28/12/15

Sejarah Kota Medan (9): Jacob Nienhuys, Datang ke Deli Setelah Mendengar Penduduk Batak Membudidayakan Tembakau



Budidaya lada di Kampong Batak di Deli (1878)
Sejarah Tanah Deli sebagai pusat perkebunan tembakau dunia sudah diketahui secara luas. Jacob Nienhuys sebagai pionir dalam membuka perkebunan tembakau di Deli juga sudah diketahui umum. Namun ternyata, pemilik ide pembukaan perkebunan tembakau di Deli bukan Nienhuys. Pemilik ide tersebut adalah seorang Arab di Surabaya yang pertama mendengar bahwa di Boeloe Tjina (kini Hamparan Perak), penduduk Batak sudah sejak lama telah membudidayakan tembakau dan memperdagangkan produk tembakau. Mr. Arab lantas mengajak Nienhuys yang bekerja di sebuah perkebunan orang Jerman di Jawa Timur untuk mencari investor di Batavia sebelum melakukan perjalanan jauh ke Deli.  

Boeloe Tjina adalah tetangga Deli, dua lanskap yang dibatasi oleh sungai Deli. Lanskap Boeloe Tjina dulunya beribukota Sampei, suatu pelabuhan disisi kanan sungai Boeloe Tjina. Nama Boeloe Tjina adalah nama baru Sampei. Dalam buku Negarakertagama disebutkan tiga pelabuhan besar yang ditaklukkan oleh kekuatan maritim Majapahit dibawah panglima Gajah Mada, yakni: Panai (muara sungai Baroemoen), Sampei (muara sungai Boeloe Tjina/Hamparan Perak) dan Haroe (muara sungai Wampu). Pelabuhan Sampei pada 1860 masih eksis yang dihuni oleh lima puluh rumah penduduk yang dikepalai oleh syah Bandar. Pelabuhan ini masih aktif untuk ekspor lada, gading, tembakau dan impor garam dan opium. Laboehan Deli adalah nama pelabuhan yang muncul kemudian dan telah menggantikan posisi penting Sampei (Boeloe Tjina).

Asal Usul Perkebunan Tembakau yang Sebenarnya di Deli

Jacob Nienhuys, anak seorang broker tembakau di Amsterdam mulai belajar tembakau diperkebunan milik Willem III di dekat Rhenen (Jerman). Dengan pengetahuan budidaya tembakau, kemudian atas ajakan seorang Jerman, Nienhuys berlayar ke Nederlandsch Indie, 1860. Nienhuys, pemuda umur 23 tahun mulai bekerja pada sebuah perkebunan tembakau di Rembang dan Probolinggo, suatu perkebunan milik pemerintah yang menjalin kerja sama dengan perusahaan rokok Nicot (Ngladjoe).

Pada tahun 1862, Nienhuys dan koleganya, seorang Arab (sebut saja Mr. Arab) dari Surabaya tergugah untuk mengunjungi Deli sebagai tanah yang menjanjikan bagi petualang tembakau: ‘land van belofte voor tabakkers’. Nienhuys,  mendapat informasi dari koleganya, Mr. Arab, bahwa di Deli juga (selain di Jawa) tembakau dibudidayakan oleh penduduk Batak. Kedua orang ini lalu berangkat ke Batavia untuk melakukan persiapan. Mereka berdua pertama menemui pimpinan perusahaan JF van Leeuwen & Co. Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Falk yang mana JF van Leeuwen & Co sendiri berpusat di Amsterdam.

Mr. Arab memulai pembicaraan dengan Mr. Falk bahwa dirinya telah lama di Jawa dan memiliki koneksi dengan Sultan di Deli yang merupakan keponakan dari istrinya. Mr. Arab menceritakan bahwa kondisi yang luar biasa di Deli dimana lada dan tembakau dibudidayakan dan telah berkembvang. Informasi ini juga diperolehnya dari artikel yang dibacanya di Jawa. Mr. Arab meyakinkan calon partner ini bahwa dia dapat menghubungkan orang Eropa dengan Sultan dan bersedia menemaninya. Mr. Arab akan meminta Sultan menyediakan lahan dan memberikannya monopoli opium dan garam. Cerita ini menarik bagi Mr. Falk lalu mencoba untuk menghubungi Mr. Maintz.

Akhirnya dibuat kesepakatan bahwa perjalanan ini akan dibiayai oleh dua perusahaan JF van Leeuwen & Co dan Maintz & Co. Dalam hal ini perjalanan akan terdiri dari JCLB Falk mewakili JF van Leeuwen & Co, Mr. Elliot ditunjuk mewakili Maintz & Co dan Mr. Arab akn ikut mendampingi ke Deli. Juga diputuskan Mr. Nienhuys yang telah lama bekerja di Perusahaan Tempeh dalam misi ini ditambahkan. Oleh karena perjalanan dari Batavia ke Deli bukanlah hal yang mudah, bahkan sangat sulit dan akan banyak waktu yang hilang, maka kemudian disepakati  akan mencarter kapal ‘Josephine’ dengan kapten Kuipers dipekerjakan dengan upah f100 per hari ditambah f15 yang mana untuk makan tiga penumpang lainnya tanpa anggur.

Pada Sabtu malam bulan Maret 1863 perjalanan dimulai yang berangkat dari Batavia menuju Singapore dimana penumpang yang naik Falk, Elliot, Nienhuys dan Mr. Arab yang dilepas oleh Mr. v. Leeuwen, Mr. Maintz, Driessen dan Kolft dengan sampanye. Perjalanan kapal uap ini singgah di Bangka lalu diarahkan ke Riaou untuk berkunjung kepada Resident di Tandjong Pinang (P. Bintan).

Tim menghadap Residen Netscher dan menjelaskan tujuan perjalanan, lalu menggali informasi tentang situasi dan kondisi di Deli, juga meminta surat untuk disampaikan kepada yang berwenang di Sumatra. Residen menyatakan bahwa dirinya sangat senang dengan rencana tim ke Deli apalagi untuk urusan tembakau yang merupakan pertanda baik. Residen menceritakan beberapa hal tentang Deli dan orang-orang disana serta memberi petunjuk kepada kapten bagaimana menuju ke sana.

Netscher pada bulan Februari 1863 telah melakukan ‘kunjungan dinas’ ke Deli (lihat artikel sebelumnya). Netscher datang dengan kapal perang yang buang jangkar muara sungai Deli dan melakukan kontak damai di atas kapal dengan dua kepala suku Batak (Sebaja Lingga dan Goenoeng Radja). Bandar Laboehan sendiri dibawah penguasaan Sultan Deli berada setengah mil ke arah hulu sungai Deli. Kampung Deli ini terdiri dari 200 ratus rumah sederhana terbuat dari bamboo dan atap nibung. Istana Sultan Deli, hanya sebuah bangunan rumah biasa yang terbuat dari kayu berbentuk panggung berukuran panjang sembilan puluh kaki dan lebar tiga puluh kaki.

Di Laboehan Deli terdapat sejumlah pria Atjeh yang dipersenjatai dan empat rumah panggung dengan arsitektur Batak. Wilayah kekuasaan sultan sendiri hanyalah Laboehan Deli dan Pertjoet. Sedangkan penduduk keseluruhan Deli terdiri dari beberapa ribu jiwa Melayu terutama di Kampung Laboehan, sementara sekitar duapuluh Tionghoa dan sekitar seratus Hindu berdarah campuran. Sedangkan Batak dapat dikatakan sangat banyak, yang sebarannya mulai dari pantai hingga ke batas pegunungan yang dipimpin oleh kepala suku yang jumlahnya ditaksir sekitar 40.000 jiwa. Empat rumah Batak di kampong Laboehan adalah empat keluarga pimpinan (kepala suku) Batak (mungkin semacam konsulat Batak di Laboehan)

Berdasarkan informasi dari Netscher yang baru beberapa minggu sebelumnya ke Deli, tim dari Riouw berangkat ke Singapura lebih dahulu, dimana tim turun dan menginap di Hotel de l’Europe. Tujuan utama adalah untuk melakukan persiapan dengan membeli opium dan lijnwaden dan uang tunai 20.000 dollar. Persinggahan pertama setelah dari Singapore adalah Bengkalis untuk menyerahkan surat dari Residen kepada Asisten Residen Arnoudt dan juga untuk meminta surat kepada Controleur.

Lalu perjalanan dilanjutkan dan singgah di Batoebara, kemudian dilanjutkan ke Bedagai dan akhirnya Josephine belabuh jangkar pada rabu malam di muara sungai Deli, tidak jauh dari kediaman Sultan Deli. Pada pagi hari berikutnya, pukul satu dinihari, dua kapal besar berlabuh di Laboean. Oleh karena perjalanan yang melelahkan tim akan ke darat pada pukul empat sore. Kesan yang pertama dirasakan bahwa tidak mencerminkan suatu tempat yang makmur.

Laboehan hanya terdiri dari beberapa rumah dan beberapa penduduk lokal sehingga untuk mengangkat barang-barang harus dilakukan oleh anggota tim sendiri. Kemudian atas nama Sultan, kami diberitahu dan ditunjukkan sebuah rumah tempat dimana kami tinggal. Lalu kami mendapat kabar bisa menemui Sultan keesokan hari. Namun karena hari Jumat, Sultan ke Mesjid dan baru pukul 4.30 kami dapat diterima di istananya. Istana Sultan adalah rumah panggung biasa yang berukuran besar yang berada di atas tanah yang dapat dibilang jauh dari bersih.

Sebelum sampai di rumah, kami disambut dengan tembakan meriam sebanyak 13 kali dan kemudian kami diajak masuk ke dalam tanpa ada furniture dan kami bertiga Falk, Elliot dan Nienhuys duduk. Sultan duduk didampingi oleh pasukan. Sedangkan Mr. Arab duduk di dekat kami. Sultan diperkirakan berumur empat puluhan, berwajah besar dengan sepasang mata yang hidup. Penerimaan yang sopan dan santun. Kami ditawarkan rokok dan air kelapa.

Kami melaporkan tujuan kedatangan dan sultan mendengar dengan penuh perhatian melalui terjemahan Mr. Arab. Kami meyakinkan sultan bahwa daerah ini sangat sesuai untuk perkebunan tembakau, dan sultan sendiri menyampaikan baru ini pertama kali orang Eropa menaruh minat untuk berkebun di Deli. Hari berikutnya Sultan membawa kami mengunjungi lokasi. Pada hari berikutnya kami berkeliling jauh hingga menyeberangi sungai tanpa Sultan, tapi sultan sendiri menyediakan kami kuda. Kami mencatat beberapa tanah yang sangat cocok untuk tembakau.

Setelah itu kami bertemu kembali dengan Sultan untuk melakukan perjanjian kontrak dengan dua perusahaan. Sultan Deli sendiri telah memberikan tanah sekitar 4.000 bau sepanjang sungai untuk jangka waktu 20 tahun dengan rincian sebagai berikut: sepuluh tahun pertama bebas sewa dan sepuluh tahun berikut dengan sewa $200 per tahun. Juga disepakati lebih lanjut bahwa kami menyediakan impor berbagai produk tetapi opium dan garam akan menjadi monopoli Sultan. Sebagai imbalnya, Sultan akan mengusahakan pasokan lada buat kami dengan menyediakan dana $2.000. Dengan cara begini kami dapat konsentrasi untuk melakukan budidaya tembakau. 
Netscher adalah mantan Residen Tapanoelie (1853-1855). Pada tahun 1864, Asisten Residen Mandheling en Ankola melarang impor opium atas permintaan para permintaan pribumi (Staatblaads No 112 Tahun 1864). Sebelumnya, opium masuk ke Mandheling en Ankola melalui pedagang-pedagang Tionghoa dari Padang via pelabuhan Natal dan pelabuhan Djaga-djaga. 
Selama kami tinggal di Laboean, kami memiliki kesempatan berbicara dengan beberapa Batakhoofden (pimpinan suku Batak) dan kesediaan mereka untuk menyediakan tenaga kerja dan juga kesepakatan untuk penyewaan tanah-tanah Batak dengan sistem ‘maro’ yakni memberikan uang muka dan makanan sampai panen yang mana hasilnya diserahkan kepada kami. Hasil tembakau setengah menjadi milik kami dan setengah lainnya untuk para pekerja yang mengusahakan tanah dan memperhitungkan kembali setiap jumlah deposit per lahan akan dipotong.

Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga minggu kami harus memperhatikan kembali ke Jawa. Kami sepakat bahwa Mr Nienhuys dan Mr. Arab akan tinggal di Laboean dan segera setelah kami tiba di Batavia kami akan mengirimkan orang Eropa yang akan memungkinkan cocok dengan pekerjaan tersebut. Sebelum pulang, kami membeli beberapa kuda yang terkenal tangguh dari daerah Batak.

Dalam perjalanan pulang, kapal uap Jesephine bergerak sangat lambat selain karena cuaca juga kami di Malaka kami harus singgah untuk mengambil rumput dan air untuk kuda. Sementara itu di Malaka kami mendapat tumpangan surat dan seorang penumpang dari Melaka ke Singapora dan juga menjemput di Singapura dua wisatawan Eropa. Akhirnya setelah cukup lama kita datang kembali ke Singapura, Josephine membuang jangkar yang telah membawa orang Eropa pertama ke Deli. Lalu di pantai Cina kapal mengambil alih kargo kayu. Istri kapten kembali ikut perjalanan juga. Sebelum berangkat melanjutkan ke Batavia, Mr Falk ke Riau dulu sendiri untuk melapor (rappporteeren) kepada Residen Netscher sekalian pengesahan tentang permintaan dan persetujuan kontrak tanah kepada Sultan Deli. Residen tidak keberatan dan memberikan persetujuan untuk kontrak tanah pertama di Deli kepada orang Eropa yang mana kontrak tanah yang dikeluarkan yang dalam arsip atas nama dua perusahaan yang berkantor di Batavia.

Setelah kembali ke Batavia Mr. Falk melaporkan. Kedua firma menawarkan untuk kepala bisnis di Deli adalah Mr. Falk. Namun untuk alasan pribadi dia menolak tawaran itu dan menawarkan kepada Mr. Nienhuys dengan gaji sementara ƒ500 sebulan dan saham keuntungan. Untuk memudahkan perjalanan Batavia-Deli kedua perusahaan ini membeli sebuah kapal uap trayek Palembang- Singapoere yang diberi nama Henriette sesuai dengan nama putri Mr. Falk yang baru lahir.

Di Deli Mr. Nienhuys mulai bekerja. Wakil pemerintah, Mr. Arnoudt, Asisten Resident di Bengkalis menunjuk Mr Locker de Bruin. Pelabuhan Singapore sejauh ini berperan penting bagi usaha baru ini sebagai penghubung antara Batavia dan Deli. Singkat cerita, dalam perkembangannya, gudang lada yang berhasil dikumpulkan oleh Sultan terbakar. Kedua perusahan menanggung rugi dan karena tidak ingin menanggung rugi lebih banyak, kedua perusahaan ini mengakhiri program perkebunan di Deli ini. Kapal Henriette dijual murah di Singapoera.

Mr. Nienhuys sendiri tetap meneruskan usaha yang telah dirintis. Dalam hal ini, Nienhuys tidak meninggalkan kerugian apa-apa (karena hanya sebagai pekerja) di Jawa Timur atas kepindahannya ke Deli, juga tidak menanggung kerugian karena uang selama ini hanya disupply dua investor dan hanya dijanjikan berbagi saham. Tetapi kini di Deli, setelah dua investor mengundurkan diri, Nienhuys sudah memiliki impian: ladang tembakau yang tengah berjalan. Intinya: meskipun kedua perusahaan investor ini tidak menuai manfaat, namun dua perusahaan JF van Leeuwen dan Maintz haruslah dicatat sebagai perusahaan investor pertama perkebunan tembakau di Deli. Mr. Nienhuyslah yang meneruskannya: ibarat pemain bola, Nienhuys adalah second striker..



Nienhuys Mencari Tenaga Kerja ke Singapore

Para koeli Tjina, Djawa, India dan Batak di Deli, 1870
Nienhuys tahu diri. Seorang pemuda lajang yang secara financial tidak memiliki apa-apa. Hanya seorang pekerja di perkebunan tembakau di Rhennen, Rembang dan Probolingo. Meski temannya, Mr. Arab tidak betah dan baru beberapa hari memulai pekerjaan harus kembali ke Jawa. Pekerjaan land clearing sudah tuntas dan proses penanaman dimulai. Nienhuys yang masih berusia 23 tahun tinggal sendiri di tengah hutan belantara Deli.

Namun Nienhuys beruntung masih ada teman setianya seorang kepala suku Batak (sebut Mr. Batak) yang selama ini memasok pekerja untuk kebutuhan Nienhuys dalam mengolah lahan dan menanam tembakau. Nienhuys dan Mr. Batak tidak mudah mendapatkan pekerja baik dari penduduk Melayu maupun penduduk Batak di Deli. Namun usaha mereka berdua yang telah berkeliling jauh ke pedalaman ke kampong-kampong Batak hingga jauh di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura mendapatkan hasil beberapa pekerja.

Mr. Nienhuys adalah orang Eropa pertama yang masuk ke pedalaman di Deli tempat dimana kampong-kampong penduduk Batak berada. Nienhuys dapat diterima dengan senang hati (dengan dipandu kepala suku Batak) meski baru itu pertama kali mereka melihat orang berkulit putih (Eropa). 

Namun penduduk Batak dan penduduk Melayu yang dipekerjakan tidak sesuai harapannya. Menurut Nienhuys para pekerja itu cenderung bermalas-malasan, agak ceroboh untuk menangani hal yang detail dan nilai terbaik mereka terutama pekerja Batak hanya dalam urusan membuka hutan (land clearing). Mr. Batak angkat tangan atas keluhan rekan bulenya itu, lalu Mr. Nienhuys punya inisiatif untuk mencari alternatif ke Penang.

Mr. Nienhuys pergi ke Penang  dengan perahu kecil. Setelah dua minggu Nienhuys berhasil membawa tenaga kerja asal Jawa yang banyaknya selusin. Namun pimpinan tenaga kerja ini, seorang haji (sebut Mr. Hadji) yang diharapkannya mampu memimpin tenaga kerja, namun malah kekecewaan yang didapatkan Mr. Nienhuys, karena Mr. Hadji lebih terkonsentrasi menjadi guru agama untuk membimbing Melayu daripada tenaga kerja yang berada di perkebunan. Meski begitu, Mr. Nienhuys, pengusaha muda dalam bidang tembakau ini, masih mampu menghasilkan lima puluh paket tembakau yang sangat bermanfaat dan mengirimnya untuk dibagikan kepada para pemegang saham.

Namun tidak disangka tiba-tiba api yang menghanguskan gudang lada menjadi penyebab kongsi dengan investor bubar. Nienhuys harus mencari investor baru. Kini, Mr. Nienhuys tidak saja kehilangan teman Mr. Arab, tetapi juga benar-benar kehilangan investor utama dari van Leeuwen & Co dan Maintz & Co. 

Untuk memulai kembali, dengan investor baru (Mr. van de Arend), Mr. Nienhuys melakukan upaya kali kedua untuk pergi lagi melakukan perjalanan ke Penang untuk mencari tenaga kerja baru. Nienhuys berhasil merekrut sebanyak 120 kuli Cina. Nienhuys merasa sesuai dengan yang diharapkan dengan kuli Cina, tetapi memiliki perilaku yang berbeda. Untuk itu Nienhyus harus melatih mereka sebagai orang asing dan harus adaptif dalam budaya setempat. Ini dimaksudkan untuk menjaga ketertiban di tengah masyarakat, termasuk dirinya sebagai satu-satunya orang Eropa.

Meski usaha yang dilakukan lebih banyak duka daripada suka, tetapi hasil yang diperoleh tidak terlalu mengecewakan. Pada tahun 1865, Mr. Nienhuys menghasilkan panen sebanyak 189 paket yang mana dikirim sendiri Mr. Nienhuys ke Belanda, dimana harga yang diperoleh di Rotterdam rata-rata dengan 140 per paket.

Panen tahun 1866 posisi Mr. Nienhuys digantikan oleh yang lain, namun gagal sepenuhnya karena berbagai keadaan. Pada tahun berikutnya, bagaimanapun, kembali menuai sukses besar dan menghasilkan keuntungan murni sebesar 35 ribu gulden. Saat ini beberapa ahli tembakau mulai fokus mata mereka pada Deli yang banyak menjanjikan.  Mr. van de Arend yang menjadi investor pensiun. Untuk musim tanam 1868 investasi disediakan oleh Mr. PW Jansen.

Pada tahun 1869 Nienhuys bersama Jansen mendirikan perusahaan yang diberi nama Deli Maatschappij yang mengambil alih konsesi Mr Nienhuys untuk dijadikan asset perusahaan. Janssen duduk sebagai direktur.

Usaha tidak kenal menyerah Mr. Nienhuys di Deli dengan mitranya yang dimulai dari pabrik kecil yang dengan begitu banyak masalah, namun usaha tetap tumbuh meski tertatih-tatih, kini telah berkembang menjadi sebuah pohon yang indah. Satu keajaiban yang telah mengangkat Deli melalui Deli Maatschappij. Kelak, tembakau di Deli telah ditanam di 110 kebun (onderneming) yang dimiliki oleh 38 maatschappij. Panen 50 bungkus oleh Mr. Nienhuys yang dibuat pada musim tanam tahun pertama (1864), naik dalam empat puluh tahun menjadi 234.000 karton, senilai 36 juta gulden pada tahun 1904. Pada tahun ini Mr. Nienhuys, sang pelopor telah memasuki usianya yang ketujuhpuluh tahun.

PW Janssen: Investor baru mitra Nienhuys

Investor baru PW Janssen masuk pasca van Leeuwen, Maintz dan van de Arend. Ini artinya pada tahun 1868 secara teknis (plantation) budidaya tembakau sudah memperlihatkan prospek baik di Deli. Namun secara ekonomis masih harus berjuang keras. Kehadiran Peter Wilhelm (PW) Janssen sangat diperlukan dalam tim Nienhuys.

PW Janssen sangat menaruh kepercayaan terhadap keteguhan hati Mr. Nienhuys. Inilah modal yang sesungguhnya dari Janssen, mempercayai Nienhuys. Lalu dengan masuknya PW Janssen segala sesuatunya menjadi berubah. Kebetulan keduanya memiliki latar belakang yang mirip: Nienhuys, asli Belanda yang memulai kerja sebagai buruh kebun tembakau di Jerman, Janssen, asli Jerman yang memulai kerja sebagai buruh kebersihan dan tukang pengosok sepatu di Amsterdam, Belanda. Nienhuys dimata Janssen bukanlah petualang, tetapi seseorang yang tekun dan memiliki kejujuran. Inilah yang membuat Janssen tertarik bermitra dengan Nienhuys. Perpaduan antara petani (Nienhuys) dan pedagang (Janssen) dalam menggerakkan ekonomi tembakau di Deli.

(tunggu deskripsi lebih lanjut)

Bersambung:

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe (utamanya koran-koran berbahasa Belanda).

Tidak ada komentar: