15/01/11

Measurement Dalam Riset Bisnis

Oleh Akhir Matua Harahap 

1. Pendahuluan 

Sebagaimana dalam proses penelitian atau kerangka laporan yang dimulai dari permasalahan dan menetapkan tujuan yang dilanjutkan pada pemahaman teoritis, maka sebenarnya secara implicit kita sudah diperkenalkan dengan variable dan unit analisis. Hanya saja variable apa saja yang secara khusus diperhatikan dalam studi dan unit analisis apa yang ditetapkan belum diuraikan secara definitif dan operasional. Dalam bagian metodologi definisi operasional dari variable dan unit analisis tersebut akan dinyatakan secara eksplisit. Pada tulisan terdahulu (Meneliti Itu Mudah) delapan komponen yang searah dengan tahap-tahap dalam proses penelitian itu kita hadirkan kembali yang disajikan pada Gambar-1.  


Dalam gambar terlihat bahwa aspek metodologi dipelajari setelah ‘permasalahan’, ‘tujuan’ dan ‘teoritis’. Semua ini dikelompokkan sebagai bagian dari proposal (kolom sebelah kiri). Dengan demikian, proposal adalah suatu rencana penelitian yang memuat permasalahan apa yang berkaitan dengan tujuan pembuat keputusan (di dalam perusahaan), apa yang menjadi tujuan penelitian dan bagaimana landasan teoritisnya[1]. Oleh karena di dalam bagian ‘teoritis’ kita juga dapat mengutip (hasil) penelitian lain, maka berbagai variable yang dipelajari dalam hubungannya dengan permasalahan/tujuan studi kita sekarang sudah otomatis tersaji berbagai variable dan juga unit analisis apa yang bisa kita tetapkan untuk diimplementasikan. 

Pada sisi sebelah kanan metodologi terdapat ‘hasil’. Ini berarti relasi ‘metodologi’ dengan ‘hasil’ tidak hanya erat tetapi juga kritis dan memerlukan penanganan yang sangat khusus (cermat dan aplikatif). Sebab kelemahan yang terdapat dalam metodologi akan berpengaruh langsung pada hasil. Dua hubungan ini ibarat satu koin dengan dua muka, di satu sisi ‘metodologi’ dan di sisi lain ‘hasil’. Tidak jarang suatu kegiatan penelitian, hasil yang diperoleh sangat buruk (tidak sesuai dengan yang diharapkan) baru disadari setelah melihat metodologi yang diterapkan ternyata lemah, keliru dan tidak pantas. Bagaimana mungkin kita memperbaiki metodologi (merevisi, mengubah atau mengganti) dengan yang seharusnya, sementara pengumpulan data (lapangan) yang mungkin membutuhkan dana dan daya yang besar dan waktu yang lama sudah dianggap selesai dikerjakan.   

2. Pengukuran dalam penelitian 

Metodologi adalah bagian yang paling kritis dalam suatu penelitian dan pengukuran (measurement) bagian yang paling sentral dalam metodologi. Oleh karenanya, pengukuran dianggap sebagai ‘the heart of research’. Dalam hal ini, ‘pengukuran’ di satu pihak tidak hanya menjadi muara dari ‘mengapa’ kita harus meneliti, tetapi di pihak lain ‘pengukuran’ menjadi sumber yang paling menentukan baik buruknya hasil sebuah penelitian. Namun demikian, para peneliti (terutama peneliti pemula) justru banyak yang mengabaikan perihal pengukuran ini. Ibarat mobil, percikan api yang tidak sempurna dalam busi tidak membuat mobil berfungsi sekalipun penampilan bodi cantik, keapikan interior yang mempesona dan keunggulan dari spare-part lainnya.  

Untuk memahami sepenuhnya tentang pengukuran ini di dalam penelitian, marilah kita perhatikan kembali komponen-komponen yang lebih rinci pada metodologi.  Dalam metodologi ada dua metodologi yang dicakup yaitu metodologi data (method of data collecting) dan metodologi informasi (method of analysis of data). Dua metodologi ini saling terkait, dimana di satu pihak data adalah syarat perlu (necessary condition) untuk menghasilkan informasi (data sendiri tidak memiliki makna); dan di pihak lain informasi menjadi syarat cukup (sufficient condition) untuk menjawab permasalahan (hanya informasi yang memiliki makna). Sehubungan dengan metodologi tersebut, pengukuran berada pada bidang pemahaman data yang berhadapan (vis-à-vis) dengan interpretasi dalam bidang pemahaman informasi. Keterkaitan kedua hal tersebut diperankan oleh adanya variabel.

Variabel adalah suatu substansi yang nilainya dapat berbeda-beda (vary). Perbedaan nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai yang dihasilkan dari proses pengukuran yang berulang yang dilakukan terhadap objek yang ingin diperhatikan. Objek yang kita perhatikan tersebut dalam hal ini dikatakan sebagai unit analisis. Jika unit analisisnya individu maka variabel yang berkenaan dengan individu ini akan berbeda variabel yang terdapat dalam unit analisis rumahtangga atau unit analisis perusahaan. Pada unit analisis individu variabelnya antara lain tinggi badan, berat badan, umur, pendidikan, pendapatan, jenis kelamin dan sebagainya; sedangkan variabel dari unit analisis perusahaan misalnya jumlah karyawan, besarnya omzet, skala perusahaan, badan hukum, dan lain sebagainya. Dengan demikian secara teoritis, dalam pengukuran variable pada dasarnya kita membutuhkan unit analisis. Akan tetapi sebaliknya dalam operasionalisasi variable, kita harus menetapkan terlebih dahulu unit analisisnya baru kemudian mendefinisikan variabelnya.
Sebagaimana dalam Gambar-2, di satu pihak variabel berkaitan dengan unit analisis, dan di pihak lain pengukuran terkait dengan sampling. Ini berarti, ketika kita tengah merencanakan pengukuran (variabel) juga pada saat yang bersamaan kita  melakukan proses sampling (unit analisis). Dalam hal ini, setelah menentukan unit analisis, kita mendefinisikan populasinya terlebih dahulu, baru kemudian menentukan berapa banyak sampel yang dibutuhkan. Populasi sendiri adalah semua unit analisis yang diperhatikan. Untuk menentukan berapa banyak sampel dibutuhkan dalam studi dapat dilakukan dengan teknik sampling (tidak dibicarakan secara khusus dalam tulisan ini). Kombinasi nilai variable dari proses pengukuran dengan masing-masing unit analisis merupakan tipologi data. Sifat data yang dihasilkan ditentukan oleh strategi pengumpulan data apa yang kita pilih. Jika strategi yang kita pilih adalah pendekatan kualitatif maka sifat datanya adalah data kualitatif sebaliknya jika pendekatan kuantitatif yang digunakan maka data yang dihasilkan bersifat kuantitatif.
Tipikal data kualitatif adalah jumlah unit analisis sedikit (minimal satu) dan variabel yang digunakan cenderung banyak, sebaliknya tipikal data kuantitatif adalah jumlah unit analisisnya banyak (maksimal sama dengan populasi), tetapi jumlah variabelnya cenderung relatif sedikit. Strategi dalam pengumpulan data kualitatif dimaksudkan untuk tujuan eksploratori (penjajakan) dengan metode studi kasus baik melalui teknik indepth interview (individu) maupun teknik FGD (kelompok). Sedangkan strategi pengumpulan data kuantitatif dimaksudkan untuk tujuan deskripsi atau eksplanasi (kausal/hipotesis)  yang dapat dilakukan dengan metode seperti teknik survei.  

3. Metode pengukuran  

Secara khusus dalam penelitian dengan strategi kuantitatif, pengukuran variabel tidak saja sangat diutamakan, tetapi juga bagaimana mengukur dan dengan alat/cara apa dilakukan pengukuran. Untuk mengukur variabel ’berat badan’ misalnya, kita  akan menggunakan timbangan, ’tinggi badan’ diukur dengan alat pengukur tinggi badan, ’suhu badan’ diukur dengan termometer dan lain sebagainya. Berbagai jenis timbangan dapat  digunakan dalam mengukur variabel ’berat badan’ seperti timbangan bayi (di posyandu), timbangan beras (di gudang), dan timbangan dengan jarum penunjuk (di puskesmas) dan timbangan digital. Semua jenis timbangan ini dapat digunakan untuk mengukur ’berat badan’, tetapi masalah yang sebenarnya adalah bahwa belum tentu timbangan yang kita pilih dapat disediakan dan jika pun dapat disediakan belum tentu efisien dan efektif digunakan. Misalnya timbangan digital dengan skala dua desimal digunakan untuk mengukur berat satu karung beras tentu sangat berlebihan dan tidak efisien. Demikian juga timbangan beras digunakan untuk mengukur berat cincin mas kawin.  Sehubungan dengan itu, menyediakan alat pengukur dan menyesuaikan penggunaannya dengan yang diukur merupakan perhatian yang serius dalam proses pengukuran di dalam penelitian. Lalu bagaimana cara kita mengukur umur individu. Untuk ini dapat kita lakukan dengan melihat umur dalam KTP. Akan tetapi bisa jadi akurasinya tidak baik karena salah tulis atau sengaja dibuat salah, lalu kita menggunakan tanggal lahir yang terdapat dalam akte kelahiran. Cara ini juga belum tentu memuaskan karena belum tentu semua orang memiliki akte kelahiran (terutama golongan usia yang lebih). Tanpa maksud untuk mengada-ada mengukur dengan teknik DNA lebih baik dibanding yang lainnya tadi. Nemun demikian, kecanggihan setiap alat pengukur belum tentu menjamin keperluan yang dimaksudkan.  Untuk itu, dalam mengatasi permasalahan alat ukur dapat dilakukan dengan cara bertanya dan pertanyaan itu sendiri dalam hal ini berfungsi sebagai alat ukur. Alat ukur ini memang mudah dibuat/disediakan karena hanya ’sekadar’ bertanya. Namun demikian penggunaan pertanyaan dalam pengukuran riset tetap harus hati-hati mengingat pertanyaan sebagai alat ukur haruslah mampu memberi jaminan terhadap hasil pengukuran yang akurat yaitu berupa jawaban yang benar-benar sesuai dengan yang diinginkan. Namun demikian, dalam membuat pertanyaan tidaklah dibuat apa adanya tanpa mempertimbangkan implikasinya. Pertanyaan sebagai alat ukur haruslah dipikirkan secara cermat. Sebagai illustrasi, perhatikan contoh berikut: 
  1. Berapa kali anda berkunjung ke mal dalam satu bulan terakhir?
  2. Dalam satu bulan terakhir, berapa kali anda berkunjung ke mal?
  3. Berapa kali anda berkunjung ke mal dalam satu tahun terakhir?
  4. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali anda berkunjung ke mal?
  5. Berapa kali anda berkunjung ke mal dalam satu minggu terakhir?
  6. Dalam satu minggu terakhir, berapa kali anda berkunjung ke mal?
Dalam mengukur variabel ’jumlah kunjungan ke mal’ di atas ada enam alat pengukur yang mungkin diterapkan, hanya saja bahwa dalam satu penelitian kita hanya perlu dengan satu alat ukur (seragam). ’Pertanyaan-a’ dan ’pertanyaan-b’, serupa tapi tak sama, sama dalam substansi tetapi berbeda dalam penggunaan. Ini ibarat mengukur tinggi badan pada sore hari dengan pada pagi hari pasti hasil pengukurannya berbeda (mengapa?). Untuk ’pertanyaan-a’ kesalahan memberi jawaban besar sekali sebab ada kecenderungan responden sudah merasa cukup untuk memahami penggalan pertanyaan untuk langsung menjawabnya, padahal dalam pertanyaan itu kurun waktu pengukuran hanya dibatasi dalam satu bulan terakhir saja. Sedangkan pada ’pertanyaan-b’, hasilnya akan lebih baik karena pertanyaan dengan membatasi waktu lebih dahulu maka responden masih memerlukan semua kata-kata dalam pertanyaan diucapkan sebelum menjawabnya.             

Lalu bagaimana dengan alat ukur ’pertanyaan-c’ dan ’pertanyaan-’d.  Kedua pertanyaan tersebut sulit diterapkan karena sekalipun ada fungsi kontrol waktu (pada ’pertanyaan-d’), tetapi time reference yang lebar ’dalam satu tahun terakhir’ bukanlah kapasitas normal untuk mengingat semua kunjungan yang dimaksud satu per satu dalam satu tahun. Demikian juga dengan alat ukur ’pertanyaan-e’ dan ’pertanyaan-f’. Pada ’pertanyaan-f’ sepintas dapat diterapkan dan memberi jawaban yang akurat tetapi tidak memiliki variasi yang besar dalam jawaban mengingat time reference yang terlalu sempit yang mungkin hanya sebagian kecil orang yang pergi ke mal dalam satu minggu dan dari mereka yang ke mal frekuensinya hanya sedikit sekali. 

4. Instrumen pengukuran 

Setiap pertanyaan seyogianya mengandung satu variabel, selain berguna untuk memudahkan pengertian bagi yang ditanya, juga jawaban yang mereka berikan lebih mudah mengontrolnya. Dalam hal ini, pertanyaan yang mengindikasikan satu variabel tersebut ditanyakan kepada masing-masing unit analisis dalam sampel. Dalam pengumpulan data lapangan (survei), pertanyaan yang sama diimplementasikan tidak hanya pada ruang dan waktu yang berbeda tetapi juga ada yang harus ditanyakan pada situasi yang paling ekstrim. Disamping itu, orang yang memberikan jawaban (respon) yang disebut sebagai responden juga terdiri dari berbagai karakteristik. Hal inilah yang mengharuskan bahwa pertanyaan-pertanyaan dibuat standar (standardized)

Jika pertanyaan merupakan alat ukur maka jawaban merupakan hasil pengukuran. Hasil pengukuran variabel ini dinyatakan dalam empat skala pengukuran yaitu nominal, ordinal, interval dan rasio. Skala nominal menggunakan angka atau huruf untuk mengidentifikasi atau klassifikasi objek (individu, kejadian, atau grup). Skala ordinal untuk maksud identifikasi, angka menyediakan informasi tentang jumlah/posisi relatif dari beberapa karakteristik yang dimiliki oleh kejadian, objek dan lain-lain (Tidak ada magnitud perbedan antara mereka). Skala interval memiliki semua properti skala nominal dan ordinal plus interval antara titik batas yang sama (Titik asal nol). Skala rasio memasukkan semua properti skala nominal, ordinal, dan interval plus yang meliputi titik absolut nol (Titik nol ditetapkan).  

Keempat skala pengukuran ini dapat digolongkan ke dalam dua ukuran umum yaitu ukuran metrik (rasio dan interval) dan ukuran non-metrik (nominal dan ordinal). Pembedaan ini perlu dirancang sejak awal mengingat setiap penentuan skala dalam kuesioner tidak hanya ditujukan untuk efektivitas dalam penggunaannya kemudian, tetapi juga demi efisiensi. Secara teknis efisiensi dari skala rasio dapat diubah misalnya menjadi skala nominal, tetapi tidak demikian sebaliknya. Disamping itu, perbedaan dalam skala pengukuran juga menentukan alat analisis apa yang digunakan dalam pengolahan statistik. Sebagaimana dalam membuat pertanyaan (membentuk alat ukur) perlu kecermatan, maka dalam menetapkan skala pengukuran juga memerlukan penanganan yang cermat juga. Dalam contoh terdahulu, skala pengukuran dari variabel ’jumlah kunjungan ke mal’ sebaiknya dibuat dalam bentuk rasio.  Kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan yang disebut kuesioner (questionnaire), menjadi suatu instrumen pengukuran. Kuesioner yang sudah dikonstruksi tersebut dialamatkan pada suatu sampel yang sudah ditentukan (one for all). Disamping itu, kuesioner sebagai alat ukur yang disatukan (instrumen tunggal) kita bisa terapkan untuk mengukur berbagai variabel yang kita butuhkan sekaligus hanya dalam satu kegiatan pengumpulan data (survei). Dalam hal ini, kuesioner  sendiri pada dasarnya terdiri dari dua bagian yaitu pertanyaan (kolom kiri) dan jawaban (kolom kanan). Namun karena kuesioner terdiri dari sejumlah pertanyaan, maka tidak setiap pertanyaan dapat berlaku untuk setiap responden. Karena itu, format kuesioner juga memerlukan nomor pertanyaan dan petunjuk aliran pertanyaan ke pertanyaan mana selajutnya ditanyakan (skipp pattern).  

Pada dasarnya pertanyaan dalam kuesioner terdiri dari dua jenis pertanyaan, yaitu pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Kategori pertanyaan ini didasarkan atas bagaimana jawaban yang diberikan responden diperlakukan di dalam kuesioner. Pertanyaan tertutup (closed-ended question) mengindikasikan pertanyaan yang jawabannya dibatasi sesuai dengan yang diharapkan atau setiap jawaban responden dikategorikan ke dalam salah satu opsi yang disediakan. Variasi bentuk pertanyaan tertutup ini dapat diperhatikan dalam Gambar-6. Sebaiknya pertanyaan tertutup dirancang dengan  jawaban tunggal (single answer). Untuk pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dari satu (multiple answer) format kuesioner dapat digantikan dengan model konfirmasi (Ya-Tidak). Sedangkan, pertanyaan terbuka (open-ended question) mengindikasikan jawaban yang diberikan oleh responden bersifat apa adanya dan di dalam kuesioner sediakan suatu space untuk mencatan jawaban tersebut. Hanya saja, bahwa jika ada ribuan jawaban terbuka, maka sangat hal ini dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi jawaban-jawaban tersebut ke dalam kategori-kategori yang dominan (coding). Karena itu, untuk suatu survei yang memiliki jumlah sampel besar dan kendala waktu sebaiknya pertanyaan terbuka serupa ini dapat digantikan dengan pertanyaan tertutup. Namun demikian, memaksakan dengan pertanyaan tertutup juga dapat mengandung resiko-resiko yang merugikan penelitian itu sendiri. Untuk mengatasi hal ini pertanyaan dapat dibuat dalam bentuk  semi tertutup.  

5.  Mutu pengukuran 

Sudah seharusnya bahwa dalam setiap proses pengukuran variabel memerlukan alat ukur yang baik dan pengukuran dilakukan dengan cara yang benar. Alat ukur kita dalam hal ini adalah pertanyaan dan jawaban yang diperoleh merupakan hasil pengukuran. Hasil pengukuran tersebut dapat dinyatakan ke dalam salah satu skala pengukuran (skala NOIR). Sehubungan dengan hal tersebut, tipologi data yang mengindikasikan kombinasi variabel dengan unit analisis, maka nilai-nilai yang terdapat dalam sel (matrik data) tidak lain sebagai nilai-nilai yang dinyatakan sebagai angka atau huruf yang mewakili salah satu dari empat skala pengukuran.  Suatu data yang baik seyogianya mencerminkan mutu pengukuran yang yang baik pula. Untuk memastikan apakah mutu pengukuran itu baik atau buruk adalah dengan memeriksa kembali hasil pengukuran (data) yang sudah dikumpulkan tersebut. Dalam hal ini kita dapat menilai apakah alat ukur (pertanyaan) yang kita buat reliabel atau tidak dan apakah hasil pengukuran (jawaban) yang diperoleh valid atau tidak. Dengan demikian, suatu data yang baik seyogianya mengindikasikan reliabilitas (konsistensi) yang tinggi dan juga sekaligus mengindikasikan validitas (kesahihan) yang tinggi (Gambar-8).  

Dalam contoh-contoh yang dikemukakan di atas, dapat kita evaluasi kembali  alat ukur atau cara mengukur yang mana yang dapat dianggap baik. Pada pengukuran variabel umur, cara mengukur dengan akte kelahiran dapat menghasilkan data yang paling valid tetapi karena tidak semua memiliki maka reliabilitasnya rendah. Sementara pengukuran umur dengan membaca umur dalam KTP selain reliabilitasnya rendah juga validitasnya rendah. Sedangkan dengan menanyakan langsung, selain tidak perlu menyediakan dokumen pendukung seperti KTP juga cara ini lebih praktis dan lebih lengkap dan mudah dimengerti. Dengan kata lain reliabilitas dan validitas menanyakan langsung sangat mungkin diterapkan dengan baik.   

Untuk contoh variabel ’jumlah kunjungan ke mal’, permasalahan yang mungkin terjadi adalah terletak pada penanganan pertanyaan yang dikonstruksi sebagai alat ukur. Pertanyaan ”Dalam satu bulan terakhir, berapa kali anda berkunjung ke mal?” lebih mungkin diterapkan mengingat pada pertanyaan ini kita lebih dulu mengontrol time reference sebelum bertanya lebih lanjut. Oleh karenanya dalam mengukur variabel tersebut dengan time reference ’satu bulan terakhir’ tampak lebih aplikatif dibandingkan yang lainnya. Ini berarti pertanyaan dan jawaban yang diharapkan akan lebih mengindikasikan reliabilitas dan validitas yang tinggi.  Persoalan lainnya tentang alat ukur adalah bagaimana menentukan variabel dan membuat pertanyaan sekaligus sesuai dengan yang diharapkan. Pada contoh yang disajikan di bawah ini, variabel/pertanyaan manakah yang kita pilih ketika masalah studi kita dikaitkan dengan kemampuan atau ’daya beli’ konsumen (masyarakat). Variabel/alat ukur yang dimaksud adalah (a) Variabel ’pendapatan selama satu bulan’, atau  (b) Variabel ’pengeluaran selama satu bulan’. Dalam banyak studi, variabel pengeluaran lebih banyak dipilih sebagai ’proksi’ untuk mengukur pendapatan. Sebab menanyakan langsung besarnya pendapatan ada kecenderungan orang tidak terus terang. ***Dimuat di Buletin Manajemen, Edisi V Juni 2005



Tidak ada komentar: