keberadaan penduduk di Tanah Batak. Pelabuhan-pelabuhan ini tumbuh kembang, juga diikuti dengan pertumbuhan dan penyebaran penduduk di sepanjang pantai barat maupun pantai timur.

Di pantai timur, pertumbuhan penduduk dan penyebaran yang sangat masif itu terutama didominasi Melayu yang migrasi dari Riaou (kepulauan) dan (semenanjung) Malaya. Di pantai barat, pertumbuhan penduduk dan penyebaran yang juga sangat masif didominasi Melayu yang migrasi dari Nias (kepulauan) dan (pesisir) Padangsche. Sementara semua penduduk sisi dalam garis pantai baik di pantai barat maupun pantai timur didiami oleh penduduk Batak, yakni penduduk Batak yang mengalami penyebaran ke arah pantai akibat tekanan densitas penduduk di pedalaman dan kebutuhan untuk mendekatkan diri ke TKP, tempat terjadinya transaksi dagang di pantai-pantai (pantai barat Sumatra) dan muara-muara sungai (di pantai timur Sumatra).

Penduduk Batak berada di dataran tinggi Bukit Barisan dari Gayo, Alas, Dairi, Pakpak, Karo, Simaloengoen, Toba, Angkola dan Mandailing yang mulai dari batas Gunung Kulabu di perbatasan Pasaman hingga Gunung Batu Gapit di batas Atjeh. Wilayah-wilayah pantai yang sepi dan kosong lambat laun diisi oleh penduduk Batak yang menyebar ke pantai dan penduduk pendatang yang memulai dari garis pantai. Penduduk Melayu dan penduduk Atjeh adalah tipikal penduduk pantai (dataran rendah). Sebaliknya, penduduk Batak dan penduduk Minangkabau tipikal pegunungan (dataran tinggi). .

Secara kronologis, penyebaran penduduk di sekitar garis pantai ini didahului penyebaran penduduk Batak, baru kemudian menyusul penduduk Melayu. Penduduk Batak yang menyebar dan telah menyentuh ‘bibir pantai’ secara teoritis karena alasan ekonomi (supply side). Hal ini juga yang terjadi di pedalaman Minangkabau, penduduk menyebar ke segala arah mata angin. Sedangkan penduduk Melayu secara teoritis datang untuk berdagang atau memperluas kesultanan baru melalui pantai timur Sumatra lalu menetap dan merangsek ke arah pedalaman (demand side).

Pertemuan-pertemuan ini yang mengindikasikan adanya pertemuan Batak dan Melayu di Langkat, Deli, Serdang, Batoebara dan Asahan, serta pertemuan Minangkabau dan Melayu di hulu sungai Siak, Kampar, Indragiri. Beberapa titik pemukiman Melayu di DAS Siak memiliki koneksi dengan kesultanan Johor dan Pahang. Hal yang sama juga dengan Deli yang memiliki koneksi dengan kesultanan Johor. Melayu kepulauan Riau juga memiliki koneksi dengan penduduk Melayu di Riau daratan. Akan tetapi tidak ada indikasi Melayu kepulauan Riau memiliki koneksi denga Melayu di Deli dan sekitarnya.

Namun perlu dipahami bahwa antara satu titik pertemuan dengan titik pertemuan lainnya, kurun dan intensitas penyebaran berbeda-beda. Ada titik dimana Melayu masuk jauh ke pedalaman dan sebaliknya dimana Batak keluar hingga menyentuh garis pantai. Penyebaran dari pedalaman yang telah melakukan okupasi diduga kuat menjadi cikal bakal munculnya dua kerajaan (bukan kesultanan) di dua tempat yakni di Panai/Bila di hulu sungai Baroemoen dan Boeloe Tjina/Kota Tjina di hulu sungai Belawan atau sungai Hamparan Perak.

Dalam literatur lain, kerajaan Panai/Bila ini disebut Kerajaan Aru dan kerajaan Boeloe Tjina/Kota Tjina ini disebut kerajaan Haru. Di awal kedatangan Belanda, lanskap Pertibie meliputi Bila, Panai, Padang Lawas, Dolok, Baroemoen dan Tamboesei. Sedangkan lanskap Boeloe Tjina adalah lanskap yang berdiri sendiri sebagaimana lanskap-lanskap lainnya di sekitarnya seperti Langkat, Tamiang, Deli dan Serdang.

Setelah era pelabuhan kuno dari era kerajaan kuno ini mulai terbentuk kerajaan-kerajaan kecil yang disebut kemudian kesultanan (mengikuti terminologi penduduk Melayu) yang selanjutnya dikenal sebagai kesultanan Laboehan Batoe, Asahan, Batoebara, Serdang, Deli dan Langkat (minus Boeloe Tjina/Kota Tjina dan Tamiang). Laboehan Batoe adalah nama berikutya dari Laboehan Bilik/Bila/Panai/Pertibie..

Penyebaran penduduk Melayu di Riau haruslah dibedakan penyebaran penduduk di Deli dan sekitarnya. Penduduk Melayu di Riaou sejak kurun waktu tertentu telah berkembang di kepulauan dengan pusat kerajaan di Pulau Lingga (dan kerajaan Djohor di semenanjung). Penduduk Melayu kepulauan Riaou ini bermigrasi ke daratan melalui muara-muara sungai, seperti Siak, Kampar, Indragiri dan Rokan. Seperti yang disebut oleh peneliti-peneliti Belanda, Rokan adalah batas wilayah Melayu dan Batak. Penduduk Batak telah lama mendiami di sepanjang DAS Baroemoen mulai dari Pertibie hingga muara sungai Baroemoen/Bila.

Tandjong Balai (di pantai timur Sumatra) adalah pelabuhan (melting pot) yang dihuni penduduk Tjina yang masuk dari lautan, penduduk Batak yang dari pedalaman (barat) dan selatan (Laboehanbatoe) dan penduduk Melayu dari timur (semenanjung) dan dari utara (Deli, Serdang dan Batoebara). Hal yang mirip doeloe di Natal (di pantai barat Sumatra) yang penduduknya mix population yang dihuni penduduk Persia dari lautan, penduduk Batak yang dari pedalaman (timur) dan selatan (Minangkabau) dan penduduk Atjeh dari utara. Penduduk Melayu sendiri di Batoebara, Serdang dan Deli diduga kuat tidak terkait dengan penyebaran penduduk di Riaou.  

Di daerah penyebaran Melayu antara Tamiang dan Bila, hanya Melayu Deli yang berhasil mampu merangsek jauh ke pedalaman (DAS sungai Deli). Tidak terjadi pada Melayu Langkat, Melayu Serdang, Melayu Batoebara dan Melayu Asahan. Penjelasan ini datang dari Marsden dan Anderson bahwa pada tahun 1613 Atjeh menganeksasi Deli, tetapi kesultanan Johor dan Pahang gerah dengan tindakan Atjeh ini. Lalu dengan dukungan Johor dan Pahang, Deli malah menjadi binasa oleh kekuatan Atjeh (1619). Deli baru kemudian bersinar kembali setelah adanya bantuan kekuatan Portugis di Malaka (1643) akan tetapi lagi Atjeh menaklukkan Deli tahun 1669.

Di bawah supremasi Atjeh, lalu Deli melemah. Namun dalam perkembangannya kebijakan politik Atjeh membatasi kekuasaan hanya sampai di Perlak (pantai timur Sumatra) dan sampai di Tapaktoean (pantai barat Sumatra). Situasi ini dipahami oleh Deli, lalu merelokasi ibukota ke pedalaman untuk mempererat hubungan dengan Batak dan juga untuk memperpendek jarak dalam hal perdagangan lada dengan penduduk Batak di pedalaman di hulu sungai Deli dengan ibukota Deli Toewa (Deli Toea). Saat inilah masa keemasan kesultanan Deli. .

Namun hubungan manis antara Batak dan Melayu ini membuat iri kesultanan Siak. Pada tahun 1770 tidak disadari oleh Deli, lalu datang kekuatan dari selatan, Sultan Radja Ismail dari Siak menganeksasi Deli dan menangkap Sultan Deli. Anehnya, dalam hal ini, tidak ada reaksi Atjeh dalam soal ini, juga tidak ada reaksi Johor dan Pahang atas masalah ini. Deli harus menghamba kepada Yang Dipertuan Agung dari Siak.

Dalam perkembangannya di kesultanan Siak juga terjadi intrik-intrik. Kebijakan politik Siak berubah. Pada tanggal 8 Maret 1811, kepala Deli yakni Panglima Mengindra Alam, oleh pangeran Siak diberkahi sebagai Sultan. Rupanya kolaborasi Deli dan Siak ini tidak semua suku-suku Batak menyetujuinya. Para pimpinan suku Batak (baik di pantai maupun di pedalaman) hanya melihat Deli sebagai boneka dari Siak. Batak sendiri tampaknya lebih menyukai Atjeh daripada Siak dalam penguasaan Kesultanan Deli (karena alasan kultural dan territorial)..

Lalu pada tahun 1823 Deli yang semakin menguat yang dipimpin Mengindra Alam yang disokong penuh kekuatan Siak melakukan perang dengan suku Batak di Langkat dan sekitarnya. Perang yang sebanding itu, pada injury time, Deli dibantu oleh kapten kapal Inggris, bernama Stuart yang meminjamkan senjatanya. Suku Batak dapat dikalahkan. Atas kejadian ini, suku Batak (Boeloe Tjina?) yang berada di garis pantai mundur ke belakang pantai, sebaliknya atas ekses kerusuhan yang juga terjadi di Deli Toea, Sultan Deli memindahkan ibukota ke muara sungai Deli yang kemudian munculnya nama Laboehan Deli.


Bagaimana hal ini bermula dapat dijelaskan sebagai berikut: Batak adalah nama kuno, lebih kuno dari komunitas-komunitas yang mendiami bandar kuno seperti Baros dan Pertibie. Batak adalah suatu territorial, wilayah yang didiami oleh penduduk Batak. Teritorial ini ada di pedalaman, dimana penduduknya menghasilkan komoditi kuno, seperti kamper baros, kemenyan, benzoin dan lain sebagainya. Ke daerah territorial inilah pedagang dari berbagai arah datang untuk berdagang. Dua dari pelabuhan niaga yang terbilang awal adalah Baros dan Pertibie.

Pelabuhan Pertibie terletak di muara sungai Panai atau pertemuan sungai Panai dengan sungai utama Baroemon. Pelabuhan Pertibie sebagai sebuah pelabuhan besar dapat dijelaskan adanya komunitas besar di pelabuhan tersebut yang sisanya dapat dilihat sebagai kompleks percandian. Pelabuhan Pertibie adalah simpul ekonomi yang menjadi tujuan dari simpul-simpul ekonomi di hulu sungai Pane dan sungai Baroemon.

Beberapa sungai cabang sungai Pane adalah sungai Rumambe, cabang sungai Baroemoen seperti sungai Sangkilon dan Batang Onang/Aek Sihapas. Hulu dari semua sungai-sungai tersebut yang masih dapat dilayari dengan perahu merupakan batas-batas territorial (economic exchange) penduduk Batak yang menghasilkan komoditi alami: kemenyan, kamper, benzoin, cassia, emas dan lainnya.  

Setelah ekonomi Pertibie menurun, ekonomi di Deli muncul. Produk-produk yang diperdagangkan di Deli kurang lebih sama dengan yang di Pertibie. Penduduk Batak di sekitar Pertibie telah berkurang yang mengusahakan komoditi alami dan penduduk telah beralih pada pengembangan pertanian seperti sawah. Sementara penduduk Batak di sekitar Deli masih tetap mengusahakannya.

Pertibie, Panai, Rumambe, Sangkilon, Deli (Delhi) adalah nama-nama yang berasal dari India. Nama-nama lainnya adalah Ankola, Siunggam. 

Komunitas India di Deli, sebagaimana di Pertibie, tentu saja produk yang diperdagangkan adalah kemenyan, kamper, benzoin dan lain sebagainya. Para pendatang dari India ini sebagaimana di Pertibie, mereka juga menyusuri pedalaman melalui sungai-sungai untuk lebih mendekatkan diri ke TKP. Sungai yang menjadi nama sungai Deli boleh jadi merupakan lalu lintas yang intens di lokasi dimana Deli Toea yang sekarang merupakan salah satu pelabuhan di pedalaman yang cukup penting.


Komunitas lain yang menyusul kemudian adalah komunitas Cina yang mengambil posisi di pantai yang mengambil jalur sungai Boeloe Tjina atau sungai Hamparan Perak yang sekarang. Komunitas Cina tidak dalam mengambil peran India, melainkan bersinergi karena besarnya volume perdagangan yang ada di daerah tersebut. Dengan demikian di daerah tersebut terdapat dua komunitas yakni komunitas India di DAS Deli dan komunitas Cina di DAS Boeloe Tjina.

Suksesi komunitas India di DAS Deli adalah Melayu yang menyebar dari pantai masuk ke pedalaman, sedangkan suksesi komunitas Cina di DAS Boeloe Tjina adalah Batak yang menyebar dari pedalaman mendekati pantai. Empat komunitas ini di satu pihak (India dan Melayu) dan di pihak lain (Cina dan Batak) secara estafet berlangsung sekian puluh tahun.  Namun dalam perkembanganya Deli jauh lebih popular disbanding Boeloe Tjina hingga teridentifikasi sekarang sebagai nama Deli dan nama Boeloe Tjina.

Pada tahun 1854, Deli yang telah pindah ibukota di Laboehan Deli, selama di bawah supremasi Siak dipimpin oleh Sultan Osman Perkasa Alam memaksa Sulhan Atjeh untuk menerima kedaulatannya. Namun desakan itu baru diakui pada tanggal 20 Desember 1854. Tindakan Deli ini dianggap Atjeh sebagai aksi perampokan pada bagian Aceh karena Atjeh tidak merasa tidak dalam perang atau permusuhan dengan Siak.

Sulthan Osman dan putranya (dan penggantinya), Sultan Mahmoed Perkasa Alam terus mendapat resistensi dari Aceh. Akan tetapi ketika pada tahun 1862 terjadi kesepakatan antara Pemernitah Nederlansch Indie dengan Sultan Siak, Deli yang dibawah supremasi Siak untuk pemulihan hak-haknya sebagai supremasi Atjeh, Sultan Mahmoud bergegas untuk mengambil perlindungan kepada Belanda dan memaksanya kembali untuk melakukan keadilan atas dominasi Aceh.

Kesultanan Deli adalah kekuasaan yang rapuh. Kesultanan yang hanya hidup semata-mata untuk kepentingan komersil (Inggris). Kesultanan ini selalu dibawah bayang-bayang kekuatan besar (Atjeh dan Siak), tetapi tidak berhasil sepenuhnya membuat aliansi dengan tetangganya, penduduk suku Batak (karena ada yang pro kontra diantara suku-suku Batak atas kehadiran atau semakin menguatnya kesultanan Deli). Kesultanan Deli telah menyebabkan nasibnya hancur karena perang saudara, hingga akhirnya memutuskan untuk meminta perlindungan kepada Belanda, rezim kekuatan baru di pantai timur Sumatra, rezim yang menginginkan kesultanan Deli barada di dalam pelukannya (didahului oleh Siak yang meminta perlindungan kepada Belanda).

Beberapa Ekspedisi ke Tanah Batak

Pelabuhan di pantai-pantai sangat tergantung pada penduduk Batak. Ketika dua pedagang besar datang (Inggris dan Belanda), kinerja pelabuhan yang ada di pantai timur Sumatra dianggap terlalu kecil untuk kebutuhan mereka dalam memenuhi skala perdagangan dunia. Perkembangan yang bersifat evolutif sudah tidak sesuai lagi. Untuk melakukan langkah-langkah yang revolutif mereka (Inggris dan Belanda) coba memahami lebih lanjut aliran perdagangan dari pedalaman  ke pelabuhan-pelabuhan di pantai dengan mengirim orang-orang mereka dalam berbagai ekspedisi.

Kegiatan ekspedisi inilah sesungguhnya awal kolonialisasi di pantai timur Sumatra yang mana pada awalnya penduduk adalah penduduk yang independent (dengan pimpinan yang disebut sultan) yang kemudian kolonialisasi memasuki pedalaman dimana penduduk Batak yang independen berada. Para ekspedisi (peneliti) Inggrislah yang pertama memasuki Tanah Melayu (di pantai) dan Tanah Batak (di pedalaman). Berdasarkan laporan-laporan terdahulu dari Inggris, pemerintah kolonial Belanda mengirim ahlinya ke pedalaman Tanah Batak.

Orang pertama Inggris yang merekod perkampungan Melayu dan penduduk di Tanah Batak adalah Marsden, seorang yang sangat jenius dalam menyusun sejarah Sumatra. Marsden besar kemungkinan hanya sampai di pantai-pantai dan tidak pernah melakukan ekspedisi (penelitian) jauh ke pedalaman. Namun demikian, Marsden terbilang cukup berhasil mendapatkan catatan-catatan dari para peneliti maupun para pelancong Inggris sebelumnya yang pernah melakukan ekspedisi ke pedalaman, seperti ekspedisi Miller ke Tanah Batak di Angkola dan Padang Lawas tahun 1773. Miller adalah orang Eropa pertama yang memasuki Tanah Batak..

Peneliti Inggris lainnya yang sangat terkenal adalah Anderson yang telah melakukan ekspedisi tahun 1820-1823 dan berhasil mendeskripsikan pantai Timur Sumatra, Atjeh dan juga termasuk di dalamnya Bataklanden di dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1848 dibawah judul ‘Atjeh dan Pelabuhan-Pelabuhan di Sebelah Pantai Utara dan Timur  Sumatra’. Anderson telah melakukan perjalanan ke Karo dan Toba. Penemuannya adalah:
'Anderson menemukan beberapa orang Melayu yang tinggal di pesisir Sumatera Timur dan, apa yang ia sebut, Karau mendominasi dataran rendah dan dataran tinggi. Orang-orang di pedalaman melakukan pembakaran hutan dan menggunakan untuk ladang pertanian untuk menanam tanaman seperti padi, sayuran, lada, tebu dan pisang. Beberapa tanaman ini digunakan sebagai barang perdagangan. Mereka tidak melakukan perlawanan (sebagaimana di dataran tinggi) dan bahkan memiliki kesan bahwa penduduk lokal mengharapkan lebih banyak kontak dengan para pendatang baru terutama pedagang'.  
Peneliti-peneliti Belanda banyak yang mengacu pada hasil-hasil laporan dari Anderson. Peneliti-peneliti Belanda berhutang banyak kepada Anderson, ketika mereka semua sibuk dalam penelitian-penelitian selama Perang Padri di Sumatra’s Westkust (Padangsch en Tapanoeli). Dengan jatuhnya Bonjol baru perhatian para peneliti Belanda dialihkan ke Sumatra’s Ooskust.

Selama ketidakhadiran Belanda di pantai timur Sumatra dan Atjeh, peran dagang dimainkan oleh Inggris. Aneksasi ke pantai timur Sumatra ini pada dasarnya terhambat (Sumatra’s Oostkust) seakan dikorbankan karena konsentrasi Belanda terbagi untuk sejumlah pemberontakan seperti di Batipoe, Tapanoeli. Inggris sebenarnya menginginkan Sumatra’s Ooskust namun terhalangi oleh Treatise London (1824), meski demikian kamar dagang Inggris di Singapore kerap mengompori agar Sumatra’s Oostkust ‘dinegosiasikan’. Perjanjian London 1824, setelah 'tukar guling' Bengkulu (Inggris) dengan Malaka (Belanda) maka seluruh wilayah Sumatra berada dibawah kendali Belanda dan semua wilayah timur laut selat Malaka menjadi berada dibawah kendali Inggris..

Invasi Belanda di Pantai Timur Dirancang dari Pantai Barat

Percepatan aneksasi ke Sumatra’s Oostkust terjadi karena implikasi perang Padri untuk lebih mengamankan Sumatra’s Westkust (Padangsche dan Tapanoeli). Pengikut-pengikut Padri dalam Perang Bondjol dan Perang Pertibie telah memasuki lanskap-lanskap di Sumatra’s Oostkust.

Praktis pada awal September 1838 Indragiri diduduki oleh militer Belanda. Sultan Lingga yang berdomisili di kepulauan bereaksi atas pendudukan ini karena merasa wilayah Indragiri adalah miliknya (dibawah kekuasaannya). Belanda tidak peduli, karena sebelumnya ada hubungan yang tidak kondusif antara Indragiri dengan Lingga. Lalu Belanda membangun benteng dengan empat puluh pasukan dan penempatan kapal perang di sungai Indragiri di Rengat sebagai pertahanan dan bukti kehadiran Belanda di Riaou.

Setelah itu menyusul ditempatkannya seorang Asisten Residen di Rengat sebagai kepala pemerintahan di Riaou. Wilayah baru ini awalnya meliputi Indragiri sendiri dan Kwan Tang yang telah berinisiatif lebih dahulu mengakui kehadiran Belanda karena wilayah itu diduduki oleh pasukan Padri yang telah berhasil diusir militer Belanda. Ini dengan sendirinya pantai barat Sumatra dan pantai timur Sumatra menjadi terhubung melalui pedalaman. Hal serupa ini sudah lebih dahulu terhubung dengan pendudukan Bila di muara sungai Baroemoen via Angkola dan Padang Lawas.

Di Riaou sendiri orang yang paling ditakuti adalah Radja Ismail yang memerintah sejak 1780 yang dianggap Belanda sebagai salah satu bajak laut yang paling menakutkan di Nusantara yang mengenakan tariff impor lima persen pengangkutan hasil bumi yang berasal dari Minangkabou (para sultan-sultan yang sah dianggap tidak berdaya). Di Mandheling en Ankola kehadiran pasukan Tamboesei telah merecoki kehidupan damai yang telah lama ada (menghancurkan system pertanian dan berbagai dokumen-dokumen ilmu pengetahuan yang beraksara Batak. Wilayah-wilayah ini meliputi Mandiling, Angkola dan Padang Lawas.

Peneliti Inggris yang pernah berkunjung ke Riaou daratan ini adalah Marsden (1808) melaporkan bahwa Sultan yang sah (Sultan Abdoel Djalil Khaliloedin) sudah pindah ke tepi sungai Siak. Sultan Siak menjalin hubungan baik dengan pengendali di Pulau Penang untuk memasok kayu untuk pembangunan dermaga Pulau Penang.

Pada masa itu Malaka berada dibawah kekuasaan Belanda (pada nantinya Malaka tukar guling dengan Bengkoelen yang dikuasai oleh Inggris, Traktat London, 1824). Pada tahun 1818 Residen Malaka diutus untuk pergi ke Siak untuk melakukan perjanjian dengan Sultan Abdoel Djalil Khaliloedin. Lalu Kapten Siren ditempatkan di Siak sebagai komisaris. Dihasilkan perjanjian dengan 12 pasal. Sejak itu, banyak sultan-sultan yang  mencari perlindungan kepada Belanda.

Menurut laporan Resident Netscher awal Januari 1963 otoritas Belanda pertamakali didirikan di Bengkalis tahun 1858, suatu pulau yang menghadap ke muara sungai Siak. Pendirian otoritas ini sekaligus mengangkat sultan sebagai yang ditinggikan. Asisten residen di Bengkalis dibantu seorang kapten dan letnan plus seorang perwira kesehatan. Rumah asistenm residen tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk dab beberapa orang Cina. Penduduk pesisir di Bengkalis hidup terutama dari troeboek, ikan asin dan juga dalam jumlah besar beras. Menurut pandangan kami populasi akan banyak yang akan menetap disini. Penduduk sendiri sangat mengharapkan perlindungan dari Belanda (mungkin karena sejak lama daerah muara sungai ini sering terjadi perompakan).

Dalam perkembangannya disebutkan Netscher, ibukota Siak bergeser ke Siak Indrapoera yang terletak 40 mil dari muara sungai Siak. Pada abad sebelumnya (1739) sudah pernah ada pos VOC di Gontong di muara sungai lalu ditinggalkan karena diserang. Desa Siak Indrapoera (berasal dari Sankrit kota suci indra) sendiri sebagai ibukota dimana terdapat sebanyak 50 rumah sederhana dimana sebanyak 30 rumah berada dipinggir sungai Siak. Rumah sultan Siak berada di ujung. Wilayah sekitar desa rawan terhadap gajah, perdagangan hampir tidak ada lagi disini. Beberapa kali masih datang pedagang Arab untuk mengangkut rotan dan hasil lainnya. Pedagang Cina tidak ada yang datang lagi menyebabkan ekonomi penduduk sudah sangat menurun. Di sisi lain, sudah dibangun benteng untuk melindungi asisten Residen dan juga telah dibuat barak sementara untuk militer. Tidak jauh dari desa tampak perahu lama dan rusak yang mengingatkan penduduk pernah ada perdagangan dan mengirim dan mengangkut produk. Pada tahun 1823 Anderson atas pemerintah di Penang pernah datang ke sini dimana perdagangan di sini sudah jauh merosot, karena sering ada perpecahan yang saling memperkaya diri, pemerasan dan penjarahan. Mereka adakalanya merasa lebih aman membawa hasil produk ke pedalaman untuk diteruskan ke pantai barat Sumatra’.    

Semua ini terjadi sebelum terjadinya penaklukan Daloe-Daloe (yang menjadi markas pasukan Padri dibawah pimpinan Toeankoe Tambusai). Dalam Perang Pertibie (1838) banyak pemimpin pasukan Tamboesei yang melarikan diri ke Rokan. Lanskap Rokan sendiri menurut peneliti-peneliti Belanda adalah lanskap yang membatasi antara penduduk Melayu (yang berpusat di DAS Rokan) dengan penduduk Batak (yang berpusat di DAS Baroemoen).

Pertibie sendiri meliputi wilayah yang luas yang jarang penduduknya dengan pusat sungai Baroemoen hingga ke Panei dan Bila dihuni oleh penduduk Batak telah diduduki oleh Belanda. Pada kunjungan Anderson tahun 1823 wilayah ini juga mengakui supremasi Siak. Untuk mengamankan daerah ini pasca perang Pertibie dibangun pos militer di Kota Pinang dan benteng di Bila (di pertemuan sungai Bila dan Baroemoen) dengan kekuatan pasukan berjumlah 75 tentara Ambon dan beberapa orang Eropa.

Dengan demikian antara pantai barat Sumatra dan pantai timur Sumatra semakin terhubung dengan baik. Pengaruh Inggris secara ekonomi mulai memudar dengan meningkatnya kekuasaan (politik) Belanda di pantai timur Sumatra. Peningkatan eskalasi militer Belanda juga terjadi dengan titik paling utara di Bila. Tidak lama setelah Riaou diduduki, juga Singkel telah berhasil diduduki. Pemerintah Inggris di Penang mewanti-wanti para sultan di Deli dan sekitarnya.
   .              
Setelah pendudukan Singkel, Belanda coba menduduki Deli melalui pengaruh Belanda terhadap Kesultanan Siak. Untuk menunjukkan hubungan baik antara Deli dan Inggris, atas adanya aneksasi Belanda terhadap Singkel diberitahukan pemerintah Inggris di Penang yang mana Inggris tidak akan ikut campur (sebagaiman dikutip Anderson dari Koran yang terbit di Penang). Seperti diketahui pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Sumatra sangat erat dalam perdagangan dengan Inggris di pelabuhan-pelabuhan semenanjung seperti Penang dan Singapura.

Sejak mangkalnya Inggris di Pulau Penang telah banyak yang berubah cepat di pantai timur Sumatra. Selama ketidakhadiran Belanda di Deli dan sekitarnya, Laboehan Deli telah berkembang pesat di bawah hubungan dagang antara Leboehan Deli di pantai timur Sumatra dan Pulo Penang dan (pulo) Singapura di sisi semenanjung Malaya. Pada masa kini, gambaran itu masih nyata, ketika Belanda tidak hadir lagi di Indonesia (pasca pengakuan kedaulatan), Inggris secara politik masih diakui keberadaannya di Singapura dan semenanjung Malaya. Bagaimana kisahnya di Deli pada masa doeloe? Mari kita lacak!

Laboehan Deli, Pelabuhan Independen yang Mulai Dincar Belanda

Laboehan Deli sudah beberapa kali berganti tuan: antara Atjeh dan Siak. Pelabuhan yang dikelola oleh penduduk yang minim kekuatan dan tidak berdaya harus berhadapan dengan kekuatan besar dari Atjeh dan Siak. Deli adalah lumbung Atjeh dan disebut Valentine Pedir. Namun ketika Anderson mengunjungi Laboehan Deli, mereka telah mengakui supremasi Siak. Hal ini karena menurut Anderson, Atjeh tidak memperpanjang lagi wilayah kekuasaan dan tidak lebih jauh dari Tandjong Perlak (Diamond Cape). Dan itu dengan sendirinya Tamiang dianggap dalam bayang-bayang Siak (Tamiang sendiri tak peduli siapa yang menguasai mereka). Dalam laporan Belanda disebutkan:

‘Kami menemukan antara Bila dan Tamiang enam lanskap terpisah yang tak bertuan (stateless), yakni Batoebara, Asahan, Serdang, Deli, Baloe Tjina dan Langkat yang wilayah satu sama lain dibatasi oleh sungai. Hanya Laboehan Deli yang dapat dilayari dengan kapal-kapal bertonase besar. Para pangeran di Deli ini mengangap dirinya menguasai Boeloe Tjina dan Langkat. Produk utama pelabuhan ini adalah lada hitam, sebagaimana disebut Anderson, bukan oleh penduduk pesisir Melayu, tetapi dibudidayakan oleh penduduk Batak pedalaman dan di belakang pesisir. 

Sebagai gambaran yang disebutkan Anderson antara Siak dan Tamiang dimana ekspor pada tahun 1823-1824 hampir 35.000 pikul hanya untuk Pulau Penang saja dan secara keseluruhan sebanyak 60.000 pikul yang juga meliputi Singapore. Disebutkan Anderson, antara tahun 1817 hingga 1824 ekspor ke Pulau Penang telah meningkat dari 1.800 pikul menjadi 35.000 pikul. Untuk perdagangan lada hitam ini untuk Batoebara dan Asahan sebagaimana juga Siak tampak kurang penting, tetapi untuk pelabuhan di sebelah utara Serdang, Deli, Baloe Tjina dan Langkat dan beberapa pelabuhan yang dikuasai orang Atjeh di pantai barat, produk yang mendominasi adalah lada yang lalu semuanya dikenal sebagai pelabuhan-pelabuhan pepper  (Pepper Port)’.

Dengan mengacu pada laporan itu, pernyataan Anderson sangat masuk akal, karena pelabuhan-pelabuhan yang dimaksud sebagai pelabuhan lada adalah sisi luar dari penduduk Batak yang membudidayakan lada hitam. Pelabuhan-pelabuhan utama Atjeh seperti Taroemoen, Singkel yang memiliki hubungan dagang dengan Tapoes, Baros, Tapian Naoeli dan Natal. Dalam laporan itu tidak ada indikasi pelabuhan lada di utara dan timur Atjeh dan Siak.

Meski tidak disebut keberadaan pelabuhan di sekitar Sungai Baroemoen, namun karena Singapore juga mendapat porsi yang cukup besar dalam perdagangan lada, besar kemungkinan lada mereka di Singapore berasal dari DAS Baroemoen dan pelabuhan-pelaboehan kecil lainnya di pantai timur Sumatra. Seperti diketahui dari sumber lain, sudah sejak lama pedagang-pedagang dari Singapoera keluar masuk ke Tanah Batak di Angkola melalui DAS Baroemoen dan Padang Lawas (suatu hal yang tidak ditemukan di pelabuhan lainnya, kecuali hanya sebatas di pelabuhan).

Perdagangan di Deli terutama didorong oleh Inggris di Pulau Penang yang pada gilirannya menarik produksi dari Tanah Batak.  Awalnya belum begitu penting, baru setelah tahun 1819 terjadi peningkatan. Kala itu sempat ada kekhawatiran karena masalah politik di Malaka dan Riau. Menurut laporan Belanda pemimpin-pemimpin di Deli, Serdang dan Langkat tidak senang dengan kehadiran Belanda. Akan tetapi seperti diketahui, tekanan Atjeh terhadap Kesultanan Deli membuat Sultan Mahmoed dan ayahnya harus bergegas untuk meminta perlindungan kepada Belanda (dimana tuannya sudah lebih dahulu telah melakukannya).  

Resident Riaou ke Deli untuk Meneror Pimpinan Suku Batak

Bengkalis di Siak
Belanda memang betul-betul mengincar Deli. Belanda tidak hanya ingin memiliki lumbung Atjeh itu, tetapi juga sekaligus menyingkirkan pengaruh Inggris terhadap Deli. Dalam hal ini, kenyataannya Belanda seakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Tidak hanya Siak yang meminta perlindungan kepada Belanda, tetapi juga Deli telah meminta perlindungan kepada Belanda.

Siak bukanlah tanpa alasan menyerahkan diri begitu saja kepada Belanda. Pada era VOC (seratus tahun sebelumnya) telah membuka pos perdagangan di muara sungai Siak di pulau Gontong, tetapi dihancurkan oleh Siak berantakan. Pengaruh Belanda lenyap hampir seabad, lalu pengaruh Inggris muncul. Namun dalam perkembangan terakhir, Siak selalu dihantui para bajak laut dari Kepulauan Riau dengan penadah pelabuhan Singapore dan terakhir semakin banyaknya migrant Cina yang masuk dari Singapore dan kerap membuat kerusuhan. Atas pertimbangan ini semua Sultan Siak meminta perlindungan kepada Belanda yang tengah aktif memburu para pengikut Padri yang menyusup ke Riau. Lalu perjanjian dibuat (termasuk lima lanskap di bawah supremasi Siak, Langkat, Deli, Serdang, Batoebara dan Asahan).

Perjanjian dibuat di Siak Indrapoera bahwa Belanda akan membentuk otoritasnya mulai dari Indragiri hingga ke Tamiang. Inilah pendudukan Belanda atas suatu wilayah yang begitu luas dengan daya upaya yang paling mudah dilakukan. Indragiri yang dianeksasi sejak 1839 ibukotanya akan dihapuskan tahun 1843 dan dipindahkan ke Siak di Bengkalis.  Pada 31 Desember 1857 Belanda melakukan tandatangan kontrak dengan Sultan untuk tatakelola perpajakan. Kemudian beberapa tahun kemudian ibukota Bengkalis dipindahkan ke Siak Indrapoera.

Pada nantinya, berdasarkan Staatsblad No.48 tanggal 27 Maret 1864 organisasi pemerintahan sipil di Siak terdiri dari Asisten Residen dan dua Controleur. Berdasarkan Almanak Pemerintah tahun 1867 ada tambahan controleur untuk Asahan, Deli, Batoebara, Laboehan Batoe, Siak. Sebagaimana diketahui Resident Riaou berkedudukan di Tandjong Pinang (Bintan). Residentie Riaou terdiri dari: Kepulauan Riaou dan Kesultanan Siak (pantai timur Sumatra).

Tugas pertama Resident Riau ke Deli ternyata bukanlah untuk bernegosiasi dengan Sultan Deli (penaklukan Kesultanan Deli sudah selesai dengan perjanjian Siak) tetapi justru untuk membungkam para pemimpin suku-suku Batak di Deli. Belanda ingin menundukkan para pemimpin suku Batak di Deli, karena secara ekonomi, kendali pasokan sumber komodiri perdagangan untuk pelabuhan di Laboehan Deli adalah penduduk Batak; secara perdamaian, Belanda membutuhkan keamanan untuk kepentingannya di pedalaman; dan secara territorial mengajak pimpinan suku Batak di Deli menjadi pengikut (sebagaimana Deli dan Siak) yang pada gilirannya nantinya memudahkan pembentukan sekutu dengan pemimpin suku Batak di pedalaman dalam rangka mmenuhi strategi Belanda untuk menjepit perlawanan dua kekuatan yang secara ekplisit menunjukkan anti terhadap Belanda di pedalaman (Sisingamangardja/Perang Toba) dan Sultan Atjeh/Perang Atjeh).

Kesultanan Deli dan suku-suku Batak tidak dalam situasi perang dan permusuhan. Itu sudah lama berlalu tahun 1823, dimana ibukota kesultanan pindah ke Laboehan Deli, dan Deli Toewa diokupasi suku Batak. Namun karena kedua belah pihak saling membutuhkan dalam ekonomi lada, kedamainlah yang terjadi. Dalam situasi damai, para pemimpin suku Batak mengakui status Sultan Deli, tetapi tidak ada upeti yang harus diberikan. Akan tetapi jika Kesultanan Deli diserang musuh di pantai, suku Batak yang berada di belakang garis pantai harus membantu dengan dibayar. Para pemimpin suku Batak juga masih ada yang pro atau kontra.

Pada bulan Februari 1863, Residen Riau tiba di Deli dengan kapal perang dan membuang jangkar di muara sungai Deli sebagaimana dilaporkannya sendiri pada tahun 1864. Sari atas kapal, Residen mengundang dua pimpinan suku Batak (mungkin yang kontra), Sebaja Lingga dan Goenoeng Radja dalam suatu pertemuan. Dua pempimpin ini datang dengan pengikut sebanyak 500 orang bersenjata lengkap ke Laboehan Deli. Residen mengundang dua pimpinan suku Batak ini untuk datang di atas kapal uap HM Haarlem-mermeer. Pemimpin ini memenuhi undangan Residen dan datang dengan gagah berani namun tetap dengan berperilaku sangat layak (tentu dengan seragam kebesaran).

Di atas kapal, Residen melakukan psywar tanpa disadari kedua pimpinan suku Batak tersebut dengan cara mengajak berkeliling di dalam kapal dan dengan santun memperlihatkan kecanggihan pesenjataan besar yang dimiliki dan memperlihatkan para awal kapal berbangsa Eropa/Belanda yang jumlahnya cukup banyak dengan persenjataan lengkap. Taktik Residen dengan cara ini mungkin ingin mempercepat proses perdamaian dan menghindari perang terbuka. Tampaknya berhasil untuk membungkam kedua pimpinan ini. Keberhasilan Residen dalam hal ini karena sudah berpengalaman di Tapanoeli (sebagai resident).

***
Resident Riau adalah seorang sipil yang berpengalaman dalam pemerintahan. Residen Riau adalah seorang pejabat yang cerdas, yang juga anggota Bataviasch Genooschap, mantan Residen Tapanoeli yang berkedudukan di Sibolga. Berikut disajikan bagian dari Laporan Residen yang telah dipublikasikan untuk diketahui public, yang disarikan sebagai berikut:

Wilayah Deli. Batas-batas lanskap Deli adalah sepanjang pantai dari huk Langkat Toeah (5’83’’) dan sungai Pertjoet (5’43’). Panjang pantai ini tidak lebih dari 20 mil Inggris. Bagian sisi dalam lebih lebar. Garis sebenarnya dari batas ini tidak diketahui, atau bahwa dari perbatasan barat, karena bagian dalam sepenuhnya dihuni oleh suku Batak yang hanya memberikan penghormatan saja kepada Pangeran Deli. Daerah ini dihuni oleh suku-suku Batak meluas ke batas pegunungan yang jauhnya 50 mil Inggris dari lepas pantai. Seluruh daerah ini mengalir sungai-sungai yang bermuara ke laut dimana beberapa pulau cukup besar yang merupakan dua muara utama sungai Hamparan Perak dan sebelah selatan sungai Deli atau Laboehan yang mana yang disebut terakhir tempat berlabuh kapal komersil.

Laboehan Deli, 1875
Kampong Deli. Setengah mil English dari mulut sungai Deli terletak kampong Deli. Tanah disini tampaknya sangat cocok untuk tumbuh pohon kelapa. Kampong Deli terdiri dari dua jalan panjang, yang sebagian besar rumah-rumah saling menyentuh. Jalan-jalan ini membentuk dengan satu sudut kanan lain. Hampir semua rumah bentuk panggung, sekitar tiga kaki di atas tanah dibangun, dan di bawah kanopi menjorok rendah biasanya dilengkapi dengan satu bangku bambu, baik untuk melayani sebagai tempat duduk atau untuk menampilkan barang dagangan. Beberapa rumah terbuat dari kayu, sebagian besar bambu, niboeng, kadjaogmatten dan bahan ligle serupa. Atap semua biasanya diberikan dengan katup untuk memungkinkan cahaya dan udara, dan untuk jalan keluar dari dalam rumah oleh asap. Hampir semua kolong rumah tak pernah dibersihkan, rumah-rumah menjadi jorok, dan akumulasi dari segala macam sampah di bawah rumah menunjukkan sebuah kampung kurang sedap dipandang. Jalan-jalan dan parit yang berjalan bersama di sana, untuk mengalirkan kelebihan air, membuktikan bahwa mereka sebelumnya berusaha ordc dan kontrol untuk mengeksekusi besarbesaran, tetapi dengan tangan tidak diperlukan dan semuanya sekarang mencegah j pembusukan dalam.

Rumah Sultan dan Masjid. Di bawah pemerintahan dikendalikan dan kuat. Pada ujung desa adalah rumah dari Sultan dan masdjid. Yang pertama adalah luas, bangunan papan, trotoar ditutupi terhubung dengan satu depan dan satu achtervaranda. Semua bangunan ini berdiri di atas tiang, hampir delapan kaki di atas tanah, dan ditutupi dengan atap. Voorvaianda adalah sekitar sembilan puluh kaki panjang dan tiga puluh lebar, tanpa pilar di tengah, dan dengan demikian menciptakan, luas ruangan yang indah, yang oleh tinggi atap dan dinding berkisi-kisi juga sangat lapang.

Masyarakat. Satu pemandangan yang aneh, diantara beberapa ratus penduduk asli, tampak sejumlah pria Atjeh dipersenjatai dengan belati dan pedang panjang Atjeh dengan gagang perak. The House of sultan dikelilingi pagar. Juga terdapat empat rumah panggung rendah yang dihuni oleh orang Batak. Bangunan rumah Batak ini ditutupi dengan serat dari paku sawit dan rapi dengan dekorasi Batak seperti dicat. Rumah kepala Batakscbe seperti cottage, yang mengakui supremasi Deli. The Mesdjid adalah sebuah bangunan papan yang cukup terawat dengan baik ukuran rendah.

Pakaian. Gaun dari penduduk pribumi terdiri dari satu lebar, celana pendek dan korset lebar atau salah satu dari yang sarung hit bahu. Celana dan korset ziin linen biasanya putih atau biru. Dimediasi katun atau sutera memakai celana Atjehsch. Kelas bawah terkesan kotor. Para wanita memakai sarung, yang diikat berada di atas payudara.

Barang dagangan. Sebagian baris wade pembuatan Eropa dan diimpor dari Pulu Pinang. t Hampir tidak ada rumah di desa Deli, di mana tidak hanya barang-barang yang ditampilkan. Namun, sebagian besar kasus adalah nilai yang kecil, seperti ikan kering, gambir, buah. Di beberapa toko juga bahasa Inggris atau Aljehsche garis rendam, pakaian satu-ken, besi, obat-obatan, dll untuk mendapatkan.

Penerangan. Bagi kebanyakan rumah adalah salah satu pers minyak, menunjukkan sederhana, blok melingkar, disimpan memanjang pada dua trestles dan memberikan satu takik persegi, di mana daging kelapa parut halus melalui wedges yang gepersd. Minyak bocor akibatnya adalah kualitas yang sangat baik dan harga murah.

Penduduk. Populasi Deli ada di pantai dari Maleijers, di pedalaman Batak. Penduduk Melayu kecil jumlahnya; mereka tidak lebih dari beberapa ribu jiwa. Mereka mendiami tanah pesisir rendah dan terutama kampung Deli. Sementara sekitar dua puluh Cina dan sekitar seratus Hindu berdarah campuran. Sedangkan Batak dapat dikatakan sangat banyak. Daerah yang dihuni oleh Batak terhitung mulai dari pantai dan terus memanjang hingga atas pegunungan tinggi. Dikatakan bahwa penduduk Batak ini ada kepala suku yang memerintahkan sekitar 40.000 jiwa. Diantara mereka Mohammedanism tampaknya klaim telah dibuat.
                         
Produksi dan Perdagangan Lada

Kampong Batak di Deli, 1878
Residen Riau juga memberikan laporan yang rinci tentang hasil budidaya lada di Deli. Menurut Residen, sebelumnya, penduduk Batak membudidayakan budidaya lada (bukan oleh penduduk pesisir Melayu). Pada tahun 1823, ketika Anderson berada disini, bahwa produksi 26.000 pikul setiap tahun. Ini hari, jumlahnya jauh berkurang, karena banyak sentra produksi yang ditinggalkan karena perang antar suku dan keberatan untuk membangun baru. Namun demikian dalam tahun 1863 oleh pengelola Bandar (output diawasi oleh Controleur) produksi lada masih ada sekitar  8.300 pikul per tahun. Tapi sultan meyakinkan saya Maret 1863 bahwa 'budaya ini sekarang hampir seluruhnya tidak diekspor. Di dataran rendah, sebaliknya, lebih dari sebelumnya pala dari satu spesies rendah ditanam.

Jika suku pedalaman beristirahat dipahami untuk dibawa, tidak akan lebih baik untuk pantai timor Sumatra. Jalan keluarnya, pertama: melakukan pemukiman berimbang mereka untuk memastikan perselisihan mereka, maka pepper-productie pasti dalam beberapa tahun, lagi meningkat secara signifikan. Kedua orang-orang dan tanah yang 'budaya tampaknya sangat cocok. Semua suku Batak dari Noors Sumatra telah sejak lama secara eksklusif membudidayakan lada. Selain lada, barang perdagangan ke Delische adalah gambir, tembakau, buah pinang, lilin, gading gajah, dan resin, dan tentu saja kuda yang sangat baik. Menurut salah satu pernyataan dari bandar, pada bulan Agustus tahun 1862, posisi arus perdagangan selama dua belas bulan sebagai berikut:

8.500 pikul lada.
3.000 batang rotan.
200 ekor kuda.
500 pikul pinang.
500 pikul pala dan fuli.
500 pikul tembakau.
500 pikul gambir.
400 pikul getah pertjah dan getah majang.
300 pikul was
250 pikul widjen.
400 pasang gading gajah.

Sementara barang yang masuk sebanyak 10 kotak opium dengan nilai 10,000 Sp, garam dan besi untuk kebutuhan perang, dll. Nilai ini tampaknya harus ditentukan untuk terlalu rendah, tentu jauh lebih banyak opium yang dibawa. Dalam tahun-tahun sebelumnya dan di bawah kondisi panas perdamaian dan kemakmuran yang dipasok lebih dari 200.000 gantang garam dari Deli.

Saat ini cabang lampaunya industri dan tampaknya bahwa garam dari pantai barat Sumatera menemukan jalan ke Batak akibatnya impor dari Deli telah menurun lumayan. Sebelumnya, garam impor dipajak 2 Sp. per 100 gantang. Sekarang menjual garam adalah monopoli dari Sultan, yang garam disuplai dari Pulu Pinang dan Siamschen dan asal Arab. Perdagangan Deli hampir secara eksklusif dengan Pocloe Pinang. Perdagangan ini akan banyak peningkatan, jika di Deli lebih damai dan ketertiban. Hanya mereka yang menarik keuntungan di air keruh, karena itu dapat menganggap dengan mata iri bahwa era pemerintahan yang lebih baik datang di Deli. Industri tampaknya di Deli hingga saat ini masih sangat rendah.

Dinamika Politik di Deli

Menurut laporan Residen, ada pemisahan yang sangat besar antara Maleyers dan Batak. Mereka dari beragam asal, memiliki satu bahasa yang berbeda, masing-masing dengan tulisannya, dan sementara Maleijer Mohameuaan, Batak tidak ada agama selain penyederhanaan jabatan roh yang mengatur alam semesta.
 
Batak mengakui sampai batas tertentu kedaulatan penguasa Melayu dari pantai. Mereka yang mengakui sultan Deli seperti itu, membawanya tidak ada upeti, tetapi memiliki dia dalam perang melawan bantuan pembayaran.
Kedua belah pihak melakukan kesepakatan dalam tanaman lada. Para sultan berharap tidak ada saling mengganggu antar kedua belah pihak.

Kampong Batak di Deli Toea, 1878
Namun dalam perjalanannya, selalu ada regenerasi perselisihan para pemimpin suku Batta yang mengakui kedaulatan Deli. Ada delapan pimpinan suku Batak, empat di dataran rendah dan empat di di dataran tinggi wilayah pegunungan. Keempat pimpinan suku Batak ini memiliki nama kolektif yang disebut Tanah Djawa, Siantar, Panei dan Silau. Sedangkan suku-suku yang berada di bovenlanden disebut Karauw yang meliputi Baroesdjahai, Soeka Sembelang, Sabaja Lingga dan Raja Senembah. Diantara semua suku-suku ini terdapat perbedaan dialek yang signifikan ada perbedaan, namun dalam hal tulisan, semua suku ini memiliki aksara yang sama. Antar satu sama lain kerap timbul iri yang menyebabkan munculnya perang saudara.

Berdasarkan laporan dari sumber lain (Bataviasch Genooschap, 1870): Diantara para pemimpin Melayu juga terjadi saling iri (tidak kompak, bahkan sangat mendalam) namun tidak pernah menimbulkan perang antar sesama. Ketika Controleur pertama di Laboehan Deli mengundang para sultan-sultan setahun setelah Residen mengundang pemimpin suku Batak ke dalam kapal. Sultan Serdang tidak menggubris dan tidak pernah datang dan selalu memberi alasan.  Sultan Serdang memiliki caranya sendiri, dan tidak setuju Sultan Deli mengatasnamakan semua sultan-sultan. Reaksi Sultan Serdang cukup keras ketika Sultan Deli menganggap para sultan dan pangeran di lanskap Boeloe Tjina dan Langkat adalah dibawah supremasinya (situasi dan kondisi yang berulang ketika Sultan Siak menganggap semua sultan dari Bila hingga Tamiang berada dibawah supremasinya). Atas hal ini Sultan Serdang melakukan kekerasan terhadap kesultan Deli. Pada tahun 1865 ketika Controleur ditempatkan di Batoebara terjadi kerusuhan di pedalaman. Ada dugaan Sultan Serdang dan satu atau lebih dari empat pemimpin suku Batak di dataran rendah (Tanah Djawa, Siantar, Panai dan Silau) turut campur dalam kerusuhan tersebut.

Dengan memperhatikan dinamika politik tersebut, terkesan Sultan Deli telah memainkan peran penting. Kesan serupa ini sebenarnya salah alamat. Sultan Deli sesungguhnya hanya karena terpilih, meski dapat dianggap sebagai korban, yakni korban dari taktik Belanda. Hal ini dapat bercermin dari kasus di Riau. Sultan Lingga di kepulauan disingkirkan (diabaikan) dan meninggikan Sultan Siak yang sudah lama terpuruk. Sultan Ismail telah merepotkan para sultan-sultan di Siak. Dalam hal ini, Sultan Deli ingin ditinggikan derajatnya. Strategi Belanda mengisyaratkan hanya ada satu pemimpin pribumi (tidak ada dua atau tiga matahari). Namun pandangan ini juga tampaknya keliru. Sebab dasar pembentukan tujuan Belanda hanya satu: keuntungan finasial. Atas dasar keuntungan dari perdaganganlah sultan-sultan tersebut terpilih. Oleh karenanya sultan-sultan terpilih adalah sultan-sultan yang kebetulan berada di wilayah yang memiliki potensi ekonomi yang prospektif.

Hal inilah yang terjadi dengan Sultan Deli (yang pro Belanda) dan dua pemimpin suku Batak (yang kontra Belanda). Sultan Deli yang lemah sebenarnya tidak dalam situasi mengambil keuntungan diantara para sultan. Belandalah yang memainkan peran sesungguhya. Namun bagi sultan Serdang, peran Sultan Deli adalah mengambil keuntungan di air keruh. Hal ini dulu pernah terjadi terhadap Atjeh. Sedangkan dua pemimpin suku Batak yang kuat menelan kerugian ganda karena telah terjebak dalam teror yang dilancarkan oleh Residen di atas kapal. Sultan Deli tampaknya telah menemukan jalan yang terbaik bagi dirinya ke tangga kemakmuran, tetapi tidak dengan sultan-sultan lain (terutama Serdang) dan para pemimpin suku-suku Batak di dataran rendah.

Pada tahun 1867 kehadiran otoritas Belanda telah mendistorsi perdagangan antara Deli dengan Penang. Sebagaimana diketahui Serdang, Deli dan Langkas sudah sejak lama menjadi pelabuhan utama lada di pantai timur Sumatra. Pelabuhan-pelabuhan ini sekarang mengeluh kepada Pulo Penang karena permintaan Penang menurun drastic. Hal ini efek dari intervensi kebijakan pemerintah Belanda yang mengenakan tariff ekspor yang lebih tinggi. Ekspor lada berkurang dimana penyebabnya justru terletak dalam Negara, dimana kini pedagang dari Pulo Penang jadi mengeluh. Kerugian lagi pedagang Pulo Penang karena impor batangan besi menurun drastic. Namun di sisi lain, perdagangan komoditi lain meningkat seperti beras dan pala. Lagi pula pedagang Cina dan penduduk asli sudah jauh menurun pemerasan dan kekerasan. Memang akan terasa di Penang dan itu menjadi dapat mengalami resonansi di Inggris. Pers di Singapoera menyebut: ‘gangguan-gangguan baru dari Belanda di Sumatra’. 
Controleur Deli Melakukan Ekspedisi ke Bataklanden

Benar, bahwa Belanda benar-benar mengincar Deli. Pada tahun 1863 yang didahului oleh penempatan pasukan yang dipimpin oleh seorang kapten sudah berada di Laboehan Deli. Kemudian menyusul ditempatkan seorang controleur. Fungsi Controleur tidak hanya untuk pengendalian tetapi juga orang pemerintah yang ditugaskan untuk membuka jalan.

Tugas pertama Controleur adalah lebih banyak berkonsentrasi untuk urusan di lingkar kerajaan, dimana satu dengan yang lainnya saling tidak akur alias bermusuhan. Meski Langkat dan Serdang masuk otoritas Belanda, tetapi Controleur belum memahami sepenuhnya. Controleur sulit menjalin hubungan sesame kerajaan, karena perjalanan ke lanskap-lanskap itu melalui daratan Controleur banyak mendengar kabar adanya bahaya orang Batak terhadap Melayu seperti pemerasan, perampokan, penjualan perempuan dan anak-anak. Oleh karenanya, Controleur mengabaikan pembinaan ke Serdang dan Langkat dan lebih memprioritas hubungan Deli dengan Bataklanden.

Controleur yang ditempatkan di Laboehan Deli, setelah tiga tahun bertugas, pada tahun 1866 membuat rencana untuk melakukan ekspedisi ke Bataklanden. Tentu ini sangat penting, karena kemajuan transaksi dagang di pelabuhan Laboehan Deli sangat tergantung aliran komoditi dari penduduk Batak baik yang berada di belakang pantai (dataran rendah) maupun yang berada di pegunungan (dataran tinggi). Sebab tujuan utama kolonisasi adalah perdagangan dan keuntungan. Inilah yang dilakukan Controleur untuk memahami kunci keberhasilan Deli itu melakukan ekspedisi ke Tanah Batak pada bulan Desember 1866 hingga Januari 1867.

Untuk melancarkan tugas Controleur ini ke pedalaman yang pertama dilakukan Controleur adalah membuat perdamaian antara orang-orang Batak dengan Sultan. Tokoh kunci dalam hal ini adalah dua orang, yakni seorang tokoh independen yang telah lama tinggal di sekitar sungai Deli dan sungai Babura yang berasal dari Boekoem dan satu lagi tokoh kepala adat di Senembah (Patumbak). Controleur berhasil mempertemukan tokoh-tokoh Batak ini dengan Sultan dimana Si Boekoem datang sendiri dan kepala adat dari Patumbak datang dengan pengikut limapuluh orang Batak.

Dalam pertemuan ini Controleur didampingi kapten militer (Belanda) dan para kerabat sultan (pangeran). Hasil pertemuan di kraton Sultan Deli adalah perdamaian yang isinya sebagai berikut:

Tokoh Batak mencoba menghalangi munculnya pencurian, perampokan dan pembunuhan terhadap Melayu dan berusaha untuk mencoba menghidupkan kembali perdagangan dengan penduduk Batak di pegunungan (dataran tinggi).
Sultan akan memberikan perlindungan bagi penduduk yang dari pegunungan atas perjalanan mereka mengantarkan mata dagangan mereka ke pelabuhan.

Selanjutnya disusun langkah-langkah yang akan dilakukan untuk ekspedisi ke Bataklanden. Dalam perjalanan ini Controelur mengajak seorang letnan Inggris dari Paulau Penang yang tengah berkunjung di garnisun (Belanda) di Laboehan Deli. Juga dalam perjalanan ini empat kepala suku bersedia ikut serta. Sebagai wakil dari Sultan Deli adalah paman Sultan, disebut Raja Moedin. Satu lagi yang ikut dalam ekspedisi ini adalah Albert Breker seorang industri di Deli (mungkin orang ini adalah wakil dari Nienhuys).

Menurut laporan Controleur, wilayah kekuasaan Sultan Deli hanyalah Laboehan Deli dan sekitarnya ditambah lanskap kecil Pertjoet. Wilayah-wilayah lainnya di sekitar pengaliran sungai Deli ke hulu terdiri dari daerah yang dikepalai oleh empat kepala suku. Kempat kepala suku itu Orang Kaya Agoe, juga disebut Orang Kaya Indra.di Radja dari suku Sukkah Piring, Orang Kaya Stiha Radja dari suku XII Kota, Orang Kaja Sri di Radja dari suku X Kota, dan kedjoeroehan dari Senembah dari suku Roemah Reh [catatan: suku XII Kota yang berada di sekitar pertemuan sungai Deli dan sungai Babura berbeda dengan suku XII Kota yang berada di muara sungai Belawan (Hamparan Perak).

Rombongan ekspedisi ini berangkat tanggal 9 Desember. Pada pagi hari pukul Sembilan berangkat dari Labuan, ibukota Deli, kami akan menuju Kampong Baru (kini Medan Baru) yang diperkirakan akan tiba pukul lima sore. Beberapa kampong yang kami lewati adalah kampong Alai, kampung Gengah, kampoog Besar, Rantoe-Blimbing, Mertoeboeng, Rengas Sambilan, Kota Bangon, Mabar, Rengas Sekoepang, Poeloe Braian, Gloegoer, Medan Poetri, Kesawan dan Tebing Tinggi.

Meskipun tempat-tempat tinggal tersebut menggunakan nama kampung, penghuninya tidak dapat benar-benar dianggap seperti sebuah kampung. Diantara deretan kampong ini terdapat kampong Medan Poetri. Pada dasarnya rumah penduduk tersebar satu dengan yang lainnya,  Controleur itu memastikan tidak menyebut sebagai kampung, tetapi lebih menganggap bahwa nama-nama ini sebagai daerah (area). Setiap populasi area ini memiliki seorang kepala atau seorang pengetua yang disebut Datoe yang hanya berfungsi untuk membuat putusan dalam kasus-kasus kecil di mana denda diterapkan. Untuk hukuman berat seperti seperti pembunuhan atau pencurian dikirim ke Sultan Deli di Laboehan Deli.

Setelah melewati jalan ini tidak lebih dari jalan setapak, di TebingTinggi baru terasa agak berbukit. Sepanjang jalan memasuki Tebingtinggi ini terdapat beberapa kebun kelapa, kebun pala dan banyak aren. Di boven Tebing Tinggi ini tampak beberapa kebun lada yang diusahakan dan terpelihara dengan baik oleh Battakkers (penduduk Batak).

Pada jaman dulu (di era kakek dan kemudian ayah Sultan) menurut Controleur di area ini merupakan area lada namun hancur oleh kerusuhan antara Batak dan Melayu. Petani-petani Melayu melarikan diri sementara petani-petani Batak terus mengusahakan hingga kini. Menurut penglihatan Controleur, kebun-kebun lada masih terpelihara dengan baik; cabang diarahkan oleh dedap, jenis kayu tertentu yang tumbuh dimana biji lada tumbuh dengan cepat dan merata.

Ekspedisi ke Bataklanden (1905)
Rombongan yang banyaknya dua ratus orang ini tiba di Kampong Baroe dan menginap.  Kampung Batak ini dipimpin oleh Hooft paoghoeloe. Untuk melanjutkan perjalanan, di Kampong Baru ini, Controleur mencari kuli untuk pengangkutan bagasi, dan  meminta bantuan kepada panghoeloe  Deli Toea, yang berjanji untuk melakukannya pagi hari berikutnya akan mengirimkan sejumlah orang Batak yang diperlukan.

Pukul delapan rombongan meninggalkan Kampoeng Baro (kini Medan Baru) dan diperkirakan tiba pukul lima di Deli Toea. Sekitar satu jam jelang kampong Deli Toea, tampak pada sisi kampung arah rombongan datang terdapat benteng tanah, yang dikatakan doeloenya itu merupakan tempat yang diperkuat ketika Deli Toea melawan musuh yang datang mengganggu dari arah laut. Deli Toea ini doeloenya merupakan jalur yang terhubung dengan laut dimana sungai di dekat kampong ini mampu jangkar. Rombongan sempat keliling selama sejam lalu mendaki ke daerah perbukitan dimana rombongan tiba di Deli Toea. Nasib Deli Toea kini hanya kenangan bahkan saat rombongan melihat bahkan untuk perahu yang sangat kecilpun tidak ada yang bisa lagi melayarinya.

Di pintu masuk kampung dalam jumlah besar orang Batak penduduk kampong sedang menunggu kedatangan rombongan. Rumah-rumah para penduduk kecil-kecil dan mereka tidak bisa membayangkan bahwa begitu sedikit tempat tinggal yang cukup untuk memberikan perumahan bagi begitu banyak orang yang datang yang jumlahnya dua ratus orang. Namun gubuk-gubuk sederhana semua harus berbagi. Rumah ini semua pada tingkat dasar, bangunan yang terbuat dari bamboo dengan atap terbuat dari idjoek. Di tengah-tengah kampong terdapat sebuah bangunan tempat dimana semua beras mereka disimpan. Tampak bahwa rumah mereka sudah memiliki beberapa tahun dengan melihat lumut yang tumbuh di atap. Rumah penghoeloe kampong (kampongsboofd) adalah tiga puluh kaki panjang dan sepuluh kaki lebar.

Penduduk kampong terdiri dari Battakkers; Namun, pakaian pria memiliki banyak kesamaan dengan orang Melayu. Sarung Melayu dan syal. Kampung ini mirip kampong orang Melayu, kecuali di sini tampak babi yang bebas berjalan-jalan di sekitar. Rombongan disambut panghoeloe kampong yang datang bersama istri dan anak perempuan mereka. Mereka menawarkan kepada tiap anggota rombongan sirih yang dilengkapi dengan gambir dan kapur. Tanpa terkecuali semua ditawarkan. Tidak ada yang menolak, adalah penghinaan untuk menolak.

Kampung Batak di Boekoem (1867)
Setelah Deli Toea, perjalanan dilanjutkan melewati Tankahan, sebuah kampong kecil dengan tiga rumah dan satu balei-balei terbuka, dimana rombongan menghabiskan malam. Kepala kampong sangat ramah dan memberi kami tuak, juga beberapa ayam dan telur, dan memberi kami kuli yang diperlukan untuk transportasi mengangkati barang. Lalu, rombongan berangkat keesokan harinya menuju Salah Boelan, satu jalan dekat Lima Moekoer dimana di dekat Salah Boelan dimana hulu Sungai Deli tetapi tidak dalam; Rombongan melewati sungai dekat kampong Lima Moekoer  dekat kampong Talong Durian. Di dekat kampong  Salah Boelan yakni kampong Sukkah Moelia, laki-laki, perempuan dan anak perempuan dari menyambut rombongan. Salah Boelan sama dengan kampung Tankahan yakni sebuah kampung kecil yang dikelilingi oleh pagar bambu ganda, Dari sana rombongan mengambil perjalanan ke Boekoem yang jalannya naik dan turun. Sungai dari tempat ini menuju laut yang dihilir disebut melalui Patoenbak dimana sungai Perjoet mendapatkan air. Rombongan tiba di Boekoem pukul lima, dan setelah beberapa saat untuk beristirahat di balei, kami mulai memasuki kampung yang mana tampak  parade sawah-sawah dan ladang. Dari kampong ini dapat melihat dikejauhan laut. Kampung ini bisa disebut sebagai tempat yang indah untuk dipertimbangkan. Semua rumah berkonstruksi berat, terbuat dari kayu tebal yang dirakit papan dengan atap dari idjoe dan bangunan berupa panggung.

Laboehan Deli, Kampung Melayu dan Medan Poetri, Kampung Batak

Pada awal kehadiran Belanda di Deli (1863-1866) Laboehan Deli hanya sebuah kampong dengan sekitar 200 rumah yang terdiri dari Melayu, Atjeh, Cina dan Batak. Aktivitas perdagangan sudah jauh menurun dibanding doeloenya. Namun begitu, Laboehan Deli adalah ibukota lanskap Deli tempat dimana Controleur bertugas. Nienhuys, industrialis pertama di Deli sudah hadir. Kehadiran letnan Inggris dari Penang di Laboehan Deli besar kemungkinan sebagai wakil Inggris.

Jalur transportasi darat dari Laboehan Deli ke Bataklanden
Moda transportasi darat di sepanjang sungai Deli sudah ada antara Laboehan Deli dengan Deli Toea. Beberapa kampong diantaranya adalah Alai, Gengah, Kampong Besar, Rantoe-Blimbing, Mertoeboeng, Rengas Sambilan, Kota Bangon, Mabar, Rengas Sekoepang, Poeloe Braian, Gloegoer, Medan Poetri, Kesawan dan Tebing Tinggi dan Kampong Baru. Meskipun tempat-tempat tinggal tersebut menggunakan nama kampung, penghuninya tidak dapat benar-benar dianggap seperti sebuah kampung. Pada dasarnya rumah penduduk tersebar satu dengan yang lainnya, sehingga nama-nama kampong tersebut lebih tepat disebut sebagai daerah (area). Setiap kampong atau area ini memiliki seorang kepala atau seorang pengetua yang disebut Datu yang hanya berfungsi untuk membuat putusan dalam kasus-kasus kecil di mana denda diterapkan. Untuk hukuman berat seperti pembunuhan atau pencurian dikirim ke Sultan Deli di Laboehan Deli.

Suku Sukapiring di Medan
Wilayah kekuasaan Sultan Deli hanyalah Laboehan Deli dan sekitarnya ditambah lanskap kecil Pertjoet (sebagaimana dinyatakan van Cats, 1866). Wilayah-wilayah lainnya di sekitar pengaliran sungai Deli ke hulu terdiri dari daerah suku yang dikepalai oleh empat kepala suku (abtak). Keempat suku tersebut adalah suku Suka Piring (Kampoeng Baroe), suku XII Kota (Hamparan Perak), suku X Kota (Soenggal), dan suku Roemah Reh (Senembah). Suku XII Kota mendiami area di sekitar Hamparan Perak, suku X Kota di Soenggal dan sekitar. Suku Suka Piring mendiami area Kampong Baru, muara sungai Babura (Medan Poetri) dan sekitar hulu sungai Deli (Deli Toea). Suku Rumah Reh mendiami area Senembah (Patumbak).Keempat soekoe ini disebut orang Melayu sebagai Melayu Doesoen, sebaliknya orang Batak menyebutnya Batak Doesoen.

Pengertian suku dalam hal ini adalah bersifat territorial bukan genealogis. Namun gelar para pimpinan suku ini mengikuti gelar yang digunakan di dalam lingkungan kesultaan. Masing-masing suku terdiri dari beberapa kampong (area) yang dikepalai oleh seorang Datoe. Kampung Medan Poetri yang berada di pertemuan sungai Deli dan sungai Baboera adalah bagian dari suku Soeka Piring. Penduduk kampong Medan Poetri dan tetangganya Kampung Soeka Moelia adalah perkampungan Batak.

Dengan demikian, kampung Medan Poetri dan Kampung Soeka Moelia bertetangga dekat dengan Kampung Tebing Tinggi, Kampung Baru dan Kampung Deli Toea yang teridentifikasi sebagai perkampungan Batak. Nama Kampung Soeka Moelia juga ditemukan di dataran tinggi. Suku Suka Piring juga adalah area yang menjadi kampong-kampung Batak yang berasal dari Siberaya, Urung Soekapiring (lihat Bonatz, Miksic and Neidel). Hal ini diperkuat dengan kepala suku Suka Piring yakni Orang Kaya Indra.Diradja adalah yang menjadi pemandu (penghubung antara rombongan dengan kepala-kepala kampong) selama ekspedisi ke Bataklanden tahun 1866.


Selanjutnya…



Pada tahun 1863 Belanda secara defacto sudah berada di Deli (dengan kehadiran Residen Netscher dan Controleur van Cats). Pada tahun 1865 secara dejure Deli menjadi salah satu bagian pemerintah tingkat terendah dari Asisten Residen di Siak Indrapoera dengan menempatkan controleur di Deli.



Pada tahun 1875 status controleur Deli ditingkatkan menjadi Asisten Residen dan di onderafdeeling Medanditempatkan seorang controleur. Kemudian, berdasarkan beslit nomor 12 tanggal 28 Juni 1879 ibukota Deli (Asisten Residen) pindah dari Laboehan Deli ke Medan. Pada tahun 1879 bangunan termewah yang ada di Medan adalah rumah (huis) kepala administratur dari NV. Deli Maatschappij.


Pada tahun 1881 terjadi perubahan pemerintahan di Deli. Selain sudah terdapat controleur di Medan, Langkat (Tandjoengpoera) dan Laboehan Deli serta Serdang, juga ditempatkan seorang controleur di onderafdeeling Tandjoeng Djati (Bindjei) dan Tamiang. Pada tahun 1887 Asisten Residen Deli ditingkatkan menjadi Residen (ibukota Sumatra’s Oostkust pindah dari Bengkalis ke Medan) yang parallel Sumatra’s Oostkuts dipisahkan dari Riouw.  

Pada tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust dan Residentie Tapanoeli menjadi bersifat otonom (BB/setingkat province) yang langsung dibawah Gubernur Jenderal di Batavia. Pada tahun 1909 Kota Medan menjadi Kotamadya (Gemeente). Pada tahun 1915 Residentie Sumatra’s Oostkust ditingkatkan menjadi Province. Paralel dengan ini  Tamiang dipisahkan dari Sunatra’s Oostkut dan Singkel dipisahkan dari Residentie Tapanoeli dan secara bersama-sama dimasukkan ke Residentie Atjeh. Lalu.

Pada tahun 1824 dalam pemilu pertama Residentie Tapanoeli dan Residentie Atjeh disatukan menjadi satu dapil, sedangkan Province Sumatra’s Oostkust menjadi satu dapil. Pada tahun 1945, pemerintah RI, Sumatra’s Oostkuest menjadi Residentie dan secara bersama-sama dengan dua residentie lainnya (Tapanoeli dan Atjeh) menjadi satu province (Noord Sumatra).

Untuk memahami detail kronologisnya, mulailah membaca dari serial pertama Sejarah Kota Medan (klik link di bawah). 
Para sultan mulai memainkan peran penting atas penduduk Batak. Awalnya menyewakan tanah-tanahnya di Laboehan Deli dan Pertjoet, kemudian membeli tanah-tanah penduduk Batak di Medan dan sekitarnya lalu disewakan dalam bentuk konsesi kepada investor asing. Sultan mendapat keuntungan besar dari transaksi besar-besaran atas konsesi ini, tetapi penduduk Batak tidak menerima konpensasi apapun. Oleh karena penduduk Batak yang belum begitu paham atas siasat Sultan ini maka tidak timbul reaksi dari penduduk Batak. Baru setelah misionaris masuk tahun 1890, masalah ini ditemukan. Atas keuntungan 'menggadaikan' tanah-tanah penduduk tersebut (beli murah tetapi menyewakannya dengan mahal) Sultan mampu membangun istana megah di Medan dan meninggalkan istana yang bersahaja di Laboehan Deli (jauh lebih megah dari semua istana di Nederlansch Indie). Sementara penduduk yang bersahaja baik Melayu maupun Batak tidak mendapat apa-apa. Kemewahan dan kemakmuran di kalangan istana tidak berdampak apa-apa terhadap penduduk di sekitarnya. Dalam hal ini Belanda (pemerintah maupun pengusaha) telah berhasil meninabobokkan sultan dan para pangeran, kecuali Sultan Serdang yang tetap waspada yang memang sejak dari awal sudah disingkirkan terlebih dahulu. Belandalah yang menjadi aktor penting tentang dinamika di Deli dan khususnya Medan, yang boleh jadi Sultan Deli hanya sebagai korban. Dan memang itulah tujuan kolonialisasi: 'mengambil keuntungan sebanyak-banyak, dengan mengorbankan banyak penduduk dan memberi keuntungan sebagian kepada segelintir orang'..... ..
.
Bersambung:
Baca juga:
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama Sumatra Courant tahun 1864 dan 1875..

Tidak ada komentar: